Tiga Hari Penuh Tantangan
Posted: 2020-02-24 | By: Nicholas Andrew/VIII-A
Hari Senin sampai dengan Rabu, tepatnya tanggal 3-5 Februari 2020, saya dan teman-teman menjalani LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) sebagai Badan Pengurus OSIS periode 2020. Kami mengorbankan waktu dan tenaga untuk sungguh-sungguh menggunakan kesempatan yang diberikan dengan maksimal. Harapannya, kami dapat menjalani semua tugas kami sebagai Badan Pengurus OSIS yang baru. Hari pertama, kami semua diberi pengarahan di Hall SMP Santa Ursula BSD oleh Suster Francesco tentang pelaksanaan dan kegiatan LDK yang akan kami jalani selama tiga hari ini. Suster juga berbicara mengenai hal penting, yaitu tentang membangun jejaring dan kolaborasi. Sesudah itu, kami pergi ke Auditorium tempat pelaksanaan LDK. Pada kegiatan pertama, kami menulis tantangan dan harapan, serta menilai diri sendiri. Hal ini dilakukan agar kami punya tujuan dan kami bisa mengembangkan diri lebih baik saat LDK berlangsung. Kemudian kegiatan dilanjutkan ke sesi perkenalan diri dan asosiasi bebas. Setelah itu, kami melakukan kegiatan di luar ruangan (outdoor). Kami semua dibagi ke dalam tiga kelompok yang masing-masing kelompok berisi 11 orang. Setiap kelompok diharuskan melewati semua tantangan yang diberikan, seperti menyeberangi tali yang digantung di antara dua pohon, menurunkan pipa besi secara bersamaan, membalikkan spanduk yang diinjak tanpa keluar dari spanduk, dan memindahkan ember di atas pipa paralon dari satu sisi ke sisi lainnya menggunakan stik kayu. Setiap rintangan mempunyai tantangan tersendiri dan kami harus memiliki strategi dan kerjasama yang baik. Pada sessi yang terakhir, kami sebagai BP OSIS menjadi satu tim besar dan kami ditugaskan untuk bisa menyelesaikan tantangan terakhir, yaitu memindahkan pipa yang berisi air dari dalam kotak ke ember mennggunakan tali dan ban kempes. Namun, kami gagal karena kecerobohan dan kurangnya komunikasi yang jelas dan akhirnya merugikan kami sendiri. Akhirnya, kegiatan kami selesai pada pukul 15.00 sore. Kami belajar banyak hal dari simulasi atau kegiatan yang dijalani. Lalu, kami diberi pekerjaan rumah, yaitu menuliskan refleksi pribadi serta mempersiapkan diri, dan materi untuk sesi pidato keesokan harinya. Pada hari kedua, kami berkumpul di Auditorium pada pukul 06.55 pagi untuk segera memulai LDK di hari kedua. Pada sesi pertama, kami dibagi ke dalam kelompok kecil untuk berpidato. Lalu, yang terbaik dari kelompok akan berpidato di depan 33 orang atau kami semua. Kemudian, kami memilih satu orang yang menurut kami sendiri baik dalam hal berpidato. Selanjutnya, kami belajar memberikan apresiasi positif kepada teman-teman. Dalam hal ini, kami bebas memilih siapa yang akan diberi apresiasi. Kegiatan ini sangat berguna untuk orang yang memberi dan yang menerima apresiasi. Kemudian, kami masuk ke dalam proses organisasi yang meliputi debat, diskusi, dan rapat. Kami dibagi ke dalam empat kelompok besar untuk berdiskusi dalam kelompok. Setelah itu, kami berdebat dengan kelompok lain untuk saling beradu argumen. Kegiatan ini berlangsung sangat seru karena secara tidak langsung kami diajak untuk berpikir kritis dan berani maju untuk menjadi perwakilan kelompok dalam debat. Setelah itu, pada kegiatan rapat kami mendapat pengalaman penting dari kesalahan-kesalahan untuk dijadikan pelajaran agar kedepannya, semua rapat bisa terencana dan berjalan dengan baik. Kegiatan selesai di hari kedua dan tentu kami diberi pekerjaan rumah. Kami harus membuat refleksi serta mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk rapat pada hari Rabu besok. Sampailah di hari terakhir kami mengikuti LDK. Kami bersiap di ruang auditorium seperti hari-hari kemarin. Kami menggunakan hari terakhir ini untuk rapat seharian penuh. Kami membahas hal-hal penting seperti membuat dan menentukan visi misi OSIS SMP 2020, mempresentasikan program rutin, dan program baru setiap seksi, serta sebagainya. Kami senang dan bangga karena bisa mencapai hasil rapat yang baik. Namun, banyak konflik atau masalah dalam rapat yang dilakukan. Selesai rapat pada pukul 2.45 sore dan 15 menit yang ada digunakan untuk mengulang hal apa saja yang sudah dipelajari selama tiga hari ini dan melakukan refleksi diri. Pembina pun menyampaikan harapan kepada kami yaitu Badan Pengurus OSIS 2020 agar dapat menjalani semua kegiatan dan program OSIS dengan baik. Kegiatan LDK yang saya dan teman-teman OSIS jalani, tentu ada hal atau point-point penting yang kami dapat. Bagi saya sendiri, saya belajar untuk dapat bekerja sama dengan siapapun, menjalin komunikasi yang baik, berpikir positif, dan mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi agar tujuan yang diharapkan bisa tercapai. Saya berharap, Badan Pengurus OSIS yang baru bisa menjalani semua kegiatan maupun menghadapi masalah dengan penuh semangat dan meningkatkan kualitas OSIS SMP Santa Ursula BSD menjadi organisasi yang lebih berkualitas.  
Selengkapnya
Pendidikan Seksualitas Kelas VIII
Posted: 2019-11-06 | By: Farrel Justyn A. / VIII E
Pendidikan seksualitas  atau  edukasi seks  adalah kegiatan untuk mengajarkan mengenai kesehatan reproduksi. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menyadarkan pentingnya kesehatan reproduksi sehingga tindakan pelecehan seksual maupun penyakit menular dapat dicegah. Pendidikan seksualitas mempelajari tentang organ reproduksi, mencegah adanya bentuk kekerasan seksual dan pemerkosaan, mencegah pernikahan usia muda, mencegah perilaku seks yang tidak aman, mempelajari tentang gender, dan berusaha untuk mewujudkan penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain. Anak-anak sejak usia dini hendaknya mulai dikenalkan dengan pendidikan seksual yang sesuai dengan tahap perkembangan kedewasaan mereka. Kadang, orangtua merasa canggung dalam menyampaikan pendidikan tersebut. Justru, dengan sikap keliru tersebut, anak (remaja) akan berusaha mencari sendiri pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan seksual dari berbagai sumber yang mungkin kurang layak. Akibatnya, pengetahuan yang diperolehnya pun akan setengah-setengah bahkan mungkin keliru. Berdasarkan latar belakang itulah Sekolah SMP Santa Ursula BSD mengadakan pendidikan seksualitas untuk memberikan wawasan kepada peserta didik. Pendidikan seksualitas dilaksanakan,pada hari Senin, 14 Oktober 2019 dan Selasa, 15 Oktober 2019 yang bertempat di Aula SMP & SMA Santa Ursula BSD. Kegiatan dibagi menjadi 2 kelas yaitu kelas laki-laki dan kelas perempuan. Pendidikan seksualitas pada hari Senin, dimulai pada pukul 07.00 hingga pukul 12.45, sedangkan hari Selasa, dimulai pada pukul 07.00 hingga pukul 13.30. Pada hari Senin 14 Oktober 2019, materi pertama dimulai pada pukul 07.30 hingga pukul 09.00.  Pada materi pertama, membahas tentang bagaimana cara menghargai diri kita dengan menjaga kebersihan diri kita (personal hygiene) serta berbicara tentang My Rules yang dibawakan oleh Kak Star. Acara dimulai dengan sharing tentang menjaga personal hygiene dengan cara, mencuci bagian-bagian tubuh seperti rambut, ketiak, kaki, badan serta menggosok gigi. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga kebersihan diri agar tidak terjangkit berbagai macam penyakit. Kita harus mempunyai konsep diri, ‘My Rules’ bertema PANTS yaitu P - Privat are privat, A - Always remember your body belongs to you, N - No means no, T - Talk about secret that upset you, dan S - Speak up. Dari ‘My Rules’, kita diingatkan bahwa tubuh kita adalah milik pribadi, ‘SAY NO’ kepada orang yang berusaha untuk melihat bagian ‘PRIVAT’ diri kita, dan berbicara kepada orang yang kita percaya apabila ada rahasia/sesuatu yang membuat kita sedih atau kesal. Materi kedua dimulai pada pukul 09.15 hingga pukul 11.15. Pada materi kedua, membahas tentang Aku dan Dia. Pada masa remaja, terjadi puncak emosional yang mengakibatkan timbulnya rasa cinta, rindu, malu, saat bertemu dengan lawan jenis. Puncak emosional inilah yang biasa disebut dengan pacaran. Pacaran memiliki dampak positif dan dampak negatif. Dampak positifnya antara lain adalah memperluas pergaulan; menjaga sikap; serta memiliki perasaan aman, tenang, nyaman, dan terlindung. Dampak negatif pacaran antara lain adalah ‘sex’ bebas; hidup boros dan prestasi yang semakin menurun. Mencegah adanya hubungan pacaran yang tidak sehat, seperti melakukan kekerasan, ‘sex’ bebas dan lain-lain, maka ada yang disebut pacaran yang sehat. Pacaran yang sehat itu seperti apa? Disebut pacaran yang sehat apabila saling memotivasi, tahu waktu, tidak boros, dan tidak posesif. Di kalangan remaja, khususnya kelas VIII yang mempertanyakan tentang kelegalan berpacaran di usia anak SMP? Pacaran pada umumnya bertentangan dengan aturan yang ditetapkan oleh sekolah tetapi masih saja ada yang berpacaran di lingkungan sekolah. Sebenarnya, yang menentukan pacaran adalah diri kita sendiri dan tentu pacaran memiliki dampak negatif dan positifnya. Oleh karena itu, kita harus bijak untuk memilih apakah kita (siswa kelas VIII) mau berpacaran atau tidak. Materi ketiga dimulai pada pukul 11.30 hingga pukul 12.45. Pada materi ketiga, membahas tentang harga diri. Harga diri adalah ukuran yang dipakai untuk menilai diri sendiri. Caranya adalah dengan mengendalikan emosi (emosi mempengaruhi pergaulan), menghargai orang lain, dan mengenali diri sendiri (agar lebih percaya diri). Di zaman sekarang, penghargaan terhadap harga diri seseorang mulai pudar. