MERAYAKAN PENGABDIAN HATI DI TENGAH PANDEMI JADI SEPOTONG RENUNGAN DI HARI GURU
Posted: 2020-12-01 | By: Maria Dwi Rianti
Setiap tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional di Indonesia. Sehari saja guru menjadi sosok istimewa dan semuanya turut merayakan pengabdian hati tanpa tanda jasa ini. Yayasan Sancta Ursula BSD pun melakukan hal yang sama merayakan pengabdian hati yang berbeda. Kali ini mencoba dengan versi yang baru yakni virtual. “Dari guru, oleh guru, dan untuk guru” itu ungkapan yang menjadi dasar acara hari guru virtual diadakan. Situasi pandemi tidak menjadikan guru untuk berdiam diri dan mematikan kreativitas. Justru sebaliknya, guru harus menunjukkan kreativitas yang tanda batas.  Latar belakang inilah yang menjadikan sebuah konsep pertunjukkan seni sederhana tanpa membatasi kreativitas guru di Yayasan Sancta Ursula BSD. Konsep acara tersebut yakni setiap unit dari TB-TK sampai dengan SMA mempersembahkan sebuah pertunjukkan seni sederhana yang dibuat dalam bentuk video. Video-video tersebut pulalah yang ditampilkan saat hari guru berlangsung secara daring. Panitia acara bergerak cepat dalam menyusun dan membuat konsep acara. Ketua panitia yakni Ibu Cicilia Budilestari membagi koordinator untuk tiap unit, di unit TB-TK ada Ibu Stefani, di SD ada Pak Murgianto, SMP ada Ibu Rianti, dan SMA ada Pak Victor. Setiap nama yang disebutkan bertanggung jawab penuh atas video pertunjukkan seni dari unitnya. Panitia juga membuat konsep video ucapan “Dari Guru, Untuk Guru” serta ucapan hari guru dari peserta didik bersama orang tua di setiap unitnya. Tidak hanya itu, panitia juga menuangkan ide untuk mengambarkan situasi sekolah di saat pandemi dari unit TB-TK sampai dengan SMA. Acara tersebut akan diadakan virtual dengan menggunakan aplikasi Zoom yang memiliki batas jumlah peserta 1.500 milik unit SMA. Oleh karena itu, dikonseplah latar virtual untuk zoom meeting di hari pelaksanaan.  Tepat di hari Rabu, 25 November 2020, Kampus Santa Ursula BSD merayakan “Hari Guru”. Proses pembelajaran pada hari itu ditiadakan. Hari itu sengaja dibuat spesial untuk guru dalam merayakan pengabdian hati di tengah pandemi. Tepat pukul 07.30 semua guru, karyawan, staf yayasan, dan Suster Francesco berkumpul di dalam aplikasi Zoom Meeting. Mereka semua hadir menggunakan pakaian batik motif bebas sebagai dresscode sesuai dengan ketentuan. Tidak hanya itu, mereka yang hadir pun menggunakan latar virtual zoom yang dirancang sebanyak tiga bentuk yang berbeda. Hal ini dimaksudkan agar situasinya semakin semarak dan meriah. Meskipun, di awal acara ada beberapa guru yang kesulitan saat menggunakan latar virtual zoom. Namun, semua dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan.  Acara Hari Guru virtual tersebut dibuka dengan suara indah dan nyaring dari ketua panitia yakni Ibu Cicil, selagi menunggu semua peserta hadir, diputarlah lagu yang berjudul “Guruku Tersayang”. Ibu Cicil juga mengingatkan agar semua peserta yang hadir di acara hari guru virtual dapat mengubah format nama pada aplikasi Zoom menjadi “unit_nama panggilan” contohnya “SMP_Cicil”.  Setelah semua peserta berkumpul, tepat di pukul 08.00 WIB Ibu Cicil menyerahkan acara ke Ibu Listianawati sebagai pemandu acara (MC). Ibu Lis membuka acara dengan penuh semangat. Acara pun dimulai dengan doa pembukaan. Setelah doa pembukaan, panitia memutarkan video pertama yang berjudul “Memori vs Pandemi”. Video itu menampilkan situasi di sekolah sebelum pandemi dan ketika pandemi. Rasa rindu pada situasi sekolah pun menyeruak saat melihat tampilan saat video diputarkan. Ada beberapa guru yang matanya sudah berkaca-kaca saat video itu diputarkan. Hal itu mengingatkan kembali bahwa perubahan dapat bergerak cepat, tanpa memandang siap atau tidaknya kita menghadapi semua itu.  Setelah video “Memori vs Pandemi” selesai diputar, acara selanjutnya adalah penampilan dari unit TB/TK. Video tersebut diberi judul “Empat Kata Ajaib”.  Video tersebut menampilkan enam orang guru unit TB-TK yang sedang melakukan gerakan seirama dengan lagu yang diputar. Ketika menyaksikan video tersebut, muncul rasa senang dan bahagia pada diri kami karena guru-guru TB-TK melakukannya dengan penuh semangat dan ekspresi yang menyenangkan pula. Kemudian, acara dilanjutkan dengan video pemutaran ucapan “Dari Guru, Untuk Guru” sesi kedua. Video ini akan diputarkan sebagai selingan video pertunjukan seni tiap unit.  Unit SMP menampilkan sebuah video drama yang menggambarkan sosok guru yang bekerja dari pagi hingga malam saat pandemi berlangsung hingga kerepotan guru saat mengajar virtual. Video unit SMP juga ada pembacaan puisi berjudul “Energi Cinta” dan ditutup dengan nyanyi bersama lagu “Kita” dari Sheila on 7. Video ini menjadi sepotong renungan di hari guru untuk menilik hati kita bahwa pekerjaan seberat apapun yang dihadapi dan dilakukan akan terasa ringan karena adanya energi cinta.  Unit SD menampilkan video berjudul “Pemantik Asa” yang berisi penampilan busana yang digunakan para guru saat pandemi. Video yang dibuat SD ini menarik dan seru. Semua guru SD terlibat di dalam video ini dan berhasil membuat peserta Hari Guru virtual terbahak-bahak dengan tinggah laku guru SD yang lucu di dalam video.  Penampilan terakhir ditutup oleh unit SMA. Para guru SMA menampilkan Q&A para guru terhadap pertanyaan-pertanyaan seputar guru dan pribadinya sebagai guru. Kemudian, adanya pantun dari Ibu Sulis dan Pak Tomy dengan gaya busana nyetrik dan lucu. Video tersebut ditutup dengan deklamasi puisi yang sangat indah oleh Ibu Evy. Setelah video SMA berakhir, kemudian ada sepatah dua patah kata dari Suster Francesco. Suster menyampaikan sebuah kata mutiara yang sangat berkesan dan menghangatkan hati.    Yuk kawan-kawan Menyambut hari guru Libur bebas merdeka canda dan bisa melucu   Mari kawan kita berjuang Bawa buku laptop dan jangan lupa bawa uang Mampir ke pasar modern Karena ada waktu luang Cuci mata cuci mulut sebelum pulang   Terima kasih atas pengabdian di Santa Ursula tercinta Mari pupuk dan kembangkan kebersamaan dengan kasih dan kesetiaan -Sr. Francesco   Untaian kata-kata tersebut sangat berkesan karena merupakan wujud nyata suster dalam mendukung dan menguatkan para gurunya di tengah pandemi. Akhirnya acara “Hari Guru” ditutup dengan foto bersama secara virtual lalu berdoa dan mengumandangkan lagu “Serviam”. Hari guru tahun ini terasa berbeda. Tak ada tatapan hangat dan keceriaan dari para peserta didik yang dirasakan. Memori akan tetap tinggal dalam kenangan karena adanya pandemi. Namun, guru harus terus berkreasi dan tetap tekun melayani karena Serviam di hati. Kehadiran teman seprofesi dalam balutan insieme dan semangat serviam memacu para guru untuk tetap tangguh menghadapi perubahan dan tantangan yang nanti terjadi. Selamat merayakan pengabdian hati di tengah pandemi. Jadikan ini sebagai potongan renungan untuk melangkah dan melayani dalam genggaman insieme dan Serviam di hati.      
Selengkapnya
SUMPAH PEMUDA DALAM MASA PANDEMI
Posted: 2020-12-01 | By: Kayla Zahrah Gandi 9C/25
Hari Sumpah Pemuda yang diperingati pada tanggal 28 Oktober adalah hari yang sangat penting bagi pemuda-pemudi Bangsa Indonesia. Di hari itulah pemuda-pemudi Indonesia memunculkan kembali semangat berbangsa, berbahasa, dan tanah air yang satu yaitu Indonesia. Hari Sumpah  Pemuda berawal dari Kongres Pemuda II yang dilangsungkan selama dua hari yaitu tanggal 27-28 Oktober 1928 di Batavia. Kongres ini dilakukan di dua Gedung, hari pertama dilaksanakan di Gedung Katholikee Jongelingen Bond atau Gedung Pemuda Katolik dan hari kedua dilaksanakan di Gedung Oost Java (sekarang di Jl. Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat). Kongres Pemuda II ini memiliki satu tujuan utama yaitu memperkuat kesadaran kebangsaan dan memperteguh persatuan Indonesia.  Konggres Pemuda kedua menghasilkan Sumpah Pemuda. Sumpah  Pemuda memiliki tiga bunyi, yaitu “Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia”, “Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia”, dan “ Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Menurut Azyumardi Azra, Sumpah Pemuda merupakan salah satu tonggak sejarah bangsa Indonesia dalam mengawali kesadaran kebangsaan. Peristiwa bersejarah mengajarkan nilai-nilai persatuan bangsa. Sumpah Pemuda membuktikan bahwa perbedaan yang dimiliki bangsa Indonesia dapat disatukan dengan wujud Bhinneka Tunggal Ika. Berhubung dengan adanya penyebaran virus Covid-19, SMP Santa Ursula BSD tidak dapat menyelenggarakan upacara untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda. Maka dari itu, BP OSIS Santa Ursula BSD membuat program untuk membantu pemuda-pemudi Indonesia mengingat kembali nilai-nilai Sumpah Pemuda dan kaitannya dengan jaman sekarang. Bentuknya adalah Podcast yang berdurasi 15 menit. Podcast yang diberi nama “Sanurians’ POV : Sumpah Pemuda di Jaman Sekarang” ini sangat bermanfaat dan seru untuk didengarkan. Selain topiknya yang seru, podcast ini menggunakan bahasa yang santai sehingga nyaman untuk didengarkan, terutama oleh anak muda. Sanurians’ POV dapat didengarkan di aplikasi Anchor atau melalui link berikut : https://anchor.fm/osis-sanurbsd-2020/episodes/Sanurians-POV--Sumpah-Pemuda-Edition-ell745  
Selengkapnya
Kreatif dengan Batik di Tengah Pandemi? Apakah bisa?
