Science Film Festival 2018
Posted: 2018-12-07 | By: Jessica Bernata & Grace - XMIPA3
Science Film Festival adalah acara yang diselenggarakan oleh Goethe Institut pada tanggal 6-7 November 2018. Science Film Festival (SFF) yg bertemakan Food Revolution ini diselenggarakan oleh Goethe Institute dan telah menjadi tahun ketiga bagi Santa Ursula BSD untuk menyelenggarakannya. Acara dibuka dengan kelompok Paduan Suara kecil yang menyanyikan lagu Le Estin dan Abang Tukang Bakso dalam bahasa Jerman. Di acara pembukaan, dilakukan juga pembagian hadiah untuk juara dari lomba masak SMP dan SMA. Selanjutnya, pameran di hall pun terselenggara. Pameran yang ada mencakupi both-both percobaan, both masakan dari juara lomba masak, dan berbagai both-both lainnya yang berhubungan dengan food revolution atau revolusi pangan. Pada tahun ini, yang berkesempatan untuk menonton Science Video yang telah disediakan adalah murid kelas 7,8,9, dan 10. Video yang ditayangkan merupakan video yang telah dipilih untuk menambah wawasan setiap anak berdasarkan tingkatan kelasnya. Setelah menonton video, masing-masing angkatan diberi bahan eksperimen yang berbeda-beda dan hasil eksperimen pun dilombakan. Dari perlombaan kecil itu, terpilihlah tiga juara sebagai pemenang eksperimen. Jauh sebelum diadakannya SFF, para guru sudah mengumumkan perlombaan masak yang diselenggarakan untuk mendukung kegiatan SFF yang diadakan nantinya. Science  Lomba masak ini bertemakan Revolusi Pangan dan wajib menggunakkan sayuran atau buah hasil lokal antara lain ubi jalar, singkong, talas dan jagung. Satu kelompok beranggotakan 5 orang murid dan bersifat umum (lintas kelas). Lomba masak ini memiliki beberapa kriteria penilaian, tidak boleh menggunakkan MSG atau bahan kimia yang dapat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Kelompok masak yang mengikuti lomba juga wajib untuk mengumpulkan deskripsi makanan atau minuman yang akan dibuatnya nanti, yang tercantum antara lain cover, nama masakan, biaya pembuatan, alat dan bahan yang digunakan, cara pembuatan, serta keunggulan dari masakan yang akan dibuat.  Deskripsi yang dibuat untuk lomba itu, adalah yang cukup penting karena deskripsi juga termasuk sebagai penilaian pertama terhadap lomba masak yang diadakan. Ternyata, semua kelompok masak lolos dalam seleksi pertama ini. Pada hari Selasa, 30 Oktober 2018 dimulailah lomba masak pada pukul 10.00. Durasi yang diberikan hanya 2 jam untuk membuat makanan tersebut sampai jadi dan juga termasuk waktu untuk membersihkan dapur yang digunakan peserta. Sebelum waktu menunjukkan pukul 11.00, makanan yang dibuat peserta sudah mulai terlihat hasilnya. Setelah waktu habis, keadaan dapur kembali bersih seperti awal perlombaan, peserta lomba diharapkan untuk keluar dari dapur karena para juri akan segera mulai menilai makanan yang dihasilkan peserta. Selang beberapa menit, pengumuman juara telah diinformasikan. Para peserta masak diharapkan kembali ke dapur untuk mendengarkan informasinya, dari beberapa kelompok masak yang mendapatkan juara 3 adalah kelompok Dallas atau Rendang Talas, kelompok ini menggunakan bahan dasar talas sebagai pengganti daging rendang. Juara 2 diperoleh Cassava Cake dengan bahan dasar singkong untuk membuat kue keunggulan dari Cassava Cake ini adalah singkong yang biasanya dianggap makanan orang yang kurang berkecukupan dapat dijadikan makanan yang enak dan dapat dinikmati semua orang. Juara 1 diperoleh kelompok Rainbow Sweet Vega, kelompok ini memiliki minuman yang sangat menarik. Mereka membuat minuman seperti cendol dengan mengganti bahan dasar pembuatannya dari jagung manis segar, labu kuning, wortel, bayam, jamur kuping, dan selasih. Sehingga minuman ini memikat para juri untuk mencoba dan mencicipinya. Pemenang lomba memasak ini, diminta untuk tampil pada pameran SFF yang diselenggarakan pada tanggal 6-7 November 2018. Mereka akan mempresentasikan makanan-makanan hasil juara kepada murid-murid yang akan berkunjung ke SFF di SMP-SMA Santa Ursula BSD. Selain itu, murid-murid yang berkunjung dapat mencicipi hasil makanan dari kelompok yang menang.    
Selengkapnya
MANDALA
Posted: 2018-11-05 | By: Hieronymus Yuwan P.
“Jika ingin berjalan lebih cepat berjalanlah sendirian, namun jika kamu ingin berjalan lebih jauh, berjalanlah bersama-sama.” John F. Kenedy Dalam perkembangannya SMA Santa Ursula BSD menyadari keberadaannya merupakan bagian dari masyarakat pendidikan di Indonesia. SMA Santa Ursula BSD paham betul mengenai kebutuhan sosial untuk menjalin tali silahturahmi dengan sekolah-sekolah lain di tengah persaingan antar sekolah se-Tangerang dan Jakarta. Persaingan yang saat ini terjadi cenderung merusak makna pendidikan tentang nilai persatuan dan kesatuan dalam Pancasila. SMA Santa Ursula mungkin akan berjalan lebih cepat jika melakukannya sendirian, namun target yang di tempuh hanya terbatas. SMA Santa Ursula ingin berjalan lebih jauh untuk mendapatkan target yang jauh lebih baik demi kepentingan bersama. Syaratnya yaitu jika setiap sekolah mampu berjalan bersama-sama dengan membangun jaringan dan sinergi. Kesadaran tentang kekuatan jaringan dan networking sangat diperlukan dalam kehidupan di era internet seperti sekarang. Mandala (berasal dari Bahasa Sanskerta; secara harafiah bermakna "lingkaran") adalah sebuah konsep Hindu, tetapi juga dipakai dalam konteks agama Buddha, untuk merujuk pada berbagai benda nyata. Mandala, khususnya pusatnya, bisa dipakai selama meditasi sebagai benda untuk memusatkan perhatian. Berdasarkan filosofi dan latar belakang tersebut, OSIS SMA Santa Ursula BSD menyelenggarakan acara berjudul: MANDALA, sebuah akronim dari “Makna Dalam Relasi”. SMA Santa Ursula BSD ingin mengembangkan relasinya bagi sekolah-sekolah di sekitar Tangerang dan Jakarta. Acara tersebut sukses diselenggarakan pada Sabtu, 20 Oktober 2018 di Sekolah Santa Ursula BSD. Kegiatan utamanya adalah gerak jalan bersama dengan teman-teman dari sekolah-sekolah lain, menyusuri rute yang telah ditentukan. Melalui sambutannya, Nadine selaku ketua OSIS SMA Santa Ursula BSD mengungkapkan  “Relasi menjadi sarana kerjasama untuk menjadi lebih baik. Diharapkan dalam menjalankan kegiatan ini peserta tidak menggunakan gadget / earphone sehingga relasi dapat dilakukan secara langsung.” Acara ini dihadiri sebanyak 143 peserta dari 11 sekolah di BSD.   
