Profil SMP Santa Ursula BSD

SMP Santa Ursula BSD adalah sekolah Katolik yang menghadirkan pendidikan karakter dengan pendekatan modern untuk menumbuhkan setiap pribadi menjadi manusia yang utuh, cerdas, dan mampu melayani. Kami tidak hanya mendidik siswa untuk menjadi cerdas secara kognitif, tetapi juga membentuk keutuhan pribadi melalui pendampingan spiritual, emosional, sosial, dan moral.

Pendidikan di SMP Santa Ursula BSD berakar pada 6 Nilai Dasar Serviam yakni, Cinta dan Belas Kasih, Integritas, Keberanian dan Ketangguhan, Persatuan, Totalitas, dan Pelayanan. Nilai-nilai tersebut dihidupi dan diintegrasikan dalam setiap kegiatan dan menjadi fondasi dalam pengembangan karakter yang menyeluruh. Dengan nilai-nilai serviam tersebut kami j

Selengkapnya

Keteladanan

"Apa yang Anda ingin mereka lakukan, lakukanlah sendiri itu lebih dahulu. Bagaimana Anda bisa mencela atau menegur kekurangan mereka apabila mereka melihat kekurangan itu masih ada dalam diri Anda sendiri" 
(Nas. VI: 2-3)

Berita Terbaru

News Image
Workshop News Anchor with Ms. Sekar Wanda, TV One News Achor
On Friday, March 13th from 13.30 to 15.00 WIB, Santa Ursula BSD’s English Club hosted a workshop on “Be a Confident News Anchor”, with 32 attending participants. This workshop was the first held by the school’s English Club hence, it became not just an experience, but a lesson for both the attending and hosting students. The workshop was led by a news anchor herself, Ms. Sekar Wanda. Ms. Sekar is a news anchor for TvOne Indonesia. The participants learned about both knowledge and experience from a professional. With this, we learned more than just from textbooks or videos, but here we learnt from real experiences.Ms. Sekar Wanda opened the session by discussing “butterfly moments,” referring to the nervousness often experienced during public speaking. She then provided a broad explanation of what public speaking is and emphasized its importance as a skill to master. Everyone was invited to share their perspectives, highlighting  its usefulness for opportunities such as working abroad and traveling.The session continued with practical tips on managing nervousness and improving speaking skills. Ms. Sekar Wanda explained that effective public speaking requires clarity, confidence, and composure. She encouraged participants to project confidence even when they feel nervous, reinforcing the idea of “fake it till you make it.”She also introduced techniques to engage an audience, such as starting with a compelling story, asking questions, or sharing interesting facts. These strategies help to create a connection between the speaker and the audience. In the purpose of helping us participants visualize the act, Ms. Sekar showed several videos of herself during a live reporting session for TvOne. To gain a full experience, several volunteers participated in a mock interview activity to practice their public speaking skills. The exercise was lively and entertaining, providing both practice and enjoyment for everyone involved. Although the room occasionally became noisy, it was managed effectively, and Ms. Sekar Wanda appeared to thoroughly enjoy the experience.The session ended with a few words of appreciation from the school principal, Mrs. Cicilia Budilestari to Ms. Sekar Wanda, showing our gratefulness and appreciation to her. We then continued with the closing prayer and a group selfie. Though not everyone may dream to be a news anchor, this workshop has guided us through a lot of tips and tricks to public speaking, a key role in chasing hopes and opportunities. One may not be naturally confident like others so with this workshop, we've been educated to help us build our confidence through a few things such as practicing at home, learning from other's experiences, and more. One trick in particular that has really helped many through public speaking so far is "fake it 'till you make it". It may not seem like much but confidence for some isn't just something that comes overnight. However, we also learned that you certainly can fake being assured in yourself until you really feel like you can speak in front of a crowd. To do that, surely you must master the overall topic and to be ready to go off script. For instance, people regularly forget the word-to-word script upon speaking in front of a crowd. So, by mastering the issue, you'll be ready to face the blanks that often come up in your head when you panic. In addition to that, be sure in what you're going to say to convince the crowd in going deeper into the issue that's brought upon them. Body language is a seemingly insignificant thing to pay attention to when practicing. However, every movement from head to toe can influence the way people perceive you. Therefore, having proper body language including eye contact, proper posture, clear pronunciation and articulation, are key aspects to public speaking in general. In conclusion, this workshop was a space for growth. The growth of a student’s skills, and the growth of their confidence. Not everyone may attend to become a real news anchor, or maybe some may change their minds. But the one thing that will never change is that public speaking skills and the confidence they learned will never go to waste. 
