Menciptakan Quick Maths dalam Lomba Cipta Game Nasional 2021
Posted: 2021-12-15 | By: Kevin Sjarkawi
  Halo, nama saya Kevin, siswa kelas IXE. Saya mulai meminati Coding sejak kelas IV SD, namun saya sudah mulai berlatih sejak kelas I dan mulai serius mempelajarinya di awal kelas VI. Maka saya sudah terbiasa menggunakan Scratch, yaitu program dasar yang digunakan untuk berlatih coding. Walaupun demikian, Lomba Cipta Game Nasional yang diselenggarakan oleh Clevio ini merupakan kompetisi Coding pertama yang saya ikuti. Ini membuat saya merasa agak kuatir pada awalnya. Informasi tentang lomba ini saya ketahui melalui pengumuman yang ditempatkan di Google Classroom Ekstrakurikuler Coding oleh Pak Seno, selaku Koordinator Ekstrakurikuler. Saat melihatnya, saya merasa bahwa ini cukup menarik, dan memutuskan untuk ikut serta. Saya juga sempat berpikir bahwa jika saya mendapat peringkat yang cukup bagus, mungkin saja bisa saya manfaatkan di masa depan. Saya memang berharap bisa mendapat posisi di podium, namun saya tidak terlalu optimis. Bila tidak berhasil pun, tidak apa-apa, karena hal yang sebenarnya saya incar adalah pengalaman, dan juga pelajaran Coding gratis dari pihak penyelenggara acara. Tantangan terbesar untuk lomba ini adalah : waktu pembuatan game-nya bertepatan sekali dengan minggu pelaksanaan Penilaian  Akhir Semester (PAS),  yang terjadwal sejak tanggal 22 hingga 27 November 2021. Untuk mengatasi masalah ini, saya mulai menyiapkan dua hal dari jauh hari. Pertama adalah dengan mulai menyicil mempelajari materinya sejak hari saya memutuskan untuk ikut kompetisi tersebut. Ini saya lakukan agar saya bisa mempelajari ulang materinya dengan mudah di hari sebelum penilaian-penilaiannya. Hal kedua yang saya siapkan jauh-jauh hari adalah segala aset-aset yang saya butuhkan untuk membuat game-nya. Ini berarti menyiapkan segala grafik dan audio yang akan saya gunakan, sekaligus merencanakan konsep dan alur game yang ingin saya buat. Saya juga sudah dari hari pertama merancang jadwal sehari-hari saya sepanjang minggu penilaian tersebut, agar bisa membagi waktu secara efektif, baik untuk PAS maupun untuk pembuatan game. Lomba ini dimulai pada tanggal 21 November 2021. Semua peserta dikumpulkan melalui zoom meeting untuk mendengarkan pengumuman-pengumuman mengenai teknis lomba, serta untuk mengikuti kelas Coding gratis. Setelah pertemuan virtual itu selesai, lomba dimulai. Kami diberi waktu hingga hari Jumat pada minggu yang sama untuk menyelesaikan pembuatan game. Selanjutnya, peserta yang masuk lima teratas akan melakukan presentasi game-nya pada hari Minggu, 28 November 2021. Pada hari itu juga, pemenangnya akan ditentukan. Pada kenyataannya, karena saya mementingkan belajar untuk penilaian akhir semester, saya merasa membuat game seadanya saja. Ketika waktu pembuatan game berakhir, saya terpaksa mengumpulkannya walaupun masih ada beberapa bug atau masalah dengan game tersebut. Namun hanya berupa masalah visual. Keseluruhan game-nya bisa dimainkan tanpa ada masalah. Game yang saya buat bernama Quick Maths. Ini merupakan game dua pemain di mana kedua pemain dapat melontarkan pertanyaan ke satu sama lain, lalu lawan harus menyelesaikannya secepat mungkin. Pemain dinyatakan menang jika lawan belum menyelesaikan perhitungan saat waktu habis. Hanya itu saja sih, konsepnya simpel dan mudah dimengerti. Ada 300 kombinasi pertanyaan yang saya buat, untuk bisa ditanyakan kepada lawan. Dengan demikian,  tidak akan ada dua ronde yang sama, sehingga game-nya bisa lebih bervariasi dan menyenangkan. Game ini juga bisa dimainkan dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris, yang bisa diubah di pengaturan game tersebut. Lomba ini terbuka untuk segala usia. Peserta lomba ini terbagi dalam kategori siswa SD, SMP, SMA, serta kategori guru. Meskipun sempat terasa ala kadarnya, namun ternyata dengan game Quick Maths ini saya berkesempatan lolos dalam lima teratas untuk kategori SMP. Pada akhirnya, saya dinyatakan sebagai peraih juara kedua dalam lomba kali ini. Dari pengalaman mengikuti lomba ini, saya bisa belajar berbagai hal. Saya belajar seberapa pentingnya persiapan bagi kelancaran apapun yang saya lakukan. Tanpa persiapan yang sudah saya lakukan jauh hari, tidak mungkin saya bisa menyelesaikannya tepat waktu. Untuk ke depannya, saya berencana mengikuti lomba-lomba seperti ini lagi. (Semoga saja waktu penyelenggaraan lomba mendatang tidak bertepatan dengan jadwal ulangan semester lagi). Saya berharap saya bisa terus belajar dan berkembang, sehingga lain kali semoga saya bisa meraih juara pertama.  
