TRIAL CLASS BAHASA JERMAN MURID KELAS IX SMP SANTA URSULA BSD
Posted: 2025-09-22 | By: Brian Aurey Saputra / XI-C / 04
Kamis, 11 September 2025 - SMA Santa Ursula BSD bekerja sama dengan SMP Santa Ursula BSD memperkenalkan dan mempersiapkan murid kelas IX dengan pembelajaran bahasa Jerman pada tingkat SMA. Maka, Santa Ursula BSD menyelenggarakan trial class bahasa Jerman. Program ini memberi murid kelas IX kesempatan lebih awal dalam mengenal proses pembelajaran kelas Jerman pada tingkat SMA. Dalam kegiatan trial class Jerman ini, murid kelas IX mendapatkan pengenalan dasar bahasa dan budaya Jerman, pengalaman belajar yang interaktif dan intensif, serta persiapan awal untuk masa depan global. Trial class ini diadakan karena adanya banyak minat dan antusiasme dari murid SMP untuk mengetahui pembelajaran bahasa Jerman yang ada di SMA Santa Ursula BSD. Kegiatan ini juga menjadi langkah awal bagi murid-murid yang ingin melanjutkan pendidikannya ke Jerman. SMA Santa Ursula BSD ingin membantu murid agar mereka memiliki fondasi serta persiapan yang kuat agar para murid siap terjun dalam perguruan tinggi.  Dengan bekal bahasa yang kuat dari awal, murid tidak hanya lebih siap mengikuti perkuliahan, tetapi juga mampu membuka akses ke berbagai kesempatan dan beradaptasi lebih cepat dengan lingkungan akademik maupun kehidupan sehari-hari. Untuk mewujudkan kegiatan ini, SMA Santa Ursula BSD berkerja sama dengan Goethe-Institut melalui inisiatif PASCH (Schulen: Partner der Zukunft atau Sekolah: Mitra menuju Masa Depan). Melalui kerja sama ini,  SMA Santa Ursula BSD menjadi salah satu dari 29 sekolah PASCH di Indonesia yang memiliki hubungan langsung dengan pemerintah Jerman dalam bidang pendidikan. Sebagai sekolah PASCH sejak tahun 2009, Santa Ursula BSD mendapatkan berbagai fasilitas dan dukungan dari Goethe-Institut, mulai dari materi pembelajaran yang sesuai standar internasional, hingga kesempatan bagi murid untuk terlibat dalam kegiatan berskala global. Jaringan PASCH mencangkup lebih dari 600 sekolah di lebih dari 100 negara, hal ini dapat memungkinkan beberapa kegiatan berskala internasional atau antarsekolah dalam maupun luar negeri. Program seperti pertukaran surat, kompetisi akademik, maupun kegiatan budaya dapat dilakukan. Selain itu, akses ke peluang beasiswa yang disediakan oleh Goethe-Institut maupun pemerintah Jerman menjadi salah satu keunggulan yang membuka jalan bagi murid untuk melanjutkan studi di luar negeri, khususnya ke Jerman. Antusiasme peserta terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai tiga kelas dalam waktu singkat. Pendaftaran yang dibuka pada hari Minggu dan ditutup pada Senin siang langsung terpenuhi karena kuota terbatas. Pada Kamis, 11 September 2025, terdapat 60 peserta dari kelas IX, sedangkan pada Kamis, 18 September 2025, ada 50 peserta dai kelas VIII yang juga dibagi menjadi tiga kelas untuk menjaga efektivitas kegiatan.Dalam trial class ini, para murid diperkenalkan kepada dasar-dasar bahasa Jerman yang sederhana, namun sangat penting. Materi yang diajarkan meliputi salam atau Begrüßung serta cara memperkenalkan diri atau sich vorstellen. Kedua aspek ini dipilih karena merupakan fondasi utama dalam membangun komunikasi sehari-hari, baik di dalam kelas maupun dalam percakapan tertentu. Proses pembelajaran dikemas dengan cara yang interaktif sehingga para murid dapat langsung mencoba dan berdialog antar teman dan guru. Kegiatan trial class ini terbukti sangat membantu para murid, menurut Belle IX-C, ia menganggap kelas Jerman ini sangat seru dikarenakan metode pembelajarannya yang interaktif. “Semoga kelas Jerman dapat dilakukan dengan cara yang menarik, interaktif dan terdapat beberapa permainan games yang asik sehingga pembelajaran dapat dilakukan dengan menarik” Ujarnya dengan semangat. Sementara itu, bagi murid yang bercita-cita melanjutkan kuliah di Jerman seperti Helden IX-D, trial class ini dirasakan sangat bermanfaat. Menurutnya, dengan guru yang ramah, cara mengajar yang baik, serta penyampaian materi yang menarik, kelas ini memberikan bekal awal yang penting terutama bagi murid yang baru memulai perjalanan belajar bahasa Jerman.Untuk kedepannya, Frau Ruth Berliana selaku guru bahasa Jerman SMA Santa Ursula BSD, berharap kegiatan seperti trial class ini dapat menumbuhkan minat yang lebih besar terhadap bahasa Jerman di kalangan murid. “Harapannya semakin banyak siswa yang tertarik dan menyukai bahasa Jerman,” ujarnya. Menurutnya, bahasa asing bukan hanya tentang komunikasi, tetapi juga membuka wawasan baru mengenai budaya, kesempatan akademik, dan peluang masa depan yang lebih luas. 
Selengkapnya
Layanan Pemeriksaan Kesehatan oleh Puskesmas Rawabuntu
Posted: 2025-09-22 | By: Anicka Reine Andry X-C/4
           Pada Kamis 18 September 2025, Puskesmas Rawabuntu memberikan program pemeriksaan kesehatan bagi murid kelas X di berbagai sekolah sekitar daerah Tangerang Selatan, salah satunya Santa Ursula BSD. Tujuan utama dilaksanakannya pemeriksaan kesehatan ini adalah untuk memastikan bahwa murid dalam kondisi sehat secara fisik dan mental. Sebelum dilakukannya pemeriksaan kesehatan, Puskesmas Rawabuntu mengedarkan angket dalam bentuk Google Form untuk diisi oleh murid kelas X. Angket ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang mencakup identitas kewarganegaraan murid hingga keluhan fisik berbasis gender dan keluhan mental yang dihadapi atau pernah dihadapi murid kelas X.             Saat hari-H, murid kelas X  dipanggil per kelas secara bergantian dan memakan waktu sekitar 45 menit untuk pemeriksaan setiap kelasnya. Pemeriksaan ini dilakukan di Aula SMP-SMA Santa Ursula BSD mulai dari pukul 07.45 hingga sekitar pukul 12.00. Para murid diberikan kertas yang harus diisi dengan identitas diri, tinggi badan, berat badan, dan tekanan darah. Sebelum diperiksa, tiap murid duduk dalam urutan sesuai nomor presensi untuk memastikan proses pemeriksaan kesehatan dapat berjalan dengan efektif dan kondusif.             Pemeriksaan kesehatan dimulai dari menghitung tinggi badan dan berat badan yang dibantu oleh tenaga pendidik SMA Santa Ursula BSD. Kemudian, para tenaga kesehatan dari puskesmas mengecek tekanan darah tiap murid dan menuliskan semua data pada kertas yang sudah diberikan. Setelah menyelesaikan bagian tersebut, tiap murid memberikan kertas yang sudah diisi berisi identitas diri dan data kepada administrator dari Puskesmas Rawabuntu. Setelah diselesaikan proses administrasi oleh pihak Puskesmas Rawabuntu, tiap murid diperiksa kebersihan telinga, kuku, dan gigi serta pengumpulan data preskripsi mata seperti miopia dan astigmatisme. Bagi murid yang sudah mengetahui preskripsi mata, mereka dapat langsung memberikan data kepada pihak administrasi, tetapi pihak Puskesmas juga menyediakan layanan pengecekan mata.            Akhirnya, proses pengecekan kesehatan ini diselesaikan dengan pengecekan gula darah. Untuk menjaga kebersihan dan kesterilan sampel darah, jari tangan dibersihkan dengan kapas alkohol. Jari tangan yang digunakan untuk pengecekan gula darah dapat menggunakan jari tangan manapun. Kemudian, pihak puskesmas menggunakan lanset kecil untuk menusuk ujung jari secara minimal (minimal invasif) dan mengambil setetes atau dua tetes darah. Tetes darah tersebut kemudian dicek oleh glukometer untuk mengetahui gula darah yang mereka miliki. Mayoritas para murid memiliki kadar gula darah yang normal.            Pasca kegiatan pemeriksaan kesehatan, saya sadar bahwa adanya pemeriksaan kesehatan fisik dan psikis sangat penting untuk dilakukan karena tindakan ini adalah salah satu hak yang dimiliki saya sebagai anak. Hal ini  juga membantu menjaga suasana kondusif dalam proses pembelajaran di sekolah. Sebagai anak, kita memiliki hak untuk bertumbuh dan berkembang dengan baik. Kondisi kesehatan fisik dan psikis yang optimal dapat membantu murid mengikuti pembelajaran di sekolah dengan baik dan menjadi pribadi yang utuh, cerdas, dan melayani dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai bekal di masa mendatang. 
Selengkapnya
Hidup Kudus, Siapa Takut??
