Memperingati 28 Tahun Pasca Reformasi: Talk Show Siswa Kaderisasi Kelas XI “Tiga Daya Jiwa Sebagai Pondasi Generasi Muda dalam Melestarikan Perjuangan Reformasi”
Posted: 2026-06-12 | By: Verena Francine Ariadne/X-B/36
Reformasi tahun 1998 merupakan puncak perjuangan bangsa kita melawan keterbatasan ruang demokrasi, krisis ekonomi, praktik KKN, dan pemerintahan yang sangat represif pada masa Orde Baru.  Masa ini sangat terikat dengan perjuangan masyarakat Indonesia melawan ketidakadilan yang kemudian identik dengan aksi turun ke jalan para mahasiswa demi memperjuangkan hak-hak bangsa yang direnggut oleh kelompok-kelompok tidak bertanggung jawab. Seiring perkembangan teknologi, bentuk demonstrasi kini telah bertransformasi, di mana generasi muda tidak hanya beraksi secara fisik tetapi juga memanfaatkan media sosial untuk menyuarakan aspirasi melalui berbagai bentuk. Kendati akses digital semakin mudah, esensi utama yang harus dirawat oleh generasi masa kini adalah menjaga semangat reformasi yang berakar dari kesadaran kritis terhadap persoalan bangsa, bukan sekadar ikut-ikutan (FOMO). Pada hari Sabtu, 6 Juni 2026 siswa-siswi anggota Kaderisasi kelas XI dan beberapa Guru SMA Santa Ursula BSD memperingati 28 tahun pasca Reformasi Indonesia pada tanggal 21 Mei 1998 dengan menyelenggarakan Dialog Bersama Aktivis Reformasi Tahun 1998 mengenai Perjuangan Demonstrasi Mahasiswa di Masa Reformasi. Acara yang dibungkus dengan model dialog-workshop ini dilaksanakan di Aula SMP-SMA Santa Ursula BSD dari pukul 9.30 hingga 11.00 WIB. Dalam Talk show membahas mengenai pengalaman di balik puncak momen fundamental dalam sejarah politik dan ketatanegaraan Indonesia ini dikemas dengan tujuan membuka wawasan, meningkatkan kepekaan sosial, serta menggerakkan generasi muda untuk berani menyuarakan aspirasi dengan kritis dan logis di tengah-tengah hiruk pikuk media sosial beserta kemajuan teknologi. Talk show ini berpusat pada pengalaman Agnes Gurning (Kak Agnes), seorang staf dalam lembaga internasional yang dulunya merupakan mahasiswa jurusan sosiologi di Universitas Indonesia, Depok pada tahun 1998. Dengan mengangkat tema “Tiga Daya Jiwa Sebagai Pondasi Generasi Muda dalam Melestarikan Perjuangan Reformasi”, siswa-siswi anggota Kaderisasi juga mengundang MN Nurhasanah Munaf (Kak Moi), Ketua Kelompok Kopdit Pintu Air yang pernah bekerja sebagai buruh pabrik yang berperan sebagai koordinator demonstrasi buruh besar-besaran pada tahun 1998. Dengan melibatkan pihak yang turun langsung ke medan demonstrasi, diharapkan para siswa-siswi kaderisasi dapat menumbuhkan esensi perjuangan dan keberanian bersuara seiring berkembangnya peradaban Indonesia, menciptakan generasi muda yang dinamis dengan satu tujuan; menjunjung keadilan dan kesejahteraan bangsa.Pada sesi pertama, para narasumber diminta memaparkan sumber pemersatu/motivasi yang membuat mereka berani untuk maju sebagai demonstran. Kak Agnes menyampaikan bahwa latar belakang keluarga dan lingkungan sosialnya membuatnya menyadari tingginya kesenjangan ekonomi dan kultural, sehingga memantik kesadaran dan daya kritisnya terhadap fenomena sosial di sekitarnya. Ketika memasuki jenjang perguruan tinggi, Kak Agnes mempelajari tentang konstruksi sosial yang nyata dan tidak semerta-merta “turun dari langit”, di titik itu Ia menyadari bahwa diskusi mengenai pemerintahan Orde Baru yang membelenggu masyarakat di masa itu harus disertai dengan kontribusi nyata yang mampu membawa perubahan. Tekad Kak Agnes tidak berhenti di situ, melalui pengalaman live-in nya sebagai buruh, pengalamannya dengan korban-korban pelecehan, beserta pendekatannya dengan lingkup sosial IKOI (kumpulan orang tua yang anaknya mengalami penculikan) menjadi sarana pembelajaran nyata diluar teori-teori pembelajaran kampus semata.Narasumber lainnya adalah Kak Moi yang pada tahun 1998 sedang menduduki posisi sebagai supervisor di perusahaan Mayora. Selama pemerintahan represif Orde Baru pada tahun 1994-1996, aksi protes sudah tidak menjadi hal yang asing bagi para buruh. Buruh adalah pemegang ekonomi negara, sementara gaji buruh terus dipotong di tengah krisis moneter yang tidak ditangani dengan bijak oleh pemerintah. Menanggapi masalah struktural tersebut, Kak Moi mengikuti diskusi di bawah tanah dan ikut melakukan demonstrasi. Beliau bergabung dengan Komite Buruh Untuk Aksi Reformasi (KOBAR) yang pada akhirnya berhasil memobilisasi puluhan ribu aktivis. Protes yang dilakukan Kak Moi menuntut upah seratus persen bagi buruh, cuti hamil yang tetap digaji, dan cuti haid lebih dari dua hari. Fenomena-fenomena sosial tersebut mulai menciptakan masalah struktural yang mengikis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah serta merampas kesejahteraan sosial. Guna mencegah kembalinya era Orde Baru di tengah berbagai tekanan dan pelemahan terhadap gerakan aktivis saat ini, generasi muda perlu membawa perubahan nyata. Perjuangan sebaiknya tidak hanya dilakukan di media sosial, melainkan harus ditelusuri kembali dari akar rumput melalui diskusi-diskusi di lingkungan sekolah seperti yang sudah dilakukan oleh SMA Santa Ursula BSD. Berbagai faktor dan latar belakang dari peristiwa reformasi mulai dibahas lebih dalam pada sesi ke-2. Meskipun demonstrasi besar-besaran pada tahun 1998 berhasil mencapai tujuan awalnya, proses transisi dari pemerintahan menuju era reformasi belum cukup matang. Sisa kekuasaan dan struktur dari masa Orde Baru masih tetap ada sehingga kembalinya kebijakan Orde Baru tidak semerta-merta langsung terjadi, tetapi dicicil hingga masa kini. Tindakan represif yang awalnya hanya melibatkan fisik, kini menduduki ruang digital sebagai pewarisan sikap dari rezim Orde Baru. Media sosial terus diasah penggunaannya agar dapat menjadi alat penyampaian aspirasi yang mendukung, bukan sebagai ranah kekerasan digital yang mendegradasi bangsa. Sekarang, satu-satunya harapan berlabuh di para generasi muda Indonesia untuk tidak patah semangat dalam menyuarakan suara mereka; “Kritis dan janganlah pesimis!” merupakan prinsip yang masih dipegang teguh hingga kini oleh Kak Agnes dan Kak Moi.“Kita mau bawa bangsa ini ke arah mana?” ujar Kak Moi. Pertanyaan reflektif ini dapat menjadi motivasi utama bagi generasi muda untuk membawa perubahan. Teknologi adalah suatu alat yang dampaknya berada di tangan kita. Memang kita tidak bisa menghindari kenyataan yang ada, namun apa yang bisa kita lakukan sebagai pelajar di masa kini untuk mengatasinya? Pertanyaan ini membawa diskusi ke titik akhir bahwa tonggak penggerak bangsa dan negara bukanlah hukum, melainkan gerakan moral kolektif dari berbagai lapisan masyarakat termasuk pelajar. Penghujung acara ini kemudian diakhiri oleh kata penutup dari Ibu Eri. Menurut beliau, sebagai generasi muda terutama anggota kaderisasi, keberanian menjadi hal yang penting sehingga membentuk kesempatan untuk peduli dalam membuka pilihan dan batin. Sebagai generasi muda, siswa-siswi harus selalu bersiap dan bertanggung jawab atas setiap pilihan yang diambil. “Pikirkan dengan baik setiap keputusan dan jangan mempertaruhkan integritasmu.” tutupnya.Ketika diminta untuk memberikan pesan kepada generasi muda, Kak Moi mengatakan “Teruslah berjuang bersama semua elemen masyarakat agar tatanan negara terus terjaga, berjuanglah untuk anak muda. Mundur adalah pengkhianatan.” tutupnya dengan tegas. Di sisi lain, Kak Agnes juga berpesan; “Mulailah perubahan dari hal kecil yaitu diri sendiri contohnya dengan tidak menjadi pembully, memperhatikan bila ada teman yang mengalami ketidakadilan, memanfaatkan platform media sosial untuk menyuarakan pikiran kritis tentang isu-isu sosial,  dan mau berinteraksi dengan siapa saja agar bisa saling memahami terlepas dari adanya perbedaan.”Diharapkan setelah mengikuti acara ini, siswa-siswi SMA Santa Ursula BSD terlebih anggota Kaderisasi dapat menggunakan tiga daya jiwa yang dianugerahkan kepada mereka dengan bijak melalui menggunakan akal budi untuk berpikir kritis bukan pesimis, hati nurani untuk meningkatkan kepekaan sosial dan belas kasih, serta kehendak bebas untuk berintegritas dalam melestarikan perjuangan reformasi sebagai akar kemajuan bangsa. Dokumentasi: Tim Dokumentasi
Selengkapnya
PELITA UANG (Pekan Literasi Keuangan) di SMA Santa Ursula BSD
Posted: 2026-06-12 | By: Veronika Minarsih, Guru Ekonomi SMA Santa Ursula BSD
Di era digital saat ini, perkembangan teknologi keuangan berkembang begitu pesat. Pemahaman tentang cara mengelola keuangan dan berinvestasi bukan lagi sekadar materi hafalan di kelas ekonomi, melainkan sebuah keterampilan untuk bertahan hidup yang wajib dikuasai oleh semua orang. Melalui pemahaman yang benar tentang investasi, peran bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB), murid diharapkan mampu mengambil keputusan keuangan yang bertanggung jawab, menghindari praktik keuangan ilegal, dan mulai merancang masa depan keuangan yang stabil. Kegiatan PELITA UANG (Pekan Literasi Keuangan) di SMA Santa Ursula BSD dilaksanakan selama dua hari; yaitu Senin, 25 Mei 2026 dan Selasa, 26 Mei 2026 dirancang untuk mencapai tujuan tersebut. Kegiatan tersebut dikemas dalam konsep seminar dan lokakarya dengan menghadirkan para pakar, mulai dari kalangan akademisi, praktisi perbankan, hingga pihak otoritas keuangan negara.Rangkaian kegiatan PELITA UANG dimulai pada Senin, 25 Mei 2026 di auditorium Kampus Santa Ursula BSD diikuti oleh 178 murid kelas XI SMA Santa Ursula BSD dengan tema Smart Decision, Strong Psychology. Kegiatan ini fokus pada pengelolaan keuangan, dasar investasi, serta aspek psikologis dalam mengambil keputusan finansial. SMA Santa Ursula bekerja sama dengan Fakultas Bisnis Program Studi Manajemen Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dalam menghadirkan pembicara dari Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).Sambutan yang disampaikan oleh bapak Catur Agus Sancoko, S.Pd., M.M selaku kepala SMA Santa Ursula BSD dan ibu Febri Nila Chrisanty, SE., M.M selaku perwakilan dari Fakultas Bisnis Program Studi Manajemen Universitas Multimedia Nusantara (UMN) menjadi pembuka kegiatan seminar dan lokakarya Smart Decision, Strong Psychology. Sesi pertama dengan materi Money Management disampaikan oleh Felicia Suminto selaku pembicara dari Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Beliau menyampaikan cara menyusun anggaran, membedakan kebutuhan dengan keinginan, serta cara mencegah perilaku konsumtif. Suasana auditorium Kampus Santa Ursula BSD semakin hangat dengan persembahan penampilan murid kelas X dari kelompok band, tari tradisional, dan tari modern. Bapak Fadly Fatah dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi pembicara pada sesi kedua. Beliau menekankan pentingnya mengendalikan emosi dan kekuatan mental (psikologi investasi) dalam menghadapi fluktuasi pasar. Murid-murid dibekali pemahaman bahwa berinvestasi bukan sekedar tren ikut-ikutan atau cara instan melipatgandakan kekayaan. Setelah selesai pemaparan materi dari kedua pembicara, kegiatan seminar dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang interaktif. Kegiatan ditutup dengan lokakarya Financial Planning di kelas masing-masing bersama tim mahasiswa dari Fakultas Bisnis Program Studi Manajemen Universitas Multimedia Nusantara (UMN) untuk mempraktikkan langsung ilmu yang telah murid dapatkan.Semangat literasi keuangan berlanjut pada Selasa, 26 Mei 2026, dimana kegiatan PELITA UANG di SMA Santa Ursula BSD diikuti oleh 182 murid kelas X di aula SMP-SMA Santa Ursula BSD dengan tema Meningkatkan Pondasi Masa Depan Diatas Ekosistem Keuangan yang Sehat. Kepala SMA Santa Ursula BSD, bapak Catur Agus Sancoko S.Pd., M.M memberikan motivasi kepada murid kelas X pentingnya dan bagaimana berproses dalam kegiatan tersebut. Drama pendek dari tim teater murid kelas XI mengenai perilaku konsumtif menjadi pembuka kegiatan PELITA UANG hari kedua. Para murid semakin antusias dan merasa bangga ketika tiga terbaik video literasi keuangan yang berjudul Dana Darurat karya murid kelas XE, The Heist karya murid kelas XC dan Cuan Quest Simulator karya murid kelas XB mendapatkan apresiasi dengan memutarkan ketiga video tersebut dan pemberian hadiah serta piagam penghargaan kepada para pemenang oleh kepala SMA Santa Ursula BSD.Berbeda dengan hari pertama, hari kedua dikemas dalam bentuk talkshow interaktif yang menghadirkan pembicara dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) wilayah Banten yaitu bapak Fikri Fauzan. Sebagai pembicara utama, beliau menyampaikan materi peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam melindungi konsumen serta memberikan edukasi nyata mengenai bahaya yang mengintai remaja, seperti pinjaman online (pinjol) ilegal dan judi online. Tak kalah menarik, praktisi perbankan dari Bank Banten, yaitu bapak Eman Yuniantoro juga hadir memperkenalkan produk tabungan pelajar serta layanan perbankan modern. Seluruh rangkaian acara ditutup dengan sesi refleksi dan penegasan komitmen murid untuk mulai mandiri secara finansial bersama guru pendamping di kelas.Melalui kegiatan PELITA UANG (Pekan Literasi Keuangan), SMA Santa Ursula BSD ingin menanamkan pola pikir bahwa cerdas finansial berarti mampu mengambil keputusan keuangan yang rasional dan bertanggung jawab. Harapannya, ilmu yang didapat menjadi pedoman bagi seluruh murid dalam menghadapi tantangan ekonomi di masa kini dan yang akan datang.Salam cerdas finansial! Dokumentasi Oleh : Samuel Theodore Adi Prabowo X-A/32, Caroline Sekar Arum Diandra Yuwono XI-B/6, Jeany Eustolia Sitanggang XI-D/9
