Beyond Memorizing Lines: My First Acting Experience
Posted: 2026-05-18 | By: Abraham Jeges Ragnala Pardosi (XI C/1)
An ordinary classroom project eventually turned into an unforgettable journey of creativity, teamwork, and self-expression. During our English Literature drama project, each group was challenged to create a stage performance inspired by a movie of their choice.  My group decided to adapt Tinggal Meninggal, a film directed by Kristo Immanuel and transformed it into our own theatrical performance. Through this project, I not only learned more about literature and storytelling, but also experienced what it truly feels like to become a character on stage.Our group chose Tinggal Meninggal because we believed the film had a very unique concept compared to most movies.  One of the most interesting aspects of the film is how the main character directly speaks to the audience, creating a personal and interactive storytelling style. We found this approach creative and engaging, which inspired us to develop our own adaptation while still preserving the originality and emotional depth of the story.In our performance, I was given the role of Gema, the main character. Playing as Gema became a completely new experience for me because this was my first time acting seriously in front of the audience.  Gema is portrayed as someone who struggles with social interaction.  He often feels anxious and panics easily when talking to other people.  He also tends to mumble or talk to himself.  In the drama, Gema frequently shares his thoughts and feelings directly with the audience, which made the role even more challenging because I had to maintain both emotional expression and audience connection at the same time.The preparation process required a lot of effort and teamwork.  Before starting the rehearsals, our group held several script reading sessions to better understand the storyline, the emotions of each character, and the flow of the performance.  During these sessions, I tried to study Gema’s personality deeply so I could portray his awkwardness and anxiety very naturally.After the script reading sessions, we continued with blocking rehearsals. This was where we practiced movements, stage positioning, and scene transitions. Since Gema’s personality is socially awkward and nervous, I needed to pay close attention to my body language and facial expressions.  I practiced avoiding eye contact, reacting nervously during conversations, and creating small gestures that reflected Gema’s anxious personality.  Besides memorizing the script, I also spent time practicing tone of voice and emotional delivery, so the character would feel convincing on stage.Throughout the preparation process, our group also faced several difficulties, such as adjusting rehearsal schedules, improving scene timing, and making sure every performance detail matched the story we wanted to deliver. Despite these challenges, every group member continued supporting one another and worked together seriously to improve the drama.One of the most unexpected challenges happened during the final performance itself. There were several moments when I suddenly forgot parts of my script while being on stage. However, instead of panicking completely, I tried to stay calm and improvise naturally according to Gema’s personality.  Since Gema is portrayed as an anxious and awkward character who often hesitates and overthinks while speaking, I used those moments to remain in character by acting confused, pausing for a moment, and responding spontaneously.  Surprisingly, this made the performance feel even more natural because the nervousness I experienced matched Gema’s personality perfectly. Looking back on this experience, this drama project taught me many new things beyond simply performing on stage.  Through the role of Gema, I learned how acting is not only about memorizing lines, but also about expressing emotions and making the audience truly understand what a character is feeling.  More importantly, this project became one of the most memorable experiences for me because it was a long and meaningful journey shared with my group members.            We went through many phases together, from staying up late finishing the script, practicing scenes repeatedly, attending script reading sessions, creating props, and gathering at friends’ houses for rehearsals.  Even though the process was tiring at times, I genuinely enjoyed every moment of it.The laughter, deep talks, teamwork, and challenges we experienced together made this project feel incredibly special and unforgettable for me. Dokumentasi: Tim Dokumentasi
Selengkapnya
KETIKA NADA MENJADI DOA MELALUI HARMONI SEPTEM STELLARUM DI GEREJA SANTA PERAWAN MARIA BENTENG GADING
Posted: 2026-05-18 | By: Veronika Minarsih, Guru Ekonomi SMA Santa Ursula BSD
Tuhan sungguh baik, penuh belas kasihaku tak akan takut, sebab Dia sertakuKetika ku lemah dan berputus asa : “Datanglah padaku, maka beban berlalu”Aku s’lalu berharap, hanya kepada-MuKaulah satu-satunya penguat di hidupkuBiarkan ku bersandar pada kasih-Mudan berserah pada-Mu selamanya - Ki Young Kim Untaian lirik penuh makna di atas bukan sekadar bait lagu yang indah, melainkan sebuah doa dan penyerahan diri yang membumbung tinggi ke langit pagi ini. Alunan nada yang selaras tersebut dihasilkan dari kesatuan hati para murid yang mempersembahkan talenta terbaik mereka bagi kemuliaan Tuhan. Setiap ketukan, dinamika, dan perpaduan suara yang terdengar di dalam gereja bukanlah hasil instan, melainkan sebuah refleksi dari ketekunan, pengorbanan, dan iman yang bertumbuh bersama dalam sebuah komunitas pembelajar.Pada Minggu, 17 Mei 2026, dalam perayaan ekaristi pukul 09.00 WIB yang dipersembahkan oleh pastor RD Ignasius Wahyudi Paweling, paduan suara Septem Stellarum sukses melayani dalam tugas mulia sebagai petugas koor di Gereja Santa Perawan Maria Benteng Gading, Gading Serpong Paroki Alam Sutera. Paduan suara ini merupakan sebuah kolaborasi harmonis antara murid-murid SMP dan SMA Santa Ursula BSD. Melalui kolaborasi lintas jenjang ini, nilai-nilai humanis ditumbuhkan. Murid-murid tidak hanya dituntut memiliki kemampuan vokal, tetapi juga kepekaan hati untuk saling mendengarkan satu sama lain sehingga tercipta satu harmoni suara yang padu, dan dipersembahkan sepenuhnya untuk melayani Tuhan dan sesama. Semangat Serviam yang menjadi inti dari spiritualitas Ursulin, menjadi dasar utama dari seluruh rangkaian keterlibatan Septem Stellarum dalam tugas pelayanan gereja ini. Di tengah berbagai tugas dan dinamika pembelajaran sehari-hari, para murid dengan penuh sukacita meluangkan waktu dan mencurahkan tenaga untuk mempersiapkan tugas pelayanan secara batin dan teknis. Tugas pelayanan gereja ini menjadi sebuah momen reflektif yang mendalam bagi seluruh komunitas akademis bagaimana visi sekolah diwujudkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat. Bagi seluruh keluarga besar Santa Ursula BSD, keterlibatan aktif pelayanan dalam perayaan ekaristi di gereja menjadi bentuk nyata liturgi kehidupan yang mengakar pada visi sekolah yaitu membentuk manusia yang utuh, cerdas, dan melayani. Seperti untaian lirik lagu yang berjudul Tuhan Sungguh Baik Karya Ki Young Kim yang mereka bawakan dengan penuh penjiwaan, para murid diajak untuk bersandar sepenuhnya pada kasih Tuhan dan berserah kepada-Nya dalam setiap langkah hidupnya. Mengutip perkataan Santo Agustinus bahwa “Bernyanyi adalah Berdoa Dua Kali”, paduan suara Septem Stellarum tidak hanya bernyanyi dengan teknik suara yang indah, melainkan dengan jiwa yang rindu untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dan mengabdi dengan menjadi saluran berkat bagi sesama. Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan secara mendalam oleh pastor RD Ignasius Wahyudi Paweling, dalam homilinya. Beliau mengajak seluruh umat yang hadir untuk senantiasa berdoa memohon kehadiran Roh Kudus agar menjiwai setiap langkah kehidupan kita. Roh kudus itulah yang akan senantiasa memberikan motivasi, menghibur di kala lelah, dan menggerakkan diri kita semua agar mampu menjadi saksi kasih-Nya. Melalui lagu-lagu yang dibawakan oleh paduan suara Septem Stellarum, pesan homili tersebut tersebut terasa semakin hidup dan menyentuh hati setiap umat yang mendengarkannya.Pelayanan di Gereja Santa Perawan Maria Benteng Gading pagi ini berjalan dengan khidmat dan lancar. Nyanyian indah dari paduan suara Septem Stellarum dapat membawa umat ke dalam keheningan doa, sehingga mampu menghayati misa dengan lebih dalam. Kehadiran paduan suara Septem Stellarum membuat suasana liturgis menjadi lebih hidup, sekaligus membuktikan bahwa orang muda memiliki peran yang penting bagi kemajuan gereja.Atas terselenggaranya pelayanan yang penuh berkat ini, Sekolah Santa Ursula BSD menyampaikan terima kasih kepada RD Yohanes Hadi Suryono,  selaku pastor paroki yang telah menyambut dan memberikan kesempatan serta kepercayaan penuh kepada paduan suara SMP-SMA Santa Ursula BSD, Septem Stellarum. Apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada segenap pengurus dewan paroki, umat Gereja Santa Perawan Maria Benteng Gading, bapak dan ibu guru Santa Ursula BSD, serta seluruh orang tua murid yang senantiasa mendampingi, memberikan dukungan, dan doa bagi perkembangan iman dan bakat para murid. Semoga melalui pelayanan liturgis ini, nama Tuhan semakin dimuliakan dan semangat Serviam semakin berakar kuat, tumbuh subur, serta berbuah di dalam sanubari setiap murid di Santa Ursula BSD. Selamat atas tugas pelayanan yang luar biasa, Paduan Suara Septem Stellarum teruslah bernyanyi, memuji dan menjadi bintang-bintang terang yang mampu menuntun sesama menuju kasih Tuhan yang sejati.
