MEDITASI DI KELAS: KUNCI MEMBUKA PINTU KESADARAN DAN KECERDASAN MURID
Posted: 2025-08-14 | By: Veronika Minarsih, Guru Ekonomi SMA Santa Ursula BSD
Sederhana namun bermakna, yaitu hening sejenak menjadi kegiatan pembuka dalam proses pembelajaran khususnya pembelajaran ekonomi di SMA Santa Ursula BSD. Murid duduk dengan tegap, tangan di atas pangkuan dan hening sejenak dalam kondisi mata terpejam dengan panduan yang sederhana, yaitu “tarik napas, sadari keberadaanmu, dan izinkan dirimu hadir sepenuhnya di sini.” Alunan musik instrumental atau alunan lagu yang berisi lirik bermakna memberikan suasana hening yang menenangkan. Dalam keheningan itu, murid belajar untuk hadir, benar-benar menyadari keberadaan mereka di ruang kelas, mengelola emosi, dan membuka diri untuk pengalaman belajar yang bermakna.Kegiatan hening sebagai proses meditasi murid bukan sekedar relaksasi. Ini adalah ruang kecil untuk kembali ke diri sendiri dengan hadir sepenuhnya sebagai pribadi yang siap belajar. Awalnya, beberapa murid tampak canggung, bahkan menganggap aneh kegiatan ini dan tidak mendapatkan manfaat positif dari kegiatan hening 2-3 menit di awal pembelajaran. Ketekunan dan konsistensi untuk melakukan kegiatan hening ini mampu memberikan manfaat positif bagi murid. Murid menjadi lebih tenang, lebih fokus, dan lebih terbuka. “Dua menit hening itu membuat saya lebih siap belajar", ungkapan sederhana itu menguatkan keyakinan bahwa pendidikan holistik yang memadukan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual adalah jalan terbaik untuk mempersiapkan murid sebagai generasi masa depan. Pendidikan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga soal kesadaran. Di tengah tekanan akademik dan hiruk-pikuk dunia digital, keheningan menjadi ruang reflektif yang sangat dibutuhkan.Kegiatan ini bukan tanpa dasar, praktik meditasi atau mindfulness dalam pendidikan telah didukung oleh banyak penelitian. Seperti ditegaskan Daniel Goleman (1995) dalam Emotional Intelligence, kecerdasan emosional adalah fondasi yang menentukan keberhasilan belajar, bahkan lebih daripada kecerdasan kognitif. Praktik meditasi di kelas selaras dengan gagasan ini, karena melatih murid untuk mengelola emosi, meningkatkan fokus, dan membangun hubungan positif dengan materi pelajaran. "Melalui praktik sederhana seperti meditasi, murid dilatih untuk hadir secara utuh baik mental, emosional, dan sosial. Dalam bukunya Wherever You Go, There You Are: Mindfulness Meditation in Everyday Life (1994), Kabat-Zinn menjelaskan bahwa mindfulness mampu membantu individu mengurangi stres, meningkatkan fokus, dan menciptakan kondisi optimal untuk belajar dan berkembang secara utuh. Dengan meditasi singkat di awal pembelajaran, murid dapat menenangkan pikiran sehingga lebih mampu memahami dan merespons materi pembelajaran yang kompleks secara mendalam.Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, meluangkan waktu untuk hening menjadi kebutuhan mendesak. Meditasi di kelas bukan sekadar strategi pengajaran, melainkan investasi bagi kesehatan mental dan kedalaman berpikir murid.  Sebagai pendidik di SMA Santa Ursula BSD, saya percaya bahwa kegiatan ini adalah bagian dari upaya mewujudkan visi sekolah: membentuk manusia utuh, cerdas, dan melayani. Melalui keheningan, murid tidak hanya belajar ekonomi, tetapi juga belajar mengenali dirinya, mengelola emosinya, dan membuka diri terhadap pengalaman belajar yang bermakna. Saya tidak tahu lima tahun dari sekarang apakah mereka akan mengingat teori elastisitas harga, tetapi saya berharap mereka akan mengingat bahwa di sebuah kelas ekonomi, mereka pernah diajak untuk bernapas, untuk hadir, dan untuk menjadi manusia seutuhnya, dan mungkin, itu jauh lebih penting. Sebagai guru, saya percaya bahwa manusia utuh lahir dari kesadaran akan diri dan lingkungannya. Dan dari kesadaran itulah, kecerdasan sejati untuk melayani diri dan sesama akan tumbuh."Dalam keheningan, kita menemukan suara paling jernih: suara pikiran yang siap belajar, dan hati yang siap melayani."
Selengkapnya
Menyambut Tahun Ajaran Baru: Kegiatan MPLS di SMA Santa Ursula BSD
Posted: 2025-08-09 | By: Catherine Aurelia Wirjawan XII/B dan Beatrix Arunaya Kidung Anatha XII/C / Penyunting Naskah: P. Eka
Setelah menjalani liburan panjang, para murid kelas X, XI, dan XII kembali memasuki dunia mereka: SMA Santa Ursula BSD. Bagi murid kelas X, ini menjadi awal langkah mereka di lingkungan baru. Suasana SMA Santa Ursula BSD kembali hidup dengan kehadiran para murid, baik yang lama maupun yang baru. Selama minggu pertama, yakni 14 hingga 18 Juli 2025, mereka mengikuti berbagai kegiatan menyenangkan. Khusus untuk kelas X, para murid diajak mengenal SMA Santa Ursula BSD lebih dalam sekaligus menjalani proses adaptasi yang sesungguhnya. Rutinitas baru di pagi hari pun mulai, diawali dengan berdoa bersama, meditasi singkat, hingga menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza. Di siang hari, para murid juga berdoa dengan menyisipkan Nasihat Santa Angela dan menyanyikan lagu Mars Serviam.Setiap murid di jenjang SMA diberikan name tag sesuai dengan tahun ajaran masing-masing; murid yang memasuki tahun pertama atau kelas X di SMA mendapatkan name tag berwarna kuning, para murid kelas XI memperoleh name tag berwarna hijau, dan murid kelas XII yang akan menjalani tahun terakhir mereka di sekolah ini menerima name tag berwarna merah muda. Warna-warna ini menjadi penanda perjalanan dan pertumbuhan masing-masing angkatan. Secara umum, seluruh murid SMA mengikuti rangkaian kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), yang mencakup pengenalan guru, wali kelas, mata pelajaran, kurikulum, sistem pembelajaran, serta aktivitas yang akan dijalani selama setahun ke depan. Dalam proses ini, murid didorong untuk menyusun kesepakatan kelas dan membentuk pengurus inti, guna menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif dan penuh relasi. Selain itu, murid SMA Santa Ursula BSD juga diperkenalkan dengan visi dan misi sekolah, serta sosok Santa Angela yang menjadi pedoman dalam berperilaku. Mereka juga mempelajari enam nilai Serviam, serta memahami tata tertib sekolah yang akan mereka jalani. Seluruh kegiatan ini tidak hanya bersifat informatif dan membentuk karakter, tetapi juga disampaikan secara menarik oleh para guru melalui kuis dan permainan interaktif. Dengan begitu, para murid dapat memahami nilai-nilai sekolah secara menyenangkan dan mudah diingat.Agar para murid mengenal lingkungan sekolah secara lebih dalam lagi, khususnya kelas X, para anggota Badan Pengurus OSIS dan panitia Ekspedisi Tuju Santa Ursula (XTRA) memberikan tur keliling sekolah. Mereka diajak mengenal berbagai fasilitas sekolah seperti auditorium, perpustakaan, laboratorium IPA, dan lainnya. Para murid juga diperkenalkan pada berbagai program sekolah seperti pengomposan, eco enzyme, serta berbagai pilihan ekstrakurikuler. Mereka dapat bertanya kepada kakak kelas XI dan XII yang telah siap sedia memberi penjelasan. Di tengah kepadatan dan kegiatan hari-hari MPLS, aktivitas ice breaking dilakukan agar membuat suasana tetap ramai dan seru.             Menjelang akhir MPLS, siswa kelas X diajak untuk membangun cara berpikir baru dan paradigma belajar di SMA bersama tim Bimbingan Konseling. Sesi ini membahas budaya belajar di SMA, contohnya bagaimana cara memanajemen waktu, mengatur prioritas, dan membangun hubungan baik di lingkungan sekolah yang baru. Di sela-sela kegiatan hari terakhir MPLS, masing-masing murid kelas X diarahkan untuk memilih kegiatan ekstrakurikuler yang akan mereka lakukan selama satu tahun ke depan sebagai bagian dari pengembangan minat dan bakat di luar kegiatan akademik. Dengan berakhirnya rangkaian kegiatan MPLS SMA Santa Ursula BSD, terlihat jelas bahwa kegiatan ini tidak hanya ditujukan untuk bersenang-senang, melainkan juga menanamkan nilai-nilai sekolah yang membentuk karakter, semangat belajar, dan kebersamaan di tahun ajaran yang baru. MPLS bukanlah akhir, melainkan sebuah awal dari bab baru dalam proses belajar dan bertumbuh.
Selengkapnya
Sukacita Menyambut Ekaristi Bersama Bapak Kardinal Ignatius Suharyo
Posted: 2025-08-09 | By: Yohanes Sutraguna (XII-B/22) dan Maria Levenia Kusnadi (XII-E/25) / Penyunting naskah: P. Eka
Puji Tuhan! Halleluyah! Keluarga besar Santa Ursula BSD kini merayakan ulang tahun sekolahnya yang ke-35 tahun. Mulai di bangun atas visi dan arahan dari mendiang Sr. Francesco Marianti, OSU pada bulan Juli 1990, Kampus Santa Ursula BSD telah berkembang menjadi oase pendidikan yang megah dan disegani. Bahkan setelah 35 tahun berdiri, Sekolah Santa Ursula BSD terus bergerak maju dan beradaptasi dengan perkembangan zaman selagi mempertahankan nilai-nilai Serviam sebagai fondasi pendidikan Ursulin. Sejak tahun 1857, suster-suster Ursulin telah memulai karya mereka dalam pendidikan di Jalan Juanda, Jakarta. Pelayanan mereka pun meluas, salah satunya dengan mendirikan Sekolah Santa Ursula Jakarta pada tahun 1859. Melihat kebutuhan pendidikan di daerah BSD sebagai kota yang semakin berkembang, mendiang Sr. Francesco menyetujui wacana pembangunan Sekolah Santa Ursula di wilayah BSD yang dimulai pada Juli 1990. Perjuangannya tidaklah mudah, mulai dari pembelian tanah hingga pembangunan tiap unit gedung. Proses pembangunan ini telah memakan biaya, tenaga, waktu, dan dedikasi yang tidak terkira. Hal inilah yang nantinya akan menjadi cikal bakal Sekolah Santa Ursula BSD yang dikenal saat ini. Sekolah Santa Ursula BSD yang masih dapat berdiri kokoh selama 35 tahun lamanya juga merupakan hasil dari rahmat dan penyertaan dari Tuhan. Berkat-Nya, Sekolah Santa Ursula BSD boleh menghasilkan manusia-manusia yang utuh, cerdas, dan melayani, yang sesuai dengan visi sekolah. Pada hari Kamis, 24 Juli 2025, sekolah menyelenggarakan misa kudus dalam rangka merayakan 35 tahun karya pelayanan pendidikan Ursulin di Santa Ursula BSD. Pada hari itu, suasana sekolah tidak seperti biasanya. Para guru mengenakan pakaian tradisional, banyak karangan bunga yang dikirimkan oleh alumni maupun orang tua murid, serta hiasan-hiasan indah terletak rapi di depan tangga Auditorium. Ketika gerbang sekolah dibuka, murid menyapa para guru sambil berjabatan tangan. Pada pukul 07.00 WIB, bel berbunyi dan murid diarahkan untuk berjalan ke Auditorium untuk mengikuti misa. Murid yang beragama Katolik diarahkan untuk langsung mengikuti misa di Auditorium, sedangkan murid non-katolik diarahkan untuk mengikuti misa di ruang-ruang kelas yang telah dipersiapkan. Menjelang misa, petugas tata laksana berlalu lalang mengatur posisi dan mengarahkan umat untuk duduk di kursi-kursi yang masih tersedia. Misa perayaan syukur 35 tahun Sekolah Santa Ursula BSD,  bertemakan Building the Feature, Preserving the Legacy, Growing Together (membangun masa depan, menjaga warisan, dan bertumbuh bersama).  Perayaan yang spesial juga tentunya harus dipimpin oleh sosok yang spesial, yaitu Bapa Uskup Kardinal Suharyo. Banyak dari antara para alumni yang dengan riang kembali bercengkrama bersama para guru yang dahulu pernah mengajar mereka. Suasana hangat dan bahagia turut dirasakan oleh seluruh umat yang menghadiri misa perayaan tersebut. Misa dimulai tepat pada pukul 09.00 WIB dan selesai pada sekitar pukul 11.00 WIB. Para panitia perayaan Ulang Tahun Kampus Santa Ursula yang ke-35 pun telah menyiapkan persembahan terakhir sesaat setelah misa. Terdapat beberapa penampilan mulai dari murid-murid TK, SD, SMP, hingga SMA. Murid TK menampilkan tarian yang diiringi dengan lagu daerah ‘Ampar-Ampar Pisang’, murid SD menampilkan modern dance dengan iringan lagu Gold oleh ITZY, murid SMP menampilkan tarian tradisional yang berasal dari adat Betawi.  Setelah misa dan penampilan selesai, Bapa Uskup bersama para tamu undangan berjalan menuju ruang makan. Bapa Uskup, para suster, dan para alumni, diberikan suguhan makanan prasmanan sebagai tanda terimakasih. Ternyata, dalam rangka menghibur dan mencairkan suasana makan siang, sekolah telah menyiapkan penampilan keroncong yang dipersembahkan oleh murid SMA. Dalam persembahan musik keroncong ini membawakan lagu-lagu seperti, Tirtonadi, Sepasang Mata Bola, Pulau Bali, Kr. Kemayoran, Bengawan Solo, Kr. Bahana Pancasila, dan Rayuan Pulau Kelapa yang juga merupakan lagu kesukaan Bapa Uskup. Penampilan ini sukses dalam membawakan nuansa ceria dan ramai di ruang itu. Setelah selesai makan, Bapa Uskup melayani umat yang ingin berfoto dengan dengan beliau.  Setelah seluruh rangkaian acara selesai, para umat dipersilahkan untuk keluar dari ruang auditorium dan kembali melakukan kegiatan masing-masing. Perayaan ini merupakan bukti nyata bahwa semua anggota Sekolah Santa Ursula BSD turut berpartisipasi dan bekerjasama agar dapat membangun fondasi yang kokoh bagi generasi mendatang. Santa Ursula BSD juga menjunjung tinggi nilai nasionalisme yang terlihat pada perayaan misa yang bertepatan dilakukan pada Hari Kebaya Nasional sebagai bentuk penghargaan terhadap salah satu budaya di Indonesia. 
