Piringku Masa Depanku
Posted: 2020-11-03 | By: Penulis : Servina Viviene Tjindana
Mengisi hari libur dengan kegiatan positif adalah hal yang sangat baik. Misalnya, dengan kegiatan seminar satu ini yang kaya akan informasi dan membuka wawasan bagi para partisipannya. Diskusi Meja Makan dengan tema “Masa Depan Bangsaku Dimulai dari Piring Makanku” merupakan bentuk perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS) tahun 2020 yang diadakan oleh SMA Santa Ursula BSD dan bekerja sama dengan OSIS SMP Santa Ursula BSD. Diskusi kali ini dihadiri oleh dua orang narasumber yaitu dr. Risnaldo Jaya, salah satu lulusan St. Ursula BSD tahun 2001 yang sudah memiliki segudang pengalaman dalam pekerjaannya, begitu juga dengan dr. Kevin Leonardo yang merupakan lulusan Santa Ursula BSD tahun 2012. Partisipan yang mengikuti diskusi berjumlah sekitar 75 hingga 80 peserta yang salah satunya adalah saya sendiri.  Saya datang dengan pengetahuan yang minim tentang pangan dan pulang dengan segudang ilmu pengetahuan. Pengetahuan tersebut saya dapatkan dari proses diskusi yangs dibagi menjadi tiga topik. Topik pertama mengenai pentingnya keberagaman pangan, lalu berlanjut dengan pemaparan tentang kesehatan serta makanan. Topik terakhir yaitu penjelasan mengenai keadaan di daerah pinggiran dan kontribusi kita sebagai pemuda-pemudi untuk bangsa. Seminar yang dikemas dengan ringan dan santai, tetapi tetap berbobot sehingga membuat para partisipan nyaman untuk menyuarakan aspirasi serta pertanyaan untuk setiap topiknya.  Pagi itu, saya menerima surel yang berisikan video tentang gambaran diskusi yang akan berlangsung pada siang hari itu yang berjudul Berbeda-beda Tapi Tetap Makan. Melalui video tersebut, partisipan mendapat gambaran inti mengenai tujuan diskusi nanti. Pada pukul 12.50 WIB, saya masuk ke dalam aplikasi Zoom Meeting dan disambut dengan hangat oleh para panitia serta moderator. Diskusi segera dimulai pada pukul 13.00 WIB dan diawali dengan perkenalan narasumber. Setelah itu, saya beserta partisipan lainnya masuk ke dalam materi pertama yaitu mengenai pentingnya keberagaman pangan. Narasumber menjelaskan tentang hal-hal dasar tentang makanan yang masih seringkali kurang dipahami masyarakat, contohnya komponen makanan bergizi. Narasumber menjelaskan bahwa makanan yang bergizi terdiri dari komponen karbohidrat, protein, lemak baik, mineral, dan vitamin dalam 1 piring. Hal terpenting yang paling pokok dalam 1 piring adalah 1/3 (sepertiga) piring diisi dengan karbohidrat seperti nasi, mie, ubi, singkong, pasta, dan masih banyak lagi variasinya. Lalu 1/3 (sepertiga) lainnya diisi dengan sayur-mayur. Kemudian, sisanya barulah diisi dengan setengah lauk dari lemak nabati maupun hewani, setengahnya lagi diisi dengan buah-buahan. Itulah definisi dari makan makanan bergizi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pada sesi pertama dan kedua, narasumber juga menjelaskan topik yang marak dibicarakan oleh para remaja yaitu diet. Penjelasan yang dikemas dengan terperinci membuka wawasan baru bagi para partisipan terhadap diet itu sendiri. Berdasarkan penjelasan dari narasumber, diet bukanlah sekadar mengurangi makan, melainkan diet merupakan mindset mengatur makan dan jenis makanan yang masuk ke dalam tubuh kita. Di sisi lain, konsep tentang diet masih sering disalahartikan dan berujung pada perilaku yang tidak sehat seperti beberapa kasus memuntahkan makanan yang sudah dimakan atau bahkan pola makan yang berlebihan. Perilaku tersebut biasa dikenal dengan sebutan anoreksia atau bulimia. Diet yang sehat harus dimulai dengan mindset yang benar yaitu diet dilakukan karena timbul rasa peduli terhadap tubuh. Lalu, cara yang benar dalam melakukan diet adalah dengan memperhatikan kalori yang masuk lebih kecil atau sama dengan kalori yang keluar (calories in – calories out). Pada sesi ini dijelaskan juga tips agar tubuh cepat merasa kenyang yaitu dengan minum air mineral sebelum makan, memilih menu yang tinggi serat dan protein, makan dengan perlahan, tidur yang cukup, dan jangan lupa untuk berolahraga agar kalori yang masuk memiliki kesempatan untuk keluar. Apabila ingin berat badan yang stabil, kalori yang keluar bisa disamakan dengan kalori yang masuk. Namun apabila ingin berat badan turun, maka tingkatkan aktivitas fisik agar kalori yang dikeluarkan lebih banyak daripada kalori yang masuk. Pada sesi terakhir, narasumber membicarakan tentang jenis pangan di daerah pelosok serta kontribusi kami sebagai masyarakat Indonesia terhadap berbagai jenis pangan tersebut untuk bangsa. Sebagai contoh, masyarakat di bagian timur Indonesia memiliki makanan utama yaitu jagung dan ubi-ubian. Selain itu, makanan utama lainnya berupa sagu dan sorgum. Namun, selama ini masyarakat hanya akrab mengonsumsi beras. Alhasil, lahan pertanian padi jauh lebih luas dibandingkan dengan makanan utama lainnya. Dari contoh kasus ini, kami mendapatkan pengetahuan baru bahwa yang selama ini dilakukan oleh masyarakat Indonesia adalah monokultur. Hal ini mengakibatkan unsur hara dan unsur lainnya yang ada pada tanah rusak akibat hanya ditanami satu jenis tanaman. Dampak dari monokultur akhirnya membuat kualitas panen kurang baik dan tidak bisa dipasarkan. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan ada pihak-pihak tertentu yang tidak mendapat bagian dan berujung pada timbulnya masalah gizi pada beberapa kalangan masyarakat di Indonesia. Maka dari itu, para remaja dewasa ini dituntut untuk mulai terlibat aktif dalam mengubah situasi menjadi lebih baik, dimulai dari hal yang paling kecil. Berdasarkan tanggapan dari partisipan, hal-hal kecil yang dapat dilakukan adalah dengan membeli produk lokal dan peka terhadap kondisi Indonesia saat ini. Hal ini kami yakini karena kesadaran tentang kepekaan terhadap keadaan sekitar kita perlu dipupuk sedini mungkin. Sekali lagi, saya dan para partisipan lainnya dalam diskusi kali ini banyak mendapat pengetahuan baru. Segudang harapan juga ditaruh kepada masing-masing individu yang telah tersadarkan lewat diskusi ini. Satu hal baru yang saya pribadi sadari setelah mengikuti Diskusi Meja Makan bahwa bisa makan setiap hari tanpa perlu menanam atau berburu makanan adalah sebuah keistimewaan tersendiri bagi segelintir orang.  