Selengkapnya
Temu Purna Siswa Angkatan XXVIII: Perjumpaan dalam Rasa Syukur
Posted: 2026-05-13 | By: Yuliana Danik Suharti Guru Matematika SMA (Wali Kelas XII)
Dengan penuh rasa syukur, keluarga besar SMA Santa Ursula BSD bersama para lulusan dan orang tua berkumpul dalam acara Temu Purna Siswa Angkatan XXVIII. Perjumpaan ini menjadi penanda berakhirnya perjalanan pembelajaran para siswa di jenjang SMA sekaligus simbol penyerahan kembali para lulusan kepada orang tua untuk melanjutkan langkah mereka menuju masa depan.Suasana khidmat telah terasa sejak awal acara melalui prosesi perarakan pembuka yang menghadirkan “cucuk lampah” dengan karakter Gatotkaca. Kehadiran Gatotkaca bukan sekadar sebagai pembuka jalan, melainkan juga sebagai simbol pengantar perjalanan para lulusan menuju kehidupan yang lebih luas. Figur Gatotkaca melambangkan harapan agar para lulusan tumbuh menjadi pribadi yang kuat dalam nilai, rendah hati dalam pelayanan, serta berani membawa kebaikan di tengah masyarakat.Diiringi alunan musik tradisional Jawa, langkah Gatotkaca yang penuh wibawa menghadirkan filosofi tentang keberanian untuk terus melangkah, keteguhan dalam menghadapi tantangan, dan semangat pantang menyerah dalam memperjuangkan hal-hal baik. Nuansa budaya yang dihadirkan dalam prosesi ini memberikan makna mendalam bahwa setiap perjalanan hidup membutuhkan keberanian, kebijaksanaan, dan hati yang tulus.Prosesi semakin bermakna dengan kibaran bendera Merah Putih dan bendera Serviam yang dibawakan oleh para siswa kelas XI. Kedua bendera tersebut menjadi simbol bahwa para lulusan diharapkan mampu menumbuhkan rasa cinta kepada bangsa dan negara sekaligus menghidupi semangat Serviam dalam setiap langkah kehidupan mereka. Semangat melayani, peduli, dan berbela rasa diharapkan terus menjadi bagian dari identitas para lulusan SMA Santa Ursula BSD.Rasa syukur dalam Temu Purna Siswa semakin mendalam melalui sambutan yang disampaikan oleh Sr. Edith, OSU dan Bapak Catur Agus Sancoko. Dalam sambutannya, keduanya menyampaikan apresiasi atas perjuangan para lulusan selama menempuh pendidikan di SMA Santa Ursula BSD. Tidak hanya itu, mereka juga memberikan pesan perutusan agar para lulusan terus bertumbuh menjadi pribadi yang tangguh, berintegritas, rendah hati, dan mampu membawa dampak positif dimanapun mereka berada.Sebagai bentuk penghargaan atas usaha, kerja keras, dan daya juang para siswa, sekolah memberikan berbagai apresiasi di bidang akademik maupun non-akademik. Penghargaan tersebut menjadi ungkapan syukur atas ketekunan, semangat belajar, dan dedikasi yang telah ditunjukkan para lulusan selama menjalani proses pendidikan. Momen ini sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap pencapaian lahir dari proses panjang yang dijalani dengan kesungguhan, disiplin, dan semangat untuk terus berkembang.Kehangatan acara semakin terasa melalui sambutan dari perwakilan orang tua dan perwakilan lulusan. Dalam refleksi yang disampaikan, tergambar perjalanan panjang yang telah dilalui bersama, mulai dari tantangan, dukungan, hingga kebersamaan yang menjadi bagian penting dalam proses pertumbuhan setiap siswa. Dukungan keluarga, pendampingan para guru, serta persahabatan yang terjalin selama masa sekolah menjadi fondasi berharga yang akan terus dikenang oleh para lulusan.Tidak hanya itu, persembahan dari para lulusan turut menghadirkan suasana haru dan penuh makna. Melalui persembahan tersebut, para siswa menyampaikan ungkapan kasih, rasa terima kasih, dan kenangan kepada seluruh anggota komunitas sekolah yang telah mendampingi perjalanan mereka. Momen ini menjadi pengingat bahwa perjalanan pendidikan bukanlah perjalanan yang ditempuh sendiri, melainkan perjalanan bersama yang dipenuhi perhatian, dukungan, dan cinta dari banyak pihak.Puncak kegiatan Temu Purna ditandai dengan pemasangan Pin Serviam Angkatan XXVIII. Momen ini menjadi simbol selesainya perjalanan para siswa di SMA Santa Ursula BSD sekaligus penanda kesiapan mereka untuk melangkah menuju dunia yang lebih luas. Pin Serviam tidak hanya menjadi tanda kelulusan, tetapi juga lambang nilai-nilai yang akan terus dibawa dan dihidupi dalam kehidupan sehari-hari.Melalui Temu Purna Siswa Angkatan XXVIII, SMA Santa Ursula BSD kembali menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik semata. Pendidikan juga merupakan proses pembentukan karakter, penguatan hati untuk melayani, serta penumbuhan kepedulian terhadap sesama. Dengan semangat Serviam, para lulusan diharapkan mampu menjadi pribadi yang berintegritas, memiliki kepedulian sosial, dan terus membawa nilai-nilai kebaikan dalam setiap langkah kehidupan mereka.Dokumentasi: Nicole dan Keira XI-E
Selengkapnya
From Classroom to Stage: Turning Learning into Performance
Posted: 2026-05-05 | By: Alexandra Eleanora Katuuk (XI A / 4)
What started as a simple classroom assignment gradually turned into a full musical production.  As part of our 11th grade English literature project, group 2 of class XI A presented a drama adapted from the movie The Little Mermaid, combining acting, singing, and choreography into one performance.  This activity is aimed to help us understand better about storytelling while also building creativity, imagination, and confidence.Our performance was not just an ordinary drama, it was a musical adaptation from one of the famous Disney movies.  Beyond acting, we incorporated singing and choreography to bring the story to life in a more dynamic and engaging way. Transforming a well-known story into a live drama that pushed us to think creatively and step out of our comfort zones, especially for those who were not used to performing on stage.The performance took place in a classroom and it was attended by our fellow students. Each class was divided into two groups and we had the chance to watch each other’s performances.  This created a supportive yet exciting atmosphere, as we were not only performers but also an appreciative audience for our friends. The final performance for our group was held on 24 April 2026.Each group consisted of around 13–14 members, making up about half of the class.  Every member played an important role, from acting and singing, handling costume and make up, designing a poster, producing a trailer, creating music illustrations, to preparing props and organizing scenes.  In my group, I took on the role of being a director in which I helped guide and direct the team throughout the preparation and on the performance, bring ideas together, and ensure that the performance ran smoothly.The journey toward the final performance was far from easy.  We spent a significant amount of time on scriptwriting, carefully adapting the original story into a version suitable for a small drama.  At the same time, we worked on creating props, organizing costumes, and planning stage movements or blocking.  Some of the props were handmade using simple materials which made the process more creative and resourceful.  Some others were big and heavy duty props which took us a long time to finish.  Since our drama included musical elements, we also had to practice singing and choreography which required extra coordination and effort. Rehearsals became a crucial part of our preparation. We practiced repeatedly to refine our acting, synchronize our singing, and perfect our choreography.  In addition, we had to practice on how the lighting turned out, where to put the props, paying attention to important aspects of each scene, and the little details to make the drama alive.  There were moments of difficulty in managing time, aligning everyone’s schedules, and maintaining consistency.  However, these challenges ultimately strengthened our teamwork and commitment.After weeks of preparation, the day of the performance finally arrived.  Our musical drama ran for approximately 41 minutes.  Seeing everything come together on stage was incredibly rewarding.  The combination of handmade props, coordinated movements, and musical elements brought the story to life in a way that exceeded our expectations. “This musical was challenging but it helped us become more confident and work better as a team,” said one of the students who participated in the performance.Looking back, directing this musical drama was far more than just completing a school assignment.  It was an unforgettable journey which brought our creativity and teamwork to life. Through this experience, we not only deepened our understanding of English literature but also developed valuable skills such as leadership, collaboration, discipline, and perseverance. Experiences like this show that learning can go beyond the classroom, becoming both meaningful and inspiring.  It also showed us that with enough effort and cooperation, we are capable of creating something we can truly be proud of.