Selengkapnya
News Image
Pengalaman Paduan Suara Septem Stellarum dalam Saint Angela International Choir Festival 2026
Pada tanggal 9–15 Februari 2026, Paduan Suara Septem Stellarum mengikuti Saint Angela International Choir Festival (SAICF) 2026 di Bandung pada kategori Mixed Youth (M1). Persiapan menuju lomba ini terbilang cukup singkat karena latihan intensif baru dimulai pada awal Januari. Walaupun demikian, seluruh anggota paduan suara tetap berusaha mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh agar dapat memberikan penampilan terbaik.Sehari sebelum perlombaan dimulai, kami melakukan uji coba panggung di Sekolah Santa Angela, Bandung. Melihat panggung yang besar dan megah membuat saya merasa senang sekaligus gugup. Namun, rasa gugup tersebut perlahan berkurang karena kami percaya dengan latihan dan persiapan yang telah dilakukan.Pada hari perlombaan, suasana tegang sangat terasa ketika kami mempersiapkan diri dan menunggu giliran tampil. Sebelum naik ke panggung, kami melakukan vocalizing dan mendapatkan arahan terakhir dari pelatih serta konduktor kami. Saat akhirnya tampil di panggung, rasa gugup masih ada, tetapi perlahan berubah menjadi semangat dan kepercayaan diri untuk menyanyikan setiap lagu dengan sebaik mungkin.Selama berada di Bandung, kami tidak hanya berlatih, tetapi juga belajar banyak hal bersama. Kami tetap menjalani latihan secara mandiri ketika pelatih tidak dapat mendampingi. Beberapa anggota bergantian memimpin latihan, sementara yang lain memberikan masukan dan evaluasi. Dari pengalaman ini kami belajar tentang tanggung jawab, keberanian memimpin, serta pentingnya kerja sama dalam sebuah tim. Selain itu, kebersamaan selama menginap dan beraktivitas bersama juga membuat hubungan antaranggota menjadi semakin akrab.Momen yang paling membahagiakan adalah ketika diumumkan bahwa Septem Stellarum berhasil lolos ke babak Grand Champion. Kami semua merasa sangat senang dan semakin bersemangat untuk memberikan penampilan terbaik pada babak tersebut. Pada hari penampilan Grand Champion, kami kembali mempersiapkan diri dengan latihan terakhir sebelum tampil di panggung.Meskipun pada akhirnya kami belum berhasil meraih gelar Grand Champion, kami tetap merasa bangga karena Septem Stellarum berhasil meraih Juara 1 pada kategori Mixed Youth. Prestasi tersebut menjadi hasil dari kerja keras, latihan, dan kebersamaan yang telah kami jalani selama proses persiapan hingga perlombaan.Bagi saya pribadi, pengalaman mengikuti lomba ini sangat berharga. Saya belajar untuk lebih percaya diri, bertanggung jawab, serta menghargai kerja sama dalam tim. Selain itu, kebersamaan selama kegiatan ini juga menjadi kenangan yang tidak terlupakan. Semoga dari pengalaman ini, saya dan juga semua anggota Septem Stellarum dapat berkembang dengan jauh lebih baik lagi.
