Open House SMP Santa Ursula BSD 2016
Posted: 2016-09-08 | By: (Maria Irene Rahmandalina)
Musik sebagai sarana pengembangan diri dan membangun kemandirian.  Lewat musik peserta didik dapat belajar sekaligus menemukan nilai-nilai, seperti kepekaan, kerjasama, dan kedisiplinan.  Tema inilah yang  diusung dalam Open House sekolah Santa Ursula BSD. Kegiatan ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 6 Agustus 2016 yang  dihadiri oleh orangtua peserta didik  TB/TK, SD kelas I, SMP kelas VII, dan SMA kelas X.  Open House menjadi kesempatan bagi orangtua untuk mengenal dan melihat lebih dalam Sekolah Santa Ursula BSD mewujudkan visinya melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler dengan fasilitas yang memadai dan  ditujukan untuk menunjang dan mengoptimalkan proses pendidikan. Dalam sambutannya, Sr Francesco Marianti, O.S.U. sebagai koodinator sekolah Santa Ursula BSD, menekankan dua hal, pertama pentingnya pendidikan musik bagi peserta didik, terutama di zaman ini. Peserta didik ditantang untuk menggunakan media secara cerdas. Tenaga pendidik dan orangtua dapat membantu peserta didik untuk lebih bijaksana dalam menggunakan gawai.  Kedua, komunikasi  antara peserta didik dengan guru dan peserta didik dengan orangtua sebaiknya komunikasi efektif, yang dilakukan secara dialogis.  Komunikasi antara orangtua dan sekolah merupakan suatu bentuk relasi yang perlu dilakukan secara baik  karena berisi informasi dan situasi kepada orang tua tentang putra-putrinya dalam mengembangkan keutuhan pribadi peserta didik.  Sekolah Santa Ursula BSD menginginkan sekolah tetap bertumbuh, mampu mengikuti kemajuan zaman sehingga peserta didik yang telah menamatkan sekolah menjadi pribadi yang mencapai proses keutuhan dan kecerdasannya. Mereka mampu memimpin diri sendiri dan dapat melayani dalam lingkungan dan masyarakat. Diakhir sambutannya,  Sr Francesco mengajak hadirin untuk menyaksikan tayangkan video yang berisi berbagai kegiatan ekstrakurikuler,  yang dilaksanakan di berbagai unit dari TB/TK sampai SMA.  Kemudian orangtua didampingi para guru menuju unit sekolah masing-masing, dimana putra-putrinya belajar.  Di unit SMP/SMA ditampilkan ekstrakurikuler kreatif yang dapat digunakan di masa depan, seperti pergamano, polimer clay, craft jewelry, pengomposan, robotic, kecantikan, dan kungfu shaolin.
Selengkapnya
Peserta Lomba Desain Batik Maju ke Tingkat Provinsi
Posted: 2016-05-19 | By: Angelina Sabaryati
Dalam upaya meningkatkan mutu sumberdaya manusia Indonesia agar mampu bersaing dalam era globalisasi yang berkarakter dan patriotik, pemerintah memandang perlu untuk menciptakan dan meningkatkan layanan pendidikan kepada seluruh warga negara, termasuk pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Selain itu, berbagai kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan juga terus diselenggarakan baik dalam bentuk kegiatan pembelajaran maupun dalam bentuk kegiatan kesiswaan. Salah satu kegiatan peningkatan mutu yang diselenggarakan tingkat SMP dan yang sederajat adalah Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). Kegiatan semacam ini merupakan salah satu wahana yang efektif untuk mengekspresikan kompetensi estetika, sekaligus menumbuhkan karakter, budi pekerti dan nilai-nilai kasih sayang, serta melestarikan kebuayaan bangsa di bidang seni. Diharapkan budaya bangsa di bidang seni ini bisa dipentaskan ke jenjang internasional.Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Tahun 2016 meliputi: Lomba Vokal Group, Festival Kreatifitas Seni Tari, Festival Musik Tradisional, Seni Baca Al-Qur’an, Lomba Cipta Cerpen, Lomba Story Telling, Lomba Gitar Solo, Lomba Menyanyi Solo, Debat Bahasa Indonesia, Lomba Seni Karya, Lomba Desain Poster, Lomba Baca Puisi, Lomba Seni Lukis, Lomba Desain Motif Batik, Lomba Cipta Lagu, dan Lomba Cipta Puisi.Dalam FLS2N tahun ini, SMP Santa Ursula BSD mengirimkan peserta untuk lomba Gitar Solo, Desain Batik, dan Cipta Lagu. Salah satu peserta untuk lomba Desain Batik yaitu Callista Stephine Yu dari 8C memenangkan juara pertama untuk tingkat kota Tangerang Selatan. Dengan demikian, Callista akan maju ke tingkat provinsi mewakili Tangerang Selatan. Selamat untuk Callista!
Selengkapnya
SMP Santa Ursula BSD Meraih Juara II Lomba Daur Ulang Tingkat Kota
Posted: 2016-05-19 | By: Tim BUKIT SMP
Barang bekas bisa disulap menjadi barang yang berguna, bernilai seni, dan bernilai ekonomis. Seni kriya akhir-akhir ini banyak menggunakan barang-barang bekas dengan cara mendaur ulang. Daur ulang adalah proses untuk menjadikan suatu bahan bekas menjadi bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampah yang sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan baku yang baru, mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan lahan, dan emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses pembuatan barang baru. Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemprosesan, pendistribusian, dan pembuatan produk/material bekas pakai, serta komponen utama dalam manajemen sampah modern dan bagian ketiga dalam proses hierarki sampah 4R (Reduce,Reuse, Recycle, and Replace).Mendaur ulang barang bekas mungkin menghasilkan barang lain yang lebih menarik.  Seperti halnya yang dilakukan para siswa SMP Santa Ursula dalam pelajaran Seni Rupa yang berkarya menggunakan barang bekas. Salah satu  peserta didik mengikutkan karyanya dalam Festival Lomba Seni Siswa di tingkat rayon dan masuk ke tingkat kota dengan peringkat juara kedua. Angelica Maureen Elti, atau Lica, mengirimkan karyanya berupa holder selotip yang terbuat dari akrilik bekas kemasan. Akrilik tersebut dibuat menjadi holder selotip yang berbentuk kuda lumping. Karya kreatif bisa dihasilkan dari barang bekas. Karya siapa yang akan menyusul?
