Profil SMA Santa Ursula BSD

 

Sekolah Santa Ursula BSD adalah sekolah Katolik yang berada di bawah Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh Suster-suster Ursulin. Sekolah Santa Ursula BSD mendidik siswa  berdasarkan iman Katolik dengan Visi menjadi Manusia Utuh, Cerdas dan Melayani.  Untuk mencapai keutuhan pembinaan yang mengembangkan kemampuan berpikir dan kreativitas dilakukan dengan seimbang dan menekankan  6 Nilai Serviam yaitu Cinta & Belas Kasih, Integritas, Keberanian dan ketangguhan, Persatuan, Pelayanan, serta Totalitas. Anggota komunitas juga dibina untuk menjadi cerdas, yaitu mampu berpikir kritis, sistematis, maupun cerdas dalam menyikapi berbagai situasi di lingkungan

Selengkapnya

Mengelola Perubahan

"Jika karena perubahan zaman dan keadaan perlu untuk membuat peraturan baru atau untuk merubah sesuatu, lakukan hal itu dengan kebijaksanaan setelah mendengar nasehat yang baik" 
(WT: 2)

Prestasi

Berita Terbaru

News Image
TAMASYA: Tangan Amal untuk Senyum Anak
Peringatan Hari Anak Nasional setiap tanggal 23 Juli merupakan wujud kepedulian bangsa terhadap pemenuhan hak dan perlindungan anak. Momentum ini mengingatkan seluruh elemen masyarakat akan tanggung jawab bersama dalam menjamin hak anak untuk hidup, tumbuh, belajar, dan terlindungi. Selain itu, peringatan ini juga bertujuan untuk mewujudkan lingkungan yang aman, ramah, dan inklusif bagi mereka. Dalam semangat tersebut, SMA Santa Ursula BSD bersama SMA Abdi Siswa Bintaro dan SMA Candle Tree School menyelenggarakan sebuah kegiatan kolaborasi yaitu Tangan Amal untuk Senyum Anak (TAMASYA). Acara ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 25 Juli 2026 di Kampus Santa Ursula BSD. Rangkaian kegiatannya diawali dengan charity walk yang dihadiri oleh lebih dari 200 peserta yang datang dari berbagai sekolah. Kegiatan charity walk ini tidak hanya diikuti oleh para murid, tetapi juga melibatkan adik-adik dari Panti Asuhan Yayasan Sosial Tangan Kasih. Pada kesempatan ini, kami menggandeng Panti Asuhan Yayasan Tangan Kasih dalam penyaluran hasil kegiatan, serta mengajak sejumlah dari teman-teman panti asuhan tersebut untuk mengikuti rangkaian acara TAMASYA secara langsung. Melalui kegiatan charity walk, harapannya dapat menumbuhkan rasa empati, kepedulian sosial, dan semangat berbagi para murid.Setelah charity walk, kegiatan terbuka untuk umum. Pengunjung dapat menikmati jajanan yang nikmat dari tenants serta merchandise bertema TAMASYA yang dijual oleh panitia. Selain itu, terdapat pula berbagai stan yang dirancang sebagai ruang ekspresi serta wadah untuk menampung aspirasi dan harapan generasi muda, seperti spanduk aspirasi, Wall Of Hope, Creative Booth (pameran karya seni), dan Games Booth (stan permainan tradisional). Kegiatan dilanjutkan dengan sesi talkshow yang mengangkat tema “Membangun Asa Anak Indonesia: Suara, Harapan, dan Ketangguhan Generasi Muda di Era Disrupsi”. Talkshow ini dibawakan oleh Ibu Retno Listyarti, seorang Pemerhati Pendidikan dan Anak yang dulunya pernah menjabat sebagai Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 2017–2022, serta Ibu Kanti Sekar Putri, seorang Psikolog Anak dan Remaja. Melalui diskusi ini, generasi muda diharapkan dapat memperdalam pemahaman mereka mengenai berbagai tantangan yang dihadapi di era disrupsi, khususnya terkait kesehatan mental, perkembangan teknologi, dan perubahan sosial. Tak hanya menumbuhkan ketangguhan mental, optimisme, dan kemampuan adaptasi, sesi ini juga mendorong anak-anak untuk berani menyuarakan aspirasi, harapan, dan gagasan mereka. Topik diskusi juga menggarisbawahi pentingnya peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam mendukung tumbuh kembang anak-anak. Seusai talkshow, kegiatan dilanjutkan dengan penampilan seni dari ketiga sekolah penyelenggara, yaitu band, kolintang, dan keroncong. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan pertukaran plakat antar tiga sekolah dan penyerahan donasi kepada perwakilan pendamping dari Panti Asuhan Yayasan Sosial Tangan Kasih. Total donasi sebesar Rp 25.000.000,00 telah disalurkan ke Panti Asuhan Yayasan Tangan Kasih dalam bentuk seragam sekolah dan bantuan tunai. Bantuan ini dialokasikan untuk melunasi biaya pendidikan serta perawatan medis anak-anak asuh. TAMASYA tidak hanya menjadi perwujudan semangat kolaborasi antara tiga sekolah dalam memperingati Hari Anak Nasional, tetapi juga menjadi wadah bagi generasi muda untuk berekspresi, menyuarakan aspirasi, serta memperjuangkan hak-hak anak. Nilai-nilai Serviam, khususnya cinta dan belas kasih, tercermin nyata melalui pelayanan dalam menolong sesama. Keberhasilan pengumpulan donasi dalam aksi ini membuktikan bahwa semangat dan kontribusi generasi muda dapat menjadi aksi nyata yang bermanfaat bagi sesama.
