Kartini Perempuan yang Menulis
Posted: 2026-04-21 | By: Ignatius Bayu Sudibyo
Raden Ajeng Kartini dilahirkan di Jepara tanggal 21 April tahun 1879. Dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang berisi kumpulan surat R.A. Kartini diceritakan bahwa pandangan Kartini yang progresif mengalir dari Kakeknya, Bupati Demak Pangeran Tjondronegoro IV dan ayahnya, Bupati Jepara Raden Mas Adipati Aryo Sosroningrat. Kepada Nona E.H. Zeehandelaar, Kartini menceritakan bahwa Pangeran Ario Tjondronegoro IV sangat menyukai kemajuan dan merupakan Bupati Jawa Tengah pertama yang membuka peradaban barat untuk keluarganya melalui pendidikan Eropa (Kartini, 2011: 8). Kartini meninggal di usia muda, tepatnya pada tahun 1904 dan dimakamkan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pada tahun 1964 Presiden Sukarno menetapkan Kartini sebagai pahlawan nasional. Kartini adalah konseptor dalam sejarah Indonesia modern yang lahir di saat kolonialisme, feodalisme, dan patriarki mengakar kuat di Hindia Belanda. Kartini menyadari kondisi kaum perempuan sebagaimana dikatakan dalam suratnya kepada Nona E.H. Zeehandelaar. Perempuan Jawa pada usia 12 tahun dikurung di rumah dan terasing dari dunia luar karena tradisi pingitan. Ia tidak tuli dan tidak buta tentang belenggu adat tersebut. Dalam pandangan Kartini, perubahan itu baru akan terjadi 3-4 keturunan sesudah generasinya (Kartini, 2011: 7-9). Lewat buku Panggil Aku Kartini Saja, karya Pramoedya Ananta Toer dan Kartini. Sebuah Biografi, karya Sitisoemandari Soeroto terlihat jelas bahwa Kartini merepresentasikan kaum perempuan yang lebih dahulu ‘bangun’ untuk memperbaiki keadaan melalui pendidikan, sehingga ia disebut sebagai ibu nasionalisme (Soeroto, 1983: 438)Apakah hari Kartini hanya sebatas ritual kebaya dan sanggul semata? Tentu tidak! Justru pemikiran Kartini hendaknya direnungkan karena ia menyelami kehidupan secara kritis dari akar permasalahan bangsa. Salah satu suratnya kepada Nyonya Abendanon sebagaimana terdapat dalam buku Surat-Surat Kepada Ny. R.M. Abendanon Mandri dan Suaminya mengulas kritik Kartini terhadap praktik patriarki (poligami) yang telah hidup dalam masyarakat karena dilindungi ajaran Islam dan kebodohan perempuan (Sutrisno, 1989: 10-11). Dalam pandangan sejarawan Hilmar Farid lewat artikelnya di Tempo, Kartini dan Ruang Dalam Bangsa, Kartini adalah pemikir dan aktivis peletak dasar emansipasi wanita. Ia menyuarakan arti penting pendidikan bagi anak agar tidak lagi dianggap persoalan sekunder (Farid, 2013: 86-87).Pendukung Jalannya PeradabanMelalui surat-suratnya yang diterjemahkan Sulastin Sutrisno, Kartini bersuara tentang pendidikan sebagai kehormatan bagi manusia. Melalui proses yang luhur, seorang pendidik secara moral berkewajiban membina watak yang lebih penting daripada hanya mengejar ilmu (Sutrisno, 1989: 73). Pengetahuan bukanlah akhir dari pendidikan, karena yang terutama dari pendidikan adalah memberikan keluhuran watak agar bermanfaat bagi kemajuan derajat manusia. Aspek kemanusiaan dalam pandangan Kartini mendapatkan tempat lebih tinggi di atas kecerdasan pengetahuan semata. Kartini memperjuangkan pendidikan yang awal mulanya ditujukan kepada kaum perempuan. Mengapa? Karena perempuan sebagai pendukung jalannya peradaban. Para ibu secara alamiah dititahkan sebagai pendidik dan pembimbing utama nilai-nilai kesusilaan. Di pangkuan ibu, anak mulai belajar merasakan, berbicara, berfikir, dan pendidikan waktu kecil besar pengaruhnya bagi perkembangan hidup selanjutnya (Sutrisno, 1989: 74). Peran keluarga dalam proses pembentukan karakter sangat fundamental, baik sebagai tempat anak belajar pertama kali dan mencari figur keteladanan. Bagaimana ibu dapat mendidik anaknya kalau mereka sendiri tidak terdidik? Bangsa kita tidak dapat maju, kalau kaum perempuan tidak diikutsertakan dalam usaha pembudayaan bangsa. Mengutip pendapat sejarawan dan sekaligus pendiri penerbitan Komunitas Bambu JJ Rizal dalam majaah Tempo, Kartini telah meletakkan titik persoalan yang menjadi semacam api atau obor untuk diteruskan para generasi berikutnya (Rizal, 2013: 96-97).Penulis melihat ada relevansi pemikiran Kartini dengan pandangan Driyarkara, bahwa pendidikan adalah proses pembudayaan atau pemanusiaan manusia muda. Peran serta ibu sangatlah besar sehingga perlu memberikan bekal bagi remaja puteri tentang pengetahuan dan keterampilan hidup yang kelak memberikan manfaat ketika mereka menjadi seorang ibu. Bagaimana dengan laki-laki? Untuk kemajuan bersama kaum laki-laki juga harus dididik dalam hal tata kesusilaan, sehingga tumbuh sikap menghargai terhadap kaum perempuan, sama seperti menghargai ibunya. Jangan membiasakan anak kecil minta dihormati, tetapi biasakan terlebih dahulu untuk menghormati orang lain (Soeroto, 1983: 74&297). Pendidikan seperti ini harus ditanamkan sejak usia dini dan terasa sangat relevan hingga hari ini. Kasus-kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, termasuk lembaga pendidikan berbasis agama menunjukkan masih sangat kuatnya budaya patriarki. Pemikiran Kartini melampaui zamannya karena kaum bangsawan di saat Kartini hidup justru sangat nyaman dengan kedudukannya. Bagi Kartini, semakin tinggi derajat seseorang, justru semakin besar tanggung jawabnya. Kebangsawanan seseorang bukan untuk disembah-sembah dan yang terpenting dalam pandangan Kartini adalah kebangsawanan hati nurani yang turut memikul tanggung jawab terhadap rakyatnya. Tentu kita prihatin ketika banyak orang begitu cemerlang secara akademis, tetapi tidak memiliki kepekaan sosial untuk melihat ke bawah yang justru sangat membutuhkan dorongan kemajuan. Politisi-politisi muda sebagai penyelenggara negara justru tersandera kasus korupsi.Keluarga adalah lingkungan pertama untuk membangun intelektualitas. Kartini belajar dari sang ayah dan kakaknya R. M. Sosrokartono yang tercatat sebagai mahasiswa pribumi pertama yang studi di negeri Belanda. Pandangan ayahnya cukup progresif dalam mendidik Kartini, meski adat tetap dilaksanakan agar tidak dipandang terlalu menyimpang dari tradisi. Dari mereka, Kartini belajar tentang sejarah negerinya dan pemikiran barat yang menumbuhkan semangat untuk memperjuangkan derajat bangsa, meski saat itu istilah Indonesia belum dikenal. Ayahnya telah membimbing watak Kartini dan adik-adiknya dengan mendekatkan mereka pada realita kehidupan rakyat di luar tembok kabupaten. Setelah dipingit di masa remaja, Kartini dan adik-adiknya diberikan kesempatan untuk blusukan hingga lahir perhatian yang besar terhadap kemajuan kesenian rakyat khas Kabupaten Jepara (Soeroto, 1983: 106). Ini adalah proses pendidikan humaniora dan tentu sangat relevan bila orang tua dan sekolah mengangkat cita rasa berkesenian untuk merawat identitas budaya bangsa agar tidak tercabut dari akarnya. Bangsa mancanegara yang menempuh studi di Indonesia banyak yang mendalami mengapa kita justru meninggalkannya?  Bersahabat Dengan BukuMedia pembelajaran apa yang turut membentuk sikap kritis Kartini? Sejak kecil Kartini memiliki hasrat yang tinggi terhadap pengetahuan. Kedekatannya dengan buku, majalah, dan ketekunan mempelajari bahasa Belanda membuat Kartini terampil membaca dan menulis sehingga tampil sebagai pribadi yang kritis dan ekspresif. Bagi Kartini, menulis adalah panggilan sosial dan sikap kritisnya tercermin dari gugatan terhadap adat yang membawa keterbelakangan perempuan. Sejak usia 16 tahun, ia menyukai dan telah membaca novel Max Havelaar, karangan Multatuli yang memberi pandangan kritis terhadap dampak kolonialisme Belanda di tanah Jawa (Toer, 2003: 158-159). Ia didukung oleh sang ayah dengan mengirimkan artikel yang ditulis Kartini tentang Perkawinan Masyarakat Koja di Jepara sebagai artikel pertamanya yang dimuat dalam surat kabar di negeri Belanda.Mengapa minat membaca anak sebagai kebutuhan semakin terkikis dewasa ini? Padahal buku dan menulis dapat melatih imajinasi, membangun idealisme, estetika, ketenangan, dan kesabaran. Membaca dan menulis adalah bagian pendidikan humaniora. Bersahabat dengan buku hendaknya dibiasakan sejak usia dini sehingga menghidupkan tradisi literasi di dalam keluarga adalah kemajuan yang luar biasa. Kisah di atas menunjukkan bahwa pandangan kemajuan Kartini merupakan warisan budaya literasi dari orang tuanya.Pemikiran Kartini tentang pendidikan mengingatkan kita bahwa keluarga adalah landasan pembentukan karakter anak dan sejumlah persoalan anak dewasa ini tidak terlepas dari ketegangan yang terjadi di dalam lingkungan terdekatnya. Keluarga dan sekolah harus semakin bersinergi dalam mempersiapkan mereka di tengah situasi global. Lingkungan yang mengasuh memberikan pengaruh yang sangat besar bagi anak didik kita untuk tumbuh dan berkembang selaras dengan kebutuhan jaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur budaya. Semoga kita semakin bijak dalam merawat kisah atau ingatan kolektif bangsa untuk membaca situasi jaman karena kedewasaan sebuah bangsa dapat diukur dari sikapnya terhadap sejarah. Terlepas pro dan kontra tentang sosok Kartini, pemikiran dalam surat-suratnya masih relevan untuk kita renungkan hari ini.***
