Semangat Serviam diwujudkan secara nyata oleh murid SMA Santa Ursula BSD melalui kegiatan pelayanan kemanusiaan di wilayah Keuskupan Sibolga, Sumatera Utara. Selama enam hari, 26–31 Januari 2026, sepuluh murid bersama dua guru pendamping hadir untuk membantu pemulihan pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda kawasan tersebut. Kegiatan ini tidak hanya menjadi aksi solidaritas, tetapi juga pengalaman pembelajaran hidup yang mendalam bagi para murid.
Perjalanan dimulai dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Raja Sisingamangaraja XII, dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju Kota Pandan, Tapanuli Tengah. Sepanjang perjalanan, rombongan menyaksikan langsung dampak bencana: perbukitan yang longsor, rumah warga yang hilang, serta jalanan yang rusak. Namun di tengah situasi tersebut, terlihat pula semangat warga yang tetap berjuang melanjutkan kehidupan, termasuk anak-anak yang tetap bersekolah dengan keterbatasan.
Selama di Sibolga, para murid tinggal di Biara OSF San Damiano dan Seminari Menengah Santo Petrus. Kegiatan diawali dengan pengenalan lingkungan terdampak bencana, dilanjutkan dengan pelayanan di SMA Santo Fransiskus. Para murid berinteraksi dengan para murid setempat melalui kegiatan perkenalan, berbagi cerita, permainan, serta kerja bakti membersihkan ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, dan lapangan sekolah yang masih dipenuhi lumpur. Antusiasme dan ketangguhan murid setempat menjadi pengalaman berharga yang menguatkan makna pendidikan sebagai harapan di tengah keterbatasan.
Pada hari-hari berikutnya, relawan dari sekolah SMA Santa Ursula BSD dan SMA Santa Ursula Jakarta menyalurkan donasi perlengkapan sekolah ke berbagai lokasi, termasuk sekolah darurat di Hutanabolon, TK Don Bosco, SD St. Fransiskus, serta Gereja Stasi Kristus Raja di Huta Godang. Di lokasi-lokasi tersebut, murid SMA Santa Ursula BSD bersama SMA Santa Ursula Jakarta mengadakan kegiatan bermain, bernyanyi, dan belajar bersama anak-anak. Kehadiran mereka disambut hangat oleh masyarakat, sekaligus menjadi sarana pemulihan psikososial bagi anak-anak terdampak bencana.
Guru pendamping, Bapak Hieronimus Yuwan Pratama, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pembelajaran kontekstual yang menanamkan empati, kepedulian sosial, dan semangat melayani. “Para murid tidak hanya memberi, tetapi juga belajar dari ketangguhan masyarakat yang tetap tersenyum dan berjuang membangun kembali kehidupan,” ujarnya.
Melalui pengalaman ini, para murid menyadari bahwa pelayanan bukan sekadar memberikan bantuan materi, melainkan juga membangun relasi, menghadirkan harapan, dan belajar mensyukuri kehidupan. Nilai kesederhanaan, kerja sama, dan keberanian untuk bangkit dari keterpurukan menjadi pelajaran utama yang mereka bawa pulang.
Kegiatan pelayanan di Sibolga menjadi bukti nyata komitmen SMA Santa Ursula BSD dalam membentuk pribadi yang peduli, tangguh, dan siap melayani sesama. Semangat serviam yang dihidupi dalam pengalaman ini diharapkan terus bertumbuh dalam kehidupan sehari-hari para murid.
Dokumentasi: Bapak Hieronimus Yuwan Pratama (Guru Pendamping)
Perjalanan Pelayanan Murid Santa Ursula BSD di Sibolga: Belajar Ketangguhan dari Korban Bencana
Dari Riset ke Prestasi: Murid Kelas XII Tampilkan Karya Tulis Ilmiah Berbasis Nilai Serviam
Menyusuri Dunia Industri Bersama PT Amerta Indah Otsuka
Perjalanan Melewati Batas Diri Bersama Outward Bound Indonesia (OBI)
Proyek Literasi Bahasa Inggris Lanjutan Siswa Kelas XI melalui Antologi Cerpen Berbahasa Inggris