Selengkapnya
News Image
Dari Ruang Latihan yang Sederhana Menuju Panggung FLS3N
Apakah kita pernah membayangkan, bagaimana proses perkembangan seorang penyanyi profesional? Apakah mereka memulai dari latihan setiap hari? Atau mungkin mereka memulai dari sebuah kompetisi? Namun, satu hal yang pasti perjuangan akan menghasilkan keberhasilan.             Hari itu dimulai dari seorang murid yang sudah memantapkan langkahnya untuk melangkah ke tahap selanjutnya. murid tersebut bernama Ricardo Alfaro Raditya Pradipta atau biasa dipanggil Ricardo. Ia adalah seorang murid kelas XII-D yang telah mewakili Kota Tangerang Selatan di ajang Festival Lomba Seni dan Sastra murid Nasional (FLS3N) tingkat provinsi Banten dalam cabang lomba solo vokal putra. Dalam ajang FLS3N tingkat provinsi tahun ini telah dilaksanakan selama tiga hari yaitu dimulai pada tanggal 26-28 Agustus 2026. Terdapat beberapa cabang lomba mulai dari seni sampai sastra, seperti; baca puisi, cipta puisi, cipta lagu, solo vokal putri, solo vokal putra, desain poster, fotografi, instrumen solo gitar, jurnalistik, kriya, komik digital, menulis cerita pendek (cerpen), monolog, tari kreasi, dan kreativitas musik tradisional. Pada hari pertama belum dimulai dengan perlombaan, tetapi pada pukul 14.00 WIB seluruh peserta melakukan check-in kamar hotel. Para peserta mempunyai waktu luang dengan memanfaatkannya untuk berlatih vokal dan istirahat sejenak. Dalam satu kamar terdapat dua peserta perlombaan dari cabang lomba yang berbeda. Pada sore hari tepatnya pukul 16.00 WIB, rangkaian ajang FLS3N ini dimulai dengan acara pembukaan. Pembukaan kali ini, dimulai dengan kata sambutan dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten. Dengan berlangsungnya pembukaan ini, maka resmilah ajang FLS3N dimulai. Setelahnya dilanjutkan dengan sesi technical meeting dari tiap cabang lomba. Dalam sesi technical meeting para peserta juga berkesempatan untuk mengundi undian urutan untuk tampil esok hari. Sesi technical meeting berakhir pada pukul 20.00 WIB.Pada hari kedua, perlombaan dimulai pada pukul 08.00 WIB dan Ricardo mendapatkan nomor urut satu. Pada ajang FLS3N kali ini, Ricardo akan menyanyikan lagu “Dayung Sampan” dan “Cukup Sudah”. Sebagai guru pendamping, rasa deg-degan itu muncul pada saat Ricardo mulai bernyanyi. Dalam cabang lomba solo vokal putra, terdapat delapan peserta dari seluruh kabupaten dan kota yang terdapat di Provinsi Banten. Semua peserta solo vokal putra menampilkan penampilannya dengan sangat memukau. Para peserta berlomba-lomba untuk meraih nada tinggi. Setelah semua peserta tampil, maka dimulailah sesi evaluasi yang disampaikan oleh juri. Terdapat beberapa evaluasi yang disampaikan oleh juri, di antaranya adalah artikulasi pada saat menyanyikan lagu daerah yang masih belum terdengar dengan jelas dan terkait dengan pengambilan nada tinggi, jika sekiranya peserta tidak mampu untuk mencapai nada tinggi tersebut, maka sebaiknya tidak perlu dipaksakan. Tentunya, evaluasi ini sangatlah berguna bagi para peserta solo vokal putra. Masukan ini akan menjadi bekal bagi mereka saat mengikuti kompetisi yang lainnya. Waktu yang dinantikan pun telah tiba. Tepat pukul 20.00 WIB, sesi pengumuman pun dimulai. Sorak sorai mulai terdengar saat daftar nama murid yang menjuarai dari tiap cabang lomba disebutkan. Akhirnya, sampai juga di pembacaan pengumuman cabang lomba solo vokal putra. Pembacaan juara dimulai dari juara harapan ketiga. Pada saat pembacaan juara harapan ketiga, nama Ricardo pun belum disebutkan, juara harapan kedua pun belum disebutkan, juara harapan kesatu juga belum disebutkan. Sampai pada akhirnya, memasuki pengumuman untuk juara ketiga. Nama pun Ricardo disebutkan. Seketika, rasa riang mulai memenuhi hati. Kerja keras yang telah dilakukan Ricardo menghasilkan juara tiga tingkat Provinsi Banten. Keesokan harinya dibagikan piala serta sertifikat bagi pemenang. Ricardo memang sudah mendapatkan juara ketiga, tetapi perjuangannya belum berhenti di sini. Perjalanannya masih panjang. Selamat untuk Ricardo dan semangat untuk melanjutkan perjuanganmu!
