Mensyukuri Setiap Privilese yang Kita Miliki: Perwakilan BP OSIS SMP Santa Ursula BSD 2025 Menyambangi Rumah Singgah KAJ

  • Posted: 2026-01-08
  • By: Sabia Minerva Marendra / IX-C

Santa Ursula BSD merupakan salah satu dari segelintir sekolah yang sangat mendalami dan memprioritaskan pendidikan karakter bagi siswa-siswinya. Sekolah menyediakan bahan dan sarana pendidikan karakter yang begitu lengkap, salah satunya yang begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari siswa-siswi adalah 6 Nilai Serviam dan 10 Nilai Santa Ursula yang saling mendukung untuk pemenuhan 3 Daya Jiwa. Santa Ursula BSD sangat memegang teguh nilai-nilai tersebut demi terbentuknya karakter siswa berbasis ajaran Katolik yang siap beradaptasi menghadapi tuntutan zaman.

Dalam penerapan nilai-nilai tersebut, sekolah tidak melulu menggunakan metode doktrin atau pengajaran intensif. Nilai-nilai tersebut acap kali dibalut dalam pengadaan kegiatan-kegiatan kreatif yang diselenggarakan organisasi tertentu. Salah satu kegiatan kreatif yang baru saja diadakan adalah kegiatan garapan Badan Pengurus OSIS SMP Santa Ursula BSD masa bakti tahun 2025. Kegiatan yang dimaksud diberi nama “SENADA” yang merupakan singkatan dari “Sanurian Berekspresi dalam Desain Merchandise”. Program “SENADA” tahun 2025 sendiri mengusung tema “Embrace the Spirit of Serviam”, yang pada dasarnya mengajak siswa-siswi SMP Santa Ursula BSD untuk semakin memahami dan menerapkan nilai-nilai ajaran sekolah dalam hidup sehari-hari. 

Program “SENADA” sendiri memiliki dua bentuk kegiatan. Kegiatan pertama, adalah lomba desain merchandise yang terbuka bagi semua siswa-siswi SMP Santa Ursula BSD. Lomba ini diadakan pada bulan Agustus - September 2025 dan diikuti sebanyak 37 siswa lintas angkatan kelas VII - IX. Lima hasil desain terbaik diambil dan dicetak menjadi dua bentuk merchandise yaitu bentuk kaos oblong dan totebag. Kegiatan kedua adalah penjualan merchandise tersebut. Merchandise dijual kepada anggota komunitas internal Kampus Santa Ursula BSD lintas unit, mulai dari KB sampai SMA, tak lupa menyertakan guru-guru, karyawan, dan pengurus Yayasan. Proses penjualan dilaksanakan pada bulan November 2025 lalu. Seluruh keuntungan yang didapatkan dari penjualan ini disumbangkan kepada Yayasan Rumah Teduh Suryo.

Yayasan Rumah Teduh Suryo sendiri merupakan proyek rumah singgah milik KAJ yang didirikan oleh Rm. Josep Susanto, Pr. Yayasan ini menyediakan tempat ‘singgah’ bagi pasien anak-anak dan orangtua mereka yang berdomisili di luar DKI Jakarta dan dirujuk untuk melakukan pengobatan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Rumah singgah ini berlokasi di daerah Senen, Jakarta Pusat.

Pada hari Rabu, 17 Desember 2025, perwakilan dari Badan Pengurus OSIS SMP Santa Ursula BSD yakni dua (2) anggota Seksi Sosial dan dua (2) anggota Seksi Kesenian pergi mengunjungi Rumah Teduh Suryo untuk melakukan simbolisasi penyerahan uang donasi. Kesan pertama saya terhadap rumah singgah tersebut sangatlah positif. Dinding-dinding bangunan dicat warna-warni menimbulkan kesan optimis yang begitu kuat. Setiap sudut rumah juga bersih, tertata rapi, dan terlihat nyaman ditinggali. Saat kami berkunjung, kami disambut hangat oleh pengurus yayasan. Kami juga menemui beberapa pasien dan keluarga yang sedang menjalani hari di dalam bangunan tersebut. Setelah berbincang-bincang dengan pengurus yayasan, kami mengetahui bahwa RTS kala itu tengah menampung 34 pasien anak beserta keluarga mereka masing-masing. Pasien-pasien tersebut mengidap penyakit kronis tidak menular yang berbeda-beda.

Selama di sana, satu hal yang paling menonjol bagi saya dalam dinamika kehidupan penghuni RTS adalah suasana kekeluargaan yang begitu kental. Kami dijelaskan bahwa penghuni RTS telah mengikuti seleksi ketat sebelum diizinkan tinggal. Salah satu kriterianya adalah memiliki Surat Resmi Keterangan Tidak Mampu dan harus berdomisili di luar provinsi DKI Jakarta. Fakta ini mendorong saya untuk menyadari bahwa setiap penghuni di sana memiliki nasib yang sama, menanggung beban yang sama berat, sehingga mereka saling memahami keadaan satu sama lain. Pemahaman dan pengertian yang ada tersirat jelas dalam kehangatan interaksi antar penghuni yang sedikit saya saksikan di sana. Selain itu, kami juga dijelaskan bahwa para keluarga pasien tidak semerta-merta hidup enak di dalam rumah singgah tersebut. Mereka harus menjalankan kewajiban rumah tangga, mulai dari menyapu hingga memasak, secara bergantian, secara bersama-sama. Hal ini pastinya menambah kekompakan dan persaudaraan yang ada di sana. Bagi saya, hal ini begitu indah dan menjadi bukti nyata bahwa hangat kemanusiaan masih tetap eksis di era gempuran digital yang begitu kuat saat ini.

Di atas kehangatan dalam interaksi penghuni RTS, tentunya saya juga kembali disadarkan akan pentingnya selalu bersyukur atas segala karunia Allah yang masih saya terima sampai saat ini, secara khusus karunia kesehatan. Melihat senyum dan semangat adik-adik pasien RTS yang sedang berjuang melawan penyakit benar-benar membuka mata saya bahwa mereka saja masih bisa bersyukur dan tersenyum menjalani hari-hari penuh tantangan. Berarti saya yang beruntung juga harus lebih sering melakukannya. Setelah kunjungan hari itu, program “SENADA” tidak lagi hanya sekedar program OSIS yang saya rencanakan dan laksanakan bersama teman-teman OSIS. Namun, program “SENADA” ternyata menjadi pengingat bagi saya untuk selalu bersyukur dan selalu berusaha menebarkan kehangatan persaudaraan bagi semua orang di sekitar saya. Saya sadar bahwa nilai Kepekaan, Persatuan, Pelayanan, serta Cinta dan Belas Kasih, yang sering disebut-sebut di sekolah, bukan hanya sekedar barisan kata,  melainkan strategi nyata bagi kita untuk mempertahankan relasi antar manusia yang nyata, berbasis kepedulian, cinta, dan pelayanan seturut kehendak dan ajaran Tuhan kita Yesus Kristus dalam berbagai tuntutan zaman yang kita hadapi.