Gerak-Gerik Mencintai Lingkungan Pemilahan Sampah dan Pengomposan
Posted: 2022-09-14 | By: Jolene Kezia Annabelle Sulung | XD/19
Sanurians, di manakah hatimu? Tahukah Anda bahwa sebagai remaja di era globalisasi ini, penyaluran akal, jiwa, dan raga itu sangat dibutuhkan? Jangan hanya jadi kaum rebahan dong, sobat! Namun jangan khawatir, karena Seksi Pembantu Umum sudah siap dengan solusinya nih, manteman! Ya, apalagi kalau bukan kegiatan Pemilahan Sampah dan Pengomposan? Benar sekali, kegiatan ini sudah kembali beraksi. Simak artikel ini ya untuk melihat keseruannya!Kegiatan pemilahan sampah dan pengomposan ini dilakukan sepulang sekolah pada hari Jumat, 26 Agustus 2022. Program ini diawali dengan pemilahan sampah di Hall SMP-SMA dengan dampingan dari Ibu Agatha dan sejumlah panitia dari seksi Pembantu Umum. Kegiatan ini dilaksanakan oleh perwakilan peserta didik kelas  XII IPB, yaitu Gian, Marco, dan Klemens. Kegiatan pemilahan sampah tidak berlangsung lama—hanya kurang lebih 15 menit—di mana tim akan melakukan pemilahan sampah terhadap sampah yang letaknya belum sesuai dengan jenis tempat sampahnya. Setelah itu, sampah akan dimasukkan ke dalam kantong plastik yang baru dan diletakkan di belakang kantin untuk diambil karyawan nanti.Dalam melaksanakan kegiatan ini, Gian, Marco, dan Klemens sempat berbagi pengalaman sedikit mengenai kesannya mengikuti pemilahan sampah. Pertama, mereka mengatakan bahwa mereka ingin mencari kesibukan setelah jam pelajaran usai. Mereka menambahkan juga ingin merasakan kotor sedikit, serta ingin menambah pengalaman. Nah, pengomposannya gimana ya kira-kira?Pastinya tidak kalah seru. Pengomposan dilakukan di Rumah Pengomposan dekat gedung Auditorium pada pukul 13.37 WIB. Kegiatan ini dilakukan oleh Elsa, Kinan, Mae, dan Sello yang juga masih dari kelas XII IPB. Kegiatan ini dimulai dengan pengenalan mengenai mesin pencacah daun (hati-hati ya, manteman, mesinnya berisik dan banyak mengeluarkan serbuk dedaunan!). Setelah itu, mulailah proses pembagian tugas—ada yang bertugas memasukkan daun, menyodok daun masuk penggilingan, dan memegang plastik sampah untuk menampung hasil penggilingan. Sayangnya, ternyata masih banyak sampah anorganik yang tercampur di antara tumpukan daun, antara lain tisu, botol, hingga kantong plastik. Wah, hati-hati ya!Setelah selesai, hasil pencacahan daun tersebut akan masuk ke dalam barrel, yakni wadah silinder berongga, untuk proses penyimpanan daun dan bakteri pengomposan. Prosesnya mudah, Sanurians—barrel diputar 10 kali oleh Ben dan Sello. Semangat ya…Kegiatan ini dilakukan bukan hanya untuk semata-mata keren dan eksis. Namun, lebih tepatnya didasari oleh tiga nilai Santa Ursula, yakni cinta lingkungan, kepekaan, dan daya juang. Peserta didik Santa Ursula diajarkan untuk lebih memperhatikan keadaan di sekitarnya. Selain itu, peserta didik juga diajarkan untuk mengolah sampah sebagai solusi kreatif untuk menjaga kelestarian bumi. “Dan mungkin, apa ya, kan lumayan capek—jadi kayak kita belajar daya juang juga, seperti itu,” kata Ben saat diwawancarai.\Hasil pengomposan ini akan dijual secara pre-order (dicatat ya teman-teman!) dengan harga Rp 10.000,00. Hasil penjualannya akan masuk ke dalam kas Presidium SMA Santa Ursula BSD. Dijamin, kalian akan mendapatkan banyak banget keseruan, hiruk pikuk, dan wawasan dari dua kegiatan ini. Teman-teman dari seksi Pembantu Umumnya juga sudah terlatih loh…Nantikan keseruan lainnya dengan Tribun Ursula, ya! Teguhkan hatimu, Sanurians!
Selengkapnya
Berkenalan dengan SEMOSA: Senam Otak Sanurian
Posted: 2022-08-31 | By: Karya Levanni Natania Limanoh XC/24
Teman-teman pasti pernah merasa jenuh saat belajar, bukan? Atau merasa kurang fokus? Lalu, apa sih solusi untuk mengatasinya? Nah, senam otak adalah jawabannya! Senam otak memiliki segudang manfaat. Namun sayangnya masih sedikit orang yang tahu cara melakukannya. Oleh karena itu, Seksi Olahraga Presidium SMA Santa Ursula BSD membuat kegiatan yang disebut SEMOSA. Sebelum menggali lebih dalam mengenai SEMOSA, mari kita mengenal senam otak terlebih dahulu, dr. Tania Savitri (2021) menyatakan bahwa Senam Otak atau Brain Gym adalah rangkaian gerakan yang bisa merangsang otak agar dapat bekerja secara optimal. Walaupun gerakan-gerakannya terlihat sederhana, senam otak dapat memberikan banyak manfaat loh, seperti meningkatkan konsentrasi dalam melakukan aktivitas sehari-hari, juga termasuk belajar. Gerakan senam otak dibuat untuk menstimulasi, meringankan, dan merelaksasi peserta didik yang sedang berada dalam situasi belajar tertentu. Sekarang teman-teman sudah tahu pentingnya senam otak, bukan? Sayangnya, Senam otak masih jarang dan tidak rutin dilakukan oleh warga SMA Santa Ursula BSD sendiri. Menyadari pentingnya senam otak, maka Seksi Olahraga membuat program rutin bernama SEMOSA.  SEMOSA merupakan singkatan dari “SEnaM Otak SAnurian”. Kegiatan ini diperkenalkan untuk pertama kalinya pada hari Jumat, 12 Agustus 2022 dan Jumat, 18 November 2022 kepada seluruh peserta didik SMA Santa Ursula BSD. SEMOSA akan dilaksanakan secara rutin setiap Jumat pagi setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya. Melalui kegiatan ini, peserta didik SMA Santa Ursula BSD diharapkan dapat semakin fokus dan konsentrasi dalam mengikuti pembelajaran.  Berbeda dengan olahraga pada umumnya, gerakan senam otak ini sederhana sehingga tidak memerlukan lahan yang luas. Kegiatan SEMOSA akan dilakukan di ruang kelas masing-masing. Peserta didik akan melakukan senam otak dengan mengikuti video yang ditampilkan oleh guru. Video berdurasi kurang lebih selama tiga menit dengan menampilkan lima gerakan yang bervariasi. Gerakan senam otak ini melatih koordinasi  tangan kanan dan kiri untuk melakukan dua gerakan yang berbeda. Gerakan inilah yang dilakukan secara bergantian selama beberapa detik.  Gerakan-gerakannya mudah untuk dilakukan, bukan? Karena gerakan-gerakannya mudah, teman-teman juga bisa melakukannya dari rumah ya. Setelah mengetahui banyaknya manfaat senam otak, yuk mulai lakukan senam otak secara rutin dan nantikan kegiatan SEMOSA berikutnya!
Selengkapnya
Upacara HUT RI Santa Ursula 2022
Posted: 2022-08-31 | By: Getsamane Sitepu/XI IPS 2/14
Upacara Hari Kemerdekaan Indonesia ke-77 yang dilaksanakan di lapangan SMP-SMA Santa Ursula BSD pada 17 Agustus 2022 diselenggarakan secara serentak. Dimulai pada pukul enam pagi, upacara ditandai dengan salah satu petugas membaca doa pagi. Puncak dari upacara ini yaitu pengibaran bendera yang dilakukan oleh tiga murid dari kelas XII. Bapak Catur Agus Sancoko selaku pemimpin upacara kemudian memberikan pidato dengan tema utama anak muda Indonesia yang digadang-gadang akan menjadi bonus populasi penduduk di masa depan sehingga penting untuk membina dan mendidik mereka melalui pendidikan agar menjadi bagian dari bonus populasi yang membangun Indonesia.  Upacara diakhiri dengan menyanyikan “Hari Merdeka” dan doa penutup. Upacara ini merupakan upacara tatap muka pertama sejak 2019. Walaupun tatap muka, upacara ini dihadiri secara terbatas oleh guru dan peserta didik dikarenakan pandemi yang belum usai.Akan tetapi, menurut Bapak Tommy yang bertugas melatih siswa untuk menjadi petugas upacara ada banyak tantangan menjelang Hari-H. Beberapa contohnya yaitu seragam yang tidak muat dipakai oleh beberapa siswa petugas upacara , jadwal latihan yang kurang, dan perlunya membangun ulang kembali program paskibra yang sebelumnya terputus selama dua tahun. “Bolong-bolong” ungkap salah satu petugas upacara, Aveline Octaviane dimana ia mengaku bahwa jadwal latihan upacara tidak lengkap. Namun di sisi lain, harapan untuk Upacara HUT RI 2023 tinggi. Pembina maupun petugas upacara berharap agar upacara tahun depan dapat berjalan seperti sedia kala dimana dapat diisi oleh semua murid baik SMP maupun SMA secara langsung.
