Membangun Relasi Melalui Olahraga
Posted: 2019-09-03 | By: Luisa Carmel
Sekolah Santa Ursula BSD pada tahun 2020 akan memasuki tahun ke-30. Oleh karena itu, untuk merayakan 30 tahun berdirinya sekolah, OSIS SMA Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan ISWARA, Implementasi Wajah Olahraga. Kegiatan pertandingan olahraga ini sejalan dengan visi dan misi OSIS tahun ini, yang mengutamakan keterbukaan, terutama dalam membangun relasi dengan sekolah-sekolah di Jabodetabek. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi awal dari relasi-relasi baik, bukan hanya antara tuan rumah dan peserta, namun juga antar peserta sendiri. Acara diselenggarakan di kampus Santa Ursula BSD mulai hari senin, tanggal 12 Agustus, hingga jumat, 16 Agustus 2019. Terdapat 3 cabang perlombaan, yaitu futsal, basket, dan voli, yang kemudian dibagi lagi dalam kategori putra dan putri. Bila ditotal, ada 30 sekolah yang berpartisipasi dalam ISWARA 2019, dari yang dekat seperti SMAN 7 Tangsel, hingga yang jauh seperti Kolose Kanisius. Antusiasme dan semangat, terutama yang ditunjukkan oleh siswa/i Santa Ursula BSD, menjadi tanda kebahagiaan karena akhirnya Santa Ursula BSD menjadi tuan rumah dalam sebuah ajang olahraga dalam waktu yang begitu lama. Sejak acara pembukaan, keberagaman dan euforia sudah sangat terasa di kalangan peserta maupun spektator. Terutama dengan kehadiran BURSA, atau Barisan Ursa, yang mengangkat bukan hanya tangan dan suara, namun juga semangat untuk bersenang-senang dan bertanding secara sportif di lapangan. SMA Santa Ursula BSD, sebagai tuan rumah, mengirimkan 1 tim untuk setiap cabang perlombaan, kecuali futsal putra yang mengirim 2 tim. Setiap tuan rumah bertanding, kecintaan terhadap almamater di kalangan siswa/i yang menjadi penonton sangat terlihat, dengan diteriakkannya yel-yel penyemangat. Salah satu kebiasaan yang menonjol adalah menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum pertandingan dimulai. Pada saat itu, semua perbedaan dan persaingan sejenak dilupakan untuk bersama-sama mengakui diri sebagai bangsa Indonesia. Semua pertandingan yang berawal dengan sistem grup diakhiri dengan pertandingan final yang sangat sengit, terutama di cabang basket dan voli putra. Akhirnya, SMAN 11 Tangerang Selatan merebut juara pada ajang futsal putra, dan SMAN 7 Tangerang Selatan pada ajang futsal putri. Dalam ajang voli, SMAN 8 dan SMAN 1 dari Tangerang Selatan berhasil menjadi juara putra dan putri. Sementara itu dalam cabang basket, Kolose Kanisius Jakarta merebut gelar juara basket putra, dan Tarakanita Citra raya dengan gelar juara basket putri. Lima hari di lapangan akhirnya ditutup dengan acara pembagian hadiah dan penampilan modern dance dari 2 sekolah, yaitu SMA Ora et Labora dan SMA tuan rumah, Santa Ursula BSD. Berakhirnya kegiatan ISWARA 2019 bukan berarti relasi dan hubungan baik yang sudah dibangun dapat juga berakhir dan dilupakan begitu saja. Justru, berakhirnya ISWARA 2019 menjadi awal dari berbagai persaingan sehat lainnya antar sekolah dalam bidang olahraga, terutama untuk para peserta lomba yang dikirim tuan rumah sendiri. Panitia yang telah bekerja keras, para peserta yang gigih dan sportif, para supporter yang bersemangat, serta berbagai pertandingan akan menjadi memori yang sangat berkesan, sebagai awal perayaan 30 tahun berdirinya Santa Ursula BSD. Semoga kedepannya, relasi yang sudah dibangun dapat semakin dikembangkan, terutama dalam kegiatan-kegiatan eksternal yang mengundang sekolah-sekolah tetangga. Sampai jumpa tahun depan!!
Selengkapnya
Upacara Bendera 17 Agustus 2019
Posted: 2019-08-19 | By: admin
Sabtu, 17 Agustus 2019, Komunitas Santa Ursula BSD melaksanakan Upacara Bendera dalam rangka memperingati HUT ke 74 Republik Indonesia. Pada pidatonya Bpk. Alexander Prabu selaku Pembina Upacara menyampaikan,  Tujuh puluh empat tahun setelah proklamasi, jiwa kebangsaan dirasa semakin memudar. Hal ini dapat dilihat adanya konflik bernuansa sara, diskriminasi, kebencian dan intoleransi yang hampir setiap hari kita saksikan diberbagai media. Republik Indonesia sering disebut sebagai “Republik Media Sosial” dengan peringkat teratas di beragam media sosial global, sepert Facebook, Twitter, dan Instagram. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi ini sebenarnya menjanjikan pergeseran yang sangat cepat dan bahkan mengejutkan atau sering disebut “disrupsi”. Kemajuan yang dicapai saat ini menyebabkan perubahan dalam masyarakat, seperti inovasi percepatan rantai ekonomi maupun kemudahan dan kebebasan berekspresi. Namun kehadiran teknologi informasi dan komunikasi juga menunjukkan adanya beragam tantangan dalam memaknai kembali nasionalisme. Mengapa? Karena media sosial, membelah masyarakan terkotak-kotak dalam identitas suku, agama, dan antar golongan yang seringkali memberikan ruang untuk saling menyebarkan ujaran kebencian. Gernerasi muda rentan terhadap situasi ini. Nasionalisme di era digital harus dimanfaatkan sebagai media inovasi ekonomi kreatif (starup unicorn : Gojek, Tokopedia, Traveloka dan Bukalapak), mengkampanyekan isu-isu lingkungan layak huni, pangan sehat, energi bersih dan keberagaman. Mari kita mamaknai kembali rasa cinta kita terhadap bangsa dan negara di era digital. Merawat kebangsaan Indonesia yang multikultural dan memanfaatkan inovasi teknologi informasi dan komunikasi untuk membangun cita-cita masa depan di tengah pusaran global. Siapa Kita? Kita Indonesia!    