Selengkapnya
PELAKSANAAN ASESMEN NASIONAL BERBASIS KOMPUTER 2025 DI SMA SANTA URSULA BSD
Posted: 2025-08-08 | By: Gabriela Giselle Putri Atmaka / XI-A, Brian Aurey Saputra / XI-C Penyunting Naskah: I. Bella
4-5 Agustus 2025 - SMA Santa Ursula BSD berkomitmen dalam mewujudkan visi "Manusia Utuh, Cerdas, dan Melayani". Salah satu upaya nyata dalam mendukung visi tersebut adalah melalui pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) pada tahun ajaran 2025–2026. ANBK merupakan program evaluasi sistem pendidikan di Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. ANBK diharapkan menjadi alat yang efektif untuk mengukur kemampuan literasi dan numerasi para murid, sekaligus menjadi cerminan kualitas proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah.  Sebagai bagian dari evaluasi pendidikan di Indonesia, Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) yang diselenggarakan oleh Kemendikbud hadir untuk memetakan kualitas pendidikan secara lebih utuh dan bermakna. ANBK lebih menitikberatkan pada kemampuan berpikir kritis, budaya belajar yang sehat, dan pembentukan karakter murid. Dengan berbasis komputer, asesmen ini mendorong digitalisasi sekolah sekaligus menuntut kesiapan teknis, mental, dan etis dari seluruh unsur pendidikan, baik murid, guru, maupun institusi. Melalui ANBK, sekolah didorong pula untuk tidak hanya mengejar hasil, tetapi merefleksikan proses: apakah pendidikan yang diberikan benar-benar membekali murid dengan keterampilan hidup dan nilai-nilai integritas? Rangkaian pelaksanaan ANBK tahun ini diikuti oleh 50 murid kelas XI SMA Santa Ursula BSD melalui pemilihan secara acak pada laman pendataan Asesmen Nasional (AN) oleh Kemendikbud. Proses persiapan yang dipersiapkan oleh pihak sekolah sudah dilakukan sejak 18 Juli 2025, para murid telah dibimbing secara intensif melalui kelas tambahan dan latihan soal yang dirancang untuk memperkuat kemampuan penalaran literasi dan numerasi mereka. Lebih dari sekadar persiapan teknis, upaya ini menunjukkan keseriusan sekolah dalam memastikan bahwa setiap murid siap menghadapi asesmen yang menuntut ketajaman berpikir dan daya nalar. Simulasi ANBK yang diselenggarakan pada 21-22 Juli memberikan murid pengalaman langsung mengenai teknis pelaksanaan asesmen. Kegiatan ini dilanjutkan dengan gladi bersih pada 28-29 Juli, memanfaatkan sarana sekolah yaitu Lab Bahasa dan Lab Komputer sekolah. Seluruh proses dipantau secara ketat untuk meminimalkan adanya gangguan teknis dan membangun kesiapan mental murid.  Dalam pelaksanaannya, terdapat tiga instrumen utama ANBK, yakni Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang mengasah kemampuan literasi membaca dan numerasi, Survei Lingkungan Belajar, serta Survei Karakter sebagai tolak ukur yang tidak hanya menilai murid, tetapi juga mengevaluasi sistem pendidikan itu sendiri. Pelaksanaan utama ANBK pada tanggal 4-5 Agustus 2025 dimulai pukul 07.00 hingga 10.00 WIB. Dalam pelaksanaannya, 10 guru juga dilibatkan dalam pelaksanaan ANBK tahun 2025 yang terdiri dari  proktor, teknisi, dan admin, dengan peran krusial dalam memastikan kelancaran asesmen. Pengawasan silang juga diterapkan, dengan hadirnya guru-guru dari SMA Ora Et Labora BSD sebagai bentuk penguatan kejujuran, profesionalitas, dan integritas asesmen.  ANBK menjadi pengalaman yang menarik bagi para murid. Menurut Diandra, siswi kelas XI-D, ia mengaku awalnya merasa tertekan karena membawa nama baik dan akreditasi sekolah di tengah jadwal belajar yang padat. “Meskipun penuh tekanan, pengalaman ini berkesan dan membuat saya lebih siap menghadapi tantangan,” ujarnya setelah melalui berbagai persiapan dan simulasi ujian.  Selain itu, menurut Nuel XI-F, ia merasa khawatir akan tertinggal pelajaran di kelas. Meskipun demikian, ia tetap mempersiapkan diri dengan mengerjakan latihan soal yang diberikan agar mengenal jenis soal ANBK. Saat pelaksanaan ANBK, ia menjelaskan bahwa dia berusaha fokus dan mengerjakanya sebaik mungkin. “Biasa saja, pokoknya fokus ngerjain saja,” tambahnya.  Menurut Andrea XI-C, ANBK itu penting karena bisa membantu siswa tahu sejauh mana kemampuan mereka, terutama dalam literasi dan numerasi. Ia juga menambahkan, ANBK bukan hanya soal mengukur kemampuan, tetapi juga jadi latihan yang bagus untuk mempersiapkan diri menghadapi asesmen lain di masa depan. Melalui pelaksanaan ANBK tahun 2025-2026, SMA Santa Ursula BSD tidak hanya berupaya memenuhi kewajiban evaluasi nasional, tetapi juga untuk membekali murid dengan menumbuhkan budaya belajar yang adaptif dan berintergritas. Harapannya, pengalaman yang diperoleh para murid dapat menjadi bekal berharga untuk menghadapi tantangan akademik maupun nonakademik di masa depan. Dengan ini SMA Santa Ursula BSD tetap berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga setiap murid tidak hanya unggul dalam literasi dan numerasi, tetapi juga siap menjadi pribadi yang utuh, cerdas, dan melayani, sesuai dengan visi dan misi Santa Ursula BSD.
Selengkapnya
Menata Masa Depan, Melestarikan Warisan, Melangkah dan Bertumbuh Bersama
Posted: 2025-07-28 | By: Ch. Enung Martina
Building the Future, Preserving the Legacy, Growing Together.Kutipan di atas  sangat kuat maknanya bila dikaitkan dengan perjalanan 35 tahun Santa Ursula BSD, sebuah tonggak penting dalam karya pendidikan yang membentuk pribadi, karakter, dan masa depan generasi muda. Building the Future – Membangun Masa DepanKita hidup di tengah dunia yang terus berubah cepat, baik secara sosial, budaya, maupun teknologi. Kemajuan zaman menuntut manusia untuk terus beradaptasi, berpikir kritis, dan mampu bertahan dalam ketidakpastian. Sekolah sebagai tempat pembentukan generasi muda tidak bisa tinggal diam. Membangun masa depan berarti menyiapkan peserta didik agar menjadi pribadi yang tangguh, terbuka pada perubahan, dan mampu menemukan arah di tengah kompleksitas dunia modern.Membangun masa depan menyatakan komitmen bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar hari ini, tetapi tempat menyiapkan anak-anak untuk masa depan. Pada  usia ke-35 tahun, Santa Ursula BSD pastinya tidak tinggal diam, terus meperbaharui diri untuk  menghadapi tantangan zaman.  Mempersiapkan murid bukan hanya cerdas secara akademik, tapi juga resilien (tangguh dan mampu bangkit kembali setelah mengalami kesulitan, tekanan, atau kegagalan), visioner, dan siap menghadapi tantangan global. Terkait dengan kemajuan zaman, tak lepas dari perkembangan teknologi. Kemajuan teknologi bukan hanya tentang alat, gawai, atau kecanggihan kecerdasan buatan. Teknologi adalah alat bantu untuk belajar dan bertumbuh, bukan sekadar hiburan atau pelarian. Santa Ursula BSD berkomitmen membekali murid dan pendidik untuk bijak dalam menggunakan teknologi digital, mengembangkan kreativitas dan inovasi lewat media modern, menjadi warga digital yang bertanggung jawab dan beretika.Kemajuan tanpa karakter akan membawa kekosongan. Oleh karena itu dalam membangun masa depan Santa Ursula BSD terus berupaya  membangun karakter dengan menumbuhkan integritas, kejujuran, dan tanggung jawab; mendorong empati dan semangat melayani sesama; melatih disiplin, kerja sama, dan semangat pantang menyerah. Di Santa Ursula, nilai-nilai Serviam menjadi pondasi dalam membentuk karakter murid yang siap menghadapi masa depan, namun tetap berpijak pada nilai universal.Zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, namun iman tetap menjadi jangkar utama. Membangun masa depan tanpa keimanan hanya akan menghasilkan generasi yang rapuh dan mudah kehilangan arah. Santa Ursula BSD hadir untuk menumbuhkan relasi personal dengan Tuhan; mengembangkan  nilai spiritual yang membentuk hati nurani;  serta mendorong murid untuk menemukan panggilan hidupnya sebagai bentuk pelayanan  kepada keluarga, gereja, dan masyarakat. Membangun masa depan berarti mendampingi generasi muda agar berani melangkah maju, sambil tetap mengandalkan penyelenggaraan ilahi. Preserving the Legacy – Menjaga WarisanWarisan bukan hanya benda atau tradisi lama. Dalam konteks pendidikan, warisan adalah nilai, semangat, dan identitas yang diwariskan oleh para pendiri dan pendahulu kita, nilai yang telah membentuk siapa kita hingga hari ini.Sebagai bagian dari Ursulin yang telah hadir ratusan tahun di dunia dan puluhan tahun di Indonesia, Santa Ursula BSD memiliki warisan besar yaitu semangat Serviam ( Aku melayani, bukan dilayani); Spiritualitas Santa Angela Merici: mendidik dengan kasih, mendengar hati anak-anak, dan berjalan bersama mereka;  dan enam nilai dasar pendidikan Ursulin yang berpusat pada motto "Serviam" (Saya hendak mengabdi/melayani), adalah Cinta dan Belas Kasih, Integritas, Keberanian dan Ketangguhan, Persatuan, Totalitas, dan Pelayanan.Warisan ini bukan untuk disimpan dalam bingkai sejarah, melainkan dihidupi dan diteruskan dari generasi ke generasi. zaman terus  berubah membawa dampaknya antara lain  teknologi berkembang pesat, budaya instan dan konsumtif makin mendominasi, identitas diri menjadi semakin rapuh dalam dunia maya, serta nilai-nilai luhur mudah diabaikan demi popularitas atau kenyamanan sesaat. Di tengah ini semua, warisan nilai menjadi seperti pelita di tengah kelamnya zaman. Ia kecil, tetapi menunjukkan arah.Namun, tantangan zaman juga menuntut kita untuk tidak kaku atau terjebak romantisme masa lalu. Menjaga warisan bukan berarti mempertahankan bentuk luarnya secara kaku. Menjaga warisan berarti memelihara esensinya, lalu menyampaikannya dengan cara yang relevan di zaman sekarang. Contohnya Serviam tetap diajarkan, tetapi bentuk pelayanannya bisa digital (seperti aksi sosial online, kampanye lingkungan di media sosial). Spiritualitas tetap diajarkan, tetapi pendekatannya bisa kontekstual, sesuai dunia remaja masa kini: lebih dialogis, reflektif, dan menyentuh realitas mereka. Kita tidak mempertahankan bentuk, tapi makna. Kita tidak menyembah tradisi, tapi menghidupi semangatnya.Dalam  menjaga warisan kita membutuhkan dua hal yaitu kesetiaan pada nilai inti: kasih, kebenaran, pelayanan, iman. Yang kedua dibutuhkan kreativitas untuk menyesuaikannya dengan dunia yang berubah.  Santa Ursula BSD sebagai komunitas pendidikan harus mampu mentransformasi warisan menjadi kekuatan hidup yang menuntun generasi muda. Artinya, nilai lama dilestarikan  dengan cara yang baru, dengan bahasa, pendekatan, dan media yang dimengerti generasi digital.Preserving the Legacy  bukan soal bertahan di masa lalu, melainkan tentang membawa nyala terang para pendahulu ke dalam tantangan zaman sekarang. Dalam 35 tahun perjalanannya, Santa Ursula BSD telah menjadi penjaga nilai, penjaga cahaya, dan kini ditantang untuk terus menyalakan warisan itu agar tetap relevan dan menghidupkan. Growing Together – Tumbuh BersamaSekolah bukan hanya tempat anak-anak tumbuh. Para guru, karyawan, orang tua, bahkan alumni pun tumbuh bersama dalam ekosistem yang mendukung satu sama lain. Ini berarti tumbuh dalam kerja kolaboratif antara sekolah dan keluarga. Tumbuh dalam kesadaran sosial melalui program kemanusiaan dan lingkungan. Tumbuh dalam iman, kedewasaan, dan semangat komunitas.Growing Together bukan hanya tentang pertumbuhan individu, tetapi juga tentang kebersamaan dalam perjalanan menjadi pribadi yang utuh dan bermakna. Di dalamnya terkandung nilai kesalingan, kolaborasi, dan pembelajaran bersama dalam seluruh dimensi kehidupan.Ulang tahun ke-35 adalah bukti bahwa Santa Ursula BSD adalah komunitas yang tidak berjalan sendiri. Kita bertumbuh bersama, saling menguatkan, saling melayani. Pertama kita tumbuh bersama murid.  Setiap anak berkembang dalam keunikan dan waktunya masing-masing. Sekolah bukan sekadar tempat mengajar, tetapi ruang pertumbuhan bersama murid. Di situ para guru belajar memahami generasi muda dengan empati. Murid belajar menjadi pribadi yang reflektif dan bertanggung jawab.  Di dalamnya ada relasi dua arah: guru dan murid saling mengubah dan membentuk. Tumbuh bersama berarti berjalan beriringan, bukan meninggalkan yang lemah, tapi menguatkannya.Kedua, tumbuh bersama sesama pendidik dan tenaga kependidikan. Di era penuh tantangan, guru dan tenaga kependidikan juga dipanggil untuk terus belajar dan bertumbuh. Bertumbuh dalam kompetensi dan profesionalisme, saling mendukung dalam tekanan dan tantangan kerja, dan mengembangkan budaya kerja kolaboratif, bukan kompetitif.  Tumbuh bersama berarti membentuk komunitas yang sehat, terbuka, dan saling menyemangati.Yang ketiga tumbuh bersama orang tua dan Keluarga.  Pendidikan adalah tugas bersama antara sekolah dan keluarga. Keterlibatan orang tua bukan hanya saat rapat atau saat ada masalah. Dalam visi "tumbuh bersama" sekolah dan keluarga saling berbagi nilai dan harapan. Orang tua menjadi mitra dalam pembentukan karakter. Dalam hal ini komunikasi terbuka menjadi kunci utama pendidikan anak.  Tumbuh bersama berarti menjalin kemitraan yang setara, saling percaya, dan mendidik bersama demi masa depan anak.Dunia terus berkembang. Kita merupakan bagian dari dunia ini, maka yang keempat adalah tumbuh bersama dunia. Sekolah tidak hidup dalam ruang tertutup. Santa Ursula BSD sebagai bagian dari masyarakat global sudah semestinya terbuka pada  wawasan internasional tanpa kehilangan jati diri. Sekolah juga menjadi  bagian dari gerakan dunia: peduli lingkungan, kesetaraan, dan keadilan sosial.Menjadi suara profetik di tengah dunia yang berubah. Pendidikan mempunyai tugas kenabian. Sekolah mempunyai tugas berkaitan dengan tugas menyampaikan kebenaran, memperjuangkan keadilan, dan menegur ketidakbenaran di tengah masyarakat. Dalam hal ini,  tumbuh bersama berarti berani hadir di dunia sebagai pembawa terang dan harapan.Yang terakhir adalah tumbuh dalam iman dan tujuan hidup. Pertumbuhan sejati bukan hanya akademik, tapi juga spiritual dan moral. Dalam semangat Ursulin, pertumbuhan menyeluruh harus mengarah pada tujuan mulia yaitu mengenal dan mencintai Tuhan, menemukan panggilan hidup, dan menjadi berkat bagi sesama melalui pelayanan.  Tumbuh bersama berarti membentuk pribadi yang sadar akan tujuan hidupnya dan berjalan bersama Tuhan.Tumbuh Bersama" adalah undangan untuk tidak berjalan sendiri, melainkan bertumbuh dalam kebersamaan sebagai murid, guru, orang tua, dan warga dunia. Dari ruang kelas hingga dunia nyata, dari hati yang kecil hingga jiwa yang besar, kita dipanggil untuk terus bertumbuh: dalam kasih, dalam pengetahuan, dan dalam iman.Building the Future, Preserving the Legacy, Growing Together bukan sekadar rangkaian kata, melainkan arah dan semangat yang menjiwai perjalanan Santa Ursula BSD selama 35 tahun. Di tengah arus zaman yang terus berubah, sekolah dipanggil untuk membangun masa depan dengan memanfaatkan teknologi, membentuk karakter, dan menumbuhkan iman yang kokoh. Dalam waktu yang sama, warisan luhur Santa Angela Merici yaitu semangat Serviam, spiritualitas, dan nilai kemanusiaan;  harus terus dijaga, bukan dengan cara mempertahankan bentuk lama secara kaku, melainkan dengan menghidupi maknanya secara relevan. Seluruh proses ini tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan dalam semangat kebersamaan: guru, murid, orang tua, dan komunitas sekolah saling mendampingi, saling menumbuhkan, dan bersama-sama melangkah menuju tujuan mulia pendidikan Katolik yang profetik untuk membentuk pribadi tangguh, beriman, dan siap melayani. Selamat merayakan 35 tahun Santa Ursula BSD. Tuhan memberkati. (Ch. Enung Martina)Sumber: https://www.osuinternational.orgUrsuline Education Network (U.S.): https://www.ursuline-edu.org/core-valuesPedoman Pastoral Pendidikan Katolik – KWIThomas Lickona,Educating for Character (1991)https://www.apa.org/topics/resilienceKurikulum Merdeka dan panduan penguatan karakter (P5).