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya cyberbully. Dengan adanya cyberbully orang lain merasa tidak dihargai, depresi, takut, dan sakit. Oleh karena itu, kita (siswa kelas VIII) diajak untuk mencegahnya dengan menjaga dan mengembangkan eksistensi diri (keberadaan diri kita yang dikenal, diakui oleh orang lain), membangun sifat positif dari diri kita, tidak menampilkan sifat-sifat negatif yang mengarah ke bullying. Pada hari Selasa, 15 Oktober 2019, materi pertama dimulai pada pukul 07.00 hingga pukul 09.00. Pada materi pertama, membahas tentang identitasku atau ‘gender’ yang dibawakan oleh Kak Simon. Gender adalah sikap, peran, tanggung jawab, fungsi, hak, dan perilaku yang melekat pada diri laki-laki dan perempuan. Perempuan memiliki elemen sosial yang berbeda dengan laki-laki. Secara normal, perasaan batin seseorang yang cocok dengan tubuh mereka disebut gender expression. Ekspresi gender seseorang adalah cara mereka membuat orang tahu gender mereka. Gender dipengaruhi oleh budaya setempat, tradisi, pekerjaan, dan lingkungan sosial. Di zaman sekarang, banyak sekali pekerjaan laki-laki yang ternyata bisa dilakukan oleh perempuan seperti, tukang bangunan, pilot, supir, pengantar ‘online’ atau biasa disebut dengan ojek ‘online’, dan lain-lain. Begitu juga sebaliknya, laki-laki ada yang jago memasak (chef), penjahit, desiner, dan lain-lain. Pekerjaan tidak hanya sebatas satu gender antara perempuan dan laki-laki saja. Tetapi, pekerjaan bisa mencangkup perempuan dan laki-laki. Kemampuan seseorang tidak ditentukan dengan gender. Materi kedua dimulai pada pukul 09.30 hingga pukul 11.15. Pada materi kedua, membahas tentang menjaga kualitas diri dan juga ‘sex’ yang dibawakan oleh dr. Yudhi. Pada sebagian masyarakat, bicara ‘sex’ dianggap ‘tabu’ (aib, tidak baik, tidak pantas dibicarakan). Tetapi, pendidikan ‘sex’ ternyata bersifat ilmiah, dan wajib diajarkan kepada masyarakat khususnya para remaja untuk menambah pengetahuan akan ‘sex’. Laki-laki (hormon androgen) dan perempuan (hormon estrogen dan progesteron) memiliki alat kontrol  dari dorongan hormon terhadap dorongan seksual. Dorongan seksual pada pria antara lain adalah, mimpi basah dan masturbasi.  Hubungan seksual setelah menikah (persetubuhan), mengakibatkan kehamilan. Tetapi, seringkali didapat bahwa remaja paling tinggi mengalami ‘sex’ pada usia 15-19 tahun. Hal ini tentu beresiko tinggi, sama seperti mengonsumsi miras, rokok, dan zat berbahaya lainnya. Oleh karena itu, pendidikan ’sex’ perlu untuk mencegah tingginya angka kekerasan seksual dan kehamilan remaja pada wanita. Sebagai remaja, kita diajak untuk bertanggung jawab bagaimana cara menggunakannya dan mengetahui rambu-rambu dalam hal membicarakannya terhadap sesama (teman, orangtua, guru, kakak atau orang yang lebih dewasa dan kita nyaman untuk bercerita). Pendidikan seksualitas sangat diperlukan pada kalangan remaja sejak masa pubertas, baik oleh remaja perempuan ataupun laki-laki. Pendidikan seksual mempelajari tentang organ reproduksi, mencegah adanya bentuk kekerasan seksual dan pemerkosaan, mencegah pernikahan usia muda, mencegah perilaku seks yang tidak aman, mempelajari tentang gender, dan berusaha untuk mewujudkan penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain. Agar, remaja tidak terjerumus dalam pergaulan seksual yang keliru atau tidak sesuai yang mengarah pada seks bebas. Maka, remaja harus memahami pendidikan seksual dalam pergaulan besama teman berbeda jenis kelamin, meningkatkan kewaspadaan serta berhati-hati dalam bergaul. Remaja pun harus memiliki rasa bertanggung jawab atas tindakan berupa hubungan seksual dengan lawan jenis maupun sesama jenis yang mungkin memiliki resiko tersendiri. Semoga artikel ini, dapat bermanfaat bagi anda yang membacanya terutama para remaja terhadap pendidikan seksual maupun pengetahuan/informasi yang berhubungan dengan pendidikan seksual. Saya berterimakasih kepada kakak-kakak yang telah mengajar kami para remaja selama dua hari ini dalam hal pendidikan seksual sehingga saya dapat merangkum kegiatan tersebut dalam sebuah artikel untuk menambah wawasan pembaca mengenai pendidikan seksual.  
Selengkapnya
Eksplorasi Budaya ke Kota Tangerang
Posted: 2019-11-05 | By: Kendra/Kelas VIII
Selasa, 22 Oktober 2019 adalah pengalaman belajar saya bersama teman-teman satu kelas di luar kelas. Kali ini kami akan melakukan perjalanan eksplorasi budaya yang berbeda dibandingkan dengan karyawisata di kelas VII. Dalam perjalanan ini kami tidak hanya berkunjung ke satu tempat, tetapi ke banyak tempat bersejarah di Kota Tangerang. Perjalan kali ini unik dan berbeda karena kami harus mencari informasi sendiri untuk  sampai tujuan tanpa tersesat dengan menggunakan angkutan umum. Tidak hanya itu, kami juga harus mengetahui rutenya perjalanan agar semua tempat kunjungan bisa dikunjungi dan mengatur waktu sampai. Dengan perjalanan ini, kami dapat belajar menjaga barang miliksendiri, kerja sama, mengatur waktu, uang, dan jarak tempuh. Perjalanan ini sangat menyenangkan karena kami bisa menjadi lebih dekat satu dengan yang lain, lebih mengenal, dan harapannya kelas kami menjadi lebih kompak. Bagi saya dan teman-teman kelompok, perjalanan ini merupakan pengalaman yang berharga karena kami dapat belajar kebudayaan Tionghoa dan sejarah-sejarahnya. Kami juga menjadi tahu daerah-daerah yang ada di sekitar Tangerang yang sebelumnya belum pernah kami kunjungi. Tempat-tempat yang kami kunjungi antara lain: Kampung Bekelir, Toa Pekong, Masjid Kali Pasir, Klenteng Boen Tek Bio, Museum Benteng Heritage, dan Pasar Lama. Saya dan teman-teman memulai perjalan dengan rute tiga. Destinasi pertama kami adalah daerah kawasan Pasar Lama. Ketika sampai di pasar, kami menyusuri pasar dan langsung mencari makan. Saat kami sampai itu sekitar pukul 08.00, maka banyak restoran atau warung yang kami ingin kunjungi masih tutup. Kami hampir menyerah dan mencoba mencari restoran atau warung dengan google, tapi tidak jadi karena takut teresat. Akhirnya, kami makan di sebuah restoran yang sudah buka. Beberapa diantara tempat-tempat yang akan kita kunjungi tidak buka sesuai jadwal maka  dari itu kami menunggu. Salah satunya adalah Museum Benteng Heritage. Di depan gerbang tertulis bahwa museum buka pukul 10.00, tetapi hari itu buka pukul 12.00 karena harus menunggu waktu bersih-bersih museum. Tidak hanya itu saja kami harus menunggu selama tiga puluh menit karena museum tidak cukup menampung tiga kelompok sekaligus. Mengisi waktu luang untuk menunggu, kami bermain permainan Uno. Namun, waktu terbayar dengan informasi yang kami dapatkan. Informasi yang disampaikan oleh tour guide di museum sangat menarik, lengkap, dan jelas. Kami pun juga ditunjukkan barang-barang peninggalan masyarakat cina benteng pada zaman dahulu. Secara keseluruhan, dalam perjalanan ini kami tidak hanya belajar sejarah, tetapi belajar untuk mengenal teman dalam kelompok. Asik juga bepergian bersama teman-teman itulah yang terbesit dalam pikiranku kini. Tempat-tempat yang kami kunjungi itu memiliki nilai sejarah yang tinggi, makanan, dan minuman yang kami cicipi di pasar lama juga enak-enak. Jadi dapat disimpulkan bahwa perjalan kali ini sangat menyenangkan dan saya mau kembali jalan-jalan di pasar lama lagi dengan senang hati.  