Selengkapnya
Gerakan Akbar 1000 Guru ASEAN Menulis Puisi
Posted: 2018-10-23 | By: L.M. Sri Sudartanti Purworini
Senin, 23 September 2018 bertepatan dengan Puncak Perayaan Hari Puisi Nasional, Perkumpulan Rumah Seni Asnur, yang diprakarsai oleh Asrizal Nur meluncurkan sebuah antologi puisi guru yang berjudul Antologi Puisi Guru : Tentang Sebuah Buku dan Rahasia Ilmu. Antologi puisi ini ditulis oleh 1000 guru ASEAN yang tergabung dalam Gerakan Akbar 1000 Guru ASEAN Menulis Puisi.  Guru-guru yang menulis puisi dalam buku tersebut tersebar di seluruh Indonesia dan negara-negara ASEAN.  Meki jumlah guru (tak terbatas ilmu, usia, jenis kelamin, agama, jenjang yang diajarnya, negara, suku) begitu banyak tetapi ternyata hanya sekitar 1000 guru yang tertarik untuk melibatkan diri dalam kegiatan ini. Pada malam itu juga diserahkan penghargaan dari Yayasan MURI karena antologi puisi tersebut ditulis oleh 1000 guru. Tiga guru Santa Ursula BSD yang melibatkan diri dalam kegiatan tersebut adalah Evy Chrisna Ch. (guru Matematika SMA), L. M. Sri Sudartanti Purworini (guru Bhs. Indonesia SMA), dan Silviana N. (guru matematika SD). Aktivitas menulis puisi ini merupakan upaya Perkumpulan Rumah Seni Asnur untuk terus menggerakkan semangat menulis puisi di kalangan guru. “Bila guru memiliki perhatian dan kemampuan pada puisi; tidak saja turut menggairahkan kesusasteraan Nusantara, menambah khazanah perpuisian terlebih dari itu dapat menciptakan iklim bersastra di sekolah-sekolah...” demikian yang disampaikan Asrizal Nur. Selanjutnya dikatakannya juga  “...aktivitas menulis di kalangan guru juga turut mengembangkan literasi di sekolah dalam rangka memperkuat karakter bangsa dan sejalan dengan program pemerintah untuk mencerdaskan bangsa.” Menulis tanpa membaca adalah sesuatu yang tak mungkin terjadi. Oleh karena itu, guru yang menulis pastilah dia juga seorang guru yang tekun membaca. Inilah salah satu jalan untuk mengembangkan literasi di sekolah. “Gerakan 1000 Guru ASEAN Menulis Puisi adalah salah satu upaya juga untuk mendobrak citra keterkungkungan guru yang selama ini seringkali ditempatkan sekadar berdiri di depan kelas.” (Maman S. Mahayana). Saat ini, peran guru tidak lagi sekadar profesi guru di depan kelas tetapi guru yang mampu memberikan pencerahan kepada bangsanya. Diharapkan gerakan akbar ini dapat mengangkat nama dan  citra guru yang kreatif dan inovatif dalam tata pergaulan internasional melalui karya-karya yang dihasilkannya. Semoga kegiatan ini semakin menumbuhkan kesadaran membaca dan menulis di kalangan guru.   “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” - Pramoedya Ananta Toer -
Selengkapnya
Pelatihan Fisik dan Mental di Dodiklatpur Rindam Jaya
Posted: 2018-10-06 | By: Angela Gladys Devina - X MIPA.2/02
Pada hari Kamis, 13 September 2018 sampai Sabtu, 15 September 2018, saya dan teman-teman kelas X SMA Santa Ursula BSD mengikuti kegiatan pelatihan fisik dan mental di Depo Pendidikan Latihan dan Pertempuran (Dodiklatpur) Rindam Jaya, Gunung Bunder, Bogor. Kegiatan ini sendiri bertujuan untuk melatih fisik dan mental, meningkatkan kedisiplinan peserta didik kelas X, serta merupakan dasar dari kegiatan-kegiatan selanjutnya di sekolah.             Latihan terdiri dari berbagai macam kegiatan, tak hanya kegiatan fisik, tetapi juga pelajaran teori. Setibanya kami di sana, kami mengikuti upacara pembukaan. Lalu, kami mengikuti sesi di aula terbuka yang dinamakan Graha Rimba. Di sini, kami diajarkan Cara Memberi Instruksi (CMI). Pada malam itu, kami mengikuti kegiatan caraka malam. Pada hari kedua, kami bermain beberapa permainan yang meningkatkan kerja sama dan jiwa korsa kami. Selanjutnya, kami mengikuti sesi pelajaran teori survival di Graha Rimba dan pada malamnya, ada kegiatan renungan malam. Di hari terakhir, kami melakukan kegiatan snapling atau menuruni tembok tinggi dengan tali serta menyeberangi jembatan satu tali dan dua tali. Di sela-sela kegiatan tersebut, ada juga kegiatan baris-berbaris dan menyerukan yel-yel.             Kegiatan yang paling berkesan untuk saya adalah caraka malam karena merupakan pertama kalinya saya mengikuti hal seperti ini. Kegiatan dilakukan secara berkelompok. Kami seolah-olah menjadi pembawa pesan atau caraka di medan perang. Pesan yang kami bawa hanya boleh disampaikan kepada teman, sedangkan musuh tidak boleh mengetahui pesan tersebut. Setiap kelompok berjalan secara terpisah mengikuti tali rafia yang telah terpasang melintasi hutan tanpa penerangan apapun selain penerangan alami dari bulan dan bintang. Kami tidak boleh banyak bicara selama berjalan. Di tengah perjalanan, ada beberapa pos teman yang memberikan wawasan kebangsaan kepada kami. Selain itu, ada pula gangguan berupa “pocong” yang sebenarnya merupakan bantal guling yang dilapisi kain putih dan diikat bagian atas serta bawahnya. Kelompok-kelompok yang ada tidak boleh sampai terhasut untuk membongkar pesan di pos rayuan musuh. Kelompok yang kalah harus menerima konsekuensi.             Ada banyak tantangan yang saya hadapi. Di sini, saya dan teman-teman dituntut untuk selalu mandiri dan disiplin. Kami diminta untuk bergerak cepat tanpa banyak bicara, termasuk saat makan. Kami juga belajar untuk memperkuat jiwa korsa kami dengan memikirkan kepentingan bersama, tidak hanya kepentingan pribadi. Selain itu, bila satu orang melakukan kesalahan, maka semua akan menerima konsekuensinya bersama-sama. Saya pribadi harus menahan lelah dan menahan emosi saya di saat saya lelah itu. Dari kegiatan ini, saya sadar bahwa selama ini saya kurang banyak melakukan aktivitas yang mengharuskan saya bergerak. Biasanya, saya lebih sering menghabiskan waktu saya di depan meja belajar dan di depan ponsel saya. Olahraga hanya saya lakukan pada saat pelajaran olahraga saja. Saya juga sadar bahwa selama di rumah dan sekolah, saya masih sering bekerja lambat dan sering bicara. Maka, saya berkomitmen untuk lebih banyak melakukan olahraga dan bekerja cepat dalam segala hal dengan cara mengurangi bicara serta mengesampingkan hal-hal yang dirasa kurang penting dan mengganggu fokus saya.