Posted: 2020-11-23 | By:
Halo, perkenalkan nama saya Kirana dari kelas 8D, dan saya ingin membagikan pengalaman kami, penanggung jawab, dalam mengadakan perlombaan yang sebelumnya belum pernah dilakukan. Nah kita semua tahu, di jaman modern ini banyak anak bangsa yang sering kali melupakan budayanya. Mungkin masih banyak yang peduli, tapi banyak juga yang tidak tahu – menahu. Oleh karena itu, dalam rangka Hari Batik Nasional, BP OSIS SMP Santa Ursula BSD memutuskan untuk mengadakan lomba yang berkaitan dengan batik. Setelah berdiskusi, kami semua memutuskan lomba ini akan dinamakan sebagai ‘Lomba Ambhatik’. Sedikit penjelasan, ‘Ambhatik’ adalah Bahasa Jawa batik. Kemudian, semua penanggung jawab Ambhatik juga sudah ditentukan. Hampir semua dari penanggung jawab Ambhatik belum pernah menjadi panitia suatu acara, sehingga lewat pelaksanaan lomba ini, kami bisa belajar mengenai banyak hal baru. Setelah itu, kami mulai berdiskusi dan rapat, hingga akhirnya ditentukan 3 lomba sebagai jenis lomba untuk diikuti, yaitu; Fashion Illustration, OOTD, dan video. Lomba – lombanya menari, bukan? Semua lomba tersebut harus fokus kepada batik dan menjadikan batik sebagai unsur utamanya. Lomba ini tidak wajib, sehingga kami kurang yakin bahwa akan banyak yang berminat, bisa jadi mungkin karena mereka malas. Namun kami tetap mencoba dan melaksanakan sosialisasi dengan lancar. 3 hari setelah sosialisasi, baru 2 orang yang daftar sehingga kami merasa kurang yakin dan sedikit gugup. Kami berpikir, “Bagaimana kalau yang mendaftar hanya 2 orang saja?” Namun ternyata, makin banyak teman – teman kita yang tertarik dan ikut mendaftar sehingga total jumlah peserta adalah 26 orang. Jumlah peserta sendiri sebenarnya di luar ekspektasi. Tahap selanjutnya, kami menyeleksi karya – karya peserta. Nantinya, 4 karya dari lomba Fashion Illustration dan OOTD akan terpilih untuk diunggah di story @humasmp. Semua karya peserta sangat bagus sehingga kami mengalami perbedaan pendapat saat proses seleksi berlangsung, namun akhirnya terpilih juga 8 karya untuk diunggah. Sedangkan untuk lomba video, langsung kami tentukan pemenangnya. Proses seleksi ini sedikit telat dari jadwal awal kami dan mungkin itu hal yang harus diperbaiki. Nah, proses voting di story humas sendiri memakan waktu sekitar 2 – 3 hari. 24 jam pertama adalah voting kedelapan kandidat dalam bidang masing – masing. Nha, pemenang Fashion Illustration akhirnya terpilih. Tetapi pemenang OOTD belum sehingga kami harus voting sekali lagi. Kemudian setelah 24 jam akhirnya kami telah menemukan para pemenang.  Tunggu sebentar, pemenang memang sudah ditemukan, tetapi masih ada beberapa hal yang harus dilakukan. Seperti, mengedit story dan feeds, kemudian mengunggahnya, dan masih ada beberapa hal yang harus dilakukan.  Nah, lewat lomba ini, bukan hanya saya saja yang belajar banyak hal, namun kami semua belajar banyak hal baru. Kegiatan ini sendiri diadakan karena banyak generasi masa kini yang kurang mengetahui budaya Indonesia. Berhubung Hari Batik Nasional baru saja dirayakan dan batik adalah salah satu kain khas Indonesia yang sangat terkenal, maka kami memulai dari situ. Pada akhirnya, kami lihat ternyata kami cukup berhasil. Bila melihat karya teman – teman, kami tahu bahwa generasi masa kini sangat kreatif dan bisa mengembangkan banyak ide menggunakan batik. Semoga ke depannya kita semua bisa ikut melestarikan budaya bangsa. Sampai jumpa! Pemenang Pertama Fashion Illustration, Maria Sagita B.L.S 9B/27 Pemenang Lomba OOTD, Natya Nindyanisaka 8B/27 Link hasil Ambhatik: https://www.instagram.com/humasmp/  
Selengkapnya
AMBHATIK BAGI BATIK INDONESIA
Posted: 2020-11-23 | By: Yohana Margrita Lunabella IXD/37
Bulan Oktober 2020, Badan Pengurus OSIS SMP Santa Ursula BSD membuat satu program menarik yang diberi nama Ambhatik. Ambhatik adalah satu kata yang berasal dari bahasa Jawa kuno yang berarti batik. Dalam rangka hari Batik Nasional, badan pengurus OSIS SMP Santa Ursula, BSD mengadakan lomba dalam program Ambhatik.  Ambhatik memiliki tiga kategori lomba yaitu fashion/OOTD (Oufit Of The Day), design illustration, dan video. Ketiga kategori tersebut bertema batik Indonesia dan dilakukan secara daring. Program ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta pada budaya, keberagaman Indonesia, dan mengkreasikan batik di era modern.  Proses persiapan acara Ambhatik dimulai pada tanggal 21 September 2020. Pada hari itu, kami mengajukan diri untuk menjadi penanggung jawab program Ambhatik. Saat itu, seluruh Badan Pengurus OSIS SMP melaksanakan rapat secara online untuk berdiskusi tentang program-program yang akan dilaksanakan selanjutnya. Semua badan pengurus setuju untuk melaksanakan program Ambhatik dan membicarakan lebih lanjut mengenai program tersebut.  Setelah rapat bersama Badan Pengurus OSIS, kami sebagai penanggung jawab program Ambhatik melanjutkan diskusi tentang Ambhatik. Kami juga berdiskusi dengan sesama pengurus OSIS dan Pembina. Dalam rapat, kami saling berbagi pendapat dan ide, menentukan hal-hal, dan membagi tugas. Diskusi berjalan dengan lancar dan semua berperan dalam pengambilan keputusan. Kami pun mulai menyiapkan materi untuk sosialisasi program.  Pada tanggal 13 Oktober 2020 hingga 14 Oktober 2020, kami melakukan sosialisasi program kepada angkatan kelas VII, VIII, dan IX. Kami dapat bekerjasama dengan baik sehingga sosialisasi berjalan dengan lancar. Semua materi tersampaikan dengan baik dan para peserta sosialisasi berperan aktif dengan bertanya. Setelah sosialisasi, kami mulai membagikan tautan google form yang akan digunakan untuk mendaftarkan diri sekaligus mengumpulkan karya peserta melalui grup whatsapp setiap kelas.  Pada awalnya, peserta yang mendaftar hanya sedikit dan kami sempat takut bahwa lomba tidak akan bisa berjalan karena kurangnya peserta. Namun, setelah menunggu beberapa lama, jumlah peserta sedikit demi sedikit mulai bertambah. Kami pun sangat lega dan senang. Tanggal 22 Oktober 2020 adalah batas akhir pendaftaran dan pengumpulan karya. Setelah itu, kami melaksanakan rapat melalui zoom untuk menyeleksi semua hasil karya. Pemenang dari kategori video telah ditentukan. Kategori OOTD dan design illustration telah diseleksi 4 karya dari masing-masing kategori.  Pada tanggal 25 Oktober 2020, kami melakukan voting melalui story Instagram @humasmp untuk menentukan pemenang dari kategori OOTD dan design illustration. Setelah kami mendapatkan hasil voting dan menentukan juara pertama dan kedua dari masing-masing kategori, kami mengumumkan pemenang melalui post Instagram @humasmp pada tanggal 30 Oktober 2020. Para pemenang segera menghubungi kami untuk membicarakan teknis pengiriman hadiah yang berupa saldo go-pay dan e-certificate. Secara keseluruhan, program Ambhatik dapat berjalan dengan baik. Komunikasi dilakukan dengar lancar dan seluruh panitia ikut berpartisipasi. Para peserta pun membuat karya dengan maksimal dan mengikuti lomba dengan antusias. Demikian cerita pelaksanaan program Ambhatik tahun 2020. Semoga cerita ini dapat menginspirasi kalian! Penanggung jawab : Theresia Cheryl Aureline, Kirana Anjani Pranoto, Kresentia Febriona Winanda F, Fransiskus Adna Ardaya Ardhiputra, Yohana Margrita Lunabella.
