Menjadi Delegasi ke Jepang pada Usia 15 tahun : Pentingnya Fasih Berbahasa dan Literasi

  • Posted: 2024-04-23
  • By: Amabelle Naraya Turana, IX-C/7

Perkenalkan, nama saya Amabelle Naraya Turana. Seorang siswi yang berada di bangku kelas IX, SMP Santa Ursula BSD. Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan suatu kesempatan besar yang membawa saya ke Jepang.

Pada akhir tahun 2023, ada sebuah komunitas bernama "SejutaCita Future Leaders" singkatnya, SFL. SFL mengadakan salah satu kompetisi nasional terbesar dan itu adalah program keenam mereka. Ada 3 pilihan kompetisi, saya memilih semuanya, tetapi saya lebih fokus pada kompetisi esai. Saya harus dapat memperkenalkan diri dan menyampaikan aspirasi saya dalam 300 kata sesuai ketentuannya. Saat itulah saya sadar bahwa kemampuan berbahasa dan cara mengungkapkan pokok pikiran sangatlah penting. Saya tidak pernah membuat esai sebelumnya, sehingga saya harus melakukan riset terkait esai secara mandiri dan berliterasi terkait tema esai. Namun, kemampuan berbahasa dan literasi saya sudah dilatih di selama di SMP. Pembelajaran tidak lepas dari literasi non-fiksi maupun fiksi, ditambah lagi kebahasaan saya yang meningkat karena pengalaman berorganisasi dalam Presidium Siswa.

Ada pertarungan pertama, kemudian saya berhasil menjadi salah satu dari 50% dari ribuan peserta. Pada bulan Desember 2023, itu adalah hari yang telah saya tunggu-tunggu, yaitu hari pengumuman. Pemenangnya adalah mereka yang terpilih dalam top 150. Disitulah saya duduk dengan jantung berdebar sangat cepat. "Amabelle Naraya Turana, SMP Santa Ursula BSD," nama saya tertera dalam file pengumuman itu.

1 bulan sebelum tanggal penerbangan, saya dan 15 delegasi lainnya melakukan sesi bonding untuk mempersiapkan keberangkatan kami secara virtual. Awalnya, saya cukup takut, hanya ada dua delegasi yang masih berada di bangku SMP, termasuk saya. Delegasi lainnya sudah berada di bangku SMA, perguruan tinggi, dan bahkan ada dua di antaranya yang sudah bekerja. Namun, sesuatu yang ingin saya tingkatkan disana adalah keberanian saya untuk menyampaikan gagasan saya. Setiap kegiatan kebersamaan dan kesempatan yang ada, saya mengambilnya. Saya sering membagikan gagasan dan diminta mentor saya untuk mencatat informasi dalam setiap sesi bonding.

Kami dibagi menjadi beberapa divisi dan saya dipercayakan untuk menjadi ketua divisi perlengkapan. Hal itu merupakan awalan yang bagus, saya dapat bekerja sama dengan delegasi lainnya dalam divisi itu untuk mempersiapkan buku panduan, merchandise, spanduk, dll. Tanggal 29 Februari, hari ketika kami akhirnya bertemu di bandara. Saya mencoba membuat kesan pertama yang baik dan juga mulai bercakap-cakap dengan delegasi lainnya. Saya juga berbicara dengan Kak Andhika, CEO dan penemu komunitas SFL. Beliau bertanya kepada saya, "Apa tujuan kamu di sini?" Saya menjawabnya, "Saya ingin meningkatkan keberanian saya dalam setiap aspek karena saya yang paling kecil di sini."

