Membina Karakter Serviam: 186 Murid Kelas XII SMA Santa Ursula BSD Ikuti Retret Intensif Menuju Masa Depan
Posted: 2025-12-08 | By: Philipe Juniar XIIC/26
Tangerang Selatan – SMA Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan retret tahunan bagi murid kelas XII sebagai bagian penting dari program pembinaan karakter, pendalaman iman, dan persiapan mental serta spiritual. Acara ini berlangsung dari tanggal 12 hingga 24 Oktober 2025 di Griya Angela, rumah retret milik Suster Ursulin, dan diikuti oleh 186 peserta retret murid kelas XII.Retret ini merupakan bekal fundamental bagi murid kelas XII dalam menghadapi tantangan akademik seperti Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Penilaian Akhir Semester (PAS), sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi transisi krusial pasca-SMA.Program Intensif Empat GelombangUntuk memastikan proses pendampingan yang optimal, kegiatan retret dibagi menjadi empat gelombang dengan durasi tiga hari dua malam per gelombang (kecuali sesi akhir pekan). Seluruh peserta retret dalam gelombang ini mendapatkan pendampingan rohani dari Romo Suharyadi, SJ, bersama dengan para guru pembimbing yang bertugas. Selain rangkaian kegiatan utama, peserta retret difasilitasi penuh, termasuk kebutuhan makan harian serta partisipasi dalam ibadah Katolik yang rutin diadakan setiap hari sebagai penopang pendalaman iman.Refleksi Diri dan Perumusan Tujuan HidupAktivitas pada hari pertama difokuskan pada introspeksi dan refleksi diri. Sebelum keberangkatan, peserta retret diminta mempersiapkan foto masa kecil, foto diri saat ini, dan gambar yang mewakili cita-cita atau harapan masa depan. Kegiatan pembuka ini bertujuan mengajak peserta retret untuk mengenali garis waktu perjalanan hidup yang telah dilalui seraya merumuskan tujuan hidup yang lebih terarah di masa depan. Rangkaian hari pertama ditutup dengan penayangan film sarat makna, “Life Is Beautiful (1998)”, yang diikuti dengan sesi perenungan pribadi melalui serangkaian pertanyaan reflektif.Menguatkan Kebersamaan dan Nilai KekeluargaanHari kedua didedikasikan untuk memperkuat relasi sosial melalui dinamika kelompok yang intensif. Peserta retret dihadapkan pada berbagai tantangan yang menuntut komunikasi efektif, kekompakan, dan kemampuan memecahkan masalah secara kolektif, serta menegaskan pentingnya kerja sama tim dan mengenal satu sama lain.Selain dinamika, peserta retret juga diajak mendalami peran orang tua dalam kehidupan mereka. Dalam momen yang sarat emosi, peserta retret menerima surat penuh pesan, dukungan, dan harapan dari orang tua mereka. Sebagai balasan, peserta retret kemudian menulis surat untuk orang tua, berfungsi sebagai ungkapan terima kasih mendalam serta sarana komunikasi perasaan yang jujur.Membangun Resiliensi Melalui SimbolismeKegiatan penutup pada hari ketiga kembali diisi dengan dinamika kelompok yang memiliki nilai simbolis kuat: memecahkan vas bunga dari tanah liat dan kemudian membentuknya kembali menjadi wujud yang baru. Aktivitas ini dirancang untuk melatih ketekunan, kreativitas, dan terutama, resiliensi peserta retret dalam menghadapi kegagalan atau tantangan dan kemampuan untuk membangun kembali (rekonstruksi) menjadi sesuatu yang lebih baik.Di akhir retret, para murid kelas XII diharapkan mampu menginternalisasi dan menerapkan nilai-nilai positif, khususnya yang selaras dengan semangat Serviam dan enam nilai Serviam, sebagai bekal esensial dalam bersikap dan bertindak di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat luas.
Selengkapnya
MENGGALI MAKNA HIDUP DI DESA BORO
Posted: 2025-12-08 | By: Emmanuela Sheila Wawin/XIIB dan Gabriela Santoso/XIIB
Minggu, 23 November 2025 sampai Sabtu, 29 November 2025 menjadi kegiatan Live In  yang dijalani oleh murid kelas XII SMA Santa Ursula BSD. Tinggal di desa dalam kegiatan Live In memberi para murid kesempatan untuk mengamati serta merasakan bagaimana hidup di desa tanpa adanya gaya hidup yang modern. Deru alam, siklus kehidupan tumbuhan dan hewan, serta dinamika sosial di lingkungan pedesaan yang dapat memperkaya pemahaman murid mengenai pentingnya kesederhanaan, ketulusan, kebersamaan, dan penghargaan. Bertentangan dengan kehidupan kota yang penuh kegaduhan serta kesibukan teknologi, pengalaman ini membuka wawasan baru mengenai nilai-nilai kehidupan yang sering terlupakan dalam gaya hidup modern. Live In ini bukan hanya soal tinggal serta beradaptasi dengan kehidupan yang ada di desa, tetapi juga menjadi laboratorium kehidupan di mana para murid dapat belajar mengenai empati, toleransi, dan kesadaran sosial. Mereka diajak untuk melihat dunia dari perspektif yang cukup berbeda dari dunia mereka yang biasanya, mengenal keberagaman sosial budaya dan memahami pentingnya menjaga keseimbangan harmonis antara manusia dan lingkungan.  Selama 5 hari 4 malam, peserta Live In tinggal di sembilan lingkungan yang berbeda, yaitu Antonius Nglebeng, Tetes, Thomas Gerpule, Veronika Balong, Paulus Balong, Nyemani, Kagok, Kaliwunglon, dan St. Elisabeth dengan keluarga yang berbeda-beda juga. Hal ini membuat setiap peserta Live In yang ikut serta memiliki kehidupan yang berbeda dan pengalaman serta cerita yang pastinya tidak akan sama dengan yang lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari peserta Live In melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan dalam mengikuti kegiatan orang tua mereka (di sana), seperti ikut berladang, menanam, pergi ke pasar, menjaga warung, menjadi tukang bangunan, dan pekerjaan lainnya yang mungkin menjadi pekerjaan yang tidak biasa bagi kami murid SMA Santa Ursula BSD. Pengalaman inilah yang dapat membantu murid belajar beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru, memahami pola kerja masyarakat desa, serta mendalami nilai kebersamaan dan gotong royong secara langsung melalui keterlibatan dalam berbagai aktivitas yang dilakukan.  Dengan demikian, program Live In ini menjadi pengalaman transformasi yang mendalam, menguatkan karakter dan memperkaya spiritualitas siswa dalam menyongsong masa depan.  Dengan adanya pengalaman baru yang sepenuhnya memiliki tingkat serta perbedaan  sangat jauh dan berbeda dari kehidupan para siswa siswi.  Yang awalnya memiliki kemudahan akses dan kebutuhan yang dapat ditemukan di berbagai sudut,  menjadi sosok yang harus bisa beradaptasi dengan situasi dan keadaan yang berbeda dengan kehidupan sederhana dan secukupnya.
Selengkapnya
Bram Pardosi Raih Emas untuk SMA Santa Ursula BSD di Ajang Perlombaan Canisius College Cup XL
Posted: 2025-11-11 | By: Abraham Jeges Ragnala Pardosi / kelas XI-C - 01
Abraham Jeges Ragnala Pardosi atau biasa dipanggil Bram, murid kelas XI SMA Santa Ursula BSD, berhasil meraih juara 1 dalam perlombaan Pencak Silat kategori tanding kelas bebas di ajang Canisius College Cup XL yang berlangsung di Kolese Kanisius pada 21 September 2025. Dengan kemampuan teknik dan persiapan yang matang, saya berusaha memberikan perlawanan terbaik di atas arena. Puji Tuhan, saya berhasil mengungguli sejumlah pesaing tangguh dari berbagai SMA di wilayah Jabodetabek. Tidak hanya saya yang mewakili sekolah dan mendapatkan juara, tetapi juga Mikhael Cornelius Kustedi, teman saya di kelas XII, berhasil meraih juara 2 di kategori tanding kelas D. Kami, perwakilan SMA Santa Ursula BSD, berhasil menunjukkan kerja keras dan kemampuan kami setelah usai tekun menjalankan pelatihan intensif di sekolah. Dalam kategori kelas bebas (75–100 kg) ini, setiap peserta dituntut memiliki kekuatan, kecepatan, dan strategi yang seimbang. Perlombaan ini menggunakan sistem gugur, di mana pesilat langsung bertanding satu lawan satu dan yang kalah langsung tereliminasi. Saya harus melewati beberapa pesaing tangguh sebelum mencapai babak final. Pada babak perempat final, saya mengalahkan Mohammad Zaydan Akhtar dari SMK IT Cyber Global Orenz dengan teknik serangan cepat dan pertahanan yang kuat. Di babak semifinal, saya berhasil menyingkirkan pesilat tuan rumah, Fransisco Tiu Nanga dari Kolese Kanisius, dalam pertarungan sengit yang berlangsung ketat hingga akhir ronde. Puncaknya, di babak final, saya berhasil mengalahkan Muhammad Adil Gufron dari SMAN 112 Jakarta dan meraih juara pertama tanding kategori kelas bebas SMA.Salah satu momen paling berkesan bagi saya adalah ketika menghadapi pesilat tuan rumah di babak semifinal. Pertandingan itu sangat menegangkan. Saya sempat merasa tertekan oleh sorakan penonton yang mendukung lawan saya, tapi saya berusaha tetap tenang dan fokus. Di ronde awal, saya bahkan sempat tertinggal dalam perolehan poin, dan itu jadi tantangan besar bagi saya. Saya tahu saya harus mengubah strategi, memperkuat pertahanan, membaca celah lawan, dan melancarkan serangan balik yang efektif. Dalam pikiran saya hanya ada satu hal: “Jangan panik, tetap tenang, dan ambil kembali kendali.” Perlahan tapi pasti, saya berhasil menyamakan skor dan akhirnya membalikkan keadaan hingga memenangkan pertandingan dan melaju ke babak final.Perjalanan menuju kemenangan ini tidak mudah. Dibutuhkan dedikasi, disiplin, dan latihan yang konsisten. Di tengah kesibukan sekolah, saya harus bisa menyeimbangkan waktu antara belajar dan latihan. Saat latihan, Pak Ruhiyat, pelatih kami, selalu menekankan pentingnya melatih fisik dan pernapasan, karena daya tahan dan kontrol napas adalah fondasi utama dalam bela diri. Selain itu, kami juga dilatih untuk meningkatkan kekuatan, kecepatan, dan kelincahan. Latihan dilakukan secara rutin setiap minggu, biasanya 1–2 kali pertemuan.Bagi saya, kemenangan ini adalah bukti nyata dari kerja keras dan semangat juang kami sebagai murid SMA Santa Ursula BSD. Saya berharap prestasi ini bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman lain untuk terus berlatih dan berani mencoba hal baru. Untuk teman-teman yang ingin ikut lomba, jangan takut untuk mencoba. Karena kalau ingin berprestasi, kuncinya hanya dua: berani dan percaya diri. Saya juga percaya bahwa jika kita ingin hasil yang maksimal, kita harus memberikan usaha terbaik kita karena usaha tidak akan mengkhianati hasil. Dengan semangat pantang menyerah dan tekad yang kuat, saya ingin membuktikan bahwa keberhasilan bukanlah hasil kebetulan, melainkan buah dari latihan, disiplin, dan keyakinan diri. Kemenangan ini menjadi langkah awal saya untuk meraih prestasi-prestasi berikutnya yang saya harap bisa terus mengharumkan nama SMA Santa Ursula BSD di masa yang mendatang.
