Profil SMA Santa Ursula BSD

 

Sekolah Santa Ursula BSD adalah sekolah Katolik yang berada di bawah Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh Suster-suster Ursulin. Sekolah Santa Ursula BSD mendidik siswa  berdasarkan iman Katolik dengan Visi menjadi Manusia Utuh, Cerdas dan Melayani.  Untuk mencapai keutuhan pembinaan yang mengembangkan kemampuan berpikir dan kreativitas dilakukan dengan seimbang dan menekankan  6 Nilai Serviam yaitu Cinta & Belas Kasih, Integritas, Keberanian dan ketangguhan, Persatuan, Pelayanan, serta Totalitas. Anggota komunitas juga dibina untuk menjadi cerdas, yaitu mampu berpikir kritis, sistematis, maupun cerdas dalam menyikapi berbagai situasi di lingkungan

Selengkapnya

Keteladanan

"Apa yang Anda ingin mereka lakukan, lakukanlah sendiri itu lebih dahulu. Bagaimana Anda bisa mencela atau menegur kekurangan mereka apabila mereka melihat kekurangan itu masih ada dalam diri Anda sendiri" 
(Nas. VI: 2-3)

Prestasi

Berita Terbaru

News Image
Memperingati 28 Tahun Pasca Reformasi: Talk Show Siswa Kaderisasi Kelas XI “Tiga Daya Jiwa Sebagai Pondasi Generasi Muda dalam Melestarikan Perjuangan Reformasi”
Reformasi tahun 1998 merupakan puncak perjuangan bangsa kita melawan keterbatasan ruang demokrasi, krisis ekonomi, praktik KKN, dan pemerintahan yang sangat represif pada masa Orde Baru.  Masa ini sangat terikat dengan perjuangan masyarakat Indonesia melawan ketidakadilan yang kemudian identik dengan aksi turun ke jalan para mahasiswa demi memperjuangkan hak-hak bangsa yang direnggut oleh kelompok-kelompok tidak bertanggung jawab. Seiring perkembangan teknologi, bentuk demonstrasi kini telah bertransformasi, di mana generasi muda tidak hanya beraksi secara fisik tetapi juga memanfaatkan media sosial untuk menyuarakan aspirasi melalui berbagai bentuk. Kendati akses digital semakin mudah, esensi utama yang harus dirawat oleh generasi masa kini adalah menjaga semangat reformasi yang berakar dari kesadaran kritis terhadap persoalan bangsa, bukan sekadar ikut-ikutan (FOMO). Pada hari Sabtu, 6 Juni 2026 siswa-siswi anggota Kaderisasi kelas XI dan beberapa Guru SMA Santa Ursula BSD memperingati 28 tahun pasca Reformasi Indonesia pada tanggal 21 Mei 1998 dengan menyelenggarakan Dialog Bersama Aktivis Reformasi Tahun 1998 mengenai Perjuangan Demonstrasi Mahasiswa di Masa Reformasi. Acara yang dibungkus dengan model dialog-workshop ini dilaksanakan di Aula SMP-SMA Santa Ursula BSD dari pukul 9.30 hingga 11.00 WIB. Dalam Talk show membahas mengenai pengalaman di balik puncak momen fundamental dalam sejarah politik dan ketatanegaraan Indonesia ini dikemas dengan tujuan membuka wawasan, meningkatkan kepekaan sosial, serta menggerakkan generasi muda untuk berani menyuarakan aspirasi dengan kritis dan logis di tengah-tengah hiruk pikuk media sosial beserta kemajuan teknologi. Talk show ini berpusat pada pengalaman Agnes Gurning (Kak Agnes), seorang staf dalam lembaga internasional yang dulunya merupakan mahasiswa jurusan sosiologi di Universitas Indonesia, Depok pada tahun 1998. Dengan mengangkat tema “Tiga Daya Jiwa Sebagai Pondasi Generasi Muda dalam Melestarikan Perjuangan Reformasi”, siswa-siswi anggota Kaderisasi juga mengundang MN Nurhasanah Munaf (Kak Moi), Ketua Kelompok Kopdit Pintu Air yang pernah bekerja sebagai buruh pabrik yang berperan sebagai koordinator demonstrasi buruh besar-besaran pada tahun 1998. Dengan melibatkan pihak yang turun langsung ke medan demonstrasi, diharapkan para siswa-siswi kaderisasi dapat menumbuhkan esensi perjuangan dan keberanian bersuara seiring berkembangnya peradaban Indonesia, menciptakan generasi muda yang dinamis dengan satu tujuan; menjunjung keadilan dan kesejahteraan bangsa.Pada sesi pertama, para narasumber diminta memaparkan sumber pemersatu/motivasi yang membuat mereka berani untuk maju sebagai demonstran. Kak Agnes menyampaikan bahwa latar belakang keluarga dan lingkungan sosialnya membuatnya menyadari tingginya kesenjangan ekonomi dan kultural, sehingga memantik kesadaran dan daya kritisnya terhadap fenomena sosial di sekitarnya. Ketika memasuki jenjang perguruan tinggi, Kak Agnes mempelajari tentang konstruksi sosial yang nyata dan tidak semerta-merta “turun dari langit”, di titik itu Ia menyadari bahwa diskusi mengenai pemerintahan Orde Baru yang membelenggu masyarakat di masa itu harus disertai dengan kontribusi nyata yang mampu membawa perubahan. Tekad Kak Agnes tidak berhenti di situ, melalui pengalaman live-in nya sebagai buruh, pengalamannya dengan korban-korban pelecehan, beserta pendekatannya dengan lingkup sosial IKOI (kumpulan orang tua yang anaknya mengalami penculikan) menjadi sarana pembelajaran nyata diluar teori-teori pembelajaran kampus semata.Narasumber lainnya adalah Kak Moi yang pada tahun 1998 sedang menduduki posisi sebagai supervisor di perusahaan Mayora. Selama pemerintahan represif Orde Baru pada tahun 1994-1996, aksi protes sudah tidak menjadi hal yang asing bagi para buruh. Buruh adalah pemegang ekonomi negara, sementara gaji buruh terus dipotong di tengah krisis moneter yang tidak ditangani dengan bijak oleh pemerintah. Menanggapi masalah struktural tersebut, Kak Moi mengikuti diskusi di bawah tanah dan ikut melakukan demonstrasi. Beliau bergabung dengan Komite Buruh Untuk Aksi Reformasi (KOBAR) yang pada akhirnya berhasil memobilisasi puluhan ribu aktivis. Protes yang dilakukan Kak Moi menuntut upah seratus persen bagi buruh, cuti hamil yang tetap digaji, dan cuti haid lebih dari dua hari. Fenomena-fenomena sosial tersebut mulai menciptakan masalah struktural yang mengikis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah serta merampas kesejahteraan sosial. Guna mencegah kembalinya era Orde Baru di tengah berbagai tekanan dan pelemahan terhadap gerakan aktivis saat ini, generasi muda perlu membawa perubahan nyata. Perjuangan sebaiknya tidak hanya dilakukan di media sosial, melainkan harus ditelusuri kembali dari akar rumput melalui diskusi-diskusi di lingkungan sekolah seperti yang sudah dilakukan oleh SMA Santa Ursula BSD. Berbagai faktor dan latar belakang dari peristiwa reformasi mulai dibahas lebih dalam pada sesi ke-2. Meskipun demonstrasi besar-besaran pada tahun 1998 berhasil mencapai tujuan awalnya, proses transisi dari pemerintahan menuju era reformasi belum cukup matang. Sisa kekuasaan dan struktur dari masa Orde Baru masih tetap ada sehingga kembalinya kebijakan Orde Baru tidak semerta-merta langsung terjadi, tetapi dicicil hingga masa kini. Tindakan represif yang awalnya hanya melibatkan fisik, kini menduduki ruang digital sebagai pewarisan sikap dari rezim Orde Baru. Media sosial terus diasah penggunaannya agar dapat menjadi alat penyampaian aspirasi yang mendukung, bukan sebagai ranah kekerasan digital yang mendegradasi bangsa. Sekarang, satu-satunya harapan berlabuh di para generasi muda Indonesia untuk tidak patah semangat dalam menyuarakan suara mereka; “Kritis dan janganlah pesimis!” merupakan prinsip yang masih dipegang teguh hingga kini oleh Kak Agnes dan Kak Moi.