Pengalaman Live In di Kulon Progo - Yogyakarta
Posted: 2018-10-04 | By: Anastasia P. M dan Chionia Karitas / XII IPB
Bagaimana rasanya hidup di desa? Pertanyaan serupa barangkali sering kali terlintas di benak kita. Tampaknya kehidupan di desa terlihat baik-baik saja, berkebalikan dengan kehidupan yang kita jalani di kota? Asap-asap kendaraan yang menganggu pernafasan, tugas sekolah yang selalu ada setiap hari, dan rutinitas yang biasa-biasa saja terkadang membuat kita berharap kita lahir di desa daripada di kota. Padahal, segala sesuatunya lebih tersedia dan mudah diakses di kota. Ternyata, SMA Santa Ursula BSD memberikan kami, angkatan ke-21, kesempatan untuk menjalani kehidupan yang 180° berbeda selama satu minggu di Kulon Progo, Yogyakarta. Perjalanan ini disebut dengan kegiatan Live In yang diselenggarakan pada tanggal 25 hingga 31 Agustus 2018. Pada siang hari, kami semua berkumpul dan bersama-sama menaiki bus yang akan membawa kami ke Yogyakarta. Ada lima desa utama yang menjadi lokasi berlangsungnya Live In, diantaranya Samigaluh, Balong, Tetes, Kagok, dan Bangun Rejo. Sebanyak 153 peserta didik mengikuti kegiatan ini, ditambah dua tenaga pendidik sebagai pendamping untuk setiap kelompok kecil yang terdiri atas 16-20 orang. Satu per satu, kelompok kecil itu berangkat menuju wilayah masing-masing menggunakan bus mini atau truk kuning. Ketika semuanya sudah tiba, setiap pasangan diperkenalkan kepada keluarga asuhnya dan kegiatan Live In pun dimulai. Selama tinggal di desa, kami diharuskan untuk mengikuti segala kegiatan keluarga asuh kami. Ada keluarga petani, peternak, pengrajin, pedagang, dan masih banyak yang lainnya. Namun, jika mendapatkan keluarga yang tidak bekerja, maka pekerjaan setiap hari hanyalah memasak, mencuci, mandi, makan dan tidur. Pengalaman ini mengajarkan kami bahwa tidak mengerjakan apa-apa justru lebih melelahkan daripada bekerja.   Di desa, rasa persaudaraan antara satu orang dengan yang lainnya sangatlah erat. Jarang sekali terjadi konflik. Rasa syukur terhadap apa yang mereka punyai juga sangat terlihat. Kita yang hidup di perkotaan sering kali lupa akan rasa syukur itu, menginginkan semua secara berlebihan. Rasa tidak menghargai kepunyaan kita itu tumbuh dalam diri kita. Satu minggu tinggal di desa menyadarkan kami semua agar selalu bersyukur atas kehidupan yang kami miliki. Sangat banyak hal penting yang bisa dipetik dari kegiatan ini. Semua pelajaran itu hanya akan didapatkan jika kita memaknai pengalaman Live In dengan sungguh-sungguh.
Selengkapnya
ANALISA DATA NILAI UJIAN NASIONAL SMA TAHUN 2018 PROVINSI BANTEN
Posted: 2018-09-14 | By: Evelin, Siska, Andi
Nilai rata-rata hasil Ujian Nasional (UN) SMA Santa Ursula BSD di Provinsi Banten menunjukkan nilai yang sangat memuaskan baik pada program IPA, IPS dan Bahasa. SMA Santa Ursula BSD mendapat peringkat I di semua program jurusan. Nilai rata-rata Program IPA sebesar 85,81. Nilai rata-rata Program IPS sebesar 83,08, dan nilai rata-rata Program Bahasa sebesar 81,86. Program IPA, sebanyak 3 orang peserta didik mendapatkan jumlah nilai Ujian Nasional tertinggi, yaitu Erica Mandy (376,00) peringkat ke-5, Veronica Shieny (368,50) peringkat ke-21, dan Theofilia Lucia Merlim (368,00) peringkat ke-26. Peserta didik program IPA yang mendapatkan nilai tertinggi (100) untuk Bidang Studi Matematika sebanyak 3 orang dari 24 peserta dengan nilai tertinggi. Bidang Studi Fisika sebanyak 1 orang dari 13 peserta. Bidang Studi Kimia sebanyak 4 orang dari 18 peserta, dan Bidang Studi Biologi sebanyak 2 orang dari 10 peserta. Program IPS, sebanyak 11 orang peserta didik mendapatkan jumlah nilai Ujian Nasional tertinggi, yaitu Patrick Richard Surya (368,50) peringkat ke-1, Jacinta Elia Sugandi (368,50) peringkat ke-2, Samuel Aristo Jaya (362,50) peringkat ke-5, Ronaldo Oetomo (359,50) peringkat ke-7, Brigieth  Rungo Rata (359,00) peringkat ke-8, Nadya Emmanuella Geraldine (359,00) peringkat ke-9, Fricilia Angela (354,50) peringkat ke-17, Hananeel Bonita (354,00) peringkat ke-20, Erika (352,50) peringkat ke-24, Michael Sugiarta (352,00) peringkat ke-26, dan Febricio Gweeman Bonaventura (352,00) peringkat ke-27. Peserta didik program IPS yang mendapatkan nilai tertinggi (100) untuk Bidang Studi Matematika sebanyak 2 orang dari 4 peserta dengan nilai tertinggi. Program Bahasa, sebanyak 12 orang peserta didik mendapatkan jumlah nilai Ujian Nasional tertinggi, yaitu Claretta Putri Natasha (377,50) peringkat ke-1,  Monika Leonita (362,00) peringkat ke-2,  Devina Amanda (361,00) peringkat ke-3, Olivia Tjahjadi (355,00) peringkat ke-5, Albertus Gabriel (352,50) peringkat ke-6, Fiore Maheswari Danitta (348,50) peringkat ke-9, Elsa Gabriela (347,00) peringkat ke-10, Vinny Lionita (345,50) peringkat ke-12, Andreas Yogi Brata (340,00) peringkat ke-13, Gwyneth Andiani (335,50) peringkat ke-18, Renee Ravintya (333,50) peringkat ke-19, dan Gabrielle Affandy (321,50) peringkat ke-23. Peserta didik program Bahasa yang mendapatkan nilai tertinggi (100) untuk Bidang Studi Matematika sebanyak 3 orang dari 3 peserta dengan nilai tertinggi. Bidang Studi Bahasa Asing sebanyak 1 orang dari 4 peserta. Selamat dan Sukses atas keberhasilan peserta didik dalam Ujian Nasional 2018 !