Posted: 2025-09-16 | By: Chatarina Lani Usiana / Guru Agama
Di tengah hiruk- pikuk  dunia,  dengan perkembangan teknologi yang tidak terbendung, banyak orang  terbawa oleh arus kehidupan  individualistis, materialistis, konsumeristis dan hedonis. Hal tersebut juga menimpa keseharian hidup orang muda Katolik. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam dengan scroll dan joget-joget di Tik-tok, flexsing, main gim daring seperti Roblox dan Mobile Legend. Terkadang lupa pada hal utama yang menjadi tujuan atau harapan hidupnya. Orang muda Katolik  lupa bahwa dengan kemudaannya banyak hal berguna bisa dilakukan untuk pertumbuhan dan perkembangan diri maupun imannya. Di dalam keadaan dunia yang demikian, ternyata ada anak muda Katolik yang berani tampil berbeda dan sangat luar biasa cara hidupnya. Ia berani menampilkan hidup yang menyerupai Kristus. Pribadi tersebut bernama Carlo Acutis. Santo Carlo Acutis “ God Influencer” Saint of the Internet” Ia lahir pada 3 Mei 1991 di London, Inggris. Pada 18 Mei 1991 Carlo Acutis menerima Sakramen Baptis di Church of Our Lady of Dolours. Kemudian pada 8 September 1991, Carlo bersama orang tuanya kembali ke Milan Italia. Sejak masih kecil Carlo Acutis sangat mencintai Ekaristi, maka setiap hari  pergi dan  mengikuti perayaan tersebut. Carlo kecil juga sering mengajukan banyak pertanyaan tentang ekaristi kepada ibunya. Hal tersebut membangkitkan ibunya untuk belajar teologi sehingga siap menjawab pertanyaan-pertanyaan Carlo. Seperti anak-anak di zamannya Carlo kecil juga menyukai teknologi digital. Keterampilan dibidang teknologi digital terus berkembang karena kemauannya untuk belajar dan berselancar di internet terus diasah secara otodidak. Kesukaan  Carlo Acutis pada teknologi internet dan kecintaannya pada Ekaristi kudus menggerakkan dirinya membuat web (situs internet). Situs tersebut digunakan sebagai sarana untuk mengabarkan mukjizat-mukjizat Ekaristi. Perkembangan teknologi digital manfaatkan oleh Carlo dengan bijak dan menjadi sumber berkat, bagi diri sendiri, keluarga, gereja dan sesamanya.Pengalaman hidup sehari-hari Carlo dijalani dengan penuh sukacita, sadar menggunakan inderanya untuk mengasah kepekaan pada situasi kehidupan masyarakat sekitar. Ia sadar bahwa di sekelilingnya masih banyak orang yang hidupnya kurang beruntung, sehingga membutuhkan perhatian dan uluran tangannya. Hidup kudus menjadi pilihannya dan disyukuri sebagai anugerah Tuhan. Ia menjalani hidup kudus dengan cara berdevosi kepada Bunda Maria dan mendaraskan doa rosario setiap hari. Ia juga bersedia menjadi pendengar bagi teman-temannya yang menceritakan persoalan hidup, Ia berbagi dengan para gelandangan yang  ditemuinya. Ia menggunakan uang jajannya untuk berbagi. Carlo juga mnemani teman-temannya yang menjadi korban perundungan. Bagi Carlo Acutis hidup kudus bukanlah keniscayaan tetapi dihayati dalam kegiatannya sehari-hari disertai dengan hati terarah kepada Tuhan.  Kehidupan yang Ia jalani menjadikan yang duniawi bernilai adikodrati, yang transenden dipahami dengan iman yang mendalam. Sungguh pengalaman hidup beriman yang patut dibanggakan dan dijadikan teladan. Orang muda Katolik mestinya bangga, ternyata menjadi kudus bisa dijalankan selagi muda belia dengan apa adanya. “Orang terlahir dengan original tetapi banyak yang meninggal dalam keadaan fotocopy”Pada Hari Minggu, 7 September 2025, Beato Carlo Acutis dikanonisasi menjadi Santo oleh Bapa Suci Paus Leo XIV di Vatikan. Ada beberapa langkah yang dibutuhkan bagi seseorang menjadi santo di Gereja Katolik , sebagai berikut;Masa tungguMenjadi hamba Tuhan (Servant of God)Bukti kebajikan (Heroik in Vertui )Verifikasi Mukjizat (Blessed)Kanonisasi ini adalah langkah terakhir seseorang yang telah meninggal dijadikan santo, untuk mencapai tahap ini, biasanya dibutuhkan bukti mukjizat lain yang berkaitan      dengan individu yang bersangkutan.Proses untuk menjadikan seseorang sebagai santo biasanya tidak dapat dimulai hingga setidaknya lima tahun setelah kematian mereka. Tetapi di masa tunggu ini dalam beberapa keadaan dapat dicabut  atau dipercepat oleh Bapa PausSebuah penyelidikan kemudian dilakukan untuk memeriksa apakah orang tersebut menjalani hidup mereka secara kudus. Bukti pun dikumpulkan. Jika kehidupan mereka benar akan disebut “hamba Tuhan”Departemen yang membuat rekomendasi kepada Paus tentang santo kemudian meneliti buktinya. Jika kasusnya disetuji oleh Bapa Paus, mereka bisa di sebut terhornmatTahap selanjutnya beatifikasi yang membutuhkan mukjizat terkait dengan doa yang dibuat untuk calon santo setelah kematiannnya. Mukjizat perlu diverifikasi dengan bukti sebelum diterima. Setelah dibeatifikasi calon diberi gelar “Diberkati”Beato Carlo Acutis memenuhi syarat-syarat tersebut sehingga beliau dikanonisasi menjadi Santo.  Hidupnya sungguh meneladani hidup Yesus. Bagaimana dengan orang muda katolik? menjalani hidup kudus? siapa takut ?
Selengkapnya
INFLUENCER TUHAN: INSPIRASI KAUM MUDA
Posted: 2025-09-12 | By: Josephina Zelda Gwenogia Wibowo / XII B - 14
Murid SMA Santa Ursula BSD baru saja mengikuti ibadat khusus untuk mengenang Santo Carlo Acutis, seorang remaja Katolik yang dikenal karena kecintaannya pada Ekaristi dan kepandaiannya memanfaatkan teknologi untuk mewartakan iman. Carlo Acutis, sosok anak muda milenial yang lahir dan tumbuh di dalam sebuah keluarga di Italia. Ia lahir di London, Inggris dan merupakan buah hati dari pasangan Italia, yaitu Andrea Acutis dan Antonia Salzano pada 3 Mei 1991. Carlo dibesarkan oleh orang tuanya yang terbilang tidak cukup religius di Milan, Italia. Walaupun ia tumbuh di tengah keluarga yang tidak begitu taat beribadah, nyatanya sejak kecil Carlo sudah menunjukkan ketertarikannya pada ajaran Katolik. Dia rajin berdoa Rosario dan mengikuti misa harian di gereja. Bahkan, Carlo pun sempat menyatakan bahwa Ekaristi merupakan jalan tol menuju surga. Oleh karena itulah, ia selalu menerima Sakramen Mahakudus setiap hari.Semasa hidupnya, sangat terlihat bahwa nilai-nilai ajaran Katolik telah terinternalisasi dalam diri seorang Carlo Acutis. Ketekunannya dalam berdoa dan kebiasaannya mengikuti Ekaristi pun tampaknya membuahkan dampak konkret bagi sesama. Carlo tidak jarang menunjukkan kepeduliannya terhadap anak-anak korban perundungan dan tunawisma dengan memberikan makanan serta kantong tidur kepada mereka.Tidak bisa dipungkiri bahwa Carlo Acutis yang tergolong generasi milenial hidup berdekatan dengan digitalisasi dan/atau teknologi. Ia memiliki antusiasme dalam bidang IT atau komputer. Hal itu terlihat dari ketekunannya dalam mempelajari pemrograman secara otodidak. Meski tekun mempelajari IT, fokusnya pada Ekaristi tidak pernah pudar. Bahkan, Carlo mampu menggabungkan unsur religi dan unsur teknologi dengan apik melalui situs yang ia buat. Situs tersebut berisi ajaran-ajaran Katolik dan sebagai sarana untuk mendokumentasikan berbagai mukjizat Ekaristi. Melalui situs inilah Carlo mulai melakukan penyebaran atau pewartaan mengenai iman Katolik ke seluruh dunia di era modernisasi dan digitalisasi ini. Ia sangat paham bahwa platform digital mampu memberikan dampak luar biasa terhadap kondisi global. Oleh karena itu, Carlo Acutis dijuluki Influencer Tuhan atau rasul siber.Dalam kesehariannya, Carlo mampu menyeimbangkan hal-hal yang disukainya, seperti sekolah, bermain game, sepak bola, dan IT dengan imannya akan ajaran Katolik. Sayangnya, ia harus wafat di usia yang masih sangat muda, yaitu 15 tahun pada 12 Oktober 2006 akibat penyakit leukemia. Setelah wafat, nama Carlo Acutis pun masih eksis di kalangan anak muda. Ini terbukti melalui beberapa mukjizat yang terjadi melalui perantaraan doanya. Seperti pada kasus seorang anak Brazil yang berhasil sembuh dari penyakit kelainan pankreas langka setelah berdoa melalui perantaraan Carlo Acutis. Selain itu, juga terjadi mukjizat serupa yang dialami oleh seorang siswa bernama, Kosta Rika. Ia juga sembuh dari cedera parah akibat kecelakaan. Kedua keluarga mengaku telah berdoa untuk penyembuhan anak-anak mereka dengan memohon bantuan Carlo.Dua mukjizat tersebut pun dirasa cukup untuk menjadi bukti iman dan kesucian sosok Carlo Acutis, hingga pada 10 Oktober 2020 Paus Fransiskus melakukan beatifikasi padanya. Untuk bisa diangkat menjadi orang suci atau santo (kanonisasi), terdapat tiga aspek yang harus dipenuhi, yaitu penyelidikan, venerabilis, dan beatifikasi. Carlo Acutis sudah sampai pada tahap beatifikasi. Dengan demikian, pada 7 September 2025, ia resmi diangkat menjadi seorang santo oleh Paus Leo XIV di Vatikan, sehingga menjadikan dirinya sebagai santo milenial pertama. Di usianya yang masih sangat muda serta menjadi generasi milenial pun membuat Carlo Acutis menjadi inspirasi dan bahkan idola bagi kaum muda saat ini. Carlo dapat menjadi teladan bagi anak muda, khususnya dalam hal menyeimbangkan antara hal-hal duniawi dan rohani. Kesukaannya dalam IT atau komputer, nyatanya dapat berjalan selaras dengan imannya tentang Kristus. Kita yang hidup di masa kini pun, baik itu generasi milenial, generasi Z, dan generasi-generasi lainnya diharapkan berkaca dari St. Carlo Acutis. Kita dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan berbagai tantangan yang ada dengan iman yang kuat terhadap Kristus.Ibadat mengenang Santo Carlo Acutis di SMA Santa Ursula BSD menjadi momen penting bagi para murid untuk meneladani semangat hidupnya: mencintai Ekaristi, peduli pada sesama, dan menggunakan teknologi secara bijak untuk kebaikan. Melalui doa dan kebersamaan ini, para murid diharapkan semakin menghidupi iman mereka di tengah tantangan dunia modern, sebagaimana Santo Carlo menjadi teladan inspiratif bagi generasi muda di seluruh dunia. Sumber:https://www.kompas.com/global/read/2025/09/07/185309070/siapa-santo-carlo-acutis-yang-baru-saja-dikanonisasi-paus-leo-xivhttps://www.wired.com/story/carlo-acutis-millennial-patron-saint-internet/
Selengkapnya
DARI SANTA URSULA UNTUK INDONESIA: 35 TAHUN MENGABDI, MELAYANI, DAN BERJUANG ATAS NAMA KEADILAN