Selengkapnya
News Image
Sharing the Ursuline Spirit: APUEC 2026 Visit to Santa Ursula BSD
The Asia-Pacific Ursuline Education Conference (APUEC) 2026 is an important event in revitalizing collaboration among Ursuline educational institutions in the Asia-Pacific region. The conference was held in Jakarta from March 2–6, 2026 and served as a space for reflection for Ursuline educators. APUEC 2026 carried the theme “Living Angela’s Spirit, Building Bridges for the Future.” Through APUEC, sisters, teachers, school leaders, and Ursuline education practitioners from different countries gathered to discuss various topics in the field of education. The agenda included educational reflection sessions, educator training, cross-country discussions, and visits to Ursuline schools in Indonesia as a means of sharing educational practices. On Thursday, March 5, 2026, 25 APUEC representatives from Ursuline schools around the world (Cambodia, the UK, Taiwan, India, Thailand, Ireland, and Indonesia) visited the Santa Ursula BSD campus. The visit took place from 08:00 to 12:00. At 08.30 the 25 representatives arrived at the Santa Ursula BSD campus and were dropped off at the junior high school gate. Their arrival was warmly welcomed in the SMP-SMA Hall with a gamelan Bali performance by the junior high school students. Afterwards, the representatives listened to the opening remarks from the MC explaining the schedule of the day’s activities and the description of the welcome drinks and snacks prepared by senior high school students from the cooking extracurricular club. The welcome drink served was lemon grass tea. The welcome snacks included kue lumpur, kue mangkok, combro, sosis solo, and many more. After that, the 25 APUEC representatives were divided into five groups to begin the campus tour at 09:00. Each group was accompanied by one teacher and one student. During the campus tour, the representatives visited the four school units on the Santa Ursula BSD campus: Kindergarten (TK), Elementary School (SD – Auditorium), Junior High School (SMP), and Senior High School (SMA). They also visited the hydroponic house, composting area, kitchen, and the SMP-SMA library. The order of locations for each group was different to avoid overlapping schedules. During the campus tour session, they were very enthusiastic, interested, and curious about the facilities available at the Santa Ursula BSD campus, which are very complete. They actively asked questions, took notes, and documented the visit. In my group, there were representatives from Thailand, Taiwan, and Indonesia. They were very active and enthusiastic throughout the campus tour. We shared many stories about the unique characteristics of our respective schools, such as the daily uniforms worn, the learning process, and project-based examinations. The campus tour session for all groups ended at the Santa Ursula BSD Auditorium. At 09:45, the representatives were invited to go to the third floor of the Auditorium to attend the next series of events, which was watching performances by Santa Ursula BSD students. The kindergarten students performed a traditional dance called “Sipatokaan” from North Sulawesi. The elementary school students played degung, when the junior high school students played angklung. Both traditional musical instruments originate from West Java. Next, the senior high school students performed using the traditional musical instrument kolintang, which comes from North Sulawesi. Then, the choir group Los Pajaritos performed the song “Aleluia and Fidia”. Finally, the choir group Septem Stellarum performed the song “ Cantate Domino and Rise” After the performances in the Auditorium, the APUEC representatives were guided by the campus tour guides back to the SMP-SMA Hall for lunch at 11:00. Before lunch, the representatives listened to an explanation about the food prepared by the senior high school students from the cooking extracurricular club. Keroncong music was played during lunch. Their visit to the Santa Ursula BSD campus concluded at 12:00. The representatives then said their goodbyes to continue the next agenda of APUEC 2026. The visit of the APUEC 2026 representatives to the Santa Ursula BSD campus became a memorable experience for everyone involved. This meeting strengthened the bonds among Ursuline schools from different countries and provided a valuable opportunity to learn from one another and share experiences in the field of education. Through this conference, Ursuline schools are expected to continue growing as holistic educational communities that are intelligent and service-oriented, contributing to the education of the nation and becoming a blessing to the people around them.
