Tim Ursa 2 Meraih Juara Kedua dalam Turnamen e-Sport Gebyar Santa Angela
Posted: 2022-04-18 | By: Darius Marcio M, Marvel Jevan S, Aurelius Jouvin
Pada tanggal 19-20 Januari 2022, dua tim dari SMP Santa Ursula yakni Ursa 1 dan Ursa 2, mengikuti Turnamen e-Sport Gebyar Santa Angela, yang diselenggarakan oleh Sekolah Santa Angela Bandung. Turnamen ini berlangsung secara daring. Peserta bertanding dalam ruang virtual, dan pertandingan yang berlangsung disiarkan secara langsung melalui youtube.Dalam mempersiapkan diri menghadapi kompetisi ini, kami berlatih setiap hari, didampingi oleh Coach David Ananda Emy, guru Ekstrakurikuler e-Sport yang mengajar kami. Proses persiapan ini berlangsung selama kurang lebih dua minggu.Kami adalah tim URSA 2, yang terdiri dari 6 orang siswa kelas VII. Dalam game, kami masing-masing menggunakan nama khusus, yaitu Cio (Cio_467), Jevan (Jevan),Aurelius Jouvin (DONEIEL), Vino (#Yummy_), Matthew (Sciros.), dan Hosea (Hoseaa.)Dalam turnamen hari pertama, kami memperoleh giliran bermain di pertandingan pertama. Pemain yang bermain di game pertama adalah Cio, Jevan, Vino, Matthew dan Hosea. Sebelum memulai pertandingan, kami membuat strategi dan berdoa agar dapat memenangkan pertandingan. Kami bermain dengan penuh percaya diri dan mengutamakan kerja sama.Pertandingan pertama pun dimulai, kami bermain dengan strategi yang sudah di tentukan pelatih kami. Kami bermain dengan baik dan dapat memenangkan pertandingan babak pertama.Pertandingan kedua dimulai di hari berikutnya. Kami menganalisis tim yang akan kami lawan melalui rekaman pertandingan. Kami memutuskan untuk mengganti Vino dengan Jouvin, dan menyusun draft untuk melawan tim berikutnya.Pertandingan kedua berlangsung dengan sangat baik, kami unggul dari menit awal sampai akhir. Hasilnya, kami menang pertandingan kedua dan lanjut ke babak final.Memasuki babak final, kami menghadapi lawan yang cukup berat. Mereka memiliki kerja sama dan gameplay yang lebih bagus. Meskipun sungguh berusaha, namun kali ini kami mengalami kekalahan cukup telak.Kekalahan tersebut menempatkan kami pada posisi juara kedua dalam turnamen ini. Meskipun belum meraih posisi juara pertama, kami tetap merasa bangga karena pencapaian itu adalah hasil kerja keras kami.Karena turnamen ini diselenggarakan pada jam sekolah, maka saat bertanding, kami terpaksa meninggalkan kegiatan pembelajaran di kelas kami masing-masing. Namun, dengan berpartisipasi dalam turnamen ini, kami justru mendapat kesempatan belajar nilai-nilai hidup, khususnya kerja sama, sportivitas, kerja keras dan pantang menyerah.
Selengkapnya
Mengusung Kookie Monster Dalam Kompetisi Entrepreneur
Posted: 2022-04-11 | By: Valerie Widjaja & Lavita Agastya
Dalam kelas Ekstrakurikuler Kewirausahaan di SMP Santa Ursula BSD, siswa diarahkan untuk membentuk kelompok-kelompok pembuatan brand. Sebagai peserta cabang ekstrakurikuler ini, kami adalah kelompok yang beranggotakan 5 orang yakni Lavita Agastya, Valerie Widjaja, Isabela Klaire, Karen Amaris, dan Rafaela Carissa Arlivia.Selama ini kami telah bersama-sama merintis produk kelompok: menghasilkan produk, me-launching, dan menjualnya. Produk kami adalah cookies yang sehat, dan nama brand kami adalah Kookie Monster.Hingga pada suatu kesempatan  kami memperoleh kabar dari Coach Tian, pengajar kami, bahwa Sekolah Stella Maris akan mengadakan lomba entrepreneurship. Informasi ini disampaikan saat kami mengikuti kelas virtual Ekstrakurikuler Kewirausahaan. Proposal lomba ini kemudian dibagikan melalui chat room. Kami sekelompok serentak bersemangat untuk mendengar info lainnya.Pada 17 Januari 2022, panitia acara mengumumkan bahwa anggota maksimal dalam tim adalah 4 orang. Hal ini tentu menjadi kendala bagi kami. Kami lalu berdiskusi dan memutuskan cara menentukan keempat orang yang mewakili kelompok untuk mengikuti perlombaan Entrepreneurs Day Stella Maris ini. Dari proses ini terpilih 4 nama anggota yang menjadi perwakilan kelompok dalam mengikuti lomba, selain Karen Amaris. Meskipun begitu, hal ini tidak menjadi pemecah belah kami. Kami tetap bersemangat dan berusaha sebaik mungkin untuk memberikan yang terbaik. Karen tetap berpartisipasi dalam lomba, hanya saja tidak ikut presentasi di babak final. Maka ia pun ikut berjuang dan menyemangati di balik layar.Hari-hari sebelum lomba, kami membuat beberapa prototype produk kami. Kami juga menyiapkan yang terbaik untuk mengikuti lomba ini. Selain itu, kami juga berlatih untuk berbicara di depan umum agar presentasi yang kami berikan dapat memperoleh hasil yang maksimal. Kami sangat excited untuk mengikuti lomba ini.Pada 4 Februari 2022, diadakan technical meeting. Di sana, kami memperoleh penjelasan tentang kriteria penilaian, tahapan perlombaan, urutan kelompok, dan lain-lain. Kami juga diminta untuk mengumpulkan proposal bisnis kami, dan dikumpulkan pada 8 Februari 2022. Selama 4 hari tersebut, kami membuat proposal bersama. Dalam pembuatan proposal, banyak kendala yang kami alami. Seperti perbedaan pendapat, kesulitan menyusun kalimat, dan masih banyak lagi. Namun kami selalu menyelesaikan masalah ini bersama-sama dengan berdiskusi dan saling menolong.Pada 9 Februari 2022, diadakan opening Entrepreneurs Day Stella Maris. Pada kesempatan ini, kami juga memperoleh penjelasan mengenai teknis pembuatan poster yang merupakan babak selanjutnya. Usai kegiatan, kami bersama langsung membuat poster karena deadline pengumpulannya di hari itu juga. Sebagaimana sebelumnya, kami juga mengalami beberapa kendala, terlebih karena waktu kerja yang sangat singkat. Namun kami terus bekerja keras dan memberikan yang terbaik. Alhasil, kami dapat mengumpulkan tepat waktu dan puas terhadap poster yang kami hasilkan.Pada 10 Februari 2022, diadakan babak selanjutnya yaitu presentasi poster. Namun karena presentasi poster ini dilakukan pada jam sekolah, jadi presentasi poster hanya dilakukan oleh perwakilan tim kami, yaitu Lavita dan Caca. Anggota kelompok kami sempat kesulitan di hari sebelumnya dalam berlatih mempresentasikan poster. Namun kami tetap pantang menyerah dalam berlatih presentasi.Kookie Monster mendapat urutan presentasi ke 43. Dengan demikian kami dapat memperhatikan cara presentasi kelompok sebelumnya, dan mempersiapkan presentasi kami sendiri dengan lebih baik. Awalnya, kami takut jika presentasi poster kami memakan waktu lama, karena kami hanya diberi waktu 1-2 menit. Namun, pada akhirnya kami dapat mempresentasikan poster kami sesuai dengan waktu yang ditentukan.Semula, hasil dari babak presentasi poster ini akan diumumkan pada pk. 10.00. Namun kemudian diundur menjadi pk. 13.00. Selama waktu itu, kami berusaha untuk optimis dan percaya diri akan hasilnya. Kami juga selalu berpikir positif. Tibalah saatnya pengumuman 10 besar yang lolos ke babak selanjutnya. Ternyata kelompok kami adalah salah satunya. Selain kelompok kami, 3 kelompok perwakilan Santa Ursula lainnya pun lolos ke babak selanjutnya. Kami merasa sangat senang dan bersyukur.Karena kami lolos memasuki babak 10 besar, kami diminta untuk mempersiapkan presentasi babak final yang akan diadakan pada 11 Februari 2022. Pada hari tersebut, kami mempersiapkan dengan optimal. Kami juga berlatih berpresentasi. Proses kami tidak selalu berjalan sesuai dengan yang kami inginkan. Kendala yang kami alami kali ini juga berupa kondisi nervous, negative-thinking, dan lain-lain. Namun kami selalu support satu sama lain. Kami juga saling membantu jika ada yang merasa kesulitan.Hari pelaksanaan babak final pun tiba. Karena diselenggarakan sejak pagi hari, kami meminta izin dari guru pengajar kami masing-masing untuk meninggalkan zoom pembelajaran kemudian join zoom babak final. Rangkaian acara pada babak final diawali dengan opening yang meliputi doa bersama, penjelasan teknis acara, kriteria penilaian, dan lain-lain.Kami memperoleh urutan ke-7 untuk mempresentasikan produk kami di hadapan dewan juri. Ini berarti kelompok kami masuk ke sesi 2, yang dilakukan setelah istirahat. Selama menunggu giliran, kami mencermati kelompok lain berpresentasi. Kami juga saling menyemangati dan men-support. Rasanya waktu berjalan begitu cepat, ketika akhirnya kelompok 7 yaitu Kookie Monster, diminta untuk berpresentasi.Presentasi kelompok kami berjalan dengan lancar. Kami memperkenalkan bisnis kami, menjelaskan tujuan kami membangun bisnis, target market, keunggulan bisnis kami, dan sebagainya. Setelah berpresentasi, juri mengajukan beberapa pertanyaan kepada kami. Pertanyaan-pertanyaan ini dapat kami jawab dengan baik. Respon yang diberikan juri pun juga baik. Kami puas dengan hasil presentasi yang kami berikan di hari tersebut.Pengumuman pemenang dilakukan melalui youtube Stella Maris, pada keesokan harinya, 12 Februari 2022. Kami merasa sangat antusias dan tidak sabar menunggu hasilnya. Pengumuman pemenang lomba tingkat SMP disampaikan mulai dari peraih harapan ketiga. Kami mulai merasa nervous karena sampai dengan peraih harapan pertama, nama kelompok kami tidak muncul. Namun kami tetap optimis, hingga saat MC mengatakan bahwa kelompok kami mendapatkan juara kedua.Kami tidak menyangka bahwa kelompok kami akan berada di posisi nomor 2. Kami sangat bersyukur kepada Tuhan karena atas berkat-Nya, kami dapat memperoleh juara 2 dalam lomba ini.  Kami juga bersyukur karena memiliki anggota kelompok yang mau saling membantu dan saling support. Untuk pencapaian ini, tentu saja kami sangat berterima kasih kepada Coach Tian yang telah membimbing kami dari yang awalnya tidak mengetahui banyak mengenai bisnis, sampai kami membuat brand sendiri di usia kami yang masih muda. Tentunya perasaan kami sangat bahagia dan senang saat mengetahui bahwa kami dapat memenangkan juara kedua pada lomba ini. Lebih jauh tentang produk kelompok kami, Kookie Monster adalah cookies yang sehat. Hal ini dikarenakan kami menjual cookies menggunakan bahan-bahan pilihan yang sehat, sehingga mengurangi resiko adanya penyakit akibat makanan tidak sehat. Ide kami ini tercetus ketika menemukan permasalahan bahwa ada sebanyak 44% jajanan anak yang tidak sehat. Selain itu,  hanya 0,9 persen kantin yang sehat dari total 178.240 sekolah.Selain itu, kami juga menggunakan kemasan yang ramah lingkungan dan meminimalisir penggunaan plastik. Ini merupakan keputusan kami, menanggapi informasi dari Ocean Conservancy yang menunjukkan bahwa 9 dari 10 jenis sampah terbanyak yang ditemukan di pantai, berkaitan dengan makanan dan minuman.Pada sekitar bulan Desember 2021, kami sempat me-launching cookies buatan kami. Cookies tersebut kami namakan brown sugar cookies with coconut. Pada saat itu, produk kami sudah terjual sebanyak 14 boxes. Namun, kami memutuskan untuk hiatus terlebih dahulu agar dapat memperbaiki kualitas produk kami. Hal ini kami lakukan setelah menerima kritik, saran, dan melakukan refleksi bersama.Setelah hiatus selama beberapa lama, kami berhasil menciptakan 4 produk baru dan 2 diantaranya masih dalam tahap perbaikan. Kami berencana untuk melakukan re-launching pada bulan April. Walau banyaknya toko cookies di luar sana, kami memiliki keunggulan sendiri yaitu sehat dan berkualitas, ramah lingkungan, dan melestarikan budaya daerah.  Saat ini, kami aktif membuat konten di instagram @kookie.monster.id sembari mempersiapkan launching kami.
