Profil SMP Santa Ursula BSD

SMP Santa Ursula BSD adalah sekolah Katolik yang menghadirkan pendidikan karakter dengan pendekatan modern untuk menumbuhkan setiap pribadi menjadi manusia yang utuh, cerdas, dan mampu melayani. Kami tidak hanya mendidik siswa untuk menjadi cerdas secara kognitif, tetapi juga membentuk keutuhan pribadi melalui pendampingan spiritual, emosional, sosial, dan moral.

Pendidikan di SMP Santa Ursula BSD berakar pada 6 Nilai Dasar Serviam yakni, Cinta dan Belas Kasih, Integritas, Keberanian dan Ketangguhan, Persatuan, Totalitas, dan Pelayanan. Nilai-nilai tersebut dihidupi dan diintegrasikan dalam setiap kegiatan dan menjadi fondasi dalam pengembangan karakter yang menyeluruh. Dengan nilai-nilai serviam tersebut kami j

Selengkapnya

Insieme

"Hiduplah dalam keserasian, bersatu, sehati sekehendak, terikat satu sama lain dengan cinta kasih, saling menghargai, saling membantu, saling bersabar dalam Yesus Kristus"
(Nas.T. 2)

Berita Terbaru

News Image
HARMONIS: Hari dan Momen Bersama Sahabat Kharis
Dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi memegang peranan penting dalam membangun relasi yang harmonis antar sesama. Komunikasi yang baik berawal dari adanya empati dan solidaritas dalam diri, yang tercermin melalui cara kita berinteraksi dengan siapapun tanpa memandang perbedaan. Melalui komunikasi yang tepat, kita dapat memahami perasaan, kebutuhan, serta kondisi orang lain. Oleh karena itu, Seksi Sosial OSIS SMP 2026 merancang program HARMONIS sebagai upaya untuk menumbuhkan empati dan solidaritas dalam berkomunikasi.HARMONIS merupakan singkatan dari “Hari dan Momen Bersama Sahabat Kharis”, sebuah program yang melibatkan perwakilan siswa-siswi SMP Santa Ursula BSD sebagai panitia. Program ini bertujuan untuk mengajak siswa belajar menerima keberagaman melalui kolaborasi dengan Rumah Belajar Kharis, yaitu komunitas bagi individu berkebutuhan khusus di Paroki Gereja Santa Monika. Selain itu, kegiatan ini juga dirancang untuk mengembangkan sikap belas kasih, kepedulian terhadap sesama, semangat berbagi, serta jiwa pelayanan dalam diri siswa.Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 25 April 2026, pukul 09.00–12.30 WIB, bertempat di Hall SMP–SMA Santa Ursula BSD. Seluruh rangkaian acara disusun secara terstruktur agar berjalan lancar dan memberikan pengalaman yang bermakna bagi seluruh peserta. Acara diawali dengan kedatangan anak-anak dari Rumah Belajar Kharis sekitar pukul 10.00 WIB, yang disambut hangat oleh pembawa acara, Gloria dan Winola. Suasana kebersamaan semakin terasa melalui nyanyian lagu “Hari Ini Kurasa Bahagia” yang menciptakan atmosfer ceria dan menyenangkan.Sebelum memasuki inti kegiatan, pembawa acara memberikan penjelasan mengenai aktivitas yang akan dilakukan, yaitu kolase daun kering dan paper quilling. Anak-anak dari Rumah Belajar Kharis dibagi ke dalam dua kelompok sesuai aktivitas. Dalam setiap kegiatan, panitia pendamping berperan aktif mendampingi, memberikan arahan sederhana, membantu secara fisik bila diperlukan, serta membangun interaksi yang hangat agar suasana tetap nyaman dan akrab. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup pada pukul 12.20 WIB oleh pembawa acara, menandai berakhirnya seluruh kegiatan dengan penuh sukacita.Program HARMONIS memberikan dampak positif, baik bagi panitia maupun anak-anak Rumah Belajar Kharis. Para panitia merasakan kehangatan melalui interaksi langsung yang menumbuhkan empati, kesabaran, solidaritas, serta kepedulian dalam berkomunikasi. Di sisi lain, anak-anak Rumah Belajar Kharis menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam setiap kegiatan yang diikuti. Suasana kebersamaan yang penuh kebahagiaan menjadi bukti bahwa program ini berhasil mencapai tujuannya.Bagi saya pribadi sebagai panitia, momen paling berkesan terjadi saat berinteraksi langsung dengan salah satu anak Rumah Belajar Kharis dalam kegiatan kolase daun kering. Pada awalnya, saya merasa canggung dan kesulitan untuk berkomunikasi karena belum terbiasa dengan situasi tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, interaksi yang terjalin justru menumbuhkan rasa solidaritas dan kepedulian dalam diri saya. Setiap respons yang diberikan mengajarkan saya untuk lebih sabar, peka, dan menghargai setiap bentuk komunikasi, sekecil apa pun itu. Pengalaman ini memberikan pembelajaran mendalam bahwa komunikasi tidak selalu harus sempurna, melainkan cukup dilakukan dengan ketulusan hati.Pada akhirnya, program HARMONIS menjadi pengalaman berharga yang tidak hanya memberikan pembelajaran sosial, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kemanusiaan serta mempererat rasa solidaritas di antara para panitia. Oleh karena itu, penting untuk terus menjaga dan menghidupi nilai-nilai yang telah ditanamkan selama program ini dalam kehidupan sehari-hari. Nilai empati, kesabaran, dan kepedulian tidak seharusnya berhenti ketika program berakhir, melainkan terus diterapkan dalam berbagai situasi. Dengan demikian, makna dari program HARMONIS akan terus memberikan dampak yang berkelanjutan.
Selengkapnya
News Image
“SAHABAT”: Where Difference Becomes Harmony
Kegiatan “SAHABAT” menjadi momen penuh makna yang mempererat persahabatan antara Badan Pengurus OSIS SMP Santa Ursula BSD dan SMP Al-Izhar Pondok Labu. Pertemuan pertama dilaksanakan pada Kamis, 12 Februari 2026, di kampus Santa Ursula BSD. Seluruh peserta disambut dengan hangat melalui sesi perkenalan, sambutan dari kepala sekolah dan guru pendamping, serta presentasi mengenai program cinta lingkungan seperti pengomposan, pemilahan sampah, dan hidroponik. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi para siswa untuk saling mengenal sekaligus belajar mengenai pentingnya menjaga lingkungan hidup.Setelah sesi presentasi dan tur kampus, para peserta mengikuti berbagai kegiatan dinamika kelompok di auditorium. Melalui permainan edukatif dan aktivitas lingkungan, para anggota OSIS dari kedua sekolah belajar membangun kerja sama, komunikasi, dan rasa kebersamaan. Suasana kegiatan berlangsung meriah dan penuh semangat, disertai canda tawa yang semakin mencairkan suasana. Kegiatan dilanjutkan dengan makan siang bersama yang menjadi kesempatan untuk berbagi cerita dan pengalaman antarsiswa. Pertemuan ini menjadi awal terjalinnya relasi yang hangat dan penuh persahabatan antara kedua sekolah.Sebagai kunjungan balasan, pada Jumat, 13 Maret 2026, Badan Pengurus OSIS SMP Santa Ursula BSD berkunjung ke SMP Al-Izhar Pondok Labu. Kedatangan rombongan disambut dengan penuh keramahan dan antusiasme. Para peserta diajak berkeliling sekolah untuk mengenal lingkungan serta fasilitas yang dimiliki SMP Al-Izhar Pondok Labu. Selain memperluas wawasan, kegiatan ini juga menumbuhkan rasa saling menghargai terhadap budaya dan lingkungan sekolah yang berbeda.Dalam kunjungan tersebut, para peserta mengikuti diskusi kelompok untuk merancang berbagai ide kolaborasi yang dapat dilakukan di masa mendatang. Selain itu, terdapat kegiatan kreatif berupa eco print pada tote bag menggunakan bahan-bahan alami seperti daun dan bunga. Kegiatan ini mengajarkan kreativitas sekaligus kepedulian terhadap lingkungan. Para siswa juga membuat parsel berisi sembako yang kemudian diberikan kepada para karyawan sekolah sebagai bentuk kepedulian dan semangat berbagi kepada sesama.Rangkaian kegiatan “SAHABAT” ditutup dengan buka puasa bersama yang mencerminkan nilai toleransi, penghargaan, dan kebersamaan di tengah keberagaman latar belakang. Melalui kegiatan ini, para siswa tidak hanya memperoleh pengalaman baru, tetapi juga membangun persahabatan yang hangat, saling mendukung, dan inspiratif. Diharapkan kolaborasi antara SMP Santa Ursula BSD dan SMP Al-Izhar Pondok Labu dapat terus berlanjut melalui berbagai kegiatan positif di masa mendatang, sehingga semangat persahabatan dan kerja sama semakin erat terjalin.
Selengkapnya
News Image
Workshop News Anchor with Ms. Sekar Wanda, TV One News Achor