Selengkapnya
Berubah Di Kala Pandemi
Posted: 2021-11-23 | By: Karol Yangqian.P & Servina Viviene.T
Oktober menjadi bulan perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS). Tidak ketinggalan juga OSIS SMP dan SMA Santa Ursula BSD mengadakan perayaan HPS 2021: BERDIKAMI (Berubah Di Kala Pandemi) pada Jumat, 15 Oktober 2021. Tujuan yang melatarbelakangi kegiatan ini yaitu untuk menumbuhkan kesadaran akan pangan sehat juga kepedulian terhadap sesama terutama yang membutuhkan bantuan. Dengan ini seluruh peserta didik diharapkan bisa berubah bersama ke arah yang lebih baik demi kebaikan dan kesejahteraan sesama.Pandemi tentunya merupakan waktu yang sangat sulit untuk hampir seluruh masyarakat dunia. Tidak terkecuali orang-orang yang ada di sekitar kita. Oleh karena itu, HPS 2021 ini mengangkat isu berawal dari para petani yang kesulitan menjual produk dikarenakan distribusi yang terhambat. Akhirnya berimbas pada harga pangan yang mengalami kenaikan. Tidak sampai di situ saja, selama masa pandemi ini tingkat konsumsi masyarakat Indonesia mengalami penurunan karena banyak yang terpaksa kehilangan pekerjaannya. Membuat masyarakat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya termasuk kebutuhan pangan. Namun sayangnya, di sisi lain tetap ada kelompok masyarakat yang secara ekonomi tetap stabil dan tidak terlalu merasakan dampak dari pandemi yang malah menumpulkan rasa penghargaan terhadap pangan juga kesehatan tubuhnya. Oleh karena itu, kegiatan ini hadir sebagai salah satu aspek kecil untuk mengajak peserta didik menumbuhkan kesadaran dan kepedulian mereka akan sesama serta terhadap permasalahan pangan yang sering muncul di sekitar kita tetapi kurang kita sadari. Dengan kegiatan ini, diajak juga peserta didik untuk ikut serta dalam melakukan tindakan-tindakan kecil yang memiliki dampak yang besar bagi diri sendiri juga tentunya sesama sebagai bentuk nyata akan kesadaran tersebut.  Di hari pelaksanaan acara, seluruh peserta didik SMP dan SMA berkumpul di konferensi video kelas masing-masing pada sesi perwalian di jam terakhir untuk melakukan serangkaian kegiatan. Rangkaian kegiatan ini dipandu oleh ketua dan wakil ketua kelas serta dibantu oleh wali kelas dan beberapa tenaga pendidik pendamping. Pertama, seluruh anggota kelas diberi pemaparan mengenai tujuan dan latar belakang kegiatan peringatan HPS ini. Kemudian, untuk sedikit melepas penat setelah melakukan kegiatan pembelajaran sepanjang hari, diadakanlah sedikit ice breaking dengan bermain kuis tebak gambar bertema HPS. Setiap peserta didik maupun tenaga pendidik bisa menebak benda yang ada pada salah seorang pemain, apabila jawabannya benar maka ada fun facts mengenai gambar tersebut. Begitulah pembuka dari acara ini.Pada sesi berikutnya, peserta didik dan tenaga pendidik kelas menyaksikan sebuah tayangan video yang dibuat khusus untuk kegiatan memperingati HPS 2021 ini. Video menceritakan kisah dua orang remaja yang hidup di lingkungan dan kondisi yang berbeda dan berbanding terbalik. Geo adalah seorang pelajar pada umumnya, keadaan ekonomi keluarganya mencukupi, dan bisa menikmati berbagai hiburan di rumahnya di kala pandemi ini. Segala aktivitas ia lakukan di rumah semenjak pandemi, mulai dari sekolah hingga menonton serial favoritnya. Namun, pola makannya selama ini tidak sehat, ia seringkali menyisakan bahkan membuang makanan ke tempat sampah, membuatnya terlihat lesu, tidak bersemangat, juga penghargaannya terhadap makanan berkurang. Di sisi lain, Galih menjalani hidup yang penuh tantangan. Ia hanya seorang remaja sama seperti Geo, tetapi keadaan keluarganya kurang mampu secara ekonomi. Ditambah, pandemi ini membuat kondisi keluarganya makin terpuruk. Berjuang mencari sesuap nasi, belajar dengan fasilitas seadanya, dan melewati jam makan menjadi perjuangan sehari-harinya. Gizi yang ia peroleh juga tidak bisa dikatakan cukup.Kisah kedua tokoh ini memang fiktif, tetapi tanpa disadari banyak sekali di antara kita yang memiliki kondisi kehidupan seperti Geo dan Galih di lingkungan sekitar. Hal ini menjadi masalah-masalah faktual yang terjadi di sekitar terutama selama pandemi ini. Pandemi telah membatasi aktivitas kita dan memaksa kita berkegiatan di rumah bahkan memberikan tekanan psikologis hingga mengakibatkan kejenuhan. Beberapa orang mengalihkan rasa jenuh dan stres ini dengan mengonsumsi makanan kesukaannya secara berlebihan. Akan menjadi jika makanan yang disukai bergizi, tetapi nyatanya masih banyak orang yang mengonsumsi junk food secara berlebihan. Data pun membuktikan bahwa masih banyak masyarakat yang melakukan ini, bahkan setengah dari mereka (atau kita) menjadikan junk food sebagai alternatif sarapan. Padahal sebagian besar telah sadar akan ketidakadaannya nutrisi dan dampak baik bagi kesehatan tubuh. Di saat sebagian masyarakat mengalami masalah dalam pola makan, sebagian lainnya justru memiliki masalah dalam memperoleh gizi itu sendiri. Semenjak pandemi melanda, banyak aktivitas ekonomi yang terpuruk terutama pada masyarakat kecil. Banyak pekerja dalam bidang formal maupun informal yang mengalami PHK, ditambah pandemi yang menyebabkan kenaikan harga pangan di seluruh dunia. Saat harga pangan semakin mahal, daya beli masyarakat justru menurun. Inilah yang terjadi di masyarakat entah kita sadari atau tidak.Dengan begitu, seluruh peserta didik diajak untuk melakukan aksi tindak lanjut untuk menanggapi permasalahan ini. Setelah menonton video, setiap peserta didik saling berbagi mengenai pengalaman berdasarkan masalah dalam video kemudian mendiskusikan apa saja yang bisa dilakukan, baik secara individual maupun sebagai kesepakatan kelas. Beberapa contoh aksi yang dilakukan seperti berbagi kepada sesama yang membutuhkan dalam bentuk donasi uang atau pangan, mengonsumsi makanan yang bergizi, tidak menyisakan makanan, berkreasi membuat makanan sehat, dan masih banyak lagi. Peserta didik juga diberi kesempatan untuk membagikan pengalaman aksinya dalam bentuk foto yang dapat dikumpulkan dari tanggal 16 sampai 23 Oktober 2021. Kemudian, foto-foto ini diunggah secara anonim di akun Instagram @pubsma dan akan segara diunggah di majalah elektronik Tribun Ursula. Perubahan bisa dilakukan oleh siapapun tanpa terkecuali. Hanya dengan uluran tangan yang sederhana dan dalam bentuk apapun pastinya dapat membantu sesama kita. Harapan yang sangat besar diberikan kepada seluruh peserta kegiatan ini untuk mulai melakukan aksi dari sekarang dan tidak hanya ketika HPS, namun untuk seterusnya.Penulis :Karol Yangqian Poetracahya XI MIPA 1/19Servina Viviene Tjindana XII IPB / 29
Selengkapnya
Disatukan oleh Keajaiban Toleransi Melalui SAMINAYA : Satukan Misi Nyalakan Budaya 2021
Posted: 2021-09-15 | By: Santika Cahyana X B