Selengkapnya
News Image
Libatkan Aku dan Aku Akan Belajar: Ursa Cup 2026, Ruang Belajar di Luar Kelas
“Beri tahu aku dan aku akan lupa, ajari aku dan mungkin aku ingat, libatkan aku dan aku akan belajar.”— Benjamin FranklinSekolah bukan sekadar tempat untuk memperoleh pengetahuan dan memahami materi pembelajaran. Sekolah juga menjadi ruang bagi murid untuk mengembangkan berbagai kompetensi, membangun karakter, serta mempersiapkan diri sebelum melangkah menuju kehidupan yang lebih luas. Karena itu, sekolah terus berupaya menghadirkan berbagai pengalaman belajar yang dapat memfasilitasi perkembangan diri murid secara utuh.Salah satu pengalaman tersebut hadir melalui Ursa Cup 2026, sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh SMA Santa Ursula BSD yang bermula dari gagasan dan ide OSIS angkatan 2025. Ursa Cup merupakan ajang perlombaan antar sekolah dalam berbagai cabang, yaitu Futsal, Basket, Voli, E-Sport, Band, Mural, dan Fotografi. Pada tahun ini, Ursa Cup diikuti oleh 88 sekolah SMP dan SMA dengan jumlah peserta hampir 1.000 orang. Sebagai langkah awal untuk kembali membuka gerbang berbagai kegiatan besar, penyelenggaraan Ursa Cup 2026 menjadi sebuah pencapaian yang membanggakan.Ursa Cup 2026 berlangsung pada 18–28 Agustus 2026. Kegiatan diawali dengan opening pada 18 Agustus yang dimeriahkan oleh penampilan angklung, tari kolosal, dan bursa. Selanjutnya, berbagai cabang lomba dilaksanakan secara bergantian setiap harinya. Rangkaian kegiatan ditutup pada 28 Agustus melalui pengumuman para pemenang, penampilan apresiasi kemenangan dari lomba band, serta penampilan modern dance dan band oleh murid.Di balik kemeriahan tersebut, terdapat proses panjang yang menjadi bagian penting dari pengalaman belajar murid. Ursa Cup dapat terlaksana berkat upaya maksimal dari berbagai pihak, mulai dari panitia, peserta lomba, guru pendamping OSIS, guru pendamping panitia, Bapak dan Ibu Guru, tenaga kependidikan, Kepala Sekolah, hingga Yayasan. Dalam prosesnya, tentu masih terdapat berbagai kekurangan. Namun, kekurangan tersebut bukanlah sesuatu yang perlu dipandang sebagai kegagalan. Justru melalui berbagai tantangan itulah murid memperoleh pengalaman belajar yang berharga dalam proses pembentukan diri.Selama beberapa bulan persiapan, murid belajar mengatur waktu, energi, dan perasaan di tengah tanggung jawab mereka sebagai pelajar. Selama kegiatan berlangsung, datang paling pagi dan pulang paling sore menjadi bagian dari rutinitas. Bahkan setelah kegiatan di sekolah selesai, pada malam hari mereka masih mengadakan pertemuan dan berdiskusi secara daring untuk mempersiapkan serta memastikan berbagai hal untuk hari berikutnya.Di sela-sela kesibukan sebagai panitia maupun peserta lomba, mereka tetap berusaha mengikuti proses pembelajaran. Waktu yang tersedia dimanfaatkan untuk belajar secara mandiri dan memahami materi yang terus berjalan. Mereka belajar menjaga keseimbangan antara tanggung jawab akademik dan keterlibatan dalam kegiatan sekolah. Pengalaman tersebut menjadi bentuk pembelajaran yang tidak selalu ditemukan di dalam kelas. Murid belajar mengenai tanggung jawab, kerja sama, ketahanan, ketangguhan, komunikasi, pengelolaan waktu, dan keberanian untuk menghadapi berbagai tantangan. Hasil dari proses tersebut pun terlihat dalam pencapaian peserta lomba. SMA Santa Ursula BSD berhasil meraih Juara 1 E-Sport, Juara 2 Futsal, dan Juara 3 Mural. Totalitas yang mereka berikan akhirnya membuahkan hasil.Lebih dari sekadar pencapaian dalam perlombaan, seluruh proses Ursa Cup 2026 merepresentasikan enam nilai Serviam yang terus ditanamkan kepada murid, yaitu Totalitas, Integritas, Persatuan, Keberanian dan Ketangguhan, Cinta dan Belas Kasih, serta Pelayanan. Nilai-nilai tersebut hadir melalui pilihan dan tindakan mereka selama mempersiapkan hingga menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan.Pada akhirnya, Ursa Cup 2026 bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang bagi murid untuk mengalami, menghadapi tantangan, bekerja bersama, belajar dari kekurangan, dan bertumbuh melalui proses. Sebab, ketika murid dilibatkan, mereka tidak hanya menerima pembelajaran mereka mengalaminya secara langsung.Apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, peserta lomba, guru pendamping OSIS, guru pendamping panitia, Bapak dan Ibu Guru, serta tenaga kependidikan atas pemberian diri sepenuhnya selama penyelenggaraan Ursa Cup 2026. Terima kasih telah menjadikan kegiatan ini bukan sekadar sebuah acara, melainkan sebuah ruang belajar dan bertumbuh bersama.
Selengkapnya
News Image
Sekolah Bukan Hanya Menjadi Tempat Untuk Belajar Berbicara