Selengkapnya
Menjadi Siap Menulis untuk Masa Depan
Posted: 2025-10-20 | By: Catherine Aurelia Wirjawan/XII-B dan Beatrix Arunaya Kidung Anatha/XII-C
Pada Selasa, 7 Oktober 2025, murid kelas XII SMA Santa Ursula BSD diajarkan cara menulis yang sesungguhnya. Melalui Seminar Karya Tulis Ilmiah yang dibawakan oleh Dr. Alexander Joseph Ibnu Wibowo, M. S. M., seorang dosen dari Universitas Prasetya Mulya, para murid mendapatkan banyak masukan mengenai tulisan ilmiah yang akan berguna untuk masa depan mereka nanti. Pertama, murid diajarkan mengenai plagiarisme dalam penulisan. Pada dasarnya, kita hidup di era digital, dan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa modernisasi membuat manusia ingin segalanya serba cepat. Akibatnya, masih banyak penulis yang menggunakan Artificial Intelligence (AI) atau langsung mengambil kutipan orang lain tanpa mengubahnya terlebih dahulu. Namun, dalam penulisan karya ilmiah, murid diajarkan untuk menjunjung tinggi integritas dan kejujuran. Sebagai penulis, penulis harus bertanggung jawab atas setiap hal yang kita ditulis. Oleh karena itu, melalui seminar ini, murid-murid dibimbing untuk memilah informasi yang valid dan tidak valid, mengetahui sumber yang tepat untuk mencari data akurat, serta menghindari penggunaan AI, misalnya dengan memanfaatkan platform yang kredibel seperti Google Scholar.Tidak hanya itu, mereka juga diajarkan mengenai proses publishing jika suatu saat ingin mencoba menerbitkan karya ilmiah. Pada tahap ini, diperlukan sikap pantang menyerah karena untuk mendapatkan penerimaan, seseorang harus melewati banyak tahapan. Sebagai contoh, dalam pengalaman Dr. Alexander, karyanya sudah berkali-kali ditolak oleh salah satu penerbit paling prestisius meskipun ia telah melakukan berbagai revisi mayor. Namun, ia tidak menyerah dan akhirnya mengirim ulang karyanya ke penerbit lain. Sebagai penulis, kita memang harus siap menghadapi berbagai tantangan untuk mencapai tujuan.Terakhir, Dr. Alexander juga mengajarkan kepada para murid mengenai pentingnya memilih sumber jurnal yang terpercaya. Sumber yang baik tentu akan membuat jurnal kita menjadi lebih kritis dan terpercaya juga. Platform akademi yang bisa digunakan untuk mencari jurnal selain Google Scholar adalah Elsevier, IEEE, Research Gate, Science Direct, dan masih banyak lagi. Masing-masing dari situs tersebut menyediakan berbagai jurnal ilmiah kelas dunia terkait berbagai bidang keilmuan, mulai dari ilmu kedokteran, teknik, sains murni, hingga humaniora. Dr. Alexander juga tentunya mengingatkan para siswa untuk tidak asal menjadikan situs-situ sembarang, seperti Wikipedia atau blog pribadi maupun forum diskusi online, kecuali jika hal-hal tersebut memang bisa dipertanggungjawabkan. Penggunaan sumber yang tidak valid atau tidak terpercaya dapat merusak integritas jurnal ilmiah para siswa. 
Selengkapnya
Perayaan Misa Kreatif: Wujud Syukur dan Peneguhan Iman Siswa
Posted: 2025-09-30 | By: Gabriela Giselle Putri Atmaka/XI-A
Jumat, 26 September 2025 – Sekolah Santa Ursula BSD berkomitmen penuh terhadap 10 nilai yang dibangun kepada para peserta didik, salah satunya adalah nilai religiusitas. Dalam mewujudkan nilai tersebut, SMA Santa Ursula BSD menyelenggarakan misa kreatif dengan tema “Yesus Penyelamat Kita” di Gereja Santa Monika BSD. Misa ini dihadiri oleh suster, para guru, dan para peserta didik, yang dipimpin oleh Pastor Emmanuel Bambang Adhi Prakosa, OSC.  Perayaan ekaristi ini menjadi menarik karena seluruh rangkaian misa kreatif ini dirancang dan dilaksanakan oleh para peserta didik kelas XI-A, XI-B, dan XI-C SMA Santa Ursula BSD. Mulai dari petugas liturgi, tata laksana, hingga dekorasi misa dilakukan sepenuh hati oleh peserta didik, didukung pula oleh guru-guru.  Keunikan dari misa kreatif ini tampak sejak awal, ketika Stefi dari kelas XI-C, membawakan sebuah monolog tentang perjuangan sebagai seorang anak SMA, yang pastinya dekat dengan kehidupan peserta didik. Monolog tersebut mengajak umat untuk merenungkan tantangan iman di tengah kehidupan remaja yang penuh dinamika. Momen ini menjadi pintu masuk yang menyentuh hati sebelum misa dimulai. Selain itu, beberapa petugas liturgi juga memberikan kesaksian mengenai proses persiapan mereka. Andra dari kelas XI-A yang bertugas sebagai dirigen koor, menceritakan tantangan memimpin teman-teman yang masih awam dalam bernyanyi paduan suara. Namun, ia bersyukur karena teman-temannya tetap bersemangat untuk belajar dan mau melayani sepenuh hati. Menurutnya, yang terpenting bukanlah hasil nyanyian, tetapi niat pelayanan yang tulus. Keira dari kelas XI-A, yang bertugas membacakan bacaan pertama, juga menyampaikan pengalamannya. Ia menuturkan bahwa proses latihan bersama para pembaca lainnya sangat berkesan. Dari latihan yang konsisten, ia belajar tentang keberanian dan kepercayaan diri. Meskipun sempat gugup pada hari pelaksanaan, Keira merasa lega karena dapat berbicara dengan lancar dan penuh keyakinan di hadapan umat. Perayaan misa kreatif ini bukan hanya menjadi pengalaman rohani, tetapi juga kesempatan belajar bagi para peserta didik untuk melayani dengan rendah hati. Melalui keterlibatan aktif dalam liturgi, mereka semakin dikuatkan dalam iman, diperkaya dengan pengalaman baru, serta terdorong untuk terus menghadirkan Kristus dalam kehidupan sehari-hari. 
