Pada Jumat, 6 Februari 2026, SMP Santa Ursula BSD memiliki suasana yang berbeda dari biasanya. Siswa-siswi kelas VIII baru saja menggelar acara SAMEKAR yang berarti Sanurian Motekar yang dalam Bahasa Sunda berarti kreatif. Acara ini merupakan hasil tindak lanjut dari perjalanan karyawisata mereka ke Sundanese Cultural Park, Tamansari, Bogor. Sebagai siswa yang ikut menyaksikan, kami merasa acara ini bukan sekadar pemenuhan tugas sekolah, melainkan sebuah bentuk hiburan yang edukatif dan berkesan. Siswa-siswi juga dapat mengalami suasana yang berbeda pada hari itu.
Acara ini terdiri dari 3 sesi yaitu istirahat pertama pukul 09.15 WIB, dilanjutkan dengan kunjungan siswa-siswi kelas IV SD, sesi istirahat kedua pukul 11.45 WIB, dan diakhiri dengan refleksi serta evaluasi murid SMP. Jika biasanya kami menggunakan waktu istirahat untuk memakan bekal atau berinteraksi dengan teman, kali ini kami menyaksikan penampilan Tari Jaipong dan Pencak Silat di Hall SMP/SMA Santa Ursula BSD. Penampilan tersebut dibawakan oleh 8 penari Tari Jaipong dan 6 penampil Pencak Silat dengan sangat keren dan mengesankan.
Tari Jaipong adalah sebuah jenis tarian tradisional budaya Sunda yang pertama kali diperkenalkan pada sekitar tahun 1970-an oleh seorang seniman bernama Gugum Gumbira. Secara umum, tarian ini melambangkan semangat, keceriaan, dan keharmonisan hidup masyarakat Sunda. Selain itu, Tari Jaipong juga menjadi suatu sarana komunikasi budaya yang mampu mempererat hubungan sosial di masyarakat. Sementara itu, olahraga pencak silat merupakan seni ketangkasan tubuh tradisional asal Jawa Barat yang mengajarkan teknik bela diri, serta menanamkan nilai-nilai disiplin, keberanian, serta ketangguhan. Pencak berarti gerak dasar bela diri yang memiliki peraturan, sedangkan silat memiliki arti gerakan bela diri yang utuh dan bersumber dari rohani. Fungsinya tidak hanya untuk membela diri, namun juga sebagai seni pertunjukan.
Shine, salah satu penampil Tari Jaipong, berbagi cerita kepada kami mengenai dedikasinya selama masa persiapan. Ia mengakui adanya rasa lelah karena harus menjalani latihan intensif hingga pukul 15.00 setiap hari selama hampir dua minggu. Hal senada disampaikan oleh Avner, penampil Pencak Silat, yang merasa proses latihan menjadi tantangan tersendiri akibat keterbatasan waktu. Namun, segala kendala tersebut terbayar dengan kepuasan mereka atas keberhasilan penampilan pada hari pelaksanaan.
Semangat melestarikan budaya juga terpancar kuat dari daya juang para penampil. Shine mengingatkan kita semua bahwa budaya adalah identitas bangsa yang harus senantiasa dijaga, sementara Avner dan timnya membuktikan bahwa kekompakan adalah kunci utama di balik pertunjukan yang memukau. Melalui setiap gerakan yang penuh tenaga dan kebanggaan, kami dapat merasakan dedikasi tulus yang mereka berikan untuk acara ini.
Apresiasi juga datang dari para penonton. Micha dari kelas 9C merasa kagum dan mengatakan bahwa acara ini unik serta menyenangkan karena siswa-siswi SMP dapat menonton pertunjukan seni sambil bersantai. Selain itu, Xavier dari kelas 7B pun setuju bahwa suasana istirahat menjadi lebih meriah dan membangkitkan semangat. Mendengar hal tersebut, Lionel selaku bagian dari kelompok kepanitiaan merasa senang karena sebagian besar peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Tim kepanitiaan bahkan menerima banyak pujian, baik dari tenaga pendidik maupun sesama siswa.