Persoalan komunikasi menjadi perhatian masyarakat karena berdampak pada keresahan dan kemarahan massa. Gelombang demonstrasi dan kerusuhan pada bulan Agustus-September 2025 karena ucapan yang arogan dari sejumlah anggota DPR RI dan Bupati Pati Jawa Tengah di saat rakyat sedang mengalami kesulitan ekonomi dan buruknya layanan publik menunjukkan minimnya komunikasi empati pejabat publik (Kompas, 2025). Saling menyerang dan merespon dengan kata-kata yang tidak pantas di grup Whatsapp (WA) seolah menjadi hal yang normal. Manusia modern begitu mudah berkomunikasi, tetapi perjumpaan antarmanusia kerap diwarnai sikap yang jauh dari rasa hormat pada martabat manusia. Persoalan komunikasi yang tidak sehat, seperti lebih banyak berbicara tetapi sulit untuk mendengar, ingin dominan, dan percakapan dengan kata-kata ‘kotor’ menjadi perhatian serius dalam pendidikan. Akar masalah konflik antarsiswa tidak terlepas dari komunikasi yang mengedepankan emosi dan cenderung merendahkan orang lain. Mengapa topik komunikasi sangat relevan dalam dunia pendidikan?Mendengar Untuk Memahami SesamaPerjumpaan penulis dengan kebiasaan siswa yang lebih suka berbicara tetapi sulit mendengar, berbicara dengan kata-kata (bahasa) kasar dan cenderung menyerang bukan sekedar perilaku spontan. Menggunakan dengan kata-kata kasar atau percakapan yang menyerang di grup WA merupakan habitus. Sosiolog P. Bourdieu yang kritis pada masalah budaya dan pendidikan menegaskan habitus adalah praktik, cara berperilaku, cara bersikap, cara bertindak, dan pola kebiasaan yang melekat (mempribadi) dari seseorang yang terbentuk dari lingkungan sosial dan diwariskan hingga menjadi sesuatu yang alamiah (Basis, 2003). Masalah di atas dapat terjadi dalam lingkup pertemanan yang terbiasa dengan kata-kata kasar dan dianggap sebagai hal biasa. Perilaku menyerang dengan kata-kata tidak pantas lewat WA maupun secara langsung dapat terjadi karena anak ‘menonton pertunjukkan’ tersebut di media sosial. Bagi pelaku yang memiliki habitus menyerang, keberhasilan melukai orang lain dengan kata-kata menjadi kepuasan tersendiri.     Sekolah dapat membantu membangun budaya komunikasi yang sehat untuk menciptakan keteraturan, solidaritas, dan relasi yang hangat. Ada beberapa hal penting dalam upaya membentuk budaya komunikasi yang sehat. Pertama, membiasakan untuk mendengar. Pembelajaran di kelas menjadi ‘ruang’ pengalaman siswa dalam berkomunikasi. Melalui kebiasaan mendengar, siswa belajar memahami dan merasakan sudut pandang orang lain, menghormati orang yang sedang berbicara, dan menahan diri agar tidak selalu ingin dominan. Kedua, komunikasi yang berempati, seperti bertutur kata dengan tidak melukai perasaan orang lain yang sedang kesulitan, membantu teman tanpa merendahkan, dan tidak menghina atau mempermalukan orang lain. Memberi perhatian pada orang yang mengajak berbicara akan membawa kenyamanan dan penerimaan bahwa seseorang itu dihargai keberadaanya. Ketiga, mengutamakan dialog bila menghadapi masalah. Keempat, menggunakan bahasa yang lebih menghargai martabat orang lain, mulai dari menyapa dengan nama, tidak merendahkan dan mempermalukan orang lain. Kelima, konfirmasi atas informasi dan tidak reaktif, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman. Keterampilan berkomunikasi dengan merujuk pada pemikiran P. Bourdieu menjadi bagian dari modal sosial karena dengan berkomunikasi yang sehat, seseorang akan mendapatkan kepercayaan (trust) dan relasi yang luas. Cara Guru berbicara dan merespon pertanyaan atau masukan memberikan kesan kuat bagi siswa untuk belajar meniru komunikasi yang sehat. Cara penularan habitus yang paling inplisit adalah dengan keteladanan.Komunikasi bukan hanya persoalan pesan, baik secara verbal dan nonverbal. Lebih dari itu, komunikasi yang menghargai, mendengar, dan dapat dipertanggungjawabkan menjadi pondasi penting dalam pendidikan karakter. Sekolah bukan hanya menjadi tempat untuk belajar berbicara, tetapi juga belajar mendengar, menghargai, dan memahami sesama. Pendidikan menjadi salah satu pilar utama membawa pesan kebijaksanaan dalam berkomunikasi.Keluarga dapat memberi perhatian pada budaya komunikasi yang sehat sejak usia dini. Membiasakan anak memiliki sikap menghargai dalam bertutur kata, mendengar, dan memberi kesempatan orang lain berbicara harus dibiasakan sejak dini agar tidak tumbuh perilaku ingin dominan dalam relasi. Mendengar adalah kebiasaan sederhana tetapi memiliki muatan nilai yang sangat kuat, yaitu kesadaran untuk menghargai keberadaan orang lain. Mendengar telah menjadi habitus ketika seseorang melakukannya tidak dalam kondisi tunduk pada aturan atau teguran.Memberikan pengalaman bagi anak menjalin relasi dalam perbedaan agama dan budaya harus menjadi perhatian bagi keluarga. Mengapa demikian? Invasi komunikasi di media sosial dan doktrin agama dalam keluarga dapat membuat pandangan tentang agama semakin keras dan hal ini dapat terjadi di agama apapun. Lebih memprihatinkan lagi bila sejak usia dini pengajaran agama telah menanamkan jarak sosial bahkan sikap antipati terhadap agama lain (Rakyat Merdeka, 2018:11). Dalam suasana perbedaan, anak belajar menumbuhkan kepercayaan dirinya dalam berkomunikasi. Sikap dan keterampilan menghargai keberadaan orang lain melalui komunikasi bukanlah warisan genetik, tetapi melalui proses pembiasaan. Melalui ajaran cinta kasih, penulis memiliki keyakinan keluarga Katolik turut memberikan kontribusi nyata dalam menumbuhkan dan memperkuat habitus budaya komunikasi yang sehat. Perjumpaan menjadi momentum rasa menghargai anugerah ciptaan Tuhan. Pertemanan dan persahabatan yang sehat dapat tumbuh tatkala kita mampu mendengar, menghargai, dan memahami orang lain dari praktik keseharian yang sederhana. Disinilah pesan kuat Paus Leo XIV untuk hari komunikasi sedunia yang diperingati beberapa waktu lalu dan menjadi refleksi bersama.
