Profil SMA Santa Ursula BSD

 

Sekolah Santa Ursula BSD adalah sekolah Katolik yang berada di bawah Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh Suster-suster Ursulin. Sekolah Santa Ursula BSD mendidik siswa  berdasarkan iman Katolik dengan Visi menjadi Manusia Utuh, Cerdas dan Melayani.  Untuk mencapai keutuhan pembinaan yang mengembangkan kemampuan berpikir dan kreativitas dilakukan dengan seimbang dan menekankan  6 Nilai Serviam yaitu Cinta & Belas Kasih, Integritas, Keberanian dan ketangguhan, Persatuan, Pelayanan, serta Totalitas. Anggota komunitas juga dibina untuk menjadi cerdas, yaitu mampu berpikir kritis, sistematis, maupun cerdas dalam menyikapi berbagai situasi di lingkungan

Selengkapnya

Insieme

"Hiduplah dalam keserasian, bersatu, sehati sekehendak, terikat satu sama lain dengan cinta kasih, saling menghargai, saling membantu, saling bersabar dalam Yesus Kristus"
(Nas.T. 2)

Prestasi

Berita Terbaru

News Image
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2026: Menyambut Perjalanan Baru
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) merupakan kegiatan pertama masuk sekolah yang dilaksanakan untuk memperkenalkan program, sarana prasarana, cara belajar, dan pembinaan kultur sekolah bagi murid baru. Kegiatan ini membantu murid beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang tidak hanya terdiri atas pengenalan bangunan sekolah maupun lokasi kelas, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai sekolah, pedoman perilaku, kegiatan yang difasilitasi sekolah (ekstrakurikuler, pembinaan sore, dan lainnya), pengenalan organisasi, serta orang-orang yang berada di dalam komunitas SMA Santa Ursula BSD. MPLS SMA Santa Ursula BSD bertujuan untuk menumbuhkan semangat, motivasi, dan cara belajar yang efektif bagi murid, serta mendorong interaksi positif antara murid baru dengan warga sekolah lainnya. Kegiatan MPLS dilaksanakan mulai Senin, 13 Juli 2026 hingga Jumat, 17 Juli 2026 di Kampus Santa Ursula BSD. Suasana penuh semangat dan sukacita mewarnai penyambutan murid pada hari pertama di SMA Santa Ursula BSD. Doa pagi dan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 stanza menjadi rutinitas pagi komunitas SMA Santa Ursula BSD yang memberi energi positif untuk memulai hari. Dalam rangka membuka hari pertama, seluruh guru dan staf SMA Santa Ursula BSD diperkenalkan kepada murid kelas X, XI, dan XII. Setelah itu, Bapak Catur Agus Sancoko selaku Kepala SMA Santa Ursula BSD memberikan motivasi kepada seluruh murid agar siap untuk menjalani masa SMA dengan penuh semangat dan tanggung jawab. Setelah mengenal guru dan staf sekolah, murid berproses di kelas bersama dengan wali kelas dan guru yang ikut mendampingi kegiatan. Proses dinamika kelas tersebut dirancang untuk menciptakan suasana kelas yang partisipatif, menyenangkan, dan hangat, sehingga antarmurid dapat mengenal satu dengan yang lain secara lebih mudah. Selain mengenal guru, staf, dan teman, murid diajak untuk mendalami visi, misi, dan semangat spiritualitas sekolah Santa Ursula BSD. Pengembangan karakter murid menjadi sorotan penting bagi sekolah demi membentuk komunitas pelajar berjiwa pemimpin yang berkarakter utuh, cerdas, dan melayani. Dalam rangka membangun pribadi tersebut, dilaksanakan pula pengenalan pedoman perilaku dan tata tertib, demi menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan diri murid. Untuk memeriahkan dan mensukseskan tujuan MPLS, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sebagai organisasi murid ikut serta mengambil peran. Badan Pengurus OSIS membantu merancang kegiatan untuk memperkenalkan lingkungan sekolah (wisata kampus), pengenalan organisasi, pengenalan program OSIS, serta merancang beberapa dinamika kelompok dalam bentuk permainan sehingga dapat menumbuhkan kebersamaan dan membuka ruang bagi murid kelas X untuk saling mengenal. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, BP OSIS juga memberikan kesempatan kepada kelompok Barisan Semangat Ursula (BURSA) untuk memperkenalkan fungsi dan tujuan dari kelompoknya, serta mengajak seluruh murid kelas X untuk melakukan chanting demi menumbuhkan semangat, kesadaran, dan rasa bangga akan almamater. Di akhir proses kegiatan pada setiap harinya, murid diberikan kesempatan untuk menulis refleksi harian di buku jurnal demi membangun kebiasaan positif untuk memaknai pengalaman yang diperoleh sepanjang hari. Melalui refleksi murid mampu menyadari nilai hidup yang diperoleh, menyadari perkembangan diri, serta merancang tindak lanjut untuk ke depannya. Sebelum pulang, berdoa dan menyanyikan Mars Serviam 3 stanza menjadi rutinitas yang dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap sekolah. Dengan terlaksananya MPLS, diharapkan seluruh murid dapat membuka jalan untuk mengenal diri sendiri serta lingkungan sekolah secara lebih mendalam. Kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk menumbuhkan 10 nilai Santa Ursula serta 6 nilai Serviam dalam diri murid yang dapat menjadi bekal selama perjalanan di SMA.Dokumentasi: Tim Dokumentasi MPLS
Selengkapnya
News Image
Ekspedisi Tuju Santa Ursula (XTRA): Belajar, Berkenalan, Bertumbuh Bersama
Memasuki tahun ajaran baru, SMA Santa Ursula BSD melaksanakan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Senin, 13 Juli hingga Rabu, 15 Juli 2026, sebagai kegiatan dalam penyambutan para murid baru kelas X yang memasuki langkah baru di jenjang yang lebih tinggi di SMA Santa Ursula BSD. Sebagai bagian dari rangkaian penyambutan, hadir pula program Ekspedisi Tuju Santa Ursula (XTRA) yang dilaksanakan pada hari Kamis, 16 Juli hingga hari Jumat, 17 Juli 2026, yang dirancang oleh Badan Pengurus OSIS 2026 untuk memfasilitasi masa orientasi para murid baru dalam pengenalan lingkungan sekolah yang lebih mendalam. Melalui kegiatan XTRA, para murid kelas X tidak hanya diajak untuk mengenal lebih dekat dengan lingkungan kampus mereka, tetapi juga menjalin kebersamaan dengan teman-teman seangkatan agar dapat bertumbuh dan beradaptasi bersama di lingkungan yang baru. Pada Kamis, 16 Juli 2026 para murid kelas X dikenalkan dengan ekstrakurikuler yang dimiliki oleh sekolah melalui kegiatan Gelar Karya Ekstrakurikuler. Sejumlah 40 ekstrakurikuler dan pembinaan dipersembahkan dalam bentuk booth interaktif, video dokumentasi, dan penampilan di atas panggung. Dalam kegiatan tersebut, satu kelas terbagi menjadi tiga kelompok yang bersifat acak dan merata serta dipimpin oleh pemandu tur untuk keliling booth ekstrakurikuler. Melalui kegiatan gelar karya, para murid tidak hanya mengenal lebih dalam akan kegiatan ekstrakurikuler di