Pada awal semester ke-2, siswa kelas VII diajak untuk mempelajari teknik komunikasi I-message atau pesan “saya” di jam pembelajaran Bimbingan Konseling (BK). Teknik komunikasi ini dikembangkan oleh seorang ahli bernama Thomas Gordon (1962), yang dikenal sebagai Gordon Model atau Parent Effectiveness Training (PET). Teori ini berfokus pada komunikasi interpersonal tanpa kekerasan, pendengaran aktif, dan penyelesaian konflik tanpa kalah (win-win). Konsep utamanya meliputi I-message (pesan "Saya") untuk mengekspresikan perasaan tanpa menuduh, serta membangun disiplin diri.
Dalam setiap jam pelajaran BK, siswa selalu diajak untuk mengenali perasaannya dan memberikan skala pada perasaan yang ia rasakan sehingga siswa makin mengenali dirinya. Dalam salah satu teori emosi yang dikemukakan oleh Daniel Goleman (1995), kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence/EQ) jauh lebih menentukan kesuksesan hidup dan profesional (sekitar 80%) dibandingkan IQ. EQ melibatkan kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri serta orang lain, yang terbagi ke dalam lima komponen utama: kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial. Untuk itu, penting sekali setiap siswa selalu diajak untuk menyadari diri dan perasaannya.
Kolase Foto:
Tahap selanjutnya, setelah siswa terbiasa untuk mengenali dan memberikan skala pada perasaannya, mereka diajak untuk belajar berkomunikasi dengan cara mengungkapkan perasaannya seperti dalam teori komunikasi dari Thomas Gordon. Dalam teori komunikasi tersebut ada banyak tahapan dalam berkomunikasi, namun siswa kelas 7 hanya diperkenalkan pada Teknik I-message atau pesan “saya”. Teknik I-message atau pesan saya merupakan teknik komunikasi yang berfokus pada perasaan atau keyakinan pembicara tanpa menuduh atau menyalahkan lawan bicara. Ini membantu menyampaikan pesan secara tegas dan mendorong tanggung jawab serta membuat siswa terhindar dari konflik relasi berkepanjangan serta rasa baper yang sering mereka alami.
Rumus: Saya merasa [perasaan] + bila kamu [perilaku] + saya ingin [harapan].
Dengan mempelajari Teknik ini, siswa diharapkan dapat meningkatkan hubungan interpersonal dan disiplin diri, terutama dalam lingkungan keluarga dan relasi pertemanan mereka di kelas. Setelah memahami konsepnya secara teoritis, siswa diajak untuk membuat contoh dengan menciptakan situasi serta kata-kata dengan prinsip I-message. Mereka juga diajak untuk membuat role play sederhana secara berkelompok dengan durasi kurang lebih 2 menit untuk menunjukkan praktek penggunaan I-message secara langsung. Contoh role play siswa dapat diakses melalui QR Code.
Creating a Poem with Ms. Anggum
Sains, Iman, dan Aksi: Semangat Prapaskah 2026 dalam Pembelajaran IPA Energi Terbarukan
No Baper-baper Club – Belajar Berkomunikasi Menggunakan Teknik I-Message
RISE (Reviving Indonesia’s Forest Ecosystem)
Pelantikan OSIS SMP Santa Ursula BSD 2026: Menghidupi Cinta, Integritas, dan Tanggung Jawab dalam Semangat Serviam