Selengkapnya
News Image
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2026: Menyambut Perjalanan Baru
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) merupakan kegiatan pertama masuk sekolah yang dilaksanakan untuk memperkenalkan program, sarana prasarana, cara belajar, dan pembinaan kultur sekolah bagi murid baru. Kegiatan ini membantu murid beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang tidak hanya terdiri atas pengenalan bangunan sekolah maupun lokasi kelas, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai sekolah, pedoman perilaku, kegiatan yang difasilitasi sekolah (ekstrakurikuler, pembinaan sore, dan lainnya), pengenalan organisasi, serta orang-orang yang berada di dalam komunitas SMA Santa Ursula BSD. MPLS SMA Santa Ursula BSD bertujuan untuk menumbuhkan semangat, motivasi, dan cara belajar yang efektif bagi murid, serta mendorong interaksi positif antara murid baru dengan warga sekolah lainnya. Kegiatan MPLS dilaksanakan mulai Senin, 13 Juli 2026 hingga Jumat, 17 Juli 2026 di Kampus Santa Ursula BSD. Suasana penuh semangat dan sukacita mewarnai penyambutan murid pada hari pertama di SMA Santa Ursula BSD. Doa pagi dan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 stanza menjadi rutinitas pagi komunitas SMA Santa Ursula BSD yang memberi energi positif untuk memulai hari. Dalam rangka membuka hari pertama, seluruh guru dan staf SMA Santa Ursula BSD diperkenalkan kepada murid kelas X, XI, dan XII. Setelah itu, Bapak Catur Agus Sancoko selaku Kepala SMA Santa Ursula BSD memberikan motivasi kepada seluruh murid agar siap untuk menjalani masa SMA dengan penuh semangat dan tanggung jawab. Setelah mengenal guru dan staf sekolah, murid berproses di kelas bersama dengan wali kelas dan guru yang ikut mendampingi kegiatan. Proses dinamika kelas tersebut dirancang untuk menciptakan suasana kelas yang partisipatif, menyenangkan, dan hangat, sehingga antarmurid dapat mengenal satu dengan yang lain secara lebih mudah. Selain mengenal guru, staf, dan teman, murid diajak untuk mendalami visi, misi, dan semangat spiritualitas sekolah Santa Ursula BSD. Pengembangan karakter murid menjadi sorotan penting bagi sekolah demi membentuk komunitas pelajar berjiwa pemimpin yang berkarakter utuh, cerdas, dan melayani. Dalam rangka membangun pribadi tersebut, dilaksanakan pula pengenalan pedoman perilaku dan tata tertib, demi menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan diri murid. Untuk memeriahkan dan mensukseskan tujuan MPLS, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sebagai organisasi murid ikut serta mengambil peran. Badan Pengurus OSIS membantu merancang kegiatan untuk memperkenalkan lingkungan sekolah (wisata kampus), pengenalan organisasi, pengenalan program OSIS, serta merancang beberapa dinamika kelompok dalam bentuk permainan sehingga dapat menumbuhkan kebersamaan dan membuka ruang bagi murid kelas X untuk saling mengenal. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, BP OSIS juga memberikan kesempatan kepada kelompok Barisan Semangat Ursula (BURSA) untuk memperkenalkan fungsi dan tujuan dari kelompoknya, serta mengajak seluruh murid kelas X untuk melakukan chanting demi menumbuhkan semangat, kesadaran, dan rasa bangga akan almamater. Di akhir proses kegiatan pada setiap harinya, murid diberikan kesempatan untuk menulis refleksi harian di buku jurnal demi membangun kebiasaan positif untuk memaknai pengalaman yang diperoleh sepanjang hari. Melalui refleksi murid mampu menyadari nilai hidup yang diperoleh, menyadari perkembangan diri, serta merancang tindak lanjut untuk ke depannya. Sebelum pulang, berdoa dan menyanyikan Mars Serviam 3 stanza menjadi rutinitas yang dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap sekolah. Dengan terlaksananya MPLS, diharapkan seluruh murid dapat membuka jalan untuk mengenal diri sendiri serta lingkungan sekolah secara lebih mendalam. Kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk menumbuhkan 10 nilai Santa Ursula serta 6 nilai Serviam dalam diri murid yang dapat menjadi bekal selama perjalanan di SMA.Dokumentasi: Tim Dokumentasi MPLS
Selengkapnya
News Image
Ekspedisi Tuju Santa Ursula (XTRA): Belajar, Berkenalan, Bertumbuh Bersama
Memasuki tahun ajaran baru, SMA Santa Ursula BSD melaksanakan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Senin, 13 Juli hingga Rabu, 15 Juli 2026, sebagai kegiatan dalam penyambutan para murid baru kelas X yang memasuki langkah baru di jenjang yang lebih tinggi di SMA Santa Ursula BSD. Sebagai bagian dari rangkaian penyambutan, hadir pula program Ekspedisi Tuju Santa Ursula (XTRA) yang dilaksanakan pada hari Kamis, 16 Juli hingga hari Jumat, 17 Juli 2026, yang dirancang oleh Badan Pengurus OSIS 2026 untuk memfasilitasi masa orientasi para murid baru dalam pengenalan lingkungan sekolah yang lebih mendalam. Melalui kegiatan XTRA, para murid kelas X tidak hanya diajak untuk mengenal lebih dekat dengan lingkungan kampus mereka, tetapi juga menjalin kebersamaan dengan teman-teman seangkatan agar dapat bertumbuh dan beradaptasi bersama di lingkungan yang baru. Pada Kamis, 16 Juli 2026 para murid kelas X dikenalkan dengan ekstrakurikuler yang dimiliki oleh sekolah melalui kegiatan Gelar Karya Ekstrakurikuler. Sejumlah 40 ekstrakurikuler dan pembinaan dipersembahkan dalam bentuk booth