Selengkapnya
PENDIDIK ADAPTIF YANG KUAT DALAM NILAI DAN LENTUR DALAM CARA Buah permenungan pendidik untuk terus bertumbuh dengan semangat Serviam
Posted: 2026-05-05 | By: Veronika Minarsih, Guru Ekonomi SMA Santa Ursula BSD
Pagi itu, kaki ini melangkah dengan penuh semangat menuju kelas. Doa pagi dan nyanyian Indonesia Raya memberikan energi positif dan optimisme diri untuk terus bertumbuh. Berdiri di depan kelas dan mendengarkan salam dari murid, sejenak memberikan kesadaran bahwa segala sesuatu dalam ruang kelas ini terus berubah. Murid yang duduk di depan saya bukan lagi generasi yang sama dengan murid yang saya didik lima atau sepuluh tahun yang lalu. Mereka hadir ke sekolah dengan cara berpikir yang berbeda, dengan pertanyaan-pertanyaan kritis yang melampaui batas buku teks, dan dengan kebutuhan yang jauh lebih kompleks dari sekadar nilai akademis.Teringat kembali akan ajaran Ki Hajar Dewantara sebagai bapak Pendidikan Nasional, meskipun pemikiran tersebut lahir lebih dari satu abad yang lalu, tetapi ajarannya tetap hidup dan terasa sangat relevan di tengah cepatnya perubahan zaman. Beliau mengajarkan bagaimana menjadi pendidik yang mampu hadir sepenuhnya dan terus bertumbuh bersama murid. SMA Santa Ursula BSD memegang teguh visi manusia utuh, cerdas, dan melayani. Visi tersebut memanggil setiap pendidik lebih dari sekedar menyampaikan materi. Nilai Serviam menjadi roh yang menghidupi setiap langkah dalam mendidik murid. Melayani murid dengan sungguh-sungguh berarti bersedia untuk terus belajar, terus bertumbuh, dan menjadi pendidik yang adaptif. Nilai Serviam merupakan perwujudan nyata dari inti filosofi Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang berhamba pada murid, bahwa seorang pendidik harus memandang murid dengan rasa hormat dan memfasilitasi tumbuh kembang mereka menjadi manusia utuh, yang cerdas secara akal dan kaya secara jiwa. Tiga semboyan Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani menjadi peta perjalanan pendidik yang adaptif. Ing ngarso sung tulodo bermakna pendidik berada di depan mampu memberikan keteladanan. Langkah awal seorang pendidik yang adaptif harus berani menjadi contoh dalam hal keterbukaan terhadap perubahan. Ketika saya bersedia belajar platform digital baru, ketika saya berani mengakui kemampuan teknologi murid yang lebih baik dari saya, dan ketika saya berani menerapkan metode pembelajaran yang belum pernah digunakan, disitulah saya sedang memberikan keteladanan. Ing madyo mangun karso bermakna pendidik berada di tengah mampu membangun kehendak. Peran pendidik sebagai fasilitator semakin nyata, pendidik yang adaptif tidak berdiri di depan murid sebagai pemegang tunggal kebenaran, ia duduk bersama murid, mengajukan pertanyaan yang memantik, menciptakan ruang aman dimana murid berani mengeksplorasi ide-ide mereka. Tut wuri handayani bermakna pendidik dari belakang mampu memberikan dorongan. Pendidik yang adaptif tahu kapan harus melangkah maju, kapan berdiri sejajar, dan kapan mundur untuk memberi ruang. Ketiga semboyan tersebut mampu menjadi fondasi yang kuat dalam mengembangkan pribadi murid yang cerdas, utuh, dan memiliki semangat Serviam. Sistem among Ki Hajar Dewantara menjadi fondasi peran pendidik sebagai agen perubahan. Dalam sistem ini, murid dipandang sebagai subyek yang memiliki kodrat dan potensi unik yang perlu dirawat dan dikembangkan. Menjadi agen perubahan bukan berarti memaksakan perubahan atas murid, tetapi mampu menciptakan kondisi dimana murid sendiri mampu menemukan alasan dan dorongan untuk bertumbuh. Seorang pendidik juga perlu dirawat, bahwa pendidik tidak bisa terus memberi jika dirinya sendiri kosong. Refleksi menjadi salah satu cara penting untuk merawat diri pendidik. Dalam setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap semester, pendidik perlu berhenti sejenak dan bertanya, apakah saya masih tumbuh? Apakah cara mengajar saya masih relevan dengan kebutuhan murid? Pada bagian mana saya perlu belajar lebih atau perlu melepaskan cara lama yang tidak lagi efektif? Refleksi bukanlah kelemahan, tetapi menjadi sumber kekuatan pendidik.Kini kelas yang berubah bukan lagi ancaman, ini adalah undangan untuk terus belajar bersama murid, untuk terus tumbuh, dan untuk terus menjadi lebih baik dari versi pendidik yang lalu. Filosofi Ki Hajar Dewantara dan nilai serviam berpadu dalam perjalanan diri pendidik. Keduanya mampu membangun satu kesadaran bahwa mendidik adalah panggilan untuk hadir sepenuhnya sambil terus merawat dan mengembangkan diri. Pendidik yang adaptif bukan pendidik yang terbawa arus tanpa arah, ia adalah pendidik yang berakar kuat dalam nilai-nilai luhur, tetapi cukup lentur untuk menemukan cara-cara baru dalam mewujudkan nilai-nilai tersebut. Pendidik adalah agen perubahan, bukan karena mampu merubah murid, tetapi karena ia mampu menemami murid menemukan potensi terbaik dalam diri mereka. Serviam, aku melayani menjadi kompas setiap kali masuk ke dalam kelas untuk mewujudkan pendidikan yang memerdekakan selaras dengan cita-cita yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara. Dokumentasi: Brian dan Aldric XI-C
Selengkapnya
Kartini Perempuan yang Menulis
Posted: 2026-04-21 | By: Ignatius Bayu Sudibyo
Raden Ajeng Kartini dilahirkan di Jepara tanggal 21 April tahun 1879. Dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang berisi kumpulan surat R.A. Kartini diceritakan bahwa pandangan Kartini yang progresif mengalir dari Kakeknya, Bupati Demak Pangeran Tjondronegoro IV dan ayahnya, Bupati Jepara Raden Mas Adipati Aryo Sosroningrat. Kepada Nona E.H. Zeehandelaar, Kartini menceritakan bahwa Pangeran Ario Tjondronegoro IV sangat menyukai kemajuan dan merupakan Bupati Jawa Tengah pertama yang membuka peradaban barat untuk keluarganya melalui pendidikan Eropa (Kartini, 2011: 8). Kartini meninggal di usia muda, tepatnya pada tahun 1904 dan dimakamkan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pada tahun 1964 Presiden Sukarno menetapkan Kartini sebagai pahlawan nasional. Kartini adalah konseptor dalam sejarah Indonesia modern yang lahir di saat kolonialisme, feodalisme, dan patriarki mengakar kuat di Hindia Belanda. Kartini menyadari kondisi kaum perempuan sebagaimana dikatakan dalam suratnya kepada Nona E.H. Zeehandelaar. Perempuan Jawa pada usia 12 tahun dikurung di rumah dan terasing dari dunia luar karena tradisi pingitan. Ia tidak tuli dan tidak buta tentang belenggu adat tersebut. Dalam pandangan Kartini, perubahan itu baru akan terjadi 3-4 keturunan sesudah generasinya (Kartini, 2011: 7-9). Lewat buku Panggil Aku Kartini Saja, karya Pramoedya Ananta Toer dan Kartini. Sebuah Biografi, karya Sitisoemandari Soeroto terlihat jelas bahwa Kartini merepresentasikan kaum perempuan yang lebih dahulu ‘bangun’ untuk memperbaiki keadaan melalui pendidikan, sehingga ia disebut sebagai ibu nasionalisme (Soeroto, 1983: 438)Apakah hari Kartini hanya sebatas ritual kebaya dan sanggul semata? Tentu tidak! Justru pemikiran Kartini hendaknya direnungkan karena ia menyelami kehidupan secara kritis dari akar permasalahan bangsa. Salah satu suratnya kepada Nyonya Abendanon sebagaimana terdapat dalam buku Surat-Surat Kepada Ny. R.M. Abendanon Mandri dan Suaminya mengulas kritik Kartini terhadap praktik patriarki (poligami) yang telah hidup dalam masyarakat karena dilindungi ajaran Islam dan kebodohan perempuan (Sutrisno, 1989: 10-11). Dalam pandangan sejarawan Hilmar Farid lewat artikelnya di Tempo, Kartini dan Ruang