Selengkapnya
Mengisi Pandemi dengan Prestasi (Tingkat Nasional)
Posted: 2022-03-15 | By: Siona Aviella
MENGIKUTI KOMPETISI LITERASI DAN NUMERASIHai, perkenalkan nama saya Siona Aviella dari kelas 8C SMP Santa Ursula BSD. Saya hendak menceritakan pengalaman saya ketika mengikuti Kompetisi Literasi dan Numerasi Tingkat Nasional. Kompetisi ini diselenggarakan oleh PesonaEdu, pada bulan Agustus 2021. Saat itu saya berkompetisi dalam kategori kelas 7, sesuai jenjang kelas saya pada saat itu.Kompetisi tersebut merupakan kompetisi penguasaan literasi dan numerasi yang tidak terbatas pada mata pelajaran tertentu. Jenis soal-soalnya mengacu kepada standar AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) yang bersifat HOTS (High Order Thinking Skill). Karena berlangsung dalam situasi pandemi, kompetisi ini diselenggarakan secara daring (online), meliputi tiga babak atau tahapan, yaitu babak penyisihan, semifinal, dan final.Sebagai kompetisi tingkat nasional, jumlah peserta yang mengikuti kompetisi ini cukup banyak dan merupakan perwakilan sekolah dari berbagai daerah di Indonesia. Selain dari SMP Santa Ursula BSD, peserta kompetisi juga datang dari SMP Labschool Jakarta, SMP Kolese Kanisius Jakarta, SMPK Penabur Jakarta, SMPN dari Jakarta, Bandung, Semarang, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan masih banyak lagi.Adapun ketentuan jumlah peserta yang masuk ke babak semifinal adalah 300 peserta dengan nilai tertinggi. Jumlah peserta yang masuk ke babak final adalah 50 peserta dengan nilai tertinggi. Pada akhirnya, hanya dipilih 6 peserta dengan nilai tertinggi sebagai pemenang.  Jadi, untuk bisa lolos ke babak final dan meraih juara, peserta menghadapi persaingan yang cukup ketat.Sebelumnya saya tidak pernah mengikuti kompetisi literasi dan numerasi. Bahkan semasa SD, saya belum pernah mendengar tentang soal-soal literasi dan numerasi. Ini membuat saya merasa penasaran dan memutuskan untuk mengikuti kompetisi ini. Untuk partisipasi yang merupakan pengalaman pertama ini, saya mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Saya berlatih soal-soal tentang literasi dan numerasi di internet dan simulasi yang diberikan oleh PesonaEdu. Soal-soal yang kami hadapi baik di babak penyisihan maupun semifinal, menurut saya cukup sulit. Soal-soal di bagian numerasi khususnya, membutuhkan analisis yang tepat serta ketelitian. Dari 22 siswa kelas 7 SMP Santa Ursula BSD yang menjadi peserta kompetisi ini, terdapat 14 siswa yang berhasil lolos ke babak semifinal. Dari jumlah tersebut, 3 orang di antaranya melaju ke babak final. Saya sangat bersyukur dapat melewati babak penyisihan dan semifinal dengan baik.Saat di babak final, saya sempat merasa sedikit gugup dan takut tidak bisa mengerjakan karena tingkat kesulitan soal-soalnya lebih tinggi lagi. Selain itu, ada penambahan jenis soal baru seperti respon audio dan video. Akan tetapi saya berusaha untuk tetap tenang dan fokus dalam mengerjakan.Pada hari pengumuman, saya menunggu informasi hasil kompetisi dengan perasaan sedikit tegang. Ketika akhirnya nama pemenang diumumkan, saya sempat merasa terkejut karena tidak menyangka bahwa saya mendapat juara harapan 1. Tentu saja saya bersyukur kepada Tuhan atas penyertaan-Nya selama saya mengikuti kompetisi ini. Selain itu, sebagai perwakilan dari sekolah, saya merasa sangat senang karena dapat mempersembahkan prestasi ini untuk SMP Santa Ursula BSD.Saya sangat bersyukur bisa mengikuti kompetisi ini karena saya mendapatkan pengalaman baru. Kompetisi ini melatih saya untuk menguasai soal-soal literasi dan numerasi yang bersifat HOTS, sekaligus melatih daya kritis dan analitis saya. Selain itu hasil yang saya capai dari kompetisi ini pun menambah deretan prestasi yang pernah saya raih.Dengan mengikuti kompetisi ini saya juga mendapatkan beberapa nilai hidup yaitu bahwa sesulit apapun masalah yang dihadapi, misalnya ketika menghadapi soal-soal yang memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi, saya tidak menyerah. Saya tetap berusaha semaksimal mungkin, tetap fokus, dan tidak lupa mengandalkan Tuhan.Saya merasa belum puas dengan hasil yang saya dapatkan dari kompetisi ini. Jika nanti ada kesempatan, saya akan berusaha jauh lebih baik lagi. Saya pun mendorong teman-teman untuk mengikuti kompetisi seperti ini. Menurut saya ini bagus dan penting, karena di zaman sekarang para pelajar dituntut untuk dapat berpikir sistematis, analitis, dan kritis.
Selengkapnya
Mengisi Pandemi dengan Prestasi (Tingkat Regional - Kota Tangerang Selatan)
Posted: 2022-03-15 | By: Ammarryyo Quinnan Yudhistira Idrian
MERAIH JUARA KETIGA DALAM TURNAMEN TENIS MEJASituasi pandemi memang sangat membatasi, namun kita tidak boleh berhenti melakukan kegiatan yang menjadi kewajiban, juga mengembangkan diri lewat hobi dan kegemaran. Perkenalkan saya Ryyo, siswa kelas VIIIC, hendak menceritakan pengalaman saya dalam dunia tenis meja.Saya mengenal tenis meja sejak tahun 2018. Pada dasarnya saya memang suka berolahraga, mulai dari basket, renang, badminton, sepakbola, dan yang lainnya. Dari semua cabang olahraga itu saya memilih tenis meja untuk saya tekuni dan mencoba meraih prestasi.Pada awalnya pilihan ini lebih karena saran dari orang tua, dan karena mereka pula saya bisa sampai di titik ini. Namun bagi saya sendiri, ada hal yang menarik dari tenis meja atau pingpong. Menurut opini saya, dari cabang olahraga pingpong ini kita bisa berlatih fokus dan konsentrasi, karena kita harus lincah saat bermain dan fokus melihat bola yang pergi ke sebelah kanan kita maupun sebelah kiri kita.Untuk menekuni tenis meja, saya bergabung dengan club BABA (Batuah Baganal). Selain berlatih di sana, saya pun giat melakukan latihan di rumah. Saya pernah mempunyai jadwal rutin untuk berlatih, yang kemudian berubah sejak pandemi melanda. Sebenarnya pada awal pandemi saya masih melakukan latihan di rumah hampir setiap hari. Namun bersama waktu, bertambah pula tugas-tugas dari sekolah, sehingga jam latihan saya berkurang.Ketika mengetahui ada kompetisi tenis meja yang bisa saya ikuti, saya mencoba berlatih kembali. Untuk mempersiapkan diri menghadapi kompetisi ini, saya melakukan latihan setiap hari Kamis, Jumat, dan Sabtu. Selain di hari-hari tersebut, saya masih mempunyai banyak tugas dari sekolah. Umumnya tugas-tugas sekolah tersebut masih bisa saya selesaikan. Akan tetapi ada juga tugas yang akhirnya terlambat saya kumpulkan.Turnamen yang saya ikuti ini diselenggarakan oleh Persatuan Tenis Meja Karbonek. Kategori yang tersedia adalah SD, SMP, SMA, dan divisi. Saya mengikuti kategori SMP. Pada awalnya saya merasa tegang saat menjalani pertandingan. Apalagi menurut saya, para pemain lawan juga cukup berat untuk dikalahkan. Ini membuat saya pun sempat merasa pesimis.Namun berangsur-angsur saya bisa menenangkan diri. Pertandingan demi pertandingan, satu persatu saya lewati. Saya bertanding sebanyak 4 babak sehingga saya meraih juara tiga. Untuk pencapaian ini, saya memperoleh hadiah yang diserahkan oleh Bapak Benyamin Davnie selaku Wali Kota Tangerang Selatan. Tentu saja saya merasa senang, dan orang tua saya pun merasa bangga.Dari pengalaman bertanding ini saya belajar bahwa saya harus tetap optimis dalam melakukan hal apapun, dan saya harus yakin dengan kemampuan diri saya. Kita bisa mendorong diri untuk melakukan sesuatu sampai dengan atau bahkan melampaui batas kemampuan kita. Pengalaman ini juga mendorong saya untuk terus berlatih. Saya mempunyai rencana untuk terus mengembangkan prestasi saya, dan berusaha meraih prestasi dalam hal - hal yang saya lakukan.