Selengkapnya
FROM PROBLEM TO PROFIT: Workshop Kewirausahaan Kelas XI Santa Ursula BSD
Posted: 2026-06-12 | By: Kirana S. Shvetsova, XI-E/13
Teknologi kini berkembang begitu pesat dan mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia kerja. Saat AI semakin umum digunakan dan dianggap sebagai alternatif yang lebih murah dibandingkan tenaga manusia, penting bagi generasi muda untuk mengembangkan keterampilannya dan mampu menciptakan lapangan kerja baru tanpa hanya mengandalkan perusahaan besar untuk menyediakan pekerjaan.Dengan itu, pada tanggal 5 Juni 2026 seluruh siswa kelas XI SMA Santa Ursula BSD diberikan kesempatan untuk belajar dasar-dasar kewirausahaan melalui sebuah workshop yang diselenggarakan oleh SMA Santa Ursula BSD. Dua narasumber berpengalaman diundang untuk berbagi ilmu tentang keterampilan dasar berbisnis, menambahkan pemahaman siswa mengenai dunia kewirausahaan, serta sekaligus mengubah pola pikir siswa dari sekadar “mencari kerja” menjadi “menciptakan lapangan kerja”.Workshop ini terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama berfokus pada identifikasi dan pemecahan masalah, sementara sesi kedua mengajarkan cara menyusun business model canvas agar bisnis dapat berjalan dengan teratur dan terorganisir. Pada sesi pertama, siswa belajar tentang proses menciptakan bisnis dari sebuah masalah. Seperti yang dikatakan oleh Drucker (1986), “kewirausahaan adalah seni mengubah ide menjadi bisnis”. Untuk mendapatkan ide, kami terlebih dahulu harus menemukan suatu masalah yang ingin diselesaikan melalui bisnis kami. Maka dari itu, kami diajarkan cara mengidentifikasi masalah, memvalidasikannya dan memastikan bahwa masalah tersebut memang nyata, hingga menemukan solusi bagi masalah tersebut yang akhirnya dapat menjadi sumber pendapatan. Dengan itu, tidak hanya pemilik bisnis yang dapat meraih keuntungan, tetapi juga memberikan solusi atas masalah yang dihadapi konsumen sehari-hari untuk memudahkan hidup mereka. Pada sesi kedua, kami membahas bagaimana peluang kreatif dapat diubah menjadi strategi bisnis yang matang. Prosesnya dimulai dari sebuah ide, yang kemudian berkembang menjadi model bisnis. Model business merupakan suatu rencana detail yang akan menjadi dasar pembangunan usaha kami. Tanpa model bisnis, kemungkinan besar bisnisnya akan kehilangan arah dan menjauh dari tujuan awal kami. Maka dari itu, sangat penting untuk menetapkan rencana, detail, dan tujuan bisnis dari awal untuk bisa membangunnya dengan efisien. Selain itu, siswa juga diajarkan cara menyusun proposal bisnis untuk menarik investor guna mengembangkan usaha mereka.Setelah workshop berakhir, para siswa kembali ke kelas masing-masing dan membentuk kelompok-kelompok kecil. Untuk mendapatkan pengalaman praktis. Para siswa diberikan template Business Model Canvas untuk mengembangkan ide bisnis. Para siswa didorong untuk berkolaborasi, berpikir kreatif, dan menghasilkan ide-ide inovatif, tetapi tetap realistis dan merupakan solusi untuk masalah yang nyata. Melalui proyek ini, siswa dapat mengeksplorasi berbagai pilihan dan ide bisnis, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahannya, serta merencanakan langkah-langkah untuk mewujudkannya. Proses ini memungkinkan kami melihat dari sudut pandang seorang pengusaha dan memahami hal-hal apa saja yang perlu dipertimbangkan sebelum memulai usaha.Sebelum mengikuti workshop ini, siswa sudah dikenalkan dasar-dasar kewirausahaan serta pentingnya bagi masa depan melalui pembelajaran ekonomi. Ibu saya sendiri merupakan pengusaha bisnis kecil yang menjual kebaya secara daring, dan saya sering membantunya. Dulu, saya selalu bertanya-tanya mengapa ibu saya memilih berbisnis kebaya. Bagi saya, kebaya tampak kurang diminati oleh konsumen, karena banyak orang lebih suka mengenakan pakaian modern atau trending. Namun, setelah mengikuti workshop ini, saya menyadari bahwa ibu saya sebenarnya ingin memecahkan sebuah masalah dan melihat peluang di dalamnya. Banyak orang menganggap bahwa memakai kebaya itu merepotkan dan hanya cocok untuk acara-acara khusus. Di sisi lain, ibu saya percaya bahwa kebaya justru indah dan sama menariknya dengan pakaian lainnya dan harusnya bisa dikenakan sehari-hari tanpa kesulitan. Melalui bisnisnya, ibu saya berupaya mempromosikan kebaya sebagai pakaian yang modern dan nyaman dipakai. Fakta pun menunjukkan bahwa banyak orang kini tertarik untuk mengenakan kebaya lebih sering.Masalah lain yang dipertimbangkan ibu saya adalah sulitnya para pengrajin bordir di desa-desa kecil untuk memasarkan hasil karyanya ke konsumen di tempat lain. Ibu saya melihat peluang dan menjadikan bisnisnya sebagai jembatan atau jaringan antara para produsen di Tasikmalaya dengan konsumen di seluruh Indonesia dan bahkan hingga ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Sebelumnya, kebaya ini hanya tersedia melalui saluran distribusi terbatas, tetapi kini siapapun dapat membelinya dengan mudah melalui sentuhan layar dari mana saja di dunia.Saya sangat bersyukur telah mengikuti workshop yang menarik dan bermanfaat ini, terutama karena ilmu yang didapat akan sangat penting untuk masa depan saya. Bahkan sekarang, saya sudah dapat menerapkan sebagian ilmu tersebut untuk membantu ibu saya mengembangkan bisnisnya. Suatu hari nanti, saya berharap tidak hanya dapat meneruskan bisnis ibu saya dan mengembangkannya lebih jauh, tetapi juga mampu menciptakan bisnis sendiri berdasarkan ide-ide pribadi dan berkontribusi dalam memecahkan masalah melalui usaha saya.
Selengkapnya
Menjaga Kenangan, Menjaga Bumi
Posted: 2026-06-08 | By: Kristiana Dwi Setiani dan Fransiska Fenti Damayanti Editor : Suryo Kumoro dan Lorensius Eka
Refleksi Seminar “Beyond The Bin”: Belajar Mencintai Lingkungan Hidup dan Refleksi Menonton Film Teman Tegar Maira ; Whisper from PapuaKepedulian terhadap lingkungan tidak lahir dari tindakan besar semata, melainkan dari membangun kebiasaan-kebiasaan kecil yang bisa dilakukan secara konsisten setiap hari. Mulai dari memilah sampah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menghargai makanan, hingga menjaga alam sebagai ruang hidup anak cucu nantinya. Sebagaimana persahabatan Maira dan Tegar yang tumbuh bersama dengan alam Papua, kita pun diajak untuk membangun relasi yang penuh kasih dengan sesama dan lingkungan alam di sekitar kita. Semangat Laudato Si’ mengingatkan bahwa bumi adalah rumah bersama yang dipercayakan kepada manusia untuk dirawat, bukan dieksploitasi. Oleh karena itu, marilah kita menjadi generasi yang tidak hanya sebagai penonton ketika melihat kerusakan terjadi, tetapi juga berani mengambil bagian dalam menjaga dan memulihkan lingkungan. Sebab, setiap tindakan yang kita lakukan hari ini adalah manifestasi bagi masa depan, agar kenangan, harapan, dan kehidupan dapat terus tumbuh dan diwariskan kepada generasi yang akan datang karena bumi yang kita tinggali hanya satu, dan masa depan generasi berikutnya dimulai dari pilihan-pilihan kita hari ini.  Langkah Kecil untuk BumiRefleksi Seminar “Beyond The Bin”: Belajar Mencintai Lingkungan Hidup  Pada tanggal 28 Mei 2026, murid kelas X dan XI SMA Santa Ursula BSD mengikuti seminar dan workshop bertajuk “Beyond The Bin”. Kegiatan yang diselenggarakan oleh OSIS SMA Santa Ursula BSD di Aula SMP / SMA Santa Ursula BSD ini merupakan wujud kepedulian terhadap permasalahan sampah sekaligus bagian dari rangkaian peringatan Hari Bumi yang diperingati setiap 22 April dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni. Seminar dan workshop ini diadakan sebagai respons atas meningkatnya persoalan sampah serta pengelolaannya yang masih menjadi tantangan di berbagai tempat. Narasumber yang hadir dalam kegiatan ini adalah Ibu Destri dan Ibu Xaxa dari komunitas Pepulih (Pemerhati dan Peduli Lingkungan Hidup), sebuah komunitas lingkungan lintas agama berbasis keimanan yang berdiri sejak 22 April 2004 di bawah naungan Keuskupan Agung Jakarta. Terinspirasi oleh ajaran Santo Fransiskus Asisi, Pepulih aktif dalam kegiatan edukasi, advokasi, dan pemberdayaan masyarakat untuk menjaga kelestarian alam. Fokus gerakannya meliputi perubahan pola pikir masyarakat terhadap lingkungan, pengelolaan sampah, konservasi sumber daya alam, serta penguatan ketahanan ekologi. Nama “Pepulih” sendiri mengandung makna upaya memulihkan kembali alam yang selama ini mengalami kerusakan akibat berbagai aktivitas manusia. Dalam seminar ini, peserta diajak memahami bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus dimulai dari tindakan sederhana di sekitar kita. Jika dahulu dikenal konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), kini konsep tersebut telah berkembang menjadi 11R yang dibagi ke dalam tiga tahapan:Sebelum (Rethink, Refuse), masyarakat diajak untuk berpikir kritis dan memilih barang secara bijak sebelum membeli atau menggunakannya. Selama (Reduce, Reuse, Repair, Refurbish, Remanufacture), fokusnya adalah memperpanjang masa pakai barang agar tidak cepat menjadi limbah. Setelah (Repurpose, Recycle, Recover, Return), barang yang telah menjadi sampah dikelola dengan tepat agar tidak mencemari lingkungan dan masih dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. Beraksi untuk Menjaga LingkunganMenjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai tindakan tersebut dapat diterapkan melalui konsep 11R yang terbagi ke dalam tiga tahapan, yaitu sebelum, selama, dan setelah penggunaan barang. Tahap “sebelum” (pintu depan) dilakukan dengan membiasakan diri berpikir bijak dahulu sebelum membeli atau menggunakan suatu barang. Contohnya dengan menolak penggunaan plastik sekali pakai, membawa tumbler sendiri, menggunakan tas belanja kain, serta membeli barang sesuai kebutuhan. Langkah-langkah sederhana ini penting karena dapat mengurangi jumlah sampah sejak awal, terutama sampah plastik yang banyak ditemukan di lingkungan maupun tempat pembuangan akhir. Membawa tumbler, misalnya, tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari, tetapi juga mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai.Tahap “selama” (pintu tengah) dan “setelah” (pintu belakang) berfokus pada pemanfaatan barang secara optimal serta pengelolaan sampah yang tepat. Pada tahap selama, barang masih digunakan sehingga perlu dirawat dan dimanfaatkan sebaik mungkin agar tidak cepat menjadi limbah. Contohnya adalah menggunakan barang secara hemat, memperbaiki barang yang rusak, serta mematikan listrik ketika tidak digunakan. Sementara