Selengkapnya
Kegiatan Outward Bound Indonesia - Jati Luhur, Purwakarta
Posted: 2018-10-05 | By: Devanto - XI MIPA.2 / 9
"There is more in you than you think" Kutipan ini diambil dari perkataan pendiri Outward Bound yaitu Kurt Hahn. Kalimat ini pula yang memotivasi siswa-siswi kelas XI SMA Santa Ursula BSD dalam menjalani kegiatan Outward Bound Indonesia selama 6 hari dan 5 malam. Keberangkatan dibagi menjadi dua gelombang, gelombang pertama dilaksanakan pada tanggal 3-8 September 2018 sementara gelombang kedua dilaksanakan pada 10-15 September 2018. Seluruh siswa-siswi berkumpul pada pukul 04.30 dan berangkat ke OBI Eco Campus di Waduk Jatiluhur, Purwakarta pada pukul 05.00 dan tiba di lokasi pada pukul 09.00 untuk mengikuti upacara pembukaan. Sesampainya di OBI Eco Campus, seluruh peserta diumumkan kelompoknya masing-masing yang terdiri dari 10-12 orang dan diperkenalkan instruktur yang mendampingi. Kecemasan pasti ada bagi orangtua maupun peserta OBI, namun seluruh instruktur yang mendampingi merupakan orang profesional yang selalu mengawasi dan membantu bila anggota kelompok dalam masalah yang serius. Dalam OBI, peserta diajarkan untuk mampu menyelesaikan masalah dalam kelompok dan tidak bergantung maupun mengeluh kepada instruktur. Selain itu, keamanan dan keselamatan merupakan prioritas utama yang diterapkan oleh OBI selama pelatihan ini, dapat ditunjukan dengan alat yang tersedia sangat layak pakai. Kegiatan dimulai dengan bonding dalam kelompok melalui permainan dan diskusi kelompok. Kegiatan ini mempererat hubungan satu sama lain dan menumbuhkan rasa solidaritas dalam kelompok. Tantangan datang saat peserta memindahkan barang pribadi ke tas yang disediakan beserta barang bawaan kelompok, kegiatan ini menggugah kami untuk saling membantu dan peka akan kemampuan diri maupun teman kelompok. Tas yang kami pikul selama 6 hari ini merupakan tanggung jawab yang kami pegang karena setiap tindakan memiliki resiko yang perlu diterima. Momen seru terjadi saat peserta diajarkan untuk melakukan canoeing karena hal ini merupakan hal baru bagi kami dan menantang diri kami untuk melakukan hal baru. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan mengambil bendera yang ada di pulau-pulau dengan petunjuk dari koordinat dan kompas. Selama canoeing seluruh sifat dasar peserta dapat terungkap karena rasa letih dan jenuh yang tak berujung. Justru kekompakan kelompok diuji selama proses ini dengan prinsip “satu senang semua senang, satu susah semua susah”, kedewasaan kami diuji agar menekan ego pribadi demi kepentingan kelompok. Namun, rasa letih dan jenuh tetap saja kalah dengan canda gurau antar peserta. Kami percaya bahwa semua kegiatan dapat dilakukan bila berpikir positif dan enjoy dalam menjalaninya. Pengalaman mendaki gunung juga tak kalah seru karena segala rasa letih terbayar saat tiba di puncak gunung dan menikmati keindahan alam Indonesia. Rasa syukur keluar dari setiap pribadi karena masih diberi kesempatan untuk menikmati karya Tuhan dan peserta ungkapkan dengan menyanyikan Mars Serviam di ketinggian 700 mdpl. Selain itu, solo night yaitu peserta menghabiskan malam sendiri dengan mendirikan tenda beratapkan jas hujan dan merefleksikan diri selama berproses di OBI. Banyak hal yang peserta dapatkan selama proses ini karena dalam kondisi hening, refleksi dapat dilakukan dengan serius dan menggali lebih dalam tentang kekuatan-kelemahan pribadi. Selama enam hari mengikuti pelatihan di OBI, setiap peserta telah memperluas zona nyamannya dan menemukan satu hal dalam dirinya yang tak akan terbayangkan sebelumnya. Alam mengajarkan kami semua untuk kerjasama, pantang menyerah, sabar, jujur dan bersyukur atas hidup kami. Brian Canaugh pernah berkata bahwa setiap rintangan merupakan peluang untuk memperbaiki keadaan. Rintangan yang kami lalui di OBI telah mengubah pribadi kami menjadi lebih utuh dan siap menghadapi masa depan. OUTWARD BOUND! TO SERVE. TO STRIVE AND NOT TO YIELD!   