Selengkapnya
MENJAGA API SEMANGAT, KEBERANIAN, DAN KETANGGUHAN DALAM SATU BARISAN
Posted: 2026-04-16 | By: Veronika Minarsih, guru Ekonomi SMA Santa Ursula BSD
Masih terekam jelas dalam ingatan teriakan lantang, “Pagi, pagi, pagi…Ursula, Luar Biasa!” yang menggema di lereng Gunung Salak bulan Januari lalu. Hari ini Rabu, 15 April 2026 SMA Santa Ursula BSD kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk karakter murid yang tangguh, disiplin, dan berjiwa kepemimpinan melalui kegiatan penyegaran pelatihan fisik dan mental bulan Januari lalu. Kegiatan ini menjadi langkah penting untuk memastikan dan menguatkan nilai-nilai dan semangat kedisiplinan, kebersamaan, ketahanan fisik, serta nilai-nilai lainnya yang telah diperoleh tiga bulan sebelumnya tetap hidup dan terimplementasi dalam keseharian murid di sekolah.Berbeda dengan pelatihan di alam terbuka, kegiatan kali ini dirancang dalam format padat di lingkungan sekolah dengan durasi waktu 75 menit untuk menguji kembali konsistensi murid dalam hal kedisiplinan waktu dan ketahanan fisik dengan tetap mengusung prinsip kedisiplinan dan kerja sama tim. Seluruh murid kelas X dibagi menjadi lima kelompok lintas kelas, dengan anggota 36 murid setiap kelompok sehingga mampu memperkuat solidaritas antarkelas. Rangkaian kegiatan dimulai tepat pukul 12.45 di jam perwalian dengan koordinasi intensif dari tim fisik mental kelas X. Dalam waktu singkat, murid diajak kembali untuk membangkitkan yel-yel khas SMA Santa Ursula BSD, Pagi, pagi, pagi…Ursula, luar biasa!Para murid ditantang untuk melakukan manajemen waktu yang ketat saat berganti pakaian hingga berbaris rapi sesuai barisan kelompok dalam waktu 10 menit. Sesuai dengan rumusan gerakan bersama angkatan yang telah disusun bulan Januari lalu, dalam kegiatan ini diterapkan sanksi yang tegas bagi murid yang datang terlambat atau tidak mengikuti kegiatan sesuai ketentuan. Hal ini sejalan dengan nilai kedisiplinan yang menjadi inti dari pelatihan fisik dan mental sebelumnya.Kegiatan penyegaran pelatihan fisik dan mental diawali dengan pemanasan dasar yang dipimpin oleh perwakilan murid kelas X. Tantangan fisik murid sesungguhnya, dimulai dengan lari ketahanan selama 6 menit bagi setiap kelompok sebagai ujian daya juang murid. Memori murid di Pusat Pendidikan Latihan Tempur (Dodiklatpur) Rindam Jaya diingatkan kembali dengan melaksanakan latihan Peraturan Baris Berbaris (PBB). Sesi ini tidak hanya dipimpin oleh tim fisik dan mental kelas X, tetapi juga melibatkan murid yang ditunjuk secara acak untuk memimpin barisan guna melatih aspek kepemimpinan dan fokus. Kegiatan diakhiri dengan doa bersama dan menyanyikan lagu mars Serviam. Melalui kegiatan penyegaran fisik dan mental ini, SMA Santa Ursula BSD berharap kepada para murid kelas X tidak hanya menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki mentalitas pemenang yang tangguh, disiplin, dan memiliki empati terhadap sesama. Kegiatan penyegaran pelatihan fisik dan mental ini menjadi bukti bahwa pendidikan karakter di SMA Santa Ursula BSD tidak berhenti di satu momen besar, tetapi terus dipupuk, dirawat, dan dihidupkan dalam satu langkah, satu barisan, dan satu teriakan semangat. Semangat Gunung Salak belum padam, Ursula tetap luar biasa!
Selengkapnya
Menyiapkan Masa Depan dengan Sanur Mentality: Belajar dari Jejak Alumni Inspiratif
Posted: 2026-04-13 | By: Eka Setiawan, Guru Bahasa Indonesia SMA
Semangat untuk bertumbuh, berani mencoba, dan tetap tangguh dalam menghadapi tantangan menjadi pesan utama dalam Seminar Sanur Mentality yang diselenggarakan oleh SMA Santa Ursula BSD. Kegiatan ini menghadirkan para alumni sebagai narasumber yang berbagi pengalaman nyata dari perjalanan akademik hingga dunia profesional. Dengan mengusung konsep reflektif dan inspiratif, seminar ini menjadi ruang belajar yang bermakna bagi para murid untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan.Seminar ini diikuti dengan antusias oleh para murid yang ingin mendapatkan gambaran lebih luas mengenai kehidupan setelah lulus sekolah. Tidak hanya berfokus pada pilihan jurusan atau perguruan tinggi, kegiatan ini juga menekankan pentingnya membangun karakter dan mentalitas yang kuat sebagai bekal utama dalam menjalani berbagai fase kehidupan.Empat alumni hadir sebagai pembicara dengan latar belakang pendidikan yang beragam, yaitu Nixie, lulusan Monash University Australia jurusan Bachelor of Early Childhood & Primary Education; Lica, lulusan Institut Teknologi Bandung jurusan Desain Produk; Lina, lulusan Institut Pertanian Bogor jurusan Agronomi; serta Lentera, lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti jurusan Perhotelan. Keempatnya membagikan kisah perjalanan yang tidak selalu mudah, tetapi sarat pembelajaran dan pengalaman berharga.Dalam pemaparannya, Nixie mengisahkan pengalamannya menempuh pendidikan di luar negeri yang menuntut kemandirian tinggi, kemampuan beradaptasi, serta keterbukaan terhadap perbedaan budaya. Ia menekankan bahwa keberanian untuk keluar dari zona nyaman merupakan langkah awal untuk berkembang. Menurutnya, Sanur Mentality tercermin dalam sikap pantang menyerah dan kemauan untuk terus belajar dari setiap pengalaman.Sementara itu, Lica membagikan pengalamannya selama berkuliah di Institut Teknologi Bandung yang penuh tantangan, terutama dalam hal manajemen waktu dan tuntutan kreativitas. Ia menegaskan bahwa konsistensi dan disiplin menjadi kunci utama dalam menghadapi tekanan akademik. Lica juga mengajak para murid untuk tidak takut mengeksplorasi ide dan mengembangkan potensi diri sejak dini.Lina, yang menempuh pendidikan di bidang Agronomi, memberikan perspektif mengenai pentingnya mengenali minat dan passion. Ia menjelaskan bahwa memilih jurusan bukan semata-mata mengikuti tren, melainkan berdasarkan ketertarikan dan tujuan jangka panjang. Lina juga menekankan bahwa setiap proses, termasuk kegagalan, memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kedewasaan seseorang.Di sisi lain, Lentera yang berkecimpung di dunia perhotelan membagikan pengalaman tentang pentingnya keterampilan komunikasi, kerja sama tim, serta sikap profesional. Ia menjelaskan bahwa dunia kerja menuntut tidak hanya kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan interpersonal yang baik. Sanur Mentality, menurutnya, tercermin dalam sikap melayani dengan sepenuh hati dan tetap rendah hati dalam setiap situasi.Istilah Sanur Mentality yang diangkat dalam seminar ini menjadi benang merah dari seluruh pengalaman yang dibagikan. Mentalitas ini mencerminkan sikap tangguh, adaptif, disiplin, serta mampu menghadapi perubahan dengan sikap positif. Para alumni sepakat bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh ketekunan dan karakter yang kuat.Antusiasme murid terlihat jelas sepanjang kegiatan berlangsung. Sesi tanya jawab menjadi momen interaktif yang memperlihatkan rasa ingin tahu murid terhadap dunia perkuliahan dan kehidupan setelah lulus. Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari cara memilih jurusan, menghadapi kegagalan, hingga tips menjaga keseimbangan antara akademik dan kehidupan pribadi.Kegiatan ini juga mempererat hubungan antara sekolah dan para alumni. Kehadiran alumni sebagai pembicara menunjukkan bahwa ikatan kekeluargaan dalam komunitas sekolah tetap terjaga meskipun telah lulus. Para alumni tidak hanya berbagi pengalaman, tetapi juga memberikan motivasi dan semangat kepada para murid untuk terus melangkah maju.Melalui Seminar Sanur Mentality, diharapkan para murid semakin siap menghadapi tantangan masa depan dengan sikap yang lebih matang dan percaya diri. Nilai-nilai yang dibagikan dalam kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bekal berharga dalam perjalanan akademik maupun kehidupan mereka ke depan.Pada akhirnya, seminar ini menjadi pengingat bahwa setiap murid memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan meraih impian. Dengan memiliki Sanur Mentality, para murid diharapkan mampu menghadapi setiap tantangan dengan keberanian, ketekunan, dan semangat untuk terus belajar. Masa depan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dipersiapkan dengan penuh keyakinan dan harapan.