Posted: 2025-09-02 | By: Jacinda Ruela Oktavia (Jessie) / XII-E / 15 | Dokumentasi oleh: Aldric / XI-C
“Santa Ursula sebagai Lembaga Pendidikan dan Perjuangannya”Santa Ursula BSD, sebagai lembaga pendidikan Katolik di bawah Yayasan Sancta Ursula dan Ordo Ursulin, telah 35 tahun hadir untuk membentuk manusia yang utuh, cerdas, dan siap melayani. Berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan iman Katolik, Santa Ursula menanamkan motto Serviam (aku melayani) dan nilai insieme (kebersamaan) sebagai inti dalam proses pendidikannya. Dengan menekankan cinta, belas kasih, integritas, dan keberanian, Santa Ursula telah berperan dalam membentuk karakter yang selaras dengan semangat kemerdekaan, yaitu kebebasan untuk berkembang dan memberi makna bagi sesama. Pendidikan, Kebutuhan Dasar dan Hak Setiap Warga NegaraPendidikan adalah hak dasar setiap warga negara dan fondasi penting dalam pembangunan bangsa. Sesuai dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, negara menjamin hak belajar minimal sembilan tahun bagi seluruh anak bangsa. Namun, realitas sosial di masyarakat menunjukkan bahwa belum semua anak mendapatkan kesempatan yang adil untuk mengakses pendidikan berkualitas. Ketimpangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan, serta antara Pulau Jawa dan luar Jawa, menunjukkan bahwa kemerdekaan dalam bidang pendidikan masih jauh dari kata tuntas. Ketidakmerataan ini juga berdampak langsung pada kesenjangan sosial dan ekonomi, di mana anak-anak dari daerah tertinggal harus berjuang lebih keras hanya untuk mendapatkan fasilitas pendidikan dasar yang memadai. Lalu marilah kita merefleksikan diri: Apakah kita benar-benar merdeka jika hak dasar untuk memperoleh pendidikan berkualitas belum dirasakan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat?Terdapat tiga contoh konkret yang mencerminkan hal ini. Pertama, banyak anak di daerah terpencil masih putus sekolah karena faktor ekonomi, jarak, dan minimnya fasilitas. Kedua, kesenjangan kualitas guru dan sarana prasarana pendidikan antara kota dan desa menyebabkan ketimpangan mutu pembelajaran. Ketiga, keterbatasan akses teknologi di luar Jawa menghambat kemampuan siswa dalam mengikuti perkembangan dunia digital dan global. Ketiga contoh nyata ini membuktikan bahwa kemerdekaan dalam bidang pendidikan belum sepenuhnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia Kemiskinan dan Pengangguran, Bentuk Nyata Ketidakadilan SosialKemerdekaan juga bukan hanya sekadar bebas dari penjajahan secara fisik, tetapi juga harus mencakup kebebasan dari ketidakadilan sosial. Namun, realitas yang ada menunjukkan bahwa dalam aspek sosial, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Ketidakadilan sosial masih terjadi dalam berbagai bentuk, seperti kesenjangan ekonomi, diskriminasi gender, termasuk ketidakmerataan akses pendidikan dan pelayanan kesehatan. Ketimpangan ini membuat sebagian besar masyarakat, terutama mereka yang berasal dari kelompok menengah ke bawah (inferior) masih sulit merasakan hak-hak dasar yang seharusnya menjadi bagian dari kemerdekaan itu sendiri, seperti kebutuhan untuk memenuhi dasar pangan, pendidikan, dan kesehatan.Perempuan, misalnya, masih menghadapi diskriminasi dalam dunia kerja dan politik. Banyak dari kaum perempuan belum memperoleh kesempatan dan upah yang setara dengan laki-laki. Kelompok minoritas dan masyarakat adat juga kerap mengalami marginalisasi, kehilangan hak atas tanah, dan kesulitan mendapatkan perlindungan hukum. Contoh nyata adalah perjuangan petani perempuan Kendeng yang mengangkat isu ketimpangan dari sudut pandang ekofeminisme, di mana perempuan menjadi kelompok terdepan dalam mempertahankan hak hidup dan lingkungan. Ini menunjukkan bahwa masih banyak lapisan masyarakat yang belum menikmati kemerdekaan sosial yang sejati. Makna Kemerdekaan yang SesungguhnyaMerdeka bukan sekadar kata yang menandai kebebasan dari penjajahan fisik, melainkan sebuah kondisi di mana setiap warga negara bebas dari penindasan, ketidakadilan, dan kemiskinan. Merdeka mencakup kebebasan seutuhnya dari segala bentuk penindasan, baik fisik maupun struktural, yang memungkinkan setiap individu memiliki kendali atas hidupnya sendiri. Dalam konteks Indonesia, kemerdekaan juga berarti terwujudnya pemerataan kesejahteraan, pendidikan berkualitas yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, dan penegakan hak asasi manusia tanpa diskriminasi. Tujuh puluh sembilan tahun telah berlalu sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, namun makna sejati kata “merdeka” masih menjadi pertanyaan besar. Dibalik kemeriahan perayaan tahunan dan kibaran Sang Merah Putih, tersembunyi realita pahit yang jauh dari cita-cita para pendiri bangsa. Ketimpangan sosial, korupsi yang mengakar, dan perjuangan sehari-hari masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar menjadi potret nyata Indonesia hari ini. Sudah waktunya kita bertanya: Sudahkah kita benar-benar merdeka?– Tria Kholifah, Realita Kemerdekaan Indonesia: Jeritan Pilu di Balik Kata “Merdeka,” lpmkeadilan.org, dipublikasikan pada 17 Agustus 2024. Meski Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, berbagai tantangan struktural seperti korupsi, ketimpangan sosial, dan kemiskinan masih menjadi penghalang besar. Kemerdekaan sejati bukanlah tujuan yang selesai dalam satu waktu, tetapi proses panjang yang menuntut keterlibatan dan perjuangan kolektif. Selama masyarakat masih harus memperjuangkan hak-haknya yang paling dasar, perlu diakui bahwa Indonesia masih belum sepenuhnya merdeka. Santa Ursula Hadir Sebagai Solusi, Mengupayakan Kemerdekaan SejatiDi tengah kompleksitas tantangan bangsa, Santa Ursula hadir sebagai lembaga pendidikan dan juga sebagai agen perubahan sosial. Selama 35 tahun keberadaannya di BSD, Santa Ursula telah membuktikan diri sebagai tempat pembinaan nilai, karakter, dan kesadaran sosial yang kuat. Dengan semangat Serviam dan insieme, sekolah ini berkomitmen membentuk pribadi yang cerdas, berintegritas, dan peduli pada sesama.Melalui pendekatan pendidikan holistik dan berbasis nilai, Santa Ursula menciptakan ruang aman dan berkualitas bagi setiap siswanya untuk tumbuh. Di samping kecerdasan intelektual, siswa juga dibentuk agar memiliki empati, kepedulian, dan semangat melayani. Dalam aspek sosial, siswa diajak terlibat langsung dalam berbagai kegiatan pelayanan masyarakat yang membentuk karakter solider dan adil. Santa Ursula mendorong siswanya untuk peka terhadap realita di sekitar, serta berani mengambil peran dalam menciptakan perubahan. Siswa tidak hanya dididik untuk menjadi unggul dalam prestasi, tetapi juga untuk membagikan ilmunya bagi kesejahteraan bersama. Proyek pengabdian, kampanye sosial, serta edukasi nilai kemanusiaan yang dilakukan siswa dan guru menjadi wujud nyata perjuangan dalam mewujudkan keadilan.Dengan nilai-nilai Santa Angela, Serviam, integritas, dan keberanian, Santa Ursula membentuk pribadi-pribadi yang tidak hanya mandiri, namun juga menjadi pembawa harapan dan keadilan di tengah masyarakat. Inilah wujud kontribusi Santa Ursula dalam mewujudkan kemerdekaan yang sejati bagi Indonesia, melalui pembentukan pribadi dan karakter yang tidak hanya mandiri, tetapi juga menjadi pembawa perubahan bagi masyarakat di sekitarnya.
Selengkapnya
Apakah Indonesia Sudah Merdeka? Sebuah Tulisan Reflektif yang Ditulis dalam Memperingati 80 Tahun Pasca Kemerdekaan Republik Indonesia
Posted: 2025-08-27 | By: Penulis: Frances Arcelia Adimartana | XII-E/13
80 tahun sudah lewat sejak Indonesia merdeka tetapi apakah sistemnya sudah merdeka dan makmur, terutama dalam hal pendidikan? Meskipun telah mengalami banyak perubahan dan upaya menuju kemerdekaan, sebenarnya pendidikan di Indonesia masih dalam proses menuju kemerdekaan yang sesungguhnya.  Dari sebelum terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, sistem pendidikan yang diterapkan di negara ini sudah memperlihatkan ketidakadilan dalam hal pendidikan, dimana perempuan lebih sulit mendapatkan akses pendidikan daripada pria. Hal ini mencerminkan bahwa kemerdekaan yang sesungguhnya bukan hanya soal pengakuan politik, tetapi juga tentang kebebasan dan keadilan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan.  Kemerdekaan pendidikan bukan hanya semata-mata bebas dari perjuangan fisik atau pengaruh asing, tetapi juga dalam hal diskriminasi, ketidakadilan, dan keterbatasan yang menghambat warga negara Indonesia untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Setiap anak, tanpa kecuali, memiliki hak untuk mendapatkan ilmu dan pendidikan yang berkualitas yang dapat membentuk karakter dan kepribadian diri. Namun, apakah pendidikan ini sudah merata dan diterima setiap warga negara yang tinggal di negara Indonesia? Persentase warga negara Indonesia yang mendapatkan ilmu berkualitas khususnya melalui pendidikan tinggi masih tercatat rendah, terdapat hanya sekitar 6-10% penduduk yang menamatkan pendidikan di perguruan tinggi. Meskipun lebih banyak penduduk yang memiliki ijazah SMA, tetapi jumlah yang melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi masih jauh lebih kecil.  Padahal, kemerdekaan dalam aspek pendidikan harusnya mampu menghapus penghalang sosial dan budaya yang selama ini membatasi akses pendidikan, khususnya bagi perempuan, kelompok marginal, dan daerah tertinggal. Merdeka berarti pendidikan seharusnya tidak menjadi privilege sebagian orang, melainkan menjadi hak dasar yang diwujudkan dalam sistem yang inklusif dan merata. Selain itu, merdeka dalam pendidikan berarti bebas dalam berekspresi, berkarya, dan berinovasi demi kebaikkan sesama dan membangun relasi yang adil dan makmur di kalangan masyarakat tanpa merasa takut dikucilkan atau dihakimi. Pendidikan yang merdeka harus membentuk generasi yang kritis, mandiri, dan bertanggung jawab, yang mampu menghadapi tantangan global sekaligus menjaga nilai-nilai luhur budaya bangsa.  Selain akses dan kualitas pendidikan, aspek penting lain dalam mewujudkan kemerdekaan pendidikan adalah kurikulum yang diterapkan sebagai panduan belajar mengajar di seluruh jenjang pendidikan. Kurikulum merupakan cerminan nilai-nilai, tujuan, dan arah pembangunan sebuah bangsa dalam konteks pendidikan. Di masa ini, sistem pendidikan sudah berkembang mengikuti alur globalisasi. Dunia mulai memanfaatkan teknologi dan lebih fleksibel dalam membangun karakter murid dan tenaga pendidik di sekolah. Kurikulum yang diterapkan sekarang, yaitu Kurikulum Merdeka, memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengeksplorasi minat, bakat, dan kreativitas sesuai dengan kebutuhan zaman.  Namun, dalam pelaksanaannya, tantangan dalam mewujudkan pendidikan yang merdeka dengan kurikulum ini masih cukup besar. Perbedaan sumber daya, ketersediaan fasilitas, dan kesiapan guru di berbagai daerah menjadi sulit untuk mengatur dan menciptakan keadilan dalam sistem pendidikan. Maka dengan itu, menurut saya, Indonesia masih perlu mengembangkan dan memahami makna kemerdekaan dari aspek pendidikan secara mendalam, kita sebagai rakyatnya diajak untuk lebih aktif berkontribusi dalam memperbaiki sistem pendidikan Indonesia. Hanya dengan pendidikan yang benar-benar merdeka dan adil, bangsa ini dapat mewujudkan kemerdekaan sejati. Kemerdekaan yang membawa kesejahteraan dan kemajuan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Selengkapnya