Selengkapnya
Pengalaman Live In di Kulon Progo - Yogyakarta
Posted: 2018-10-04 | By: Anastasia P. M dan Chionia Karitas / XII IPB
Bagaimana rasanya hidup di desa? Pertanyaan serupa barangkali sering kali terlintas di benak kita. Tampaknya kehidupan di desa terlihat baik-baik saja, berkebalikan dengan kehidupan yang kita jalani di kota? Asap-asap kendaraan yang menganggu pernafasan, tugas sekolah yang selalu ada setiap hari, dan rutinitas yang biasa-biasa saja terkadang membuat kita berharap kita lahir di desa daripada di kota. Padahal, segala sesuatunya lebih tersedia dan mudah diakses di kota. Ternyata, SMA Santa Ursula BSD memberikan kami, angkatan ke-21, kesempatan untuk menjalani kehidupan yang 180° berbeda selama satu minggu di Kulon Progo, Yogyakarta. Perjalanan ini disebut dengan kegiatan Live In yang diselenggarakan pada tanggal 25 hingga 31 Agustus 2018. Pada siang hari, kami semua berkumpul dan bersama-sama menaiki bus yang akan membawa kami ke Yogyakarta. Ada lima desa utama yang menjadi lokasi berlangsungnya Live In, diantaranya Samigaluh, Balong, Tetes, Kagok, dan Bangun Rejo. Sebanyak 153 peserta didik mengikuti kegiatan ini, ditambah dua tenaga pendidik sebagai pendamping untuk setiap kelompok kecil yang terdiri atas 16-20 orang. Satu per satu, kelompok kecil itu berangkat menuju wilayah masing-masing menggunakan bus mini atau truk kuning. Ketika semuanya sudah tiba, setiap pasangan diperkenalkan kepada keluarga asuhnya dan kegiatan Live In pun dimulai. Selama tinggal di desa, kami diharuskan untuk mengikuti segala kegiatan keluarga asuh kami. Ada keluarga petani, peternak, pengrajin, pedagang, dan masih banyak yang lainnya. Namun, jika mendapatkan keluarga yang tidak bekerja, maka pekerjaan setiap hari hanyalah memasak, mencuci, mandi, makan dan tidur. Pengalaman ini mengajarkan kami bahwa tidak mengerjakan apa-apa justru lebih melelahkan daripada bekerja.   Di desa, rasa persaudaraan antara satu orang dengan yang lainnya sangatlah erat. Jarang sekali terjadi konflik. Rasa syukur terhadap apa yang mereka punyai juga sangat terlihat. Kita yang hidup di perkotaan sering kali lupa akan rasa syukur itu, menginginkan semua secara berlebihan. Rasa tidak menghargai kepunyaan kita itu tumbuh dalam diri kita. Satu minggu tinggal di desa menyadarkan kami semua agar selalu bersyukur atas kehidupan yang kami miliki. Sangat banyak hal penting yang bisa dipetik dari kegiatan ini. Semua pelajaran itu hanya akan didapatkan jika kita memaknai pengalaman Live In dengan sungguh-sungguh.
Selengkapnya
ANALISA DATA NILAI UJIAN NASIONAL SMA TAHUN 2018 PROVINSI BANTEN
Posted: 2018-09-14 | By: Evelin, Siska, Andi
Nilai rata-rata hasil Ujian Nasional (UN) SMA Santa Ursula BSD di Provinsi Banten menunjukkan nilai yang sangat memuaskan baik pada program IPA, IPS dan Bahasa. SMA Santa Ursula BSD mendapat peringkat I di semua program jurusan. Nilai rata-rata Program IPA sebesar 85,81. Nilai rata-rata Program IPS sebesar 83,08, dan nilai rata-rata Program Bahasa sebesar 81,86. Program IPA, sebanyak 3 orang peserta didik mendapatkan jumlah nilai Ujian Nasional tertinggi, yaitu Erica Mandy (376,00) peringkat ke-5, Veronica Shieny (368,50) peringkat ke-21, dan Theofilia Lucia Merlim (368,00) peringkat ke-26. Peserta didik program IPA yang mendapatkan nilai tertinggi (100) untuk Bidang Studi Matematika sebanyak 3 orang dari 24 peserta dengan nilai tertinggi. Bidang Studi Fisika sebanyak 1 orang dari 13 peserta. Bidang Studi Kimia sebanyak 4 orang dari 18 peserta, dan Bidang Studi Biologi sebanyak 2 orang dari 10 peserta. Program IPS, sebanyak 11 orang peserta didik mendapatkan jumlah nilai Ujian Nasional tertinggi, yaitu Patrick Richard Surya (368,50) peringkat ke-1, Jacinta Elia Sugandi (368,50) peringkat ke-2, Samuel Aristo Jaya (362,50) peringkat ke-5, Ronaldo Oetomo (359,50) peringkat ke-7, Brigieth  Rungo Rata (359,00) peringkat ke-8, Nadya Emmanuella Geraldine (359,00) peringkat ke-9, Fricilia Angela (354,50) peringkat ke-17, Hananeel Bonita (354,00) peringkat ke-20, Erika (352,50) peringkat ke-24, Michael Sugiarta (352,00) peringkat ke-26, dan Febricio Gweeman Bonaventura (352,00) peringkat ke-27. Peserta didik program IPS yang mendapatkan nilai tertinggi (100) untuk Bidang Studi Matematika sebanyak 2 orang dari 4 peserta dengan nilai tertinggi. Program Bahasa, sebanyak 12 orang peserta didik mendapatkan jumlah nilai Ujian Nasional tertinggi, yaitu Claretta Putri Natasha (377,50) peringkat ke-1,  Monika Leonita (362,00) peringkat ke-2,  Devina Amanda (361,00) peringkat ke-3, Olivia Tjahjadi (355,00) peringkat ke-5, Albertus Gabriel (352,50) peringkat ke-6, Fiore Maheswari Danitta (348,50) peringkat ke-9, Elsa Gabriela (347,00) peringkat ke-10, Vinny Lionita (345,50) peringkat ke-12, Andreas Yogi Brata (340,00) peringkat ke-13, Gwyneth Andiani (335,50) peringkat ke-18, Renee Ravintya (333,50) peringkat ke-19, dan Gabrielle Affandy (321,50) peringkat ke-23. Peserta didik program Bahasa yang mendapatkan nilai tertinggi (100) untuk Bidang Studi Matematika sebanyak 3 orang dari 3 peserta dengan nilai tertinggi. Bidang Studi Bahasa Asing sebanyak 1 orang dari 4 peserta. Selamat dan Sukses atas keberhasilan peserta didik dalam Ujian Nasional 2018 !