itu, pada tahap setelah, ketika barang telah menjadi sampah, langkah yang dapat dilakukan antara lain memilah sampah organik dan anorganik, membuat kompos dari sisa makanan, serta mendaur ulang barang yang masih memiliki nilai guna.Bu Destri dan Bu Xaxa menjelaskan dengan sederhana bahwa tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membawa perubahan besar bagi lingkungan. Peserta diajak memahami bahwa pemilahan sampah organik dan anorganik bukan sekadar kebiasaan baik, melainkan langkah keselamatan yang dapat dimulai dari rumah. Sampah organik yang membusuk menghasilkan gas metana yang mudah terbakar dan berpotensi memicu ledakan apabila bercampur dengan limbah lain dalam jumlah besar, seperti yang pernah terjadi pada tragedi TPA Leuwigajah tahun 2005. Peristiwa tersebut mengingatkan bahwa persoalan sampah yang tampak sepele dapat berkembang menjadi ancaman besar ketika diabaikan. Dengan memilah sampah sejak dari sumbernya, kita tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga membantu mencegah risiko yang lebih besar. Hal lain yang ditekankan dalam seminar ini adalah pentingnya menghargai makanan dengan tidak menyisakannya. Menghabiskan makanan bukan hanya soal menghilangkan rasa lapar, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap alam dan banyak pihak yang terlibat dalam proses penyediaannya. Di balik setiap butir nasi, sayuran, dan buah yang tersaji di meja makan, terdapat perjalanan panjang yang melibatkan tanah yang subur, air yang mengalir, sinar matahari yang memberi energi bagi tumbuhan, mikroorganisme yang menjaga kesuburan tanah, serta kerja keras para petani yang menanam, merawat, dan memanennya. Kesadaran akan proses tersebut mengajak kita untuk memandang makanan bukan sekadar barang yang dapat dibeli dan dikonsumsi, melainkan anugerah yang lahir dari hubungan yang saling terjalin antara manusia dan alam. Ketika makanan disia-siakan, yang terbuang bukan hanya bahan pangan, tetapi juga waktu, tenaga, dan berbagai sumber daya yang telah menopang kehadirannya. Sebaliknya, ketika kita menghargai dan menghabiskan makanan secukupnya, kita sedang belajar bersyukur atas karunia yang diterima sekaligus menyadari bahwa kehidupan manusia bergantung pada alam yang sehat dan lestari. Dari kebiasaan sederhana inilah tumbuh pemahaman bahwa menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dari tindakan besar, tetapi juga dari sikap menghargai apa yang telah disediakan bumi bagi kehidupan. Dari seminar ini, kita dapat belajar bahwa perubahan besar seringkali berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Pemahaman tersebut penting karena masalah lingkungan tidak hanya disebabkan oleh keputusan-keputusan besar, tetapi juga oleh kebiasaan sehari-hari yang dilakukan oleh banyak orang secara terus-menerus. Kita diajak untuk menyadari bahwa menjaga lingkungan bukanlah tugas yang menunggu masa depan, melainkan tanggung jawab yang dapat dimulai hari ini melalui tindakan sederhana, seperti mengurangi sampah, menghargai makanan, dan menggunakan sumber daya secara bijaksanaGerakan Lingkungan di Sekolah Di lingkungan sekolah, semangat kepedulian terhadap lingkungan diwujudkan melalui Tim Ekologi, yaitu komunitas murid yang memiliki minat dan kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan hidup. Berbagai kegiatan telah dilakukan, seperti pengomposan, pemilahan sampah, khusus pengumpulan tutup botol dan tutup galon dengan bekerja sama dengan OSIS SMA Santa Ursula BSD, budidaya hidroponik, serta perawatan lubang biopori. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa prinsip pengelolaan lingkungan pada tahap sebelum, selama, dan setelah penggunaan barang sesungguhnya telah diterapkan dalam kehidupan di sekolah sehari-hari oleh anak-anak dan guru. Namun, upaya ini akan memberikan dampak yang lebih besar apabila didorong terus menjadi habitus untuk seluruh komunitas sekolah. Dengan keterlibatan bersama, gerakan peduli lingkungan tidak hanya menjadi sebuah program, tetapi juga menjadi budaya yang tumbuh dan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Sering kali kita merasa bahwa persoalan lingkungan terlalu besar untuk diubah oleh satu orang. Namun, seminar ini mengingatkan bahwa setiap perubahan selalu berawal dari sebuah pilihan sederhana. Ketika satu orang mulai peduli, lalu menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama, langkah kecil itu perlahan berubah menjadi gerakan yang membawa harapan. Pada akhirnya, bumi yang lebih baik bukanlah warisan yang kita terima, melainkan warisan yang kita ciptakan bersama melalui tindakan yang kita pilih setiap hari.  Menjaga Kenangan, Menjaga AlamRefleksi Setelah Menonton Teman Tegar Maira : Whisper from Papua ‘Nobar’ atau nonton bareng adalah kegiatan menonton suatu tayangan secara bersama-sama, kegiatan ini dapat membangun kebersamaan, serta dapat menjadi sarana edukasi untuk memahami realitas kehidupan nyata dan sarana untuk berdiskusi. SMA Santa Ursula BSD sudah beberapa kali mengadakan kegiatan nobar, beberapa film diantaranya adalah Say I Love You (2019), Budi Pekerti (2023), dan kini pada hari Kamis tanggal 4 di bulan Juni 2026 film Teman Tegar Maira : Whisper from Papua yang dipilih. Film Teman Tegar Maira tidak hanya sebatas film semata, tetapi membantu memperluas wawasan murid. Melalui sarana film tersebut, harapannya mampu menumbuhkan kepedulian dan sikap reflektif terhadap berbagai isu di sekitar mereka, khususnya lingkungan hidup. Melalui kisah persahabatan Maira dan Tegar di tengah ancaman kerusakan hutan Papua, murid diajak menyadari bahwa alam bukan sekadar tempat tinggal, melainkan warisan berharga yang perlu dijaga dan dilestarikan bersama. Film ini juga menggambarkan makna persahabatan sebagai ikatan kepercayaan yang melahirkan kasih, kepedulian, dan semangat untuk saling memahami. Nilai tersebut tercermin dalam hubungan Maira dan Tegar yang berasal dari latar belakang berbeda. Maira tumbuh di tengah kekayaan alam dan budaya Papua, sedangkan Tegar berasal dari lingkungan perkotaan yang akrab dengan berbagai persoalan akibat kerusakan lingkungan. Perbedaan itu tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk saling mengenal, belajar, dan memperkaya wawasan satu sama lain. Maira memperkenalkan Tegar pada keindahan alam serta kearifan budaya Papua, sementara Tegar berbagi pengalaman tentang kehidupan kota dan tantangan yang dihadapinya. Melalui rasa ingin tahu, sikap saling menghargai, dan kepercayaan yang terus bertumbuh, keduanya menjalin persahabatan yang erat. Kisah mereka mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk berpisah, melainkan kesempatan untuk saling memahami, saling melengkapi, dan bersama-sama memperjuangkan hal yang mereka cintai, yaitu menjaga alam sebagai rumah bersama dan warisan bagi masa depan. Dalam film ini, alam Papua menjadi saksi tumbuhnya persahabatan Maira dan Tegar. Relasi mereka berkembang seiring dengan kehidupan alam di sekitarnya, diiringi kicauan berbagai burung yang menghuni hutan Papua, kilauan sungai yang mengalir jernih bak permata, serta rimbunnya vegetasi yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat. Mereka juga turut merasakan suka dan duka para tetua yang dengan penuh keteguhan berjuang menghadirkan pendidikan yang lebih baik bagi anak dan cucunya di tengah polemik perebutan hak atas hutan.Nenek dan orang tua Maira gemar bernyanyi, dan melalui nyanyian itulah mereka menyampaikan pesan, doa, serta ungkapan cinta kepada alam agar tetap lestari dan mampu menopang kehidupan generasi yang akan datang. Alunan suara mereka terdengar merdu, terkadang kuat, namun sesekali lirih, seakan memuat kegelisahan atas masa depan alam sekaligus harapan agar anak cucu kelak masih dapat menikmati keindahan dan kekayaan Papua. Nyanyian tersebut menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai leluhur dengan generasi penerus, sekaligus menjadi bentuk pewarisan kearifan lokal yang mengajarkan penghormatan terhadap alam. Bagi masyarakat Papua, hutan bukan sekadar hamparan pepohonan, melainkan ibu yang memberi kehidupan dan karena itu patut dihormati serta dijaga keberadaannya. Film ini juga mengajarkan bahwa memahami kebijaksanaan para leluhur memerlukan kesabaran, layaknya menyarikan pati sagu yang membutuhkan aliran air dan proses yang panjang. Dari sana tumbuh pemahaman bahwa hal-hal yang paling berharga sering kali lahir bukan dari jalan yang cepat, melainkan dari ketekunan dalam merawat hubungan dengan alam dan sesama. Melalui kisah film tersebut juga, penonton diajak melihat bahwa alam Papua bukan sekadar latar cerita, melainkan ruang hidup yang membentuk identitas, budaya, dan cara pandang masyarakat terhadap lingkungan. Sosok orang tua dan para tetua dalam keluarga Maira menjadi simbol pengetahuan leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi, sekaligus lambang harapan agar nilai-nilai luhur, kecintaan terhadap alam, dan kearifan budaya tetap hidup dalam diri generasi penerus. Di balik setiap perjalanan yang mereka lalui, Maira dan Tegar menunjukkan bahwa kerja sama dapat menghasilkan sesuatu yang lebih baik daripada usaha yang dilakukan sendiri. Perbedaan latar belakang, pengalaman, dan pengetahuan tidak menjadi penghalang, melainkan menjadi kekuatan yang membantu mereka saling melengkapi dalam memahami keindahan sekaligus pentingnya menjaga alam Papua. Kegigihan mereka dalam menelusuri hutan, menjelajahi berbagai sudut alam, serta berjuang untuk menyaksikan burung-burung endemik khas Australis mengajarkan bahwa keberhasilan sering kali lahir dari ketekunan, semangat pantang menyerah, dan kemauan untuk berjalan bersama demi tujuan yang baik. Perjuangan tersebut akhirnya terbayar ketika mereka dapat menyaksikan secara langsung keanggunan burung cendrawasih atau yang dikenal pula sebagai siangga, sang burung surga kebanggaan Papua. Dengan bulu yang memukau dan gerakannya yang anggun, kehadiran cendrawasih bersama berbagai satwa endemik Papua menjadi pengingat akan kekayaan hayati Indonesia yang perlu dijaga dan dilestarikan secara berkelanjutan. Film ini mengingatkan bahwa bumi adalah rumah bersama, sehingga menjaga kelestariannya bukan hanya tanggung jawab segelintir orang, melainkan tugas bersama demi masa depan yang lebih baik.Melalui pendengaran, penglihatan, dan berbagai pengalaman yang mereka alami, Maira dan Tegar menyerap banyak hal yang menjadi bagian dari proses tumbuh dan berkembang. Pengalaman-pengalaman tersebut tidak hanya membentuk kenangan, tetapi juga mempengaruhi cara mereka memahami diri sendiri, sesama, dan lingkungan di sekitarnya. Dari sanalah muncul sebuah pertanyaan reflektif bagi kita semua: bagaimana jika ruang hidup yang menyimpan begitu banyak pengalaman, pembelajaran, dan makna itu perlahan berubah atau bahkan hilang akibat kerusakan lingkungan? Melalui proses refleksi setelah nobar film Teman Tegar Maira, kita kembali diingatkan untuk sejalan dengan semangat Laudato Si’, ensiklik Paus Fransiskus yang mengajak manusia untuk merawat bumi sebagai rumah bersama (our common home). Dalam Laudato Si’, ditegaskan bahwa hubungan manusia dengan alam tidak dapat dipisahkan dari hubungan manusia dengan sesama. Kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan hilangnya pohon, sungai, atau satwa, tetapi juga hilangnya ruang hidup, budaya, kenangan, dan masa depan generasi berikutnya. Persahabatan Maira dan Tegar yang tumbuh bersama alam Papua menggambarkan adanya ekologi integral (integral ecology). Pengertian ekologi integral yang dikutip dari artikel pada Laudato Si’ Movement. Integral Ecology: A Holistic Approach to Global Challenges menyatakan bahwa bumi merupakan “rumah bersama” (our common home) yang perlu dirawat melalui kesadaran bahwa segala sesuatu saling terhubung. Kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya berarti melindungi alam, tetapi juga menjaga relasi antar manusia, budaya, serta kehidupan generasi mendatang melalui semangat ekologi integral (integral ecology). Melalui kegiatan nobar ini, murid diajak menyadari bahwa mencintai sesama, menghargai kehidupan, dan merawat lingkungan merupakan panggilan yang saling berkaitan. Dengan alur yang sederhana namun menyentuh, Teman Tegar Maira menunjukkan bahwa menjaga alam tidak hanya berarti melestarikan pohon, sungai, atau satwa, tetapi juga melindungi ruang hidup, budaya, dan masa depan masyarakat yang bergantung padanya. Dengan demikian, menjaga lingkungan berarti merawat rumah bersama serta mewariskan harapan bagi generasi yang akan datang. Mari mulai dari langkah kecil, sederhana, dan dilakukan terus-menerus.Kurangi sampah dengan Pilah, Pilih, dan Pulihkan.Bumi adalah rumah bersama bagi semua makhluk hidup ciptaan Tuhan. Sumber Referensi : Aksa Bumi Langit. https://www.youtube.com/watch?v=VKmGjvtjMDY&utm_source=chatgpt.com Fransiskus. (2015). Laudato Si’: On Care for Our Common Home. Vatican Press. Vatican – Laudato Si’United States Conference of Catholic Bishops. Laudato Si’: On Care for Our Common Home. USCCB – Laudato Si’Laricha, S. L., & Juliana, H. K. (2023). Ergonomi Partisipatif dalam Pembuatan Buku Digital Perempuan dan Pembangunan Berkelanjutan . Jurnal Serina Abdimas, 1(1). Diakses melalui Garuda Kemdiktisaintek https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/5727635.Laudato Si’ Movement. Integral Ecology: A Holistic Approach to Global Challenges. Laudato Si’ Movement Integral EcologyTempo.co. (2026, Januari xx). Jaga hutan, pesan film Teman Tegar Maira: Whisper from Papua. Tempo. https://www.tempo.co/teroka/jaga-hutan-pesan-film-teman-tegar-maira-whisper-from-papua-2106107