Menyelami Building The Future, Preserving the Legacy, Growing Together dalam Talk Show Inspiratif bersama Rosianna Silalahi
Posted: 2025-08-27 | By: Dionisius Prandra Aptaditya Bintang Tampubolon | XI-A/13
Penyelenggaraan Open Campus Santa Ursula BSD menjadi acara puncak perayaan 35 tahun kampus Santa Ursula BSD. Acara Open Campus yang mengusung tema, “Building the Future, Preserving the Legacy, and Growing Together” ini, mengajak komunitas Santa Ursula BSD, untuk bertumbuh bersama dalam membangun masa depan, dengan warisan nilai-nilai Santa Angela Merici. Ketiga tema ini diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan yang menjadi daya tarik Open Campus Santa Ursula BSD. Kegiatan pameran pendidikan yang mencerminkan Building the Future, penampilan tari kolosal yang merupakan implementasi dari tema Growing Together, serta tema Preserving The Legacy yang dikemas dalam gelar wicara inspiratif dengan narasumber Ibu Rosiana Silalahi dengan membahas warisan nilai-nilai Santa Angela. Kegiatan gelar wicara yang berlangsung selama dua jam ini, membahas dengan rinci tema Preserving The Legacy dalam berbagai sudut pandang; Ibu Rosiana Silalahi sebagai narasumber dan salah satu alumni sekolah Santa Ursula Jakarta; Moderator Ibu Nindi dan Ibu Rini sebagai perwakilan guru Sekolah Santa Ursula BSD; Penegasan alumni oleh Mahiswara Timur, Josephine Hendrianti, dan Arkie Victor Tumbelaka sebagai perwakilan Alusia (Alumni Sekolah Santa Ursula BSD); serta pembawa acara, Rafel Satrio Manglassa dan Natania Nalini Dewanto sebagai perwakilan dari murid Sekolah Santa Ursula BSD. Sesi pembahasan gelar wicara dimulai langsung dengan pengalaman pribadi Ibu Rosiana Silalahi yang secara terang-terangan dilontarkan olehnya. “Saya dulu sering sekali dipanggil oleh mendiang suster Francesco karena nakal, sering sekali diomeli oleh beliau. Sehingga saya mencoba membuktikan pada suster bahwa saya adalah anak yang melalui prestasi yang saya raih. Dari peristiwa tersebut saya malah mendapat nilai-nilai Santa Angela yang masih saya terapkan sampai sekarang” ujar Ibu Rosiana Silalahi membuka pembahasan gelar wicara. Selain dari prestasi yang diraih, Ibu Rosiana Silalahi juga sering memberikan pendapat kritisnya kepada mendiang Suster Francesco yang membuat suster sangat mempercayainya.  Ibu Rosi menjadi salah satu alumni Santa Ursula Jakarta yang mampu membawa perubahan sosial pada masyarakat. Dengan keterampilannya, Ibu Rosi seringkali diundang untuk memberikan pelatihan maupun membuka forum diskusi bersama dengan guru-guru serta murid Santa Ursula BSD. Ibu Rosi bertekad untuk terus melayani sesama dengan membawa perubahan melalui gagasan kritis yang berani ia sampaikan. Ibu Rosi sangat yakin ia dapat menjadi dirinya seperti sekarang, karena pembentukan karakter yang didapatkan dari sekolah Santa Ursula Jakarta. Menurut Ibu Rosi, sekolah Santa Ursula menjadi tempat pendidikan yang mampu mengembangkan muridnya dalam bidang akademik dan juga karakter. Sekolah Santa Ursula menjadi tempat yang cocok bagi para generasi muda untuk mengembangkan karakter mereka. Pada wawancara singkat yang dilakukan, Rosi menyampaikan bahwa tantangan terbesar generasi sekarang adalah kecenderungan mereka untuk melakukan segala sesuatu dengan instan dan tergoda untuk menggunakan Ai tanpa mencoba untuk mengembangkan kemampuan mereka. “Boleh saja kita menggunakan Ai untuk mempermudah kita, tapi jangan sampai kita lupa bahwa Tuhan telah memberikan kita akal budi dan hati nurani untuk menjadi manusia yang utuh. Karena kita tidak bisa mendapatkan keduanya dari teknologi namun kita memilikinya karena anugerah dari Tuhan”, kalimat penutup Ibu Rosi pada wawancara singkat tempo hari. Ibu Rosiana Silalahi sebagai salah satu tokoh yang memiliki potensi besar dalam dunia pers merupakan salah satu alumni Santa Ursula. Dengan bekal nilai Santa Ursula yang terus Ia pegang, yakni berdaya juang dan melayani. Rosi terus berkarya dengan pelayanan di hati tanpa melupakan pemberian paling hebat Tuhan yaitu akal budi dan hati nurani.
Selengkapnya
Deutsch ist ein Plus (Bahasa Jerman adalah Nilai Plus)
Posted: 2025-08-26 | By: Ruth Berliana - Guru Bahasa Jerman SMA Santa Ursula BSD
“Die Grenzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt - Ludwig Wittgenstein. Bahasaku adalah batas duniaku”. Di era globalisasi ini penguasaan bahasa asing bukan sekedar keterampilan berkomunikasi, melainkan juga menjadi kunci pembuka peluang di berbagai bidang. Bahasa Inggris mungkin bahasa asing yang umum dan sudah menjadi keharusan, tapi menguasai bahasa asing lainnya adalah sebuah keterampilan yang dapat menjadi nilai tambahan pada value kita; Deutsch ist ein Plus.Salah satu bahasa dengan jumlah penutur asli terbanyak di Uni Eropa adalah bahasa Jerman. Bahasa Jerman tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi di negara berbahasa Jerman seperti, Swiss, Austria, dan Lichtenstein, tetapi juga memiliki peran signifikan di kancah internasional. Dengan kemampuan berbahasa Jerman dapat membuka banyak peluang, baik dalam dunia pendidikan maupun karier. Hal ini dikarenakan negara Jerman memiliki pengaruh yang kuat tidak hanya dalam bidang bisnis, tetapi juga ilmu pengetahuan, dan teknologi. Hal tersebut menjadi salah satu dasar adanya pembelajaran bahasa Jerman di SMA Santa Ursula BSD. Proses pembelajaran bahasa Jerman di SMA Santa Ursula BSD tidak hanya sekadar belajar bahasa Jerman dengan baik dan benar, namun murid juga akan diajak untuk berkenalan dengan kebudayaan, makanan khas, dan juga sejarah Jerman. Apa yang membedakan pembelajaran bahasa Jerman di SMA Santa Ursula BSD dengan sekolah berbahasa Jerman lainnya? SMA Santa Ursula BSD bergabung bersama PASCH (Schulen: Partner der Zukunft) sejak tahun 2010. PASCH PASCH (Schulen: Partner der Zukunft) adalah sebuah inisiatif dari Kementerian Luar Negeri Jerman pada Februari 2008 yang bertujuan untuk membangun dan memperkuat jaringan sekolah di seluruh dunia yang memiliki hubungan istimewa dengan Jerman. Nama "PASCH" sendiri merupakan singkatan dari kalimat dalam bahasa Jerman yang berarti "Sekolah: Mitra Menuju Masa Depan". Pada saat ini ada 29 Sekolah PASCH yang tersebar di indonesia. Kerja sama ini memiliki banyak manfaat tidak hanya bagi sekolah, tetapi juga bagi murid. Bagi Pembelajaran, PASCH selalu up to date dalam memberikan bahan ajar yang sesuai dengan perkembangan zaman, seperti buku, smartboard, permainan, dan buku-buku cerita yang sangat bermanfaat bagi murid dalam meningkatkan kemampuan bahasa Jerman mereka. Selain itu, untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuan mengajar guru, PASCH juga memberikan pelatihan untuk guru, agar guru dapat selalu meningkatkan kemampuan pengajaran bahasa Jerman dan juga dapat menciptakan metode pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan di kelas. Pelatihan ini tidak hanya diberikan oleh ahli dari Indonesia, namun mendatangkan ahli dari Jerman dan negara lainnya. Guru juga bisa mendapatkan pelatihan yang diberikan tidak hanya di Indonesia, bahkan di Jerman secara langsung! MENARIK BUKAN?  Hal ini dilakukan agar pembelajaran bahasa Jerman lebih menyenangkan dan tidak monoton. Selain itu kami para guru diberikan juga wadah untuk saling bertukar pengetahuan yang diadakan secara rutin selama sebulan sekali, sehingga kami dapat menyegarkan pengetahuan yang kami miliki. Lalu apa manfaat yang dapat diterima murid? Murid mendapatkan kesempatan untuk lebih mengenal dan mempelajari bahasa dan negara Jerman. Berbagai pelatihan dan juga acara dapat diikuti murid SMA Santa Ursula BSD. Melalui pelatihan tersebut murid tidak hanya mendapatkan ilmu secara langsung, tetapi dapat juga dapat berkenalan dengan narasumber dan teman-teman PASCH dari sekolah lain, bahkan tidak menutup kemungkinan siswa memiliki kesempatan menjalin komunikasi dengan murid dari sekolah PASCH seluruh dunia. Murid dan guru dapat berpartisipasi dalam berbagai proyek, kompetisi, dan acara internasional melalui platform daring PASCH-net, yang menghubungkan mereka dengan komunitas PASCH global.  Para murid juga memiliki kesempatan untuk menguji kemampuan bahasa Jerman mereka dengan cara mengikuti ujian bahasa yang diadakan di Goethe Institut. Ujian yang dapat diikuti yaitu A1, A2, B1, bahkan B2. Selain itu setiap tahunnya sekolah SMA Santa Ursula BSD selalu dapat mengirimkan murid untuk mengikuti pembelajaran bahasa Jerman di negara Jerman secara langsung! Bagi kalian yang memiliki keinginan untuk Studkoll di Indonesia, PASCH juga memberikan beasiswa kepada murid yang berprestasi dan lolos seleksi. Banyak sekali kan keuntungan belajar bahasa Jerman di SMA Santa Ursula BSD. 
