Menjaga Kenangan, Menjaga Bumi

Posted: 2026-06-08 | By: Kristiana Dwi Setiani dan Fransiska Fenti Damayanti Editor : Suryo Kumoro dan Lorensius Eka

Refleksi Seminar “Beyond The Bin”: Belajar Mencintai Lingkungan Hidup dan Refleksi Menonton Film Teman Tegar Maira ; Whisper from Papua

Kepedulian terhadap lingkungan tidak lahir dari tindakan besar semata, melainkan dari membangun kebiasaan-kebiasaan kecil yang bisa dilakukan secara konsisten setiap hari. Mulai dari memilah sampah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menghargai makanan, hingga menjaga alam sebagai ruang hidup anak cucu nantinya. Sebagaimana persahabatan Maira dan Tegar yang tumbuh bersama dengan alam Papua, kita pun diajak untuk membangun relasi yang penuh kasih dengan sesama dan lingkungan alam di sekitar kita. Semangat Laudato Si’ mengingatkan bahwa bumi adalah rumah bersama yang dipercayakan kepada manusia untuk dirawat, bukan dieksploitasi. Oleh karena itu, marilah kita menjadi generasi yang tidak hanya sebagai penonton ketika melihat kerusakan terjadi, tetapi juga berani mengambil bagian dalam menjaga dan memulihkan lingkungan. Sebab, setiap tindakan yang kita lakukan hari ini adalah manifestasi bagi masa depan, agar kenangan, harapan, dan kehidupan dapat terus tumbuh dan diwariskan kepada generasi yang akan datang karena bumi yang kita tinggali hanya satu, dan masa depan generasi berikutnya dimulai dari pilihan-pilihan kita hari ini. 

 

Langkah Kecil untuk Bumi

Refleksi Seminar “Beyond The Bin”: Belajar Mencintai Lingkungan Hidup 

 

Pada tanggal 28 Mei 2026, murid kelas X dan XI SMA Santa Ursula BSD mengikuti seminar dan workshop bertajuk “Beyond The Bin”. Kegiatan yang diselenggarakan oleh OSIS SMA Santa Ursula BSD di Aula SMP / SMA Santa Ursula BSD ini merupakan wujud kepedulian terhadap permasalahan sampah sekaligus bagian dari rangkaian peringatan Hari Bumi yang diperingati setiap 22 April dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni. Seminar dan workshop ini diadakan sebagai respons atas meningkatnya persoalan sampah serta pengelolaannya yang masih menjadi tantangan di berbagai tempat. Narasumber yang hadir dalam kegiatan ini adalah Ibu Destri dan Ibu Xaxa dari komunitas Pepulih (Pemerhati dan Peduli Lingkungan Hidup), sebuah komunitas lingkungan lintas agama berbasis keimanan yang berdiri sejak 22 April 2004 di bawah naungan Keuskupan Agung Jakarta. Terinspirasi oleh ajaran Santo Fransiskus Asisi, Pepulih aktif dalam kegiatan edukasi, advokasi, dan pemberdayaan masyarakat untuk menjaga kelestarian alam. Fokus gerakannya meliputi perubahan pola pikir masyarakat terhadap lingkungan, pengelolaan sampah, konservasi sumber daya alam, serta penguatan ketahanan ekologi. Nama “Pepulih” sendiri mengandung makna upaya memulihkan kembali alam yang selama ini mengalami kerusakan akibat berbagai aktivitas manusia. 

Dalam seminar ini, peserta diajak memahami bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus dimulai dari tindakan sederhana di sekitar kita. Jika dahulu dikenal konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), kini konsep tersebut telah berkembang menjadi 11R yang dibagi ke dalam tiga tahapan:

  1. Sebelum (Rethink, Refuse), masyarakat diajak untuk berpikir kritis dan memilih barang secara bijak sebelum membeli atau menggunakannya. 
  2. Selama (Reduce, Reuse, Repair, Refurbish, Remanufacture), fokusnya adalah memperpanjang masa pakai barang agar tidak cepat menjadi limbah. 
  3. Setelah (Repurpose, Recycle, Recover, Return), barang yang telah menjadi sampah dikelola dengan tepat agar tidak mencemari lingkungan dan masih dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. 