Selengkapnya
LIVE IN KELAS XII SMA SANTA URSULA BSD
KULON PROGO
Posted: 2018-09-03 | By: L.M Sudartanti Purworini, Hieronymus Yuwan Pratama
Kamipun pulang dan beristirahat Di kamar aku merenung Betapa bedanya kehidupan orang kota dan desa Ramah dan kesederhanaan terpampang jelas Rumah yang sederhana Orang yang sederhana Sepenggal ayat puisi berjudul “Arti Dari Kata Sederhana” karya Wynonna siswi kelas XII IPA 1 ini merefleksikan makna program live in Santa Ursula BSD bagi dirinya. SMA Santa Ursula BSD percaya bahwa melalui program yang sudah dipersiapkan ini, peserta didik akan belajar secara langsung tidak hanya teori dan nilai yang terjadi dalam kelas saja. Sekolah percaya bahwa desa akan menjadi laboratorium hidup bagi peserta didik, jika persiapan, proses dan evaluasinya dilaksanakan dengan baik. Program memang menjadi bagian penting untuk mengembangkan peserta didik menjadi pribadi yang utuh, cerdas dan mau melayani, sesuai visi dan misi sekolah. Pada tahun 2018 ini, Kulon Progo sekali lagi menjadi tempat bagi peserta didik kelas XII SMA Santa Ursula BSD untuk menjalankan program live in. Kawasan Kulon Progo dianggap representatif bagi proses belajar peserta didik SMA Santa Ursula BSD. Mereka termasuk anak perkotaan yang perlu untuk belajar dari ritme hidup dan kearifan lokal masyarakat desa. Kehidupan dan kearifan budaya warga desa dianggap masih alami dan belum tergerus arus globalisasi. Beberapa desa yang menjadi tempat live in adalah Balong, Tetes, Samigaluh, Barasan, dan Kagok. Desa-desa ini menjadi tempat ngenger bagi peserta selama 4 hari, mulai dari tanggal 26-30 Agustus 2018. Seluruh desa tersebut berada di puncak perbukitan Menoreh, Jawa Tengah yang memiliki bentang alam yang indah dan alami. Secara khusus desa ini termasuk dalam wilayah Paroki Boro. Wilayah tersebut memiliki kontur jalan menanjak dan menurun yang tajam, beberapa jalan desa masih tanah berbatu dan disemen secara sederhana dari swadaya warga desa, jarak antar rumah cenderung jauh, dan penerangan yang kurang memadai pada waktu malam. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi peserta didik dan para pembimbing. Program live in semakin menantang bagi peserta didik karena bertepatan dengan musim kemarau sehingga wilayah tersebut dilanda kekeringan, air menjadi sangat sulit didapatkan. Melalui keadaan ini diharapkan peserta didik belajar dan memetik makna yang baik dari keterbatasan tersebut sehingga mereka sadar untuk lebih hemat air. Romo Harris, OSC yang memimpin perayaan ekaristi pembukaan live in mendoakan agar Tuhan selalu memberikan perlindungan dan bimibingan dari Roh Kudus selama mengikuti program live in. Ia berharap agar peserta didik mau terbuka belajar dari kesederhanaan dan kearifan lokal yang ada, serta tidak mengeluh dan selalu bergembira menjalankan program ini.
Selengkapnya
Seleksi Super Ketat Calon Anggota Service Team International Ursuline Youth Camp
Posted: 2018-05-23 | By: Hieronymus Y.P.
SMP dan SMA Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan seleksi yang ketat selama beberapa tahap bagi para peserta didik yang mendaftarkan diri menjadi calon anggota service team International Ursuline Youth Camp. Menurut Ibu Lisianawati, “Seleksi anggota service team dilakukan secara ketat karena para anggota service team akan memimpin jalannya acara International Ursuline Youth Camp pada bulan Agustus mendatang di Gunung Geulis, Sentul.” Tahap pertama dilakukan pada bulan Maret di sekolah. Tahap pertama calon anggota diberikan tantangan kecekatan, kedisiplinan dan kepekaan, karena pada minggu-minggu tersebut akan ada waktu mereka harus berkumpul tepat waktu dan dengan atribut yang lengkap di lapangan sekolah. Mereka harus selalu sigap mendengar alarm stealing berupa peluit dari panitia seleksi. Alarm stealing sewaktu-waktu dibunyikan pada jam istirahat. Pada tahap ini mereka juga diberikan tantangan untuk membawa perlengkapan lengkap yang diinstruksikan oleh panitia seleksi sehari sebelumnya atau melalui papan pengumuman yang ada. Pada tahap ini juga mereka harus menjalani kegiatan seleksi fisik dan mental yang diselenggarakan sepulang sekolah, melalui kegiatan persiapan baris-berbaris, dinamika kelompok, dan fisik seperti ,push-up, sit-up, squad, dll. Sedangkap pada bulan April dilakukan seleksi tahap kedua. Panitia seleksi menyiapkan mereka untuk menginap sehari-semalam di sekolah, dengan perlengkapan yang lengkap dan mengikuti kegiatan yang jauh lebih menantang dan berat, baik secara fisik dan mental. Dinamika kelompok, pelatihan fisik dan mental, problem solving dan alarm stealing juga tetap diselenggarakan. Alarm stealing juga dibunyikan pada pagi-pagi buta pada tahap ini. Menurut bapak Hari, “Alarm Stealing ini digunakan untuk melatih para calon anggota service team agar peka, sigap dan cekatan jika sewaktu-waktu ada kejadian darurat pada acara yang sebenarnya”. Selain itu ada kegiatan problem solving. Kegiatan ini diberikan agar peserta calon service team dapat menghadapi masalah dengan cara yang tepat dan menemukan cara dengan penalaran logis untuk mengatasinya. Sedangkan tahap ketiga dilakukan di Offroad Race The Icon BSD pada minggu pagi tanggal 1 Mei 2018, pukul 06.00 sampai pukul 10.30. Pada tahap ini calon anggota service team diminta untuk datang tepat waktu pada tempat yang ditentukan dengan berjalan kaki. Lokasi antar-jemput bagi orang tua tidak boleh kurang dari 1 kilometer dari tempat kegiatan. Pada tahap ini peserta didik calon anggota service team tetap bersemangat dan datang tepat waktu walaupun kegiatan diselenggarakan pada hari libur sekalipun. Melalui serangkaian tahapan seleksi tersebut dari 169 peserta calon anggota service team yang mendaftar pada akhirnya hanya tersisa 94 peserta didik anggota service team yang terpilih dan untuk seterusnya diberikan pemantapan di Bumi Perkemahan Cisauk pada tanggal 25-26 Mei 2018 nanti dan Gunung Geulis pada bulan Juli mendatang