Selengkapnya
ISWARA (Implementasi Wajah Olahraga)
Posted: 2019-08-12 | By: admin
Dalam rangkaian perayaan ulang tahun ke-30 Santa Ursula BSD, bulan Agustus ini diisi dengan kegiatan ISWARA – Implementasi Wajah Olahraga. Cabang olahraga yang dilombakan adalah Basket, Futsal dan Voli, baik putra maupun putri.  OSIS SMA Santa Ursula BSD mengundang teman-teman mereka dari berbagai sekolah yang ada di kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang dan sekitarnya, diantaranya SMA Negeri 1 Tangsel, SMA Negeri 7 Tangsel,  SMK Negeri 5 Tangsel, SMA Kharisma Panongan, SMA Ricci 2 Bintaro, SMK Mulia Buana Parung, SMA ISADA, SMA Tiara Kasih, SMA Santa Ursula Jakarta, SMA Kolose Kanisius Jakarta, SMA Ora et Labora BSD, SMA Pahoa Gading Serpong, SMA Negeri 11 Tangsel, SMK Muhamadiyah 3, SMA Negeri 10 Tangsel, SMA Harapan Bangsa Tangerang, SMA Abdi Siswa, SMA Strada St. Thomas Aquino Tangerang, SMK Strada Daan Mogot Tangerang, SMA Negeri 1 Tangerang, SMA Negeri 8 Tangerang, SMA Sinar Cendekia, SMA Penabur Gading Serpong, Jakarta Nanyang School, SMA Tarakanita Gading Serpong, SMA Negeri 2 Tangsel, dan SMA Tarakanita Citra Raya. Diikuti 28 sekolah, kegiatan ISWARA ini diharapkan dapat menjalin relasi diantara para peserta didik, saling belajar dan berperan serta mewujudkan penghargaan dalam keberagaman yang ada sebagai perwakilan dari generasi muda bangsa. Kegiatan ISWARA yang berlangsung mulai tanggal 12 – 16 Agustus 2019 ini, dimulai dengan opening permainan Perkusi Santa Ursula BSD dilanjutkan dengan penyambutan perwakilan sekolah peserta lomba, menyanyikan lagu Indonesia Raya (3 stanza) dan diakhiri dengan aksi BURSA – Barisan Semangat Santa Ursula BSD. Mari teman-teman semua, kita bertanding mulai hari ini dengan semangat kebersamaan dan menjunjung tinggi sportivitas! Selamat Bertanding! I’m ready to push my boundaries!  
Selengkapnya
Sambutan Sr. Francesco, OSU pada Open House Sekolah Santa Ursula BSD
Posted: 2019-07-27 | By: Sr. Francesco Marianti, OSU
Bapak/Ibu orang tua siswa Taman Bermain, Taman Kanak-kanak, SD kelas I, SMP kelas VII, dan SMA kelas X serta hadirin yang terhormat. Terima kasih atas kehadiran Anda memenuhi undangan Open House pagi ini. Terima kasih atas kepercayaan yang Bapak/Ibu berikan kepada kami untuk menyekolahkan putra-putri Anda di Santa Ursula. Bapak/Ibu, menapaki tahun ke-30, Santa Ursula BSD berupaya untuk terus mengembangkan diri dan menjadi sebuah sekolah pilihan di Bumi Serpong Damai. Menjadi sekolah pilihan memang bukanlah hal yang mudah. Sebagai sebuah institusi pendidikan yang menawarkan dan mengembangkan suatu proses pembelajaran yang berkesinambungan sejak peserta didik berada di tingkat Taman Bermain hingga Sekolah Menengah Atas, Santa Ursula meyakini bahwa melalui upaya pengembangan mutu, pendidikan nilai hidup dan pengembangan sarana – prasarana akan mampu memberikan nuansa pendidikan yang berbeda dan memiliki nilai tambah. Selain menjadi institusi pendidikan yang memiliki nilai tambah, Santa Ursula BSD adalah sekolah Ursulin yang bercirikan Katolik dengan dijiwai oleh semangat Santa Angela. Kebersamaan yang tercipta di dalam komunitas, semangat cinta kasih, serta kepedulian dan perhatian kepada mereka yang ‘kurang’ mewarnai seluruh proses pendidikan dan kegiatan yang ada di Santa Ursula BSD. Menjadi pribadi yang utuh, cerdas, dan melayani bukanlah hanya sebuah slogan semata, namun menjadi cita-cita yang terus diupayakan secara konsisten dan persisten oleh seluruh anggota komunitas. Belajar untuk menjadi yang terbaik bagi orang lain memang bukanlah sebuah proses instan yang dengan mudah terjadi dalam satu kali pertemuan. Belajar adalah sebuah proses berkesinambungan yang membuat pribadi mampu bertumbuh dan berkarakter dalam pengetahuan, keterampilan, dan nilai hidup yang diyakininya. Dalam perannya untuk menjadi salah satu bagian dari proses pendidikan anak bangsa, Santa Ursula memang bisa menjadi sekolah pilihan. Pendidikan akan berlanjut tanpa ada akhir selama setiap pribadi yang bergelut di dalamnya terus belajar tanpa pernah mengenal lelah. SERVIAM memang menjadi motto sekolah kami dan dengan kepedulian serta pelayanan berlandaskan kasih, kami mencoba memberikan yang terbaik bagi seluruh anggota komunitas sehingga pada akhirnya mereka mampu berperan di dalam kehidupannya di masyarakat, bangsa dan negara. Sejarah memang terukir dengan  indah dalam perjalanan Santa Ursula hingga memasuki tahunnya yang ke-30. Bukan suatu perjalanan yang mudah, namun kerja keras dari setiap pribadi yang terlibat memberikan sumbangan yang besar dalam pencapaian ini. Kami ingin membagikan segala bentuk kerja yang telah dimulai sejak awal Santa Ursula bertumbuh hingga saat ini dimana perannya mulai bisa dirasakan di dalam masyarakat.  Kami berterima kasih atas sumbangan Bapak/Ibu ketika menyelesaikan pendaftaran di TB, TK, SD, SMP, SMA. Dengan bantuan sumbangan tersebut kami mampu merealisasikan kebutuhan di unit masing-masing. Dalam Tahun Pelajaran 2019-2020, kami akan menekankan pengembangan literasi dan digitalisasi. Memang kami sudah beberapa tahun melakukan hal ini di SD. Tapi pada tahun pelajaran yang akan datang, kami akan meningkatkan literasi juga di SMP melalui pelajaran Bahasa Indonesia. Selain ini digitalisasi akan menjadi keprihatinan kami.  