Profil SMA Santa Ursula BSD

 

Sekolah Santa Ursula BSD adalah sekolah Katolik yang berada di bawah Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh Suster-suster Ursulin. Sekolah Santa Ursula BSD mendidik siswa  berdasarkan iman Katolik dengan Visi menjadi Manusia Utuh, Cerdas dan Melayani.  Untuk mencapai keutuhan pembinaan yang mengembangkan kemampuan berpikir dan kreativitas dilakukan dengan seimbang dan menekankan  6 Nilai Serviam yaitu Cinta & Belas Kasih, Integritas, Keberanian dan ketangguhan, Persatuan, Pelayanan, serta Totalitas. Anggota komunitas juga dibina untuk menjadi cerdas, yaitu mampu berpikir kritis, sistematis, maupun cerdas dalam menyikapi berbagai situasi di lingkungan

Selengkapnya

Keteladanan

"Apa yang Anda ingin mereka lakukan, lakukanlah sendiri itu lebih dahulu. Bagaimana Anda bisa mencela atau menegur kekurangan mereka apabila mereka melihat kekurangan itu masih ada dalam diri Anda sendiri" 
(Nas. VI: 2-3)

Prestasi

Berita Terbaru

News Image
Datang sebagai penantang, pulang sebagai juara: Pengalaman Berharga Tim Esports SMA Santa Ursula BSD Meraih Juara 3 di Saint John’s Youth National Cup 2026
“Kesuksesan adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan akhir. Proses melakukan sesuatu itu lebih penting daripada hasilnya - Arthur Ashe”Pemikiran inspiratif ini mengajarkan saya dan rekan-rekan setim bahwa tolok ukur kemajuan seseorang tidak terletak semata-mata pada keberhasilan mendapat piala juara pertama, melainkan pada bagaimana sebuah proses dijalani dan bagaimana evaluasi dilakukan di setiap tantangan. Prinsip mendalam inilah yang saya dan tim rasakan serta hayati secara nyata saat berpartisipasi sebagai perwakilan SMA Santa Ursula BSD di lomba Esports Mobile Legends dalam ajang Saint John’s Youth National Cup 2026.Kompetisi antarsekolah ini diselenggarakan selama empat hari, yakni terhitung mulai tanggal 1 hingga 4 September 2026, bertempat di Saint John’s Catholic School Kencana Loka. Sebagai ketua tim, saya memimpin skuad perwakilan SMA Santa Ursula BSD yang beranggotakan tujuh orang murid lintas angkatan. Mereka adalah Tristan Abednego/X-C/34, Agustinus Ehren Purwadi Karyanto/X-D/1, Dylan Rionaldo/XI-E/10, Fabiano Adi Nugraha/XI-B/12, Nathan Tjahjono/XI-D/16, Aaron Andersen Soesilo/XI-E/1, serta saya sendiri, Matthew Dwyane Dwiartono/XII-D/16. Terbentuknya tim dari tiga angkatan yang berbeda ini tentu menghadirkan dinamika serta tantangan tersendiri bagi kami, terlebih karena persiapan intensif yang dapat kami lakukan tergolong sangat singkat, yakni hanya berdurasi sekitar satu minggu sejak pengumuman perlombaan diterima pada akhir Agustus 2026.Rangkaian pertandingan resmi dimulai pada hari Selasa, 1 September 2026, yang difokuskan untuk babak penyisihan grup (group stage). Berada di dalam grup yang sangat kompetitif bersama SMA Saint John’s School Green Lake, SMA Saint John’s School Kencana Loka, dan SMP Saint John’s School Gading Serpong, saya bersama tim harus melakoni pertandingan secara maraton dari pukul 08.30 hingga 14.00 WIB. Menggunakan format pertandingan Best of 3 (BO3) di mana terdapat tiga grup dengan masing-masing berisikan tiga hingga empat tim, skuad kami menunjukkan performa yang baik. Kami sukses menyapu bersih seluruh laga di fase grup melalui kemenangan meyakinkan 2-0 di setiap pertandingan tanpa pernah kecolongan poin.Meskipun kami tampil gemilang di babak awal, ujian yang sesungguhnya harus saya dan tim hadapi pada babak semifinal yang digelar hari Kamis, 3 September 2026, saat berhadapan dengan tim dari SMA Erenos. Di luar perkiraan, kami harus mengakui keunggulan lawan dan menelan kekalahan dengan skor telak 0-3. Kekalahan ini menjadi pukulan telak sekaligus pengalaman pertama bagi kami untuk merasakan hasil yang kurang memuaskan dengan margin skor penuh di fase gugur. Meskipun demikian, kami langsung sadar bahwa hasil ini tidak menjadi jalan akhir, kami masih memiliki pertandingan perebutan juara 3 di keesokan harinya. Setelah kekalahan