Selengkapnya
Kami Suka Berbagi
Posted: 2020-11-16 | By: Yulia Mariyani
Masa pandemik seperti sekarang ini dialami oleh semua orang di seluruh dunia. Semua hal menjadi sangat terbatasi terlebih berbagai hal yang berkaitan dengan kegiatan secara fisik. Sungguh keadaan ini pada awalnya menjadi sangat sulit untuk kita lakukan. Namun, kita tidak boleh putus asa dan harus berani beradaptasi dengan semua kebiasaan baru ini. Beradaptasi dalam situasi sekarang ini memang tidak mudah bagi semua orang, termasuk bagi saya seorang pendidik dan sebagai wali kelas VII tahun pelajaran 2020/2021. Perjumpaan secara fisik sangatlah penting bagi saya untuk mengenal lebih dalam tentang anak didik saya. Di sisi lain, dengan adanya pandemi Covid-19, semua tenaga pendidik melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Tentunya ini merupakan keadaan yang tidak biasa bagi saya dan peserta didik saya. Tak jarang kami mendapati ada peserta didik yang kesulitan dalam mengikuti PJJ, misalkan kendala teknis dalam pengumpulan tugas dan mengikuti penilaian. Kami para wali kelas harus sigap dalam menyelesaikan masalah tersebut dengan berbagai cara yang tentunya secara virtual. Saya selaku wali kelas VII E saat ini, belum pernah sekali pun bertatap muka secara langsung dengan peserta didik kelas VII E. Zoom atau Google Meet menjadi saksi pertemuan kami. Kegiatan perwalian yang berlangsung selama 30 menit sebanyak dua kali tiap minggunya benar-benar menjadi momen yang berharga untuk saya pribadi.  Jika saya ditanya, “Apakah saya cukup mengenal peserta didik jika hanya dengan pertemuan virtual?” Dengan jujur saya katakan, “Tentu itu tidak cukup bahkan sangat kurang.” Perlu kita ingat bersama bahwa peserta didik kelas VII biasanya berasal dari asal sekolah dasar yang beragam, ada yang dari sekolah nasional bahkan dari sekolah internasional sekali pun. Berkenaan dengan keadaan tersebut, banyak cara yang diupayakan oleh wali kelas VII–termasuk saya–untuk lebih mengenal peserta didiknya masing-masing. Kami merancang jadwal untuk menelepon ke setiap peserta didik serta melakukan pertemuan tatap muka secara virtual atau video call dengan tiap peserta didik. Semua usaha ini kami lakukan dengan harapan dapat lebih mengenal peserta didik di kelas VII. Membuat peserta didik kelas VII untuk bisa saling mengenal juga tidaklah mudah. Hal ini bisa terjadi karena mereka belum pernah berinteraksi secara langsung. Bahkan ada pula peserta didik yang belum mengenal sama sekali teman-temannya. Melihat kondisi tersebut, akhirnya salah satu usaha yang bisa saya lakukan yaitu membuat forum berbagi dan berdiskusi untuk kelas VII E di luar jam pembelajaran. Kegiatan ini saya lakukan dengan harapan dapat membuat kelas semakin akrab, kompak, saling membantu, dan saling berbagi.  Langkah pertama yang saya lakukan yaitu dengan mengajak diskusi peserta didik kelas VII E melalui Whatsapp grup kelas. Tak disangka ternyata ajakan saya tersebut mendapat sambutan baik dari mereka. Mereka sangat antusias untuk mengikuti forum dialog dan berbagi di kelas VII E sesuai dengan arahan yang saya berikan. Dalam diskusi tersebut, kami mengambil kesepakatan yaitu kegiatan diskusi dan berbagi akan dilakukan setiap hari Sabtu pukul 13.00 WIB dan dilakukan pada dua minggu sekali. Akhirnya kami juga sepakat memberi nama forum ini “KAMI SUKA BERBAGI (Keluarga 7E)”. Apa yang bisa dibagikan dalam forum ini? Semua hal bisa dibagikan oleh peserta didik, yang penting hal tersebut merupakan hal yang menarik dan positif. Saya juga memberikan tawaran kepada peserta didik kelas VII E siapa saja boleh berbagi dengan melakukan proses pendaftaran terlebih dahulu.  Saya juga melibatkan peserta didik yang lain untuk membuat pengumuman untuk kegiatan tersebut. Kegiatan perdana kami mulai dengan kegiatan berbagi oleh 7E_23_Keiko. Ia berbagi tentang cara membuat puding istimewa. Kedua,  7E_32_Divo berbagi cara bagaimana membuat permainan sederhana menggunakan aplikasi Kahoot!. Ketiga, 7E_25_Laurent berbagi tips dalam membuat permainan sendiri dengan menggunakan coding sederhana. Keempat, 7E_29_Martin berbagi resep bagaimana cara membuat cireng. Kelima 7E_8_Lianne berbagi cara membuat boba milk tea super segar, dan masih akan berlanjut ke peserta didik yang lainnya. Menurut saya, kegiatan forum “KAMI SUKA BERBAGI” ini menghasilkan dampak yang sangat positif. Peserta didik berani mempresentasikan apa yang ingin dibagikan  kepada teman-temannya. Di sisi lain, peserta didik yang lain sebagai penyimak dapat menanggapi konten berbagi ini dengan mengajukan berbagai pertanyaan. Keberlangsungan kegiatan ini menghasilkan suasana yang hangat dengan dibalut oleh obrolan santai di dalamnya. Semoga kegiatan ini bisa menjadi wadah saya dan seluruh peserta didik kelas VII E untuk saling mengenal satu dengan yang lainnya.  
Selengkapnya
PERAYAAN HARI PANGAN SEDUNIA (HPS) SMP SANTA URSULA BSD
Posted: 2020-11-03 | By: Clara Surtilah
Hari Pangan Sedunia diperingati setiap tanggal 16 Oktober. Peristiwa ini berawal dari konferensi FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations) yang ke XX pada bulan November 1976 di Roma. Koferensi ini mencetuskan resolusi No. 179 mengenai World Food Day. Gereja Katolik pun mendukung gerekan tersebut. Berkat resolusi tersebut, setiap tanggal 16 Oktober semua Keuskupan akan menjadi penggerak untuk memperingati Hari Pangan Sedunia ini dengan berbagai kegiatan dan aksi kepedulian. Hal ini juga diikuti oleh sekolah-sekolah Katolik, termasuk sekolah Santa Ursula BSD. Tahun-tahun sebelumnya SMP Santa Ursula BSD banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang mendukung perayaan Hari Pangan Sedunia, terlebih kegiatan yang merujuk kepada kepedulian pangan. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap pangan orang lain terutama yang sangat membutuhkan uluran tangan kami. Kegiatan HPS yang biasa kami lakukan berupa pengumpulan dana yang dan pengumpulan beras (jimpitan) yang dilakukan seminggu sekali selama bulan Oktober. Hasil dari pengumpulan uang diserahkan kepada pihak Keuskupan, sedangkan beras yang terkumpul akan dibagikan kepada mereka yang membutuhkan seperti para pekerja penyapu jalanan, pemulung, dan gelandangan di area BSD. Peringatan Hari Pangan Sedunia tahun ini bertepatan dengan krisis global akibat pandemi COVID-19. OSIS SMP Santa Ursula BSD tidak dapat bereksplorasi banyak untuk memperingati HPS tahun ini. Kegiatan HPS tahun ini dilakukan secara virtual karena kami tidak dimungkinkan untuk mengumpulkan uang dan beras (jumputan) lagi. Perayaan yang kami lakukan berupa kegiatan penyadaran diri akan pentingnya menghargai makanan dan pentingnya makan makanan sehat. Kegiatan HPS SMP Santa Ursula tahun 2020 ini dilakukan dengan cara mengadakan makan bersama yang dilakukan pada hari Selasa, 20 Oktober 2020 pukul 10.30 WIB pada jam perwalian. Kegiatan makan bersama ini mengusung tema “Makan Makanan Sehat dan Ngobrol Bersama Sebagai Keluarga” ini memakai Zoom atau Google Meet. Kegiatan ini dikoordinasikan oleh masing-masing wali kelas dan guru pendamping. Kami menyimak video pendek yang berjudul “Berbeda-beda Tetapi Tetap Makan” sambil makan makanan yang tersedia di rumah masing-masing. Video tersebut menjelaskan ragam pilihan makanan pokok yang ada di wilayah Nusantara ini. Tidak hanya beras saja, tetapi ada sagu, singkong, ubi, jewawut, sorgum, jagung, yang dapat dijadikan sebagai bahan pangan dalam rangka ketahanan pangan di masa pandemi ini. Melalui kegiatan ini, kami diajak untuk dapat menghargai dan peduli terhadap makanan yang kami santap setiap hari sebagai kebutuhan dasar dan makan makanan yang disajikan keluarga (orang tua) dengan penuh syukur. Di samping hal tersebut, kami juga diharapkan memiliki kesadaran untuk menghabiskan makanan yang telah diambil sebagai bentuk tanggung jawab dan penghargaan terhadap makanan.  Kegiatan yang lain berkenaan dengan HPS adalah berbagi cerita dari BP OSIS dengan tema “Makan Sehat, Menanan, dan Berbagi” yang mengacu pada tema HPS Keuskupan Agung Jakarta 2020. Kegiatan berbagi cerita tersebut dilakukan tiap jenjang kelas pada jam refleksi pukul 10.30 WIB pada Senin, 19 Oktober 2020  untuk kelas VII, Rabu, 21 Oktober 2020 untuk kelas VIII, dan Jumat, 23 Oktober 2020 untuk kelas IX. Anggota BP OSIS yang berbagi cerita adalah Cathlin Evelyna Subena kelas 9C dan Virgiana Maria (Vivi) kelas 9C. Melalui kegiatan HPS yang dilaksanakan dengan sangat sederhana ini, kami semakin memiliki kesadaran akan pentingnya makan makanan yang sehat dan menghargainya sebagai bentuk syukur kepada Tuhan. 