Selengkapnya
Mengembangkan Imajinasi dengan Literasi
Posted: 2019-11-07 | By: Lorensius Eka Setiawan
Bulan Oktober dirayakan sebagai bulan bahasa merujuk pada sejarah bangsa yang menetapkan bahasa resmi masyarakat Indonesia adalah bahasa Indonesia. SMA Santa Ursula BSD melaksanakan kegiatan bulan bahasa pada 28 Oktober 2019 yang bertajuk Mengembangkan Imajinasi dengan Literasi. Acara bulan bahasa diikuti oleh peserta didik program studi bahasa sebanyak 70 peserta. Dalam kegiatan tahun ini, kami mengundang seorang pembicara bernama Yohanes Grady Irawan. Grady adalah seorang alumni program studi bahasa SMA Santa Ursula BSD tahun 2012. Kecintaannya pada literasi ia tuangkan dalam karya sastra berupa novel. Salah satu novel karyanya berjudul Pile a Lot. Saat ini Grady bekerja sebagai seorang pilot. Profesi inilah yang menjadi salah satu sumber inspirasi Grady untuk terus menulis.  Selain itu, ia juga memotivasi kepada siswa program studi bahasa untuk terus menulis, jangan minder dan takut menjadi anak bahasa. Sebagai anak bahasa harus bisa melakukan dan mengubah sesuatu melalui karya mereka. “Saya menulis pengalaman teman-teman saya, melakukan penelitian untuk pengalaman yang lain (film, buku) menentukan seri. Cara memunculkan ide itu nonton film, bioskop, drama, atau baca buku. Cara untuk menambahkan ide untuk menulis, misalnya romance dicampur horror dan romance dicampur comedy. Melakukan observasi dari tingkah laku: cari ide dari mampir ke kafe, liat sekitar kalian. Dari fisik, liat rambutnya, tingginya, dan bentuk tubuhnya. Bisa juga dengan cara mewawancarai, ngobrol, dengerin cerita teman-teman (harus bisa membayangkan) bisa dimasukkan ke majas hiperbola. Harus merasakan keadaan orang . Ada lagi mengembangkan peran figuran atau bagian kecil sebuah cerita”, ungkap Grady. Tidak hanya mengikuti seminar, peserta didik program studi bahasa juga mengikuti lomba untuk memeriahkan acara bulan bahasa. Ada tiga kategori lomba yang diikuti peserta didik, yaitu; mencipta cerpen,  mencipta puisi,  dan  mencipta poster dengan tema yang berbeda setiap kategori lomba. Pengumuman kategori lomba sudah dilakukan satu minggu sebelum hari bulan bahasa. Peserta didik mengumpulkan karya mereka dalam bentuk hardcopy dan softfile (dikirim melalui surat elektronik).  Kategori lomba pertama adalah mencipta cerpen, dimenangkan oleh Elizabeth Bernice kelas XI bahasa dengan judul 22 Mei 2019 sebagai juara I dan yang juara II dimenangkan oleh Anne Wiratma kelas XII bahasa dengan judul Si Pemilik Toko. Kategori lomba kedua adalah mencipta puisi, dimenangkan oleh Victor Philippus Evanno Boruk kelas XII bahasa dengan judul Nestapa Negeri Tercinta sebagai juara I dan yang juara II dimenangkan oleh Sabina Prajnamalini Pusposari Sumarno (Sebi) kelas XII bahasa dengan judul Balada Orang Gila. Kategori lomba ketiga adalah mencipta poster, dimenangkan oleh Serafina Mika kelas X bahasa sebagai juara I dan yang juara II adalah Ariella Lasmaria Eunice Saragih kelas X bahasa.   
Selengkapnya
Sepotong Cerita dari Boro
Posted: 2019-09-20 | By: Sabina Prajnamalini Pusposari Sumarno/XII-IPB/10
Banyak orang mengatakan bahwa proses pembelajaran akan semakin lengkap bila tidak hanya dilakukan di dalam kelas saja. Peserta didik dan guru harus pula merasakan dan mengalami kegiatan belajar di luar kelas dengan harapan bahwa akan ada semakin banyak hal yang bisa ditemukan dipelajari. Ada banyak kegiatan yang bisa memfasilitasi hal ini, mulai dari kemah, outbound, dan lain sebagainya. Setiap sekolah memiliki gaya dan konsep masing-masing, tetapi tujuan mereka tetaplah sama: membentuk pribadi-pribadi berkarakter dalam diri setiap peserta didik. Salah satu kegiatan yang dipilih oleh SMA Santa Ursula BSD adalah live in. Konsep kegiatan live in SMA Santa Ursula BSD sangat  khas. Di dalam kegiatan ini, kami, peserta didik kelas 12, diajak untuk tinggal bersama dan mengalami perjumpaan dengan warga di dusun yang kami tinggali. Kami harus bisa meninggalkan kebiasaan kami di rumah dan menyesuaikan diri dengan kebiasaan masyarakat di Boro. Kami diajak untuk memberikan diri kami seutuhnya dan mengikuti seluruh kegiatan yang dilakukan oleh anggota keluarga di rumah. Dengan hati yang terbuka, kami dituntut untuk bisa mendekatkan diri dengan keluarga baru kami dan menemukan hal-hal berkesan dan berharga. Pada tahun ini, kegiatan live in kami laksanakan di daerah Boro, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan dimulai dengan keberangkatan kami pada tanggal 24 Agustus dan selesai waktu kepulangan kami pada tanggal 29 Agustus 2019. Kegiatan live in kami kemudian ditutup dengan refleksi dan merencanakan tindak lanjut sebagai ungkapan syukur dan terima kasih karena kami telah diterima oleh warga desa setempat dengan sangat luar biasa. Ada 4 dusun yang dijadikan tempat tinggal kami, yaitu Nyemani, Madigondo, Balong, dan Tetes. Di sana, masing-masing dari kami tinggal berpasangan dengan teman dari sekolah dan juga keluarga pemilik rumah. Rata-rata, penghuni desa-desa itu sudah berusia lanjut, tetapi ada pula yang masih memiliki anak yang tinggal di rumah itu. Hampir semua orang di daerah itu berprofesi utama sebagai petani. Ada juga yang bekerja sebagai guru, pedagang atau pemilik warung, peternak, dan lainnya. Di rumah saya, Pak Bandi, Ibu Marjinem, dan Pak Mardi bekerja sebagai petani. Mereka memiliki kebun dengan berbagai tanaman, yaitu cengkeh, kapulaga, salak, kelapa, pisang, vanili, dan kemukus. Mereka juga memiliki beberapa hewan ternak seperti ayam dan kambing. Hidup keluarga ini sangat bergantung pada hasil penjualan panenan tanaman-tanaman tersebut, sama seperti banyak keluarga lainnya di daerah Boro. Setiap hari, kami melakukan aktivitas yang dilakukan oleh anggota keluarga di rumah kami. Saya bersama teman serumah ikut Ibu ke hutan dan memanggul pulang kayu serta blarak dengan kain yang dipinjamkan Ibu. Kami turut menemani Bapak dan Ibu menjemur cengkeh di pagi hari dan mengumpulkannya kembali ketika hari sudah sore. Tak lupa, kami pun sering berkeliling ke lingkungan sekitar dan bertemu dengan warga lainnya. Di rumah dengan tungku sederhana, seperangkat alat masak, dan berbagai macam bahan makanan, kami membantu Ibu menyajikan hidangan yang akan disantap hari itu. Di samping itu, setiap hari kami juga melakukan kegiatan refleksi bersama teman-teman dari sekolah yang tinggal di desa yang sama. Kami diajak untuk menceritakan pengalaman dan pelajaran berharga yang kami dapatkan dari pengalaman tersebut. Di dalam proses kegiatan ini, kami bisa menangkap dan merasakan banyak hal terkait dengan kekhawatiran masyarakat di sekitar kami. Ada yang agak lelah menanti musim hujan yang tak kunjung datang. Ujung-ujungnya, tanaman yang telah dirawat tidak bisa memberikan hasil panen yang baik. Ada pula yang pernah menjadi korban pencurian cengkeh yang telah dijemur. Lain lagi, ada keluarga yang selalu mengharapkan pulangnya putra-putri yang tengah merantau supaya rasa kesepian itu cepat menghilang.  