interaktif, video dokumentasi, dan penampilan di atas panggung. Dalam kegiatan tersebut, satu kelas terbagi menjadi tiga kelompok yang bersifat acak dan merata serta dipimpin oleh pemandu tur untuk keliling booth ekstrakurikuler. Melalui kegiatan gelar karya, para murid tidak hanya mengenal lebih dalam akan kegiatan ekstrakurikuler di SMA Santa Ursula BSD, melainkan juga langkah pertama untuk berdinamika dengan teman-teman di dalam kelompok yang lebih dekat melalui setiap proses kegiatan yang dilewati bersama. Selain kegiatan gelar karya, para murid kelas X mendapatkan kesempatan untuk melakukan dinamika kelas yang didampingi oleh perwakilan dari Badan Pengurus OSIS 2026. Kegiatan tersebut merupakan wadah untuk para murid kelas X, baik dengan yang feeder maupun non-feeder, untuk membangun hubungan pertemanan yang lebih dekat di dalam satu kelas. Hal ini diwujudkan dalam sebuah permainan di mana para murid diminta mencari teman di kelas yang sesuai dengan sembilan kriteria berbeda dengan mengumpulkan tanda tangan mereka pada setiap kotak yang tersedia. Kegiatan ini tidak hanya melatih keberanian untuk berkenalan dengan teman-teman baru, namun juga mendorong kelas yang inklusif, kebersamaan, dan solidaritas untuk menjalani perjalanan mereka dalam satu tahun ke depan di kelas X. Pada Jumat, 17 Juli 2026 kegiatan XTRA berfokus pada pengenalan lingkungan kampus SMA Santa Ursula BSD yang disertai oleh permainan-permainan yang dilakukan oleh para murid kelas X. Sebelum mengikuti rangkaian pengenalan kampus, para murid terlebih dahulu mengikuti Sosialisasi Badan Pengurus OSIS 2026 yang memaparkan visi, misi, serta program kegiatan yang dijalankan oleh setiap seksi. Melalui sesi ini, para murid diharapkan dapat mengenal lebih dekat peran BP OSIS di dalam lingkungan sekolah serta memahami berbagai program kegiatan yang menjadi wadah untuk mereka dalam pengembangan potensi dan bakat di dalam keseharian bersekolah di SMA Santa Ursula BSD. Kegiatan keliling kampus dilaksanakan dalam kelompok yang sama dengan hari lalu serta dipandu oleh dua pemandu tur. Selama berkeliling, para murid tidak hanya diperkenalkan dengan berbagai fasilitas sekolah dan lingkungan sekolah, tetapi juga diajak untuk mengenal dan melakukan kebiasaan yang diterapkan di SMA Santa Ursula BSD, seperti menyapa guru maupun staf yang ditemui. Melalui kegiatan ini, para murid dapat lebih mengenal lingkungan sekolah serta menerapkan nilai-nilai dan budaya yang menjadi bagian dari kehidupan di SMA Santa Ursula BSD.  Di beberapa pemberhentian dalam kegiatan keliling kampus, terdapat pos yang merupakan kegiatan interaktif antara para murid kelas X untuk dapat mencoba sebuah aktivitas yang berhubungan dengan fasilitas yang mereka kunjungi. Contohnya yaitu fasilitas lab kimia, di mana para murid diberikan kesempatan untuk melakukan percobaan asam basa “tulisan ajaib”. Selain itu, terdapat fasilitas ruang dapur yang diselingi permainan cooking charades, di mana mereka harus memperagakan gerakan memasak secara estafet hingga orang terakhir harus menebak terhadap menu yang dimaksud. Terakhir para murid mengunjungi fasilitas hidroponik dan pengomposan sampah, di mana mereka menyaksikan proses pengomposan sampah organik serta mengikuti praktik hidroponik yang dipandu oleh Tim Ekologi. Ketiga pos ini merupakan bagian dari pengenalan fasilitas sekolah yang dikemas dalam berbagai aktivitas interaktif sehingga para murid dapat lebih mengenal lingkungan SMA Santa Ursula BSD secara lebih menyenangkan dan bermakna. Selain ketiga dinamika pos yang berikatan  dalam pengenalan lingkungan sekolah, terdapat pula kegiatan dinamika kelompok yang bertujuan dalam membangun kedekatan dan kekompakan para murid kelas X. Terdapat permainan “Siapa Dia?”, di mana setiap kelompok dibagi menjadi dua tim yang saling menebak orang perwakilan tim lawan yang dibatasi oleh sebuah kain. Selain itu, terdapat permainan “Pingpong Air”, di mana para kelompok berlomba untuk memindahkan bola pingpong hingga keluar dari barisan gelas dengan menuangkan air menggunakan tangan. Kedua permainan tersebut diharapkan dapat melatih kerja sama, komunikasi, kreativitas dalam memecahkan masalah, serta mempererat kebersamaan antar murid. Sebagai rangkaian dari penutupan XTRA, para murid kelas X diajak untuk berkenalan dengan komunitas Barisan Semangat Ursula (BURSA) yang merupakan semangat almamater SMA Santa Ursula BSD. Dipimpin oleh para pengurus BURSA, para murid diperkenalkan pada latar belakang berdirinya komunitas tersebut, yang kemudian dilanjutkan dengan chanting BURSA bersama sebagai wujud kebersamaan dan semangat sebagai bagian dari keluarga besar SMA Santa Ursula BSD. Kegiatan XTRA tahun ini memiliki tujuan selain dari membangun kedekatan antara para murid kelas X. Memasuki langkah di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, SMA Santa Ursula BSD ingin mendorong untuk seluruh komunitas sekolah dapat membangun hubungan yang harmonis dan kepedulian di antara anggotanya, baik di antara para murid, guru, maupun tenaga kependidikan. Melalui budaya yang terus ditanamkan, setiap individu diharapkan untuk mampu mengenal, menghargai, dan menciptakan inklusivitas antar tiap anggotanya di dalam lingkungan sekolah. Dengan demikian, XTRA menghadirkan sebuah upaya untuk menanamkan kebiasaan tersebut sejak awal masuk ke dalam lingkup