On Friday, March 13th from 13.30 to 15.00 WIB, Santa Ursula BSD’s English Club hosted a workshop on “Be a Confident News Anchor”, with 32 attending participants. This workshop was the first held by the school’s English Club hence, it became not just an experience, but a lesson for both the attending and hosting students. The workshop was led by a news anchor herself, Ms. Sekar Wanda. Ms. Sekar is a news anchor for TvOne Indonesia. The participants learned about both knowledge and experience from a professional. With this, we learned more than just from textbooks or videos, but here we learnt from real experiences.Ms. Sekar Wanda opened the session by discussing “butterfly moments,” referring to the nervousness often experienced during public speaking. She then provided a broad explanation of what public speaking is and emphasized its importance as a skill to master. Everyone was invited to share their perspectives, highlighting  its usefulness for opportunities such as working abroad and traveling.The session continued with practical tips on managing nervousness and improving speaking skills. Ms. Sekar Wanda explained that effective public speaking requires clarity, confidence, and composure. She encouraged participants to project confidence even when they feel nervous, reinforcing the idea of “fake it till you make it.”She also introduced techniques to engage an audience, such as starting with a compelling story, asking questions, or sharing interesting facts. These strategies help to create a connection between the speaker and the audience. In the purpose of helping us participants visualize the act, Ms. Sekar showed several videos of herself during a live reporting session for TvOne. To gain a full experience, several volunteers participated in a mock interview activity to practice their public speaking skills. The exercise was lively and entertaining, providing both practice and enjoyment for everyone involved. Although the room occasionally became noisy, it was managed effectively, and Ms. Sekar Wanda appeared to thoroughly enjoy the experience.The session ended with a few words of appreciation from the school principal, Mrs. Cicilia Budilestari to Ms. Sekar Wanda, showing our gratefulness and appreciation to her. We then continued with the closing prayer and a group selfie. Though not everyone may dream to be a news anchor, this workshop has guided us through a lot of tips and tricks to public speaking, a key role in chasing hopes and opportunities. One may not be naturally confident like others so with this workshop, we've been educated to help us build our confidence through a few things such as practicing at home, learning from other's experiences, and more. One trick in particular that has really helped many through public speaking so far is "fake it 'till you make it". It may not seem like much but confidence for some isn't just something that comes overnight. However, we also learned that you certainly can fake being assured in yourself until you really feel like you can speak in front of a crowd. To do that, surely you must master the overall topic and to be ready to go off script. For instance, people regularly forget the word-to-word script upon speaking in front of a crowd. So, by mastering the issue, you'll be ready to face the blanks that often come up in your head when you panic. In addition to that, be sure in what you're going to say to convince the crowd in going deeper into the issue that's brought upon them. Body language is a seemingly insignificant thing to pay attention to when practicing. However, every movement from head to toe can influence the way people perceive you. Therefore, having proper body language including eye contact, proper posture, clear pronunciation and articulation, are key aspects to public speaking in general. In conclusion, this workshop was a space for growth. The growth of a student’s skills, and the growth of their confidence. Not everyone may attend to become a real news anchor, or maybe some may change their minds. But the one thing that will never change is that public speaking skills and the confidence they learned will never go to waste. 
