Dari SMA Santa Ursula BSD ke Jerman: Joane Arachel Saputra Raih Beasiswa Jugendkurs PASCH 2026
Posted: 2026-03-12 | By: Ruth Berliana (Guru Jerman Intensif SMA Santa Ursula BSD)
SMA Santa Ursula BSD kembali mencatatkan prestasi membanggakan melalui salah satu murid. Joane Arachel Saputra, murid kelas XB SMA Santa Ursula BSD, berhasil meraih Beasiswa Jugendkurs Stipendium yang diselenggarakan oleh PASCH Indonesien. Melalui program ini, Joane akan mendapatkan kesempatan berharga untuk mengikuti kursus remaja di Jerman tepatnya di kota Benediktbeuern pada tanggal 5-25 Juli 2026 bersama para pelajar dari berbagai negara.Beasiswa Jugendkurs merupakan program yang ditujukan bagi murid dari sekolah-sekolah yang tergabung dalam jaringan PASCH (Schulen: Partner der Zukunft). Program ini memberikan kesempatan kepada para pelajar untuk memperdalam kemampuan bahasa Jerman sekaligus mengenal budaya Jerman secara langsung. Selain mengikuti kegiatan pembelajaran bahasa, para peserta juga akan terlibat dalam berbagai aktivitas yang memperkaya wawasan global, seperti diskusi lintas budaya, kegiatan kelompok, serta kunjungan edukatif.Proses seleksi untuk mendapatkan beasiswa ini berlangsung melalui beberapa tahap dan diikuti oleh peserta dari berbagai sekolah PASCH di Indonesia. Pada tahap awal, seluruh peserta mengikuti tes tertulis yang diselenggarakan pada 3 dan 6 Februari 2026. Pada tahun ini tercatat sebanyak 244 peserta mengikuti tahap seleksi tersebut. Para peserta menunjukkan kemampuan mereka dalam memahami bahasa Jerman sekaligus mengerjakan berbagai bentuk soal yang menguji pemahaman bahasa secara menyeluruh.Dari jumlah tersebut, dipilih 29 peserta terbaik yang mewakili 29 sekolah PASCH untuk melanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu tes lisan yang dilaksanakan pada 26 Februari 2026. Pada tahap ini, para peserta diuji kemampuan komunikasi mereka dalam bahasa Jerman, termasuk kemampuan menyampaikan gagasan serta menjawab pertanyaan untuk memastikan level kemampuan bahasa Jerman siswa tersebut.Melalui proses seleksi yang kompetitif tersebut, akhirnya ditentukan 15 peserta terbaik yang berhak menerima Beasiswa Jugendkurs PASCH 2026. Joane Arachel Saputra menjadi salah satu murid yang berhasil lolos sebagai penerima beasiswa tersebut dengan urutan ke 4 dari 15 peserta. Pencapaian ini tentu menjadi kebanggaan tidak hanya bagi Joane, tetapi juga bagi seluruh komunitas SMA Santa Ursula BSD.Keberhasilan Joane menunjukkan bahwa proses belajar bahasa asing membutuhkan ketekunan, konsistensi, serta keberanian untuk terus mencoba dan berkembang. Mempelajari bahasa Jerman tidak hanya berkaitan dengan penguasaan kosakata atau tata bahasa, tetapi juga membuka kesempatan untuk memahami budaya baru serta membangun komunikasi dengan masyarakat dari latar belakang yang berbeda.Program kursus remaja di Jerman yang akan diikuti Joane nantinya tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan bahasa. Para peserta juga akan mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk memperluas wawasan global dan membangun pengalaman belajar yang bermakna. Melalui interaksi dengan peserta dari berbagai negara, para pelajar diharapkan dapat mengembangkan sikap terbuka, kemampuan bekerja sama, serta pemahaman terhadap keberagaman budaya.Pengalaman belajar di luar negeri seperti ini menjadi kesempatan yang sangat berharga. Selain meningkatkan keterampilan bahasa, pengalaman tersebut juga membantu membangun kemandirian, rasa percaya diri, serta kemampuan beradaptasi dalam lingkungan baru. Hal-hal ini merupakan bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan dunia yang semakin terhubung secara global.Prestasi yang diraih Joane juga mencerminkan semangat pembelajaran di SMA Santa Ursula BSD yang mendorong para murid untuk terus mengembangkan potensi diri. Sekolah memberikan ruang bagi para murid untuk belajar, berprestasi, serta memperluas pengalaman melalui berbagai kesempatan akademik maupun kegiatan internasional.Segenap keluarga besar SMA Santa Ursula BSD menyampaikan selamat dan apresiasi kepada Joane Arachel Saputra atas prestasi yang telah diraih. Semoga pengalaman mengikuti Program Jugendkurs PASCH di Jerman dapat menjadi langkah berharga dalam perjalanan pendidikan dan pengembangan diri Joane di masa depan. Prestasi ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi para murid lainnya untuk terus belajar, berani mencoba peluang baru, serta mengembangkan potensi terbaik yang dimiliki.
Selengkapnya
Latihan Dasar Kepemimpinan Badan Pengurus OSIS Periode 2026: Menumbuhkan Pribadi Berdaya Juang, Tulus, dan Tuntas
Posted: 2026-02-28 | By: FX. Suryo Kumoro Jatie
Selama tiga hari, Senin-Rabu, 23-25 Februari 2026, Aula Kampus Santa Ursula BSD diubah menjadi ruang pembentukan karakter bagi Badan Pengurus OSIS SMA Santa Ursula BSD. Sejak pukul 07.00 hingga 15.00 WIB, sebanyak 34 anggota Badan Pengurus OSIS Periode 2026 menjalani proses yang tidak sekadar melatih keterampilan organisasi, tetapi menantang cara berpikir, cara berkomunikasi, dan cara memaknai kepemimpinan.Di bawah pendampingan tim Care for Excellent Life’s Directions (CELD) bersama Kak Ollyn, Kak Guntur, dan Kak Gandhi, serta didampingi oleh Pembina OSIS Pak Oky dan Pak Suryo, dan Kepala Sekolah Bapak Catur Agus Sancoko serta Ibu Fransisca Erijani Rosari, selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) BP OSIS tahun ini diarahkan sebagai organisasi yang utuh secara intelektual, emosional, dan karakter. Tema yang diusung, “Pribadi Berdaya Juang: Tulus, Tuntas, dan Totalitas”, bukan sekadar slogan. Tema itu dihidupi dalam setiap dinamika pelatihan selama tiga hari tersebut.Hari pertama tidak langsung berbicara tentang program atau jabatan. Para peserta justru diajak menyelami pertanyaan-pertanyaan sederhana: Apa kesamaan kita? Mengapa kita memilih divisi di OSIS adalah ini... Apa yang sebenarnya kita cari dalam OSIS ini?Dari pertanyaan personal tentang kesukaan, nilai hidup, hingga harapan terhadap organisasi, perlahan terbangun kesadaran bahwa mereka bukan sekadar individu dengan seksi masing-masing, melainkan satu tubuh kepengurusan. Sesi wawasan organisasi membuka pemahaman bahwa struktur bukan sekadar pembagian kerja, melainkan sistem kepercayaan. Setiap orang memiliki peran yang sama pentingnya. Kegiatan ditutup dengan permainan tim, sebagai wujud penyatuan visi di hari pertama pelatihan.Hari kedua masuk lebih dalam dan berfokus pada membangun kedewasaan berpikir. Organisasi, sebagaimana ditegaskan dalam sesi hari kedua, berdiri di atas komunikasi. Namun komunikasi bukan sekadar pesan yang sampai, melainkan cara pesan itu disampaikan. Gestur, nada suara, ekspresi wajah, semuanya memengaruhi organisasi.Peserta mulai menyadari bahwa menjadi pemimpin berarti mampu memimpin diri sendiri terlebih dahulu. Selain itu pelatihan ini menekankan pada menjaga semangat ketika lelah dan banyak tekanan. Mengatur “battery” semangat agar tidak padam sampai akhir kepengurusan selesai. Kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling keras berbicara, tetapi siapa yang paling konsisten bertanggung jawab. Memasuki sesi penyusunan kerangka berpikir program kerja, idealisme mulai diuji oleh realitas. Program tidak boleh hanya besar dalam gagasan, tetapi harus realistis. Diskusi terlihat menjadi lebih serius. Ada ide-ide ambisius yang harus dipertimbangkan ulang. Ada gagasan kreatif yang perlu disederhanakan agar dapat diwujudkan. Di sinilah peserta belajar bahwa tuntas berarti mampu menyelesaikan sesuatu dengan perhitungan matang, bukan sekadar semangat sesaat.Sore hari, berbagai simulasi pembangunan karakter kembali diuji dengan game kekompakan. Berjalan dengan mata tertutup dari aula menuju lapangan, dengan satu rekan sebagai penunjuk arah, melatih kepercayaan dan kepekaan. Permainan memindahkan bola dengan tali menuntut koordinasi dan kesabaran. Sementara mempertahankan lilin dari serangan bom air menjadi simbol menjaga komitmen di tengah gangguan dan tekanan.Hari ketiga menjadi puncak proses. Fokus diarahkan pada manajemen organisasi melalui simulasi rapat penyusunan program kerja BP OSIS Periode 2026. Dalam simulasi tersebut, peserta menjalankan rapat sebagaimana kondisi nyata