tersebut, kami langsung bangun dan mengalihkan fokus untuk menyiapkan diri menghadapi pertandingan tersebut. Seluruh anggota tim mengadakan sesi evaluasi pada hari yang sama guna menata kembali mental, memperbaiki komunikasi, serta mematangkan strategi demi menghadapi laga krusial perebutan tempat ketiga keesokan harinya.Puncak perjuangan kami ditutup pada hari Jumat, 4 September 2026, dalam pertandingan penentuan Juara 3 melawan SMA Saint John’s School Green Lake, lawan yang sebelumnya sempat kami hadapi pada fase grup. Menyadari bahwa pihak lawan tentu telah mempelajari pola permainan kami, untuk mengatasi masalah tersebut, kami sadar bahwa kami perlu tampil jauh lebih disiplin dan waspada. Berbekal persiapan matang serta keyakinan yang tinggi, kami berhasil mengunci kemenangan gemilang dengan skor 3-0.Rasa syukur dan kebanggaan mendalam dirasakan oleh saya dan seluruh anggota tim setelah seluruh rangkaian pertandingan usai. Kepercayaan yang diberikan oleh pihak sekolah untuk membawa nama SMA Santa Ursula BSD berhasil kami bayar dengan pencapaian yang membanggakan. Melalui waktu persiapan yang singkat dan kolaborasi tim lintas angkatan, pengalaman ini memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya pribadi tentang arti kerja sama, komunikasi, dan ketangguhan mental di bawah tekanan.Pada akhirnya, pencapaian Juara 3 di Saint John’s Youth National Cup 2026 ini membuktikan bagi kami bahwa perkembangan tidak diukur semata dari gelar juara tertinggi. Kerja keras, proses evaluasi yang jujur, dan kebersamaan yang terjalin erat jauh lebih bermakna untuk membentuk generasi muda yang tangguh dan siap menghadapi tantangan di masa depan.
Selengkapnya
News Image
Belajar Sebelum Berangkat Memaknai OBI
Rabu, 2 September 2026, murid kelas XI mendapatkan sosialisasi mengenai kegiatan Outward Bound Indonesia (OBI) yang akan mereka jalani di kawasan Waduk Jatiluhur. Sosialisasi disampaikan oleh salah satu perwakilan tim Outward Bound Indonesia yaitu Kak Zul Winarno, sebagai bagian dari persiapan sebelum murid mengikuti kegiatan dalam dua gelombang. Gelombang pertama akan berlangsung pada 18 - 26 September 2026, sedangkan gelombang kedua pada 26 September - 3 Oktober 2026. Sejak awal sosialisasi, murid menyimak dengan tenang dan menunjukkan antusiasme, terutama ketika memasuki sesi tanya jawab dan saat melihat foto-foto kegiatan OBI pada slide presentasi. Bagi murid, foto-foto tersebut memberikan gambaran awal tentang pengalaman yang akan mereka hadapi. Namun, sosialisasi ini tidak sekadar membicarakan kegiatan di alam. Kak Zul mengajak murid memahami bahwa pengalaman OBI membutuhkan kesiapan sikap, bukan hanya kesiapan fisik dan perlengkapan. Hal ini tampaknya sudah mulai disadari oleh beberapa murid. Sehari setelah sosialisasi ini, salah satu murid laki - laki ditanya mengenai persiapannya, ia bercerita bahwa dirinya sudah mulai melakukan latihan fisik seperti lari, push up, pull up, sit up, dan berbagai latihan lainnya sejak dua minggu lalu. Seorang murid perempuan juga menceritakan bahwa ia lebih rutin melakukan olahraga voli dua minggu sekali. Persiapan tersebut menjadi gambaran sederhana bahwa OBI mulai dipandang sebagai sebuah pengalaman yang perlu disiapkan dengan sungguh - sungguh, bukan sekadar kegiatan yang akan dijalani begitu saja. Salah satu pesan yang menarik perhatian adalah bahwa dalam kegiatan OBI tidak ada hukuman, tetapi ada konsekuensi dari setiap pilihan yang dibuat. Murid juga diingatkan untuk bertanggung jawab terhadap barang pribadi maupun perlengkapan kelompok. Para instruktur bukanlah tantangan yang harus dihadapi. Justru, tantangan sebenarnya adalah bagaimana setiap murid mampu menjalani proses bersama kelompok, belajar berkomunikasi, saling membantu, dan tetap bertanggung jawab ketika menghadapi situasi yang mungkin tidak selalu nyaman. Setiap kelompok nantinya akan didampingi oleh satu orang pendamping dari tim OBI. Ternyata jika diresapi, pesan tersebut sangat dekat dengan enam nilai