Selengkapnya
Belajar Menjadi Seorang Pemimpin
Posted: 2020-10-13 | By: Nicolas Andrew Febrian Pai/IXA
Perkenalkan saya Nicolas Andrew Febrian Pai dari kelas IXA. Akhirnya, acara talkshow dengan judul “Merdeka di Tengah Pandemi” sudah sampai tahap terakhir atau selesai. Nah, sebagai informasi, saya adalah Penanggung Jawab dari acara tersebut. Ya, namanya saja penanggung jawab, sudah pasti harus bertanggung jawab terhadap acara tersebut. Sebenarnya, tugas penanggung jawab tidak banyak, tapi besar. Ini adalah kali pertama saya menjadi penanggung jawab dalam kegiatan OSIS. Bagi saya, hal itu tantangan untuk terus belajar dan saya tidak pernah menjadikan itu sebagai beban. Bagi saya menjadi seorang penanggung jawab tidaklah mudah. Tidak hanya itu, untuk menjadi seorang penanggung jawab juga bukan sekedar nama yang tercantum dalam sebuah proposal. Istilah mudahnya bukan sebagai nama pajangan saja. Lalu, tugas penanggung jawab apa saja sih? Sulit atau mudah? Menurut saya sendiri, tugas penanggung jawab itu sederhana yaitu mengatur proses/rencana hingga kegiatan atau acara itu diselenggarakan. Nah, seperti yang saya jelaskan, tugas penanggung jawab tidak banyak, tapi besar. Maksudnya besar adalah porsinya jauh lebih banyak.  Setelah menjadi penanggung jawab, saya belajar banyak hal, banyak pakai banget. Pertama, saya belajar untuk bisa membagi waktu, antara kegiatan sekolah, les, dan OSIS. Pembagian waktunya juga tidak sembarangan karena saya sendiri cukup sibuk dengan PR dan tugas sekolah. Kedua, Saya belajar untuk berpikir dan bertindak cepat saat ada masalah yang tiba-tiba datang, contoh saat itu, ada masalah di zoom meeting kelas VII saat sosialisasi tentang kegiatan talkshow ini. Alhasil, saya dan teman-teman membuat zoom meeting yang baru agar bisa melakukan sosialisasi. Terakhir, pastinya saya belajar untuk mengembangkan nilai kepemimpinan. Menurut saya, menjadi seorang pemimpin itu harus terus belajar dan mau menerima kritik dari orang lain. Saya sangat senang bisa menjadi penanggung jawab untuk pertama kalinya. Saya juga senang karena acara talkshow selama dua hari ini berjalan di luar ekspetasi kami panitia. Dalam berproses, tentu ada banyak kendala, seperti salah konsep, stuck atau pembahasannya itu-itu saja dalam menentukan poin pembicaraan, dan masih banyak lagi kalau mau dikupas satu per satu. Ini semua juga berkat kerja keras dari tim 17 Agustus, tanpa mereka saya juga bukan apa-apa. Harapannya, semoga OSIS bisa menjadikan kegiatan ini sebagai inspirasi dan akan membuat acara yang lebih menarik di masa mendatang. 
Selengkapnya
SHARING IS CARING
Posted: 2020-10-13 | By: Maria Dwi Rianti-Guru Bahasa Indonesia
Bulan Agustus ini Indonesia merayakan hari Kemerdekaannya. Namun, tahun ini sangat berbeda dari segi situasi dan perayaannya. Perayaan kemerdekaan tahun 2020 ini sangat sepi. Kita semua merayakannya di rumah dengan berdoa dan menyaksikan pengibaran serta penurun bendera merah putih. Pandemi covid-19 membuat situasi kemerdekaan menjadi sangat berbeda. Namun, hal itu tidak mengurungkan semangat kemerdekaan yang sudah diwariskan para pahlawan kemerdekaan. Semangat kemerdekaan inilah yang menjadi inspirasi anak-anak OSIS SMP Santa Ursula BSD untuk membuat suatu kegiatan. Kegiatan yang dapat memberikan dampak positif bagi anggota OSIS meskipun dari rumah. Kegiatan tersebut adalah talkshow. Pembahasaannya cukup berat, tetapi dibawakan dengan ringan dan santai. Proses kegiatan talkshow tidaklah mudah. Tim 17 Agustus yang dikoordinasi oleh Nicko harus berkali-kali mengalami gagal, menunda, dan mengganti. Saya melihat proses mereka untuk membuat acara sangatlah menakjubkan. Tim 17 Agustus mau menerima kritik dan bersedia untuk mengganti. Mereka juga tidak sungkan untuk menerima masukan dan memperbaiki. Semangat muda yang mereka bawa inilah yang membuat saya semakin bersemangat menjadi seorang pembicara. Awalnya tim 17 Agustus ini meminta saya untuk menjadi seorang pembicara di kegiatan webinar OSIS yang bertemakan kemerdekaan. Saya agak ragu menjawabnya, jawaban saya lebih ke penolakan, tetapi saya memberikan kesempatan OSIS untuk berdiskusi kembali mengenai konsep kegiatan mereka. Sampai akhirnya mereka menentukan untuk mengganti konsep kegiatan dari webinar menjadi talkshow. Setelah tim 17 Agustus sudah siap dan mantap untuk menyelenggarakan kegiatan talkshow, tahap selanjutnya adalah menentukan topic pembicaraan. Akhirnya, kami memutuskan untuk menggunakan tema “Kemerdekaan di Tengah Pandemi” . Tema ini sangat relevan dengan keadaan saat ini. Tujuan pemilihan tema ini pun ingin mengajak anak muda lainnya khususnya siswa SMP Santa Ursula BSD untuk tetap produktif melakukan hal positif meskipun di rumah saja. Tidak hanya itu, dengan tema “Kemerdekaan di Tengah Pandemi” mengajak siswa SMP Santa Ursula BSD memaknai sebuah kemerdekaan tidak hanya sebatas makna leksikalnya saja, tetapi mengambil makna kemerdekaan dan melakukannya. Topik ini sangat menarik, saya dan Ibu Rustanti berdiskusi bersama untuk penyampaian topik ini agar tidak terlalu berat. Kami memutuskan untuk mengambil contoh yang sangat dekat dengan siswa SMP Santa Ursula BSD dan menggabungkannya dengan pengalaman kami dalam pemaknaan kemerdekaan. Acara talkshow secara garis besar berjalan dengan sangat besar. Banyak tanggapan positif yang diberikan. Siswa SMP Santa Ursula BSD memberikan tanggapan positif dan ingin diadakan kegiatan seperti ini lagi melalui wali kelas mereka. Hal itu membuat saya senang karena tujuan diadakan acara talkshow dapat tersampaikan dengan baik. Namun, kami juga menerima beberapa kritikan dan saran untuk acara tersebut. Buat saya acara talkshow ini memampukan saya bahwa sharing is caring itu sangat penting. Menjadi seorang pembicara bagi saya adalah pengalaman pertama di SMP Santa Ursula BSD. Perasaan campur aduk harus menjadi pembicara meskipun sudah biasa menjadi seorang pembicara di depan kelas. Namun, situasi talkshow  sempat membuat saya tidak percaya diri. Hal itu tidak berjalan lama. Melihat antusias anak-anak saat menyaksikan talkshow  membuat saya rasa tidak percaya diri saya berkurang dan saya mampu membaca acara dengan santai dan ringan. Tidak hanya itu, saya juga senang dapat berbagi ilmu dengan Abigail dan Jose yang menjadi pembawa acara. Mereka berdua sangat kooperatif sangat dibimbing dan diarahkan. Saya juga senang tim 17 Agustus mampu mempunya kerja sama yang solid, sehingga segala tantangan yang dihadapi dapat diselesaikan dan mereka mampu belajar menjadi seorang pemimpin yang baik. Oleh karena itu, sharing is caring menjadikan seorang belajar dan berkembang menjadi lebih baik. Yuk, lakukan sharing is caring dalam kehidupan sehari-hari.