Di SD kelas IV akan mulai mengajar Matematika dan IPA dengan menggunakan tablet. Kegiatan ektrakurikuler pun akan ditambah dengan diadakannya Robotic, Animasi, Coding dan Game Development. Di SMP kelas VII pelajaran matematika, Bahasa Indonesia, IPA dan IPS akan menggunakan Virtual Learning. Sehingga dengan diadakannya hal tersebut, guru perlu dilatih dan kami harus membayar untuk tiap siswa sebesar Rp350.000,-/tahun. Di SMA para guru Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan Ekonomi akan membuat buku digital. Semoga tahun depan, pelajaran tersebut dapat dilaksanakan sesuai dengan kemajuan teknologi. Semoga mereka dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan harapan dan cita-cita Bapak/Ibu. Selain ini pengecatan gedung SMP dan Aula telah terlaksana. Demikian juga semua perbaikan di unit TK - Lisplank SD - pekerjaan memperbaiki toilet Renovasi rumah karyawan yang ada di halaman dekat parkir dan dekat gedung SMP sudah terlaksana. Juga ducting AC dan dak atap auditorium sudah selesai diperbaiki. Bapak/Ibu dapat menyaksikan sarana prasarana tersebut sesudah pertemuan di auditorium ini. Para Bapak/Ibu Guru akan hadir di unit masing-masing untuk membantu Bapak/Ibu berkeliling melihat dan menyaksikan sendiri apa yang telah kami pertanggungjawabkan. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih atas kemurahan hati Bapak/Ibu dalam membantu mengembangkan Santa Ursula BSD.  
Selengkapnya
Science Film Festival 2018
Posted: 2018-12-07 | By: Jessica Bernata & Grace - XMIPA3
Science Film Festival adalah acara yang diselenggarakan oleh Goethe Institut pada tanggal 6-7 November 2018. Science Film Festival (SFF) yg bertemakan Food Revolution ini diselenggarakan oleh Goethe Institute dan telah menjadi tahun ketiga bagi Santa Ursula BSD untuk menyelenggarakannya. Acara dibuka dengan kelompok Paduan Suara kecil yang menyanyikan lagu Le Estin dan Abang Tukang Bakso dalam bahasa Jerman. Di acara pembukaan, dilakukan juga pembagian hadiah untuk juara dari lomba masak SMP dan SMA. Selanjutnya, pameran di hall pun terselenggara. Pameran yang ada mencakupi both-both percobaan, both masakan dari juara lomba masak, dan berbagai both-both lainnya yang berhubungan dengan food revolution atau revolusi pangan. Pada tahun ini, yang berkesempatan untuk menonton Science Video yang telah disediakan adalah murid kelas 7,8,9, dan 10. Video yang ditayangkan merupakan video yang telah dipilih untuk menambah wawasan setiap anak berdasarkan tingkatan kelasnya. Setelah menonton video, masing-masing angkatan diberi bahan eksperimen yang berbeda-beda dan hasil eksperimen pun dilombakan. Dari perlombaan kecil itu, terpilihlah tiga juara sebagai pemenang eksperimen. Jauh sebelum diadakannya SFF, para guru sudah mengumumkan perlombaan masak yang diselenggarakan untuk mendukung kegiatan SFF yang diadakan nantinya. Science  Lomba masak ini bertemakan Revolusi Pangan dan wajib menggunakkan sayuran atau buah hasil lokal antara lain ubi jalar, singkong, talas dan jagung. Satu kelompok beranggotakan 5 orang murid dan bersifat umum (lintas kelas). Lomba masak ini memiliki beberapa kriteria penilaian, tidak boleh menggunakkan MSG atau bahan kimia yang dapat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Kelompok masak yang mengikuti lomba juga wajib untuk mengumpulkan deskripsi makanan atau minuman yang akan dibuatnya nanti, yang tercantum antara lain cover, nama masakan, biaya pembuatan, alat dan bahan yang digunakan, cara pembuatan, serta keunggulan dari masakan yang akan dibuat.  Deskripsi yang dibuat untuk lomba itu, adalah yang cukup penting karena deskripsi juga termasuk sebagai penilaian pertama terhadap lomba masak yang diadakan. Ternyata, semua kelompok masak lolos dalam seleksi pertama ini. Pada hari Selasa, 30 Oktober 2018 dimulailah lomba masak pada pukul 10.00. Durasi yang diberikan hanya 2 jam untuk membuat makanan tersebut sampai jadi dan juga termasuk waktu untuk membersihkan dapur yang digunakan peserta. Sebelum waktu menunjukkan pukul 11.00, makanan yang dibuat peserta sudah mulai terlihat hasilnya. Setelah waktu habis, keadaan dapur kembali bersih seperti awal perlombaan, peserta lomba diharapkan untuk keluar dari dapur karena para juri akan segera mulai menilai makanan yang dihasilkan peserta. Selang beberapa menit, pengumuman juara telah diinformasikan. Para peserta masak diharapkan kembali ke dapur untuk mendengarkan informasinya, dari beberapa kelompok masak yang mendapatkan juara 3 adalah kelompok Dallas atau Rendang Talas, kelompok ini menggunakan bahan dasar talas sebagai pengganti daging rendang. Juara 2 diperoleh Cassava Cake dengan bahan dasar singkong untuk membuat kue keunggulan dari Cassava Cake ini adalah singkong yang biasanya dianggap makanan orang yang kurang berkecukupan dapat dijadikan makanan yang enak dan dapat dinikmati semua orang. Juara 1 diperoleh kelompok Rainbow Sweet Vega, kelompok ini memiliki minuman yang sangat menarik. Mereka membuat minuman seperti cendol dengan mengganti bahan dasar pembuatannya dari jagung manis segar, labu kuning, wortel, bayam, jamur kuping, dan selasih. Sehingga minuman ini memikat para juri untuk mencoba dan mencicipinya. Pemenang lomba memasak ini, diminta untuk tampil pada pameran SFF yang diselenggarakan pada tanggal 6-7 November 2018. Mereka akan mempresentasikan makanan-makanan hasil juara kepada murid-murid yang akan berkunjung ke SFF di SMP-SMA Santa Ursula BSD. Selain itu, murid-murid yang berkunjung dapat mencicipi hasil makanan dari kelompok yang menang.    