Selengkapnya
Menolak Tidak Tahu, Langkah Awal Menghargai Kemanusiaan
Posted: 2025-02-13 | By: Yohanes Sutraguna (XI-B), Jolene Sulung (XII-C)
Setiap tanggal 10 Desember, dunia merayakan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia. Tahun ini, kita merayakan Hari HAM yang ke-76 sejak ditetapkannya Deklarasi Universal HAM (DUHAM) oleh Majelis Umum PBB pada 1948. Dilansir dari PBB, tema yang dibawakan untuk Hari HAM Sedunia 2024 adalah,“Our Rights, Our Future, Right now” yang juga berarti “Hak-Hak Kita, Masa Depan Kita, Saat ini”. Dengan tema yang ditetapkan ini, diharapkan dunia semakin menjunjung tinggi hak asasi manusia sebagai pondasi dasar untuk masa depan yang cerah.Di Indonesia, Kementerian Hak Asasi Manusia menetapkan Hari HAM Sedunia dengan tema “Harmoni dalam Keberagaman Menuju Indonesia Emas 2045”. Tema ini didasari oleh cita-cita bangsa Indonesia yang ingin mewujudkan harmoni di tengah keberagaman yang ada, guna mencapai kemajuan berbangsa dan bernegara yang diimpikan.Menanggapi peringatan Hari HAM Sedunia, SMA Santa Ursula BSD mengadakan seminar terkait Hari HAM pada Jumat, 6 Desember 2024. Adapun tema seminar ini adalah “Pemajuan dan Penghormatan Hak Asasi Manusia Setelah 25 Tahun Reformasi”. Dalam seminar ini, kami mempelajari tentang makna penting dari Hak Asasi Manusia, serta bagaimana Hak Asasi Manusia sering dilanggar oleh pihak-pihak yang berkuasa guna mempertahankan jabatan dan otoritas. Hal ini menjadi salah satu keprihatinan dari SMA Santa Ursula BSD yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi yang “bersih”.Tidak hanya seminar, SMA Santa Ursula BSD juga mengadakan Focus Group Discussion (FGD) sebagai bekal pengetahuan untuk menghadiri seminar. FGD dilakukan sebanyak dua kali, yakni pada tanggal 14 November 2024 dan 22 November 2024. Topik yang dibicarakan pada masing-masing tanggal pun seputar Munir—tokoh pejuang HAM sekaligus salah satu tokoh pendiri Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS)—dan pembahasan Tragedi Trisakti dan Tragedi Semanggi 1-2. Kedua FGD ini juga menghadirkan pihak eksternal sebagai narasumber yang aktif mengikuti aksi Kamisan sekaligus anggota dari organisasi penggiat HAM.Dengan diadakannya FGD dan seminar Hari HAM ini, sekolah menegaskan kembali mengenai tiga nilai moral dalam 10 Nilai Santa Ursula, yakni kepekaan, penghargaan, dan tanggung jawab. Seminar Hari HAM yang diselenggarakan sekolah bertujuan untuk menambah wawasan peserta didik tentang berbagai peristiwa kelam di sejarah Indonesia, khususnya peristiwa-peristiwa yang mengandung unsur pelanggaran HAM berat, seperti Tragedi Semanggi pada tahun 1998. Adapun salah satu buah dari seminar ini adalah slogan atau tagar #Menolak Tidak Tahu. Slogan ini bertujuan untuk mengajak masyarakat, terutama kaum muda untuk peka dan peduli terhadap masa lalu. Ditegaskan dalam seminar ini, bahwa masa lalu harus tetap diingat sebagai pondasi membangun masa depan yang lebih baik.Narasumber yang hadir pun tidak kalah menarik. Mereka ialah penggiat sekaligus pakar dalam hal hak asasi manusia. Melalui ketiga narasumber, kami mendapat gambaran akan kegiatan Kamisan yang sudah rutin dilakukan 843 kali selama 18 tahun terakhir. Aksi Kamisan ini pertama kali dilakukan pada tanggal 18 Januari 2007 yang digagas oleh Ibu Sumarsih. Melalui aksi Kamisan, masyarakat Indonesia diajak untuk melakukan protes secara damai terhadap ketidakpedulian pemerintah Indonesia perihal pelanggaran HAM berat. Kamisan biasanya dilakukan di depan istana negara menggunakan pakaian serba hitam dan payung hitam. Seiring berkembangnya zaman, teknologi dan anak muda juga ikut andil dalam aksi Kamisan. Sebanyak 58 aksi Kamisan telah dilakukan di seluruh wilayah Indonesia sebagai hasil inspirasi dari aksi Kamisan di Jakarta, seperti di Bandung, Surabaya, Malang, Padang, Aceh, Yogyakarta, Jember, Purwokerto, dan masih banyak lagi. Uniknya, seluruh aksi Kamisan ini diprakarsai oleh anak-anak muda. “Inilah pemimpin yang diharapkan; pemimpin yang peduli pada kasus HAM,” sahut salah satu narasumber.Digital activism pun kerap menjadi sarana yang marak digunakan oleh para anak muda. Baik itu berinterkoneksi antaraktivis dari berbagai lokasi, sampai memperluas komunitas aktivis dengan menyebarluaskan pengetahuan dan kepekaan akan hak asasi. Salah satu narasumber pun berbagi cerita mengenai pengalamannya berkenalan dan berdiskusi dengan sesama aktivis muda lewat digital activism. Kenyataannya, banyak anak muda yang merencanakan aksi protes damai terkait isu hak pendidikan, asasi manusia, buruh, bahkan wanita. Pergerakan ini sendiri telah membantah manifesto mengenai keapatisan anak muda terhadap politik, terutama hak asasi.“Waktu itu, temen-temen-ku di Purwokerto bilang, ‘Mas, kita diikutin.’ Ada juga temen-temen-ku di Medan bilang, ‘Mas, kita di-hack.’” ungkap salah satu narasumber. Cerita ini pun dilengkapi oleh narasumber lain yang mengungkapkan bahwa “lewat digital activism ini, isu-isu HAM yang tadinya terisolasi di wilayah masing-masing jadi bisa diketahui semua orang.”Digital activism juga bisa digunakan untuk melindungi hak-hak masyarakat pada zaman ini. Salah satu narasumber membandingkannya dengan Tragedi Trisakti yang pada masanya, belum mengenal apa itu video atau media sosial. Hal ini mempermudah pemerintah dalam menolak gugatan dengan alasan minimnya bukti. Salah satu narasumber menutup argumennya dengan ungkapan, “Demokrasi akan selamat jika kita semua berani dan mau menolak pelanggaran HAM.” Maka, ada baiknya jika artikel ini ditutup dengan: Apakah kamu berani bersuara mengenai pelanggaran hak asasi manusia?  
Selengkapnya
Persian: Mengenyam Cerita Melalui Kreativitas dan Tradisi
Posted: 2025-02-12 | By: Beatrix Arunaya Kidung Anatha / XI-C dan Maria levenia Kusnadi / XI-E | Foto Oleh : Tim Dokumentasi OSIS dan Kaderisasi
Pada hari Senin, 02 Desember 2024, Badan Pengurus OSIS beserta anggota kaderisasi kelas XI dan XII mengadakan kegiatan Pesta Rakyat Sanurian, yang disingkat dengan nama “Persian”. Kegiatan ini dilaksanakan mulai dari pukul 07.00 WIB sampai 13.30 WIB. Rangkaian acara dimulai dengan kata sambutan dari Ketua OSIS, yaitu Varo (XII-C) dan dilanjutkan dengan pemanasan sebagai permulaan. Pemanasan dilakukan agar fisik para peserta siap untuk melakukan berbagai jenis kegiatan yang telah disediakan. Setelah melakukan pemanasan, peserta dipersilakan untuk mengikuti kegiatan Persian sesuai dengan rundown. Kegiatan yang terdapat dalam Persian antara lain adalah voli buta, futsal daster, dan berbagai permainan tradisional. Permainan tradisional meliputi congklak, engklek, lompat karet, ular naga, dan catur. Voli buta dikhususkan untuk para siswi, sedangkan futsal daster dikhususkan untuk para siswa dari setiap kelas. Selain olahraga, ada pula kegiatan olah seni, yaitu lokakarya, yang terdiri dari membuat sekaligus menghias layang-layang dan menghias pot tanaman. Olahraga futsal daster cukup mendapatkan perhatian dari para pemain dan suporternya. Futsal daster pada dasarnya adalah permainan futsal biasa, tetapi dengan sedikit perubahan, yakni setiap peserta yang berpartisipasi harus memakai daster rumahan. Selain itu, mereka juga tidak diperkenankan untuk berlari. Permainan futsal daster berjalan dengan lancar dan sangat menarik. Berbagai sorakan heboh penonton dan suporter dari setiap kelas yang bertanding dapat terdengar setiap kali sebuah gol tercetak. Suara sorak-sorai tersebut juga diiringi tabuhan drum atau galon kosong yang membuat situasi semakin meriah. Di akhir hari, terdapat sebuah pertandingan kejutan antara tim BP OSIS dan tenaga pendidik. Dari semua pertandingan, tentunya  pertandingan antara tim BP OSIS dan tenaga pendidik-lah yang mendapat sorakan paling banyak.   Selanjutnya, ada olahraga voli buta yang dimainkan di lapangan voli. Permainan voli buta ini tidak seperti voli pada biasanya karena menggunakan bola pantai yang berukuran sangat besar. Dinamakan voli buta karena net yang digunakan untuk bermain telah ditutupi dengan terpal agar para pemain tidak dapat saling melihat lawannya. Permainan ini dimainkan oleh 2 tim, yang masing-masing berisikan 6 siswi. Setiap kelas juga diperbolehkan untuk mempersiapkan 6 orang cadangan pemain untuk berjaga-jaga sekiranya ada yang cidera ataupun kelelahan. Satu sesi permainan voli buta berlangsung selama sekitar 30 menit agar setiap kelas mendapatkan giliran untuk bermain. Terdapat pula kegiatan lokakarya yang dilakukan pada waktu yang bersamaan dengan voli buta dan futsal daster. Kegiatan pertama, yaitu membuat sekaligus menghias layang-layang dilakukan di ruang serbaguna, sedangkan kegiatan kedua, yaitu menghias pot dilakukan di selasar Auditorium Sekolah Santa Ursula BSD. Setiap kelas akan bergantian mengikuti sesi lokakarya dengan sesi voli buta dan futsal daster. Setiap kegiatan lokakarya berlangsung selama 120 menit atau 2 jam. Dalam sesi lokakarya pembuatan layang-layang, para guru dan panitia memberikan instruksi bagaimana cara membuat layang-layang dari awal dan tema hiasan dari layang-layang tersebut. Para panitia memberikan kertas layang-layang dan stik bambu sebanyak tiga buah yang ukurannya cukup tipis, dua buah untuk fondasi atau bentuk layang-layang dan sisanya untuk cadangan jika ada stik yang patah. Tema hiasan yang diberikan oleh panitia adalah “Pahlawan Berjasa”. Masing-masing  peserta membawa alat dan bahan untuk menghias secara mandiri dari rumah.Jenis kegiatan terakhir adalah menghias pot tanaman. Setiap kelompok yang beranggotakan lima orang dari setiap kelas diberi satu buah pot, satu kotak cat akrilik, dan beberapa kuas untuk melukis di pot. Tidak ada tema yang ditentukan oleh panitia Persian, sehingga setiap kelas bebas menghias pot sesuai keinginan dan kreativitas mereka. Ada yang menggambar bentuk berbagai bunga, ada pula peserta yang mengecat pot mereka dengan warna merah muda di seluruh bagian pot. Di akhir sesi, pot yang dihias pun diisi pupuk dan ditancapkan sebuah bibit tanaman untuk melengkapi kegunaan sang pot. Untuk mengisi waktu luang selama menunggu giliran untuk bermain voli buta, futsal daster, maupun melakukan lokakarya, panitia menyediakan berbagai macam permainan tradisional untuk dimainkan baik secara berkelompok maupun individu. Hal ini bertujuan agar ada variasi kegiatan yang bisa diikuti oleh peserta didik. Acara Persian ditutup dengan chanting dari tim Bursa dan pembagian konsumsi berupa donat kepada seluruh peserta Persian oleh pihak panitia.