Dalam Bangsa, Kartini adalah pemikir dan aktivis peletak dasar emansipasi wanita. Ia menyuarakan arti penting pendidikan bagi anak agar tidak lagi dianggap persoalan sekunder (Farid, 2013: 86-87).Pendukung Jalannya PeradabanMelalui surat-suratnya yang diterjemahkan Sulastin Sutrisno, Kartini bersuara tentang pendidikan sebagai kehormatan bagi manusia. Melalui proses yang luhur, seorang pendidik secara moral berkewajiban membina watak yang lebih penting daripada hanya mengejar ilmu (Sutrisno, 1989: 73). Pengetahuan bukanlah akhir dari pendidikan, karena yang terutama dari pendidikan adalah memberikan keluhuran watak agar bermanfaat bagi kemajuan derajat manusia. Aspek kemanusiaan dalam pandangan Kartini mendapatkan tempat lebih tinggi di atas kecerdasan pengetahuan semata. Kartini memperjuangkan pendidikan yang awal mulanya ditujukan kepada kaum perempuan. Mengapa? Karena perempuan sebagai pendukung jalannya peradaban. Para ibu secara alamiah dititahkan sebagai pendidik dan pembimbing utama nilai-nilai kesusilaan. Di pangkuan ibu, anak mulai belajar merasakan, berbicara, berfikir, dan pendidikan waktu kecil besar pengaruhnya bagi perkembangan hidup selanjutnya (Sutrisno, 1989: 74). Peran keluarga dalam proses pembentukan karakter sangat fundamental, baik sebagai tempat anak belajar pertama kali dan mencari figur keteladanan. Bagaimana ibu dapat mendidik anaknya kalau mereka sendiri tidak terdidik? Bangsa kita tidak dapat maju, kalau kaum perempuan tidak diikutsertakan dalam usaha pembudayaan bangsa. Mengutip pendapat sejarawan dan sekaligus pendiri penerbitan Komunitas Bambu JJ Rizal dalam majaah Tempo, Kartini telah meletakkan titik persoalan yang menjadi semacam api atau obor untuk diteruskan para generasi berikutnya (Rizal, 2013: 96-97).Penulis melihat ada relevansi pemikiran Kartini dengan pandangan Driyarkara, bahwa pendidikan adalah proses pembudayaan atau pemanusiaan manusia muda. Peran serta ibu sangatlah besar sehingga perlu memberikan bekal bagi remaja puteri tentang pengetahuan dan keterampilan hidup yang kelak memberikan manfaat ketika mereka menjadi seorang ibu. Bagaimana dengan laki-laki? Untuk kemajuan bersama kaum laki-laki juga harus dididik dalam hal tata kesusilaan, sehingga tumbuh sikap menghargai terhadap kaum perempuan, sama seperti menghargai ibunya. Jangan membiasakan anak kecil minta dihormati, tetapi biasakan terlebih dahulu untuk menghormati orang lain (Soeroto, 1983: 74&297). Pendidikan seperti ini harus ditanamkan sejak usia dini dan terasa sangat relevan hingga hari ini. Kasus-kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, termasuk lembaga pendidikan berbasis agama menunjukkan masih sangat kuatnya budaya patriarki. Pemikiran Kartini melampaui zamannya karena kaum bangsawan di saat Kartini hidup justru sangat nyaman dengan kedudukannya. Bagi Kartini, semakin tinggi derajat seseorang, justru semakin besar tanggung jawabnya. Kebangsawanan seseorang bukan untuk disembah-sembah dan yang terpenting dalam pandangan Kartini adalah kebangsawanan hati nurani yang turut memikul tanggung jawab terhadap rakyatnya. Tentu kita prihatin ketika banyak orang begitu cemerlang secara akademis, tetapi tidak memiliki kepekaan sosial untuk melihat ke bawah yang justru sangat membutuhkan dorongan kemajuan. Politisi-politisi muda sebagai penyelenggara negara justru tersandera kasus korupsi.Keluarga adalah lingkungan pertama untuk membangun intelektualitas. Kartini belajar dari sang ayah dan kakaknya R. M. Sosrokartono yang tercatat sebagai mahasiswa pribumi pertama yang studi di negeri Belanda. Pandangan ayahnya cukup progresif dalam mendidik Kartini, meski adat tetap dilaksanakan agar tidak dipandang terlalu menyimpang dari tradisi. Dari mereka, Kartini belajar tentang sejarah negerinya dan pemikiran barat yang menumbuhkan semangat untuk memperjuangkan derajat bangsa, meski saat itu istilah Indonesia belum dikenal. Ayahnya telah membimbing watak Kartini dan adik-adiknya dengan mendekatkan mereka pada realita kehidupan rakyat di luar tembok kabupaten. Setelah dipingit di masa remaja, Kartini dan adik-adiknya diberikan kesempatan untuk blusukan hingga lahir perhatian yang besar terhadap kemajuan kesenian rakyat khas Kabupaten Jepara (Soeroto, 1983: 106). Ini adalah proses pendidikan humaniora dan tentu sangat relevan bila orang tua dan sekolah mengangkat cita rasa berkesenian untuk merawat identitas budaya bangsa agar tidak tercabut dari akarnya. Bangsa mancanegara yang menempuh studi di Indonesia banyak yang mendalami mengapa kita justru meninggalkannya?  Bersahabat Dengan BukuMedia pembelajaran apa yang turut membentuk sikap kritis Kartini? Sejak kecil Kartini memiliki hasrat yang tinggi terhadap pengetahuan. Kedekatannya dengan buku, majalah, dan ketekunan mempelajari bahasa Belanda membuat Kartini terampil membaca dan menulis sehingga tampil sebagai pribadi yang kritis dan ekspresif. Bagi Kartini, menulis adalah panggilan sosial dan sikap kritisnya tercermin dari gugatan terhadap adat yang membawa keterbelakangan perempuan. Sejak usia 16 tahun, ia menyukai dan telah membaca novel Max Havelaar, karangan Multatuli yang memberi pandangan kritis terhadap dampak kolonialisme Belanda di tanah Jawa (Toer, 2003: 158-159). Ia didukung oleh sang ayah dengan mengirimkan artikel yang ditulis Kartini tentang Perkawinan Masyarakat Koja di Jepara sebagai artikel pertamanya yang dimuat dalam surat kabar di negeri Belanda.Mengapa minat membaca anak sebagai kebutuhan semakin terkikis dewasa ini? Padahal buku dan menulis dapat melatih imajinasi, membangun idealisme, estetika, ketenangan, dan kesabaran. Membaca dan menulis adalah bagian pendidikan humaniora. Bersahabat dengan buku hendaknya dibiasakan sejak usia dini sehingga menghidupkan tradisi literasi di dalam keluarga adalah kemajuan yang luar biasa. Kisah di atas menunjukkan bahwa pandangan kemajuan Kartini merupakan warisan budaya literasi dari orang tuanya.Pemikiran Kartini tentang pendidikan mengingatkan kita bahwa keluarga adalah landasan pembentukan karakter anak dan sejumlah persoalan anak dewasa ini tidak terlepas dari ketegangan yang terjadi di dalam lingkungan terdekatnya. Keluarga dan sekolah harus semakin bersinergi dalam mempersiapkan mereka di tengah situasi global. Lingkungan yang mengasuh memberikan pengaruh yang sangat besar bagi anak didik kita untuk tumbuh dan berkembang selaras dengan kebutuhan jaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur budaya. Semoga kita semakin bijak dalam merawat kisah atau ingatan kolektif bangsa untuk membaca situasi jaman karena kedewasaan sebuah bangsa dapat diukur dari sikapnya terhadap sejarah. Terlepas pro dan kontra tentang sosok Kartini, pemikiran dalam surat-suratnya masih relevan untuk kita renungkan hari ini.***
Selengkapnya
MENJAGA API SEMANGAT, KEBERANIAN, DAN KETANGGUHAN DALAM SATU BARISAN
Posted: 2026-04-16 | By: Veronika Minarsih, guru Ekonomi SMA Santa Ursula BSD