Belajar dan mengaplikasikan sikap toleransi secara langsung dengan 100 peserta didik di Indonesia dari 10 daerah yang berbeda merupakan hal yang tidak pernah terlintas di pikiran saya. Apalagi sampai menjalin hubungan kekeluargaan yang erat. Tentu hal yang sangat disayangkan jika terlewatkan.Kesempatan berharga ini telah saya dapatkan melalui acara SAMINAYA 2021. Acara ini merupakan sebuah acara kolaborasi antara SMA Santa Ursula Jakarta dengan SMA Santa Ursula BSD yang mengusung tema “Ikatan dalam Keberagaman”. Dengan menghadirkan muda-mudi dari seluruh penjuru Indonesia, banyaknya pendapat dan argumen seolah membuka mata saya akan keragaman di negeri ini. Pengalaman yang mengesankan ini dibuka dengan diskusi interaktif dengan Inayah Wulandari Wahid (putri bungsu Alm. K.H. Abdurrahman Wahid) melalui ‘Titik Temu Budaya’. Toleransi merupakan salah satu keterampilan yang perlu dilatih dan terbentuk saat kita bertemu dengan keberagaman. Perbedaan adalah fakta yang paten, tidak bisa diganggu gugat, tidak bisa dihilangkan, dan tidak bisa disamakan oleh siapapun. Hal yang kita dapat lakukan adalah melihatnya sebagai kekuatan dan kekayaan.Dalam bertukar pikiran dan pendapat mengenai keragaman dan arti toleransi, kami dipecah ke dalam 10 kelompok yang berisi beberapa peserta didik dengan asal daerah yang berbeda, mencangkup SMA Santa Ursula Jakarta, SMA Santa Ursula BSD, SMAN 3 Prabumulih, SMAN 2 Sangatta Utara, SMA Xaverius Lampung, SMA Theodorus Kotamobagu, SMAN 1 Mataram, SMAN 4 Denpasar, SMAN 3 Sorong, Madrasah Aliyah Negeri 1 Ternate, dan SMA Negeri Taruna Nala Jawa Timur. Dalam berdinamika di kelompok inilah saya benar-benar meresapi apa arti toleransi yang sebenarnya.Beranggotakan peserta didik yang tak saling kenal, kami belajar untuk saling memahami dan menghargai setiap perbedaan yang ada. Hal yang lebih membuat saya salut dengan keajaiban toleransi adalah ketika pada akhirnya kami bersepuluh beserta dengan dua orang pendamping dapat menjadi akrab dan disatukan oleh gelak canda dan tawa. Berdinamika dan bekerja dengan orang-orang asing tidaklah mudah, apalagi ketika setiap kepalanya memiliki perbedaan pendapat dan perbedaan watak dalam bagaimana mempertahankan argumen dan keinginannya. Perbedaan waktu juga terkadang menghalangi kami dalam berdiskusi menyelesaikan projek bersama. Namun, saya ingin membuktikan bahwa toleransi memang memegang peran penting dan kekuatannya dalam mempersatukan perbedaan sangat besar.Hal lain yang membuat saya bangga mengikuti acara ini adalah pondok permainan yang diadakan pada hari terakhir (Sabtu, 21 Agustus 2021). Walaupun masih terbatas layar, adanya gim seputar pengetahuan kebudayaan ini sangat mempererat kerja sama dan kekompakan kami sebagai sebuah tim.Saya sangat bersyukur dan senang bisa menjadi salah satu peserta yang terpilih untuk mengikuti acara SAMINAYA 2021 ini. Senang rasanya mendapatkan teman-teman baru yang turns out menjadi keluarga baru saya.  Tak lupa juga rasa terima kasih saya ucapkan kepada seluruh panitia acara yang sudah merealisasikan acara SAMINAYA 2021. Berdirinya acara ini sangat mempengaruhi cara kami sebagai generasi muda dalam melihat perbedaan sebagai suatu kekayaan yang patut dirayakan bersama.
Selengkapnya
Green House : Solusi Berkebun di Sekolah
Posted: 2021-02-02 | By: Fransiska Putri Setiawati
Di tengah maraknya perkembangan teknologi, banyak hal baru yang hadir dari berbagai bidang kehidupan, salah satunya yaitu di bidang pertanian. Cara menanam tanaman sekarang ini sudah sangat modern sehingga bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu di antara banyak caranya yaitu menanam tanaman dengan metode hidroponik.Berdasarkan laman petanidigital.id, hidroponik adalah cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah. Kebutuhan nutrisi yang diperlukan oleh tanaman ini berasal dari air, yang mana segala kebutuhan dari tanaman itu sendiri berasal dari sana. Istilah hidroponik ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah. Penyangga tanamannya biasanya menggunakan batu apung, kerikil, sekam, serbuk gergaji, rockwool, dan sebagainya. Teknik menanam yang satu ini mulai banyak digunakan oleh masyarakat di perkotaan karena biasanya lahan di perkotaan tidak seluas lahan di pedesaan.Oh ya, apakah kalian sudah tahu bahwa Sekolah Santa Ursula BSD memiliki sebuah rumah hidroponik? Nah, sekolah yang mulai dibangun pada bulan Juli 1990 ini ternyata memiliki sebuah tempat yang dikhususkan untuk menanam, merawat, dan memanen sayuran yang ditanam secara hidroponik. Tempat tersebut diberi nama Green House. Seperti namanya, tanaman yang ditanam di sana mayoritas merupakan sayuran berdaun hijau. Letaknya ada di bagian belakang gedung SMP-SMA Santa Ursula BSD dan dekat dengan jalan raya Serpong, jadi kalian bisa melihat bangunannya jika kalian melewati kawasan Sekolah Santa Ursula BSD.Berdasarkan pemaparan informasi dari Ibu Lisianawati, berdirinya Green House ini diawali dengan adanya pelatihan tentang hidroponik yang diikuti oleh beberapa tenaga pendidik. Setelah selesai pelatihan, pihak Yayasan Santa Ursula BSD, dalam hal ini Suster Francesco membuatkan Green House sebagai langkah tindak lanjut dari pelatihan tersebut. Green House yang dibuat ini juga sudah dilengkapi dengan berbagai instalasinya yang sekarang ada di halaman Santa Ursula BSD. Green House ini juga dapat digunakan untuk kegiatan  pembelajaran. Peserta didik yang tentunya didampingi oleh tenaga pendidik diperbolehkan menanam tanaman secara berkelompok sampai pada proses panen. Nantinya hasil panen tersebut bisa dijual kepada peserta didik dan tenaga pendidik yang berminat.Secara umum, ada berbagai kegiatan yang dapat dilakukan oleh warga Sekolah Santa Ursula BSD di dalam Green House ini. Kegiatan tersebut antara lain (1) perawatan instalasi, (2) penyemaian sayur yang akan ditanam, (3) penanaman jika hasil semaian sudah siap untuk ditanam, (4) pemupukan secara teratur untuk tanaman yang sudah tumbuh, (5) proses panen sayur sesuai dengan waktunya. Biasanya varian tanaman yang ditanam secara hidroponik yaitu berbagai sayur-mayur antara lain bayam, kangkung, pakcoy, caisim, selada, dan sawi putih. Penanaman varian sayur juga disesuaikan dengan jadwal yang sudah ditentukan oleh tenaga pendidik dan pihak yang merawat area Green House ini. Di tengah adanya pandemi Covid-19, perawatan Green House tetap produktif. Perawatan ini dilakukan oleh beberapa tenaga pendidik dan karyawan yang memang berminat. Selama tahun 2020, kami sudah sudah memanen sebanyak tiga kali untuk sayur pakcoy, sawi hijau, dan kangkung. Saat ini, kami baru merawat satu area tanam bayam dan pembibitan caisim.Keuntungan yang dapat dirasakan saat memiliki Green House adalah kami bisa makan sayur yang sehat dengan hasil tanam sendiri. Selain itu, kami bisa termotivasi untuk menanam sayuran secara hidroponik di rumah masing-masing. Walaupun proses penanaman secara hidroponik ini memiliki banyak keuntungan, tetapi kami juga pernah mengalami gagal panen. Penyebabnya antara lain karena terjadi mati listrik sehingga irigasi ikut terhenti. Di saat itu, kebetulan peserta didik dan tenaga pendidik sedang libur. Selain itu, penah terjadi kerusakan pada pompa air di sana. Terjadinya kejadian bocor atau meluapnya air dari tempat tanam sehingga terbuang pupuk yang sudah dituang juga menjadi salah satu faktor gagal panen. Masalah eksternal seperti saluran irigasi yang tersumbat dan sayuran yang terserang hama juga mengakibatkan sayuran yang sudah ditanam tidak tumbuh dengan baik. Semua faktor gagal panen ini bisa teratasi jika aktivitas penanaman terpantau dengan baik oleh tenaga pendidik dan peserta didik. Maka, memang diperlukan observasi dan pemeliharaan yang berkala terhadap tanaman dan instalasi hidroponik. Hal ini bertujuan untuk mencegah gagal panen dari faktor eksternal. Harapan kami agar panen sayur bisa berlimpah dan semuanya dapat bertumbuh dengan baik.Akhir kata, mari teman-teman kita lakukan bersama penanaman hidroponik. Jenis penanaman ini kaya akan manfaatnya. Kita bisa mengonsumsi sayur dengan kuaalitas yang baik. Sayur yang dihasilkan juga dapat menjadi sumber penghasilan. Selain itu, dengan melakukan penanaman secara hidroponik, kita dapat membantu sesama dengan berbagi hasil panen yang ada.