Selengkapnya
Pramuka Peduli Kebersihan di Luar Sekolah
Posted: 2016-03-21 | By: Gudep Serviam BSD TS 02-127-128
Permasalahan sampah nasional sudah cukup meresahkan. Saat ini, Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik ke laut terbanyak kedua di dunia. Sebuah penelitian yang diterbitkan di www.sciencemag.org Februari tahun lalu menyebutkan, Indonesia berada di peringkat kedua di dunia penyumbang sampah plastik ke laut  setelah Tiongkok, disusul Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka. Permasalahan sampah tak bisa dianggap enteng. Sampah bisa menimbulkan bencana, seperti yang terjadi dalam tragedi longsornya sampah di Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005 silam. Tragedi ini memicu dicanangkannya Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang diperingati tepat di tanggal insiden itu terjadi.Puncak peringatan HPSN 2016 akan dilaksanakan 21 Februari 2016 pada car free day di Bundaran Hotel Indonesia. Presiden Joko Widodo dijadwalkan turut hadir pada acara tersebut. Pramuka Penggalang SMP Santa Ursula BSD pun tidak mau ketinggalan dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional ini. Anggota gerakan berlambangkan tunas kelapa ini melakukan aksi memungut sampah nonorganik (tisu, kertas, plastik, dan kaleng) di luar pagar sekolah Santa Ursula BSD. Kegiatan ini dilakukan pada hari Rabu, 24 Februari 2015, bertepatan dengan jadwal mereka latihan Pramuka dari pukul 13.30 sampai pukul 15.00. Kegiatan diawali dengan upacara pembukaan. Dalam upacara itu Kakak Pembina FX Jakasusila menjadi pembina upacara. Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan pemungutan sampah. Pemungutan sampah dibagi menjadi enam titik lokasi. Setiap titik dibersihkan oleh satu regu atau dua regu, tergantung dari intensitas sampah yang ada. Setelah kegiatan memungut sampah dilaksanakan, para peserta menyantap kudapan tradisional yang dibawa dalam setiap regu. Dalam upacara penutup Kak Jaka mengadakan refleksi secara lisan bagi para anggota Pramuka. Dari refleksi tersebut mereka menyatakan sangat senang mengikuti kegiatan ini karena bisa memberikan dampak bagi lingkungan dan dilakukan secara bersama-sama. Dengan adanya kegiatan ini para peserta didik belajar mengenai nilai kerja sama, cinta lingkungan, kepedulian, dan rela berkorban.
Selengkapnya
Pengomposan di SMP Santa Ursula BSD
Posted: 2016-03-21 | By: Adi/ 8C
Pengomposan adalah proses di mana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Sampah yang digunakan untuk pengomposan  berasal dari tumbuhan dan dedaunan yang jatuh dari pohon. Untuk mempercepat terjadinya pengomposan, sampah diberi ragi/bakteri. Hasil dari pengomposan sampah organik ini disebuk kompos yang dapat dijadikan pupuk untuk menambah kesuburan tanaman.SMP Santa Ursula BSD juga melakukan kegiatan pengomposan. Kegiatan ini merupakan kegiatan dari Badan Pengurus OSIS (khususnya seksi Pembantu Umum) dan didampingi guru-guru IPA juga wali kelas. Kegiatan ini dilakukan di Rumah Pengomposan, sebelah lapangan olahraga SMA. “Membuat kompos itu ternyata tidak sesusah yang saya bayangkan,” kata salah satu teman yang mengikuti kegiatan pengomposan. Untuk dapat menjadikan sampah menjadi kompos, ada beberapa langkah yang harus diikuti, yaitu:-    Menggiling dedaunan dengan mesin penggiling-    Memberikan ragi kepada daun hasil gilingan-    Mengaduk ragi hingga tersebar rata ke seluruh hasil gilingan-    Memasukkan dedaunan yang sudah digiling dan diberi ragi ke tong pengomposan-    Menunggu sekitar seminggu-dua minggu, lalu mengambil dedaunan yang sudah dimasukkan ke tong pengomposan untuk diayak-    Mengayak dedaunan dengan alat pengayak-    Mengemas hasil ayakan ke dalam plastik seberat dua kilogramDemi melakukan itu semua, kegiatan dibagi dalam dua tahap. Yang pertama adalah menggiling dedaunan dan disimpan di dalam tong pengomposan dan yang kedua adalah mengayak hasil pengomposan. Kegiatan pengomposan ini diadakan setiap hari Selasa dan Sabtu sepulang sekolah oleh kelas yang bertugas dengan mengirimkan lima siswa perwakilannya. Tentu saja, hal ini dibantu oleh OSIS dari seksi PU dan guru-guru IPA serta wali kelas SMP Santa Ursula BSD.Tujuan melakukan pengomposan ini adalah untuk mengurangi sampah, khususnya sampah organik,  dan menghasilkan sesuatu yang berguna dari sampah, yaitu pupuk kompos. Pupuk ini sangat berguna untuk membuat tanaman semakin subur dan tidak membahayakan tanah karena terbuat dari bahan organik. Ada banyak sekali manfaat dari pembuatan kompos. Tidak hanya untuk manfaat dalam aspek ekonomi, tapi dalam aspek lingkungan dan untuk tanaman yang diberi kompos itu sendiri. Kini BP OSIS SMP Santa Ursula BSD mulai menjual pupuk kompos hasil dari kegiatan di atas. Bagi yang ingin memesan, dapat menghubungi BP OSIS SMP Santa Ursula BSD.