Beraksi untuk Menjaga Lingkungan

Menjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai tindakan tersebut dapat diterapkan melalui konsep 11R yang terbagi ke dalam tiga tahapan, yaitu sebelum, selama, dan setelah penggunaan barang. Tahap “sebelum” (pintu depan) dilakukan dengan membiasakan diri berpikir bijak dahulu sebelum membeli atau menggunakan suatu barang. Contohnya dengan menolak penggunaan plastik sekali pakai, membawa tumbler sendiri, menggunakan tas belanja kain, serta membeli barang sesuai kebutuhan. Langkah-langkah sederhana ini penting karena dapat mengurangi jumlah sampah sejak awal, terutama sampah plastik yang banyak ditemukan di lingkungan maupun tempat pembuangan akhir. Membawa tumbler, misalnya, tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari, tetapi juga mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai.

Tahap “selama” (pintu tengah) dan “setelah” (pintu belakang) berfokus pada pemanfaatan barang secara optimal serta pengelolaan sampah yang tepat. Pada tahap selama, barang masih digunakan sehingga perlu dirawat dan dimanfaatkan sebaik mungkin agar tidak cepat menjadi limbah. Contohnya adalah menggunakan barang secara hemat, memperbaiki barang yang rusak, serta mematikan listrik ketika tidak digunakan. Sementara itu, pada tahap setelah, ketika barang telah menjadi sampah, langkah yang dapat dilakukan antara lain memilah sampah organik dan anorganik, membuat kompos dari sisa makanan, serta mendaur ulang barang yang masih memiliki nilai guna.

Bu Destri dan Bu Xaxa menjelaskan dengan sederhana bahwa tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membawa perubahan besar bagi lingkungan. Peserta diajak memahami bahwa pemilahan sampah organik dan anorganik bukan sekadar kebiasaan baik, melainkan langkah keselamatan yang dapat dimulai dari rumah. Sampah organik yang membusuk menghasilkan gas metana yang mudah terbakar dan berpotensi memicu ledakan apabila bercampur dengan limbah lain dalam jumlah besar, seperti yang pernah terjadi pada tragedi TPA Leuwigajah tahun 2005. Peristiwa tersebut mengingatkan bahwa persoalan sampah yang tampak sepele dapat berkembang menjadi ancaman besar ketika diabaikan. Dengan memilah sampah sejak dari sumbernya, kita tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga membantu mencegah risiko yang lebih besar. 

Hal lain yang ditekankan dalam seminar ini adalah pentingnya menghargai makanan dengan tidak menyisakannya. Menghabiskan makanan bukan hanya soal menghilangkan rasa lapar, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap alam dan banyak pihak yang terlibat dalam proses penyediaannya. Di balik setiap butir nasi, sayuran, dan buah yang tersaji di meja makan, terdapat perjalanan panjang yang melibatkan tanah yang subur, air yang mengalir, sinar matahari yang memberi energi bagi tumbuhan, mikroorganisme yang menjaga kesuburan tanah, serta kerja keras para petani yang menanam, merawat, dan memanennya. Kesadaran akan proses tersebut mengajak kita untuk memandang makanan bukan sekadar barang yang dapat dibeli dan dikonsumsi, melainkan anugerah yang lahir dari hubungan yang saling terjalin antara manusia dan alam. Ketika makanan disia-siakan, yang terbuang bukan hanya bahan pangan, tetapi juga waktu, tenaga, dan berbagai sumber daya yang telah menopang kehadirannya. Sebaliknya, ketika kita menghargai dan menghabiskan makanan secukupnya, kita sedang belajar bersyukur atas karunia yang diterima sekaligus menyadari bahwa kehidupan manusia bergantung pada alam yang sehat dan lestari. Dari kebiasaan sederhana inilah tumbuh pemahaman bahwa menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dari tindakan besar, tetapi juga dari sikap menghargai apa yang telah disediakan bumi bagi kehidupan. 