SMA Santa Ursula BSD, melainkan juga langkah pertama untuk berdinamika dengan teman-teman di dalam kelompok yang lebih dekat melalui setiap proses kegiatan yang dilewati bersama. Selain kegiatan gelar karya, para murid kelas X mendapatkan kesempatan untuk melakukan dinamika kelas yang didampingi oleh perwakilan dari Badan Pengurus OSIS 2026. Kegiatan tersebut merupakan wadah untuk para murid kelas X, baik dengan yang feeder maupun non-feeder, untuk membangun hubungan pertemanan yang lebih dekat di dalam satu kelas. Hal ini diwujudkan dalam sebuah permainan di mana para murid diminta mencari teman di kelas yang sesuai dengan sembilan kriteria berbeda dengan mengumpulkan tanda tangan mereka pada setiap kotak yang tersedia. Kegiatan ini tidak hanya melatih keberanian untuk berkenalan dengan teman-teman baru, namun juga mendorong kelas yang inklusif, kebersamaan, dan solidaritas untuk menjalani perjalanan mereka dalam satu tahun ke depan di kelas X. Pada Jumat, 17 Juli 2026 kegiatan XTRA berfokus pada pengenalan lingkungan kampus SMA Santa Ursula BSD yang disertai oleh permainan-permainan yang dilakukan oleh para murid kelas X. Sebelum mengikuti rangkaian pengenalan kampus, para murid terlebih dahulu mengikuti Sosialisasi Badan Pengurus OSIS 2026 yang memaparkan visi, misi, serta program kegiatan yang dijalankan oleh setiap seksi. Melalui sesi ini, para murid diharapkan dapat mengenal lebih dekat peran BP OSIS di dalam lingkungan sekolah serta memahami berbagai program kegiatan yang menjadi wadah untuk mereka dalam pengembangan potensi dan bakat di dalam keseharian bersekolah di SMA Santa Ursula BSD. Kegiatan keliling kampus dilaksanakan dalam kelompok yang sama dengan hari lalu serta dipandu oleh dua pemandu tur. Selama berkeliling, para murid tidak hanya diperkenalkan dengan berbagai fasilitas sekolah dan lingkungan sekolah, tetapi juga diajak untuk mengenal dan melakukan kebiasaan yang diterapkan di SMA Santa Ursula BSD, seperti menyapa guru maupun staf yang ditemui. Melalui kegiatan ini, para murid dapat lebih mengenal lingkungan sekolah serta menerapkan nilai-nilai dan budaya yang menjadi bagian dari kehidupan di SMA Santa Ursula BSD.  Di beberapa pemberhentian dalam kegiatan keliling kampus, terdapat pos yang merupakan kegiatan interaktif antara para murid kelas X untuk dapat mencoba sebuah aktivitas yang berhubungan dengan fasilitas yang mereka kunjungi. Contohnya yaitu fasilitas lab kimia, di mana para murid diberikan kesempatan untuk melakukan percobaan asam basa “tulisan ajaib”. Selain itu, terdapat fasilitas ruang dapur yang diselingi permainan cooking charades, di mana mereka harus memperagakan gerakan memasak secara estafet hingga orang terakhir harus menebak terhadap menu yang dimaksud. Terakhir para murid mengunjungi fasilitas hidroponik dan pengomposan sampah, di mana mereka menyaksikan proses pengomposan sampah organik serta mengikuti praktik hidroponik yang dipandu oleh Tim Ekologi. Ketiga pos ini merupakan bagian dari pengenalan fasilitas sekolah yang dikemas dalam berbagai aktivitas interaktif sehingga para murid dapat lebih mengenal lingkungan SMA Santa Ursula BSD secara lebih menyenangkan dan bermakna. Selain ketiga dinamika pos yang berikatan  dalam pengenalan lingkungan sekolah, terdapat pula kegiatan dinamika kelompok yang bertujuan dalam membangun kedekatan dan kekompakan para murid kelas X. Terdapat permainan “Siapa Dia?”, di mana setiap kelompok dibagi menjadi dua tim yang saling menebak orang perwakilan tim lawan yang dibatasi oleh sebuah kain. Selain itu, terdapat permainan “Pingpong Air”, di mana para kelompok berlomba untuk memindahkan bola pingpong hingga keluar dari barisan gelas dengan menuangkan air menggunakan tangan. Kedua permainan tersebut diharapkan dapat melatih kerja sama, komunikasi, kreativitas dalam memecahkan masalah, serta mempererat kebersamaan antar murid. Sebagai rangkaian dari penutupan XTRA, para murid kelas X diajak untuk berkenalan dengan komunitas Barisan Semangat Ursula (BURSA) yang merupakan semangat almamater SMA Santa Ursula BSD. Dipimpin oleh para pengurus BURSA, para murid diperkenalkan pada latar belakang berdirinya komunitas tersebut, yang kemudian dilanjutkan dengan chanting BURSA bersama sebagai wujud kebersamaan dan semangat sebagai bagian dari keluarga besar SMA Santa Ursula BSD. Kegiatan XTRA tahun ini memiliki tujuan selain dari membangun kedekatan antara para murid kelas X. Memasuki langkah di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, SMA Santa Ursula BSD ingin mendorong untuk seluruh komunitas sekolah dapat membangun hubungan yang harmonis dan kepedulian di antara anggotanya, baik di antara para murid, guru, maupun tenaga kependidikan. Melalui budaya yang terus ditanamkan, setiap individu diharapkan untuk mampu mengenal, menghargai, dan menciptakan inklusivitas antar tiap anggotanya di dalam lingkungan sekolah. Dengan demikian, XTRA menghadirkan sebuah upaya untuk menanamkan kebiasaan tersebut sejak awal masuk ke dalam lingkup SMA Santa Ursula BSD, terutama kepada para murid kelas X, yaitu kegiatan Misi TEMAN (Temui, Kenal, Bangun Relasi). Misi TEMAN merupakan kegiatan interaksi dan komunikasi dengan anggota komunitas SMA Santa Ursula BSD yang dilakukan dengan sistem paket bersifat anonim. Setelah para murid memilih paket tersebut, maka akan diumumkannya hasil kombinasi dalam paket yang didapatkan dan terdiri dari tiga kategori, yaitu antara; murid kelas X/XI/XII, guru, atau tenaga kependidikan (staf). Kegiatan ini berjalan selama satu minggu MPLS sebagai sarana bagi para murid untuk membangun relasi dan mengenal lebih dekat dengan seluruh komunitas SMA Santa Ursula BSD. Sebagai bentuk pengembangan dari pelaksanaan tahun sebelumnya, XTRA membuka kesempatan untuk para murid di luar Badan Pengurus OSIS untuk ikut terlibat di dalam kepanitiaan XTRA tahun ini. Keterlibatan tersebut diwujudkan mulai dari divisi pemandu tur, dinamika kelompok, perlengkapan, dan P3K, sehingga diharapkan bahwa kontribusi mereka tidak hanya sekedar dalam menyukseskan kegiatan XTRA, namun juga membangun rasa tanggung jawab, profesionalitas, dan aktif partisipasi dalam kegiatan yang diadakan oleh sekolah. Melalui pengalaman ini, para murid dapat mengembangkan kemampuan kerja sama, inisiatif, dan menumbuhkan rasa pelayanan dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran ini menyajikan gerakan “MPLS Ramah” yang digagaskan oleh Kemendikdasmen sebagai upaya dalam mewujudkan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua murid ketika memasuki lingkungan sekolah yang baru. Melalui gerakan ini, kegiatan MPLS diarahkan untuk membantu para murid dalam beradaptasi dengan lingkungan sekolah tanpa adanya praktik atau suasana yang merendahkan rasa kenyamanan dan kepercayaan murid di dalam lingkungan sekolah. Selain memperkenalkan lingkungan sekolah, MPLS juga menjadi sarana untuk menanamkan kebiasaan, nilai, serta budaya dalam kehidupan bersekolah sehingga para murid dapat membangun rasa memiliki terhadap lingkungan belajar dan pergaulannya. Semangat tersebut menjadi landasan dalam rangkaian kegiatan XTRA yang mengedepankan pengalaman yang interaktif, inklusif, dan partisipatif. Dengan demikian, kegiatan XTRA tidak hanya menjadi pengenalan lebih dalam akan lingkungan sekolah, namun juga menjadi langkah awal dalam membangun relasi, mengembangkan potensi, dan menanamkan nilai-nilai Serviam di dalam karakter yang menjadi bagian dari keluarga besar SMA Santa Ursula BSD. Dokumentasi: Seksi Publikasi