Namun, di balik itu semua, hadir pula tawa dan kebahagiaan sebagai penyeimbang. Ada ucapan syukur yang dipanjatkan ketika hujan turun. Ada tawa yang dibagikan dalam setiap perjumpaan di berbagai sudut dusun. Ada bincang hangat yang turut hadir bersama datangnya sanak saudara-dan anggota keluarga baru-seperti saya dan teman-teman. Bersama mereka, saya bisa melihat bahwa kehadiran masyarakat yang selalu memberikan dukungan dan penguatan memiliki peran yang sangat penting bagi setiap pribadi di sini. Itulah yang membuat mereka selalu bertahan meski tengah menghadapi masalah. “Saya bisa menemukan nilai daya juang dari kegiatan ini. Meski warga di sana memiliki kekurangan dari segi ekonomi dan akses terhadap hal-hal tertentu, mereka tetap menjalani aktivitasnya dengan semangat dan tak pernah sedikit pun mengeluh. Selain itu, saya merasakan kebersamaan antarwarga desa yang tak pernah dirasakan di kota. Hal ini tercermin dari keakraban warga yang terlihat dalam setiap kesempatan yang ada,” papar Bonaventura Pawitra (XII-MIPA2) terkait pengalaman yang diperoleh dari kegiatan live in. Selain Witra, Jessica Devy (XII-IPS2) memaparkan bahwa perjumpaan dengan keluarga Bapak Sukarman merupakan pengalaman penting baginya. Pelajaran tentang ketulusan, selalu bersyukur, dan kesederhanaan ia dapatkan di tengah-tengah keluarga itu. Ia merasa seperti terisolasi karena jauh dari hiruk pikuk kota, tidak ada gawai, jauh dari keluarga asli, dan tidak boleh mengunjungi teman. Namun, ia tak menyangka bahwa ternyata semua itu sangat membantunya dalam mengolah hidup dengan lebih baik. Selain kedua teman saya ini, tentu seluruh peserta live in memiliki cerita masing-masing dan dari cerita itu kami belajar berbagai macam hal yang tentu sangat membekas dan berguna bagi kami ke depannya. Tanah Boro telah dan akan terus melahirkan sosok-sosok hebat yang daripadanya kami belajar banyak hal. Saya sendiri semakin memahami arti kerja keras yang wujudnya akan selalu berbeda bagi setiap orang dan bahwa semuanya harus diapresiasi sebagai penghormatan atas hidup manusia. Rasa syukur atas segala yang dimiliki semakin  saya pahami sebagai syarat mutlak untuk hidup bahagia, sesederhana apa pun hidup itu sendiri. Di atas semua itu, hal terbesar (namun sederhana) yang saya dapatkan adalah menemukan kembali makna keluarga. Keluarga adalah rumah bagi setiap orang yang datang padanya, yang mampu menghadirkan kehangatan dan menjadi tempat berlindung. Keluarga bukan (hanya) tentang ikatan darah, melainkan tentang relasi dan bersatunya jiwa yang menghuni raga orang-orang di dalamnya. Pada akhirnya, perjalanan ini adalah tentang nilai-nilai baik, butir-butir penting atas semua peristiwa yang terjadi dan kami alami, dan kami semua telah menemukannya. Matur nuwun sanget, Boro!  
Selengkapnya
Menjadi lebih sehat dan lebih disiplin
Posted: 2019-09-18 | By: Lorensius Eka Setiawan
Pelatihan fisik dan mental merupakan bagian dari proses pengembangan karakter di SMA Santa Ursula BSD, sesuai dengan visi dan misi sekolah “Cerdas, Utuh dan Melayani”. Maka, sekolah bekerjasama dengan pihak luar yang kompeten dalam bidangnya (RINDAM JAYA), untuk mengembangkan fisik dan mental peserta didik yang telah mereka miliki. Setiap tahun SMA Santa Ursula BSD selalu mengirimkan peserta didiknya di kelas X untuk berlatih ke Dodiklatpur RINDAM JAYA, Gunung Bunder, Jawa Barat.  Pada tahun ini, tepatnya 29-31 Agustus 2019, pelatihan fisik dan mental di SMA Santa Ursula BSD dilakukan. Pelatihan fisik dan mental memiliki tujuan yang jelas, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Pelatihan ini dirancang sebaik dan seaman mungkin bagi peserta didik. Pelatihan ini memang bekerjasama dengan pihak militer, namun bukan berarti ingin melakukan militerisasi kepada peserta didik. Bukan berarti pula menyerahkan sepenuhnya proses kedisplinan, fisik dan mental kepada pihak luar. Pelatihan ini bertujuan untuk mengembangkan value yang sudah sekolah miliki. Sebuah usaha untuk menjadi lebih sehat dan disiplin akan sangat mendukung peserta didik dalam proses belajar, khususnya di SMA Santa Ursula BSD dengan berbagai macam kegiatan dan tuntutannya. Tolak ukur kesehatan bukan hanya secara fisik tetapi juga mentalitas, karena dengan kekuatan jiwa yang baik peserta didik mampu mengatasi sebuah hambatan fisik yang ada.  Pelatihan ini menekankan optimalisasi, artinya peserta didik bukan dituntut melakukan secara maksimal. Optimal berarti mampu mengukur batas kemampuannya, sehingga tidak memaksakan diri. Optimalisasi erat dengan value ketekunan dan sikap untuk pantang menyerah dalam menghadapi setiap tantangan. Optimalisasi mengajak peserta didik berani keluar dari zona nyaman, rasa takut dan batasan-batasan pemikiranya. Optimalisasi juga menuntut adanya kerjasama tim dan rasa kepedulian kepada sesama. Konsep yang dipegang adalah “jika satu orang melakukan kesalahan, kesalahan itu pasti disebabkan karena ketidakpedulian seluruh anggota kelompok.” Maka sanksinya yang diterapkan tidak hanya bagi satu orang saja tapi bagi seluruh anggota kelompok. Optimalisasi juga menekankan kemampuan menangkap instruksi dan menjalankannya dengan tepat dan cepat seperti dalam pelatihan baris-berbaris. Kesadaran untuk menjadi pribadi disiplin yang didasarkan pada kepentingan bersama merupakan kuncinya. Menjadi disiplin bukan karena takut dihukum, tetapi karena sadar bahwa tindakan yang dilakukan akan berdampak juga kepada orang lain. Optimalisasi mengembangkan kemandirian sehingga peserta didik dapat mengatur hidupnya sendiri tidak melulu tergantung kepada orang lain. Maka, dalam mencapai optimalisasi tersebut, materi-materi yang diberikan kepada peserta didik meliputi wawasan kebangsaan, latihan upacara bendera,  pelatihan fisik (push up, seat up, lari, dll), kedisplinan, persiapan baris-berbaris, CMI (Cara Menyampaikan Instruksi), survival,  caraka malam, mountaineering, roleplay dan tracking menuju ke Curug Kondang, Gn. Bunder, Jawa Barat. Khusus pada waktu tahun ini materi mountaineering tidak dapat diberikan karena sarana sedang digunakan untuk latihan tempur TNI bagi para perwira dan adanya pelantikan perwira TNI.  