Selengkapnya
MANDALA
Posted: 2018-11-05 | By: Hieronymus Yuwan P.
“Jika ingin berjalan lebih cepat berjalanlah sendirian, namun jika kamu ingin berjalan lebih jauh, berjalanlah bersama-sama.” John F. Kenedy Dalam perkembangannya SMA Santa Ursula BSD menyadari keberadaannya merupakan bagian dari masyarakat pendidikan di Indonesia. SMA Santa Ursula BSD paham betul mengenai kebutuhan sosial untuk menjalin tali silahturahmi dengan sekolah-sekolah lain di tengah persaingan antar sekolah se-Tangerang dan Jakarta. Persaingan yang saat ini terjadi cenderung merusak makna pendidikan tentang nilai persatuan dan kesatuan dalam Pancasila. SMA Santa Ursula mungkin akan berjalan lebih cepat jika melakukannya sendirian, namun target yang di tempuh hanya terbatas. SMA Santa Ursula ingin berjalan lebih jauh untuk mendapatkan target yang jauh lebih baik demi kepentingan bersama. Syaratnya yaitu jika setiap sekolah mampu berjalan bersama-sama dengan membangun jaringan dan sinergi. Kesadaran tentang kekuatan jaringan dan networking sangat diperlukan dalam kehidupan di era internet seperti sekarang. Mandala (berasal dari Bahasa Sanskerta; secara harafiah bermakna "lingkaran") adalah sebuah konsep Hindu, tetapi juga dipakai dalam konteks agama Buddha, untuk merujuk pada berbagai benda nyata. Mandala, khususnya pusatnya, bisa dipakai selama meditasi sebagai benda untuk memusatkan perhatian. Berdasarkan filosofi dan latar belakang tersebut, OSIS SMA Santa Ursula BSD menyelenggarakan acara berjudul: MANDALA, sebuah akronim dari “Makna Dalam Relasi”. SMA Santa Ursula BSD ingin mengembangkan relasinya bagi sekolah-sekolah di sekitar Tangerang dan Jakarta. Acara tersebut sukses diselenggarakan pada Sabtu, 20 Oktober 2018 di Sekolah Santa Ursula BSD. Kegiatan utamanya adalah gerak jalan bersama dengan teman-teman dari sekolah-sekolah lain, menyusuri rute yang telah ditentukan. Melalui sambutannya, Nadine selaku ketua OSIS SMA Santa Ursula BSD mengungkapkan  “Relasi menjadi sarana kerjasama untuk menjadi lebih baik. Diharapkan dalam menjalankan kegiatan ini peserta tidak menggunakan gadget / earphone sehingga relasi dapat dilakukan secara langsung.” Acara ini dihadiri sebanyak 143 peserta dari 11 sekolah di BSD.   