Selengkapnya
Kristus Bangkit, Harapan Baru Bagi Kita: Ibadat Paskah SMA Santa Ursula BSD
Posted: 2026-04-13 | By: I. Agnes Nabella, Guru Bahasa Indonesia SMA
Pada Rabu, 8 April 2026, keluarga besar SMA Santa Ursula BSD menggelar Ibadat Paskah yang diikuti oleh seluruh guru serta murid kelas X dan XI. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh khidmat dan sukacita, mengusung tema “Kristus Bangkit, Harapan Baru Bagi Kita.” Tema tersebut menjadi pengingat mendalam akan makna kebangkitan Kristus sebagai sumber harapan dan kekuatan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.Ibadat Paskah dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian pembinaan iman yang rutin diadakan oleh sekolah, sekaligus menjadi momen refleksi bersama setelah menjalani masa Prapaskah. Seluruh peserta ibadat hadir dengan sikap penuh hormat dan keterlibatan aktif, menciptakan suasana yang tenang namun sarat makna. Sejak awal ibadat dimulai, nuansa sakral sudah terasa melalui alunan lagu pembuka yang dibawakan oleh paduan suara murid.Dalam homili yang disampaikan, peserta diajak untuk merenungkan makna kebangkitan Kristus tidak hanya sebagai peristiwa iman, tetapi juga sebagai panggilan untuk bangkit dari berbagai keterpurukan dalam hidup. Kebangkitan Kristus dimaknai sebagai tanda kemenangan atas dosa dan kematian, sekaligus simbol harapan baru bagi setiap pribadi. Pesan ini menjadi sangat relevan bagi para murid yang tengah berada dalam proses pertumbuhan dan pencarian jati diri.Lebih lanjut, para murid diajak untuk melihat bahwa ‘harapan baru’ bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan harus diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata. Dalam kehidupan sekolah, harapan tersebut dapat diwujudkan melalui semangat belajar, sikap saling menghargai, serta keberanian untuk memperbaiki diri. Para guru pun turut diingatkan akan peran penting Bapak / Ibu guru sebagai pendamping yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi teladan dalam menghidupi nilai-nilai Kristiani.Keterlibatan dalam ibadat ini juga menjadi salah satu hal yang patut diapresiasi. Para guru mengambil peran sebagai petugas liturgi, mulai dari memimpin ibadat, membacakan Kitab Suci, hingga membawakan doa-doa umat dengan penuh penghayatan. Suasana semakin hidup ketika seluruh peserta bersama-sama menyanyikan lagu-lagu Paskah yang penuh sukacita. Momen ini menjadi simbol nyata dari kebangkitan, dimana kesedihan dan keheningan masa Prapaskah berubah menjadi kegembiraan dan pengharapan. Kebersamaan yang terjalin selama ibadat juga mempererat rasa persaudaraan antar murid maupun antara murid dan guru.Melalui kegiatan ini, sekolah berharap nilai-nilai yang direnungkan dalam ibadat tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat, tetapi terus dihidupi dalam kehidupan sehari-hari. Semangat kebangkitan diharapkan mampu mendorong seluruh warga sekolah untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh, penuh harapan, dan mampu membawa terang bagi lingkungan sekitarnya.Ibadat Paskah tahun ini menjadi momentum penting untuk mengingat kembali bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memulai kembali, memperbaiki kesalahan, dan melangkah dengan semangat baru. Dalam konteks kehidupan pelajar, hal ini berarti tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan, baik dalam belajar maupun dalam relasi sosial.Akhirnya, melalui tema “Kristus Bangkit, Harapan Baru Bagi Kita,” seluruh peserta ibadat diajak untuk membawa pesan kebangkitan ini ke dalam kehidupan nyata. Harapan baru bukan hanya menjadi slogan, melainkan menjadi semangat yang terus diperjuangkan dalam setiap langkah kehidupan. Dengan demikian, makna Paskah sungguh hidup dan nyata dalam keseharian keluarga besar SMA Santa Ursula BSD.
Selengkapnya
HARMONI KREATIVITAS DAN INOVASI SANURIAN SEBAGAI GERAKAN EKONOMI HIJAU
Posted: 2026-04-13 | By: Veronika Minarsih, Guru Ekonomi SMA Santa Ursula BSD
Suasana aula SMP-SMA Santa Ursula BSD hari Jumat, 10 April 2026 tampak berbeda dari biasanya. Aroma lilin terapi, deretan busana modis dari daur ulang pakaian layak pakai, hingga diskusi hangat mengenai bisnis ramah lingkungan mewarnai perhelatan Kewirausahaan Rakyat Sanurian (WIRASA) sebagai pameran karya kewirausahaan dan seni dengan tema “Merancang Masa Depan yang Lebih Hijau melalui Kewirausahaan Berkelanjutan”. Pameran karya ini menjadi bukti nyata kreativitas murid kelas XII dalam menjawab tantangan krisis lingkungan melalui solusi bisnis yang inovatif.Pameran karya ini merupakan puncak dari pembelajaran kewirausahaan kelas XII. Setiap produk dihasilkan melalui proses panjang, mulai dari penyusunan Business Model Canvas (BMC), penyusunan proposal bisnis, kegiatan produksi sebagai proses realisasi produk, hingga strategi promosi. Para murid ditantang untuk menerapkan prinsip ekonomi hijau, yaitu praktik ekonomi rendah karbon dan efisien dalam penggunaan sumber daya, serta inklusif secara sosial.Pameran karya yang berlangsung meriah di aula SMP-SMA Santa Ursula BSD ini tidak hanya menjadi ajang untuk unjuk karya nyata murid, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi antara pembelajaran kewirausahaan dan kegiatan ekstrakurikuler bidang seni. Dengan mengusung prinsip green economy para murid kelas XII telah menunjukkan bahwa bisnis dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. Berbeda dengan pameran seperti biasanya, pameran karya ini dirancang dalam format mini workshop. Sebanyak sebelas stan kewirausahaan kelas XII dan lima stan seni dari kegiatan ekstrakurikuler menjadi pusat transfer ilmu. Pameran karya ini menjadi ajang kolaborasi antara pelajaran kewirausahaan dan kegiatan ekstrakurikuler bidang seni. Sebelas stan kewirausahaan bersinergi dengan lima stan seni dari kegiatan ekstrakurikuler seperti fotografi, desain mode, desain grafis, seni lukis, dan menulis kreatif. Kemeriahan pameran semakin lengkap dengan penampilan dari peserta kegiatan ekstrakurikuler teater, tarian tradisional, tarian modern, dan sajian musik dari peserta kegiatan ekstrakurikuler keroncong serta band yang memukau di awal dan di akhir setiap sesi pameran. Beragam produk inovatif dipamerkan dalam pameran ini, antara lain lilin aroma terapi, body lotion, ecoprint tote bag, seed paper, berbagai bentuk fashion berupa pakaian, pouch dari daur ulang ampas kopi, perabot rumah tangga dari cangkang telur, kopi matcha instan, lip balm alami, aksesori dari tutup botol, hingga cookies sehat.Pameran karya terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama pukul 07.45 - 09.15, dihadiri oleh murid kelas XI SMA Santa Ursula BSD dan murid kelas VII hingga kelas IX SMP Santa Ursula BSD. Sesi kedua pukul 10.15 - 11.45, dihadiri murid kelas X SMA Santa Ursula BSD dan murid kelas VII hingga IX SMP Santa Ursula BSD. Kepala SMA Santa Ursula BSD, Bapak Catur Agus Sancoko secara simbolis membuka pameran karya sesi satu dan sesi dua dengan semangat yang ditandai dengan penampilan dari peserta kegiatan ekstrakurikuler tarian tradisional dan tarian modern. Dalam sambutannya, beliau memberikan apresiasi kepada murid kelas XII atas proses dan hasil yang telah diciptakan dalam pembelajaran kewirausahaan. Beliau menyampaikan bahwa anak muda dapat menjadi agen perubahan melalui kreativitas, inovasi, dan potensi yang dimiliki. Beliau juga menyampaikan harapan supaya semua pihak yang terlibat dalam pameran dapat memperoleh ilmu yang mampu menginspirasi untuk mewujudkan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.Mini workshop diikuti oleh pengunjung pameran karya. Murid dibagi dalam sebelas kelompok lintas kelas untuk mengikuti Mini workshop di stan kewirausahaan sesuai nomor kelompok mereka, selanjutnya murid dapat mengunjungi semua stan kewirausahaan dan seni. Sistem ini memastikan adanya interaksi yang merata dan pengalaman belajar murid yang optimal. Para pengunjung pameran tidak hanya melihat produk, tetapi juga diajak untuk belajar secara langsung dalam mini workshop di setiap stan. Mini workshop ini mampu menciptakan efek berantai inspirasi, melalui proses kakak kelas yang berbagi pengalaman merintis usaha mulai dari nol hingga produk jadi, kemudian adik kelas mampu termotivasi untuk memulai bisnis sejak dini.Tampilan produk kewirausahaan dinilai oleh lima orang guru penilai. Aspek yang dinilai mencakup kreativitas, edukasi dalam mini workshop, branding dan pemasaran, serta kolaborasi manajerial. Evaluasi yang diberikan oleh tim guru penilai pada produk pameran karya, diharapkan dapat terus mengasah kemampuan manajerial dan komunikasi murid. Sajian musik dari peserta kegiatan ekstrakurikuler keroncong dan band menjadi sajian penutup di setiap sesi pameran karya.Pameran karya ini bukan sekedar tugas akhir dari mata pelajaran kewirausahaan, melainkan langkah awal bagi komunitas SMA Santa Ursula BSD untuk membentuk generasi muda yang kreatif, inovatif, mandiri, dan senantiasa berwawasan lingkungan. Semoga semangat ekonomi hijau melalui proses pembelajaran kewirausahaan dapat terus bertumbuh untuk menginspirasi kita semua dalam menjaga bumi, mulai dari langkah kecil yang bernilai ekonomi tinggi.Dokumentasi oleh: Brian & Aldric XI-C
Selengkapnya
Dari SMA Santa Ursula BSD ke Jerman: Joane Arachel Saputra Raih Beasiswa Jugendkurs PASCH 2026
Posted: 2026-03-12 | By: Ruth Berliana (Guru Jerman Intensif SMA Santa Ursula BSD)
SMA Santa Ursula BSD kembali mencatatkan prestasi membanggakan melalui salah satu murid. Joane Arachel Saputra, murid kelas XB SMA Santa Ursula BSD, berhasil meraih Beasiswa Jugendkurs Stipendium yang diselenggarakan oleh PASCH Indonesien. Melalui program ini, Joane akan mendapatkan kesempatan berharga untuk mengikuti kursus remaja di Jerman tepatnya di kota Benediktbeuern pada tanggal 5-25 Juli 2026 bersama para pelajar dari berbagai negara.Beasiswa Jugendkurs merupakan program yang ditujukan bagi murid dari sekolah-sekolah yang tergabung dalam jaringan PASCH (Schulen: Partner der Zukunft). Program ini memberikan kesempatan kepada para pelajar untuk memperdalam kemampuan bahasa Jerman sekaligus mengenal budaya Jerman secara langsung. Selain mengikuti kegiatan pembelajaran bahasa, para peserta juga akan terlibat dalam berbagai aktivitas yang memperkaya wawasan global, seperti diskusi lintas budaya, kegiatan kelompok, serta kunjungan edukatif.Proses seleksi untuk mendapatkan beasiswa ini berlangsung melalui beberapa tahap dan diikuti oleh peserta dari berbagai sekolah PASCH di Indonesia. Pada tahap awal, seluruh peserta mengikuti tes tertulis yang diselenggarakan pada 3 dan 6 Februari 2026. Pada tahun ini tercatat sebanyak 244 peserta mengikuti tahap seleksi tersebut. Para peserta menunjukkan kemampuan mereka dalam memahami bahasa Jerman sekaligus mengerjakan berbagai bentuk soal yang menguji pemahaman bahasa secara menyeluruh.Dari jumlah tersebut, dipilih 29 peserta terbaik yang mewakili 29 sekolah PASCH untuk melanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu tes lisan yang dilaksanakan pada 26 Februari 2026. Pada tahap ini, para peserta diuji kemampuan komunikasi mereka dalam bahasa Jerman, termasuk kemampuan menyampaikan gagasan serta menjawab pertanyaan untuk memastikan level kemampuan bahasa Jerman siswa tersebut.Melalui proses seleksi yang kompetitif tersebut, akhirnya ditentukan 15 peserta terbaik yang berhak menerima Beasiswa Jugendkurs PASCH 2026. Joane Arachel Saputra menjadi salah satu murid yang berhasil lolos sebagai penerima beasiswa tersebut dengan urutan ke 4 dari 15 peserta. Pencapaian ini tentu menjadi kebanggaan tidak hanya bagi Joane, tetapi juga bagi seluruh komunitas SMA Santa Ursula BSD.Keberhasilan Joane menunjukkan bahwa proses belajar bahasa asing membutuhkan ketekunan, konsistensi, serta keberanian untuk terus mencoba dan berkembang. Mempelajari bahasa Jerman tidak hanya berkaitan dengan penguasaan kosakata atau tata bahasa, tetapi juga membuka kesempatan untuk memahami budaya baru serta membangun komunikasi dengan masyarakat dari latar belakang yang berbeda.Program kursus remaja di Jerman yang akan diikuti Joane nantinya tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan bahasa. Para peserta juga akan mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk memperluas wawasan global dan membangun pengalaman belajar yang bermakna. Melalui interaksi dengan peserta dari berbagai negara, para pelajar diharapkan dapat mengembangkan sikap terbuka, kemampuan bekerja sama, serta pemahaman terhadap keberagaman budaya.Pengalaman belajar di luar negeri seperti ini menjadi kesempatan yang sangat berharga. Selain meningkatkan keterampilan bahasa, pengalaman tersebut juga membantu membangun kemandirian, rasa percaya diri, serta kemampuan beradaptasi dalam lingkungan baru. Hal-hal ini merupakan bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan dunia yang semakin terhubung secara global.Prestasi yang diraih Joane juga mencerminkan semangat pembelajaran di SMA Santa Ursula BSD yang mendorong para murid untuk terus mengembangkan potensi diri. Sekolah memberikan ruang bagi para murid untuk belajar, berprestasi, serta memperluas pengalaman melalui berbagai kesempatan akademik maupun kegiatan internasional.Segenap keluarga besar SMA Santa Ursula BSD menyampaikan selamat dan apresiasi kepada Joane Arachel Saputra atas prestasi yang telah diraih. Semoga pengalaman mengikuti Program Jugendkurs PASCH di Jerman dapat menjadi langkah berharga dalam perjalanan pendidikan dan pengembangan diri Joane di masa depan. Prestasi ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi para murid lainnya untuk terus belajar, berani mencoba peluang baru, serta mengembangkan potensi terbaik yang dimiliki.