Selengkapnya
Masa Depan Organisasi Kesiswaan SMA Santa Ursula BSD
Posted: 2021-02-02 | By: Tim Badan Formatur 2020
Pandemi COVID-19 membawa perubahan yang besar yaitu bergesernya kegiatan umat manusia menjadi kegiatan berbasis daring. Masyarakat terpaksa untuk beradaptasi dalam waktu yang singkat dan menciptakan terobosan-terobosan baru agar bisa mengatasi keterbatasan di tengah pandemi ini. Hal yang sama terjadi di OSIS SMA Santa Santa Ursula BSD.            Proses pembelajaran peserta didik lewat kegiatan non-akademis saat ini sering terlupakan dari sekolah karena karena fokus sekolah yang lebih tertuju kepada pengembangan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Hal ini terlihat jelas dengan peserta didik yang terpaksa mengusahakan segala sesuatunya secara mandiri. Hal inilah yang  dirasakan dan dilakukan oleh Badan Pengurus OSIS (BP OSIS) SMA Santa Ursula BSD tahun 2020. Seluruh proses yang biasanya bisa dilakukan dengan mudah, sekarang terasa menjadi begitu sulit. Mulai dari proses rapat, proses perizinan, hingga proses pembentukan BP OSIS periode selanjutnya.            Beruntung, beberapa peserta didik kelas XII yang tergabung dalam BP OSIS 2020 sudah mulai memikirkan proses pembentukan BP OSIS periode selanjutnya, atau yang biasa disingkat sebagai PEMILOS 2021, sejak bulan Juli 2020. Awalnya, mereka melakukan riset dan observasi pada PEMILOS daring yang dilaksanakan sekolah-sekolah lain agar dapat memahami proses yang dilakukan. Dengan begitu, PEMILOS 2021 diharapkan bisa dilaksanakan sebaik dan seefektif mungkin untuk almamater tercinta.            Setelah riset dan observasi, dilakukanlah brainstorming untuk menyatukan ide-ide dan pendapat dari berbagai pihak. BP OSIS 2020 sudah mulai dengan membuat konsep dan rencana kasar mengenai apa yang bisa dilakukan dan bagaimana melakukannya untuk memunculkan bayangan proses PEMILOS 2021. Segala bentuk preparasi yang diperlukan dibuat sedini mungkin karena proses tidak hanya berhenti di titik itu saja. Tahap selanjutnya yang tak kalah penting adalah berdiskusi dengan pihak sekolah agar PEMILOS 2021 tetap diadakan meski dalam kondisi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Bagian awal ini dilakukan tidak dalam waktu yang sebentar, melainkan mencapai sekitar tiga hingga empat bulan.            Pada pertengahan bulan November, sekolah memutuskan untuk tetap mengadakan PEMILOS 2021dan mengutus tim yang turut serta membantu pada tahap awal proses pemilihan BP OSIS 2020 untuk peserta didik kelas XI. Hal ini dilakukan karena tidak adanya kelompok Kaderisasi yang biasanya menjadi salah satu kriteria yang harus dimiliki oleh Ketua OSIS SMA Santa Ursula BSD. Penjaringan dimulai sejak tanggal 17 dan 18 November 2020, dimana peserta didik kelas X dan XI yang tertarik untuk menjadi BP OSIS mendaftarkan diri, kemudian dilanjutkan dengan tahap penyaringan Calon Badan Pengurus kelas XI yang dilakukan oleh tim sekolah.            Akhirnya, pada awal bulan Desember 2020, ketika BP OSIS 2020 memaparkan laporan pertanggungjawaban dan ditetapkan dalam status demisioner, dilantiklah Badan Formatur (BF) yang bertugas merencanakan dan melakukan rangkaian kegiatan PEMILOS 2021. BF yang dilantik beranggotakan 10 orang peserta didik kelas XII yang mewakili anggota BP OSIS sebelumnya, non-BP OSIS, Kaderisasi, dan non-Kaderisasi. BF bertugas dan bertanggung jawab atas seluruh proses pemilihan Ketua OSIS danpenyusunan BP OSIS 2021. Selama 13 hari kerja, BF berdinamika untuk menyesuaikan konsep-konsep kasar yang telah disusun sebelumnya sampai pada tahap eksekusi.Serangkaian tes yang terdiri dari fit and proper test, forum group discussion, dan wawancara dilakukan untuk mencari kandidat-kandidat terbaik Calon Ketua OSIS 2021. Bakal Calon Ketua OSIS yang lolos menjadi Calon Ketua OSIS akhirnya melakukan kampanye. Proses kampanye dibagi menjadi dua jenis, yaitu kampanye massa dan kampanye cerdas.Kampanye massa pada tahun ini sangat berbeda dengan tahun lalu. Akibat adanya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), pertemuan fisik antarpeserta didik yang terlibat tidak bisa dilakukan, sehingga semua proses PEMILOS 2021 dilakukan secara daring. Seluruh bentuk kampanye massa dilakukan melalui akun media sosial Calon Ketua OSIS bersama dengan tim kerjanya guna memperkenalkan visi dan misi masing-masing, serta menarik minat seluruh peserta didik dan guru agar berpartisipasi aktif dalam PEMILOS 2021. Berbeda dengan kampanye massa, kampanye cerdas dilakukan untuk menguji dan memperlihatkan kompetensi dari kedua Calon Ketua OSIS. Tahap ini terdiri atas orasi dan debat cerdas kedua calon yang disaksikan oleh seluruh peserta didik dan tenaga pendidik di SMA Santa Ursula BSD.Setelah seluruh proses kampanye selesai, PEMILOS 2021 berlanjut ke tahap yang paling penting, yaitu proses pemungutan suara yang dilakukan oleh seluruh peserta didik dan tenaga pendidik di SMA Santa Ursula BSD. Badan Formatur menyelenggarakan pemilihan ini melalui media Google Form. Hasil penghitungan suara juga disaksikan secara live oleh perwakilan kelas dan perwakilan tim kerja tiap calon ketua OSIS dengan tujuan menjunjung transparansi.  Media yang digunakan ini masih belum sempurna, terlihat dari masih adanya beberapa masalah pada rekapitulasi penghitungan suara. Namun, untuk pengalaman pertama, proses ini bisa terlaksana dengan cukup baik.Proses terakhir dari serangkaian PEMILOS 2021 adalah penyusunan kabinet BP OSIS 2021. Ketua OSIS terpilih bersama dengan Calon Ketua OSIS yang tidak terpilih mengatur dan menyusun kabinet BP OSIS 2021. Meski proses ini dilakukan bersama-sama, pada akhirnya Ketua OSIS terpilihlah yang memiliki hak prerogatif untuk memutuskan kabinet kerja BP OSIS 2021. Untuk mendukung proses ini, BF menyelenggarakan serangkaian tahap penyaringan melalui pengumpulan CV, klarifikasi CV, dan forum group discussion yang hasilnya merupakan bentuk rekomendasi dari BF kepada Ketua OSIS terpilih sebagai bahan pertimbangan.Rangkaian acara PEMILOS ini berakhir pada hari Kamis (17/12) dengan dilantiknya Andrea Felicia Subena sebagai Ketua OSIS dan seluruh Badan Pengurus OSIS SMA Santa Ursula BSD 2021. Dari proses ini, banyak hal bisa dipelajari, terutama tentang bagaimana beradaptasi dan berinovasi dalam situasi yang sulit. Walaupun seluruh proses belum sepenuhnya sempurna, PEMILOS 2021 menjadi langkah yang besar dalam memajukan bidang kesiswaan SMA Santa Ursula BSD.  