kepengurusan. Mereka membahas program kerja yang akan dijalankan selama satu periode, dengan mempertimbangkan efektivitas, prioritas, dan kesinambungan kegiatan. Dinamika langsung terasa: ada perbedaan pendapat, ada gagasan yang saling bersaing, ada momen ketika keputusan harus diambil. Simulasi ini bukan untuk mencari siapa yang paling benar, melainkan untuk melihat bagaimana komunikasi dijaga, bagaimana delegasi dilakukan, dan bagaimana keputusan diambil secara kolektif. Selain itu, melalui simulasi membuat kegiatan sederhana digunakan untuk melatih arah struktur komunikasi dan instruksi dalam BP OSIS. Dengan diberikan tantangan membuat dekorasi momen Kebangkitan Yesus dengan barang-barang yang tersedia di aula. Dalam kegiatan ini pengurus OSIS kembali diuji dalam hal kreativitas, adaptif, pembagian tugas, dan kepemimpinan situasional. Ketika waktu terbatas dan sumber daya sederhana, kepemimpinan diuji dalam praktik, bukan teori. Kegiatan ini menegaskan bahwa organisasi bukan sekadar konsep di atas kertas. Tetapi hidup dalam kegiatan diskusi, perbedaan pendapat, dan kemampuan untuk tetap bergerak maju bersama. Ada kutipan menarik yang saya temukan dalam pelatihan ini, “Berjuang untuk menjadi pemenang itu seperti melawan arus, jika kamu tidak maju, kamu akan didorong mundur.” Kalimat ini menjadi benang merah seluruh rangkaian LDK BP OSIS Periode 2026. Daya juang bukan sekadar keberanian di awal, melainkan konsistensi untuk terus maju meskipun lelah, berbeda pendapat, atau menghadapi keterbatasan. Dari pelatihan ini lahir komitmen baru, menjadi pribadi yang tulus dalam niat melayani, tuntas dalam menyelesaikan tanggung jawab, dan total dalam menghidupi setiap amanah yang dipercayakan. Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang seberapa tinggi posisi yang dipegang, tetapi seberapa kuat karakter yang dibangun. Dokumentasi: Tim Dokumentasi Kegiatan
Selengkapnya
Perjalanan Pelayanan Murid Santa Ursula BSD di Sibolga: Belajar Ketangguhan dari Korban Bencana
Posted: 2026-02-26 | By: Abraham Abhimanyu (XA/1) dan Mikaela Anandita Wardhana (XC/26)
Semangat Serviam diwujudkan secara nyata oleh murid SMA Santa Ursula BSD melalui kegiatan pelayanan kemanusiaan di wilayah Keuskupan Sibolga, Sumatera Utara. Selama enam hari, 26–31 Januari 2026, sepuluh murid bersama dua guru pendamping hadir untuk membantu pemulihan pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda kawasan tersebut. Kegiatan ini tidak hanya menjadi aksi solidaritas, tetapi juga pengalaman pembelajaran hidup yang mendalam bagi para murid.Perjalanan dimulai dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Raja Sisingamangaraja XII, dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju Kota Pandan, Tapanuli Tengah. Sepanjang perjalanan, rombongan menyaksikan langsung dampak bencana: perbukitan yang longsor, rumah warga yang hilang, serta jalanan yang rusak. Namun di tengah situasi tersebut, terlihat pula semangat warga yang tetap berjuang melanjutkan kehidupan, termasuk anak-anak yang tetap bersekolah dengan keterbatasan.Selama di Sibolga, para murid tinggal di Biara OSF San Damiano dan Seminari Menengah Santo Petrus. Kegiatan diawali dengan pengenalan lingkungan terdampak bencana, dilanjutkan dengan pelayanan di SMA Santo Fransiskus. Para murid berinteraksi dengan para murid setempat melalui kegiatan perkenalan, berbagi cerita, permainan, serta kerja bakti membersihkan ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, dan lapangan sekolah yang masih dipenuhi lumpur. Antusiasme dan ketangguhan murid setempat menjadi pengalaman berharga yang menguatkan makna pendidikan sebagai harapan di tengah keterbatasan.Pada hari-hari berikutnya, relawan dari sekolah SMA Santa Ursula BSD dan SMA Santa Ursula Jakarta menyalurkan donasi perlengkapan sekolah ke berbagai lokasi, termasuk sekolah darurat di Hutanabolon, TK Don Bosco, SD St. Fransiskus, serta Gereja Stasi Kristus Raja di Huta Godang. Di lokasi-lokasi tersebut, murid SMA Santa Ursula BSD bersama SMA Santa Ursula Jakarta mengadakan kegiatan bermain, bernyanyi, dan belajar bersama anak-anak. Kehadiran mereka disambut hangat oleh masyarakat, sekaligus menjadi sarana pemulihan psikososial bagi anak-anak terdampak bencana.Guru pendamping, Bapak Hieronimus Yuwan Pratama, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pembelajaran kontekstual yang menanamkan empati, kepedulian sosial, dan semangat melayani. “Para murid tidak hanya memberi, tetapi juga belajar dari ketangguhan masyarakat yang tetap tersenyum dan berjuang membangun kembali kehidupan,” ujarnya.Melalui pengalaman ini, para murid menyadari bahwa pelayanan bukan sekadar memberikan bantuan materi, melainkan juga membangun relasi, menghadirkan harapan, dan belajar mensyukuri kehidupan. Nilai kesederhanaan, kerja sama, dan keberanian untuk bangkit dari keterpurukan menjadi pelajaran utama yang mereka bawa pulang.Kegiatan pelayanan di Sibolga menjadi bukti nyata komitmen SMA Santa Ursula BSD dalam membentuk pribadi yang peduli, tangguh, dan siap melayani sesama. Semangat serviam yang dihidupi dalam pengalaman ini diharapkan terus bertumbuh dalam kehidupan sehari-hari para murid. Dokumentasi: Bapak Hieronimus Yuwan Pratama (Guru Pendamping)
Selengkapnya
Dari Riset ke Prestasi: Murid Kelas XII Tampilkan Karya Tulis Ilmiah Berbasis Nilai Serviam
Posted: 2026-02-20 | By: Dominique Charlotte Edeline XII-G/03
Kegiatan penulisan karya tulis ilmiah murid kelas XII berlangsung dengan lancar pada Rabu, 11 Februari 2026. Kegiatan ini merupakan kolaborasi lintas mata pelajaran, yaitu Bahasa Indonesia, Sosiologi, Fisika, Biologi, dan Kimia, sekaligus menjadi ajang perlombaan antarkelompok. Seluruh murid melakukan penelitian sesuai bidang yang dipilih dan menyusunnya dalam bentuk jurnal ilmiah secara sistematis. Proses ini menjadi pengalaman akademik yang bermakna serta melatih kesiapan murid dalam menghadapi tantangan pembelajaran berbasis riset.Penyusunan karya tulis ilmiah dilaksanakan sejak akhir Agustus 2025 hingga Februari 2026 melalui tahapan yang terstruktur dan mandiri. Murid menyusun latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, metode, pengumpulan data, hingga analisis hasil penelitian dengan pendampingan guru mata pelajaran. Selain itu, murid juga memperoleh pembekalan teknik penulisan ilmiah sesuai kaidah Bahasa Indonesia serta wawasan tambahan melalui seminar jurnal ilmiah yang menghadirkan Bapak Dr. Alexander Joseph Ibnu Wibowo, seorang dosen dari Universitas Prasetiya Mulya. Bekal tersebut membantu murid memahami proses penelitian secara lebih mendalam dan aplikatif.Berbagai tantangan dihadapi murid dalam menentukan topik, mengolah data, hingga menyusun laporan secara sistematis. Melalui diskusi kelompok, murid belajar untuk saling mendengarkan, menghargai perbedaan pendapat, dan mencari solusi bersama. Pengalaman ini menumbuhkan sikap tanggung jawab, ketekunan, serta kemampuan berpikir kritis dan terstruktur. Nilai-nilai tersebut mencerminkan semangat Serviam yang menekankan kerja sama, kepedulian, dan integritas dalam proses belajar.Puncak kegiatan ditandai dengan presentasi hasil penelitian di hadapan guru penguji dan audiens. Setiap kelompok memaparkan hasil karya ilmiah sekaligus menjawab pertanyaan sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik. Presentasi dilaksanakan di beberapa ruang sesuai bidang kajian, dan dari setiap ruang dipilih kelompok terbaik sebagai pemenang lomba karya tulis ilmiah. Suasana kompetitif yang sehat mendorong murid untuk menampilkan hasil terbaik sekaligus saling mengapresiasi karya satu sama lain.Melalui kegiatan ini, murid tidak hanya memperoleh pemahaman tentang metode ilmiah, tetapi juga belajar mengatur waktu, bekerja secara kolaboratif, dan berani keluar dari zona nyaman. Pengalaman tersebut sejalan dengan nilai Serviam Sekolah Santa Ursula BSD, yaitu semangat melayani dengan kerendahan hati, ketekunan, dan komitmen untuk memberikan yang terbaik. Diharapkan kegiatan ini menjadi bekal bagi murid untuk terus berkarya, berpikir solutif, dan berkontribusi positif bagi masyarakat.Dokumentasi oleh : Johanes Aldric Darmawan / XI-C/15 dan Brian Aurey Saputra / XI-C/04
Selengkapnya