Selengkapnya
Membangun Relasi Melalui Olahraga
Posted: 2019-09-03 | By: Luisa Carmel
Sekolah Santa Ursula BSD pada tahun 2020 akan memasuki tahun ke-30. Oleh karena itu, untuk merayakan 30 tahun berdirinya sekolah, OSIS SMA Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan ISWARA, Implementasi Wajah Olahraga. Kegiatan pertandingan olahraga ini sejalan dengan visi dan misi OSIS tahun ini, yang mengutamakan keterbukaan, terutama dalam membangun relasi dengan sekolah-sekolah di Jabodetabek. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi awal dari relasi-relasi baik, bukan hanya antara tuan rumah dan peserta, namun juga antar peserta sendiri. Acara diselenggarakan di kampus Santa Ursula BSD mulai hari senin, tanggal 12 Agustus, hingga jumat, 16 Agustus 2019. Terdapat 3 cabang perlombaan, yaitu futsal, basket, dan voli, yang kemudian dibagi lagi dalam kategori putra dan putri. Bila ditotal, ada 30 sekolah yang berpartisipasi dalam ISWARA 2019, dari yang dekat seperti SMAN 7 Tangsel, hingga yang jauh seperti Kolose Kanisius. Antusiasme dan semangat, terutama yang ditunjukkan oleh siswa/i Santa Ursula BSD, menjadi tanda kebahagiaan karena akhirnya Santa Ursula BSD menjadi tuan rumah dalam sebuah ajang olahraga dalam waktu yang begitu lama. Sejak acara pembukaan, keberagaman dan euforia sudah sangat terasa di kalangan peserta maupun spektator. Terutama dengan kehadiran BURSA, atau Barisan Ursa, yang mengangkat bukan hanya tangan dan suara, namun juga semangat untuk bersenang-senang dan bertanding secara sportif di lapangan. SMA Santa Ursula BSD, sebagai tuan rumah, mengirimkan 1 tim untuk setiap cabang perlombaan, kecuali futsal putra yang mengirim 2 tim. Setiap tuan rumah bertanding, kecintaan terhadap almamater di kalangan siswa/i yang menjadi penonton sangat terlihat, dengan diteriakkannya yel-yel penyemangat. Salah satu kebiasaan yang menonjol adalah menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum pertandingan dimulai. Pada saat itu, semua perbedaan dan persaingan sejenak dilupakan untuk bersama-sama mengakui diri sebagai bangsa Indonesia. Semua pertandingan yang berawal dengan sistem grup diakhiri dengan pertandingan final yang sangat sengit, terutama di cabang basket dan voli putra. Akhirnya, SMAN 11 Tangerang Selatan merebut juara pada ajang futsal putra, dan SMAN 7 Tangerang Selatan pada ajang futsal putri. Dalam ajang voli, SMAN 8 dan SMAN 1 dari Tangerang Selatan berhasil menjadi juara putra dan putri. Sementara itu dalam cabang basket, Kolose Kanisius Jakarta merebut gelar juara basket putra, dan Tarakanita Citra raya dengan gelar juara basket putri. Lima hari di lapangan akhirnya ditutup dengan acara pembagian hadiah dan penampilan modern dance dari 2 sekolah, yaitu SMA Ora et Labora dan SMA tuan rumah, Santa Ursula BSD. Berakhirnya kegiatan ISWARA 2019 bukan berarti relasi dan hubungan baik yang sudah dibangun dapat juga berakhir dan dilupakan begitu saja. Justru, berakhirnya ISWARA 2019 menjadi awal dari berbagai persaingan sehat lainnya antar sekolah dalam bidang olahraga, terutama untuk para peserta lomba yang dikirim tuan rumah sendiri. Panitia yang telah bekerja keras, para peserta yang gigih dan sportif, para supporter yang bersemangat, serta berbagai pertandingan akan menjadi memori yang sangat berkesan, sebagai awal perayaan 30 tahun berdirinya Santa Ursula BSD. Semoga kedepannya, relasi yang sudah dibangun dapat semakin dikembangkan, terutama dalam kegiatan-kegiatan eksternal yang mengundang sekolah-sekolah tetangga. Sampai jumpa tahun depan!!
Selengkapnya
Upacara Bendera 17 Agustus 2019
Posted: 2019-08-19 | By: admin
Sabtu, 17 Agustus 2019, Komunitas Santa Ursula BSD melaksanakan Upacara Bendera dalam rangka memperingati HUT ke 74 Republik Indonesia. Pada pidatonya Bpk. Alexander Prabu selaku Pembina Upacara menyampaikan,  Tujuh puluh empat tahun setelah proklamasi, jiwa kebangsaan dirasa semakin memudar. Hal ini dapat dilihat adanya konflik bernuansa sara, diskriminasi, kebencian dan intoleransi yang hampir setiap hari kita saksikan diberbagai media. Republik Indonesia sering disebut sebagai “Republik Media Sosial” dengan peringkat teratas di beragam media sosial global, sepert Facebook, Twitter, dan Instagram. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi ini sebenarnya menjanjikan pergeseran yang sangat cepat dan bahkan mengejutkan atau sering disebut “disrupsi”. Kemajuan yang dicapai saat ini menyebabkan perubahan dalam masyarakat, seperti inovasi percepatan rantai ekonomi maupun kemudahan dan kebebasan berekspresi. Namun kehadiran teknologi informasi dan komunikasi juga menunjukkan adanya beragam tantangan dalam memaknai kembali nasionalisme. Mengapa? Karena media sosial, membelah masyarakan terkotak-kotak dalam identitas suku, agama, dan antar golongan yang seringkali memberikan ruang untuk saling menyebarkan ujaran kebencian. Gernerasi muda rentan terhadap situasi ini. Nasionalisme di era digital harus dimanfaatkan sebagai media inovasi ekonomi kreatif (starup unicorn : Gojek, Tokopedia, Traveloka dan Bukalapak), mengkampanyekan isu-isu lingkungan layak huni, pangan sehat, energi bersih dan keberagaman. Mari kita mamaknai kembali rasa cinta kita terhadap bangsa dan negara di era digital. Merawat kebangsaan Indonesia yang multikultural dan memanfaatkan inovasi teknologi informasi dan komunikasi untuk membangun cita-cita masa depan di tengah pusaran global. Siapa Kita? Kita Indonesia!    