Selengkapnya
SHARING ALUMNI SEKOLAH SANTA URSULA BSD
Posted: 2020-12-18 | By: Tim Psikolog Sekolah Santa Ursula BSD
BOBA TALK Merupakan  kebanggaan  bagi  Sekolah  Santa  Ursula  BSD  saat  bertemu  kembali  dengan alumninya  yang  sudah  tersebar  di  berbagai  penjuru  dunia,  baik  untuk  menempuh  pendidikan lanjutan ataupun untuk tinggal dan bekerja. Pengalaman yang mereka miliki sangat bernilai dan kesediaan  mereka  untuk  berbagi  sangat  dinantikan.  Melihat  antusiasme  dari  para  peserta  didik  SMA  untuk  menempuh pendidikan  di  luar  negeri  serta  keinginan  yang  besar  untuk  belajar  dari pengalaman  kakak  kelasnya,  maka  sekolah  memfasilitasi  acara  bincang-bincang  dengan  para alumni.  Acara  bincang  alumni  yang  diulas  dalam  tulisan ini  adalah  Boba  Talk  bersama  kakak  beradik  Hebert Satria  J.  (alumni  tahun  2015  yang  sekarang  bekerja sebagai  Mechatronics  Designer  ASML  Belanda)  dan Christian Kayne Dwi J. (alumni tahun 2018 yang saat ini berada  di  tingkat  awal  Hochschule  Darmstasdt-Jerman). Kedua  kakak  beradik  ini  menegaskan  bahwa  mereka bukan  berasal  dari  keluarga  yang  sepenuhnya  bisa membiayai  pendidikan  mereka  sampai  di  Eropa.  Oleh karena  itu,  mereka  benar-benar  harus  berjuang  untuk mendapatkan  beasiswa,  mengatur  sendiri  biaya hidupnya, serta bekerja paruh waktu sambil kuliah.  Selain  itu,  hal  yang  ditekankan  adalah  selama belajar  di  luar  negeri,  mereka  benar-benar  menggunakan  waktunya  untuk  fokus  belajar  karena untuk mendapatkan beasiswa mereka harus memperolah nilai yang sangat baik. Dalam bincang- bincang ini yang sangat ditekankan oleh Hebert dan Kayne adalah kemandirian belajar, inisiatif untuk mencari tahu dari berbagai sumber yang ada, daya juang, serta keinginan yang kuat untuk menempuh pendidikan dan meraih kehidupan yang lebih baik.  SHARING ALUMNI - BINA NUSANTARA Pada  tanggal  3  Desember  2020,  selain  bincang-bincang  dengan  kedua  kakak  beradik  di atas,  sekolah  juga  mengadakan  bincang-bincang  dengan  tiga  orang  alumni  yang  sedang menempuh  pendidikan  di  Universitas  Bina  Nusantara.  Ketiga  alumni  tersebut  adalah  Felicia Martina  Juwantoro  (alumni  tahun  2017  -  DKV  New  Media,  tempat  Magang:  Apple  Developer Academy  @BINUS);  Melvin  Laurel  Puka  (alumni  tahun  2017  -  Sistem  Informasi,  tempat magang: BCA); dan Fiona Michelle (Alumni 2019 – Product Design Engineer) Memilih program studi dan perguruan tinggi yang  diinginkan  memang  bukan  hal  yang  mudah. Mencari informasi, berani mencoba, dan menantang diri  keluar  dari  zona  nyaman  adalah  beberapa  cara yang  diungkapkan  Feli,  Melvin,  dan  Fiona  untuk menyiapkan  diri  mereka  masuk  ke  dunia perkuliahan.  Ketiga  alumni  tersebut  menekankan bahwa kemampuan beradaptasi sangat penting untuk menunjang proses perkuliahan.  Dunia  kuliah  sangat  berbeda  dengan  SMA. Saat  di  SMA,  ada  banyak  orang  yang  mendukung terutama  teman  dan  guru  yang  masih  akan  selalu mengingatkan  ketika  ada  tugas  maupun  penilaian. Sementara  di  dunia  kuliah,  seorang  mahasiswa benar-benar dituntut untuk mandiri dan melakukan segala sesuatunya sendiri. Dosen tidak akan menagih, meminta tugas, ataupun mengejar mahasiswa yang belum mengumpulkan tugas. Untuk itu  dibutuhkan  kesadaran  penuh  dalam  mengatur  waktu  dan  membuat  prioritas  dari  masing- masing individu untuk melakukan tanggung jawabnya.  
Selengkapnya
DARI LASKAR, UNTUK YANG TERPINGGIRKAN
Posted: 2020-12-18 | By: Arvyno Pranata Limahardja XI MIPA 3/5 dan Angelic
Di tengah masa pandemi ini, setiap bidang kehidupan masyarakat ikut terdampak, tak terkecuali secara ekonomi. Banyak masyarakat di sekeliling kita yang terpaksa harus mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari tempat kerjanya. Hal itu berdampak pula pada keluarga mereka yang ikut merasakan kesulitan tersebut. Untuk menanggapi keadaan tersebut, kita perlu menyatukan semangat persatuan dan solidaritas kita untuk ikut memikul beban mereka pula secara bersama-sama. Di saat yang sama, seluruh aktivitas apresiasi seni secara fisik terpaksa harus dihentikan untuk sementara waktu demi menghentikan penyebaran virus COVID-19. Meski begitu, terbuka pula kesempatan-kesempatan lain untuk kita tetap bisa menghargai dan mendukung para pembuat karya seni. Mereka ialah peserta didik yang memiliki minat dan bakat dalam bidang tersebut. Pemberian apresiasi tersebut dapat melalui platform dan media virtual yang sekarang ini bisa dengan mudah diakses oleh masyarakat luas.Berdasarkan dua alasan di atas, kemudian seksi kesenian OSIS SMA Santa Ursula BSD mengadakan LASKAR (Lelang & Ekshibisi Karya Seni) yang kemudian terbuka untuk konsumsi publik seluas-luasnya. Sesuai dengan singkatan dari LASKAR itu sendiri, rangkaian acara secara garis besar terdiri atas pameran seni yang telah diselenggarakan di tanggal 31 Oktober 2020 yang lalu dan lelang karya di tanggal 5 - 10 November 2020. Pameran seni diadakan secara virtual melalui dua platform yang berbeda. Platform tersebut yaitu website Artsteps (bit.ly/GaleriLASKAR) dan kanal Youtube ‘Sanur on Screen’ (bit.ly/VideoTurGaleriLASKAR). Pameran seni ini sendiri telah diikuti oleh 35 kreator seni yang mempersembahkan karya-karya terbaik mereka untuk menghiasi dinding-dinding galeri tersebut. Sebelumnya, para kreator diminta dalam selang waktu tiga minggu untuk mengekspresikan pemikiran dan perasaannya tentang sebuah kata, ‘Terpinggirkan’, menjadi sebuah wujud fisik. Berdasarkan data pada tanggal 28 November 2020, pameran seni virtual ini ditutup dengan perolehan 791 kunjungan pada galeri Artsteps dan 411 kali ditonton pada Youtube. Selanjutnya, lelang karya yang telah diselenggarakan tersebut juga dibantu oleh situs live chatting, Padlet. Sebanyak 23 karya yang memang berkualitas setelah melewati proses seleksi bersama dengan para juri pilihan, terpilih untuk bisa berkesempatan dilelang di masyarakat luas. Tidak hanya masyarakat luas, teman-teman dalam komunitas SMA Santa Ursula BSD pun berkesempatan untuk bisa mengikuti acara lelang karya. Dengan ini, pendidikan nilai yang selama ini telah digaungkan oleh sekolah SMA Santa Ursula BSD bisa terwujud secara nyata, terutama dengan mengajak para peserta didik untuk bisa menumbuhkan kepekaannya terhadap sebuah permasalahan yang sedang terjadi di sekitarnya. Melalui kegiatan ini, komunitas SMA Santa Ursula BSD semakin menghargai hakikat seni dan menjadikannya sebagai salah satu cara berbela rasa kepada sesama. Oleh karena itu, diharapkan supaya nantinya peserta didik betul-betul mampu memahami dan menghidupi arti sesungguhnya menjadi manusia-manusia yang utuh, cerdas, dan melayani dalam hidup bermasyarakat.
Selengkapnya
KESEHATAN MENTAL
Posted: 2020-11-24 | By: Tim Psikolog Santa Ursula BSD
Menurut WHO (2018), kalangan remaja dan dewasa muda paling rawan mengalami gangguan kesehatan mental. Hal ini karena pada usia ini, banyak perubahan dalam hidup, seperti mulai hidup terpisah orangtua, berpindah sekolah, atau lingkungan kerja baru yang berpotensi memicu stress atau tekanan mental. Kesehatan mental adalah keadaan sejahtera di mana setiap individu bisa mewujudkan potensi mereka sendiri. Artinya, mereka dapat mengatasi tekanan kehidupan yang normal, dapat berfungsi secara produktif dan bermanfaat, dan mampu memberikan kontribusi kepada komunitas mereka. (WHO). Menurut Kementrian Kesehatan, kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar. (https://promkes.kemkes.go.id/pengertian-kesehatan-mental).   Kesehatan mental merupakan suatu kontinum atau rentang (seperti garis), tidak dapat dilihat hitam putih. Kalau kita perhatikan kondisi emosi atau energi kita, kadang naik (senang, bahagia, ceria, antusias, bersemangat, dsb), kadang juga turun (sedih, kecewa, jenuh, putus asa, dsb). Tiap emosi memiliki kadarnya masing-masing, bisa juga saling tumpeng tindih dalam waktu yang bersamaan jadi tidak bisa dikategorikan ada atau tidak ada. Saat kondisi seseorang sedang “turun”, bukan berarti kondisi mental kita dapat langsung dinyatakan “sakit”. Coba lihat kembali seberapa jauh hal itu mengganggu aktivitas kita. Ketika sudah terasa amat mengganggu silahkan cari bantuan dari orang lain. Mengakui bahwa kita sedang merasa tidak baik-baik saja itu boleh, tidak apa-apa, dan tidak ada yang salah dengan itu.   Beberapa cara yang dapat dipakai untuk meredakan emosi, yang dapat diperlakukan seperti P3KM “Pertolongan pertama pada kesehatan mental” adalah: Melakukan relaksasi, atur nafas secara teratur, rasakan dan hayati perasaan yang muncul. Akui bahwa diri sedang butuh waktu dan jeda untuk menjadi lebih tenang. Gunakan seluruh panca indera untuk kembali berada pada “saat ini”. Bukalah mata lebar-lebar, lihatlah satu benda atau detil kecil yang selama ini luput dari perhatian. Lakukan selama beberapa menit sambil merasakan apa yang muncul di hati. Setelah menggunakan mata, silahkan lanjut ke telinga, cobalah dengarkan satu suara yang selama ini luput dari perhatian. Lakukan selama beberapa menit sambil merasakan kembali apa yang muncul di hati. Teruskan tahapan ini dengan menggunakan pancaindera yang lain. Hal yang terpenting adalah hindari melabel atau mendiagnosis diri sendiri. Terima dulu saja perasaanmu dan tetap jalani hari-hari dengan positif. Jangan sungkan cari bantuan dari orang terdekat atau orang lain yang bisa di percaya. Selamat menikmati hari-harimu. Salam sehat dan tetap semangat!
