Profil SD Santa Ursula BSD

Selamat datang di SD Santa Ursula BSD, tempat di mana pendidikan bukan hanya soal prestasi, tetapi juga pembentukan karakter dan iman. Berdiri dengan semangat untuk membentuk manusia utuh, cerdas, dan melayani, kami menghadirkan lingkungan belajar yang mendidik anak secara menyeluruh—pikiran, hati, dan tindakan. Kami percaya bahwa pendidikan dasar yang kuat akan menjadi fondasi penting bagi perjalanan hidup anak-anak di masa depan.

Di SD Santa Ursula BSD, proses pembelajaran dikembangkan secara menyenangkan dan bermakna. Kekhasan kami terletak pada integrasi nilai-nilai spiritual dan intelektual melalui praktik meditasi Kristiani, serta pengenalan dan peneladanan spiritualitas Santa Angela Merici—pendiri Ordo Ursulin y

Selengkapnya

Menyelesaikan Konflik

"Andaikan pada suatu saat karena alasan yang kuat Anda tidak setuju dengan mereka atau menentang pendapat mereka, maka berterus teranglah, dengan berani dan penuh hormat. Apabila mereka tidak mendengarkan Anda, terimalah hal itu dengan sabar" 
(Nas. III: 6-7)

Berita Terbaru

News Image
Di Balik Layar Drama Musikal Festival Pendidikan 170 Tahun Ursulin di Indonesia
Enam ratus sembilan puluh dua murid dari lima sekolah Ursulin Indonesia bersatu dalam sebuah perjalanan panjang untuk menghadirkan drama musikal “Cahaya dari Timur: Nyala Perjuangan Martha Christina Tiahahu”. Di balik pertunjukan yang berlangsung dalam hitungan jam, tersimpan cerita tentang latihan, keberanian, kedisiplinan, dan kebersamaan.Drama musikal menjadi salah satu bagian dari Festival Pendidikan Ursulin Indonesia. Dalam pergelaran “Cahaya dari Timur: Nyala Perjuangan Martha Christina Tiahahu”, murid- murid dari lima sekolah Ursulin Indonesia—Santa Ursula BSD, Santa Ursula Jakarta, Santa Maria, Santa Theresia, dan Vincentius—bertemu dalam satu panggung.Mereka datang dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam. Namun, perbedaan tersebut dipersatukan oleh satu tujuan: menghadirkan sebuah pertunjukan yang tidak hanya menyampaikan kisah perjuangan Martha Christina Tiahahu, tetapi juga menghadirkan semangat kebersamaan. Ketika Ratusan Murid Belajar Menjadi SatuMelibatkan ratusan murid tentu bukan perkara sederhana. Jadwal latihan, koordinasi, hafalan dialog dan lagu, gerakan, blocking, hingga kekompakan harus dipersiapkan dan diselaraskan. Namun, justru di tengah berbagai tantangan tersebut, semangat kolaborasi tumbuh.Anak-anak yang sebelumnya mungkin belum saling mengenal mulai belajar bekerja bersama. Mereka belajar mendengarkan, mengikuti arahan, menghargai peran orang lain, dan bertanggung jawab terhadap bagian masing-masing. Perlahan, mereka tidak lagi hanya melihat diri sebagai murid dari sekolah masing-masing. Mereka menjadi bagian dari satu keluarga yang memiliki tujuan yang sama.Bagi penonton, pertunjukan mungkin hanya berlangsung selama beberapa jam. Namun, di balik penampilan tersebut terdapat perjalanan panjang yang dipenuhi latihan, tantangan, kebersamaan, dan semangat untuk memberikan yang terbaik.Membawakan kisah Martha Christina Tiahahu dan tokoh-tokoh lainnya tidak hanya membutuhkan kemampuan berakting. Pertunjukan juga membutuhkan musikalitas, kemampuan bergerak, kedisiplinan, serta kerja sama yang kuat. Dengan jumlah pemain yang begitu banyak, setiap bagian harus dipersiapkan dengan sungguh-sungguh. Dari Audisi hingga PementasanPerjalanan menuju panggung besar dimulai dari audisi. Setiap murid mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dan potensinya. Melalui proses ini, karakter, kemampuan, dan kesesuaian peran masing-masing murid mulai dikenali. Setelah audisi, perjalanan berlanjut ke rangkaian latihan. Latihan dilakukan berulang kali untuk membangun kesatuan dalam sebuah pertunjukan yang melibatkan begitu banyak orang.Latihan pun tidak berlangsung di satu tempat. Para murid dan pendamping beberapa kali berkumpul dan berlatih di Santa Ursula Jakarta, Santa Maria, hingga latihan terakhir di BSD. Setiap tempat menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju pementasan.Di ruang-ruang latihan itulah proses sesungguhnya berlangsung. Anak-anak menghafalkan dialog dan lagu, mempelajari gerakan serta blocking, sekaligus belajar untuk bersabar, bekerja sama, dan mendengarkan arahan para pendamping dan pelatih. Setiap latihan menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri dan menyatukan langkah. Dari Ruang Latihan ke Istora SenayanSetelah melalui rangkaian latihan yang panjang, tibalah hari yang dinanti. Ruang latihan berganti menjadi panggung besar di Istora Senayan, Jakarta. Ratusan murid yang selama ini berlatih bersama akhirnya tampil di hadapan penonton. Di balik panggung, kesibukan dan ketegangan terasa. Kostum, tata rias, properti, musik, serta berbagai persiapan terakhir harus dipastikan siap. Kemudian, saat lampu panggung menyala, setiap anak mengambil bagian masing-masing.Di atas panggung, mereka membawa hasil dari latihan yang telah dilakukan bersama. Mereka menunjukkan keberanian untuk mencoba, ketekunan untuk berlatih, kesediaan untuk terus belajar, serta kemampuan bekerja sama dengan orang-orang yang sebelumnya mungkin belum mereka kenal. Sebuah Pengalaman yang Lebih Panjang dari PertunjukanFestival Pendidikan Ursulin Indonesia menjadi ruang bagi lima sekolah untuk berjumpa, belajar, dan berkolaborasi. Para murid belajar bahwa sebuah karya besar tidak lahir dari usaha satu orang. Sebuah karya dapat terwujud ketika banyak orang bersedia mengambil bagian, menjalankan tanggung jawab, dan berjalan bersama menuju tujuan yang sama.Pertunjukan di Istora Senayan mungkin telah berakhir. Namun, pengalaman yang diperoleh selama prosesnya akan menjadi bagian yang jauh lebih panjang untuk dikenang. Bukan hanya tentang bagaimana sebuah drama musikal dipentaskan, tetapi tentang bagaimana anak-anak belajar berani mencoba, tekun berlatih, bekerja sama, dan tumbuh bersama dalam sebuah perjalanan yang mempertemukan mereka dari lima sekolah Ursulin Indonesia.
Selengkapnya
News Image
Semangat Kartini: Enam Nilai dalam Aksi
    Dalam rangka memperingati Hari Kartini, SD Santa Ursula BSD mengadakan perayaan sederhana tetapi sarat makna. Kali ini tema yang diusung adalah “Dengan Semangat Kartini Kita Berani, Mandiri, dan Berdaya Juang.    Acara diawali dengan pelaksanaan upacara yang berlangsung dengan khidmat. Dalam amanatnya, Ibu Sriningsih Indriyani Siahaan selaku pembina upacara mengajak siswa untuk menghidupi nilai-nilai dasar Ursulin yaitu Cinta dan Belas Kasih, Integritas, Keberanian & Ketangguhan, Semangat Persatuan (Insieme), Totalitas, dan Pelayanan melalui teladan RA Kartini.    Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan perayaan singkat. Sambutan disampaikan oleh Ibu Dominika Eni Widiyastuti selaku kepala sekolah yang berisi ajakan kepada seluruh siswa untuk mewarisi semangat Kartini dengan cara berani belajar, mandiri dalam bertindak, serta tidak mudah menyerah dalam meraih cita-cita.    Kegiatan berikutnya adalah penampilan perwakilan dari siswa kelas 3 yang memperkenalkan sosok Kartini dan perjuangannya dalam memperjuangkan hak pendidikan untuk kaum wanita.    Acara semakin meriah dengan penampilan fashion show baju daerah yang diikuti oleh perwakilan siswa dari kelas 1 sampai dengan kelas 6. Kegiatan ini tidak hanya menampilkan keindahan ragam budaya Indonesia, tetapi juga menumbuhkan rasa berani, percaya diri, dan ketangguhan siswa saat tampil serta menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya bangsa.    Selanjutnya, untuk menunjukkan semangat persatuan dengan kekompakan, kreativitas, kerja sama, serta kecintaan siswa terhadap warisan budaya Nusantara, seluruh siswa menampilkan medley enam lagu daerah yang dinyanyikan per paralel. Kelas 1 membawakan lagu “Padang Bulan”. Kelas 2 menyanyikan lagu “Ampar-ampar Pisang”. Kelas 3 menyanyikan lagu “Si Patokaan”. Lagu “Ayam Den Lapeh” dibawakan oleh siswa kelas 4, sedangkan kelas 5 menyanyikan lagu “Alusi Au”. Lagu “Rek Ayo Rek” dinyanyikan oleh siswa kelas 6.    Melalui perayaan ini siswa mampu menunjukkan nilai cinta dan belas kasih melalui sikap saling mendukung dan menghargai. Mereka bertanggung jawab dengan peran mereka masing-masing. Nilai totalitas tampak saat mereka memberikan penampilan yang terbaik. Mereka juga mau melayani melalui keterlibatan dalam menyukseskan acara.     Perayaan ini mungkin sederhana, tetapi maknanya luar biasa. Bersama semangat RA Kartini, enam nilai: Cinta dan Belas Kasih, Integritas, Keberanian & Ketangguhan, Semangat Persatuan (Insieme), Totalitas, dan Pelayanan bukan sekadar kata, melainkan aksi nyata-hari ini, esok, dan selamanya.