Selengkapnya
Santa Ursula BSD di Indonesia International Robot Show 2016
Posted: 2016-03-21 | By: Andrew / 7B
SMP dan SMA Santa Ursula BSD mengikutsertakan 26 orang  peserta didik dalam ajang The 2nd Indonesia Internasional Robot Show. Kegiatan ini berlangsung dari hari Sabtu - Minggu, 20-21 Februari 2016, bertempat di Lippo Mall Puri, tepatnya di lantai dasar Atrium Phase II. Kegiatan ini merupakan ajang perlombaan robotika yang dapat dijadikan tolak ukur untuk  melihat prestasi peserta didik dalam hal robotik dari setiap sekolah. Robotika itu sendiri meliputi beberapa hal, yaitu: science, skill, team work, kreativitas, berpikir kritis, matematika, dan teknik. Pada kegiatan ini panitia juga mengajak serta beberapa relasi dari Singapura dan Hongkong.Indonesia Internasional Robot Show tahun ini meliputi beberapa kergiatan yaitu pameran robot, kompetisi robot, games robotik, dan pameran pendidikan. kategori kompetisi dalam kegiatan ini adalah : Lego Speed Building (untuk TK), I Robo Speed Building (SD kelas 1-2), Soccer Robot Jr. (SD kelas 3-6), Soccer Robot Sr. (SMP), Sumo Robot (peserta bebas untuk umum),  Labyrinth Solver (SD/SMP), dan Creative Robot (peserta bebas untuk umum).Dalam ajang tersebut, SMP Santa Ursula mendapatkan kejuaraan untuk kategori Soccer Robot Sr sebagai juara I yang dimenangkan oleh Bobby (7A), Stiven (7B), dan Dylan (7E). Masih dalam Soccer Robot Sr., SMP Santa Ursula juga memenangkan juara II dengan tim Michael (7A), Nico (7B), dan Anto (7B). Kategori Labyrinth Solver SMP Santa Ursula memenangkan juara ke III dengan peserta Keke dan Andrew  dari kelas 7B. Sementara untuk kategori Sumo Robot sebagai juara III dengan peserta Christo (9D). Dengan begitu sekolah SMP Santa Ursula mendapat juara di setiap kategori perlombaan yang diikuti. Sungguh merupakan hasil yang sangat membanggakan bagi sekolah Santa Ursula BSD. Dari lomba ini para peserta didik mendapatkan suatu pengalaman berharga bahwa kesuksesan diraih bukan karena keberuntungan tapi diraih dengan kerja keras.
Selengkapnya
Desenzano del Garda, Kampung Halaman Santa Angela
Posted: 2016-03-21 | By: Ibu Enung Martina
Desenzano adalah sebuah kota resor danau yang indah di tepi Lago di Garda, Italia Utara. Nama kota ini sekarang dikenal dengan Desenzano del Garda. Kota ini termasuk di Italia bagian utara, Wilayah Lombardia, Provinsi Brescia. Kota ini tak bisa lepas dari Danau Garda, danau terbesar di Italia. Danau yang juga dikenal sebagai Lago di Garda ini, sekarang banyak dikunjungi para wisatawan.  Wisatawan  bisa berolahraga di atas permukaan air yang tenang. Berenang, berlayar, atau mendayung sampan, dapat dilakukan sambil menikmati air yang sewarna zamrud. Kota-kota kecil di tepian danau Garda bagian selatan memiliki mikro iklim Mediterania yang hangat sehingga pohon-pohon anggur serta zaitun pun dapat tumbuh dengan baik di sana. Di kota kecil ini pula, dapat terlihat wawasan arsitektur yang kaya dengan bangunan-bangunan lama dalam kondisi terjaga. Beberapa bangunan dari tahun 1904  sudah direstorasi dengan baik. Meski tata ruangnya kini bergaya kontemporer dengan lantai kayu ek dan mebel yang  simpel, tetapi dari kejauhan tetap memancarkan aura masa lalu. Gereja-gereja tua juga sudah banyak yang direstorasi, tetapi masih mempertahankan keasliannya. Masa kecil Angela dihabiskan di Desenzano. Desa ini letaknya tak jauh dari Danau Garda. Sekarang sudah menjadi sebuah kota.  Kota kecil ini sejak dulu sudah terkenal keindahan alamnya. Di sebelah utara Danau Garda tampak menjulang tinggi lereng Pegunungan Alpen yang curam. Bagian selatan danau ini melengkung bagaikan sebuah busur. Dengan bentuk  yang unik ini, menjadikan Desenzano sebagai salah satu kota pelabuhan alam yang penting. Dengan naungan alam nan molek inilah, Angela Mericci dibesarkan dalam keluarga Kristen sederhana yang saleh. Di tengah kemerosotan moral pada zamannya, keluarga Merici memberikan pelajaran agama dan moral kepada kedua putrinya. Giovanni Mericci selalu membacakan riwayat para martir  dan para orang kudus kepada anak-anaknya. Seperti gadis-gadis Desenzano pada umumnya, Angela pun tidak pergi ke sekolah, melainkan membantu orang tuanya di ladang dan di rumah. Pada masa itu hanya para gadis kaum bangsawan saja yang bersekolah. Angela menerima pendidikan yang baik dari kedua orang tuanya yang saleh. Ibunya mengajarkan pekerjaan rumah tangga kepada putri-putrinya. Dan sifat sosial ibunya yang selalu memperhatikan orang-orang yang mengalami kesukaran dan kemiskinan direkam oleh Angela. Ayahnya memiliki sebuah ladang anggur. Kedua orang tua Angela seusai bekerja di ladang, sering menceritakan kisah orang kudus kepada anak-anaknya, sehingga seringkali kedua putrinya bermain dan berkhayal menjadi pertapa dan pendoa. Sampai akhir hayatnya, Angela selalu terkenang akan kemesraan keluarganya. Suasana keluarga yang demikian baik dan kesaksian yang diberikan ayahnya, menyuburkan benih panggilan yang ditanam Tuhan dalam hati Santa Angela.