Selengkapnya
Gerakan Akbar 1000 Guru ASEAN Menulis Puisi
Posted: 2018-10-23 | By: L.M. Sri Sudartanti Purworini
Senin, 23 September 2018 bertepatan dengan Puncak Perayaan Hari Puisi Nasional, Perkumpulan Rumah Seni Asnur, yang diprakarsai oleh Asrizal Nur meluncurkan sebuah antologi puisi guru yang berjudul Antologi Puisi Guru : Tentang Sebuah Buku dan Rahasia Ilmu. Antologi puisi ini ditulis oleh 1000 guru ASEAN yang tergabung dalam Gerakan Akbar 1000 Guru ASEAN Menulis Puisi.  Guru-guru yang menulis puisi dalam buku tersebut tersebar di seluruh Indonesia dan negara-negara ASEAN.  Meki jumlah guru (tak terbatas ilmu, usia, jenis kelamin, agama, jenjang yang diajarnya, negara, suku) begitu banyak tetapi ternyata hanya sekitar 1000 guru yang tertarik untuk melibatkan diri dalam kegiatan ini. Pada malam itu juga diserahkan penghargaan dari Yayasan MURI karena antologi puisi tersebut ditulis oleh 1000 guru. Tiga guru Santa Ursula BSD yang melibatkan diri dalam kegiatan tersebut adalah Evy Chrisna Ch. (guru Matematika SMA), L. M. Sri Sudartanti Purworini (guru Bhs. Indonesia SMA), dan Silviana N. (guru matematika SD). Aktivitas menulis puisi ini merupakan upaya Perkumpulan Rumah Seni Asnur untuk terus menggerakkan semangat menulis puisi di kalangan guru. “Bila guru memiliki perhatian dan kemampuan pada puisi; tidak saja turut menggairahkan kesusasteraan Nusantara, menambah khazanah perpuisian terlebih dari itu dapat menciptakan iklim bersastra di sekolah-sekolah...” demikian yang disampaikan Asrizal Nur. Selanjutnya dikatakannya juga  “...aktivitas menulis di kalangan guru juga turut mengembangkan literasi di sekolah dalam rangka memperkuat karakter bangsa dan sejalan dengan program pemerintah untuk mencerdaskan bangsa.” Menulis tanpa membaca adalah sesuatu yang tak mungkin terjadi. Oleh karena itu, guru yang menulis pastilah dia juga seorang guru yang tekun membaca. Inilah salah satu jalan untuk mengembangkan literasi di sekolah. “Gerakan 1000 Guru ASEAN Menulis Puisi adalah salah satu upaya juga untuk mendobrak citra keterkungkungan guru yang selama ini seringkali ditempatkan sekadar berdiri di depan kelas.” (Maman S. Mahayana). Saat ini, peran guru tidak lagi sekadar profesi guru di depan kelas tetapi guru yang mampu memberikan pencerahan kepada bangsanya. Diharapkan gerakan akbar ini dapat mengangkat nama dan  citra guru yang kreatif dan inovatif dalam tata pergaulan internasional melalui karya-karya yang dihasilkannya. Semoga kegiatan ini semakin menumbuhkan kesadaran membaca dan menulis di kalangan guru.   “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” - Pramoedya Ananta Toer -
Selengkapnya
Pelatihan Fisik dan Mental di Dodiklatpur Rindam Jaya
Posted: 2018-10-06 | By: Angela Gladys Devina - X MIPA.2/02
Pada hari Kamis, 13 September 2018 sampai Sabtu, 15 September 2018, saya dan teman-teman kelas X SMA Santa Ursula BSD mengikuti kegiatan pelatihan fisik dan mental di Depo Pendidikan Latihan dan Pertempuran (Dodiklatpur) Rindam Jaya, Gunung Bunder, Bogor. Kegiatan ini sendiri bertujuan untuk melatih fisik dan mental, meningkatkan kedisiplinan peserta didik kelas X, serta merupakan dasar dari kegiatan-kegiatan selanjutnya di sekolah.             Latihan terdiri dari berbagai macam kegiatan, tak hanya kegiatan fisik, tetapi juga pelajaran teori. Setibanya kami di sana, kami mengikuti upacara pembukaan. Lalu, kami mengikuti sesi di aula terbuka yang dinamakan Graha Rimba. Di sini, kami diajarkan Cara Memberi Instruksi (CMI). Pada malam itu, kami mengikuti kegiatan caraka malam. Pada hari kedua, kami bermain beberapa permainan yang meningkatkan kerja sama dan jiwa korsa kami. Selanjutnya, kami mengikuti sesi pelajaran teori survival di Graha Rimba dan pada malamnya, ada kegiatan renungan malam. Di hari terakhir, kami melakukan kegiatan snapling atau menuruni tembok tinggi dengan tali serta menyeberangi jembatan satu tali dan dua tali. Di sela-sela kegiatan tersebut, ada juga kegiatan baris-berbaris dan menyerukan yel-yel.             Kegiatan yang paling berkesan untuk saya adalah caraka malam karena merupakan pertama kalinya saya mengikuti hal seperti ini. Kegiatan dilakukan secara berkelompok. Kami seolah-olah menjadi pembawa pesan atau caraka di medan perang. Pesan yang kami bawa hanya boleh disampaikan kepada teman, sedangkan musuh tidak boleh mengetahui pesan tersebut. Setiap kelompok berjalan secara terpisah mengikuti tali rafia yang telah terpasang melintasi hutan tanpa penerangan apapun selain penerangan alami dari bulan dan bintang. Kami tidak boleh banyak bicara selama berjalan. Di tengah perjalanan, ada beberapa pos teman yang memberikan wawasan kebangsaan kepada kami. Selain itu, ada pula gangguan berupa “pocong” yang sebenarnya merupakan bantal guling yang dilapisi kain putih dan diikat bagian atas serta bawahnya. Kelompok-kelompok yang ada tidak boleh sampai terhasut untuk membongkar pesan di pos rayuan musuh. Kelompok yang kalah harus menerima konsekuensi.             Ada banyak tantangan yang saya hadapi. Di sini, saya dan teman-teman dituntut untuk selalu mandiri dan disiplin. Kami diminta untuk bergerak cepat tanpa banyak bicara, termasuk saat makan. Kami juga belajar untuk memperkuat jiwa korsa kami dengan memikirkan kepentingan bersama, tidak hanya kepentingan pribadi. Selain itu, bila satu orang melakukan kesalahan, maka semua akan menerima konsekuensinya bersama-sama. Saya pribadi harus menahan lelah dan menahan emosi saya di saat saya lelah itu. Dari kegiatan ini, saya sadar bahwa selama ini saya kurang banyak melakukan aktivitas yang mengharuskan saya bergerak. Biasanya, saya lebih sering menghabiskan waktu saya di depan meja belajar dan di depan ponsel saya. Olahraga hanya saya lakukan pada saat pelajaran olahraga saja. Saya juga sadar bahwa selama di rumah dan sekolah, saya masih sering bekerja lambat dan sering bicara. Maka, saya berkomitmen untuk lebih banyak melakukan olahraga dan bekerja cepat dalam segala hal dengan cara mengurangi bicara serta mengesampingkan hal-hal yang dirasa kurang penting dan mengganggu fokus saya.