Selengkapnya
ISWARA (Implementasi Wajah Olahraga)
Posted: 2019-08-12 | By: admin
Dalam rangkaian perayaan ulang tahun ke-30 Santa Ursula BSD, bulan Agustus ini diisi dengan kegiatan ISWARA – Implementasi Wajah Olahraga. Cabang olahraga yang dilombakan adalah Basket, Futsal dan Voli, baik putra maupun putri.  OSIS SMA Santa Ursula BSD mengundang teman-teman mereka dari berbagai sekolah yang ada di kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang dan sekitarnya, diantaranya SMA Negeri 1 Tangsel, SMA Negeri 7 Tangsel,  SMK Negeri 5 Tangsel, SMA Kharisma Panongan, SMA Ricci 2 Bintaro, SMK Mulia Buana Parung, SMA ISADA, SMA Tiara Kasih, SMA Santa Ursula Jakarta, SMA Kolose Kanisius Jakarta, SMA Ora et Labora BSD, SMA Pahoa Gading Serpong, SMA Negeri 11 Tangsel, SMK Muhamadiyah 3, SMA Negeri 10 Tangsel, SMA Harapan Bangsa Tangerang, SMA Abdi Siswa, SMA Strada St. Thomas Aquino Tangerang, SMK Strada Daan Mogot Tangerang, SMA Negeri 1 Tangerang, SMA Negeri 8 Tangerang, SMA Sinar Cendekia, SMA Penabur Gading Serpong, Jakarta Nanyang School, SMA Tarakanita Gading Serpong, SMA Negeri 2 Tangsel, dan SMA Tarakanita Citra Raya. Diikuti 28 sekolah, kegiatan ISWARA ini diharapkan dapat menjalin relasi diantara para peserta didik, saling belajar dan berperan serta mewujudkan penghargaan dalam keberagaman yang ada sebagai perwakilan dari generasi muda bangsa. Kegiatan ISWARA yang berlangsung mulai tanggal 12 – 16 Agustus 2019 ini, dimulai dengan opening permainan Perkusi Santa Ursula BSD dilanjutkan dengan penyambutan perwakilan sekolah peserta lomba, menyanyikan lagu Indonesia Raya (3 stanza) dan diakhiri dengan aksi BURSA – Barisan Semangat Santa Ursula BSD. Mari teman-teman semua, kita bertanding mulai hari ini dengan semangat kebersamaan dan menjunjung tinggi sportivitas! Selamat Bertanding! I’m ready to push my boundaries!  
Selengkapnya
Sambutan Sr. Francesco, OSU pada Open House Sekolah Santa Ursula BSD
Posted: 2019-07-27 | By: Sr. Francesco Marianti, OSU
Bapak/Ibu orang tua siswa Taman Bermain, Taman Kanak-kanak, SD kelas I, SMP kelas VII, dan SMA kelas X serta hadirin yang terhormat. Terima kasih atas kehadiran Anda memenuhi undangan Open House pagi ini. Terima kasih atas kepercayaan yang Bapak/Ibu berikan kepada kami untuk menyekolahkan putra-putri Anda di Santa Ursula. Bapak/Ibu, menapaki tahun ke-30, Santa Ursula BSD berupaya untuk terus mengembangkan diri dan menjadi sebuah sekolah pilihan di Bumi Serpong Damai. Menjadi sekolah pilihan memang bukanlah hal yang mudah. Sebagai sebuah institusi pendidikan yang menawarkan dan mengembangkan suatu proses pembelajaran yang berkesinambungan sejak peserta didik berada di tingkat Taman Bermain hingga Sekolah Menengah Atas, Santa Ursula meyakini bahwa melalui upaya pengembangan mutu, pendidikan nilai hidup dan pengembangan sarana – prasarana akan mampu memberikan nuansa pendidikan yang berbeda dan memiliki nilai tambah. Selain menjadi institusi pendidikan yang memiliki nilai tambah, Santa Ursula BSD adalah sekolah Ursulin yang bercirikan Katolik dengan dijiwai oleh semangat Santa Angela. Kebersamaan yang tercipta di dalam komunitas, semangat cinta kasih, serta kepedulian dan perhatian kepada mereka yang ‘kurang’ mewarnai seluruh proses pendidikan dan kegiatan yang ada di Santa Ursula BSD. Menjadi pribadi yang utuh, cerdas, dan melayani bukanlah hanya sebuah slogan semata, namun menjadi cita-cita yang terus diupayakan secara konsisten dan persisten oleh seluruh anggota komunitas. Belajar untuk menjadi yang terbaik bagi orang lain memang bukanlah sebuah proses instan yang dengan mudah terjadi dalam satu kali pertemuan. Belajar adalah sebuah proses berkesinambungan yang membuat pribadi mampu bertumbuh dan berkarakter dalam pengetahuan, keterampilan, dan nilai hidup yang diyakininya. Dalam perannya untuk menjadi salah satu bagian dari proses pendidikan anak bangsa, Santa Ursula memang bisa menjadi sekolah pilihan. Pendidikan akan berlanjut tanpa ada akhir selama setiap pribadi yang bergelut di dalamnya terus belajar tanpa pernah mengenal lelah. SERVIAM memang menjadi motto sekolah kami dan dengan kepedulian serta pelayanan berlandaskan kasih, kami mencoba memberikan yang terbaik bagi seluruh anggota komunitas sehingga pada akhirnya mereka mampu berperan di dalam kehidupannya di masyarakat, bangsa dan negara. Sejarah memang terukir dengan  indah dalam perjalanan Santa Ursula hingga memasuki tahunnya yang ke-30. Bukan suatu perjalanan yang mudah, namun kerja keras dari setiap pribadi yang terlibat memberikan sumbangan yang besar dalam pencapaian ini. Kami ingin membagikan segala bentuk kerja yang telah dimulai sejak awal Santa Ursula bertumbuh hingga saat ini dimana perannya mulai bisa dirasakan di dalam masyarakat.  Kami berterima kasih atas sumbangan Bapak/Ibu ketika menyelesaikan pendaftaran di TB, TK, SD, SMP, SMA. Dengan bantuan sumbangan tersebut kami mampu merealisasikan kebutuhan di unit masing-masing. Dalam Tahun Pelajaran 2019-2020, kami akan menekankan pengembangan literasi dan digitalisasi. Memang kami sudah beberapa tahun melakukan hal ini di SD. Tapi pada tahun pelajaran yang akan datang, kami akan meningkatkan literasi juga di SMP melalui pelajaran Bahasa Indonesia. Selain ini digitalisasi akan menjadi keprihatinan kami.  Di SD kelas IV akan mulai mengajar Matematika dan IPA dengan menggunakan tablet. Kegiatan ektrakurikuler pun akan ditambah dengan diadakannya Robotic, Animasi, Coding dan Game Development. Di SMP kelas VII pelajaran matematika, Bahasa Indonesia, IPA dan IPS akan menggunakan Virtual Learning. Sehingga dengan diadakannya hal tersebut, guru perlu dilatih dan kami harus membayar untuk tiap siswa sebesar Rp350.000,-/tahun. Di SMA para guru Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan Ekonomi akan membuat buku digital. Semoga tahun depan, pelajaran tersebut dapat dilaksanakan sesuai dengan kemajuan teknologi. Semoga mereka dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan harapan dan cita-cita Bapak/Ibu. Selain ini pengecatan gedung SMP dan Aula telah terlaksana. Demikian juga semua perbaikan di unit TK - Lisplank SD - pekerjaan memperbaiki toilet Renovasi rumah karyawan yang ada di halaman dekat parkir dan dekat gedung SMP sudah terlaksana. Juga ducting AC dan dak atap auditorium sudah selesai diperbaiki. Bapak/Ibu dapat menyaksikan sarana prasarana tersebut sesudah pertemuan di auditorium ini. Para Bapak/Ibu Guru akan hadir di unit masing-masing untuk membantu Bapak/Ibu berkeliling melihat dan menyaksikan sendiri apa yang telah kami pertanggungjawabkan. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih atas kemurahan hati Bapak/Ibu dalam membantu mengembangkan Santa Ursula BSD.  