“Kita mau bawa bangsa ini ke arah mana?” ujar Kak Moi. Pertanyaan reflektif ini dapat menjadi motivasi utama bagi generasi muda untuk membawa perubahan. Teknologi adalah suatu alat yang dampaknya berada di tangan kita. Memang kita tidak bisa menghindari kenyataan yang ada, namun apa yang bisa kita lakukan sebagai pelajar di masa kini untuk mengatasinya? Pertanyaan ini membawa diskusi ke titik akhir bahwa tonggak penggerak bangsa dan negara bukanlah hukum, melainkan gerakan moral kolektif dari berbagai lapisan masyarakat termasuk pelajar. Penghujung acara ini kemudian diakhiri oleh kata penutup dari Ibu Eri. Menurut beliau, sebagai generasi muda terutama anggota kaderisasi, keberanian menjadi hal yang penting sehingga membentuk kesempatan untuk peduli dalam membuka pilihan dan batin. Sebagai generasi muda, siswa-siswi harus selalu bersiap dan bertanggung jawab atas setiap pilihan yang diambil. “Pikirkan dengan baik setiap keputusan dan jangan mempertaruhkan integritasmu.” tutupnya.Ketika diminta untuk memberikan pesan kepada generasi muda, Kak Moi mengatakan “Teruslah berjuang bersama semua elemen masyarakat agar tatanan negara terus terjaga, berjuanglah untuk anak muda. Mundur adalah pengkhianatan.” tutupnya dengan tegas. Di sisi lain, Kak Agnes juga berpesan; “Mulailah perubahan dari hal kecil yaitu diri sendiri contohnya dengan tidak menjadi pembully, memperhatikan bila ada teman yang mengalami ketidakadilan, memanfaatkan platform media sosial untuk menyuarakan pikiran kritis tentang isu-isu sosial,  dan mau berinteraksi dengan siapa saja agar bisa saling memahami terlepas dari adanya perbedaan.”Diharapkan setelah mengikuti acara ini, siswa-siswi SMA Santa Ursula BSD terlebih anggota Kaderisasi dapat menggunakan tiga daya jiwa yang dianugerahkan kepada mereka dengan bijak melalui menggunakan akal budi untuk berpikir kritis bukan pesimis, hati nurani untuk meningkatkan kepekaan sosial dan belas kasih, serta kehendak bebas untuk berintegritas dalam melestarikan perjuangan reformasi sebagai akar kemajuan bangsa. Dokumentasi: Tim Dokumentasi
Selengkapnya
News Image
PELITA UANG (Pekan Literasi Keuangan) di SMA Santa Ursula BSD
Di era digital saat ini, perkembangan teknologi keuangan berkembang begitu pesat. Pemahaman tentang cara mengelola keuangan dan berinvestasi bukan lagi sekadar materi hafalan di kelas ekonomi, melainkan sebuah keterampilan untuk bertahan hidup yang wajib dikuasai oleh semua orang. Melalui pemahaman yang benar tentang investasi, peran bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB), murid diharapkan mampu mengambil keputusan keuangan yang bertanggung jawab, menghindari praktik keuangan ilegal, dan mulai merancang masa depan keuangan yang stabil. Kegiatan PELITA UANG (Pekan Literasi Keuangan) di SMA Santa Ursula BSD dilaksanakan selama dua hari; yaitu Senin, 25 Mei 2026 dan Selasa, 26 Mei 2026 dirancang untuk mencapai tujuan tersebut. Kegiatan tersebut dikemas dalam konsep seminar dan lokakarya dengan menghadirkan para pakar, mulai dari kalangan akademisi, praktisi perbankan, hingga pihak otoritas keuangan negara.Rangkaian kegiatan PELITA UANG dimulai pada Senin, 25 Mei 2026 di auditorium Kampus Santa Ursula BSD diikuti oleh 178 murid kelas XI SMA Santa Ursula BSD dengan tema Smart Decision, Strong Psychology. Kegiatan ini fokus pada pengelolaan keuangan, dasar investasi, serta aspek psikologis dalam mengambil keputusan finansial. SMA Santa Ursula bekerja sama dengan Fakultas Bisnis Program Studi Manajemen Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dalam menghadirkan pembicara dari Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).Sambutan yang disampaikan oleh bapak Catur Agus Sancoko, S.Pd., M.M selaku kepala SMA Santa Ursula BSD dan ibu Febri Nila Chrisanty, SE., M.M selaku perwakilan dari Fakultas Bisnis Program Studi Manajemen Universitas Multimedia Nusantara (UMN) menjadi pembuka kegiatan seminar dan lokakarya Smart Decision, Strong Psychology. Sesi pertama dengan materi Money Management disampaikan oleh Felicia Suminto selaku pembicara dari Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Beliau menyampaikan cara menyusun anggaran, membedakan kebutuhan dengan keinginan, serta cara mencegah perilaku konsumtif. Suasana auditorium Kampus Santa Ursula BSD semakin hangat dengan persembahan penampilan murid kelas X dari kelompok band, tari tradisional, dan tari modern. Bapak Fadly Fatah dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi pembicara pada sesi kedua. Beliau menekankan pentingnya mengendalikan emosi dan kekuatan mental (psikologi investasi) dalam menghadapi fluktuasi pasar. Murid-murid dibekali pemahaman bahwa berinvestasi bukan sekedar tren ikut-ikutan atau cara instan melipatgandakan kekayaan. Setelah selesai pemaparan materi dari kedua pembicara, kegiatan seminar dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang interaktif. Kegiatan ditutup dengan lokakarya Financial Planning di kelas masing-masing bersama tim mahasiswa dari Fakultas Bisnis Program Studi Manajemen Universitas Multimedia Nusantara (UMN) untuk mempraktikkan langsung ilmu yang telah murid dapatkan.Semangat literasi keuangan berlanjut pada Selasa, 26 Mei 2026, dimana kegiatan PELITA UANG di SMA Santa Ursula BSD diikuti oleh 182 murid kelas X di aula SMP-SMA Santa Ursula BSD dengan tema Meningkatkan Pondasi Masa Depan Diatas Ekosistem Keuangan yang Sehat. Kepala SMA Santa Ursula BSD, bapak Catur Agus Sancoko S.Pd., M.M memberikan motivasi kepada murid kelas X pentingnya dan bagaimana berproses dalam kegiatan tersebut. Drama pendek dari tim teater murid kelas XI mengenai perilaku konsumtif menjadi pembuka kegiatan PELITA UANG hari kedua. Para murid semakin antusias dan merasa bangga ketika tiga terbaik video literasi keuangan yang berjudul Dana Darurat karya murid kelas XE, The Heist karya murid kelas XC dan Cuan Quest Simulator karya murid kelas XB mendapatkan apresiasi dengan memutarkan ketiga video tersebut dan pemberian hadiah serta piagam penghargaan kepada para pemenang oleh kepala SMA Santa Ursula BSD.Berbeda dengan hari pertama, hari kedua dikemas dalam bentuk talkshow interaktif yang menghadirkan pembicara dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) wilayah Banten yaitu bapak Fikri Fauzan. Sebagai pembicara utama, beliau menyampaikan materi peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam melindungi konsumen serta memberikan edukasi nyata mengenai bahaya yang mengintai remaja, seperti pinjaman online (pinjol) ilegal dan judi online. Tak kalah menarik, praktisi perbankan dari Bank Banten, yaitu bapak Eman Yuniantoro juga hadir memperkenalkan produk tabungan pelajar serta layanan perbankan modern. Seluruh rangkaian acara ditutup dengan sesi refleksi dan penegasan komitmen murid untuk mulai mandiri secara finansial bersama guru pendamping di kelas.Melalui kegiatan PELITA UANG (Pekan Literasi Keuangan), SMA Santa Ursula BSD ingin menanamkan pola pikir bahwa cerdas finansial berarti mampu mengambil keputusan keuangan yang rasional dan bertanggung jawab. Harapannya, ilmu yang didapat menjadi pedoman bagi seluruh murid dalam menghadapi tantangan ekonomi di masa kini dan yang akan datang.Salam cerdas finansial! Dokumentasi Oleh : Samuel Theodore Adi Prabowo X-A/32, Caroline Sekar Arum Diandra Yuwono XI-B/6, Jeany Eustolia Sitanggang XI-D/9
Selengkapnya
News Image
FROM PROBLEM TO PROFIT: Workshop Kewirausahaan Kelas XI Santa Ursula BSD
Teknologi kini berkembang begitu pesat dan mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia kerja. Saat AI semakin umum digunakan dan dianggap sebagai alternatif yang lebih murah dibandingkan tenaga manusia, penting bagi generasi muda untuk mengembangkan keterampilannya dan mampu menciptakan lapangan kerja baru tanpa hanya mengandalkan perusahaan besar untuk menyediakan pekerjaan.Dengan itu, pada tanggal 5 Juni 2026 seluruh siswa kelas XI SMA Santa Ursula BSD diberikan kesempatan untuk belajar dasar-dasar kewirausahaan melalui sebuah workshop yang diselenggarakan oleh SMA Santa Ursula BSD. Dua narasumber berpengalaman diundang untuk berbagi ilmu tentang keterampilan dasar berbisnis, menambahkan pemahaman siswa mengenai dunia kewirausahaan, serta sekaligus mengubah pola pikir siswa dari sekadar “mencari kerja” menjadi “menciptakan lapangan kerja”.Workshop ini terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama berfokus pada identifikasi dan pemecahan masalah, sementara sesi kedua mengajarkan cara menyusun business model canvas agar bisnis dapat berjalan dengan teratur dan terorganisir. Pada sesi pertama, siswa belajar tentang proses menciptakan bisnis dari sebuah masalah. Seperti yang dikatakan oleh Drucker (1986), “kewirausahaan adalah seni mengubah ide menjadi bisnis”. Untuk mendapatkan ide, kami terlebih dahulu harus menemukan suatu masalah yang ingin diselesaikan melalui bisnis kami. Maka dari itu, kami diajarkan cara mengidentifikasi masalah, memvalidasikannya dan memastikan bahwa masalah tersebut memang nyata, hingga menemukan solusi bagi masalah tersebut yang akhirnya dapat menjadi sumber pendapatan. Dengan itu, tidak hanya pemilik bisnis yang dapat meraih keuntungan, tetapi juga memberikan solusi atas masalah yang dihadapi konsumen sehari-hari untuk memudahkan hidup mereka. Pada sesi kedua, kami membahas bagaimana peluang kreatif dapat diubah menjadi strategi bisnis yang matang. Prosesnya dimulai dari sebuah ide, yang kemudian berkembang menjadi model bisnis. Model business merupakan suatu rencana detail yang akan menjadi dasar pembangunan usaha kami. Tanpa model bisnis, kemungkinan besar bisnisnya akan kehilangan arah dan menjauh dari tujuan awal kami. Maka dari itu, sangat penting untuk menetapkan rencana, detail, dan tujuan bisnis dari awal untuk bisa membangunnya dengan efisien. Selain itu, siswa juga diajarkan cara menyusun proposal bisnis untuk menarik investor guna mengembangkan usaha mereka.Setelah workshop berakhir, para siswa kembali ke kelas masing-masing dan membentuk kelompok-kelompok kecil. Untuk mendapatkan pengalaman praktis. Para siswa diberikan template Business Model Canvas untuk mengembangkan ide bisnis. Para siswa didorong untuk berkolaborasi, berpikir kreatif, dan menghasilkan ide-ide inovatif, tetapi tetap realistis dan merupakan solusi untuk masalah yang nyata. Melalui proyek ini, siswa dapat mengeksplorasi berbagai pilihan dan ide bisnis, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahannya, serta merencanakan langkah-langkah untuk mewujudkannya. Proses ini memungkinkan kami melihat dari sudut pandang seorang pengusaha dan memahami hal-hal apa saja yang perlu dipertimbangkan sebelum memulai usaha.Sebelum mengikuti workshop ini, siswa sudah dikenalkan dasar-dasar kewirausahaan serta pentingnya bagi masa depan melalui pembelajaran ekonomi. Ibu saya sendiri merupakan pengusaha bisnis kecil yang menjual kebaya secara daring, dan saya sering membantunya. Dulu, saya selalu bertanya-tanya mengapa ibu saya memilih berbisnis kebaya. Bagi saya, kebaya tampak kurang diminati oleh konsumen, karena banyak orang lebih suka mengenakan pakaian modern atau trending. Namun, setelah mengikuti workshop ini, saya menyadari bahwa ibu saya sebenarnya ingin memecahkan sebuah masalah dan melihat peluang di dalamnya. Banyak orang menganggap bahwa memakai kebaya itu merepotkan dan hanya cocok untuk acara-acara khusus. Di sisi lain, ibu saya percaya bahwa kebaya justru indah dan sama menariknya dengan pakaian lainnya dan harusnya bisa dikenakan sehari-hari tanpa kesulitan. Melalui bisnisnya, ibu saya berupaya mempromosikan kebaya sebagai pakaian yang modern dan nyaman dipakai. Fakta pun menunjukkan bahwa banyak orang kini tertarik untuk mengenakan kebaya lebih sering.Masalah lain yang dipertimbangkan ibu saya adalah sulitnya para pengrajin bordir di desa-desa kecil untuk memasarkan hasil karyanya ke konsumen di tempat lain. Ibu saya melihat peluang dan menjadikan bisnisnya sebagai jembatan atau jaringan antara para produsen di Tasikmalaya dengan konsumen di seluruh Indonesia dan bahkan hingga ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Sebelumnya, kebaya ini hanya tersedia melalui saluran distribusi terbatas, tetapi kini siapapun dapat membelinya dengan mudah melalui sentuhan layar dari mana saja di dunia.Saya sangat bersyukur telah mengikuti workshop yang menarik dan bermanfaat ini, terutama karena ilmu yang didapat akan sangat penting untuk masa depan saya. Bahkan sekarang, saya sudah dapat menerapkan sebagian ilmu tersebut untuk membantu ibu saya mengembangkan bisnisnya. Suatu hari nanti, saya berharap tidak hanya dapat meneruskan bisnis ibu saya dan mengembangkannya lebih jauh, tetapi juga mampu menciptakan bisnis sendiri berdasarkan ide-ide pribadi dan berkontribusi dalam memecahkan masalah melalui usaha saya.