Selengkapnya
News Image
Pengalaman Paduan Suara Septem Stellarum dalam Saint Angela International Choir Festival 2026
Pada tanggal 9–15 Februari 2026, Paduan Suara Septem Stellarum mengikuti Saint Angela International Choir Festival (SAICF) 2026 di Bandung pada kategori Mixed Youth (M1). Persiapan menuju lomba ini terbilang cukup singkat karena latihan intensif baru dimulai pada awal Januari. Walaupun demikian, seluruh anggota paduan suara tetap berusaha mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh agar dapat memberikan penampilan terbaik.Sehari sebelum perlombaan dimulai, kami melakukan uji coba panggung di Sekolah Santa Angela, Bandung. Melihat panggung yang besar dan megah membuat saya merasa senang sekaligus gugup. Namun, rasa gugup tersebut perlahan berkurang karena kami percaya dengan latihan dan persiapan yang telah dilakukan.Pada hari perlombaan, suasana tegang sangat terasa ketika kami mempersiapkan diri dan menunggu giliran tampil. Sebelum naik ke panggung, kami melakukan vocalizing dan mendapatkan arahan terakhir dari pelatih serta konduktor kami. Saat akhirnya tampil di panggung, rasa gugup masih ada, tetapi perlahan berubah menjadi semangat dan kepercayaan diri untuk menyanyikan setiap lagu dengan sebaik mungkin.Selama berada di Bandung, kami tidak hanya berlatih, tetapi juga belajar banyak hal bersama. Kami tetap menjalani latihan secara mandiri ketika pelatih tidak dapat mendampingi. Beberapa anggota bergantian memimpin latihan, sementara yang lain memberikan masukan dan evaluasi. Dari pengalaman ini kami belajar tentang tanggung jawab, keberanian memimpin, serta pentingnya kerja sama dalam sebuah tim. Selain itu, kebersamaan selama menginap dan beraktivitas bersama juga membuat hubungan antaranggota menjadi semakin akrab.Momen yang paling membahagiakan adalah ketika diumumkan bahwa Septem Stellarum berhasil lolos ke babak Grand Champion. Kami semua merasa sangat senang dan semakin bersemangat untuk memberikan penampilan terbaik pada babak tersebut. Pada hari penampilan Grand Champion, kami kembali mempersiapkan diri dengan latihan terakhir sebelum tampil di panggung.Meskipun pada akhirnya kami belum berhasil meraih gelar Grand Champion, kami tetap merasa bangga karena Septem Stellarum berhasil meraih Juara 1 pada kategori Mixed Youth. Prestasi tersebut menjadi hasil dari kerja keras, latihan, dan kebersamaan yang telah kami jalani selama proses persiapan hingga perlombaan.Bagi saya pribadi, pengalaman mengikuti lomba ini sangat berharga. Saya belajar untuk lebih percaya diri, bertanggung jawab, serta menghargai kerja sama dalam tim. Selain itu, kebersamaan selama kegiatan ini juga menjadi kenangan yang tidak terlupakan. Semoga dari pengalaman ini, saya dan juga semua anggota Septem Stellarum dapat berkembang dengan jauh lebih baik lagi.