Selengkapnya
LIVE IN KELAS XII SMA SANTA URSULA BSD
KULON PROGO
Posted: 2018-09-03 | By: L.M Sudartanti Purworini, Hieronymus Yuwan Pratama
Kamipun pulang dan beristirahat Di kamar aku merenung Betapa bedanya kehidupan orang kota dan desa Ramah dan kesederhanaan terpampang jelas Rumah yang sederhana Orang yang sederhana Sepenggal ayat puisi berjudul “Arti Dari Kata Sederhana” karya Wynonna siswi kelas XII IPA 1 ini merefleksikan makna program live in Santa Ursula BSD bagi dirinya. SMA Santa Ursula BSD percaya bahwa melalui program yang sudah dipersiapkan ini, peserta didik akan belajar secara langsung tidak hanya teori dan nilai yang terjadi dalam kelas saja. Sekolah percaya bahwa desa akan menjadi laboratorium hidup bagi peserta didik, jika persiapan, proses dan evaluasinya dilaksanakan dengan baik. Program memang menjadi bagian penting untuk mengembangkan peserta didik menjadi pribadi yang utuh, cerdas dan mau melayani, sesuai visi dan misi sekolah. Pada tahun 2018 ini, Kulon Progo sekali lagi menjadi tempat bagi peserta didik kelas XII SMA Santa Ursula BSD untuk menjalankan program live in. Kawasan Kulon Progo dianggap representatif bagi proses belajar peserta didik SMA Santa Ursula BSD. Mereka termasuk anak perkotaan yang perlu untuk belajar dari ritme hidup dan kearifan lokal masyarakat desa. Kehidupan dan kearifan budaya warga desa dianggap masih alami dan belum tergerus arus globalisasi. Beberapa desa yang menjadi tempat live in adalah Balong, Tetes, Samigaluh, Barasan, dan Kagok. Desa-desa ini menjadi tempat ngenger bagi peserta selama 4 hari, mulai dari tanggal 26-30 Agustus 2018. Seluruh desa tersebut berada di puncak perbukitan Menoreh, Jawa Tengah yang memiliki bentang alam yang indah dan alami. Secara khusus desa ini termasuk dalam wilayah Paroki Boro. Wilayah tersebut memiliki kontur jalan menanjak dan menurun yang tajam, beberapa jalan desa masih tanah berbatu dan disemen secara sederhana dari swadaya warga desa, jarak antar rumah cenderung jauh, dan penerangan yang kurang memadai pada waktu malam. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi peserta didik dan para pembimbing. Program live in semakin menantang bagi peserta didik karena bertepatan dengan musim kemarau sehingga wilayah tersebut dilanda kekeringan, air menjadi sangat sulit didapatkan. Melalui keadaan ini diharapkan peserta didik belajar dan memetik makna yang baik dari keterbatasan tersebut sehingga mereka sadar untuk lebih hemat air. Romo Harris, OSC yang memimpin perayaan ekaristi pembukaan live in mendoakan agar Tuhan selalu memberikan perlindungan dan bimibingan dari Roh Kudus selama mengikuti program live in. Ia berharap agar peserta didik mau terbuka belajar dari kesederhanaan dan kearifan lokal yang ada, serta tidak mengeluh dan selalu bergembira menjalankan program ini.
Selengkapnya
Seleksi Super Ketat Calon Anggota Service Team International Ursuline Youth Camp
Posted: 2018-05-23 | By: Hieronymus Y.P.
SMP dan SMA Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan seleksi yang ketat selama beberapa tahap bagi para peserta didik yang mendaftarkan diri menjadi calon anggota service team International Ursuline Youth Camp. Menurut Ibu Lisianawati, “Seleksi anggota service team dilakukan secara ketat karena para anggota service team akan memimpin jalannya acara International Ursuline Youth Camp pada bulan Agustus mendatang di Gunung Geulis, Sentul.” Tahap pertama dilakukan pada bulan Maret di sekolah. Tahap pertama calon anggota diberikan tantangan kecekatan, kedisiplinan dan kepekaan, karena pada minggu-minggu tersebut akan ada waktu mereka harus berkumpul tepat waktu dan dengan atribut yang lengkap di lapangan sekolah. Mereka harus selalu sigap mendengar alarm stealing berupa peluit dari panitia seleksi. Alarm stealing sewaktu-waktu dibunyikan pada jam istirahat. Pada tahap ini mereka juga diberikan tantangan untuk membawa perlengkapan lengkap yang diinstruksikan oleh panitia seleksi sehari sebelumnya atau melalui papan pengumuman yang ada. Pada tahap ini juga mereka harus menjalani kegiatan seleksi fisik dan mental yang diselenggarakan sepulang sekolah, melalui kegiatan persiapan baris-berbaris, dinamika kelompok, dan fisik seperti ,push-up, sit-up, squad, dll. Sedangkap pada bulan April dilakukan seleksi tahap kedua. Panitia seleksi menyiapkan mereka untuk menginap sehari-semalam di sekolah, dengan perlengkapan yang lengkap dan mengikuti kegiatan yang jauh lebih menantang dan berat, baik secara fisik dan mental. Dinamika kelompok, pelatihan fisik dan mental, problem solving dan alarm stealing juga tetap diselenggarakan. Alarm stealing juga dibunyikan pada pagi-pagi buta pada tahap ini. Menurut bapak Hari, “Alarm Stealing ini digunakan untuk melatih para calon anggota service team agar peka, sigap dan cekatan jika sewaktu-waktu ada kejadian darurat pada acara yang sebenarnya”. Selain itu ada kegiatan problem solving. Kegiatan ini diberikan agar peserta calon service team dapat menghadapi masalah dengan cara yang tepat dan menemukan cara dengan penalaran logis untuk mengatasinya. Sedangkan tahap ketiga dilakukan di Offroad Race The Icon BSD pada minggu pagi tanggal 1 Mei 2018, pukul 06.00 sampai pukul 10.30. Pada tahap ini calon anggota service team diminta untuk datang tepat waktu pada tempat yang ditentukan dengan berjalan kaki. Lokasi antar-jemput bagi orang tua tidak boleh kurang dari 1 kilometer dari tempat kegiatan. Pada tahap ini peserta didik calon anggota service team tetap bersemangat dan datang tepat waktu walaupun kegiatan diselenggarakan pada hari libur sekalipun. Melalui serangkaian tahapan seleksi tersebut dari 169 peserta calon anggota service team yang mendaftar pada akhirnya hanya tersisa 94 peserta didik anggota service team yang terpilih dan untuk seterusnya diberikan pemantapan di Bumi Perkemahan Cisauk pada tanggal 25-26 Mei 2018 nanti dan Gunung Geulis pada bulan Juli mendatang