Selengkapnya
News Image
Menjaga Kenangan, Menjaga Bumi
Refleksi Seminar “Beyond The Bin”: Belajar Mencintai Lingkungan Hidup dan Refleksi Menonton Film Teman Tegar Maira ; Whisper from PapuaKepedulian terhadap lingkungan tidak lahir dari tindakan besar semata, melainkan dari membangun kebiasaan-kebiasaan kecil yang bisa dilakukan secara konsisten setiap hari. Mulai dari memilah sampah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menghargai makanan, hingga menjaga alam sebagai ruang hidup anak cucu nantinya. Sebagaimana persahabatan Maira dan Tegar yang tumbuh bersama dengan alam Papua, kita pun diajak untuk membangun relasi yang penuh kasih dengan sesama dan lingkungan alam di sekitar kita. Semangat Laudato Si’ mengingatkan bahwa bumi adalah rumah bersama yang dipercayakan kepada manusia untuk dirawat, bukan dieksploitasi. Oleh karena itu, marilah kita menjadi generasi yang tidak hanya sebagai penonton ketika melihat kerusakan terjadi, tetapi juga berani mengambil bagian dalam menjaga dan memulihkan lingkungan. Sebab, setiap tindakan yang kita lakukan hari ini adalah manifestasi bagi masa depan, agar kenangan, harapan, dan kehidupan dapat terus tumbuh dan diwariskan kepada generasi yang akan datang karena bumi yang kita tinggali hanya satu, dan masa depan generasi berikutnya dimulai dari pilihan-pilihan kita hari ini.  Langkah Kecil untuk BumiRefleksi Seminar “Beyond The Bin”: Belajar Mencintai Lingkungan Hidup  Pada tanggal 28 Mei 2026, murid kelas X dan XI SMA Santa Ursula BSD mengikuti seminar dan workshop bertajuk “Beyond The Bin”. Kegiatan yang diselenggarakan oleh OSIS SMA Santa Ursula BSD di Aula SMP / SMA Santa Ursula BSD ini merupakan wujud kepedulian terhadap permasalahan sampah sekaligus bagian dari rangkaian peringatan Hari Bumi yang diperingati setiap 22 April dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni. Seminar dan workshop ini diadakan sebagai respons atas meningkatnya persoalan sampah serta pengelolaannya yang masih menjadi tantangan di berbagai tempat. Narasumber yang hadir dalam kegiatan ini adalah Ibu Destri dan Ibu Xaxa dari komunitas Pepulih (Pemerhati dan Peduli Lingkungan Hidup), sebuah komunitas lingkungan lintas agama berbasis keimanan yang berdiri sejak 22 April 2004 di bawah naungan Keuskupan Agung Jakarta. Terinspirasi oleh ajaran Santo Fransiskus Asisi, Pepulih aktif dalam kegiatan edukasi, advokasi, dan pemberdayaan masyarakat untuk menjaga kelestarian alam. Fokus gerakannya meliputi perubahan pola pikir masyarakat terhadap lingkungan, pengelolaan sampah, konservasi sumber daya alam, serta penguatan ketahanan ekologi. Nama “Pepulih” sendiri mengandung makna upaya memulihkan kembali alam yang selama ini mengalami kerusakan akibat berbagai aktivitas manusia. Dalam seminar ini, peserta diajak memahami bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus dimulai dari tindakan sederhana di sekitar kita. Jika dahulu dikenal konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), kini konsep tersebut telah berkembang menjadi 11R yang dibagi ke dalam tiga tahapan:Sebelum (Rethink, Refuse), masyarakat diajak untuk berpikir kritis dan memilih barang secara bijak sebelum membeli atau menggunakannya. Selama (Reduce, Reuse, Repair, Refurbish, Remanufacture), fokusnya adalah memperpanjang masa pakai barang agar tidak cepat menjadi limbah. Setelah (Repurpose, Recycle, Recover, Return), barang yang telah menjadi sampah dikelola dengan tepat agar tidak mencemari lingkungan dan masih dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. Beraksi untuk Menjaga LingkunganMenjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai tindakan tersebut dapat diterapkan melalui konsep 11R yang terbagi ke dalam tiga tahapan, yaitu sebelum, selama, dan setelah penggunaan barang. Tahap “sebelum” (pintu depan) dilakukan dengan membiasakan diri berpikir bijak dahulu sebelum membeli atau menggunakan suatu barang. Contohnya dengan menolak penggunaan plastik sekali pakai, membawa tumbler sendiri, menggunakan tas belanja kain, serta membeli barang sesuai kebutuhan. Langkah-langkah sederhana ini penting karena dapat mengurangi jumlah sampah sejak awal, terutama sampah plastik yang banyak ditemukan di lingkungan maupun tempat pembuangan akhir. Membawa tumbler, misalnya, tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari, tetapi juga mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai.Tahap “selama” (pintu tengah) dan “setelah” (pintu belakang) berfokus pada pemanfaatan barang secara optimal serta pengelolaan sampah yang tepat. Pada tahap selama, barang masih digunakan sehingga perlu dirawat dan dimanfaatkan sebaik mungkin agar tidak cepat menjadi limbah. Contohnya adalah menggunakan barang secara hemat, memperbaiki barang yang rusak, serta mematikan listrik ketika tidak digunakan. Sementara itu, pada tahap setelah, ketika barang telah menjadi sampah, langkah yang dapat dilakukan antara lain memilah sampah organik dan anorganik, membuat kompos dari sisa makanan, serta mendaur ulang barang yang masih memiliki nilai guna.Bu Destri dan Bu Xaxa menjelaskan dengan sederhana bahwa tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membawa perubahan besar bagi lingkungan. Peserta diajak memahami bahwa pemilahan sampah organik dan anorganik bukan sekadar kebiasaan baik, melainkan langkah keselamatan yang dapat dimulai dari rumah. Sampah organik yang membusuk menghasilkan gas metana yang mudah terbakar dan berpotensi memicu ledakan apabila bercampur dengan limbah lain dalam jumlah besar, seperti yang pernah terjadi pada tragedi TPA Leuwigajah tahun 2005. Peristiwa tersebut mengingatkan bahwa persoalan sampah yang tampak sepele dapat berkembang menjadi ancaman besar ketika diabaikan. Dengan memilah sampah sejak dari sumbernya, kita tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga membantu mencegah risiko yang lebih besar. Hal lain yang ditekankan dalam seminar ini adalah pentingnya menghargai makanan dengan tidak menyisakannya. Menghabiskan makanan bukan hanya soal menghilangkan rasa lapar, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap alam dan banyak pihak yang terlibat dalam proses penyediaannya. Di balik setiap butir nasi, sayuran, dan buah yang tersaji di meja makan, terdapat perjalanan panjang yang melibatkan tanah yang subur, air yang mengalir, sinar matahari yang memberi energi bagi tumbuhan, mikroorganisme yang menjaga kesuburan tanah, serta kerja keras para petani yang menanam, merawat, dan memanennya. Kesadaran akan proses tersebut mengajak kita untuk memandang makanan bukan sekadar barang yang dapat dibeli dan dikonsumsi, melainkan anugerah yang lahir dari hubungan yang saling terjalin antara manusia dan alam. Ketika makanan disia-siakan, yang terbuang bukan hanya bahan pangan, tetapi juga waktu, tenaga, dan berbagai sumber daya yang telah menopang kehadirannya. Sebaliknya, ketika kita menghargai dan menghabiskan makanan secukupnya, kita sedang belajar bersyukur atas karunia yang diterima sekaligus menyadari bahwa kehidupan manusia bergantung pada alam yang sehat dan lestari. Dari kebiasaan sederhana inilah tumbuh pemahaman bahwa menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dari tindakan besar, tetapi juga dari sikap menghargai apa yang telah disediakan bumi bagi kehidupan. Dari seminar ini, kita dapat belajar bahwa perubahan besar seringkali berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Pemahaman tersebut penting karena masalah lingkungan tidak hanya disebabkan oleh keputusan-keputusan besar, tetapi juga oleh kebiasaan sehari-hari yang dilakukan oleh banyak orang secara terus-menerus. Kita diajak untuk menyadari bahwa menjaga lingkungan bukanlah tugas yang menunggu masa depan, melainkan tanggung jawab yang dapat dimulai hari ini melalui tindakan sederhana, seperti mengurangi sampah, menghargai makanan, dan menggunakan sumber daya secara bijaksanaGerakan Lingkungan di Sekolah Di lingkungan sekolah, semangat kepedulian terhadap lingkungan diwujudkan melalui Tim Ekologi, yaitu komunitas murid yang memiliki minat dan kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan hidup. Berbagai kegiatan telah dilakukan, seperti pengomposan, pemilahan sampah, khusus pengumpulan tutup botol dan tutup galon dengan bekerja sama dengan OSIS SMA Santa Ursula BSD, budidaya hidroponik, serta perawatan lubang biopori. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa prinsip pengelolaan lingkungan pada tahap sebelum, selama, dan setelah penggunaan barang sesungguhnya telah diterapkan dalam kehidupan di sekolah sehari-hari oleh anak-anak dan guru. Namun, upaya ini akan memberikan dampak yang lebih besar apabila didorong terus menjadi habitus untuk seluruh komunitas sekolah. Dengan keterlibatan bersama, gerakan peduli lingkungan tidak hanya menjadi sebuah program, tetapi juga menjadi budaya yang tumbuh dan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Sering kali kita merasa bahwa persoalan lingkungan terlalu besar untuk diubah oleh satu orang. Namun, seminar ini mengingatkan bahwa setiap perubahan selalu berawal dari sebuah pilihan sederhana. Ketika satu orang mulai peduli, lalu menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama, langkah kecil itu perlahan berubah menjadi gerakan yang membawa harapan. Pada akhirnya, bumi yang lebih baik bukanlah warisan yang kita terima, melainkan warisan yang kita ciptakan bersama melalui tindakan yang kita pilih setiap hari.  Menjaga Kenangan, Menjaga AlamRefleksi Setelah Menonton Teman Tegar Maira : Whisper from Papua ‘Nobar’ atau nonton bareng adalah kegiatan menonton suatu tayangan secara bersama-sama, kegiatan ini dapat membangun kebersamaan, serta dapat menjadi sarana edukasi untuk memahami realitas kehidupan nyata dan sarana untuk berdiskusi. SMA Santa Ursula BSD sudah beberapa kali mengadakan kegiatan nobar, beberapa film diantaranya adalah Say I Love You (2019), Budi Pekerti (2023), dan kini pada hari Kamis tanggal 4 di bulan Juni 2026 film Teman Tegar Maira : Whisper from Papua yang dipilih. Film Teman Tegar Maira tidak hanya sebatas film semata, tetapi membantu memperluas wawasan murid. Melalui sarana film tersebut, harapannya mampu menumbuhkan kepedulian dan sikap reflektif terhadap berbagai isu di sekitar mereka, khususnya lingkungan hidup. Melalui kisah persahabatan Maira dan Tegar di tengah ancaman kerusakan hutan Papua, murid diajak menyadari bahwa alam bukan sekadar tempat tinggal, melainkan warisan berharga yang perlu dijaga dan dilestarikan bersama. Film ini juga menggambarkan makna persahabatan sebagai ikatan kepercayaan yang melahirkan kasih, kepedulian, dan semangat untuk saling memahami. Nilai tersebut tercermin dalam hubungan Maira dan Tegar yang berasal dari latar belakang berbeda. Maira tumbuh di tengah kekayaan alam dan budaya Papua, sedangkan Tegar berasal dari lingkungan perkotaan yang akrab dengan berbagai persoalan akibat kerusakan lingkungan. Perbedaan itu tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk saling mengenal, belajar, dan memperkaya wawasan satu sama lain. Maira memperkenalkan Tegar pada keindahan alam serta kearifan budaya Papua, sementara Tegar berbagi pengalaman tentang kehidupan kota dan tantangan yang dihadapinya. Melalui rasa ingin tahu, sikap saling menghargai, dan kepercayaan yang terus bertumbuh, keduanya menjalin persahabatan yang erat. Kisah mereka mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk berpisah, melainkan kesempatan untuk saling memahami, saling melengkapi, dan bersama-sama memperjuangkan hal yang mereka cintai, yaitu menjaga alam