SMA Santa Ursula BSD, terutama kepada para murid kelas X, yaitu kegiatan Misi TEMAN (Temui, Kenal, Bangun Relasi). Misi TEMAN merupakan kegiatan interaksi dan komunikasi dengan anggota komunitas SMA Santa Ursula BSD yang dilakukan dengan sistem paket bersifat anonim. Setelah para murid memilih paket tersebut, maka akan diumumkannya hasil kombinasi dalam paket yang didapatkan dan terdiri dari tiga kategori, yaitu antara; murid kelas X/XI/XII, guru, atau tenaga kependidikan (staf). Kegiatan ini berjalan selama satu minggu MPLS sebagai sarana bagi para murid untuk membangun relasi dan mengenal lebih dekat dengan seluruh komunitas SMA Santa Ursula BSD. Sebagai bentuk pengembangan dari pelaksanaan tahun sebelumnya, XTRA membuka kesempatan untuk para murid di luar Badan Pengurus OSIS untuk ikut terlibat di dalam kepanitiaan XTRA tahun ini. Keterlibatan tersebut diwujudkan mulai dari divisi pemandu tur, dinamika kelompok, perlengkapan, dan P3K, sehingga diharapkan bahwa kontribusi mereka tidak hanya sekedar dalam menyukseskan kegiatan XTRA, namun juga membangun rasa tanggung jawab, profesionalitas, dan aktif partisipasi dalam kegiatan yang diadakan oleh sekolah. Melalui pengalaman ini, para murid dapat mengembangkan kemampuan kerja sama, inisiatif, dan menumbuhkan rasa pelayanan dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran ini menyajikan gerakan “MPLS Ramah” yang digagaskan oleh Kemendikdasmen sebagai upaya dalam mewujudkan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua murid ketika memasuki lingkungan sekolah yang baru. Melalui gerakan ini, kegiatan MPLS diarahkan untuk membantu para murid dalam beradaptasi dengan lingkungan sekolah tanpa adanya praktik atau suasana yang merendahkan rasa kenyamanan dan kepercayaan murid di dalam lingkungan sekolah. Selain memperkenalkan lingkungan sekolah, MPLS juga menjadi sarana untuk menanamkan kebiasaan, nilai, serta budaya dalam kehidupan bersekolah sehingga para murid dapat membangun rasa memiliki terhadap lingkungan belajar dan pergaulannya. Semangat tersebut menjadi landasan dalam rangkaian kegiatan XTRA yang mengedepankan pengalaman yang interaktif, inklusif, dan partisipatif. Dengan demikian, kegiatan XTRA tidak hanya menjadi pengenalan lebih dalam akan lingkungan sekolah, namun juga menjadi langkah awal dalam membangun relasi, mengembangkan potensi, dan menanamkan nilai-nilai Serviam di dalam karakter yang menjadi bagian dari keluarga besar SMA Santa Ursula BSD. Dokumentasi: Seksi Publikasi
Selengkapnya
News Image
Memperingati 28 Tahun Pasca Reformasi: Talk Show Siswa Kaderisasi Kelas XI “Tiga Daya Jiwa Sebagai Pondasi Generasi Muda dalam Melestarikan Perjuangan Reformasi”
Reformasi tahun 1998 merupakan puncak perjuangan bangsa kita melawan keterbatasan ruang demokrasi, krisis ekonomi, praktik KKN, dan pemerintahan yang sangat represif pada masa Orde Baru.  Masa ini sangat terikat dengan perjuangan masyarakat Indonesia melawan ketidakadilan yang kemudian identik dengan aksi turun ke jalan para mahasiswa demi memperjuangkan hak-hak bangsa yang direnggut oleh kelompok-kelompok tidak bertanggung jawab. Seiring perkembangan teknologi, bentuk demonstrasi kini telah bertransformasi, di mana generasi muda tidak hanya beraksi secara fisik tetapi juga memanfaatkan media sosial untuk menyuarakan aspirasi melalui berbagai bentuk. Kendati akses digital semakin mudah, esensi utama yang harus dirawat oleh generasi masa kini adalah menjaga semangat reformasi yang berakar dari kesadaran kritis terhadap persoalan bangsa, bukan sekadar ikut-ikutan (FOMO). Pada hari Sabtu, 6 Juni 2026 siswa-siswi anggota Kaderisasi kelas XI dan beberapa Guru SMA Santa Ursula BSD memperingati 28 tahun pasca Reformasi Indonesia pada tanggal 21 Mei 1998 dengan menyelenggarakan Dialog Bersama Aktivis Reformasi Tahun 1998 mengenai Perjuangan Demonstrasi Mahasiswa di Masa Reformasi. Acara yang dibungkus dengan model dialog-workshop ini dilaksanakan di Aula SMP-SMA Santa Ursula BSD dari pukul 9.30 hingga 11.00 WIB. Dalam Talk show membahas mengenai pengalaman di balik puncak momen fundamental dalam sejarah politik dan ketatanegaraan Indonesia ini dikemas dengan tujuan membuka wawasan, meningkatkan kepekaan sosial, serta menggerakkan generasi muda untuk berani menyuarakan aspirasi dengan kritis dan logis di tengah-tengah hiruk pikuk media sosial beserta kemajuan teknologi. Talk show ini berpusat pada pengalaman Agnes Gurning (Kak Agnes), seorang staf dalam lembaga internasional yang dulunya merupakan mahasiswa jurusan sosiologi di Universitas Indonesia, Depok pada tahun 1998. Dengan mengangkat tema “Tiga Daya Jiwa Sebagai Pondasi Generasi Muda dalam Melestarikan Perjuangan Reformasi”, siswa-siswi anggota Kaderisasi juga mengundang MN Nurhasanah Munaf (Kak Moi), Ketua Kelompok Kopdit Pintu Air yang pernah bekerja sebagai buruh pabrik yang berperan sebagai koordinator demonstrasi buruh besar-besaran pada tahun 1998. Dengan melibatkan pihak yang turun langsung ke medan demonstrasi, diharapkan para siswa-siswi kaderisasi dapat menumbuhkan esensi perjuangan dan keberanian bersuara seiring berkembangnya peradaban Indonesia, menciptakan generasi muda yang dinamis dengan satu tujuan; menjunjung keadilan dan kesejahteraan bangsa.Pada sesi pertama, para narasumber diminta memaparkan sumber pemersatu/motivasi yang membuat