Selengkapnya
Diskusi Pancasila 2017
Posted: 2018-01-16 | By: (Anastasia Patricia Mendrofa / XI-IPB)
Belakangan ini, Pancasila sedang ditantang. Untuk menyikapi hal tersebut, SMA Santa Ursula BSD mengundang sebanyak tiga narasumber dalam forum diskusi yang dilaksanakan pada hari Kamis, 12 Oktober 2017. Ketiga narasumber ini adalah Asvi Warman Adam, Franz Magnis-Suseno, dan Nugie. Masing-masing narasumber membahas mengenai Pancasila sesuai dengan bidang keahliannya. Acara diskusi ini diikuti oleh seluruh peserta didik kelas XII dan beberapa peserta didik dari kelas XI dan X serta seluruh  tenaga pendidik SMA. Asvi Warman Adam memulai diskusi dengan menjelaskan secara ringkas mengenai sejarah kelahiran Pancasila. Pada mulanya, muncul rumusan ideologi bangsa, hingga akhirnya pada tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno pertama kali menyebut rumusan tersebut dengan nama “Pancasila” dalam pidatonya. Salah satu hari nasional yang berhubungan dengan Pancasila adalah pada tanggal 1 Oktober, yaitu Hari Kesaktian Pancasila. Namun, hari nasional ini menjadi hari peringatan untuk kejadian 30 September 1965 yang menewaskan tujuh jenderal dan ribuan korban yang dituduh sebagai PKI.Franz Magnis-Suseno lalu menjelaskan mengenai Pancasila di zaman sekarang. Menurut beliau, ideologi negara Indonesia ditantang pada kasus Ahok yang terjadi bulan Juni lalu. Fundamentalisme agama mulai bermunculan dan menentang Pancasila dengan cara ingin mengubah Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi negara berlandaskan agama Islam. Padahal, teks Sumpah Pemuda pada tahun 1928 hendak mempertahankan kemajemukan yang dimiliki oleh Indonesia. Pancasila hanya dapat dipertahankan apabila semua orang saling menerima perbedaan masing-masing sehingga terciptalah kedamaian. Nugie, sebagai narasumber terakhir, mengawali pendapatnya dengan memutar lagu bertajuk “Indonesia Pemimpin Dunia”. Beliau bercerita mengenai pengalamannya pergi ke Aceh dengan penduduk mayoritas beragama Islam. Nugie berdoa sesuai dengan ajaran agamanya, tetapi masyarakat Aceh tidak mempermasalahkan hal tersebut. Media mainstream-lah yang mencitrakan mereka berbeda dan membentuk stereotip yang salah. Untuk dapat merasakan makna Pancasila, maka kita harus merasa bangga terhadap negara terlebih dahulu.Forum diskusi ini mengajak semua peserta didik sebagai generasi yang akan meneruskan keberlangsungan Indonesia, untuk terus mempertahankan kebinekaan bangsa. Perbedaan jangan memisahkan kita, tetapi justru melengkapkan.
Selengkapnya
Outward Bound: Belajar Bersama Alam
Posted: 2018-01-16 | By: (Jesslyn XI IPS 3 dan Tiara XI IPB)
A ship is safe in harbor but that’s not what ships are built for. Sebuah perkataan dari John A. Shedd menjadi semangat 150 siswa kelas XI SMA Santa Ursula BSD yang mengikuti kegiatan Outward Bound Indonesia tahun 2017. Dipisah menjadi dua gelombang, gelombang pertama dengan 65 peserta didik dan guru-guru berangkat pada 06.00 dini hari menuju OBI Eco Campus di Waduk Jatiluhur, Purwakarta. Kegiatan ini berjalan selama 6 hari dimana bagi gelombang satu berlangsung pada tanggal 2-7 Oktober disusul dengan gelombang 2 pada tanggal 9-14 Oktober. “Hari yang dinanti pun tiba, perasaan senang, sedih, antusias, dan takut pun bercampur menjadi satu.” Saat tiba di Jatiluhur seluruh peserta berkumpul di Great Hall Outward Bound Indonesia. Di sana diperkenalkanlah setiap instruktur dan divisi yang akan bekerja bersama. Selama 6 hari perjalanan, seluruh peserta yaitu siswa dan guru dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil beranggotakan 12-13 orang yang didampingi oleh 2-3 pendamping. Enam hari di Waduk Jatiluhur dipenuhi dengan berbagai kegiatan seperti canoeing, rafting, hiking, dan solo night. Hari pertama dihabiskan untuk menumbuhkan kepercayaan dan kerjasama dalam kelompok dengan bermain outbound. Di dalam kegiatan high ropes, peserta saling membantu untuk melewati rintangan, lalu dilanjutkan dengan canoeing. Kegiatan kedua adalah hiking. Dengan beban tas ransel yang diisi tenda, peralatan masak, bahan makanan, pakaian, dan barang-barang pribadi, peserta harus mencari koordinat untuk sampai di pintu gerbang pendakian lalu mendaki ke puncak gunung. “Saat hiking, kami sangat merasa lelah dengan beban yang begitu berat dan harus berjalan menanjak dengan kontur jalan yang tidak beraturan disertai guyuran hujan yang membuat kami sering terpeleset jatuh,” ujar salah satu peserta. Di puncak, peserta dapat menikmati pemandangan 700 meter di atas permukaan laut. Hari berikutnya dimulai dengan kegiatan canoeing, dimana peserta akan mendayung canoe untuk mencapai 4 titik koordinat yang telah ditentukan. Kegiatan yang tidak kalah seru dengan kegiatan lain adalah merakit. Peserta diminta untuk membuat sebuah rakit dari drum dan tongkat bambu. Dengan rakit yang dibuat, peserta harus bekerja sama dalam kelompok untuk mendayung rakit tersebut ke sebuah titik koordinat. Berbeda dengan kegiatan lainnya, kegiatan terakhir ini dilakukan secara pribadi, yaitu solo night. Pada malam terakhir dilaksanakan kegiatan solo night di mana setiap peserta menghabiskan satu malam mulai dari membuat tenda dan tidur menggunakan alas tidur di alam terbuka serta beratapkan jas hujan.Enam hari keluar dari kebiasaan dan kegiatan sehari-hari di sekolah dan terjun ke alam bebas telah menjadi memori dan pengalaman tak terlupakan. Alam menjadi guru yang telah mengajarkan banyak hal bagi peserta, mulai dari belajar keluar dari zona nyaman, berpikir positif, kerjasama, daya juang dan masih banyak lagi hal yang tentu didapatkan oleh peserta kegiatan Outward Bound Indonesia.