Masih terekam jelas dalam ingatan teriakan lantang, “Pagi, pagi, pagi…Ursula, Luar Biasa!” yang menggema di lereng Gunung Salak bulan Januari lalu. Hari ini Rabu, 15 April 2026 SMA Santa Ursula BSD kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk karakter murid yang tangguh, disiplin, dan berjiwa kepemimpinan melalui kegiatan penyegaran pelatihan fisik dan mental bulan Januari lalu. Kegiatan ini menjadi langkah penting untuk memastikan dan menguatkan nilai-nilai dan semangat kedisiplinan, kebersamaan, ketahanan fisik, serta nilai-nilai lainnya yang telah diperoleh tiga bulan sebelumnya tetap hidup dan terimplementasi dalam keseharian murid di sekolah.Berbeda dengan pelatihan di alam terbuka, kegiatan kali ini dirancang dalam format padat di lingkungan sekolah dengan durasi waktu 75 menit untuk menguji kembali konsistensi murid dalam hal kedisiplinan waktu dan ketahanan fisik dengan tetap mengusung prinsip kedisiplinan dan kerja sama tim. Seluruh murid kelas X dibagi menjadi lima kelompok lintas kelas, dengan anggota 36 murid setiap kelompok sehingga mampu memperkuat solidaritas antarkelas. Rangkaian kegiatan dimulai tepat pukul 12.45 di jam perwalian dengan koordinasi intensif dari tim fisik mental kelas X. Dalam waktu singkat, murid diajak kembali untuk membangkitkan yel-yel khas SMA Santa Ursula BSD, Pagi, pagi, pagi…Ursula, luar biasa!Para murid ditantang untuk melakukan manajemen waktu yang ketat saat berganti pakaian hingga berbaris rapi sesuai barisan kelompok dalam waktu 10 menit. Sesuai dengan rumusan gerakan bersama angkatan yang telah disusun bulan Januari lalu, dalam kegiatan ini diterapkan sanksi yang tegas bagi murid yang datang terlambat atau tidak mengikuti kegiatan sesuai ketentuan. Hal ini sejalan dengan nilai kedisiplinan yang menjadi inti dari pelatihan fisik dan mental sebelumnya.Kegiatan penyegaran pelatihan fisik dan mental diawali dengan pemanasan dasar yang dipimpin oleh perwakilan murid kelas X. Tantangan fisik murid sesungguhnya, dimulai dengan lari ketahanan selama 6 menit bagi setiap kelompok sebagai ujian daya juang murid. Memori murid di Pusat Pendidikan Latihan Tempur (Dodiklatpur) Rindam Jaya diingatkan kembali dengan melaksanakan latihan Peraturan Baris Berbaris (PBB). Sesi ini tidak hanya dipimpin oleh tim fisik dan mental kelas X, tetapi juga melibatkan murid yang ditunjuk secara acak untuk memimpin barisan guna melatih aspek kepemimpinan dan fokus. Kegiatan diakhiri dengan doa bersama dan menyanyikan lagu mars Serviam. Melalui kegiatan penyegaran fisik dan mental ini, SMA Santa Ursula BSD berharap kepada para murid kelas X tidak hanya menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki mentalitas pemenang yang tangguh, disiplin, dan memiliki empati terhadap sesama. Kegiatan penyegaran pelatihan fisik dan mental ini menjadi bukti bahwa pendidikan karakter di SMA Santa Ursula BSD tidak berhenti di satu momen besar, tetapi terus dipupuk, dirawat, dan dihidupkan dalam satu langkah, satu barisan, dan satu teriakan semangat. Semangat Gunung Salak belum padam, Ursula tetap luar biasa!
Selengkapnya
Menyiapkan Masa Depan dengan Sanur Mentality: Belajar dari Jejak Alumni Inspiratif
Posted: 2026-04-13 | By: Eka Setiawan, Guru Bahasa Indonesia SMA
Semangat untuk bertumbuh, berani mencoba, dan tetap tangguh dalam menghadapi tantangan menjadi pesan utama dalam Seminar Sanur Mentality yang diselenggarakan oleh SMA Santa Ursula BSD. Kegiatan ini menghadirkan para alumni sebagai narasumber yang berbagi pengalaman nyata dari perjalanan akademik hingga dunia profesional. Dengan mengusung konsep reflektif dan inspiratif, seminar ini menjadi ruang belajar yang bermakna bagi para murid untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan.Seminar ini diikuti dengan antusias oleh para murid yang ingin mendapatkan gambaran lebih luas mengenai kehidupan setelah lulus sekolah. Tidak hanya berfokus pada pilihan jurusan atau perguruan tinggi, kegiatan ini juga menekankan pentingnya membangun karakter dan mentalitas yang kuat sebagai bekal utama dalam menjalani berbagai fase kehidupan.Empat alumni hadir sebagai pembicara dengan latar belakang pendidikan yang beragam, yaitu Nixie, lulusan Monash University Australia jurusan Bachelor of Early Childhood & Primary Education; Lica, lulusan Institut Teknologi Bandung jurusan Desain Produk; Lina, lulusan Institut Pertanian Bogor jurusan Agronomi; serta Lentera, lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti jurusan Perhotelan. Keempatnya membagikan kisah perjalanan yang tidak selalu mudah, tetapi sarat pembelajaran dan pengalaman berharga.Dalam pemaparannya, Nixie mengisahkan pengalamannya menempuh pendidikan di luar negeri yang menuntut kemandirian tinggi, kemampuan beradaptasi, serta keterbukaan terhadap perbedaan budaya. Ia menekankan bahwa keberanian untuk keluar dari zona nyaman merupakan langkah awal untuk berkembang. Menurutnya, Sanur Mentality tercermin dalam sikap pantang menyerah dan kemauan untuk terus belajar dari setiap pengalaman.Sementara itu, Lica membagikan pengalamannya selama berkuliah di Institut Teknologi Bandung yang penuh tantangan, terutama dalam hal manajemen waktu dan tuntutan kreativitas. Ia menegaskan bahwa konsistensi dan disiplin menjadi kunci utama dalam menghadapi tekanan akademik. Lica juga mengajak para murid untuk tidak takut mengeksplorasi ide dan mengembangkan potensi diri sejak dini.Lina, yang menempuh pendidikan di bidang Agronomi, memberikan perspektif mengenai pentingnya mengenali minat dan passion. Ia menjelaskan bahwa memilih jurusan bukan semata-mata mengikuti tren, melainkan berdasarkan ketertarikan dan tujuan jangka panjang. Lina juga menekankan bahwa setiap proses, termasuk kegagalan, memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kedewasaan seseorang.Di sisi lain, Lentera yang berkecimpung di dunia perhotelan membagikan pengalaman tentang pentingnya keterampilan komunikasi, kerja sama tim, serta sikap profesional. Ia menjelaskan bahwa dunia kerja menuntut tidak hanya kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan interpersonal yang baik. Sanur Mentality, menurutnya, tercermin dalam sikap melayani dengan sepenuh hati dan tetap rendah hati dalam setiap situasi.Istilah Sanur Mentality yang diangkat dalam seminar ini menjadi benang merah dari seluruh pengalaman yang dibagikan. Mentalitas ini mencerminkan sikap tangguh, adaptif, disiplin, serta mampu menghadapi perubahan dengan sikap positif. Para alumni sepakat bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh ketekunan dan karakter yang kuat.Antusiasme murid terlihat jelas sepanjang kegiatan berlangsung. Sesi tanya jawab menjadi momen interaktif yang memperlihatkan rasa ingin tahu murid terhadap dunia perkuliahan dan kehidupan setelah lulus. Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari cara memilih jurusan, menghadapi kegagalan, hingga tips menjaga keseimbangan antara akademik dan kehidupan pribadi.Kegiatan ini juga mempererat hubungan antara sekolah dan para alumni. Kehadiran alumni sebagai pembicara menunjukkan bahwa ikatan kekeluargaan dalam komunitas sekolah tetap terjaga meskipun telah lulus. Para alumni tidak hanya berbagi pengalaman, tetapi juga memberikan motivasi dan semangat kepada para murid untuk terus melangkah maju.Melalui Seminar Sanur Mentality, diharapkan para murid semakin siap menghadapi tantangan masa depan dengan sikap yang lebih matang dan percaya diri. Nilai-nilai yang dibagikan dalam kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bekal berharga dalam perjalanan akademik maupun kehidupan mereka ke depan.Pada akhirnya, seminar ini menjadi pengingat bahwa setiap murid memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan meraih impian. Dengan memiliki Sanur Mentality, para murid diharapkan mampu menghadapi setiap tantangan dengan keberanian, ketekunan, dan semangat untuk terus belajar. Masa depan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dipersiapkan dengan penuh keyakinan dan harapan.