Selengkapnya
Latihan Dasar Kepemimpinan Badan Pengurus OSIS Periode 2026: Menumbuhkan Pribadi Berdaya Juang, Tulus, dan Tuntas
Posted: 2026-02-28 | By: FX. Suryo Kumoro Jatie
Selama tiga hari, Senin-Rabu, 23-25 Februari 2026, Aula Kampus Santa Ursula BSD diubah menjadi ruang pembentukan karakter bagi Badan Pengurus OSIS SMA Santa Ursula BSD. Sejak pukul 07.00 hingga 15.00 WIB, sebanyak 34 anggota Badan Pengurus OSIS Periode 2026 menjalani proses yang tidak sekadar melatih keterampilan organisasi, tetapi menantang cara berpikir, cara berkomunikasi, dan cara memaknai kepemimpinan.Di bawah pendampingan tim Care for Excellent Life’s Directions (CELD) bersama Kak Ollyn, Kak Guntur, dan Kak Gandhi, serta didampingi oleh Pembina OSIS Pak Oky dan Pak Suryo, dan Kepala Sekolah Bapak Catur Agus Sancoko serta Ibu Fransisca Erijani Rosari, selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) BP OSIS tahun ini diarahkan sebagai organisasi yang utuh secara intelektual, emosional, dan karakter. Tema yang diusung, “Pribadi Berdaya Juang: Tulus, Tuntas, dan Totalitas”, bukan sekadar slogan. Tema itu dihidupi dalam setiap dinamika pelatihan selama tiga hari tersebut.Hari pertama tidak langsung berbicara tentang program atau jabatan. Para peserta justru diajak menyelami pertanyaan-pertanyaan sederhana: Apa kesamaan kita? Mengapa kita memilih divisi di OSIS adalah ini... Apa yang sebenarnya kita cari dalam OSIS ini?Dari pertanyaan personal tentang kesukaan, nilai hidup, hingga harapan terhadap organisasi, perlahan terbangun kesadaran bahwa mereka bukan sekadar individu dengan seksi masing-masing, melainkan satu tubuh kepengurusan. Sesi wawasan organisasi membuka pemahaman bahwa struktur bukan sekadar pembagian kerja, melainkan sistem kepercayaan. Setiap orang memiliki peran yang sama pentingnya. Kegiatan ditutup dengan permainan tim, sebagai wujud penyatuan visi di hari pertama pelatihan.Hari kedua masuk lebih dalam dan berfokus pada membangun kedewasaan berpikir. Organisasi, sebagaimana ditegaskan dalam sesi hari kedua, berdiri di atas komunikasi. Namun komunikasi bukan sekadar pesan yang sampai, melainkan cara pesan itu disampaikan. Gestur, nada suara, ekspresi wajah, semuanya memengaruhi organisasi.Peserta mulai menyadari bahwa menjadi pemimpin berarti mampu memimpin diri sendiri terlebih dahulu. Selain itu pelatihan ini menekankan pada menjaga semangat ketika lelah dan banyak tekanan. Mengatur “battery” semangat agar tidak padam sampai akhir kepengurusan selesai. Kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling keras berbicara, tetapi siapa yang paling konsisten bertanggung jawab. Memasuki sesi penyusunan kerangka berpikir program kerja, idealisme mulai diuji oleh realitas. Program tidak boleh hanya besar dalam gagasan, tetapi harus realistis. Diskusi terlihat menjadi lebih serius. Ada ide-ide ambisius yang harus dipertimbangkan ulang. Ada gagasan kreatif yang perlu disederhanakan agar dapat diwujudkan. Di sinilah peserta belajar bahwa tuntas berarti mampu menyelesaikan sesuatu dengan perhitungan matang, bukan sekadar semangat sesaat.Sore hari, berbagai simulasi pembangunan karakter kembali diuji dengan game kekompakan. Berjalan dengan mata tertutup dari aula menuju lapangan, dengan satu rekan sebagai penunjuk arah, melatih kepercayaan dan kepekaan. Permainan memindahkan bola dengan tali menuntut koordinasi dan kesabaran. Sementara mempertahankan lilin dari serangan bom air menjadi simbol menjaga komitmen di tengah gangguan dan tekanan.Hari ketiga menjadi puncak proses. Fokus diarahkan pada manajemen organisasi melalui simulasi rapat penyusunan program kerja BP OSIS Periode 2026. Dalam simulasi tersebut, peserta menjalankan rapat sebagaimana kondisi nyata kepengurusan. Mereka membahas program kerja yang akan dijalankan selama satu periode, dengan mempertimbangkan efektivitas, prioritas, dan kesinambungan kegiatan. Dinamika langsung terasa: ada perbedaan pendapat, ada gagasan yang saling bersaing, ada momen ketika keputusan harus diambil. Simulasi ini bukan untuk mencari siapa yang paling benar, melainkan untuk melihat bagaimana komunikasi dijaga, bagaimana delegasi dilakukan, dan bagaimana keputusan diambil secara kolektif. Selain itu, melalui simulasi membuat kegiatan sederhana digunakan untuk melatih arah struktur komunikasi dan instruksi dalam BP OSIS. Dengan diberikan tantangan membuat dekorasi momen Kebangkitan Yesus dengan barang-barang yang tersedia di aula. Dalam kegiatan ini pengurus OSIS kembali diuji dalam hal kreativitas, adaptif, pembagian tugas, dan kepemimpinan situasional. Ketika waktu terbatas dan sumber daya sederhana, kepemimpinan diuji dalam praktik, bukan teori. Kegiatan ini menegaskan bahwa organisasi bukan sekadar konsep di atas kertas. Tetapi hidup dalam kegiatan diskusi, perbedaan pendapat, dan kemampuan untuk tetap bergerak maju bersama. Ada kutipan menarik yang saya temukan dalam pelatihan ini, “Berjuang untuk menjadi pemenang itu seperti melawan arus, jika kamu tidak maju, kamu akan didorong mundur.” Kalimat ini menjadi benang merah seluruh rangkaian LDK BP OSIS Periode 2026. Daya juang bukan sekadar keberanian di awal, melainkan konsistensi untuk terus maju meskipun lelah, berbeda pendapat, atau menghadapi keterbatasan. Dari pelatihan ini lahir komitmen baru, menjadi pribadi yang tulus dalam niat melayani, tuntas dalam menyelesaikan tanggung jawab, dan total dalam menghidupi setiap amanah yang dipercayakan. Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang seberapa tinggi posisi yang dipegang, tetapi seberapa kuat karakter yang dibangun. Dokumentasi: Tim Dokumentasi Kegiatan
Selengkapnya
Perjalanan Pelayanan Murid Santa Ursula BSD di Sibolga: Belajar Ketangguhan dari Korban Bencana
Posted: 2026-02-26 | By: Abraham Abhimanyu (XA/1) dan Mikaela Anandita Wardhana (XC/26)
Semangat Serviam diwujudkan secara nyata oleh murid SMA Santa Ursula BSD melalui kegiatan pelayanan kemanusiaan di wilayah Keuskupan Sibolga, Sumatera Utara. Selama enam hari, 26–31 Januari 2026, sepuluh murid bersama dua guru pendamping hadir untuk membantu pemulihan pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda kawasan tersebut. Kegiatan ini tidak hanya menjadi aksi solidaritas, tetapi juga pengalaman pembelajaran hidup yang mendalam bagi para murid.Perjalanan dimulai dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Raja Sisingamangaraja XII, dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju Kota Pandan, Tapanuli Tengah. Sepanjang perjalanan, rombongan menyaksikan langsung dampak bencana: perbukitan yang longsor, rumah warga yang hilang, serta jalanan yang rusak. Namun di tengah situasi tersebut, terlihat pula semangat warga yang tetap berjuang melanjutkan kehidupan, termasuk anak-anak yang tetap bersekolah dengan keterbatasan.Selama di Sibolga, para murid tinggal di Biara OSF San Damiano dan Seminari Menengah Santo Petrus. Kegiatan diawali dengan pengenalan lingkungan terdampak bencana, dilanjutkan dengan pelayanan di SMA Santo Fransiskus. Para murid berinteraksi dengan para murid setempat melalui kegiatan perkenalan, berbagi cerita, permainan, serta kerja bakti membersihkan ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, dan lapangan sekolah yang masih dipenuhi lumpur. Antusiasme dan ketangguhan murid setempat menjadi pengalaman berharga yang menguatkan makna pendidikan sebagai harapan di tengah keterbatasan.Pada hari-hari berikutnya, relawan dari sekolah SMA Santa Ursula BSD dan SMA Santa Ursula Jakarta menyalurkan donasi perlengkapan sekolah ke berbagai lokasi, termasuk sekolah darurat di Hutanabolon, TK Don Bosco, SD St. Fransiskus, serta Gereja Stasi Kristus Raja di Huta Godang. Di lokasi-lokasi tersebut, murid SMA Santa Ursula BSD bersama SMA Santa Ursula Jakarta mengadakan kegiatan bermain, bernyanyi, dan belajar bersama anak-anak. Kehadiran mereka disambut hangat oleh masyarakat, sekaligus menjadi sarana pemulihan psikososial bagi anak-anak terdampak bencana.Guru pendamping, Bapak Hieronimus Yuwan Pratama, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pembelajaran kontekstual yang menanamkan empati, kepedulian sosial, dan semangat melayani. “Para murid tidak hanya memberi, tetapi juga belajar dari ketangguhan masyarakat yang tetap tersenyum dan berjuang membangun kembali kehidupan,” ujarnya.Melalui pengalaman ini, para murid menyadari bahwa pelayanan bukan sekadar memberikan bantuan materi, melainkan juga membangun relasi, menghadirkan harapan, dan belajar mensyukuri kehidupan. Nilai kesederhanaan, kerja sama, dan keberanian untuk bangkit dari keterpurukan menjadi pelajaran utama yang mereka bawa pulang.Kegiatan pelayanan di Sibolga menjadi bukti nyata komitmen SMA Santa Ursula BSD dalam membentuk pribadi yang peduli, tangguh, dan siap melayani sesama. Semangat serviam yang dihidupi dalam pengalaman ini diharapkan terus bertumbuh dalam kehidupan sehari-hari para murid. Dokumentasi: Bapak Hieronimus Yuwan Pratama (Guru Pendamping)