Selengkapnya
Kegiatan Upacara Bendera Perayaan Hari Kemerdekaan Ke-80 Republik Indonesia di Santa Ursula BSD: Dari Semangat Kebangsaan hingga Refleksi Sosial
Posted: 2025-08-20 | By: F.X Suryo Kumoro Jatie Guru Sosiologi SMA Santa Ursula BSD
Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia, Sekolah Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan upacara bendera pada hari Minggu, 17 Agustus 2025. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh peserta didik dari unit SMP dan SMA, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, serta tenaga penunjang. Upacara dimulai pada pukul 07.00-08.00 WIB dengan rangkaian prosesi yang berjalan tertib dan penuh semangat nasionalisme. Para petugas upacara yang berasal dari peserta didik SMP dan SMA menampilkan kedisiplinan dan rasa tanggung jawab yang tinggi, mencerminkan nilai cinta tanah air yang senantiasa ditanamkan dalam lingkungan pendidikan Santa Ursula BSD.Kegiatan upacara Kemerdekaan Indonesia pada tahun ini sebagai pembina upacara yaitu Bapak Antonius Yanto (Pak Yanto) dari Unit SD. Dalam amanatnya, beliau menyampaikan pesan yang unik namun sarat makna. Beliau mengangkat fenomena sosial dari dunia maya yang sedang populer, yaitu pengibaran bendera Jolly Roger dari anime One Piece di masa perayaan Kemerdekaan Indonesia ke-80 tahun.Pak Yanto menjelaskan bahwa fenomena tersebut bukan hanya ekspresi hiburan saja, melainkan bisa dipahami sebagai bentuk kritik sosial terhadap berbagai dinamika sosial yang terjadi dalam masyarakat di Indonesia. Melalui makna simbolik tersebut, peserta didik diajak untuk melihat lebih tahan bagaimana simbol-simbol budaya populer mampu menjadi sarana refleksi/kritik terhadap realitas sosial di Indonesia, seperti persoalan kesejahteraan masyarakat,  hingga tantangan dalam membangun persatuan.Pesan yang disampaikan Pak Yanto memberikan sudut pandang baru bagi para peserta didik bahwa semangat kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai simbol historis dan sebatas euforia semata, tetapi juga sebagai dorongan untuk terus memiliki kepekaan terhadap isu-isu sosial yang berkembang di sekitar kita.  Upacara bendera Perayaan Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia di Santa Ursula BSD menjadi momen refleksi bersama. Selain memperingati perjuangan para pahlawan bangsa, kegiatan ini juga mempertegas pentingnya keterlibatan seluruh elemen civitas akademika Santa Ursula BSD dari peserta didik, guru, karyawan, hingga staf penunjang dalam menumbuhkan rasa cinta tanah air.Dengan pesan inspiratif terkait menangkap fenomena sosial yang dibawakan oleh Pak Yanto, perayaan kemerdekaan tahun ini tidak hanya meninggalkan kesan khidmat, tetapi juga menghadirkan reflektif mendalam tentang hubungan antara nasionalisme, dinamika sosial, dan peran generasi muda dalam membangun Indonesia yang lebih baik.
Selengkapnya
PEMERIKSAAN KESEHATAN MENUJU KEGIATAN OUTWARD BOUND INDONESIA
Posted: 2025-08-16 | By: Gabriela Giselle Putri Atmaka / XI-A, Brian Aurey Saputra / XI-C
Selasa, 12 Agustus 2025 - Dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan Outward Bound Indonesia (OBI) yang akan berlangsung pada bulan September, Para murid kelas XI SMA Santa Ursula BSD mengikuti tes kesehatan sebagai prosedur wajib untuk memastikan kondisi fisik yang prima. Persiapan ini dilakukan jauh-jauh hari dalam rangka menjamin kelancaran kegiatan, sekaligus memastikan seluruh peserta dapat mengikuti rangkaian  kegiatan dengan lancar, aman dan memberikan pengalaman belajar terbaik bagi seluruh peserta.Untuk memenuhi standar kesehatan pelaksanaan OBI, pihak OBI menugaskan tiga orang dokter yaitu Dokter Gunawan, Dokter Fara dan Dokter Ratna. Mereka bertugas untuk memeriksa kondisi kesehatan dan fisik murid secara detail. Selain menugaskan dokter, pihak OBI juga meminta bantuan beberapa pekerja medis untuk membantu mengukur tekanan darah. Selain pemeriksaan tekanan darah menggunakan tensimeter, pemeriksaan kesehatan juga meliputi beberapa tes seperti pemeriksaan suhu dan pernapasan, pemeriksaan mata dan mulut serta pemeriksaan fisik. Setelah melakukan pemeriksaan fisik, para dokter juga menanyakan beberapa pertanyaan untuk memastikan kondisi murid, seperti alergi dan lain-lain. Semua hasil pemeriksaan dokter dicatat dalam form pemeriksaan kesehatan OBI milik setiap murid. Sebelum pemeriksaan kesehatan dilakukan, para murid yang memiliki kondisi medis tertentu, diminta untuk membawa surat rekaman medis atau surat keterangan dokter apabila pernah melakukan pemeriksaan medis tertentu. Dokumen tersebut berfungsi sebagai sebuah lampiran untuk membantu para dokter dalam melihat kondisi fisik dan medis para murid. Surat tersebut juga menjadi bahan pertimbangan dokter apabila murid tertentu dapat memenuhi standar kesehatan untuk mengikuti kegiatan OBI. Salah satu murid, Zsazsa XI-A, membagikan pengalamannya saat membawa dokumen tersebut. Ia menjelaskan bahwa proses pemeriksaan difokuskan pada pertanyaan mengenai kondisi medisnya. “Jadi sempat dilihat dulu, kira-kira saya punya riwayat penyakit apa saja. Semua dicatat, lalu saya ditanya apakah memiliki alergi, apa yang biasanya memicu penyakit muncul, dan juga tentang pola hidup saya,”. Zsazsa menambahkan bahwa pada saat itu ia tidak menjalani pemeriksaan fisik, melainkan hanya menyerahkan surat keterangan medis dan menjawab pertanyaan dari dokter. Proses tersebut, menurutnya, membantu dokter memperoleh gambaran yang jelas mengenai kondisi kesehatannya tanpa perlu melakukan pemeriksaan tambahan yang tidak diperlukan.Pemeriksaan kesehatan dalam rangka persiapan OBI memberikan pengalaman yang positif bagi para siswa SMA Santa Ursula BSD. Galuh XI-F, mengaku merasa jauh lebih tenang setelah mengetahui kondisi tubuhnya dengan jelas. “Puji Tuhan hasilnya baik-baik saja,” ujarnya, sambil menambahkan bahwa awalnya ia sempat deg-degan membayangkan proses pemeriksaan, namun ternyata prosesnya mudah dan tidak seseram yang dibayangkan. Para dokter dan tenaga medis yang ramah dan profesional membuat suasana pemeriksaan tertib dan nyaman. Hal senada disampaikan Nayra dari kelas XI-A, yang merasa senang karena suasana pemeriksaan berlangsung nyaman dan bermanfaat untuk memastikan kondisi kesehatan siswa memenuhi kriteria mengikuti OBI. Sementara itu, Chelsa dari kelas XI-C sempat merasa cemas karena khawatir akan adanya pemeriksaan seperti tes darah. Kekhawatiran itu hilang setelah mengetahui bahwa prosesnya sangat cepat dan ditangani secara profesional. “Membuat saya nyaman untuk menceritakan beberapa kondisi yang terjadi di tubuh saya, dokternya pun sangat ramah sehingga dapat berkomunikasi dengan baik,” ungkapnya. Chelsa juga merasa antusias mengikuti tes kesehatan ini, terlebih mengingat kegiatan OBI sudah semakin dekat.Melalui pemeriksaan kesehatan ini, SMA Santa Ursula BSD dan pihak OBI dapat memastikan kondisi fisik para murid dalam pelaksanaan kegiatan OBI. Hal ini juga dapat membantu memastikan kelancaran pelaksanaan kegiatan OBI dan juga untuk keamanan dan keselamatan para murid. Harapannya, seluruh peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan OBI dengan kondisi tubuh yang sehat dan semangat. Para murid juga disarankan untuk mulai persiapan secara fisik dari rumah seperti berolahraga dan menjaga pola hidup. Kegiatan OBI di bulan September mendatang diharapkan menjadi pengalaman belajar yang berkesan dan membentuk bagi para murid.
Selengkapnya
Posted: 2025-08-16 | By: Veronika Minarsih, Guru Ekonomi SMA Santa Ursula BSD
Barisan murid berjajar dengan rapi di Hall SMP SMA Santa Ursula BSD. Suasana khidmat penuh semangat terdengar melalui lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan oleh seluruh murid dan Bapak Ibu guru yang berkumpul di Hall SMP SMA Santa Ursula BSD.  Pagi itu, Hall SMP SMA Santa Ursula BSD menjadi ruang interaksi antara Kepala Sekolah dengan murid SMA Santa Ursula BSD. Kegiatan rutin ini disebut Assembly Meeting, sebagai kegiatan penuh makna untuk mempersiapkan hati dan pikiran murid dalam menjalani proses pembelajaran di SMA Santa Ursula BSD. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 06.55 hingga kurang lebih pukul 07.20 WIB dan dihadiri oleh seluruh murid per jenjang sesuai jadwal serta Bapak Ibu guru baik yang mengajar pada jenjang tersebut maupun yang tidak mengajar pada jam pertama. Assembly Meeting bukan sekadar seremoni pembuka hari, namun menjadi salah satu proses pembentukan karakter murid sebagai manusia utuh, cerdas, dan melayani sesuai nilai-nilai Serviam. Rangkaian Kegiatan yang Penuh MaknaAssembly Meeting diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan khidmat oleh seluruh peserta Assembly Meeting sebagai wujud kecintaan dan penghormatan kepada tanah air. Kemudian Kepala Sekolah membacakan teks Pancasila yang diikuti oleh seluruh peserta Assembly Meeting sebagai komitmen bersama untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan persatuan.Amanat Kepala Sekolah menjadi bagian inti dalam Assembly Meeting. Kepala Sekolah menyampaikan refleksi dan motivasi yang relevan dengan kehidupan para murid. Tema-tema yang diangkat terkait dengan enam nilai serviam yaitu: Cinta dan Belas Kasih, Integritas, Keberanian dan Ketangguhan, Persatuan, Totalitas, dan Pelayanan. Tema tersebut disampaikan secara beragam dengan menggunakan kisah-kisah inspiratif atau refleksi singkat yang mengajak murid untuk senantiasa tumbuh menjadi pribadi yang sesuai dengan keenam nilai Serviam. Amanat ini bukan sekadar nasihat, tetapi ajakan untuk bertumbuh menjadi manusia yang utuh: berpikir kritis, berperilaku etis, dan berjiwa Serviam. Setelah amanat, Kepala Sekolah memimpin doa bersama mohon bimbingan Tuhan dalam menjalani hari dengan semangat. Doa ini menjadi momen hening yang menyatukan hati seluruh peserta Assembly Meeting.Menguatkan Komitmen melalui Janji Siswa dan Lagu Mars ServiamSetelah amanat dan doa, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan Janji Siswa oleh murid yang bertugas. Janji ini berisi komitmen untuk menjalankan kewajiban sebagai pelajar dengan penuh tanggung jawab, belajar dengan sungguh-sungguh, menghormati guru dan sesama, serta menjaga nama baik sekolah. Janji ini bukan hanya diucapkan, tetapi dihayati sebagai bagian dari identitas murid SMA Santa Ursula.Sebagai penutup, seluruh peserta assembly meeting menyanyikan lagu wajib nasional dan Mars Serviam. Lagu Mars Serviam sebagai lagu kebanggaan SMA Santa Ursula BSD dinyanyikan dengan penuh semangat yang mencerminkan semangat pelayanan dalam setiap langkah kehidupan dan mengingatkan setiap murid untuk senantiasa menjadi cahaya bagi sesama.Lebih dari Rutinitas: Sebuah Budaya Pembentukan KarakterAssembly Meeting bukan sekadar rutinitas mingguan. Kegiatan ini merupakan cerminan budaya sekolah yang menempatkan pembentukan karakter sebagai inti dari pendidikan. Melalui kegiatan ini, SMA Santa Ursula BSD menanamkan nilai-nilai Serviam secara konsisten dan bermakna. Kehadiran Kepala Sekolah sebagai pemimpin kegiatan, keterlibatan aktif murid dalam berbagai peran, serta suasana yang khidmat dan penuh semangat menjadikan Assembly Meeting sebagai salah satu pilar pembentukan lingkungan sekolah yang humanis dan transformatif.Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk menjadi lebih baik, baik dalam akademik maupun kehidupan. Melalui Assembly Meeting yang dimulai secara tertib dan penuh makna, diharapkan murid SMA Santa Ursula BSD dapat menjalani aktivitas belajar dengan semangat dan integritas yang tinggi.Serviam…Serviam…Tetap Teguh Serviam!