Selengkapnya
Diskusi Pancasila 2017
Posted: 2018-01-16 | By: (Anastasia Patricia Mendrofa / XI-IPB)
Belakangan ini, Pancasila sedang ditantang. Untuk menyikapi hal tersebut, SMA Santa Ursula BSD mengundang sebanyak tiga narasumber dalam forum diskusi yang dilaksanakan pada hari Kamis, 12 Oktober 2017. Ketiga narasumber ini adalah Asvi Warman Adam, Franz Magnis-Suseno, dan Nugie. Masing-masing narasumber membahas mengenai Pancasila sesuai dengan bidang keahliannya. Acara diskusi ini diikuti oleh seluruh peserta didik kelas XII dan beberapa peserta didik dari kelas XI dan X serta seluruh  tenaga pendidik SMA. Asvi Warman Adam memulai diskusi dengan menjelaskan secara ringkas mengenai sejarah kelahiran Pancasila. Pada mulanya, muncul rumusan ideologi bangsa, hingga akhirnya pada tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno pertama kali menyebut rumusan tersebut dengan nama “Pancasila” dalam pidatonya. Salah satu hari nasional yang berhubungan dengan Pancasila adalah pada tanggal 1 Oktober, yaitu Hari Kesaktian Pancasila. Namun, hari nasional ini menjadi hari peringatan untuk kejadian 30 September 1965 yang menewaskan tujuh jenderal dan ribuan korban yang dituduh sebagai PKI.Franz Magnis-Suseno lalu menjelaskan mengenai Pancasila di zaman sekarang. Menurut beliau, ideologi negara Indonesia ditantang pada kasus Ahok yang terjadi bulan Juni lalu. Fundamentalisme agama mulai bermunculan dan menentang Pancasila dengan cara ingin mengubah Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi negara berlandaskan agama Islam. Padahal, teks Sumpah Pemuda pada tahun 1928 hendak mempertahankan kemajemukan yang dimiliki oleh Indonesia. Pancasila hanya dapat dipertahankan apabila semua orang saling menerima perbedaan masing-masing sehingga terciptalah kedamaian. Nugie, sebagai narasumber terakhir, mengawali pendapatnya dengan memutar lagu bertajuk “Indonesia Pemimpin Dunia”. Beliau bercerita mengenai pengalamannya pergi ke Aceh dengan penduduk mayoritas beragama Islam. Nugie berdoa sesuai dengan ajaran agamanya, tetapi masyarakat Aceh tidak mempermasalahkan hal tersebut. Media mainstream-lah yang mencitrakan mereka berbeda dan membentuk stereotip yang salah. Untuk dapat merasakan makna Pancasila, maka kita harus merasa bangga terhadap negara terlebih dahulu.Forum diskusi ini mengajak semua peserta didik sebagai generasi yang akan meneruskan keberlangsungan Indonesia, untuk terus mempertahankan kebinekaan bangsa. Perbedaan jangan memisahkan kita, tetapi justru melengkapkan.
Selengkapnya
Outward Bound: Belajar Bersama Alam
Posted: 2018-01-16 | By: (Jesslyn XI IPS 3 dan Tiara XI IPB)
A ship is safe in harbor but that’s not what ships are built for. Sebuah perkataan dari John A. Shedd menjadi semangat 150 siswa kelas XI SMA Santa Ursula BSD yang mengikuti kegiatan Outward Bound Indonesia tahun 2017. Dipisah menjadi dua gelombang, gelombang pertama dengan 65 peserta didik dan guru-guru berangkat pada 06.00 dini hari menuju OBI Eco Campus di Waduk Jatiluhur, Purwakarta. Kegiatan ini berjalan selama 6 hari dimana bagi gelombang satu berlangsung pada tanggal 2-7 Oktober disusul dengan gelombang 2 pada tanggal 9-14 Oktober. “Hari yang dinanti pun tiba, perasaan senang, sedih, antusias, dan takut pun bercampur menjadi satu.” Saat tiba di Jatiluhur seluruh peserta berkumpul di Great Hall Outward Bound Indonesia. Di sana diperkenalkanlah setiap instruktur dan divisi yang akan bekerja bersama. Selama 6 hari perjalanan, seluruh peserta yaitu siswa dan guru dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil beranggotakan 12-13 orang yang didampingi oleh 2-3 pendamping. Enam hari di Waduk Jatiluhur dipenuhi dengan berbagai kegiatan seperti canoeing, rafting, hiking, dan solo night. Hari pertama dihabiskan untuk menumbuhkan kepercayaan dan kerjasama dalam kelompok dengan bermain outbound. Di dalam kegiatan high ropes, peserta saling membantu untuk melewati rintangan, lalu dilanjutkan dengan canoeing. Kegiatan kedua adalah hiking. Dengan beban tas ransel yang diisi tenda, peralatan masak, bahan makanan, pakaian, dan barang-barang pribadi, peserta harus mencari koordinat untuk sampai di pintu gerbang pendakian lalu mendaki ke puncak gunung. “Saat hiking, kami sangat merasa lelah dengan beban yang begitu berat dan harus berjalan menanjak dengan kontur jalan yang tidak beraturan disertai guyuran hujan yang membuat kami sering terpeleset jatuh,” ujar salah satu peserta. Di puncak, peserta dapat menikmati pemandangan 700 meter di atas permukaan laut. Hari berikutnya dimulai dengan kegiatan canoeing, dimana peserta akan mendayung canoe untuk mencapai 4 titik koordinat yang telah ditentukan. Kegiatan yang tidak kalah seru dengan kegiatan lain adalah merakit. Peserta diminta untuk membuat sebuah rakit dari drum dan tongkat bambu. Dengan rakit yang dibuat, peserta harus bekerja sama dalam kelompok untuk mendayung rakit tersebut ke sebuah titik koordinat. Berbeda dengan kegiatan lainnya, kegiatan terakhir ini dilakukan secara pribadi, yaitu solo night. Pada malam terakhir dilaksanakan kegiatan solo night di mana setiap peserta menghabiskan satu malam mulai dari membuat tenda dan tidur menggunakan alas tidur di alam terbuka serta beratapkan jas hujan.Enam hari keluar dari kebiasaan dan kegiatan sehari-hari di sekolah dan terjun ke alam bebas telah menjadi memori dan pengalaman tak terlupakan. Alam menjadi guru yang telah mengajarkan banyak hal bagi peserta, mulai dari belajar keluar dari zona nyaman, berpikir positif, kerjasama, daya juang dan masih banyak lagi hal yang tentu didapatkan oleh peserta kegiatan Outward Bound Indonesia.