Selengkapnya
Science Film Festival 2018
Posted: 2018-12-07 | By: Jessica Bernata & Grace - XMIPA3
Science Film Festival adalah acara yang diselenggarakan oleh Goethe Institut pada tanggal 6-7 November 2018. Science Film Festival (SFF) yg bertemakan Food Revolution ini diselenggarakan oleh Goethe Institute dan telah menjadi tahun ketiga bagi Santa Ursula BSD untuk menyelenggarakannya. Acara dibuka dengan kelompok Paduan Suara kecil yang menyanyikan lagu Le Estin dan Abang Tukang Bakso dalam bahasa Jerman. Di acara pembukaan, dilakukan juga pembagian hadiah untuk juara dari lomba masak SMP dan SMA. Selanjutnya, pameran di hall pun terselenggara. Pameran yang ada mencakupi both-both percobaan, both masakan dari juara lomba masak, dan berbagai both-both lainnya yang berhubungan dengan food revolution atau revolusi pangan. Pada tahun ini, yang berkesempatan untuk menonton Science Video yang telah disediakan adalah murid kelas 7,8,9, dan 10. Video yang ditayangkan merupakan video yang telah dipilih untuk menambah wawasan setiap anak berdasarkan tingkatan kelasnya. Setelah menonton video, masing-masing angkatan diberi bahan eksperimen yang berbeda-beda dan hasil eksperimen pun dilombakan. Dari perlombaan kecil itu, terpilihlah tiga juara sebagai pemenang eksperimen. Jauh sebelum diadakannya SFF, para guru sudah mengumumkan perlombaan masak yang diselenggarakan untuk mendukung kegiatan SFF yang diadakan nantinya. Science  Lomba masak ini bertemakan Revolusi Pangan dan wajib menggunakkan sayuran atau buah hasil lokal antara lain ubi jalar, singkong, talas dan jagung. Satu kelompok beranggotakan 5 orang murid dan bersifat umum (lintas kelas). Lomba masak ini memiliki beberapa kriteria penilaian, tidak boleh menggunakkan MSG atau bahan kimia yang dapat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Kelompok masak yang mengikuti lomba juga wajib untuk mengumpulkan deskripsi makanan atau minuman yang akan dibuatnya nanti, yang tercantum antara lain cover, nama masakan, biaya pembuatan, alat dan bahan yang digunakan, cara pembuatan, serta keunggulan dari masakan yang akan dibuat.  Deskripsi yang dibuat untuk lomba itu, adalah yang cukup penting karena deskripsi juga termasuk sebagai penilaian pertama terhadap lomba masak yang diadakan. Ternyata, semua kelompok masak lolos dalam seleksi pertama ini. Pada hari Selasa, 30 Oktober 2018 dimulailah lomba masak pada pukul 10.00. Durasi yang diberikan hanya 2 jam untuk membuat makanan tersebut sampai jadi dan juga termasuk waktu untuk membersihkan dapur yang digunakan peserta. Sebelum waktu menunjukkan pukul 11.00, makanan yang dibuat peserta sudah mulai terlihat hasilnya. Setelah waktu habis, keadaan dapur kembali bersih seperti awal perlombaan, peserta lomba diharapkan untuk keluar dari dapur karena para juri akan segera mulai menilai makanan yang dihasilkan peserta. Selang beberapa menit, pengumuman juara telah diinformasikan. Para peserta masak diharapkan kembali ke dapur untuk mendengarkan informasinya, dari beberapa kelompok masak yang mendapatkan juara 3 adalah kelompok Dallas atau Rendang Talas, kelompok ini menggunakan bahan dasar talas sebagai pengganti daging rendang. Juara 2 diperoleh Cassava Cake dengan bahan dasar singkong untuk membuat kue keunggulan dari Cassava Cake ini adalah singkong yang biasanya dianggap makanan orang yang kurang berkecukupan dapat dijadikan makanan yang enak dan dapat dinikmati semua orang. Juara 1 diperoleh kelompok Rainbow Sweet Vega, kelompok ini memiliki minuman yang sangat menarik. Mereka membuat minuman seperti cendol dengan mengganti bahan dasar pembuatannya dari jagung manis segar, labu kuning, wortel, bayam, jamur kuping, dan selasih. Sehingga minuman ini memikat para juri untuk mencoba dan mencicipinya. Pemenang lomba memasak ini, diminta untuk tampil pada pameran SFF yang diselenggarakan pada tanggal 6-7 November 2018. Mereka akan mempresentasikan makanan-makanan hasil juara kepada murid-murid yang akan berkunjung ke SFF di SMP-SMA Santa Ursula BSD. Selain itu, murid-murid yang berkunjung dapat mencicipi hasil makanan dari kelompok yang menang.    
Selengkapnya
MANDALA
Posted: 2018-11-05 | By: Hieronymus Yuwan P.