Selengkapnya
Unforgettable Competitions
Posted: 2019-11-04 | By: Nancy Laura Sutan Kurniawan (Caca) IX-E
Nama saya Nancy Laura Sutan Kurniawan sebagai perwakilan tim basket putri SMP Santa Ursula BSD. Pada kesempatan ini, saya ingin mencertikan pengalaman saya dan tim saya saat mengikuti pertandingan basket di Labora Fest pada tanggal 16-21 September 2019 dan Ricci Cup pada tanggal 16-26 Oktober 2019 yang lalu. Labora Fest merupakan event tahunan yang diselenggarakan oleh Sekolah Ora et Labora dengan mengundang berbagai sekolah untuk berkompetisi bersama dalam bidang olahraga, kesenian, dan lainnya.  Sedangkan Ricci Cup merupakan ajang adu prestasi yang diselenggarakan oleh Sekolah Katolik Ricci II – Bintaro. Pada acara yang diselenggarakan oleh kedua sekolah tersebut, tim basket putra dan putri dari SMP Santa Ursula BSD mengikuti lomba basket antarSMP.  Tim basket putra berhasil meraih juara 3 pada Labora Fest, namun pada Ricci Cup tim basket putra masih kurang beruntung karena gugur pada pertandingan pertamanya.  Tim  basket putri berhasil masuk ke babak final dan meraih juara 1 pada kedua pertandingan di Labora Fest dan Ricci Cup ini.  Dimulai dari persiapan, kami erlatih rutin setiap minggu menjelang pertandingan. Meskipun terkadang di antara kami sering kali ada yang malas-malasan atau ada yang mengeluh selama latihan, pasti ada salah satu dari kami juga yang memberi semangat dan mendukung satu sama lain agar dapat berlatih dengan efektif karena waktu latihan kami (full team) tidak banyak. Meskipun hanya 2-3 kalilatihan, kami dapat memanfaatkan waktu tersebut dengan sangat baik karena saling mendukung satu sama lain sehingga saat bertanding kami dapat memberikan yang terbaik dan hasilnya pun memuaskan.  Tak lupa, sebelum bertanding kami juga melakukan pemanasan dan briefing dengan coach kami. Pemanasan merupakan salah satu bagian paling penting sebelum bertanding untuk menghindari cidera dan keram pada otot-otot, terutama otot kaki. Setelah pemanasan dan briefing, kami juga berdoa untuk meminta penyertaan Tuhan agar kami dapat bertanding dengan sebaik-baiknya dan di antara kami tidak ada satupun yang cidera atau pun mengalami hal yang tidak diinginkan. Setelah berdoa kami pun meneriakkan yel-yel kami bersama-sama agar lebih semangat lagi.  Tibalah saatnya kami memasuki lapangan setelah persiapan dan melakukan pemanasan lagi menggunakan bola di lapangan untuk menyesuaikan ring. Kami melakukan shooting, lay-up, under-ring, free-throw dengan semangat. Lalu, kami pun dipanggil beberapa menit kemudian untuk berfoto dan bersalaman dengan lawan kami. Setelah berfoto kami kembali ke tempat duduk dan 5 orang pertama yang akan bermain (starter five) pun masuk ke lapangan. Pertandingan pun dimulai.  Selama pertandingan kami memberikan semuanya yang terbaik dan tidak ada satupun di antara kami yang cidera. 4 quarter (40 menit) pun berlalu tidak terasa dan kami pun menang dengan skor yang cukup mengagumkan. Hal ini terus berulang dari babak penyisihan, semi-final, hingga kami dapat sampai pada babak final. Pada babak final, kami pun bermain dengan sangat baik sehingga kami meraih juara 1. Kami sangat senang dan bangga karena latihan yang kami lakukan selama ini tidak sia-sia.   
Selengkapnya
KEGIATAN WISATA ALAM DI GODONG IJO
Posted: 2019-10-29 | By: Faith Scolastica Salim / VII B / 08
Pada hari Selasa, 15 Oktober 2019 seluruh siswa kelas VII SMP Santa Ursula Bumi Serpong Damai (BSD) mengikuti kegiatan wisata alam yang berlokasi di Godong Ijo, Depok. Kami semua berkumpul di sekolah pukul 06.30 pagi dan kami berangkat tepat pukul 07.15 dengan empat buah bus yang telah disediakan oleh pihak sekolah untuk mengantar kami ke lokasi. Perjalanan dari SMP Santa Ursula menuju Godong Ijo membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit. Sesampainya di Godong Ijo, kami berkumpul di aula dan diberikan waktu untuk menikmati snack yang dibagikan oleh panitia Godong Ijo. Kami menghabiskan waktu bersama teman-teman di kelompok untuk menyantap makanan sambil berbincang-bincang santai selama kurang lebih 10 menit. Selesai makan, kami senam bersama secara serentak.  Setelah itu, kami diberikan kesempatan untuk menyaksikan sebuah video mengenai pemanasan global (global warming).  Kegiatan kami berikutnya adalah melakukan aktivitas bersama kelompok yang sudah ditentukan di setiap pos. Kami terbagi menjadi enam kelompok setiap kelompok terdiri dari kurang lebih 30 anggota. Terdapat enam kegiatan yang wajib kami lakukan, yakni : membuat potti doll, bermain outbond, mendaur ulang plastik, memancing ikan (fun fishing), simulasi pembangkit listrik dengan tenaga alternatif (air, angin, biogas, panas matahari), dan membuat vertical garden. Setiap kegiatan yang kami lakukan tersebut selalu didampingi oleh kakak panitia di Godong Ijo. Kami berhasil melakukan empat jenis kegiatan sebelum waktu makan siang. Pukul 12.00 siang tepat, kami semua diminta kembali berkumpul di hall untuk menyantap makan siang yang telah disediakan.  Nikmat sekali rasanya bisa makan siang bersama dengan teman-teman.  Tak lupa kami juga bergotong-royong untuk membersihkan seluruh sampah yang terdapat di hall.  Sesudah makan siang dan membersihkan sampah, kami kembali berkumpul dengan kelompok masing-masing untuk melanjutkan dua kegiatan yang belum dilakukan.  Pukul 15.00 setelah menyelesaikan seluruh kegiatan kelompok, kami kembali berkumpul di hall untuk mengikuti kegiatan penutup. Para guru, panitia pendamping Godong Ijo, dan beberapa siswa menyampaikan kesan, dan pesan selama berkegiatan di Godong Ijo. Kemudian disampaikan beberapa pengumuman sebelum kami meninggalkan Godong Ijo.  Ketika waktu menunjukkan pukul 15.30 bus kami berangkat menuju sekolah Santa Ursula BSD dan tiba di sekolah tepat pukul 16.30.  Sungguh, hati kami semua merasa sangat senang dapat mengikuti kegiatan wisata alam di Godong Ijo ini Saya dapat memetik nilai-nilai penting bagi kehidupan, khususnya pribadi saya dari pengalaman berkegiatan di Godong Ijo, yakni : selalu belajar untuk menghargai orang lain, kebersamaan dalam perbedaan itu indah dan menyenangkan, gotong royong lebih baik karena pekerjaan menjadi lebih ringan, dan cepat selesai, serta  tercipta keakraban yang lebih baik lagi antara sesama teman.  Selain itu,  juga niat  untuk selalu bersyukur kepada Tuhan atas alam dan makhluk hidup lain yang diciptakan-Nya. Kegiatan wisata alam di Godong Ijo juga mengingatkan kita untuk menyelamatkan bumi (save the earth) demi masa depan generasi penerus kita kelak. Hal paling sederhana yang saya peroleh adalah ternyata bahagia itu bisa diperoleh dengan cara-cara yang sederhana melalui alam, kegiatan, dan orang-orang di sekitar kita.  Terima kasih kepada SMP Santa Ursula BSD, para guru, dan panitia pendamping yang telah memberikan kesempatan bagi para siswa untuk belajar secara non-akademis, melalui kegiatan berwisata alam di Godong Ijo. Kegiatan eksplorasi ini mampu  memberikan kepada peserta didik tentang pemahaman nilai-nilai yang bermakna dan berguna bagi bekal kehidupan di kemudian hari.  