Selengkapnya
Dari Riset ke Prestasi: Murid Kelas XII Tampilkan Karya Tulis Ilmiah Berbasis Nilai Serviam
Posted: 2026-02-20 | By: Dominique Charlotte Edeline XII-G/03
Kegiatan penulisan karya tulis ilmiah murid kelas XII berlangsung dengan lancar pada Rabu, 11 Februari 2026. Kegiatan ini merupakan kolaborasi lintas mata pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia, Sosiologi, Fisika, Biologi, dan Kimia, sekaligus menjadi ajang perlombaan antarkelompok. Seluruh murid melakukan penelitian sesuai bidang yang dipilih dan menyusunnya dalam bentuk jurnal ilmiah secara sistematis. Proses ini menjadi pengalaman akademik yang bermakna serta melatih kesiapan murid dalam menghadapi tantangan pembelajaran berbasis riset.Penyusunan karya tulis ilmiah dilaksanakan sejak akhir Agustus 2025 hingga Februari 2026 melalui tahapan yang terstruktur dan mandiri. Murid menyusun latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, metode, pengumpulan data, hingga analisis hasil penelitian dengan pendampingan guru mata pelajaran. Selain itu, murid juga memperoleh pembekalan teknik penulisan ilmiah sesuai kaidah Bahasa Indonesia serta wawasan tambahan melalui seminar jurnal ilmiah yang menghadirkan Bapak Dr. Alexander Joseph Ibnu Wibowo, seorang dosen dari Universitas Prasetiya Mulya. Bekal tersebut membantu murid memahami proses penelitian secara lebih mendalam dan aplikatif.Berbagai tantangan dihadapi murid dalam menentukan topik, mengolah data, hingga menyusun laporan secara sistematis. Melalui diskusi kelompok, murid belajar untuk saling mendengarkan, menghargai perbedaan pendapat, dan mencari solusi bersama. Pengalaman ini menumbuhkan sikap tanggung jawab, ketekunan, serta kemampuan berpikir kritis dan terstruktur. Nilai-nilai tersebut mencerminkan semangat Serviam yang menekankan kerja sama, kepedulian, dan integritas dalam proses belajar.Puncak kegiatan ditandai dengan presentasi hasil penelitian di hadapan guru penguji dan audiens. Setiap kelompok memaparkan hasil karya ilmiah sekaligus menjawab pertanyaan sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik. Presentasi dilaksanakan di beberapa ruang sesuai bidang kajian, dan dari setiap ruang dipilih kelompok terbaik sebagai pemenang lomba karya tulis ilmiah. Suasana kompetitif yang sehat mendorong murid untuk menampilkan hasil terbaik sekaligus saling mengapresiasi karya satu sama lain.Melalui kegiatan ini, murid tidak hanya memperoleh pemahaman tentang metode ilmiah, tetapi juga belajar mengatur waktu, bekerja secara kolaboratif, dan berani keluar dari zona nyaman. Pengalaman tersebut sejalan dengan nilai Serviam Sekolah Santa Ursula BSD, yaitu semangat melayani dengan kerendahan hati, ketekunan, dan komitmen untuk memberikan yang terbaik. Diharapkan kegiatan ini menjadi bekal bagi murid untuk terus berkarya, berpikir solutif, dan berkontribusi positif bagi masyarakat.Dokumentasi oleh : Johanes Aldric Darmawan / XI-C/15 dan Brian Aurey Saputra / XI-C/04
Selengkapnya
Menyusuri Dunia Industri Bersama PT Amerta Indah Otsuka
Posted: 2026-02-10 | By: Eka Setiawan Guru Bahasa Indonesia
Sebagai bagian dari penguatan pembelajaran kontekstual dan pengembangan wawasan karier, murid kelas XI melaksanakan kegiatan kunjungan industri ke PT Amerta Indah Otsuka, perusahaan yang bergerak di bidang industri minuman sehat. Kegiatan ini dilaksanakan dalam dua gelombang, yaitu gelombang pertama pada Kamis, 22 Januari 2026, dan gelombang kedua pada Jumat, 6 Februari 2026, dengan didampingi oleh para guru pendamping.Kunjungan industri ini dirancang sebagai kegiatan pembelajaran kolaboratif lintas mata pelajaran, yang melibatkan Bahasa Indonesia, Informatika, Ekonomi, Fisika, dan Kimia. Dengan demikian, murid tidak hanya melakukan kunjungan observatif, tetapi juga belajar mengaitkan teori yang diperoleh di kelas dengan praktik nyata di dunia industri.PT Amerta Indah Otsuka dikenal sebagai produsen berbagai minuman sehat, di antaranya minuman isotonik Pocari Sweat dalam berbagai kemasan, serta Oronamin C, minuman suplemen yang telah lama dikenal masyarakat. Perusahaan ini merupakan bagian dari Otsuka Pharmaceutical Group asal Jepang yang telah beroperasi di Indonesia dengan komitmen tinggi terhadap kualitas, inovasi, dan keberlanjutan.Setibanya di lokasi pabrik, murid tidak langsung memasuki area produksi. Kegiatan diawali dengan sesi pengenalan perusahaan dan produk melalui permainan interaktif yang dipandu oleh tim PT Amerta Indah Otsuka. Melalui permainan tersebut, murid dikenalkan pada jenis produk, fungsi minuman bagi tubuh, serta nilai-nilai yang dipegang perusahaan dalam mengembangkan produk kesehatan. Suasana kegiatan berlangsung santai dan menyenangkan, sekaligus membangun antusiasme murid untuk mengikuti rangkaian kegiatan selanjutnya.Dalam sesi pemaparan, murid dikenalkan pada prinsip open factory yang menjadi ciri khas PT Amerta Indah Otsuka. Prinsip ini menegaskan keterbukaan perusahaan dalam memperlihatkan proses produksi kepada publik sebagai bentuk edukasi dan transparansi. Selain itu, murid juga mendapatkan penjelasan mengenai penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang menjadi prioritas utama perusahaan.Sebelum memasuki area produksi, murid mendapatkan penjelasan mengenai rambu-rambu keselamatan dan prosedur kerja yang harus dipatuhi oleh seluruh karyawan PT Amerta Indah Otsuka. Dari sini, murid belajar bahwa disiplin dan kepatuhan terhadap aturan merupakan bagian penting dalam dunia industri.Saat mengunjungi area produksi, murid menyaksikan secara langsung tahapan pembuatan minuman, mulai dari pengolahan bahan baku, proses pencampuran, pengemasan otomatis, hingga pengendalian mutu. Proses ini menjadi sarana pembelajaran lintas mata pelajaran. Dari sisi Kimia dan Fisika, murid memahami proses pencampuran, pengukuran, serta prinsip kerja mesin. Dari sisi Ekonomi, murid belajar mengenai efisiensi produksi, manajemen kualitas, dan skala industri. Sementara itu, Informatika berperan dalam pemanfaatan teknologi dan sistem otomatisasi, serta Bahasa Indonesia dalam melatih murid menyusun laporan, menulis hasil observasi, dan menyampaikan informasi secara runtut dan komunikatif.Selain proses produksi, PT Amerta Indah Otsuka juga menekankan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan. Murid mendapatkan penjelasan mengenai pengelolaan air, pengolahan limbah, serta upaya efisiensi energi yang dilakukan perusahaan. Berkat konsistensinya, PT Amerta Indah Otsuka telah menerima berbagai penghargaan di bidang konservasi air dan K3, yang menunjukkan keseriusan perusahaan dalam menjalankan industri yang berkelanjutan.Nilai-nilai yang diperoleh dalam kunjungan ini sejalan dengan nilai Serviam yang menjadi landasan pendidikan di Sekolah Santa Ursula BSD. Melalui kegiatan ini, murid diajak untuk belajar melayani dan bertanggung jawab, tidak hanya terhadap diri sendiri, tetapi juga terhadap sesama dan lingkungan. Disiplin dalam bekerja, kepedulian terhadap keselamatan, serta komitmen menjaga lingkungan menjadi wujud nyata dari semangat Serviam dalam konteks dunia industri.Kunjungan industri ke PT Amerta Indah Otsuka memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi murid kelas XI. Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan faktual tentang dunia kerja, tetapi juga mengembangkan sikap kritis, reflektif, dan bertanggung jawab. Melalui pembelajaran langsung ini, diharapkan murid mampu memaknai proses belajar sebagai bekal untuk menjadi pribadi yang unggul, peduli, dan siap berkontribusi bagi masyarakat di masa depan.