Menyusuri Dunia Industri Bersama PT Amerta Indah Otsuka
Posted: 2026-02-10 | By: Eka Setiawan Guru Bahasa Indonesia
Sebagai bagian dari penguatan pembelajaran kontekstual dan pengembangan wawasan karier, murid kelas XI melaksanakan kegiatan kunjungan industri ke PT Amerta Indah Otsuka, perusahaan yang bergerak di bidang industri minuman sehat. Kegiatan ini dilaksanakan dalam dua gelombang, yaitu gelombang pertama pada Kamis, 22 Januari 2026, dan gelombang kedua pada Jumat, 6 Februari 2026, dengan didampingi oleh para guru pendamping.Kunjungan industri ini dirancang sebagai kegiatan pembelajaran kolaboratif lintas mata pelajaran, yang melibatkan Bahasa Indonesia, Informatika, Ekonomi, Fisika, dan Kimia. Dengan demikian, murid tidak hanya melakukan kunjungan observatif, tetapi juga belajar mengaitkan teori yang diperoleh di kelas dengan praktik nyata di dunia industri.PT Amerta Indah Otsuka dikenal sebagai produsen berbagai minuman sehat, di antaranya minuman isotonik Pocari Sweat dalam berbagai kemasan, serta Oronamin C, minuman suplemen yang telah lama dikenal masyarakat. Perusahaan ini merupakan bagian dari Otsuka Pharmaceutical Group asal Jepang yang telah beroperasi di Indonesia dengan komitmen tinggi terhadap kualitas, inovasi, dan keberlanjutan.Setibanya di lokasi pabrik, murid tidak langsung memasuki area produksi. Kegiatan diawali dengan sesi pengenalan perusahaan dan produk melalui permainan interaktif yang dipandu oleh tim PT Amerta Indah Otsuka. Melalui permainan tersebut, murid dikenalkan pada jenis produk, fungsi minuman bagi tubuh, serta nilai-nilai yang dipegang perusahaan dalam mengembangkan produk kesehatan. Suasana kegiatan berlangsung santai dan menyenangkan, sekaligus membangun antusiasme murid untuk mengikuti rangkaian kegiatan selanjutnya.Dalam sesi pemaparan, murid dikenalkan pada prinsip open factory yang menjadi ciri khas PT Amerta Indah Otsuka. Prinsip ini menegaskan keterbukaan perusahaan dalam memperlihatkan proses produksi kepada publik sebagai bentuk edukasi dan transparansi. Selain itu, murid juga mendapatkan penjelasan mengenai penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang menjadi prioritas utama perusahaan.Sebelum memasuki area produksi, murid mendapatkan penjelasan mengenai rambu-rambu keselamatan dan prosedur kerja yang harus dipatuhi oleh seluruh karyawan PT Amerta Indah Otsuka. Dari sini, murid belajar bahwa disiplin dan kepatuhan terhadap aturan merupakan bagian penting dalam dunia industri.Saat mengunjungi area produksi, murid menyaksikan secara langsung tahapan pembuatan minuman, mulai dari pengolahan bahan baku, proses pencampuran, pengemasan otomatis, hingga pengendalian mutu. Proses ini menjadi sarana pembelajaran lintas mata pelajaran. Dari sisi Kimia dan Fisika, murid memahami proses pencampuran, pengukuran, serta prinsip kerja mesin. Dari sisi Ekonomi, murid belajar mengenai efisiensi produksi, manajemen kualitas, dan skala industri. Sementara itu, Informatika berperan dalam pemanfaatan teknologi dan sistem otomatisasi, serta Bahasa Indonesia dalam melatih murid menyusun laporan, menulis hasil observasi, dan menyampaikan informasi secara runtut dan komunikatif.Selain proses produksi, PT Amerta Indah Otsuka juga menekankan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan. Murid mendapatkan penjelasan mengenai pengelolaan air, pengolahan limbah, serta upaya efisiensi energi yang dilakukan perusahaan. Berkat konsistensinya, PT Amerta Indah Otsuka telah menerima berbagai penghargaan di bidang konservasi air dan K3, yang menunjukkan keseriusan perusahaan dalam menjalankan industri yang berkelanjutan.Nilai-nilai yang diperoleh dalam kunjungan ini sejalan dengan nilai Serviam yang menjadi landasan pendidikan di Sekolah Santa Ursula BSD. Melalui kegiatan ini, murid diajak untuk belajar melayani dan bertanggung jawab, tidak hanya terhadap diri sendiri, tetapi juga terhadap sesama dan lingkungan. Disiplin dalam bekerja, kepedulian terhadap keselamatan, serta komitmen menjaga lingkungan menjadi wujud nyata dari semangat Serviam dalam konteks dunia industri.Kunjungan industri ke PT Amerta Indah Otsuka memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi murid kelas XI. Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan faktual tentang dunia kerja, tetapi juga mengembangkan sikap kritis, reflektif, dan bertanggung jawab. Melalui pembelajaran langsung ini, diharapkan murid mampu memaknai proses belajar sebagai bekal untuk menjadi pribadi yang unggul, peduli, dan siap berkontribusi bagi masyarakat di masa depan.
Selengkapnya
Perjalanan Melewati Batas Diri Bersama Outward Bound Indonesia (OBI)
Posted: 2026-02-03 | By: Marcel Ecxel Ignatius Bulele, Guru Bahasa Indonesia
Kegiatan Outward Bound Indonesia (OBI) yang diikuti oleh murid kelas XI SMA Santa Ursula BSD pada tanggal 19–24 Januari 2026 menjadi sebuah perjalanan pembelajaran yang sarat makna dan penuh tantangan. Bertempat di alam terbuka, kawasan Waduk Jatiluhur, kegiatan ini dirancang untuk mengembangkan karakter, jiwa kepemimpinan, kemandirian, serta kemampuan bekerja sama melalui pendekatan experiential learning atau belajar dari pengalaman langsung.Sejak awal kegiatan, para murid ditantang untuk keluar dari zona nyaman dan menghadapi berbagai aktivitas yang menuntut keberanian serta kepercayaan diri. Salah satu kegiatan yang paling menguji mental adalah high ropes, di mana murid harus melintasi lintasan tali di ketinggian. Aktivitas ini melatih keberanian, fokus, dan kepercayaan terhadap diri sendiri maupun teman satu tim. Para murid ditantang untuk melawan rasa takut yang mereka rasakan. Selain itu, murid juga mengikuti kegiatan berkano di perairan Waduk Jatiluhur. Dalam aktivitas ini, kerja sama dan komunikasi menjadi kunci utama. Setiap anggota tim harus mampu menyelaraskan gerakan dan mengambil keputusan bersama agar kano dapat melaju dengan seimbang dan aman. Jika gerakan mendayung yang mereka lakukan tidak seirama, tentu kano yang mereka naiki tidak akan berjalan. Hal yang paling parah, kano tersebut bisa terbalik di waduk tersebut. Melalui kegiatan ini, murid belajar pentingnya koordinasi, kepemimpinan, serta tanggung jawab dalam sebuah kelompok.Tantangan fisik dan mental berlanjut dengan pendakian Gunung Lembu. Medan yang cukup terjal dan melelahkan menguji ketahanan fisik, disiplin, serta semangat pantang menyerah para murid. Hujan yang turun mengguyur tanah pun semakin menyulitkan langkah mereka untuk mendaki gunung tersebut. Dalam pendakian ini, murid belajar untuk saling membantu, menghargai perbedaan kemampuan, dan menjaga kekompakan tim hingga mencapai tujuan bersama.Tidak hanya berhenti di situ, para murid masih harus mengikuti solo night, yaitu kegiatan bermalam sendiri di lokasi yang telah ditentukan oleh fasilitator. Pada kegiatan ini, murid diajak untuk benar-benar mengenal diri sendiri, menghadapi rasa takut, serta merefleksikan perjalanan dan pengalaman yang telah dilalui. Hujan deras yang sejak beberapa hari lalu turun pun tetap ikut menemani para murid menjalani kegiatan solo night. Dalam kesunyian malam dan di bawah guyuran hujan, murid belajar tentang kemandirian, keberanian, dan kekuatan mental. Mental mereka benar-benar diuji untuk tetap berani dalam situasi yang tidak nyaman karena pada malam tersebut cuaca sangat tidak bersahabat.Seluruh rangkaian kegiatan yang dijalani murid didampingi oleh fasilitator profesional dari Outward Bound Indonesia (OBI). Setiap aktivitas diakhiri dengan sesi refleksi, di mana murid diajak untuk mengaitkan pengalaman di lapangan dengan kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, keluarga, maupun lingkungan sosial. Nilai-nilai seperti kepemimpinan, empati, disiplin, tanggung jawab, dan kepercayaan diri menjadi pelajaran utama yang ditanamkan melalui kegiatan ini.Melalui kegiatan Outward Bound Indonesia (OBI), murid kelas XI SMA Santa Ursula BSD tidak hanya memperoleh pengalaman seru di alam terbuka, tetapi juga pembelajaran hidup yang berharga. Perjalanan melewati batas diri ini menjadi bekal penting bagi murid dalam menghadapi tantangan akademik maupun kehidupan di masa depan, serta membentuk pribadi yang utuh, cerdas, dan siap untuk melayani di manapun mereka berada nantinya.