Selengkapnya
Eksplorasi Sosial
Posted: 2019-10-29 | By: Patrick - IXE
Pada hari Selasa, 8 Oktober 2019, siswa – siswi SMP Santa Ursula BSD melaksanakan kegiatan Eksplorasi Sosial. Kami berkumpul di hall SMP – SMA pada pukul 05.30 bersama dengan kelompok kami masing – masing. Ada 3 SLB yang menjadi tempat belajar kami, yaitu SLBN 01 Lebak Bulus, Jakarta, SLB Tri Asih, dan SLB Pangudi Luhur. Tiap kelas dibagi 6 kelompok yang disebar ke 3 lokasi tadi.  Saya dan kelompok mendapat tugas ke SLBN 01 Lebak Bulus. Setelah semua anggota  kelompok  telah hadir, kami langsung berjalan ke luar sekolah, kemudian memesan taksi online untuk berangkat ke lokasi yang akan kami tuju, yaitu SLB – A Pembina Tingkat Nasional, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Setelah menempuh perjalanan selama sekitar 45 menit, kami tiba di SLBN – A Pembina Tingkat Nasional. Kami langsung disambut hangat oleh kepala sekolah, , dan Pak Agus selaku guru di SLB – A Pembina Tingkat Nasional. Kami dikumpulkan di aula, kemudian membentuk barisan sesuai dengan kelompok masing – masing. Setelah mendengarkan kata sambutan, setiap kelompok dibagi menuju jenjang yang berbeda, dan kelompok saya dipilih untuk bereksplorasi di jenjang SMA.  Seluruh siswa di SLB – A Pembina Tingkat Nasional adalah penyandang tunanetra. Mereka semua membaca dan menulis menggunakan huruf braille, yaitu sejenis pola yang dibuat untuk melambangkan setiap huruf abjad serta angka, dan dibaca dengan cara diraba. Saya sendiri juga baru pertama kali melihat secara langsung seperti apa bentuk huruf braille. Saya dan kelompok saya kemudian diajak ke lantai dua, ke tempat percetakan buku yang menggunakan huruf braille. Ternyata, SLB – A Pembina Tingkat Nasional ini juga merupakan pusat pembuatan soal – soal ujian untuk penyandang tunanetra di DKI Jakarta. Soal – soal tersebut dicetak di kertas khusus, bernama kertas braillon yang cukup tebal, sehingga tidak mudah rusak saat huruf – huruf braille diraba.  Setelah melihat tempat percetakan, kami berjalan menuju ruang keterampilan. Selama berjalan, kami melihat jalur kuning di sepanjang koridor yang bernama guiding block, yang berfungsi untuk membantu para penyandang tunanetra dalam berjalan. Sesampainya di ruang keterampilan, kami disuguhkan beberapa hasil karya dari para siswa – siswi di SLB, seperti tasbih, gelang, kotak tisu, dompet, dan masih banyak lagi. Kami tidak menyangka, bahwa penyandang tunanetra pun dapat menghasilkan karya – karya yang tak kalah bagus dengan yang kami buat.  Dari situ saya belajar bahwa saya tidak boleh menyerah karena ang saya miliki, tetapi terus berusaha untuk menghasilkan karya – karya yang dapat bermanfaat bagi orang lain, seperti yang dilakukan oleh siswa – siswi di sana. Kami pun membeli sedikit dari hasil karya mereka, lalu bergerak ke tempat selanjutnya. Selanjutnya, kami melihat sekelompok penyandang tunanetra sedang bermain tenis meja khusus tunanetra. Saya pun ikut mencoba permainan itu sambil menutup mata saya. Ternyata permainan itu cukup sulit bagi saya, tetapi tampak begitu mudah bagi siswa tersebut, karena memang sudah terbiasa. Setelah puas bermain, kami bergerak menuju ruang pijat. Ruangan tersebut berfungsi untuk mengasah bakat siswa yang tertarik dalam memijat. Pengajar pijat di sekolah itu juga merupakan penyandang tunanetra, yang dahulu pernah bersekolah di sana. Salah satu teman saya pun mencoba pijatan seorang siswa di sana. Saya kagum melihatnya, karena dengan keterbatasannya, ia masih mau melayani orang lain. Kami bergerak lagi menuju ruangan selanjutnya, yaitu ruang komputer. Komputer di sana merupakan komputer khusus, yang dapat mengeluarkan bunyi sesuai dengan huruf yang diketik. Kemudian kami berpindah lagi menuju ruang musik. Di ruang musik kami menyaksikan para siswa – siswi SLB bermain alat musik gamelan Jawa. Walaupun memiliki masalah dalam penglihatan, mereka tetap bisa memainkan alat musik tersebut dengan kompak, sehingga sangat enak untuk didengar. Pada pukul 09.40, para siswa – siswi SLB dan kami beristirahat sejenak untuk makan. Kami juga mencoba beberapa jenis minuman yang dijual di kantin SLB, seperti jus mangga, jeruk, dan lain – lain. Pada pukul 10.00, kami kembali masuk ke ruang musik untuk menyaksikan band SLB bermain musik.  Saya pribadi sangat terkejut dan terkesima, karena mereka sangat piawai dalam memainkan alat – alat musik seperti gitar, keyboard, bass, dan drum. Rasanya mustahil bagi saya untuk dapat memainkan alat – alat musik tersebut tanpa melihat, tetapi mereka dapat melakukannya dan menghasilkan alunan musik yang merdu. Ada pula seorang siswi yang memiliki suara yang sangat indah, membuat kami terpukau dan tak pernah bosan mendengarnya selama sekitar satu jam. Saya dan beberapa teman saya pun ikut berpartisipasi dengan bergiliran bernyanyi sambil diiringi oleh band SLB. Saya sangat menikmati momen itu. Waktu terasa begitu cepat, dan akhirnya jam menunjukkan pukul 11.30, menandakan bahwa kami harus kembali ke BSD. Dengan berat hati, kami pun berpamitan dengan para gusu serta siswa – siswi di sana, dan bergegas untuk pulang.  Kami semua pulang menggunakan kendaraan umum, sesuai dengan kesepakatan bersama. Kami berjalan sebentar menuju jalan raya, sambil menunggu angkot yang akan membawa kami menuju stasiun Lebak Bulus. Sesampainya di stasiun, sambil menunggu MRT kami ke minimarket sejenak untuk membeli makanan ringan serta minuman untuk perjalanan pulang. Pada pukul 13.00, kami bergegas naik ke MRT, yang membawa kami ke stasiun Bundaran HI. Perjalanan dengan MRT ini juga merupakan pengalaman baru bagi saya, yang baru kali ini mencoba MRT. Sesampainya di Bundaran HI, kami langsung berjalan menuju halte Trans Jakarta terdekat untuk melanjutkan perjalanan dari Bundaran HI ke Grogol. Dari Grogol, kami melanjutkan perjalanan menggunakan Trans Jakarta, dan sekitar pukul setengah 4 sore, akhirnya kami tiba di BSD. Saya pribadi belajar banyak dari kegiatan Eksplorasi Sosial ini. Saya belajar untuk bersyukur, karena sudah diberi anggota tubuh yang lengkap dan berfungsi dengan baik, sehingga saya dapat menjalani hidup dengan nyaman. Saya juga belajar untuk memiliki daya juang yang tinggi, dan pantang menyerah dalam menghadapi masalah, seperti para murid SLB yang dengan segala keterbatasan mereka, mereka masih mau berjuang untuk belajar, untuk menghasilkan karya – karya, entah itu di bidang musik, keterampilan, ataupun bidang lainnya. Saya yang memiliki anggota tubuh lengkap, sepatutnya lebih berjuang untuk menimba ilmu, untuk menghasilkan karya – karya yang bermanfaat bagi orang lain sehingga saya dapat menjadi manusia yang utuh, cerdas, dan melayani.
Selengkapnya
KEGIATAN Hari Pangan Nasional 2019
Posted: 2019-10-19 | By: Ferdinand Justin / 8C / 16
Sabtu tanggal 19 Oktober 2019 sekolah kami SMP Santa Ursula BSD mengadakan kegiatan dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia atau bisa disebut dengan HPS. Kegiatan yang dilakukan adalah membagikan beras kepada pekerja jalanan yang kurang mampu seperti tukang sapu jalan dan tukang parkir. Beras yang dibagikan adalah hasil sumbangan dari siswa-siswi SMP Santa Ursula BSD yang telah dikumpulkan dari tanggal 7-9 Oktober 2019 yang lalu. Tim pembagi beras dibagi ke dalam kelompok lebih kecil masing-masing kelompok harus menyediakan satu mobil untuk mengantar ke tempat tujuan dan membagikan beras ke orang yang tidak mampu. Di kelompok saya, Jojo yang menyediakan mobilnya.  Pembagian beras dilakukan oleh dua orang perwakilan di setiap kelas VII dan kelas VIII. Pembagian beras dilakukan ke lima tempat dan  kelompok saya yaitu kelompok C yang terdiri atas enam anggota/siswa dan satu orang guru yang mendamping kelompok kami yaitu Bu Devi dan orang tua Jojo yang ingin mengantarkan kami ke tempat tujuan. Kami melakukan pembagian di sekitar AEON mall. Saat saya memberikan beras kepada ibu/bapak  penyapu jalanan saya merasa sedih karena mereka bekerja keras, walaupun mereka sudah berumur. Di salah satu tempat kami membagikan beras, mereka (para pekerja jalanan) mengelilingi kami untuk mendapatkan beras. Saat ingin kembali ke sekolah kami mulai bercerita satu sama lain di dalam kelompok membicarakan tentang perasaan kami saat membagikan beras. Menurut saya, kegiatan ini merupakan pengalaman pertama yang sangat berharga. Saya baru pertama kali bisa menyumbangkan beras bersama dengan teman-teman. Rasanya senang sekali dapat membantu orang lain yang membutuhkan. Saya sangat berterima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk membagikan beras dan dapat berbuat baik pada orang lain. Kedepannya, saya harap dapat melakukan kegiatan seperti ini lagi di tahun berikutnya.  