Selengkapnya
Kunjungan Mother Cecilia Wang
Posted: 2017-10-18 | By: Redaksi Bukit
Pada hari Sabtu, 2 September 2017, adalah sebuah momen kebanggaan bagi sekolah Santa Ursula BSD. Pada hari ini, sekolah kami menerima menerima kunjungan dari Pimpinan Tertinggi Ursulin di Roma, Mother Cecilia Wang. Sekitar jam 08.00 pagi, rombongan tamu telah sampai di area sekolah Santa Ursula BSD. Rombongan tersebut segera disambut Suster Francesco dan para kepala sekolah. Saat tiba di kampus, rombongan Mother Cecilia Wang disambut oleh alunan dari Gamelan Bali. Sambil berjalan menuju TK, mereka juga menikmati alunan lagu dari alat musik Angklung dan Kolintang. Di setiap penampilan tersebut, baik alat musik maupun lagu yang dimainkan, dijelaskan dalam Bahasa Inggris.Sesampainya di TB-TK, mereka disambut oleh penampilan dari paduan suara TK. Suara tepuk tangan terdengar ketika lagu “Seven Habit” mengakhiri penampilan paduan suara TK. Beberapa peserta didik TK B kemudian mengajak Mother Cecilia Wang, OSU dan Suster Mary Therese, OSU untuk mengelilingi area TK sambil menjelaskan tentang program The Leader in Me. Seusai tur di TK, para tamu segera diarahkan menuju auditorium untuk menyaksikan pertunjukkan paduan suara Septem Stellarum.Dari sana, mereka menuju unit SD menggunakan mobil untuk melihat penampilan dari alat musik tradisional Degung dan tur ke taman IPA. Perjalanan para tamu diakhiri di area SMP dan SMA dimana mereka disambut dengan penampilan pencak silat dan membatik. Setelah tur singkat ke perpustakaan SMP- SMA, Mother Cecilia Wang, OSU dan Suster Mary Therese, OSU menikmati makan siang dengan makanan tradisional Indonesia, Nasi Tumpeng dengan diiringi alunan lagu keroncong oleh beberapa tenaga pendidik. Sungguh pengalaman yang sangat membanggakan bagi kami semua!
Selengkapnya
Pameran Pendidikan Santa Ursula BSD 2017
Posted: 2017-10-18 | By: Veronica Lestari
Pameran pendidikan adalah salah satu acara yang diadakan setiap tahunnya oleh sekolah Santa Ursula BSD. Tahun ini Pameran Pendidikan Santa Ursula BSD atau PPSU mengambil tema ‘Facing The Disruption Era’. Acara ini diadakan pada hari Sabtu, 16 September 2017. Ada lebih dari 40 perguruan tinggi negeri, swasta dan luar negeri seperti Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), LSPR, Trisakti, Kyushu University, NAFA dan masih banyak lagi. Acara ini diawali dengan tari kolosal dari peserta didik dan tenaga pendidik pada pukul 08.00 yang dilanjutkan dengan pidato singkat oleh Ibu Anik selaku Kepala Sekolah.Di pameran pendidikan ini peserta didik dapat langsung melakukan tanya-jawab dengan perwakilan dari kampus yang mereka minati. Salah satu universitas yaitu Ottimo Internasional memberikan semacam demo masak dan hasil masakan yang dapat dicicipi oleh para pengunjung. Tak hanya menghadirkan universitas, pameran pendidikan juga menghadirkan agen pendidikan. Untuk memfasilitasi peserta didik yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai universitas yang mereka minati, ada sesi presentasi setiap setengah jam di tiga ruangan yang sudah disiapkan sebelumnya. Tahun ini, hadir pula seorang motivator perempuan, Merry Riana untuk mengisi acara motivational class yang dilakukan di aula sekolah. Sebelum masuk ke dalam area pameran, pengunjung akan disapa dan diberikan flyer oleh penerima tamu. Beberapa stand makanan dan minuman yang memenuhi hall SMP-SMA disediakan untuk pengunjung yang sudah lelah berkeliling. Yang paling menyenangkan adalah adanya seksi radio yang memberikan informasi dan memainkan lagu-lagu. Acara yang berlangsung selama kurang lebih 7 jam ini, ditutup oleh penampilan band anak kelas X. Sekitar 1300 pengunjung hadir pada pameran pendidikan tahun ini.