Serviam. Nilai cinta dan belas kasih, ketika murid belajar memperhatikan dan membantu teman yang mengalami kesulitan. Nilai tanggung jawab juga tercermin ketika mereka menjaga barang pribadi dan perlengkapan kelompok. Nilai integritas, ketika mereka berani menerima konsekuensi dari pilihan sendiri. Nilai keberanian dan ketangguhan, ketika mereka belajar menghadapi tantangan tanpa mudah menyerah. Nilai persatuan, ketika keberhasilan kegiatan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga kemampuan bekerja sebagai kelompok serta nilai totalitas, ketika murid diharapkan memberikan usaha terbaik dan sungguh-sungguh menjalani setiap proses. Pada akhirnya, sosialisasi ini menjadi pengingat bahwa OBI bukan sekadar kegiatan keluar dari lingkungan sekolah atau pengalaman beraktivitas di alam. Pengalaman OBi di area Waduk Jatiluhur menjadi ruang belajar yang lebih luas, tempat murid dapat mengenal dirinya sendiri sekaligus belajar memahami orang lain. Apa yang disampaikan ini menjadi bekal awal sebelum mereka benar-benar menjalani pengalaman tersebut. Mungkin nantinya ada rasa lelah, tidak nyaman, perbedaan pendapat, atau situasi yang tidak sesuai harapan. Namun justru di situlah nilai Serviam diharapkan tumbuh dalam pengalaman nyata. Murid tidak hanya pulang membawa cerita tentang kegiatan di alam, tetapi juga membawa pemahaman bahwa menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, berani, peduli, mampu bekerja sama, dan memberikan yang terbaik adalah bagian dari proses menjadi pribadi yang utuh. 
Selengkapnya
News Image
TAMASYA: Tangan Amal untuk Senyum Anak
Peringatan Hari Anak Nasional setiap tanggal 23 Juli merupakan wujud kepedulian bangsa terhadap pemenuhan hak dan perlindungan anak. Momentum ini mengingatkan seluruh elemen masyarakat akan tanggung jawab bersama dalam menjamin hak anak untuk hidup, tumbuh, belajar, dan terlindungi. Selain itu, peringatan ini juga bertujuan untuk mewujudkan lingkungan yang aman, ramah, dan inklusif bagi mereka. Dalam semangat tersebut, SMA Santa Ursula BSD bersama SMA Abdi Siswa Bintaro dan SMA Candle Tree School menyelenggarakan sebuah kegiatan kolaborasi yaitu Tangan Amal untuk Senyum Anak (TAMASYA). Acara ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 25 Juli 2026 di Kampus Santa Ursula BSD. Rangkaian kegiatannya diawali dengan charity walk yang dihadiri oleh lebih dari 200 peserta yang datang dari berbagai sekolah. Kegiatan charity walk ini tidak hanya diikuti oleh para murid, tetapi juga melibatkan adik-adik dari Panti Asuhan Yayasan Sosial Tangan Kasih. Pada kesempatan ini, kami menggandeng Panti Asuhan Yayasan Tangan Kasih dalam penyaluran hasil kegiatan, serta mengajak sejumlah dari teman-teman panti asuhan tersebut untuk mengikuti rangkaian acara TAMASYA secara langsung. Melalui kegiatan charity walk, harapannya dapat menumbuhkan rasa empati, kepedulian sosial, dan semangat berbagi para murid.Setelah charity walk, kegiatan terbuka untuk umum. Pengunjung dapat menikmati jajanan yang nikmat dari tenants serta merchandise bertema TAMASYA yang dijual oleh panitia. Selain itu, terdapat pula berbagai stan yang dirancang sebagai ruang ekspresi serta wadah untuk menampung aspirasi dan harapan generasi muda, seperti spanduk aspirasi, Wall Of Hope, Creative Booth (pameran karya seni), dan Games Booth (stan permainan tradisional). Kegiatan dilanjutkan dengan sesi talkshow yang mengangkat tema “Membangun Asa Anak Indonesia: Suara, Harapan, dan Ketangguhan Generasi Muda di Era Disrupsi”. Talkshow ini dibawakan oleh Ibu Retno Listyarti, seorang Pemerhati Pendidikan dan Anak yang dulunya pernah menjabat sebagai Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 2017–2022, serta Ibu Kanti Sekar Putri, seorang Psikolog Anak dan Remaja. Melalui diskusi ini, generasi muda diharapkan dapat memperdalam pemahaman mereka mengenai berbagai tantangan yang dihadapi di era disrupsi, khususnya terkait kesehatan mental, perkembangan teknologi, dan perubahan sosial. Tak hanya menumbuhkan ketangguhan mental, optimisme, dan kemampuan adaptasi, sesi ini juga mendorong anak-anak untuk berani menyuarakan aspirasi, harapan, dan gagasan mereka. Topik diskusi juga menggarisbawahi pentingnya peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam mendukung tumbuh kembang anak-anak. Seusai talkshow, kegiatan dilanjutkan dengan penampilan seni dari ketiga sekolah penyelenggara, yaitu band, kolintang, dan keroncong. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan pertukaran plakat antar tiga sekolah dan penyerahan donasi kepada perwakilan pendamping dari Panti Asuhan Yayasan Sosial Tangan Kasih. Total donasi sebesar Rp 25.000.000,00 telah disalurkan ke Panti Asuhan Yayasan Tangan Kasih dalam bentuk seragam sekolah dan bantuan tunai. Bantuan ini dialokasikan untuk melunasi biaya pendidikan serta perawatan medis anak-anak asuh. TAMASYA tidak hanya menjadi perwujudan semangat kolaborasi antara tiga sekolah dalam memperingati Hari Anak Nasional, tetapi juga menjadi wadah bagi generasi muda untuk berekspresi, menyuarakan aspirasi, serta memperjuangkan hak-hak anak. Nilai-nilai Serviam, khususnya cinta dan belas kasih, tercermin nyata melalui pelayanan dalam menolong sesama. Keberhasilan pengumpulan donasi dalam aksi ini membuktikan bahwa semangat dan kontribusi generasi muda dapat menjadi aksi nyata yang bermanfaat bagi sesama.
Selengkapnya
News Image
Dari Ruang Latihan yang Sederhana Menuju Panggung FLS3N
Apakah kita pernah membayangkan, bagaimana proses perkembangan seorang penyanyi profesional? Apakah mereka memulai dari latihan setiap hari? Atau mungkin mereka memulai dari sebuah kompetisi? Namun, satu hal yang pasti perjuangan akan menghasilkan keberhasilan.             Hari itu dimulai dari seorang murid yang sudah memantapkan langkahnya untuk melangkah ke tahap selanjutnya. murid tersebut bernama Ricardo Alfaro Raditya Pradipta atau biasa dipanggil Ricardo. Ia adalah seorang murid kelas XII-D yang telah mewakili Kota Tangerang Selatan di ajang Festival Lomba Seni dan Sastra murid Nasional (FLS3N) tingkat provinsi Banten dalam cabang lomba solo vokal putra. Dalam ajang FLS3N tingkat provinsi tahun ini telah dilaksanakan selama tiga hari yaitu dimulai pada tanggal 26-28 Agustus 2026. Terdapat beberapa cabang lomba mulai dari seni sampai sastra, seperti; baca puisi, cipta puisi, cipta lagu, solo vokal putri, solo vokal putra, desain poster, fotografi, instrumen solo gitar, jurnalistik, kriya, komik digital, menulis cerita pendek (cerpen), monolog, tari kreasi, dan kreativitas musik tradisional. Pada hari pertama belum dimulai dengan perlombaan, tetapi pada pukul 14.00 WIB seluruh peserta melakukan check-in kamar hotel. Para peserta mempunyai waktu luang dengan memanfaatkannya untuk berlatih vokal dan istirahat sejenak. Dalam satu kamar terdapat dua peserta perlombaan dari cabang lomba yang berbeda. Pada sore hari tepatnya pukul 16.00 WIB, rangkaian ajang FLS3N ini dimulai dengan acara pembukaan. Pembukaan kali ini, dimulai dengan kata sambutan dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten. Dengan berlangsungnya pembukaan ini, maka resmilah ajang FLS3N dimulai. Setelahnya dilanjutkan dengan sesi technical meeting dari tiap cabang lomba. Dalam sesi technical meeting para peserta juga berkesempatan untuk mengundi undian urutan untuk tampil esok hari. Sesi technical meeting berakhir pada pukul 20.00 WIB.Pada hari kedua, perlombaan dimulai pada pukul 08.00 WIB dan Ricardo mendapatkan nomor urut satu. Pada ajang FLS3N kali ini, Ricardo akan menyanyikan lagu “Dayung Sampan” dan “Cukup Sudah”. Sebagai guru pendamping, rasa deg-degan itu muncul pada saat Ricardo mulai bernyanyi. Dalam cabang lomba solo vokal putra, terdapat delapan peserta dari seluruh kabupaten dan kota yang terdapat di Provinsi Banten. Semua peserta solo vokal putra menampilkan penampilannya dengan sangat memukau. Para peserta berlomba-lomba untuk meraih nada tinggi. Setelah semua peserta tampil, maka dimulailah sesi