Selengkapnya
TRIAL CLASS BAHASA JERMAN MURID KELAS IX SMP SANTA URSULA BSD
Posted: 2025-09-22 | By: Brian Aurey Saputra / XI-C / 04
Kamis, 11 September 2025 - SMA Santa Ursula BSD bekerja sama dengan SMP Santa Ursula BSD memperkenalkan dan mempersiapkan murid kelas IX dengan pembelajaran bahasa Jerman pada tingkat SMA. Maka, Santa Ursula BSD menyelenggarakan trial class bahasa Jerman. Program ini memberi murid kelas IX kesempatan lebih awal dalam mengenal proses pembelajaran kelas Jerman pada tingkat SMA. Dalam kegiatan trial class Jerman ini, murid kelas IX mendapatkan pengenalan dasar bahasa dan budaya Jerman, pengalaman belajar yang interaktif dan intensif, serta persiapan awal untuk masa depan global. Trial class ini diadakan karena adanya banyak minat dan antusiasme dari murid SMP untuk mengetahui pembelajaran bahasa Jerman yang ada di SMA Santa Ursula BSD. Kegiatan ini juga menjadi langkah awal bagi murid-murid yang ingin melanjutkan pendidikannya ke Jerman. SMA Santa Ursula BSD ingin membantu murid agar mereka memiliki fondasi serta persiapan yang kuat agar para murid siap terjun dalam perguruan tinggi.  Dengan bekal bahasa yang kuat dari awal, murid tidak hanya lebih siap mengikuti perkuliahan, tetapi juga mampu membuka akses ke berbagai kesempatan dan beradaptasi lebih cepat dengan lingkungan akademik maupun kehidupan sehari-hari. Untuk mewujudkan kegiatan ini, SMA Santa Ursula BSD berkerja sama dengan Goethe-Institut melalui inisiatif PASCH (Schulen: Partner der Zukunft atau Sekolah: Mitra menuju Masa Depan). Melalui kerja sama ini,  SMA Santa Ursula BSD menjadi salah satu dari 29 sekolah PASCH di Indonesia yang memiliki hubungan langsung dengan pemerintah Jerman dalam bidang pendidikan. Sebagai sekolah PASCH sejak tahun 2009, Santa Ursula BSD mendapatkan berbagai fasilitas dan dukungan dari Goethe-Institut, mulai dari materi pembelajaran yang sesuai standar internasional, hingga kesempatan bagi murid untuk terlibat dalam kegiatan berskala global. Jaringan PASCH mencangkup lebih dari 600 sekolah di lebih dari 100 negara, hal ini dapat memungkinkan beberapa kegiatan berskala internasional atau antarsekolah dalam maupun luar negeri. Program seperti pertukaran surat, kompetisi akademik, maupun kegiatan budaya dapat dilakukan. Selain itu, akses ke peluang beasiswa yang disediakan oleh Goethe-Institut maupun pemerintah Jerman menjadi salah satu keunggulan yang membuka jalan bagi murid untuk melanjutkan studi di luar negeri, khususnya ke Jerman. Antusiasme peserta terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai tiga kelas dalam waktu singkat. Pendaftaran yang dibuka pada hari Minggu dan ditutup pada Senin siang langsung terpenuhi karena kuota terbatas. Pada Kamis, 11 September 2025, terdapat 60 peserta dari kelas IX, sedangkan pada Kamis, 18 September 2025, ada 50 peserta dai kelas VIII yang juga dibagi menjadi tiga kelas untuk menjaga efektivitas kegiatan.Dalam trial class ini, para murid diperkenalkan kepada dasar-dasar bahasa Jerman yang sederhana, namun sangat penting. Materi yang diajarkan meliputi salam atau Begrüßung serta cara memperkenalkan diri atau sich vorstellen. Kedua aspek ini dipilih karena merupakan fondasi utama dalam membangun komunikasi sehari-hari, baik di dalam kelas maupun dalam percakapan tertentu. Proses pembelajaran dikemas dengan cara yang interaktif sehingga para murid dapat langsung mencoba dan berdialog antar teman dan guru. Kegiatan trial class ini terbukti sangat membantu para murid, menurut Belle IX-C, ia menganggap kelas Jerman ini sangat seru dikarenakan metode pembelajarannya yang interaktif. “Semoga kelas Jerman dapat dilakukan dengan cara yang menarik, interaktif dan terdapat beberapa permainan games yang asik sehingga pembelajaran dapat dilakukan dengan menarik” Ujarnya dengan semangat. Sementara itu, bagi murid yang bercita-cita melanjutkan kuliah di Jerman seperti Helden IX-D, trial class ini dirasakan sangat bermanfaat. Menurutnya, dengan guru yang ramah, cara mengajar yang baik, serta penyampaian materi yang menarik, kelas ini memberikan bekal awal yang penting terutama bagi murid yang baru memulai perjalanan belajar bahasa Jerman.Untuk kedepannya, Frau Ruth Berliana selaku guru bahasa Jerman SMA Santa Ursula BSD, berharap kegiatan seperti trial class ini dapat menumbuhkan minat yang lebih besar terhadap bahasa Jerman di kalangan murid. “Harapannya semakin banyak siswa yang tertarik dan menyukai bahasa Jerman,” ujarnya. Menurutnya, bahasa asing bukan hanya tentang komunikasi, tetapi juga membuka wawasan baru mengenai budaya, kesempatan akademik, dan peluang masa depan yang lebih luas. 
Selengkapnya
Layanan Pemeriksaan Kesehatan oleh Puskesmas Rawabuntu
Posted: 2025-09-22 | By: Anicka Reine Andry X-C/4
           Pada Kamis 18 September 2025, Puskesmas Rawabuntu memberikan program pemeriksaan kesehatan bagi murid kelas X di berbagai sekolah sekitar daerah Tangerang Selatan, salah satunya Santa Ursula BSD. Tujuan utama dilaksanakannya pemeriksaan kesehatan ini adalah untuk memastikan bahwa murid dalam kondisi sehat secara fisik dan mental. Sebelum dilakukannya pemeriksaan kesehatan, Puskesmas Rawabuntu mengedarkan angket dalam bentuk Google Form untuk diisi oleh murid kelas X. Angket ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang mencakup identitas kewarganegaraan murid hingga keluhan fisik berbasis gender dan keluhan mental yang dihadapi atau pernah dihadapi murid kelas X.             Saat hari-H, murid kelas X  dipanggil per kelas secara bergantian dan memakan waktu sekitar 45 menit untuk pemeriksaan setiap kelasnya. Pemeriksaan ini dilakukan di Aula SMP-SMA Santa Ursula BSD mulai dari pukul 07.45 hingga sekitar pukul 12.00. Para murid diberikan kertas yang harus diisi dengan identitas diri, tinggi badan, berat badan, dan tekanan darah. Sebelum diperiksa, tiap murid duduk dalam urutan sesuai nomor presensi untuk memastikan proses pemeriksaan kesehatan dapat berjalan dengan efektif dan kondusif.             Pemeriksaan kesehatan dimulai dari menghitung tinggi badan dan berat badan yang dibantu oleh tenaga pendidik SMA Santa Ursula BSD. Kemudian, para tenaga kesehatan dari puskesmas mengecek tekanan darah tiap murid dan menuliskan semua data pada kertas yang sudah diberikan. Setelah menyelesaikan bagian tersebut, tiap murid memberikan kertas yang sudah diisi berisi identitas diri dan data kepada administrator dari Puskesmas Rawabuntu. Setelah diselesaikan proses administrasi oleh pihak Puskesmas Rawabuntu, tiap murid diperiksa kebersihan telinga, kuku, dan gigi serta pengumpulan data preskripsi mata seperti miopia dan astigmatisme. Bagi murid yang sudah mengetahui preskripsi mata, mereka dapat langsung memberikan data kepada pihak administrasi, tetapi pihak Puskesmas juga menyediakan layanan pengecekan mata.            Akhirnya, proses pengecekan kesehatan ini diselesaikan dengan pengecekan gula darah. Untuk menjaga kebersihan dan kesterilan sampel darah, jari tangan dibersihkan dengan kapas alkohol. Jari tangan yang digunakan untuk pengecekan gula darah dapat menggunakan jari tangan manapun. Kemudian, pihak puskesmas menggunakan lanset kecil untuk menusuk ujung jari secara minimal (minimal invasif) dan mengambil setetes atau dua tetes darah. Tetes darah tersebut kemudian dicek oleh glukometer untuk mengetahui gula darah yang mereka miliki. Mayoritas para murid memiliki kadar gula darah yang normal.            Pasca kegiatan pemeriksaan kesehatan, saya sadar bahwa adanya pemeriksaan kesehatan fisik dan psikis sangat penting untuk dilakukan karena tindakan ini adalah salah satu hak yang dimiliki saya sebagai anak. Hal ini  juga membantu menjaga suasana kondusif dalam proses pembelajaran di sekolah. Sebagai anak, kita memiliki hak untuk bertumbuh dan berkembang dengan baik. Kondisi kesehatan fisik dan psikis yang optimal dapat membantu murid mengikuti pembelajaran di sekolah dengan baik dan menjadi pribadi yang utuh, cerdas, dan melayani dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai bekal di masa mendatang. 
Selengkapnya
Hidup Kudus, Siapa Takut??