Selengkapnya
Bazaar Aussi 2017
Posted: 2017-10-18 | By: Elisabet, Veronica Lestari, Joseph Kristanto, dan
Bazaar Aussi kembali diselenggarakan tahun ini di Santa Ursula BSD pada hari Sabtu, 9 September 2017. Tujuan dari acara ini adalah menggalang dana untuk renovasi Panti Werdha milik Aussi. Acara yang dimulai pukul 07.00 ini memiliki rangkaian acara yang beragam, seperti karnaval untuk peserta didik TB-TK dan SD, berbagai macam permainan, stand aksesoris dan makanan, undian behadiah, dan lainnya. Banyak alumni Sekolah Ursulin juga turut berpartisipasi dalam terselenggaranya Bazaar Aussi. Acara ini dibuka tepat pada pukul 08.00 pagi dengan kata sambutan dari ketua panitia Bazaar Aussi. Setelah itu, peserta didik TB-TK dan SD memulai parade karnaval dengan menggunakan pakaian daur ulang yang diiringi oleh alunan megah dari musik gamelan bali. Kurang lebih ada 131 peserta didik yang mengikuti acara karnaval ini. Kostum yang mereka gunakan dibuat dari bahan daur ulang yang beraneka ragam, seperti plastik, bungkus makanan, daun, dan bahan-bahan lain. Parade karnaval ini berlangsung di sepanjang jalan di depan gedung SMP-SMA sampai dengan gedung TB-TK dan diakhiri dengan fashion show.Sementara itu, di selasar SMP dan SMA Santa Ursula BSD berdirilah stand makanan dan minuman yang berderet dengan rapi sehingga setiap pengunjung dapat berkeliling lalu makan sambil duduk di kursi serta meja yang sudah disediakan di tengah lapangan. Jika para pengunjung tidak ingin lelah mengantri, terdapat buku menu yang disediakan di setiap meja. Pelayan dari setiap meja yang adalah peserta didik SMA Santa Ursula BSD, selalu siap sedia menulis pesanan makanan dan minuman yang ingin dibeli pengunjung. Pesanan yang sudah selesai dibuat langsung diantarkan ke meja masing-masing.Berbeda dengan bazaar di gedung SMP dan SMA Santa Ursula BSD yang dikoordinasi oleh peserta didik SMA, peserta didik SMP Santa Ursula BSD bertanggung jawab untuk stand permainan yang berlangsung di beberapa kelas serta hall SD Santa Ursula BSD. Berbagai permainan yang ditawarkan seluruhnya merupakan hasil ide kreatif peserta didik SMP Santa Ursula BSD yang dipersiapkan dengan baik. Tidak hanya permainan saja yang ditawarkan, terdapat beberapa kelas juga yang menawarkan photo booth yang didesain dengan berbagai tema yang unik. Setiap pengunjung yang telah selesai bermain dan berhasil meraih beberapa poin akan mendapat hadiah sesuai ketentuan hasil poin yang diperoleh. Semakin besar poin yang dicetak, maka hadiah yang dapat diperoleh pun semakin menarik.Selain itu, dijual pula kupon undian sebesar Rp 10.000,00 untuk setiap kuponnya. Pengundian dilakukan pada pukul 13.00. Banyak hadiah yang ditawarkan, seperti televisi, lemari es, mesin cuci, dan lain-lain. Hasil penjualan kupon undian akan digunakan untuk membantu renovasi Panti Werdha AUSSI Kusuma Lestari. Akan tetapi setiap awal pasti punya akhir. Begitu pula dengan bazaar ini. Bazaar yang berlangsung sejak pukul 08.00 pagi ini pun akhirnya diakhiri pada pukul 17.00.
Selengkapnya
Pembekalan Rohani Lifeteen
Posted: 2016-09-08 | By: (Nabilla XI-IPS1, Fransisca & Alexandra Aulianta X
Di usia remaja, kita pasti menemukan berbagai situasi yang membuat kita merasa bingung dan ragu. Padahal, banyak hal yang harus kita pilih pada usia tersebut, dan keputusan-keputusan tersebut akan berdampak pada masa depan kita. Untuk mempersiapkan para siswanya, masa orientasi siswa di SMA Santa Ursula tahun ini diisi dengan berbagai kegiatan, dan salah satu kegiatannya ialah Lifeteen. Dalam kegiatan ini, siswa-siswi kelas X, XI, dan XII mendapatkan wawasan baru mengenai realita di dunia dengan latar belakang agama Katolik. Kegiatan yang baru pertama kali diadakan ini meliputi ice breaking, kesaksian, serta forum diskusi yang memutar otak dan mengasah kemampuan berbicara di depan umum. Kegiatan ini berlangsung mulai dari Kamis, 21 Juli 2016 sampai Sabtu, 23 Juli 2016 dan bertempatan di Aula SMP-SMA Santa Ursula BSD. Siswa siswi kelas XI merupakan angkatan pertama yang mendapatkan Lifeteen. Tema yang diangkat adalah Truth. Selama proses seminar, siswa-siswi kelas XI diberikan lima pertanyaan dan pertanyaan tersebut harus didiskusikan di dalam kelompok. Diskusi berjalan dengan seru saat siswa-siswi dituntut untuk memberikan pendapat mereka tentang hal-hal seperti pernikahan beda agama, batas-batas pacaran yang benar, pernikahan sesama jenis, aborsi, dan kebenaran dalam gereja. Meskipun topik-topik yang di angkat cukup berat, namun kebanyakan siswa menikmatinya. “Menyenangkan khususnya saat kami berdiskusi tentang isu-isu sosial akhir-akhir ini,” ujar Mandy (XI IPB). Tema yang diangkat di seminar untuk kelas XII adalah Life Mission. Tema ini memang krusial, mengingat para siswa di kelas XII sebentar lagi akan lulus, dan mereka harus mengetahui apa tujuan hidup mereka serta bagaimana caranya untuk berkarya di masyarakat. Pada one-way seminar ini, siswa dapat bertanya pada fasilitator tentang berbagai hal