Dari seminar ini, kita dapat belajar bahwa perubahan besar seringkali berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Pemahaman tersebut penting karena masalah lingkungan tidak hanya disebabkan oleh keputusan-keputusan besar, tetapi juga oleh kebiasaan sehari-hari yang dilakukan oleh banyak orang secara terus-menerus. Kita diajak untuk menyadari bahwa menjaga lingkungan bukanlah tugas yang menunggu masa depan, melainkan tanggung jawab yang dapat dimulai hari ini melalui tindakan sederhana, seperti mengurangi sampah, menghargai makanan, dan menggunakan sumber daya secara bijaksana

Gerakan Lingkungan di Sekolah 

Di lingkungan sekolah, semangat kepedulian terhadap lingkungan diwujudkan melalui Tim Ekologi, yaitu komunitas murid yang memiliki minat dan kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan hidup. Berbagai kegiatan telah dilakukan, seperti pengomposan, pemilahan sampah, khusus pengumpulan tutup botol dan tutup galon dengan bekerja sama dengan OSIS SMA Santa Ursula BSD, budidaya hidroponik, serta perawatan lubang biopori. 

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa prinsip pengelolaan lingkungan pada tahap sebelum, selama, dan setelah penggunaan barang sesungguhnya telah diterapkan dalam kehidupan di sekolah sehari-hari oleh anak-anak dan guru. Namun, upaya ini akan memberikan dampak yang lebih besar apabila didorong terus menjadi habitus untuk seluruh komunitas sekolah. Dengan keterlibatan bersama, gerakan peduli lingkungan tidak hanya menjadi sebuah program, tetapi juga menjadi budaya yang tumbuh dan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. 

Sering kali kita merasa bahwa persoalan lingkungan terlalu besar untuk diubah oleh satu orang. Namun, seminar ini mengingatkan bahwa setiap perubahan selalu berawal dari sebuah pilihan sederhana. Ketika satu orang mulai peduli, lalu menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama, langkah kecil itu perlahan berubah menjadi gerakan yang membawa harapan. Pada akhirnya, bumi yang lebih baik bukanlah warisan yang kita terima, melainkan warisan yang kita ciptakan bersama melalui tindakan yang kita pilih setiap hari. 

 

Menjaga Kenangan, Menjaga Alam

Refleksi Setelah Menonton Teman Tegar Maira : Whisper from Papua

 

Nobar’ atau nonton bareng adalah kegiatan menonton suatu tayangan secara bersama-sama, kegiatan ini dapat membangun kebersamaan, serta dapat menjadi sarana edukasi untuk memahami realitas kehidupan nyata dan sarana untuk berdiskusi. SMA Santa Ursula BSD sudah beberapa kali mengadakan kegiatan nobar, beberapa film diantaranya adalah Say I Love You (2019), Budi Pekerti (2023), dan kini pada hari Kamis tanggal 4 di bulan Juni 2026 film Teman Tegar Maira : Whisper from Papua yang dipilih. 

Film Teman Tegar Maira tidak hanya sebatas film semata, tetapi membantu memperluas wawasan murid. Melalui sarana film tersebut, harapannya mampu menumbuhkan kepedulian dan sikap reflektif terhadap berbagai isu di sekitar mereka, khususnya lingkungan hidup. Melalui kisah persahabatan Maira dan Tegar di tengah ancaman kerusakan hutan Papua, murid diajak menyadari bahwa alam bukan sekadar tempat tinggal, melainkan warisan berharga yang perlu dijaga dan dilestarikan bersama. Film ini juga menggambarkan makna persahabatan sebagai ikatan kepercayaan yang melahirkan kasih, kepedulian, dan semangat untuk saling memahami. Nilai tersebut tercermin dalam hubungan Maira dan Tegar yang berasal dari latar belakang berbeda. Maira tumbuh di tengah kekayaan alam dan budaya Papua, sedangkan Tegar berasal dari lingkungan perkotaan yang akrab dengan berbagai persoalan akibat kerusakan lingkungan. Perbedaan itu tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk saling mengenal, belajar, dan memperkaya wawasan satu sama lain. Maira memperkenalkan Tegar pada keindahan alam serta kearifan budaya Papua, sementara Tegar berbagi pengalaman tentang kehidupan kota dan tantangan yang dihadapinya. Melalui rasa ingin tahu, sikap saling menghargai, dan kepercayaan yang terus bertumbuh, keduanya menjalin persahabatan yang erat. Kisah mereka mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk berpisah, melainkan kesempatan untuk saling memahami, saling melengkapi, dan bersama-sama memperjuangkan hal yang mereka cintai, yaitu menjaga alam sebagai rumah bersama dan warisan bagi masa depan. 

