Co-educational day school for Pre-School through Twelfth grade

Kebersihan


Sekolah Santa Ursula BSD berada di lingkungan yang sangat teduh dan bersih. Inilah yang menjadi ciri khas sekolah. Lingkungan yang hijau menandakan bahwa keserasian dengan alam, menyatu dengan alam menjadi komitmen utama setiap anggota komunitas. Menjaga lingkungan agar selalu hijau dilakukan oleh seluruh anggota komunitas Santa Ursula BSD.

Kegiatan-kegiatan Green Action mewarnai kehidupan sehari-hari komunitas sekolah Santa Ursula BSD. Lingkungan sekolah yang bersih dan asri ini tidak hanya membuat proses belajar-mengajar menjadi lebih nyaman, tetapi juga memungkinkan para murid untuk menimba banyak pengetahuan darinya. Proses pembelajaran bisa dianggap berhasil jika terjadi interaksi antara anak dengan lingkungannya. Dari lingkungan yang bersih dan hijau di sekolah, anak bisa memiliki kepedulian terhadap makhluk ciptaan Tuhan. Mereka akan memeliharanya, dan kemudian mencintainya.

Lebih lanjut, kita bisa mengenalkan anak kepada Tuhan sebagai Sang Pencipta alam semesta. Anak-anak juga disadarkan bahwa Bumi adalah rumah kita. Oleh karena itu komunitas Santa Ursula BSD memiliki kewajiban untuk merawat dan menjaga Bumi.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh seluruh anggota komunitas Santa Ursula BSD untuk mencapai pada sekolah Green School adalah:

PAGI di Sanur

Program kebersihan lingkungan ini merupakan kegiatan bagi para pelajar dan semua pihak yang bersentuhan dengan kegiatan belajar-mengajar Sekolah Santa Ursula

Program PAGI di Sanur dimulai dengan pembentukan kebiasaan untuk membuang sampah ke dalam lima jenis tempat pembuangan sampah yang berbeda, yaitu plastic (tempat sampah warna merah), kertas (tempat sampah warna biru), sisa makanan (tempat sampah warna hijau), kaleng, dan tissue.

Setiap hari Sabtu dilakukan pemilahan sampah untuk memisahkan sampah organic dan non-organik. Kemudian, sampah non-organik (seperti kertas dan kaleng atau karton kemasan minuman) dipilah dan dipilih kembali untuk dijadikan barang-barang yang dapat digunakan, dijual, atau didaur ulang. Repot? Memang. Tetapi kebiasaan membuang sampah yang seperti ini sudah dibiasakan kepada semua anggota komunitas sekolah, khususnya para peserta didik, sejak awal ia masuk sekolah.


Program PAGI di Sanur :

  1. Kurangi Sampah kita...
    • Kurangi atau tolak pemakaian kantung plastik untuk membawa barang belanja
    • Bawa keranjang belanja dari rumah
    • Bawa air minum dalam botol untuk teman dalam perjalanan
    • Tidak perlu beli, bila dapat membuat sendiri
    • Beli produk yang memiliki kemasan isi ulang
  2. Kumpul lalu pilah, ya...
    • Kenali sampah yang dihasilkan, makin kenal, maka anda akan makin sayang untuk membuang.
    • Buang sampah dalam keadaan ‘bersih’
    • Kumpulkan menurut jenisnya
    • Biasakan menyimpan sampah, sebelum menemukan tempat sampah yang terpilah
    • Bila ada sampah ‘salah kamar’, pindahkan ke tempat yang benar, kemudian cuci tangan
  3. Pakai lagi, dong...
    • Gunakan produk dengan kemasan yang dapat isi ulang
    • Kemasan (botol, kaleng, dll) dapat dipakai untuk wadah
    • Gunakan kertas pada kedua sisinya
    • Jangan remas kertas bekas. Tumpuklah dengan kertas sejenis
    • Biasakan untuk berpikir : ‘bila membeli sesuatu, kemasan mau dijadikan apa?’
  4. Daur ulang, lah..
    • Satukan sampah dari dapur dan kebun, olah menjadi pupuk yang menyehatkan tanaman
    • Hancurkan kertas bekas dan buatlah bubur kertas. Dari situ dapat dibuat kado atau souvenir menarik kreasi sendiri
    • Bila tidak melakukan proses daur ulang sendiri, biasakan untuk menukarkan barang-barang bekas terpilah Anda kepada pemulung

Kompos

Peserta didik belajar membuat pupuk kompos dari sampah organik. Pupuk ini bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk menyuburkan pohon-pohon di halaman sekolah, tetapi juga tanaman-tanaman di halaman rumah para tenaga pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik, dan kenalan-kenalannya.

Biopori

Kegiatan biopori merupakan salah satu cara untuk mengurangi genangan air dan membuat tanah menjadi lebih gembur. Awalnya, dibuat lubang-lubang sedalam 1 sampai 1,2 meter di tanah. Kemudian, lubang-lubang tersebut diisi dengan sampah organik (yaitu potongan-potongan rumput, daun-daun kering, dan sisa makanan). Selanjutnya, di lubang tersebut akan hidup organisme, seperti cacing, yang akan membuat liang-liang kecil di dalam tanah sehingga menjadi lebih gembur.

Hidroponik

Pada bulan Oktober 2016, Santa Ursula BSD mengikuti pelatihan The New Green Leader di Bandung. Tenaga pendidik yang mengikuti pelatihan ini tertarik untuk mengembangkan kemampuan membudidayakan tanaman hidroponik. Sekolah memfasilitasi dengan membangun green house beserta instalasi hidroponik.

Pada awalnya kegiatan hidroponik diperkenalkan kepada para tenaga pendidik yang mempunyai minat budidaya tanaman hidroponik. Selanjutnya tenaga pendidik tersebut melibatkan peserta didik di unit masing-masing untuk melakukan kegiatan hidroponik.

Kegiatan hidroponik dimulai dari penyemaian bibit, pemindahan bibit ke baskom/instalasi hidroponik, pemberian pupuk dan perawatan tanaman, serta memanen. Peserta didik cukup antusias mengikuti kegiatan ini. Walaupun hasilnya belum begitu banyak, mereka merasa cukup puas. Harapannya mereka dapat melakukan kegiatan hidroponik di rumah mereka masing-masing.

...