sebagai rumah bersama dan warisan bagi masa depan. Dalam film ini, alam Papua menjadi saksi tumbuhnya persahabatan Maira dan Tegar. Relasi mereka berkembang seiring dengan kehidupan alam di sekitarnya, diiringi kicauan berbagai burung yang menghuni hutan Papua, kilauan sungai yang mengalir jernih bak permata, serta rimbunnya vegetasi yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat. Mereka juga turut merasakan suka dan duka para tetua yang dengan penuh keteguhan berjuang menghadirkan pendidikan yang lebih baik bagi anak dan cucunya di tengah polemik perebutan hak atas hutan.Nenek dan orang tua Maira gemar bernyanyi, dan melalui nyanyian itulah mereka menyampaikan pesan, doa, serta ungkapan cinta kepada alam agar tetap lestari dan mampu menopang kehidupan generasi yang akan datang. Alunan suara mereka terdengar merdu, terkadang kuat, namun sesekali lirih, seakan memuat kegelisahan atas masa depan alam sekaligus harapan agar anak cucu kelak masih dapat menikmati keindahan dan kekayaan Papua. Nyanyian tersebut menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai leluhur dengan generasi penerus, sekaligus menjadi bentuk pewarisan kearifan lokal yang mengajarkan penghormatan terhadap alam. Bagi masyarakat Papua, hutan bukan sekadar hamparan pepohonan, melainkan ibu yang memberi kehidupan dan karena itu patut dihormati serta dijaga keberadaannya. Film ini juga mengajarkan bahwa memahami kebijaksanaan para leluhur memerlukan kesabaran, layaknya menyarikan pati sagu yang membutuhkan aliran air dan proses yang panjang. Dari sana tumbuh pemahaman bahwa hal-hal yang paling berharga sering kali lahir bukan dari jalan yang cepat, melainkan dari ketekunan dalam merawat hubungan dengan alam dan sesama. Melalui kisah film tersebut juga, penonton diajak melihat bahwa alam Papua bukan sekadar latar cerita, melainkan ruang hidup yang membentuk identitas, budaya, dan cara pandang masyarakat terhadap lingkungan. Sosok orang tua dan para tetua dalam keluarga Maira menjadi simbol pengetahuan leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi, sekaligus lambang harapan agar nilai-nilai luhur, kecintaan terhadap alam, dan kearifan budaya tetap hidup dalam diri generasi penerus. Di balik setiap perjalanan yang mereka lalui, Maira dan Tegar menunjukkan bahwa kerja sama dapat menghasilkan sesuatu yang lebih baik daripada usaha yang dilakukan sendiri. Perbedaan latar belakang, pengalaman, dan pengetahuan tidak menjadi penghalang, melainkan menjadi kekuatan yang membantu mereka saling melengkapi dalam memahami keindahan sekaligus pentingnya menjaga alam Papua. Kegigihan mereka dalam menelusuri hutan, menjelajahi berbagai sudut alam, serta berjuang untuk menyaksikan burung-burung endemik khas Australis mengajarkan bahwa keberhasilan sering kali lahir dari ketekunan, semangat pantang menyerah, dan kemauan untuk berjalan bersama demi tujuan yang baik. Perjuangan tersebut akhirnya terbayar ketika mereka dapat menyaksikan secara langsung keanggunan burung cendrawasih atau yang dikenal pula sebagai siangga, sang burung surga kebanggaan Papua. Dengan bulu yang memukau dan gerakannya yang anggun, kehadiran cendrawasih bersama berbagai satwa endemik Papua menjadi pengingat akan kekayaan hayati Indonesia yang perlu dijaga dan dilestarikan secara berkelanjutan. Film ini mengingatkan bahwa bumi adalah rumah bersama, sehingga menjaga kelestariannya bukan hanya tanggung jawab segelintir orang, melainkan tugas bersama demi masa depan yang lebih baik.Melalui pendengaran, penglihatan, dan berbagai pengalaman yang mereka alami, Maira dan Tegar menyerap banyak hal yang menjadi bagian dari proses tumbuh dan berkembang. Pengalaman-pengalaman tersebut tidak hanya membentuk kenangan, tetapi juga mempengaruhi cara mereka memahami diri sendiri, sesama, dan lingkungan di sekitarnya. Dari sanalah muncul sebuah pertanyaan reflektif bagi kita semua: bagaimana jika ruang hidup yang menyimpan begitu banyak pengalaman, pembelajaran, dan makna itu perlahan berubah atau bahkan hilang akibat kerusakan lingkungan? Melalui proses refleksi setelah nobar film Teman Tegar Maira, kita kembali diingatkan untuk sejalan dengan semangat Laudato Si’, ensiklik Paus Fransiskus yang mengajak manusia untuk merawat bumi sebagai rumah bersama (our common home). Dalam Laudato Si’, ditegaskan bahwa hubungan manusia dengan alam tidak dapat dipisahkan dari hubungan manusia dengan sesama. Kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan hilangnya pohon, sungai, atau satwa, tetapi juga hilangnya ruang hidup, budaya, kenangan, dan masa depan generasi berikutnya. Persahabatan Maira dan Tegar yang tumbuh bersama alam Papua menggambarkan adanya ekologi integral (integral ecology). Pengertian ekologi integral yang dikutip dari artikel pada Laudato Si’ Movement. Integral Ecology: A Holistic Approach to Global Challenges menyatakan bahwa bumi merupakan “rumah bersama” (our common home) yang perlu dirawat melalui kesadaran bahwa segala sesuatu saling terhubung. Kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya berarti melindungi alam, tetapi juga menjaga relasi antar manusia, budaya, serta kehidupan generasi mendatang melalui semangat ekologi integral (integral ecology). Melalui kegiatan nobar ini, murid diajak menyadari bahwa mencintai sesama, menghargai kehidupan, dan merawat lingkungan merupakan panggilan yang saling berkaitan. Dengan alur yang sederhana namun menyentuh, Teman Tegar Maira menunjukkan bahwa menjaga alam tidak hanya berarti melestarikan pohon, sungai, atau satwa, tetapi juga melindungi ruang hidup, budaya, dan masa depan masyarakat yang bergantung padanya. Dengan demikian, menjaga lingkungan berarti merawat rumah bersama serta mewariskan harapan bagi generasi yang akan datang. Mari mulai dari langkah