Selengkapnya
Kegiatan Outward Bound Indonesia - Jati Luhur, Purwakarta
Posted: 2018-10-05 | By: Devanto - XI MIPA.2 / 9
"There is more in you than you think" Kutipan ini diambil dari perkataan pendiri Outward Bound yaitu Kurt Hahn. Kalimat ini pula yang memotivasi siswa-siswi kelas XI SMA Santa Ursula BSD dalam menjalani kegiatan Outward Bound Indonesia selama 6 hari dan 5 malam. Keberangkatan dibagi menjadi dua gelombang, gelombang pertama dilaksanakan pada tanggal 3-8 September 2018 sementara gelombang kedua dilaksanakan pada 10-15 September 2018. Seluruh siswa-siswi berkumpul pada pukul 04.30 dan berangkat ke OBI Eco Campus di Waduk Jatiluhur, Purwakarta pada pukul 05.00 dan tiba di lokasi pada pukul 09.00 untuk mengikuti upacara pembukaan. Sesampainya di OBI Eco Campus, seluruh peserta diumumkan kelompoknya masing-masing yang terdiri dari 10-12 orang dan diperkenalkan instruktur yang mendampingi. Kecemasan pasti ada bagi orangtua maupun peserta OBI, namun seluruh instruktur yang mendampingi merupakan orang profesional yang selalu mengawasi dan membantu bila anggota kelompok dalam masalah yang serius. Dalam OBI, peserta diajarkan untuk mampu menyelesaikan masalah dalam kelompok dan tidak bergantung maupun mengeluh kepada instruktur. Selain itu, keamanan dan keselamatan merupakan prioritas utama yang diterapkan oleh OBI selama pelatihan ini, dapat ditunjukan dengan alat yang tersedia sangat layak pakai. Kegiatan dimulai dengan bonding dalam kelompok melalui permainan dan diskusi kelompok. Kegiatan ini mempererat hubungan satu sama lain dan menumbuhkan rasa solidaritas dalam kelompok. Tantangan datang saat peserta memindahkan barang pribadi ke tas yang disediakan beserta barang bawaan kelompok, kegiatan ini menggugah kami untuk saling membantu dan peka akan kemampuan diri maupun teman kelompok. Tas yang kami pikul selama 6 hari ini merupakan tanggung jawab yang kami pegang karena setiap tindakan memiliki resiko yang perlu diterima. Momen seru terjadi saat peserta diajarkan untuk melakukan canoeing karena hal ini merupakan hal baru bagi kami dan menantang diri kami untuk melakukan hal baru. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan mengambil bendera yang ada di pulau-pulau dengan petunjuk dari koordinat dan kompas. Selama canoeing seluruh sifat dasar peserta dapat terungkap karena rasa letih dan jenuh yang tak berujung. Justru kekompakan kelompok diuji selama proses ini dengan prinsip “satu senang semua senang, satu susah semua susah”, kedewasaan kami diuji agar menekan ego pribadi demi kepentingan kelompok. Namun, rasa letih dan jenuh tetap saja kalah dengan canda gurau antar peserta. Kami percaya bahwa semua kegiatan dapat dilakukan bila berpikir positif dan enjoy dalam menjalaninya. Pengalaman mendaki gunung juga tak kalah seru karena segala rasa letih terbayar saat tiba di puncak gunung dan menikmati keindahan alam Indonesia. Rasa syukur keluar dari setiap pribadi karena masih diberi kesempatan untuk menikmati karya Tuhan dan peserta ungkapkan dengan menyanyikan Mars Serviam di ketinggian 700 mdpl. Selain itu, solo night yaitu peserta menghabiskan malam sendiri dengan mendirikan tenda beratapkan jas hujan dan merefleksikan diri selama berproses di OBI. Banyak hal yang peserta dapatkan selama proses ini karena dalam kondisi hening, refleksi dapat dilakukan dengan serius dan menggali lebih dalam tentang kekuatan-kelemahan pribadi. Selama enam hari mengikuti pelatihan di OBI, setiap peserta telah memperluas zona nyamannya dan menemukan satu hal dalam dirinya yang tak akan terbayangkan sebelumnya. Alam mengajarkan kami semua untuk kerjasama, pantang menyerah, sabar, jujur dan bersyukur atas hidup kami. Brian Canaugh pernah berkata bahwa setiap rintangan merupakan peluang untuk memperbaiki keadaan. Rintangan yang kami lalui di OBI telah mengubah pribadi kami menjadi lebih utuh dan siap menghadapi masa depan. OUTWARD BOUND! TO SERVE. TO STRIVE AND NOT TO YIELD!   
Selengkapnya
Pengalaman Live In di Kulon Progo - Yogyakarta
Posted: 2018-10-04 | By: Anastasia P. M dan Chionia Karitas / XII IPB
Bagaimana rasanya hidup di desa? Pertanyaan serupa barangkali sering kali terlintas di benak kita. Tampaknya kehidupan di desa terlihat baik-baik saja, berkebalikan dengan kehidupan yang kita jalani di kota? Asap-asap kendaraan yang menganggu pernafasan, tugas sekolah yang selalu ada setiap hari, dan rutinitas yang biasa-biasa saja terkadang membuat kita berharap kita lahir di desa daripada di kota. Padahal, segala sesuatunya lebih tersedia dan mudah diakses di kota. Ternyata, SMA Santa Ursula BSD memberikan kami, angkatan ke-21, kesempatan untuk menjalani kehidupan yang 180° berbeda selama satu minggu di Kulon Progo, Yogyakarta. Perjalanan ini disebut dengan kegiatan Live In yang diselenggarakan pada tanggal 25 hingga 31 Agustus 2018. Pada siang hari, kami semua berkumpul dan bersama-sama menaiki bus yang akan membawa kami ke Yogyakarta. Ada lima desa utama yang menjadi lokasi berlangsungnya Live In, diantaranya Samigaluh, Balong, Tetes, Kagok, dan Bangun Rejo. Sebanyak 153 peserta didik mengikuti kegiatan ini, ditambah dua tenaga pendidik sebagai pendamping untuk setiap kelompok kecil yang terdiri atas 16-20 orang. Satu per satu, kelompok kecil itu berangkat menuju wilayah masing-masing menggunakan bus mini atau truk kuning. Ketika semuanya sudah tiba, setiap pasangan diperkenalkan kepada keluarga asuhnya dan kegiatan Live In pun dimulai. Selama tinggal di desa, kami diharuskan untuk mengikuti segala kegiatan keluarga asuh kami. Ada keluarga petani, peternak, pengrajin, pedagang, dan masih banyak yang lainnya. Namun, jika mendapatkan keluarga yang tidak bekerja, maka pekerjaan setiap hari hanyalah memasak, mencuci, mandi, makan dan tidur. Pengalaman ini mengajarkan kami bahwa tidak mengerjakan apa-apa justru lebih melelahkan daripada bekerja.   Di desa, rasa persaudaraan antara satu orang dengan yang lainnya sangatlah erat. Jarang sekali terjadi konflik. Rasa syukur terhadap apa yang mereka punyai juga sangat terlihat. Kita yang hidup di perkotaan sering kali lupa akan rasa syukur itu, menginginkan semua secara berlebihan. Rasa tidak menghargai kepunyaan kita itu tumbuh dalam diri kita. Satu minggu tinggal di desa menyadarkan kami semua agar selalu bersyukur atas kehidupan yang kami miliki. Sangat banyak hal penting yang bisa dipetik dari kegiatan ini. Semua pelajaran itu hanya akan didapatkan jika kita memaknai pengalaman Live In dengan sungguh-sungguh.
