Semangat pembelajaran bermakna kembali dihidupi oleh Tim Guru IPA SMP Santa Ursula BSD melalui kegiatan eksplorasi energi terbarukan yang tidak hanya memperkaya wawasan sains siswa, tetapi juga menumbuhkan kesadaran ekologis yang mendalam. Pembelajaran ini menjadi semakin relevan dalam terang Surat Gembala Prapaskah 2026 bertema “Kepedulian pada Alam Ciptaan” yang dikeluarkan oleh Keuskupan Agung Jakarta. Seruan tersebut mengajak seluruh umat untuk membangun pertobatan ekologis sebagai wujud iman yang nyata dalam menjaga bumi, rumah kita bersama.
Dalam pembelajaran IPA, siswa tidak hanya mempelajari konsep energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan air secara teoritis, tetapi juga diajak melihat praktik konkret di lingkungan sekolah. Pemasangan panel surya di area sekolah menjadi bukti nyata komitmen sekolah dalam mendukung penggunaan energi bersih dan ramah lingkungan. Kehadiran panel surya ini bukan sekadar fasilitas teknologi, melainkan sarana edukasi hidup yang menunjukkan bahwa pilihan terhadap energi terbarukan adalah langkah nyata berpihak pada keselamatan bumi.
Melalui pendekatan pembelajaran bermakna dan berkelanjutan, siswa diajak memahami bahwa krisis lingkungan bukan sekadar isu global yang jauh dari kehidupan mereka. Guru memfasilitasi ruang diskusi reflektif: mengapa energi fosil semakin menipis dan berdampak pada perubahan iklim? Bagaimana generasi muda dapat menjadi bagian dari solusi? Apa konsekuensi dari gaya hidup yang boros energi? Pertanyaan-pertanyaan ini membantu siswa mengintegrasikan pengetahuan kognitif dengan sikap dan nilai yang mereka hidupi.
Masa Prapaskah 2026 semakin memperdalam proses pembelajaran ini. Masa refleksi dan pertobatan tidak hanya dimaknai sebagai praktik spiritual pribadi, tetapi juga sebagai panggilan untuk memperbaiki relasi dengan alam ciptaan. Inspirasi dari ensiklik Laudato Si' karya Paus Fransiskus menegaskan bahwa merawat bumi adalah bagian dari tanggung jawab iman. Seruan Gereja tersebut diterjemahkan secara konkret di ruang kelas melalui komitmen aksi nyata.
Sebagai wujud tanggung jawab pribadi, setiap siswa tidak hanya diajak membuat komitmen secara lisan atau tertulis, tetapi juga menjalankannya melalui aksi yang terukur dan dapat dipantau. Selama masa Prapaskah 2026, siswa diminta mencatat secara konsisten kebiasaan hemat energi dan air yang dilakukan setiap hari di rumah. Misalnya, siswa menetapkan target mematikan lampu saat ruangan tidak digunakan, mencabut charger dan perangkat elektronik yang tidak digunakan, membatasi penggunaan pendingin ruangan atau kipas angin hanya saat benar-benar diperlukan, serta memanfaatkan cahaya matahari pada siang hari sebagai sumber penerangan alami.
Dalam hal penghematan air, siswa melakukan langkah konkret seperti membatasi waktu mandi maksimal lima menit, menampung air bekas cucian beras untuk menyiram tanaman, memastikan keran tertutup rapat setelah digunakan, serta melaporkan kebocoran air di rumah kepada orang tua. Beberapa siswa bahkan diajak berdiskusi bersama keluarga untuk menghitung perkiraan penggunaan listrik mingguan melalui meteran rumah dan membandingkannya setelah dua minggu menjalankan komitmen hemat energi.
Pembelajaran energi terbarukan ini memperlihatkan bagaimana sains, iman, dan aksi sosial dapat berjalan beriringan. Di SMP Santa Ursula BSD, pendidikan tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi bertujuan membentuk pribadi yang utuh: cerdas secara intelektual, peka secara sosial, dan bertanggung jawab secara ekologis. Dalam terang Surat Gembala Prapaskah 2026, sekolah menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pendidikan yang berpihak pada keselamatan bumi dan keberlanjutan masa depan.
Salam Serviam!
Creating a Poem with Ms. Anggum
Sains, Iman, dan Aksi: Semangat Prapaskah 2026 dalam Pembelajaran IPA Energi Terbarukan
No Baper-baper Club – Belajar Berkomunikasi Menggunakan Teknik I-Message
RISE (Reviving Indonesia’s Forest Ecosystem)
Pelantikan OSIS SMP Santa Ursula BSD 2026: Menghidupi Cinta, Integritas, dan Tanggung Jawab dalam Semangat Serviam