Selengkapnya
Proyek Literasi Bahasa Inggris Lanjutan Siswa Kelas XI melalui Antologi Cerpen Berbahasa Inggris
Posted: 2026-01-28 | By: Beatrix Virgini Cipta Konsepsion (XI A/7)
Tangerang, 25 Januari 2026 - Siswa Kelas XI SMA Santa Ursula BSD yang mengambil mata pelajaran Bahasa Inggris Lanjutan melaksanakan proyek literasi berupa penulisan dan pembuatan kumpulan cerita pendek yang disatukan dalam buku (antologi cerpen) dengan menggunakan Bahasa Inggris sebagai tugas akhir semester 3, tahun pelajaran 2025-2026.  Karya cerpen ditulis oleh 118 siswa (dari lima kelas) secara individu dan digabungkan dalam satu buku (antologi) cerpen untuk setiap kelasnya.  Mata pelajaran Bahasa Inggris Lanjutan merupakan mata pelajaran pilihan yang bertujuan mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris siswa secara lebih mendalam, khususnya dalam pemahaman dan penulisan teks sastra, dalam bentuk fiksi. Melalui pembelajaran ini, siswa dilatih untuk mengekspresikan ide, imajinasi, kreativitas serta mengolah empati dalam bentuk karya tulis berbahasa Inggris. Proyek penulisan dan pembuatan antologi cerpen berbahasa Inggris ini dilaksanakan selama Semester 3 oleh siswa yang mengambil mata pelajaran Bahasa Inggris Lanjutan, yaitu kelas XIA, XIB, XIC, XID, dan XIE. Selama proses pembelajaran di semester 3, siswa memperoleh materi pendukung penulisan cerpen, seperti Introduction to Literature, Elements of Fiction, Genres of Literature, serta Literary Devices.  Proses pembuatan cerpen dilakukan secara bertahap, mulai dari analisis cerpen karya sastrawan sebagai referensi, penyusunan kerangka cerita / outline, proses penulisan,  revisi, konsultasi, hingga pengumpulan produk akhir cerpen. Setelah cerpen diselesaikan, naskah terlebih dahulu diperiksa baik dari segi isi dan bahasanya oleh Bapak Victor Puguh Harsanto sebagai guru pendamping.  Selanjutnya, setiap kelas membentuk tim kecil yang bertugas sebagai penyunting bahasa untuk melakukan pengecekan ejaan dan tata bahasa. Setelah memperoleh persetujuan akhir oleh guru pendamping, naskah dikompilasi dan diserahkan kepada tim penyunting dan penata buku untuk proses penyusunan dan pencetakan antologi. Proses pembuatan antologi cerpen ini didukung oleh tim pembuatan buku di setiap kelas dengan pembagian peran yang jelas. Koordinator proyek dan pencetakan bertugas mengatur alur kerja serta memastikan proses pencetakan berjalan dengan baik. Penata letak, desainer sampul, dan ilustrator bertanggung jawab atas tampilan dan visual buku. Dokumentasi dan konsep visual didukung oleh fotografer dan penata busana untuk profil penulis yang diletakkan di bagian akhir antologi. Dari sisi kebahasaan, naskah cerpen disunting oleh P. Victor sebagai editor dan diperiksa kembali oleh tim penyunting bahasa untuk memastikan ketepatan ejaan dan tata bahasa sebelum buku dicetak.  Dengan melakukan hal ini, kesalahan dalam bahasa tulis dapat diminimalisir.  Setiap kelas menyusun buku antologi cerpen dengan judul yang mencerminkan identitas serta pengalaman siswa saat membuat antologi. Setiap judul dipilih bersama sebagai gambaran kebersamaan siswa dalam satu kelas saat mengikuti mata pelajaran Bahasa Inggris Lanjutan. Kelas XI-A memberi nama antologi mereka By The Waves yang menggambarkan siswa sebagai gelombang yang terus bergerak bersama dalam satu kesatuan kelas.  Nama kolektif Vagues de la Mer, yang berarti “gelombang laut”, dipilih untuk memperkuat makna kebersamaan tersebut. Kelas XI-B mengusung judul Our Youth in Ink sebagai wadah untuk menuangkan ide, imajinasi, dan pengalaman masa remaja siswa. Mereka menggambarkannya dengan 26 Pens yang melambangkan keberagaman gaya menulis dari 26 siswa dalam satu kelas. Sementara itu, kelas XI-C memilih judul The Tales from the Pine Tree yang menggambarkan keteguhan dan kebersamaan siswa dalam menjalani proses pembelajaran. Nama kolektif Sonder digunakan untuk menekankan bahwa setiap penulis memiliki latar belakang dan pengalaman yang beragam. Sementara itu, kelas XI-D memilih judul Echo, yang berbicara tentang kerinduan, kehilangan, dan diri yang larut menjadi gema. Cerita dalam antologi ini menggambarkan bagaimana kenangan kita terus hidup walau hanya dalam suara yang bergema. Nama bersama Elysian digunakan sebagai identitas penulis kelas XI-D. Dan kelas terakhir yaitu kelas XI-E menggunakan judul Star Woven, yang melambangkan cerita-cerita siswa yang saling terhubung dalam satu buku. Nama kolektif The Flibbertigibbets menggambarkan siswa yang gemar bercerita dan berimajinasi. Melalui proyek penulisan dan pembuatan antologi cerpen ini, siswa tidak hanya dapat mengembangkan kemampuan literasi dalam Bahasa Inggris khususnya keterampilan dalam menulis, namun juga kreativitas, kedisiplinan, serta kemampuan bekerja sama. Bapak Victor menuturkan, “Menulis fiksi adalah perjalanan reflektif yang membantu kita untuk mengenal diri kita dengan lebih baik.” Kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran bermakna serta upaya meningkatkan budaya literasi di lingkungan sekolah.  Program ini telah berjalan selama 10 tahun di bawah bimbingan Bapak Victor sebagai guru mata pelajaran Bahasa Inggris Lanjutan.   Semoga kegiatan ini dapat secara konsisten dilaksanakan dan dikembangkan sebagai ruang ekspresi dan apresiasi karya sastra dari para siswa dan dapat menjadi bagian penting dari proses pembelajaran yang berkelanjutan dan penuh makna. 
Selengkapnya
“Pagi, Pagi, Pagi… Ursula, Luar Biasa!” Pelatihan Fisik dan Mental Kelas X SMA Santa Ursula BSD di Gunung Salak Endah
Posted: 2026-01-27 | By: Nadine Aruna Widinugroho - XB / 31
SMA Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Fisik dan Mental bagi para murid kelas X pada Rabu–Kamis, 14–15 Januari 2026. Kegiatan ini berlangsung di Pusat Pendidikan Latihan Tempur (Dodiklatpur) Rindam Jaya, Gunung Salak Endah, Bogor, dengan tujuan membentuk karakter murid yang tangguh secara fisik, kuat secara mental, serta berjiwa disiplin dan setia kawan. Pelatihan ini diikuti oleh seluruh murid kelas X sebagai bagian dari program pembinaan karakter sekolah. Sebelum pelaksanaan, sekolah telah mengadakan dua kali sosialisasi dan pelatihan awal guna membekali para murid agar siap menghadapi situasi baru serta mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang menantang.Perjalanan menuju lokasi memakan waktu sekitar tiga jam menggunakan bus, kemudian dilanjutkan dengan truk militer menuju kawasan Dodiklatpur. Setibanya di lokasi, para murid langsung diarahkan untuk berbaris per kelas dan mulai merasakan suasana disiplin khas militer. Sejak saat itu, para murid dibiasakan merespons sapaan dengan yel-yel penuh semangat, “Pagi, pagi, pagi… Ursula, luar biasa!”, sebagai bentuk penghargaan dan semangat kebersamaan.Para murid kemudian menempati barak sederhana sebagai tempat beristirahat. Meski fasilitas terbatas dengan tempat tidur kayu tanpa sekat, pengalaman ini justru menjadi sarana belajar untuk beradaptasi, mandiri, dan saling menghargai. Setelah upacara pembukaan dan pemeriksaan kesehatan, kegiatan dilanjutkan dengan mancakrida, yakni rangkaian tantangan fisik yang meliputi tali merayap, jaring laba-laba, dan snappling.Dalam kegiatan tali merayap, para murid diuji keberanian dan kekuatan fisiknya untuk menyeberangi tali sepanjang lima meter. Meski tidak sedikit yang mengalami lecet akibat gesekan tali, semangat untuk menyelesaikan tantangan tetap terjaga. Tantangan jaring laba-laba melatih ketangkasan dan kepercayaan diri dengan tetap mengutamakan keselamatan melalui penggunaan tali pengaman. Sementara itu, kegiatan snappling dengan menuruni dinding setinggi sekitar 10 meter menjadi aktivitas yang paling dinantikan, meski tidak semua murid dapat mengikutinya karena keterbatasan waktu dan kondisi cuaca. Waktu makan pun menjadi bagian dari proses pembelajaran. Para murid menerapkan budaya makan ala militer: makan bersama dalam waktu 15 menit, menghabiskan makanan, dan bertanggung jawab atas kebersihan peralatan makan. Setelah makan malam, para murid dibagi dalam kelompok kecil untuk mengikuti jurit malam, sebuah misi menyusuri hutan pada malam hari guna melatih keberanian, fokus, dan kerja sama. Meski sebagian besar kelompok belum berhasil menyelesaikan misi, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga tentang kekompakan dan tanggung jawab.Malam hari ditutup dengan kegiatan “api semangat”, ditandai dengan api unggun, penciuman bendera Merah Putih, serta doa pribadi. Kegiatan reflektif ini menjadi momen penting bagi para murid untuk menyadari tujuan kehadiran mereka dan menumbuhkan kembali semangat juang.Hari kedua diawali dengan senam pagi, sarapan, dan latihan Peraturan Baris-Berbaris (PBB). Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan team building yang dikemas secara menyenangkan namun tetap menuntut konsentrasi, kerja sama, dan kecepatan merespons instruksi. Setelah itu, para murid kembali diuji ketangguhannya melalui latihan fisik di lapangan berlumpur, seperti merayap dan tiarap bersama, yang menanamkan nilai pantang menyerah dan kepatuhan terhadap tugas.Sebagai penutup, para murid berjalan kaki menuju Curug Kondang yang berjarak sekitar setengah kilometer dari kawasan pelatihan. Waktu di curug dimanfaatkan untuk beristirahat, bermain air, dan menikmati kebersamaan sebagai bentuk apresiasi setelah melewati rangkaian kegiatan yang menguras fisik dan mental. Kegiatan kemudian ditutup dengan upacara penutupan, makan siang, dan perjalanan kembali ke sekolah. Melalui Pelatihan Fisik dan Mental ini, para murid kelas X SMA Santa Ursula BSD memperoleh pembelajaran bermakna tentang kerja sama, kedisiplinan, kemandirian, kepemimpinan, serta sikap saling menghargai. Pengalaman dua hari satu malam ini menjadi bekal berharga dalam proses pembentukan karakter, sekaligus kenangan yang akan terus diingat sebagai bagian penting dari perjalanan para murid di SMA Santa Ursula BSD.