Selengkapnya
Parenting Session bagi Orang tua Peserta Didik kelas VII SMP Santa Ursula BSD
Posted: 2019-09-12 | By: M.M. Josyarti
Saat memasuki usia remaja awal, proses pematangan fungsi seksual dalam tubuh seorang anak berakibat memunculkan rasa tidak nyaman akan diri sendiri yang cenderung diekspresikan dalam perilaku negatif. Tak heran bila orang tua kerap mengeluh sulit berelasi dengan anak remaja mereka yang tidak lagi menampilkan sosok anak manis dan patuh. Dewasa ini, relasi tak harmonis tersebut cenderung diperparah adanya gap antar generasi. Orang tua dari anak usia SMP pada umumnya berasal dari generasi X, sementara anak-anak mereka adalah generasi Z dengan karakteristik sangat berbeda satu sama lain.  Topik inilah yang diangkat dalam sesi parenting bagi orang tua peserta didik kelas VII. Narasumbernya adalah Ibu Charlotte Priatna. Kegiatan ini diselenggarakan selama lima hari berturut-turut untuk orang tua peserta didik kelas VIIA hingga VIIE. Kegiatan berlangsung dari hari Senin, 2 September hingga Jumat, 6 September 2019. Pada pembukaan Ibu Charlotte memberikan apresiasi khusus bagi para Ayah yang mengambil waktu untuk menghadiri sesi ini. Hal ini menjadi fokus pembicaraan dan ditegaskan kembali karena kecenderungan umum untuk menyerahkan urusan pengasuhan anak semata kepada sosok Ibu adalah sepenuhnya keliru. Pada tahap nature di awal masa hidup seorang anak, peran Ibu memang sangat dominan. Namun selanjutnya, terlebih saat anak berada di usia remaja, proses yang berlangsung memasuki tahap nurture, saat di mana Ayah harus lebih mengambil peran.  Dalam hal ini warga generasi X, para orang tua adalah angkatan yang tumbuh besar dalam kondisi ekonomi tidak pasti, sehingga terbentuk menjadi tangguh dan bermental tahan banting. Karakter lain yang menandai generasi ini adalah kemandirian dan kemahiran beradaptasi. Kemandirian yang terkondisi oleh kurangnya bonding dengan orang tua (generasi sebelumnya adalah baby boomer adalah angkatan pekerja keras dan sangat mementingkan pekerjaan), berdampak pada kesulitan orang tua menunjukkan afeksi dalam relasinya dengan anak. Pilihan untuk menjadi teman ’ngobrol’ yang menyenangkan, ternyata bisa menjadi ”kebablasan”, sehingga anak lupa akan status orang tua sebagai pemegang otoritas di rumah.  Pengalaman-pengalaman “miscommunication” dalam relasi orang tua - anak kemudian digali pada kesempatan diskusi antar peserta yang duduk berdekatan. Selain mengungkap pengalaman berbeda pola pikir dengan sang buah hati, peserta juga ditantang untuk menemukan “apa yang harus dilakukan” dalam situasi tersebut. Tuntunan untuk diskusi tertera dalam lembar panduan yang diterima oleh setiap orang tua di awal pertemuan juga memuat rangkuman materi parenting. Dalam menanggapi sharing hasil diskusi, Ibu Charlotte menuntun peserta untuk lebih jauh mengenali karakteristik remaja muda mereka. Anak-anak usia kelas VII sebagai generasi Z adalah angkatan yang sejak lahirnya telah menjadi mahir dengan dunia digital dan jaringan internet. Para teenagers ini kemudian diberi julukan screenagers, sangat akrab dengan layar gadget mereka. Keistimewaan ini menjadikan mereka sangat peduli teknologi baru, tetapi cenderung terikat pada gadget; tidak hanya itu mencoba hal baru, tetapi mudah bosan; mempunyai kreativitas tinggi, tetapi bermental instan; sangat percaya diri, tetapi kurang hormat pada orang lain; pintar dan handal, tetapi lemah dalam komitmen, loyalitas, tidak serius, santai, tidak peduli, dan egosentris.  Perbedaan tajam antar dua generasi ini membuat gaya parenting orang tua generasi X untuk anak generasi Z berpeluang memunculkan sejumlah permasalahan. Kesulitan orang tua membangun relasi, membatasi keterbukaan anak, sementara kebebasan berekspresi yang diterima anak, membuat konflik dan debat sering terjadi. Selain itu, tuntutan orang tua yang berlebihan cenderung membut anak menarik diri.  Secara khusus berkaitan dengan hal terakhir, Ibu Charlotte memperkenalkan konsep atelophobia yakni phobia terhadap ketidaksempurnaan atau takut tidak menjadi cukup baik; ketakutan yang ekstrim akan kegagalan mencapai kesempurnaan dalam tindakan, gagasan, maupun keyakinan seseorang. Atelophobia pada remaja bisa mengarah pada kondisi depresi sampai keputusan untuk mengakhiri hidup ini sangat mungkin berawal dari akumulasi pengalaman gagal memenuhi tuntutan orang tua.  Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk membantu anak membangun harapan. Kekuatan harapan dapat mengalahkan keputusasaan. Ini terbukti dari pengalaman pendampingan Ibu Charlotte terhadap seorang siswa kelas XI yang terancam tinggal kelas karena memiliki tujuh nilai kurang. Guru, wali kelas, maupun pembimbing sudah mengingatkan siswa tersebut tentang kondisinya dan mendorongnya untuk memperbaiki, tetapi ia ’tak bergerak’. Kepada siswa tersebut, Ibu Charlotte menyatakan bahwa setelah melihat nilainya, ia yakin bahwa siswa tersebut bisa naik kelas. Mereka membicarakan empat nilai yang mendekati KKM yang perlu menjadi fokus perbaikannya, dan tiga nilai lainnya yang akan ditinggalkan. Namun, ia tetap memenuhi persyaratan kenaikan kelas. Pada akhirnya, siswa tersebut berhasil naik kelas.  Kesempatan tanya jawab yang disediakan di akhir sesi dimanfaatkan dengan baik oleh peserta hingga pertemuan diakhiri setelah berlangsung selama 90 menit. Durasi waktu yang relatif pendek ini tampaknya terisi cukup efektif. Hal ini dapat disimpulkan dari hasil evaluasi peserta terhadap kegiatan yang dilakukan setelah sesi berakhir. Semoga saja, bekal yang diperoleh peserta melalui kegiatan ini tidak sebatas menambah wawasan dan melengkapi khasanah pengetahuan mereka, melainkan sungguh menggerakkan para orang tua ini untuk memperbaharui relasi dengan anak  serta dapat menjembatani jurang relasi antar mereka.  
Selengkapnya
Melatih Fisik dan Mental Menjadikan Diri yang Gesit dan Bertanggung Jawab
Posted: 2019-09-12 | By: Bintang/Kelas VIII
Senin, 26 Agustus 2019 kami angkatan kelas VIII mengikuti kegitan fisik dan mental. Kami diharapkan berkumpul pukul 06.00 di lapangan olah raga SMP. Akan tetapi, masih saja ada yang terlambat. Pukul 06.00 kami diberi pengarahan singkat oleh para guru dan Ibu Irene selaku kepala sekolah. Sekitar pukul 07.00 kami dijemput dengan mobil tentara. Di dalam mobil terdapat dua orang pendamping dan satu guru. Perjalanan menuju Arhanud kira-kira 30 menit. Setelah sampai di sana kami baris sesuai kelas. Setiap kelas mendapat empat orang pendamping. Pada awalnya kami diberikan pengarahan singkat oleh salah satu tentara. Setelah pengarahan selesai kami melakukan PBB. Beberapa jam kemudian kami mendapatkan makanan kecil pertama. Sebelum makan snack kami harus duduk berhadapan dan mendekatkan kedua boks makan, lalu menaruh minum di kanan boks masing-masing. Kemudian, kami berdoa dalam kepercayaan kami masing-masing dan baru mulai makan snack. Pada saat proses makan snack waktu makan kami di hitung. Setelah makan snack kami kembali melakukan PBB, tetapi cuaca semakin panas jadi kami semua kepanasan dan sudah mulai capai. Setelah melakukan PBB kami diberikan materi cara menggunakan kompas malam dan kompas pagi serta cara memberikan pertolongan pertama. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 kami semua melakukan ibadah. Waktu beribadah selesai, kami melanjutkan aktivitas kami dengan bersih-bersih (mandi). Ini merupakan kegiatan yang tidak saya sukai. Hal ini karena kami harus mandi dengan cepat dan harus mandi secara bersamaan. Satu kamar mandi diisi oleh tujuh orang. Pada malam harinya kami dibentuk kelompok, setiap kelas dibagi menjadi dua kelompok untuk melakukan kompas malam. Sekitar pukul 08.00 kami menyelesaikan kompas malam dan dilanjutkan dengan jurit malam. Situasi pada saat jurit malam tidak menyeramkan, hanya terdengar suara baskom jatuh, atau suara kaleng jatuh. Kami juga diarahkan untuk mengikuti arah lilin yang menyala agar sampai ke garis finish. Pukul 00.00 jurit malam pun selesai. Kami diberi pengarahan untuk tidur dan bangun kembali pada pukul 04.00. Keesokan harinya kami bangun dan bersiap untuk melakukan kegiatan. Kegiatan yang kami lakukan pertama adalah senam pagi dan sarapan. Kemudian pukul 07.00 kami melakukan permainan. Ada banyak sekali permainan yang melibatkan kerjasama kelompok kelas. Setelah melakukan permainan, pukul 12.00 kami melakukan ibadah. Tepat pukul 02.00 kami melakukan lomba PBB. Juara lomba PBB jatuh pada kelas VIII B dan hadiah dari perlombaan adalah diperbolehkan pulang terlebih dahulu. Setelah selesai pengumuman pemenang, kami berfoto dengan para tentara. Namun, sebelum berfoto kami diberi pengarahan terakhir. Salah satu tentara yang menurut saya sangat baik adalah Kak Ramdan, dia sangat sabar juga baik. Ada juga beberapa dari teman saya yang sangat menyukai tentara-tentara lain contohnya Kak Bayu dan Kak Purnama. Pengalaman fisik dan mental ini saya belajar untuk selalu berterima kasih akan makanan yang kita dapat dan jangan pilih-pilih saat makan. Saya juga belajar untuk bersikap gesit juga bertanggung jawab atas barang sendiri. Setelah mengikuti pelatihan ini saya menjadi lebih mandiri, gesit, dan bertanggung jawab. Saya pun merasa senang bisa mengikuti pelatihan, meskipun tubuh ini sangat lelah.  