Selengkapnya
Mengisi Pandemi dengan Prestasi (Tingkat Internasional)
Posted: 2022-03-15 | By: Celine Keiko Handoko
MENGIKUTI KOMPETISI HARPA INTERNATIONAL 2020Halo, perkenalkan nama saya Celine, siswa dari kelas VIIIC. Melalui tulisan ini saya hendak berbagi cerita tentang pengalaman saya mengikuti kompetisi harpa. Kompetisi ini saya ikuti ketika saya masih duduk di bangku SD kelas VI.Saya mulai belajar bermain harpa pada umur 5 tahun. Sejak kelas 3 SD, saya beberapa kali diundang untuk berpartisipasi dalam sejumlah acara konser di Jakarta. Namun, kondisi berubah semenjak pandemi Covid-19 melanda. Dengan diberlakukannya berbagai pembatasan, saya lebih jarang tampil.Meskipun telah berkali-kali berpartisipasi dalam kegiatan konser, namun sampai saat itu saya tidak pernah mengikuti kompetisi. Hal ini karena pada dasarnya saya tidak terlalu suka di-judge. Akan tetapi, saat mengetahui akan adanya “Virtual International Music Competition 2020”, saya mulai berubah pikiran. Berhubung kompetisi ini diadakan secara online, saya mau mencoba dan menjadikan ini sebagai pengalaman baru. Dengan kondisi sudah jarang tampil, saya menjadi lebih gugup dalam mengikuti kompetisi ini. Oleh karena itu, saya berusaha berlatih harpa setiap hari untuk mempersiapkan diri. Namun usaha ini tidaklah mudah untuk saya lakukan.Hal yang paling sulit adalah manajemen waktu. Dengan harus mengerjakan tugas sekolah, belajar, les, dan latihan untuk kompetisi, saya hampir tidak punya waktu untuk melakukan hal lain. Meskipun demikian, usaha keras saya selama persiapan ini dikuatkan oleh orang tua yang selalu mendukung dan tidak pernah absen untuk menyemangati saya.Untuk kompetisi ini, saya perlu menyiapkan 2 lagu yaitu lagu wajib dan lagu bebas. Sesuai dengan usia saya pada saat itu, saya mengikuti kompetisi di kategori Primary School. Menurut saya, lagu wajib yang harus saya pelajari tidak termasuk sulit, tetapi untuk lagu bebas, saya memilih untuk memainkan lagu yang cukup advanced.Hal yang membedakan kompetisi secara online dari kompetisi biasa adalah saya dapat merekam video berulang- ulang kali sampai saya merasa puas dengan permainan saya. Setelah merekam beberapa kali, akhirnya ada rekaman yang menurut saya sudah bagus dan dapat dikirim. Sebelum mengumpulkan video rekaman tersebut, saya hanya bisa berdoa bersama orang tua dan menyerahkan semua usaha saya pada Tuhan.Pada awalnya, harapan saya dalam mengikuti kompetisi adalah untuk menambah pengalaman, bukan untuk mendapatkan posisi, karena saya ingat selalu ajaran orang tua saya bahwa saya harus melakukan yang terbaik dan biarkan Tuhan melakukan sisanya. Namun entah bagaimana, saya merasa lebih gugup pada saat menunggu pengumuman hasil daripada saat memainkan harpa. Setelah beberapa minggu, orang tua saya memberitahukan bahwa hasil kompetisi sudah diumumkan.Saat orang tua memberitahu bahwa saya memenangkan juara pertama dalam kategori yang diikuti, saya merasa sangat bahagia dan bersyukur. Yang membuat saya lebih senang lagi adalah keluarga saya merasa bangga kepada saya.Menurut saya, kompetisi ini penting untuk pengalaman dan mendorong saya untuk lebih maju sebagai pemain harpa. Selanjutnya, saya akan terus latihan dan bermain harpa untuk menjadi pemain harpa yang lebih baik.
Selengkapnya
Pengalaman Membuat G-Sites Dalam Kegiatan Kolaborasi
Posted: 2022-03-07 | By: Beatrix Arunaya Kidung Anatha 8E/7
Bekerja di dalam kelompok dapat meningkatkan efektivitas bekerja dan membantu kita untuk mencapai hasil yang terbaikDi bulan Oktober 2021 yang lalu, saya dan lima teman saya ditugaskan oleh guru kami untuk membuat suatu website (G-sites) dengan tema “Lingkungan Sosial di Masa Pandemi”. Kami dapat memilih tiga pelajaran untuk dikaitkan dengan tema tersebut. Kelompok kami memilih pelajaran Matematika, Bahasa Inggris, dan IPA.Di awal kerja kelompok, tentu kami harus membagi tugas setiap individu kelompok. Ada yang mencari data ekonomi di masa pandemi, pentingnya gizi untuk tubuh, dan masih banyak lagi. Kami diberi waktu dua minggu untuk menyelesaikan website kami.  Setelah tiga hari bekerja, kami mengira bahwa pekerjaan kami telah selesai sebab semua tulisan telah dipasang di G-sites yang kami buat.Ternyata, G-sites tersebut masih jauh dari kata ‘selesai’ sebab yang ada di website tersebut hanyalah tulisan. Guru kami mengatakan bahwa untuk membuat G-sites tersebut terlihat menarik, kami bisa membuat video, infografis, komik, dan banyak lagi. Lantas, kami pun segera membuat hal-hal tersebut (infografis, video, komik, dan sebagainya), berdasarkan tugas yang telah dibagikan di awal kolaborasi. UntukDi proses pengerjaan, semuanya berjalan dengan lancar, walau terasa lelah karena memerlukan waktu yang cukup banyak, tetapi hal-hal yang harus dikerjakan tidaklah sedikit. Setelah selesai membuat komik, infografis, video, dan poster, kami segera menaruhnya di G-sites yang sedang kami buat.Awalnya, kami menggunakan warna dasar coklat untuk seluruh website kami. Tetapi kemudian kami menggantinya dengan warna biru, hijau, dan pink. Menurut guru, G-sites kami akan terlihat membosankan jika menggunakan warna yang monokromatis.Setelah hampir dua minggu, G-sites yang kami buat pun selesai. Hasil karya ini kami beri nama Pintu Perjuangan. Dalam G-sites kami, pengunjung dapat memperoleh informasi tentang covid-19, data kasus yang terjadi di Indonesia serta dampaknya dalam berbagai bidang, ulasan khusus tentang gizi, serta artikel tentang penggunaan masker.Jujur, kegiatan kolaborasi ini lumayan melelahkan. Namun, banyak sekali hal yang saya pelajari dari kegiatan ini. Saya belajar untuk bisa mengatur waktu, mengembangkan nilai tanggung jawab dan toleransi, serta belajar bekerja sama. Overall, saya merasa senang saat sedang membuat G-sites dan lega sekaligus bangga saat website yang kami buat telah jadi.