Selengkapnya
Mendidik Hati dan Menguatkan Karakter: Internalisasi Nilai Serviam melalui Outward Bound Indonesia
Posted: 2026-01-24 | By: FX. Suryo Kumoro Jatie – Tenaga Pendidik Sosiologi SMA Santa Ursula BSD | Dokumentasi: FX. Suryo Kumoro Jatie
Kegiatan Outward Bound Indonesia (OBI) yang diikuti oleh peserta didik kelas XI SMA Santa Ursula BSD dilaksanakan selama enam hari di kawasan Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat. Program ini menjadi ruang pembelajaran kontekstual yang memadukan pengalaman fisik, emosional, sosial, dan spiritual dalam satu kesatuan proses pendidikan karakter. Rangkaian kegiatan seperti high ropes, berkano di perairan Waduk Jatiluhur, pendakian di Gunung Lembu, hingga solo night dirancang untuk membawa peserta didik keluar dari zona nyaman dan berjumpa langsung dengan tantangan nyata yang menuntut keberanian, kedisiplinan, serta kerja sama.Dalam aktivitas high ropes, para peserta berhadapan dengan ketinggian dan rasa takut yang menguji kepercayaan diri. Setiap langkah di atas tali menjadi latihan untuk mengelola kecemasan, mendengarkan instruksi, serta saling mendukung dari satu sama lain. Pengalaman ini melatih keberanian dan ketangguhan, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa batas diri dapat dilampaui ketika seseorang berani berproses dan tidak berjalan sendirian.Kegiatan berkano di perairan Waduk Jatiluhur menghadirkan dinamika kerjasama tim yang menuntut keselarasan gerak, komunikasi yang efektif, dan saling percaya. Kekompakan dalam dayungan yang harus seimbang mengajarkan peserta untuk peka terhadap peran masing-masing serta pentingnya koordinasi. Di tengah luasnya perairan waduk, mereka belajar bahwa keselamatan dan keberhasilan hanya dapat dicapai apabila setiap anggota mampu bekerja dalam kesatuan dan saling menopang.Pendakian dan penurunan medan di Gunung Lembu yang terjal menguji daya juang, kesabaran, serta kesungguhan peserta. Dalam kondisi lelah dan terbatas, mereka belajar mengatur langkah, menjaga ritme, serta saling menunggu dan menguatkan. Proses ini menanamkan sikap pantang menyerah dan totalitas dalam berusaha, sekaligus menumbuhkan empati ketika kepentingan kelompok ditempatkan di atas kenyamanan pribadi.Nilai cinta dan belas kasih tampak ketika para peserta saling memperhatikan kondisi fisik dan emosional satu sama lain. Ketika ada yang kelelahan, takut, atau kurang percaya diri, teman-teman satu tim hadir memberi dukungan, menyemangati, dan meneguhkan. Sikap saling peduli ini membangun kepekaan sosial dan rasa kemanusiaan yang menjadi dasar dari semangat melayani.Integritas juga dilatih melalui kepatuhan pada aturan keselamatan, kejujuran dalam mengakui kemampuan diri, serta konsistensi dalam menjalankan setiap instruksi. Para peserta belajar bertanggung jawab atas pilihan dan tindakan mereka, serta menyadari bahwa keselamatan dan keberhasilan bersama bergantung pada sikap disiplin dan komitmen setiap individu.Pengalaman solo night menjadi momen reflektif yang sangat bermakna. Dalam keheningan malam dan keterpisahan sementara dari kelompok, peserta diajak untuk berdiam, berefleksi, dan berjumpa dengan diri sendiri. Refleksi ini membantu mereka mengenali kekuatan dan keterbatasan pribadi, mensyukuri kehadiran sesama, serta memaknai setiap tantangan sebagai bagian dari proses pertumbuhan. Kegiatan refleksi dalam solo night tidak hanya bersifat personal, tetapi juga edukatif. Melalui permenungan, peserta belajar menarik makna dari pengalaman dan menghubungkannya dengan nilai-nilai yang diyakini, serta merumuskan sikap hidup yang hendak dibangun ke depan setelah kegiatan OBI selesai. Pada akhir rangkaian kegiatan OBI, ditutup dengan sesi graduation yang dihadiri oleh para orang tua peserta didik. Dalam suasana penuh haru, tawa dan kebanggaan, para siswa menampilkan refleksi pengalaman kelompok, kisah-kisah unik selama mengikuti OBI, serta pembelajaran nilai yang mereka peroleh. Melalui kegiatan drama dan ungkapan lisan, peserta didik tidak hanya berbagi cerita, tetapi juga menunjukkan proses pendewasaan diri yang telah mereka lalui bersama.Salah satu momen yang paling menyentuh adalah ketika peserta didik menyerahkan surat kasih kepada orang tua sebagai ungkapan terima kasih, penghargaan, dan cinta. Surat-surat tersebut menjadi simbol relasi yang diperdalam melalui refleksi, sekaligus wujud konkret nilai cinta dan belas kasih yang dihidupi dalam semangat Serviam. Setelah itu, para peserta juga memandu orang tua untuk mengenal area-area kegiatan OBI, menjelaskan fungsi setiap lokasi, serta mengisahkan pengalaman yang mereka alami di tempat-tempat tersebut sebagai bentuk pembelajaran yang bermakna.Dalam sesi santap siang, nilai pelayanan dihadirkan secara nyata ketika peserta didik dengan penuh kerendahan hati melayani orang tua yang akan mengambil makanan. Tindakan sederhana ini menjadi simbol pembalikan peran yang sarat makna, bahwa melayani adalah sikap dasar yang lahir dari rasa syukur dan hormat. Kegiatan graduation kemudian ditutup dengan pembagian sertifikat sebagai bentuk apresiasi atas proses, ketekunan, dan pertumbuhan karakter yang telah dijalani oleh seluruh peserta.Seluruh rangkaian kegiatan di alam terbuka ini menghidupkan nilai-nilai Serviam secara konkret dari keberanian dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan, integritas dalam bersikap, semangat persatuan dalam kerja tim, kesungguhan dalam berproses, cinta dan belas kasih dalam kepedulian, serta semangat pelayanan dalam kesiapsediaan hadir bagi sesama.Sebagaimana warisan nasihat dari Santa Angela "Hiduplah dalam keserasian, bersatu, sehati sekehendak, terikat satu sama lain dengan cinta kasih, saling menghargai, saling membantu, saling bersabar dalam Yesus Kristus. Bila Anda benar berusaha menghayati hidup seperti ini, tak ragu lagi Allah Tuhan kita tinggal di tengah-tengah Anda" (Nasihat Terakhir Santa Angela : 1-3). Spirit ini menemukan relevansinya dalam pengalaman OBI di Jatiluhur, ketika para peserta belajar membangun persaudaraan, saling menopang dalam keterbatasan, dan bertumbuh bersama dalam ikatan kasih.Kegiatan OBI adalah ruang sosialisasi nilai yang efektif, tempat bagi peserta didik menginternalisasi nilai Serviam melalui interaksi intensif, kerja kolektif, serta refleksi personal yang mendalam. Pengalaman hidup bersama dalam menghadapi tantangan di alam, dan merenungkan maknanya membentuk habitus baru yang menumbuhkan solidaritas, tanggung jawab sosial, dan orientasi pada pelayanan, sehingga nilai-nilai Serviam tidak berhenti sebagai wacana normatif, melainkan bertransformasi menjadi sikap hidup yang nyata dalam keseharian.