Selengkapnya
Music From Home
Posted: 2020-08-29 | By: Maria Shelina Christmadiani IX-C/30
Perkenalkan nama saya Maria Shelina Christmadiani biasa dipanggil Shelina. Saya di sini akan menceritakan pengalaman saya dari pembelajaran Tugas IPA kelas VIII Tahun Pelajaran 2019-2020 dengan materi Bunyi. Sejujurnya ketika saya baru mulai belajar materi bunyi, saya kebingungan sekali ditambah dengan adanya PJJ selama COVID-19. Namun dengan dibantunya penjelasan berupa praktek dari guru, saya menjadi lebih mengerti dan bisa mulai memahami sedikit demi sedikit. Lalu salah satu project dari tugas pembelajaran bunyi ini adalah Music From Home. Dalam tugas tersebut para siswa diminta untuk memainkan sebuah lagu dari peralatan rumah dan mengajak anggota keluarga untuk ikut berpartisipasi. Caranya bisa dengan mengisi tiap gelas dengan volume air yang berbeda, atau dengan membuat nada dengan gelas. Namun, saya sendiri memilih untuk menggunakan peralatan rumah dengan cara memainkan layaknya sebuah band. Awalnya saya membicarakannya dahulu dengan ibu saya, kemudian memberitahukan kepada kakak dan ayah saya. Awalnya, saya mengira keluarga saya tidak ingin terlibat dan akan sulit untuk diajak  membantu saya mengerjakan tugas ini tetapi ternyata keluarga saya mau terlibat membuat tugas Music From Home. Kami menggunakan galon bekas sebagai drum, gelas, dan sendok untuk ketukan sekaligus peramai serta menggunakan alat bantuan yaitu gitar. Sebelumnya kami berdiskusi untuk membawakan lagu apa dan akan bagaimana sehingga akhirnya kami memilih untuk membawakan lagu berjudul Cantik oleh KAHITNA. Lalu setelah berdiskusi dan memutuskan akan seperti apa, kami mulai latihan. Latihan ini sebenarnya bisa dikatakan cukup singkat. Musik yang dimainkan juga simpel dan mudah sehingga di hari itu juga kami langsung merekam. Dari tugas Music From Home ini saya mendapatkan nilai kekeluargaan, kebersamaan, dan juga kerja sama. Kami merasakan bahwa dengan kami membuat video tugas ini, secara tidak langsung kami saling berkomunikasi dan mempererat hubungan kekeluargaan. Kebersamaan juga terasa ketika sedang berlatih dan ketika ingin memulai rekaman. Kami merasa senang karena bisa melakukan hal kecil yang sederhana dan bisa membuat semua senang.  
Selengkapnya
Belajar PJJ? Ini Tipsnya
Posted: 2020-08-28 | By: Cathlin Evelyna Subena 9C/9, Gregory William Sutji
Pada tanggal 10 Juli 2020 yang lalu, kami membuat video singkat berisi tips selama belajar di rumah yang terdiri dari scene kami masing-masing yaitu Greg, Luna, Nicho, dan Cathlin. Kami membuat tips ini karena berdasarkan pengalaman kami, terdapat banyak godaan selama pembelajaran jarak jauh. Contoh godaan yang pertama adalah rasa malas karena sudah nyaman melakukan aktivitas di rumah. Contoh yang kedua adalah pembagian waktu untuk tidur, makan, belajar menjadi tidak teratur dan contoh yang terakhir karena tergoda untuk menunda-nunda mengerjakan tugas sampai mendekati deadline pengumpulan tugas. Hal ini dapat terjadi karena terlalu banyak menonton film, bermain games dan sosial media.  Menurut kami, setiap orang perlu menemukan tips belajar di rumah selama PJJ agar lebih mudah dalam menggunakan cara belajar masing-masing karena pastinya akan lebih efektif sebab yang mengetahui kesukaan atau cara yang tepat untuk belajar sekaligus mengendalikan godaan selama berada di rumah adalah diri sendiri.  Kesimpulannya, tujuan kami membuat tips ini agar menginspirasi banyak orang terutama untuk teman- teman kelas 7 sehingga kami harap siapapun yang menyaksikan video singkat kami dapat terinspirasi, dan mendapat pembelajaran dari tips yang kami buat, serta menemukan cara belajar masing- masing selama PJJ. Nah penasaran kan apa saja tips yang kami buat? Yuk simak video kami!   
Selengkapnya
Tiga Hari Penuh Tantangan
Posted: 2020-02-24 | By: Nicholas Andrew/VIII-A
Hari Senin sampai dengan Rabu, tepatnya tanggal 3-5 Februari 2020, saya dan teman-teman menjalani LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) sebagai Badan Pengurus OSIS periode 2020. Kami mengorbankan waktu dan tenaga untuk sungguh-sungguh menggunakan kesempatan yang diberikan dengan maksimal. Harapannya, kami dapat menjalani semua tugas kami sebagai Badan Pengurus OSIS yang baru. Hari pertama, kami semua diberi pengarahan di Hall SMP Santa Ursula BSD oleh Suster Francesco tentang pelaksanaan dan kegiatan LDK yang akan kami jalani selama tiga hari ini. Suster juga berbicara mengenai hal penting, yaitu tentang membangun jejaring dan kolaborasi. Sesudah itu, kami pergi ke Auditorium tempat pelaksanaan LDK. Pada kegiatan pertama, kami menulis tantangan dan harapan, serta menilai diri sendiri. Hal ini dilakukan agar kami punya tujuan dan kami bisa mengembangkan diri lebih baik saat LDK berlangsung. Kemudian kegiatan dilanjutkan ke sesi perkenalan diri dan asosiasi bebas. Setelah itu, kami melakukan kegiatan di luar ruangan (outdoor). Kami semua dibagi ke dalam tiga kelompok yang masing-masing kelompok berisi 11 orang. Setiap kelompok diharuskan melewati semua tantangan yang diberikan, seperti menyeberangi tali yang digantung di antara dua pohon, menurunkan pipa besi secara bersamaan, membalikkan spanduk yang diinjak tanpa keluar dari spanduk, dan memindahkan ember di atas pipa paralon dari satu sisi ke sisi lainnya menggunakan stik kayu. Setiap rintangan mempunyai tantangan tersendiri dan kami harus memiliki strategi dan kerjasama yang baik. Pada sessi yang terakhir, kami sebagai BP OSIS menjadi satu tim besar dan kami ditugaskan untuk bisa menyelesaikan tantangan terakhir, yaitu memindahkan pipa yang berisi air dari dalam kotak ke ember mennggunakan tali dan ban kempes. Namun, kami gagal karena kecerobohan dan kurangnya komunikasi yang jelas dan akhirnya merugikan kami sendiri. Akhirnya, kegiatan kami selesai pada pukul 15.00 sore. Kami belajar banyak hal dari simulasi atau kegiatan yang dijalani. Lalu, kami diberi pekerjaan rumah, yaitu menuliskan refleksi pribadi serta mempersiapkan diri, dan materi untuk sesi pidato keesokan harinya. Pada hari kedua, kami berkumpul di Auditorium pada pukul 06.55 pagi untuk segera memulai LDK di hari kedua. Pada sesi pertama, kami dibagi ke dalam kelompok kecil untuk berpidato. Lalu, yang terbaik dari kelompok akan berpidato di depan 33 orang atau kami semua. Kemudian, kami memilih satu orang yang menurut kami sendiri baik dalam hal berpidato. Selanjutnya, kami belajar memberikan apresiasi positif kepada teman-teman. Dalam hal ini, kami bebas memilih siapa yang akan diberi apresiasi. Kegiatan ini sangat berguna untuk orang yang memberi dan yang menerima apresiasi. Kemudian, kami masuk ke dalam proses organisasi yang meliputi debat, diskusi, dan rapat. Kami dibagi ke dalam empat kelompok besar untuk berdiskusi dalam kelompok. Setelah itu, kami berdebat dengan kelompok lain untuk saling beradu argumen. Kegiatan ini berlangsung sangat seru karena secara tidak langsung kami diajak untuk berpikir kritis dan berani maju untuk menjadi perwakilan kelompok dalam debat. Setelah itu, pada kegiatan rapat kami mendapat pengalaman penting dari kesalahan-kesalahan untuk dijadikan pelajaran agar kedepannya, semua rapat bisa terencana dan berjalan dengan baik. Kegiatan selesai di hari kedua dan tentu kami diberi pekerjaan rumah. Kami harus membuat refleksi serta mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk rapat pada hari Rabu besok. Sampailah di hari terakhir kami mengikuti LDK. Kami bersiap di ruang auditorium seperti hari-hari kemarin. Kami menggunakan hari terakhir ini untuk rapat seharian penuh. Kami membahas hal-hal penting seperti membuat dan menentukan visi misi OSIS SMP 2020, mempresentasikan program rutin, dan program baru setiap seksi, serta sebagainya. Kami senang dan bangga karena bisa mencapai hasil rapat yang baik. Namun, banyak konflik atau masalah dalam rapat yang dilakukan. Selesai rapat pada pukul 2.45 sore dan 15 menit yang ada digunakan untuk mengulang hal apa saja yang sudah dipelajari selama tiga hari ini dan melakukan refleksi diri. Pembina pun menyampaikan harapan kepada kami yaitu Badan Pengurus OSIS 2020 agar dapat menjalani semua kegiatan dan program OSIS dengan baik. Kegiatan LDK yang saya dan teman-teman OSIS jalani, tentu ada hal atau point-point penting yang kami dapat. Bagi saya sendiri, saya belajar untuk dapat bekerja sama dengan siapapun, menjalin komunikasi yang baik, berpikir positif, dan mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi agar tujuan yang diharapkan bisa tercapai. Saya berharap, Badan Pengurus OSIS yang baru bisa menjalani semua kegiatan maupun menghadapi masalah dengan penuh semangat dan meningkatkan kualitas OSIS SMP Santa Ursula BSD menjadi organisasi yang lebih berkualitas.  