evaluasi yang disampaikan oleh juri. Terdapat beberapa evaluasi yang disampaikan oleh juri, di antaranya adalah artikulasi pada saat menyanyikan lagu daerah yang masih belum terdengar dengan jelas dan terkait dengan pengambilan nada tinggi, jika sekiranya peserta tidak mampu untuk mencapai nada tinggi tersebut, maka sebaiknya tidak perlu dipaksakan. Tentunya, evaluasi ini sangatlah berguna bagi para peserta solo vokal putra. Masukan ini akan menjadi bekal bagi mereka saat mengikuti kompetisi yang lainnya. Waktu yang dinantikan pun telah tiba. Tepat pukul 20.00 WIB, sesi pengumuman pun dimulai. Sorak sorai mulai terdengar saat daftar nama murid yang menjuarai dari tiap cabang lomba disebutkan. Akhirnya, sampai juga di pembacaan pengumuman cabang lomba solo vokal putra. Pembacaan juara dimulai dari juara harapan ketiga. Pada saat pembacaan juara harapan ketiga, nama Ricardo pun belum disebutkan, juara harapan kedua pun belum disebutkan, juara harapan kesatu juga belum disebutkan. Sampai pada akhirnya, memasuki pengumuman untuk juara ketiga. Nama pun Ricardo disebutkan. Seketika, rasa riang mulai memenuhi hati. Kerja keras yang telah dilakukan Ricardo menghasilkan juara tiga tingkat Provinsi Banten. Keesokan harinya dibagikan piala serta sertifikat bagi pemenang. Ricardo memang sudah mendapatkan juara ketiga, tetapi perjuangannya belum berhenti di sini. Perjalanannya masih panjang. Selamat untuk Ricardo dan semangat untuk melanjutkan perjuanganmu!
Selengkapnya
News Image
Libatkan Aku dan Aku Akan Belajar: Ursa Cup 2026, Ruang Belajar di Luar Kelas
“Beri tahu aku dan aku akan lupa, ajari aku dan mungkin aku ingat, libatkan aku dan aku akan belajar.”— Benjamin FranklinSekolah bukan sekadar tempat untuk memperoleh pengetahuan dan memahami materi pembelajaran. Sekolah juga menjadi ruang bagi murid untuk mengembangkan berbagai kompetensi, membangun karakter, serta mempersiapkan diri sebelum melangkah menuju kehidupan yang lebih luas. Karena itu, sekolah terus berupaya menghadirkan berbagai pengalaman belajar yang dapat memfasilitasi perkembangan diri murid secara utuh.Salah satu pengalaman tersebut hadir melalui Ursa Cup 2026, sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh SMA Santa Ursula BSD yang bermula dari gagasan dan ide OSIS angkatan 2025. Ursa Cup merupakan ajang perlombaan antar sekolah dalam berbagai cabang, yaitu Futsal, Basket, Voli, E-Sport, Band, Mural, dan Fotografi. Pada tahun ini, Ursa Cup diikuti oleh 88 sekolah SMP dan SMA dengan jumlah peserta hampir 1.000 orang. Sebagai langkah awal untuk kembali membuka gerbang berbagai kegiatan besar, penyelenggaraan Ursa Cup 2026 menjadi sebuah pencapaian yang membanggakan.Ursa Cup 2026 berlangsung pada 18–28 Agustus 2026. Kegiatan diawali dengan opening pada 18 Agustus yang dimeriahkan oleh penampilan angklung, tari kolosal, dan bursa. Selanjutnya, berbagai cabang lomba dilaksanakan secara bergantian setiap harinya. Rangkaian kegiatan ditutup pada 28 Agustus melalui pengumuman para pemenang, penampilan apresiasi kemenangan dari lomba band, serta penampilan modern dance dan band oleh murid.Di balik kemeriahan tersebut, terdapat proses panjang yang menjadi bagian penting dari pengalaman belajar murid. Ursa Cup dapat terlaksana berkat upaya maksimal dari berbagai pihak, mulai dari panitia, peserta lomba, guru pendamping OSIS, guru pendamping panitia, Bapak dan Ibu Guru, tenaga kependidikan, Kepala Sekolah, hingga Yayasan. Dalam prosesnya, tentu masih terdapat berbagai kekurangan. Namun, kekurangan tersebut bukanlah sesuatu yang perlu dipandang sebagai kegagalan. Justru melalui berbagai tantangan itulah murid memperoleh pengalaman belajar yang berharga dalam proses pembentukan diri.Selama beberapa bulan persiapan, murid belajar mengatur waktu, energi, dan perasaan di tengah tanggung jawab mereka sebagai pelajar. Selama kegiatan berlangsung, datang paling pagi dan pulang paling sore menjadi bagian dari rutinitas. Bahkan setelah kegiatan di sekolah selesai, pada