Dalam film ini, alam Papua menjadi saksi tumbuhnya persahabatan Maira dan Tegar. Relasi mereka berkembang seiring dengan kehidupan alam di sekitarnya, diiringi kicauan berbagai burung yang menghuni hutan Papua, kilauan sungai yang mengalir jernih bak permata, serta rimbunnya vegetasi yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat. Mereka juga turut merasakan suka dan duka para tetua yang dengan penuh keteguhan berjuang menghadirkan pendidikan yang lebih baik bagi anak dan cucunya di tengah polemik perebutan hak atas hutan.

Nenek dan orang tua Maira gemar bernyanyi, dan melalui nyanyian itulah mereka menyampaikan pesan, doa, serta ungkapan cinta kepada alam agar tetap lestari dan mampu menopang kehidupan generasi yang akan datang. Alunan suara mereka terdengar merdu, terkadang kuat, namun sesekali lirih, seakan memuat kegelisahan atas masa depan alam sekaligus harapan agar anak cucu kelak masih dapat menikmati keindahan dan kekayaan Papua. Nyanyian tersebut menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai leluhur dengan generasi penerus, sekaligus menjadi bentuk pewarisan kearifan lokal yang mengajarkan penghormatan terhadap alam. Bagi masyarakat Papua, hutan bukan sekadar hamparan pepohonan, melainkan ibu yang memberi kehidupan dan karena itu patut dihormati serta dijaga keberadaannya. Film ini juga mengajarkan bahwa memahami kebijaksanaan para leluhur memerlukan kesabaran, layaknya menyarikan pati sagu yang membutuhkan aliran air dan proses yang panjang. Dari sana tumbuh pemahaman bahwa hal-hal yang paling berharga sering kali lahir bukan dari jalan yang cepat, melainkan dari ketekunan dalam merawat hubungan dengan alam dan sesama. 

Melalui kisah film tersebut juga, penonton diajak melihat bahwa alam Papua bukan sekadar latar cerita, melainkan ruang hidup yang membentuk identitas, budaya, dan cara pandang masyarakat terhadap lingkungan. Sosok orang tua dan para tetua dalam keluarga Maira menjadi simbol pengetahuan leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi, sekaligus lambang harapan agar nilai-nilai luhur, kecintaan terhadap alam, dan kearifan budaya tetap hidup dalam diri generasi penerus. 

Di balik setiap perjalanan yang mereka lalui, Maira dan Tegar menunjukkan bahwa kerja sama dapat menghasilkan sesuatu yang lebih baik daripada usaha yang dilakukan sendiri. Perbedaan latar belakang, pengalaman, dan pengetahuan tidak menjadi penghalang, melainkan menjadi kekuatan yang membantu mereka saling melengkapi dalam memahami keindahan sekaligus pentingnya menjaga alam Papua. Kegigihan mereka dalam menelusuri hutan, menjelajahi berbagai sudut alam, serta berjuang untuk menyaksikan burung-burung endemik khas Australis mengajarkan bahwa keberhasilan sering kali lahir dari ketekunan, semangat pantang menyerah, dan kemauan untuk berjalan bersama demi tujuan yang baik. Perjuangan tersebut akhirnya terbayar ketika mereka dapat menyaksikan secara langsung keanggunan burung cendrawasih atau yang dikenal pula sebagai siangga, sang burung surga kebanggaan Papua. Dengan bulu yang memukau dan gerakannya yang anggun, kehadiran cendrawasih bersama berbagai satwa endemik Papua menjadi pengingat akan kekayaan hayati Indonesia yang perlu dijaga dan dilestarikan secara berkelanjutan. Film ini mengingatkan bahwa bumi adalah rumah bersama, sehingga menjaga kelestariannya bukan hanya tanggung jawab segelintir orang, melainkan tugas bersama demi masa depan yang lebih baik.