Selengkapnya
Mengenal Minuman Isotonik Melalui Kegiatan Jalan-jalan Virtual
Posted: 2022-01-25 | By: Skolastika Letishia Riyanti Prita Dewi
Pada hari Rabu 8 Desember 2021 lalu, saya, para guru, dan teman-teman kelas VII pergi jalan-jalan virtual ke suatu tempat. Tetapi, sebelum jalan-jalan virtual dimulai, saya dan teman-teman semua melakukan suatu kegiatan yang sangat seru!Kegiatan pertama dilakukan dengan kelompok yang sebelumnya sudah dibagi. Kami seperti menjadi detektif untuk mengetahui suatu penyakit/virus/bakteri dari kasus-kasus yang ada di dalam suatu website. Setelah selesai, semua kelompok bergabung dalam kelas masing-masing, dan menceritakan bagaimana cara setiap kelompok menyelesaikan kasus-kasus yang dibicarakan.Kegiatan kedua juga bersama kelompok. Setiap kelompok melakukan riset online mengenai minuman isotonik. Saya, kelompok saya, dan pastinya kelompok lainnya mendapat banyak informasi tentang minuman isotonik seperti manfaat dan kandungannya. Baru kegiatan pertama dan kedua saja sudah sangat seru, karena dapat berdiskusi dan bercanda-canda dengan teman di dalam kelompok!Tidak kalah seru dengan kegiatan pertama dan kedua, pada kegiatan ketiga, saya dengan semua teman dan guru pergi ke salah satu pabrik yang memproduksi minuman isotonik yaitu Pocari Sweat yaitu PT Amerta Indah Otsuka, di Sukabumi, Jawa Barat. Saya serta semua teman dan guru disambut seorang yang bernama Kakak Idah sebagai pembawa acara. Beliau menjelaskan proses produksi Pocari Sweat dari tahap pembuatan cairannya, botol, pengisian, pengecekan, sampai tahap botol-botol yang sudah terisi tersebut siap diantar, juga manfaat minuman isotonik terutama Pocari Sweat.Ternyata, dalam memproduksi suatu produk harus benar-benar diperhatikan kualitas isi dan kemasan, sehingga cukup rumit. Pada kesempatan ini Kak Idah dibantu oleh dua orang anggota tim. Salah satunya mengajak kami semua berkeliling di pabrik milik PT Amerta Indah Otsuka, yang memproduksi Pocari Sweat. Sedangkan satu orang lainnya membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan pada sesi tanya jawab.Saya merasa senang sekali saat mengalami kegiatan jalan-jalan virtual ini. Salah satu alasannya karena ini pertama kalinya saya jalan-jalan virtual dengan teman-teman dan para guru di SMP Santa Ursula BSD! Acara jalan-jalan virtual ini sangat mengasyikkan dan super menyenangkan! Penjelasan yang diberikan bermanfaat dan tidak membosankan.Akan tetapi tentu saja, karena masih dalam situasi pandemi covid-19, jalan-jalan mengelilingi pabrik kali ini hanya dilakukan secara online. Sempat muncul perasaan sedih, karena kami tidak dapat melihat secara langsung. Saya ingin cepat-cepat pergi lagi secara offline melihat tempatnya yang menarik.Dari kegiatan selama satu hari itu ada pelajaran/nilai-nilai yang dapat diperoleh juga, yaitu1.      Kerja samaSaya dapat belajar bekerja sama untuk menyelesaikan suatu kasus dan mendiskusikannya sehingga mendapat hasil dari berbagai macam pendapat. Dalam kegiatan pertama dan kedua nilai tersebut terlihat jelas, karena memang dilakukan secara berkelompok.2.      Pantang menyerahSaat menyelesaikan suatu kasus pada kegiatan pertama saya dapat belajar untuk pantang menyerah sampai mendapat jawaban/kesimpulannya. Jika bingung, saya coba baca lagi data-data mengenai kasusnya dan berdiskusi dengan teman tanpa ada rasa menyerah.3.      Lebih beraniDalam kelompok pastinya saat berdiskusi dapat berani mengemukakan pendapat masing-masing. Saat kegiatan ketiga pada sesi tanya jawab pun dapat berani menanyakan hal yang sebelumnya saya belum ketahui. Sehingga saat mengungkapkan atau menanyakan suatu hal saya dapat mencoba lebih berani.4.      MenghargaiSaat mendengarkan orang yang sedang bicara, otomatis saya sudah belajar untuk menghargai orang lain dari hal kecil. Bukan hanya mendengarkan, tetapi juga tidak memotong pembicaraan serta (dalam keadaan daring) tetap menyalakan kamera dan hadir di sana. Jika kita menghargai orang lain, mereka juga akan menghargai kita, contohnya saat berbicara balik akan didengarkan dan akan ditanggapi.
Selengkapnya
Berlaga PUBG Mobile dalam Turnamen Gonzaga Festival
Posted: 2022-01-25 | By: Gabriel Bravino Lucky Susilo & Kennard Dwiandra Pu
Tanggal 14 September sampai 16 September 2021 adalah hari-hari di mana kami mengikuti Turnamen Gonzaga Festival di ajang PUBG Mobile. Kegiatan tersebut dimulai pada pukul 14.00 sampai selesai di setiap harinya.Pada Turnamen kali ini SMP Santa Ursula BSD membawa 2 tim inti di ajang PUBG Mobile, yaitu Ursa A dan Ursa B di mana masing-masing timnya beranggotakan 5 pemain (4 pemain inti dan 1 pemain cadangan).Tim Ursa A beranggotakan Gabriel Bravino, Theofilus Putra, Adrian Putra, Matthew Rafael, dan Cornelius Matthew. Sedangkan  Tim Ursa B beranggotakan Maximilian Marco, Jonathan Harris, Phillipe Juniar, Antonius Ardyan, dan Kennard Dwiandra. Kami memilih anggota tim seperti ini karena kami sudah pernah bersama sebelumnya.Sebelum berpartisipasi dalam turnamen ini, kami telah melakukan latihan dan persiapan yang cukup matang. Latihan dan persiapan sudah kami mulai sejak dua minggu sebelum kompetisi berlangsung.Persiapan yang kami lakukan adalah membentuk kerjasama dalam tim, menentukan dropzone dalam game, melatih komunikasi, dan yang pastinya mempelajari hal-hal yang perlu dipelajari di dalam permainan PUBG Mobile. Sehari sebelum turnamen Gonzaga Festival dimulai, kami juga  melakukan doa bersama, dan saling menyemangati setiap anggota tim, baik Tim Ursa  A maupun Tim Ursa B.Pada hari-H pertandingan, kami melakukan briefing singkat bersama tim. Kami melakukan persiapan terakhir sebelum bertanding, dan meminta pertolongan pada Tuhan dalam doa yang dipimpin oleh Theo. Kami juga selalu melakukan evaluasi setiap kali kami selesai bermain.Selama Turnamen berlangsung, pastinya kami mendapatkan berbagai pengalaman yang cukup menarik. Mental kami yang diuji agar tetap kuat di saat tim kami kalah, juga saat kami harus menerima kenyataan yang cukup pahit. Meskipun telah sungguh berusaha, ternyata kami belum berhasil mencapai target kami untuk berada dalam posisi tiga besar.Akan tetapi kami tetap bersyukur atas pengalaman bertanding kali ini.  Dari kegagalan tersebut kami dapat mempelajari apa yang salah, dengan mengintrospeksi diri kami masing-masing. Pengalaman ini pun kami jadikan sebagai motivasi untuk berjuang kembali pada kesempatan yang akan datang. Bagaimanapun, kami tetap bangga karena dapat mewakili sekolah.
Selengkapnya
Eksplorasi Virtual Kelas VII : Bermain, Belajar, dan Beranjangsana
Posted: 2022-01-25 | By: Theodora Sihaloho
Tidak terasa semester satu telah berlalu, pembelajaran dapat dilalui dengan penuh perjuangan dan diakhiri dengan Penilaian Akhir Semester. Untuk memberi apresiasi atas seluruh proses ini, telah didesain aktivitas yang menarik dan bersifat rekreatif bagi peserta didik, oleh sekelompok guru SMP Santa Ursula yang tergabung dalam tim jalan-jalan virtual. Secara khusus bagi peserta didik kelas VII, kegiatan yang bersifat santai namun mengedukasi ini, dinamai Kegiatan Eksplorasi Virtual.Mengangkat situasi aktual yakni pandemi yang masih dialami, kegiatan dirancang dalam bentuk aktivitas berkelompok, meliputi permainan, pembelajaran yang memuat analisa dan kajian, serta  sebuah kunjungan. Lokasi yang dipilih untuk aktivitas terakhir adalah PT Amerta Indah Otsuka Sukabumi, produsen minuman isotonik Pocari Sweat. Melalui kegiatan ini diharapkan peserta didik dapat mengembangkan sikap kritis, rasa ingin tahu, kemampuan bekerjasama, dan keberanian untuk membagikan hal yang didapatkan.Pada hari Rabu, 8 Desember 2021, setelah melakukan absensi pagi, doa bersama, dan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, pk. 07.30, rangkaian kegiatan diawali dengan permainan Disease Detective. Melalui aktivitas yang dilakukan secara berkelompok ini, peserta didik diajak mengenali, menentukan jenis wabah, dan solusinya. Ditemukan bahwa dalam situasi wabah (pandemi), dibutuhkan stamina dan daya tahan tubuh yang baik.Peserta didik kemudian mempelajari bahwa daya tahan tubuh yang baik diperoleh jika tubuh dalam kondisi homeostatis, cairan tubuh dalam keadaan seimbang, dengan elektrolit tubuh yang tepat. Dalam keadaan tertentu, keadaan homeostatis dicapai dengan bantuan cairan elektrolit tambahan. Agar dapat mengambil sikap kritis, tidak salah pilih, dan tepat dalam mengkonsumsi cairan elektrolit saat dibutuhkan, peserta didik diajak mengenali kandungan zat dan fungsinya, dari beberapa produk minuman isotonik.Berbekal semua temuan dari proses tersebut, seluruh peserta didik kelas VII kemudian melakukan kunjungan virtual ke salah satu pabrik minuman isotonik, yakni PT Amerta Indah Otsuka Sukabumi, produsen  Pocari Sweat. Dalam kunjungan ini peserta didik dikenalkan tentang latar belakang dan sejarah berdirinya PT Amerta Indah Otsuka, juga tentang proses produksi minuman isotonik yang berlangsung di sana.