Selengkapnya
News Image
Emansipasi, Keberanian, dan Pendidikan yang Membebaskan: Refleksi Kartini, Santa Angela, dan Spirit Ursulin
Sejarah perempuan adalah sejarah tentang perjuangan menembus batas. Pada masa ketika ruang gerak perempuan dibatasi oleh norma sosial dan budaya, pendidikan menjadi sesuatu yang nyaris tak terjangkau. Dalam situasi seperti itu, lahirlah sosok-sosok perempuan yang berani melampaui zamannya. Membuka jalan yang sebelumnya tertutup, sekalipun harus menghadapi risiko sosial yang besar. Di Indonesia, kita mengenal Raden Ajeng Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan melalui pendidikan. Sementara itu, jauh sebelumnya di Eropa, Santa Angela Merici telah lebih dahulu menapaki jalan sunyi dengan mendirikan karya pendidikan bagi perempuan. Keduanya dipersatukan oleh semangat yang sama: keberanian untuk peduli dan bertindak demi kemajuan kaum perempuan.Kartini hidup dalam realitas perempuan Jawa yang terkungkung oleh adat dan keterbatasan akses pendidikan. Namun, keterbatasan itu tidak membungkam pikirannya. Melalui surat-suratnya, Kartini menggugat ketidakadilan dan mengungkapkan keyakinannya bahwa pendidikan adalah kunci pembebasan. Baginya, perempuan yang terdidik tidak hanya akan mengangkat martabat dirinya sendiri, tetapi juga mampu membangun peradaban yang lebih manusiawi. Pendidikan, dalam pandangan Kartini, adalah pintu gerbang menuju terang. Sebuah jalan untuk keluar dari “gelap” ketidaktahuan dan keterbelakangan.Semangat serupa telah lebih dahulu hidup dalam diri Santa Angela. Pada abad ke-16, ketika perempuan juga belum mendapatkan tempat dalam dunia pendidikan formal, ia mengambil langkah berani dengan mendirikan komunitas yang berfokus pada pendidikan perempuan. Keputusan ini bukan tanpa risiko. Ia melangkah ke jalan yang belum pernah dilalui, menghadapi tantangan sosial dan budaya yang tidak kecil. Namun, keyakinannya teguh: pendidikan adalah bentuk pelayanan yang memanusiakan. Dalam salah satu pesannya, ia menegaskan, “Hendaklah menjadi cermin bagi mereka, Nasihat ke-6.” Pesan ini tidak hanya ditujukan bagi para pendidik, tetapi menjadi inti dari pedagogi yang menghidupi relasi. Mendidik berarti menghadirkan nilai dalam hidup nyata, menjadi contoh yang hidup bagi sesama.Jika Kartini memperjuangkan kesadaran melalui gagasan dan refleksi, Santa Angela mewujudkannya dalam tindakan konkret melalui pelayanan pendidikan. Keduanya menunjukkan bahwa emansipasi bukan sekadar wacana, melainkan keberanian untuk bertindak demi perubahan. Mereka melihat perempuan bukan sebagai pihak yang lemah, tetapi sebagai pribadi yang memiliki potensi untuk berkembang, belajar, dan memberi makna bagi dunia.Semangat inilah yang terus hidup dalam pendidikan Ursulin masa kini, khususnya di Kampus Santa Ursula BSD. Pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagai pembentukan manusia utuh, cerdas dalam berpikir, matang dalam karakter, dan siap melayani sesama. Dalam kerangka ini, pendidikan menjadi jalan emansipasi yang sesungguhnya yakni membebaskan manusia untuk menjadi dirinya yang utuh sekaligus hadir bagi orang lain.Arah pendidikan ini diwujudkan melalui enam nilai utama yang menjadi fondasi kehidupan bersama: cinta dan belas kasih, integritas, keberanian dan ketangguhan, persatuan, totalitas, dan pelayanan. Nilai-nilai ini bukan sekadar konsep, melainkan jalan hidup yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak.Cinta dan belas kasih mengajak setiap pribadi untuk melihat sesama dengan hati yang peka, seperti  Kartini yang tergerak oleh penderitaan kaumnya. Integritas menuntut kesatuan antara kata dan tindakan, menjadikan setiap pribadi sebagai “cermin” yang hidup, sebagaimana diajarkan Santa Angela. Keberanian dan ketangguhan menjadi roh dari setiap perubahan, mengingatkan bahwa setiap langkah menuju kebaikan selalu menuntut keberanian untuk melawan arus. Persatuan menegaskan bahwa perjuangan tidak dilakukan sendirian, melainkan dalam kebersamaan, insieme. Totalitas mengajak