Selengkapnya
Perjalanan Melewati Batas Diri Bersama Outward Bound Indonesia (OBI)
Posted: 2026-02-03 | By: Marcel Ecxel Ignatius Bulele, Guru Bahasa Indonesia
Kegiatan Outward Bound Indonesia (OBI) yang diikuti oleh murid kelas XI SMA Santa Ursula BSD pada tanggal 19–24 Januari 2026 menjadi sebuah perjalanan pembelajaran yang sarat makna dan penuh tantangan. Bertempat di alam terbuka, kawasan Waduk Jatiluhur, kegiatan ini dirancang untuk mengembangkan karakter, jiwa kepemimpinan, kemandirian, serta kemampuan bekerja sama melalui pendekatan experiential learning atau belajar dari pengalaman langsung.Sejak awal kegiatan, para murid ditantang untuk keluar dari zona nyaman dan menghadapi berbagai aktivitas yang menuntut keberanian serta kepercayaan diri. Salah satu kegiatan yang paling menguji mental adalah high ropes, di mana murid harus melintasi lintasan tali di ketinggian. Aktivitas ini melatih keberanian, fokus, dan kepercayaan terhadap diri sendiri maupun teman satu tim. Para murid ditantang untuk melawan rasa takut yang mereka rasakan. Selain itu, murid juga mengikuti kegiatan berkano di perairan Waduk Jatiluhur. Dalam aktivitas ini, kerja sama dan komunikasi menjadi kunci utama. Setiap anggota tim harus mampu menyelaraskan gerakan dan mengambil keputusan bersama agar kano dapat melaju dengan seimbang dan aman. Jika gerakan mendayung yang mereka lakukan tidak seirama, tentu kano yang mereka naiki tidak akan berjalan. Hal yang paling parah, kano tersebut bisa terbalik di waduk tersebut. Melalui kegiatan ini, murid belajar pentingnya koordinasi, kepemimpinan, serta tanggung jawab dalam sebuah kelompok.Tantangan fisik dan mental berlanjut dengan pendakian Gunung Lembu. Medan yang cukup terjal dan melelahkan menguji ketahanan fisik, disiplin, serta semangat pantang menyerah para murid. Hujan yang turun mengguyur tanah pun semakin menyulitkan langkah mereka untuk mendaki gunung tersebut. Dalam pendakian ini, murid belajar untuk saling membantu, menghargai perbedaan kemampuan, dan menjaga kekompakan tim hingga mencapai tujuan bersama.Tidak hanya berhenti di situ, para murid masih harus mengikuti solo night, yaitu kegiatan bermalam sendiri di lokasi yang telah ditentukan oleh fasilitator. Pada kegiatan ini, murid diajak untuk benar-benar mengenal diri sendiri, menghadapi rasa takut, serta merefleksikan perjalanan dan pengalaman yang telah dilalui. Hujan deras yang sejak beberapa hari lalu turun pun tetap ikut menemani para murid menjalani kegiatan solo night. Dalam kesunyian malam dan di bawah guyuran hujan, murid belajar tentang kemandirian, keberanian, dan kekuatan mental. Mental mereka benar-benar diuji untuk tetap berani dalam situasi yang tidak nyaman karena pada malam tersebut cuaca sangat tidak bersahabat.Seluruh rangkaian kegiatan yang dijalani murid didampingi oleh fasilitator profesional dari Outward Bound Indonesia (OBI). Setiap aktivitas diakhiri dengan sesi refleksi, di mana murid diajak untuk mengaitkan pengalaman di lapangan dengan kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, keluarga, maupun lingkungan sosial. Nilai-nilai seperti kepemimpinan, empati, disiplin, tanggung jawab, dan kepercayaan diri menjadi pelajaran utama yang ditanamkan melalui kegiatan ini.Melalui kegiatan Outward Bound Indonesia (OBI), murid kelas XI SMA Santa Ursula BSD tidak hanya memperoleh pengalaman seru di alam terbuka, tetapi juga pembelajaran hidup yang berharga. Perjalanan melewati batas diri ini menjadi bekal penting bagi murid dalam menghadapi tantangan akademik maupun kehidupan di masa depan, serta membentuk pribadi yang utuh, cerdas, dan siap untuk melayani di manapun mereka berada nantinya.
Selengkapnya
Proyek Literasi Bahasa Inggris Lanjutan Siswa Kelas XI melalui Antologi Cerpen Berbahasa Inggris
Posted: 2026-01-28 | By: Beatrix Virgini Cipta Konsepsion (XI A/7)
Tangerang, 25 Januari 2026 - Siswa Kelas XI SMA Santa Ursula BSD yang mengambil mata pelajaran Bahasa Inggris Lanjutan melaksanakan proyek literasi berupa penulisan dan pembuatan kumpulan cerita pendek yang disatukan dalam buku (antologi cerpen) dengan menggunakan Bahasa Inggris sebagai tugas akhir semester 3, tahun pelajaran 2025-2026.  Karya cerpen ditulis oleh 118 siswa (dari lima kelas) secara individu dan digabungkan dalam satu buku (antologi) cerpen untuk setiap kelasnya.  Mata pelajaran Bahasa Inggris Lanjutan merupakan mata pelajaran pilihan yang bertujuan mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris siswa secara lebih mendalam, khususnya dalam pemahaman dan penulisan teks sastra, dalam bentuk fiksi. Melalui pembelajaran ini, siswa dilatih untuk mengekspresikan ide, imajinasi, kreativitas serta mengolah empati dalam bentuk karya tulis berbahasa Inggris. Proyek penulisan dan pembuatan antologi cerpen berbahasa Inggris ini dilaksanakan selama Semester 3 oleh siswa yang mengambil mata pelajaran Bahasa Inggris Lanjutan, yaitu kelas XIA, XIB, XIC, XID, dan XIE. Selama proses pembelajaran di semester 3, siswa memperoleh materi pendukung penulisan cerpen, seperti Introduction to Literature, Elements of Fiction, Genres of Literature, serta Literary Devices.  Proses pembuatan cerpen dilakukan secara bertahap, mulai dari analisis cerpen karya sastrawan sebagai referensi, penyusunan kerangka cerita / outline, proses penulisan,  revisi, konsultasi, hingga pengumpulan produk akhir cerpen. Setelah cerpen diselesaikan, naskah terlebih dahulu diperiksa baik dari segi isi dan bahasanya oleh Bapak Victor Puguh Harsanto sebagai guru pendamping.  Selanjutnya, setiap kelas membentuk tim kecil yang bertugas sebagai penyunting bahasa untuk melakukan pengecekan ejaan dan tata bahasa. Setelah memperoleh persetujuan akhir oleh guru pendamping, naskah dikompilasi dan diserahkan kepada tim penyunting dan penata buku untuk proses penyusunan dan pencetakan antologi. Proses pembuatan antologi cerpen ini didukung oleh tim pembuatan buku di setiap kelas dengan pembagian peran yang jelas. Koordinator proyek dan pencetakan bertugas mengatur alur kerja serta memastikan proses pencetakan berjalan dengan baik. Penata letak, desainer sampul, dan ilustrator bertanggung jawab atas tampilan dan visual buku. Dokumentasi dan konsep visual didukung oleh fotografer dan penata busana untuk profil penulis yang diletakkan di bagian akhir antologi. Dari sisi kebahasaan, naskah cerpen disunting oleh P. Victor sebagai editor dan diperiksa kembali oleh tim penyunting bahasa untuk memastikan ketepatan ejaan dan tata bahasa sebelum buku dicetak.  Dengan melakukan hal ini, kesalahan dalam bahasa tulis dapat diminimalisir.  Setiap kelas menyusun buku antologi cerpen dengan judul yang mencerminkan identitas serta pengalaman siswa saat membuat antologi. Setiap judul dipilih bersama sebagai gambaran kebersamaan siswa dalam satu kelas saat mengikuti mata pelajaran Bahasa Inggris Lanjutan. Kelas XI-A memberi nama antologi mereka By The Waves yang menggambarkan siswa sebagai gelombang yang terus bergerak bersama dalam satu kesatuan kelas.  Nama kolektif Vagues de la Mer, yang berarti “gelombang laut”, dipilih untuk memperkuat makna kebersamaan tersebut. Kelas XI-B mengusung judul Our Youth in Ink sebagai wadah untuk menuangkan ide, imajinasi, dan pengalaman masa remaja siswa. Mereka menggambarkannya dengan 26 Pens yang melambangkan keberagaman gaya menulis dari 26 siswa dalam satu kelas. Sementara itu, kelas XI-C memilih judul The Tales from the Pine Tree yang menggambarkan keteguhan dan kebersamaan siswa dalam menjalani proses pembelajaran. Nama kolektif Sonder digunakan untuk menekankan bahwa setiap penulis memiliki latar belakang dan pengalaman yang beragam. Sementara itu, kelas XI-D memilih judul Echo, yang berbicara tentang kerinduan, kehilangan, dan diri yang larut menjadi gema. Cerita dalam antologi ini menggambarkan bagaimana kenangan kita terus hidup walau hanya dalam suara yang bergema. Nama bersama Elysian digunakan sebagai identitas penulis kelas XI-D. Dan kelas terakhir yaitu kelas XI-E menggunakan judul Star Woven, yang melambangkan cerita-cerita siswa yang saling terhubung dalam satu buku. Nama kolektif The Flibbertigibbets menggambarkan siswa yang gemar bercerita dan berimajinasi. Melalui proyek penulisan dan pembuatan antologi cerpen ini, siswa tidak hanya dapat mengembangkan kemampuan literasi dalam Bahasa Inggris khususnya keterampilan dalam menulis, namun juga kreativitas, kedisiplinan, serta kemampuan bekerja sama. Bapak Victor menuturkan, “Menulis fiksi adalah perjalanan reflektif yang membantu kita untuk mengenal diri kita dengan lebih baik.” Kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran bermakna serta upaya meningkatkan budaya literasi di lingkungan sekolah.  Program ini telah berjalan selama 10 tahun di bawah bimbingan Bapak Victor sebagai guru mata pelajaran Bahasa Inggris Lanjutan.   Semoga kegiatan ini dapat secara konsisten dilaksanakan dan dikembangkan sebagai ruang ekspresi dan apresiasi karya sastra dari para siswa dan dapat menjadi bagian penting dari proses pembelajaran yang berkelanjutan dan penuh makna. 