Selengkapnya
Parenting Zaman Now : Pembelajaran dari Direktur Sekolah Selamat Pagi Indonesia
Posted: 2019-08-12 | By: Ibu Yulia Mariyani
Sekolah Santa Ursula BSD memberikan perhatian yang besar terkait pemahaman cara mengasuh anak yang perlu dilakukan oleh orang tua peserta didik. Perhatian ini berangkat dari keyakinan bahwa keberhasilan pembelajaran peserta didik di sekolah tidak dapat dilepaskan dari pola asuh anak dalam keluarga.   Tidak kurang dari 540 orang tua hadir dalam Seminar Parenting yang diadakan tiga hari yaitu Senin-Rabu, 5-7 Agustus 2019. Seluruh orang tua siswa SMP Santa Ursula BSD diundang untuk berpartisipasi dalam acara parenting ini. Kegiatan yang diadakan selama dua jam ini menghadirkan narasumber  Bapak Agus Setiadi selaku Direktur Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI). Sekolah ini berlokasi di Batu, Malang, Jawa Timur Belajar dari  Bapak Agus Setiadi Sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) merupakan sekolah dengan karakteristik yang unik dan inspiratif. Sekolah SPI adalah sekolah gratis dengan latar belakang siswa yang multikultural dari seluruh Indonesia. Peserta didik yang diterima oleh sekolah ini memiliki ketentuan yang tidak biasa yani  siswa  tersebut harus yatim piatu, yatim/ piatu, tidak mampu secara ekonomi, dan tidak pandai.  Sekolah yang berdiri pada tahun 2007 ini memiliki tiga aturan utama bagi seluruh peserta didiknya. Rambu-rambu bagi peserta didik yaitu tidak boleh pindah agama, tidak boleh pacaran, dan tidak boleh mencuri. Saat ini jumlah siswa yang diterima SPI berjumlah 90 anak setiap angkatannya. 5 (lima) Karakteristik Orang Tua Zaman Now  Dalam paparannya, Bapak Agus Setiadi menyampaikan lima karakteristik utama yang perlu dikembangkan oleh orang tua kekinian dalam pengasuhan anak. Kelima karakteristik ini adalah orang tua menjalankan peran sebagai present person, memposisikan diri sebagai best friend, menempatkan diri sebagai consultant, menjalankan fungsi sebagai detective, dan role model bagi anaknya. Mari kita lihat satu persatu kelima karakteristik ini.  1. Present Person Langkah awal menjalankan peran sebagai present person adalah orang tua harus menyadari keadaan anak dan peran utama sebagai orang tua zaman now. Orang tua harus selalu update, tetapi harus selektif terhadap hal-hal yang menjadi dunia anak zaman sekarang (film, lagu, makanan, sosial media, dan lain-lain).  2. Best Friend Orang tua memposisikan diri sebagai teman bagi anak. Tindakan sederhana yang dapat dilakukan adalah membuat anak menjadi nyaman dengan cara masuk melalui pintu anak, keluar melalui pintu orang tua. Adapun yang dimaksud adalah masuk dengan cara yang disukai anak dan keluar/hasil akhir dalam harapan (persepektif) orang tua.  3. Consultant Dengan menjadi best friend, orangtua akan lebih dapat menjalankan perannya sebagai consultant dalam mendampingi dan memberikan masukan kepada anak terkait dengan pendidikan, karier,  pernikahan (memilih jodoh yang tepat), wealth management, dan kehidupan.   4. Detective Ketika menjadi detektif  orang tua harus “kepo” atau memiliki rasa ingin tahu yang tinggi untuk memahami dan melayani anak. Dalama hal ini orang tua selalu berusaha mencari tahu hal yang sedang dialami, disukai oleh anaknya berdasarkan rasa ingin tahu dan belajar dari anak tanpa rasa curiga. 5. Role Model Keteladanan (role model) menjadi aspek yang sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak. Dalam hal ini, orang tua harus menjadi contoh bagi anaknya karena anak zaman sekarang tidak bisa diperintah, anak belajar dari hal yang mereka lihat.   
Selengkapnya
Nonton Bareng Film "Say, I Love You"
Posted: 2019-08-12 | By: Ignacio Kelas IX
Setelah mengadakan acara nobar film “Lima” beberapa tahun yang lalu, Sekolah Santa Ursula BSD kembali mengadakan acara nobar film “Say, I Love You” yang berada di CGV Cinemaxx Teras Kota, BSD. Sebelumnya guru-guru Sekolah Santa Ursula BSD telah menonton film ini pada hari Jumat (26/7), kemudian pihak film pun berbicara kepada Suster Francesco Marianti, OSU. untuk menawarkan beberapa hal, salah satunya dengan mengadakan acara nobar lagi untuk murid Sekolah Santa Ursula BSD dan Suster pun setuju untuk mendanai acara nobar khusus SMP Kelas IX dan siswa SMA kelas X, XI, dan XII.  Pada hari Senin (29/7/2019), kami pun berkumpul di hall dan pergi ke Teras Kota dengan kendaraan yang sebelumnya sudah disetujui setiap kelompok siswa. Kami pun tiba di Teras Kota, kemudian kami pergi ke bioskop dan mengabsensi diri kepada wali kelas masing-masing. Beberapa murid yang membawa uang diperbolehkan untuk membeli makanan yang akan disantap di dalam studio. Kami pun memasuki studio dan memilih tempat duduk yang nyaman.  Film diputar pada pukul 12.00 dan berakhir lebih kurang dua jam setelahnya. Setelah film tersebut usai, kami didatangi sekelompok orang dan beberapa MC yang membahas film tersebut untuk membuat kami lebih paham akan kejadian-kejadian yang terjadi di film tersebut. Setelah itu, kami pun pergi ke tujuan kami masing-masing. Menurut saya, dengan diadakan film tersebut yang bertumpu pada peristiwa nyata diharapkan siswa-siswi merefleksi diri serta semakin memahami arti dan nilai-nilai hidup. Dalam film tersebut, ditunjukkan peristiwa nyata dimana siswa-siswi di Sekolah Selamat Pagi Indonesia merupakan anak terlantar maupun yatim-piatu. Dengan melihat situasi hidup mereka yang seperti itu diharapkan siswa-siswi semakin meningkatkan penghargaannya kepada orang tua. Perasaan saya tampaknya campur-aduk ketika menonton film “Say I Love You.” Ada kalanya saya merasa kesal dan ada juga dimana saya merasa termotivasi, serta sesekali tersentuh hati saya.  Ada beberapa adegan menarik yang patut untuk dibahas, salah satunya yaitu proses dimana Koh Jul selaku pemilik sekolah turun tangan untuk mengubah tingkah laku perserta didik di sana. Koh Jul menjadi tokoh favorit saya di dalam film karena ia telah berjuang secara kreatif untuk mengubah pandangan murid-murid di sana. Ia menjadi tokoh yang menarik karena selama dalam proses itu, ia mengatakan beberapa kalimat motivasi yang membekas dalam hati saya. “Big Dream, Big Hope, Big Spirit, Big Action, Big Success,” serta “Life is A Choice” adalah salah satu dari kalimat motivasi dan renungan yang dipaparkan oleh beliau. Dengan mimpi yang besar akan mengacu kepada harapan yang besar. Memiliki harapan yang besar dibutuhkan semangat besar untuk melakukan hal-hal yang besar yang akan mengacu pada kesuksesan yang besar pula. Itulah arti dari motivasi pertama yang Koh Jul ucapkan yang membangun semangat murid-murid di sana, dari sekolah yang dikatakan buruk menjadi sekolah yang kreatif dan seru.  Nilai-nilai apa yang dapat diambil dari peristiwa-peristiwa dalam film? Tentu, semua 10 nilai Santa Ursula dapat kita lihat di dalam film tersebut. Dalam persiapan debut pertamanya terdapat kerja sama dan daya juang. Ada juga penghargaan, cinta lingkungan dalam memelihara tanaman, religiusitas pada agama masing-masing, tanggung jawab dan kejujuran untuk mengakui kesalahan serta kedisiplinan dan kemandirian.  Akhir kata, saya berterima kasih kepada Suster Franceso Marianti, OSU. dan Sekolah Santa Ursula BSD yang telah memberi kesempatan untuk belajar secara non-akademis melalui tontonan yang penuh dengan pemahaman dan arti hidup.  