kecil, sederhana, dan dilakukan terus-menerus.Kurangi sampah dengan Pilah, Pilih, dan Pulihkan.Bumi adalah rumah bersama bagi semua makhluk hidup ciptaan Tuhan. Sumber Referensi : Aksa Bumi Langit. https://www.youtube.com/watch?v=VKmGjvtjMDY&utm_source=chatgpt.com Fransiskus. (2015). Laudato Si’: On Care for Our Common Home. Vatican Press. Vatican – Laudato Si’United States Conference of Catholic Bishops. Laudato Si’: On Care for Our Common Home. USCCB – Laudato Si’Laricha, S. L., & Juliana, H. K. (2023). Ergonomi Partisipatif dalam Pembuatan Buku Digital Perempuan dan Pembangunan Berkelanjutan . Jurnal Serina Abdimas, 1(1). Diakses melalui Garuda Kemdiktisaintek https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/5727635.Laudato Si’ Movement. Integral Ecology: A Holistic Approach to Global Challenges. Laudato Si’ Movement Integral EcologyTempo.co. (2026, Januari xx). Jaga hutan, pesan film Teman Tegar Maira: Whisper from Papua. Tempo. https://www.tempo.co/teroka/jaga-hutan-pesan-film-teman-tegar-maira-whisper-from-papua-2106107
Selengkapnya
News Image
Menumbuhkan Kesadaran Ekologis dan Kepedulian Sosial melalui Film Teman Tegar Maira
Pada hari Kamis, 4 Juni 2026, sekolah Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan nonton bersama di Teras Kota BSD, Tangerang Selatan untuk menyaksikan film Teman Tegar Maira yang disutradarai oleh Anggi Frisca. Film ini dibintangi oleh M. Aldifi Tegar Rajasa, Joan Warum dan Elisabeth Sisauta. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh siswa SMP dan SMA sebagai bagian dari pembelajaran yang bertujuan memberikan pengalaman edukatif di luar lingkungan kelas. Kegiatan ini diselenggarakan untuk memperluas wawasan siswa-siswi mengenai kehidupan masyarakat Papua, khususnya terkait budaya, kondisi sosial, serta isu-isu yang dihadapi masyarakat adat. Melalui film ini, siswa-siswi diajak untuk memahami realitas kehidupan yang mungkin berbeda dari kehidupan sehari-hari mereka. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya toleransi, sikap saling menghargai, serta penghormatan terhadap keberagaman budaya Indonesia. Penyelenggaraan kegiatan didukung sepenuhnya oleh sekolah dengan menyewa beberapa studio bioskop di Teras Kota BSD, Tangerang Selatan. Setiap kelas telah dibagi ke dalam studio yang berbeda, sehingga seluruh siswa-siswi dan guru dapat menonton dengan nyaman. Setelah tiba di lokasi, siswa-siswi langsung menuju studio sesuai pembagian yang telah ditentukan. Selama pemutaran film berlangsung, siswa-siswi dan guru mengikuti kegiatan dengan tertib dan penuh perhatian. Teman Tegar Maira menghadirkan kisah yang menyentuh sekaligus menggugah pemikiran. Salah satu aspek yang paling menonjol dalam filmtersebut adalah penggambaran budaya Papua yang kaya dan unik. Berbagai adegan memperkenalkan kehidupan masyarakat adat yang masih menjaga tradisi serta nilai-nilai leluhur mereka. Selain itu, keindahan alam Papua yang memukau, mulai dari bentang alam dan hamparan hutan hijau, hingga lingkungan yang masih sangat erat dengan kehidupan masyarakat setempat. Melalui alur cerita yang disajikan, penonton diajak untuk memahami bahwa kebijakan atau program yang diklaim bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tidak selalu memberikan dampak yang sesuai dengan harapan. Dalam film ini, masyarakat adat Papua digambarkan sebagai kelompok yang memiliki posisi subordinat, khususnya dalam proses pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka. Ketimpangan kekuasaan tersebut membuka peluang berbagai bentuk manipulasi oleh pihak yang memiliki wewenang lebih besar. Salah satu contohnya ditunjukkan melalui tindakan perusahaan PT Bebas Portal yang memanfaatkan keterbatasan literasi masyarakat setempat demi memperoleh persetujuan atas pengelolaan hutan. Dampaknya, hutan yang selama ini dilindungi oleh masyarakat mengalami kerusakan dan kehilangan fungsinya bagi warga sekitar.Di luar unsur drama dan konflik yang membangun cerita, film ini berhasil membuka wawasan penonton terhadap realitas yang terjadi di Papua saat ini. Penonton diperlihatkan bagaimana masyarakat adat menghadapi tantangan dalam mempertahankan tanah, lingkungan, serta hak-hak mereka. Salah satu isu yang disoroti adalah deforestasi dalam skala besar di wilayah Papua. Dalam beberapa kasus nyata, kegiatan tersebut dilakukan tanpa persetujuan atau keterlibatan penuh dari masyarakat adat setempat. Akibatnya, lingkungan yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat menghadapi ancaman yang serius. Pesan yang disampaikan dalam film ini, sejalan pula dengan semangat Laudato Si’  yang ditulis oleh Paus Fransiskus. Di mana, umat manusia diajak untuk merawat bumi sebagai rumah bersama dan mengembangkan pertobatan ekologis, yakni perubahan cara pandang dan tindakan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Kerusakan alam yang ditayangkan dalam film menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak hanya berdampak pada alam, tetapi juga pada kehidupan sosial, budaya, dan martabat manusia yang bergantung pada alam tersebut. Melalui film Teman Tegar Maira, siswa-siswi  SMA Santa Ursula BSD diajak untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga individu yang mampu berpikir kritis terhadap berbagai informasi dan kebijakan yang berkembang di masyarakat. Film ini mendorong penonton untuk menumbuhkan rasa empati terhadap kelompok yang mengalami ketidakadilan serta membangun kesadaran bahwa berbagai permasalahan sosial di Indonesia merupakan tanggung jawab bersama untuk dipahami dan diperhatikan. Dengan demikian, Teman Tegar Maira tidak hanya menjadi sebuah tontonan hiburan, tetapi juga hadir sebagai media pembelajaran yang mengajak generasi muda untuk lebih peduli terhadap isu kemanusiaan, lingkungan, dan keadilan sosial.