Selengkapnya
Kristus Bangkit, Harapan Baru Bagi Kita: Ibadat Paskah SMA Santa Ursula BSD
Posted: 2026-04-13 | By: I. Agnes Nabella, Guru Bahasa Indonesia SMA
Pada Rabu, 8 April 2026, keluarga besar SMA Santa Ursula BSD menggelar Ibadat Paskah yang diikuti oleh seluruh guru serta murid kelas X dan XI. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh khidmat dan sukacita, mengusung tema “Kristus Bangkit, Harapan Baru Bagi Kita.” Tema tersebut menjadi pengingat mendalam akan makna kebangkitan Kristus sebagai sumber harapan dan kekuatan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.Ibadat Paskah dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian pembinaan iman yang rutin diadakan oleh sekolah, sekaligus menjadi momen refleksi bersama setelah menjalani masa Prapaskah. Seluruh peserta ibadat hadir dengan sikap penuh hormat dan keterlibatan aktif, menciptakan suasana yang tenang namun sarat makna. Sejak awal ibadat dimulai, nuansa sakral sudah terasa melalui alunan lagu pembuka yang dibawakan oleh paduan suara murid.Dalam homili yang disampaikan, peserta diajak untuk merenungkan makna kebangkitan Kristus tidak hanya sebagai peristiwa iman, tetapi juga sebagai panggilan untuk bangkit dari berbagai keterpurukan dalam hidup. Kebangkitan Kristus dimaknai sebagai tanda kemenangan atas dosa dan kematian, sekaligus simbol harapan baru bagi setiap pribadi. Pesan ini menjadi sangat relevan bagi para murid yang tengah berada dalam proses pertumbuhan dan pencarian jati diri.Lebih lanjut, para murid diajak untuk melihat bahwa ‘harapan baru’ bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan harus diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata. Dalam kehidupan sekolah, harapan tersebut dapat diwujudkan melalui semangat belajar, sikap saling menghargai, serta keberanian untuk memperbaiki diri. Para guru pun turut diingatkan akan peran penting Bapak / Ibu guru sebagai pendamping yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi teladan dalam menghidupi nilai-nilai Kristiani.Keterlibatan dalam ibadat ini juga menjadi salah satu hal yang patut diapresiasi. Para guru mengambil peran sebagai petugas liturgi, mulai dari memimpin ibadat, membacakan Kitab Suci, hingga membawakan doa-doa umat dengan penuh penghayatan. Suasana semakin hidup ketika seluruh peserta bersama-sama menyanyikan lagu-lagu Paskah yang penuh sukacita. Momen ini menjadi simbol nyata dari kebangkitan, dimana kesedihan dan keheningan masa Prapaskah berubah menjadi kegembiraan dan pengharapan. Kebersamaan yang terjalin selama ibadat juga mempererat rasa persaudaraan antar murid maupun antara murid dan guru.Melalui kegiatan ini, sekolah berharap nilai-nilai yang direnungkan dalam ibadat tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat, tetapi terus dihidupi dalam kehidupan sehari-hari. Semangat kebangkitan diharapkan mampu mendorong seluruh warga sekolah untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh, penuh harapan, dan mampu membawa terang bagi lingkungan sekitarnya.Ibadat Paskah tahun ini menjadi momentum penting untuk mengingat kembali bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memulai kembali, memperbaiki kesalahan, dan melangkah dengan semangat baru. Dalam konteks kehidupan pelajar, hal ini berarti tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan, baik dalam belajar maupun dalam relasi sosial.Akhirnya, melalui tema “Kristus Bangkit, Harapan Baru Bagi Kita,” seluruh peserta ibadat diajak untuk membawa pesan kebangkitan ini ke dalam kehidupan nyata. Harapan baru bukan hanya menjadi slogan, melainkan menjadi semangat yang terus diperjuangkan dalam setiap langkah kehidupan. Dengan demikian, makna Paskah sungguh hidup dan nyata dalam keseharian keluarga besar SMA Santa Ursula BSD.
Selengkapnya
HARMONI KREATIVITAS DAN INOVASI SANURIAN SEBAGAI GERAKAN EKONOMI HIJAU
Posted: 2026-04-13 | By: Veronika Minarsih, Guru Ekonomi SMA Santa Ursula BSD
Suasana aula SMP-SMA Santa Ursula BSD hari Jumat, 10 April 2026 tampak berbeda dari biasanya. Aroma lilin terapi, deretan busana modis dari daur ulang pakaian layak pakai, hingga diskusi hangat mengenai bisnis ramah lingkungan mewarnai perhelatan Kewirausahaan Rakyat Sanurian (WIRASA) sebagai pameran karya kewirausahaan dan seni dengan tema “Merancang Masa Depan yang Lebih Hijau melalui Kewirausahaan Berkelanjutan”. Pameran karya ini menjadi bukti nyata kreativitas murid kelas XII dalam menjawab tantangan krisis lingkungan melalui solusi bisnis yang inovatif.Pameran karya ini merupakan puncak dari pembelajaran kewirausahaan kelas XII. Setiap produk dihasilkan melalui proses panjang, mulai dari penyusunan Business Model Canvas (BMC), penyusunan proposal bisnis, kegiatan produksi sebagai proses realisasi produk, hingga strategi promosi. Para murid ditantang untuk menerapkan prinsip ekonomi hijau, yaitu praktik ekonomi rendah karbon dan efisien dalam penggunaan sumber daya, serta inklusif secara sosial.Pameran karya yang berlangsung meriah di aula SMP-SMA Santa Ursula BSD ini tidak hanya menjadi ajang untuk unjuk karya nyata murid, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi antara pembelajaran kewirausahaan dan kegiatan ekstrakurikuler bidang seni. Dengan mengusung prinsip green economy para murid kelas XII telah menunjukkan bahwa bisnis dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. Berbeda dengan pameran seperti biasanya, pameran karya ini dirancang dalam format mini workshop. Sebanyak sebelas stan kewirausahaan kelas XII dan lima stan seni dari kegiatan ekstrakurikuler menjadi pusat transfer ilmu. Pameran karya ini menjadi ajang kolaborasi antara pelajaran kewirausahaan dan kegiatan ekstrakurikuler bidang seni. Sebelas stan kewirausahaan bersinergi dengan lima stan seni dari kegiatan ekstrakurikuler seperti fotografi, desain mode, desain grafis, seni lukis, dan menulis kreatif. Kemeriahan pameran semakin lengkap dengan penampilan dari peserta kegiatan ekstrakurikuler teater, tarian tradisional, tarian modern, dan sajian musik dari peserta kegiatan ekstrakurikuler keroncong serta band yang memukau di awal dan di akhir setiap sesi pameran. Beragam produk inovatif dipamerkan dalam pameran ini, antara lain lilin aroma terapi, body lotion, ecoprint tote bag, seed paper, berbagai bentuk fashion berupa pakaian, pouch dari daur ulang ampas kopi, perabot rumah tangga dari cangkang telur, kopi matcha instan, lip balm alami, aksesori dari tutup botol, hingga cookies sehat.Pameran karya terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama pukul 07.45 - 09.15, dihadiri oleh murid kelas XI SMA Santa Ursula BSD dan murid kelas VII hingga kelas IX SMP Santa Ursula BSD. Sesi kedua pukul 10.15 - 11.45, dihadiri murid kelas X SMA Santa Ursula BSD dan murid kelas VII hingga IX SMP Santa Ursula BSD. Kepala SMA Santa Ursula BSD, Bapak Catur Agus Sancoko secara simbolis membuka pameran karya sesi satu dan sesi dua dengan semangat yang ditandai dengan penampilan dari peserta kegiatan ekstrakurikuler tarian tradisional dan tarian modern. Dalam sambutannya, beliau memberikan apresiasi kepada murid kelas XII atas proses dan hasil yang telah diciptakan dalam pembelajaran kewirausahaan. Beliau menyampaikan bahwa anak muda dapat menjadi agen perubahan melalui kreativitas, inovasi, dan potensi yang dimiliki. Beliau juga menyampaikan harapan supaya semua pihak yang terlibat dalam pameran dapat memperoleh ilmu yang mampu menginspirasi untuk mewujudkan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.Mini workshop diikuti oleh pengunjung pameran karya. Murid dibagi dalam sebelas kelompok lintas kelas untuk mengikuti Mini workshop di stan kewirausahaan sesuai nomor kelompok mereka, selanjutnya murid dapat mengunjungi semua stan kewirausahaan dan seni. Sistem ini memastikan adanya interaksi yang merata dan pengalaman belajar murid yang optimal. Para pengunjung pameran tidak hanya melihat produk, tetapi juga diajak untuk belajar secara langsung dalam mini workshop di setiap stan. Mini workshop ini mampu menciptakan efek berantai inspirasi, melalui proses kakak kelas yang berbagi pengalaman merintis usaha mulai dari nol hingga produk jadi, kemudian adik kelas mampu termotivasi untuk memulai bisnis sejak dini.Tampilan produk kewirausahaan dinilai oleh lima orang guru penilai. Aspek yang dinilai mencakup kreativitas, edukasi dalam mini workshop, branding dan pemasaran, serta kolaborasi manajerial. Evaluasi yang diberikan oleh tim guru penilai pada produk pameran karya, diharapkan dapat terus mengasah kemampuan manajerial dan komunikasi murid. Sajian musik dari peserta kegiatan ekstrakurikuler keroncong dan band menjadi sajian penutup di setiap sesi pameran karya.Pameran karya ini bukan sekedar tugas akhir dari mata pelajaran kewirausahaan, melainkan langkah awal bagi komunitas SMA Santa Ursula BSD untuk membentuk generasi muda yang kreatif, inovatif, mandiri, dan senantiasa berwawasan lingkungan. Semoga semangat ekonomi hijau melalui proses pembelajaran kewirausahaan dapat terus bertumbuh untuk menginspirasi kita semua dalam menjaga bumi, mulai dari langkah kecil yang bernilai ekonomi tinggi.Dokumentasi oleh: Brian & Aldric XI-C
Selengkapnya
Dari SMA Santa Ursula BSD ke Jerman: Joane Arachel Saputra Raih Beasiswa Jugendkurs PASCH 2026
Posted: 2026-03-12 | By: Ruth Berliana (Guru Jerman Intensif SMA Santa Ursula BSD)
SMA Santa Ursula BSD kembali mencatatkan prestasi membanggakan melalui salah satu murid. Joane Arachel Saputra, murid kelas XB SMA Santa Ursula BSD, berhasil meraih Beasiswa Jugendkurs Stipendium yang diselenggarakan oleh PASCH Indonesien. Melalui program ini, Joane akan mendapatkan kesempatan berharga untuk mengikuti kursus remaja di Jerman tepatnya di kota Benediktbeuern pada tanggal 5-25 Juli 2026 bersama para pelajar dari berbagai negara.Beasiswa Jugendkurs merupakan program yang ditujukan bagi murid dari sekolah-sekolah yang tergabung dalam jaringan PASCH (Schulen: Partner der Zukunft). Program ini memberikan kesempatan kepada para pelajar untuk memperdalam kemampuan bahasa Jerman sekaligus mengenal budaya Jerman secara langsung. Selain mengikuti kegiatan pembelajaran bahasa, para peserta juga akan terlibat dalam berbagai aktivitas yang memperkaya wawasan global, seperti diskusi lintas budaya, kegiatan kelompok, serta kunjungan edukatif.Proses seleksi untuk mendapatkan beasiswa ini berlangsung melalui beberapa tahap dan diikuti oleh peserta dari berbagai sekolah PASCH di Indonesia. Pada tahap awal, seluruh peserta mengikuti tes tertulis yang diselenggarakan pada 3 dan 6 Februari 2026. Pada tahun ini tercatat sebanyak 244 peserta mengikuti tahap seleksi tersebut. Para peserta menunjukkan kemampuan mereka dalam memahami bahasa Jerman sekaligus mengerjakan berbagai bentuk soal yang menguji pemahaman bahasa secara menyeluruh.Dari jumlah tersebut, dipilih 29 peserta terbaik yang mewakili 29 sekolah PASCH untuk melanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu tes lisan yang dilaksanakan pada 26 Februari 2026. Pada tahap ini, para peserta diuji kemampuan komunikasi mereka dalam bahasa Jerman, termasuk kemampuan menyampaikan gagasan serta menjawab pertanyaan untuk memastikan level kemampuan bahasa Jerman siswa tersebut.Melalui proses seleksi yang kompetitif tersebut, akhirnya ditentukan 15 peserta terbaik yang berhak menerima Beasiswa Jugendkurs PASCH 2026. Joane Arachel Saputra menjadi salah satu murid yang berhasil lolos sebagai penerima beasiswa tersebut dengan urutan ke 4 dari 15 peserta. Pencapaian ini tentu menjadi kebanggaan tidak hanya bagi Joane, tetapi juga bagi seluruh komunitas SMA Santa Ursula BSD.Keberhasilan Joane menunjukkan bahwa proses belajar bahasa asing membutuhkan ketekunan, konsistensi, serta keberanian untuk terus mencoba dan berkembang. Mempelajari bahasa Jerman tidak hanya berkaitan dengan penguasaan kosakata atau tata bahasa, tetapi juga membuka kesempatan untuk memahami budaya baru serta membangun komunikasi dengan masyarakat dari latar belakang yang berbeda.Program kursus remaja di Jerman yang akan diikuti Joane nantinya tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan bahasa. Para peserta juga akan mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk memperluas wawasan global dan membangun pengalaman belajar yang bermakna. Melalui interaksi dengan peserta dari berbagai negara, para pelajar diharapkan dapat mengembangkan sikap terbuka, kemampuan bekerja sama, serta pemahaman terhadap keberagaman budaya.Pengalaman belajar di luar negeri seperti ini menjadi kesempatan yang sangat berharga. Selain meningkatkan keterampilan bahasa, pengalaman tersebut juga membantu membangun kemandirian, rasa percaya diri, serta kemampuan beradaptasi dalam lingkungan baru. Hal-hal ini merupakan bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan dunia yang semakin terhubung secara global.Prestasi yang diraih Joane juga mencerminkan semangat pembelajaran di SMA Santa Ursula BSD yang mendorong para murid untuk terus mengembangkan potensi diri. Sekolah memberikan ruang bagi para murid untuk belajar, berprestasi, serta memperluas pengalaman melalui berbagai kesempatan akademik maupun kegiatan internasional.Segenap keluarga besar SMA Santa Ursula BSD menyampaikan selamat dan apresiasi kepada Joane Arachel Saputra atas prestasi yang telah diraih. Semoga pengalaman mengikuti Program Jugendkurs PASCH di Jerman dapat menjadi langkah berharga dalam perjalanan pendidikan dan pengembangan diri Joane di masa depan. Prestasi ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi para murid lainnya untuk terus belajar, berani mencoba peluang baru, serta mengembangkan potensi terbaik yang dimiliki.