untuk menjalani panggilan hidup dengan sepenuh hati. Dan akhirnya, pelayanan menjadi puncak dari semua nilai bahwa pendidikan bukan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan untuk kebaikan bersama.Dalam terang nilai-nilai ini, pendidikan Ursulin berupaya menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar pencapaian akademik. Ia menjadi ruang pembentukan karakter dan pengalaman pelayanan yang nyata. Di sinilah makna “The School of Choice” menemukan kedalamannya. Bukan sekadar sekolah pilihan karena prestasi, tetapi karena komitmennya dalam membentuk manusia yang utuh, yang mampu memberi makna bagi sesama. Orang memilih bukan hanya untuk menjadi pintar, tetapi untuk belajar menjadi manusia yang peduli dan melayani.Pada akhirnya, refleksi ini mengajak kita untuk melihat benang merah yang menghubungkan Kartini, Santa Angela, dan pendidikan Ursulin masa kini. Kartini telah membuka pintu kesadaran. Santa Angela telah merintis jalan pelayanan melalui pendidikan. Dan pendidikan Ursulin hari ini melanjutkan perjalanan itu dengan menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam praksis nyata.Pertanyaannya kini menjadi refleksi bagi kita: apakah kita sudah berani melangkah seperti mereka? Apakah kita telah menjadi “cermin” yang menghadirkan nilai dalam kehidupan sehari-hari? Sebab pada akhirnya, emansipasi sejati tidak berhenti pada gagasan, tetapi menemukan maknanya dalam tindakan, dalam keberanian untuk mendidik, melayani, dan memanusiakan sesama.
Selengkapnya
News Image
Kegiatan Praremaja
Pada hari Kamis dan Jumat (5 dan 6 Februari 2026), siswa SD Santa Ursula BSD terasa istimewa. Hari itu kami mengikuti kegiatan Praremaja di Gedung Serbaguna. Tujuan kegiatan ini adalah menyiapkan para siswa agar siap memasuki dunia praremaja dengan segala perkembangan yang terjadi, baik fisik maupun psikis. Dalam kegiatan ini, siswa dibagi menjadi 2 kelompok: siswa laki-laki berada di lantai bawah, sedangkan siswa perempuan berada di lantai atas.Saya akan menceritakan kegiatan di kelompok perempuan. Hari pertama, kami dibimbing oleh Dokter Leonita. Kami mempelajari tentang pubertas dan perubahan apa saja yang akan terjadi. Dokter menjelaskan banyak hal tentang tubuh perempuan, seperti bagian tubuh yang mengalami perubahan seiring pertumbuhan kami dan bagaimana proses kehamilan terjadi. Dokter juga membahas tentang rasa sakit yang dirasakan saat awal menstruasi dan cara mengatasinya. Kami juga diajarkan cara menggunakan pembalut, tampon, dan menstrual cup. Kami menonton video tentang siklus menstruasi bersamaan dengan proses kehamilan. Terakhir, ada sesi tanya-jawab bersama dokter. Banyak sekali teman yang bertanya tentang kehamilan. Dokter menjawab semua pertanyaan dengan sabar.Hari kedua, kami dibimbing oleh Kak Febi dan Kak Patricia. Kami mempelajari materi “Membangun Relasi Sehat dengan Diriku dan Sesamaku”. Kami juga membahas sebuah topik yaitu “Saring sebelum Sharing”. Tujuannya adalah agar para perempuan mengetahui relasi yang baik dan yang tidak baik, serta memahami cara menghindari kekerasan sosial. Kak Febi juga menasihati kami untuk berhati-hati dalam menggunakan media sosial serta tidak boleh mengunggah hal-hal yang tidak sopan, bersifat pribadi, dan tidak baik untuk anak-anak. Kami juga mengetahui bahwa tubuh kita adalah tubuh yang kudus karena diciptakan oleh Allah dan harus menjaganya dengan baik. Agar lebih memahami, kami juga ditunjukkan video tentang cara menghindari kekerasan seksual. Terakhir, ada sesi tanya-jawab, dan Kak Febi serta Kak Patricia menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan sabar.Kegiatan Praremaja kali ini sangat bermanfaat bagi para murid agar dapat bersiap menghadapi pubertas dan memasuki dunia praremaja. Saya juga menyadari betapa pentingnya komunikasi tentang proses pubertas ini bersama orang tua. Terima kasih kepada para narasumber yang telah bersedia membimbing kami dalam kegiatan ini. Semoga kami bisa bertemu lagi di tahap pembelajaran berikutnya.