malam hari mereka masih mengadakan pertemuan dan berdiskusi secara daring untuk mempersiapkan serta memastikan berbagai hal untuk hari berikutnya.Di sela-sela kesibukan sebagai panitia maupun peserta lomba, mereka tetap berusaha mengikuti proses pembelajaran. Waktu yang tersedia dimanfaatkan untuk belajar secara mandiri dan memahami materi yang terus berjalan. Mereka belajar menjaga keseimbangan antara tanggung jawab akademik dan keterlibatan dalam kegiatan sekolah. Pengalaman tersebut menjadi bentuk pembelajaran yang tidak selalu ditemukan di dalam kelas. Murid belajar mengenai tanggung jawab, kerja sama, ketahanan, ketangguhan, komunikasi, pengelolaan waktu, dan keberanian untuk menghadapi berbagai tantangan. Hasil dari proses tersebut pun terlihat dalam pencapaian peserta lomba. SMA Santa Ursula BSD berhasil meraih Juara 1 E-Sport, Juara 2 Futsal, dan Juara 3 Mural. Totalitas yang mereka berikan akhirnya membuahkan hasil.Lebih dari sekadar pencapaian dalam perlombaan, seluruh proses Ursa Cup 2026 merepresentasikan enam nilai Serviam yang terus ditanamkan kepada murid, yaitu Totalitas, Integritas, Persatuan, Keberanian dan Ketangguhan, Cinta dan Belas Kasih, serta Pelayanan. Nilai-nilai tersebut hadir melalui pilihan dan tindakan mereka selama mempersiapkan hingga menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan.Pada akhirnya, Ursa Cup 2026 bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang bagi murid untuk mengalami, menghadapi tantangan, bekerja bersama, belajar dari kekurangan, dan bertumbuh melalui proses. Sebab, ketika murid dilibatkan, mereka tidak hanya menerima pembelajaran mereka mengalaminya secara langsung.Apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, peserta lomba, guru pendamping OSIS, guru pendamping panitia, Bapak dan Ibu Guru, serta tenaga kependidikan atas pemberian diri sepenuhnya selama penyelenggaraan Ursa Cup 2026. Terima kasih telah menjadikan kegiatan ini bukan sekadar sebuah acara, melainkan sebuah ruang belajar dan bertumbuh bersama.
Selengkapnya
News Image
Sekolah Bukan Hanya Menjadi Tempat Untuk Belajar Berbicara
Persoalan komunikasi menjadi perhatian masyarakat karena berdampak pada keresahan dan kemarahan massa. Gelombang demonstrasi dan kerusuhan pada bulan Agustus-September 2025 karena ucapan yang arogan dari sejumlah anggota DPR RI dan Bupati Pati Jawa Tengah di saat rakyat sedang mengalami kesulitan ekonomi dan buruknya layanan publik menunjukkan minimnya komunikasi empati pejabat publik (Kompas, 2025). Saling menyerang dan merespon dengan kata-kata yang tidak pantas di grup Whatsapp (WA) seolah menjadi hal yang normal. Manusia modern begitu mudah berkomunikasi, tetapi perjumpaan antarmanusia kerap diwarnai sikap yang jauh dari rasa hormat pada martabat manusia. Persoalan komunikasi yang tidak sehat, seperti lebih banyak berbicara tetapi sulit untuk mendengar, ingin dominan, dan percakapan dengan kata-kata ‘kotor’ menjadi perhatian serius dalam pendidikan. Akar masalah konflik antarsiswa tidak terlepas dari komunikasi yang mengedepankan emosi dan cenderung merendahkan orang lain. Mengapa topik komunikasi sangat relevan dalam dunia pendidikan?Mendengar Untuk Memahami SesamaPerjumpaan penulis dengan kebiasaan siswa yang lebih suka berbicara tetapi sulit mendengar, berbicara dengan kata-kata (bahasa) kasar dan cenderung menyerang bukan sekedar perilaku spontan. Menggunakan dengan kata-kata kasar atau percakapan yang menyerang di grup WA merupakan habitus. Sosiolog P. Bourdieu yang kritis pada masalah budaya dan pendidikan menegaskan habitus adalah praktik, cara berperilaku, cara bersikap, cara bertindak, dan pola kebiasaan yang melekat (mempribadi) dari seseorang yang terbentuk dari lingkungan sosial dan diwariskan hingga menjadi sesuatu yang alamiah (Basis, 2003). Masalah di atas dapat terjadi dalam lingkup pertemanan yang terbiasa dengan kata-kata kasar dan dianggap sebagai hal biasa. Perilaku menyerang dengan kata-kata tidak pantas lewat WA maupun secara langsung dapat terjadi karena anak ‘menonton pertunjukkan’ tersebut di media sosial. Bagi pelaku yang memiliki habitus menyerang, keberhasilan melukai orang lain dengan kata-kata menjadi kepuasan tersendiri.     