Selengkapnya
News Image
Menapaki Jakarta, Menumbuhkan Toleransi
Perusakan rumah doa di Padang, persekusi jemaat POUK di Tangerang, hingga penyerangan tempat retret di Sukabumi menjadi pengingat bahwa intoleransi masih menjadi tantangan nyata dalam kehidupan berbangsa di Indonesia. Dalam konteks tersebut, pendidikan memiliki peran penting untuk menanamkan nilai penghargaan terhadap keberagaman sejak dini.Sebagai lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan persaudaraan dalam keberagaman, SMP Santa Ursula BSD berupaya membentuk siswa yang tidak hanya memahami toleransi sebagai konsep, tetapi juga mampu menghidupinya dalam pengalaman nyata. Melalui kegiatan Eksplorasi Budaya, siswa diajak belajar langsung di ruang sosial yang sesungguhnya.Pada Selasa (24/2) dan Rabu (25/2), siswa kelas VIII mengikuti kegiatan eksplorasi budaya dengan mengunjungi lima tempat ibadah dari agama yang berbeda di Jakarta, yaitu Gereja Katedral Jakarta, Gereja Immanuel Gambir, Vihara Sapta Ronggo, Pura Agung Wira Satya Bhuana, serta kawasan Masjid Istiqlal yang diakhiri di Terowongan Silaturahmi.Kegiatan ini bertujuan untuk membantu siswa mengenal keragaman praktik ibadah melalui pemahaman tata cara, simbol, serta kebiasaan keagamaan yang berbeda. Tidak hanya itu, siswa juga dilatih untuk menjaga sikap, tutur kata, serta cara berpakaian yang pantas saat berada di lingkungan sakral milik komunitas iman lain sebagai wujud penghormatan terhadap perbedaan keyakinan.Menariknya, pembelajaran tidak hanya terjadi di tempat tujuan. Dalam kegiatan ini, siswa juga dilatih mengembangkan kecakapan hidup dengan merencanakan perjalanan secara mandiri menggunakan transportasi umum di Jakarta. Setiap kelompok menyusun rute, memperkirakan waktu tempuh, serta mengelola biaya perjalanan sejak keberangkatan hingga kembali ke sekolah. Moda transportasi seperti angkot, bus TransJakarta, MRT, hingga KRL dimanfaatkan siswa dalam proses perjalanan tersebut.Pengalaman membaur dengan masyarakat luas di ruang publik menjadi bagian penting dalam pembelajaran. Siswa tidak hanya belajar mengenai toleransi antaragama, tetapi juga belajar tentang kesederhanaan, empati, serta tanggung jawab sebagai warga kota yang hidup dalam masyarakat multikultural.Seluruh kelompok berkumpul pada pukul 13.00 di Terowongan Silaturahmi sebuah ruang penghubung antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang menjadi simbol persatuan di tengah keberagaman. Di tempat tersebut, siswa diajak merefleksikan pengalaman mereka selama kegiatan berlangsung, sekaligus memahami bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan secara damai.“Kegiatan eksplorasi budaya ini sangat bermanfaat karena saya jadi lebih memahami keragaman cara ibadah dan kebiasaan agama lain secara langsung. Kegiatan ini juga melatih saya untuk bersikap sopan dan menghargai teman-teman yang sedang berpuasa pada hari pelaksanaan,” ujar Alexa Christabel Kesuma dari kelas VIII A.Selain memberikan pemahaman mengenai toleransi, perjalanan bersama teman-teman menggunakan transportasi umum juga menjadi pengalaman yang berkesan bagi siswa. “Kegiatan ini sangat menyenangkan dan menjadi pengalaman baru karena kami bisa bepergian bersama teman-teman menggunakan transportasi umum,” ungkap Aaron Cornelius Kontardjo.Melalui kegiatan eksplorasi budaya ini, diharapkan siswa mampu mengembangkan sikap terbuka terhadap perbedaan, serta tetap mencintai dan mempertahankan identitas iman Kristiani sebagai bagian dari jati diri yang kokoh dalam kehidupan bermasyarakat.
Selengkapnya
News Image
Kelas VIII Beraksi, Budaya Sunda Jadi Inspirasi!