Selengkapnya
Pengalamanku Berkompetisi dalam Bebras Challenge 2021
Posted: 2021-12-15 | By: Carlo Marville Harefa
Halo, perkenalkan nama saya Carlo Marville Harefa, biasa dipanggil Carlo. Saya duduk di kelas VIID. Saya lebih mengenal mengenai Computational Thinking (CT) pada kelas VII, namun ternyata tanpa disadari, saya telah menerapkan CT sejak SD. Computational Thinking adalah cara memecahkan masalah dengan logis seperti yang dilakukan oleh komputer.Kompetisi Bebras ini menguji kemampuan CT peserta untuk menyelesaikan masalah. Saya mulai mengenal Bebras sejak kelas VI SD Santa Ursula BSD, di mana setiap akhir minggu wali kelas memberikan 3 soal Bebras untuk dipecahkan murid. Namun saya baru mengikuti kompetisi Bebras pada kelas VII ini.Ketika pertama kali diumumkan akan dilaksanakan lomba Bebras, saya tergerak mengikuti tantangan ini karena saya ingin mencoba kemampuan CT saya, terutama dari soal-soal Bebras yang sudah saya dapatkan pada kelas VI. Saya juga ingin menambah pengalaman saya dengan mengikuti lomba Bebras.Orang tua saya juga mendorong dan mendukung saya untuk terus mengasah kemampuan CT. Saya tidak memiliki target tertentu yang ingin diraih karena tujuan saya mengikuti kompetisi Bebras adalah mencari jenis soal dan cara berpikir yang baru untuk mengasah kemampuan.Untuk mempersiapkan diri mengikuti kompetisi Bebras, saya berlatih mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh sekolah. Sekolah juga menyediakan dua kali pertemuan virtual untuk menyiapkan siswa yang akan mengikuti kompetisi ini. Latihan yang disediakan sekolah sangat membantu karena menjelaskan cara berpikir serta menunjukkan bentuk soal-soal Bebras agar lebih familiar.Pada saat latihan, ada beberapa soal yang menurut saya cukup sulit untuk diselesaikan. Hal yang saya lakukan untuk mengatasinya adalah dengan menentukan kembali kata kunci dari soal untuk memudahkan pemecahan masalah.Pada hari pelaksanaan lomba, saya merasa agak gugup karena ini adalah pengalaman pertama kali buat saya. Sebelum lomba saya berdoa bersama orang tua saya dan berusaha untuk relax serta tetap tenang.Terdapat 15 soal cerita untuk dipecahkan. Cara saya mengerjakan adalah dengan menentukan poin-poin penting pada soal. Jika ada soal yang membingungkan, saya melewati dulu soal tersebut dan mengerjakan soal yang lain untuk mereset mindset agar bisa berpikir dengan lebih jernih. Soal-soal pada lomba tidak ada yang sama dengan soal latihan yang sudah pernah dilatih saat persiapan di sekolah, namun cara berpikir dalam menyelesaikan soal lumayan mirip dengan latihan.Menurut saya soalnya memang relatif mudah karena dari kecil saya sudah sering mengikuti lomba Matematika yang mengharuskan untuk berpikir logis, dan ditambah dengan latihan dari sekolah. Semua soal dapat saya selesaikan dalam 45 menit yang disediakan.Meskipun demikian, saya tidak menduga sama sekali bahwa dalam kompetisi yang baru pertama kali saya ikuti ini, saya bisa meraih juara kedua. Saya merasa terkejut sekaligus gembira mengetahui hasil istimewa ini. Kedua orang tua saya pun merasa sangat bangga kepada saya.Dari pengalaman berlomba kali ini, saya memetik beberapa pembelajaran untuk hidup saya. Di antaranya adalah menerapkan CT dalam menyelesaikan permasalahan, melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda, berpikir optimis, pantang menyerah, dan belajar tenang dalam menyelesaikan permasalahan.Selanjutnya, saya ingin terus belajar dan melatih kemampuan CT saya. Saya juga ingin mengikuti lomba Bebras tahun depan.
Selengkapnya
Menciptakan Quick Maths dalam Lomba Cipta Game Nasional 2021
Posted: 2021-12-15 | By: Kevin Sjarkawi
 Halo, nama saya Kevin, siswa kelas IXE. Saya mulai meminati Coding sejak kelas IV SD, namun saya sudah mulai berlatih sejak kelas I dan mulai serius mempelajarinya di awal kelas VI. Maka saya sudah terbiasa menggunakan Scratch, yaitu program dasar yang digunakan untuk berlatih coding. Walaupun demikian, Lomba Cipta Game Nasional yang diselenggarakan oleh Clevio ini merupakan kompetisi Coding pertama yang saya ikuti. Ini membuat saya merasa agak kuatir pada awalnya. Informasi tentang lomba ini saya ketahui melalui pengumuman yang ditempatkan di Google Classroom Ekstrakurikuler Coding oleh Pak Seno, selaku Koordinator Ekstrakurikuler. Saat melihatnya, saya merasa bahwa ini cukup menarik, dan memutuskan untuk ikut serta. Saya juga sempat berpikir bahwa jika saya mendapat peringkat yang cukup bagus, mungkin saja bisa saya manfaatkan di masa depan. Saya memang berharap bisa mendapat posisi di podium, namun saya tidak terlalu optimis. Bila tidak berhasil pun, tidak apa-apa, karena hal yang sebenarnya saya incar adalah pengalaman, dan juga pelajaran Coding gratis dari pihak penyelenggara acara. Tantangan terbesar untuk lomba ini adalah : waktu pembuatan game-nya bertepatan sekali dengan minggu pelaksanaan Penilaian  Akhir Semester (PAS),  yang terjadwal sejak tanggal 22 hingga 27 November 2021. Untuk mengatasi masalah ini, saya mulai menyiapkan dua hal dari jauh hari.Pertama adalah dengan mulai menyicil mempelajari materinya sejak hari saya memutuskan untuk ikut kompetisi tersebut. Ini saya lakukan agar saya bisa mempelajari ulang materinya dengan mudah di hari sebelum penilaian-penilaiannya. Hal kedua yang saya siapkan jauh-jauh hari adalah segala aset-aset yang saya butuhkan untuk membuat game-nya. Ini berarti menyiapkan segala grafik dan audio yang akan saya gunakan, sekaligus merencanakan konsep dan alur game yang ingin saya buat. Saya juga sudah dari hari pertama merancang jadwal sehari-hari saya sepanjang minggu penilaian tersebut, agar bisa membagi waktu secara efektif, baik untuk PAS maupun untuk pembuatan game. Lomba ini dimulai pada tanggal 21 November 2021. Semua peserta dikumpulkan melalui zoom meeting untuk mendengarkan pengumuman-pengumuman mengenai teknis lomba, serta untuk mengikuti kelas Coding gratis. Setelah pertemuan virtual itu selesai, lomba dimulai. Kami diberi waktu hingga hari Jumat pada minggu yang sama untuk menyelesaikan pembuatan game. Selanjutnya, peserta yang masuk lima teratas akan melakukan presentasi game-nya pada hari Minggu, 28 November 2021. Pada hari itu juga, pemenangnya akan ditentukan. Pada kenyataannya, karena saya mementingkan belajar untuk penilaian akhir semester, saya merasa membuat game seadanya saja. Ketika waktu pembuatan game berakhir, saya terpaksa mengumpulkannya walaupun masih ada beberapa bug atau masalah dengan game tersebut. Namun hanya berupa masalah visual. Keseluruhan game-nya bisa dimainkan tanpa ada masalah.Game yang saya buat bernama Quick Maths. Ini merupakan game dua pemain di mana kedua pemain dapat melontarkan pertanyaan ke satu sama lain, lalu lawan harus menyelesaikannya secepat mungkin. Pemain dinyatakan menang jika lawan belum menyelesaikan perhitungan saat waktu habis. Hanya itu saja sih, konsepnya simpel dan mudah dimengerti. Ada 300 kombinasi pertanyaan yang saya buat, untuk bisa ditanyakan kepada lawan. Dengan demikian,  tidak akan ada dua ronde yang sama, sehingga game-nya bisa lebih bervariasi dan menyenangkan. Game ini juga bisa dimainkan dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris, yang bisa diubah di pengaturan game tersebut. Lomba ini terbuka untuk segala usia. Peserta lomba ini terbagi dalam kategori siswa SD, SMP, SMA, serta kategori guru. Meskipun sempat terasa ala kadarnya, namun ternyata dengan game Quick Maths ini saya berkesempatan lolos dalam lima teratas untuk kategori SMP. Pada akhirnya, saya dinyatakan sebagai peraih juara kedua dalam lomba kali ini. Dari pengalaman mengikuti lomba ini, saya bisa belajar berbagai hal. Saya belajar seberapa pentingnya persiapan bagi kelancaran apapun yang saya lakukan. Tanpa persiapan yang sudah saya lakukan jauh hari, tidak mungkin saya bisa menyelesaikannya tepat waktu. Untuk ke depannya, saya berencana mengikuti lomba-lomba seperti ini lagi. (Semoga saja waktu penyelenggaraan lomba mendatang tidak bertepatan dengan jadwal ulangan semester lagi). Saya berharap saya bisa terus belajar dan berkembang, sehingga lain kali semoga saya bisa meraih juara pertama. 