Saya berhasil mencapai tujuan tersebut. Itu merupakan perjalanan kepemimpinan selama 6 hari dan 5 malam, tetapi saya belajar banyak. Pertama, kerjasama tim dan keberanian yang mulai diterapkan dalam sesi bonding kami. Saya harus cukup berani untuk berbagi gagasan saya dan bekerja dengan delegasi lainnya dengan perbedaan usia dan aspek lainnya. Kedua, kepekaan dan kepedulian. Di Jepang, kami harus peka dan peduli dengan satu sama lain agar tetap aman. Ketiga, kedisiplinan dan manajemen waktu. Setiap hari dalam perjalanan itu, ada banyak tujuan yang harus dicapai dan kami memiliki kebebasan untuk menjelajah area tersebut dengan tim kami sendiri, tetapi kami perlu memiliki manajemen waktu yang baik untuk tepat waktu di titik kumpul. Keempat, apresiasi dan toleransi. Jepang memiliki budaya yang sangat berbeda dari Indonesia, kami dan delegasi lainnya perlu menghormati budaya mereka yang sigap dan sangat disiplin. Bagi diri saya sendiri, saya benar-benar meningkatkan toleransi saya terhadap delegasi lain karena kami memiliki agama dan budaya yang berbeda dan hal itu sangatlah indah. Kelima, stamina. Kami bisa memulai hari kami pada pukul 4.30 pagi dan kembali ke hotel pada pukul 22.00 atau 23.00. Mentor juga memberi kami tantangan harian untuk meningkatkan kehidupan dan pelajaran kepemimpinan kami. Keenam, manajemen uang. Sebagai seorang remaja berusia 15 tahun dalam perjalanan kepemimpinan pertamanya tanpa orang tua, saya perlu mengelola uang saya dengan baik. Saya memisahkan uang saya berdasarkan kebutuhan, keinginan, dan ekstra. Kami juga menjelajahi Universitas Osaka dan Tokyo, itu adalah universitas yang sangat indah. Secara pribadi, saya menjelajahi Universitas Tokyo: Kedokteran.

Pada hari terakhir, kami melakukan kegiatan sesi bonding terakhir kami. Sesi bonding tersebut dimulai pada pukul 22.30 dan berakhir pada pukul 01.00 pagi. Saya berbagi testimoni saya terhadap trip tersebut. Ada sesi apresiasi, saya memenangkan 3 besar Most Valuable Player (MVP) pada perjalanan itu dengan judul "Penuh dengan Kebaikan". "Mabelle adalah yang termuda di sini. Dia sangat hormat kepada masing-masing dari kita, tetapi dia masih cukup berani untuk mengambil setiap kesempatan selama perjalanan ini,” ucap mentor saya. Malam itu, Kak Andhika dan mentor lainnya mengatakan bahwa ini adalah hal paling berkesan yang terjadi dalam Perjalanan Kepemimpinan SFL. Banyak dari kami berbagi tentang perjuangan masa lalu kami untuk sampai ke malam itu. Saya mengagumi cerita-cerita mereka dan saya menyadari sesuatu. Orang-orang yang terlihat paling percaya diri adalah orang-orang yang sebetulnya tidak percaya diri. Orang-orang yang paling sukses memiliki perjuangan besar untuk sampai ke titik kesuksesan mereka. Terakhir, setiap orang memiliki perjuangan dalam hidup, jadi kita harus lebih peduli terhadap satu sama lain.

Sebuah kehormatan bagi saya untuk membawa nama baik sekolah ini dalam perjalanan tersebut. Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan betapa bersyukurnya saya atas kesempatan ini. Saya ingin berterima kasih kepada semua orang yang telah mendukung saya; orang tua saya, kepala sekolah, guru-guru, dan teman-teman saya. Saya juga ingin berterima kasih kepada SejutaCita atas kepercayaan mereka kepada saya sebagai salah satu delegasi mereka. Terakhir, saya ingin berterima kasih kepada diri saya atas pengalaman organisasi yang meningkatkan kemampuan berbahasa saya. Selanjutnya, atas seluruh kesempatan hidup yang saya ambil dan ungkapkan dalam esai-esai saya. Bagi pemuda dan penerus bangsa di luar sana, ambilah kesempatan yang dapat kalian ambil. Hal terburuk yang dapat terjadi adalah jika anda gagal, tetapi bagaimana jika anda berhasil? Ada lebih banyak kesempatan yang datang untuk anda dari pengalaman networking yang hebat.

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined index: HTTP_REFERER

Filename: views/page_news_detail.php

Line Number: 38

Backtrace:

File: /home/sant9977/public_html/application/views/page_news_detail.php
Line: 38
Function: _error_handler

File: /home/sant9977/public_html/application/views/template.php
Line: 107
Function: view

File: /home/sant9977/public_html/application/controllers/News.php
Line: 90
Function: view

File: /home/sant9977/public_html/index.php
Line: 315
Function: require_once

Back