Selengkapnya
News Image
Satya Pancasila: Menanamkan Nilai Kebangsaan melalui Kreativitas, Kolaborasi, dan Kebersamaan
Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila, komunitas SMA Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan Satya Pancasila pada 3 Juni 2026. Kegiatan Satya Pancasila dirancang oleh Badan Pengurus OSIS 2026 dan diikuti oleh siswa-siswi SMA Santa Ursula BSD kelas X dan XI dengan tujuan untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila melalui berbagai aktivitas yang edukatif, kreatif, dan kolaboratif. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah bagi siswa-siswi untuk mengembangkan wawasan dalam bidang akademik serta keterampilan dalam bidang seni dan raga.Mendorong semangat persatuan dan gotong royong, kegiatan Satya Pancasila menghadirkan berbagai permainan dan perlombaan yang dirancang untuk memperdalam pengetahuan siswa tentang nilai-nilai Pancasila. Dalam permainan-permainan tersebut, siswa-siswi SMA Santa Ursula BSD kelas X dan XI dibagi menjadi 12 kelompok secara merata. Dengan begitu, selain menambah wawasan dan mengembangkan keterampilan, kegiatan ini menjadi sarana untuk membangun kebersamaan antarkelas dan antarangkatan, sehingga dapat mempererat hubungan siswa-siswi SMA Santa Ursula BSD.Rangkaian kegiatan diawali dengan lomba cerdas cermat yang menguji wawasan siswa-siswi dalam bidang pengetahuan umum, budaya Indonesia, sejarah bangsa, wawasan kebangsaan, serta Pancasila. Melalui suasana kompetitif yang sehat, siswa diajak untuk memperluas wawasan dengan cara yang menyenangkan dan interaktif. Setelah lomba cerdas cermat tersebut, rangkaian permainan berikutnya dibagi dalam 3 bidang, yakni bidang akademik, seni, dan raga.Bidang akademik menghadirkan tiga permainan yang mendorong kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kerja sama kelompok. Permainan pertama adalah Titian Nusantara yang menantang setiap kelompok untuk membangun jembatan menggunakan stik es krim yang kemudian diuji untuk mengetahui konstruksi mana yang mampu menahan beban paling besar. Kegiatan ini melatih kemampuan perencanaan, pemecahan masalah, serta kolaborasi dalam mencapai tujuan bersama.Selain itu, siswa juga mengikuti permainan Gema Aspirasi, sebuah debat bertema “Relevansi Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari Generasi Muda” yang melatih kemampuan berpikir kritis, kepercayaan diri, serta menyampaikan pendapat. Sementara itu, permainan terakhir yakni Kepingan Perjuangan yang mengajak siswa memahami kembali proses perumusan Pancasila melalui teka-teki gambar dan penyusunan linimasa sejarah. Melalui berbagai aktivitas tersebut, siswa tidak hanya memperluas wawasan kebangsaan, tetapi juga mengembangkan keterampilan komunikasi dan kerja sama.Pada bidang seni, siswa menunjukkan bakat dan kreativitas mereka melalui permainan Resonansi Baswara, yakni lomba menyanyi dengan membawakan lagu nasional serta lagu daerah Indonesia. Penampilan yang beragam mencerminkan kekayaan budaya Nusantara sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan budaya bangsa. Melalui musik, siswa diajak untuk menghayati semangat persatuan dalam keberagaman yang menjadi salah satu nilai penting Pancasila.Terakhir, bidang raga menghadirkan berbagai permainan fisik yang menekankan kekompakan dan kerja sama kelompok. Salah satunya adalah voli sarung, permainan yang memadukan olahraga voli dengan penggunaan sarung sebagai alat utama sehingga setiap anggota kelompok harus berkoordinasi untuk menangkap, mengarahkan, dan memantulkan bola melewati net. Permainan ini menuntut komunikasi dan kerja sama yang baik agar kelompok dapat bermain secara efektif.Selain itu, siswa juga mengikuti Bakiak Kelereng, modifikasi permainan tradisional bakiak yang menambah tantangan dengan membawa kelereng di atas sendok menggunakan mulut oleh siswa yang berada di posisi paling depan serta paling belakang. Aktivitas ini melatih konsentrasi, keseimbangan, dan kekompakan sebab keberhasilan hanya dapat dicapai ketika seluruh anggota kelompok bergerak secara selaras.Selain perlombaan, dihadirkan pula Senandika Pancasila, sebuah banner interaktif yang memuat pandangan dan refleksi siswa berkaitan dengan Pancasila. Siswa mengisi banner yang disediakan selama bidang seni berlangsung, sebagai sarana ekspresi gagasan serta ruang belajar untuk mengetahui berbagai sudut pandang dari siswa-siswi lainnya.Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, diumumkan pemenang dari setiap kategori perlombaan sebagai bentuk apresiasi atas usaha, kreativitas, dan semangat yang telah ditunjukkan selama kegiatan berlangsung. Meskipun terdapat kompetisi, nilai utama yang ingin dibangun melalui Satya Pancasila bukanlah kemenangan, melainkan proses belajar, kebersamaan antar siswa, serta menghayati nilai-nilai Pancasila melalui pengalaman yang diperoleh sepanjang kegiatan.Melalui Satya Pancasila, siswa SMA Santa Ursula BSD tidak hanya mempelajari nilai-nilai Pancasila secara teoritis, tetapi juga menghayatinya melalui pengalaman langsung. Semangat gotong royong, persatuan, demokrasi, serta penghargaan terhadap keberagaman yang tercermin dalam kegiatan diharapkan dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, peringatan Hari Lahir Pancasila tidak hanya menjadi sebuah perayaan, tetapi juga momentum untuk menumbuhkan karakter generasi muda yang berintegritas, peduli, dan berjiwa kebangsaan.Dokumentasi: Tim Dokumentasi
Selengkapnya
News Image
Beyond Memorizing Lines: My First Acting Experience
An ordinary classroom project eventually turned into an unforgettable journey of creativity, teamwork, and self-expression. During our English Literature drama project, each group was challenged to create a stage performance inspired by a movie of their choice.  My group decided to adapt Tinggal Meninggal, a film directed by Kristo Immanuel and transformed it into our own theatrical performance. Through this project, I not only learned more about literature and storytelling, but also experienced what it truly feels like to become a character on stage.Our group chose Tinggal Meninggal because we believed the film had a very unique concept compared to most movies.  One of the most interesting aspects of the film is how the main character directly speaks to the audience, creating a personal and interactive storytelling style. We found this approach creative and engaging, which inspired us to develop our own adaptation while still preserving the originality and emotional depth of the story.In our performance, I was given the role of Gema, the main character. Playing as Gema became a completely new experience for me because this was my first time acting seriously in front of the audience.  Gema is portrayed as someone who struggles with social interaction.  He often feels anxious and panics easily when talking to other people.  He also tends to mumble or talk to himself.  In the drama, Gema frequently shares his thoughts and feelings directly with the audience, which made the role even more challenging because I had to maintain both emotional expression and audience connection at the same time.The preparation process required a lot of effort and teamwork.  Before starting the rehearsals, our group held several script reading sessions to better understand the storyline, the emotions of each character, and the flow of the performance.  During these sessions, I tried to study Gema’s personality deeply so I could portray his awkwardness and anxiety very naturally.After the script reading sessions, we continued with blocking rehearsals. This was where we practiced movements, stage positioning, and scene transitions. Since Gema’s personality is socially awkward and nervous, I needed to pay close attention to my body language and facial expressions.  I practiced avoiding eye contact, reacting nervously during conversations, and creating small gestures that reflected Gema’s anxious personality.  Besides memorizing the script, I also spent time practicing tone of voice and emotional delivery, so the character would feel convincing on stage.Throughout the preparation process, our group also faced several difficulties, such as adjusting rehearsal schedules, improving scene timing, and making sure every performance detail matched the story we wanted to deliver. Despite these challenges, every group member continued supporting one another and worked together seriously to improve the drama.One of the most unexpected challenges happened during the final performance itself. There were several moments when I suddenly forgot parts of my script while being on stage. However, instead of panicking completely, I tried to stay calm and improvise naturally according to Gema’s personality.  Since Gema is portrayed as an anxious and awkward character who often hesitates and overthinks while speaking, I used those moments to remain in character by acting confused, pausing for a moment, and responding spontaneously.  Surprisingly, this made the performance feel even more natural because the nervousness I experienced matched Gema’s personality perfectly. Looking back on this experience, this drama project taught me many new things beyond simply performing on stage.  Through the role of Gema, I learned how acting is not only about memorizing lines, but also about expressing emotions and making the audience truly understand what a character is feeling.  More importantly, this project became one of the most memorable experiences for me because it was a long and meaningful journey shared with my group members.            We went through many phases together, from staying up late finishing the script, practicing scenes repeatedly, attending script reading sessions, creating props, and gathering at friends’ houses for rehearsals.  Even though the process was tiring at times, I genuinely enjoyed every moment of it.The laughter, deep talks, teamwork, and challenges we experienced together made this project feel incredibly special and unforgettable for me. Dokumentasi: Tim Dokumentasi
Selengkapnya

Foto Kegiatan