Selengkapnya
Pengalaman Mengikuti Pelatihan Seven Habits
Posted: 2021-10-11 | By: Ellyse Joanne Sentosa & Aurelius Emmanuel Lim
Ellyse Joanne SentosaSejak Senin, 20 September sampai dengan Rabu, 22 September 2021, selama tiga hari berturut-turut, murid SMP Santa Ursula BSD angkatan ke-27, mengikuti Pelatihan seven habits. Dalam pelatihan ini kami mempelajari tentang bagaimana menjadi pribadi yang efektif dalam melaksanakan segala kegiatan sehari-hari.Seven habits atau tujuh kebiasaan yang terdiri dari: Be Proaktif, Begin with The End in Mind, Put First Things First, Think Win-Win, Seek First to Understand Then To Be Understood, Synergize, dan Sharpen the Saw, memberikan sebuah landasan bagi seseorang agar dapat berpikir secara cerdas dan efektif, serta bersikap peduli terhadap orang-orang di sekitarnya. Pelatihan ini diselenggarakan dengan alasan yang penting, yaitu untuk mengubah pola pikir atau kebiasaan para murid agar dapat menjadi pribadi yang inovatif.Secara pribadi, saya sedang berjuang untuk mengaplikasikan hal yang telah dipelajari ke dalam kehidupan saya. Saya merasa bersyukur dapat mengenal tujuh kebiasaan pada umur saya sekarang ini. Mengubah kebiasaan tentunya bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan waktu yang lama. Dengan memulai dari sekarang, saya dapat mencoba untuk mengubah kebiasaan buruk saya, sebelum kebiasaan tersebut berakar di dalam diri saya.Kak Allen Nenere, pembicara dari Dunamis, dengan baik menyampaikan materi kepada kami. Dari sudut pandang saya, penjelasan yang diberikan Kak Allen sangatlah santai tetapi bermakna. Hal-hal yang disampaikannya membuat saya berpikir ulang tentang tindakan saya selama ini. Penjelasan pembicara juga sangatlah lengkap, bahkan pertanyaan yang belum sempat saya tanyakan, sudah terjawab terlebih dahulu.Penyampaian materi dari pembicara sangatlah interaktif, sehingga  tidak terasa seperti berada di sebuah seminar. Kami juga melakukan kerja kelompok, atau diskusi interaktif, dan menuliskan hasilnya pada slide powerpoint yang telah disediakan. Di akhir setiap tahap, Kak Allen selalu meminta murid untuk menjelaskan atau menceritakan maksud dari tulisannya. Beberapa kali peristiwa yang saya tulis tampaknya menarik perhatian, sehingga saya diminta untuk menyampaikan penjelasan.Pembahasan materi untuk setiap habit juga disertai tayangan video singkat yang menarik. Setelah menyaksikan, Kak Allen akan meminta kami berbagi informasi yang didapatkan dari video tersebut. Sebagai tambahan, saya sangat menyukai aksen yang digunakan Kak Allen saat menyebutkan beberapa kata dalam bahasa Inggris. Ungkapan ini tidak terlalu relevan dengan materi,  tetapi memberikan kesan bahwa pembicara piawai dalam berbahasa.Penyampaian materi yang interaktif membuat mayoritas murid terlibat dalam pembahasan. Bahkan mereka yang biasanya jarang berpendapat saat pembelajaran di kelas pun dapat berpartisipasi dalam menjelaskan tulisan masing-masing pada slide powerpoint. Memang kendala jaringan kadang-kadang membuat beberapa dari kami tidak dapat terlibat sepenuhnya.Secara pribadi, seluruh pembelajaran sangatlah penting. Namun yang paling menonjol dan membuat saya berpikir ulang kemudian mengakui kebenarannya adalah pernyataan “We’re in control of how we feel, not our feelings”. Pernyataan tersebut berhubungan erat dengan kebiasaan saya yang masih mudah tersinggung dan terlalu sensitif.Selain itu,  juga timbul kesadaran dalam diri saya yang berkaitan dengan habit kedua (Begin With The End in Mind), bahwa membuat perencanaan sangatlah penting. Hal tersebut telah membuka mata saya akan pentingnya membuat jadwal. Selain itu, ketika membuat jadwal, big rocks (hal penting) harus diutamakan terlebih dahulu sebelum small rocks (hal yang kurang penting), agar semua dapat diselesaikan sesuai dengan skala prioritasnya.Sebagai penutup, saya ingin berterima kasih kepada sekolah atas kesempatan yang diberikan bagi saya dan teman-teman untuk mengikuti pelatihan seven habits ini. Sekarang saya semakin memiliki landasan untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Saya berharap, angkatan-angkatan selanjutnya juga mendapatkan kesempatan mengenal seven habits, karena materi ini sangatlah penting untuk membentuk kepribadian anak muda zaman sekarang, menjadi orang yang sukses dan inovatif di kemudian hari. Aurelius Emmanuel LimSeven Habits adalah tujuh kebiasaan manusia yang efektif. Habit pertama ‘Be Proactive’, habit kedua ‘Begin With the End in Mind’, habit ketiga ‘Put First Things First’, habit keempat ‘Think Win-Win, habit kelima ‘Seek First to Understand,Then to Be Understood, habit keenam ‘Synergize’, dan habit ketujuh ‘Sharpen the Saw’. Sebenarnya saya sudah mengenal seven habits sejak lama, tapi sangatlah sulit bagi saya untuk menjalaninya.Dari ketujuh habits, yang menarik untuk saya adalah habit pertama dan habit  ketiga. Habit ‘Be Proactive’ adalah habit di mana kita harus berpikir dahulu sebelum bertindak. Sedangkan habit ‘Put First Things First’ adalah habit di mana kita harus mendahulukan kepentingan yang besar dahulu baru kepentingan yang kecil.Kedua habits tersebut sangatlah relate dengan kehidupan saya. Saya cenderung bertindak dulu baru berpikir, dan saya juga lebih suka mementingkan hal yang kecil baru hal yang besar.Saat pelatihan dimulai, kami masuk dalam kelompok yang telah ditentukan, kemudian menamai dan memilih simbol kelompok dan mempresentasikannya. Sepanjang proses pelatihan, kami selalu diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat tentang materi yang dibahas.Selama pelatihan kami didampingi oleh Kak Allen dan Kak Eugene. Penjelasan Kak Allen sebagai fasilitator, sangatlah bagus dan menarik. Informasi yang diberikan mudah dimengerti, dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Sedangkan Kak Eugene menurut saya sangatlah baik dalam membuat tayangan materi yang lengkap dan menarik.Dari pelatihan ini saya mendapatkan banyak pelajaran. Mulai dari bersikap proaktif dan tidak reaktif, mendahulukan kepentingan yang besar dulu baru kepentingan yang kecil, dan masih banyak lagi. Pokoknya banyak deh pelajaran yang bisa diambil.Saya sangat berterima kasih kepada pihak sekolah atas kesempatan mengikuti pelatihan seven habits. Setelah saya mengikuti kegiatan ini, saya merasa bahwa kebiasaan yang saya lakukan sangatlah tidak efektif. Saya akan terus berusaha mengubahnya menjadi kebiasaan yang efektif. Semoga para pembaca termotivasi untuk mengikuti kegiatan seven habits dan mengubah kebiasaan yang tidak efektif.Foto diambil oleh Eugene Hiroshi (Dunamis)
Selengkapnya
Pengalaman Seven Habits
Posted: 2021-10-11 | By: Gavriella Esther Tiurmaida Harefa / VIIB
Selama tiga hari 23-25 September 2021 yang lalu, saya mengikuti Pelatihan Seven Habits bersama teman-teman kelas tujuh lainnya. Pada hari pertama, kami disambut dengan ceria oleh Ibu Firda, fasilitator kelas VIIB. Setelah berkenalan, Ibu Firda membuka slides dan memulai materi pertama Pelatihan Seven Habits. Pada hari pertama, kami belajar tentang The Man in The Mirror, Personal Bank Account, Perbedaan Proaktif dan Reaktif serta To Be a Transition Person.Hari selanjutnya, saya belajar memahami Begin With The End in Mind, Think Win-win dan untuk selalu Put First Things First. Saya juga belajar tentang Relationship Bank Account. Selain itu, saya mengerjakan The Great Discovery yang terdiri dari beberapa pertanyaan tentang diri kita. Saya  menyukai mengerjakan Great Discovery ini karena saya merasa mengenal diri sendiri lebih baik.Hari ketiga adalah hari terakhir untuk Pelatihan Seven Habits kami. Setelah berbincang-bincang sejenak, Bu Firda memulai materi hari itu dengan menjelaskan habit kelima yaitu To Seek First to Understand Then To Be Understood atau mengertilah dulu sebelum dimengerti. Kami juga belajar habit keenam dan ketujuh yaitu Synergize yaitu kebiasaan kerja sama kreatif berdasarkan prinsip ‘menghargai perbedaan’. Selain itu, kami belajar ‘mencari alternatif ketiga’ serta Sharpen the Saw yaitu kebiasaan berhenti sejenak untuk merawat tubuh, otak, hati, dan jiwa.Pada awalnya, saya berpikir bahwa Pelatihan Seven Habits ini akan sangat membosankan, tetapi karena ada Ibu-ibu fasilitor yang sangat ramah, asyik, dan selalu tersenyum, hal yang paling membosankan menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk dipelajari. Dari semua materi dan aktivitas yang saya simak dan lakukan, satu yang paling berkesan untuk saya adalah saat saya mengisi The Great Discovery dan saat saya belajar tentang habit pertama, be Proactive. Meskipun hanya berlangsung selama tiga hari, Pelatihan Seven Habits telah menjadi salah satu pengalaman terbaikku. Saya senang mempelajari tujuh kebiasaan yaitu satu; be proactive, dua; begin with the end in mind, tiga; put first things first, empat;  think win win, lima; seek first to understand then to be understood, enam; synergize dan tujuh; sharpen the saw. Saya juga berharap bisa menerapkan ketujuh kebiasaan ini dalam kehidupan sehari-hari. Saya juga sangat senang bisa bertemu dengan Ibu-ibu fasilitor. Pelatihan Seven Habits adalah pengalaman yang sangat seru dan menyenangkan bagi saya dan sesuatu yang jika bisa, akan saya ikuti lagi.