Selengkapnya
Indonesia Pusaka Warisan Negeri
Posted: 2016-02-20 | By: Jonathan Leonardo
Beragam alat musik tersebar di seluruh penjuru tanah air. Tidak hanya menjadi identitas setiap daerah tetapi juga sebagai kesenian yang memikat. Sayangnya, seiring berjalannya waktu alat-alat musik tradisional Indonesia mulai dilupakan dan digantikan keberadaannya oleh alat musik modern yang terus berkembang di Indonesia. Maka dari itu, di penghujung tahun 2015, Sekolah Santa Ursula BSD memadukan alat musik tradisional dan modern dalam sebuah pagelaran yang bertajuk Indonesia Pusaka "Berbagi Untuk Bersatu". Pagelaran Indonesia Pusaka "Berbagi untuk Bersatu" merupakan pagelaran musik yang diselenggarakan oleh sekolah Santa Ursula BSD pada Kamis, 17 Desember 2015 dan Jumat, 18 Desember 2015. Dengan melibatkan 212 peserta didik dari SD hingga SMA, pagelaran ini berhasil menarik perhatian dari seluruh pengunjung acara ini. Kemegahan harmonisasi suara dari delapan alat musik, yakni degung, keroncong, karawitan, kolintang, angklung, gamelan Bali, band serta orkestra membentuk suatu pagelaran apik dan sayang untuk dilewatkan. Acara dimulai dengan adanya sebuah drama singkat mengenai para remaja yang menjelajah Indonesia sekaligus mengeksplorasi alat musik di Indonesia. Kemudian dilanjutkan oleh orkestra yang membawakan lagu Varia Ibukota, Gamelan Bali dengan lagu Hujan Mas, dan masih banyak lagi. Ada pula penjelasan-penjelasan mengenai budaya-budaya Indonesia yang menjadi selingan masing-masing lagu, sehingga pagelaran tidak membosankan dan semakin menarik perhatian. Berbagai tanggapan positif diberikan oleh para pengunjung. Salah seorang pengunjung bernama Regina (14 tahun) mengatakan bahwa pagelaran Indonesia Pusaka merupakan pagelaran musik satu-satunya yang berhasil membuatnya ingin mempelajari alat-alat musik tradisional khas Indonesia. Tanggapan positif juga diberikan oleh salah satu pemain musik dalam pagelaran Indonesia Pusaka, yaitu Krisna (16 tahun). "Pagelaran ini merupakan pagelaran yang menakjubkan, karena berhasil menggabungkan delapan alat musik yang berbeda dan menghasilkan alunan musik yang merdu", ujarnya. Berbeda dari pagelaran-pagelaran musik lainnya yang biasanya hanya menampilkan lagu- lagu pop atau jazz, pagelaran Indonesia Pusaka ini membawakan berbagai lagu daerah asal Indonesi yang dikomposisi secara apik oleh Iswara Giovanni. Delapan alat musik yang berbeda pun juga dikolaborasikan dalam satu pagelaran dan dipimpin oleh Eric Awuy. Selain itu, pagelaran Indonesia Pusaka ini juga kembali mengenalkan kekayaan budaya-budaya Indonesia yang sudah mulai pudar di kalangan masyarakat, terutama kaum muda Indonesia sekarang ini.
Selengkapnya
Gelora Pembaharuan Muda (GARUDA)
Posted: 2015-11-09 | By: Veronika Amelia Kadang dan Jonathan Leonardo / VII
Tanggal 20 Oktober lalu, nampak pemandangan yang berbeda di Sekolah Santa Ursula BSD. Bertempat di Gedung SMP-SMA, diselenggarakan suatu acara yang bertajuk “GARUDA”, singkatan dari “Gelora Pembaharuan Muda”. Acara dimulai tepat pukul 09.00, dibuka dengan pelepasan balon oleh Sr. Francesco Marianti OSU bersama dengan beberapa siswa-siswi TK. Bersamaan dengan itu, stand makanan dan games dibuka, sementara siswa-siswi TK-SD mengikuti kegiatan workshop, mengasah keterampilan bersama kakak-kakak dari SMA. Bagi siswa-siswi yang tidak mengikuti workshop, mereka dipersilahkan untuk menikmati stand makanan atau bermain games yang ada di kelas-kelas. Teman-teman di SMP ternyata juga tak luput dari keceriaan bermain bersama adik-adik dari TK. Sepuluh stand makanan yang disediakan ramai dikerumuni pengunjung, terutama orang tua murid yang menunggu anak-anaknya mengikuti workshop atau sekedar bermain games. Berbagai makanan khas Indonesia tersedia di hall dan pembelian dilayani menggunakan kupon. Tepat pukul 13.00, semua pengunjung dikumpulkan di aula, untuk menonton performance dari siswa-siswi dan guru-guru SMP-SMA. Dimulai dari tari tradisional, vocal group yang menyanyikan lagu-lagu daerah Indonesia, stand up comedy oleh seorang alumni Santa Ursula BSD, modern dance, dan band. Tak hanya siswa-siswi, para guru pun ikut meramaikan performance dengan bermain drama. Drama yang menyinggung masalah kurangnya kita menghargai jasa orang-orang yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia dikemas dengan sangat menarik, dengan tokoh-tokoh yang begitu menghayati perannya sehingga para penonton ikut larut dalam suasana drama yang diciptakan. Rangkaian acara ditutup sekitar pukul tiga sore oleh MC, yang sebelumnya memandu acara performance. Jika dilihat dari waktu persiapan yang sangat amat singkat, berlangsungnya acara ini dengan lancar, patut diacungi jempol. Semoga, apa yang diharapkan dari acara ini bisa tercapai, yakni melahirkan insan-insan “baru” yang potensial.  