Selengkapnya
Pribadi yang Teguh, Setia, dan Beretika: Pelantikan Badan Pengurus OSIS 2026
Posted: 2026-01-14 | By: Yohanes Sutraguna (XII-B/22)
Pada tanggal 7 Januari 2026, Badan Formatur SMA Santa Ursula BSD telah menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban atas seluruh rangkaian kerjanya kepada pihak sekolah dan seluruh murid SMA Santa Ursula BSD. Peristiwa ini secara resmi menjadi penanda berakhirnya tugas Badan Formatur (BF) sebagai mandataris Kepala Sekolah untuk menghasilkan Badan Pengurus (BP) OSIS yang baru. Dengan demikian, terbentuklah kabinet BP OSIS 2026 yang dipimpin oleh Joya Olivia dengan visi, “OSIS SMA Santa Ursula BSD yang Inklusif, Dinamis, dan Berintegritas.”Penyeleksian BP OSIS dalam SMA Santa Ursula BSD merupakan proses yang sangat panjang dan ketat. Anggota BP OSIS selalu diharapkan memiliki kualitas kepribadian, sikap, dan kemampuan di atas rata-rata. Hal ini didasari oleh komitmen sekolah untuk menjadikan OSIS SMA Santa Ursula BSD sebagai alat untuk mewadahi aspirasi dan talenta murid-muridnya dengan pelbagai program kerja OSIS selama masa jabatanya. Setelah berakhirnya satu masa jabatan BP OSIS, kewenangan untuk mengadakan proses seleksi BP OSIS selanjutnya diberikan secara penuh kepada Badan Formatur oleh Kepala Sekolah SMA Santa Ursula BSD.Badan Formatur adalah sebuah delegasi mandataris dengan wewenang penuh dalam melaksanakan Pemilihan OSIS (PEMILOS) untuk memilih Ketua OSIS yang akan menghasilkan BP OSIS periode selanjutnya. Badan Formatur berada dibawah naungan dan terikat dengan Majelis Pendidikan Katolik - Keuskupan Agung Jakarta (MPK-KAJ). Badan Formatur bersifat independen dan transparan, serta bertanggung jawab langsung kepada Kepala Sekolah. Badan Formatur beranggotakan murid kelas XII yang dipilih langsung oleh Kepala Sekolah. Pada tahun 2025, Badan Formatur dibimbing oleh Ibu Fransisca Erijani Rosari dan Ibu Lusia Harsini sebagai Pembina dan Koordinator, serta guru-guru konsultan Badan Formatur. Adapun, Badan Formatur 2026 dipimpin oleh Renata Bianca Indra Kinara (XII-G/12) dan Katarina Faustina Karen Po (XII-B/15) sebagai Ketua dan Wakil Ketua BF.Rangkaian kerja Badan Formatur dimulai pada 2 Desember 2025 dengan sosialisasi umum kepada seluruh peserta didik SMA Santa Ursula BSD. Dengan sosialisasi tersebut, Badan Formatur mengemukakan tema PEMILOS 2025 adalah Pribadi yang TEGUH, SETIA, dan BERETIKA. Sosialisasi dilanjutkan dengan penjelasan proses penjaringan dan penyaringan, serta syarat untuk menjadi calon BP OSIS yang baru. Setelah sosialisasi, murid kelas X dan XI dipersilahkan untuk menjalankan tahap penjaringan, dimana setiap kelas di angkatan kelas X dan XI dapat mencalonkan anggota kelasnya sesuai dengan kuota yang telah ditetapkan oleh Badan Formatur. Sedangkan, peserta didik kelas XII dapat mencalonkan 1 murid kelas X dan 2 murid kelas XI untuk masuk dalam tahap penyaringan yang akan diselenggarakan esok harinya. Dalam penyaringan tahap pertama, murid yang dinyatakan lolos dalam tahap penjaringan mengumpulkan Curriculum Vitae (CV) kepada Badan Formatur. Setelah pengumpulan, Badan Formatur menilai dan menyeleksi setiap murid yang dapat menjadi Bakal Calon Ketua OSIS (BACAKETOS). Para BACAKETOS yang terpilih pun menjalani dua tahap Uji Kelayakan dan Kepatutan dalam dua hari. Adapun, ujian yang diberikan kepada para BACAKETOS meliput tes wawasan, tes dilema tertulis, tes sikap sosial, dan Focus Group Discussion (FGD). Setelah menyelesaikan rangkaian Uji Kelayakan dan Kepatutan, Badan Formatur mengumumkan Calon Ketua OSIS (CAKETOS) yang telah terseleksi melalui akun instagram @pubsma. Para CAKETOS terpilih pun mempersiapkan tim suksesnya masing-masing untuk acara Orasi dan Selebrasi (Kampanye Massa) dan Debat CAKETOS. Setelah melaksanakan Orasi dan Selebrasi pada tanggal 9 Desember 2025, rangkaian acara PEMILOS mencapai puncaknya pada acara Debat CAKETOS, di mana para CAKETOS terpilih saling beradu argumen dan gagasan di depan seluruh murid dan tenaga pendidik SMA Santa Ursula BSD pada Senin, 15 Desember 2025. Pada hari berikutnya, Badan Formatur menyelenggarakan PEMILOS dan mengumumkan Ketua OSIS terpilih pada sore hari pada akun instagram @pubsma, yakni Joya Olivia (XI-B/14). Setelah terpilih, Joya pun mulai menyusun kabinet BP OSIS 2026 dengan bantuan informasi dan data yang diberikan Badan Formatur berdasarkan hasil tes penyaringan yang telah dilakukan pada Calon BP OSIS. Setelah menyusun kabinetnya tugas Badan Formatur pun selesai, sehingga pada tanggal 7 Januari 2026, Badan Formatur menyampaikan Laporan Pertanggungjawabannya kepada pihak sekolah dan seluruh murid SMA Santa Ursula BSD. Setelah itu, Badan Formatur pun dinyatakan demisioner dan BP OSIS 2026 dilantik oleh Bapak Catur Agus Sancoko selaku Kepala Sekolah SMA Santa Ursula BSD.Pelantikan BP OSIS di SMA Santa Ursula BSD begitu ketat. Banyak variabel yang dipertimbangkan untuk dapat menghasilkan OSIS SMA yang bermutu, berkualitas, dan bermartabat sesuai dengan visi dan misi sekolah. Akan tetapi, seluruh proses seleksi dari Badan Formatur dilakukan dengan cepat dan tepat demi mencapai tujuan tersebut, sehingga menghasilkan BP OSIS yang kompeten dan mampu untuk menjadi mewadah bagi murid SMA Santa Ursula BSD untuk mengembangkan potensi dan talenta mereka. Tidak lupa, Badan Formatur banyak dibantu oleh tim kerja, seperti tim dokumentasi hingga divisi-divisi acara. Terbentuknya BP OSIS yang baru merupakan hasil kerja keras kolektif yang dilakukan sejak awal proses seleksi. Semoga dengan terbentuknya BP OSIS 2026 dapat menjadi sarana yang bermutu bagi komunitas SMA Santa Ursula BSD.
Selengkapnya
Ibadat Natal SMA Santa Ursula BSD: Momen Refleksi, Berbagi, dan Menjadi Terang bagi Sesama
Posted: 2026-01-08 | By: Clara Araceli Irmaretha Rani (Guru BK SMA Santa Ursula BSD) dan Agustin Angelia Putri (Psikolog SMA Santa Ursula BSD)
SMA Santa Ursula BSD mengadakan Ibadat Natal pada Selasa, 6 Januari 2026, yang diikuti oleh seluruh murid kelas X, XI, dan XII, serta Bapak/Ibu guru. Ibadat Natal berlangsung di Aula SMP–SMA Santa Ursula BSD dalam suasana yang khidmat dan penuh makna. Ibadat ini terasa istimewa karena seluruh petugas ibadat dipercayakan kepada para guru, sehingga menjadi momen refleksi iman bersama seluruh warga sekolah.Perayaan Natal dimaknai lebih dari sekadar peringatan kelahiran Yesus Kristus. Melalui ibadat ini, seluruh warga SMA Santa Ursula BSD diajak untuk merenungkan kembali kasih Allah yang hadir secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Allah yang hadir dalam kesederhanaan mengajarkan nilai empati, kepedulian, serta keberanian untuk memberi sebagai wujud iman dan kepercayaan kepada-Nya.Renungan Natal tahun ini menekankan pentingnya kepedulian dan semangat berbagi. Natal dipahami sebagai hadiah dari Tuhan yang selayaknya diteruskan kepada sesama yang membutuhkan. Semangat tersebut telah diwujudkan oleh para murid melalui aksi Natal, yakni berbagi dengan masyarakat yang terdampak musibah di daerah Sibolga dan Aceh, sebagai bentuk nyata kasih dan solidaritas.Rangkaian perayaan Natal juga dimeriahkan dengan pengumuman juara lomba menghias pohon Natal antar kelas. Lomba ini menjadi wadah kreativitas sekaligus sarana pembelajaran karakter bagi para murid. Juara II diraih oleh kelas XI-E, sedangkan Juara I diraih oleh kelas X-E dengan hiasan pohon Natal yang dinilai paling kreatif dan bermakna. Melalui proses menghias pohon Natal, para murid belajar nilai kebersamaan, kerja sama, tanggung jawab, kreativitas, serta saling menghargai perbedaan ide.Melalui Ibadat dan Perayaan Natal ini, diharapkan para murid semakin bertumbuh dalam iman dan kasih. Natal menjadi momen refleksi untuk menumbuhkan semangat melayani, kepedulian terhadap sesama, serta komitmen untuk menjadi pembawa terang dan damai bagi lingkungan sekitar. Nilai-nilai yang direnungkan bersama diharapkan terus hidup dalam keseharian para murid SMA Santa Ursula BSD.