Di balik kemeriahan tersebut, terdapat kerja keras dari sekitar 80 orang panitia. Aaron dan Tishia dari Divisi Perlengkapan bercerita bahwa mereka harus membagi waktu istirahat dan pulang lebih sore demi menyiapkan kebutuhan teknis. Selain kendala waktu, Lionel sebagai Panitia Inti mengakui bahwa menyatukan berbagai pendapat merupakan tantangan tersendiri. Ia juga menjelaskan bahwa proses dekorasi membutuhkan waktu lama demi menghasilkan visual yang berkualitas. Kami merasa dedikasi tersebut tidak sia-sia, karena dekorasi yang kreatif berhasil menciptakan atmosfer budaya Sunda yang sangat kental.
Keseruan pun berlanjut saat kami berkumpul di aula untuk mendengarkan penjelasan mengenai makna di balik karya-karya seni Sunda yang ditunjukkan pada hari itu. Kami mempelajari filosofi tarian hingga makna motif lukisan pada kipas tradisional, seperti motif Mega Mendung (Awan Sunda), Bulu Hayam, dan Kawung Aren. Ternyata, selembar kipas anyaman bambu menyimpan pesan mendalam tentang persatuan dan keharmonisan manusia dengan alam.
Sesi kuis interaktif pada akhir penjelasan juga membuat suasana menjadi sangat seru, karena kami ditantang menunjukkan pemahaman kami. Setelah itu, kami juga melakukan refleksi bersama melalui media kertas post-it warna-warni sebagai penutup acara SAMEKAR. Melalui tulisan-tulisan tersebut, terlihat jelas bahwa acara SAMEKAR berhasil menanamkan rasa cinta yang lebih besar terhadap budaya Indonesia, meninggalkan kesan mendalam bagi kami semua tentang pentingnya menjaga warisan nenek moyang.
Perjalanan dari kunjungan karyawisata hingga berakhirnya program SAMEKAR meninggalkan kesan yang mendalam bagi seluruh siswa SMP Santa Ursula BSD. Kami merasa beruntung karena berkesempatan untuk mengenal lebih dekat budaya Sunda dan memahami filosofi di balik setiap tradisinya. Lebih dari sekadar tugas, pengalaman ini mengajarkan kami nilai-nilai penting, seperti rasa hormat saat mengapresiasi karya orang lain, sikap disiplin dalam berproses, serta kekuatan kolaborasi yang menjadi kunci utama keberhasilan acara kami.
Secara keseluruhan, acara SAMEKAR merupakan sebuah keberhasilan kolektif yang memadukan kreativitas, edukasi, dan pelestarian budaya. Melalui penampilan seni Tari Jaipong dan Pencak Silat, serta pameran karya seni tradisional, acara ini tidak hanya berfungsi sebagai bentuk pelaporan hasil karyawisata, tetapi juga berhasil menanamkan rasa bangga dan cinta terhadap identitas budaya Sunda di lingkungan sekolah. Dedikasi tinggi dari para penampil dan kerja keras panitia terbukti mampu menciptakan atmosfer belajar yang unik dan inspiratif bagi seluruh warga sekolah, sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya Indonesia agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Tim Reporter / Jurnalis :
Mary Chriselle Vania / 7B / 18
Celica Amanda Sutanto / 8B / 9
Klaudius Rafael Setiawan / 8E / 23
Narasumber :
Jerome Xavier Jarmanto / 7B / 13
Aaron Cornelius Kontardjo / 8A / 1
Lionel Dwitama Sandjaya / 8B / 21
Shine Tiara Nafthaly 8B / 28
Tishia Adeline Tanumihardja 8B / 32
Avner Aurelius Simanjorang / 8D / 4
Michaela Sarah Putri Darmudji / 9C / 21
Kelas VIII Beraksi, Budaya Sunda Jadi Inspirasi!
Creating a Poem with Ms. Anggum
Sains, Iman, dan Aksi: Semangat Prapaskah 2026 dalam Pembelajaran IPA Energi Terbarukan
No Baper-baper Club – Belajar Berkomunikasi Menggunakan Teknik I-Message
RISE (Reviving Indonesia’s Forest Ecosystem)