mereka berani untuk maju sebagai demonstran. Kak Agnes menyampaikan bahwa latar belakang keluarga dan lingkungan sosialnya membuatnya menyadari tingginya kesenjangan ekonomi dan kultural, sehingga memantik kesadaran dan daya kritisnya terhadap fenomena sosial di sekitarnya. Ketika memasuki jenjang perguruan tinggi, Kak Agnes mempelajari tentang konstruksi sosial yang nyata dan tidak semerta-merta “turun dari langit”, di titik itu Ia menyadari bahwa diskusi mengenai pemerintahan Orde Baru yang membelenggu masyarakat di masa itu harus disertai dengan kontribusi nyata yang mampu membawa perubahan. Tekad Kak Agnes tidak berhenti di situ, melalui pengalaman live-in nya sebagai buruh, pengalamannya dengan korban-korban pelecehan, beserta pendekatannya dengan lingkup sosial IKOI (kumpulan orang tua yang anaknya mengalami penculikan) menjadi sarana pembelajaran nyata diluar teori-teori pembelajaran kampus semata.Narasumber lainnya adalah Kak Moi yang pada tahun 1998 sedang menduduki posisi sebagai supervisor di perusahaan Mayora. Selama pemerintahan represif Orde Baru pada tahun 1994-1996, aksi protes sudah tidak menjadi hal yang asing bagi para buruh. Buruh adalah pemegang ekonomi negara, sementara gaji buruh terus dipotong di tengah krisis moneter yang tidak ditangani dengan bijak oleh pemerintah. Menanggapi masalah struktural tersebut, Kak Moi mengikuti diskusi di bawah tanah dan ikut melakukan demonstrasi. Beliau bergabung dengan Komite Buruh Untuk Aksi Reformasi (KOBAR) yang pada akhirnya berhasil memobilisasi puluhan ribu aktivis. Protes yang dilakukan Kak Moi menuntut upah seratus persen bagi buruh, cuti hamil yang tetap digaji, dan cuti haid lebih dari dua hari. Fenomena-fenomena sosial tersebut mulai menciptakan masalah struktural yang mengikis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah serta merampas kesejahteraan sosial. Guna mencegah kembalinya era Orde Baru di tengah berbagai tekanan dan pelemahan terhadap gerakan aktivis saat ini, generasi muda perlu membawa perubahan nyata. Perjuangan sebaiknya tidak hanya dilakukan di media sosial, melainkan harus ditelusuri kembali dari akar rumput melalui diskusi-diskusi di lingkungan sekolah seperti yang sudah dilakukan oleh SMA Santa Ursula BSD. Berbagai faktor dan latar belakang dari peristiwa reformasi mulai dibahas lebih dalam pada sesi ke-2. Meskipun demonstrasi besar-besaran pada tahun 1998 berhasil mencapai tujuan awalnya, proses transisi dari pemerintahan menuju era reformasi belum cukup matang. Sisa kekuasaan dan struktur dari masa Orde Baru masih tetap ada sehingga kembalinya kebijakan Orde Baru tidak semerta-merta langsung terjadi, tetapi dicicil hingga masa kini. Tindakan represif yang awalnya hanya melibatkan fisik, kini menduduki ruang digital sebagai pewarisan sikap dari rezim Orde Baru. Media sosial terus diasah penggunaannya agar dapat menjadi alat penyampaian aspirasi yang mendukung, bukan sebagai ranah kekerasan digital yang mendegradasi bangsa. Sekarang, satu-satunya harapan berlabuh di para generasi muda Indonesia untuk tidak patah semangat dalam menyuarakan suara mereka; “Kritis dan janganlah pesimis!” merupakan prinsip yang masih dipegang teguh hingga kini oleh Kak Agnes dan Kak Moi.“Kita mau bawa bangsa ini ke arah mana?” ujar Kak Moi. Pertanyaan reflektif ini dapat menjadi motivasi utama bagi generasi muda untuk membawa perubahan. Teknologi adalah suatu alat yang dampaknya berada di tangan kita. Memang kita tidak bisa menghindari kenyataan yang ada, namun apa yang bisa kita lakukan sebagai pelajar di masa kini untuk mengatasinya? Pertanyaan ini membawa diskusi ke titik akhir bahwa tonggak penggerak bangsa dan negara bukanlah hukum, melainkan gerakan moral kolektif dari berbagai lapisan masyarakat termasuk pelajar. Penghujung acara ini kemudian diakhiri oleh kata penutup dari Ibu Eri. Menurut beliau, sebagai generasi muda terutama anggota kaderisasi, keberanian menjadi hal yang penting sehingga membentuk kesempatan untuk peduli dalam membuka pilihan dan batin. Sebagai generasi muda, siswa-siswi harus selalu bersiap dan bertanggung jawab atas setiap pilihan yang diambil. “Pikirkan dengan baik setiap keputusan dan jangan mempertaruhkan integritasmu.” tutupnya.Ketika diminta untuk memberikan pesan kepada generasi muda, Kak Moi mengatakan “Teruslah berjuang bersama semua elemen masyarakat agar tatanan negara terus terjaga, berjuanglah untuk anak muda. Mundur adalah pengkhianatan.” tutupnya dengan tegas. Di sisi lain, Kak Agnes juga berpesan; “Mulailah perubahan dari hal kecil yaitu diri sendiri contohnya dengan tidak menjadi pembully, memperhatikan bila ada teman yang mengalami ketidakadilan, memanfaatkan platform media sosial untuk menyuarakan pikiran kritis tentang isu-isu sosial,  dan mau berinteraksi dengan siapa saja agar bisa saling memahami terlepas dari adanya perbedaan.”Diharapkan setelah mengikuti acara ini, siswa-siswi SMA Santa Ursula BSD terlebih anggota Kaderisasi dapat menggunakan tiga daya jiwa yang dianugerahkan kepada mereka dengan bijak melalui menggunakan akal budi untuk berpikir kritis bukan pesimis, hati nurani untuk meningkatkan kepekaan sosial dan belas kasih, serta kehendak bebas untuk berintegritas dalam melestarikan perjuangan reformasi sebagai akar kemajuan bangsa. Dokumentasi: Tim Dokumentasi
Selengkapnya

Foto Kegiatan