Posted: 2025-09-16 | By: Chatarina Lani Usiana / Guru Agama
Di tengah hiruk- pikuk  dunia,  dengan perkembangan teknologi yang tidak terbendung, banyak orang  terbawa oleh arus kehidupan  individualistis, materialistis, konsumeristis dan hedonis. Hal tersebut juga menimpa keseharian hidup orang muda Katolik. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam dengan scroll dan joget-joget di Tik-tok, flexsing, main gim daring seperti Roblox dan Mobile Legend. Terkadang lupa pada hal utama yang menjadi tujuan atau harapan hidupnya. Orang muda Katolik  lupa bahwa dengan kemudaannya banyak hal berguna bisa dilakukan untuk pertumbuhan dan perkembangan diri maupun imannya. Di dalam keadaan dunia yang demikian, ternyata ada anak muda Katolik yang berani tampil berbeda dan sangat luar biasa cara hidupnya. Ia berani menampilkan hidup yang menyerupai Kristus. Pribadi tersebut bernama Carlo Acutis. Santo Carlo Acutis “ God Influencer” Saint of the Internet” Ia lahir pada 3 Mei 1991 di London, Inggris. Pada 18 Mei 1991 Carlo Acutis menerima Sakramen Baptis di Church of Our Lady of Dolours. Kemudian pada 8 September 1991, Carlo bersama orang tuanya kembali ke Milan Italia. Sejak masih kecil Carlo Acutis sangat mencintai Ekaristi, maka setiap hari  pergi dan  mengikuti perayaan tersebut. Carlo kecil juga sering mengajukan banyak pertanyaan tentang ekaristi kepada ibunya. Hal tersebut membangkitkan ibunya untuk belajar teologi sehingga siap menjawab pertanyaan-pertanyaan Carlo. Seperti anak-anak di zamannya Carlo kecil juga menyukai teknologi digital. Keterampilan dibidang teknologi digital terus berkembang karena kemauannya untuk belajar dan berselancar di internet terus diasah secara otodidak. Kesukaan  Carlo Acutis pada teknologi internet dan kecintaannya pada Ekaristi kudus menggerakkan dirinya membuat web (situs internet). Situs tersebut digunakan sebagai sarana untuk mengabarkan mukjizat-mukjizat Ekaristi. Perkembangan teknologi digital manfaatkan oleh Carlo dengan bijak dan menjadi sumber berkat, bagi diri sendiri, keluarga, gereja dan sesamanya.Pengalaman hidup sehari-hari Carlo dijalani dengan penuh sukacita, sadar menggunakan inderanya untuk mengasah kepekaan pada situasi kehidupan masyarakat sekitar. Ia sadar bahwa di sekelilingnya masih banyak orang yang hidupnya kurang beruntung, sehingga membutuhkan perhatian dan uluran tangannya. Hidup kudus menjadi pilihannya dan disyukuri sebagai anugerah Tuhan. Ia menjalani hidup kudus dengan cara berdevosi kepada Bunda Maria dan mendaraskan doa rosario setiap hari. Ia juga bersedia menjadi pendengar bagi teman-temannya yang menceritakan persoalan hidup, Ia berbagi dengan para gelandangan yang  ditemuinya. Ia menggunakan uang jajannya untuk berbagi. Carlo juga mnemani teman-temannya yang menjadi korban perundungan. Bagi Carlo Acutis hidup kudus bukanlah keniscayaan tetapi dihayati dalam kegiatannya sehari-hari disertai dengan hati terarah kepada Tuhan.  Kehidupan yang Ia jalani menjadikan yang duniawi bernilai adikodrati, yang transenden dipahami dengan iman yang mendalam. Sungguh pengalaman hidup beriman yang patut dibanggakan dan dijadikan teladan. Orang muda Katolik mestinya bangga, ternyata menjadi kudus bisa dijalankan selagi muda belia dengan apa adanya. “Orang terlahir dengan original tetapi banyak yang meninggal dalam keadaan fotocopy”Pada Hari Minggu, 7 September 2025, Beato Carlo Acutis dikanonisasi menjadi Santo oleh Bapa Suci Paus Leo XIV di Vatikan. Ada beberapa langkah yang dibutuhkan bagi seseorang menjadi santo di Gereja Katolik , sebagai berikut;Masa tungguMenjadi hamba Tuhan (Servant of God)Bukti kebajikan (Heroik in Vertui )Verifikasi Mukjizat (Blessed)Kanonisasi ini adalah langkah terakhir seseorang yang telah meninggal dijadikan santo, untuk mencapai tahap ini, biasanya dibutuhkan bukti mukjizat lain yang berkaitan      dengan individu yang bersangkutan.Proses untuk menjadikan seseorang sebagai santo biasanya tidak dapat dimulai hingga setidaknya lima tahun setelah kematian mereka. Tetapi di masa tunggu ini dalam beberapa keadaan dapat dicabut  atau dipercepat oleh Bapa PausSebuah penyelidikan kemudian dilakukan untuk memeriksa apakah orang tersebut menjalani hidup mereka secara kudus. Bukti pun dikumpulkan. Jika kehidupan mereka benar akan disebut “hamba Tuhan”Departemen yang membuat rekomendasi kepada Paus tentang santo kemudian meneliti buktinya. Jika kasusnya disetuji oleh Bapa Paus, mereka bisa di sebut terhornmatTahap selanjutnya beatifikasi yang membutuhkan mukjizat terkait dengan doa yang dibuat untuk calon santo setelah kematiannnya. Mukjizat perlu diverifikasi dengan bukti sebelum diterima. Setelah dibeatifikasi calon diberi gelar “Diberkati”Beato Carlo Acutis memenuhi syarat-syarat tersebut sehingga beliau dikanonisasi menjadi Santo.  Hidupnya sungguh meneladani hidup Yesus. Bagaimana dengan orang muda katolik? menjalani hidup kudus? siapa takut ?
Selengkapnya
INFLUENCER TUHAN: INSPIRASI KAUM MUDA
Posted: 2025-09-12 | By: Josephina Zelda Gwenogia Wibowo / XII B - 14
Murid SMA Santa Ursula BSD baru saja mengikuti ibadat khusus untuk mengenang Santo Carlo Acutis, seorang remaja Katolik yang dikenal karena kecintaannya pada Ekaristi dan kepandaiannya memanfaatkan teknologi untuk mewartakan iman. Carlo Acutis, sosok anak muda milenial yang lahir dan tumbuh di dalam sebuah keluarga di Italia. Ia lahir di London, Inggris dan merupakan buah hati dari pasangan Italia, yaitu Andrea Acutis dan Antonia Salzano pada 3 Mei 1991. Carlo dibesarkan oleh orang tuanya yang terbilang tidak cukup religius di Milan, Italia. Walaupun ia tumbuh di tengah keluarga yang tidak begitu taat beribadah, nyatanya sejak kecil Carlo sudah menunjukkan ketertarikannya pada ajaran Katolik. Dia rajin berdoa Rosario dan mengikuti misa harian di gereja. Bahkan, Carlo pun sempat menyatakan bahwa Ekaristi merupakan jalan tol menuju surga. Oleh karena itulah, ia selalu menerima Sakramen Mahakudus setiap hari.Semasa hidupnya, sangat terlihat bahwa nilai-nilai ajaran Katolik telah terinternalisasi dalam diri seorang Carlo Acutis. Ketekunannya dalam berdoa dan kebiasaannya mengikuti Ekaristi pun tampaknya membuahkan dampak konkret bagi sesama. Carlo tidak jarang menunjukkan kepeduliannya terhadap anak-anak korban perundungan dan tunawisma dengan memberikan makanan serta kantong tidur kepada mereka.Tidak bisa dipungkiri bahwa Carlo Acutis yang tergolong generasi milenial hidup berdekatan dengan digitalisasi dan/atau teknologi. Ia memiliki antusiasme dalam bidang IT atau komputer. Hal itu terlihat dari ketekunannya dalam mempelajari pemrograman secara otodidak. Meski tekun mempelajari IT, fokusnya pada Ekaristi tidak pernah pudar. Bahkan, Carlo mampu menggabungkan unsur religi dan unsur teknologi dengan apik melalui situs yang ia buat. Situs tersebut berisi ajaran-ajaran Katolik dan sebagai sarana untuk mendokumentasikan berbagai mukjizat Ekaristi. Melalui situs inilah Carlo mulai melakukan penyebaran atau pewartaan mengenai iman Katolik ke seluruh dunia di era modernisasi dan digitalisasi ini. Ia sangat paham bahwa platform digital mampu memberikan dampak luar biasa terhadap kondisi global. Oleh karena itu, Carlo Acutis dijuluki Influencer Tuhan atau rasul siber.Dalam kesehariannya, Carlo mampu menyeimbangkan hal-hal yang disukainya, seperti sekolah, bermain game, sepak bola, dan IT dengan imannya akan ajaran Katolik. Sayangnya, ia harus wafat di usia yang masih sangat muda, yaitu 15 tahun pada 12 Oktober 2006 akibat penyakit leukemia. Setelah wafat, nama Carlo Acutis pun masih eksis di kalangan anak muda. Ini terbukti melalui beberapa mukjizat yang terjadi melalui perantaraan doanya. Seperti pada kasus seorang anak Brazil yang berhasil sembuh dari penyakit kelainan pankreas langka setelah berdoa melalui perantaraan Carlo Acutis. Selain itu, juga terjadi mukjizat serupa yang dialami oleh seorang siswa bernama, Kosta Rika. Ia juga sembuh dari cedera parah akibat kecelakaan. Kedua keluarga mengaku telah berdoa untuk penyembuhan anak-anak mereka dengan memohon bantuan Carlo.Dua mukjizat tersebut pun dirasa cukup untuk menjadi bukti iman dan kesucian sosok Carlo Acutis, hingga pada 10 Oktober 2020 Paus Fransiskus melakukan beatifikasi padanya. Untuk bisa diangkat menjadi orang suci atau santo (kanonisasi), terdapat tiga aspek yang harus dipenuhi, yaitu penyelidikan, venerabilis, dan beatifikasi. Carlo Acutis sudah sampai pada tahap beatifikasi. Dengan demikian, pada 7 September 2025, ia resmi diangkat menjadi seorang santo oleh Paus Leo XIV di Vatikan, sehingga menjadikan dirinya sebagai santo milenial pertama. Di usianya yang masih sangat muda serta menjadi generasi milenial pun membuat Carlo Acutis menjadi inspirasi dan bahkan idola bagi kaum muda saat ini. Carlo dapat menjadi teladan bagi anak muda, khususnya dalam hal menyeimbangkan antara hal-hal duniawi dan rohani. Kesukaannya dalam IT atau komputer, nyatanya dapat berjalan selaras dengan imannya tentang Kristus. Kita yang hidup di masa kini pun, baik itu generasi milenial, generasi Z, dan generasi-generasi lainnya diharapkan berkaca dari St. Carlo Acutis. Kita dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan berbagai tantangan yang ada dengan iman yang kuat terhadap Kristus.Ibadat mengenang Santo Carlo Acutis di SMA Santa Ursula BSD menjadi momen penting bagi para murid untuk meneladani semangat hidupnya: mencintai Ekaristi, peduli pada sesama, dan menggunakan teknologi secara bijak untuk kebaikan. Melalui doa dan kebersamaan ini, para murid diharapkan semakin menghidupi iman mereka di tengah tantangan dunia modern, sebagaimana Santo Carlo menjadi teladan inspiratif bagi generasi muda di seluruh dunia. Sumber:https://www.kompas.com/global/read/2025/09/07/185309070/siapa-santo-carlo-acutis-yang-baru-saja-dikanonisasi-paus-leo-xivhttps://www.wired.com/story/carlo-acutis-millennial-patron-saint-internet/