Selengkapnya
Bersama Melayani dalam Perayaan Ekaristi
Posted: 2024-11-19 | By: Yohanes Sutraguna (XI-B/23), Maria Levenia Kusnadi (XI-E/25) | Foto oleh Harkuswo Hartono dan Josephina Zelda Gwenogia Wibowo (XI-B/14)
Ekaristi adalah sumber kehidupan bagi umat Katolik di seluruh dunia. Sejak awal, kepercayaan dan tradisi agama Katolik selalu terikat dengan sakramen ekaristi yang setidaknya dirayakan seminggu sekali. Ekaristi sendiri merupakan kata yang berasal dari bahasa Yunani, yakni “eucharistia” yang bermakna puji syukur. Kata “eucharistia” memberikan penegasan pada makna ekaristi, yaitu sebagai pengungkapan rasa syukur kepada Allah, atas karya penyelamatannya bagi dunia melalui Yesus Kristus. Selain itu, ekaristi juga merupakan sebutan bagi roti dan anggur yang telah dikonsekrasikan menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus. Hal ini dilandasi oleh perkataan Yesus sendiri pada malam perjamuan terakhir, yang dinyatakan dalam Lukas 22:19-20, “Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: ‘Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.’ Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: 'Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.” Inilah yang diimani oleh umat Katolik, bahwa sakramen ekaristi adalah roti dan anggur yang telah sungguh berubah menjadi tubuh dan darah Kristus.Sakramen ekaristi sendiri bertujuan untuk mempersatukan kita dengan Kristus. Melalui ekaristi, kita dapat bersentuhan langsung dengan Kristus, tentu dengan iman dan penghayatan terhadap ekaristi tersebut. Sakramen ekaristi juga bertujuan untuk mengubah umat-Nya menjadi bait Allah yang hidup dalam persatuan dengan Kristus. Dengan menyantap tubuh dan meminum darah Kristus, kita menyembah Tuhan dan membiarkan diri-Nya masuk dan bekerja dalam diri kita. Maka dari itu, umat Katolik sangatlah menghargai dan memaknai sakramen ekaristi sebagai sumber kehidupan mereka. Ekaristi adalah sebuah perayaan, sehingga perlu banyak perencanaan dan persiapan. Biasanya, pelayanan dalam perayaan ekaristi dilakukan oleh orang dewasa, tetapi kesempatan bagi orang muda untuk terlibat dalam pelayanan gereja tetap terbuka lebar. Dalam hal ini, sekolah Santa Ursula BSD telah merencanakan perayaan ekaristi yang akan diikuti seluruh unit sekolah. Adapun, pelayanan untuk misa ini akan melibatkan peserta didik SD, SMP, dan SMA.Misa ini direncanakan untuk dilaksanakan di Auditorium Sekolah Santa Ursula BSD pada tanggal 14 November 2024. Tema yang diangkat dalam perayaan ini adalah “Menerima dan Menghargai Perbedaan”. Peserta didik SMA bertugas dalam paduan suara, pembacaan mazmur tanggapan, dan petugas tata laksana. Peserta didik SMP bertugas sebagai putra altar, putri sakristi, dan pembawa persembahan. Peserta didik SD bertugas sebagai pembaca doa umat. Tidak hanya itu, empat orang guru pun terlibat untuk menjadi prodiakon selama misa berlangsung.Misa ini dipimpin oleh Romo Joseph Biondi Mattovano. Dengan misa ini, beliau menargetkan untuk mengingatkan kita tentang betapa pentingnya menghargai dan menghormati satu sama lain. Dengan bacaan Injil dan homili, Romo Joseph mengingatkan kita semua bahwa setiap manusia itu unik dan berbeda, sehingga kita harus saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Tidak hanya itu, Romo Joseph pun mengajarkan bahwa Kerajaan Allah selalu ada dalam diri kita, tetapi dapat dipungkiri oleh perbuatan salah dan dosa. Maka dari itu, ia mengimbau para umat untuk menerima sakramen tobat sebelum merayakan Natal.Misa yang telah direncanakan pun berlangsung lancar dan baik. Akan tetapi, proses persiapan misa ini telah melalui berbagai kendala dan hambatan, khususnya dari sudut pandang peserta didik SMA yang bertugas dalam paduan suara. Pengumuman pertama tentang akan diadakannya misa pada 14 November 2024 kepada peserta didik kelas XI-B disampaikan hanya dua minggu sebelum pelaksanaannya. Adanya miskomunikasi antara para penanggung jawab dengan guru juga petugas menyebabkan ketersediaan waktu semakin singkat. Oleh karena itu, terjadi beberapa permasalahan yang perlu diatasi, sehingga semakin memperlambat proses persiapan dan pelatihan untuk misa.Adapun, fakta bahwa tidak semua peserta didik SMA yang bertugas dalam paduan suara memiliki kemampuan musik dan menyanyi yang merata, menyebabkan proses latihan mengalami hambatan. Akhirnya untuk membantu mengatasi masalah ini, koordinator paduan suara membuat beberapa keputusan, seperti mengajak peserta didik dari kelas lain yang memiliki kemampuan bermusik, hingga memperketat jadwal latihan, yakni hari Selasa sampai Jumat (5-9 November 2024) serta Senin sampai Rabu (11-13 November 2024).Meski demikian, tetap ada hambatan selama proses latihan, yaitu banyaknya peserta didik yang tidak disiplin dalam mengikuti jadwal latihan yang telah ditentukan, seperti terlambat datang, sering bermain gawai, menghilang tanpa kabar, dan sebagainya. Akhirnya, beberapa murid bahkan tidak bergabung kembali dalam kelompok paduan suara misa sebab dianggap tidak serius dan tidak berkomitmen pada pelayanan. Menurut satu koordinator paduan suara, Josephina Zelda Gwenogia Wibowo, banyaknya lagu yang diperuntukkan untuk misa, serta tidak familier bagi petugas, menjadi salah satu kendala yang dihadapi dalam proses latihan paduan suara.“Untuk peristiwa ada teman yang bolos latihan itu, sudah diproses oleh para guru dan pada akhirnya dibebastugaskan dari koor karena dianggap tidak serius dan tulus dalam pelayanan. Selain itu, ada kesulitan lain, seperti lagu-lagu misa yang cukup banyak dan harus dilatih dengan baik dalam waktu siang. Lalu, hal itu juga berarti bahwa saya harus memasukkan lagu-lagu ke dalam map yang berjumlah kurang lebih 60 orang. Adapun, kendala yang dialami bersama selama proses latihan adalah ada cukup banyak lagu yang harus kami pelajari dan terdapat beberapa lagu yang belum pernah kami dengar sebelumnya, sehingga memerlukan waktu untuk bisa menyanyikannya dengan baik. Contohnya adalah lagu My Tribute. Untuk mengatasi kendala itu, kami mendengarkannya terlebih dahulu di Youtube, seperti apa lagu My Tribute itu. Hal itu kami lakukan supaya telinga kami terbiasa mendengar lagu tersebut dan menjadi lebih mudah ketika menyanyikannya,” katanya.Banyaknya umat pula petugas yang terdiferensiasi dari beberapa unit di Santa Ursula BSD membuat komunikasi dan koordinasi menjadi lebih rumit. Namun, terlepas dari segala hambatan dan kesulitan yang ada, misa tersebut dapat berjalan lancar akibat dedikasi dari setiap petugas. Hal ini membuktikan bahwa tidak akan ada yang menghalangi setiap kesuksesan bila memang sudah tertanam niat yang kuat untuk melakukan sesuatu. “Misa yang sangat luar biasa hebat–keren. Bagi saya, itu semua adalah hasil kerja keras kami bersama–dengan waktu yang sangat singkat,” ujar koordinator tersebut.Adapun evaluasi yang menjadi paling utama adalah ketersediaan waktu. Menurut Gwen, waktu yang diperlukan untuk mempersiapkan misa setidak-setidaknya sekitar 1 bulan, tidak kurang. Ini memungkinkan para petugas dapat lebih mengatur waktu dan tidak terburu-buru untuk memikirkan konsep ataupun lagu yang akan dibawakan nanti. Kurangnya waktu untuk latihan dalam misa kali ini membuat beberapa petugas tidak siap. Beberapa contohnya adalah pemain keroncong yang terpeleset jarinya saat bermain, hingga anggota koor yang masih duduk saat anamnesis dinyanyikan oleh romo. Pengaturan baris untuk komuni pun turut menjadi masalah, sebab barisan yang ada kurang teratur dan akhirnya terhambat. “Untuk proses informasi waktu diadakannya misa, jika bisa tidak terlalu mepet, bisa jauh-jauh hari,” ungkap Gwen.Ia berharap untuk perayaan-perayaan ekaristi yang akan datang, pemberitahuan kepada petugas dapat disampaikan jauh sebelum pelaksanaannya. Terutama ketika perayaan tersebut diselenggarakan dengan skala yang besar, seperti melibatkan seluruh unit pendidikan sekolah Santa Ursula BSD. Dikarenakan, selain mengurus misa, para petugas juga masih memiliki tanggung jawab lain sebagai peserta didik.Meski dengan segala hambatan dan kendala, perayaan ekaristi yang telah disiapkan dapat berjalan lancar. Seperti yang telah disebutkan, hal ini tidak lepas dengan kerja keras dan dedikasi yang luar biasa dari para petugas yang bertahan hingga hari pelaksanaan. Hal tersebut pantas kita hargai dan apresiasi, sebab pelayanan selalu membutuhkan pengorbanan. Ke depannya, umat diharapkan dapat menjadi lebih bertanggung jawab dan menghargai setiap perbedaan yang ada, seperti yang tercermin pada tema misa kali ini. Tuhan memberkati. Amin. 
