Latihan Dasar Kepemimpinan Badan Pengurus OSIS Periode 2026: Menumbuhkan Pribadi Berdaya Juang, Tulus, dan Tuntas

  • Posted: 2026-02-28
  • By: FX. Suryo Kumoro Jatie

Selama tiga hari, Senin-Rabu, 23-25 Februari 2026, Aula Kampus Santa Ursula BSD diubah menjadi ruang pembentukan karakter bagi Badan Pengurus OSIS SMA Santa Ursula BSD. Sejak pukul 07.00 hingga 15.00 WIB, sebanyak 34 anggota Badan Pengurus OSIS Periode 2026 menjalani proses yang tidak sekadar melatih keterampilan organisasi, tetapi menantang cara berpikir, cara berkomunikasi, dan cara memaknai kepemimpinan.

Di bawah pendampingan tim Care for Excellent Life’s Directions (CELD) bersama Kak Ollyn, Kak Guntur, dan Kak Gandhi, serta didampingi oleh Pembina OSIS Pak Oky dan Pak Suryo, dan Kepala Sekolah Bapak Catur Agus Sancoko serta Ibu Fransisca Erijani Rosari, selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) BP OSIS tahun ini diarahkan sebagai organisasi yang utuh secara intelektual, emosional, dan karakter. Tema yang diusung, “Pribadi Berdaya Juang: Tulus, Tuntas, dan Totalitas”, bukan sekadar slogan. Tema itu dihidupi dalam setiap dinamika pelatihan selama tiga hari tersebut.

Hari pertama tidak langsung berbicara tentang program atau jabatan. Para peserta justru diajak menyelami pertanyaan-pertanyaan sederhana: Apa kesamaan kita? Mengapa kita memilih divisi di OSIS adalah ini... Apa yang sebenarnya kita cari dalam OSIS ini?

Dari pertanyaan personal tentang kesukaan, nilai hidup, hingga harapan terhadap organisasi, perlahan terbangun kesadaran bahwa mereka bukan sekadar individu dengan seksi masing-masing, melainkan satu tubuh kepengurusan. Sesi wawasan organisasi membuka pemahaman bahwa struktur bukan sekadar pembagian kerja, melainkan sistem kepercayaan. Setiap orang memiliki peran yang sama pentingnya. Kegiatan ditutup dengan permainan tim, sebagai wujud penyatuan visi di hari pertama pelatihan.

Hari kedua masuk lebih dalam dan berfokus pada membangun kedewasaan berpikir. Organisasi, sebagaimana ditegaskan dalam sesi hari kedua, berdiri di atas komunikasi. Namun komunikasi bukan sekadar pesan yang sampai, melainkan cara pesan itu disampaikan. Gestur, nada suara, ekspresi wajah, semuanya memengaruhi organisasi.

Peserta mulai menyadari bahwa menjadi pemimpin berarti mampu memimpin diri sendiri terlebih dahulu. Selain itu pelatihan ini menekankan pada menjaga semangat ketika lelah dan banyak tekanan. Mengatur “battery” semangat agar tidak padam sampai akhir kepengurusan selesai. Kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling keras berbicara, tetapi siapa yang paling konsisten bertanggung jawab. 

Memasuki sesi penyusunan kerangka berpikir program kerja, idealisme mulai diuji oleh realitas. Program tidak boleh hanya besar dalam gagasan, tetapi harus realistis. Diskusi terlihat menjadi lebih serius. Ada ide-ide ambisius yang harus dipertimbangkan ulang. Ada gagasan kreatif yang perlu disederhanakan agar dapat diwujudkan. Di sinilah peserta belajar bahwa tuntas berarti mampu menyelesaikan sesuatu dengan perhitungan matang, bukan sekadar semangat sesaat.

Sore hari, berbagai simulasi pembangunan karakter kembali diuji dengan game kekompakan. Berjalan dengan mata tertutup dari aula menuju lapangan, dengan satu rekan sebagai penunjuk arah, melatih kepercayaan dan kepekaan. Permainan memindahkan bola dengan tali menuntut koordinasi dan kesabaran. Sementara mempertahankan lilin dari serangan bom air menjadi simbol menjaga komitmen di tengah gangguan dan tekanan.

Hari ketiga menjadi puncak proses. Fokus diarahkan pada manajemen organisasi melalui simulasi rapat penyusunan program kerja BP OSIS Periode 2026. Dalam simulasi tersebut, peserta menjalankan rapat sebagaimana kondisi nyata kepengurusan. Mereka membahas program kerja yang akan dijalankan selama satu periode, dengan mempertimbangkan efektivitas, prioritas, dan kesinambungan kegiatan. Dinamika langsung terasa: ada perbedaan pendapat, ada gagasan yang saling bersaing, ada momen ketika keputusan harus diambil. Simulasi ini bukan untuk mencari siapa yang paling benar, melainkan untuk melihat bagaimana komunikasi dijaga, bagaimana delegasi dilakukan, dan bagaimana keputusan diambil secara kolektif. 

Selain itu, melalui simulasi membuat kegiatan sederhana digunakan untuk melatih arah struktur komunikasi dan instruksi dalam BP OSIS. Dengan diberikan tantangan membuat dekorasi momen Kebangkitan Yesus dengan barang-barang yang tersedia di aula. Dalam kegiatan ini pengurus OSIS kembali diuji dalam hal kreativitas, adaptif, pembagian tugas, dan kepemimpinan situasional. Ketika waktu terbatas dan sumber daya sederhana, kepemimpinan diuji dalam praktik, bukan teori. Kegiatan ini menegaskan bahwa organisasi bukan sekadar konsep di atas kertas. Tetapi hidup dalam kegiatan diskusi, perbedaan pendapat, dan kemampuan untuk tetap bergerak maju bersama. 

Ada kutipan menarik yang saya temukan dalam pelatihan ini, “Berjuang untuk menjadi pemenang itu seperti melawan arus, jika kamu tidak maju, kamu akan didorong mundur.” Kalimat ini menjadi benang merah seluruh rangkaian LDK BP OSIS Periode 2026. Daya juang bukan sekadar keberanian di awal, melainkan konsistensi untuk terus maju meskipun lelah, berbeda pendapat, atau menghadapi keterbatasan. Dari pelatihan ini lahir komitmen baru, menjadi pribadi yang tulus dalam niat melayani, tuntas dalam menyelesaikan tanggung jawab, dan total dalam menghidupi setiap amanah yang dipercayakan. Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang seberapa tinggi posisi yang dipegang, tetapi seberapa kuat karakter yang dibangun.

 

Dokumentasi: Tim Dokumentasi Kegiatan