Selengkapnya
MEDITASI DI KELAS: KUNCI MEMBUKA PINTU KESADARAN DAN KECERDASAN MURID
Posted: 2025-08-14 | By: Veronika Minarsih, Guru Ekonomi SMA Santa Ursula BSD
Sederhana namun bermakna, yaitu hening sejenak menjadi kegiatan pembuka dalam proses pembelajaran khususnya pembelajaran ekonomi di SMA Santa Ursula BSD. Murid duduk dengan tegap, tangan di atas pangkuan dan hening sejenak dalam kondisi mata terpejam dengan panduan yang sederhana, yaitu “tarik napas, sadari keberadaanmu, dan izinkan dirimu hadir sepenuhnya di sini.” Alunan musik instrumental atau alunan lagu yang berisi lirik bermakna memberikan suasana hening yang menenangkan. Dalam keheningan itu, murid belajar untuk hadir, benar-benar menyadari keberadaan mereka di ruang kelas, mengelola emosi, dan membuka diri untuk pengalaman belajar yang bermakna.Kegiatan hening sebagai proses meditasi murid bukan sekedar relaksasi. Ini adalah ruang kecil untuk kembali ke diri sendiri dengan hadir sepenuhnya sebagai pribadi yang siap belajar. Awalnya, beberapa murid tampak canggung, bahkan menganggap aneh kegiatan ini dan tidak mendapatkan manfaat positif dari kegiatan hening 2-3 menit di awal pembelajaran. Ketekunan dan konsistensi untuk melakukan kegiatan hening ini mampu memberikan manfaat positif bagi murid. Murid menjadi lebih tenang, lebih fokus, dan lebih terbuka. “Dua menit hening itu membuat saya lebih siap belajar", ungkapan sederhana itu menguatkan keyakinan bahwa pendidikan holistik yang memadukan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual adalah jalan terbaik untuk mempersiapkan murid sebagai generasi masa depan. Pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga soal kesadaran. Di tengah tekanan akademik dan hiruk-pikuk dunia digital, keheningan menjadi ruang reflektif yang sangat dibutuhkan.Kegiatan ini bukan tanpa dasar, praktik meditasi atau mindfulness dalam pendidikan telah didukung oleh banyak penelitian. Seperti ditegaskan Daniel Goleman (1995) dalam Emotional Intelligence, kecerdasan emosional adalah fondasi yang menentukan keberhasilan belajar, bahkan lebih daripada kecerdasan kognitif. Praktik meditasi di kelas selaras dengan gagasan ini, karena melatih murid untuk mengelola emosi, meningkatkan fokus, dan membangun hubungan positif dengan materi pelajaran. "Melalui praktik sederhana seperti meditasi, murid dilatih untuk hadir secara utuh baik mental, emosional, dan sosial. Dalam bukunya Wherever You Go, There You Are: Mindfulness Meditation in Everyday Life (1994), Kabat-Zinn menjelaskan bahwa mindfulness mampu membantu individu mengurangi stres, meningkatkan fokus, dan menciptakan kondisi optimal untuk belajar dan berkembang secara utuh. Dengan meditasi singkat di awal pembelajaran, murid dapat menenangkan pikiran sehingga lebih mampu memahami dan merespons materi pembelajaran yang kompleks secara mendalam.Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, meluangkan waktu untuk hening menjadi kebutuhan mendesak. Meditasi di kelas bukan sekadar strategi pengajaran, melainkan investasi bagi kesehatan mental dan kedalaman berpikir murid.  Sebagai pendidik di SMA Santa Ursula BSD, saya percaya bahwa kegiatan ini adalah bagian dari upaya mewujudkan visi sekolah: membentuk manusia utuh, cerdas, dan melayani. Melalui keheningan, murid tidak hanya belajar ekonomi, tetapi juga belajar mengenali dirinya, mengelola emosinya, dan membuka diri terhadap pengalaman belajar yang bermakna. Saya tidak tahu lima tahun dari sekarang apakah mereka akan mengingat teori elastisitas harga, tetapi saya berharap mereka akan mengingat bahwa di sebuah kelas ekonomi, mereka pernah diajak untuk bernapas, untuk hadir, dan untuk menjadi manusia seutuhnya, dan mungkin, itu jauh lebih penting. Sebagai guru, saya percaya bahwa manusia utuh lahir dari kesadaran akan diri dan lingkungannya. Dan dari kesadaran itulah, kecerdasan sejati untuk melayani diri dan sesama akan tumbuh."Dalam keheningan, kita menemukan suara paling jernih: suara pikiran yang siap belajar, dan hati yang siap melayani."
Selengkapnya
Menyambut Tahun Ajaran Baru: Kegiatan MPLS di SMA Santa Ursula BSD
Posted: 2025-08-09 | By: Catherine Aurelia Wirjawan XII/B dan Beatrix Arunaya Kidung Anatha XII/C / Penyunting Naskah: P. Eka
Setelah menjalani liburan panjang, para murid kelas X, XI, dan XII kembali memasuki dunia mereka: SMA Santa Ursula BSD. Bagi murid kelas X, ini menjadi awal langkah mereka di lingkungan baru. Suasana SMA Santa Ursula BSD kembali hidup dengan kehadiran para murid, baik yang lama maupun yang baru. Selama minggu pertama, yakni 14 hingga 18 Juli 2025, mereka mengikuti berbagai kegiatan menyenangkan. Khusus untuk kelas X, para murid diajak mengenal SMA Santa Ursula BSD lebih dalam sekaligus menjalani proses adaptasi yang sesungguhnya. Rutinitas baru di pagi hari pun mulai, diawali dengan berdoa bersama, meditasi singkat, hingga menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza. Di siang hari, para murid juga berdoa dengan menyisipkan Nasihat Santa Angela dan menyanyikan lagu Mars Serviam.Setiap murid di jenjang SMA diberikan name tag sesuai dengan tahun ajaran masing-masing; murid yang memasuki tahun pertama atau kelas X di SMA mendapatkan name tag berwarna kuning, para murid kelas XI memperoleh name tag berwarna hijau, dan murid kelas XII yang akan menjalani tahun terakhir mereka di sekolah ini menerima name tag berwarna merah muda. Warna-warna ini menjadi penanda perjalanan dan pertumbuhan masing-masing angkatan. Secara umum, seluruh murid SMA mengikuti rangkaian kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), yang mencakup pengenalan guru, wali kelas, mata pelajaran, kurikulum, sistem pembelajaran, serta aktivitas yang akan dijalani selama setahun ke depan. Dalam proses ini, murid didorong untuk menyusun kesepakatan kelas dan membentuk pengurus inti, guna menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif dan penuh relasi. Selain itu, murid SMA Santa Ursula BSD juga diperkenalkan dengan visi dan misi sekolah, serta sosok Santa Angela yang menjadi pedoman dalam berperilaku. Mereka juga mempelajari enam nilai Serviam, serta memahami tata tertib sekolah yang akan mereka jalani. Seluruh kegiatan ini tidak hanya bersifat informatif dan membentuk karakter, tetapi juga disampaikan secara menarik oleh para guru melalui kuis dan permainan interaktif. Dengan begitu, para murid dapat memahami nilai-nilai sekolah secara menyenangkan dan mudah diingat.Agar para murid mengenal lingkungan sekolah secara lebih dalam lagi, khususnya kelas X, para anggota Badan Pengurus OSIS dan panitia Ekspedisi Tuju Santa Ursula (XTRA) memberikan tur keliling sekolah. Mereka diajak mengenal berbagai fasilitas sekolah seperti auditorium, perpustakaan, laboratorium IPA, dan lainnya. Para murid juga diperkenalkan pada berbagai program sekolah seperti pengomposan, eco enzyme, serta berbagai pilihan ekstrakurikuler. Mereka dapat bertanya kepada kakak kelas XI dan XII yang telah siap sedia memberi penjelasan. Di tengah kepadatan dan kegiatan hari-hari MPLS, aktivitas ice breaking dilakukan agar membuat suasana tetap ramai dan seru.             Menjelang akhir MPLS, siswa kelas X diajak untuk membangun cara berpikir baru dan paradigma belajar di SMA bersama tim Bimbingan Konseling. Sesi ini membahas budaya belajar di SMA, contohnya bagaimana cara memanajemen waktu, mengatur prioritas, dan membangun hubungan baik di lingkungan sekolah yang baru. Di sela-sela kegiatan hari terakhir MPLS, masing-masing murid kelas X diarahkan untuk memilih kegiatan ekstrakurikuler yang akan mereka lakukan selama satu tahun ke depan sebagai bagian dari pengembangan minat dan bakat di luar kegiatan akademik. Dengan berakhirnya rangkaian kegiatan MPLS SMA Santa Ursula BSD, terlihat jelas bahwa kegiatan ini tidak hanya ditujukan untuk bersenang-senang, melainkan juga menanamkan nilai-nilai sekolah yang membentuk karakter, semangat belajar, dan kebersamaan di tahun ajaran yang baru. MPLS bukanlah akhir, melainkan sebuah awal dari bab baru dalam proses belajar dan bertumbuh.
