Alumni Berbagi: Menemukan Arti Persahabatan Sejati Tanpa Bullying di SMP Santa Ursula BSD
"Penasaran," kata itu bergema di benak saya saat guru mengumumkan akan ada kegiatan Alumni Berbagi di SMP Santa Ursula BSD. Pada 14 Agustus 2026, sekolah kami menghadirkan sosok-sosok hebat dari ALUSIA (Alumni Santa Ursula Indonesia). Kelas 7A kedatangan dua alumni yang kini tengah menempuh pendidikan di bangku kuliah, yaitu Kak Dion dan Kak Natya. Senyum hangat mereka memancarkan energi positif di dalam kelas. Terlihat jelas bahwa mereka telah mempersiapkan seluruh rangkaian acara ini dengan sangat matang.
Kegiatan diawali dengan perkenalan dari Kak Natya dan Kak Dion. Sebelum masuk ke materi utama, Kak Natya mengajak kami bermain gim "Berdiri Kalau Kamu..." sebagai pembakar semangat. Selain seru, gim ini menjadi sarana refleksi untuk mengukur seberapa jauh kami mengenal teman sekelas. Ada banyak pertanyaan menarik, seperti berdiri jika dalam beberapa minggu terakhir pernah salah menyebut nama teman, atau berdiri jika sudah mengobrol dengan semua teman sekelas. Kak Dion menjelaskan bahwa wajar jika kami belum terlalu akrab, mengingat baru beberapa bulan kami melangkah di gedung SMP ini.
Sebagai alumni, Kak Natya dan Kak Dion pernah berada di posisi kami. Kak Natya bercerita tentang pengalamannya saat dahulu menjadi murid baru. Sebagai lulusan dari sekolah terdahulu yang menggunakan bahasa Inggris, ia sempat merasa takut dan kesulitan dalam berbahasa Indonesia. Beruntung, teman-teman sekelasnya dengan tulus membantu tanpa ada yang mengejek atau merundung (bullying). Suasana kelas yang ramah, solid, peduli, dan saling mendukung membuat Kak Natya merasa aman serta mampu melewati tantangan tersebut.
Pada sesi kedua, kami berpindah ke aula untuk memainkan gim "Benang Pertemanan". Kami membentuk lingkaran dan bergantian melempar gulungan benang ke teman lain sambil menyebutkan satu hal baik yang pernah dilakukan teman tersebut. Helaian benang yang terhubungkan perlahan membentuk jaring-jaring. Saat memegang ujung benang, terkadang tumpukan benang itu mengendur, tetapi kemudian bisa dipererat kembali. Melalui refleksi kelas, kami belajar bahwa benang tersebut merepresentasikan hubungan pertemanan.
Persahabatan terkadang bisa mengendur karena konflik kecil, hal yang wajar dalam dinamika remaja, tetapi selalu bisa direkatkan kembali dengan saling menghargai. Lewat permainan ini, kami juga makin saling mengenal dan menghormati satu sama lain.
Acara dilanjutkan dengan dinamika kelompok. Kami dibagi ke dalam kelompok kecil yang menggabungkan lulusan SD Santa Ursula BSD dan SD luar. Tugas kami adalah membangun menara dari sedotan plastik dalam dua sesi yang masing-masing berdurasi 20 menit. Pada sesi pertama, kami dilarang berkomunikasi secara verbal. Tanpa kata-kata, cukup sulit untuk memahami satu sama lain, tetapi kelompok kami tetap berusaha maksimal. Kemudian pada sesi kedua, kami diperbolehkan berkomunikasi sehingga proses pengerjaan menjadi jauh lebih mudah dan lancar karena kami bisa saling bertukar ide.
Meski kelompok kami belum menjadi pemenang, pelajaran berharga yang saya petik bukan soal kalah atau menang, melainkan pentingnya proses kerja sama. Kak Dion menegaskan bahwa komunikasi yang jujur dan santun adalah kunci utama untuk menjaga hubungan pertemanan tetap sehat, harmonis, serta bebas dari perundungan. Di tengah aktivitas kelompok, Kak Dion menempelkan sticky notes di setiap meja yang digunakan untuk menuliskan pertanyaan atau pendapat terkait materi hari itu. Kak Natya dan Kak Dion bergiliran menjawab pertanyaan kami, dan karena serunya sesi ini, waktu terasa berlalu begitu cepat.
Sebagai penutup kegiatan Alumni Berbagi, kami berfoto bersama dan merumuskan komitmen kelas agar hubungan kami makin solid tanpa sekat. Saya sangat bersyukur dapat mengikuti kegiatan ini karena ada banyak nilai kehidupan yang saya dapatkan. Nilai totalitas saya temukan dari kesungguhan hadir 100% dalam mengikuti seluruh rangkaian acara. Nilai persatuan hadir saat kami saling menghargai pendapat dan bekerja sama dalam kelompok. Sementara itu, nilai keberanian dan ketangguhan tercermin dari keberanian kami untuk bertanya, berpendapat, serta pantang menyerah menghadapi tantangan. Semoga saya bisa terus menjaga pertemanan yang sehat, baik, positif, dan saling merangkul tanpa bullying, baik di dalam maupun di luar sekolah. Terima kasih Kakak-Kakak Alumni, dan terima kasih SMP Santa Ursula BSD atas pengalaman yang sangat berharga ini!