Selengkapnya
News Image
Memperingati 28 Tahun Pasca Reformasi: Talk Show Siswa Kaderisasi Kelas XI “Tiga Daya Jiwa Sebagai Pondasi Generasi Muda dalam Melestarikan Perjuangan Reformasi”
Reformasi tahun 1998 merupakan puncak perjuangan bangsa kita melawan keterbatasan ruang demokrasi, krisis ekonomi, praktik KKN, dan pemerintahan yang sangat represif pada masa Orde Baru.  Masa ini sangat terikat dengan perjuangan masyarakat Indonesia melawan ketidakadilan yang kemudian identik dengan aksi turun ke jalan para mahasiswa demi memperjuangkan hak-hak bangsa yang direnggut oleh kelompok-kelompok tidak bertanggung jawab. Seiring perkembangan teknologi, bentuk demonstrasi kini telah bertransformasi, di mana generasi muda tidak hanya beraksi secara fisik tetapi juga memanfaatkan media sosial untuk menyuarakan aspirasi melalui berbagai bentuk. Kendati akses digital semakin mudah, esensi utama yang harus dirawat oleh generasi masa kini adalah menjaga semangat reformasi yang berakar dari kesadaran kritis terhadap persoalan bangsa, bukan sekadar ikut-ikutan (FOMO). Pada hari Sabtu, 6 Juni 2026 siswa-siswi anggota Kaderisasi kelas XI dan beberapa Guru SMA Santa Ursula BSD memperingati 28 tahun pasca Reformasi Indonesia pada tanggal 21 Mei 1998 dengan menyelenggarakan Dialog Bersama Aktivis Reformasi Tahun 1998 mengenai Perjuangan Demonstrasi Mahasiswa di Masa Reformasi. Acara yang dibungkus dengan model dialog-workshop ini dilaksanakan di Aula SMP-SMA Santa Ursula BSD dari pukul 9.30 hingga 11.00 WIB. Dalam Talk show membahas mengenai pengalaman di balik puncak momen fundamental dalam sejarah politik dan ketatanegaraan Indonesia ini dikemas dengan tujuan membuka wawasan, meningkatkan kepekaan sosial, serta menggerakkan generasi muda untuk berani menyuarakan aspirasi dengan kritis dan logis di tengah-tengah hiruk pikuk media sosial beserta kemajuan teknologi. Talk show ini berpusat pada pengalaman Agnes Gurning (Kak Agnes), seorang staf dalam lembaga internasional yang dulunya merupakan mahasiswa jurusan sosiologi di Universitas Indonesia, Depok pada tahun 1998. Dengan mengangkat tema “Tiga Daya Jiwa Sebagai Pondasi Generasi Muda dalam Melestarikan Perjuangan Reformasi”, siswa-siswi anggota Kaderisasi juga mengundang MN Nurhasanah Munaf (Kak Moi), Ketua Kelompok Kopdit Pintu Air yang pernah bekerja sebagai buruh pabrik yang berperan sebagai koordinator demonstrasi buruh besar-besaran pada tahun 1998. Dengan melibatkan pihak yang turun langsung ke medan demonstrasi, diharapkan para siswa-siswi kaderisasi dapat menumbuhkan esensi perjuangan dan keberanian bersuara seiring berkembangnya peradaban Indonesia, menciptakan generasi muda yang dinamis dengan satu tujuan; menjunjung keadilan dan kesejahteraan bangsa.Pada sesi pertama, para narasumber diminta memaparkan sumber pemersatu/motivasi yang membuat mereka berani untuk maju sebagai demonstran. Kak Agnes menyampaikan bahwa latar belakang keluarga dan lingkungan sosialnya membuatnya menyadari tingginya kesenjangan ekonomi dan kultural, sehingga memantik kesadaran dan daya kritisnya terhadap fenomena sosial di sekitarnya. Ketika memasuki jenjang perguruan tinggi, Kak Agnes mempelajari tentang konstruksi sosial yang nyata dan tidak semerta-merta “turun dari langit”, di titik itu Ia menyadari bahwa diskusi mengenai pemerintahan Orde Baru yang membelenggu masyarakat di masa itu harus disertai dengan kontribusi nyata yang mampu membawa perubahan. Tekad Kak Agnes tidak berhenti di situ, melalui pengalaman live-in nya sebagai buruh, pengalamannya dengan korban-korban pelecehan, beserta pendekatannya dengan lingkup sosial IKOI (kumpulan orang tua yang anaknya mengalami penculikan) menjadi sarana pembelajaran nyata diluar teori-teori pembelajaran kampus semata.Narasumber lainnya adalah Kak Moi yang pada tahun 1998 sedang menduduki posisi sebagai supervisor di perusahaan Mayora. Selama pemerintahan represif Orde Baru pada tahun 1994-1996, aksi protes sudah tidak menjadi hal yang asing bagi para buruh. Buruh adalah pemegang ekonomi negara, sementara gaji buruh terus dipotong di tengah krisis moneter yang tidak ditangani dengan bijak oleh pemerintah. Menanggapi masalah struktural tersebut, Kak Moi mengikuti diskusi di bawah tanah dan ikut melakukan demonstrasi. Beliau bergabung dengan Komite Buruh Untuk Aksi Reformasi (KOBAR) yang pada akhirnya berhasil memobilisasi puluhan ribu aktivis. Protes yang dilakukan Kak Moi menuntut upah seratus persen bagi buruh, cuti hamil yang tetap digaji, dan cuti haid lebih dari dua hari. Fenomena-fenomena sosial tersebut mulai menciptakan masalah struktural yang mengikis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah serta merampas kesejahteraan sosial. Guna mencegah kembalinya era Orde Baru di tengah berbagai tekanan dan pelemahan terhadap gerakan aktivis saat ini, generasi muda perlu membawa perubahan nyata. Perjuangan sebaiknya tidak hanya dilakukan di media sosial, melainkan harus ditelusuri kembali dari akar rumput melalui diskusi-diskusi di lingkungan sekolah seperti yang sudah dilakukan oleh SMA Santa Ursula BSD. Berbagai faktor dan latar belakang dari peristiwa reformasi mulai dibahas lebih dalam pada sesi ke-2. Meskipun demonstrasi besar-besaran pada tahun 1998 berhasil mencapai tujuan awalnya, proses transisi dari pemerintahan menuju era reformasi belum cukup matang. Sisa kekuasaan dan struktur dari masa Orde Baru masih tetap ada sehingga kembalinya kebijakan Orde Baru tidak semerta-merta langsung terjadi, tetapi dicicil hingga masa kini. Tindakan represif yang awalnya hanya melibatkan fisik, kini menduduki ruang digital sebagai pewarisan sikap dari rezim Orde Baru. Media sosial terus diasah penggunaannya agar dapat menjadi alat penyampaian aspirasi yang mendukung, bukan sebagai ranah kekerasan digital yang mendegradasi bangsa. Sekarang, satu-satunya harapan berlabuh di para generasi muda Indonesia untuk tidak patah semangat dalam menyuarakan suara mereka; “Kritis dan janganlah pesimis!” merupakan prinsip yang masih dipegang teguh hingga kini oleh Kak Agnes dan Kak Moi.