Selengkapnya
Berani Tampil dan Asah Bakatmu
Posted: 2019-08-05 | By: Dinda Puspita Sari 9B/6
Lima ratus siswa SMP Santa Ursula BSD tentu saja memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Kemampuan setiap anak tidak bisa diukur hanya dari satu sisi pandang. Diperlukan banyak kesempatan untuk mencari dan mengasah bakat dalam diri anak masing-masing. Menurut saya, hal itu sudah ditunjukkan pada kebiasaan di sekolah Santa Ursula BSD ini. Dari pilihan ekstrakurikuler yang beragam, tidak menutup kemungkinan bagi anak untuk mengeksplor lebih dalam yang dimiliki dalam dirinya.  Pengalaman saya dimulai ketika saya masuk ke SMP Santa Ursula BSD. Pada awal kelas tujuh, saya sangat bingung ketika membaca daftar ekstrakurikuler apa saja yang ada di SMP Santa Ursula BSD. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk bergabung dalam ekstrakurikuler Karawitan dan Polymer Clay. Ketika saya mengikuti kedua ekstrakurikuler tersebut, saya merasa dua-duanya bukan dalam bidang yang saya kuasai. Namun, saya mendapatkan banyak pengalaman yang seru dan kedua ekstrakurikuler tersebut dapat memperluas wawasan saya.  Kelas VIII merupakan tahun yang seru bagi saya. Saya dapat bergabung dalam ekstrakurikuler Floorball dan Menulis Kreatif. Walaupun saya tahu bahwa olahraga bukan hobi saya, saya ingin menggali lebih potensi yang dimiliki oleh diri saya sendiri. Menulis juga bukan merupakan hobi saya. Pengalaman menulis satu halaman kertas folio setiap pertemuannya melatih saya untuk menjadi pribadi yang lebih tekun dan disiplin. Dari sinilah saya dapat menyimpulkan, apapun kegiatan yang sudah kita pilih pasti ada hal positif yang membuat diri kita semakin berkembang. Saya diberikan kesempatan untuk menjadi Badan Pengurus OSIS periode 2019. Semua tes sebelum menjadi Badan Pengurus OSIS, saya ikuti. Mulai dari tes tertulis dan wawancara. Saya tidak menyangka akan diterima dan dapat bergabung dalam divisi yang sangat saya inginkan. Seksi HUMAS merupakan kesempatan terbesar saya untuk mengembangkan hobi dan bakat yang ada dalam diri saya. Fotografi dan editing adalah dua hal yang paling saya senangi. Selama ada kegiatan yang dirancang oleh Badan Pengurus OSIS, seksi HUMAS akan berperan sebagai sarana dokumentasi. Mulai dari mendokumentasikan video dan foto, juga mewawancarai beberapa warga sekolah mengenai kegiatan yang baru saja dilaksanakan.  Kegiatan Inilah Sosialisasi dan Dokumentasinya Sanur (INSINYUR) merupakan pengenalan ekstrakurikuler yang ada di SMP Santa Ursula BSD. “INSINYUR” diadakan pada hari Rabu, 17 Juli 2019 lalu. Saya dan teman-teman dari seksi HUMAS menjadi panitia dokumentasi. Pengalaman ini tentu saja sangat berkesan. Kendala-kendala yang kami hadapi melatih kami untuk lebih cepat tanggap. Awalnya, kami membawa tiga buah kamera dan empat memory card, tetapi baterai dari dua kamera habis dan tiga dari memory card tidak memiliki ruang penyimpanan lagi. Walaupun demikian, kami berhasil mengatasi kendala yang ada. Semua kegiatan yang sudah disiapkan dapat terdokumentasikan dengan baik. Menurut saya, saya dan teman-teman dari seksi HUMAS sudah bekerja secara maksimal dan kami mendapatkan hasil yang sangat memuaskan.  
Selengkapnya
INSINYUR SANUR BSD
Posted: 2019-08-04 | By: Karol IX-A
Selama tiga tahun saya duduk di bangku SMP, ini merupakan sosialisasi yang paling mengesankan bagi saya. Pada dasarnya kita tidak bisa hanya mengasah hard skills saja, tetapi soft skills juga harus dilatih agar kita tidak hanya pandai dalam pengetahuannya saja, juga pandai dalam keterampilan dan sikap. Hal ini diwujudkan di Santa Ursula BSD dengan adanya 10 nilai yang diterapkan oleh seluruh keluarga Santa Ursula BSD serta program-program yang dibuat oleh OSIS. Selain itu, Santa Ursula BSD juga menawarkan berbagai macam ekstrakurikuler dan pembinaan yang dapat diikuti seluruh siswa-siswi. Semua ini disosialisasikan melalui program Insinyur. Insinyur yang merupakan singkatan dari Ini Sosialisasi dan Dokumentasinya Sanur, adalah program yang direalisasikan oleh Badan Pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (BP OSIS) SMP Santa Ursula BSD dan dilaksanakan pada Rabu (17/7/2019). Siswa-siswi diberi gambaran mengenai berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan, baik oleh sekolah maupun OSIS, sebagai wujud implementasi dari pengembangan soft skills peserta didik. Kegiatan tersebut meliputi kegiatan ekstrakurikuler, pembinaan sore, serta program OSIS. Siswa-siswi yang pernah mengikuti ekstrakurikuler atau pembinaan sore yang bersangkutan diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman mereka selama berproses dalam kegiatan yang diikuti. Di sisi lain, program yang telah dibuat oleh BP OSIS disosialisasikan oleh Badan Pengurus OSIS itu sendiri. Kami berada di ruang serbaguna sepanjang satu hari sekolah untuk menyaksikan penampilan-penampilan singkat serta sharing dari teman-teman kami. Untuk ekstrakurikuler, terdapat penampilan dari modern dance, daur ulang, desain mode, pergamano, membatik, guitar club, taekwondo, dan pencak silat. Sedangkan untuk pembinaan sore ada hidroponik, pramuka, dan kungfu shaolin. Kami juga menyaksikan sosialisasi ekstrakurikuler yang baru-baru ini didatangkan ke sekolah ini yaitu art factory, coding, dan animasi. Tidak hanya dari ekstrakurikuler dan pembinaan sore saja, kami juga menyaksikan penampilan dari band-band yang anggotanya pun sangat berbakat dan mampu mengguncangkan seluruh isi ruangan. Secara keseluruhan, setiap penampilan mampu menampilkan bakat mereka dengan baik dan dengan cara mereka tersendiri serta mampu berbagi apa yang mereka dapatkan berupa pengalaman, kesan, serta pengetahuan. Dari BP OSIS sendiri, program yang mereka telah buat mereka sosialisasikan di sela-sela pergantian penampilan. Salah satu program yang baru bagi saya yaitu Pantun Tangga kepanjangan dari Sopan Santun Tangga. Pada dasarnya kita diajak untuk tertib dalam menggunakan tangga yang ada di sekolah dengan mengikuti jalur naik dan turun yang sudah ditentukan untuk meminimalisir kemacetan di tangga. Untuk mendukung sosialisasi, mereka juga menampilkan video dokumentasi dari kegiatan yang sudah berjalan. Maka dari itu, mereka sebut program ini sebagai Ini Sosialisasi dan Dokumentasinya Sanur. Ada penampilan video mengenai beberapa kegiatan ekstrakurikuler dan program OSIS yang telah berjalan seperti pengomposan dan pemilahan yang kontennya cukup mencairkan suasana. Acara ini sangat berkesan bagi saya sebagai peserta yang menyaksikan keseluruhan acara dari awal sampai akhir. Selama satu hari ini saya belajar bahwa setiap kegiatan yang diselenggarakan di sekolah meski itu sering dipandang buruk oleh beberapa siswa memiliki ceritanya tersendiri yang unik dan berkesan serta banyak yang dapat dipelajari. Selain itu, dengan adanya pengembangan soft skills seperti ini dapat melahirkan orang-orang yang sangat berbakat. Semoga melalui acara ini orang-orang menjadi mulai ingin mengembangkan bakat serta keterampilan mereka dan semua orang bisa menerima manfaatnya.  
Selengkapnya
Wawasan Kebaharian untuk Pramuka Santa Ursula BSD
Posted: 2019-05-26 | By: admin
Waktu yang ditunggu akhirnya datang juga. Setelah kami mempersiapkan yel-yel dan beberapa perlengkapan pentas regu, akhirnya pada tanggal 11 Mei 2019 Pramuka Santa Ursula BSD berangkat ke Pangkalan TNI-AL Pondok Dayung Tanjung Priok. Tepatnya pukul 06.00 WIB kami anggota pramuka berkumpul di lapangan olahraga. Kami masuk ke dalam regu kami masing – masing untuk kegiatan apel pagi. Dalam kegiatan tersebut Kak Jaka yang bertugas sebagai pembina menyampaikan beberapa wejangan kepada kami, terutama tentang kesopanan, kemandirian, disiplin, dan keselamatan diri. Selesai apel, kami masuk ke dalam regu untuk bergotong-royong memindahkan barang bawaan kami ke truk yang akan kami kendarai. Iya, memang ada yang menarik dari perjalanan kali ini. Kendaraan yang akan kami gunakan adalah sebuah truk yang biasanya mengangkut pasukan tentara. Kami sangat antusias sekali untuk segera merasakan mengendarai truk tersebut. Akhirnya pukul 07.00 kami siap berangkat dan sampai di Pangkalan AL Tanjung Priok pukul 09.00. Sesampainya di sana, kami melihat sebuah patung katak yang sangat besar di seberang pulau. Ternyata kami harus menyeberang ke pulau tersebut. Pulau itu adalah pulau Pondok Dayung yang digunakan sebagai markas TNI AL di pangkalan Tanjung Priok. Kami menyeberang menggunakan kapal kecil, dan sekitar 5 menit kami sudah sampai di pulau tersebut. Pasukan katak menyambut kami, dan terjawab sudah rasa penasaran kami terhadap patung katak raksasa tadi. Perjalanan kami belum selesai, ternyata pulau itu tyidak sekecil yang terlihat. Kami masih harus berjalan masuk, sampai kami melihat barisan kapal-kapal besar yang sedang parkir di dermaga. Megah sekali, dan jelas kapal=kapal tersebut jarang kami temui. Kapal-kapal itu terlihat sangat besar dan dilengkapi dengan senjata, sehingga menimbulkan kesan gagah. Kami diantar ke sebuah kapal yang bernama Kapal Lawser. Sebelum kami memasuki kapal, kami melakukan upacara pembukaan. Di dalam upacara tersebut, Kak Levi memperkenalkan diri sebagai pimpinan di Kapal Lawser tersebut. Setiap regu didampingi oleh 2 TNI. Kami pun diajak masuk ke kapal untuk meletakkan barang-barang kami. Setelah itu, setiap regu di bawa untuk berkeliling melihat dan mengenal setiap ruang kapal beserta dengan persenjataan yang ada di dalamnya.  Selesai kegiatan tersebut, kami makan bersama. Acara dilanjutkan dengan permainan. Kami harus mendatangi empat pos untuk menyelesaikan setiap tugas yang diberikan oleh pembina di pos tersebut. Pos – pos tersebut antara lain; pos pionering, hula hoop, rahasia, dan kim cium (menebak suatu rempah dengan mencium bau dari benda tersebut). Setelah itu, kami istirahat sekitar 10 menit sembari menikmati snack . Kegiatan yang tak kalah menarik adalah ketika kami diajarkan mendayung.Kegiatan ini dinanti-nanti oleh kami karena hal ini tidak biasa dalam kehidupan kami sehari-hari. Sebelum mereka masuk ke dalam sekoci, mereka diajarkan cara mendayung dan semua aturan yang harus ditaati selama mendayung. Kemudian, kami masuk ke dalam sekoci yang memuat delapan orang termasuk dua orang tentara yang membantu membimbing kami. Hari itu ditutup dengan menonton pengetahuan bahari dan penampilan dari setiap regu. Video yang diputarkan berisi kehidupan sebagai tentara angkatan laut dan kehidupan dalam kapal. Video tersebut mengajarkan kami untuk memperluas pengetahuan bahari. Ke esokan harinya, kami bangun pukul 05.00 WIB. Pagi itu kami berolahraga ringan dengan senam, jalan santai atau lari pagi. Setelah itu Kak Theo meminta kami untuk mandi dan membereskan barang bawaan kami. acara dilanjutkan dengan makan bersama. Selesai makan, kami kembali dikumpulkan untuk melakukan upacara penutup. Selesai upacara kami kembali ke BSD. Pukul 12.00 WIB kami sampai di sekolah. Selesai membereskan peralatan pramuka, kami langsung diperkenankan untuk pulang. Acara ini sangat berkesan bagi kami. Kami belajar untuk bersyukur karena setiap hari masih bisa bertemu dengan keluarga.  