Selengkapnya
Latihan Dasar Kepemimpinan Badan Pengurus OSIS Periode 2026: Menumbuhkan Pribadi Berdaya Juang, Tulus, dan Tuntas
Posted: 2026-02-28 | By: FX. Suryo Kumoro Jatie
Selama tiga hari, Senin-Rabu, 23-25 Februari 2026, Aula Kampus Santa Ursula BSD diubah menjadi ruang pembentukan karakter bagi Badan Pengurus OSIS SMA Santa Ursula BSD. Sejak pukul 07.00 hingga 15.00 WIB, sebanyak 34 anggota Badan Pengurus OSIS Periode 2026 menjalani proses yang tidak sekadar melatih keterampilan organisasi, tetapi menantang cara berpikir, cara berkomunikasi, dan cara memaknai kepemimpinan.Di bawah pendampingan tim Care for Excellent Life’s Directions (CELD) bersama Kak Ollyn, Kak Guntur, dan Kak Gandhi, serta didampingi oleh Pembina OSIS Pak Oky dan Pak Suryo, dan Kepala Sekolah Bapak Catur Agus Sancoko serta Ibu Fransisca Erijani Rosari, selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) BP OSIS tahun ini diarahkan sebagai organisasi yang utuh secara intelektual, emosional, dan karakter. Tema yang diusung, “Pribadi Berdaya Juang: Tulus, Tuntas, dan Totalitas”, bukan sekadar slogan. Tema itu dihidupi dalam setiap dinamika pelatihan selama tiga hari tersebut.Hari pertama tidak langsung berbicara tentang program atau jabatan. Para peserta justru diajak menyelami pertanyaan-pertanyaan sederhana: Apa kesamaan kita? Mengapa kita memilih divisi di OSIS adalah ini... Apa yang sebenarnya kita cari dalam OSIS ini?Dari pertanyaan personal tentang kesukaan, nilai hidup, hingga harapan terhadap organisasi, perlahan terbangun kesadaran bahwa mereka bukan sekadar individu dengan seksi masing-masing, melainkan satu tubuh kepengurusan. Sesi wawasan organisasi membuka pemahaman bahwa struktur bukan sekadar pembagian kerja, melainkan sistem kepercayaan. Setiap orang memiliki peran yang sama pentingnya. Kegiatan ditutup dengan permainan tim, sebagai wujud penyatuan visi di hari pertama pelatihan.Hari kedua masuk lebih dalam dan berfokus pada membangun kedewasaan berpikir. Organisasi, sebagaimana ditegaskan dalam sesi hari kedua, berdiri di atas komunikasi. Namun komunikasi bukan sekadar pesan yang sampai, melainkan cara pesan itu disampaikan. Gestur, nada suara, ekspresi wajah, semuanya memengaruhi organisasi.Peserta mulai menyadari bahwa menjadi pemimpin berarti mampu memimpin diri sendiri terlebih dahulu. Selain itu pelatihan ini menekankan pada menjaga semangat ketika lelah dan banyak tekanan. Mengatur “battery” semangat agar tidak padam sampai akhir kepengurusan selesai. Kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling keras berbicara, tetapi siapa yang paling konsisten bertanggung jawab. Memasuki sesi penyusunan kerangka berpikir program kerja, idealisme mulai diuji oleh realitas. Program tidak boleh hanya besar dalam gagasan, tetapi harus realistis. Diskusi terlihat menjadi lebih serius. Ada ide-ide ambisius yang harus dipertimbangkan ulang. Ada gagasan kreatif yang perlu disederhanakan agar dapat diwujudkan. Di sinilah peserta belajar bahwa tuntas berarti mampu menyelesaikan sesuatu dengan perhitungan matang, bukan sekadar semangat sesaat.Sore hari, berbagai simulasi pembangunan karakter kembali diuji dengan game kekompakan. Berjalan dengan mata tertutup dari aula menuju lapangan, dengan satu rekan sebagai penunjuk arah, melatih kepercayaan dan kepekaan. Permainan memindahkan bola dengan tali menuntut koordinasi dan kesabaran. Sementara mempertahankan lilin dari serangan bom air menjadi simbol menjaga komitmen di tengah gangguan dan tekanan.Hari ketiga menjadi puncak proses. Fokus diarahkan pada manajemen organisasi melalui simulasi rapat penyusunan program kerja BP OSIS Periode 2026. Dalam simulasi tersebut, peserta menjalankan rapat sebagaimana kondisi nyata kepengurusan. Mereka membahas program kerja yang akan dijalankan selama satu periode, dengan mempertimbangkan efektivitas, prioritas, dan kesinambungan kegiatan. Dinamika langsung terasa: ada perbedaan pendapat, ada gagasan yang saling bersaing, ada momen ketika keputusan harus diambil. Simulasi ini bukan untuk mencari siapa yang paling benar, melainkan untuk melihat bagaimana komunikasi dijaga, bagaimana delegasi dilakukan, dan bagaimana keputusan diambil secara kolektif. Selain itu, melalui simulasi membuat kegiatan sederhana digunakan untuk melatih arah struktur komunikasi dan instruksi dalam BP OSIS. Dengan diberikan tantangan membuat dekorasi momen Kebangkitan Yesus dengan barang-barang yang tersedia di aula. Dalam kegiatan ini pengurus OSIS kembali diuji dalam hal kreativitas, adaptif, pembagian tugas, dan kepemimpinan situasional. Ketika waktu terbatas dan sumber daya sederhana, kepemimpinan diuji dalam praktik, bukan teori. Kegiatan ini menegaskan bahwa organisasi bukan sekadar konsep di atas kertas. Tetapi hidup dalam kegiatan diskusi, perbedaan pendapat, dan kemampuan untuk tetap bergerak maju bersama. Ada kutipan menarik yang saya temukan dalam pelatihan ini, “Berjuang untuk menjadi pemenang itu seperti melawan arus, jika kamu tidak maju, kamu akan didorong mundur.” Kalimat ini menjadi benang merah seluruh rangkaian LDK BP OSIS Periode 2026. Daya juang bukan sekadar keberanian di awal, melainkan konsistensi untuk terus maju meskipun lelah, berbeda pendapat, atau menghadapi keterbatasan. Dari pelatihan ini lahir komitmen baru, menjadi pribadi yang tulus dalam niat melayani, tuntas dalam menyelesaikan tanggung jawab, dan total dalam menghidupi setiap amanah yang dipercayakan. Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang seberapa tinggi posisi yang dipegang, tetapi seberapa kuat karakter yang dibangun. Dokumentasi: Tim Dokumentasi Kegiatan
Selengkapnya
Perjalanan Pelayanan Murid Santa Ursula BSD di Sibolga: Belajar Ketangguhan dari Korban Bencana
Posted: 2026-02-26 | By: Abraham Abhimanyu (XA/1) dan Mikaela Anandita Wardhana (XC/26)
Semangat Serviam diwujudkan secara nyata oleh murid SMA Santa Ursula BSD melalui kegiatan pelayanan kemanusiaan di wilayah Keuskupan Sibolga, Sumatera Utara. Selama enam hari, 26–31 Januari 2026, sepuluh murid bersama dua guru pendamping hadir untuk membantu pemulihan pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda kawasan tersebut. Kegiatan ini tidak hanya menjadi aksi solidaritas, tetapi juga pengalaman pembelajaran hidup yang mendalam bagi para murid.Perjalanan dimulai dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Raja Sisingamangaraja XII, dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju Kota Pandan, Tapanuli Tengah. Sepanjang perjalanan, rombongan menyaksikan langsung dampak bencana: perbukitan yang longsor, rumah warga yang hilang, serta jalanan yang rusak. Namun di tengah situasi tersebut, terlihat pula semangat warga yang tetap berjuang melanjutkan kehidupan, termasuk anak-anak yang tetap bersekolah dengan keterbatasan.Selama di Sibolga, para murid tinggal di Biara OSF San Damiano dan Seminari Menengah Santo Petrus. Kegiatan diawali dengan pengenalan lingkungan terdampak bencana, dilanjutkan dengan pelayanan di SMA Santo Fransiskus. Para murid berinteraksi dengan para murid setempat melalui kegiatan perkenalan, berbagi cerita, permainan, serta kerja bakti membersihkan ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, dan lapangan sekolah yang masih dipenuhi lumpur. Antusiasme dan ketangguhan murid setempat menjadi pengalaman berharga yang menguatkan makna pendidikan sebagai harapan di tengah keterbatasan.Pada hari-hari berikutnya, relawan dari sekolah SMA Santa Ursula BSD dan SMA Santa Ursula Jakarta menyalurkan donasi perlengkapan sekolah ke berbagai lokasi, termasuk sekolah darurat di Hutanabolon, TK Don Bosco, SD St. Fransiskus, serta Gereja Stasi Kristus Raja di Huta Godang. Di lokasi-lokasi tersebut, murid SMA Santa Ursula BSD bersama SMA Santa Ursula Jakarta mengadakan kegiatan bermain, bernyanyi, dan belajar bersama anak-anak. Kehadiran mereka disambut hangat oleh masyarakat, sekaligus menjadi sarana pemulihan psikososial bagi anak-anak terdampak bencana.Guru pendamping, Bapak Hieronimus Yuwan Pratama, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pembelajaran kontekstual yang menanamkan empati, kepedulian sosial, dan semangat melayani. “Para murid tidak hanya memberi, tetapi juga belajar dari ketangguhan masyarakat yang tetap tersenyum dan berjuang membangun kembali kehidupan,” ujarnya.Melalui pengalaman ini, para murid menyadari bahwa pelayanan bukan sekadar memberikan bantuan materi, melainkan juga membangun relasi, menghadirkan harapan, dan belajar mensyukuri kehidupan. Nilai kesederhanaan, kerja sama, dan keberanian untuk bangkit dari keterpurukan menjadi pelajaran utama yang mereka bawa pulang.Kegiatan pelayanan di Sibolga menjadi bukti nyata komitmen SMA Santa Ursula BSD dalam membentuk pribadi yang peduli, tangguh, dan siap melayani sesama. Semangat serviam yang dihidupi dalam pengalaman ini diharapkan terus bertumbuh dalam kehidupan sehari-hari para murid. Dokumentasi: Bapak Hieronimus Yuwan Pratama (Guru Pendamping)
Selengkapnya
Dari Riset ke Prestasi: Murid Kelas XII Tampilkan Karya Tulis Ilmiah Berbasis Nilai Serviam
Posted: 2026-02-20 | By: Dominique Charlotte Edeline XII-G/03