Selengkapnya
Kunjungan Mother Cecilia Wang
Posted: 2017-10-18 | By: Redaksi Bukit
Pada hari Sabtu, 2 September 2017, adalah sebuah momen kebanggaan bagi sekolah Santa Ursula BSD. Pada hari ini, sekolah kami menerima menerima kunjungan dari Pimpinan Tertinggi Ursulin di Roma, Mother Cecilia Wang. Sekitar jam 08.00 pagi, rombongan tamu telah sampai di area sekolah Santa Ursula BSD. Rombongan tersebut segera disambut Suster Francesco dan para kepala sekolah. Saat tiba di kampus, rombongan Mother Cecilia Wang disambut oleh alunan dari Gamelan Bali. Sambil berjalan menuju TK, mereka juga menikmati alunan lagu dari alat musik Angklung dan Kolintang. Di setiap penampilan tersebut, baik alat musik maupun lagu yang dimainkan, dijelaskan dalam Bahasa Inggris.Sesampainya di TB-TK, mereka disambut oleh penampilan dari paduan suara TK. Suara tepuk tangan terdengar ketika lagu “Seven Habit” mengakhiri penampilan paduan suara TK. Beberapa peserta didik TK B kemudian mengajak Mother Cecilia Wang, OSU dan Suster Mary Therese, OSU untuk mengelilingi area TK sambil menjelaskan tentang program The Leader in Me. Seusai tur di TK, para tamu segera diarahkan menuju auditorium untuk menyaksikan pertunjukkan paduan suara Septem Stellarum.Dari sana, mereka menuju unit SD menggunakan mobil untuk melihat penampilan dari alat musik tradisional Degung dan tur ke taman IPA. Perjalanan para tamu diakhiri di area SMP dan SMA dimana mereka disambut dengan penampilan pencak silat dan membatik. Setelah tur singkat ke perpustakaan SMP- SMA, Mother Cecilia Wang, OSU dan Suster Mary Therese, OSU menikmati makan siang dengan makanan tradisional Indonesia, Nasi Tumpeng dengan diiringi alunan lagu keroncong oleh beberapa tenaga pendidik. Sungguh pengalaman yang sangat membanggakan bagi kami semua!
Selengkapnya
Pameran Pendidikan Santa Ursula BSD 2017
Posted: 2017-10-18 | By: Veronica Lestari
Pameran pendidikan adalah salah satu acara yang diadakan setiap tahunnya oleh sekolah Santa Ursula BSD. Tahun ini Pameran Pendidikan Santa Ursula BSD atau PPSU mengambil tema ‘Facing The Disruption Era’. Acara ini diadakan pada hari Sabtu, 16 September 2017. Ada lebih dari 40 perguruan tinggi negeri, swasta dan luar negeri seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), LSPR, Trisakti, Kyushu University, NAFA dan masih banyak lagi. Acara ini diawali dengan tari kolosal dari peserta didik dan tenaga pendidik pada pukul 08.00 yang dilanjutkan dengan pidato singkat oleh Ibu Anik selaku Kepala Sekolah.Di pameran pendidikan ini peserta didik dapat langsung melakukan tanya-jawab dengan perwakilan dari kampus yang mereka minati. Salah satu universitas yaitu Ottimo Internasional memberikan semacam demo masak dan hasil masakan yang dapat dicicipi oleh para pengunjung. Tak hanya menghadirkan universitas, pameran pendidikan juga menghadirkan agen pendidikan. Untuk memfasilitasi peserta didik yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai universitas yang mereka minati, ada sesi presentasi setiap setengah jam di tiga ruangan yang sudah disiapkan sebelumnya. Tahun ini, hadir pula seorang motivator perempuan, Merry Riana untuk mengisi acara motivational class yang dilakukan di aula sekolah. Sebelum masuk ke dalam area pameran, pengunjung akan disapa dan diberikan flyer oleh penerima tamu. Beberapa stand makanan dan minuman yang memenuhi hall SMP-SMA disediakan untuk pengunjung yang sudah lelah berkeliling. Yang paling menyenangkan adalah adanya seksi radio yang memberikan informasi dan memainkan lagu-lagu. Acara yang berlangsung selama kurang lebih 7 jam ini, ditutup oleh penampilan band anak kelas X. Sekitar 1300 pengunjung hadir pada pameran pendidikan tahun ini.
Selengkapnya
Bazaar Aussi 2017
Posted: 2017-10-18 | By: Elisabet, Veronica Lestari, Joseph Kristanto, dan
Bazaar Aussi kembali diselenggarakan tahun ini di Santa Ursula BSD pada hari Sabtu, 9 September 2017. Tujuan dari acara ini adalah menggalang dana untuk renovasi Panti Werdha milik Aussi. Acara yang dimulai pukul 07.00 ini memiliki rangkaian acara yang beragam, seperti karnaval untuk peserta didik TB-TK dan SD, berbagai macam permainan, stand aksesoris dan makanan, undian behadiah, dan lainnya. Banyak alumni Sekolah Ursulin juga turut berpartisipasi dalam terselenggaranya Bazaar Aussi. Acara ini dibuka tepat pada pukul 08.00 pagi dengan kata sambutan dari ketua panitia Bazaar Aussi. Setelah itu, peserta didik TB-TK dan SD memulai parade karnaval dengan menggunakan pakaian daur ulang yang diiringi oleh alunan megah dari musik gamelan bali. Kurang lebih ada 131 peserta didik yang mengikuti acara karnaval ini. Kostum yang mereka gunakan dibuat dari bahan daur ulang yang beraneka ragam, seperti plastik, bungkus makanan, daun, dan bahan-bahan lain. Parade karnaval ini berlangsung di sepanjang jalan di depan gedung SMP-SMA sampai dengan gedung TB-TK dan diakhiri dengan fashion show.Sementara itu, di selasar SMP dan SMA Santa Ursula BSD berdirilah stand makanan dan minuman yang berderet dengan rapi sehingga setiap pengunjung dapat berkeliling lalu makan sambil duduk di kursi serta meja yang sudah disediakan di tengah lapangan. Jika para pengunjung tidak ingin lelah mengantri, terdapat buku menu yang disediakan di setiap meja. Pelayan dari setiap meja yang adalah peserta didik SMA Santa Ursula BSD, selalu siap sedia menulis pesanan makanan dan minuman yang ingin dibeli pengunjung. Pesanan yang sudah selesai dibuat langsung diantarkan ke meja masing-masing.Berbeda dengan bazaar di gedung SMP dan SMA Santa Ursula BSD yang dikoordinasi oleh peserta didik SMA, peserta didik SMP Santa Ursula BSD bertanggung jawab untuk stand permainan yang berlangsung di beberapa kelas serta hall SD Santa Ursula BSD. Berbagai permainan yang ditawarkan seluruhnya merupakan hasil ide kreatif peserta didik SMP Santa Ursula BSD yang dipersiapkan dengan baik. Tidak hanya permainan saja yang ditawarkan, terdapat beberapa kelas juga yang menawarkan photo booth yang didesain dengan berbagai tema yang unik. Setiap pengunjung yang telah selesai bermain dan berhasil meraih beberapa poin akan mendapat hadiah sesuai ketentuan hasil poin yang diperoleh. Semakin besar poin yang dicetak, maka hadiah yang dapat diperoleh pun semakin menarik.Selain itu, dijual pula kupon undian sebesar Rp 10.000,00 untuk setiap kuponnya. Pengundian dilakukan pada pukul 13.00. Banyak hadiah yang ditawarkan, seperti televisi, lemari es, mesin cuci, dan lain-lain. Hasil penjualan kupon undian akan digunakan untuk membantu renovasi Panti Werdha AUSSI Kusuma Lestari. Akan tetapi setiap awal pasti punya akhir. Begitu pula dengan bazaar ini. Bazaar yang berlangsung sejak pukul 08.00 pagi ini pun akhirnya diakhiri pada pukul 17.00.