atau sekadar sharing. Seminar tersebut berlangsung dari pukul 08.00 hingga pukul 12.00. Siswa disadarkan bahwa pekerjaan yang akan dijalani di masa depan tak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk Tuhan dan masyarakat. “Saya merasa termotivasi untuk lebih semangat mengejar cita-cita saya. Karena dari awal saya ingin melayani Tuhan dan bermanfaat bagi sesama,” ucap Devin Ardisa, salah satu siswa kelas XII. Hari ketiga Lifeteen merupakan giliran siswa siswi kelas X. Pada awal kegiatan, antusiasme mereka dipacu dengan nyanyian serta tarian. Selanjutnya dimulai sesi pembicaraan dengan topik-topik yang menarik dan dekat dengan remaja, seperti menjalankan tugas sebagai laki-laki dan perempuan dan menemukan kebahagian. Pada sesi-sesi tersebut, mereka juga dimotivasi untuk dekat dengan Tuhan dalam menghadapi godaan duniawi. Dilengkapi dengan sesi tanya jawab, siswa-siswi juga diberikan kesempatan untuk menyatakan pendapat serta bertanya. Banyak dari siswa-siswi kelas X yang merasa menjadi lebih dekat dengan Tuhan. “Saya belajar bahwa kebahagiaan itu bukan hanya dengan kesenangan seperti bermain games, membeli barang yang diinginkan, dan sebagainya. Tetapi, dengan berdamai kepada diri sendiri dan juga mendekatkan diri dengan Tuhan maka saya akan dapat mendapatkan kebahagiaan.” ujar Deno dari XD. Sebagai bagian dari acara, Camp Lifeteen diadakan pada tanggal 18-21 Juli (4 hari, 3 malam). Peserta kegiatan yang diadakan di Rizen Kedaton, Gunung Geulis, Bogor, Jawa Barat ini adalah 15 orang anggota prakar beragama katolik yang telah dipilih oleh Suster Francesco Marianti OSU. Camp ini mengusung tema yang berbeda dari seminar yang diadakan di sekolah, yaitu Breakthrough. Para peserta mengaku mendapatkan banyak nilai hidup dari games yang mereka mainkan di camp tersebut, misalnya kerjasama dan penghargaan. Mereka menjadi termotivasi dan memiliki tujuan hidup yang lebih jelas, serta lebih dewasa. Berbeda dengan para peserta seminar, para peserta camp menyatakan bahwa acara camping ini lebih menarik, berkelanjutan dan mendalam mengenai pengolahan diri. Selain SMA Santa Ursula BSD, ada beberapa sekolah dan paroki lain yang mengikuti camp ini, seperti Paroki Regina Caeli PIK, Maria Bunda Karmel, St. Laurensia, Santa Ursula Jalan Pos, dan sebagainya. Tapi hal itu justru membuat para peserta mendapat teman baru dan dapat berbaur. Menurut para peserta, kegiatan ini adalah pengalaman yang sangat berharga dalam hidup mereka.
Selengkapnya
SOLIDARITAS DALAM PENYEGARAN OBI
Posted: 2016-05-19 | By: Sabrina/XI.IPS 3
Kamis-Jumat, 28 - 29 April 2016, peserta didik kelas XI SMA Santa Ursula BSD mengikuti kegiatan penyegaran Outward Bound Indonesia (OBI ) sebagai kelanjutan dari kegiatan OBI yang telah dilakukan pada bulan Oktober 2015 didampingi dan difasilitasi langsung oleh Tim Instrutruktur dari OBI.  Kegiatan ini dilakukan sebagai follow up dan untuk mengingat semangat dan kerjasama yangtelah dibangun selama 6 hari di Jatiluhur.  Semangat dan kerjasama itu akan kembali di uji dalam berbagai bentuk dinamika dan permainan di dalam kelompok kecil yang terdiri dari 14 peserta didik  di dampingi oleh satu orang instruktur dari OBI.Sebelum kegiatan dimulai diawali dengan pemanasan terlebih dahulu secara bersama-sama. Terdapat 6 games antara lain : All Stand Up , Benang Kusut , Willow In The Win, Trust Lift , Traffic Jam dan Bola Toleransi.  Tidak seperti permainan pada umumnya, dibalik setiap permainan–permainan yang menyenangkan tersebut mengandung banyak nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari– hari.  Misalnya dalam permainan Benang Kusut, peserta didik yang berada di kelompok kecil membentuk lingkaran dan saling bergandengan tangan kanan dengan tangan kiri peserta didik lainnya selain yang berada disampingnya.  Setelah semua tangan berpasangan dan membentuk ikatan rumit, peserta didik diminta untuk menguraikannya kembali menjadi sebuah lingkaran tetapi gandengan tangan yang saling terikat tidak boleh terputus.  Dalam permainan tersebut, peserta didik belajar untuk bersabar dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi suatu masalah karena ketika tidak sabar maka masalah tersebut akan lebih rumit dan tidak bisa diselesaikan dengan cepat.  Selain itu melalui permainan lainnya, peserta didik dilatih untuk mampu  bekerjasama, berkomunikasi dengan efektif , suportif , percaya pada orang lain dan masih banyak lagi.Kegiatan yang diawali pukul 7.00 WIB ini diakhiri pada pukul 14.30 WIB dengan suatu proyek besar yaitu membuat suatu wadah mobilisasi untuk telur agar bisa jatuh dengan selamat dengan menggunakan bahan – bahan yang telah disediakan.  Peserta didik XI Santa Ursula BSD sangat kreatif dalam berkarya dalam membuat berbagai macam produk untuk memobilisasikan telur tersebut agar tidak pecah hingga di tanah.  Hal terpenting dari kegiatan tersebut adalah kerjasama, kekompakan dan saling percaya satu sama lain. Salam Outward Bound !
Selengkapnya
Siapakah orang miskin ?