Selengkapnya
Menimba Keteladanan dari Santa Ursula
Posted: 2020-11-16 | By: Victor Puguh Harsanto
Tahun 2020, genaplah usia 30 tahun sekolah Santa Ursula BSD dalam mengarungi samudera luas pendampingan dan pembentukan karakter generasi muda dalam ranah pendidikan. Usia 30 tahun, selayaknya manusia, telah menjadi matang oleh berbagai pengalaman hidup yang mendewasakan. Sebagai penutup rangkaian perayaan 30 tahun sekolah Santa Ursula BSD, pada hari Rabu, 21 Oktober 2020 yang juga bertepatan dengan hari peringatan Santa Ursula, pihak sekolah telah menyelenggarakan peresmian dan pemberkatan patung Santa Ursula.  Pemberkatan patung nan indah ini dipimipin oleh Pastor Hendra Suteja, SJ pada pagi hari yang cerah dengan suasana dilingkupi rasa penuh syukur. Acara yang sederhana tetapi penuh makna ini dihadiri oleh seluruh tenaga pendidik dari unit TB-TK, SD, SMP, dan SMA Santa Ursula BSD. Tentunya acara ini dilaksanakan dengan mengikuti protokol kesehatan yang ketat.  Dengan didirikannya patung Santa Ursula ini, Pastor Hendra mengingatkan kami semua untuk semakin meneladani semangat dan keberanian dari Santa Ursula sebagai pelindung sekolah Santa Ursula, khususnya untuk melayani anak-anak muda dalam mempersiapkan hidup dan masa depan mereka. Sekarang, patung yang terbuat dari logam kuningan dengan tinggi 170 cm ini berdiri dengan kokoh dan indah di sebuah taman kecil, tepatnya di bagian pojok depan hall SMP-SMA Santa Ursula BSD. Tepat setahun yang lalu, ternyata gagasan untuk mendirikan patung Santa Ursula sudah diutarakan oleh Sr. Francesco Marianti OSU, selaku Ketua III Yayasan Sancta Ursula BSD. Beliau berharapan dengan kehadiran patung Santa Ursula ini, seluruh civitas academica sekolah Santa Ursula BSD dapat semakin mampu menimba dan mengaktualisasikan spiritualitas Santa Ursula dalam laku hidup keseharian. Patung ini juga diharapkan menjadi landmark atau penanda yang semakin mengukuhkan identitas dan kebanggaan sekolah. Kini, gagasan tersebut sudah bisa terealisasikan. Di sisi lain, pendirian patung Santa Ursula ini menjadi momen yang penting dan bersejarah karena dibarengi dengan keadaan pandemi Covid-19 yang berdampak besar dalam segala aspek hidup manusia di seluruh dunia dewasa ini. Semoga patung ini tidak hanya hadir secara fisik sebagai tetenger (Jawa: ciri; tanda khas), tetapi juga dapat selalu mendampingi kita secara spirit agar kita semua diberi kekuatan dan kesabaran di saat-saat sulit dan penuh tantangan ini. Dia akan selalu menjadi Alma Mater, Ibu yang mengayomi. Dengan kehangatan kasihnya, Santa Ursula juga akan selalu merengkuh siapa saja yang berbeban berat dan mereka yang rindu untuk pulang.   
Selengkapnya
Piringku Masa Depanku
Posted: 2020-11-03 | By: Penulis : Servina Viviene Tjindana
Mengisi hari libur dengan kegiatan positif adalah hal yang sangat baik. Misalnya, dengan kegiatan seminar satu ini yang kaya akan informasi dan membuka wawasan bagi para partisipannya. Diskusi Meja Makan dengan tema “Masa Depan Bangsaku Dimulai dari Piring Makanku” merupakan bentuk perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS) tahun 2020 yang diadakan oleh SMA Santa Ursula BSD dan bekerja sama dengan OSIS SMP Santa Ursula BSD. Diskusi kali ini dihadiri oleh dua orang narasumber yaitu dr. Risnaldo Jaya, salah satu lulusan St. Ursula BSD tahun 2001 yang sudah memiliki segudang pengalaman dalam pekerjaannya, begitu juga dengan dr. Kevin Leonardo yang merupakan lulusan Santa Ursula BSD tahun 2012. Partisipan yang mengikuti diskusi berjumlah sekitar 75 hingga 80 peserta yang salah satunya adalah saya sendiri.  Saya datang dengan pengetahuan yang minim tentang pangan dan pulang dengan segudang ilmu pengetahuan. Pengetahuan tersebut saya dapatkan dari proses diskusi yangs dibagi menjadi tiga topik. Topik pertama mengenai pentingnya keberagaman pangan, lalu berlanjut dengan pemaparan tentang kesehatan serta makanan. Topik terakhir yaitu penjelasan mengenai keadaan di daerah pinggiran dan kontribusi kita sebagai pemuda-pemudi untuk bangsa. Seminar yang dikemas dengan ringan dan santai, tetapi tetap berbobot sehingga membuat para partisipan nyaman untuk menyuarakan aspirasi serta pertanyaan untuk setiap topiknya.  Pagi itu, saya menerima surel yang berisikan video tentang gambaran diskusi yang akan berlangsung pada siang hari itu yang berjudul Berbeda-beda Tapi Tetap Makan. Melalui video tersebut, partisipan mendapat gambaran inti mengenai tujuan diskusi nanti. Pada pukul 12.50 WIB, saya masuk ke dalam aplikasi Zoom Meeting dan disambut dengan hangat oleh para panitia serta moderator. Diskusi segera dimulai pada pukul 13.00 WIB dan diawali dengan perkenalan narasumber. Setelah itu, saya beserta partisipan lainnya masuk ke dalam materi pertama yaitu mengenai pentingnya keberagaman pangan. Narasumber menjelaskan tentang hal-hal dasar tentang makanan yang masih seringkali kurang dipahami masyarakat, contohnya komponen makanan bergizi. Narasumber menjelaskan bahwa makanan yang bergizi terdiri dari komponen karbohidrat, protein, lemak baik, mineral, dan vitamin dalam 1 piring. Hal terpenting yang paling pokok dalam 1 piring adalah 1/3 (sepertiga) piring diisi dengan karbohidrat seperti nasi, mie, ubi, singkong, pasta, dan masih banyak lagi variasinya. Lalu 1/3 (sepertiga) lainnya diisi dengan sayur-mayur. Kemudian, sisanya barulah diisi dengan setengah lauk dari lemak nabati maupun hewani, setengahnya lagi diisi dengan buah-buahan. Itulah definisi dari makan makanan bergizi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pada sesi pertama dan kedua, narasumber juga menjelaskan topik yang marak dibicarakan oleh para remaja yaitu diet. Penjelasan yang dikemas dengan terperinci membuka wawasan baru bagi para partisipan terhadap diet itu sendiri. Berdasarkan penjelasan dari narasumber, diet bukanlah sekadar mengurangi makan, melainkan diet merupakan mindset mengatur makan dan jenis makanan yang masuk ke dalam tubuh kita. Di sisi lain, konsep tentang diet masih sering disalahartikan dan berujung pada perilaku yang tidak sehat seperti beberapa kasus memuntahkan makanan yang sudah dimakan atau bahkan pola makan yang berlebihan. Perilaku tersebut biasa dikenal dengan sebutan anoreksia atau bulimia. Diet yang sehat harus dimulai dengan mindset yang benar yaitu diet dilakukan karena timbul rasa peduli terhadap tubuh. Lalu, cara yang benar dalam melakukan diet adalah dengan memperhatikan kalori yang masuk lebih kecil atau sama dengan kalori yang keluar (calories in – calories out). Pada sesi ini dijelaskan juga tips agar tubuh cepat merasa kenyang yaitu dengan minum air mineral sebelum makan, memilih menu yang tinggi serat dan protein, makan dengan perlahan, tidur yang cukup, dan jangan lupa untuk berolahraga agar kalori yang masuk memiliki kesempatan untuk keluar. Apabila ingin berat badan yang stabil, kalori yang keluar bisa disamakan dengan kalori yang masuk. Namun apabila ingin berat badan turun, maka tingkatkan aktivitas fisik agar kalori yang dikeluarkan lebih banyak daripada kalori yang masuk. Pada sesi terakhir, narasumber membicarakan tentang jenis pangan di daerah pelosok serta kontribusi kami sebagai masyarakat Indonesia terhadap berbagai jenis pangan tersebut untuk bangsa. Sebagai contoh, masyarakat di bagian timur Indonesia memiliki makanan utama yaitu jagung dan ubi-ubian. Selain itu, makanan utama lainnya berupa sagu dan sorgum. Namun, selama ini masyarakat hanya akrab mengonsumsi beras. Alhasil, lahan pertanian padi jauh lebih luas dibandingkan dengan makanan utama lainnya. Dari contoh kasus ini, kami mendapatkan pengetahuan baru bahwa yang selama ini dilakukan oleh masyarakat Indonesia adalah monokultur. Hal ini mengakibatkan unsur hara dan unsur lainnya yang ada pada tanah rusak akibat hanya ditanami satu jenis tanaman. Dampak dari monokultur akhirnya membuat kualitas panen kurang baik dan tidak bisa dipasarkan. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan ada pihak-pihak tertentu yang tidak mendapat bagian dan berujung pada timbulnya masalah gizi pada beberapa kalangan masyarakat di Indonesia. Maka dari itu, para remaja dewasa ini dituntut untuk mulai terlibat aktif dalam mengubah situasi menjadi lebih baik, dimulai dari hal yang paling kecil. Berdasarkan tanggapan dari partisipan, hal-hal kecil yang dapat dilakukan adalah dengan membeli produk lokal dan peka terhadap kondisi Indonesia saat ini. Hal ini kami yakini karena kesadaran tentang kepekaan terhadap keadaan sekitar kita perlu dipupuk sedini mungkin. Sekali lagi, saya dan para partisipan lainnya dalam diskusi kali ini banyak mendapat pengetahuan baru. Segudang harapan juga ditaruh kepada masing-masing individu yang telah tersadarkan lewat diskusi ini. Satu hal baru yang saya pribadi sadari setelah mengikuti Diskusi Meja Makan bahwa bisa makan setiap hari tanpa perlu menanam atau berburu makanan adalah sebuah keistimewaan tersendiri bagi segelintir orang.  