Selengkapnya
Pameran Pendidikan Santa Ursula BSD Tahun 2015
Posted: 2015-11-09 | By: Nana 9B – Devi – Jonathan 8B
SMP-SMA Santa Ursula BSD tidak terlihat seperti biasanya. Tidak ada murid berseragam putih-biru dan putih-abu-abu. Tidak tampak pula kegiatan ekstrakurikuler yang biasanya rutin dilakukan pada setiap hari Sabtu. Tanggal 19 September lalu memang hari yang spesial. SMP-SMA Santa Ursula BSD menyelenggarakan Pameran Pendidikan Santa Ursula (PPSU) 2015. Pameran ini ditujukan bagi siswa-siswi SMP dan SMA Santa Ursula BSD.      Diawali dengan penampilan spektakuler dari kumpulan alat-alat musik tradisional (angklung, kolintang, dan gamelan Jawa) Indonesia, band, dan orkestra, PPSU 2015 resmi dimulai. Lagu-lagu daerah dan Indonesia seperti Manuk Dadali, Jali-jali, dan Kopi Dangdut mengalun di udara dengan indahnya yang diiringi oleh orkestra, kolintang, band, dan gamelan Jawa. Acara ini menyedot perhatian para pengunjung yang baru tiba dan juga para panitia yang sebelumnya sudah mempersiapkan diri. Sebelumnya di pintu masuk, para tamu disambut dengan iringan gamelan Bali yang dimainkan dengan rancak sebagai tanda selamat datang kepada para tamu. Dalam pameran ini, sekitar lima puluhan universitas dan lembaga pendidikan nasional dan internasional ikut serta. Datang dari benua yang berbeda, membawa satu keinginan yang sama untuk membentuk manusia yang cerdas dan utuh. Tak lupa dalam acara itu dijajakan aneka makanan jajanan di hall SMP-SMA. Dengan antusiasme yang tinggi, para pengunjung menjelajahi setiap stand dari lantai pertama hingga ketiga.     Sekitar pukul 09.00 diselenggarakan sebuah talkshow yang dibawakan oleh Yudi Latief, seorang cendekiawan, aktivis, pendidik, dan pengamat sosial. Acara ini cukup menarik perhatian sehingga kursi yang disediakan pun dipenuhi oleh pendengar. Aula serasa tak cukup lagi menampung pengunjung yang datang. "Menumbuhkan jiwa nasionalisme anak muda melalui pendidikan" merupakan tema yang dipilih untuk talkshow kali ini.  Dibuka dengan sebuah cerita tentang sejarah kedatangan manusia ke Nusantara untuk pertama kalinya dan dilanjutkan dengan tanya jawab tentang Pancasila, kemajuan pendidikan di Indonesia, dan rasa nasionalisme di kalangan pemuda.     Pameran dibuka sampai kira-kira pukul 15.00 dengan beberapa presentasi dari beberapa perguruan tinggi yang bertempat di ruang presentasi lantai 2 dan 3. Selama acara pameran ini berlangsung tak henti-hentinya para penyiar radio Sanur BSD menyampaikan informasi seputar pameran dengan diselingi musik yang menggugah semangat.  Pameran ditutup dengan sebuah band akustik dan akapela peserta didik SMP dan SMA Santa Ursula BSD.  
Selengkapnya
Kegiatan Rindam Jaya
Posted: 2015-11-09 | By: Amel – Detha /8B
     Berbekal persiapan Rindam Jaya yang telah dilaksanakan hari Kamis, 19 September 2015, seluruh siswa kelas delapan, SMP Santa Ursula BSD siap memulai pelatihan Rindam Jaya yang akan dilaksanakan di Bumi Perkemahan Pramuka, Cibubur, Jakarta Timur pada tanggal 21-22 September 2015. Sesuai yang sudah direncanakan pukul 05.00 seluruh siswa sudah berkumpul di hall SMP. Berkumpul di sekolah pada pukul 05.00 bukan menjadi hal yang mudah. Banyak diantara kami merasa kelelahan, tapi semangat kami tak pernah padam demi mengembangkan mental dan fisik kami, yang menjadi tujuan dari pelatihan ini. Selesai absensi kami diberi pengarahan oleh Ibu Irene, selaku Kepala Satuan Pendidikan SMP Santa Ursula BSD di lapangan upacara. Terlihat jelas langit gelap yang dipadukan dengan cahaya bintang, tapi dengan waktu yang singkat langit itu berubah menjadi terang karena sang mentari akan segera terbit untuk menemani kami semua dan menjadi tanda memulainya seluruh kegiatan di hari baru ini.Berbekal tas ransel yang telah kami bawa dari rumah, ketiga pleton siswa laki-laki pada pukul 05.45 berangkat dengan truk TNI dari kepolisian Metro Jaya, sedangkan ketiga pleton siswa perempuan mengalami keterlambatan jadwal keberangkatan. Seratus delapan puluh sembilan siswa kelas delapan, SMP Santa Ursula BSD terbagi dalam enam pleton yang terdiri dari tiga pleton khusus siswa perempuan dan tiga pleton khusus siswa laki-laki. Tiga pleton siswa perempuan bernama pleton Cut Nyak Dien, Mahalayati dan Dewi Sartika yang masing-masing diambil dari nama pahlawan perempuan Indonesia. Sedangkan ketiga pleton siswa laki-laki bernama pleton Hassanudin, Sudirman, dan Ahmad Yani. Keterlambatan itu sungguh membuat keresahan, khususnya para guru pendamping dan seluruh anggota pleton siswa perempuan. Kami terpaksa menunggu truk TNI dari Angkatan Laut di lapangan Olahraga SMP sampai pada akhirnya pukul 07.00 kami berangkat menuju lokasi kegiatan. Perjalanan terasa begitu singkat karena diisi dengan tawa canda bersama teman-teman satu pleton di dalam truk TNI. Tak lama kemudian kami telah sampai di area lokasi pelatihan atau yang bisa disebut Buperta Cibubur. Di sana kami langsung disambut oleh para pelatih dari Rindam Jaya dan tenda-tenda kecil untuk kami berkemah selama satu malam. Walaupun baru pukul 08.30, matahari mulai memancarkan sinarnya yang menyengat. Kami diberi sambutan hangat dan sedikit penjelasan berkaitan tentang pelatihan Rindam Jaya oleh para pelatih di lapangan pelatihan dan diberi kesempatan untuk meletakkan barang-barang bawaan di tenda yang sudah ditentukan serta beristirahat dengan mengonsumsi snack pagi yang telah disediakan.        