Selengkapnya
Pendidikan Seksualitas Kelas VIII
Posted: 2019-11-06 | By: Farrel Justyn A. / VIII E
Pendidikan seksualitas  atau  edukasi seks  adalah kegiatan untuk mengajarkan mengenai kesehatan reproduksi. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menyadarkan pentingnya kesehatan reproduksi sehingga tindakan pelecehan seksual maupun penyakit menular dapat dicegah. Pendidikan seksualitas mempelajari tentang organ reproduksi, mencegah adanya bentuk kekerasan seksual dan pemerkosaan, mencegah pernikahan usia muda, mencegah perilaku seks yang tidak aman, mempelajari tentang gender, dan berusaha untuk mewujudkan penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain. Anak-anak sejak usia dini hendaknya mulai dikenalkan dengan pendidikan seksual yang sesuai dengan tahap perkembangan kedewasaan mereka. Kadang, orangtua merasa canggung dalam menyampaikan pendidikan tersebut. Justru, dengan sikap keliru tersebut, anak (remaja) akan berusaha mencari sendiri pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan seksual dari berbagai sumber yang mungkin kurang layak. Akibatnya, pengetahuan yang diperolehnya pun akan setengah-setengah bahkan mungkin keliru. Berdasarkan latar belakang itulah Sekolah SMP Santa Ursula BSD mengadakan pendidikan seksualitas untuk memberikan wawasan kepada peserta didik. Pendidikan seksualitas dilaksanakan,pada hari Senin, 14 Oktober 2019 dan Selasa, 15 Oktober 2019 yang bertempat di Aula SMP & SMA Santa Ursula BSD. Kegiatan dibagi menjadi 2 kelas yaitu kelas laki-laki dan kelas perempuan. Pendidikan seksualitas pada hari Senin, dimulai pada pukul 07.00 hingga pukul 12.45, sedangkan hari Selasa, dimulai pada pukul 07.00 hingga pukul 13.30. Pada hari Senin 14 Oktober 2019, materi pertama dimulai pada pukul 07.30 hingga pukul 09.00.  Pada materi pertama, membahas tentang bagaimana cara menghargai diri kita dengan menjaga kebersihan diri kita (personal hygiene) serta berbicara tentang My Rules yang dibawakan oleh Kak Star. Acara dimulai dengan sharing tentang menjaga personal hygiene dengan cara, mencuci bagian-bagian tubuh seperti rambut, ketiak, kaki, badan serta menggosok gigi. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga kebersihan diri agar tidak terjangkit berbagai macam penyakit. Kita harus mempunyai konsep diri, ‘My Rules’ bertema PANTS yaitu P - Privat are privat, A - Always remember your body belongs to you, N - No means no, T - Talk about secret that upset you, dan S - Speak up. Dari ‘My Rules’, kita diingatkan bahwa tubuh kita adalah milik pribadi, ‘SAY NO’ kepada orang yang berusaha untuk melihat bagian ‘PRIVAT’ diri kita, dan berbicara kepada orang yang kita percaya apabila ada rahasia/sesuatu yang membuat kita sedih atau kesal. Materi kedua dimulai pada pukul 09.15 hingga pukul 11.15. Pada materi kedua, membahas tentang Aku dan Dia. Pada masa remaja, terjadi puncak emosional yang mengakibatkan timbulnya rasa cinta, rindu, malu, saat bertemu dengan lawan jenis. Puncak emosional inilah yang biasa disebut dengan pacaran. Pacaran memiliki dampak positif dan dampak negatif. Dampak positifnya antara lain adalah memperluas pergaulan; menjaga sikap; serta memiliki perasaan aman, tenang, nyaman, dan terlindung. Dampak negatif pacaran antara lain adalah ‘sex’ bebas; hidup boros dan prestasi yang semakin menurun. Mencegah adanya hubungan pacaran yang tidak sehat, seperti melakukan kekerasan, ‘sex’ bebas dan lain-lain, maka ada yang disebut pacaran yang sehat. Pacaran yang sehat itu seperti apa? Disebut pacaran yang sehat apabila saling memotivasi, tahu waktu, tidak boros, dan tidak posesif. Di kalangan remaja, khususnya kelas VIII yang mempertanyakan tentang kelegalan berpacaran di usia anak SMP? Pacaran pada umumnya bertentangan dengan aturan yang ditetapkan oleh sekolah tetapi masih saja ada yang berpacaran di lingkungan sekolah. Sebenarnya, yang menentukan pacaran adalah diri kita sendiri dan tentu pacaran memiliki dampak negatif dan positifnya. Oleh karena itu, kita harus bijak untuk memilih apakah kita (siswa kelas VIII) mau berpacaran atau tidak. Materi ketiga dimulai pada pukul 11.30 hingga pukul 12.45. Pada materi ketiga, membahas tentang harga diri. Harga diri adalah ukuran yang dipakai untuk menilai diri sendiri. Caranya adalah dengan mengendalikan emosi (emosi mempengaruhi pergaulan), menghargai orang lain, dan mengenali diri sendiri (agar lebih percaya diri). Di zaman sekarang, penghargaan terhadap harga diri seseorang mulai pudar. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya cyberbully. Dengan adanya cyberbully orang lain merasa tidak dihargai, depresi, takut, dan sakit. Oleh karena itu, kita (siswa kelas VIII) diajak untuk mencegahnya dengan menjaga dan mengembangkan eksistensi diri (keberadaan diri kita yang dikenal, diakui oleh orang lain), membangun sifat positif dari diri kita, tidak menampilkan sifat-sifat negatif yang mengarah ke bullying. Pada hari Selasa, 15 Oktober 2019, materi pertama dimulai pada pukul 07.00 hingga pukul 09.00. Pada materi pertama, membahas tentang identitasku atau ‘gender’ yang dibawakan oleh Kak Simon. Gender adalah sikap, peran, tanggung jawab, fungsi, hak, dan perilaku yang melekat pada diri laki-laki dan perempuan. Perempuan memiliki elemen sosial yang berbeda dengan laki-laki. Secara normal, perasaan batin seseorang yang cocok dengan tubuh mereka disebut gender expression. Ekspresi gender seseorang adalah cara mereka membuat orang tahu gender mereka. Gender dipengaruhi oleh budaya setempat, tradisi, pekerjaan, dan lingkungan sosial. Di zaman sekarang, banyak sekali pekerjaan laki-laki yang ternyata bisa dilakukan oleh perempuan seperti, tukang bangunan, pilot, supir, pengantar ‘online’ atau biasa disebut dengan ojek ‘online’, dan lain-lain. Begitu juga sebaliknya, laki-laki ada yang jago memasak (chef), penjahit, desiner, dan lain-lain. Pekerjaan tidak hanya sebatas satu gender antara perempuan dan laki-laki saja. Tetapi, pekerjaan bisa mencangkup perempuan dan laki-laki. Kemampuan seseorang tidak ditentukan dengan gender. Materi kedua dimulai pada pukul 09.30 hingga pukul 11.15. Pada materi kedua, membahas tentang menjaga kualitas diri dan juga ‘sex’ yang dibawakan oleh dr. Yudhi. Pada sebagian masyarakat, bicara ‘sex’ dianggap ‘tabu’ (aib, tidak baik, tidak pantas dibicarakan). Tetapi, pendidikan ‘sex’ ternyata bersifat ilmiah, dan wajib diajarkan kepada masyarakat khususnya para remaja untuk menambah pengetahuan akan ‘sex’. Laki-laki (hormon androgen) dan perempuan (hormon estrogen dan progesteron) memiliki alat kontrol  dari dorongan hormon terhadap dorongan seksual. Dorongan seksual pada pria antara lain adalah, mimpi basah dan masturbasi.  Hubungan seksual setelah menikah (persetubuhan), mengakibatkan kehamilan. Tetapi, seringkali didapat bahwa remaja paling tinggi mengalami ‘sex’ pada usia 15-19 tahun. Hal ini tentu beresiko tinggi, sama seperti mengonsumsi miras, rokok, dan zat berbahaya lainnya. Oleh karena itu, pendidikan ’sex’ perlu untuk mencegah tingginya angka kekerasan seksual dan kehamilan remaja pada wanita. Sebagai remaja, kita diajak untuk bertanggung jawab bagaimana cara menggunakannya dan mengetahui rambu-rambu dalam hal membicarakannya terhadap sesama (teman, orangtua, guru, kakak atau orang yang lebih dewasa dan kita nyaman untuk bercerita). Pendidikan seksualitas sangat diperlukan pada kalangan remaja sejak masa pubertas, baik oleh remaja perempuan ataupun laki-laki. Pendidikan seksual mempelajari tentang organ reproduksi, mencegah adanya bentuk kekerasan seksual dan pemerkosaan, mencegah pernikahan usia muda, mencegah perilaku seks yang tidak aman, mempelajari tentang gender, dan berusaha untuk mewujudkan penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain. Agar, remaja tidak terjerumus dalam pergaulan seksual yang keliru atau tidak sesuai yang mengarah pada seks bebas. Maka, remaja harus memahami pendidikan seksual dalam pergaulan besama teman berbeda jenis kelamin, meningkatkan kewaspadaan serta berhati-hati dalam bergaul. Remaja pun harus memiliki rasa bertanggung jawab atas tindakan berupa hubungan seksual dengan lawan jenis maupun sesama jenis yang mungkin memiliki resiko tersendiri. Semoga artikel ini, dapat bermanfaat bagi anda yang membacanya terutama para remaja terhadap pendidikan seksual maupun pengetahuan/informasi yang berhubungan dengan pendidikan seksual. Saya berterimakasih kepada kakak-kakak yang telah mengajar kami para remaja selama dua hari ini dalam hal pendidikan seksual sehingga saya dapat merangkum kegiatan tersebut dalam sebuah artikel untuk menambah wawasan pembaca mengenai pendidikan seksual.  