Selengkapnya
DARI SANTA URSULA UNTUK INDONESIA: 35 TAHUN MENGABDI, MELAYANI, DAN BERJUANG ATAS NAMA KEADILAN
Posted: 2025-09-02 | By: Jacinda Ruela Oktavia (Jessie) / XII-E / 15 | Dokumentasi oleh: Aldric / XI-C
“Santa Ursula sebagai Lembaga Pendidikan dan Perjuangannya”Santa Ursula BSD, sebagai lembaga pendidikan Katolik di bawah Yayasan Sancta Ursula dan Ordo Ursulin, telah 35 tahun hadir untuk membentuk manusia yang utuh, cerdas, dan siap melayani. Berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan iman Katolik, Santa Ursula menanamkan motto Serviam (aku melayani) dan nilai insieme (kebersamaan) sebagai inti dalam proses pendidikannya. Dengan menekankan cinta, belas kasih, integritas, dan keberanian, Santa Ursula telah berperan dalam membentuk karakter yang selaras dengan semangat kemerdekaan, yaitu kebebasan untuk berkembang dan memberi makna bagi sesama. Pendidikan, Kebutuhan Dasar dan Hak Setiap Warga NegaraPendidikan adalah hak dasar setiap warga negara dan fondasi penting dalam pembangunan bangsa. Sesuai dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, negara menjamin hak belajar minimal sembilan tahun bagi seluruh anak bangsa. Namun, realitas sosial di masyarakat menunjukkan bahwa belum semua anak mendapatkan kesempatan yang adil untuk mengakses pendidikan berkualitas. Ketimpangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan, serta antara Pulau Jawa dan luar Jawa, menunjukkan bahwa kemerdekaan dalam bidang pendidikan masih jauh dari kata tuntas. Ketidakmerataan ini juga berdampak langsung pada kesenjangan sosial dan ekonomi, di mana anak-anak dari daerah tertinggal harus berjuang lebih keras hanya untuk mendapatkan fasilitas pendidikan dasar yang memadai. Lalu marilah kita merefleksikan diri: Apakah kita benar-benar merdeka jika hak dasar untuk memperoleh pendidikan berkualitas belum dirasakan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat?Terdapat tiga contoh konkret yang mencerminkan hal ini. Pertama, banyak anak di daerah terpencil masih putus sekolah karena faktor ekonomi, jarak, dan minimnya fasilitas. Kedua, kesenjangan kualitas guru dan sarana prasarana pendidikan antara kota dan desa menyebabkan ketimpangan mutu pembelajaran. Ketiga, keterbatasan akses teknologi di luar Jawa menghambat kemampuan siswa dalam mengikuti perkembangan dunia digital dan global. Ketiga contoh nyata ini membuktikan bahwa kemerdekaan dalam bidang pendidikan belum sepenuhnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia Kemiskinan dan Pengangguran, Bentuk Nyata Ketidakadilan SosialKemerdekaan juga bukan hanya sekadar bebas dari penjajahan secara fisik, tetapi juga harus mencakup kebebasan dari ketidakadilan sosial. Namun, realitas yang ada menunjukkan bahwa dalam aspek sosial, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Ketidakadilan sosial masih terjadi dalam berbagai bentuk, seperti kesenjangan ekonomi, diskriminasi gender, termasuk ketidakmerataan akses pendidikan dan pelayanan kesehatan. Ketimpangan ini membuat sebagian besar masyarakat, terutama mereka yang berasal dari kelompok menengah ke bawah (inferior) masih sulit merasakan hak-hak dasar yang seharusnya menjadi bagian dari kemerdekaan itu sendiri, seperti kebutuhan untuk memenuhi dasar pangan, pendidikan, dan kesehatan.Perempuan, misalnya, masih menghadapi diskriminasi dalam dunia kerja dan politik. Banyak dari kaum perempuan belum memperoleh kesempatan dan upah yang setara dengan laki-laki. Kelompok minoritas dan masyarakat adat juga kerap mengalami marginalisasi, kehilangan hak atas tanah, dan kesulitan mendapatkan perlindungan hukum. Contoh nyata adalah perjuangan petani perempuan Kendeng yang mengangkat isu ketimpangan dari sudut pandang ekofeminisme, di mana perempuan menjadi kelompok terdepan dalam mempertahankan hak hidup dan lingkungan. Ini menunjukkan bahwa masih banyak lapisan masyarakat yang belum menikmati kemerdekaan sosial yang sejati. Makna Kemerdekaan yang SesungguhnyaMerdeka bukan sekadar kata yang menandai kebebasan dari penjajahan fisik, melainkan sebuah kondisi di mana setiap warga negara bebas dari penindasan, ketidakadilan, dan kemiskinan. Merdeka mencakup kebebasan seutuhnya dari segala bentuk penindasan, baik fisik maupun struktural, yang memungkinkan setiap individu memiliki kendali atas hidupnya sendiri. Dalam konteks Indonesia, kemerdekaan juga berarti terwujudnya pemerataan kesejahteraan, pendidikan berkualitas yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, dan penegakan hak asasi manusia tanpa diskriminasi. Tujuh puluh sembilan tahun telah berlalu sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, namun makna sejati kata “merdeka” masih menjadi pertanyaan besar. Dibalik kemeriahan perayaan tahunan dan kibaran Sang Merah Putih, tersembunyi realita pahit yang jauh dari cita-cita para pendiri bangsa. Ketimpangan sosial, korupsi yang mengakar, dan perjuangan sehari-hari masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar menjadi potret nyata Indonesia hari ini. Sudah waktunya kita bertanya: Sudahkah kita benar-benar merdeka?– Tria Kholifah, Realita Kemerdekaan Indonesia: Jeritan Pilu di Balik Kata “Merdeka,” lpmkeadilan.org, dipublikasikan pada 17 Agustus 2024. Meski Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, berbagai tantangan struktural seperti korupsi, ketimpangan sosial, dan kemiskinan masih menjadi penghalang besar. Kemerdekaan sejati bukanlah tujuan yang selesai dalam satu waktu, tetapi proses panjang yang menuntut keterlibatan dan perjuangan kolektif. Selama masyarakat masih harus memperjuangkan hak-haknya yang paling dasar, perlu diakui bahwa Indonesia masih belum sepenuhnya merdeka. Santa Ursula Hadir Sebagai Solusi, Mengupayakan Kemerdekaan SejatiDi tengah kompleksitas tantangan bangsa, Santa Ursula hadir sebagai lembaga pendidikan dan juga sebagai agen perubahan sosial. Selama 35 tahun keberadaannya di BSD, Santa Ursula telah membuktikan diri sebagai tempat pembinaan nilai, karakter, dan kesadaran sosial yang kuat. Dengan semangat Serviam dan insieme, sekolah ini berkomitmen membentuk pribadi yang cerdas, berintegritas, dan peduli pada sesama.Melalui pendekatan pendidikan holistik dan berbasis nilai, Santa Ursula menciptakan ruang aman dan berkualitas bagi setiap siswanya untuk tumbuh. Di samping kecerdasan intelektual, siswa juga dibentuk agar memiliki empati, kepedulian, dan semangat melayani. Dalam aspek sosial, siswa diajak terlibat langsung dalam berbagai kegiatan pelayanan masyarakat yang membentuk karakter solider dan adil. Santa Ursula mendorong siswanya untuk peka terhadap realita di sekitar, serta berani mengambil peran dalam menciptakan perubahan. Siswa tidak hanya dididik untuk menjadi unggul dalam prestasi, tetapi juga untuk membagikan ilmunya bagi kesejahteraan bersama. Proyek pengabdian, kampanye sosial, serta edukasi nilai kemanusiaan yang dilakukan siswa dan guru menjadi wujud nyata perjuangan dalam mewujudkan keadilan.Dengan nilai-nilai Santa Angela, Serviam, integritas, dan keberanian, Santa Ursula membentuk pribadi-pribadi yang tidak hanya mandiri, namun juga menjadi pembawa harapan dan keadilan di tengah masyarakat. Inilah wujud kontribusi Santa Ursula dalam mewujudkan kemerdekaan yang sejati bagi Indonesia, melalui pembentukan pribadi dan karakter yang tidak hanya mandiri, tetapi juga menjadi pembawa perubahan bagi masyarakat di sekitarnya.