Selengkapnya
Mengembangkan Imajinasi dengan Literasi
Posted: 2019-11-07 | By: Lorensius Eka Setiawan
Bulan Oktober dirayakan sebagai bulan bahasa merujuk pada sejarah bangsa yang menetapkan bahasa resmi masyarakat Indonesia adalah bahasa Indonesia. SMA Santa Ursula BSD melaksanakan kegiatan bulan bahasa pada 28 Oktober 2019 yang bertajuk Mengembangkan Imajinasi dengan Literasi. Acara bulan bahasa diikuti oleh peserta didik program studi bahasa sebanyak 70 peserta. Dalam kegiatan tahun ini, kami mengundang seorang pembicara bernama Yohanes Grady Irawan. Grady adalah seorang alumni program studi bahasa SMA Santa Ursula BSD tahun 2012. Kecintaannya pada literasi ia tuangkan dalam karya sastra berupa novel. Salah satu novel karyanya berjudul Pile a Lot. Saat ini Grady bekerja sebagai seorang pilot. Profesi inilah yang menjadi salah satu sumber inspirasi Grady untuk terus menulis.  Selain itu, ia juga memotivasi kepada siswa program studi bahasa untuk terus menulis, jangan minder dan takut menjadi anak bahasa. Sebagai anak bahasa harus bisa melakukan dan mengubah sesuatu melalui karya mereka. “Saya menulis pengalaman teman-teman saya, melakukan penelitian untuk pengalaman yang lain (film, buku) menentukan seri. Cara memunculkan ide itu nonton film, bioskop, drama, atau baca buku. Cara untuk menambahkan ide untuk menulis, misalnya romance dicampur horror dan romance dicampur comedy. Melakukan observasi dari tingkah laku: cari ide dari mampir ke kafe, liat sekitar kalian. Dari fisik, liat rambutnya, tingginya, dan bentuk tubuhnya. Bisa juga dengan cara mewawancarai, ngobrol, dengerin cerita teman-teman (harus bisa membayangkan) bisa dimasukkan ke majas hiperbola. Harus merasakan keadaan orang . Ada lagi mengembangkan peran figuran atau bagian kecil sebuah cerita”, ungkap Grady. Tidak hanya mengikuti seminar, peserta didik program studi bahasa juga mengikuti lomba untuk memeriahkan acara bulan bahasa. Ada tiga kategori lomba yang diikuti peserta didik, yaitu; mencipta cerpen,  mencipta puisi,  dan  mencipta poster dengan tema yang berbeda setiap kategori lomba. Pengumuman kategori lomba sudah dilakukan satu minggu sebelum hari bulan bahasa. Peserta didik mengumpulkan karya mereka dalam bentuk hardcopy dan softfile (dikirim melalui surat elektronik).  Kategori lomba pertama adalah mencipta cerpen, dimenangkan oleh Elizabeth Bernice kelas XI bahasa dengan judul 22 Mei 2019 sebagai juara I dan yang juara II dimenangkan oleh Anne Wiratma kelas XII bahasa dengan judul Si Pemilik Toko. Kategori lomba kedua adalah mencipta puisi, dimenangkan oleh Victor Philippus Evanno Boruk kelas XII bahasa dengan judul Nestapa Negeri Tercinta sebagai juara I dan yang juara II dimenangkan oleh Sabina Prajnamalini Pusposari Sumarno (Sebi) kelas XII bahasa dengan judul Balada Orang Gila. Kategori lomba ketiga adalah mencipta poster, dimenangkan oleh Serafina Mika kelas X bahasa sebagai juara I dan yang juara II adalah Ariella Lasmaria Eunice Saragih kelas X bahasa.   
Selengkapnya
Sepotong Cerita dari Boro
Posted: 2019-09-20 | By: Sabina Prajnamalini Pusposari Sumarno/XII-IPB/10
Banyak orang mengatakan bahwa proses pembelajaran akan semakin lengkap bila tidak hanya dilakukan di dalam kelas saja. Peserta didik dan guru harus pula merasakan dan mengalami kegiatan belajar di luar kelas dengan harapan bahwa akan ada semakin banyak hal yang bisa ditemukan dipelajari. Ada banyak kegiatan yang bisa memfasilitasi hal ini, mulai dari kemah, outbound, dan lain sebagainya. Setiap sekolah memiliki gaya dan konsep masing-masing, tetapi tujuan mereka tetaplah sama: membentuk pribadi-pribadi berkarakter dalam diri setiap peserta didik. Salah satu kegiatan yang dipilih oleh SMA Santa Ursula BSD adalah live in. Konsep kegiatan live in SMA Santa Ursula BSD sangat  khas. Di dalam kegiatan ini, kami, peserta didik kelas 12, diajak untuk tinggal bersama dan mengalami perjumpaan dengan warga di dusun yang kami tinggali. Kami harus bisa meninggalkan kebiasaan kami di rumah dan menyesuaikan diri dengan kebiasaan masyarakat di Boro. Kami diajak untuk memberikan diri kami seutuhnya dan mengikuti seluruh kegiatan yang dilakukan oleh anggota keluarga di rumah. Dengan hati yang terbuka, kami dituntut untuk bisa mendekatkan diri dengan keluarga baru kami dan menemukan hal-hal berkesan dan berharga. Pada tahun ini, kegiatan live in kami laksanakan di daerah Boro, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan dimulai dengan keberangkatan kami pada tanggal 24 Agustus dan selesai waktu kepulangan kami pada tanggal 29 Agustus 2019. Kegiatan live in kami kemudian ditutup dengan refleksi dan merencanakan tindak lanjut sebagai ungkapan syukur dan terima kasih karena kami telah diterima oleh warga desa setempat dengan sangat luar biasa. Ada 4 dusun yang dijadikan tempat tinggal kami, yaitu Nyemani, Madigondo, Balong, dan Tetes. Di sana, masing-masing dari kami tinggal berpasangan dengan teman dari sekolah dan juga keluarga pemilik rumah. Rata-rata, penghuni desa-desa itu sudah berusia lanjut, tetapi ada pula yang masih memiliki anak yang tinggal di rumah itu. Hampir semua orang di daerah itu berprofesi utama sebagai petani. Ada juga yang bekerja sebagai guru, pedagang atau pemilik warung, peternak, dan lainnya. Di rumah saya, Pak Bandi, Ibu Marjinem, dan Pak Mardi bekerja sebagai petani. Mereka memiliki kebun dengan berbagai tanaman, yaitu cengkeh, kapulaga, salak, kelapa, pisang, vanili, dan kemukus. Mereka juga memiliki beberapa hewan ternak seperti ayam dan kambing. Hidup keluarga ini sangat bergantung pada hasil penjualan panenan tanaman-tanaman tersebut, sama seperti banyak keluarga lainnya di daerah Boro. Setiap hari, kami melakukan aktivitas yang dilakukan oleh anggota keluarga di rumah kami. Saya bersama teman serumah ikut Ibu ke hutan dan memanggul pulang kayu serta blarak dengan kain yang dipinjamkan Ibu. Kami turut menemani Bapak dan Ibu menjemur cengkeh di pagi hari dan mengumpulkannya kembali ketika hari sudah sore. Tak lupa, kami pun sering berkeliling ke lingkungan sekitar dan bertemu dengan warga lainnya. Di rumah dengan tungku sederhana, seperangkat alat masak, dan berbagai macam bahan makanan, kami membantu Ibu menyajikan hidangan yang akan disantap hari itu. Di samping itu, setiap hari kami juga melakukan kegiatan refleksi bersama teman-teman dari sekolah yang tinggal di desa yang sama. Kami diajak untuk menceritakan pengalaman dan pelajaran berharga yang kami dapatkan dari pengalaman tersebut. Di dalam proses kegiatan ini, kami bisa menangkap dan merasakan banyak hal terkait dengan kekhawatiran masyarakat di sekitar kami. Ada yang agak lelah menanti musim hujan yang tak kunjung datang. Ujung-ujungnya, tanaman yang telah dirawat tidak bisa memberikan hasil panen yang baik. Ada pula yang pernah menjadi korban pencurian cengkeh yang telah dijemur. Lain lagi, ada keluarga yang selalu mengharapkan pulangnya putra-putri yang tengah merantau supaya rasa kesepian itu cepat menghilang.  