Selengkapnya
Eksplorasi Budaya ke Kota Tangerang
Posted: 2019-11-05 | By: Kendra/Kelas VIII
Selasa, 22 Oktober 2019 adalah pengalaman belajar saya bersama teman-teman satu kelas di luar kelas. Kali ini kami akan melakukan perjalanan eksplorasi budaya yang berbeda dibandingkan dengan karyawisata di kelas VII. Dalam perjalanan ini kami tidak hanya berkunjung ke satu tempat, tetapi ke banyak tempat bersejarah di Kota Tangerang. Perjalan kali ini unik dan berbeda karena kami harus mencari informasi sendiri untuk  sampai tujuan tanpa tersesat dengan menggunakan angkutan umum. Tidak hanya itu, kami juga harus mengetahui rutenya perjalanan agar semua tempat kunjungan bisa dikunjungi dan mengatur waktu sampai. Dengan perjalanan ini, kami dapat belajar menjaga barang miliksendiri, kerja sama, mengatur waktu, uang, dan jarak tempuh. Perjalanan ini sangat menyenangkan karena kami bisa menjadi lebih dekat satu dengan yang lain, lebih mengenal, dan harapannya kelas kami menjadi lebih kompak. Bagi saya dan teman-teman kelompok, perjalanan ini merupakan pengalaman yang berharga karena kami dapat belajar kebudayaan Tionghoa dan sejarah-sejarahnya. Kami juga menjadi tahu daerah-daerah yang ada di sekitar Tangerang yang sebelumnya belum pernah kami kunjungi. Tempat-tempat yang kami kunjungi antara lain: Kampung Bekelir, Toa Pekong, Masjid Kali Pasir, Klenteng Boen Tek Bio, Museum Benteng Heritage, dan Pasar Lama. Saya dan teman-teman memulai perjalan dengan rute tiga. Destinasi pertama kami adalah daerah kawasan Pasar Lama. Ketika sampai di pasar, kami menyusuri pasar dan langsung mencari makan. Saat kami sampai itu sekitar pukul 08.00, maka banyak restoran atau warung yang kami ingin kunjungi masih tutup. Kami hampir menyerah dan mencoba mencari restoran atau warung dengan google, tapi tidak jadi karena takut teresat. Akhirnya, kami makan di sebuah restoran yang sudah buka. Beberapa diantara tempat-tempat yang akan kita kunjungi tidak buka sesuai jadwal maka  dari itu kami menunggu. Salah satunya adalah Museum Benteng Heritage. Di depan gerbang tertulis bahwa museum buka pukul 10.00, tetapi hari itu buka pukul 12.00 karena harus menunggu waktu bersih-bersih museum. Tidak hanya itu saja kami harus menunggu selama tiga puluh menit karena museum tidak cukup menampung tiga kelompok sekaligus. Mengisi waktu luang untuk menunggu, kami bermain permainan Uno. Namun, waktu terbayar dengan informasi yang kami dapatkan. Informasi yang disampaikan oleh tour guide di museum sangat menarik, lengkap, dan jelas. Kami pun juga ditunjukkan barang-barang peninggalan masyarakat cina benteng pada zaman dahulu. Secara keseluruhan, dalam perjalanan ini kami tidak hanya belajar sejarah, tetapi belajar untuk mengenal teman dalam kelompok. Asik juga bepergian bersama teman-teman itulah yang terbesit dalam pikiranku kini. Tempat-tempat yang kami kunjungi itu memiliki nilai sejarah yang tinggi, makanan, dan minuman yang kami cicipi di pasar lama juga enak-enak. Jadi dapat disimpulkan bahwa perjalan kali ini sangat menyenangkan dan saya mau kembali jalan-jalan di pasar lama lagi dengan senang hati.  
Selengkapnya
Unforgettable Competitions
Posted: 2019-11-04 | By: Nancy Laura Sutan Kurniawan (Caca) IX-E
Nama saya Nancy Laura Sutan Kurniawan sebagai perwakilan tim basket putri SMP Santa Ursula BSD. Pada kesempatan ini, saya ingin mencertikan pengalaman saya dan tim saya saat mengikuti pertandingan basket di Labora Fest pada tanggal 16-21 September 2019 dan Ricci Cup pada tanggal 16-26 Oktober 2019 yang lalu. Labora Fest merupakan event tahunan yang diselenggarakan oleh Sekolah Ora et Labora dengan mengundang berbagai sekolah untuk berkompetisi bersama dalam bidang olahraga, kesenian, dan lainnya.  Sedangkan Ricci Cup merupakan ajang adu prestasi yang diselenggarakan oleh Sekolah Katolik Ricci II – Bintaro. Pada acara yang diselenggarakan oleh kedua sekolah tersebut, tim basket putra dan putri dari SMP Santa Ursula BSD mengikuti lomba basket antarSMP.  Tim basket putra berhasil meraih juara 3 pada Labora Fest, namun pada Ricci Cup tim basket putra masih kurang beruntung karena gugur pada pertandingan pertamanya.  Tim  basket putri berhasil masuk ke babak final dan meraih juara 1 pada kedua pertandingan di Labora Fest dan Ricci Cup ini.  Dimulai dari persiapan, kami erlatih rutin setiap minggu menjelang pertandingan. Meskipun terkadang di antara kami sering kali ada yang malas-malasan atau ada yang mengeluh selama latihan, pasti ada salah satu dari kami juga yang memberi semangat dan mendukung satu sama lain agar dapat berlatih dengan efektif karena waktu latihan kami (full team) tidak banyak. Meskipun hanya 2-3 kalilatihan, kami dapat memanfaatkan waktu tersebut dengan sangat baik karena saling mendukung satu sama lain sehingga saat bertanding kami dapat memberikan yang terbaik dan hasilnya pun memuaskan.  Tak lupa, sebelum bertanding kami juga melakukan pemanasan dan briefing dengan coach kami. Pemanasan merupakan salah satu bagian paling penting sebelum bertanding untuk menghindari cidera dan keram pada otot-otot, terutama otot kaki. Setelah pemanasan dan briefing, kami juga berdoa untuk meminta penyertaan Tuhan agar kami dapat bertanding dengan sebaik-baiknya dan di antara kami tidak ada satupun yang cidera atau pun mengalami hal yang tidak diinginkan. Setelah berdoa kami pun meneriakkan yel-yel kami bersama-sama agar lebih semangat lagi.  Tibalah saatnya kami memasuki lapangan setelah persiapan dan melakukan pemanasan lagi menggunakan bola di lapangan untuk menyesuaikan ring. Kami melakukan shooting, lay-up, under-ring, free-throw dengan semangat. Lalu, kami pun dipanggil beberapa menit kemudian untuk berfoto dan bersalaman dengan lawan kami. Setelah berfoto kami kembali ke tempat duduk dan 5 orang pertama yang akan bermain (starter five) pun masuk ke lapangan. Pertandingan pun dimulai.  Selama pertandingan kami memberikan semuanya yang terbaik dan tidak ada satupun di antara kami yang cidera. 4 quarter (40 menit) pun berlalu tidak terasa dan kami pun menang dengan skor yang cukup mengagumkan. Hal ini terus berulang dari babak penyisihan, semi-final, hingga kami dapat sampai pada babak final. Pada babak final, kami pun bermain dengan sangat baik sehingga kami meraih juara 1. Kami sangat senang dan bangga karena latihan yang kami lakukan selama ini tidak sia-sia.   
Selengkapnya
KEGIATAN WISATA ALAM DI GODONG IJO
Posted: 2019-10-29 | By: Faith Scolastica Salim / VII B / 08
Pada hari Selasa, 15 Oktober 2019 seluruh siswa kelas VII SMP Santa Ursula Bumi Serpong Damai (BSD) mengikuti kegiatan wisata alam yang berlokasi di Godong Ijo, Depok. Kami semua berkumpul di sekolah pukul 06.30 pagi dan kami berangkat tepat pukul 07.15 dengan empat buah bus yang telah disediakan oleh pihak sekolah untuk mengantar kami ke lokasi. Perjalanan dari SMP Santa Ursula menuju Godong Ijo membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit. Sesampainya di Godong Ijo, kami berkumpul di aula dan diberikan waktu untuk menikmati snack yang dibagikan oleh panitia Godong Ijo. Kami menghabiskan waktu bersama teman-teman di kelompok untuk menyantap makanan sambil berbincang-bincang santai selama kurang lebih 10 menit. Selesai makan, kami senam bersama secara serentak.  Setelah itu, kami diberikan kesempatan untuk menyaksikan sebuah video mengenai pemanasan global (global warming).  Kegiatan kami berikutnya adalah melakukan aktivitas bersama kelompok yang sudah ditentukan di setiap pos. Kami terbagi menjadi enam kelompok setiap kelompok terdiri dari kurang lebih 30 anggota. Terdapat enam kegiatan yang wajib kami lakukan, yakni : membuat potti doll, bermain outbond, mendaur ulang plastik, memancing ikan (fun fishing), simulasi pembangkit listrik dengan tenaga alternatif (air, angin, biogas, panas matahari), dan membuat vertical garden. Setiap kegiatan yang kami lakukan tersebut selalu didampingi oleh kakak panitia di Godong Ijo. Kami berhasil melakukan empat jenis kegiatan sebelum waktu makan siang. Pukul 12.00 siang tepat, kami semua diminta kembali berkumpul di hall untuk menyantap makan siang yang telah disediakan.  Nikmat sekali rasanya bisa makan siang bersama dengan teman-teman.  Tak lupa kami juga bergotong-royong untuk membersihkan seluruh sampah yang terdapat di hall.  Sesudah makan siang dan membersihkan sampah, kami kembali berkumpul dengan kelompok masing-masing untuk melanjutkan dua kegiatan yang belum dilakukan.  Pukul 15.00 setelah menyelesaikan seluruh kegiatan kelompok, kami kembali berkumpul di hall untuk mengikuti kegiatan penutup. Para guru, panitia pendamping Godong Ijo, dan beberapa siswa menyampaikan kesan, dan pesan selama berkegiatan di Godong Ijo. Kemudian disampaikan beberapa pengumuman sebelum kami meninggalkan Godong Ijo.  Ketika waktu menunjukkan pukul 15.30 bus kami berangkat menuju sekolah Santa Ursula BSD dan tiba di sekolah tepat pukul 16.30.  Sungguh, hati kami semua merasa sangat senang dapat mengikuti kegiatan wisata alam di Godong Ijo ini Saya dapat memetik nilai-nilai penting bagi kehidupan, khususnya pribadi saya dari pengalaman berkegiatan di Godong Ijo, yakni : selalu belajar untuk menghargai orang lain, kebersamaan dalam perbedaan itu indah dan menyenangkan, gotong royong lebih baik karena pekerjaan menjadi lebih ringan, dan cepat selesai, serta  tercipta keakraban yang lebih baik lagi antara sesama teman.  Selain itu,  juga niat  untuk selalu bersyukur kepada Tuhan atas alam dan makhluk hidup lain yang diciptakan-Nya. Kegiatan wisata alam di Godong Ijo juga mengingatkan kita untuk menyelamatkan bumi (save the earth) demi masa depan generasi penerus kita kelak. Hal paling sederhana yang saya peroleh adalah ternyata bahagia itu bisa diperoleh dengan cara-cara yang sederhana melalui alam, kegiatan, dan orang-orang di sekitar kita.  Terima kasih kepada SMP Santa Ursula BSD, para guru, dan panitia pendamping yang telah memberikan kesempatan bagi para siswa untuk belajar secara non-akademis, melalui kegiatan berwisata alam di Godong Ijo. Kegiatan eksplorasi ini mampu  memberikan kepada peserta didik tentang pemahaman nilai-nilai yang bermakna dan berguna bagi bekal kehidupan di kemudian hari.  