Kegiatan penulisan karya tulis ilmiah murid kelas XII berlangsung dengan lancar pada Rabu, 11 Februari 2026. Kegiatan ini merupakan kolaborasi lintas mata pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia, Sosiologi, Fisika, Biologi, dan Kimia, sekaligus menjadi ajang perlombaan antarkelompok. Seluruh murid melakukan penelitian sesuai bidang yang dipilih dan menyusunnya dalam bentuk jurnal ilmiah secara sistematis. Proses ini menjadi pengalaman akademik yang bermakna serta melatih kesiapan murid dalam menghadapi tantangan pembelajaran berbasis riset.Penyusunan karya tulis ilmiah dilaksanakan sejak akhir Agustus 2025 hingga Februari 2026 melalui tahapan yang terstruktur dan mandiri. Murid menyusun latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, metode, pengumpulan data, hingga analisis hasil penelitian dengan pendampingan guru mata pelajaran. Selain itu, murid juga memperoleh pembekalan teknik penulisan ilmiah sesuai kaidah Bahasa Indonesia serta wawasan tambahan melalui seminar jurnal ilmiah yang menghadirkan Bapak Dr. Alexander Joseph Ibnu Wibowo, seorang dosen dari Universitas Prasetiya Mulya. Bekal tersebut membantu murid memahami proses penelitian secara lebih mendalam dan aplikatif.Berbagai tantangan dihadapi murid dalam menentukan topik, mengolah data, hingga menyusun laporan secara sistematis. Melalui diskusi kelompok, murid belajar untuk saling mendengarkan, menghargai perbedaan pendapat, dan mencari solusi bersama. Pengalaman ini menumbuhkan sikap tanggung jawab, ketekunan, serta kemampuan berpikir kritis dan terstruktur. Nilai-nilai tersebut mencerminkan semangat Serviam yang menekankan kerja sama, kepedulian, dan integritas dalam proses belajar.Puncak kegiatan ditandai dengan presentasi hasil penelitian di hadapan guru penguji dan audiens. Setiap kelompok memaparkan hasil karya ilmiah sekaligus menjawab pertanyaan sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik. Presentasi dilaksanakan di beberapa ruang sesuai bidang kajian, dan dari setiap ruang dipilih kelompok terbaik sebagai pemenang lomba karya tulis ilmiah. Suasana kompetitif yang sehat mendorong murid untuk menampilkan hasil terbaik sekaligus saling mengapresiasi karya satu sama lain.Melalui kegiatan ini, murid tidak hanya memperoleh pemahaman tentang metode ilmiah, tetapi juga belajar mengatur waktu, bekerja secara kolaboratif, dan berani keluar dari zona nyaman. Pengalaman tersebut sejalan dengan nilai Serviam Sekolah Santa Ursula BSD, yaitu semangat melayani dengan kerendahan hati, ketekunan, dan komitmen untuk memberikan yang terbaik. Diharapkan kegiatan ini menjadi bekal bagi murid untuk terus berkarya, berpikir solutif, dan berkontribusi positif bagi masyarakat.Dokumentasi oleh : Johanes Aldric Darmawan / XI-C/15 dan Brian Aurey Saputra / XI-C/04
Selengkapnya
Menyusuri Dunia Industri Bersama PT Amerta Indah Otsuka
Posted: 2026-02-10 | By: Eka Setiawan Guru Bahasa Indonesia
Sebagai bagian dari penguatan pembelajaran kontekstual dan pengembangan wawasan karier, murid kelas XI melaksanakan kegiatan kunjungan industri ke PT Amerta Indah Otsuka, perusahaan yang bergerak di bidang industri minuman sehat. Kegiatan ini dilaksanakan dalam dua gelombang, yaitu gelombang pertama pada Kamis, 22 Januari 2026, dan gelombang kedua pada Jumat, 6 Februari 2026, dengan didampingi oleh para guru pendamping.Kunjungan industri ini dirancang sebagai kegiatan pembelajaran kolaboratif lintas mata pelajaran, yang melibatkan Bahasa Indonesia, Informatika, Ekonomi, Fisika, dan Kimia. Dengan demikian, murid tidak hanya melakukan kunjungan observatif, tetapi juga belajar mengaitkan teori yang diperoleh di kelas dengan praktik nyata di dunia industri.PT Amerta Indah Otsuka dikenal sebagai produsen berbagai minuman sehat, di antaranya minuman isotonik Pocari Sweat dalam berbagai kemasan, serta Oronamin C, minuman suplemen yang telah lama dikenal masyarakat. Perusahaan ini merupakan bagian dari Otsuka Pharmaceutical Group asal Jepang yang telah beroperasi di Indonesia dengan komitmen tinggi terhadap kualitas, inovasi, dan keberlanjutan.Setibanya di lokasi pabrik, murid tidak langsung memasuki area produksi. Kegiatan diawali dengan sesi pengenalan perusahaan dan produk melalui permainan interaktif yang dipandu oleh tim PT Amerta Indah Otsuka. Melalui permainan tersebut, murid dikenalkan pada jenis produk, fungsi minuman bagi tubuh, serta nilai-nilai yang dipegang perusahaan dalam mengembangkan produk kesehatan. Suasana kegiatan berlangsung santai dan menyenangkan, sekaligus membangun antusiasme murid untuk mengikuti rangkaian kegiatan selanjutnya.Dalam sesi pemaparan, murid dikenalkan pada prinsip open factory yang menjadi ciri khas PT Amerta Indah Otsuka. Prinsip ini menegaskan keterbukaan perusahaan dalam memperlihatkan proses produksi kepada publik sebagai bentuk edukasi dan transparansi. Selain itu, murid juga mendapatkan penjelasan mengenai penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang menjadi prioritas utama perusahaan.Sebelum memasuki area produksi, murid mendapatkan penjelasan mengenai rambu-rambu keselamatan dan prosedur kerja yang harus dipatuhi oleh seluruh karyawan PT Amerta Indah Otsuka. Dari sini, murid belajar bahwa disiplin dan kepatuhan terhadap aturan merupakan bagian penting dalam dunia industri.Saat mengunjungi area produksi, murid menyaksikan secara langsung tahapan pembuatan minuman, mulai dari pengolahan bahan baku, proses pencampuran, pengemasan otomatis, hingga pengendalian mutu. Proses ini menjadi sarana pembelajaran lintas mata pelajaran. Dari sisi Kimia dan Fisika, murid memahami proses pencampuran, pengukuran, serta prinsip kerja mesin. Dari sisi Ekonomi, murid belajar mengenai efisiensi produksi, manajemen kualitas, dan skala industri. Sementara itu, Informatika berperan dalam pemanfaatan teknologi dan sistem otomatisasi, serta Bahasa Indonesia dalam melatih murid menyusun laporan, menulis hasil observasi, dan menyampaikan informasi secara runtut dan komunikatif.Selain proses produksi, PT Amerta Indah Otsuka juga menekankan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan. Murid mendapatkan penjelasan mengenai pengelolaan air, pengolahan limbah, serta upaya efisiensi energi yang dilakukan perusahaan. Berkat konsistensinya, PT Amerta Indah Otsuka telah menerima berbagai penghargaan di bidang konservasi air dan K3, yang menunjukkan keseriusan perusahaan dalam menjalankan industri yang berkelanjutan.Nilai-nilai yang diperoleh dalam kunjungan ini sejalan dengan nilai Serviam yang menjadi landasan pendidikan di Sekolah Santa Ursula BSD. Melalui kegiatan ini, murid diajak untuk belajar melayani dan bertanggung jawab, tidak hanya terhadap diri sendiri, tetapi juga terhadap sesama dan lingkungan. Disiplin dalam bekerja, kepedulian terhadap keselamatan, serta komitmen menjaga lingkungan menjadi wujud nyata dari semangat Serviam dalam konteks dunia industri.Kunjungan industri ke PT Amerta Indah Otsuka memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi murid kelas XI. Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan faktual tentang dunia kerja, tetapi juga mengembangkan sikap kritis, reflektif, dan bertanggung jawab. Melalui pembelajaran langsung ini, diharapkan murid mampu memaknai proses belajar sebagai bekal untuk menjadi pribadi yang unggul, peduli, dan siap berkontribusi bagi masyarakat di masa depan.
Selengkapnya
Perjalanan Melewati Batas Diri Bersama Outward Bound Indonesia (OBI)
Posted: 2026-02-03 | By: Marcel Ecxel Ignatius Bulele, Guru Bahasa Indonesia
Kegiatan Outward Bound Indonesia (OBI) yang diikuti oleh murid kelas XI SMA Santa Ursula BSD pada tanggal 19–24 Januari 2026 menjadi sebuah perjalanan pembelajaran yang sarat makna dan penuh tantangan. Bertempat di alam terbuka, kawasan Waduk Jatiluhur, kegiatan ini dirancang untuk mengembangkan karakter, jiwa kepemimpinan, kemandirian, serta kemampuan bekerja sama melalui pendekatan experiential learning atau belajar dari pengalaman langsung.Sejak awal kegiatan, para murid ditantang untuk keluar dari zona nyaman dan menghadapi berbagai aktivitas yang menuntut keberanian serta kepercayaan diri. Salah satu kegiatan yang paling menguji mental adalah high ropes, di mana murid harus melintasi lintasan tali di ketinggian. Aktivitas ini melatih keberanian, fokus, dan kepercayaan terhadap diri sendiri maupun teman satu tim. Para murid ditantang untuk melawan rasa takut yang mereka rasakan. Selain itu, murid juga mengikuti kegiatan berkano di perairan Waduk Jatiluhur. Dalam aktivitas ini, kerja sama dan komunikasi menjadi kunci utama. Setiap anggota tim harus mampu menyelaraskan gerakan dan mengambil keputusan bersama agar kano dapat melaju dengan seimbang dan aman. Jika gerakan mendayung yang mereka lakukan tidak seirama, tentu kano yang mereka naiki tidak akan berjalan. Hal yang paling parah, kano tersebut bisa terbalik di waduk tersebut. Melalui kegiatan ini, murid belajar pentingnya koordinasi, kepemimpinan, serta tanggung jawab dalam sebuah kelompok.Tantangan fisik dan mental berlanjut dengan pendakian Gunung Lembu. Medan yang cukup terjal dan melelahkan menguji ketahanan fisik, disiplin, serta semangat pantang menyerah para murid. Hujan yang turun mengguyur tanah pun semakin menyulitkan langkah mereka untuk mendaki gunung tersebut. Dalam pendakian ini, murid belajar untuk saling membantu, menghargai perbedaan kemampuan, dan menjaga kekompakan tim hingga mencapai tujuan bersama.Tidak hanya berhenti di situ, para murid masih harus mengikuti solo night, yaitu kegiatan bermalam sendiri di lokasi yang telah ditentukan oleh fasilitator. Pada kegiatan ini, murid diajak untuk benar-benar mengenal diri sendiri, menghadapi rasa takut, serta merefleksikan perjalanan dan pengalaman yang telah dilalui. Hujan deras yang sejak beberapa hari lalu turun pun tetap ikut menemani para murid menjalani kegiatan solo night. Dalam kesunyian malam dan di bawah guyuran hujan, murid belajar tentang kemandirian, keberanian, dan kekuatan mental. Mental mereka benar-benar diuji untuk tetap berani dalam situasi yang tidak nyaman karena pada malam tersebut cuaca sangat tidak bersahabat.Seluruh rangkaian kegiatan yang dijalani murid didampingi oleh fasilitator profesional dari Outward Bound Indonesia (OBI). Setiap aktivitas diakhiri dengan sesi refleksi, di mana murid diajak untuk mengaitkan pengalaman di lapangan dengan kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, keluarga, maupun lingkungan sosial. Nilai-nilai seperti kepemimpinan, empati, disiplin, tanggung jawab, dan kepercayaan diri menjadi pelajaran utama yang ditanamkan melalui kegiatan ini.Melalui kegiatan Outward Bound Indonesia (OBI), murid kelas XI SMA Santa Ursula BSD tidak hanya memperoleh pengalaman seru di alam terbuka, tetapi juga pembelajaran hidup yang berharga. Perjalanan melewati batas diri ini menjadi bekal penting bagi murid dalam menghadapi tantangan akademik maupun kehidupan di masa depan, serta membentuk pribadi yang utuh, cerdas, dan siap untuk melayani di manapun mereka berada nantinya.
Selengkapnya