“Jika ingin berjalan lebih cepat berjalanlah sendirian, namun jika kamu ingin berjalan lebih jauh, berjalanlah bersama-sama.” John F. Kenedy Dalam perkembangannya SMA Santa Ursula BSD menyadari keberadaannya merupakan bagian dari masyarakat pendidikan di Indonesia. SMA Santa Ursula BSD paham betul mengenai kebutuhan sosial untuk menjalin tali silahturahmi dengan sekolah-sekolah lain di tengah persaingan antar sekolah se-Tangerang dan Jakarta. Persaingan yang saat ini terjadi cenderung merusak makna pendidikan tentang nilai persatuan dan kesatuan dalam Pancasila. SMA Santa Ursula mungkin akan berjalan lebih cepat jika melakukannya sendirian, namun target yang di tempuh hanya terbatas. SMA Santa Ursula ingin berjalan lebih jauh untuk mendapatkan target yang jauh lebih baik demi kepentingan bersama. Syaratnya yaitu jika setiap sekolah mampu berjalan bersama-sama dengan membangun jaringan dan sinergi. Kesadaran tentang kekuatan jaringan dan networking sangat diperlukan dalam kehidupan di era internet seperti sekarang. Mandala (berasal dari Bahasa Sanskerta; secara harafiah bermakna "lingkaran") adalah sebuah konsep Hindu, tetapi juga dipakai dalam konteks agama Buddha, untuk merujuk pada berbagai benda nyata. Mandala, khususnya pusatnya, bisa dipakai selama meditasi sebagai benda untuk memusatkan perhatian. Berdasarkan filosofi dan latar belakang tersebut, OSIS SMA Santa Ursula BSD menyelenggarakan acara berjudul: MANDALA, sebuah akronim dari “Makna Dalam Relasi”. SMA Santa Ursula BSD ingin mengembangkan relasinya bagi sekolah-sekolah di sekitar Tangerang dan Jakarta. Acara tersebut sukses diselenggarakan pada Sabtu, 20 Oktober 2018 di Sekolah Santa Ursula BSD. Kegiatan utamanya adalah gerak jalan bersama dengan teman-teman dari sekolah-sekolah lain, menyusuri rute yang telah ditentukan. Melalui sambutannya, Nadine selaku ketua OSIS SMA Santa Ursula BSD mengungkapkan  “Relasi menjadi sarana kerjasama untuk menjadi lebih baik. Diharapkan dalam menjalankan kegiatan ini peserta tidak menggunakan gadget / earphone sehingga relasi dapat dilakukan secara langsung.” Acara ini dihadiri sebanyak 143 peserta dari 11 sekolah di BSD.   
Selengkapnya
Gerakan Akbar 1000 Guru ASEAN Menulis Puisi
Posted: 2018-10-23 | By: L.M. Sri Sudartanti Purworini
Senin, 23 September 2018 bertepatan dengan Puncak Perayaan Hari Puisi Nasional, Perkumpulan Rumah Seni Asnur, yang diprakarsai oleh Asrizal Nur meluncurkan sebuah antologi puisi guru yang berjudul Antologi Puisi Guru : Tentang Sebuah Buku dan Rahasia Ilmu. Antologi puisi ini ditulis oleh 1000 guru ASEAN yang tergabung dalam Gerakan Akbar 1000 Guru ASEAN Menulis Puisi.  Guru-guru yang menulis puisi dalam buku tersebut tersebar di seluruh Indonesia dan negara-negara ASEAN.  Meki jumlah guru (tak terbatas ilmu, usia, jenis kelamin, agama, jenjang yang diajarnya, negara, suku) begitu banyak tetapi ternyata hanya sekitar 1000 guru yang tertarik untuk melibatkan diri dalam kegiatan ini. Pada malam itu juga diserahkan penghargaan dari Yayasan MURI karena antologi puisi tersebut ditulis oleh 1000 guru. Tiga guru Santa Ursula BSD yang melibatkan diri dalam kegiatan tersebut adalah Evy Chrisna Ch. (guru Matematika SMA), L. M. Sri Sudartanti Purworini (guru Bhs. Indonesia SMA), dan Silviana N. (guru matematika SD). Aktivitas menulis puisi ini merupakan upaya Perkumpulan Rumah Seni Asnur untuk terus menggerakkan semangat menulis puisi di kalangan guru. “Bila guru memiliki perhatian dan kemampuan pada puisi; tidak saja turut menggairahkan kesusasteraan Nusantara, menambah khazanah perpuisian terlebih dari itu dapat menciptakan iklim bersastra di sekolah-sekolah...” demikian yang disampaikan Asrizal Nur. Selanjutnya dikatakannya juga  “...aktivitas menulis di kalangan guru juga turut mengembangkan literasi di sekolah dalam rangka memperkuat karakter bangsa dan sejalan dengan program pemerintah untuk mencerdaskan bangsa.” Menulis tanpa membaca adalah sesuatu yang tak mungkin terjadi. Oleh karena itu, guru yang menulis pastilah dia juga seorang guru yang tekun membaca. Inilah salah satu jalan untuk mengembangkan literasi di sekolah. “Gerakan 1000 Guru ASEAN Menulis Puisi adalah salah satu upaya juga untuk mendobrak citra keterkungkungan guru yang selama ini seringkali ditempatkan sekadar berdiri di depan kelas.” (Maman S. Mahayana). Saat ini, peran guru tidak lagi sekadar profesi guru di depan kelas tetapi guru yang mampu memberikan pencerahan kepada bangsanya. Diharapkan gerakan akbar ini dapat mengangkat nama dan  citra guru yang kreatif dan inovatif dalam tata pergaulan internasional melalui karya-karya yang dihasilkannya. Semoga kegiatan ini semakin menumbuhkan kesadaran membaca dan menulis di kalangan guru.   “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” - Pramoedya Ananta Toer -
Selengkapnya
Pelatihan Fisik dan Mental di Dodiklatpur Rindam Jaya
Posted: 2018-10-06 | By: Angela Gladys Devina - X MIPA.2/02
Pada hari Kamis, 13 September 2018 sampai Sabtu, 15 September 2018, saya dan teman-teman kelas X SMA Santa Ursula BSD mengikuti kegiatan pelatihan fisik dan mental di Depo Pendidikan Latihan dan Pertempuran (Dodiklatpur) Rindam Jaya, Gunung Bunder, Bogor. Kegiatan ini sendiri bertujuan untuk melatih fisik dan mental, meningkatkan kedisiplinan peserta didik kelas X, serta merupakan dasar dari kegiatan-kegiatan selanjutnya di sekolah.             Latihan terdiri dari berbagai macam kegiatan, tak hanya kegiatan fisik, tetapi juga pelajaran teori. Setibanya kami di sana, kami mengikuti upacara pembukaan. Lalu, kami mengikuti sesi di aula terbuka yang dinamakan Graha Rimba. Di sini, kami diajarkan Cara Memberi Instruksi (CMI). Pada malam itu, kami mengikuti kegiatan caraka malam. Pada hari kedua, kami bermain beberapa permainan yang meningkatkan kerja sama dan jiwa korsa kami. Selanjutnya, kami mengikuti sesi pelajaran teori survival di Graha Rimba dan pada malamnya, ada kegiatan renungan malam. Di hari terakhir, kami melakukan kegiatan snapling atau menuruni tembok tinggi dengan tali serta menyeberangi jembatan satu tali dan dua tali. Di sela-sela kegiatan tersebut, ada juga kegiatan baris-berbaris dan menyerukan yel-yel.             