Selengkapnya
Eksplorasi Sosial
Posted: 2019-10-29 | By: Patrick - IXE
Pada hari Selasa, 8 Oktober 2019, siswa – siswi SMP Santa Ursula BSD melaksanakan kegiatan Eksplorasi Sosial. Kami berkumpul di hall SMP – SMA pada pukul 05.30 bersama dengan kelompok kami masing – masing. Ada 3 SLB yang menjadi tempat belajar kami, yaitu SLBN 01 Lebak Bulus, Jakarta, SLB Tri Asih, dan SLB Pangudi Luhur. Tiap kelas dibagi 6 kelompok yang disebar ke 3 lokasi tadi.  Saya dan kelompok mendapat tugas ke SLBN 01 Lebak Bulus. Setelah semua anggota  kelompok  telah hadir, kami langsung berjalan ke luar sekolah, kemudian memesan taksi online untuk berangkat ke lokasi yang akan kami tuju, yaitu SLB – A Pembina Tingkat Nasional, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Setelah menempuh perjalanan selama sekitar 45 menit, kami tiba di SLBN – A Pembina Tingkat Nasional. Kami langsung disambut hangat oleh kepala sekolah, , dan Pak Agus selaku guru di SLB – A Pembina Tingkat Nasional. Kami dikumpulkan di aula, kemudian membentuk barisan sesuai dengan kelompok masing – masing. Setelah mendengarkan kata sambutan, setiap kelompok dibagi menuju jenjang yang berbeda, dan kelompok saya dipilih untuk bereksplorasi di jenjang SMA.  Seluruh siswa di SLB – A Pembina Tingkat Nasional adalah penyandang tunanetra. Mereka semua membaca dan menulis menggunakan huruf braille, yaitu sejenis pola yang dibuat untuk melambangkan setiap huruf abjad serta angka, dan dibaca dengan cara diraba. Saya sendiri juga baru pertama kali melihat secara langsung seperti apa bentuk huruf braille. Saya dan kelompok saya kemudian diajak ke lantai dua, ke tempat percetakan buku yang menggunakan huruf braille. Ternyata, SLB – A Pembina Tingkat Nasional ini juga merupakan pusat pembuatan soal – soal ujian untuk penyandang tunanetra di DKI Jakarta. Soal – soal tersebut dicetak di kertas khusus, bernama kertas braillon yang cukup tebal, sehingga tidak mudah rusak saat huruf – huruf braille diraba.  Setelah melihat tempat percetakan, kami berjalan menuju ruang keterampilan. Selama berjalan, kami melihat jalur kuning di sepanjang koridor yang bernama guiding block, yang berfungsi untuk membantu para penyandang tunanetra dalam berjalan. Sesampainya di ruang keterampilan, kami disuguhkan beberapa hasil karya dari para siswa – siswi di SLB, seperti tasbih, gelang, kotak tisu, dompet, dan masih banyak lagi. Kami tidak menyangka, bahwa penyandang tunanetra pun dapat menghasilkan karya – karya yang tak kalah bagus dengan yang kami buat.  Dari situ saya belajar bahwa saya tidak boleh menyerah karena ang saya miliki, tetapi terus berusaha untuk menghasilkan karya – karya yang dapat bermanfaat bagi orang lain, seperti yang dilakukan oleh siswa – siswi di sana. Kami pun membeli sedikit dari hasil karya mereka, lalu bergerak ke tempat selanjutnya. Selanjutnya, kami melihat sekelompok penyandang tunanetra sedang bermain tenis meja khusus tunanetra. Saya pun ikut mencoba permainan itu sambil menutup mata saya. Ternyata permainan itu cukup sulit bagi saya, tetapi tampak begitu mudah bagi siswa tersebut, karena memang sudah terbiasa. Setelah puas bermain, kami bergerak menuju ruang pijat. Ruangan tersebut berfungsi untuk mengasah bakat siswa yang tertarik dalam memijat. Pengajar pijat di sekolah itu juga merupakan penyandang tunanetra, yang dahulu pernah bersekolah di sana. Salah satu teman saya pun mencoba pijatan seorang siswa di sana. Saya kagum melihatnya, karena dengan keterbatasannya, ia masih mau melayani orang lain. Kami bergerak lagi menuju ruangan selanjutnya, yaitu ruang komputer. Komputer di sana merupakan komputer khusus, yang dapat mengeluarkan bunyi sesuai dengan huruf yang diketik. Kemudian kami berpindah lagi menuju ruang musik. Di ruang musik kami menyaksikan para siswa – siswi SLB bermain alat musik gamelan Jawa. Walaupun memiliki masalah dalam penglihatan, mereka tetap bisa memainkan alat musik tersebut dengan kompak, sehingga sangat enak untuk didengar. Pada pukul 09.40, para siswa – siswi SLB dan kami beristirahat sejenak untuk makan. Kami juga mencoba beberapa jenis minuman yang dijual di kantin SLB, seperti jus mangga, jeruk, dan lain – lain. Pada pukul 10.00, kami kembali masuk ke ruang musik untuk menyaksikan band SLB bermain musik.  Saya pribadi sangat terkejut dan terkesima, karena mereka sangat piawai dalam memainkan alat – alat musik seperti gitar, keyboard, bass, dan drum. Rasanya mustahil bagi saya untuk dapat memainkan alat – alat musik tersebut tanpa melihat, tetapi mereka dapat melakukannya dan menghasilkan alunan musik yang merdu. Ada pula seorang siswi yang memiliki suara yang sangat indah, membuat kami terpukau dan tak pernah bosan mendengarnya selama sekitar satu jam. Saya dan beberapa teman saya pun ikut berpartisipasi dengan bergiliran bernyanyi sambil diiringi oleh band SLB. Saya sangat menikmati momen itu. Waktu terasa begitu cepat, dan akhirnya jam menunjukkan pukul 11.30, menandakan bahwa kami harus kembali ke BSD. Dengan berat hati, kami pun berpamitan dengan para gusu serta siswa – siswi di sana, dan bergegas untuk pulang.  Kami semua pulang menggunakan kendaraan umum, sesuai dengan kesepakatan bersama. Kami berjalan sebentar menuju jalan raya, sambil menunggu angkot yang akan membawa kami menuju stasiun Lebak Bulus. Sesampainya di stasiun, sambil menunggu MRT kami ke minimarket sejenak untuk membeli makanan ringan serta minuman untuk perjalanan pulang. Pada pukul 13.00, kami bergegas naik ke MRT, yang membawa kami ke stasiun Bundaran HI. Perjalanan dengan MRT ini juga merupakan pengalaman baru bagi saya, yang baru kali ini mencoba MRT. Sesampainya di Bundaran HI, kami langsung berjalan menuju halte Trans Jakarta terdekat untuk melanjutkan perjalanan dari Bundaran HI ke Grogol. Dari Grogol, kami melanjutkan perjalanan menggunakan Trans Jakarta, dan sekitar pukul setengah 4 sore, akhirnya kami tiba di BSD. Saya pribadi belajar banyak dari kegiatan Eksplorasi Sosial ini. Saya belajar untuk bersyukur, karena sudah diberi anggota tubuh yang lengkap dan berfungsi dengan baik, sehingga saya dapat menjalani hidup dengan nyaman. Saya juga belajar untuk memiliki daya juang yang tinggi, dan pantang menyerah dalam menghadapi masalah, seperti para murid SLB yang dengan segala keterbatasan mereka, mereka masih mau berjuang untuk belajar, untuk menghasilkan karya – karya, entah itu di bidang musik, keterampilan, ataupun bidang lainnya. Saya yang memiliki anggota tubuh lengkap, sepatutnya lebih berjuang untuk menimba ilmu, untuk menghasilkan karya – karya yang bermanfaat bagi orang lain sehingga saya dapat menjadi manusia yang utuh, cerdas, dan melayani.
Selengkapnya