Menapaki Jakarta, Menumbuhkan Toleransi

  • Posted: 2026-03-06
  • By: Raden Valentinus Biaggi

Perusakan rumah doa di Padang, persekusi jemaat POUK di Tangerang, hingga penyerangan tempat retret di Sukabumi menjadi pengingat bahwa intoleransi masih menjadi tantangan nyata dalam kehidupan berbangsa di Indonesia. Dalam konteks tersebut, pendidikan memiliki peran penting untuk menanamkan nilai penghargaan terhadap keberagaman sejak dini.

Sebagai lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan persaudaraan dalam keberagaman, SMP Santa Ursula BSD berupaya membentuk siswa yang tidak hanya memahami toleransi sebagai konsep, tetapi juga mampu menghidupinya dalam pengalaman nyata. Melalui kegiatan Eksplorasi Budaya, siswa diajak belajar langsung di ruang sosial yang sesungguhnya.

Pada Selasa (24/2) dan Rabu (25/2), siswa kelas VIII mengikuti kegiatan eksplorasi budaya dengan mengunjungi lima tempat ibadah dari agama yang berbeda di Jakarta, yaitu Gereja Katedral Jakarta, Gereja Immanuel Gambir, Vihara Sapta Ronggo, Pura Agung Wira Satya Bhuana, serta kawasan Masjid Istiqlal yang diakhiri di Terowongan Silaturahmi.

Kegiatan ini bertujuan untuk membantu siswa mengenal keragaman praktik ibadah melalui pemahaman tata cara, simbol, serta kebiasaan keagamaan yang berbeda. Tidak hanya itu, siswa juga dilatih untuk menjaga sikap, tutur kata, serta cara berpakaian yang pantas saat berada di lingkungan sakral milik komunitas iman lain sebagai wujud penghormatan terhadap perbedaan keyakinan.

Menariknya, pembelajaran tidak hanya terjadi di tempat tujuan. Dalam kegiatan ini, siswa juga dilatih mengembangkan kecakapan hidup dengan merencanakan perjalanan secara mandiri menggunakan transportasi umum di Jakarta. Setiap kelompok menyusun rute, memperkirakan waktu tempuh, serta mengelola biaya perjalanan sejak keberangkatan hingga kembali ke sekolah. Moda transportasi seperti angkot, bus TransJakarta, MRT, hingga KRL dimanfaatkan siswa dalam proses perjalanan tersebut.

Pengalaman membaur dengan masyarakat luas di ruang publik menjadi bagian penting dalam pembelajaran. Siswa tidak hanya belajar mengenai toleransi antaragama, tetapi juga belajar tentang kesederhanaan, empati, serta tanggung jawab sebagai warga kota yang hidup dalam masyarakat multikultural.

Seluruh kelompok berkumpul pada pukul 13.00 di Terowongan Silaturahmi sebuah ruang penghubung antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral yang menjadi simbol persatuan di tengah keberagaman. Di tempat tersebut, siswa diajak merefleksikan pengalaman mereka selama kegiatan berlangsung, sekaligus memahami bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan secara damai.

“Kegiatan eksplorasi budaya ini sangat bermanfaat karena saya jadi lebih memahami keragaman cara ibadah dan kebiasaan agama lain secara langsung. Kegiatan ini juga melatih saya untuk bersikap sopan dan menghargai teman-teman yang sedang berpuasa pada hari pelaksanaan,” ujar Alexa Christabel Kesuma dari kelas VIII A.

Selain memberikan pemahaman mengenai toleransi, perjalanan bersama teman-teman menggunakan transportasi umum juga menjadi pengalaman yang berkesan bagi siswa. “Kegiatan ini sangat menyenangkan dan menjadi pengalaman baru karena kami bisa bepergian bersama teman-teman menggunakan transportasi umum,” ungkap Aaron Cornelius Kontardjo.

Melalui kegiatan eksplorasi budaya ini, diharapkan siswa mampu mengembangkan sikap terbuka terhadap perbedaan, serta tetap mencintai dan mempertahankan identitas iman Kristiani sebagai bagian dari jati diri yang kokoh dalam kehidupan bermasyarakat.