Posted: 2015-12-03 | By: Andreas XI A1 / 5
Siapakah orang miskin? Kenapa mereka miskin ? Apa yang membuat mereka bisa bertahan ?Sebelum saya mengikuti pelatihan pra kaderisasi ( prakar ) pada tanggal 1 hingga 4 November 2015, jawaban untuk ketiga pertanyaan tersebut cukup mudah. Saya memiliki paradigma terhadap orang miskin, mungkin ada juga  yang sependapat dengan saya, bahwa orang – orang miskin itu resah, frustasi, terpuruk, tidak bertanggung jawab, tidak berdaya juang, tertutup, terbelakang, kebinguagan dan sebagainya. Mereka miskin karena mereka malas, mereka bertahan karena tuntutan untuk hidup. Tetapi, setelah saya mengikuti pelatihan prakar, pandangan saya akan orang miskin berubah. Saya diajak untuk melihat kembali realitas kehidupan orang miskin yang terjadi. Tidak hanya sebatas mengetahui saja, saya dituntut pula untuk menganalisa secara mendalam keadaan yang kini sedang terjadi dan mengaitkannya dengan tiga pertanyaan mendasar diatas. Ternyata, setelah 3 hari berpikir, berpikir, dan berpikir, pandangan saya akan orang miskin tidak semuanya benar. Orang miskin adalah orang yang juga berdaya juang, memiliki kreatifitas, bertanggung jawab, bertoleransi dan bersolidaritas, serta mereka memiliki harapan besar. Seorang kader Ursula tidak berhenti pada tahap berfikir dan prihatin, namun harus disertai tindakan nyata. Saya bisa memulai dari hal – hal kecil seperti menghargai pendapat setiap orang, tidak membeda – bedakan teman, dan mencoba bergaul dengan teman yang “tersingkirkan” di pergaulan kelas. Memang  untuk terjun langsung kelapangan dan membantu yang membutuhkan bukan hal yang mudah bagi saya. Namun, besar harapan saya agar kelak saya bisa lebih dekat dengan orang miskin dan memberikan bantuan yang lebih berarti bagi mereka. Akhir kata, saya merasa seluruh rangkaian pelatihan ini membuka mata hati serta wawasan saya terhadap orang miskin. Hanya tahu tidak cukup. Sebagai pemimpin alternatif, saya harus berani bertindak dan berani membantu sesama manusia.  
Selengkapnya
Indonesia Masih Bisa Mengguncang Dunia
Posted: 2015-11-09 | By: Andreas Galih/XI.IPA 2
“Pagi ini, 28 Oktober 1928 kami para pemuda berkumpul disini, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, dari berbagai golongan kami datang hanya untuk satu hal yaitu bangsa kami. Hari ini kami para pemuda – pemudi telah bersumpah setia pada bangsa ini, sumpah setia, jangan sia-siakan perjuangan kami jangan remehkan bangsa ini, jangan kau sepelekan Indonesia Raya mu itu, kami semua memimpikan menyanyikan lagu itu dengan gagah berani dan damai, kalau kau enggan untuk mengabdi pada bangsamu marilah kita bertukar nyawa sekarang juga!” Seperti itulah kira-kira, pesan yang akan disampaikan para pemuda-pemudi pada tahun 1928 kepada kita, para penerus mereka, kepada kita, masa depan bangsa. Untuk menghormati usaha para pemuda-pemudi yang telah mempersatukan perjuangan bangsa Indonesia lewat sumpah setia mereka, maka pada tanggal 28 Oktober 2015 peserta didik SMP dan SMA Santa Ursula BSD mengadakan upacara bendera. Seluruh petugas upacara merupakan peserta didik kelas X yang dilatih secara mandiri oleh tim Rindam Jaya SMA Santa Ursula BSD. Upacara yang dimulai tepat pukul 07.00 berjalan dengan lancar dan khidmat terutama saat pembacaan Sumpah Setia Pemuda-Pemudi oleh tiga orang petugas. Tampak terlihat para peserta upacara seperti dibawa menuju ke suasana Sumpah Setia 87 tahun yang lalu. Sebuah pesan bagi seluruh peserta didik yang merupakan generasi muda penerus bangsa coba dibangun melalui sebuah orasi yang disampaikan dengan penuh semangat oleh Naura XII IPA 3 , sebuah pesan agar kita para generasi muda bangsa mau aktif membangun bangsa, turut bertanggung jawab atas masa depan bangsa, ingin kita bawa kemanakah masa depan bangsa Indonesia, dalam orasi tersebut disebutkan juga dengan tegas dan jelas, perkataan Bung Karno “ Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”Upacara yang dilakukan di lapangan upacara SMP/SMA Santa Ursula BSD itu diakhiri dengan menyanyikan lagu Bangun Pemudi-Pemuda dan lagu daerah Hela Rotane, peserta didik dan seluruh peserta upacara turut serta menyanyikan kedua lagu tersebut dengan gembira. Selepas upacara peringatan Sumpah Pemuda, peserta didik SMA Santa Ursula BSD mengikuti talk show bersama dua narasumber : Bapak Syarif Abadi dan Bapak Ignatius Tri Handoko dengan dimoderatori oleh Michelle Gouw peserta didik XII.IPA 2. Bapak Syarif Abadi merupakan salah satu pendiri dari Yayasan Bantuan Coffee yang bergerak dalam bidang bantuan hukum bagi para korban human trafficking. Bapak Ignatius Tri Handoyo merupakan mantan Direktur Utama PT. KAI Commuter Jabodetabek. Kedua narasumber merupakan sosok pemuda bangsa yang memiliki integritas tinggi dalam pengabdian mereka kepada bangsa  melalui pekerjaan yang mereka lakukan. Bapak Ignatius Tri Handoko berhasil melakukan perubahan ke arah yang lebih baik bagi pelayanan KRL (kereta Rel Listrik) yang beroperasi di Jakarta, mulai dari perbaikan sumber daya manusia, perbaikan infrastruktur dan sistem tiket elektronik sampai menanggulangi jumlah penumpang yang naik di atap kereta. Di tangan beliau pula PT KAI Commuter Jabodetabek mengalami revolusi dan penambahan jumlah penumpang. Bapak Syarif Abadi adalah pendiri Yayasan Bantuan Coffee yang berhasil menampung dan membantu proses hukum bagi para korban perdagangan manusia secara cuma-Cuma. Beliau berhasil membiayai seluruh proses rehabilitasi korban perdagangan manusia dengan berjualan kopi yang dipasarkan di Eropa. Kedua sosok narasumber tersebut memberikan banyak pelajaran dan mampu membakar semangat peserta didik yang mengikuti talk showkarena banyak pertanyaan-pertanyaan kritis dan menarik yang diajukan kepada kedua narasumber. Dalam talk show tersebut Bapak tri Handoko berpesan agar peserta didik memiliki integritas dan berani bertanggung jawab atas masa depan bangsa, atas banyak orang, “be the man for others,” itulah yang dikatakan oleh Bapak Tri Handoko. Sumpah Setia Pemuda memang sudah terjadi 87 tahun yang lalu, namun apa yang bisa diberikan sebagai bentuk penghargaan dan meneruskan perjuangan para pendiri bangsa? Bukan dengan mengangkat senjata, tapi angkatlah bukumu, singsingkan lengan bajumu, siaplah bekerja sama mengharumkan nama bangsa, apa yang bisa kamu berikan untuk mengharumkan dan membangun bangsamu sekecil apapun, lakukanlah. Mari pemuda-pemudi Indonesia, kita guncang dunia! 