“Kita mau bawa bangsa ini ke arah mana?” ujar Kak Moi. Pertanyaan reflektif ini dapat menjadi motivasi utama bagi generasi muda untuk membawa perubahan. Teknologi adalah suatu alat yang dampaknya berada di tangan kita. Memang kita tidak bisa menghindari kenyataan yang ada, namun apa yang bisa kita lakukan sebagai pelajar di masa kini untuk mengatasinya? Pertanyaan ini membawa diskusi ke titik akhir bahwa tonggak penggerak bangsa dan negara bukanlah hukum, melainkan gerakan moral kolektif dari berbagai lapisan masyarakat termasuk pelajar. Penghujung acara ini kemudian diakhiri oleh kata penutup dari Ibu Eri. Menurut beliau, sebagai generasi muda terutama anggota kaderisasi, keberanian menjadi hal yang penting sehingga membentuk kesempatan untuk peduli dalam membuka pilihan dan batin. Sebagai generasi muda, siswa-siswi harus selalu bersiap dan bertanggung jawab atas setiap pilihan yang diambil. “Pikirkan dengan baik setiap keputusan dan jangan mempertaruhkan integritasmu.” tutupnya.Ketika diminta untuk memberikan pesan kepada generasi muda, Kak Moi mengatakan “Teruslah berjuang bersama semua elemen masyarakat agar tatanan negara terus terjaga, berjuanglah untuk anak muda. Mundur adalah pengkhianatan.” tutupnya dengan tegas. Di sisi lain, Kak Agnes juga berpesan; “Mulailah perubahan dari hal kecil yaitu diri sendiri contohnya dengan tidak menjadi pembully, memperhatikan bila ada teman yang mengalami ketidakadilan, memanfaatkan platform media sosial untuk menyuarakan pikiran kritis tentang isu-isu sosial,  dan mau berinteraksi dengan siapa saja agar bisa saling memahami terlepas dari adanya perbedaan.”Diharapkan setelah mengikuti acara ini, siswa-siswi SMA Santa Ursula BSD terlebih anggota Kaderisasi dapat menggunakan tiga daya jiwa yang dianugerahkan kepada mereka dengan bijak melalui menggunakan akal budi untuk berpikir kritis bukan pesimis, hati nurani untuk meningkatkan kepekaan sosial dan belas kasih, serta kehendak bebas untuk berintegritas dalam melestarikan perjuangan reformasi sebagai akar kemajuan bangsa. Dokumentasi: Tim Dokumentasi
Selengkapnya
News Image
PELITA UANG (Pekan Literasi Keuangan) di SMA Santa Ursula BSD
Di era digital saat ini, perkembangan teknologi keuangan berkembang begitu pesat. Pemahaman tentang cara mengelola keuangan dan berinvestasi bukan lagi sekadar materi hafalan di kelas ekonomi, melainkan sebuah keterampilan untuk bertahan hidup yang wajib dikuasai oleh semua orang. Melalui pemahaman yang benar tentang investasi, peran bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB), murid diharapkan mampu mengambil keputusan keuangan yang bertanggung jawab, menghindari praktik keuangan ilegal, dan mulai merancang masa depan keuangan yang stabil. Kegiatan PELITA UANG (Pekan Literasi Keuangan) di SMA Santa Ursula BSD dilaksanakan selama dua hari; yaitu Senin, 25 Mei 2026 dan Selasa, 26 Mei 2026 dirancang untuk mencapai tujuan tersebut. Kegiatan tersebut dikemas dalam konsep seminar dan lokakarya dengan menghadirkan para pakar, mulai dari kalangan akademisi, praktisi perbankan, hingga pihak otoritas keuangan negara.Rangkaian kegiatan PELITA UANG dimulai pada Senin, 25 Mei 2026 di auditorium Kampus Santa Ursula BSD diikuti oleh 178 murid kelas XI SMA Santa Ursula BSD dengan tema Smart Decision, Strong Psychology. Kegiatan ini fokus pada pengelolaan keuangan, dasar investasi, serta aspek psikologis dalam mengambil keputusan finansial. SMA Santa Ursula bekerja sama dengan Fakultas Bisnis Program Studi Manajemen Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dalam menghadirkan pembicara dari Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).Sambutan yang disampaikan oleh bapak Catur Agus Sancoko, S.Pd., M.M selaku kepala SMA Santa Ursula BSD dan ibu Febri Nila Chrisanty, SE., M.M selaku perwakilan dari Fakultas Bisnis Program Studi Manajemen Universitas Multimedia Nusantara (UMN) menjadi pembuka kegiatan seminar dan lokakarya Smart Decision, Strong Psychology. Sesi pertama dengan materi Money Management disampaikan oleh Felicia Suminto selaku pembicara dari Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Beliau menyampaikan cara menyusun anggaran, membedakan kebutuhan dengan keinginan, serta cara mencegah perilaku konsumtif. Suasana auditorium Kampus Santa Ursula BSD semakin hangat dengan persembahan penampilan murid kelas X dari kelompok band, tari tradisional, dan tari modern. Bapak Fadly Fatah dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi pembicara pada sesi kedua. Beliau menekankan pentingnya mengendalikan emosi dan kekuatan mental (psikologi investasi) dalam menghadapi fluktuasi pasar. Murid-murid dibekali pemahaman bahwa berinvestasi bukan sekedar tren ikut-ikutan atau cara instan melipatgandakan kekayaan. Setelah selesai pemaparan materi dari kedua pembicara, kegiatan seminar dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang interaktif. Kegiatan ditutup dengan lokakarya Financial Planning di kelas masing-masing bersama tim mahasiswa dari Fakultas Bisnis Program Studi Manajemen Universitas Multimedia Nusantara (UMN) untuk mempraktikkan langsung ilmu yang telah murid dapatkan.Semangat literasi keuangan berlanjut pada Selasa, 26 Mei 2026, dimana kegiatan PELITA UANG di SMA Santa Ursula BSD diikuti oleh 182 murid kelas X di aula SMP-SMA Santa Ursula BSD dengan tema Meningkatkan Pondasi Masa Depan Diatas Ekosistem Keuangan yang Sehat. Kepala SMA Santa Ursula BSD, bapak Catur Agus Sancoko S.Pd., M.M memberikan motivasi kepada murid kelas X pentingnya dan bagaimana berproses dalam kegiatan tersebut. Drama pendek dari tim teater murid kelas XI mengenai perilaku konsumtif menjadi pembuka kegiatan PELITA UANG hari kedua. Para murid semakin antusias dan merasa bangga ketika tiga terbaik video literasi keuangan yang berjudul Dana Darurat karya murid kelas XE, The Heist karya murid kelas XC dan Cuan Quest Simulator karya murid kelas XB mendapatkan apresiasi dengan memutarkan ketiga video tersebut dan pemberian hadiah serta piagam penghargaan kepada para pemenang oleh kepala SMA Santa Ursula BSD.Berbeda dengan hari pertama, hari kedua dikemas dalam bentuk talkshow interaktif yang menghadirkan pembicara dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) wilayah