Selengkapnya
Menjadi Kader Khas Santa Ursula
Posted: 2024-11-19 | By: Jolene Sulung (XII-C)
Menjadi Kader khas Santa Ursula BSD artinya menjadi seorang pemimpin yang peka dan peduli pada kalangan masyarakat bawah. Menjadi Kader khas Santa Ursula BSD artinya berani menerobos struktur segitiga sosial dan membantu mereka yang seringkali tertindas oleh sistem. Menjadi Kader khas Santa Ursula BSD artinya tidak lagi menjadi pemimpin yang berorientasi pada jabatan dan posisi teratas, melainkan pada tindakan yang didasari pada kepekaan dan kepedulian.Inilah yang diajarkan selama pelatihan Kaderisasi tiga hari berturut-turut oleh Suster Francesco Marianti, OSU. bersama dengan timnya, Pak Hakim dan Pak Tino. Mungkin terdengar sepele—bahwa seorang pemimpin harus peka dan peduli—tetapi hal inilah yang menjadi aspek tersulit dalam menjadi seorang pemimpin sejati. Seorang pemimpin sejati harus bisa mengesampingkan ego dan memilih untuk membuka hati bagi para orang-orang kecil.Prinsip-prinsip ini ditempa  dalam diri para Kader melalui serangkaian aktivitas menarik, mulai dari diskusi interaktif, pemaparan materi, menonton dokumenter, dan gim yang didesain untuk mendorong melatih cara dan pola berpikir para Kader. Secara intensif, kami dilatih untuk kritis dalam menganalisis dan cepat tanggap dalam merespons sebuah situasi.Namun, tantangan sebenarnya menjadi seorang Kader tidak terletak pada pelatihan tiga hari dari Suster Francesco dan timnya, melainkan dalam proses setahun bersama dengan peserta Kaderisasi lainnya untuk berusaha membuat dampak dalam sebuah komunitas. Berbagai tantangan kami hadapi ketika sedang berproses, seperti orientasi kelompok Kaderisasi tahun 2023-2024 dan miskomunikasi.Pada awalnya, orientasi kelompok Kaderisasi tahun 2023-2024 adalah membuat program literasi yang ditujukan bagi komunitas SMA Santa Ursula BSD untuk meningkatkan literasi. Program ini akan terdiri dari serangkaian gim interaktif dan unik untuk menjaring ketertarikan peserta didik SMA Santa Ursula BSD. Proses pembuatan proposal program pun tidaklah mudah bagi kami. Kami harus melakukan literasi rutin di perpustakaan sekolah untuk mengetahui isu-isu terkini yang sedang terjadi, mulai dari politik, sosial, dan budaya. Isu-isu tersebut akan menjadi dasar dan tema bagi program literasi kami. Dari pandangan kami, program ini akan membantu memperkaya literasi komunitas SMA Santa Ursula BSD sekaligus meningkatkan kesadaran akan masyarakat yang tertindas. Bagi kami, program ini cocok dan ideal untuk dijalankan oleh kelompok Kaderisasi tahun 2023-2024.Sayangnya, butuh waktu yang lama bagi kelompok Kaderisasi tahun 2023-2024 untuk mengetahui makna sesungguhnya dari menjadi seorang Kader. Kami terlalu terpaku pada kata-kata ‘program’ sampai lupa definisi dari Kader itu sendiri. Kader yang dibutuhkan oleh masyarakat bukanlah Kader yang mencolok dengan programnya yang besar. Kader yang diperlukan masyarakat ialah mereka yang rela berkorban untuk masyarakat kalangan bawah tanpa mencari keuntungan semata bagi diri sendiri.Jalan menuju kesimpulan ini tentu tidak mudah. Kami, sebagai kelompok Kader, harus mencari sendiri sumber konflik internal kelompok Kaderisasi tahun 2023-2024 dengan petunjuk dan materi yang sudah diberikan sebelumnya oleh Suster Francesco dan timnya. Berbagai opini dan analisis kami diskusikan bersama. Memang terasa dan terkesan kompleks, tetapi justru pada proses inilah, kami benar-benar diubah—ditransformasi—menjadi seorang Kader. Hal ini diungkapkan oleh Ibu Cicil sebagai guru pendamping kelompok Kaderisasi tahun 2023-2024, dan Juro selaku salah satu Koordinator Kaderisasi tahun 2023-2024. Menurut mereka, salah satu hal paling membahagiakan dalam proses kelompok Kaderisasi adalah ketika kelompok Kaderisasi dapat mengidentifikasi akar dari permasalahan yang ada seorang diri, atau dalam hal Kaderisasi, sebagai satu kelompok pemimpin tanpa bantuan dari guru pendamping.“Proses itulah yang mendewasakan. [Kalian] mencari tahu, menganalisis, dan menyelesaikan masalah itu sendiri—itulah yang mendewasakan dan itulah yang membuat seseorang akhirnya menjadi sepenuhnya Kader. Menjadi Kader artinya belajar kritis dan memahami setiap pribadi yang mempunyai kepribadian berbeda-beda dan memanfaatkan hal tersebut untuk bersinergi bersama-sama,” ungkap Ibu Cicil.Lantas, dengan analisis akar masalah di depan mata, apa yang sekarang bisa dilakukan oleh para Kader Santa Ursula BSD? Kader yang masih berstatus peserta didik dengan batasan modal, akses, dan koneksi. Menanggapi kesulitan kami, Suster Francesco dan timnya kembali mengingatkan orientasi Kader khas Santa Ursula BSD yang sesungguhnya. Beliau mengisyaratkan bahwa kami dapat mulai berkontribusi dan aktif di komunitas terkecil di sekitar kami, seperti rumah, gereja, terutama sekolah.Membantu teman-teman yang kesulitan dalam lingkungan sekolah, baik dalam hal akademi maupun sosial; meluangkan waktu untuk berkunjung ke panti asuhan; mengajar teman-teman kita di luar sana yang butuh pendidikan; ikut pelayanan gereja; dan masih banyak lagi. Kepekaan dan tindak nyata ini harus datang dari diri kita masing-masing terlebih dahulu, sebelum akhirnya mengajak orang lain. Inilah peran seorang Kader sejati, yakni memprakarsai tindakan nyata dan menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal serupa.Tentu, sifat dan sikap seorang Kader tidak bisa didapatkan begitu saja. Perlu latihan bertahan-tahun untuk dapat mencerminkan sikap seorang Kader sejati. Ibu Cicil sendiri mengatakan bahwa “[Pelatihan menjadi seorang Kader adalah] sebuah proses hidup. Belajar sebagai Kader khas Santa Ursula [BSD] merupakan sebuah proses menuju keutuhan manusia dengan jiwa Serviam yang memiliki prinsip utama melayani.”Juro pun menjelaskan beberapa ‘latihan’ yang bisa dilakukan seorang Kader. “Dalam prosesnya, kemampuan dan hati seorang Kader harus terus diasah. Hati bisa diasah dengan memperbanyak interaksi dengan orang-orang di sekitar kita dengan sadar. Dari interaksi tersebut, diharapkan kita bisa menjadi lebih peka dengan keadaan orang-orang di sekitar. Lalu, untuk kemampuan, dalam hal ini analisis kritis, seorang Kader dapat melengkapi analisis pengalaman pribadi atau suatu kasus dengan meminta pendapat orang lain. Di sinilah pentingnya peran Kaderisasi sebagai wadah, di mana terdapat ruang diskusi agar pergerakan yang awalnya bersifat individu dapat ditingkatkan menjadi gerakan atau terobosan bersama.”Seperti petuah yang diberikan oleh Ibu Eri ketika bertemu dengan kami, “Pemimpin bisa dilahirkan atau bisa dari bakat, tetapi tetap harus dikembangkan dan ditempa mentalitasnya.” Begitu juga dengan Kader khas Santa Ursula BSD. Berakhirnya masa jabatan kami sebagai kelompok Kaderisasi bukan berarti kami berhenti menjadi seorang Kader. Hal ini menyisakan satu pertanyaan terakhir untuk direfleksikan, yaitu: Apakah aku dan aku-aku yang lainnya sudah memakai Kaderisasi sebagai sarana menjadi pemimpin yang peduli?”Jawaban ada pada proses hidup yang akan kita jalani di lingkungan masyarakat yang luas nanti.Selamat menjadi Kader khas Santa Ursula BSD. Selamat menjadi pemimpin yang peka dan kritis. Ingat, masih banyak suara tidak terdengar yang membutuhkan Kader sejati.
Selengkapnya
Sampassador: Upaya Remaja Bergerak Melawan Sampah
Posted: 2024-10-09 | By: Valerie Graceline Darsojo (XI-G/15), Jovan Nathanael (XII-D/14) | Dokumentasi Pribadi (Valerie Graceline Darsojo)
Berdasarkan data dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), Indonesia merupakan negara penghasil sampah plastik terbanyak kedua setelah China. Sebanyak 3,2 juta ton sampah plastik yang tak terkelola dihasilkan oleh negara kita setiap tahunnya. Sebagai generasi muda penerus bangsa, kita perlu lebih bijak dalam menanggapi permasalahan tersebut. Lantas, upaya-upaya penanggulangan sampah menjadi topik hangat yang harus dibahas oleh para sampassador selama lima hari lamanya.“Wer sind wir? Sampassador!” merupakan kalimat yang tidak asing bagi kami, Valerie Graceline Darsojo dan Jovan Nathanael, peserta didik SMA Santa Ursula BSD yang berkesempatan mengikuti kegiatan perkemahan remaja (Schülercamp) yang diadakan oleh Goethe-Institut Indonesien pada tanggal 29 Juli-1 Agustus lalu. Acara ini merupakan proyek dari Goethe-Institut yang berkolaborasi dengan Monumen Antroposen Indonesia, Bule Sampah dan Save The Children Indonesia, yang diselenggarakan di Yogyakarta. Selama mengikuti acara Schülercamp, kami  turut membahas serta mendalami isu-isu keberlanjutan mengenai sampah, ekonomi sirkuler, hingga ikut terjun dan terlibat dalam membersihkan lingkungan di sekitar kami. Lalu, sebenarnya apa itu Sampassador? Sampassador sendiri merupakan akronim dari dua kata, ‘Sampah’ dan ‘Ambassador’, yang secara harfiah diterjemahkan menjadi ‘duta sampah’. Kata inilah yang diangkat menjadi tema untuk kegiatan Schülercamp kali ini. Harapannya, setelah mengikuti kegiatan ini, para peserta mampu menjadi promotor kebiasaan keberlanjutan yang mengusung nilai-nilai kebersihan, kepekaan, dan cinta lingkungan. Hari Minggu merupakan hari pertama kami, peserta Schülercamp, tiba di kota Yogyakarta. Pada hari tersebut, kami dapat saling mengenal peserta lain yang berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Malamnya, kami pun mendapatkan penjelasan mengenai kegiatan yang akan dilakukan selama seminggu, serta tata tertib selama kamp berlangsung. Kami juga dapat berkenalan bersama teman-teman sekamar kami yang memang sengaja dipasangkan dari daerah yang berbeda-beda.Kegiatan sejatinya dimulai pada hari Senin, yang mana setiap paginya selama tiga hari ke depan dibuka dengan kursus Bahasa Jerman di SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Melalui kelas bahasa Jerman yang diberikan, kami secara aktif didorong untuk belajar mendeskripsikan dan mengulas topik-topik tentang lingkungan dalam Bahasa Jerman.Hari kedua kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke Monumen Antroposen. Sebuah monumen hasil karya Franziska Fennert, seorang seniman asal Jerman yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Istilah ‘antroposen’ sendiri mengacu pada era geologi masa kini, dimana aktivitas manusia mulai mempengaruhi iklim dan ekologi Bumi, baik melalui perilaku pembuangan sampah manusia yang berlebih, ataupun produksi gas rumah kaca yang perlahan menghangatkan Bumi. Hal ini tercerminkan dengan lokasi monumennya yang terletak persis di samping TPA Piyungan, di kawasan Kabupaten Bantul. Untuk kurun waktu yang cukup lama, TPA Piyungan menjadi tempat pembuangan utama untuk Kota Yogyakarta dan kawasan di sekitarnya sebelum ditutup pada tahun 2024 akibat kelebihan kapasitas. Di tengah tumpukan sampah yang masih berserakan di sekitar monumen tersebut, para penggagas Monumen Antroposen mampu memanfaatkannya dengan mendirikan sebuah pabrik eco-brick berskala kecil di kompleksnya. Kami diajak melihat proses pembuatan eco-brick tersebut, mulai dari tahap pencacahan, pemadatan, hingga  menjadi produk fungsionalnya.Di Monumen Antroposen inilah, para peserta Schülercamp diberikan penyuluhan dalam bentuk seminar mengenai dampak destruktif dari sampah plastik oleh Benedict Wermter, atau yang dikenal di dunia media sosial sebagai “Bule Sampah”. Ia adalah seorang jurnalis sekaligus influencer yang kerap membahas permasalahan lingkungan, terutama di Indonesia. Bersamanya, kami diajak untuk mengumpulkan dan memilah sampah yang ada di sekitar Monumen Antroposen. Sembari memilah, kami juga dijelaskan jenis-jenis plastik yang umumnya beredar di lingkungan. Contohnya adalah plastik PET (Polyethylene Terephthalate) yang biasanya merupakan bahan penyusun botol plastik, serta plastik LDPE (Low-density Polyethylene) yang sering digunakan sebagai bungkus makanan dan kantong plastik. Setelah selesai dipilah, kami membawa sampah tersebut untuk diberikan kepada Bank Sampah. Bank Sampah yang kami datangi adalah Bank Sampah Gemah Ripah yang berlokasikan di Bantul. Kami juga dijelaskan tata cara menyetorkan sampah, mulai dari proses pendataan hingga penyetoran.Selain itu, kami juga berkesempatan untuk mengunjungi situs cagar budaya bekas peninggalan kerajaan Mataram Islam, salah tiga di antaranya adalah Museum Pleret, Makam Ratu Malang, serta reruntuhan dari Masjid Kauman Pleret. Kunjungan ini sendiri memiliki kaitan erat dengan topik kami yakni Sampah dan Monumen Antroposen. Sejak masa kesultanan, sering dapat dijumpai candi yang dibangun sebagai bentuk simbolisme maupun arsip sejarah (“collective memory”). Tradisi ini kemudian berkembang dengan dibangunnya monumen yang berperan sebagai simbol nasionalisme bangsa pada masa proklamasi hingga kemerdekaan. Di masa kini, Monumen Antroposen berperan sebagai media perantara yang menunjukkan bahwa sampah kita sehari-hari dapat diubah menjadi sebuah karya seni yang bermakna. Kehadiran Monumen Antroposen sendiri diharapkan dapat membuka wawasan bagi masyarakat untuk belajar mengolah sampah dan memanfaatkan hasilnya untuk memajukan perekonomian setempat. Tidak hanya berhenti pada kegiatan pemilahan sampah di Monumen Antroposen, semangat untuk berkontribusi terhadap lingkungan kami wujudkan dalam kegiatan membersihkan Pantai  Parangkusumo, Yogyakarta. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ina Lepel dan Direktur Goethe-Institut, Constanze Michel yang turut memberikan kata sambutan dan tanggapan positif mengenai program ini. Untuk kegiatan pembersihan sampah di pantai, kami dibekali karung guna mengumpulkan sampah yang dapat kami temui di sepanjang pesisir pantai. Pada saat ini, kami didorong untuk mengutamakan nilai kerja sama agar dapat mengumpulkan sebanyak-banyaknya sampah di sekitar pantai. Tidak dapat dipungkiri bahwa kegiatan bersih pantai ini membuka mata kami mengenai pentingnya menjaga lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya. Kami dapat menemukan kehadiran sampah plastik dari mancanegara yang terbawa ombak dan arus air hingga ke pantai kita karena dibuang secara sembarangan di pesisir pantai.Kegiatan membersihkan pantai ini juga diselingi dengan beberapa kegiatan menarik lainnya seperti membuat sabun menggunakan minyak jelantah. Selain itu, kami juga diberikan penjelasan lebih lanjut seputar iklim dan perubahannya melalui seminar yang diberikan oleh organisasi Save The Children Indonesia.Malamnya, kegiatan Schülercamp ditutup dengan acara formal yang dihadiri oleh Kepala Sekolah masing-masing. Lima hari yang telah kami lalui bersama-sama menghasilkan sebuah verhaltenskodex (komitmen bersama) yang kami sampaikan pada penghujung acara di malam hari, meliputi janji untuk mengurangi konsumsi plastik, menghemat air dan energi, serta mengambil peran meningkatkan kesadaran bersama tentang cara-cara melindungi lingkungan.Tentunya seluruh rangkaian kegiatan ini membekali kami dengan ilmu dan keterampilan yang sangat penting dalam hidup. Banyak sekali keterampilan teknis yang didapat dari kegiatan Schülercamp ini, seperti ilmu Bahasa Jerman yang telah diajarkan, pengetahuan historis tentang situs-situs di seputaran daerah Yogyakarta, serta ilmu lingkungan yang didapat dari berbagai seminar. Akan tetapi, tak kalah penting juga adalah keterampilan non-teknis dan soft-skills yang terasah, seperti bagaimana kami harus menjalin relasi dan komunikasi dengan orang-orang dari berbagai wilayah Indonesia, mengungkapkan pendapat, berdiskusi dalam sebuah kelompok, dan keterampilan lainnya. Bila seluruhnya harus disimpulkan dalam satu kata, yaitu “tercerahkan”. Adanya kegiatan ini membuka mata kami akan betapa mendesaknya permasalahan lingkungan ini, terutama di Indonesia, sembari memberikan dorongan kepada kita sebagai remaja masa depan bangsa untuk segera bertindak menghadapi tantangan ini. Hal-hal yang dilakukan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana, seperti selalu membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai, dan memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar. Kita perlu ingat bahwa Bumi adalah satu-satunya rumah kita semua. Marilah kita jaga bersama, agar tetap indah untuk semua manusia dan makhluk seisinya. Daftar Pustaka:Indraswari, D. L. (2023, August 6). Jalan Panjang Menuju Indonesia Bebas Sampah. kompas.id. https://www.kompas.id/baca/riset/2023/08/07/jalan-panjang-menuju-indonesia-bebas-sampah 
Selengkapnya
Kunjungi, Coba, dan Rasakan: Open House Santa Ursula BSD 2024
Posted: 2024-10-09 | By: Beatrix Arunaya Kidung Anatha XIC/04
Acara Open House Santa Ursula BSD merupakan acara yang digelar pada 7 September 2024.  Selain menjadi kegiatan yang rutin dilakukan tiap tahun, Open House juga merupakan jendela bagi calon peserta didik dan orang tua untuk mengenal sekolah Santa Ursula BSD lebih dalam. Sekolah Santa Ursula BSD mengundang semua pengunjung untuk menjelajahi lebih dalam berbagai program yang ditawarkan dari setiap unit pendidikan. Open House dimulai pada pukul 09.00 pagi. Hanya dalam beberapa menit, lapangan parkir telah ramai terisi kendaraan pengunjung. Acara ini tidak hanya dilakukan untuk jenjang SMP dan SMA, ini juga tersedia bagi calon peserta didik TB-TK dan SD. Dari unit TK dan SD, kebanyakan peserta didik menampilkan pertunjukan dari ekstrakurikuler mereka, seperti Robotics dan angklung. Ada pula dari mereka menjual makanan kepada para pengunjung. Untuk unit SMP dan SMA, beberapa peserta didik mempromosikan kegiatan ekstrakurikuler mereka di dalam kelas masing-masing, seperti ekstrakurikuler Bahasa Jerman, Mandarin, Korea, dan Jepang untuk bidang bahasa. Selain itu ada beberapa ekstrakurikuler seni yang bisa dikunjungi, seperti ekstrakurikuler manga, membatik, dan desain mode. Tidak hanya itu, pengunjung juga dapat mencicipi crab stick mentai dan lemongrass tea kreasi BP OSIS SMA 2024. Terakhir, seperti tahun-tahun sebelumnya, pengunjung juga dapat menyaksikan pertunjukan musik dari anggota band, gamelan, dan orkestra peserta didik di Auditorium Sekolah Santa Ursula BSD.Tentunya untuk menggelar acara Open House Santa Ursula BSD, diperlukan persiapan dari jauh-jauh hari, terutama oleh para penampil. Salah satunya yakni Kayla Lauren dari kelas XI-B yang memegang peran sebagai ketua seksi Biola 2 dalam pertunjukan orkestra. “Latihan secara bersama dimulai satu minggu sebelum Open House, jadi memang tidak lama dan pemberian lagu sedikit rapat dengan hari pelaksanaan, bahkan ada yang baru diberi hari-H, tetapi puji Tuhan semua berjalan dengan lancar,” ucapnya. Persiapan yang dilakukan juga tidak jauh beda dengan persiapan untuk pertunjukan orkestra lainnya. Seksi Biola 2 selalu latihan bersama dengan seksi alat musik lainnya yang akan tampil. Jika ada lagu yang belum genap, tim orkestra akan melatih lagu itu berulang-ulang sampai sempurna. Open House 2024 bisa dianggap sebagai kata pengantar akan keseharian peserta didik di kampus Santa Ursula BSD. Acara ini juga menunjukan fokus pada pengembangan minat dan bakat pesereta didik melalui kegiatan akademis dan non-akademis, serta membentuk pribadi yang cerdas dan berintegritas. Untuk mencari tahu lebih tentang kehidupan kampus Santa Ursula BSD, yuk, bergabung bersama kami sekarang juga!
Selengkapnya
Perpustakaan SMP-SMA Santa Ursula BSD: Dunia dalam Satu Ruangan
Posted: 2024-10-01 | By: Jolene Sulung (XII-C/20)
Bagaimana jadinya sebuah sekolah tanpa perpustakaan? Peran perpustakaan memang tidak perlu dipertanyakan kembali. Selain untuk menunjang pendidikan formal peserta didik, perpustakaan juga hadir sebagai sarana untuk memperluas wawasan umum dan non-akademis, serta imajinasi anggota komunitas sekolah. Perpustakaan juga sering kali menjadi fasilitas yang hening dan nyaman untuk membaca dan mengerjakan tugas.Seluruh peranan perpustakaan ini diperingati pada setiap tanggal 14 September sebagai Hari Kunjung Perpustakaan. Pada peringatan tahun 2024 ini, saya berkesempatan mewawancarai para pustakawan sekolah seputar perpustakaan SMP-SMA Santa Ursula BSD.Berbagai sumber literatur yang disediakan di Perpustakaan SMP-SMA Santa Ursula BSD adalah koleksi buku fisik (analog), VCD/DVD, E-book, majalah, surat kabar, tiga buah komputer untuk eksplorasi dunia maya, dan aneka permainan edukatif. Jenis buku yang disediakan juga tidak tanggung-tanggung, mulai dari buku pelajaran seperti Matematika, Fisika, Kimia, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris; buku bacaan fiksi, non-fiksi, dan komik sains; serta referensi seperti kamus dan ensiklopedia.Ini pun hanya sebuah gambaran besar akan buku-buku yang terdapat di perpustakaan. Nyatanya, berbagai genre buku dapat ditemukan di Perpustakaan SMP-SMA Santa Ursula BSD. Mulai dari non-fiksi dengan topik psikologi sampai biografi, serta non-fiksi dengan topik romansa sampai literasi sejarah. Perpustakaan Santa Ursula BSD juga menyediakan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan kamus bahasa Jerman sejumlah masing-masing 30 eksemplar, serta buku wajib baca sebanyak 40 eksemplar per judul untuk jam pelajaran wajib literasi. Begitu beragam dan banyak sumber sastra yang disediakan oleh Perpustakaan SMP-SMA Santa Ursula BSD. Keren, kan?Koleksi buku-buku ini sekitar 90% berasal dari pembelian pihak sekolah dan 10% merupakan pemberian dari pihak eksternal, seperti peserta didik, orang tua peserta didik, dan alumni. Jadi, bagi anggota komunitas sekolah yang buku-bukunya sudah menumpuk di rumah, boleh banget diberikan ke perpustakaan untuk berbagi pengetahuan dengan sesama anggota komunitas. Beberapa kriteria yang perlu diperhatikan adalah keadaan fisik buku yang masih bagus dan layak baca, genre fiksi harus sesuai dengan usia peserta didik SMP-SMA, serta genre non-fiksi mengenai pengetahuan umum dan buku pelajaran.Tidak hanya itu, Perpustakaan SMP-SMA Santa Ursula BSD juga selalu terbuka pada permintaan buku dari seluruh anggota komunitas sekolah. Permintaan buku tersebut akan diproses dan disesuaikan dengan kebutuhan perpustakaan pada saat itu. Asik, kan? Siapa tahu buku yang diinginkan tiba-tiba bisa ada di salah satu rak Perpustakaan Santa Ursula BSD!Selain menyediakan sumber literatur, Perpustakaan SMP-SMA Santa Ursula BSD juga menawarkan berbagai layanan, seperti peminjaman buku, referensi, dan fotokopi bagi peserta didik.“Menurutku, ibu-ibu perpustakaan bantu banget. Kalau ada buku yang enggak tahu tempatnya, kita bisa langsung tanya. Ibu-ibunya juga baik banget. Waktu itu, aku mau pinjem buku Laut Bercerita, tapi enggak ketemu-temu. Jadinya, aku nanya dan langsung dituntun ke raknya, terus ditunjukkin bukunya yang mana. Aku juga dulu pernah ada tugas kliping berita-berita, guru-guru perpustakaannya juga langsung bantu menyediakan sumber-sumber koran sama majalah … lengkap banget dan urut waktu, terus, di-fotokopi di perpustakaan,” kata Audrey, salah satu peserta didik SMA Santa Ursula BSD.Bahkan, perpustakaan juga menawarkan kunjungan terbuka bagi orang tua peserta didik dan alumni. Layanan akan langsung dilakukan oleh pustakawan Perpustakaan SMP-SMA Santa Ursula BSD yang berjumlah empat personel. Mereka semua adalah Ibu Arjuna Ria Melawaty Manurung, S.S.; Ibu L. M. Sri Sudartanti Purworini, S.Pd., M.Pd.; Ibu Christina Enung Martina, S.Pd.; dan Ibu Margaretha Maria Josyarti, S.Pd., M.Pd.Selain menanyakan seputar perpustakaan sekolah, saya juga berkesempatan bertanya mengenai keseharian seorang pustakawan.“Kami melakukan pengadaan koleksi buku, baik itu membeli buku atau menerima sumbangan buku. Lalu, kami juga mengelola koleksi buku, seperti penyampulan, stempel, pemberian nomor induk buku dan nomor klasifikasi buku, menginput atau meng-entry data buku di E-school, display buku, sampai memasukkan buku ke rak,” jelas Ibu Juna.Di samping itu, para pustakawan juga secara aktif mempublikasikan berbagai karya tulis sastra yang dapat dibaca pada situs web https://literasisanurbsd.wordpress.com/. Pada bagian “Konten Blog”, para pustakawan biasanya menyematkan karya tulis puisi dan feature, yaitu jenis artikel yang memadukan gaya bahasa berita dan opini.  Topik yang biasanya diangkat seputar nasionalisme dan politik. Sementara itu, pada bagian “Ruang Guru”, banyak disematkan resensi-resensi buku perpustakaan sebagai rekomendasi bagi anggota komunitas sekolah. Ulasan-ulasan ini juga sudah hadir di Instagram dengan nama akun @perpussanbes.Tunggu apa lagi? Yuk, ramaikan Perpustakaan SMP-SMA Santa Ursula BSD! Ditunggu kehadiran seluruh anggota komunitas sekolah, ya!    