Selengkapnya
Menumbuhkan Kesadaran Ekologis dan Kepedulian Sosial melalui Film Teman Tegar Maira
Posted: 2026-06-08 | By: Deandra Masayu Yudiantoko / XI-C / 08
Pada hari Kamis, 4 Juni 2026, sekolah Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan nonton bersama di Teras Kota BSD, Tangerang Selatan untuk menyaksikan film Teman Tegar Maira yang disutradarai oleh Anggi Frisca. Film ini dibintangi oleh M. Aldifi Tegar Rajasa, Joan Warum dan Elisabeth Sisauta. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh siswa SMP dan SMA sebagai bagian dari pembelajaran yang bertujuan memberikan pengalaman edukatif di luar lingkungan kelas. Kegiatan ini diselenggarakan untuk memperluas wawasan siswa-siswi mengenai kehidupan masyarakat Papua, khususnya terkait budaya, kondisi sosial, serta isu-isu yang dihadapi masyarakat adat. Melalui film ini, siswa-siswi diajak untuk memahami realitas kehidupan yang mungkin berbeda dari kehidupan sehari-hari mereka. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya toleransi, sikap saling menghargai, serta penghormatan terhadap keberagaman budaya Indonesia. Penyelenggaraan kegiatan didukung sepenuhnya oleh sekolah dengan menyewa beberapa studio bioskop di Teras Kota BSD, Tangerang Selatan. Setiap kelas telah dibagi ke dalam studio yang berbeda, sehingga seluruh siswa-siswi dan guru dapat menonton dengan nyaman. Setelah tiba di lokasi, siswa-siswi langsung menuju studio sesuai pembagian yang telah ditentukan. Selama pemutaran film berlangsung, siswa-siswi dan guru mengikuti kegiatan dengan tertib dan penuh perhatian. Teman Tegar Maira menghadirkan kisah yang menyentuh sekaligus menggugah pemikiran. Salah satu aspek yang paling menonjol dalam filmtersebut adalah penggambaran budaya Papua yang kaya dan unik. Berbagai adegan memperkenalkan kehidupan masyarakat adat yang masih menjaga tradisi serta nilai-nilai leluhur mereka. Selain itu, keindahan alam Papua yang memukau, mulai dari bentang alam dan hamparan hutan hijau, hingga lingkungan yang masih sangat erat dengan kehidupan masyarakat setempat. Melalui alur cerita yang disajikan, penonton diajak untuk memahami bahwa kebijakan atau program yang diklaim bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tidak selalu memberikan dampak yang sesuai dengan harapan. Dalam film ini, masyarakat adat Papua digambarkan sebagai kelompok yang memiliki posisi subordinat, khususnya dalam proses pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka. Ketimpangan kekuasaan tersebut membuka peluang berbagai bentuk manipulasi oleh pihak yang memiliki wewenang lebih besar. Salah satu contohnya ditunjukkan melalui tindakan perusahaan PT Bebas Portal yang memanfaatkan keterbatasan literasi masyarakat setempat demi memperoleh persetujuan atas pengelolaan hutan. Dampaknya, hutan yang selama ini dilindungi oleh masyarakat mengalami kerusakan dan kehilangan fungsinya bagi warga sekitar.Di luar unsur drama dan konflik yang membangun cerita, film ini berhasil membuka wawasan penonton terhadap realitas yang terjadi di Papua saat ini. Penonton diperlihatkan bagaimana masyarakat adat menghadapi tantangan dalam mempertahankan tanah, lingkungan, serta hak-hak mereka. Salah satu isu yang disoroti adalah deforestasi dalam skala besar di wilayah Papua. Dalam beberapa kasus nyata, kegiatan tersebut dilakukan tanpa persetujuan atau keterlibatan penuh dari masyarakat adat setempat. Akibatnya, lingkungan yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat menghadapi ancaman yang serius. Pesan yang disampaikan dalam film ini, sejalan pula dengan semangat Laudato Si’  yang ditulis oleh Paus Fransiskus. Di mana, umat manusia diajak untuk merawat bumi sebagai rumah bersama dan mengembangkan pertobatan ekologis, yakni perubahan cara pandang dan tindakan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Kerusakan alam yang ditayangkan dalam film menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak hanya berdampak pada alam, tetapi juga pada kehidupan sosial, budaya, dan martabat manusia yang bergantung pada alam tersebut. Melalui film Teman Tegar Maira, siswa-siswi  SMA Santa Ursula BSD diajak untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga individu yang mampu berpikir kritis terhadap berbagai informasi dan kebijakan yang berkembang di masyarakat. Film ini mendorong penonton untuk menumbuhkan rasa empati terhadap kelompok yang mengalami ketidakadilan serta membangun kesadaran bahwa berbagai permasalahan sosial di Indonesia merupakan tanggung jawab bersama untuk dipahami dan diperhatikan. Dengan demikian, Teman Tegar Maira tidak hanya menjadi sebuah tontonan hiburan, tetapi juga hadir sebagai media pembelajaran yang mengajak generasi muda untuk lebih peduli terhadap isu kemanusiaan, lingkungan, dan keadilan sosial.
Selengkapnya
Satya Pancasila: Menanamkan Nilai Kebangsaan melalui Kreativitas, Kolaborasi, dan Kebersamaan
Posted: 2026-06-08 | By: Joya Olivia / XI-B / 14
Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila, komunitas SMA Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan Satya Pancasila pada 3 Juni 2026. Kegiatan Satya Pancasila dirancang oleh Badan Pengurus OSIS 2026 dan diikuti oleh siswa-siswi SMA Santa Ursula BSD kelas X dan XI dengan tujuan untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila melalui berbagai aktivitas yang edukatif, kreatif, dan kolaboratif. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah bagi siswa-siswi untuk mengembangkan wawasan dalam bidang akademik serta keterampilan dalam bidang seni dan raga.Mendorong semangat persatuan dan gotong royong, kegiatan Satya Pancasila menghadirkan berbagai permainan dan perlombaan yang dirancang untuk memperdalam pengetahuan siswa tentang nilai-nilai Pancasila. Dalam permainan-permainan tersebut, siswa-siswi SMA Santa Ursula BSD kelas X dan XI dibagi menjadi 12 kelompok secara merata. Dengan begitu, selain menambah wawasan dan mengembangkan keterampilan, kegiatan ini menjadi sarana untuk membangun kebersamaan antarkelas dan antarangkatan, sehingga dapat mempererat hubungan siswa-siswi SMA Santa Ursula BSD.Rangkaian kegiatan diawali dengan lomba cerdas cermat yang menguji wawasan siswa-siswi dalam bidang pengetahuan umum, budaya Indonesia, sejarah bangsa, wawasan kebangsaan, serta Pancasila. Melalui suasana kompetitif yang sehat, siswa diajak untuk memperluas wawasan dengan cara yang menyenangkan dan interaktif. Setelah lomba cerdas cermat tersebut, rangkaian permainan berikutnya dibagi dalam 3 bidang, yakni bidang akademik, seni, dan raga.Bidang akademik menghadirkan tiga permainan yang mendorong kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kerja sama kelompok. Permainan pertama adalah Titian Nusantara yang menantang setiap kelompok untuk membangun jembatan menggunakan stik es krim yang kemudian diuji untuk mengetahui konstruksi mana yang mampu menahan beban paling besar. Kegiatan ini melatih kemampuan perencanaan, pemecahan masalah, serta kolaborasi dalam mencapai tujuan bersama.Selain itu, siswa juga mengikuti permainan Gema Aspirasi, sebuah debat bertema “Relevansi Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari Generasi Muda” yang melatih kemampuan berpikir kritis, kepercayaan diri, serta menyampaikan pendapat. Sementara itu, permainan terakhir yakni Kepingan Perjuangan yang mengajak siswa memahami kembali proses perumusan Pancasila melalui teka-teki gambar dan penyusunan linimasa sejarah. Melalui berbagai aktivitas tersebut, siswa tidak hanya memperluas wawasan kebangsaan, tetapi juga mengembangkan keterampilan komunikasi dan kerja sama.Pada bidang seni, siswa menunjukkan bakat dan kreativitas mereka melalui permainan Resonansi Baswara, yakni lomba menyanyi dengan membawakan lagu nasional serta lagu daerah Indonesia. Penampilan yang beragam mencerminkan kekayaan budaya Nusantara sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan budaya bangsa. Melalui musik, siswa diajak untuk menghayati semangat persatuan dalam keberagaman yang menjadi salah satu nilai penting Pancasila.Terakhir, bidang raga menghadirkan berbagai permainan fisik yang menekankan kekompakan dan kerja sama kelompok. Salah satunya adalah voli sarung, permainan yang memadukan olahraga voli dengan penggunaan sarung sebagai alat utama sehingga setiap anggota kelompok harus berkoordinasi untuk menangkap, mengarahkan, dan memantulkan bola melewati net. Permainan ini menuntut komunikasi dan kerja sama yang baik agar kelompok dapat bermain secara efektif.Selain itu, siswa juga mengikuti Bakiak Kelereng, modifikasi permainan tradisional bakiak yang menambah tantangan dengan membawa kelereng di atas sendok menggunakan mulut oleh siswa yang berada di posisi paling depan serta paling belakang. Aktivitas ini melatih konsentrasi, keseimbangan, dan kekompakan sebab keberhasilan hanya dapat dicapai ketika seluruh anggota kelompok bergerak secara selaras.Selain perlombaan, dihadirkan pula Senandika Pancasila, sebuah banner interaktif yang memuat pandangan dan refleksi siswa berkaitan dengan Pancasila. Siswa mengisi banner yang disediakan selama bidang seni berlangsung, sebagai sarana ekspresi gagasan serta ruang belajar untuk mengetahui berbagai sudut pandang dari siswa-siswi lainnya.Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, diumumkan pemenang dari setiap kategori perlombaan sebagai bentuk apresiasi atas usaha, kreativitas, dan semangat yang telah ditunjukkan selama kegiatan berlangsung. Meskipun terdapat kompetisi, nilai utama yang ingin dibangun melalui Satya Pancasila bukanlah kemenangan, melainkan proses belajar, kebersamaan antar siswa, serta menghayati nilai-nilai Pancasila melalui pengalaman yang diperoleh sepanjang kegiatan.Melalui Satya Pancasila, siswa SMA Santa Ursula BSD tidak hanya mempelajari nilai-nilai Pancasila secara teoritis, tetapi juga menghayatinya melalui pengalaman langsung. Semangat gotong royong, persatuan, demokrasi, serta penghargaan terhadap keberagaman yang tercermin dalam kegiatan diharapkan dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, peringatan Hari Lahir Pancasila tidak hanya menjadi sebuah perayaan, tetapi juga momentum untuk menumbuhkan karakter generasi muda yang berintegritas, peduli, dan berjiwa kebangsaan.Dokumentasi: Tim Dokumentasi
Selengkapnya
Beyond Memorizing Lines: My First Acting Experience
Posted: 2026-05-18 | By: Abraham Jeges Ragnala Pardosi (XI C/1)