Selengkapnya
News Image
Sharing the Ursuline Spirit: APUEC 2026 Visit to Santa Ursula BSD
The Asia-Pacific Ursuline Education Conference (APUEC) 2026 is an important event in revitalizing collaboration among Ursuline educational institutions in the Asia-Pacific region. The conference was held in Jakarta from March 2–6, 2026 and served as a space for reflection for Ursuline educators. APUEC 2026 carried the theme “Living Angela’s Spirit, Building Bridges for the Future.” Through APUEC, sisters, teachers, school leaders, and Ursuline education practitioners from different countries gathered to discuss various topics in the field of education. The agenda included educational reflection sessions, educator training, cross-country discussions, and visits to Ursuline schools in Indonesia as a means of sharing educational practices. On Thursday, March 5, 2026, 25 APUEC representatives from Ursuline schools around the world (Cambodia, the UK, Taiwan, India, Thailand, Ireland, and Indonesia) visited the Santa Ursula BSD campus. The visit took place from 08:00 to 12:00. At 08.30 the 25 representatives arrived at the Santa Ursula BSD campus and were dropped off at the junior high school gate. Their arrival was warmly welcomed in the SMP-SMA Hall with a gamelan Bali performance by the junior high school students. Afterwards, the representatives listened to the opening remarks from the MC explaining the schedule of the day’s activities and the description of the welcome drinks and snacks prepared by senior high school students from the cooking extracurricular club. The welcome drink served was lemon grass tea. The welcome snacks included kue lumpur, kue mangkok, combro, sosis solo, and many more. After that, the 25 APUEC representatives were divided into five groups to begin the campus tour at 09:00. Each group was accompanied by one teacher and one student. During the campus tour, the representatives visited the four school units on the Santa Ursula BSD campus: Kindergarten (TK), Elementary School (SD – Auditorium), Junior High School (SMP), and Senior High School (SMA). They also visited the hydroponic house, composting area, kitchen, and the SMP-SMA library. The order of locations for each group was different to avoid overlapping schedules. During the campus tour session, they were very enthusiastic, interested, and curious about the facilities available at the Santa Ursula BSD campus, which are very complete. They actively asked questions, took notes, and documented the visit. In my group, there were representatives from Thailand, Taiwan, and Indonesia. They were very active and enthusiastic throughout the campus tour. We shared many stories about the unique characteristics of our respective schools, such as the daily uniforms worn, the learning process, and project-based examinations. The campus tour session for all groups ended at the Santa Ursula BSD Auditorium. At 09:45, the representatives were invited to go to the third floor of the Auditorium to attend the next series of events, which was watching performances by Santa Ursula BSD students. The kindergarten students performed a traditional dance called “Sipatokaan” from North Sulawesi. The elementary school students played degung, when the junior high school students played angklung. Both traditional musical instruments originate from West Java. Next, the senior high school students performed using the traditional musical instrument kolintang, which comes from North Sulawesi. Then, the choir group Los Pajaritos performed the song “Aleluia and Fidia”. Finally, the choir group Septem Stellarum performed the song “ Cantate Domino and Rise” After the performances in the Auditorium, the APUEC representatives were guided by the campus tour guides back to the SMP-SMA Hall for lunch at 11:00. Before lunch, the representatives listened to an explanation about the food prepared by the senior high school students from the cooking extracurricular club. Keroncong music was played during lunch. Their visit to the Santa Ursula BSD campus concluded at 12:00. The representatives then said their goodbyes to continue the next agenda of APUEC 2026. The visit of the APUEC 2026 representatives to the Santa Ursula BSD campus became a memorable experience for everyone involved. This meeting strengthened the bonds among Ursuline schools from different countries and provided a valuable opportunity to learn from one another and share experiences in the field of education. Through this conference, Ursuline schools are expected to continue growing as holistic educational communities that are intelligent and service-oriented, contributing to the education of the nation and becoming a blessing to the people around them.