Selengkapnya
Pewartaan Injil dari Vatikan ke Indonesia
Posted: 2024-09-20 | By: Maria Levenia Kusnadi (XI-E/25) | Yohanes Sutraguna (XI-B/23) | Foto oleh : Yohanes Sutraguna (XI-B/23)
Pada tanggal 3 sampai 6 September 2024, Paus Fransiskus melakukan perjalanan apostoliknya ke Indonesia sebagai bagian dari tur Asia-Pasifik. Misa bersama dengan Paus Fransiskus sendiri digelar pada 5 September 2024 di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) dan Stadion Madya. Misa ini juga ditayangkan secara live streaming di seluruh gereja Indonesia dan berdurasi sekitar 1 jam 30 menit. Kebetulan, Sekolah Santa Ursula BSD mendapat kesempatan untuk mengikuti misa tersebut secara langsung di Stadion Madya. Pesertanya mulai dari para guru unit TB hingga SMA serta peserta didik unit SMP dan SMA. Untuk unit SMA, pihak sekolah memberikan kuota kepada setiap kelas untuk mengikuti Misa Agung bersama Bapa Suci Paus Fransiskus. Pembagian kuota setiap kelas telah disesuaikan dengan banyak kuota yang tersedia bagi sekolah. Untuk peserta didik kelas X mendapatkan kuota sebanyak 6 anak per kelas, kelas XI mendapatkan kuota sebanyak 8 anak per kelas, sedangkan peserta didik kelas XII mendapatkan kuota sebanyak 7-9 anak per kelas (menyesuaikan dengan jumlah anak per kelas), tidak termasuk dengan anggota OSIS yang beragama Katolik. Para peserta yang berhasil mendapatkan kuota kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok kecil sesuai arahan dari sekolah. Tiap  kelompok terdiri dari 11-15 orang. Sebelum berangkat, para peserta diberikan perlengkapan seperti wristband  yang berisi informasi tempat duduk, bendera merah putih, dan slayer dengan warna biru muda untuk guru dan jingga untuk murid. Rombongan peserta dari Sekolah Santa Ursula BSD berangkat pada pukul 11.00 WIB dari BSD dan tiba di pintu masuk sekitar pukul 13.00 WIB di area GBK. Setelah turun dari bus, para peserta harus berjalan kembali sekitar 15 menit untuk mencapai ke area Stadion Madya. Sebelumnya, dilakukan pengecekan oleh para petugas sebanyak 5 kali untuk memastikan seluruh barang yang dibawa aman untuk dibawa masuk ke area stadion. Setelah selesai melakukan pengecekan, peserta langsung menuju ke tempat duduknya masing-masing. Peserta didik unit  SMA mendapatkan tempat duduk di area Brown D2. Dikarenakan masih ada beberapa jam untuk menuju ke misa pukul 17.00 WIB, maka dibuatlah serangkaian acara yang dapat dinikmati oleh para peserta seperti penampilan bernyanyi oleh Lyodra, paduan suara para peserta didik dari berbagai sekolah di Jakarta, berdoa rosario, persembahan lagu akapela oleh grup musik, dan lain-lain. Ada pula sesi tanya jawab dengan 3  uskup dari Indonesia.“Ya seperti Paus Fransiskus juga, kalau secara fisik, sudah mau mati— yang tinggal yakni hati yang baik,” ucap Uskup Mandagi, Uskup Keuskupan Agung Marauke  yang telah berusia 75 tahun tersebut.Acara tersebut berlangsung dari pukul 14.00 WIB sampai sekitar pukul 16.00 WIB. Pada pukul 16.15 WIB, Paus Fransiskus tiba di GBK dan berkeliling mengitari stadion menggunakan mobil, yang dimulai dari Stadion Madya. Para umat dengan meriah menyambut kedatangan Paus Fransiskus. Pada saat Paus Fransiskus mengitari stadion, para umat Katolik menyanyikan lagu “Viva Il Papa” dan “Kristus Jaya”. Paus Fransiskus melambaikan tangannya sambil tersenyum ke arah umat. Ada pula beberapa umat khususnya bayi dan anak-anak yang dicium keningnya dan diberkati oleh Paus Fransiskus. Bendera merah putih juga dikibarkan oleh para umat sebagai tanda kebanggaan bangsa Indonesia. Setelah proses berkeliling selesai, perayaan misa pun dimulai. Paus Fransiskus memimpin ritus pembuka (doa tobat), khotbah,  dan pengumuman (ucapan terima kasih). Hal yang unik yang perlu disorot adalah pembaca dari bacaan pertama merupakan seorang tunanetra yang menggunakan huruf braille. Kedua, hosti yang diberikan memiliki bordiran Tuhan Yesus yang sedang disalib. Lalu,  misa diakhiri dengan ucapan dari Paus Fransiskus. “Terima kasih kepada semuanya,  orang Indonesia yang begitu ramah, khususnya orang tua”.Seluruh rangkaian acara ditutup dengan persembahan 2 lagu oleh Lyodra. Peserta yang berada di Stadion Madya diperbolehkan untuk meninggalkan area pada sekitar pukul 19.00 WIB. Para peserta keluar dari area stadion dengan cukup teratur, tanpa ada yang terluka. Setelah keluar dari gerbang stadion, rombongan Santa Ursula BSD kembali pada bus masing-masing dan kembali menuju sekolah. Bus sampai di sekolah pada pukul  20.15 WIB. Misa bersama dengan Paus Fransiskus ini menuai beragam kesan dari para umat yang mengikuti seluruh rangkaian acaranya. Beberapa di antaranya yaitu: “Rasanya tuh kayak ketemu idol kamu. Terharu tapi juga kecewa, karena ga bisa terlalu dekat dengan Paus Fransiskus,” ujar Angel (XI-E) yang mengikuti misa di Stadion GBK.“Kehadiran Bapa Suci sangat membuka diri saya untuk menerima kasih Tuhan. Keteladanan yang beliau tampilkan kepada kita semua sangat mencerminkan nilai-nilai ajaran Kristus kepada umat manusia. Saya sendiri sangat terharu ketika mengikuti misa akbar tersebut, terasa ada kasih yang luar biasa dari melihat dan bertemu bapa suci, walaupun tidak memahami isi khotbahnya di tempat, tetapi jiwa dan perasaan beliau tentang nilai mampu tercurahkan pada kami,” kata Han-Han (XI-B).“Misa bersama Bapa Suci Fransiskus kemarin rasanya seru dan menggembirakan, apalagi ketika Paus lewat dan menyapa kita semua di Stadion Madya. Terasa meriah dan sekaligus khusyuk misanya,” ujar Varo (XII-C).“Kesempatan mengikuti Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Bapa Paus Fransiskus, mendampingi para peserta didik unit SMP Santa Ursula BSD, saya alami sebagai anugerah besar. Betapa pun bersama dengan anugerah itu ada tanggung jawab besar di pundak saya, menyangkut keselamatan peserta didik, dalam situasi yang tidak sepenuhnya bisa diprediksi,” ungkap Bu Josy.“Dalam kenyataannya luapan rasa syukur menjadikan cuaca panas terik, maupun guyuran hujan, rasa haus dan letih dalam tugas pendampingan, tak terasa berat sama sekali. Larut dalam sukacita bersama ribuan umat yang hadir, kedatangan Bapa Paus Fransiskus berjarak beberapa meter di hadapan saya membuat saya tak kuasa menahan haru. Pengalaman istimewa ini sungguh meneguhkan,” lanjutnya.Kedatangan Bapa Suci Paus Fransiskus ke Indonesia telah mendatangkan sukacita bagi seluruh rakyat Indonesia, tak terkecuali mereka yang bukan menganut agama Katolik. Selama Bapa Suci berada di tanah air, beliau telah mengajarkan nilai-nilai kesederhanaan dan pelayanan kepada kita semua.  Adapun Misa Agung yang dipimpin oleh Bapa Suci, dengan membawa tema kunjungan faith (iman), fraternity (persaudaraan), dan compassion (bela rasa) telah membawa damai dan kegembiraan bagi seluruh umat Katolik di Indonesia, terlebih bagi mereka yang berkesempatan untuk hadir secara langsung ke Stadion Madya dan GBK. Keteladanan yang beliau tampilkan pantas untuk menjadi bahan refleksi dan introspeksi bagi kita semua. Semoga kunjungan Bapa Suci Paus Fransiskus dapat menjadi berkat bagi seluruh Indonesia, semakin memperkuat persaudaraan kita, serta menjadi teladan bagi kita semua untuk hidup lebih beriman, bersaudara, dan berbela rasa. 
Selengkapnya
Study Tour ke Jerman Bersama Hayden
Posted: 2024-08-29 | By: Maria Levenia Kusnadi (XIE/25) | Yohanes Sutraguna (XIB/23) | Foto oleh Robby, | Pendamping, Lilla, Nida
Abad ke-21 merupakan masa dimana dunia tidak lagi dibatasi oleh pagar atau langit. Dunia kini sudah bebas, segala bentuk informasi yang beredar dapat kita peroleh di ujung jari kita. Mengetahui hal tersebut, sudah tentu kebijakan dalam menggunakan dan memilah informasi tersebut sangatlah penting untuk dimiliki oleh setiap individu. Inilah salah satu alasan pentingnya mengenyam pendidikan yang lengkap di masa sekarang.Pendidikan merupakan suatu kebutuhan dan juga sebuah hak yang perlu diperoleh oleh setiap individu. Pendidikan memungkinkan seorang individu untuk dapat berpikir kritis dan bernalar tajam. Hal ini dapat senjata bagi individu tersebut untuk bertahan di dunia yang terbanjiri oleh informasi. Inilah alasan pendidikan tinggi sangatlah didambakan oleh banyak orang tua kepada anak-anaknya. Untuk memperoleh pendidikan tinggi, seorang pelajar dapat mendaftarkan diri pada suatu perguruan tinggi atau universitas yang didambakannya. Di Indonesia sendiri, ada dua jenis perguruan tinggi, yakni Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Akan tetapi, di era modern saat ini, tidak sedikit pula pelajar Indonesia yang memutuskan untuk menempuh pendidikan tinggi di luar tanah air. Proses untuk menempuh pendidikan tinggi di luar negeri tentu berbeda dengan di tanah air, lantas saat ini semakin banyak diadakan program study tour oleh berbagai kampus asing di dunia bagi para pelajar yang berminat melanjutkan pendidikan di luar negeri. Salah satu pelajar yang berhasil mengambil dan mengikuti program study tour sejenis ialah Hayden.Josephine Hayden Denetria Widiyatmoko, seorang pelajar di sekolah SMA Santa Ursula BSD yang kini menduduki bangku kelas XII-F. Di kelas peminatannya, Hayden menekuni studi mata pelajaran Sosiologi, Ekonomi, Antropologi, dan Bahasa Inggris Lanjutan. Ia adalah seorang pelajar yang memiliki ketertarikan dalam ilmu linguistik, ia pun mengaku pernah mempelajari bahasa Belanda ketika berusia lebih muda. Akan tetapi, dikarenakan ketidaktersediaannya program belajar bahasa Belanda di Santa Ursula BSD, maka ia pun memutuskan untuk mengikuti program belajar intensif Jerman pada saat kelas X. Sejak dahulu, Hayden telah memiliki minat untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Dengan terbukanya kesempatan untuk mengikuti program study tour yang diberikan oleh institusi Goethe, ia mengambil kesempatan tersebut. Program ini dinamakan auswahlverfahren jugendkurs 2024. Awalnya Hayden tak sepenuhnya memahami program ini, ia mengira ini hanyalah program kursus bahasa biasa alih-alih pergi langsung ke Jerman. Meski demikian, ia tetap lolos ke tahap seleksi yang diselenggarakan oleh Goethe Institut.Proses seleksi ini terbagi menjadi dua tahapan. Tahap pertama meliputi schriftliche prüfung (tes menulis dan mendengarkan) yang dilakukan antar peserta didik Santa Ursula BSD. Selanjutnya, tahap kedua meliput mündliche prüfung (tes lisan) yang dilaksanakan oleh kandidat-kandidat dari 28 sekolah di seluruh Indonesia. Total terdapat 16 pelajar dari seluruh Indonesia yang berhasil lolos untuk mengikuti program studi ini. Mereka pun dibagi menjadi dua tim dan hanya dibimbing oleh beberapa pendamping dari Jerman. Hayden termasuk dalam tim yang pergi ke Sankt Peter Ording, Jerman.“Sebenernya waktu awal-awal tuh, aku ga terlalu tau detail dari program ini, bahkan aku kira ini hanya program kursus bahasa biasa, bukan beneran ke Jerman, jadi waktu ada seleksi aku kayak “oh ya udah deh boleh ikut-ikut aja” ternyata beneran ke Jerman, kan jadi kayak bener-bener ga expect. Jadi untuk konsiderasi, awalnya ga ada, haha,” ucap Hayden.Seperti yang disebutkan, Hayden tidak menyangka bahwa program ini akan sungguh mengirimnya ke Jerman, sehingga ia belum sempat mempersiapkan diri sepenuhnya. Hayden mengaku khawatir sebab kemampuan bahasa Jermannya belum fasih. Akan tetapi, dengan kemampuan seadanya, ia tetap mampu untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan penduduk di sana dengan baik. Setiba di Jerman, Hayden mengalami culture shock sebab perbedaan karakteristik penduduk Jerman dengan Indonesia. Ia mengatakan bahwa orang Jerman cenderung berterus terang dalam beraktivitas dan berbicara, sangat berbeda dengan kultur orang Indonesia yang suka berbasa-basi. Hayden juga menyebutkan bahwa cuaca dan kuliner di sana sangatlah berbeda dari yang ada di Indonesia. Ia bercerita bahwa cuaca di Jerman dapat berubah secara drastis dalam waktu yang singkat, seperti panas berganti dingin lalu hujan badai secara tiba-tiba, dan sebagainya adalah hal yang lumrah di Jerman. Adapun menurutnya, makanan di Jerman terasa hambar dibanding masakan Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, Hayden semakin terbiasa dengan kondisi di sana, sebab udara segar dan lingkungannya nyaman untuk ditinggali.Mengikuti program studi ini, Hayden mengaku kegiatan yang dilakukan di sana sangatlah dinamis. Kegiatan program ini tak hanya meliputi belajar di dalam ruang kelas, tetapi juga berkeliling kampus, berolahraga, menari, memasak, karaoke, dan lainnya. Hayden pun sempat mengunjungi kota Hamburg, Kiel, dan Tönning. Ia bahkan sempat mengunjungi salah satu universitas yang ada di Kiel dan menelusuri kampusnya. Akan tetapi, tetap ada kursus bahasa Jerman dan ujian yang harus ditekuninya. Adapun dia menyebut bahwa teman-teman dan pendamping di sana sangat menyenangkan, ia juga berkenalan dengan banyak teman baru dari lintas negara di rentang usia 14-17 tahun. Hal-hal tersebut membuatnya merasa antusias dalam mengikuti program ini dari awal hingga akhir.Ketika ditanya pengalaman yang paling menarik selama di Jerman, Hayden menyebut bahwa berkenalan dengan teman-teman baru dan event Länder abend. Event Länder abend adalah kegiatan yang mengundang para pelajar internasional di Jerman untuk sharing budaya dari negara asalnya masing-masing. Di sana bersama teman-teman barunya, Hayden banyak belajar tentang budaya dari berbagai negara lain dan mendapatkan banyak suvenir dari teman-temannya.Kelak, Hayden tertarik untuk mengambil jurusan Ekonomi dan Akuntansi di perguruan tinggi Jerman. Ia berkata bahwa banyak kampus di Jerman yang unggul dalam jurusan tersebut, sehingga ia tertarik untuk berkuliah di Jerman dan mengambil penjurusan tersebut. Dengan adanya program study tour ini, Hayden telah mendapat beberapa gambaran tentang lingkungan hidup dan belajar di Jerman. Bagi Hayden, hal ini membantu untuk memantapkan visinya kedepan dan menghapuskan keraguan yang ia miliki untuk belajar di Jerman.Akhir kata, Hayden berpesan kepada para pelajar yang ingin melanjutkan studinya di luar negeri, khususnya Jerman, untuk mengambil semua kesempatan yang bisa membantumu dalam meraih tujuanmu. Ia juga menyampaikan, janganlah takut untuk mencoba dan berproses dan carilah orang yang dapat membantumu melewatinya. Kurang-lebih itulah pesan-pesan singkat dari Hayden, ia sangat mendukung teman-teman yang ingin menempuh pendidikan di luar tanah air, serta berharap wawancara ini dapat membantu membuka pandangan teman-teman yang ingin kuliah di luar negeri khususnya Jerman.“Ga harus Jerman, tapi kalau kalian mau, ambil aja semua kesempatan yang ada,” ucap Hayden. 