An ordinary classroom project eventually turned into an unforgettable journey of creativity, teamwork, and self-expression. During our English Literature drama project, each group was challenged to create a stage performance inspired by a movie of their choice.  My group decided to adapt Tinggal Meninggal, a film directed by Kristo Immanuel and transformed it into our own theatrical performance. Through this project, I not only learned more about literature and storytelling, but also experienced what it truly feels like to become a character on stage.Our group chose Tinggal Meninggal because we believed the film had a very unique concept compared to most movies.  One of the most interesting aspects of the film is how the main character directly speaks to the audience, creating a personal and interactive storytelling style. We found this approach creative and engaging, which inspired us to develop our own adaptation while still preserving the originality and emotional depth of the story.In our performance, I was given the role of Gema, the main character. Playing as Gema became a completely new experience for me because this was my first time acting seriously in front of the audience.  Gema is portrayed as someone who struggles with social interaction.  He often feels anxious and panics easily when talking to other people.  He also tends to mumble or talk to himself.  In the drama, Gema frequently shares his thoughts and feelings directly with the audience, which made the role even more challenging because I had to maintain both emotional expression and audience connection at the same time.The preparation process required a lot of effort and teamwork.  Before starting the rehearsals, our group held several script reading sessions to better understand the storyline, the emotions of each character, and the flow of the performance.  During these sessions, I tried to study Gema’s personality deeply so I could portray his awkwardness and anxiety very naturally.After the script reading sessions, we continued with blocking rehearsals. This was where we practiced movements, stage positioning, and scene transitions. Since Gema’s personality is socially awkward and nervous, I needed to pay close attention to my body language and facial expressions.  I practiced avoiding eye contact, reacting nervously during conversations, and creating small gestures that reflected Gema’s anxious personality.  Besides memorizing the script, I also spent time practicing tone of voice and emotional delivery, so the character would feel convincing on stage.Throughout the preparation process, our group also faced several difficulties, such as adjusting rehearsal schedules, improving scene timing, and making sure every performance detail matched the story we wanted to deliver. Despite these challenges, every group member continued supporting one another and worked together seriously to improve the drama.One of the most unexpected challenges happened during the final performance itself. There were several moments when I suddenly forgot parts of my script while being on stage. However, instead of panicking completely, I tried to stay calm and improvise naturally according to Gema’s personality.  Since Gema is portrayed as an anxious and awkward character who often hesitates and overthinks while speaking, I used those moments to remain in character by acting confused, pausing for a moment, and responding spontaneously.  Surprisingly, this made the performance feel even more natural because the nervousness I experienced matched Gema’s personality perfectly. Looking back on this experience, this drama project taught me many new things beyond simply performing on stage.  Through the role of Gema, I learned how acting is not only about memorizing lines, but also about expressing emotions and making the audience truly understand what a character is feeling.  More importantly, this project became one of the most memorable experiences for me because it was a long and meaningful journey shared with my group members.            We went through many phases together, from staying up late finishing the script, practicing scenes repeatedly, attending script reading sessions, creating props, and gathering at friends’ houses for rehearsals.  Even though the process was tiring at times, I genuinely enjoyed every moment of it.The laughter, deep talks, teamwork, and challenges we experienced together made this project feel incredibly special and unforgettable for me. Dokumentasi: Tim Dokumentasi
Selengkapnya
KETIKA NADA MENJADI DOA MELALUI HARMONI SEPTEM STELLARUM DI GEREJA SANTA PERAWAN MARIA BENTENG GADING
Posted: 2026-05-18 | By: Veronika Minarsih, Guru Ekonomi SMA Santa Ursula BSD
Tuhan sungguh baik, penuh belas kasihaku tak akan takut, sebab Dia sertakuKetika ku lemah dan berputus asa : “Datanglah padaku, maka beban berlalu”Aku s’lalu berharap, hanya kepada-MuKaulah satu-satunya penguat di hidupkuBiarkan ku bersandar pada kasih-Mudan berserah pada-Mu selamanya - Ki Young Kim Untaian lirik penuh makna di atas bukan sekadar bait lagu yang indah, melainkan sebuah doa dan penyerahan diri yang membumbung tinggi ke langit pagi ini. Alunan nada yang selaras tersebut dihasilkan dari kesatuan hati para murid yang mempersembahkan talenta terbaik mereka bagi kemuliaan Tuhan. Setiap ketukan, dinamika, dan perpaduan suara yang terdengar di dalam gereja bukanlah hasil instan, melainkan sebuah refleksi dari ketekunan, pengorbanan, dan iman yang bertumbuh bersama dalam sebuah komunitas pembelajar.Pada Minggu, 17 Mei 2026, dalam perayaan ekaristi pukul 09.00 WIB yang dipersembahkan oleh pastor RD Ignasius Wahyudi Paweling, paduan suara Septem Stellarum sukses melayani dalam tugas mulia sebagai petugas koor di Gereja Santa Perawan Maria Benteng Gading, Gading Serpong Paroki Alam Sutera. Paduan suara ini merupakan sebuah kolaborasi harmonis antara murid-murid SMP dan SMA Santa Ursula BSD. Melalui kolaborasi lintas jenjang ini, nilai-nilai humanis ditumbuhkan. Murid-murid tidak hanya dituntut memiliki kemampuan vokal, tetapi juga kepekaan hati untuk saling mendengarkan satu sama lain sehingga tercipta satu harmoni suara yang padu, dan dipersembahkan sepenuhnya untuk melayani Tuhan dan sesama. Semangat Serviam yang menjadi inti dari spiritualitas Ursulin, menjadi dasar utama dari seluruh rangkaian keterlibatan Septem Stellarum dalam tugas pelayanan gereja ini. Di tengah berbagai tugas dan dinamika pembelajaran sehari-hari, para murid dengan penuh sukacita meluangkan waktu dan mencurahkan tenaga untuk mempersiapkan tugas pelayanan secara batin dan teknis. Tugas pelayanan gereja ini menjadi sebuah momen reflektif yang mendalam bagi seluruh komunitas akademis bagaimana visi sekolah diwujudkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat. Bagi seluruh keluarga besar Santa Ursula BSD, keterlibatan aktif pelayanan dalam perayaan ekaristi di gereja menjadi bentuk nyata liturgi kehidupan yang mengakar pada visi sekolah yaitu membentuk manusia yang utuh, cerdas, dan melayani. Seperti untaian lirik lagu yang berjudul Tuhan Sungguh Baik Karya Ki Young Kim yang mereka bawakan dengan penuh penjiwaan, para murid diajak untuk bersandar sepenuhnya pada kasih Tuhan dan berserah kepada-Nya dalam setiap langkah hidupnya. Mengutip perkataan Santo Agustinus bahwa “Bernyanyi adalah Berdoa Dua Kali”, paduan suara Septem Stellarum tidak hanya bernyanyi dengan teknik suara yang indah, melainkan dengan jiwa yang rindu untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dan mengabdi dengan menjadi saluran berkat bagi sesama. Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan secara mendalam oleh pastor RD Ignasius Wahyudi Paweling, dalam homilinya. Beliau mengajak seluruh umat yang hadir untuk senantiasa berdoa memohon kehadiran Roh Kudus agar menjiwai setiap langkah kehidupan kita. Roh kudus itulah yang akan senantiasa memberikan motivasi, menghibur di kala lelah, dan menggerakkan diri kita semua agar mampu menjadi saksi kasih-Nya. Melalui lagu-lagu yang dibawakan oleh paduan suara Septem Stellarum, pesan homili tersebut tersebut terasa semakin hidup dan menyentuh hati setiap umat yang mendengarkannya.Pelayanan di Gereja Santa Perawan Maria Benteng Gading pagi ini berjalan dengan khidmat dan lancar. Nyanyian indah dari paduan suara Septem Stellarum dapat membawa umat ke dalam keheningan doa, sehingga mampu menghayati misa dengan lebih dalam. Kehadiran paduan suara Septem Stellarum membuat suasana liturgis menjadi lebih hidup, sekaligus membuktikan bahwa orang muda memiliki peran yang penting bagi kemajuan gereja.Atas terselenggaranya pelayanan yang penuh berkat ini, Sekolah Santa Ursula BSD menyampaikan terima kasih kepada RD Yohanes Hadi Suryono,  selaku pastor paroki yang telah menyambut dan memberikan kesempatan serta kepercayaan penuh kepada paduan suara SMP-SMA Santa Ursula BSD, Septem Stellarum. Apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada segenap pengurus dewan paroki, umat Gereja Santa Perawan Maria Benteng Gading, bapak dan ibu guru Santa Ursula BSD, serta seluruh orang tua murid yang senantiasa mendampingi, memberikan dukungan, dan doa bagi perkembangan iman dan bakat para murid. Semoga melalui pelayanan liturgis ini, nama Tuhan semakin dimuliakan dan semangat Serviam semakin berakar kuat, tumbuh subur, serta berbuah di dalam sanubari setiap murid di Santa Ursula BSD. Selamat atas tugas pelayanan yang luar biasa, Paduan Suara Septem Stellarum teruslah bernyanyi, memuji dan menjadi bintang-bintang terang yang mampu menuntun sesama menuju kasih Tuhan yang sejati.
Selengkapnya
Temu Purna Siswa Angkatan XXVIII: Perjumpaan dalam Rasa Syukur
Posted: 2026-05-13 | By: Yuliana Danik Suharti Guru Matematika SMA (Wali Kelas XII)
Dengan penuh rasa syukur, keluarga besar SMA Santa Ursula BSD bersama para lulusan dan orang tua berkumpul dalam acara Temu Purna Siswa Angkatan XXVIII. Perjumpaan ini menjadi penanda berakhirnya perjalanan pembelajaran para siswa di jenjang SMA sekaligus simbol penyerahan kembali para lulusan kepada orang tua untuk melanjutkan langkah mereka menuju masa depan.Suasana khidmat telah terasa sejak awal acara melalui prosesi perarakan pembuka yang menghadirkan “cucuk lampah” dengan karakter Gatotkaca. Kehadiran Gatotkaca bukan sekadar sebagai pembuka jalan, melainkan juga sebagai simbol pengantar perjalanan para lulusan menuju kehidupan yang lebih luas. Figur Gatotkaca melambangkan harapan agar para lulusan tumbuh menjadi pribadi yang kuat dalam nilai, rendah hati dalam pelayanan, serta berani membawa kebaikan di tengah masyarakat.Diiringi alunan musik tradisional Jawa, langkah Gatotkaca yang penuh wibawa menghadirkan filosofi tentang keberanian untuk terus melangkah, keteguhan dalam menghadapi tantangan, dan semangat pantang menyerah dalam memperjuangkan hal-hal baik. Nuansa budaya yang dihadirkan dalam prosesi ini memberikan makna mendalam bahwa setiap perjalanan hidup membutuhkan keberanian, kebijaksanaan, dan hati yang tulus.Prosesi semakin bermakna dengan kibaran bendera Merah Putih dan bendera Serviam yang dibawakan oleh para siswa kelas XI. Kedua bendera tersebut menjadi simbol bahwa para lulusan diharapkan mampu menumbuhkan rasa cinta kepada bangsa dan negara sekaligus menghidupi semangat Serviam dalam setiap langkah kehidupan mereka. Semangat melayani, peduli, dan berbela rasa diharapkan terus menjadi bagian dari identitas para lulusan SMA Santa Ursula BSD.Rasa syukur dalam Temu Purna Siswa semakin mendalam melalui sambutan yang disampaikan oleh Sr. Edith, OSU dan Bapak Catur Agus Sancoko. Dalam sambutannya, keduanya menyampaikan apresiasi atas perjuangan para lulusan selama menempuh pendidikan di SMA Santa Ursula BSD. Tidak hanya itu, mereka juga memberikan pesan perutusan agar para lulusan terus bertumbuh menjadi pribadi yang tangguh, berintegritas, rendah hati, dan mampu membawa dampak positif dimanapun mereka berada.Sebagai bentuk penghargaan atas