Banten yaitu bapak Fikri Fauzan. Sebagai pembicara utama, beliau menyampaikan materi peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam melindungi konsumen serta memberikan edukasi nyata mengenai bahaya yang mengintai remaja, seperti pinjaman online (pinjol) ilegal dan judi online. Tak kalah menarik, praktisi perbankan dari Bank Banten, yaitu bapak Eman Yuniantoro juga hadir memperkenalkan produk tabungan pelajar serta layanan perbankan modern. Seluruh rangkaian acara ditutup dengan sesi refleksi dan penegasan komitmen murid untuk mulai mandiri secara finansial bersama guru pendamping di kelas.Melalui kegiatan PELITA UANG (Pekan Literasi Keuangan), SMA Santa Ursula BSD ingin menanamkan pola pikir bahwa cerdas finansial berarti mampu mengambil keputusan keuangan yang rasional dan bertanggung jawab. Harapannya, ilmu yang didapat menjadi pedoman bagi seluruh murid dalam menghadapi tantangan ekonomi di masa kini dan yang akan datang.Salam cerdas finansial! Dokumentasi Oleh : Samuel Theodore Adi Prabowo X-A/32, Caroline Sekar Arum Diandra Yuwono XI-B/6, Jeany Eustolia Sitanggang XI-D/9
Selengkapnya
News Image
FROM PROBLEM TO PROFIT: Workshop Kewirausahaan Kelas XI Santa Ursula BSD
Teknologi kini berkembang begitu pesat dan mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia kerja. Saat AI semakin umum digunakan dan dianggap sebagai alternatif yang lebih murah dibandingkan tenaga manusia, penting bagi generasi muda untuk mengembangkan keterampilannya dan mampu menciptakan lapangan kerja baru tanpa hanya mengandalkan perusahaan besar untuk menyediakan pekerjaan.Dengan itu, pada tanggal 5 Juni 2026 seluruh siswa kelas XI SMA Santa Ursula BSD diberikan kesempatan untuk belajar dasar-dasar kewirausahaan melalui sebuah workshop yang diselenggarakan oleh SMA Santa Ursula BSD. Dua narasumber berpengalaman diundang untuk berbagi ilmu tentang keterampilan dasar berbisnis, menambahkan pemahaman siswa mengenai dunia kewirausahaan, serta sekaligus mengubah pola pikir siswa dari sekadar “mencari kerja” menjadi “menciptakan lapangan kerja”.Workshop ini terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama berfokus pada identifikasi dan pemecahan masalah, sementara sesi kedua mengajarkan cara menyusun business model canvas agar bisnis dapat berjalan dengan teratur dan terorganisir. Pada sesi pertama, siswa belajar tentang proses menciptakan bisnis dari sebuah masalah. Seperti yang dikatakan oleh Drucker (1986), “kewirausahaan adalah seni mengubah ide menjadi bisnis”. Untuk mendapatkan ide, kami terlebih dahulu harus menemukan suatu masalah yang ingin diselesaikan melalui bisnis kami. Maka dari itu, kami diajarkan cara mengidentifikasi masalah, memvalidasikannya dan memastikan bahwa masalah tersebut memang nyata, hingga menemukan solusi bagi masalah tersebut yang akhirnya dapat menjadi sumber pendapatan. Dengan itu, tidak hanya pemilik bisnis yang dapat meraih keuntungan, tetapi juga memberikan solusi atas masalah yang dihadapi konsumen sehari-hari untuk memudahkan hidup mereka. Pada sesi kedua, kami membahas bagaimana peluang kreatif dapat diubah menjadi strategi bisnis yang matang. Prosesnya dimulai dari sebuah ide, yang kemudian berkembang menjadi model bisnis. Model business merupakan suatu rencana detail yang akan menjadi dasar pembangunan usaha kami. Tanpa model bisnis, kemungkinan besar bisnisnya akan kehilangan arah dan menjauh dari tujuan awal kami. Maka dari itu, sangat penting untuk menetapkan rencana, detail, dan tujuan bisnis dari awal untuk bisa membangunnya dengan efisien. Selain itu, siswa juga diajarkan cara menyusun proposal bisnis untuk menarik investor guna mengembangkan usaha mereka.Setelah workshop berakhir, para siswa kembali ke kelas masing-masing dan membentuk kelompok-kelompok kecil. Untuk mendapatkan pengalaman praktis. Para siswa diberikan template Business Model Canvas untuk mengembangkan ide bisnis. Para siswa didorong untuk berkolaborasi, berpikir kreatif, dan menghasilkan ide-ide inovatif, tetapi tetap realistis dan merupakan solusi untuk masalah yang nyata. Melalui proyek ini, siswa dapat mengeksplorasi berbagai pilihan dan ide bisnis, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahannya, serta merencanakan langkah-langkah untuk mewujudkannya. Proses ini memungkinkan kami melihat dari sudut pandang seorang pengusaha dan memahami hal-hal apa saja yang perlu dipertimbangkan sebelum memulai usaha.Sebelum mengikuti workshop ini, siswa sudah dikenalkan dasar-dasar kewirausahaan serta pentingnya bagi masa depan melalui pembelajaran ekonomi. Ibu saya sendiri merupakan pengusaha bisnis kecil yang menjual kebaya secara daring, dan saya sering membantunya. Dulu, saya selalu bertanya-tanya mengapa ibu saya memilih berbisnis kebaya. Bagi saya, kebaya tampak kurang diminati oleh konsumen, karena banyak orang lebih suka mengenakan pakaian modern atau trending. Namun, setelah mengikuti workshop ini, saya menyadari bahwa ibu saya sebenarnya ingin memecahkan sebuah masalah dan melihat peluang di dalamnya. Banyak orang menganggap bahwa memakai kebaya itu merepotkan dan hanya cocok untuk acara-acara khusus. Di sisi lain, ibu saya percaya bahwa kebaya justru indah dan sama menariknya dengan pakaian lainnya dan harusnya bisa dikenakan sehari-hari tanpa kesulitan. Melalui bisnisnya, ibu saya berupaya mempromosikan kebaya sebagai pakaian yang modern dan nyaman dipakai. Fakta pun menunjukkan bahwa banyak orang kini tertarik untuk mengenakan kebaya lebih sering.Masalah lain yang dipertimbangkan ibu saya adalah sulitnya para pengrajin bordir di desa-desa kecil untuk memasarkan hasil karyanya ke konsumen di tempat lain. Ibu saya melihat peluang dan menjadikan bisnisnya sebagai jembatan atau jaringan antara para produsen di Tasikmalaya dengan konsumen di seluruh Indonesia dan bahkan hingga ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Sebelumnya, kebaya ini hanya tersedia melalui saluran distribusi terbatas, tetapi kini siapapun dapat membelinya dengan mudah melalui sentuhan layar dari mana saja di dunia.Saya sangat bersyukur telah mengikuti workshop yang menarik dan bermanfaat ini, terutama karena ilmu yang didapat akan sangat penting untuk masa depan saya. Bahkan sekarang, saya sudah dapat menerapkan sebagian ilmu tersebut untuk membantu ibu saya mengembangkan bisnisnya. Suatu hari nanti, saya berharap tidak hanya dapat meneruskan bisnis ibu saya dan mengembangkannya lebih jauh, tetapi juga mampu menciptakan bisnis sendiri berdasarkan ide-ide pribadi dan berkontribusi dalam memecahkan masalah melalui usaha saya.