Selengkapnya
GARUDA Pembakar Jiwa Muda -Generasi muda harapan bangsa pembawa perubahan-
Posted: 2015-11-09 | By: Levinna Natalia XII IPA2/17
OSIS SMP-SMA Santa Ursula BSD menggelar acara Gelora Pembaharuan Muda (GARUDA) pada tanggal 20 Oktober 2015. Kegiatan GARUDA melibatkan seluruh anggota Sekolah Santa Ursula BSD mulai dari peserta didik, guru, karyawan, hingga orangtua peserta didik dari unit TB/TK, SD, SMP, maupun SMA. Kegiatan yang diselenggarakan di unit SMP SMA ini dibuka pada pukul 08.30 WIB secara simbolisdenganmelepasbalonolehSuster Francesco Marianti,OSU selaku Koordinator Kampus, KepalaSekolah TB/TK, SD, SMP, dan SMA, Ketua dan Wakil Ketua Panitia, dan perwakilan peserta didik TB/TK dan SD. Acara ini bertujuan agar semua pihak dapat membawa perubahan bagi bangsa asalkan memiliki semangat dan jiwa muda. Semangat dan jiwa muda adalah semangat untuk berani membawa perubahan, berani untuk berpikir inovatif dan kreatif, bersedia untuk melayani sesama, dan yang terpenting adalah semangat untuk mencintai bangsa Indonesia. Kegiatan GARUDA menjadi ajang bagi seluruh peserta didik TK, SD, SMP dan SMA untuk belajar melayani sesamanya, mulai dari lingkup kecil, yaitu adik-adik TK dan SD. Peserta didik dapat melayani dan membimbing adik-adik TK dan SD melalui “Kegiatan Bermain Bersama Kakak-Kakak SMA”. Adik-adik TK dan SD diajak untuk belajar bersama dengan membuat hasil karya sesuai dengan tingkatan kelasnya. Adapun kegiatan GARUDA dibagi dalam beberapa kelompok. Kelompok peserta didik TK dan SD kelas 1 belajar membuat tempat pensil dan menyablon tote bag.  Kelompok peserta didik SD kelas 2 dan 3 belajar membuat ondel-ondel dari kok dan menghias layang-layang.  Kelompok peserta didik  SD kelas 4,5, dan 6 belajar membuat jumputan bandana dan menghias caping. Selain itu peserta didik juga belajar untuk mengambil peran dalam melayani pengunjung dengan membuka stand games. Terdapat 5 jenis stand games yang dapat dicoba oleh pengunjung yang telah disiapkan oleh peserta didik SMP. Selama kegiatan GARUDA, pengunjung juga dapat menikmati berbagai stand makanan khas Indonesia seperti soto, ketoprak, siomay, baso, pempek dan berbagi jajanan pasar dapat dinikmati oleh pengunjung sambil diiringi dengan penampilan band dari peserta didik dan para guru yang menarik. Acara GARUDA kemudian ditutup dengan penampilan peserta didik, alumni, dan para guru dengan mengangkat tema Indonesia. Keseluruhan acara GARUDA mengingatkan semua pihak bahwa Semangat Muda berarti kesediaan untuk mengikuti perkembangan zaman tanpa melupakan jati diri sebagai Bangsa Indonesia. Mari kobarkan jiwa muda dan siap membawa perubahan bagi Indonesia!  
Selengkapnya
KEEP THE LOVE BURNING
Posted: 2015-09-12 | By: Florencia Maria XIS3/14 & Matthew Halim XIA1/24.
Almost everyone knows what love is. Love is a strong emotion, borne of affection and passion, it is an emotion everybody possesses. However, not everybody knows what true love is. True love is the highest form of love, true love has no purpose or desire. In love, there is faith, hope, solidarity, peace, justice and other great virtues. Henceforth, it is imperative for us to keep the love burning.   “Keep the love burning” was the theme of International Ursuline Youth Day (IUYD) 2015. The theme was chosen so that there would be no boundaries, no discrimination between the multitude of different countries and people, specifically in this meeting, between the schools under the Ursuline Order worldwide. Through this meeting too, were we taught about the greatest gift from God, LOVE. Love is a virtue that we must share with everyone, as opposed to keeping it for ourselves.   This was the second time IUYD was held. Previously, it was held 3 years ago, in Gunung Geulis, West Java. This time, with about 363 participants from more than 23 schools from Indonesia and other countries (including Thailand, Taiwan and Japan), IUYD was hosted by Regina Pacis, in the town of Solo. From our own school, we sent 20 representatives from junior high school and high school, accompanied by 4 teachers.   The Regina Pacis team had planned and devised many activities for the participants, one of them was the Exposure Activity. We were given the opportunity to meet and chat with local entrepreneurs and social figures, from which we learned many values. Also in the Regina Pacis team’s schedule was the performance of “Sendratari Ramayana”, a traditional dance that took place by the famous Candi Prambanan. There was also the Culture Night, where each school was to give a performance, representing their hometown culture. And to conclude and reflect on our experience there, a mass and ceremony was held.   Coming back from IUYD 2015, we learned many values that we would like to bring back and share with our friends back in Santa Ursula BSD. We’ve written them down in our 3 commitments; First, to do introspection before judging others by being discreet, open-minded, and critical with any information we receive so we can treat people equally. Second, to respect our friends, teachers and fellows, by giving effort to mingle with everyone and preventing exclusivity. Third, to invite all students to get involved in social activities and designing programs that can build connections with other schools through both formal and informal organizations, for example: holding joint events, social programs, etc.   Through our three commitments, we hope to bring change to our school, for our school to change for the better and become a blessing to many people. Let’s work together to hold our commitment to create a community of great people.  
Selengkapnya