usaha, kerja keras, dan daya juang para siswa, sekolah memberikan berbagai apresiasi di bidang akademik maupun non-akademik. Penghargaan tersebut menjadi ungkapan syukur atas ketekunan, semangat belajar, dan dedikasi yang telah ditunjukkan para lulusan selama menjalani proses pendidikan. Momen ini sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap pencapaian lahir dari proses panjang yang dijalani dengan kesungguhan, disiplin, dan semangat untuk terus berkembang.Kehangatan acara semakin terasa melalui sambutan dari perwakilan orang tua dan perwakilan lulusan. Dalam refleksi yang disampaikan, tergambar perjalanan panjang yang telah dilalui bersama, mulai dari tantangan, dukungan, hingga kebersamaan yang menjadi bagian penting dalam proses pertumbuhan setiap siswa. Dukungan keluarga, pendampingan para guru, serta persahabatan yang terjalin selama masa sekolah menjadi fondasi berharga yang akan terus dikenang oleh para lulusan.Tidak hanya itu, persembahan dari para lulusan turut menghadirkan suasana haru dan penuh makna. Melalui persembahan tersebut, para siswa menyampaikan ungkapan kasih, rasa terima kasih, dan kenangan kepada seluruh anggota komunitas sekolah yang telah mendampingi perjalanan mereka. Momen ini menjadi pengingat bahwa perjalanan pendidikan bukanlah perjalanan yang ditempuh sendiri, melainkan perjalanan bersama yang dipenuhi perhatian, dukungan, dan cinta dari banyak pihak.Puncak kegiatan Temu Purna ditandai dengan pemasangan Pin Serviam Angkatan XXVIII. Momen ini menjadi simbol selesainya perjalanan para siswa di SMA Santa Ursula BSD sekaligus penanda kesiapan mereka untuk melangkah menuju dunia yang lebih luas. Pin Serviam tidak hanya menjadi tanda kelulusan, tetapi juga lambang nilai-nilai yang akan terus dibawa dan dihidupi dalam kehidupan sehari-hari.Melalui Temu Purna Siswa Angkatan XXVIII, SMA Santa Ursula BSD kembali menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik semata. Pendidikan juga merupakan proses pembentukan karakter, penguatan hati untuk melayani, serta penumbuhan kepedulian terhadap sesama. Dengan semangat Serviam, para lulusan diharapkan mampu menjadi pribadi yang berintegritas, memiliki kepedulian sosial, dan terus membawa nilai-nilai kebaikan dalam setiap langkah kehidupan mereka.Dokumentasi: Nicole dan Keira XI-E
Selengkapnya
From Classroom to Stage: Turning Learning into Performance
Posted: 2026-05-05 | By: Alexandra Eleanora Katuuk (XI A / 4)
What started as a simple classroom assignment gradually turned into a full musical production.  As part of our 11th grade English literature project, group 2 of class XI A presented a drama adapted from the movie The Little Mermaid, combining acting, singing, and choreography into one performance.  This activity is aimed to help us understand better about storytelling while also building creativity, imagination, and confidence.Our performance was not just an ordinary drama, it was a musical adaptation from one of the famous Disney movies.  Beyond acting, we incorporated singing and choreography to bring the story to life in a more dynamic and engaging way. Transforming a well-known story into a live drama that pushed us to think creatively and step out of our comfort zones, especially for those who were not used to performing on stage.The performance took place in a classroom and it was attended by our fellow students. Each class was divided into two groups and we had the chance to watch each other’s performances.  This created a supportive yet exciting atmosphere, as we were not only performers but also an appreciative audience for our friends. The final performance for our group was held on 24 April 2026.Each group consisted of around 13–14 members, making up about half of the class.  Every member played an important role, from acting and singing, handling costume and make up, designing a poster, producing a trailer, creating music illustrations, to preparing props and organizing scenes.  In my group, I took on the role of being a director in which I helped guide and direct the team throughout the preparation and on the performance, bring ideas together, and ensure that the performance ran smoothly.The journey toward the final performance was far from easy.  We spent a significant amount of time on scriptwriting, carefully adapting the original story into a version suitable for a small drama.  At the same time, we worked on creating props, organizing costumes, and planning stage movements or blocking.  Some of the props were handmade using simple materials which made the process more creative and resourceful.  Some others were big and heavy duty props which took us a long time to finish.  Since our drama included musical elements, we also had to practice singing and choreography which required extra coordination and effort. Rehearsals became a crucial part of our preparation. We practiced repeatedly to refine our acting, synchronize our singing, and perfect our choreography.  In addition, we had to practice on how the lighting turned out, where to put the props, paying attention to important aspects of each scene, and the little details to make the drama alive.  There were moments of difficulty in managing time, aligning everyone’s schedules, and maintaining consistency.  However, these challenges ultimately strengthened our teamwork and commitment.After weeks of preparation, the day of the performance finally arrived.  Our musical drama ran for approximately 41 minutes.  Seeing everything come together on stage was incredibly rewarding.  The combination of handmade props, coordinated movements, and musical elements brought the story to life in a way that exceeded our expectations. “This musical was challenging but it helped us become more confident and work better as a team,” said one of the students who participated in the performance.Looking back, directing this musical drama was far more than just completing a school assignment.  It was an unforgettable journey which brought our creativity and teamwork to life. Through this experience, we not only deepened our understanding of English literature but also developed valuable skills such as leadership, collaboration, discipline, and perseverance. Experiences like this show that learning can go beyond the classroom, becoming both meaningful and inspiring.  It also showed us that with enough effort and cooperation, we are capable of creating something we can truly be proud of.
Selengkapnya
PENDIDIK ADAPTIF YANG KUAT DALAM NILAI DAN LENTUR DALAM CARA Buah permenungan pendidik untuk terus bertumbuh dengan semangat Serviam
Posted: 2026-05-05 | By: Veronika Minarsih, Guru Ekonomi SMA Santa Ursula BSD
Pagi itu, kaki ini melangkah dengan penuh semangat menuju kelas. Doa pagi dan nyanyian Indonesia Raya memberikan energi positif dan optimisme diri untuk terus bertumbuh. Berdiri di depan kelas dan mendengarkan salam dari murid, sejenak memberikan kesadaran bahwa segala sesuatu dalam ruang kelas ini terus berubah. Murid yang duduk di depan saya bukan lagi generasi yang sama dengan murid yang saya didik lima atau sepuluh tahun yang lalu. Mereka hadir ke sekolah dengan cara berpikir yang berbeda, dengan pertanyaan-pertanyaan kritis yang melampaui batas buku teks, dan dengan kebutuhan yang jauh lebih kompleks dari sekadar nilai akademis.Teringat kembali akan ajaran Ki Hajar Dewantara sebagai bapak Pendidikan Nasional, meskipun pemikiran tersebut lahir lebih dari satu abad yang lalu, tetapi ajarannya tetap hidup dan terasa sangat relevan di tengah cepatnya perubahan zaman. Beliau mengajarkan bagaimana menjadi pendidik yang mampu hadir sepenuhnya dan terus bertumbuh bersama murid. SMA Santa Ursula BSD memegang teguh visi manusia utuh, cerdas, dan melayani. Visi tersebut memanggil setiap pendidik lebih dari sekedar menyampaikan materi. Nilai Serviam menjadi roh yang menghidupi setiap langkah dalam mendidik murid. Melayani murid dengan sungguh-sungguh berarti bersedia untuk terus belajar, terus bertumbuh, dan menjadi pendidik yang adaptif. Nilai Serviam merupakan perwujudan nyata dari inti filosofi Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang berhamba pada murid, bahwa seorang pendidik harus memandang murid dengan rasa hormat dan memfasilitasi tumbuh kembang mereka menjadi manusia utuh, yang cerdas secara akal dan kaya secara jiwa. Tiga semboyan Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani menjadi peta perjalanan pendidik yang adaptif. Ing ngarso sung tulodo bermakna pendidik berada di depan mampu memberikan keteladanan. Langkah awal seorang pendidik yang adaptif harus berani menjadi contoh dalam hal keterbukaan terhadap perubahan. Ketika saya bersedia belajar platform digital baru, ketika saya berani mengakui kemampuan teknologi murid yang lebih baik dari saya, dan ketika saya berani menerapkan metode pembelajaran yang belum pernah digunakan, disitulah saya sedang memberikan keteladanan. Ing madyo mangun karso bermakna pendidik berada di tengah mampu membangun kehendak. Peran pendidik sebagai fasilitator semakin nyata, pendidik yang adaptif tidak berdiri di depan murid sebagai pemegang tunggal kebenaran, ia duduk bersama murid, mengajukan pertanyaan yang memantik, menciptakan ruang aman dimana murid berani mengeksplorasi ide-ide mereka. Tut wuri handayani bermakna pendidik dari belakang mampu memberikan dorongan. Pendidik yang adaptif tahu kapan harus melangkah maju, kapan berdiri sejajar, dan kapan mundur untuk memberi ruang. Ketiga semboyan tersebut mampu menjadi fondasi yang kuat dalam mengembangkan pribadi murid yang cerdas, utuh, dan memiliki semangat Serviam. Sistem among Ki Hajar Dewantara menjadi fondasi peran pendidik sebagai agen perubahan. Dalam sistem ini, murid dipandang sebagai subyek yang memiliki kodrat dan potensi unik yang perlu dirawat dan dikembangkan. Menjadi agen perubahan bukan berarti memaksakan perubahan atas murid, tetapi mampu menciptakan kondisi dimana murid sendiri mampu menemukan alasan dan dorongan untuk bertumbuh. Seorang pendidik juga perlu dirawat, bahwa pendidik tidak bisa terus memberi jika dirinya sendiri kosong. Refleksi menjadi salah satu cara penting untuk merawat diri pendidik. Dalam setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap semester, pendidik perlu berhenti sejenak dan bertanya, apakah saya masih tumbuh? Apakah cara mengajar saya masih relevan dengan kebutuhan murid? Pada bagian mana saya perlu belajar lebih atau perlu melepaskan cara lama yang tidak lagi efektif? Refleksi bukanlah kelemahan, tetapi menjadi sumber kekuatan pendidik.Kini kelas yang berubah bukan lagi ancaman, ini adalah undangan untuk terus belajar bersama murid, untuk terus tumbuh, dan untuk terus menjadi lebih baik dari versi pendidik yang lalu. Filosofi Ki Hajar Dewantara dan nilai serviam berpadu dalam perjalanan diri pendidik. Keduanya mampu membangun satu kesadaran bahwa mendidik adalah panggilan untuk hadir sepenuhnya sambil terus merawat dan mengembangkan diri. Pendidik yang adaptif bukan pendidik yang terbawa arus tanpa arah, ia adalah pendidik yang berakar kuat dalam nilai-nilai luhur, tetapi cukup lentur untuk menemukan cara-cara baru dalam mewujudkan nilai-nilai tersebut. Pendidik adalah agen perubahan, bukan karena mampu merubah murid, tetapi karena ia mampu menemami murid menemukan potensi terbaik dalam diri mereka. Serviam, aku melayani menjadi kompas setiap kali masuk ke dalam kelas untuk mewujudkan pendidikan yang memerdekakan selaras dengan cita-cita yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara. Dokumentasi: Brian dan Aldric XI-C
Selengkapnya
Kartini Perempuan yang Menulis
Posted: 2026-04-21 | By: Ignatius Bayu Sudibyo