Melalui pendengaran, penglihatan, dan berbagai pengalaman yang mereka alami, Maira dan Tegar menyerap banyak hal yang menjadi bagian dari proses tumbuh dan berkembang. Pengalaman-pengalaman tersebut tidak hanya membentuk kenangan, tetapi juga mempengaruhi cara mereka memahami diri sendiri, sesama, dan lingkungan di sekitarnya. Dari sanalah muncul sebuah pertanyaan reflektif bagi kita semua: bagaimana jika ruang hidup yang menyimpan begitu banyak pengalaman, pembelajaran, dan makna itu perlahan berubah atau bahkan hilang akibat kerusakan lingkungan? 

Melalui proses refleksi setelah nobar film Teman Tegar Maira, kita kembali diingatkan untuk sejalan dengan semangat Laudato Si’, ensiklik Paus Fransiskus yang mengajak manusia untuk merawat bumi sebagai rumah bersama (our common home). Dalam Laudato Si’, ditegaskan bahwa hubungan manusia dengan alam tidak dapat dipisahkan dari hubungan manusia dengan sesama. Kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan hilangnya pohon, sungai, atau satwa, tetapi juga hilangnya ruang hidup, budaya, kenangan, dan masa depan generasi berikutnya. Persahabatan Maira dan Tegar yang tumbuh bersama alam Papua menggambarkan adanya ekologi integral (integral ecology). Pengertian ekologi integral yang dikutip dari artikel pada Laudato Si’ Movement. Integral Ecology: A Holistic Approach to Global Challenges menyatakan bahwa bumi merupakan “rumah bersama” (our common home) yang perlu dirawat melalui kesadaran bahwa segala sesuatu saling terhubung. Kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya berarti melindungi alam, tetapi juga menjaga relasi antar manusia, budaya, serta kehidupan generasi mendatang melalui semangat ekologi integral (integral ecology). 

Melalui kegiatan nobar ini, murid diajak menyadari bahwa mencintai sesama, menghargai kehidupan, dan merawat lingkungan merupakan panggilan yang saling berkaitan. Dengan alur yang sederhana namun menyentuh, Teman Tegar Maira menunjukkan bahwa menjaga alam tidak hanya berarti melestarikan pohon, sungai, atau satwa, tetapi juga melindungi ruang hidup, budaya, dan masa depan masyarakat yang bergantung padanya. Dengan demikian, menjaga lingkungan berarti merawat rumah bersama serta mewariskan harapan bagi generasi yang akan datang. 

Mari mulai dari langkah kecil, sederhana, dan dilakukan terus-menerus.

Kurangi sampah dengan Pilah, Pilih, dan Pulihkan.

Bumi adalah rumah bersama bagi semua makhluk hidup ciptaan Tuhan.

 

Sumber Referensi : 

  1. Aksa Bumi Langit. https://www.youtube.com/watch?v=VKmGjvtjMDY&utm_source=chatgpt.com 
  2. Fransiskus. (2015). Laudato Si’: On Care for Our Common Home. Vatican Press. Vatican – Laudato Si’
  3. United States Conference of Catholic Bishops. Laudato Si’: On Care for Our Common Home. USCCB – Laudato Si’
  4. Laricha, S. L., & Juliana, H. K. (2023). Ergonomi Partisipatif dalam Pembuatan Buku Digital Perempuan dan Pembangunan Berkelanjutan Jurnal Serina Abdimas1(1). Diakses melalui Garuda Kemdiktisaintek https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/5727635.
  5. Laudato Si’ Movement. Integral Ecology: A Holistic Approach to Global Challenges. Laudato Si’ Movement Integral Ecology

Tempo.co. (2026, Januari xx). Jaga hutan, pesan film Teman Tegar Maira: Whisper from Papua. Tempo. https://www.tempo.co/teroka/jaga-hutan-pesan-film-teman-tegar-maira-whisper-from-papua-2106107