Selengkapnya
Pelatihan Pendidikan Karakter
Posted: 2021-10-11 | By: Maria Regina Deviyana
Pendidikan Karakter merupakan tema utama dalam pelatihan untuk guru yang diselenggarakan pada hari Kamis hingga Sabtu, tanggal 16-18 September 2021. Pelatihan kali ini diberikan oleh Romo J. Haryatmoko, SJ dan diikuti seluruh guru dalam komunitas Santa Ursula BSD, dari jenjang TB-TK hingga SMA.Sebelum pelatihan dimulai, kami diminta untuk menyaksikan film “The Flower of War”. Secara khusus bagi saya, film ini memberikan makna mengenai hidup sebagai sesuatu yang suci, yang harus diperjuangkan. Walaupun saat itu, saya belum sepenuhnya memahami keterkaitan film dengan materi pelatihan yang akan diberikan.Awalnya, saya merasa kesulitan untuk menangkap penjelasan yang diberikan oleh Romo Haryatmoko ketika berbicara mengenai karakter sebagai kualitas keutamaan. Namun, hal yang kemudian menarik perhatian saya adalah pernyataan Romo Haryatmoko  bahwa karakter dibentuk dari apa yang kita lakukan, bukan dari apa yang kita katakan, ketahui, ataupun yakini.Ternyata karakter dibentuk dari tindakan kita. Setiap pilihan bertindak yang kita putuskan, menentukan siapa diri kita. Melalui latihan, kita mengarahkan diri untuk mampu dan berani bertindak tepat.Pembentukan karakter sangat efektif dilakukan melalui teladan, lingkungan, dan tradisi di mana orang tersebut berada. Maka, peran keluarga dalam membantu perkembangan karakter seorang anak menjadi sangat penting.Setelah pemaparan tentang materi dan komponen pembentukan karakter, Romo Haryatmoko mengajak peserta untuk mengenali ketiga tingkatan perkembangan kesadaran moral menurut Lawrence Kohlberg, dengan kedua tahap pada setiap tingkatan.Perkembangan kesadaran moral dari tahap satu ke tahap lainnya dicapai melalui praktek dan pengalaman. Selain dipengaruhi oleh lingkungan, perkembangan kesadaran moral ini juga dipengaruhi oleh cara berpikir dan pemahaman kita. Maka, untuk dapat mengubah pola pikir dan perilaku seseorang, sangat diperlukan kesediaan untuk berdiskusi dan berinteraksi.Pemahaman kami terhadap tahap-tahap perkembangan kesadaran moral ini kemudian digunakan untuk mengidentifikasi tahap perkembangan kesadaran moral setiap tokoh dalam film “The Flower of War”. Pilihan tindakan setiap tokoh, berikut alasan yang melatarbelakangi pilihan tindakan tersebut, memberikan gambaran tentang tingkat kesadaran moral mereka masing-masing.Selanjutnya, kami dilatih untuk mengenali tingkatan kesadaran moral siswa melalui kuesioner yang dikembangkan oleh Romo Haryatmoko. Kuesioner ini terdiri dari 10 rumusan situasi yang diandaikan dialami siswa. Terhadap setiap rumusan situasi, disediakan 6 pilihan tindakan untuk menyikapi situasi tersebut, masing-masing mewakili tahapan tertentu dari tingkat kesadaran moral. Sebagai latihan, kami semua mengerjakan kuesioner yang dimaksudkan untuk siswa tersebut.Menurut saya, latihan ini tidak mudah, karena setiap pernyataan pilihan tindakan mengandung makna yang hampir mirip satu sama lain. Namun ternyata  pengalaman berlatih inilah yang menjadi modal bagi kami untuk mengembangkan sendiri sebuah kuesioner serupa.Dalam unit masing-masing, kami ditugaskan mengembangkan kuesioner untuk mengenali tingkatan kesadaran moral siswa kami, sesuai dengan situasi yang terjadi pada siswa saat ini. Ini adalah awal dari aktivitas kerja tim yang kemudian semakin intens terjadi pada kedua hari berikutnya.Kami memulai kerja bersama dalam unit SMP dengan merumuskan situasi yang menantang tindakan moral tertentu, yang kami amati kerap terjadi pada siswa. Selanjutnya, untuk setiap gambaran situasi, kami rumuskan beberapa alternatif tindakan yang mewakili tingkatan perkembangan kesadaran moral tertentu. Dengan menggunakan fasilitas drive bersama, proses saling melengkapi ini berlangsung secara online, bahkan hingga malam hari.Presentasi hasil kerja dari setiap unit inilah yang mengawali proses pelatihan pada hari kedua. Catatan yang diberikan oleh Romo Haryatmoko untuk setiap item kuesioner yang dipresentasikan, semakin menguatkan pemahaman kami. Alat ukur yang baik membantu kami memperoleh pengenalan yang lebih baik pula terhadap tingkat kesadaran moral siswa yang kami dampingi.Pelatihan pada hari kedua berfokus pada upaya mendampingi siswa mengembangkan tingkat kesadaran moral mereka. Mengangkat beberapa penelitian pustaka, Romo Haryatmoko menegaskan bentuk-bentuk pendampingan orang tua dalam hal ini. Bagaimana dengan di pendidik di sekolah?Dari antara sekian banyak gagasan untuk diterapkan, kami secara khusus didampingi dalam mengenal, memahami, kemudian menerapkan tiga bentuk pelatihan pembelajaran yang memacu kreativitas, dengan berorientasi ke pemecahan-masalah. Ketiga bentuk tersebut adalah : 1) Logika Abduksi, 2)Lima Langkah Pemecahan Masalah secara ilmiah, serta 3) Design Thinking.Logika abduksi merupakan logika alternatif, melengkapi logika yang umum dikenal yaitu induksi dan deduksi. Dibandingkan dengan kedua logika sebelumnya yang membatasi kesimpulan pada satu kemungkinan, logika abduksi berpeluang memunculkan lebih dari 1 pernyataan hipotesa, terhadap fakta adanya kasus yang tidak sejalan dengan pengamatan umum.Untuk lebih memahami, kami kemudian masuk dalam kelompok-kelompok kecil, membuat contoh penggunaan logika abduksi dalam kegiatan pembelajaran. Sebagaimana sebelumnya, hasil kerja ini pun dipresentasikan dan dikritisi oleh Romo Haryatmoko. Semakin banyak contoh yang diungkapkan dari aneka bidang studi di semua jenjang, semakin tampak bahwa logika abduksi lebih mendorong siswa berpikir kreatif dan inovatif.Ternyata logika abduksi menjadi dasar bagi tahap ketiga dari lima langkah pemecahan masalah secara ilmiah. Ini merupakan bentuk lain dari  pembelajaran yang memacu kreativitas dengan berorientasi ke pemecahan-masalah, yang kami pelajari selanjutnya.Diawali dengan tahap pengungkapan masalah serta tahap perumusan masalah secara spesifik, tahap ketiga yakni pengajuan kemungkinan pemecahan masalah, dilakukan dengan logika abduksi untuk menghasilkan daftar hipotesis. Konsekuensi dari pilihan solusi di tahap ketiga tersebut kemudian dibahas pada tahap keempat, sebelum diakhiri dengan langkah penerapan, evaluasi dan tindak lanjut di tahap kelima.Penerapan kelima langkah pemecahan masalah secara ilmiah ini kemudian kami latihkan lagi dalam kelompok-kelompok kecil. Presentasi hasil kerja dari perwakilan setiap unit menjadi agenda pertama, mengawali rangkaian kegiatan pada hari ketiga. Catatan kritis dari Romo Haryatmoko untuk presentasi hasil karya, kembali menguatkan pemahaman kami yang rasanya sudah semakin terbatas, sejalan dengan semakin beratnya materi yang diberikan.Ada sejumlah konsep baru yang kami kenali di hari terakhir pelatihan. Kompetensi subjektif, yang menjadi indikator keberhasilan pendidikan karakter; konsep habitus berikut proses internalisasinya; konsep kecerdasan kolektif diikuti quiz untuk menguji kadar kepemilikannya pada peserta; hingga konsep design thinking.Konsep terakhir merupakan bentuk terakhir dari pembelajaran yang memacu kreativitas dengan berorientasi ke pemecahan-masalah, yang diperkenalkan kepada kami. Design thinking juga memuat lima langkah, namun model ini menempatkan secara khusus aspek empati di awal proses. Berhadapan dengan masalah, perlu terlebih dahulu ditegaskan, kepada pihak manakah keberpihakan hendak diarahkan.Sebagai bahan latihan, Romo Haryatmoko menyiapkan sebuah kasus dilematis untuk dipecahkan. Dalam kelompok-kelompok kecil, peserta menerapkan langkah demi langkah design thinking, namun kali ini dalam waktu yang sangat singkat, karena waktu pelatihan nyaris berakhir. Meskipun demikian, presentasi dari setiap unit serta tinjauan cermat dan masukan bermakna dari Romo Haryatmoko tetap membekali kami.Ada banyak sekali hal baru yang kami pelajari melalui pelatihan tiga hari ini. Nilai-nilai moral sebagai panduan perilaku yang membangun karakter setiap pribadi, tidak dengan serta merta dimiliki siswa dalam hidup mereka. Maka pendidikan karakter menjadi bagian utama dalam panggilan seorang guru.Secara pribadi, saya menggaris bawahi fakta bahwa perkembangan moral seseorang perlu terus-menerus dilatih. Nilai-nilai moral bukan sekedar untuk diketahui dan dipahami, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata. Sebagai seorang guru, saya harus memberikan teladan bagi para siswa, melalui tindakan yang saya lakukan.