Selengkapnya
ANALISA DATA NILAI UJIAN NASIONAL SMA TAHUN 2018 PROVINSI BANTEN
Posted: 2018-09-14 | By: Evelin, Siska, Andi
Nilai rata-rata hasil Ujian Nasional (UN) SMA Santa Ursula BSD di Provinsi Banten menunjukkan nilai yang sangat memuaskan baik pada program IPA, IPS dan Bahasa. SMA Santa Ursula BSD mendapat peringkat I di semua program jurusan. Nilai rata-rata Program IPA sebesar 85,81. Nilai rata-rata Program IPS sebesar 83,08, dan nilai rata-rata Program Bahasa sebesar 81,86. Program IPA, sebanyak 3 orang peserta didik mendapatkan jumlah nilai Ujian Nasional tertinggi, yaitu Erica Mandy (376,00) peringkat ke-5, Veronica Shieny (368,50) peringkat ke-21, dan Theofilia Lucia Merlim (368,00) peringkat ke-26. Peserta didik program IPA yang mendapatkan nilai tertinggi (100) untuk Bidang Studi Matematika sebanyak 3 orang dari 24 peserta dengan nilai tertinggi. Bidang Studi Fisika sebanyak 1 orang dari 13 peserta. Bidang Studi Kimia sebanyak 4 orang dari 18 peserta, dan Bidang Studi Biologi sebanyak 2 orang dari 10 peserta. Program IPS, sebanyak 11 orang peserta didik mendapatkan jumlah nilai Ujian Nasional tertinggi, yaitu Patrick Richard Surya (368,50) peringkat ke-1, Jacinta Elia Sugandi (368,50) peringkat ke-2, Samuel Aristo Jaya (362,50) peringkat ke-5, Ronaldo Oetomo (359,50) peringkat ke-7, Brigieth  Rungo Rata (359,00) peringkat ke-8, Nadya Emmanuella Geraldine (359,00) peringkat ke-9, Fricilia Angela (354,50) peringkat ke-17, Hananeel Bonita (354,00) peringkat ke-20, Erika (352,50) peringkat ke-24, Michael Sugiarta (352,00) peringkat ke-26, dan Febricio Gweeman Bonaventura (352,00) peringkat ke-27. Peserta didik program IPS yang mendapatkan nilai tertinggi (100) untuk Bidang Studi Matematika sebanyak 2 orang dari 4 peserta dengan nilai tertinggi. Program Bahasa, sebanyak 12 orang peserta didik mendapatkan jumlah nilai Ujian Nasional tertinggi, yaitu Claretta Putri Natasha (377,50) peringkat ke-1,  Monika Leonita (362,00) peringkat ke-2,  Devina Amanda (361,00) peringkat ke-3, Olivia Tjahjadi (355,00) peringkat ke-5, Albertus Gabriel (352,50) peringkat ke-6, Fiore Maheswari Danitta (348,50) peringkat ke-9, Elsa Gabriela (347,00) peringkat ke-10, Vinny Lionita (345,50) peringkat ke-12, Andreas Yogi Brata (340,00) peringkat ke-13, Gwyneth Andiani (335,50) peringkat ke-18, Renee Ravintya (333,50) peringkat ke-19, dan Gabrielle Affandy (321,50) peringkat ke-23. Peserta didik program Bahasa yang mendapatkan nilai tertinggi (100) untuk Bidang Studi Matematika sebanyak 3 orang dari 3 peserta dengan nilai tertinggi. Bidang Studi Bahasa Asing sebanyak 1 orang dari 4 peserta. Selamat dan Sukses atas keberhasilan peserta didik dalam Ujian Nasional 2018 !