Selengkapnya
News Image
Menjaga Kenangan, Menjaga Bumi
Refleksi Seminar “Beyond The Bin”: Belajar Mencintai Lingkungan Hidup dan Refleksi Menonton Film Teman Tegar Maira ; Whisper from PapuaKepedulian terhadap lingkungan tidak lahir dari tindakan besar semata, melainkan dari membangun kebiasaan-kebiasaan kecil yang bisa dilakukan secara konsisten setiap hari. Mulai dari memilah sampah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menghargai makanan, hingga menjaga alam sebagai ruang hidup anak cucu nantinya. Sebagaimana persahabatan Maira dan Tegar yang tumbuh bersama dengan alam Papua, kita pun diajak untuk membangun relasi yang penuh kasih dengan sesama dan lingkungan alam di sekitar kita. Semangat Laudato Si’ mengingatkan bahwa bumi adalah rumah bersama yang dipercayakan kepada manusia untuk dirawat, bukan dieksploitasi. Oleh karena itu, marilah kita menjadi generasi yang tidak hanya sebagai penonton ketika melihat kerusakan terjadi, tetapi juga berani mengambil bagian dalam menjaga dan memulihkan lingkungan. Sebab, setiap tindakan yang kita lakukan hari ini adalah manifestasi bagi masa depan, agar kenangan, harapan, dan kehidupan dapat terus tumbuh dan diwariskan kepada generasi yang akan datang karena bumi yang kita tinggali hanya satu, dan masa depan generasi berikutnya dimulai dari pilihan-pilihan kita hari ini.  Langkah Kecil untuk BumiRefleksi Seminar “Beyond The Bin”: Belajar Mencintai Lingkungan Hidup  Pada tanggal 28 Mei 2026, murid kelas X dan XI SMA Santa Ursula BSD mengikuti seminar dan workshop bertajuk “Beyond The Bin”. Kegiatan yang diselenggarakan oleh OSIS SMA Santa Ursula BSD di Aula SMP / SMA Santa Ursula BSD ini merupakan wujud kepedulian terhadap permasalahan sampah sekaligus bagian dari rangkaian peringatan Hari Bumi yang diperingati setiap 22 April dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni. Seminar dan workshop ini diadakan sebagai respons atas meningkatnya persoalan sampah serta pengelolaannya yang masih menjadi tantangan di berbagai tempat. Narasumber yang hadir dalam kegiatan ini adalah Ibu Destri dan Ibu Xaxa dari komunitas Pepulih (Pemerhati dan Peduli Lingkungan Hidup), sebuah komunitas lingkungan lintas agama berbasis keimanan yang berdiri sejak 22 April 2004 di bawah naungan Keuskupan Agung Jakarta. Terinspirasi oleh ajaran Santo Fransiskus Asisi, Pepulih aktif dalam kegiatan edukasi, advokasi, dan pemberdayaan masyarakat untuk menjaga kelestarian alam. Fokus gerakannya meliputi perubahan pola pikir masyarakat terhadap lingkungan, pengelolaan sampah, konservasi sumber daya alam, serta penguatan ketahanan ekologi. Nama “Pepulih” sendiri mengandung makna upaya memulihkan kembali alam yang selama ini mengalami kerusakan akibat berbagai aktivitas manusia. Dalam seminar ini, peserta diajak memahami bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus dimulai dari tindakan sederhana di sekitar kita. Jika dahulu dikenal konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), kini konsep tersebut telah berkembang menjadi 11R yang dibagi ke dalam tiga tahapan:Sebelum (Rethink, Refuse), masyarakat diajak untuk berpikir kritis dan memilih barang secara bijak sebelum membeli atau menggunakannya. Selama (Reduce, Reuse, Repair, Refurbish, Remanufacture), fokusnya adalah memperpanjang masa pakai barang agar tidak cepat menjadi limbah. Setelah (Repurpose, Recycle, Recover, Return), barang yang telah menjadi sampah dikelola dengan tepat agar tidak mencemari lingkungan dan masih dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. Beraksi untuk Menjaga LingkunganMenjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai tindakan tersebut dapat diterapkan melalui konsep 11R yang terbagi ke dalam tiga tahapan, yaitu sebelum, selama, dan setelah penggunaan barang. Tahap “sebelum” (pintu depan) dilakukan dengan membiasakan diri berpikir bijak dahulu sebelum membeli atau menggunakan suatu barang. Contohnya dengan menolak penggunaan plastik sekali pakai, membawa tumbler sendiri, menggunakan tas belanja kain, serta membeli barang sesuai kebutuhan. Langkah-langkah sederhana ini penting karena dapat mengurangi jumlah sampah sejak awal, terutama sampah plastik yang banyak ditemukan di lingkungan maupun tempat pembuangan akhir. Membawa tumbler, misalnya, tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari, tetapi juga mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai.Tahap “selama” (pintu tengah) dan “setelah” (pintu belakang) berfokus pada pemanfaatan barang secara optimal serta pengelolaan sampah yang tepat. Pada tahap selama, barang masih digunakan sehingga perlu dirawat dan dimanfaatkan sebaik mungkin agar tidak cepat menjadi limbah. Contohnya adalah menggunakan barang secara hemat, memperbaiki barang yang rusak, serta mematikan listrik ketika tidak digunakan. Sementara itu, pada tahap setelah, ketika barang telah menjadi sampah, langkah yang dapat dilakukan antara lain memilah sampah organik dan anorganik, membuat kompos dari sisa makanan, serta mendaur ulang barang yang masih memiliki nilai guna.Bu Destri dan Bu Xaxa menjelaskan dengan sederhana bahwa tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membawa perubahan besar bagi lingkungan. Peserta diajak memahami bahwa pemilahan sampah organik dan anorganik bukan sekadar kebiasaan baik, melainkan langkah keselamatan yang dapat dimulai dari rumah. Sampah organik yang membusuk menghasilkan gas metana yang mudah terbakar dan berpotensi memicu ledakan apabila bercampur dengan limbah lain dalam jumlah besar, seperti yang pernah terjadi pada tragedi TPA Leuwigajah tahun 2005. Peristiwa tersebut mengingatkan bahwa persoalan sampah yang tampak sepele dapat berkembang menjadi ancaman besar ketika diabaikan. Dengan memilah sampah sejak dari sumbernya, kita tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga membantu mencegah risiko yang lebih besar. Hal lain yang ditekankan dalam seminar ini adalah pentingnya menghargai makanan dengan tidak menyisakannya. Menghabiskan makanan bukan hanya soal menghilangkan rasa lapar, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap alam dan banyak pihak yang terlibat dalam proses penyediaannya. Di balik setiap butir nasi, sayuran, dan buah yang tersaji di meja makan, terdapat perjalanan panjang yang melibatkan tanah yang subur, air yang mengalir, sinar matahari yang memberi energi bagi tumbuhan, mikroorganisme yang menjaga kesuburan tanah, serta kerja keras para petani yang menanam, merawat, dan memanennya. Kesadaran akan proses tersebut mengajak kita untuk memandang makanan bukan sekadar barang yang dapat dibeli dan dikonsumsi, melainkan anugerah yang lahir dari hubungan yang saling terjalin antara manusia dan alam. Ketika makanan disia-siakan, yang terbuang bukan hanya bahan pangan, tetapi juga waktu, tenaga, dan berbagai sumber daya yang telah menopang kehadirannya. Sebaliknya, ketika kita menghargai dan menghabiskan makanan secukupnya, kita sedang belajar bersyukur atas karunia yang diterima sekaligus menyadari bahwa kehidupan manusia bergantung pada alam yang sehat dan lestari. Dari kebiasaan sederhana inilah tumbuh pemahaman bahwa menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dari tindakan besar, tetapi juga dari sikap menghargai apa yang telah disediakan bumi bagi kehidupan. Dari seminar ini, kita dapat belajar bahwa perubahan besar seringkali berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Pemahaman tersebut penting karena masalah lingkungan tidak hanya disebabkan oleh keputusan-keputusan besar, tetapi juga oleh kebiasaan sehari-hari yang dilakukan oleh banyak orang secara terus-menerus. Kita diajak untuk menyadari bahwa menjaga lingkungan bukanlah tugas yang menunggu masa depan, melainkan tanggung jawab yang dapat dimulai hari ini melalui tindakan sederhana, seperti mengurangi sampah, menghargai makanan, dan menggunakan sumber daya secara bijaksanaGerakan Lingkungan di Sekolah Di lingkungan sekolah, semangat kepedulian terhadap lingkungan diwujudkan melalui Tim Ekologi, yaitu komunitas murid yang memiliki minat dan kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan hidup. Berbagai kegiatan telah dilakukan, seperti pengomposan, pemilahan sampah, khusus pengumpulan tutup botol dan tutup galon dengan bekerja sama dengan OSIS SMA Santa Ursula BSD, budidaya hidroponik, serta perawatan lubang biopori. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa prinsip pengelolaan lingkungan pada tahap sebelum, selama, dan setelah penggunaan barang sesungguhnya telah diterapkan dalam kehidupan di sekolah sehari-hari oleh anak-anak dan guru. Namun, upaya ini akan memberikan dampak yang lebih besar apabila didorong terus menjadi habitus untuk seluruh komunitas sekolah. Dengan keterlibatan bersama, gerakan peduli lingkungan tidak hanya menjadi sebuah program, tetapi juga menjadi budaya yang tumbuh dan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Sering kali kita merasa bahwa persoalan lingkungan terlalu besar untuk diubah oleh satu orang. Namun, seminar ini mengingatkan bahwa setiap perubahan selalu berawal dari sebuah pilihan sederhana. Ketika satu orang mulai peduli, lalu menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama, langkah kecil itu perlahan berubah menjadi gerakan yang membawa harapan. Pada akhirnya, bumi yang lebih baik bukanlah warisan yang kita terima, melainkan warisan yang kita ciptakan bersama melalui tindakan yang kita pilih setiap hari.  Menjaga Kenangan, Menjaga AlamRefleksi Setelah Menonton Teman Tegar Maira : Whisper from Papua ‘Nobar’ atau nonton bareng adalah kegiatan menonton suatu tayangan secara bersama-sama, kegiatan ini dapat membangun kebersamaan, serta dapat menjadi sarana edukasi untuk memahami realitas kehidupan nyata dan sarana untuk berdiskusi. SMA Santa Ursula BSD sudah beberapa kali mengadakan kegiatan nobar, beberapa film diantaranya adalah Say I Love You (2019), Budi Pekerti (2023), dan kini pada hari Kamis tanggal 4 di bulan Juni 2026 film Teman Tegar Maira : Whisper from Papua yang dipilih. Film Teman Tegar Maira tidak hanya sebatas film semata, tetapi membantu memperluas wawasan murid. Melalui sarana film tersebut, harapannya mampu menumbuhkan kepedulian dan sikap reflektif terhadap berbagai isu di sekitar mereka, khususnya lingkungan hidup. Melalui kisah persahabatan Maira dan Tegar di tengah ancaman kerusakan hutan Papua, murid diajak menyadari bahwa alam bukan sekadar tempat tinggal, melainkan warisan berharga yang perlu dijaga dan dilestarikan bersama. Film ini juga menggambarkan makna persahabatan sebagai ikatan kepercayaan yang melahirkan kasih, kepedulian, dan semangat untuk saling memahami. Nilai tersebut tercermin dalam hubungan Maira dan Tegar yang berasal dari latar belakang berbeda. Maira tumbuh di tengah kekayaan alam dan budaya Papua, sedangkan Tegar berasal dari lingkungan perkotaan yang akrab dengan berbagai persoalan akibat kerusakan lingkungan. Perbedaan itu tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk saling mengenal, belajar, dan memperkaya wawasan satu sama lain. Maira memperkenalkan Tegar pada keindahan alam serta kearifan budaya Papua, sementara Tegar berbagi pengalaman tentang kehidupan kota dan tantangan yang dihadapinya. Melalui rasa ingin tahu, sikap saling menghargai, dan kepercayaan yang terus bertumbuh, keduanya menjalin persahabatan yang erat. Kisah mereka mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk berpisah, melainkan kesempatan untuk saling memahami, saling melengkapi, dan bersama-sama memperjuangkan hal yang mereka cintai, yaitu menjaga alam sebagai rumah bersama dan warisan bagi masa depan. Dalam film ini, alam Papua menjadi saksi tumbuhnya persahabatan Maira dan Tegar. Relasi mereka berkembang seiring dengan kehidupan alam di sekitarnya, diiringi kicauan berbagai burung yang menghuni hutan Papua, kilauan sungai yang mengalir jernih bak permata, serta rimbunnya vegetasi yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat. Mereka juga turut merasakan suka dan duka para tetua yang dengan penuh keteguhan berjuang menghadirkan pendidikan yang lebih baik bagi anak dan cucunya di tengah polemik perebutan hak atas hutan.Nenek dan orang tua Maira gemar bernyanyi, dan melalui nyanyian itulah mereka menyampaikan pesan, doa, serta ungkapan cinta kepada alam agar tetap lestari dan mampu menopang kehidupan generasi yang akan datang. Alunan suara mereka terdengar merdu, terkadang kuat, namun sesekali lirih, seakan memuat kegelisahan atas masa depan alam sekaligus harapan agar anak cucu kelak masih dapat menikmati keindahan dan kekayaan Papua. Nyanyian tersebut menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai leluhur dengan generasi penerus, sekaligus menjadi bentuk pewarisan kearifan lokal yang mengajarkan penghormatan terhadap alam. Bagi masyarakat Papua, hutan bukan sekadar hamparan pepohonan, melainkan ibu yang memberi kehidupan dan karena itu patut dihormati serta dijaga keberadaannya. Film ini juga mengajarkan bahwa memahami kebijaksanaan para leluhur memerlukan kesabaran, layaknya menyarikan pati sagu yang membutuhkan aliran air dan proses yang panjang. Dari sana tumbuh pemahaman bahwa hal-hal yang paling berharga sering kali lahir bukan dari jalan yang cepat, melainkan dari ketekunan dalam merawat hubungan dengan alam dan sesama. Melalui kisah film tersebut juga, penonton diajak melihat bahwa alam Papua bukan sekadar latar cerita, melainkan ruang hidup yang membentuk identitas, budaya, dan cara pandang masyarakat terhadap lingkungan. Sosok orang tua dan para tetua dalam keluarga Maira menjadi simbol pengetahuan leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi, sekaligus lambang harapan agar nilai-nilai luhur, kecintaan terhadap alam, dan kearifan budaya tetap hidup dalam diri generasi penerus. Di balik setiap perjalanan yang mereka lalui, Maira dan Tegar menunjukkan bahwa kerja sama dapat menghasilkan sesuatu yang lebih baik daripada usaha yang dilakukan sendiri. Perbedaan latar belakang, pengalaman, dan pengetahuan tidak menjadi penghalang, melainkan menjadi kekuatan yang membantu mereka saling melengkapi dalam memahami keindahan sekaligus pentingnya menjaga alam Papua. Kegigihan mereka dalam menelusuri hutan, menjelajahi berbagai sudut alam, serta berjuang untuk menyaksikan burung-burung endemik khas Australis mengajarkan bahwa keberhasilan sering kali lahir dari ketekunan, semangat pantang menyerah, dan kemauan untuk berjalan bersama demi tujuan yang baik. Perjuangan tersebut akhirnya terbayar ketika mereka dapat menyaksikan secara langsung keanggunan burung cendrawasih atau yang dikenal pula sebagai siangga, sang burung surga kebanggaan Papua. Dengan bulu yang memukau dan gerakannya yang anggun, kehadiran cendrawasih bersama berbagai satwa endemik Papua menjadi pengingat akan kekayaan hayati Indonesia yang perlu dijaga dan dilestarikan secara berkelanjutan. Film ini mengingatkan bahwa bumi adalah rumah bersama, sehingga menjaga kelestariannya bukan hanya tanggung jawab segelintir orang, melainkan tugas bersama demi masa depan yang lebih baik.Melalui pendengaran, penglihatan, dan berbagai pengalaman yang mereka alami, Maira dan Tegar menyerap banyak hal yang menjadi bagian dari proses tumbuh dan berkembang. Pengalaman-pengalaman tersebut tidak hanya membentuk kenangan, tetapi juga mempengaruhi cara mereka memahami diri sendiri, sesama, dan lingkungan di sekitarnya. Dari sanalah muncul sebuah pertanyaan reflektif