Selengkapnya
Apakah Indonesia Sudah Merdeka? Sebuah Tulisan Reflektif yang Ditulis dalam Memperingati 80 Tahun Pasca Kemerdekaan Republik Indonesia
Posted: 2025-08-27 | By: Penulis: Frances Arcelia Adimartana | XII-E/13
80 tahun sudah lewat sejak Indonesia merdeka tetapi apakah sistemnya sudah merdeka dan makmur, terutama dalam hal pendidikan? Meskipun telah mengalami banyak perubahan dan upaya menuju kemerdekaan, sebenarnya pendidikan di Indonesia masih dalam proses menuju kemerdekaan yang sesungguhnya.  Dari sebelum terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, sistem pendidikan yang diterapkan di negara ini sudah memperlihatkan ketidakadilan dalam hal pendidikan, dimana perempuan lebih sulit mendapatkan akses pendidikan daripada pria. Hal ini mencerminkan bahwa kemerdekaan yang sesungguhnya bukan hanya soal pengakuan politik, tetapi juga tentang kebebasan dan keadilan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan.  Kemerdekaan pendidikan bukan hanya semata-mata bebas dari perjuangan fisik atau pengaruh asing, tetapi juga dalam hal diskriminasi, ketidakadilan, dan keterbatasan yang menghambat warga negara Indonesia untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Setiap anak, tanpa kecuali, memiliki hak untuk mendapatkan ilmu dan pendidikan yang berkualitas yang dapat membentuk karakter dan kepribadian diri. Namun, apakah pendidikan ini sudah merata dan diterima setiap warga negara yang tinggal di negara Indonesia? Persentase warga negara Indonesia yang mendapatkan ilmu berkualitas khususnya melalui pendidikan tinggi masih tercatat rendah, terdapat hanya sekitar 6-10% penduduk yang menamatkan pendidikan di perguruan tinggi. Meskipun lebih banyak penduduk yang memiliki ijazah SMA, tetapi jumlah yang melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi masih jauh lebih kecil.  Padahal, kemerdekaan dalam aspek pendidikan harusnya mampu menghapus penghalang sosial dan budaya yang selama ini membatasi akses pendidikan, khususnya bagi perempuan, kelompok marginal, dan daerah tertinggal. Merdeka berarti pendidikan seharusnya tidak menjadi privilege sebagian orang, melainkan menjadi hak dasar yang diwujudkan dalam sistem yang inklusif dan merata. Selain itu, merdeka dalam pendidikan berarti bebas dalam berekspresi, berkarya, dan berinovasi demi kebaikkan sesama dan membangun relasi yang adil dan makmur di kalangan masyarakat tanpa merasa takut dikucilkan atau dihakimi. Pendidikan yang merdeka harus membentuk generasi yang kritis, mandiri, dan bertanggung jawab, yang mampu menghadapi tantangan global sekaligus menjaga nilai-nilai luhur budaya bangsa.  Selain akses dan kualitas pendidikan, aspek penting lain dalam mewujudkan kemerdekaan pendidikan adalah kurikulum yang diterapkan sebagai panduan belajar mengajar di seluruh jenjang pendidikan. Kurikulum merupakan cerminan nilai-nilai, tujuan, dan arah pembangunan sebuah bangsa dalam konteks pendidikan. Di masa ini, sistem pendidikan sudah berkembang mengikuti alur globalisasi. Dunia mulai memanfaatkan teknologi dan lebih fleksibel dalam membangun karakter murid dan tenaga pendidik di sekolah. Kurikulum yang diterapkan sekarang, yaitu Kurikulum Merdeka, memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengeksplorasi minat, bakat, dan kreativitas sesuai dengan kebutuhan zaman.  Namun, dalam pelaksanaannya, tantangan dalam mewujudkan pendidikan yang merdeka dengan kurikulum ini masih cukup besar. Perbedaan sumber daya, ketersediaan fasilitas, dan kesiapan guru di berbagai daerah menjadi sulit untuk mengatur dan menciptakan keadilan dalam sistem pendidikan. Maka dengan itu, menurut saya, Indonesia masih perlu mengembangkan dan memahami makna kemerdekaan dari aspek pendidikan secara mendalam, kita sebagai rakyatnya diajak untuk lebih aktif berkontribusi dalam memperbaiki sistem pendidikan Indonesia. Hanya dengan pendidikan yang benar-benar merdeka dan adil, bangsa ini dapat mewujudkan kemerdekaan sejati. Kemerdekaan yang membawa kesejahteraan dan kemajuan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Selengkapnya
Menyelami Building The Future, Preserving the Legacy, Growing Together dalam Talk Show Inspiratif bersama Rosianna Silalahi
Posted: 2025-08-27 | By: Dionisius Prandra Aptaditya Bintang Tampubolon | XI-A/13
Penyelenggaraan Open Campus Santa Ursula BSD menjadi acara puncak perayaan 35 tahun kampus Santa Ursula BSD. Acara Open Campus yang mengusung tema, “Building the Future, Preserving the Legacy, and Growing Together” ini, mengajak komunitas Santa Ursula BSD, untuk bertumbuh bersama dalam membangun masa depan, dengan warisan nilai-nilai Santa Angela Merici. Ketiga tema ini diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan yang menjadi daya tarik Open Campus Santa Ursula BSD. Kegiatan pameran pendidikan yang mencerminkan Building the Future, penampilan tari kolosal yang merupakan implementasi dari tema Growing Together, serta tema Preserving The Legacy yang dikemas dalam gelar wicara inspiratif dengan narasumber Ibu Rosiana Silalahi dengan membahas warisan nilai-nilai Santa Angela. Kegiatan gelar wicara yang berlangsung selama dua jam ini, membahas dengan rinci tema Preserving The Legacy dalam berbagai sudut pandang; Ibu Rosiana Silalahi sebagai narasumber dan salah satu alumni sekolah Santa Ursula Jakarta; Moderator Ibu Nindi dan Ibu Rini sebagai perwakilan guru Sekolah Santa Ursula BSD; Penegasan alumni oleh Mahiswara Timur, Josephine Hendrianti, dan Arkie Victor Tumbelaka sebagai perwakilan Alusia (Alumni Sekolah Santa Ursula BSD); serta pembawa acara, Rafel Satrio Manglassa dan Natania Nalini Dewanto sebagai perwakilan dari murid Sekolah Santa Ursula BSD. Sesi pembahasan gelar wicara dimulai langsung dengan pengalaman pribadi Ibu Rosiana Silalahi yang secara terang-terangan dilontarkan olehnya. “Saya dulu sering sekali dipanggil oleh mendiang suster Francesco karena nakal, sering sekali diomeli oleh beliau. Sehingga saya mencoba membuktikan pada suster bahwa saya adalah anak yang melalui prestasi yang saya raih. Dari peristiwa tersebut saya malah mendapat nilai-nilai Santa Angela yang masih saya terapkan sampai sekarang” ujar Ibu Rosiana Silalahi membuka pembahasan gelar wicara. Selain dari prestasi yang diraih, Ibu Rosiana Silalahi juga sering memberikan pendapat kritisnya kepada mendiang Suster Francesco yang membuat suster sangat mempercayainya.  Ibu Rosi menjadi salah satu alumni Santa Ursula Jakarta yang mampu membawa perubahan sosial pada masyarakat. Dengan keterampilannya, Ibu Rosi seringkali diundang untuk memberikan pelatihan maupun membuka forum diskusi bersama dengan guru-guru serta murid Santa Ursula BSD. Ibu Rosi bertekad untuk terus melayani sesama dengan membawa perubahan melalui gagasan kritis yang berani ia sampaikan. Ibu Rosi sangat yakin ia dapat menjadi dirinya seperti sekarang, karena pembentukan karakter yang didapatkan dari sekolah Santa Ursula Jakarta. Menurut Ibu Rosi, sekolah Santa Ursula menjadi tempat pendidikan yang mampu mengembangkan muridnya dalam bidang akademik dan juga karakter. Sekolah Santa Ursula menjadi tempat yang cocok bagi para generasi muda untuk mengembangkan karakter mereka. Pada wawancara singkat yang dilakukan, Rosi menyampaikan bahwa tantangan terbesar generasi sekarang adalah kecenderungan mereka untuk melakukan segala sesuatu dengan instan dan tergoda untuk menggunakan Ai tanpa mencoba untuk mengembangkan kemampuan mereka. “Boleh saja kita menggunakan Ai untuk mempermudah kita, tapi jangan sampai kita lupa bahwa Tuhan telah memberikan kita akal budi dan hati nurani untuk menjadi manusia yang utuh. Karena kita tidak bisa mendapatkan keduanya dari teknologi namun kita memilikinya karena anugerah dari Tuhan”, kalimat penutup Ibu Rosi pada wawancara singkat tempo hari. Ibu Rosiana Silalahi sebagai salah satu tokoh yang memiliki potensi besar dalam dunia pers merupakan salah satu alumni Santa Ursula. Dengan bekal nilai Santa Ursula yang terus Ia pegang, yakni berdaya juang dan melayani. Rosi terus berkarya dengan pelayanan di hati tanpa melupakan pemberian paling hebat Tuhan yaitu akal budi dan hati nurani.