Selengkapnya
Membina Karakter Serviam: 186 Murid Kelas XII SMA Santa Ursula BSD Ikuti Retret Intensif Menuju Masa Depan
Posted: 2025-12-08 | By: Philipe Juniar XIIC/26
Tangerang Selatan – SMA Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan retret tahunan bagi murid kelas XII sebagai bagian penting dari program pembinaan karakter, pendalaman iman, dan persiapan mental serta spiritual. Acara ini berlangsung dari tanggal 12 hingga 24 Oktober 2025 di Griya Angela, rumah retret milik Suster Ursulin, dan diikuti oleh 186 peserta retret murid kelas XII.Retret ini merupakan bekal fundamental bagi murid kelas XII dalam menghadapi tantangan akademik seperti Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan Penilaian Akhir Semester (PAS), sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi transisi krusial pasca-SMA.Program Intensif Empat GelombangUntuk memastikan proses pendampingan yang optimal, kegiatan retret dibagi menjadi empat gelombang dengan durasi tiga hari dua malam per gelombang (kecuali sesi akhir pekan). Seluruh peserta retret dalam gelombang ini mendapatkan pendampingan rohani dari Romo Suharyadi, SJ, bersama dengan para guru pembimbing yang bertugas. Selain rangkaian kegiatan utama, peserta retret difasilitasi penuh, termasuk kebutuhan makan harian serta partisipasi dalam ibadah Katolik yang rutin diadakan setiap hari sebagai penopang pendalaman iman.Refleksi Diri dan Perumusan Tujuan HidupAktivitas pada hari pertama difokuskan pada introspeksi dan refleksi diri. Sebelum keberangkatan, peserta retret diminta mempersiapkan foto masa kecil, foto diri saat ini, dan gambar yang mewakili cita-cita atau harapan masa depan. Kegiatan pembuka ini bertujuan mengajak peserta retret untuk mengenali garis waktu perjalanan hidup yang telah dilalui seraya merumuskan tujuan hidup yang lebih terarah di masa depan. Rangkaian hari pertama ditutup dengan penayangan film sarat makna, “Life Is Beautiful (1998)”, yang diikuti dengan sesi perenungan pribadi melalui serangkaian pertanyaan reflektif.Menguatkan Kebersamaan dan Nilai KekeluargaanHari kedua didedikasikan untuk memperkuat relasi sosial melalui dinamika kelompok yang intensif. Peserta retret dihadapkan pada berbagai tantangan yang menuntut komunikasi efektif, kekompakan, dan kemampuan memecahkan masalah secara kolektif, serta menegaskan pentingnya kerja sama tim dan mengenal satu sama lain.Selain dinamika, peserta retret juga diajak mendalami peran orang tua dalam kehidupan mereka. Dalam momen yang sarat emosi, peserta retret menerima surat penuh pesan, dukungan, dan harapan dari orang tua mereka. Sebagai balasan, peserta retret kemudian menulis surat untuk orang tua, berfungsi sebagai ungkapan terima kasih mendalam serta sarana komunikasi perasaan yang jujur.Membangun Resiliensi Melalui SimbolismeKegiatan penutup pada hari ketiga kembali diisi dengan dinamika kelompok yang memiliki nilai simbolis kuat: memecahkan vas bunga dari tanah liat dan kemudian membentuknya kembali menjadi wujud yang baru. Aktivitas ini dirancang untuk melatih ketekunan, kreativitas, dan terutama, resiliensi peserta retret dalam menghadapi kegagalan atau tantangan dan kemampuan untuk membangun kembali (rekonstruksi) menjadi sesuatu yang lebih baik.Di akhir retret, para murid kelas XII diharapkan mampu menginternalisasi dan menerapkan nilai-nilai positif, khususnya yang selaras dengan semangat Serviam dan enam nilai Serviam, sebagai bekal esensial dalam bersikap dan bertindak di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat luas.
Selengkapnya
MENGGALI MAKNA HIDUP DI DESA BORO
Posted: 2025-12-08 | By: Emmanuela Sheila Wawin/XIIB dan Gabriela Santoso/XIIB
Minggu, 23 November 2025 sampai Sabtu, 29 November 2025 menjadi kegiatan Live In  yang dijalani oleh murid kelas XII SMA Santa Ursula BSD. Tinggal di desa dalam kegiatan Live In memberi para murid kesempatan untuk mengamati serta merasakan bagaimana hidup di desa tanpa adanya gaya hidup yang modern. Deru alam, siklus kehidupan tumbuhan dan hewan, serta dinamika sosial di lingkungan pedesaan yang dapat memperkaya pemahaman murid mengenai pentingnya kesederhanaan, ketulusan, kebersamaan, dan penghargaan. Bertentangan dengan kehidupan kota yang penuh kegaduhan serta kesibukan teknologi, pengalaman ini membuka wawasan baru mengenai nilai-nilai kehidupan yang sering terlupakan dalam gaya hidup modern. Live In ini bukan hanya soal tinggal serta beradaptasi dengan kehidupan yang ada di desa, tetapi juga menjadi laboratorium kehidupan di mana para murid dapat belajar mengenai empati, toleransi, dan kesadaran sosial. Mereka diajak untuk melihat dunia dari perspektif yang cukup berbeda dari dunia mereka yang biasanya, mengenal keberagaman sosial budaya dan memahami pentingnya menjaga keseimbangan harmonis antara manusia dan lingkungan.  Selama 5 hari 4 malam, peserta Live In tinggal di sembilan lingkungan yang berbeda, yaitu Antonius Nglebeng, Tetes, Thomas Gerpule, Veronika Balong, Paulus Balong, Nyemani, Kagok, Kaliwunglon, dan St. Elisabeth dengan keluarga yang berbeda-beda juga. Hal ini membuat setiap peserta Live In yang ikut serta memiliki kehidupan yang berbeda dan pengalaman serta cerita yang pastinya tidak akan sama dengan yang lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari peserta Live In melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan dalam mengikuti kegiatan orang tua mereka (di sana), seperti ikut berladang, menanam, pergi ke pasar, menjaga warung, menjadi tukang bangunan, dan pekerjaan lainnya yang mungkin menjadi pekerjaan yang tidak biasa bagi kami murid SMA Santa Ursula BSD. Pengalaman inilah yang dapat membantu murid belajar beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru, memahami pola kerja masyarakat desa, serta mendalami nilai kebersamaan dan gotong royong secara langsung melalui keterlibatan dalam berbagai aktivitas yang dilakukan.  Dengan demikian, program Live In ini menjadi pengalaman transformasi yang mendalam, menguatkan karakter dan memperkaya spiritualitas siswa dalam menyongsong masa depan.  Dengan adanya pengalaman baru yang sepenuhnya memiliki tingkat serta perbedaan  sangat jauh dan berbeda dari kehidupan para siswa siswi.  Yang awalnya memiliki kemudahan akses dan kebutuhan yang dapat ditemukan di berbagai sudut,  menjadi sosok yang harus bisa beradaptasi dengan situasi dan keadaan yang berbeda dengan kehidupan sederhana dan secukupnya.