bagi kita semua: bagaimana jika ruang hidup yang menyimpan begitu banyak pengalaman, pembelajaran, dan makna itu perlahan berubah atau bahkan hilang akibat kerusakan lingkungan? Melalui proses refleksi setelah nobar film Teman Tegar Maira, kita kembali diingatkan untuk sejalan dengan semangat Laudato Si’, ensiklik Paus Fransiskus yang mengajak manusia untuk merawat bumi sebagai rumah bersama (our common home). Dalam Laudato Si’, ditegaskan bahwa hubungan manusia dengan alam tidak dapat dipisahkan dari hubungan manusia dengan sesama. Kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan hilangnya pohon, sungai, atau satwa, tetapi juga hilangnya ruang hidup, budaya, kenangan, dan masa depan generasi berikutnya. Persahabatan Maira dan Tegar yang tumbuh bersama alam Papua menggambarkan adanya ekologi integral (integral ecology). Pengertian ekologi integral yang dikutip dari artikel pada Laudato Si’ Movement. Integral Ecology: A Holistic Approach to Global Challenges menyatakan bahwa bumi merupakan “rumah bersama” (our common home) yang perlu dirawat melalui kesadaran bahwa segala sesuatu saling terhubung. Kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya berarti melindungi alam, tetapi juga menjaga relasi antar manusia, budaya, serta kehidupan generasi mendatang melalui semangat ekologi integral (integral ecology). Melalui kegiatan nobar ini, murid diajak menyadari bahwa mencintai sesama, menghargai kehidupan, dan merawat lingkungan merupakan panggilan yang saling berkaitan. Dengan alur yang sederhana namun menyentuh, Teman Tegar Maira menunjukkan bahwa menjaga alam tidak hanya berarti melestarikan pohon, sungai, atau satwa, tetapi juga melindungi ruang hidup, budaya, dan masa depan masyarakat yang bergantung padanya. Dengan demikian, menjaga lingkungan berarti merawat rumah bersama serta mewariskan harapan bagi generasi yang akan datang. Mari mulai dari langkah kecil, sederhana, dan dilakukan terus-menerus.Kurangi sampah dengan Pilah, Pilih, dan Pulihkan.Bumi adalah rumah bersama bagi semua makhluk hidup ciptaan Tuhan. Sumber Referensi : Aksa Bumi Langit. https://www.youtube.com/watch?v=VKmGjvtjMDY&utm_source=chatgpt.com Fransiskus. (2015). Laudato Si’: On Care for Our Common Home. Vatican Press. Vatican – Laudato Si’United States Conference of Catholic Bishops. Laudato Si’: On Care for Our Common Home. USCCB – Laudato Si’Laricha, S. L., & Juliana, H. K. (2023). Ergonomi Partisipatif dalam Pembuatan Buku Digital Perempuan dan Pembangunan Berkelanjutan . Jurnal Serina Abdimas, 1(1). Diakses melalui Garuda Kemdiktisaintek https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/5727635.Laudato Si’ Movement. Integral Ecology: A Holistic Approach to Global Challenges. Laudato Si’ Movement Integral EcologyTempo.co. (2026, Januari xx). Jaga hutan, pesan film Teman Tegar Maira: Whisper from Papua. Tempo. https://www.tempo.co/teroka/jaga-hutan-pesan-film-teman-tegar-maira-whisper-from-papua-2106107
Selengkapnya
News Image
Menumbuhkan Kesadaran Ekologis dan Kepedulian Sosial melalui Film Teman Tegar Maira
Pada hari Kamis, 4 Juni 2026, sekolah Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan nonton bersama di Teras Kota BSD, Tangerang Selatan untuk menyaksikan film Teman Tegar Maira yang disutradarai oleh Anggi Frisca. Film ini dibintangi oleh M. Aldifi Tegar Rajasa, Joan Warum dan Elisabeth Sisauta. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh siswa SMP dan SMA sebagai bagian dari pembelajaran yang bertujuan memberikan pengalaman edukatif di luar lingkungan kelas. Kegiatan ini diselenggarakan untuk memperluas wawasan siswa-siswi mengenai kehidupan masyarakat Papua, khususnya terkait budaya, kondisi sosial, serta isu-isu yang dihadapi masyarakat adat. Melalui film ini, siswa-siswi diajak untuk memahami realitas kehidupan yang mungkin berbeda dari kehidupan sehari-hari mereka. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya toleransi, sikap saling menghargai, serta penghormatan terhadap keberagaman budaya Indonesia. Penyelenggaraan kegiatan didukung sepenuhnya oleh sekolah dengan menyewa beberapa studio bioskop di Teras Kota BSD, Tangerang Selatan. Setiap kelas telah dibagi ke dalam studio yang berbeda, sehingga seluruh siswa-siswi dan guru dapat menonton dengan nyaman. Setelah tiba di lokasi, siswa-siswi langsung menuju studio sesuai pembagian yang telah ditentukan. Selama pemutaran film berlangsung, siswa-siswi dan guru mengikuti kegiatan dengan tertib dan penuh perhatian. Teman Tegar Maira menghadirkan kisah yang menyentuh sekaligus menggugah pemikiran. Salah satu aspek yang paling menonjol dalam filmtersebut adalah penggambaran budaya Papua yang kaya dan unik. Berbagai adegan memperkenalkan kehidupan masyarakat adat yang masih menjaga tradisi serta nilai-nilai leluhur mereka. Selain itu, keindahan alam Papua yang memukau, mulai dari bentang alam dan hamparan hutan hijau, hingga lingkungan yang masih sangat erat dengan kehidupan masyarakat setempat. Melalui alur cerita yang disajikan, penonton diajak untuk memahami bahwa kebijakan atau program yang diklaim bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tidak selalu memberikan dampak yang sesuai dengan harapan. Dalam film ini, masyarakat adat Papua digambarkan sebagai kelompok yang memiliki posisi subordinat, khususnya dalam proses pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka. Ketimpangan kekuasaan tersebut membuka peluang berbagai bentuk manipulasi oleh pihak yang memiliki wewenang lebih besar. Salah satu contohnya ditunjukkan melalui tindakan perusahaan PT Bebas Portal yang memanfaatkan keterbatasan literasi masyarakat setempat demi memperoleh persetujuan atas pengelolaan hutan. Dampaknya, hutan yang selama ini dilindungi oleh masyarakat mengalami kerusakan dan kehilangan fungsinya bagi warga sekitar.Di luar unsur drama dan konflik yang membangun cerita, film ini berhasil membuka wawasan penonton terhadap realitas yang terjadi di Papua saat ini. Penonton diperlihatkan bagaimana masyarakat adat menghadapi tantangan dalam mempertahankan tanah, lingkungan, serta hak-hak mereka. Salah satu isu yang disoroti adalah deforestasi dalam skala besar di wilayah Papua. Dalam beberapa kasus nyata, kegiatan tersebut dilakukan tanpa persetujuan atau keterlibatan penuh dari masyarakat adat setempat. Akibatnya, lingkungan yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat menghadapi ancaman yang serius. Pesan yang disampaikan dalam film ini, sejalan pula dengan semangat Laudato Si’  yang ditulis oleh Paus Fransiskus. Di mana, umat manusia diajak untuk merawat bumi sebagai rumah bersama dan mengembangkan pertobatan ekologis, yakni perubahan cara pandang dan tindakan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Kerusakan alam yang ditayangkan dalam film menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak hanya berdampak pada alam, tetapi juga pada kehidupan sosial, budaya, dan martabat manusia yang bergantung pada alam tersebut. Melalui film Teman Tegar Maira, siswa-siswi  SMA Santa Ursula BSD diajak untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga individu yang mampu berpikir kritis terhadap berbagai informasi dan kebijakan yang berkembang di masyarakat. Film ini mendorong penonton untuk menumbuhkan rasa empati terhadap kelompok yang mengalami ketidakadilan serta membangun kesadaran bahwa berbagai permasalahan sosial di Indonesia merupakan tanggung jawab bersama untuk dipahami dan diperhatikan. Dengan demikian, Teman Tegar Maira tidak hanya menjadi sebuah tontonan hiburan, tetapi juga hadir sebagai media pembelajaran yang mengajak generasi muda untuk lebih peduli terhadap isu kemanusiaan, lingkungan, dan keadilan sosial.
Selengkapnya

Foto Kegiatan