Selengkapnya
Deutsch ist ein Plus (Bahasa Jerman adalah Nilai Plus)
Posted: 2025-08-26 | By: Ruth Berliana - Guru Bahasa Jerman SMA Santa Ursula BSD
“Die Grenzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt - Ludwig Wittgenstein. Bahasaku adalah batas duniaku”. Di era globalisasi ini penguasaan bahasa asing bukan sekedar keterampilan berkomunikasi, melainkan juga menjadi kunci pembuka peluang di berbagai bidang. Bahasa Inggris mungkin bahasa asing yang umum dan sudah menjadi keharusan, tapi menguasai bahasa asing lainnya adalah sebuah keterampilan yang dapat menjadi nilai tambahan pada value kita; Deutsch ist ein Plus.Salah satu bahasa dengan jumlah penutur asli terbanyak di Uni Eropa adalah bahasa Jerman. Bahasa Jerman tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi di negara berbahasa Jerman seperti, Swiss, Austria, dan Lichtenstein, tetapi juga memiliki peran signifikan di kancah internasional. Dengan kemampuan berbahasa Jerman dapat membuka banyak peluang, baik dalam dunia pendidikan maupun karier. Hal ini dikarenakan negara Jerman memiliki pengaruh yang kuat tidak hanya dalam bidang bisnis, tetapi juga ilmu pengetahuan, dan teknologi. Hal tersebut menjadi salah satu dasar adanya pembelajaran bahasa Jerman di SMA Santa Ursula BSD. Proses pembelajaran bahasa Jerman di SMA Santa Ursula BSD tidak hanya sekadar belajar bahasa Jerman dengan baik dan benar, namun murid juga akan diajak untuk berkenalan dengan kebudayaan, makanan khas, dan juga sejarah Jerman. Apa yang membedakan pembelajaran bahasa Jerman di SMA Santa Ursula BSD dengan sekolah berbahasa Jerman lainnya? SMA Santa Ursula BSD bergabung bersama PASCH (Schulen: Partner der Zukunft) sejak tahun 2010. PASCH PASCH (Schulen: Partner der Zukunft) adalah sebuah inisiatif dari Kementerian Luar Negeri Jerman pada Februari 2008 yang bertujuan untuk membangun dan memperkuat jaringan sekolah di seluruh dunia yang memiliki hubungan istimewa dengan Jerman. Nama "PASCH" sendiri merupakan singkatan dari kalimat dalam bahasa Jerman yang berarti "Sekolah: Mitra Menuju Masa Depan". Pada saat ini ada 29 Sekolah PASCH yang tersebar di indonesia. Kerja sama ini memiliki banyak manfaat tidak hanya bagi sekolah, tetapi juga bagi murid. Bagi Pembelajaran, PASCH selalu up to date dalam memberikan bahan ajar yang sesuai dengan perkembangan zaman, seperti buku, smartboard, permainan, dan buku-buku cerita yang sangat bermanfaat bagi murid dalam meningkatkan kemampuan bahasa Jerman mereka. Selain itu, untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuan mengajar guru, PASCH juga memberikan pelatihan untuk guru, agar guru dapat selalu meningkatkan kemampuan pengajaran bahasa Jerman dan juga dapat menciptakan metode pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan di kelas. Pelatihan ini tidak hanya diberikan oleh ahli dari Indonesia, namun mendatangkan ahli dari Jerman dan negara lainnya. Guru juga bisa mendapatkan pelatihan yang diberikan tidak hanya di Indonesia, bahkan di Jerman secara langsung! MENARIK BUKAN?  Hal ini dilakukan agar pembelajaran bahasa Jerman lebih menyenangkan dan tidak monoton. Selain itu kami para guru diberikan juga wadah untuk saling bertukar pengetahuan yang diadakan secara rutin selama sebulan sekali, sehingga kami dapat menyegarkan pengetahuan yang kami miliki. Lalu apa manfaat yang dapat diterima murid? Murid mendapatkan kesempatan untuk lebih mengenal dan mempelajari bahasa dan negara Jerman. Berbagai pelatihan dan juga acara dapat diikuti murid SMA Santa Ursula BSD. Melalui pelatihan tersebut murid tidak hanya mendapatkan ilmu secara langsung, tetapi dapat juga dapat berkenalan dengan narasumber dan teman-teman PASCH dari sekolah lain, bahkan tidak menutup kemungkinan siswa memiliki kesempatan menjalin komunikasi dengan murid dari sekolah PASCH seluruh dunia. Murid dan guru dapat berpartisipasi dalam berbagai proyek, kompetisi, dan acara internasional melalui platform daring PASCH-net, yang menghubungkan mereka dengan komunitas PASCH global.  Para murid juga memiliki kesempatan untuk menguji kemampuan bahasa Jerman mereka dengan cara mengikuti ujian bahasa yang diadakan di Goethe Institut. Ujian yang dapat diikuti yaitu A1, A2, B1, bahkan B2. Selain itu setiap tahunnya sekolah SMA Santa Ursula BSD selalu dapat mengirimkan murid untuk mengikuti pembelajaran bahasa Jerman di negara Jerman secara langsung! Bagi kalian yang memiliki keinginan untuk Studkoll di Indonesia, PASCH juga memberikan beasiswa kepada murid yang berprestasi dan lolos seleksi. Banyak sekali kan keuntungan belajar bahasa Jerman di SMA Santa Ursula BSD. 
Selengkapnya
Kegiatan Upacara Bendera Perayaan Hari Kemerdekaan Ke-80 Republik Indonesia di Santa Ursula BSD: Dari Semangat Kebangsaan hingga Refleksi Sosial
Posted: 2025-08-20 | By: F.X Suryo Kumoro Jatie Guru Sosiologi SMA Santa Ursula BSD
Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia, Sekolah Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan upacara bendera pada hari Minggu, 17 Agustus 2025. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh peserta didik dari unit SMP dan SMA, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, serta tenaga penunjang. Upacara dimulai pada pukul 07.00-08.00 WIB dengan rangkaian prosesi yang berjalan tertib dan penuh semangat nasionalisme. Para petugas upacara yang berasal dari peserta didik SMP dan SMA menampilkan kedisiplinan dan rasa tanggung jawab yang tinggi, mencerminkan nilai cinta tanah air yang senantiasa ditanamkan dalam lingkungan pendidikan Santa Ursula BSD.Kegiatan upacara Kemerdekaan Indonesia pada tahun ini sebagai pembina upacara yaitu Bapak Antonius Yanto (Pak Yanto) dari Unit SD. Dalam amanatnya, beliau menyampaikan pesan yang unik namun sarat makna. Beliau mengangkat fenomena sosial dari dunia maya yang sedang populer, yaitu pengibaran bendera Jolly Roger dari anime One Piece di masa perayaan Kemerdekaan Indonesia ke-80 tahun.Pak Yanto menjelaskan bahwa fenomena tersebut bukan hanya ekspresi hiburan saja, melainkan bisa dipahami sebagai bentuk kritik sosial terhadap berbagai dinamika sosial yang terjadi dalam masyarakat di Indonesia. Melalui makna simbolik tersebut, peserta didik diajak untuk melihat lebih tahan bagaimana simbol-simbol budaya populer mampu menjadi sarana refleksi/kritik terhadap realitas sosial di Indonesia, seperti persoalan kesejahteraan masyarakat,  hingga tantangan dalam membangun persatuan.Pesan yang disampaikan Pak Yanto memberikan sudut pandang baru bagi para peserta didik bahwa semangat kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai simbol historis dan sebatas euforia semata, tetapi juga sebagai dorongan untuk terus memiliki kepekaan terhadap isu-isu sosial yang berkembang di sekitar kita.  Upacara bendera Perayaan Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia di Santa Ursula BSD menjadi momen refleksi bersama. Selain memperingati perjuangan para pahlawan bangsa, kegiatan ini juga mempertegas pentingnya keterlibatan seluruh elemen civitas akademika Santa Ursula BSD dari peserta didik, guru, karyawan, hingga staf penunjang dalam menumbuhkan rasa cinta tanah air.Dengan pesan inspiratif terkait menangkap fenomena sosial yang dibawakan oleh Pak Yanto, perayaan kemerdekaan tahun ini tidak hanya meninggalkan kesan khidmat, tetapi juga menghadirkan reflektif mendalam tentang hubungan antara nasionalisme, dinamika sosial, dan peran generasi muda dalam membangun Indonesia yang lebih baik.