Pada Jumat, 6 Februari 2026, SMP Santa Ursula BSD memiliki suasana yang berbeda dari biasanya. Siswa-siswi kelas VIII baru saja menggelar acara SAMEKAR yang berarti Sanurian Motekar yang dalam Bahasa Sunda berarti kreatif. Acara ini merupakan hasil tindak lanjut dari perjalanan karyawisata mereka ke Sundanese Cultural Park, Tamansari, Bogor. Sebagai siswa yang ikut menyaksikan, kami merasa acara ini bukan sekadar pemenuhan tugas sekolah, melainkan sebuah bentuk hiburan yang edukatif dan berkesan. Siswa-siswi juga dapat mengalami suasana yang berbeda pada hari itu.Acara ini terdiri dari 3 sesi yaitu istirahat pertama pukul 09.15 WIB, dilanjutkan dengan kunjungan siswa-siswi kelas IV SD, sesi istirahat kedua pukul 11.45 WIB, dan diakhiri dengan refleksi serta evaluasi murid SMP. Jika biasanya kami menggunakan waktu istirahat untuk memakan bekal atau berinteraksi dengan teman, kali ini kami menyaksikan penampilan Tari Jaipong dan Pencak Silat di Hall SMP/SMA Santa Ursula BSD. Penampilan tersebut dibawakan oleh 8 penari Tari Jaipong dan 6 penampil Pencak Silat dengan sangat keren dan mengesankan.Tari Jaipong adalah sebuah jenis tarian tradisional budaya Sunda yang pertama kali diperkenalkan pada sekitar tahun 1970-an oleh seorang seniman bernama Gugum Gumbira. Secara umum, tarian ini melambangkan semangat, keceriaan, dan keharmonisan hidup masyarakat Sunda. Selain itu, Tari Jaipong juga menjadi suatu sarana komunikasi budaya yang mampu mempererat hubungan sosial di masyarakat. Sementara itu, olahraga pencak silat merupakan seni ketangkasan tubuh tradisional asal Jawa Barat yang mengajarkan teknik bela diri, serta menanamkan nilai-nilai disiplin, keberanian, serta ketangguhan. Pencak berarti gerak dasar bela diri yang memiliki peraturan, sedangkan silat memiliki arti gerakan bela diri yang utuh dan bersumber dari rohani. Fungsinya tidak hanya untuk membela diri, namun juga sebagai seni pertunjukan.Shine, salah satu penampil Tari Jaipong, berbagi cerita kepada kami mengenai dedikasinya selama masa persiapan. Ia mengakui adanya rasa lelah karena harus menjalani latihan intensif hingga pukul 15.00 setiap hari selama hampir dua minggu. Hal senada disampaikan oleh Avner, penampil Pencak Silat, yang merasa proses latihan menjadi tantangan tersendiri akibat keterbatasan waktu. Namun, segala kendala tersebut terbayar dengan kepuasan mereka atas keberhasilan penampilan pada hari pelaksanaan.   Semangat melestarikan budaya juga terpancar kuat dari daya juang para penampil. Shine mengingatkan kita semua bahwa budaya adalah identitas bangsa yang harus senantiasa dijaga, sementara Avner dan timnya membuktikan bahwa kekompakan adalah kunci utama di balik pertunjukan yang memukau. Melalui setiap gerakan yang penuh tenaga dan kebanggaan, kami dapat merasakan dedikasi tulus yang mereka berikan untuk acara ini.Apresiasi juga datang dari para penonton. Micha dari kelas 9C merasa kagum dan mengatakan bahwa acara ini unik serta menyenangkan karena siswa-siswi SMP dapat menonton pertunjukan seni sambil bersantai. Selain itu, Xavier dari kelas 7B pun setuju bahwa suasana istirahat menjadi lebih meriah dan membangkitkan semangat. Mendengar hal tersebut, Lionel selaku bagian dari kelompok kepanitiaan merasa senang karena sebagian besar peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Tim kepanitiaan bahkan menerima banyak pujian, baik dari tenaga pendidik maupun sesama siswa.Di balik kemeriahan tersebut, terdapat kerja keras dari sekitar 80 orang panitia. Aaron dan Tishia dari Divisi Perlengkapan bercerita bahwa mereka harus membagi waktu istirahat dan pulang lebih sore demi menyiapkan kebutuhan teknis. Selain kendala waktu, Lionel sebagai Panitia Inti mengakui bahwa menyatukan berbagai pendapat merupakan tantangan tersendiri. Ia juga menjelaskan bahwa proses dekorasi membutuhkan waktu lama demi menghasilkan visual yang berkualitas. Kami merasa dedikasi tersebut tidak sia-sia, karena dekorasi yang kreatif berhasil menciptakan atmosfer budaya Sunda yang sangat kental.Keseruan pun berlanjut saat kami berkumpul di aula untuk mendengarkan penjelasan mengenai makna di balik karya-karya seni Sunda yang ditunjukkan pada hari itu. Kami mempelajari filosofi tarian hingga makna motif lukisan pada kipas tradisional, seperti motif Mega Mendung (Awan Sunda), Bulu Hayam, dan Kawung Aren. Ternyata, selembar kipas anyaman bambu menyimpan pesan mendalam tentang persatuan dan keharmonisan manusia dengan alam. Sesi kuis interaktif pada akhir penjelasan juga membuat suasana menjadi sangat seru, karena kami ditantang menunjukkan pemahaman kami. Setelah itu, kami juga melakukan refleksi bersama melalui media kertas post-it warna-warni sebagai penutup acara SAMEKAR. Melalui tulisan-tulisan tersebut, terlihat jelas bahwa acara SAMEKAR berhasil menanamkan rasa cinta yang lebih besar terhadap budaya Indonesia, meninggalkan kesan mendalam bagi kami semua tentang pentingnya menjaga warisan nenek moyang.Perjalanan dari kunjungan karyawisata hingga berakhirnya program SAMEKAR meninggalkan