Selengkapnya
Sukacita Menyambut Ekaristi Bersama Bapak Kardinal Ignatius Suharyo
Posted: 2025-08-09 | By: Yohanes Sutraguna (XII-B/22) dan Maria Levenia Kusnadi (XII-E/25) / Penyunting naskah: P. Eka
Puji Tuhan! Halleluyah! Keluarga besar Santa Ursula BSD kini merayakan ulang tahun sekolahnya yang ke-35 tahun. Mulai di bangun atas visi dan arahan dari mendiang Sr. Francesco Marianti, OSU pada bulan Juli 1990, Kampus Santa Ursula BSD telah berkembang menjadi oase pendidikan yang megah dan disegani. Bahkan setelah 35 tahun berdiri, Sekolah Santa Ursula BSD terus bergerak maju dan beradaptasi dengan perkembangan zaman selagi mempertahankan nilai-nilai Serviam sebagai fondasi pendidikan Ursulin. Sejak tahun 1857, suster-suster Ursulin telah memulai karya mereka dalam pendidikan di Jalan Juanda, Jakarta. Pelayanan mereka pun meluas, salah satunya dengan mendirikan Sekolah Santa Ursula Jakarta pada tahun 1859. Melihat kebutuhan pendidikan di daerah BSD sebagai kota yang semakin berkembang, mendiang Sr. Francesco menyetujui wacana pembangunan Sekolah Santa Ursula di wilayah BSD yang dimulai pada Juli 1990. Perjuangannya tidaklah mudah, mulai dari pembelian tanah hingga pembangunan tiap unit gedung. Proses pembangunan ini telah memakan biaya, tenaga, waktu, dan dedikasi yang tidak terkira. Hal inilah yang nantinya akan menjadi cikal bakal Sekolah Santa Ursula BSD yang dikenal saat ini. Sekolah Santa Ursula BSD yang masih dapat berdiri kokoh selama 35 tahun lamanya juga merupakan hasil dari rahmat dan penyertaan dari Tuhan. Berkat-Nya, Sekolah Santa Ursula BSD boleh menghasilkan manusia-manusia yang utuh, cerdas, dan melayani, yang sesuai dengan visi sekolah. Pada hari Kamis, 24 Juli 2025, sekolah menyelenggarakan misa kudus dalam rangka merayakan 35 tahun karya pelayanan pendidikan Ursulin di Santa Ursula BSD. Pada hari itu, suasana sekolah tidak seperti biasanya. Para guru mengenakan pakaian tradisional, banyak karangan bunga yang dikirimkan oleh alumni maupun orang tua murid, serta hiasan-hiasan indah terletak rapi di depan tangga Auditorium. Ketika gerbang sekolah dibuka, murid menyapa para guru sambil berjabatan tangan. Pada pukul 07.00 WIB, bel berbunyi dan murid diarahkan untuk berjalan ke Auditorium untuk mengikuti misa. Murid yang beragama Katolik diarahkan untuk langsung mengikuti misa di Auditorium, sedangkan murid non-katolik diarahkan untuk mengikuti misa di ruang-ruang kelas yang telah dipersiapkan. Menjelang misa, petugas tata laksana berlalu lalang mengatur posisi dan mengarahkan umat untuk duduk di kursi-kursi yang masih tersedia. Misa perayaan syukur 35 tahun Sekolah Santa Ursula BSD,  bertemakan Building the Feature, Preserving the Legacy, Growing Together (membangun masa depan, menjaga warisan, dan bertumbuh bersama).  Perayaan yang spesial juga tentunya harus dipimpin oleh sosok yang spesial, yaitu Bapa Uskup Kardinal Suharyo. Banyak dari antara para alumni yang dengan riang kembali bercengkrama bersama para guru yang dahulu pernah mengajar mereka. Suasana hangat dan bahagia turut dirasakan oleh seluruh umat yang menghadiri misa perayaan tersebut. Misa dimulai tepat pada pukul 09.00 WIB dan selesai pada sekitar pukul 11.00 WIB. Para panitia perayaan Ulang Tahun Kampus Santa Ursula yang ke-35 pun telah menyiapkan persembahan terakhir sesaat setelah misa. Terdapat beberapa penampilan mulai dari murid-murid TK, SD, SMP, hingga SMA. Murid TK menampilkan tarian yang diiringi dengan lagu daerah ‘Ampar-Ampar Pisang’, murid SD menampilkan modern dance dengan iringan lagu Gold oleh ITZY, murid SMP menampilkan tarian tradisional yang berasal dari adat Betawi.  Setelah misa dan penampilan selesai, Bapa Uskup bersama para tamu undangan berjalan menuju ruang makan. Bapa Uskup, para suster, dan para alumni, diberikan suguhan makanan prasmanan sebagai tanda terimakasih. Ternyata, dalam rangka menghibur dan mencairkan suasana makan siang, sekolah telah menyiapkan penampilan keroncong yang dipersembahkan oleh murid SMA. Dalam persembahan musik keroncong ini membawakan lagu-lagu seperti, Tirtonadi, Sepasang Mata Bola, Pulau Bali, Kr. Kemayoran, Bengawan Solo, Kr. Bahana Pancasila, dan Rayuan Pulau Kelapa yang juga merupakan lagu kesukaan Bapa Uskup. Penampilan ini sukses dalam membawakan nuansa ceria dan ramai di ruang itu. Setelah selesai makan, Bapa Uskup melayani umat yang ingin berfoto dengan dengan beliau.  Setelah seluruh rangkaian acara selesai, para umat dipersilahkan untuk keluar dari ruang auditorium dan kembali melakukan kegiatan masing-masing. Perayaan ini merupakan bukti nyata bahwa semua anggota Sekolah Santa Ursula BSD turut berpartisipasi dan bekerjasama agar dapat membangun fondasi yang kokoh bagi generasi mendatang. Santa Ursula BSD juga menjunjung tinggi nilai nasionalisme yang terlihat pada perayaan misa yang bertepatan dilakukan pada Hari Kebaya Nasional sebagai bentuk penghargaan terhadap salah satu budaya di Indonesia. 
Selengkapnya
PELAKSANAAN ASESMEN NASIONAL BERBASIS KOMPUTER 2025 DI SMA SANTA URSULA BSD
Posted: 2025-08-08 | By: Gabriela Giselle Putri Atmaka / XI-A, Brian Aurey Saputra / XI-C Penyunting Naskah: I. Bella
4-5 Agustus 2025 - SMA Santa Ursula BSD berkomitmen dalam mewujudkan visi "Manusia Utuh, Cerdas, dan Melayani". Salah satu upaya nyata dalam mendukung visi tersebut adalah melalui pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) pada tahun ajaran 2025–2026. ANBK merupakan program evaluasi sistem pendidikan di Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. ANBK diharapkan menjadi alat yang efektif untuk mengukur kemampuan literasi dan numerasi para murid, sekaligus menjadi cerminan kualitas proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah.  Sebagai bagian dari evaluasi pendidikan di Indonesia, Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) yang diselenggarakan oleh Kemendikbud hadir untuk memetakan kualitas pendidikan secara lebih utuh dan bermakna. ANBK lebih menitikberatkan pada kemampuan berpikir kritis, budaya belajar yang sehat, dan pembentukan karakter murid. Dengan berbasis komputer, asesmen ini mendorong digitalisasi sekolah sekaligus menuntut kesiapan teknis, mental, dan etis dari seluruh unsur pendidikan, baik murid, guru, maupun institusi. Melalui ANBK, sekolah didorong pula untuk tidak hanya mengejar hasil, tetapi merefleksikan proses: apakah pendidikan yang diberikan benar-benar membekali murid dengan keterampilan hidup dan nilai-nilai integritas? Rangkaian pelaksanaan ANBK tahun ini diikuti oleh 50 murid kelas XI SMA Santa Ursula BSD melalui pemilihan secara acak pada laman pendataan Asesmen Nasional (AN) oleh Kemendikbud. Proses persiapan yang dipersiapkan oleh pihak sekolah sudah dilakukan sejak 18 Juli 2025, para murid telah dibimbing secara intensif melalui kelas tambahan dan latihan soal yang dirancang untuk memperkuat kemampuan penalaran literasi dan numerasi mereka. Lebih dari sekadar persiapan teknis, upaya ini menunjukkan keseriusan sekolah dalam memastikan bahwa setiap murid siap menghadapi asesmen yang menuntut ketajaman berpikir dan daya nalar. Simulasi ANBK yang diselenggarakan pada 21-22 Juli memberikan murid pengalaman langsung mengenai teknis pelaksanaan asesmen. Kegiatan ini dilanjutkan dengan gladi bersih pada 28-29 Juli, memanfaatkan sarana sekolah yaitu Lab Bahasa dan Lab Komputer sekolah. Seluruh proses dipantau secara ketat untuk meminimalkan adanya gangguan teknis dan membangun kesiapan mental murid.  Dalam pelaksanaannya, terdapat tiga instrumen utama ANBK, yakni Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang mengasah kemampuan literasi membaca dan numerasi, Survei Lingkungan Belajar, serta Survei Karakter sebagai tolak ukur yang tidak hanya menilai murid, tetapi juga mengevaluasi sistem pendidikan itu sendiri. Pelaksanaan utama ANBK pada tanggal 4-5 Agustus 2025 dimulai pukul 07.00 hingga 10.00 WIB. Dalam pelaksanaannya, 10 guru juga dilibatkan dalam pelaksanaan ANBK tahun 2025 yang terdiri dari  proktor, teknisi, dan admin, dengan peran krusial dalam memastikan kelancaran asesmen. Pengawasan silang juga diterapkan, dengan hadirnya guru-guru dari SMA Ora Et Labora BSD sebagai bentuk penguatan kejujuran, profesionalitas, dan integritas asesmen.  ANBK menjadi pengalaman yang menarik bagi para murid. Menurut Diandra, siswi kelas XI-D, ia mengaku awalnya merasa tertekan karena membawa nama baik dan akreditasi sekolah di tengah jadwal belajar yang padat. “Meskipun penuh tekanan, pengalaman ini berkesan dan membuat saya lebih siap menghadapi tantangan,” ujarnya setelah melalui berbagai persiapan dan simulasi ujian.  Selain itu, menurut Nuel XI-F, ia merasa khawatir akan tertinggal pelajaran di kelas. Meskipun demikian, ia tetap mempersiapkan diri dengan mengerjakan latihan soal yang diberikan agar mengenal jenis soal ANBK. Saat pelaksanaan ANBK, ia menjelaskan bahwa dia berusaha fokus dan mengerjakanya sebaik mungkin. “Biasa saja, pokoknya fokus ngerjain saja,” tambahnya.  Menurut Andrea XI-C, ANBK itu penting karena bisa membantu siswa tahu sejauh mana kemampuan mereka, terutama dalam literasi dan numerasi. Ia juga menambahkan, ANBK bukan hanya soal mengukur kemampuan, tetapi juga jadi latihan yang bagus untuk mempersiapkan diri menghadapi asesmen lain di masa depan. Melalui pelaksanaan ANBK tahun 2025-2026, SMA Santa Ursula BSD tidak hanya berupaya memenuhi kewajiban evaluasi nasional, tetapi juga untuk membekali murid dengan menumbuhkan budaya belajar yang adaptif dan berintergritas. Harapannya, pengalaman yang diperoleh para murid dapat menjadi bekal berharga untuk menghadapi tantangan akademik maupun nonakademik di masa depan. Dengan ini SMA Santa Ursula BSD tetap berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga setiap murid tidak hanya unggul dalam literasi dan numerasi, tetapi juga siap menjadi pribadi yang utuh, cerdas, dan melayani, sesuai dengan visi dan misi Santa Ursula BSD.