Raden Ajeng Kartini dilahirkan di Jepara tanggal 21 April tahun 1879. Dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang berisi kumpulan surat R.A. Kartini diceritakan bahwa pandangan Kartini yang progresif mengalir dari Kakeknya, Bupati Demak Pangeran Tjondronegoro IV dan ayahnya, Bupati Jepara Raden Mas Adipati Aryo Sosroningrat. Kepada Nona E.H. Zeehandelaar, Kartini menceritakan bahwa Pangeran Ario Tjondronegoro IV sangat menyukai kemajuan dan merupakan Bupati Jawa Tengah pertama yang membuka peradaban barat untuk keluarganya melalui pendidikan Eropa (Kartini, 2011: 8). Kartini meninggal di usia muda, tepatnya pada tahun 1904 dan dimakamkan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pada tahun 1964 Presiden Sukarno menetapkan Kartini sebagai pahlawan nasional. Kartini adalah konseptor dalam sejarah Indonesia modern yang lahir di saat kolonialisme, feodalisme, dan patriarki mengakar kuat di Hindia Belanda. Kartini menyadari kondisi kaum perempuan sebagaimana dikatakan dalam suratnya kepada Nona E.H. Zeehandelaar. Perempuan Jawa pada usia 12 tahun dikurung di rumah dan terasing dari dunia luar karena tradisi pingitan. Ia tidak tuli dan tidak buta tentang belenggu adat tersebut. Dalam pandangan Kartini, perubahan itu baru akan terjadi 3-4 keturunan sesudah generasinya (Kartini, 2011: 7-9). Lewat buku Panggil Aku Kartini Saja, karya Pramoedya Ananta Toer dan Kartini. Sebuah Biografi, karya Sitisoemandari Soeroto terlihat jelas bahwa Kartini merepresentasikan kaum perempuan yang lebih dahulu ‘bangun’ untuk memperbaiki keadaan melalui pendidikan, sehingga ia disebut sebagai ibu nasionalisme (Soeroto, 1983: 438)Apakah hari Kartini hanya sebatas ritual kebaya dan sanggul semata? Tentu tidak! Justru pemikiran Kartini hendaknya direnungkan karena ia menyelami kehidupan secara kritis dari akar permasalahan bangsa. Salah satu suratnya kepada Nyonya Abendanon sebagaimana terdapat dalam buku Surat-Surat Kepada Ny. R.M. Abendanon Mandri dan Suaminya mengulas kritik Kartini terhadap praktik patriarki (poligami) yang telah hidup dalam masyarakat karena dilindungi ajaran Islam dan kebodohan perempuan (Sutrisno, 1989: 10-11). Dalam pandangan sejarawan Hilmar Farid lewat artikelnya di Tempo, Kartini dan Ruang Dalam Bangsa, Kartini adalah pemikir dan aktivis peletak dasar emansipasi wanita. Ia menyuarakan arti penting pendidikan bagi anak agar tidak lagi dianggap persoalan sekunder (Farid, 2013: 86-87).Pendukung Jalannya PeradabanMelalui surat-suratnya yang diterjemahkan Sulastin Sutrisno, Kartini bersuara tentang pendidikan sebagai kehormatan bagi manusia. Melalui proses yang luhur, seorang pendidik secara moral berkewajiban membina watak yang lebih penting daripada hanya mengejar ilmu (Sutrisno, 1989: 73). Pengetahuan bukanlah akhir dari pendidikan, karena yang terutama dari pendidikan adalah memberikan keluhuran watak agar bermanfaat bagi kemajuan derajat manusia. Aspek kemanusiaan dalam pandangan Kartini mendapatkan tempat lebih tinggi di atas kecerdasan pengetahuan semata. Kartini memperjuangkan pendidikan yang awal mulanya ditujukan kepada kaum perempuan. Mengapa? Karena perempuan sebagai pendukung jalannya peradaban. Para ibu secara alamiah dititahkan sebagai pendidik dan pembimbing utama nilai-nilai kesusilaan. Di pangkuan ibu, anak mulai belajar merasakan, berbicara, berfikir, dan pendidikan waktu kecil besar pengaruhnya bagi perkembangan hidup selanjutnya (Sutrisno, 1989: 74). Peran keluarga dalam proses pembentukan karakter sangat fundamental, baik sebagai tempat anak belajar pertama kali dan mencari figur keteladanan. Bagaimana ibu dapat mendidik anaknya kalau mereka sendiri tidak terdidik? Bangsa kita tidak dapat maju, kalau kaum perempuan tidak diikutsertakan dalam usaha pembudayaan bangsa. Mengutip pendapat sejarawan dan sekaligus pendiri penerbitan Komunitas Bambu JJ Rizal dalam majaah Tempo, Kartini telah meletakkan titik persoalan yang menjadi semacam api atau obor untuk diteruskan para generasi berikutnya (Rizal, 2013: 96-97).Penulis melihat ada relevansi pemikiran Kartini dengan pandangan Driyarkara, bahwa pendidikan adalah proses pembudayaan atau pemanusiaan manusia muda. Peran serta ibu sangatlah besar sehingga perlu memberikan bekal bagi remaja puteri tentang pengetahuan dan keterampilan hidup yang kelak memberikan manfaat ketika mereka menjadi seorang ibu. Bagaimana dengan laki-laki? Untuk kemajuan bersama kaum laki-laki juga harus dididik dalam hal tata kesusilaan, sehingga tumbuh sikap menghargai terhadap kaum perempuan, sama seperti menghargai ibunya. Jangan membiasakan anak kecil minta dihormati, tetapi biasakan terlebih dahulu untuk menghormati orang lain (Soeroto, 1983: 74&297). Pendidikan seperti ini harus ditanamkan sejak usia dini dan terasa sangat relevan hingga hari ini. Kasus-kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, termasuk lembaga pendidikan berbasis agama menunjukkan masih sangat kuatnya budaya patriarki. Pemikiran Kartini melampaui zamannya karena kaum bangsawan di saat Kartini hidup justru sangat nyaman dengan kedudukannya. Bagi Kartini, semakin tinggi derajat seseorang, justru semakin besar tanggung jawabnya. Kebangsawanan seseorang bukan untuk disembah-sembah dan yang terpenting dalam pandangan Kartini adalah kebangsawanan hati nurani yang turut memikul tanggung jawab terhadap rakyatnya. Tentu kita prihatin ketika banyak orang begitu cemerlang secara akademis, tetapi tidak memiliki kepekaan sosial untuk melihat ke bawah yang justru sangat membutuhkan dorongan kemajuan. Politisi-politisi muda sebagai penyelenggara negara justru tersandera kasus korupsi.Keluarga adalah lingkungan pertama untuk membangun intelektualitas. Kartini belajar dari sang ayah dan kakaknya R. M. Sosrokartono yang tercatat sebagai mahasiswa pribumi pertama yang studi di negeri Belanda. Pandangan ayahnya cukup progresif dalam mendidik Kartini, meski adat tetap dilaksanakan agar tidak dipandang terlalu menyimpang dari tradisi. Dari mereka, Kartini belajar tentang sejarah negerinya dan pemikiran barat yang menumbuhkan semangat untuk memperjuangkan derajat bangsa, meski saat itu istilah Indonesia belum dikenal. Ayahnya telah membimbing watak Kartini dan adik-adiknya dengan mendekatkan mereka pada realita kehidupan rakyat di luar tembok kabupaten. Setelah dipingit di masa remaja, Kartini dan adik-adiknya diberikan kesempatan untuk blusukan hingga lahir perhatian yang besar terhadap kemajuan kesenian rakyat khas Kabupaten Jepara (Soeroto, 1983: 106). Ini adalah proses pendidikan humaniora dan tentu sangat relevan bila orang tua dan sekolah mengangkat cita rasa berkesenian untuk merawat identitas budaya bangsa agar tidak tercabut dari akarnya. Bangsa mancanegara yang menempuh studi di Indonesia banyak yang mendalami mengapa kita justru meninggalkannya?  Bersahabat Dengan BukuMedia pembelajaran apa yang turut membentuk sikap kritis Kartini? Sejak kecil Kartini memiliki hasrat yang tinggi terhadap pengetahuan. Kedekatannya dengan buku, majalah, dan ketekunan mempelajari bahasa Belanda membuat Kartini terampil membaca dan menulis sehingga tampil sebagai pribadi yang kritis dan ekspresif. Bagi Kartini, menulis adalah panggilan sosial dan sikap kritisnya tercermin dari gugatan terhadap adat yang membawa keterbelakangan perempuan. Sejak usia 16 tahun, ia menyukai dan telah membaca novel Max Havelaar, karangan Multatuli yang memberi pandangan kritis terhadap dampak kolonialisme Belanda di tanah Jawa (Toer, 2003: 158-159). Ia didukung oleh sang ayah dengan mengirimkan artikel yang ditulis Kartini tentang Perkawinan Masyarakat Koja di Jepara sebagai artikel pertamanya yang dimuat dalam surat kabar di negeri Belanda.Mengapa minat membaca anak sebagai kebutuhan semakin terkikis dewasa ini? Padahal buku dan menulis dapat melatih imajinasi, membangun idealisme, estetika, ketenangan, dan kesabaran. Membaca dan menulis adalah bagian pendidikan humaniora. Bersahabat dengan buku hendaknya dibiasakan sejak usia dini sehingga menghidupkan tradisi literasi di dalam keluarga adalah kemajuan yang luar biasa. Kisah di atas menunjukkan bahwa pandangan kemajuan Kartini merupakan warisan budaya literasi dari orang tuanya.Pemikiran Kartini tentang pendidikan mengingatkan kita bahwa keluarga adalah landasan pembentukan karakter anak dan sejumlah persoalan anak dewasa ini tidak terlepas dari ketegangan yang terjadi di dalam lingkungan terdekatnya. Keluarga dan sekolah harus semakin bersinergi dalam mempersiapkan mereka di tengah situasi global. Lingkungan yang mengasuh memberikan pengaruh yang sangat besar bagi anak didik kita untuk tumbuh dan berkembang selaras dengan kebutuhan jaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur budaya. Semoga kita semakin bijak dalam merawat kisah atau ingatan kolektif bangsa untuk membaca situasi jaman karena kedewasaan sebuah bangsa dapat diukur dari sikapnya terhadap sejarah. Terlepas pro dan kontra tentang sosok Kartini, pemikiran dalam surat-suratnya masih relevan untuk kita renungkan hari ini.***
Selengkapnya
MENJAGA API SEMANGAT, KEBERANIAN, DAN KETANGGUHAN DALAM SATU BARISAN
Posted: 2026-04-16 | By: Veronika Minarsih, guru Ekonomi SMA Santa Ursula BSD
Masih terekam jelas dalam ingatan teriakan lantang, “Pagi, pagi, pagi…Ursula, Luar Biasa!” yang menggema di lereng Gunung Salak bulan Januari lalu. Hari ini Rabu, 15 April 2026 SMA Santa Ursula BSD kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk karakter murid yang tangguh, disiplin, dan berjiwa kepemimpinan melalui kegiatan penyegaran pelatihan fisik dan mental bulan Januari lalu. Kegiatan ini menjadi langkah penting untuk memastikan dan menguatkan nilai-nilai dan semangat kedisiplinan, kebersamaan, ketahanan fisik, serta nilai-nilai lainnya yang telah diperoleh tiga bulan sebelumnya tetap hidup dan terimplementasi dalam keseharian murid di sekolah.Berbeda dengan pelatihan di alam terbuka, kegiatan kali ini dirancang dalam format padat di lingkungan sekolah dengan durasi waktu 75 menit untuk menguji kembali konsistensi murid dalam hal kedisiplinan waktu dan ketahanan fisik dengan tetap mengusung prinsip kedisiplinan dan kerja sama tim. Seluruh murid kelas X dibagi menjadi lima kelompok lintas kelas, dengan anggota 36 murid setiap kelompok sehingga mampu memperkuat solidaritas antarkelas. Rangkaian kegiatan dimulai tepat pukul 12.45 di jam perwalian dengan koordinasi intensif dari tim fisik mental kelas X. Dalam waktu singkat, murid diajak kembali untuk membangkitkan yel-yel khas SMA Santa Ursula BSD, Pagi, pagi, pagi…Ursula, luar biasa!Para murid ditantang untuk melakukan manajemen waktu yang ketat saat berganti pakaian hingga berbaris rapi sesuai barisan kelompok dalam waktu 10 menit. Sesuai dengan rumusan gerakan bersama angkatan yang telah disusun bulan Januari lalu, dalam kegiatan ini diterapkan sanksi yang tegas bagi murid yang datang terlambat atau tidak mengikuti kegiatan sesuai ketentuan. Hal ini sejalan dengan nilai kedisiplinan yang menjadi inti dari pelatihan fisik dan mental sebelumnya.Kegiatan penyegaran pelatihan fisik dan mental diawali dengan pemanasan dasar yang dipimpin oleh perwakilan murid kelas X. Tantangan fisik murid sesungguhnya, dimulai dengan lari ketahanan selama 6 menit bagi setiap kelompok sebagai ujian daya juang murid. Memori murid di Pusat Pendidikan Latihan Tempur (Dodiklatpur) Rindam Jaya diingatkan kembali dengan melaksanakan latihan Peraturan Baris Berbaris (PBB). Sesi ini tidak hanya dipimpin oleh tim fisik dan mental kelas X, tetapi juga melibatkan murid yang ditunjuk secara acak untuk memimpin barisan guna melatih aspek kepemimpinan dan fokus. Kegiatan diakhiri dengan doa bersama dan menyanyikan lagu mars Serviam. Melalui kegiatan penyegaran fisik dan mental ini, SMA Santa Ursula BSD berharap kepada para murid kelas X tidak hanya menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki mentalitas pemenang yang tangguh, disiplin, dan memiliki empati terhadap sesama. Kegiatan penyegaran pelatihan fisik dan mental ini menjadi bukti bahwa pendidikan karakter di SMA Santa Ursula BSD tidak berhenti di satu momen besar, tetapi terus dipupuk, dirawat, dan dihidupkan dalam satu langkah, satu barisan, dan satu teriakan semangat. Semangat Gunung Salak belum padam, Ursula tetap luar biasa!