Selengkapnya
“Pagi, Pagi, Pagi… Ursula, Luar Biasa!” Pelatihan Fisik dan Mental Kelas X SMA Santa Ursula BSD di Gunung Salak Endah
Posted: 2026-01-27 | By: Nadine Aruna Widinugroho - XB / 31
SMA Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Fisik dan Mental bagi para murid kelas X pada Rabu–Kamis, 14–15 Januari 2026. Kegiatan ini berlangsung di Pusat Pendidikan Latihan Tempur (Dodiklatpur) Rindam Jaya, Gunung Salak Endah, Bogor, dengan tujuan membentuk karakter murid yang tangguh secara fisik, kuat secara mental, serta berjiwa disiplin dan setia kawan. Pelatihan ini diikuti oleh seluruh murid kelas X sebagai bagian dari program pembinaan karakter sekolah. Sebelum pelaksanaan, sekolah telah mengadakan dua kali sosialisasi dan pelatihan awal guna membekali para murid agar siap menghadapi situasi baru serta mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang menantang.Perjalanan menuju lokasi memakan waktu sekitar tiga jam menggunakan bus, kemudian dilanjutkan dengan truk militer menuju kawasan Dodiklatpur. Setibanya di lokasi, para murid langsung diarahkan untuk berbaris per kelas dan mulai merasakan suasana disiplin khas militer. Sejak saat itu, para murid dibiasakan merespons sapaan dengan yel-yel penuh semangat, “Pagi, pagi, pagi… Ursula, luar biasa!”, sebagai bentuk penghargaan dan semangat kebersamaan.Para murid kemudian menempati barak sederhana sebagai tempat beristirahat. Meski fasilitas terbatas dengan tempat tidur kayu tanpa sekat, pengalaman ini justru menjadi sarana belajar untuk beradaptasi, mandiri, dan saling menghargai. Setelah upacara pembukaan dan pemeriksaan kesehatan, kegiatan dilanjutkan dengan mancakrida, yakni rangkaian tantangan fisik yang meliputi tali merayap, jaring laba-laba, dan snappling.Dalam kegiatan tali merayap, para murid diuji keberanian dan kekuatan fisiknya untuk menyeberangi tali sepanjang lima meter. Meski tidak sedikit yang mengalami lecet akibat gesekan tali, semangat untuk menyelesaikan tantangan tetap terjaga. Tantangan jaring laba-laba melatih ketangkasan dan kepercayaan diri dengan tetap mengutamakan keselamatan melalui penggunaan tali pengaman. Sementara itu, kegiatan snappling dengan menuruni dinding setinggi sekitar 10 meter menjadi aktivitas yang paling dinantikan, meski tidak semua murid dapat mengikutinya karena keterbatasan waktu dan kondisi cuaca. Waktu makan pun menjadi bagian dari proses pembelajaran. Para murid menerapkan budaya makan ala militer: makan bersama dalam waktu 15 menit, menghabiskan makanan, dan bertanggung jawab atas kebersihan peralatan makan. Setelah makan malam, para murid dibagi dalam kelompok kecil untuk mengikuti jurit malam, sebuah misi menyusuri hutan pada malam hari guna melatih keberanian, fokus, dan kerja sama. Meski sebagian besar kelompok belum berhasil menyelesaikan misi, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga tentang kekompakan dan tanggung jawab.Malam hari ditutup dengan kegiatan “api semangat”, ditandai dengan api unggun, penciuman bendera Merah Putih, serta doa pribadi. Kegiatan reflektif ini menjadi momen penting bagi para murid untuk menyadari tujuan kehadiran mereka dan menumbuhkan kembali semangat juang.Hari kedua diawali dengan senam pagi, sarapan, dan latihan Peraturan Baris-Berbaris (PBB). Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan team building yang dikemas secara menyenangkan namun tetap menuntut konsentrasi, kerja sama, dan kecepatan merespons instruksi. Setelah itu, para murid kembali diuji ketangguhannya melalui latihan fisik di lapangan berlumpur, seperti merayap dan tiarap bersama, yang menanamkan nilai pantang menyerah dan kepatuhan terhadap tugas.Sebagai penutup, para murid berjalan kaki menuju Curug Kondang yang berjarak sekitar setengah kilometer dari kawasan pelatihan. Waktu di curug dimanfaatkan untuk beristirahat, bermain air, dan menikmati kebersamaan sebagai bentuk apresiasi setelah melewati rangkaian kegiatan yang menguras fisik dan mental. Kegiatan kemudian ditutup dengan upacara penutupan, makan siang, dan perjalanan kembali ke sekolah. Melalui Pelatihan Fisik dan Mental ini, para murid kelas X SMA Santa Ursula BSD memperoleh pembelajaran bermakna tentang kerja sama, kedisiplinan, kemandirian, kepemimpinan, serta sikap saling menghargai. Pengalaman dua hari satu malam ini menjadi bekal berharga dalam proses pembentukan karakter, sekaligus kenangan yang akan terus diingat sebagai bagian penting dari perjalanan para murid di SMA Santa Ursula BSD.
Selengkapnya
Mendidik Hati dan Menguatkan Karakter: Internalisasi Nilai Serviam melalui Outward Bound Indonesia
Posted: 2026-01-24 | By: FX. Suryo Kumoro Jatie – Tenaga Pendidik Sosiologi SMA Santa Ursula BSD | Dokumentasi: FX. Suryo Kumoro Jatie
Kegiatan Outward Bound Indonesia (OBI) yang diikuti oleh peserta didik kelas XI SMA Santa Ursula BSD dilaksanakan selama enam hari di kawasan Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Program ini menjadi ruang pembelajaran kontekstual yang memadukan pengalaman fisik, emosional, sosial, dan spiritual dalam satu kesatuan proses pendidikan karakter. Rangkaian kegiatan seperti high ropes, berkano di perairan Waduk Jatiluhur, pendakian di Gunung Lembu, hingga solo night dirancang untuk membawa peserta didik keluar dari zona nyaman dan berjumpa langsung dengan tantangan nyata yang menuntut keberanian, kedisiplinan, serta kerja sama.Dalam aktivitas high ropes, para peserta berhadapan dengan ketinggian dan rasa takut yang menguji kepercayaan diri. Setiap langkah di atas tali menjadi latihan untuk mengelola kecemasan, mendengarkan instruksi, serta saling mendukung dari satu sama lain. Pengalaman ini melatih keberanian dan ketangguhan, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa batas diri dapat dilampaui ketika seseorang berani berproses dan tidak berjalan sendirian.Kegiatan berkano di perairan Waduk Jatiluhur menghadirkan dinamika kerjasama tim yang menuntut keselarasan gerak, komunikasi yang efektif, dan saling percaya. Kekompakan dalam dayungan yang harus seimbang mengajarkan peserta untuk peka terhadap peran masing-masing serta pentingnya koordinasi. Di tengah luasnya perairan waduk, mereka belajar bahwa keselamatan dan keberhasilan hanya dapat dicapai apabila setiap anggota mampu bekerja dalam kesatuan dan saling menopang.Pendakian dan penurunan medan di Gunung Lembu yang terjal menguji daya juang, kesabaran, serta kesungguhan peserta. Dalam kondisi lelah dan terbatas, mereka belajar mengatur langkah, menjaga ritme, serta saling menunggu dan menguatkan. Proses ini menanamkan sikap pantang menyerah dan totalitas dalam berusaha, sekaligus menumbuhkan empati ketika kepentingan kelompok ditempatkan di atas kenyamanan pribadi.Nilai cinta dan belas kasih tampak ketika para peserta saling memperhatikan kondisi fisik dan emosional satu sama lain. Ketika ada yang kelelahan, takut, atau kurang percaya diri, teman-teman satu tim hadir memberi dukungan, menyemangati, dan meneguhkan. Sikap saling peduli ini membangun kepekaan sosial dan rasa kemanusiaan yang menjadi dasar dari semangat melayani.Integritas juga dilatih melalui kepatuhan pada aturan keselamatan, kejujuran dalam mengakui kemampuan diri, serta konsistensi dalam menjalankan setiap instruksi. Para peserta belajar bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan mereka, serta menyadari bahwa keselamatan dan keberhasilan bersama bergantung pada sikap disiplin dan komitmen setiap individu.Pengalaman solo night menjadi momen reflektif yang sangat bermakna. Dalam keheningan malam dan keterpisahan sementara dari kelompok, peserta diajak untuk berdiam, berefleksi, dan berjumpa dengan diri sendiri. Refleksi ini membantu mereka mengenali kekuatan dan keterbatasan pribadi, mensyukuri kehadiran sesama, serta memaknai setiap tantangan sebagai bagian dari proses pertumbuhan. Kegiatan refleksi dalam solo night tidak hanya bersifat personal, tetapi juga edukatif. Melalui permenungan, peserta belajar menarik makna dari pengalaman dan menghubungkannya dengan nilai-nilai yang diyakini, serta merumuskan sikap hidup yang hendak dibangun ke depan setelah kegiatan OBI selesai. Pada akhir rangkaian kegiatan OBI, ditutup dengan sesi graduation yang dihadiri oleh para orang tua peserta didik. Dalam suasana penuh haru, tawa dan kebanggaan, para siswa menampilkan refleksi pengalaman kelompok, kisah-kisah unik selama mengikuti OBI, serta pembelajaran nilai yang mereka peroleh. Melalui kegiatan drama dan ungkapan lisan, peserta didik tidak hanya berbagi cerita, tetapi juga menunjukkan proses pendewasaan diri yang telah mereka lalui bersama.Salah satu momen yang paling menyentuh adalah ketika peserta didik menyerahkan surat kasih kepada orang tua sebagai ungkapan terima kasih, penghargaan, dan cinta. Surat-surat tersebut menjadi simbol relasi yang diperdalam melalui refleksi, sekaligus wujud konkret nilai cinta dan belas kasih yang dihidupi dalam semangat Serviam. Setelah itu, para peserta juga memandu orang tua untuk mengenal area-area kegiatan OBI, menjelaskan fungsi setiap lokasi, serta mengisahkan pengalaman yang mereka alami di tempat-tempat tersebut sebagai bentuk pembelajaran yang bermakna.Dalam sesi santap siang, nilai pelayanan dihadirkan secara nyata ketika peserta didik dengan penuh kerendahan hati melayani orang tua yang akan mengambil makanan. Tindakan sederhana ini menjadi simbol pembalikan peran yang sarat makna, bahwa melayani adalah sikap dasar yang lahir dari rasa syukur dan hormat. Kegiatan graduation kemudian ditutup dengan pembagian sertifikat sebagai bentuk apresiasi atas proses, ketekunan, dan pertumbuhan karakter yang telah dijalani oleh seluruh peserta.Seluruh rangkaian kegiatan di alam terbuka ini menghidupkan nilai-nilai Serviam secara konkret dari keberanian dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan, integritas dalam bersikap, semangat persatuan dalam kerja tim, kesungguhan dalam berproses, cinta dan belas kasih dalam kepedulian, serta semangat pelayanan dalam kesiapsediaan hadir bagi sesama.Sebagaimana warisan nasihat dari Santa Angela "Hiduplah dalam keserasian, bersatu, sehati sekehendak, terikat satu sama lain dengan cinta kasih, saling menghargai, saling membantu, saling bersabar dalam Yesus Kristus. Bila Anda benar berusaha menghayati hidup seperti ini, tak ragu lagi Allah Tuhan kita tinggal di tengah-tengah Anda" (Nasihat Terakhir Santa Angela : 1-3). Spirit ini menemukan relevansinya dalam pengalaman OBI di Jatiluhur, ketika para peserta belajar membangun persaudaraan, saling menopang dalam keterbatasan, dan bertumbuh bersama dalam ikatan kasih.Kegiatan OBI adalah ruang sosialisasi nilai yang efektif, tempat bagi peserta didik menginternalisasi nilai Serviam melalui interaksi intensif, kerja kolektif, serta refleksi personal yang mendalam. Pengalaman hidup bersama dalam menghadapi tantangan di alam, dan merenungkan maknanya membentuk habitus baru yang menumbuhkan solidaritas, tanggung jawab sosial, dan orientasi pada pelayanan, sehingga nilai-nilai Serviam tidak berhenti sebagai wacana normatif, melainkan bertransformasi menjadi sikap hidup yang nyata dalam keseharian.