Selengkapnya
Menata Masa Depan, Melestarikan Warisan, Melangkah dan Bertumbuh Bersama
Posted: 2025-07-28 | By: Ch. Enung Martina
Building the Future, Preserving the Legacy, Growing Together.Kutipan di atas  sangat kuat maknanya bila dikaitkan dengan perjalanan 35 tahun Santa Ursula BSD, sebuah tonggak penting dalam karya pendidikan yang membentuk pribadi, karakter, dan masa depan generasi muda. Building the Future – Membangun Masa DepanKita hidup di tengah dunia yang terus berubah cepat, baik secara sosial, budaya, maupun teknologi. Kemajuan zaman menuntut manusia untuk terus beradaptasi, berpikir kritis, dan mampu bertahan dalam ketidakpastian. Sekolah sebagai tempat pembentukan generasi muda tidak bisa tinggal diam. Membangun masa depan berarti menyiapkan peserta didik agar menjadi pribadi yang tangguh, terbuka pada perubahan, dan mampu menemukan arah di tengah kompleksitas dunia modern.Membangun masa depan menyatakan komitmen bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar hari ini, tetapi tempat menyiapkan anak-anak untuk masa depan. Pada  usia ke-35 tahun, Santa Ursula BSD pastinya tidak tinggal diam, terus meperbaharui diri untuk  menghadapi tantangan zaman.  Mempersiapkan murid bukan hanya cerdas secara akademik, tapi juga resilien (tangguh dan mampu bangkit kembali setelah mengalami kesulitan, tekanan, atau kegagalan), visioner, dan siap menghadapi tantangan global. Terkait dengan kemajuan zaman, tak lepas dari perkembangan teknologi. Kemajuan teknologi bukan hanya tentang alat, gawai, atau kecanggihan kecerdasan buatan. Teknologi adalah alat bantu untuk belajar dan bertumbuh, bukan sekadar hiburan atau pelarian. Santa Ursula BSD berkomitmen membekali murid dan pendidik untuk bijak dalam menggunakan teknologi digital, mengembangkan kreativitas dan inovasi lewat media modern, menjadi warga digital yang bertanggung jawab dan beretika.Kemajuan tanpa karakter akan membawa kekosongan. Oleh karena itu dalam membangun masa depan Santa Ursula BSD terus berupaya  membangun karakter dengan menumbuhkan integritas, kejujuran, dan tanggung jawab; mendorong empati dan semangat melayani sesama; melatih disiplin, kerja sama, dan semangat pantang menyerah. Di Santa Ursula, nilai-nilai Serviam menjadi pondasi dalam membentuk karakter murid yang siap menghadapi masa depan, namun tetap berpijak pada nilai universal.Zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, namun iman tetap menjadi jangkar utama. Membangun masa depan tanpa keimanan hanya akan menghasilkan generasi yang rapuh dan mudah kehilangan arah. Santa Ursula BSD hadir untuk menumbuhkan relasi personal dengan Tuhan; mengembangkan  nilai spiritual yang membentuk hati nurani;  serta mendorong murid untuk menemukan panggilan hidupnya sebagai bentuk pelayanan  kepada keluarga, gereja, dan masyarakat. Membangun masa depan berarti mendampingi generasi muda agar berani melangkah maju, sambil tetap mengandalkan penyelenggaraan ilahi. Preserving the Legacy – Menjaga WarisanWarisan bukan hanya benda atau tradisi lama. Dalam konteks pendidikan, warisan adalah nilai, semangat, dan identitas yang diwariskan oleh para pendiri dan pendahulu kita, nilai yang telah membentuk siapa kita hingga hari ini.Sebagai bagian dari Ursulin yang telah hadir ratusan tahun di dunia dan puluhan tahun di Indonesia, Santa Ursula BSD memiliki warisan besar yaitu semangat Serviam ( Aku melayani, bukan dilayani); Spiritualitas Santa Angela Merici: mendidik dengan kasih, mendengar hati anak-anak, dan berjalan bersama mereka;  dan enam nilai dasar pendidikan Ursulin yang berpusat pada motto "Serviam" (Saya hendak mengabdi/melayani), adalah Cinta dan Belas Kasih, Integritas, Keberanian dan Ketangguhan, Persatuan, Totalitas, dan Pelayanan.Warisan ini bukan untuk disimpan dalam bingkai sejarah, melainkan dihidupi dan diteruskan dari generasi ke generasi. zaman terus  berubah membawa dampaknya antara lain  teknologi berkembang pesat, budaya instan dan konsumtif makin mendominasi, identitas diri menjadi semakin rapuh dalam dunia maya, serta nilai-nilai luhur mudah diabaikan demi popularitas atau kenyamanan sesaat. Di tengah ini semua, warisan nilai menjadi seperti pelita di tengah kelamnya zaman. Ia kecil, tetapi menunjukkan arah.Namun, tantangan zaman juga menuntut kita untuk tidak kaku atau terjebak romantisme masa lalu. Menjaga warisan bukan berarti mempertahankan bentuk luarnya secara kaku. Menjaga warisan berarti memelihara esensinya, lalu menyampaikannya dengan cara yang relevan di zaman sekarang. Contohnya Serviam tetap diajarkan, tetapi bentuk pelayanannya bisa digital (seperti aksi sosial online, kampanye lingkungan di media sosial). Spiritualitas tetap diajarkan, tetapi pendekatannya bisa kontekstual, sesuai dunia remaja masa kini: lebih dialogis, reflektif, dan menyentuh realitas mereka. Kita tidak mempertahankan bentuk, tapi makna. Kita tidak menyembah tradisi, tapi menghidupi semangatnya.Dalam  menjaga warisan kita membutuhkan dua hal yaitu kesetiaan pada nilai inti: kasih, kebenaran, pelayanan, iman. Yang kedua dibutuhkan kreativitas untuk menyesuaikannya dengan dunia yang berubah.  Santa Ursula BSD sebagai komunitas pendidikan harus mampu mentransformasi warisan menjadi kekuatan hidup yang menuntun generasi muda. Artinya, nilai lama dilestarikan  dengan cara yang baru, dengan bahasa, pendekatan, dan media yang dimengerti generasi digital.Preserving the Legacy  bukan soal bertahan di masa lalu, melainkan tentang membawa nyala terang para pendahulu ke dalam tantangan zaman sekarang. Dalam 35 tahun perjalanannya, Santa Ursula BSD telah menjadi penjaga nilai, penjaga cahaya, dan kini ditantang untuk terus menyalakan warisan itu agar tetap relevan dan menghidupkan. Growing Together – Tumbuh BersamaSekolah bukan hanya tempat anak-anak tumbuh. Para guru, karyawan, orang tua, bahkan alumni pun tumbuh bersama dalam ekosistem yang mendukung satu sama lain. Ini berarti tumbuh dalam kerja kolaboratif antara sekolah dan keluarga. Tumbuh dalam kesadaran sosial melalui program kemanusiaan dan lingkungan. Tumbuh dalam iman, kedewasaan, dan semangat komunitas.Growing Together bukan hanya tentang pertumbuhan individu, tetapi juga tentang kebersamaan dalam perjalanan menjadi pribadi yang utuh dan bermakna. Di dalamnya terkandung nilai kesalingan, kolaborasi, dan pembelajaran bersama dalam seluruh dimensi kehidupan.Ulang tahun ke-35 adalah bukti bahwa Santa Ursula BSD adalah komunitas yang tidak berjalan sendiri. Kita bertumbuh bersama, saling menguatkan, saling melayani. Pertama kita tumbuh bersama murid.  Setiap anak berkembang dalam keunikan dan waktunya masing-masing. Sekolah bukan sekadar tempat mengajar, tetapi ruang pertumbuhan bersama murid. Di situ para guru belajar memahami generasi muda dengan empati. Murid belajar menjadi pribadi yang reflektif dan bertanggung jawab.  Di dalamnya ada relasi dua arah: guru dan murid saling mengubah dan membentuk. Tumbuh bersama berarti berjalan beriringan, bukan meninggalkan yang lemah, tapi menguatkannya.Kedua, tumbuh bersama sesama pendidik dan tenaga kependidikan. Di era penuh tantangan, guru dan tenaga kependidikan juga dipanggil untuk terus belajar dan bertumbuh. Bertumbuh dalam kompetensi dan profesionalisme, saling mendukung dalam tekanan dan tantangan kerja, dan mengembangkan budaya kerja kolaboratif, bukan kompetitif.  Tumbuh bersama berarti membentuk komunitas yang sehat, terbuka, dan saling menyemangati.Yang ketiga tumbuh bersama orang tua dan Keluarga.  Pendidikan adalah tugas bersama antara sekolah dan keluarga. Keterlibatan orang tua bukan hanya saat rapat atau saat ada masalah. Dalam visi "tumbuh bersama" sekolah dan keluarga saling berbagi nilai dan harapan. Orang tua menjadi mitra dalam pembentukan karakter. Dalam hal ini komunikasi terbuka menjadi kunci utama pendidikan anak.  Tumbuh bersama berarti menjalin kemitraan yang setara, saling percaya, dan mendidik bersama demi masa depan anak.Dunia terus berkembang. Kita merupakan bagian dari dunia ini, maka yang keempat adalah tumbuh bersama dunia. Sekolah tidak hidup dalam ruang tertutup. Santa Ursula BSD sebagai bagian dari masyarakat global sudah semestinya terbuka pada  wawasan internasional tanpa kehilangan jati diri. Sekolah juga menjadi  bagian dari gerakan dunia: peduli lingkungan, kesetaraan, dan keadilan sosial.Menjadi suara profetik di tengah dunia yang berubah. Pendidikan mempunyai tugas kenabian. Sekolah mempunyai tugas berkaitan dengan tugas menyampaikan kebenaran, memperjuangkan keadilan, dan menegur ketidakbenaran di tengah masyarakat. Dalam hal ini,  tumbuh bersama berarti berani hadir di dunia sebagai pembawa terang dan harapan.Yang terakhir adalah tumbuh dalam iman dan tujuan hidup. Pertumbuhan sejati bukan hanya akademik, tapi juga spiritual dan moral. Dalam semangat Ursulin, pertumbuhan menyeluruh harus mengarah pada tujuan mulia yaitu mengenal dan mencintai Tuhan, menemukan panggilan hidup, dan menjadi berkat bagi sesama melalui pelayanan.  Tumbuh bersama berarti membentuk pribadi yang sadar akan tujuan hidupnya dan berjalan bersama Tuhan.Tumbuh Bersama" adalah undangan untuk tidak berjalan sendiri, melainkan bertumbuh dalam kebersamaan sebagai murid, guru, orang tua, dan warga dunia. Dari ruang kelas hingga dunia nyata, dari hati yang kecil hingga jiwa yang besar, kita dipanggil untuk terus bertumbuh: dalam kasih, dalam pengetahuan, dan dalam iman.Building the Future, Preserving the Legacy, Growing Together bukan sekadar rangkaian kata, melainkan arah dan semangat yang menjiwai perjalanan Santa Ursula BSD selama 35 tahun. Di tengah arus zaman yang terus berubah, sekolah dipanggil untuk membangun masa depan dengan memanfaatkan teknologi, membentuk karakter, dan menumbuhkan iman yang kokoh. Dalam waktu yang sama, warisan luhur Santa Angela Merici yaitu semangat Serviam, spiritualitas, dan nilai kemanusiaan;  harus terus dijaga, bukan dengan cara mempertahankan bentuk lama secara kaku, melainkan dengan menghidupi maknanya secara relevan. Seluruh proses ini tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan dalam semangat kebersamaan: guru, murid, orang tua, dan komunitas sekolah saling mendampingi, saling menumbuhkan, dan bersama-sama melangkah menuju tujuan mulia pendidikan Katolik yang profetik untuk membentuk pribadi tangguh, beriman, dan siap melayani. Selamat merayakan 35 tahun Santa Ursula BSD. Tuhan memberkati. (Ch. Enung Martina)Sumber: https://www.osuinternational.orgUrsuline Education Network (U.S.): https://www.ursuline-edu.org/core-valuesPedoman Pastoral Pendidikan Katolik – KWIThomas Lickona,Educating for Character (1991)https://www.apa.org/topics/resilienceKurikulum Merdeka dan panduan penguatan karakter (P5).
Selengkapnya