Selengkapnya
Pendampingan Seksualitas Remaja SMP St. Ursula BSD “Remaja Berkualitas, Remaja Santa Ursula BSD”
Posted: 2019-03-04 | By: Ibu Anti & Ibu Josyarti
“Roller coaster, roller coaster ….spinning all around and around for a world baby Roller coaster, roller coaster. For a minute we were up, but the next we were falling down”. (Roller Coaster by Justin Bieber)Masa remaja adalah masa yang bisa disamakan dengan roller coaster. Tidak pernah mudah menjadi remaja karena lingkungan di sekeliling mereka memiliki segudang standard yang harus mereka penuhi. Pada saat yang sama, aktivitas hormonal yang mematangkan fungsi seksual dalam tubuh mereka pun membawa dampak fisik dan psikis yang menuntut penyesuaian tersendiri.  Di sisi lain, kehidupan remaja masa kini penuh tantangan, diperkuat kehadiran media sosial dengan berbagai peluang dampaknya yang telah sedemikian terkoneksi dengan kehidupan mereka.Demikian pula halnya dengan menjadi orangtua dari anak remaja. Bukanlah hal mudah untuk berhadapan dengan dan bersikap tepat terhadap gejolak emosi remaja yang kadang tidak terduga sama sekali. Gejolak emosi yang muncul dari remaja bisa berbentuk antusiasme yang tinggi, kegembiraan yang meluap-luap, namun bisa juga tampil dalam bentuk penolakan, pemberontakan, kemarahan, serta emosi lain yang tidak selalu bisa diduga penyebabnya. Tak jarang orangtua menanggapi luapan emosi tersebut dengan emosi pula karena tidak cukup memperoleh penghargaan, bahkan diabaikan oleh anaknya. Untuk membantu remaja menyikapi berbagai tantangan tersebut, SMP Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan pendampingan Seksualitas bagi siswa kelas VIII. Selama tiga hari, sejak tanggal 6 hingga 8 Februari 2019, Ibu Ani Fegda dan timnya mendampingi siswa membangun pemahaman mendalam tentang seksualitas manusia sebagai anugerah Illahi. Secara umum ada 4 topik besar yang menjadi fokus dalam kegiatan ini, yaitu:Dimensi Psikoseksual: Identitasku dan Underwear Rules Dimensi Reproduksi: Aku Menjaga MilikkuDimensi Psikososial: Aku BerhargaDimensi Sosial : Aku dan DiaDalam penyajian setiap topik termuat dimensi spiritual yang kuat sehingga setiap pembicara selalu berpegang pada pedoman spiritualitas Kristiani dan nilai penghargaan. Pada hari ketiga, orangtua diundang untuk mendapatkan sessi parenting bersama Ibu Ani Fegda, mengacu pada pengalaman dua hari berproses bersama anak-anak mereka. Pada kesempatan yang sama, Ibu Ani Fegda melibatkan empat orang tua siswa untuk berbagi kisah sebagai orang tua dari remaja generasi Z milenial. Sessi talkshow ini dirancang sebagai media untuk menyampaikan tips dalam menghadapi remaja, serta membangun kesadaran orang tua untuk berani memberikan kemerdekaan terpimpin kepada remaja milenial mereka.Sementara para orangtua beraktivitas bersama Ibu Ani Fegda, seluruh siswa, didampingi wali kelas masing-masing, berproses mengendapkan materi yang mereka terima, dalam bentuk refleksi pribadi, vlog propaganda remaja berkualitas, serta komitmen kelas, yang kemudian dipresentasikan di depan forum orang tua.  Hal yang menjadi amat penting dalam sesi ini adalah pertemuan “Satu Hati”, saat setiap orang tua bertemu dengan anak mereka masing-masing. Pertemuan ini didominasi oleh perasaan haru baik dari orangtua maupun anak. Keduanya saling memberikan kertas berbentuk hati yang sebelumnya sudah diisi dengan ungkapan perasaan terdalam bagi satu sama lain. Penting untuk digarisbawahi bahwa keluarga merupakan tempat bertumbuh bagi setiap individu di dalamnya. Keluarga menjadi tempat yang paling aman bagi setiap anggotanya untuk bisa menjadi diri sendiri apa adanya. Oleh karena itu, baik orangtua maupun anak perlu sama-sama belajar untuk semakin bisa saling memahami dan saling menerima. Sebagaimana anak-anak yang tampil dengan komitmen mereka, dalam pertemuan ini, orangtua berkomitmen untuk lebih banyak mendengarkan anak. 
Selengkapnya
Cinta Lingkungan dengan Menanam Pohon di TPU Cibadung
Posted: 2019-03-04 | By: Abigail/7E
Pramuka Penggalang Serviam SMP Santa Ursula BSDAkhirnya, hari yang kami tunggu-tunggu, tanggal 09 Februari 2019, datang juga. kami, sebagai Tim Pramuka Penggalang Serviam Santa Ursula BSD, akan menanam pohon yang kami siapkan sejak beberapa hari yang lalu. Lebih dari 100 pohon kayu telah terkumpul. Setelah menyelesaikan kegiatan belajar di sekolah, kami mengenakan seragam pramuka kami dan mengangkat semua tanaman-tanaman kami ke dalam truk. Dua truk tentara TNI AD telah siap untuk mengantar kami menuju lokasi yang telah ditentukan untuk menanam pohon yaitu TPBU Giri Tama, Tonjong, Parung, Bogor. Setelah makan siang di sekolah, kami mulai berangkat menuju lokasi. Kurang lebih 30 orang peserta penggalang dan kakak pembina menumpang truk tentara TNI AD. Diperjalanan sangat mengasyikkan karena di masing-masing truk, kami banyak bermain dan bercanda, sehingga panas terik matahari seolah tak terasa lagi. Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar 45 menit. Setelah sampai, kami turun dan juga menurunkan pohon kami. Beberapa bapak-bapak petugas, membantu dan mengajari kami, melubangi tanah dan menanam pohon.Ternyata sulit melubangi tanah dan menanam pohon. Kami harus mengerahkan sekuat tenaga untuk melubangi tanah.  Ditambah lagi, dengan cuaca yang semakin terik. Tanah lokasi penanaman merupakan tanah berbukik dan ada jurang di salah satu sisinya. Satu demi satu pohon kami tanam. Kami membuka plastik media tanam pohon yang kami bawa. Pucuk merah, ketapang, mangga, belimbing, jambu merupakan beberapa tanaman yang berhasil kami tanam. Kurang lebih pukul 15.00 WIB kegiatan menanam telah selesai. Kami mulai membersihkan sampah - sampah agar tidak ada yang tertinggal dan membereskan barang - barang bawaan kami. Setelah itu, kami istirahat memakan donat dan minum. Ada juga beberapa anak yang pergi ke kebun untuk memetic buah duku bersama dengan petugas TPBU Giri Tama. Pukul 16.00 WIB kami beranjak pulang ke sekolah. Walaupun lelah dan terik matahari masih menyengat, tapi kami semua kembali dengan hati yang senang karena kami pada hari ini mendapat pelajaran yang berharga. Kami diajarkan cara menanam pohon dan tentunya melestarikan alam. Semoga pohon-pohon yang telah kami tanam dapat bertumbuh subur dan berguna bagi masyarakat sekitarnya. 
Selengkapnya