kesan yang mendalam bagi seluruh siswa SMP Santa Ursula BSD. Kami merasa beruntung karena berkesempatan untuk mengenal lebih dekat budaya Sunda dan memahami filosofi di balik setiap tradisinya. Lebih dari sekadar tugas, pengalaman ini mengajarkan kami nilai-nilai penting, seperti rasa hormat saat mengapresiasi karya orang lain, sikap disiplin dalam berproses, serta kekuatan kolaborasi yang menjadi kunci utama keberhasilan acara kami.Secara keseluruhan, acara SAMEKAR merupakan sebuah keberhasilan kolektif yang memadukan kreativitas, edukasi, dan pelestarian budaya. Melalui penampilan seni Tari Jaipong dan Pencak Silat, serta pameran karya seni tradisional, acara ini tidak hanya berfungsi sebagai bentuk pelaporan hasil karyawisata, tetapi juga berhasil menanamkan rasa bangga dan cinta terhadap identitas budaya Sunda di lingkungan sekolah. Dedikasi tinggi dari para penampil dan kerja keras panitia terbukti mampu menciptakan atmosfer belajar yang unik dan inspiratif bagi seluruh warga sekolah, sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya Indonesia agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.Tim Reporter / Jurnalis  : Mary Chriselle Vania / 7B / 18Celica Amanda Sutanto / 8B / 9Klaudius Rafael Setiawan / 8E / 23 Narasumber : Jerome Xavier Jarmanto / 7B / 13Aaron Cornelius Kontardjo / 8A / 1Lionel Dwitama Sandjaya / 8B / 21Shine Tiara Nafthaly 8B / 28Tishia Adeline Tanumihardja 8B / 32Avner Aurelius Simanjorang / 8D / 4Michaela Sarah Putri Darmudji / 9C / 21
Selengkapnya
News Image
Creating a Poem with Ms. Anggum
On Thursday, 12 February 2026, from 13.30 to 15.00, the Sanurian English Club held an inspiring and creative session with the theme “Love the Nature through a Poem.” The activity aimed to help students understand the basic theory of poetry and express their ideas and feelings through simple yet meaningful poems.The meeting began with an explanation of the theory of poetry. The teacher introduced the definition of a poem, its purpose, and types of poem. Students learned that a poem does not always have to be long or complicated. Instead, it should express thoughts and emotions in a creative and imaginative way. Several examples of short poems were shared to help students understand how words can create strong images and feelings.After learning the theory, students were invited to observe a living thing around them. They could choose plants in the school garden, small animals they noticed, or even their friends as inspiration. The purpose of this activity was to train students to pay attention to details, such as colors, movements, sounds, and feelings, so they could describe them vividly in their poems.Next, students began creating their own short poems. They were encouraged to use simple language but meaningful expressions. Some students wrote about flowers, while others described nature, small trees, and so on. The classroom atmosphere was calm and focused, yet full of creativity and excitement.At the end of the session, several students volunteered to read their poems aloud in front of the group. This activity helped them build confidence in speaking English. Overall, the English Club activity was both educational and enjoyable. Students not only learned the theory of poetry but also practiced observing, writing, and reading in English. The session successfully encouraged creativity, confidence, and a deeper appreciation for the beauty of words.Here are the examples of students’ poems.My 4 SeasonsBy : Chloe Adiwinata Wind and blue skies Birds fly and flowers swayHere I am, sitting by the benchWaiting for you to pass my way Summer arrivesAnd time fliesThe Sun shines so bright Like my life when you arrive  But fall is different Not like the othersIt's calm and quiet Yet speaks the most in the back of my mind And now it's cold outsideThough it's warm in my heartThe way we danced through the moonlightDrinking hot chocolate with our favorite vibes This is our storyThis is our lifeThis is our memoryThis is our light This is who we areAnd who we'll always beLet it be recorded with timeThe four best seasons of my life Life from the eyes of the leavesBy : Eliana Trees overgrown by mossLike a hug after a lossWarmth spreading all across The breeze rattles the TreesFlowers pollinated by the beesLife must be easy, so carefree Trees grow , nonestopRecovering even after a chop Giving shelter to all, even the birds who sit a top
Selengkapnya

Foto Kegiatan