Selengkapnya
News Image
Menapaki Jakarta, Menumbuhkan Toleransi
Perusakan rumah doa di Padang, persekusi jemaat POUK di Tangerang, hingga penyerangan tempat retret di Sukabumi menjadi pengingat bahwa intoleransi masih menjadi tantangan nyata dalam kehidupan berbangsa di Indonesia. Dalam konteks tersebut, pendidikan memiliki peran penting untuk menanamkan nilai penghargaan terhadap keberagaman sejak dini.Sebagai lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan persaudaraan dalam keberagaman, SMP Santa Ursula BSD berupaya membentuk siswa yang tidak hanya memahami toleransi sebagai konsep, tetapi juga mampu menghidupinya dalam pengalaman nyata. Melalui kegiatan Eksplorasi Budaya, siswa diajak belajar langsung di ruang sosial yang sesungguhnya.Pada Selasa (24/2) dan Rabu (25/2), siswa kelas VIII mengikuti kegiatan eksplorasi budaya dengan mengunjungi lima tempat ibadah dari agama yang berbeda di Jakarta, yaitu Gereja Katedral Jakarta, Gereja Immanuel Gambir, Vihara Sapta Ronggo, Pura Agung Wira Satya Bhuana, serta kawasan Masjid Istiqlal yang diakhiri di Terowongan Silaturahmi.Kegiatan ini bertujuan untuk membantu siswa mengenal keragaman praktik ibadah melalui pemahaman tata cara, simbol, serta kebiasaan keagamaan yang berbeda. Tidak hanya itu, siswa juga dilatih untuk menjaga sikap, tutur kata, serta cara berpakaian yang pantas saat berada di lingkungan sakral milik komunitas iman lain sebagai wujud penghormatan terhadap perbedaan keyakinan.Menariknya, pembelajaran tidak hanya terjadi di tempat tujuan. Dalam kegiatan ini, siswa juga dilatih mengembangkan kecakapan hidup dengan merencanakan perjalanan secara mandiri menggunakan transportasi umum di Jakarta. Setiap kelompok menyusun rute, memperkirakan waktu tempuh, serta mengelola biaya perjalanan sejak keberangkatan hingga kembali ke sekolah. Moda transportasi seperti angkot, bus TransJakarta, MRT, hingga KRL dimanfaatkan siswa dalam proses perjalanan tersebut.Pengalaman membaur dengan masyarakat luas di ruang publik menjadi bagian penting dalam pembelajaran. Siswa tidak hanya belajar mengenai toleransi antaragama, tetapi juga belajar tentang kesederhanaan, empati, serta tanggung jawab sebagai warga kota yang hidup dalam masyarakat multikultural.Seluruh kelompok berkumpul pada pukul 13.00 di Terowongan Silaturahmi sebuah ruang penghubung antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang menjadi simbol persatuan di tengah keberagaman. Di tempat tersebut, siswa diajak merefleksikan pengalaman mereka selama kegiatan berlangsung, sekaligus memahami bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan secara damai.“Kegiatan eksplorasi budaya ini sangat bermanfaat karena saya jadi lebih memahami keragaman cara ibadah dan kebiasaan agama lain secara langsung. Kegiatan ini juga melatih saya untuk bersikap sopan dan menghargai teman-teman yang sedang berpuasa pada hari pelaksanaan,” ujar Alexa Christabel Kesuma dari kelas VIII A.Selain memberikan pemahaman mengenai toleransi, perjalanan bersama teman-teman menggunakan transportasi umum juga menjadi pengalaman yang berkesan bagi siswa. “Kegiatan ini sangat menyenangkan dan menjadi pengalaman baru karena kami bisa bepergian bersama teman-teman menggunakan transportasi umum,” ungkap Aaron Cornelius Kontardjo.Melalui kegiatan eksplorasi budaya ini, diharapkan siswa mampu mengembangkan sikap terbuka terhadap perbedaan, serta tetap mencintai dan mempertahankan identitas iman Kristiani sebagai bagian dari jati diri yang kokoh dalam kehidupan bermasyarakat.
Selengkapnya

Foto Kegiatan