Selengkapnya
Pembekalan Rohani Lifeteen
Posted: 2016-09-08 | By: (Nabilla XI-IPS1, Fransisca & Alexandra Aulianta X
Di usia remaja, kita pasti menemukan berbagai situasi yang membuat kita merasa bingung dan ragu. Padahal, banyak hal yang harus kita pilih pada usia tersebut, dan keputusan-keputusan tersebut akan berdampak pada masa depan kita. Untuk mempersiapkan para siswanya, masa orientasi siswa di SMA Santa Ursula tahun ini diisi dengan berbagai kegiatan, dan salah satu kegiatannya ialah Lifeteen. Dalam kegiatan ini, siswa-siswi kelas X, XI, dan XII mendapatkan wawasan baru mengenai realita di dunia dengan latar belakang agama Katolik. Kegiatan yang baru pertama kali diadakan ini meliputi ice breaking, kesaksian, serta forum diskusi yang memutar otak dan mengasah kemampuan berbicara di depan umum. Kegiatan ini berlangsung mulai dari Kamis, 21 Juli 2016 sampai Sabtu, 23 Juli 2016 dan bertempatan di Aula SMP-SMA Santa Ursula BSD. Siswa siswi kelas XI merupakan angkatan pertama yang mendapatkan Lifeteen. Tema yang diangkat adalah Truth. Selama proses seminar, siswa-siswi kelas XI diberikan lima pertanyaan dan pertanyaan tersebut harus didiskusikan di dalam kelompok. Diskusi berjalan dengan seru saat siswa-siswi dituntut untuk memberikan pendapat mereka tentang hal-hal seperti pernikahan beda agama, batas-batas pacaran yang benar, pernikahan sesama jenis, aborsi, dan kebenaran dalam gereja. Meskipun topik-topik yang di angkat cukup berat, namun kebanyakan siswa menikmatinya. “Menyenangkan khususnya saat kami berdiskusi tentang isu-isu sosial akhir-akhir ini,” ujar Mandy (XI IPB). Tema yang diangkat di seminar untuk kelas XII adalah Life Mission. Tema ini memang krusial, mengingat para siswa di kelas XII sebentar lagi akan lulus, dan mereka harus mengetahui apa tujuan hidup mereka serta bagaimana caranya untuk berkarya di masyarakat. Pada one-way seminar ini, siswa dapat bertanya pada fasilitator tentang berbagai hal atau sekadar sharing. Seminar tersebut berlangsung dari pukul 08.00 hingga pukul 12.00. Siswa disadarkan bahwa pekerjaan yang akan dijalani di masa depan tak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk Tuhan dan masyarakat. “Saya merasa termotivasi untuk lebih semangat mengejar cita-cita saya. Karena dari awal saya ingin melayani Tuhan dan bermanfaat bagi sesama,” ucap Devin Ardisa, salah satu siswa kelas XII. Hari ketiga Lifeteen merupakan giliran siswa siswi kelas X. Pada awal kegiatan, antusiasme mereka dipacu dengan nyanyian serta tarian. Selanjutnya dimulai sesi pembicaraan dengan topik-topik yang menarik dan dekat dengan remaja, seperti menjalankan tugas sebagai laki-laki dan perempuan dan menemukan kebahagian. Pada sesi-sesi tersebut, mereka juga dimotivasi untuk dekat dengan Tuhan dalam menghadapi godaan duniawi. Dilengkapi dengan sesi tanya jawab, siswa-siswi juga diberikan kesempatan untuk menyatakan pendapat serta bertanya. Banyak dari siswa-siswi kelas X yang merasa menjadi lebih dekat dengan Tuhan. “Saya belajar bahwa kebahagiaan itu bukan hanya dengan kesenangan seperti bermain games, membeli barang yang diinginkan, dan sebagainya. Tetapi, dengan berdamai kepada diri sendiri dan juga mendekatkan diri dengan Tuhan maka saya akan dapat mendapatkan kebahagiaan.” ujar Deno dari XD. Sebagai bagian dari acara, Camp Lifeteen diadakan pada tanggal 18-21 Juli (4 hari, 3 malam). Peserta kegiatan yang diadakan di Rizen Kedaton, Gunung Geulis, Bogor, Jawa Barat ini adalah 15 orang anggota prakar beragama katolik yang telah dipilih oleh Suster Francesco Marianti OSU. Camp ini mengusung tema yang berbeda dari seminar yang diadakan di sekolah, yaitu Breakthrough. Para peserta mengaku mendapatkan banyak nilai hidup dari games yang mereka mainkan di camp tersebut, misalnya kerjasama dan penghargaan. Mereka menjadi termotivasi dan memiliki tujuan hidup yang lebih jelas, serta lebih dewasa. Berbeda dengan para peserta seminar, para peserta camp menyatakan bahwa acara camping ini lebih menarik, berkelanjutan dan mendalam mengenai pengolahan diri. Selain SMA Santa Ursula BSD, ada beberapa sekolah dan paroki lain yang mengikuti camp ini, seperti Paroki Regina Caeli PIK, Maria Bunda Karmel, St. Laurensia, Santa Ursula Jalan Pos, dan sebagainya. Tapi hal itu justru membuat para peserta mendapat teman baru dan dapat berbaur. Menurut para peserta, kegiatan ini adalah pengalaman yang sangat berharga dalam hidup mereka.
Selengkapnya