Dari awal pelatihan ini kami di ajak untuk selalu menerapkan sikap disiplin di seluruh kegiatan. Jika disiplin, kami dapat melakukan seluruh kegiatan secara bersama-sama dengan mudah. Maka dari itu dalam mengonsumsi makanan pun kami diajarkan untuk tidak mementingkan kebutuhan diri sendiri. Kami harus menunggu sampai seluruh siswa duduk dalam posisi yang rapi dan mendapatkan makanan. Kami dilarang untuk membuka bungkus makanan agar dapat memulai proses makan dengan serentak dalam waktu yang sama. Sebelum makan kami berdoa bersama untuk mengawali mengonsumsi makanan, baru setelah itu kami memulai mengonsumsinya dan mengakhirinya bersama-sama di waktu yang telah ditentukan. Makanan harus segera dihabiskan dalam waktu yang telah ditentukan, sebagai bentuk pelaksanaan kedisiplinan dan menghargai jasa makanan orang yang telah membuat makanan tersebut. Kami kembali ke lapangan untuk segera memulai pelatihan. Pelatihan di hari pertama ini di awali oleh Pelatihan Peraturan Baris Berbaris (PBB). PBB dilakukan secara serentak dengan penuh semangat seluruh siswa. Kami di jelaskan materi tentang materi dasar PBB, yang sebelumnya sudah pernah di jelaskan oleh para guru di sekolah, jadi kegiatan ini sudah menjadi hal yang tak asing lagi untuk dilaksanakan. Dilanjutkan dengan materi selanjutnya, yaitu TUM dan TUS. Banyak diantara kami belum mengetahui makna dari TUM dan TUS. Menjadi sebuah pernyataan asing untuk kami dengar. Oleh Bapak Asep, selaku pelatih kami dijelaskan bahwa TUM adalah singkatan dari Tata Upacara Militer sedangkan TUS adalah Tata Upacara Sekolah. Beliau memaparkan kepada kami perbedaan antara TUS dan TUM. Setelah itu, secara bergantian kami diminta untuk melakukan percobaan pelaksanaan TUS sebagai bekal tata upacara di sekolah nanti.        Selanjutnya, pelatih memberi kami teori navigasi darat yang biasa dilakukan dengan kompas. Di kesempatan ini pelatih menegaskan pada kami tata cara pemakaian kompas di malam hari. Beberapa diantara kami juga mendapat kesempatan untuk mencoba mempraktekkannya secara langsung pada saat itu. Kegiatan ini sebagai bentuk persiapan kami untuk melakukan kegiatan jurit malam nanti yang akan menggunakan kompas malam. Setelah diberi kesempatan untuk beristirahat dan membersihkan diri, kami melanjutkan kegiatan di malam hari yaitu jurit malam. Banyak diantara kami yang mengalami rasa cemas, khawatir dan takut untuk melakukan hal itu. Tapi mau tidak mau kami wajib melakukan kegiatan ini. Kami diberi penjelasan terlebih dahulu tentang rintangan-rintangan yang akan dilewati saat berjalan. Kami dibagi dalam kelompok yang ditentukan secara acak. Satu kelompok terdiri dari dua orang laki-laki dan tiga orang perempuan  dan pembagian kelompok dilakukan secara bergantian. Pembagian kelompok secara acak ini bertujuan agar kami bisa lebih saling mengenal teman-teman satu angkatan, bukan saja teman-teman dekat ataupun teman-teman sekelas. Setelah melewati seluruh rintangan pada kegiatan jurit malam, kami melanjutkan acara dengan kegiatan api unggun. Para pelatih memimpin acara api unggun ini dengan meriah, sambil kami menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu wajib nasional, Syukur. Kami melakukan acara api unggun dengan waktu yang sangat singkat karena waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Kegiatan api unggun diisi dengan penyampaian pesan singkat oleh para pelatih dan Ibu Eus selaku guru pendamping. Kegiatan api unggun ditutup dengan doa malam. Setelah acara api unggun selesai, kami semua beristirahat pada tenda masing-masing yang ditemani panasnya api unggun yang menghangatkan udara malam hari. Api itu tak pernah padam sampai pagi hari kami membuka mata.        Hari kedua, diawali pada pukul 04.30. Kami bangun, kemudian bersih-bersih diri untuk bersiap mengikuti rangkaian kegiatan hari Selasa (22/9/15). Setelah itu, kami dikumpulkan kembali di lapangan, untuk pemanasan dan senam pagi. Kegiatan ini, bertujuan untuk membangkitkan kembali semangat yang mulai pudar setelah malam. Senam pagi kemudian dilanjutkan dengan sarapan pagi. Cuaca yang terik dengan suhu udara panas dan angin yang kencang, membuat kondisi tubuh kami menjadi cepat lelah, ditambah banyaknya rangkaian kegiatan. Kami pun diberi banyak waktu istirahat, agar tidak terlalu lelah. Banyak dari antara kami yang jatuh sakit, kebanyakan sakit perut. Sekitar tiga puluh orang yang menyerah, tidak kuat, sehingga terpaksa beristirahat dan tidak mengikuti kegiatan. Sekitar pukul delapan, kami mulai dengan game. Tidak hanya game, namun juga bernyanyi bersama. Bagian kegiatan ini tidak berlangsung lama, karena tentara yang bertugas melatih bagian ini harus segera pergi untuk melanjutkan tugas di tempat lain. Selepas bermain, kami dikumpulkan kembali di tempat yang cukup teduh, di bawah pepohonan, berdasarkan pleton. Kami ditugaskan untuk membuat yel-yel masing-masing, yang nantinya akan dilombakan. Perlombaan yel-yel merupakan