Selengkapnya
News Image
Kegiatan Parenting kelas 3
Pada Sabtu, 24 Januari 2026 SD Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan Parenting untuk orang tua peserta didik kelas 3. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membekali orang tua supaya semakin optimal dalam membersamai perkembangan putra/i mereka yang mulai masuk ke masa praremaja (tweens). Sekolah mengundang Ibu Jovita Maria Ferliana, M.Psi., Psikolog - seorang psikolog anak, remaja, pasangan dan keluarga untuk menjadi narasumber.Adapun tema yang menjadi fokus pembahasan adalah mengenai perkembangan sosial dan emosi, mengingat di masa ini anak-anak mulai memperluas relasi pertemanannya. Selain itu mereka lebih aktif berinteraksi dengan teman sebaya dan memiliki pemahaman emosi yang semakin kompleks. Sejalan dengan hal tersebut, potensi gesekan/konflik yang terjadi dengan teman sebaya juga muncul. Situasi ini merupakan kesempatan untuk anak bisa belajar mengelola emosi dan menyelesaikan permasalahannya. Anak akan belajar cara mencari jalan tengah dari suatu permasalahan dan cara mengendalikan dirinya. Oleh karena itu, respon orang tua menanggapi situasi yang terjadi pada anak menjadi sangat penting.Orang tua hendaknya tidak terburu-buru untuk mengambil alih permasalahan anak, melainkan berikan respon yang mendukung seperti mendengarkan dengan empati, membantu validasi emosi anak, dan mengajak anak memikirkan solusi. Dalam hal ini, orang tua tidak perlu merasa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan sekolah untuk mendapat informasi serta konsistensi penanaman nilai-nilai juga penting dilakukan dalam mengoptimalkan perkembangan anak. 
Selengkapnya
News Image
Kisah Santa Angela
Tahun 1474, tepatnya tanggal 21 Maret,di sebuah rumah sederhana yang terletak di Italia Utara, Desa Desenzano, lahirlah seorang bayi cantik. Angela Merici namanya. Kehadirannya memberikan kehangatan dan kegembiraan dalam sebuah keluarga kecil. Ia lahir di keluarga saleh yang taat beragama. Ayahnya, Giovanni Merici, membacakan kisah orang-orang kudus kepada anak-anaknya. Ibunya, Katarina Biancosi, selalu mengajarkan berbagai keterampilan kerumahtanggaan. Sayangnya, kebahagiaan itu tak bertahan lama. Kedua orang tua Angela meninggal dunia saat Angela berusia 10 tahun. Ia juga kehilangan saudarinya saat berusia 13 tahun. Akhirnya, ia pindah ke kediaman paman dan bibinya di Salo. Selama bersama paman dan bibinya, Angela rajin mengikuti Ekaristi dan tidak lupa mendoakan keluarganya. Hal inilah yang membuat Angela yakin untuk menjadi bagian dari Ordo ketiga Santo Fransiskus. Ia memberikan hidupnya untuk melayani sesama, seperti menghibur para korban perang, memberi makan orang yang kelaparan, dan mengajar anak-anak. Pada tanggal 25 November 1535, Angela dan anggotanya mendirikan kompani Santa Ursula (kini disebut Ordo Santa Ursula). Ia mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan. Ia terus berkarya selama masa hidupnya. Karyanya terhenti pada tanggal 27 Januari 1540. Angela meninggal dunia karena sakit. Jasadnya dimakamkan di Gereja Santa Afra. Dari kisah Santa Angela, kita dapat belajar untuk terus melayani orang yang membutuhkan, mencintai Tuhan (rajin berdoa) dan menjadi sahabat bagi semua orang.
Selengkapnya

Foto Kegiatan