Kegiatan yang paling berkesan untuk saya adalah caraka malam karena merupakan pertama kalinya saya mengikuti hal seperti ini. Kegiatan dilakukan secara berkelompok. Kami seolah-olah menjadi pembawa pesan atau caraka di medan perang. Pesan yang kami bawa hanya boleh disampaikan kepada teman, sedangkan musuh tidak boleh mengetahui pesan tersebut. Setiap kelompok berjalan secara terpisah mengikuti tali rafia yang telah terpasang melintasi hutan tanpa penerangan apapun selain penerangan alami dari bulan dan bintang. Kami tidak boleh banyak bicara selama berjalan. Di tengah perjalanan, ada beberapa pos teman yang memberikan wawasan kebangsaan kepada kami. Selain itu, ada pula gangguan berupa “pocong” yang sebenarnya merupakan bantal guling yang dilapisi kain putih dan diikat bagian atas serta bawahnya. Kelompok-kelompok yang ada tidak boleh sampai terhasut untuk membongkar pesan di pos rayuan musuh. Kelompok yang kalah harus menerima konsekuensi.             Ada banyak tantangan yang saya hadapi. Di sini, saya dan teman-teman dituntut untuk selalu mandiri dan disiplin. Kami diminta untuk bergerak cepat tanpa banyak bicara, termasuk saat makan. Kami juga belajar untuk memperkuat jiwa korsa kami dengan memikirkan kepentingan bersama, tidak hanya kepentingan pribadi. Selain itu, bila satu orang melakukan kesalahan, maka semua akan menerima konsekuensinya bersama-sama. Saya pribadi harus menahan lelah dan menahan emosi saya di saat saya lelah itu. Dari kegiatan ini, saya sadar bahwa selama ini saya kurang banyak melakukan aktivitas yang mengharuskan saya bergerak. Biasanya, saya lebih sering menghabiskan waktu saya di depan meja belajar dan di depan ponsel saya. Olahraga hanya saya lakukan pada saat pelajaran olahraga saja. Saya juga sadar bahwa selama di rumah dan sekolah, saya masih sering bekerja lambat dan sering bicara. Maka, saya berkomitmen untuk lebih banyak melakukan olahraga dan bekerja cepat dalam segala hal dengan cara mengurangi bicara serta mengesampingkan hal-hal yang dirasa kurang penting dan mengganggu fokus saya.
Selengkapnya
Kegiatan Outward Bound Indonesia - Jati Luhur, Purwakarta
Posted: 2018-10-05 | By: Devanto - XI MIPA.2 / 9
"There is more in you than you think" Kutipan ini diambil dari perkataan pendiri Outward Bound yaitu Kurt Hahn. Kalimat ini pula yang memotivasi siswa-siswi kelas XI SMA Santa Ursula BSD dalam menjalani kegiatan Outward Bound Indonesia selama 6 hari dan 5 malam. Keberangkatan dibagi menjadi dua gelombang, gelombang pertama dilaksanakan pada tanggal 3-8 September 2018 sementara gelombang kedua dilaksanakan pada 10-15 September 2018. Seluruh siswa-siswi berkumpul pada pukul 04.30 dan berangkat ke OBI Eco Campus di Waduk Jatiluhur, Purwakarta pada pukul 05.00 dan tiba di lokasi pada pukul 09.00 untuk mengikuti upacara pembukaan. Sesampainya di OBI Eco Campus, seluruh peserta diumumkan kelompoknya masing-masing yang terdiri dari 10-12 orang dan diperkenalkan instruktur yang mendampingi. Kecemasan pasti ada bagi orangtua maupun peserta OBI, namun seluruh instruktur yang mendampingi merupakan orang profesional yang selalu mengawasi dan membantu bila anggota kelompok dalam masalah yang serius. Dalam OBI, peserta diajarkan untuk mampu menyelesaikan masalah dalam kelompok dan tidak bergantung maupun mengeluh kepada instruktur. Selain itu, keamanan dan keselamatan merupakan prioritas utama yang diterapkan oleh OBI selama pelatihan ini, dapat ditunjukan dengan alat yang tersedia sangat layak pakai. Kegiatan dimulai dengan bonding dalam kelompok melalui permainan dan diskusi kelompok. Kegiatan ini mempererat hubungan satu sama lain dan menumbuhkan rasa solidaritas dalam kelompok. Tantangan datang saat peserta memindahkan barang pribadi ke tas yang disediakan beserta barang bawaan kelompok, kegiatan ini menggugah kami untuk saling membantu dan peka akan kemampuan diri maupun teman kelompok. Tas yang kami pikul selama 6 hari ini merupakan tanggung jawab yang kami pegang karena setiap tindakan memiliki resiko yang perlu diterima. Momen seru terjadi saat peserta diajarkan untuk melakukan canoeing karena hal ini merupakan hal baru bagi kami dan menantang diri kami untuk melakukan hal baru. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan mengambil bendera yang ada di pulau-pulau dengan petunjuk dari koordinat dan kompas. Selama canoeing seluruh sifat dasar peserta dapat terungkap karena rasa letih dan jenuh yang tak berujung. Justru kekompakan kelompok diuji selama proses ini dengan prinsip “satu senang semua senang, satu susah semua susah”, kedewasaan kami diuji agar menekan ego pribadi demi kepentingan kelompok. Namun, rasa letih dan jenuh tetap saja kalah dengan canda gurau antar peserta. Kami percaya bahwa semua kegiatan dapat dilakukan bila berpikir positif dan enjoy dalam menjalaninya. Pengalaman mendaki gunung juga tak kalah seru karena segala rasa letih terbayar saat tiba di puncak gunung dan menikmati keindahan alam Indonesia. Rasa syukur keluar dari setiap pribadi karena masih diberi kesempatan untuk menikmati karya Tuhan dan peserta ungkapkan dengan menyanyikan Mars Serviam di ketinggian 700 mdpl. Selain itu, solo night yaitu peserta menghabiskan malam sendiri dengan mendirikan tenda beratapkan jas hujan dan merefleksikan diri selama berproses di OBI. Banyak hal yang peserta dapatkan selama proses ini karena dalam kondisi hening, refleksi dapat dilakukan dengan serius dan menggali lebih dalam tentang kekuatan-kelemahan pribadi. Selama enam hari mengikuti pelatihan di OBI, setiap peserta telah memperluas zona nyamannya dan menemukan satu hal dalam dirinya yang tak akan terbayangkan sebelumnya. Alam mengajarkan kami semua untuk kerjasama, pantang menyerah, sabar, jujur dan bersyukur atas hidup kami. Brian Canaugh pernah berkata bahwa setiap rintangan merupakan peluang untuk memperbaiki keadaan. Rintangan yang kami lalui di OBI telah mengubah pribadi kami menjadi lebih utuh dan siap menghadapi masa depan. OUTWARD BOUND! TO SERVE. TO STRIVE AND NOT TO YIELD!   
Selengkapnya