salah satu bagian yang menarik, dan dilakukan dengan semangat, karena ada beberapa pleton yang mempunyai yel-yel yang mengundang gelak tawa. Dari hasil rundingan dua juri, satu orang pelatih dan satu orang pendamping, dihasilkanlah susunan juara. Dari posisi satu sampai enam, ada Pleton Ahmad Yani, Mala Hayati, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Sudirman, dan yang terakhir Hasanuddin. Posisi pertama mendapat hadiah, satu botol air mineral untuk setiap anggota pleton, sementara posisi ke-empat sampai ke-enam diberi hukuman, yaitu push-up. Kegiatan selanjutnya, adalah latihan PBB (Pasukan Baris-Berbaris). Pada hari kedua ini, hanya ada satu gerakan tambahan, yaitu periksa kerapihan untuk demonstrasi. Kami juga melatih kembali gerakan yang sudah kami pelajari sebelumnya, agar kami tidak lupa. Untuk menjadi kompak dalam periksa kerapihan, gerakan dilakukan berkali-kali. Kami juga menyorakkan yel-yel bersama kembali, agar kami tetap semangat.        Bagian yang paling ditunggu-tunggu dan dinantikan tiba setelah makan siang. Ada tiga permainan, yang ditujukan untuk Team Building, menambah kekompakan antar pleton. Jembatan kesuksesan, kepiting berjalan, dan tarik tambang. Lomba dilakukan oleh semua pleton dengan mengajukan beberapa perwakilan, saling bertanding, menunjukkan kekompakan yang dimiliki setiap pleton. Lomba tarik tambang adalah lomba yang paling dinantikan. Pleton laki-laki melawan pleton perempuan. Ada tiga pasang, semua dimenangkan oleh pleton perempuan. Delapan orang laki-laki, melawan dua belas orang perempuan. Perempuan sengaja lebih banyak, karena kekuatan para siswa jelas lebih besar dari para siswi. Lomba ini juga menjadi lomba terakhir yang kami lakukan di sana. Kegiatan di Buperta, Cibubur, selesai kira-kira pukul 16.00, ditutup dengan doa pulang yang dipimpin oleh Ibu Devy. Kami kembali menuju ke sekolah dengan menaiki enam buah truk TNI Angkatan Darat, yang berjalan secara konvoi di jalan sampai di sekolah. Perjalanan berlangsung lebih kurang selama satu jam, yang berjalan menyenangkan, karena kami saling berbagi berbagai pengalaman selama dua hari. Tawa canda ringan dengan mudahnya terlontar di sepanjang jalan, ditemani terpaan angin kencang yang berhembus. Pelatihan Rindam Jaya selama dua hari, ditutup dengan apel yang dilakukan di lapangan upacara SMP-SMA Santa Ursula BSD. Pasukan dipimpin oleh William, seorang siswa dari kelas VIIIE. Apel tidak berlangsung lama, kami diberitahu beberapa hal yang harus kami lakukan selanjutnya, terutama untuk esok hari. Setelah selesai, kami pulang ke rumah kami masing-masing, memulihkan tenaga untuk kembali bersekolah esok harinya.  
Selengkapnya
Refleksi Lomba Pramuka Tingkat 2
Posted: 2015-09-22 | By: Cathelia Elisabeth IXB / 9
Pada hari Jumat, 4 September 2015 sampai Minggu, 6 September 2015, kami 16 anggota pramuka SMP Santa Ursula BSD diminta untuk mewakili sekolah mengikuti Lomba Tingkat 2 yang diadakan di sekolah Cikal Harapan. Waktu persiapan yang diberikan kepada kami hanya dua minggu. Dua minggu bukan waktu yang panjang, banyak sekali cabang lomba yang harus kami persiapkan. Dari pramuka SMP Santa Ursula BSD dikirim dua regu, satu regu putra (Regu Rajawali) dan satu regu putri (Regu Mawar). Secara fisik saja bisa dilihat sekolah lain lebih berpengalaman karena kegiatan Pramuka sudah cukup lama di sekolah mereka, sedangkan di SMP Santa Ursula BSD, baru berjalan 11 bulan.   Dari latihan hingga lomba yang ada di pikiran kami hanya satu bahwa ini merupakan lomba pertama kami dengan membawa nama sekolah. Kami harus bisa mengharumkan nama sekolah dan memberikan prestasi terbaik pada Gudep Serviam-BSD. Sekolah lain datang dengan persiapan yang sangat matang (misalnya membawa gapura yang sudah jadi) sedangkan kami datang tanpa membawa banyak barang. Kami membuat tenda dan gapura sendiri berbeda dengan sekolah lain yang dibuatkan oleh pembinanya. Namun, justru itu yang menjadi kelebihan kami.   Lamanya kegiatan tiga hari dua malam dengan kondisi cuaca yang seperti padang gurun membuat emosi kami memuncak. Tetapi saya akui kekompakkan antara sangat baik. Kami selalu bersama bahkan saat istirahat dan kemana pun kami mau berpindah tempat, kami selalu berbaris rapi. Dalam kondisi apapun, kami selalu bersama selalu mendukung satu sama lain. Peristiwa yang lebih membanggakan adalah pada saat kami menyanyikan lagu Mars Serviam. Kami memang dituntut untuk berbaur dengan murid-murid sekolah lain yang berbeda agama, tapi dengan bangga kami membuat tanda salib.   Kami semua tidak menyangka akan mendapatkan juara I (regu putri) dan juara II (regu putra). Kami sangat senang dan bangga karena semua jerih payah kami tidak sia-sia dan bisa membanggakan sekolah serta memberikan prestasi pertama yang luar biasa pada Pramuka Serviam - BSD. Di sana kami pengalaman suka dan duka, yang mengasah kekompakkan dan mental kami. Dari lomba ini saya belajar bahwa kekompakkan, kerjasama dan semangat  juang itu sangat penting dalam menghadapi apa pun. Selain itu saya juga belajar bahwa kesuksesan diraih dengan kerja keras. “Pemula tidak menjamin kita menjadi yang terakhir, tetapi pemula bisa menjadi yang terbaik”.  