Namun, di balik itu semua, hadir pula tawa dan kebahagiaan sebagai penyeimbang. Ada ucapan syukur yang dipanjatkan ketika hujan turun. Ada tawa yang dibagikan dalam setiap perjumpaan di berbagai sudut dusun. Ada bincang hangat yang turut hadir bersama datangnya sanak saudara-dan anggota keluarga baru-seperti saya dan teman-teman. Bersama mereka, saya bisa melihat bahwa kehadiran masyarakat yang selalu memberikan dukungan dan penguatan memiliki peran yang sangat penting bagi setiap pribadi di sini. Itulah yang membuat mereka selalu bertahan meski tengah menghadapi masalah. “Saya bisa menemukan nilai daya juang dari kegiatan ini. Meski warga di sana memiliki kekurangan dari segi ekonomi dan akses terhadap hal-hal tertentu, mereka tetap menjalani aktivitasnya dengan semangat dan tak pernah sedikit pun mengeluh. Selain itu, saya merasakan kebersamaan antarwarga desa yang tak pernah dirasakan di kota. Hal ini tercermin dari keakraban warga yang terlihat dalam setiap kesempatan yang ada,” papar Bonaventura Pawitra (XII-MIPA2) terkait pengalaman yang diperoleh dari kegiatan live in. Selain Witra, Jessica Devy (XII-IPS2) memaparkan bahwa perjumpaan dengan keluarga Bapak Sukarman merupakan pengalaman penting baginya. Pelajaran tentang ketulusan, selalu bersyukur, dan kesederhanaan ia dapatkan di tengah-tengah keluarga itu. Ia merasa seperti terisolasi karena jauh dari hiruk pikuk kota, tidak ada gawai, jauh dari keluarga asli, dan tidak boleh mengunjungi teman. Namun, ia tak menyangka bahwa ternyata semua itu sangat membantunya dalam mengolah hidup dengan lebih baik. Selain kedua teman saya ini, tentu seluruh peserta live in memiliki cerita masing-masing dan dari cerita itu kami belajar berbagai macam hal yang tentu sangat membekas dan berguna bagi kami ke depannya. Tanah Boro telah dan akan terus melahirkan sosok-sosok hebat yang daripadanya kami belajar banyak hal. Saya sendiri semakin memahami arti kerja keras yang wujudnya akan selalu berbeda bagi setiap orang dan bahwa semuanya harus diapresiasi sebagai penghormatan atas hidup manusia. Rasa syukur atas segala yang dimiliki semakin  saya pahami sebagai syarat mutlak untuk hidup bahagia, sesederhana apa pun hidup itu sendiri. Di atas semua itu, hal terbesar (namun sederhana) yang saya dapatkan adalah menemukan kembali makna keluarga. Keluarga adalah rumah bagi setiap orang yang datang padanya, yang mampu menghadirkan kehangatan dan menjadi tempat berlindung. Keluarga bukan (hanya) tentang ikatan darah, melainkan tentang relasi dan bersatunya jiwa yang menghuni raga orang-orang di dalamnya. Pada akhirnya, perjalanan ini adalah tentang nilai-nilai baik, butir-butir penting atas semua peristiwa yang terjadi dan kami alami, dan kami semua telah menemukannya. Matur nuwun sanget, Boro!  
Selengkapnya
Menjadi lebih sehat dan lebih disiplin
Posted: 2019-09-18 | By: Lorensius Eka Setiawan
Pelatihan fisik dan mental merupakan bagian dari proses pengembangan karakter di SMA Santa Ursula BSD, sesuai dengan visi dan misi sekolah “Cerdas, Utuh dan Melayani”. Maka, sekolah bekerjasama dengan pihak luar yang kompeten dalam bidangnya (RINDAM JAYA), untuk mengembangkan fisik dan mental peserta didik yang telah mereka miliki. Setiap tahun SMA Santa Ursula BSD selalu mengirimkan peserta didiknya di kelas X untuk berlatih ke Dodiklatpur RINDAM JAYA, Gunung Bunder, Jawa Barat.  Pada tahun ini, tepatnya 29-31 Agustus 2019, pelatihan fisik dan mental di SMA Santa Ursula BSD dilakukan. Pelatihan fisik dan mental memiliki tujuan yang jelas, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Pelatihan ini dirancang sebaik dan seaman mungkin bagi peserta didik. Pelatihan ini memang bekerjasama dengan pihak militer, namun bukan berarti ingin melakukan militerisasi kepada peserta didik. Bukan berarti pula menyerahkan sepenuhnya proses kedisplinan, fisik dan mental kepada pihak luar. Pelatihan ini bertujuan untuk mengembangkan value yang sudah sekolah miliki. Sebuah usaha untuk menjadi lebih sehat dan disiplin akan sangat mendukung peserta didik dalam proses belajar, khususnya di SMA Santa Ursula BSD dengan berbagai macam kegiatan dan tuntutannya. Tolak ukur kesehatan bukan hanya secara fisik tetapi juga mentalitas, karena dengan kekuatan jiwa yang baik peserta didik mampu mengatasi sebuah hambatan fisik yang ada.  Pelatihan ini menekankan optimalisasi, artinya peserta didik bukan dituntut melakukan secara maksimal. Optimal berarti mampu mengukur batas kemampuannya, sehingga tidak memaksakan diri. Optimalisasi erat dengan value ketekunan dan sikap untuk pantang menyerah dalam menghadapi setiap tantangan. Optimalisasi mengajak peserta didik berani keluar dari zona nyaman, rasa takut dan batasan-batasan pemikiranya. Optimalisasi juga menuntut adanya kerjasama tim dan rasa kepedulian kepada sesama. Konsep yang dipegang adalah “jika satu orang melakukan kesalahan, kesalahan itu pasti disebabkan karena ketidakpedulian seluruh anggota kelompok.” Maka sanksinya yang diterapkan tidak hanya bagi satu orang saja tapi bagi seluruh anggota kelompok. Optimalisasi juga menekankan kemampuan menangkap instruksi dan menjalankannya dengan tepat dan cepat seperti dalam pelatihan baris-berbaris. Kesadaran untuk menjadi pribadi disiplin yang didasarkan pada kepentingan bersama merupakan kuncinya. Menjadi disiplin bukan karena takut dihukum, tetapi karena sadar bahwa tindakan yang dilakukan akan berdampak juga kepada orang lain. Optimalisasi mengembangkan kemandirian sehingga peserta didik dapat mengatur hidupnya sendiri tidak melulu tergantung kepada orang lain. Maka, dalam mencapai optimalisasi tersebut, materi-materi yang diberikan kepada peserta didik meliputi wawasan kebangsaan, latihan upacara bendera,  pelatihan fisik (push up, seat up, lari, dll), kedisplinan, persiapan baris-berbaris, CMI (Cara Menyampaikan Instruksi), survival,  caraka malam, mountaineering, roleplay dan tracking menuju ke Curug Kondang, Gn. Bunder, Jawa Barat. Khusus pada waktu tahun ini materi mountaineering tidak dapat diberikan karena sarana sedang digunakan untuk latihan tempur TNI bagi para perwira dan adanya pelantikan perwira TNI.  
Selengkapnya