Selengkapnya
Pribadi yang Teguh, Setia, dan Beretika: Pelantikan Badan Pengurus OSIS 2026
Posted: 2026-01-14 | By: Yohanes Sutraguna (XII-B/22)
Pada tanggal 7 Januari 2026, Badan Formatur SMA Santa Ursula BSD telah menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban atas seluruh rangkaian kerjanya kepada pihak sekolah dan seluruh murid SMA Santa Ursula BSD. Peristiwa ini secara resmi menjadi penanda berakhirnya tugas Badan Formatur (BF) sebagai mandataris Kepala Sekolah untuk menghasilkan Badan Pengurus (BP) OSIS yang baru. Dengan demikian, terbentuklah kabinet BP OSIS 2026 yang dipimpin oleh Joya Olivia dengan visi, “OSIS SMA Santa Ursula BSD yang Inklusif, Dinamis, dan Berintegritas.”Penyeleksian BP OSIS dalam SMA Santa Ursula BSD merupakan proses yang sangat panjang dan ketat. Anggota BP OSIS selalu diharapkan memiliki kualitas kepribadian, sikap, dan kemampuan di atas rata-rata. Hal ini didasari oleh komitmen sekolah untuk menjadikan OSIS SMA Santa Ursula BSD sebagai alat untuk mewadahi aspirasi dan talenta murid-muridnya dengan pelbagai program kerja OSIS selama masa jabatanya. Setelah berakhirnya satu masa jabatan BP OSIS, kewenangan untuk mengadakan proses seleksi BP OSIS selanjutnya diberikan secara penuh kepada Badan Formatur oleh Kepala Sekolah SMA Santa Ursula BSD.Badan Formatur adalah sebuah delegasi mandataris dengan wewenang penuh dalam melaksanakan Pemilihan OSIS (PEMILOS) untuk memilih Ketua OSIS yang akan menghasilkan BP OSIS periode selanjutnya. Badan Formatur berada dibawah naungan dan terikat dengan Majelis Pendidikan Katolik - Keuskupan Agung Jakarta (MPK-KAJ). Badan Formatur bersifat independen dan transparan, serta bertanggung jawab langsung kepada Kepala Sekolah. Badan Formatur beranggotakan murid kelas XII yang dipilih langsung oleh Kepala Sekolah. Pada tahun 2025, Badan Formatur dibimbing oleh Ibu Fransisca Erijani Rosari dan Ibu Lusia Harsini sebagai Pembina dan Koordinator, serta guru-guru konsultan Badan Formatur. Adapun, Badan Formatur 2026 dipimpin oleh Renata Bianca Indra Kinara (XII-G/12) dan Katarina Faustina Karen Po (XII-B/15) sebagai Ketua dan Wakil Ketua BF.Rangkaian kerja Badan Formatur dimulai pada 2 Desember 2025 dengan sosialisasi umum kepada seluruh peserta didik SMA Santa Ursula BSD. Dengan sosialisasi tersebut, Badan Formatur mengemukakan tema PEMILOS 2025 adalah Pribadi yang TEGUH, SETIA, dan BERETIKA. Sosialisasi dilanjutkan dengan penjelasan proses penjaringan dan penyaringan, serta syarat untuk menjadi calon BP OSIS yang baru. Setelah sosialisasi, murid kelas X dan XI dipersilahkan untuk menjalankan tahap penjaringan, dimana setiap kelas di angkatan kelas X dan XI dapat mencalonkan anggota kelasnya sesuai dengan kuota yang telah ditetapkan oleh Badan Formatur. Sedangkan, peserta didik kelas XII dapat mencalonkan 1 murid kelas X dan 2 murid kelas XI untuk masuk dalam tahap penyaringan yang akan diselenggarakan esok harinya. Dalam penyaringan tahap pertama, murid yang dinyatakan lolos dalam tahap penjaringan mengumpulkan Curriculum Vitae (CV) kepada Badan Formatur. Setelah pengumpulan, Badan Formatur menilai dan menyeleksi setiap murid yang dapat menjadi Bakal Calon Ketua OSIS (BACAKETOS). Para BACAKETOS yang terpilih pun menjalani dua tahap Uji Kelayakan dan Kepatutan dalam dua hari. Adapun, ujian yang diberikan kepada para BACAKETOS meliput tes wawasan, tes dilema tertulis, tes sikap sosial, dan Focus Group Discussion (FGD). Setelah menyelesaikan rangkaian Uji Kelayakan dan Kepatutan, Badan Formatur mengumumkan Calon Ketua OSIS (CAKETOS) yang telah terseleksi melalui akun instagram @pubsma. Para CAKETOS terpilih pun mempersiapkan tim suksesnya masing-masing untuk acara Orasi dan Selebrasi (Kampanye Massa) dan Debat CAKETOS. Setelah melaksanakan Orasi dan Selebrasi pada tanggal 9 Desember 2025, rangkaian acara PEMILOS mencapai puncaknya pada acara Debat CAKETOS, di mana para CAKETOS terpilih saling beradu argumen dan gagasan di depan seluruh murid dan tenaga pendidik SMA Santa Ursula BSD pada Senin, 15 Desember 2025. Pada hari berikutnya, Badan Formatur menyelenggarakan PEMILOS dan mengumumkan Ketua OSIS terpilih pada sore hari pada akun instagram @pubsma, yakni Joya Olivia (XI-B/14). Setelah terpilih, Joya pun mulai menyusun kabinet BP OSIS 2026 dengan bantuan informasi dan data yang diberikan Badan Formatur berdasarkan hasil tes penyaringan yang telah dilakukan pada Calon BP OSIS. Setelah menyusun kabinetnya tugas Badan Formatur pun selesai, sehingga pada tanggal 7 Januari 2026, Badan Formatur menyampaikan Laporan Pertanggungjawabannya kepada pihak sekolah dan seluruh murid SMA Santa Ursula BSD. Setelah itu, Badan Formatur pun dinyatakan demisioner dan BP OSIS 2026 dilantik oleh Bapak Catur Agus Sancoko selaku Kepala Sekolah SMA Santa Ursula BSD.Pelantikan BP OSIS di SMA Santa Ursula BSD begitu ketat. Banyak variabel yang dipertimbangkan untuk dapat menghasilkan OSIS SMA yang bermutu, berkualitas, dan bermartabat sesuai dengan visi dan misi sekolah. Akan tetapi, seluruh proses seleksi dari Badan Formatur dilakukan dengan cepat dan tepat demi mencapai tujuan tersebut, sehingga menghasilkan BP OSIS yang kompeten dan mampu untuk menjadi mewadah bagi murid SMA Santa Ursula BSD untuk mengembangkan potensi dan talenta mereka. Tidak lupa, Badan Formatur banyak dibantu oleh tim kerja, seperti tim dokumentasi hingga divisi-divisi acara. Terbentuknya BP OSIS yang baru merupakan hasil kerja keras kolektif yang dilakukan sejak awal proses seleksi. Semoga dengan terbentuknya BP OSIS 2026 dapat menjadi sarana yang bermutu bagi komunitas SMA Santa Ursula BSD.
Selengkapnya
Ibadat Natal SMA Santa Ursula BSD: Momen Refleksi, Berbagi, dan Menjadi Terang bagi Sesama
Posted: 2026-01-08 | By: Clara Araceli Irmaretha Rani (Guru BK SMA Santa Ursula BSD) dan Agustin Angelia Putri (Psikolog SMA Santa Ursula BSD)
SMA Santa Ursula BSD mengadakan Ibadat Natal pada Selasa, 6 Januari 2026, yang diikuti oleh seluruh murid kelas X, XI, dan XII, serta Bapak/Ibu guru. Ibadat Natal berlangsung di Aula SMP–SMA Santa Ursula BSD dalam suasana yang khidmat dan penuh makna. Ibadat ini terasa istimewa karena seluruh petugas ibadat dipercayakan kepada para guru, sehingga menjadi momen refleksi iman bersama seluruh warga sekolah.Perayaan Natal dimaknai lebih dari sekadar peringatan kelahiran Yesus Kristus. Melalui ibadat ini, seluruh warga SMA Santa Ursula BSD diajak untuk merenungkan kembali kasih Allah yang hadir secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Allah yang hadir dalam kesederhanaan mengajarkan nilai empati, kepedulian, serta keberanian untuk memberi sebagai wujud iman dan kepercayaan kepada-Nya.Renungan Natal tahun ini menekankan pentingnya kepedulian dan semangat berbagi. Natal dipahami sebagai hadiah dari Tuhan yang selayaknya diteruskan kepada sesama yang membutuhkan. Semangat tersebut telah diwujudkan oleh para murid melalui aksi Natal, yakni berbagi dengan masyarakat yang terdampak musibah di daerah Sibolga dan Aceh, sebagai bentuk nyata kasih dan solidaritas.Rangkaian perayaan Natal juga dimeriahkan dengan pengumuman juara lomba menghias pohon Natal antar kelas. Lomba ini menjadi wadah kreativitas sekaligus sarana pembelajaran karakter bagi para murid. Juara II diraih oleh kelas XI-E, sedangkan Juara I diraih oleh kelas X-E dengan hiasan pohon Natal yang dinilai paling kreatif dan bermakna. Melalui proses menghias pohon Natal, para murid belajar nilai kebersamaan, kerja sama, tanggung jawab, kreativitas, serta saling menghargai perbedaan ide.Melalui Ibadat dan Perayaan Natal ini, diharapkan para murid semakin bertumbuh dalam iman dan kasih. Natal menjadi momen refleksi untuk menumbuhkan semangat melayani, kepedulian terhadap sesama, serta komitmen untuk menjadi pembawa terang dan damai bagi lingkungan sekitar. Nilai-nilai yang direnungkan bersama diharapkan terus hidup dalam keseharian para murid SMA Santa Ursula BSD.
Selengkapnya