Selengkapnya
LIVE IN KELAS XII SMA SANTA URSULA BSD
KULON PROGO
Posted: 2018-09-03 | By: L.M Sudartanti Purworini, Hieronymus Yuwan Pratama
Kamipun pulang dan beristirahat Di kamar aku merenung Betapa bedanya kehidupan orang kota dan desa Ramah dan kesederhanaan terpampang jelas Rumah yang sederhana Orang yang sederhana Sepenggal ayat puisi berjudul “Arti Dari Kata Sederhana” karya Wynonna siswi kelas XII IPA 1 ini merefleksikan makna program live in Santa Ursula BSD bagi dirinya. SMA Santa Ursula BSD percaya bahwa melalui program yang sudah dipersiapkan ini, peserta didik akan belajar secara langsung tidak hanya teori dan nilai yang terjadi dalam kelas saja. Sekolah percaya bahwa desa akan menjadi laboratorium hidup bagi peserta didik, jika persiapan, proses dan evaluasinya dilaksanakan dengan baik. Program memang menjadi bagian penting untuk mengembangkan peserta didik menjadi pribadi yang utuh, cerdas dan mau melayani, sesuai visi dan misi sekolah. Pada tahun 2018 ini, Kulon Progo sekali lagi menjadi tempat bagi peserta didik kelas XII SMA Santa Ursula BSD untuk menjalankan program live in. Kawasan Kulon Progo dianggap representatif bagi proses belajar peserta didik SMA Santa Ursula BSD. Mereka termasuk anak perkotaan yang perlu untuk belajar dari ritme hidup dan kearifan lokal masyarakat desa. Kehidupan dan kearifan budaya warga desa dianggap masih alami dan belum tergerus arus globalisasi. Beberapa desa yang menjadi tempat live in adalah Balong, Tetes, Samigaluh, Barasan, dan Kagok. Desa-desa ini menjadi tempat ngenger bagi peserta selama 4 hari, mulai dari tanggal 26-30 Agustus 2018. Seluruh desa tersebut berada di puncak perbukitan Menoreh, Jawa Tengah yang memiliki bentang alam yang indah dan alami. Secara khusus desa ini termasuk dalam wilayah Paroki Boro. Wilayah tersebut memiliki kontur jalan menanjak dan menurun yang tajam, beberapa jalan desa masih tanah berbatu dan disemen secara sederhana dari swadaya warga desa, jarak antar rumah cenderung jauh, dan penerangan yang kurang memadai pada waktu malam. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi peserta didik dan para pembimbing. Program live in semakin menantang bagi peserta didik karena bertepatan dengan musim kemarau sehingga wilayah tersebut dilanda kekeringan, air menjadi sangat sulit didapatkan. Melalui keadaan ini diharapkan peserta didik belajar dan memetik makna yang baik dari keterbatasan tersebut sehingga mereka sadar untuk lebih hemat air. Romo Harris, OSC yang memimpin perayaan ekaristi pembukaan live in mendoakan agar Tuhan selalu memberikan perlindungan dan bimibingan dari Roh Kudus selama mengikuti program live in. Ia berharap agar peserta didik mau terbuka belajar dari kesederhanaan dan kearifan lokal yang ada, serta tidak mengeluh dan selalu bergembira menjalankan program ini.
Selengkapnya
Seleksi Super Ketat Calon Anggota Service Team International Ursuline Youth Camp
Posted: 2018-05-23 | By: Hieronymus Y.P.
SMP dan SMA Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan seleksi yang ketat selama beberapa tahap bagi para peserta didik yang mendaftarkan diri menjadi calon anggota service team International Ursuline Youth Camp. Menurut Ibu Lisianawati, “Seleksi anggota service team dilakukan secara ketat karena para anggota service team akan memimpin jalannya acara International Ursuline Youth Camp pada bulan Agustus mendatang di Gunung Geulis, Sentul.” Tahap pertama dilakukan pada bulan Maret di sekolah. Tahap pertama calon anggota diberikan tantangan kecekatan, kedisiplinan dan kepekaan, karena pada minggu-minggu tersebut akan ada waktu mereka harus berkumpul tepat waktu dan dengan atribut yang lengkap di lapangan sekolah. Mereka harus selalu sigap mendengar alarm stealing berupa peluit dari panitia seleksi. Alarm stealing sewaktu-waktu dibunyikan pada jam istirahat. Pada tahap ini mereka juga diberikan tantangan untuk membawa perlengkapan lengkap yang diinstruksikan oleh panitia seleksi sehari sebelumnya atau melalui papan pengumuman yang ada. Pada tahap ini juga mereka harus menjalani kegiatan seleksi fisik dan mental yang diselenggarakan sepulang sekolah, melalui kegiatan persiapan baris-berbaris, dinamika kelompok, dan fisik seperti ,push-up, sit-up, squad, dll. Sedangkap pada bulan April dilakukan seleksi tahap kedua. Panitia seleksi menyiapkan mereka untuk menginap sehari-semalam di sekolah, dengan perlengkapan yang lengkap dan mengikuti kegiatan yang jauh lebih menantang dan berat, baik secara fisik dan mental. Dinamika kelompok, pelatihan fisik dan mental, problem solving dan alarm stealing juga tetap diselenggarakan. Alarm stealing juga dibunyikan pada pagi-pagi buta pada tahap ini. Menurut bapak Hari, “Alarm Stealing ini digunakan untuk melatih para calon anggota service team agar peka, sigap dan cekatan jika sewaktu-waktu ada kejadian darurat pada acara yang sebenarnya”. Selain itu ada kegiatan problem solving. Kegiatan ini diberikan agar peserta calon service team dapat menghadapi masalah dengan cara yang tepat dan menemukan cara dengan penalaran logis untuk mengatasinya. Sedangkan tahap ketiga dilakukan di Offroad Race The Icon BSD pada minggu pagi tanggal 1 Mei 2018, pukul 06.00 sampai pukul 10.30. Pada tahap ini calon anggota service team diminta untuk datang tepat waktu pada tempat yang ditentukan dengan berjalan kaki. Lokasi antar-jemput bagi orang tua tidak boleh kurang dari 1 kilometer dari tempat kegiatan. Pada tahap ini peserta didik calon anggota service team tetap bersemangat dan datang tepat waktu walaupun kegiatan diselenggarakan pada hari libur sekalipun. Melalui serangkaian tahapan seleksi tersebut dari 169 peserta calon anggota service team yang mendaftar pada akhirnya hanya tersisa 94 peserta didik anggota service team yang terpilih dan untuk seterusnya diberikan pemantapan di Bumi Perkemahan Cisauk pada tanggal 25-26 Mei 2018 nanti dan Gunung Geulis pada bulan Juli mendatang
Selengkapnya