Selengkapnya
MENGOLAH MENTAL, ROHANI, RAGA, DAN RASA BERSAMA SANUR BSD
Posted: 2024-08-06 | By: Beatrix Arunaya Kidung Anatha XI-C/4 | Kayla Lauren Sudharyanto XI-B/16 | Foto oleh Darren dan Shereen
Mantrasa, sebuah acara sekolah yang digagas oleh BP OSIS Santa Ursula BSD dan disosialisasikan pada Jumat, 31 Mei 2024, merupakan singkatan dari ‘Mengolah Mental, Rohani, Raga, dan Rasa’. Uniknya, acara tersebut tidak dilakukan dari kelas masing-masing, tetapi telah dibentuk sejumlah 15 kelompok acak yang anggotanya terbaur antara peserta didik kelas X dan XI. Mantrasa hari pertama dilaksanakan pada hari Rabu, 5 Juni 2024. Di pagi hari ketika bel telah berdering, setiap kelompok bersama pendampingnya telah berada di ruang kelas masing-masing sesuai yang telah ditentukan oleh OSIS. Kegiatan pertama di hari pertama dibuka dengan rutin biasanya, yakni dengan meditasi, doa pagi, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kemudian, kami semua melakukan senam otak yang setelah itu dilanjutkan dengan perkenalan dari setiap peserta didik yang harus menyebutkan nama, kelas, serta tiga pernyataan tentang diri mereka-dua kalimat mitos dan satu kalimat fakta. Di kelompok saya sendiri, Kidung XI-C, kegiatan-kegiatan awal ini merupakan sebuah ice breaking yang seru karena menciptakan lawakan dan tawa yang membuat suasana kelas lebih santai serta  akrab. Setelah selesai saling mengenal, semua peserta didik memulai kegiatan selanjutnya, yakni membuat friendship bracelet dan menghias tote bag. Friendship bracelet yang kami buat akan diacak dan dibagikan ke teman-teman kami bersama sebuah pesan kecil yang kami tulis. Saat aktivitas menghias tas, masing-masing peserta didik melukis berbagai macam motif, seperti gambar bunga, cover playlist, dan masih banyak lagi. Hari pertama Mantrasa kemudian diakhiri dengan penampilan seni dari beberapa peserta didik SMA Santa Ursula BSD yang dibawa oleh para MC Ika dan Rara dari kelas XI. Ada beberapa yang menyanyi solo, band, musikalisasi puisi, bahkan ada pula yang membacakan puisi orisinalnya. Hari pertama Mantrasa ditutup dengan penampilan kejutan dari para guru, yakni sebuah drama singkat yang telah dipersiapkan sejak jauh hari. Pada Kamis, 6 Juni 2024, hari kedua acara Mantrasa pun dimulai dengan sebuah seminar tentang kesehatan mental oleh Studio Djiwa. Studio Djiwa merupakan sebuah organisasi yang melakukan psiko-edukasi kesehatan mental melalui seni dan kegiatan-kegiatan permainan. Menariknya, founder dari organisasi tersebut merupakan alumnus sekolah kita, Santa Ursula BSD. Kesehatan mental merupakan suatu istilah yang sering didengar terutama di kalangan anak muda saat ini. Meskipun terdengar jelas, kesehatan mental memiliki pengertian yang lebih luas dari kondisi mental seseorang. Sampai saat ini, masih banyak orang yang belum memahami tentang kesehatan mental dan pentingnya menjaga kesehatan mental mereka. Menanggapi masalah tersebut, OSIS SMA Santa Ursula BSD mengundang Studio Djiwa untuk memberikan seminar terkait kesehatan mental kepada peserta didik pada hari kedua program Mantrasa.Selama seminar Mental Health, Studio Djiwa membahas topik tentang mengapa remaja saat ini mengalami beban tekanan yang berat dan bagaimana peserta didik bisa membantu diri mereka sendiri untuk mengurangi tekanan tersebut. Ketika kami mendengar istilah “kesehatan mental”, kami secara otomatis berpikir tentang penyakit dan gangguan mental. Namun, sesederhana merasa stres dan cemas merupakan perjuangan mental. Itu juga merupakan kejadian yang tak terelakkan.Peserta didik SMA mengalami stres hampir sepanjang tahun, baik itu ujian yang akan datang, tekanan dari teman sebaya, harapan orang tua dan sosial, serta pikiran tentang masa depan seperti perguruan tinggi. Kabar baiknya adalah bahwa merasa khawatir dan cemas tentang semua itu adalah hal yang sepenuhnya normal. Perasaan cemas juga bisa menjadi hal yang baik, misalnya, itu bisa menjadi pengingat untuk memastikan bahwa tanggung jawab dan kewajiban diselesaikan. Remaja tidak hanya menghadapi tuntutan sehari-hari dari tugas sekolah, ujian, dan proyek, tetapi juga tekanan sosial. Selama masa ini, peserta didik sering merasa tersesat dan ingin menemukan tempat dimana mereka merasa diterima: kelompok teman yang tepat, proyek kelompok yang tepat, acara sosial yang tepat. Mereka harus ingat bahwa solusi terbaik untuk itu adalah menjadi diri sendiri. Jika mereka tetap otentik dan menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri, mereka akan menemukan orang-orang yang akan menerimanya apa adanya dan tidak perlu khawatir untuk bersembunyi di balik sebuah topeng.Setelah seminar selesai, peserta didik pun boleh beristirahat sebelum lanjut ke aktivitas berikutnya, yakni bermain permainan bersama panitia. Beberapa permainan yang telah dirancang oleh panitia Mantrasa misalnya seperti tebak lagu dan wawasan kebangsaan. Tebak lagu adalah permainan di mana setiap orang harus menebak sebuah lagu yang dimainkan di depan kelas. Selain itu, pada sesi wawasan kebangsaan, peserta didik harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang sejarah dan budaya Indonesia. Agar lebih semangat, setiap kali peserta didik menjawab pertanyaan dengan benar, mereka diberi permen yupi. Setelah itu, untuk mengakhiri hari kedua Mantrasa, seluruh peserta didik dan guru yang beragama Katolik mengikuti misa akhir tahun yang penyelenggaraannya dibantu oleh peserta didik kelas XD dan XE sebagai petugas koor dan doa.Tidak terasa, hari ketiga Mantrasa yang dilaksanakan pada Jumat, 7 Juni 2024 telah tiba. Bisa dikatakan bahwa hari ini merupakan hari yang paling ditunggu-tunggu oleh kebanyakan peserta didik karena kami semua akan berolahraga melalui berbagai aktivitas dan permainan yang seru. Ditambah pula, kegiatan-kegiatan ini dilakukan di area luar kelas sehingga peserta didik pun bisa merasa lebih bebas. Hari dimulai dengan berdoa serta persiapan berupa penjelasan peraturan dari panitia Mantrasa mengenai cara bermain permainan yang akan dilakukan pada hari itu. Setelah selesai persiapan, masing-masing kelompok diperbolehkan melakukan berbagai permainan sesuai urutan yang telah diatur oleh panitia. Untuk permainan pertama, ada kelompok yang melakukan permainan voli sarung. Voli sarung pada dasarnya adalah permainan voli biasa, tetapi uniknya kami tidak menggunakan tangan kita untuk memukul bola, melainkan menggunakan sarung yang dipegang oleh lima orang dalam satu kelompok. Selain itu, ada juga permainanterpal di mana setiap kelompok berdiri di atas terpal. Tujuannya harus berhasil membalik terpal tersebut tanpa ada anggota tubuh para pemain yang menyentuh tanah. Agar lebih seru lagi, panitia akan memberikan satu pertanyaan dan kelompok yang menjawab dengan benar bisa mengeluarkan satu anggota dari terpal sehingga mempermudah dalam proses membaliknya. Selain itu, ada kelompok yang bermain bakiak kuyup, yakni sebuah permainan di mana setiap kelompok harus mengantarkan air dan memasukkannya ke sebuah galon sambil memakai bakiak. Lalu, ada juga permainan estafet di mana ada sekitar 3 kelompok berlomba untuk menaruh bola pantai di sebuah lingkaran hulahop setelah melewati beberapa rintangan. Terakhir ada permainan teluk naga, di mana ada dua kelompok berbentuk barisan yang bersaing untuk meledakkan balon di punggung lawan yang paling belakang. Semua permainan  tersebut dilakukan oleh setiap kelompok, dengan urutan yang berbeda-beda. Ternyata, ada satu permainan yang hampir semua kelompok melakukannya di waktu bersamaan, yakni estafet air. Pada permainan ini, setiap orang membawa ember dan masing-masing kelompok harus berhasil membawa air dari baris depan ke baris belakang sampai mengisi penuh galon air kelompok. Menurut saya sendiri, estafet air merupakan permainan yang paling ditunggu sekaligus paling seru karena bukannya serius menyalurkan air ke dalam galon kelompok, para peserta didik lebih tertarik untuk saling melemparkan air dari dalam ember mereka. Di sini, para peserta didik terlihat senang dan menikmati waktu yang mereka habiskan. Setelah itu, setiap peserta didik diperbolehkan untuk berganti pakaian yang basah ke seragam sekolah, setelahnya kegiatan Mantrasa ditutup oleh MC.Dari ketiga hari kegiatan ini, dapat terlihat banyak sekali nilai yang tumbuh dan muncul di kalangan peserta didik. Seperti judul kegiatan ini sendiri, banyak permainan dan aktivitas yang melatih rohani, raga, dan mental kita. Kegiatan-kegiatan ini juga memupuk nilai kerja sama, religiusitas, dan penghargaan. Misalnya, di hari pertama kami semua membuat friendship bracelet yang mengajarkan kami untuk saling menghargai dan peduli satu sama lain. Kemudian, di hari kedua ada seminar Mental Health Studio Djiwa dan mengakhiri kegiatannya dengan misa, terdapat nilai religiusitas yang tertanam. Di hari terakhir pun, kami tetap bisa belajar di tengah-tengah permainan yang seru. Melalui permainan  seperti voli sarung, estafet, dan lainnya, kami melatih raga kami dan sekaligus belajar tentang kerja sama serta kekompakkan, terutama dengan orang-orang yang bisa saja baru kami kenal dua hari sebelumnya. Maka dari itu, tentu kami bisa setuju, bahwa Mantrasa merupakan kegiatan OSIS yang seru dan asik, dan penuh akan nilai-nilai yang berguna di kehidupan kita nantinya. 
Selengkapnya
MASA PENGENALAN LINGKUNGAN SEKOLAH : MENUJU MANUSIA UTUH CERDAS DAN MELAYANI
Posted: 2024-08-06 | By: Veronika Minarsih dan Maria Eti Apriyanti
Mengawali tahun ajaran baru 2024-2025, SMA Santa Ursula BSD melaksanakan kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) yang dimulai pada tanggal 15-19 Juli 2024. MPLS sebagai kegiatan pertama masuk sekolah dilaksanakan untuk membantu peserta didik beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan sekitarnya. Lebih dari sekadar pengenalan lingkungan sekolah, MPLS SMA Santa Ursula BSD juga bertujuan untuk menumbuhkan motivasi, semangat, dan cara belajar efektif sebagai peserta didik; mengembangkan interaksi positif antar peserta didik dan warga sekolah lainnya; dan menumbuhkan perilaku positif melalui pendidikan nilai Santa Ursula BSD. Masa pengenalan lingkungan SMA Santa Ursula BSD dikemas dengan berbagai kegiatan edukatif, inspiratif serta kreatif melalui kolaborasi dengan seluruh anggota komunitas.Kehadiran peserta didik di hari pertama disambut dengan penuh semangat dan sukacita oleh seluruh guru dan staf SMA Santa Ursula BSD. Kebiasaan hening dan meditasi serta berdoa di kelas menjadi pembuka hari pertama bersama bapak dan ibu guru sebelum mengikuti serangkaian kegiatan MPLS. Semangat peserta didik dalam menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan khidmat telah memberikan energi positif untuk mulai berpetualang dengan berbagai pengalaman belajar di SMA Santa Ursula BSD. Bapak Catur Agus Sancoko selaku Kepala SMA Santa Ursula BSD membuka hari pertama sekolah dengan memperkenalkan guru dan staf SMA Santa Ursula BSD kepada seluruh peserta didik kelas X, XI, dan XII di aula SMP-SMA Santa Ursula BSD. Pada kesempatan itu pula, beliau memberikan motivasi kepada seluruh peserta didik kelas X, XI, dan XII untuk dapat menjalani masa SMA dengan penuh tanggung jawab.Selanjutnya seluruh peserta didik berproses di kelas masing-masing bersama bapak dan ibu wali kelas dan guru yang ikut mendampingi kegiatan. Situasi pada hari pertama sekolah ini akan sangat menentukan kemampuan belajar peserta didik, maka pada minggu pertama ini seluruh peserta didik kelas X, XI, dan XII diarahkan untuk memahami dan mendalami kembali visi, misi, dan semangat spiritualitas Santa Ursula BSD sehingga peserta didik dapat membawa semangat SERVIAM selama proses belajar di SMA Santa Ursula BSD. Pengembangan karakter peserta didik menjadi perhatian utama sekolah, oleh karena itu pemahaman akan visi sekolah yaitu “Manusia utuh cerdas dan melayani” dan bagaimana sekolah mewujudkan visi tersebut diperdalam dengan pemahaman terkait 10 nilai Santa Ursula, 6 nilai Serviam, dan 6 nilai profil pelajar Pancasila, serta didukung dengan penerapan 7 kebiasaan efektif. Sekolah senantiasa menciptakan lingkungan yang ramah dan nyaman sehingga peserta didik memiliki ruang dan kesempatan yang sama untuk mengembangkan diri. Hal ini dilakukan dengan cara memperkenalkan kebiasaan positif sekolah dan pedoman perilaku peserta didik, serta sosialisasi anti-perundungan. Harapannya, semua kegiatan tersebut dapat menjadi pedoman peserta didik dalam berinteraksi dengan seluruh anggota komunitas sekolah. OSIS sebagai organisasi peserta didik mengambil peran dalam masa pengenalan lingkungan sekolah dengan memperkenalkan tentang kepengurusan, program OSIS, juga wisata kampus Santa Ursula kepada seluruh peserta didik kelas X. Insieme atau kebersamaan sebagai kebiasaan positif sekolah dibangun melalui kegiatan bounding yang diselenggarakan OSIS di setiap kelas X. Tujuannya agar mampu menumbuhkan kebersamaan dan mengembangkan karakter positif peserta didik. Refleksi harian dengan menulis di buku jurnal harian peserta didik menjadi kebiasaan positif di setiap akhir proses kegiatan. Peserta didik belajar memaknai pengalaman yang diperoleh sepanjang hari di sekolah sehingga peserta didik mampu menyadari nilai hidup yang diperoleh dan kualitas diri yang berkembang pada hari itu dan tindak lanjut ke depannya untuk memperoleh pengalaman yang lebih baik lagi. Peserta didik diharapkan mampu bertumbuh dalam kebersamaan, tanggung jawab, kerja sama, penghargaan, kemandirian, kepekaan, daya juang, kedisiplinan cinta lingkungan, religiositas, dan kejujuran melalui kegiatan minggu pertama pada masa pengenalan sekolah yang seru dan edukatif ini. Mars Serviam selalu dinyanyikan oleh peserta didik pada akhir kegiatan sebagai salah satu cara untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap sekolah. Dengan berlangsungnya kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah ini, diharapkan seluruh peserta didik membuka jalan untuk mengenal diri sendiri dan lingkungan sekolah secara mendalam. Kegiatan ini juga dapat dijadikan kesempatan untuk memupuk sikap disiplin dan kemandirian dalam belajar sehingga mewujudkan manusia utuh cerdas dan melayani.
Selengkapnya