Selengkapnya
PEMERIKSAAN KESEHATAN MENUJU KEGIATAN OUTWARD BOUND INDONESIA
Posted: 2025-08-16 | By: Gabriela Giselle Putri Atmaka / XI-A, Brian Aurey Saputra / XI-C
Selasa, 12 Agustus 2025 - Dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan Outward Bound Indonesia (OBI) yang akan berlangsung pada bulan September, Para murid kelas XI SMA Santa Ursula BSD mengikuti tes kesehatan sebagai prosedur wajib untuk memastikan kondisi fisik yang prima. Persiapan ini dilakukan jauh-jauh hari dalam rangka menjamin kelancaran kegiatan, sekaligus memastikan seluruh peserta dapat mengikuti rangkaian  kegiatan dengan lancar, aman dan memberikan pengalaman belajar terbaik bagi seluruh peserta.Untuk memenuhi standar kesehatan pelaksanaan OBI, pihak OBI menugaskan tiga orang dokter yaitu Dokter Gunawan, Dokter Fara dan Dokter Ratna. Mereka bertugas untuk memeriksa kondisi kesehatan dan fisik murid secara detail. Selain menugaskan dokter, pihak OBI juga meminta bantuan beberapa pekerja medis untuk membantu mengukur tekanan darah. Selain pemeriksaan tekanan darah menggunakan tensimeter, pemeriksaan kesehatan juga meliputi beberapa tes seperti pemeriksaan suhu dan pernapasan, pemeriksaan mata dan mulut serta pemeriksaan fisik. Setelah melakukan pemeriksaan fisik, para dokter juga menanyakan beberapa pertanyaan untuk memastikan kondisi murid, seperti alergi dan lain-lain. Semua hasil pemeriksaan dokter dicatat dalam form pemeriksaan kesehatan OBI milik setiap murid. Sebelum pemeriksaan kesehatan dilakukan, para murid yang memiliki kondisi medis tertentu, diminta untuk membawa surat rekaman medis atau surat keterangan dokter apabila pernah melakukan pemeriksaan medis tertentu. Dokumen tersebut berfungsi sebagai sebuah lampiran untuk membantu para dokter dalam melihat kondisi fisik dan medis para murid. Surat tersebut juga menjadi bahan pertimbangan dokter apabila murid tertentu dapat memenuhi standar kesehatan untuk mengikuti kegiatan OBI. Salah satu murid, Zsazsa XI-A, membagikan pengalamannya saat membawa dokumen tersebut. Ia menjelaskan bahwa proses pemeriksaan difokuskan pada pertanyaan mengenai kondisi medisnya. “Jadi sempat dilihat dulu, kira-kira saya punya riwayat penyakit apa saja. Semua dicatat, lalu saya ditanya apakah memiliki alergi, apa yang biasanya memicu penyakit muncul, dan juga tentang pola hidup saya,”. Zsazsa menambahkan bahwa pada saat itu ia tidak menjalani pemeriksaan fisik, melainkan hanya menyerahkan surat keterangan medis dan menjawab pertanyaan dari dokter. Proses tersebut, menurutnya, membantu dokter memperoleh gambaran yang jelas mengenai kondisi kesehatannya tanpa perlu melakukan pemeriksaan tambahan yang tidak diperlukan.Pemeriksaan kesehatan dalam rangka persiapan OBI memberikan pengalaman yang positif bagi para siswa SMA Santa Ursula BSD. Galuh XI-F, mengaku merasa jauh lebih tenang setelah mengetahui kondisi tubuhnya dengan jelas. “Puji Tuhan hasilnya baik-baik saja,” ujarnya, sambil menambahkan bahwa awalnya ia sempat deg-degan membayangkan proses pemeriksaan, namun ternyata prosesnya mudah dan tidak seseram yang dibayangkan. Para dokter dan tenaga medis yang ramah dan profesional membuat suasana pemeriksaan tertib dan nyaman. Hal senada disampaikan Nayra dari kelas XI-A, yang merasa senang karena suasana pemeriksaan berlangsung nyaman dan bermanfaat untuk memastikan kondisi kesehatan siswa memenuhi kriteria mengikuti OBI. Sementara itu, Chelsa dari kelas XI-C sempat merasa cemas karena khawatir akan adanya pemeriksaan seperti tes darah. Kekhawatiran itu hilang setelah mengetahui bahwa prosesnya sangat cepat dan ditangani secara profesional. “Membuat saya nyaman untuk menceritakan beberapa kondisi yang terjadi di tubuh saya, dokternya pun sangat ramah sehingga dapat berkomunikasi dengan baik,” ungkapnya. Chelsa juga merasa antusias mengikuti tes kesehatan ini, terlebih mengingat kegiatan OBI sudah semakin dekat.Melalui pemeriksaan kesehatan ini, SMA Santa Ursula BSD dan pihak OBI dapat memastikan kondisi fisik para murid dalam pelaksanaan kegiatan OBI. Hal ini juga dapat membantu memastikan kelancaran pelaksanaan kegiatan OBI dan juga untuk keamanan dan keselamatan para murid. Harapannya, seluruh peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan OBI dengan kondisi tubuh yang sehat dan semangat. Para murid juga disarankan untuk mulai persiapan secara fisik dari rumah seperti berolahraga dan menjaga pola hidup. Kegiatan OBI di bulan September mendatang diharapkan menjadi pengalaman belajar yang berkesan dan membentuk bagi para murid.
Selengkapnya
"ASSEMBLY MEETING: MENYALAKAN SEMANGAT SERVIAM SEJAK PAGI"
Posted: 2025-08-16 | By: Veronika Minarsih, Guru Ekonomi SMA Santa Ursula BSD
Barisan murid berjajar dengan rapi di Hall SMP SMA Santa Ursula BSD. Suasana khidmat penuh semangat terdengar melalui lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan oleh seluruh murid dan Bapak Ibu guru yang berkumpul di Hall SMP SMA Santa Ursula BSD.  Pagi itu, Hall SMP SMA Santa Ursula BSD menjadi ruang interaksi antara Kepala Sekolah dengan murid SMA Santa Ursula BSD. Kegiatan rutin ini disebut Assembly Meeting, sebagai kegiatan penuh makna untuk mempersiapkan hati dan pikiran murid dalam menjalani proses pembelajaran di SMA Santa Ursula BSD. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 06.55 hingga kurang lebih pukul 07.20 WIB dan dihadiri oleh seluruh murid per jenjang sesuai jadwal serta Bapak Ibu guru baik yang mengajar pada jenjang tersebut maupun yang tidak mengajar pada jam pertama. Assembly Meeting bukan sekadar seremoni pembuka hari, namun menjadi salah satu proses pembentukan karakter murid sebagai manusia utuh, cerdas, dan melayani sesuai nilai-nilai Serviam. Rangkaian Kegiatan yang Penuh MaknaAssembly Meeting diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan khidmat oleh seluruh peserta Assembly Meeting sebagai wujud kecintaan dan penghormatan kepada tanah air. Kemudian Kepala Sekolah membacakan teks Pancasila yang diikuti oleh seluruh peserta Assembly Meeting sebagai komitmen bersama untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan persatuan.Amanat Kepala Sekolah menjadi bagian inti dalam Assembly Meeting. Kepala Sekolah menyampaikan refleksi dan motivasi yang relevan dengan kehidupan para murid. Tema-tema yang diangkat terkait dengan enam nilai serviam yaitu: Cinta dan Belas Kasih, Integritas, Keberanian dan Ketangguhan, Persatuan, Totalitas, dan Pelayanan. Tema tersebut disampaikan secara beragam dengan menggunakan kisah-kisah inspiratif atau refleksi singkat yang mengajak murid untuk senantiasa tumbuh menjadi pribadi yang sesuai dengan keenam nilai Serviam. Amanat ini bukan sekadar nasihat, tetapi ajakan untuk bertumbuh menjadi manusia yang utuh: berpikir kritis, berperilaku etis, dan berjiwa Serviam. Setelah amanat, Kepala Sekolah memimpin doa bersama mohon bimbingan Tuhan dalam menjalani hari dengan semangat. Doa ini menjadi momen hening yang menyatukan hati seluruh peserta Assembly Meeting.Menguatkan Komitmen melalui Janji Siswa dan Lagu Mars ServiamSetelah amanat dan doa, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan Janji Siswa oleh murid yang bertugas. Janji ini berisi komitmen untuk menjalankan kewajiban sebagai pelajar dengan penuh tanggung jawab, belajar dengan sungguh-sungguh, menghormati guru dan sesama, serta menjaga nama baik sekolah. Janji ini bukan hanya diucapkan, tetapi dihayati sebagai bagian dari identitas murid SMA Santa Ursula.Sebagai penutup, seluruh peserta assembly meeting menyanyikan lagu wajib nasional dan Mars Serviam. Lagu Mars Serviam sebagai lagu kebanggaan SMA Santa Ursula BSD dinyanyikan dengan penuh semangat yang mencerminkan semangat pelayanan dalam setiap langkah kehidupan dan mengingatkan setiap murid untuk senantiasa menjadi cahaya bagi sesama.Lebih dari Rutinitas: Sebuah Budaya Pembentukan KarakterAssembly Meeting bukan sekadar rutinitas mingguan. Kegiatan ini merupakan cerminan budaya sekolah yang menempatkan pembentukan karakter sebagai inti dari pendidikan. Melalui kegiatan ini, SMA Santa Ursula BSD menanamkan nilai-nilai Serviam secara konsisten dan bermakna. Kehadiran Kepala Sekolah sebagai pemimpin kegiatan, keterlibatan aktif murid dalam berbagai peran, serta suasana yang khidmat dan penuh semangat menjadikan Assembly Meeting sebagai salah satu pilar pembentukan lingkungan sekolah yang humanis dan transformatif.Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk menjadi lebih baik, baik dalam akademik maupun kehidupan. Melalui Assembly Meeting yang dimulai secara tertib dan penuh makna, diharapkan murid SMA Santa Ursula BSD dapat menjalani aktivitas belajar dengan semangat dan integritas yang tinggi.Serviam…Serviam…Tetap Teguh Serviam!
Selengkapnya