Selengkapnya
Pameran Pendidikan
Posted: 2015-09-22 | By: Christsanctus / 8A
Pada hari Rabu, 26 Agustus 2015, murid-murid dari SMP Santa Ursula BSD dan beberapa guru mendatangi Pameran Pendidikan di Istora, Senayan, dalam rangka HUT ke-40 MPK KAJ atau Majelis Pendidikan Katolik Keuskupan Agung Jakarta. Di sana, terdapat stand-stand dari berbagai sekolah yang mempromosikan sekolah mereka dan memperlihatkan kelebihan mereka.  Demikian pula sekolah Santa Ursula BSD membuka stand dalam kegiatan itu.Beberapa acara digelar dalam kegiatan tersebut. Ada lomba modern dance untuk SMP, SMA, dan SMK. Siswa-siswi  datang dari berbagai sekolah Katolik se-Keuskupan Agung Jakarta untuk mengunjungi stand yang ada. Acara tampak berjalan cukup menarik, dengan berbagai aksi panggung dari sekolah-sekolah dan juga pameran di setiap stand. Stand-stand yang ada di pameran mempromosikan sekolah mereka dengan gambar-gambar, video, dan foto-foto, serta hasil karya para peserta didik.Beberapa sekolah tampak kreatif dalam menampilkan stand-stand mereka. Namun, sebetulnya sebuah pameran pendidikan akan lebih kena bila menampilkan profil sekolah secara menyeluruh, paling tidak yang dipamerkan mewakili keadaan sekolah tersebut. Sayangnya kebersihan kurang begitu terjaga karena begitu; sampah berserakan dimana-mana sehingga  yang merusak pemandangan sekitar. Semoga bila MPK mengadakan kegiatan serupa, acara-acara bisa dikemas lebih menarik lagi. Proviciat seluruh sekolah Katolik se-KAJ, semoga tetap bisa mempertahankan mutu dengan memberikan pelayanan terbaik bagi peserta didik.  
Selengkapnya
PAMERAN PANCASILA
Posted: 2015-08-24 | By: Erin / IX E
Tujuh puluh tahun sudah Indonesia merdeka. Untuk memperingati hal ini, sekolah Santa Ursula BSD menciptakan sesuatu yang berbeda, yaitu Pameran Pancasila. Sesuai dengan namanya, tentu pameran ini mengangkat tema tentang Pancasila dan makna sebenarnya dari tiap sila.   Dalam pameran ini, siswa-baik dari TK hingga dengan SMA-, dibagi menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok tersebut ditugaskan memamerkan karya mereka yang berhubungan dengan tema sesuai sila-sila Pancasila. Seperti misalnya, kelompok gabungan antara kelas IXE dengan VIIID yang mendapat tema sila pertama; “Ketuhanan yang Maha Esa,” memamerkan foto-foto serta poster bertemakan sila pertama.   Persiapan sudah berlangsung dari bulan Juni yang lalu, ketika siswa sudah hampir menyelesaikan semester kedua. Tentu ketika libur sekolah dimulai, persiapan terpaksa dihentikkan. Namun, pada minggu kedua siswa kembali bersekolah, persiapan untuk pameran pancasila dilanjutkan lagi.   Ada berbagai macam masalah yang dihadapi oleh para siswa dalam persiapan pameran,  seperti ketika masing-masing kelas harus berbagi tempat pameran dengan kelas lain dikarenakan tempat yang disediakan terbatas, atau ketika sekolah memutuskan untuk mengubah topik dan penataan  ruang  pameran pancasila yang dianggap kurang sesuai.   Pada umumnya para siswa  merasa senang, meskipun mereka  merasa sangat terbebani dan bingung karena perubahan topik mendadak yang baru diberitahu. Namun, para siswa dan guru  bekerja keras  untuk menyukseskan pameran tersebut.   Para siswa berusaha melakukan yang terbaik untuk terselenggaranya pameran ini. Kritikan yang berdatangan dijadikan sebagai pemicu semangat untuk bekerja lebih baik. Memang ada beberapa karya yang sudah dipersiapkan serapi mungkin terpaksa dibuang karena tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan sekolah. Walau ada banyak halangan dan gangguan yang dihadapi, para siswa Santa Ursula BSD tetap bersatu dan bersama-sama mencari jalan keluar yang paling efektif. Para guru juga dengan aktif  bekerjasama dan ikut berpartisipasi dalam persiapan pameran ini. Namun, segala tantangan menjadi tak berarti apa-apa ketika pameran itu terselenggara dengan baik. Kerja sama, kerja keras, penghargaan,  daya juang,  dan cinta tanah air, itulah nilai-nilai yang didapatkan oleh para siswa. (Erin/kelas IX-E)   .      
Selengkapnya
KEGIATAN EKSPLORASI KELAS VIII
Posted: 2015-07-14 | By: Erin/VIII E & Christina/VIII E
Bereksplorasi merupakan kebutuhan anak untuk mengembangkan dirinya. Karena itu, pada tanggal 7-8 April serta pada 14-16 April 2015, siswa/I SMP kelas 8 Santa Ursula BSD, secara bergantian, pergi menuju Kota Tua, Jakarta. Mereka berangkat dari sekolah pada pukul 07.30, menuju stasiun Rawa Buntu, dengan naik angkotdari sekolah. Dari Rawa Buntu para siswa naik kereta menuju Tanah Abang. Suasana kereta saat menuju Tanah Abang sangat ramai. Orang-orang berdesakan, dan ketika sampai di Tanah Abang dan meuju Kota Jakarta, suasana kereta tidak begitu ramai. Sesampainya di Kota Jakarta, ada yang pergi menuju museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia dan ada yang berkeliling di sekitar Jakarta, ada juga yang langsung menuju Kota Tua. Kota Tua juga dikenal sebagai Batavia Lama (Old Batavia). Pada abad ke-16, Jakarta Lama dijuluki “Permata Asia” dan “Ratu dari Timur” oleh pelayar dari Eropa, karena dahulu dianggap sebagai pusat perdagangan dunia, dan letaknya strategis serta sumber dayanya melimpah. Kota ini terpusat di sekitar tepi timur sungai Ciliwung (saat ini lapangan Fatahillah). Tujuan dari kegiatan eksplorasi ini adalah untuk menanamkan nilai kemandirian dalam diri masing-masing siswa dan ikut merasakan kehidupan masyarakat luas yang khususnya bekerja di Jakarta. Karena itulah, para siswa naik kendaraan umum seperti yang banyak dilakukan oleh masyarakat pada umumnya. Biasanya bila ada kegiatan luar dari sekolah, para siswa selalau terkondisi dan dilayani dengan nyaman. Kegiatan ini para siswa benar-benar merancang sendiri perjalanan mereka. Para gurtu hanya ikut , tanpa memberikan petunjuk atau arahan seperti biasanya.
Selengkapnya