Selengkapnya
Bram Pardosi Raih Emas untuk SMA Santa Ursula BSD di Ajang Perlombaan Canisius College Cup XL
Posted: 2025-11-11 | By: Abraham Jeges Ragnala Pardosi / kelas XI-C - 01
Abraham Jeges Ragnala Pardosi atau biasa dipanggil Bram, murid kelas XI SMA Santa Ursula BSD, berhasil meraih juara 1 dalam perlombaan Pencak Silat kategori tanding kelas bebas di ajang Canisius College Cup XL yang berlangsung di Kolese Kanisius pada 21 September 2025. Dengan kemampuan teknik dan persiapan yang matang, saya berusaha memberikan perlawanan terbaik di atas arena. Puji Tuhan, saya berhasil mengungguli sejumlah pesaing tangguh dari berbagai SMA di wilayah Jabodetabek. Tidak hanya saya yang mewakili sekolah dan mendapatkan juara, tetapi juga Mikhael Cornelius Kustedi, teman saya di kelas XII, berhasil meraih juara 2 di kategori tanding kelas D. Kami, perwakilan SMA Santa Ursula BSD, berhasil menunjukkan kerja keras dan kemampuan kami setelah usai tekun menjalankan pelatihan intensif di sekolah. Dalam kategori kelas bebas (75–100 kg) ini, setiap peserta dituntut memiliki kekuatan, kecepatan, dan strategi yang seimbang. Perlombaan ini menggunakan sistem gugur, di mana pesilat langsung bertanding satu lawan satu dan yang kalah langsung tereliminasi. Saya harus melewati beberapa pesaing tangguh sebelum mencapai babak final. Pada babak perempat final, saya mengalahkan Mohammad Zaydan Akhtar dari SMK IT Cyber Global Orenz dengan teknik serangan cepat dan pertahanan yang kuat. Di babak semifinal, saya berhasil menyingkirkan pesilat tuan rumah, Fransisco Tiu Nanga dari Kolese Kanisius, dalam pertarungan sengit yang berlangsung ketat hingga akhir ronde. Puncaknya, di babak final, saya berhasil mengalahkan Muhammad Adil Gufron dari SMAN 112 Jakarta dan meraih juara pertama tanding kategori kelas bebas SMA.Salah satu momen paling berkesan bagi saya adalah ketika menghadapi pesilat tuan rumah di babak semifinal. Pertandingan itu sangat menegangkan. Saya sempat merasa tertekan oleh sorakan penonton yang mendukung lawan saya, tapi saya berusaha tetap tenang dan fokus. Di ronde awal, saya bahkan sempat tertinggal dalam perolehan poin, dan itu jadi tantangan besar bagi saya. Saya tahu saya harus mengubah strategi, memperkuat pertahanan, membaca celah lawan, dan melancarkan serangan balik yang efektif. Dalam pikiran saya hanya ada satu hal: “Jangan panik, tetap tenang, dan ambil kembali kendali.” Perlahan tapi pasti, saya berhasil menyamakan skor dan akhirnya membalikkan keadaan hingga memenangkan pertandingan dan melaju ke babak final.Perjalanan menuju kemenangan ini tidak mudah. Dibutuhkan dedikasi, disiplin, dan latihan yang konsisten. Di tengah kesibukan sekolah, saya harus bisa menyeimbangkan waktu antara belajar dan latihan. Saat latihan, Pak Ruhiyat, pelatih kami, selalu menekankan pentingnya melatih fisik dan pernapasan, karena daya tahan dan kontrol napas adalah fondasi utama dalam bela diri. Selain itu, kami juga dilatih untuk meningkatkan kekuatan, kecepatan, dan kelincahan. Latihan dilakukan secara rutin setiap minggu, biasanya 1–2 kali pertemuan.Bagi saya, kemenangan ini adalah bukti nyata dari kerja keras dan semangat juang kami sebagai murid SMA Santa Ursula BSD. Saya berharap prestasi ini bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman lain untuk terus berlatih dan berani mencoba hal baru. Untuk teman-teman yang ingin ikut lomba, jangan takut untuk mencoba. Karena kalau ingin berprestasi, kuncinya hanya dua: berani dan percaya diri. Saya juga percaya bahwa jika kita ingin hasil yang maksimal, kita harus memberikan usaha terbaik kita karena usaha tidak akan mengkhianati hasil. Dengan semangat pantang menyerah dan tekad yang kuat, saya ingin membuktikan bahwa keberhasilan bukanlah hasil kebetulan, melainkan buah dari latihan, disiplin, dan keyakinan diri. Kemenangan ini menjadi langkah awal saya untuk meraih prestasi-prestasi berikutnya yang saya harap bisa terus mengharumkan nama SMA Santa Ursula BSD di masa yang mendatang.
Selengkapnya
Menjadi Siap Menulis untuk Masa Depan
Posted: 2025-10-20 | By: Catherine Aurelia Wirjawan/XII-B dan Beatrix Arunaya Kidung Anatha/XII-C
Pada Selasa, 7 Oktober 2025, murid kelas XII SMA Santa Ursula BSD diajarkan cara menulis yang sesungguhnya. Melalui Seminar Karya Tulis Ilmiah yang dibawakan oleh Dr. Alexander Joseph Ibnu Wibowo, M. S. M., seorang dosen dari Universitas Prasetya Mulya, para murid mendapatkan banyak masukan mengenai tulisan ilmiah yang akan berguna untuk masa depan mereka nanti. Pertama, murid diajarkan mengenai plagiarisme dalam penulisan. Pada dasarnya, kita hidup di era digital, dan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa modernisasi membuat manusia ingin segalanya serba cepat. Akibatnya, masih banyak penulis yang menggunakan Artificial Intelligence (AI) atau langsung mengambil kutipan orang lain tanpa mengubahnya terlebih dahulu. Namun, dalam penulisan karya ilmiah, murid diajarkan untuk menjunjung tinggi integritas dan kejujuran. Sebagai penulis, penulis harus bertanggung jawab atas setiap hal yang kita ditulis. Oleh karena itu, melalui seminar ini, murid-murid dibimbing untuk memilah informasi yang valid dan tidak valid, mengetahui sumber yang tepat untuk mencari data akurat, serta menghindari penggunaan AI, misalnya dengan memanfaatkan platform yang kredibel seperti Google Scholar.Tidak hanya itu, mereka juga diajarkan mengenai proses publishing jika suatu saat ingin mencoba menerbitkan karya ilmiah. Pada tahap ini, diperlukan sikap pantang menyerah karena untuk mendapatkan penerimaan, seseorang harus melewati banyak tahapan. Sebagai contoh, dalam pengalaman Dr. Alexander, karyanya sudah berkali-kali ditolak oleh salah satu penerbit paling prestisius meskipun ia telah melakukan berbagai revisi mayor. Namun, ia tidak menyerah dan akhirnya mengirim ulang karyanya ke penerbit lain. Sebagai penulis, kita memang harus siap menghadapi berbagai tantangan untuk mencapai tujuan.Terakhir, Dr. Alexander juga mengajarkan kepada para murid mengenai pentingnya memilih sumber jurnal yang terpercaya. Sumber yang baik tentu akan membuat jurnal kita menjadi lebih kritis dan terpercaya juga. Platform akademi yang bisa digunakan untuk mencari jurnal selain Google Scholar adalah Elsevier, IEEE, Research Gate, Science Direct, dan masih banyak lagi. Masing-masing dari situs tersebut menyediakan berbagai jurnal ilmiah kelas dunia terkait berbagai bidang keilmuan, mulai dari ilmu kedokteran, teknik, sains murni, hingga humaniora. Dr. Alexander juga tentunya mengingatkan para siswa untuk tidak asal menjadikan situs-situ sembarang, seperti Wikipedia atau blog pribadi maupun forum diskusi online, kecuali jika hal-hal tersebut memang bisa dipertanggungjawabkan. Penggunaan sumber yang tidak valid atau tidak terpercaya dapat merusak integritas jurnal ilmiah para siswa. 
Selengkapnya
Perayaan Misa Kreatif: Wujud Syukur dan Peneguhan Iman Siswa
Posted: 2025-09-30 | By: Gabriela Giselle Putri Atmaka/XI-A
Jumat, 26 September 2025 – Sekolah Santa Ursula BSD berkomitmen penuh terhadap 10 nilai yang dibangun kepada para peserta didik, salah satunya adalah nilai religiusitas. Dalam mewujudkan nilai tersebut, SMA Santa Ursula BSD menyelenggarakan misa kreatif dengan tema “Yesus Penyelamat Kita” di Gereja Santa Monika BSD. Misa ini dihadiri oleh suster, para guru, dan para peserta didik, yang dipimpin oleh Pastor Emmanuel Bambang Adhi Prakosa, OSC.  Perayaan ekaristi ini menjadi menarik karena seluruh rangkaian misa kreatif ini dirancang dan dilaksanakan oleh para peserta didik kelas XI-A, XI-B, dan XI-C SMA Santa Ursula BSD. Mulai dari petugas liturgi, tata laksana, hingga dekorasi misa dilakukan sepenuh hati oleh peserta didik, didukung pula oleh guru-guru.  Keunikan dari misa kreatif ini tampak sejak awal, ketika Stefi dari kelas XI-C, membawakan sebuah monolog tentang perjuangan sebagai seorang anak SMA, yang pastinya dekat dengan kehidupan peserta didik. Monolog tersebut mengajak umat untuk merenungkan tantangan iman di tengah kehidupan remaja yang penuh dinamika. Momen ini menjadi pintu masuk yang menyentuh hati sebelum misa dimulai. Selain itu, beberapa petugas liturgi juga memberikan kesaksian mengenai proses persiapan mereka. Andra dari kelas XI-A yang bertugas sebagai dirigen koor, menceritakan tantangan memimpin teman-teman yang masih awam dalam bernyanyi paduan suara. Namun, ia bersyukur karena teman-temannya tetap bersemangat untuk belajar dan mau melayani sepenuh hati. Menurutnya, yang terpenting bukanlah hasil nyanyian, tetapi niat pelayanan yang tulus. Keira dari kelas XI-A, yang bertugas membacakan bacaan pertama, juga menyampaikan pengalamannya. Ia menuturkan bahwa proses latihan bersama para pembaca lainnya sangat berkesan. Dari latihan yang konsisten, ia belajar tentang keberanian dan kepercayaan diri. Meskipun sempat gugup pada hari pelaksanaan, Keira merasa lega karena dapat berbicara dengan lancar dan penuh keyakinan di hadapan umat. Perayaan misa kreatif ini bukan hanya menjadi pengalaman rohani, tetapi juga kesempatan belajar bagi para peserta didik untuk melayani dengan rendah hati. Melalui keterlibatan aktif dalam liturgi, mereka semakin dikuatkan dalam iman, diperkaya dengan pengalaman baru, serta terdorong untuk terus menghadirkan Kristus dalam kehidupan sehari-hari. 
Selengkapnya