Sekolah dapat membantu membangun budaya komunikasi yang sehat untuk menciptakan keteraturan, solidaritas, dan relasi yang hangat. Ada beberapa hal penting dalam upaya membentuk budaya komunikasi yang sehat. Pertama, membiasakan untuk mendengar. Pembelajaran di kelas menjadi ‘ruang’ pengalaman siswa dalam berkomunikasi. Melalui kebiasaan mendengar, siswa belajar memahami dan merasakan sudut pandang orang lain, menghormati orang yang sedang berbicara, dan menahan diri agar tidak selalu ingin dominan. Kedua, komunikasi yang berempati, seperti bertutur kata dengan tidak melukai perasaan orang lain yang sedang kesulitan, membantu teman tanpa merendahkan, dan tidak menghina atau mempermalukan orang lain. Memberi perhatian pada orang yang mengajak berbicara akan membawa kenyamanan dan penerimaan bahwa seseorang itu dihargai keberadaanya. Ketiga, mengutamakan dialog bila menghadapi masalah. Keempat, menggunakan bahasa yang lebih menghargai martabat orang lain, mulai dari menyapa dengan nama, tidak merendahkan dan mempermalukan orang lain. Kelima, konfirmasi atas informasi dan tidak reaktif, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman. Keterampilan berkomunikasi dengan merujuk pada pemikiran P. Bourdieu menjadi bagian dari modal sosial karena dengan berkomunikasi yang sehat, seseorang akan mendapatkan kepercayaan (trust) dan relasi yang luas. Cara Guru berbicara dan merespon pertanyaan atau masukan memberikan kesan kuat bagi siswa untuk belajar meniru komunikasi yang sehat. Cara penularan habitus yang paling inplisit adalah dengan keteladanan.Komunikasi bukan hanya persoalan pesan, baik secara verbal dan nonverbal. Lebih dari itu, komunikasi yang menghargai, mendengar, dan dapat dipertanggungjawabkan menjadi pondasi penting dalam pendidikan karakter. Sekolah bukan hanya menjadi tempat untuk belajar berbicara, tetapi juga belajar mendengar, menghargai, dan memahami sesama. Pendidikan menjadi salah satu pilar utama membawa pesan kebijaksanaan dalam berkomunikasi.Keluarga dapat memberi perhatian pada budaya komunikasi yang sehat sejak usia dini. Membiasakan anak memiliki sikap menghargai dalam bertutur kata, mendengar, dan memberi kesempatan orang lain berbicara harus dibiasakan sejak dini agar tidak tumbuh perilaku ingin dominan dalam relasi. Mendengar adalah kebiasaan sederhana tetapi memiliki muatan nilai yang sangat kuat, yaitu kesadaran untuk menghargai keberadaan orang lain. Mendengar telah menjadi habitus ketika seseorang melakukannya tidak dalam kondisi tunduk pada aturan atau teguran.Memberikan pengalaman bagi anak menjalin relasi dalam perbedaan agama dan budaya harus menjadi perhatian bagi keluarga. Mengapa demikian? Invasi komunikasi di media sosial dan doktrin agama dalam keluarga dapat membuat pandangan tentang agama semakin keras dan hal ini dapat terjadi di agama apapun. Lebih memprihatinkan lagi bila sejak usia dini pengajaran agama telah menanamkan jarak sosial bahkan sikap antipati terhadap agama lain (Rakyat Merdeka, 2018:11). Dalam suasana perbedaan, anak belajar menumbuhkan kepercayaan dirinya dalam berkomunikasi. Sikap dan keterampilan menghargai keberadaan orang lain melalui komunikasi bukanlah warisan genetik, tetapi melalui proses pembiasaan. Melalui ajaran cinta kasih, penulis memiliki keyakinan keluarga Katolik turut memberikan kontribusi nyata dalam menumbuhkan dan memperkuat habitus budaya komunikasi yang sehat. Perjumpaan menjadi momentum rasa menghargai anugerah ciptaan Tuhan. Pertemanan dan persahabatan yang sehat dapat tumbuh tatkala kita mampu mendengar, menghargai, dan memahami orang lain dari praktik keseharian yang sederhana. Disinilah pesan kuat Paus Leo XIV untuk hari komunikasi sedunia yang diperingati beberapa waktu lalu dan menjadi refleksi bersama.