Selengkapnya
Pameran Seni Rupa Di Bentara Budaya Jakarta Bersama Kawan-Kawan Guru
Posted: 2021-09-21 | By: Yoh Krismiyanto
Setelah meninggalkan kampus ISI Yogyakarta beberapa tahun yang lalu saya sangat jarang bertemu lagi dengan teman-teman kampus, karena disibukkan dengan berbagai kegiatan masing-masing, sehingga saya kurang mengikuti kondisi dan perkembangan mereka saat ini. Pertemuan kami berawal dari percakapan santai beberapa teman alumni di group WA yang akhirnya terbentuklah sebuah komunitas seni yang diberi nama”Mendadak Guru” dan kemudian nama itu akhirnya menjadi tema pameran kelompok seni rupa di Bentara Budaya Jakarta. Nama komunitas mendadak guru ini kami pilih karena sebenarnya kami tidak dididik dan disiapkan oleh dunia pendidikan untuk menjadi seorang pendidik, tetapi dilatih sebagai seniman yang  mandiri, kreatif dan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. Mendadak guru adalah kumpulan 13 perupa alumni ISI Yogyakarta dari berbagai angkatan dan jurusan yang akhirnya memilih menjadi guru sebagai profesi yang ditekuninya. Komunitas ini bagi saya menjadi seperti sanggar seni tempat saya bertemu teman-teman  seprofesi, berbagi pengalaman dan kreativitas yang ternyata telah banyak mengalami perkembangan selama kami terpisah oleh jarak, waktu dan aktivitas.Berawal dari kerinduan yang sama untuk berpameran seni rupa menjadi semangat kami mengadakan pameran kelompok. Setelah berkomunikasi dengan pihak Bentara Budaya Jakarta ternyata rencana spontan kami mendapat sambutan dan respon sangat positif. Pada awalnya pameran akan dilakukan secara offline dengan pembatasan pengunjung, namun berubah menjadi semi virtual karena diberlakukan PPKM oleh pemerintah yang ternyata juga masih terus diperpanjang. Situasi dan kondisi di masa pandemi mengubah banyak rencana yang telah kami susun, akhirnya disepakati bahwa pameran dilakukan secara virtual melalui kanal youtube Bentara Budaya Jakarta dengan tetap memajang karya seni secara fisik di ruang pameran. Pameran berlangsung mulai 29 Juli hingga 6 Agustus 2021 dan diresmikan oleh Pengamat Budaya Pop Hikmat Darmawan. Sedikitnya menampilkan 50 karya, mulai dari lukisan, film pendek, kolase, instalasi, hingga seni cetak grafis. Pameran komunitas mendadak guru adalah pameran virtual kedua yang diselenggarakan oleh Bentara Budaya Jakarta selama masa pandemi dan ternyata cukup mendapat apresiasi dari masyarakat serta penikmat seni. Selama pameran seni berlangsung kami para guru mengadakan workshop seni virtual untuk berkarya seni bersama keluarga menggunakan bahan yang ada di rumah masing-masing yaitu membuat : wayang limbah, cetak tinggi, cukil grafis, notulensi grafis dan stop motion. Workshop ini mendapat sambutan baik dari para siswa dan guru seni, terutama para guru yang berada di daerah.Pameran ini bagi saya pribadi memberikan motivasi untuk terus berkarya dan berkreasi, terlebih untuk pengembangan pendidikan yang sekarang menjadi pilihan profesi saya. Aryo Danusiri assistant professor of antropology at the University of Indonesia sebagai kurator pameran menuliskan pengantarnya pada katalog pameran beliau menegaskan kembali pengalaman yang saya sampaikan :Simak misalnya Yohanes Krismiyanto yang berbagi pengalamannya : “Ketika baru keluar kampus ISI, saya masih idealis dengan berbagai impian menjadi seniman yang kreatif dan produktif seolah-olah berkesenian adalah segala-galanya. Menjadi guru tidak terlintas dalam pikiran. Terlebih lagi kampus ISI tidak mengajarkan mahasiswanya tentang pedagogi pengelolaan kelas. “Saat itu saya berpikir menjadi guru adalah pekerjaan sampingan sebagai seniman, tetapi ternyata menjadi guru begitu banyak tuntutan dan tanggung jawab yang harus dipenuhi. Pada awalnya sungguh tidak mudah menyesuaikan kondisi seperti ini. Seiring berjalannya waktu, saya mulai dapat menikmati pekerjaan ini apalagi sering diberi tugas membantu dekorasi panggung ketika sekolah mengadakan pementasan atau kegiatan yang terkait dengan seni rupa.”Bila pada awalnya Yohanes melihat kesenimanan dan keguruan dalam hubungan nilai yang hirarkis, yaitu seniman yang utama sedangkan guru hanya sampingan, maka lewat proses mengalami keguruan itu sendiri Yohanes bisa memahami bahwa nilai hirarki seniman-guru itu tidaklah substantif namun dinamis dalam proses pengalaman. Selanjutnya Yohanes menyampaikan refleksinya,“Menjadi guru seni rupa bukan hanya mengajarkan keterampilan dan kreativitas dalam berkarya, tetapi melalui seni guru dan siswa bisa saling belajar tentang karakter dan nilai-nilai hidup. Siswa dapat belajar tentang daya juang, kerja sama, menghargai orang lain, cinta lingkungan dan sebagainya. Jadi paradigma atau cara pandang dulu dan sekarang jelas berbeda. Semua baik tinggal mana yang dipilih untuk kita tekuni dengan kesungguhan hati dan cinta.”Akhirnya buat Yohanes, menjadi guru bukanlah pilihan dadakan, bukan pilihan error, namun pilihan bernilai yang ia konstruksi lewat tindakan dan pengalaman konkrit.”Penegasan kurator Aryo Danusiri di atas memberikan pengetahuan dan teori baru bagi saya dan sekaligus menunjukkan cara mempraktikkannya. Mungkin juga tanpa saya sadari saya sudah melakukannya. Saya juga belajar untuk lebih peka dalam memaknai setiap kejadian pada saat berproses.Demikian cerita singkat terjadinya pameran komunitas “Mendadak Guru” yang dapat saya sampaikan, semoga proses yang terjadi memberikan pembelajaran bagi kami peserta pameran khususnya dan menyebarkan virus kebaikan serta manfaat di masa pandemi ini bagi kawan-kawan seprofesi serta para pembaca pada umumnya, terima kasih. Kegiatan pameran komunitas mendadak guru ini juga ada di liputan koran KOMPAS Jumat, 30 Juli 2021 (Persembahan Seni 13 Guru - Kompas.id) dan Minggu, 8 Agustus 2021(Menengok Kembali Kesenimanan)Terima kasih, salam budaya dan sehat selalu...Yoh Kris
Selengkapnya
PERTEMUAN ORANG TUA SISWA KELAS IX SMP SANTA URSULA BSD
Posted: 2021-09-15 | By: Kristina Dwi Oktavia
Tahun pelajaran 2021/2022 sudah dimulai sejak bulan Juli. Pembelajaran untuk para siswa pun masih dilakukan secara daring karena masih adanya penyebaran covid-19 yang semakin hari semakin meningkat. Selain pembelajaran yang dilakukan secara daring oleh siswa, ada juga kegiatan pertemuan orang tua siswa. Pertemuan orang tua siswa ini, selalu dilaksanakan setiap tahunnya pada awal tahun pelajaran. Kegiatan ini merupakan persiapan awal bagi orang tua dalam mendampingi putra/putrinya selama pembelajaran di level yang baru, khususnya saat ini di kelas IX.Pertemuan ini dihadiri oleh para orang tua siswa kelas IX dan dilaksanakan secara virtual melalui zoom meeting. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Kamis, 5 Agustus 2021. Kegiatan ini diawali dengan pengarahan dari Ibu Irene Anindyasari sebagai Kepala Sekolah SMP Santa Ursula BSD. Ibu Irene memberikan gambaran Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tahun pelajaran 2021/2022, materi esensial yang akan dipelajari dan terkait dengan kegiatan ekstrakurikuler.Setelah pengarahan dari Kepala Sekolah, ada penjelasan dari Ibu Kartika, Psikolog Sekolah. Dalam pertemuan ini, Ibu Kartika menyampaikan tentang Layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan baik untuk para siswa maupun orang tua siswa. Selain itu, Psikolog sekolah juga menyampaikan program-program kegiatan yang akan dilakukan dalam mendampingi para siswa, seperti mempersiapkan studi lanjut, menentukan arah masa depan para siswa, dan menemukan mimpi melalui pengenalan diri (Passion Potential, and Personality). Passion disini memiliki pengertian tentang apa yang disukai. Potential berarti kemampuan yang dimiliki, sedangkan Personality ini memiliki arti karakter yang dimiliki untuk mengatur strategi supaya bisa mencapai mimpi. Para siswa diajak mengenal diri sendiri dan diharapkan mampu mengembangkan kemampuan yang dimiliki dalam mencapai cita-cita para siswa. Selain itu, para orang tua diharapkan juga menjadi orang tua yang proaktif, mau berdiskusi, mengarahkan dan menanamkan values untuk putra-putrinya.Kemudian ada pengarahan dari Wakasek Kurikulum, Ibu Cicilia Budilestari. Dalam pengarahan kurikulum ini, ada tayangan video dari salah satu orang tua siswa yaitu mama Glenn (9D) sebagai support system bagi putranya dalam menjalani PJJ. Peran orang tua sangat dibutuhkan selama PJJ ini. Hal ini dikarenakan tidaklah mudah dengan pembelajaran  secara daring, membutuhkan support dari orang tua supaya putra-putrinya mampu beradaptasi dan tetap belajar walaupun harus secara daring. Selanjutnya, Ibu Cicil menjelaskan terkait dengan KKM, cara melampauinya untuk setiap mata pelajaran, syarat kelulusan, penilaian-penilaian yang akan dilakukan, seperti penilaian pengetahuan, keterampilan dan sikap. Selain itu, Ibu Cicil menyampaikan juga bahwa selama PJJ ini para siswa diharapkan mampu mengembangkan diri tidak hanya berfokus pada nilai akademis saja, tetapi juga dengan kegiatan-kegiatan positif lainnya seperti tayangan video dari Arka 9C, bagaimana Arka mengisi waktunya dengan hal positif, tetap produktif, walaupun hanya berkegiatan di dalam rumah selama pandemi. Dalam pertemuan ini, juga ada Sharing Kegiatan Kolaborasi Pelajaran Bahasa Inggris, Seni Rupa, dan IPA dari Ibu Kristin, Pak Krismiyanto dan Ibu Lia. Ibu Lia menjelaskan tentang produk kolaborasi meliputi tema, sasaran, alokasi waktu, materi esensial dari setiap mata pelajaran juga tujuan dari kegiatan kolaborasi yang sudah dilakukan. Dalam kegiatan kolaborasi ini lebih ditekankan untuk mengembangkan keterampilan 4 Cs ( Critical Thinking, Collaboration, Communication and Creativity). Keterampilan 4 Cs ini sangat diperlukan untuk menghadapi tantangan abad 21. Setelah itu, ada penjelasan tentang tahapan pembelajaran kolaborasi oleh Ibu Kristin. Tahapan ini meliputi Persiapan, Perencanaan, Pembuatan produk, Evaluasi dan refleksi. Dengan tahapan pembelajaran ini diharapkan para siswa mampu bekerja sesuai dengan langkah-langkah yang jelas dan terarah. Sharing terakhir yaitu terkait dengan hasil produk kolaborasi yang dijelaskan oleh Pak Kris. Hasil produk disajikan dalam bentuk tayangan video, dan dari produk yang dihasilkan itu diharapkan mampu menumbuhkan nilai hidup bagi para siswa dan memberi pengaruh positif pada dunia.Untuk kegiatan selanjutnya yaitu sesi tanya jawab dan diakhiri dengan doa penutup yang dipimpin oleh Ibu Devi. Dengan serangkaian kegiatan dalam pertemuan orang tua, diharapkan para orang tua lebih siap dalam mendampingi dan memotivasi putra-putrinya menjalani PJJ dan mempersiapkan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya.
Selengkapnya