Selengkapnya
Menyiapkan Masa Depan dengan Sanur Mentality: Belajar dari Jejak Alumni Inspiratif
Posted: 2026-04-13 | By: Eka Setiawan, Guru Bahasa Indonesia SMA
Semangat untuk bertumbuh, berani mencoba, dan tetap tangguh dalam menghadapi tantangan menjadi pesan utama dalam Seminar Sanur Mentality yang diselenggarakan oleh SMA Santa Ursula BSD. Kegiatan ini menghadirkan para alumni sebagai narasumber yang berbagi pengalaman nyata dari perjalanan akademik hingga dunia profesional. Dengan mengusung konsep reflektif dan inspiratif, seminar ini menjadi ruang belajar yang bermakna bagi para murid untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan.Seminar ini diikuti dengan antusias oleh para murid yang ingin mendapatkan gambaran lebih luas mengenai kehidupan setelah lulus sekolah. Tidak hanya berfokus pada pilihan jurusan atau perguruan tinggi, kegiatan ini juga menekankan pentingnya membangun karakter dan mentalitas yang kuat sebagai bekal utama dalam menjalani berbagai fase kehidupan.Empat alumni hadir sebagai pembicara dengan latar belakang pendidikan yang beragam, yaitu Nixie, lulusan Monash University Australia jurusan Bachelor of Early Childhood & Primary Education; Lica, lulusan Institut Teknologi Bandung jurusan Desain Produk; Lina, lulusan Institut Pertanian Bogor jurusan Agronomi; serta Lentera, lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti jurusan Perhotelan. Keempatnya membagikan kisah perjalanan yang tidak selalu mudah, tetapi sarat pembelajaran dan pengalaman berharga.Dalam pemaparannya, Nixie mengisahkan pengalamannya menempuh pendidikan di luar negeri yang menuntut kemandirian tinggi, kemampuan beradaptasi, serta keterbukaan terhadap perbedaan budaya. Ia menekankan bahwa keberanian untuk keluar dari zona nyaman merupakan langkah awal untuk berkembang. Menurutnya, Sanur Mentality tercermin dalam sikap pantang menyerah dan kemauan untuk terus belajar dari setiap pengalaman.Sementara itu, Lica membagikan pengalamannya selama berkuliah di Institut Teknologi Bandung yang penuh tantangan, terutama dalam hal manajemen waktu dan tuntutan kreativitas. Ia menegaskan bahwa konsistensi dan disiplin menjadi kunci utama dalam menghadapi tekanan akademik. Lica juga mengajak para murid untuk tidak takut mengeksplorasi ide dan mengembangkan potensi diri sejak dini.Lina, yang menempuh pendidikan di bidang Agronomi, memberikan perspektif mengenai pentingnya mengenali minat dan passion. Ia menjelaskan bahwa memilih jurusan bukan semata-mata mengikuti tren, melainkan berdasarkan ketertarikan dan tujuan jangka panjang. Lina juga menekankan bahwa setiap proses, termasuk kegagalan, memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kedewasaan seseorang.Di sisi lain, Lentera yang berkecimpung di dunia perhotelan membagikan pengalaman tentang pentingnya keterampilan komunikasi, kerja sama tim, serta sikap profesional. Ia menjelaskan bahwa dunia kerja menuntut tidak hanya kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan interpersonal yang baik. Sanur Mentality, menurutnya, tercermin dalam sikap melayani dengan sepenuh hati dan tetap rendah hati dalam setiap situasi.Istilah Sanur Mentality yang diangkat dalam seminar ini menjadi benang merah dari seluruh pengalaman yang dibagikan. Mentalitas ini mencerminkan sikap tangguh, adaptif, disiplin, serta mampu menghadapi perubahan dengan sikap positif. Para alumni sepakat bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh ketekunan dan karakter yang kuat.Antusiasme murid terlihat jelas sepanjang kegiatan berlangsung. Sesi tanya jawab menjadi momen interaktif yang memperlihatkan rasa ingin tahu murid terhadap dunia perkuliahan dan kehidupan setelah lulus. Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari cara memilih jurusan, menghadapi kegagalan, hingga tips menjaga keseimbangan antara akademik dan kehidupan pribadi.Kegiatan ini juga mempererat hubungan antara sekolah dan para alumni. Kehadiran alumni sebagai pembicara menunjukkan bahwa ikatan kekeluargaan dalam komunitas sekolah tetap terjaga meskipun telah lulus. Para alumni tidak hanya berbagi pengalaman, tetapi juga memberikan motivasi dan semangat kepada para murid untuk terus melangkah maju.Melalui Seminar Sanur Mentality, diharapkan para murid semakin siap menghadapi tantangan masa depan dengan sikap yang lebih matang dan percaya diri. Nilai-nilai yang dibagikan dalam kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bekal berharga dalam perjalanan akademik maupun kehidupan mereka ke depan.Pada akhirnya, seminar ini menjadi pengingat bahwa setiap murid memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan meraih impian. Dengan memiliki Sanur Mentality, para murid diharapkan mampu menghadapi setiap tantangan dengan keberanian, ketekunan, dan semangat untuk terus belajar. Masa depan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dipersiapkan dengan penuh keyakinan dan harapan.
Selengkapnya
Kristus Bangkit, Harapan Baru Bagi Kita: Ibadat Paskah SMA Santa Ursula BSD
Posted: 2026-04-13 | By: I. Agnes Nabella, Guru Bahasa Indonesia SMA
Pada Rabu, 8 April 2026, keluarga besar SMA Santa Ursula BSD menggelar Ibadat Paskah yang diikuti oleh seluruh guru serta murid kelas X dan XI. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh khidmat dan sukacita, mengusung tema “Kristus Bangkit, Harapan Baru Bagi Kita.” Tema tersebut menjadi pengingat mendalam akan makna kebangkitan Kristus sebagai sumber harapan dan kekuatan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.Ibadat Paskah dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian pembinaan iman yang rutin diadakan oleh sekolah, sekaligus menjadi momen refleksi bersama setelah menjalani masa Prapaskah. Seluruh peserta ibadat hadir dengan sikap penuh hormat dan keterlibatan aktif, menciptakan suasana yang tenang namun sarat makna. Sejak awal ibadat dimulai, nuansa sakral sudah terasa melalui alunan lagu pembuka yang dibawakan oleh paduan suara murid.Dalam homili yang disampaikan, peserta diajak untuk merenungkan makna kebangkitan Kristus tidak hanya sebagai peristiwa iman, tetapi juga sebagai panggilan untuk bangkit dari berbagai keterpurukan dalam hidup. Kebangkitan Kristus dimaknai sebagai tanda kemenangan atas dosa dan kematian, sekaligus simbol harapan baru bagi setiap pribadi. Pesan ini menjadi sangat relevan bagi para murid yang tengah berada dalam proses pertumbuhan dan pencarian jati diri.Lebih lanjut, para murid diajak untuk melihat bahwa ‘harapan baru’ bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan harus diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata. Dalam kehidupan sekolah, harapan tersebut dapat diwujudkan melalui semangat belajar, sikap saling menghargai, serta keberanian untuk memperbaiki diri. Para guru pun turut diingatkan akan peran penting Bapak / Ibu guru sebagai pendamping yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi teladan dalam menghidupi nilai-nilai Kristiani.Keterlibatan dalam ibadat ini juga menjadi salah satu hal yang patut diapresiasi. Para guru mengambil peran sebagai petugas liturgi, mulai dari memimpin ibadat, membacakan Kitab Suci, hingga membawakan doa-doa umat dengan penuh penghayatan. Suasana semakin hidup ketika seluruh peserta bersama-sama menyanyikan lagu-lagu Paskah yang penuh sukacita. Momen ini menjadi simbol nyata dari kebangkitan, dimana kesedihan dan keheningan masa Prapaskah berubah menjadi kegembiraan dan pengharapan. Kebersamaan yang terjalin selama ibadat juga mempererat rasa persaudaraan antar murid maupun antara murid dan guru.Melalui kegiatan ini, sekolah berharap nilai-nilai yang direnungkan dalam ibadat tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat, tetapi terus dihidupi dalam kehidupan sehari-hari. Semangat kebangkitan diharapkan mampu mendorong seluruh warga sekolah untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh, penuh harapan, dan mampu membawa terang bagi lingkungan sekitarnya.Ibadat Paskah tahun ini menjadi momentum penting untuk mengingat kembali bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memulai kembali, memperbaiki kesalahan, dan melangkah dengan semangat baru. Dalam konteks kehidupan pelajar, hal ini berarti tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan, baik dalam belajar maupun dalam relasi sosial.Akhirnya, melalui tema “Kristus Bangkit, Harapan Baru Bagi Kita,” seluruh peserta ibadat diajak untuk membawa pesan kebangkitan ini ke dalam kehidupan nyata. Harapan baru bukan hanya menjadi slogan, melainkan menjadi semangat yang terus diperjuangkan dalam setiap langkah kehidupan. Dengan demikian, makna Paskah sungguh hidup dan nyata dalam keseharian keluarga besar SMA Santa Ursula BSD.
Selengkapnya
HARMONI KREATIVITAS DAN INOVASI SANURIAN SEBAGAI GERAKAN EKONOMI HIJAU
Posted: 2026-04-13 | By: Veronika Minarsih, Guru Ekonomi SMA Santa Ursula BSD
Suasana aula SMP-SMA Santa Ursula BSD hari Jumat, 10 April 2026 tampak berbeda dari biasanya. Aroma lilin terapi, deretan busana modis dari daur ulang pakaian layak pakai, hingga diskusi hangat mengenai bisnis ramah lingkungan mewarnai perhelatan Kewirausahaan Rakyat Sanurian (WIRASA) sebagai pameran karya kewirausahaan dan seni dengan tema “Merancang Masa Depan yang Lebih Hijau melalui Kewirausahaan Berkelanjutan”. Pameran karya ini menjadi bukti nyata kreativitas murid kelas XII dalam menjawab tantangan krisis lingkungan melalui solusi bisnis yang inovatif.Pameran karya ini merupakan puncak dari pembelajaran kewirausahaan kelas XII. Setiap produk dihasilkan melalui proses panjang, mulai dari penyusunan Business Model Canvas (BMC), penyusunan proposal bisnis, kegiatan produksi sebagai proses realisasi produk, hingga strategi promosi. Para murid ditantang untuk menerapkan prinsip ekonomi hijau, yaitu praktik ekonomi rendah karbon dan efisien dalam penggunaan sumber daya, serta inklusif secara sosial.Pameran karya yang berlangsung meriah di aula SMP-SMA Santa Ursula BSD ini tidak hanya menjadi ajang untuk unjuk karya nyata murid, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi antara pembelajaran kewirausahaan dan kegiatan ekstrakurikuler bidang seni. Dengan mengusung prinsip green economy para murid kelas XII telah menunjukkan bahwa bisnis dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. Berbeda dengan pameran seperti biasanya, pameran karya ini dirancang dalam format mini workshop. Sebanyak sebelas stan kewirausahaan kelas XII dan lima stan seni dari kegiatan ekstrakurikuler menjadi pusat transfer ilmu. Pameran karya ini menjadi ajang kolaborasi antara pelajaran kewirausahaan dan kegiatan ekstrakurikuler bidang seni. Sebelas stan kewirausahaan bersinergi dengan lima stan seni dari kegiatan ekstrakurikuler seperti fotografi, desain mode, desain grafis, seni lukis, dan menulis kreatif. Kemeriahan pameran semakin lengkap dengan penampilan dari peserta kegiatan ekstrakurikuler teater, tarian tradisional, tarian modern, dan sajian musik dari peserta kegiatan ekstrakurikuler keroncong serta band yang memukau di awal dan di akhir setiap sesi pameran. Beragam produk inovatif dipamerkan dalam pameran ini, antara lain lilin aroma terapi, body lotion, ecoprint tote bag, seed paper, berbagai bentuk fashion berupa pakaian, pouch dari daur ulang ampas kopi, perabot rumah tangga dari cangkang telur, kopi matcha instan, lip balm alami, aksesori dari tutup botol, hingga cookies sehat.Pameran karya terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama pukul 07.45 - 09.15, dihadiri oleh murid kelas XI SMA Santa Ursula BSD dan murid kelas VII hingga kelas IX SMP Santa Ursula BSD. Sesi kedua pukul 10.15 - 11.45, dihadiri murid kelas X SMA Santa Ursula BSD dan murid kelas VII hingga IX SMP Santa Ursula BSD. Kepala SMA Santa Ursula BSD, Bapak Catur Agus Sancoko secara simbolis membuka pameran karya sesi satu dan sesi dua dengan semangat yang ditandai dengan penampilan dari peserta kegiatan ekstrakurikuler tarian tradisional dan tarian modern. Dalam sambutannya, beliau memberikan apresiasi kepada murid kelas XII atas proses dan hasil yang telah diciptakan dalam pembelajaran kewirausahaan. Beliau menyampaikan bahwa anak muda dapat menjadi agen perubahan melalui kreativitas, inovasi, dan potensi yang dimiliki. Beliau juga menyampaikan harapan supaya semua pihak yang terlibat dalam pameran dapat memperoleh ilmu yang mampu menginspirasi untuk mewujudkan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.Mini workshop diikuti oleh pengunjung pameran karya. Murid dibagi dalam sebelas kelompok lintas kelas untuk mengikuti Mini workshop di stan kewirausahaan sesuai nomor kelompok mereka, selanjutnya murid dapat mengunjungi semua stan kewirausahaan dan seni. Sistem ini memastikan adanya interaksi yang merata dan pengalaman belajar murid yang optimal. Para pengunjung pameran tidak hanya melihat produk, tetapi juga diajak untuk belajar secara langsung dalam mini workshop di setiap stan. Mini workshop ini mampu menciptakan efek berantai inspirasi, melalui proses kakak kelas yang berbagi pengalaman merintis usaha mulai dari nol hingga produk jadi, kemudian adik kelas mampu termotivasi untuk memulai bisnis sejak dini.Tampilan produk kewirausahaan dinilai oleh lima orang guru penilai. Aspek yang dinilai mencakup kreativitas, edukasi dalam mini workshop, branding dan pemasaran, serta kolaborasi manajerial. Evaluasi yang diberikan oleh tim guru penilai pada produk pameran karya, diharapkan dapat terus mengasah kemampuan manajerial dan komunikasi murid. Sajian musik dari peserta kegiatan ekstrakurikuler keroncong dan band menjadi sajian penutup di setiap sesi pameran karya.Pameran karya ini bukan sekedar tugas akhir dari mata pelajaran kewirausahaan, melainkan langkah awal bagi komunitas SMA Santa Ursula BSD untuk membentuk generasi muda yang kreatif, inovatif, mandiri, dan senantiasa berwawasan lingkungan. Semoga semangat ekonomi hijau melalui proses pembelajaran kewirausahaan dapat terus bertumbuh untuk menginspirasi kita semua dalam menjaga bumi, mulai dari langkah kecil yang bernilai ekonomi tinggi.Dokumentasi oleh: Brian & Aldric XI-C
Selengkapnya