Selengkapnya
News Image
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2026: Menyambut Perjalanan Baru
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) merupakan kegiatan pertama masuk sekolah yang dilaksanakan untuk memperkenalkan program, sarana prasarana, cara belajar, dan pembinaan kultur sekolah bagi murid baru. Kegiatan ini membantu murid beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang tidak hanya terdiri atas pengenalan bangunan sekolah maupun lokasi kelas, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai sekolah, pedoman perilaku, kegiatan yang difasilitasi sekolah (ekstrakurikuler, pembinaan sore, dan lainnya), pengenalan organisasi, serta orang-orang yang berada di dalam komunitas SMA Santa Ursula BSD. MPLS SMA Santa Ursula BSD bertujuan untuk menumbuhkan semangat, motivasi, dan cara belajar yang efektif bagi murid, serta mendorong interaksi positif antara murid baru dengan warga sekolah lainnya. Kegiatan MPLS dilaksanakan mulai Senin, 13 Juli 2026 hingga Jumat, 17 Juli 2026 di Kampus Santa Ursula BSD. Suasana penuh semangat dan sukacita mewarnai penyambutan murid pada hari pertama di SMA Santa Ursula BSD. Doa pagi dan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 stanza menjadi rutinitas pagi komunitas SMA Santa Ursula BSD yang memberi energi positif untuk memulai hari. Dalam rangka membuka hari pertama, seluruh guru dan staf SMA Santa Ursula BSD diperkenalkan kepada murid kelas X, XI, dan XII. Setelah itu, Bapak Catur Agus Sancoko selaku Kepala SMA Santa Ursula BSD memberikan motivasi kepada seluruh murid agar siap untuk menjalani masa SMA dengan penuh semangat dan tanggung jawab. Setelah mengenal guru dan staf sekolah, murid berproses di kelas bersama dengan wali kelas dan guru yang ikut mendampingi kegiatan. Proses dinamika kelas tersebut dirancang untuk menciptakan suasana kelas yang partisipatif, menyenangkan, dan hangat, sehingga antarmurid dapat mengenal satu dengan yang lain secara lebih mudah. Selain mengenal guru, staf, dan teman, murid diajak untuk mendalami visi, misi, dan semangat spiritualitas sekolah Santa Ursula BSD. Pengembangan karakter murid menjadi sorotan penting bagi sekolah demi membentuk komunitas pelajar berjiwa pemimpin yang berkarakter utuh, cerdas, dan melayani. Dalam rangka membangun pribadi tersebut, dilaksanakan pula pengenalan pedoman perilaku dan tata tertib, demi menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan diri murid. Untuk memeriahkan dan mensukseskan tujuan MPLS, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sebagai organisasi murid ikut serta mengambil peran. Badan Pengurus OSIS membantu merancang kegiatan untuk memperkenalkan lingkungan sekolah (wisata kampus), pengenalan organisasi, pengenalan program OSIS, serta merancang beberapa dinamika kelompok dalam bentuk permainan sehingga dapat menumbuhkan kebersamaan dan membuka ruang bagi murid kelas X untuk saling mengenal. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, BP OSIS juga memberikan kesempatan kepada kelompok Barisan Semangat Ursula (BURSA) untuk memperkenalkan fungsi dan tujuan dari kelompoknya, serta mengajak seluruh murid kelas X untuk melakukan chanting demi menumbuhkan semangat, kesadaran, dan rasa bangga akan almamater. Di akhir proses kegiatan pada setiap harinya, murid diberikan kesempatan untuk menulis refleksi harian di buku jurnal demi membangun kebiasaan positif untuk memaknai pengalaman yang diperoleh sepanjang hari. Melalui refleksi murid mampu menyadari nilai hidup yang diperoleh, menyadari perkembangan diri, serta merancang tindak lanjut untuk ke depannya. Sebelum pulang, berdoa dan menyanyikan Mars Serviam 3 stanza menjadi rutinitas yang dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap sekolah. Dengan terlaksananya MPLS, diharapkan seluruh murid dapat membuka jalan untuk mengenal diri sendiri serta lingkungan sekolah secara lebih mendalam. Kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk menumbuhkan 10 nilai Santa Ursula serta 6 nilai Serviam dalam diri murid yang dapat menjadi bekal selama perjalanan di SMA.Dokumentasi: Tim Dokumentasi MPLS
Selengkapnya

Foto Kegiatan