Selengkapnya
Pengalaman Mengikuti Pelatihan Seven Habits
Posted: 2021-10-11 | By: Ellyse Joanne Sentosa & Aurelius Emmanuel Lim
Ellyse Joanne Sentosa Sejak Senin, 20 September sampai dengan Rabu, 22 September 2021, selama tiga hari berturut-turut, murid SMP Santa Ursula BSD angkatan ke-27, mengikuti Pelatihan seven habits. Dalam pelatihan ini kami mempelajari tentang bagaimana menjadi pribadi yang efektif dalam melaksanakan segala kegiatan sehari-hari. Seven habits atau tujuh kebiasaan yang terdiri dari: Be Proaktif, Begin with The End in Mind, Put First Things First, Think Win-Win, Seek First to Understand Then To Be Understood, Synergize, dan Sharpen the Saw, memberikan sebuah landasan bagi seseorang agar dapat berpikir secara cerdas dan efektif, serta bersikap peduli terhadap orang-orang di sekitarnya. Pelatihan ini diselenggarakan dengan alasan yang penting, yaitu untuk mengubah pola pikir atau kebiasaan para murid agar dapat menjadi pribadi yang inovatif. Secara pribadi, saya sedang berjuang untuk mengaplikasikan hal yang telah dipelajari ke dalam kehidupan saya. Saya merasa bersyukur dapat mengenal tujuh kebiasaan pada umur saya sekarang ini. Mengubah kebiasaan tentunya bukanlah hal yang mudah dan membutuhkan waktu yang lama. Dengan memulai dari sekarang, saya dapat mencoba untuk mengubah kebiasaan buruk saya, sebelum kebiasaan tersebut berakar di dalam diri saya. Kak Allen Nenere, pembicara dari Dunamis, dengan baik menyampaikan materi kepada kami. Dari sudut pandang saya, penjelasan yang diberikan Kak Allen sangatlah santai tetapi bermakna. Hal-hal yang disampaikannya membuat saya berpikir ulang tentang tindakan saya selama ini. Penjelasan pembicara juga sangatlah lengkap, bahkan pertanyaan yang belum sempat saya tanyakan, sudah terjawab terlebih dahulu. Penyampaian materi dari pembicara sangatlah interaktif, sehingga  tidak terasa seperti berada di sebuah seminar. Kami juga melakukan kerja kelompok, atau diskusi interaktif, dan menuliskan hasilnya pada slide powerpoint yang telah disediakan. Di akhir setiap tahap, Kak Allen selalu meminta murid untuk menjelaskan atau menceritakan maksud dari tulisannya. Beberapa kali peristiwa yang saya tulis tampaknya menarik perhatian, sehingga saya diminta untuk menyampaikan penjelasan. Pembahasan materi untuk setiap habit juga disertai tayangan video singkat yang menarik. Setelah menyaksikan, Kak Allen akan meminta kami berbagi informasi yang didapatkan dari video tersebut. Sebagai tambahan, saya sangat menyukai aksen yang digunakan Kak Allen saat menyebutkan beberapa kata dalam bahasa Inggris. Ungkapan ini tidak terlalu relevan dengan materi,  tetapi memberikan kesan bahwa pembicara piawai dalam berbahasa. Penyampaian materi yang interaktif membuat mayoritas murid terlibat dalam pembahasan. Bahkan mereka yang biasanya jarang berpendapat saat pembelajaran di kelas pun dapat berpartisipasi dalam menjelaskan tulisan masing-masing pada slide powerpoint. Memang kendala jaringan kadang-kadang membuat beberapa dari kami tidak dapat terlibat sepenuhnya. Secara pribadi, seluruh pembelajaran sangatlah penting. Namun yang paling menonjol dan membuat saya berpikir ulang kemudian mengakui kebenarannya adalah pernyataan “We’re in control of how we feel, not our feelings”. Pernyataan tersebut berhubungan erat dengan kebiasaan saya yang masih mudah tersinggung dan terlalu sensitif. Selain itu,  juga timbul kesadaran dalam diri saya yang berkaitan dengan habit kedua (Begin With The End in Mind), bahwa membuat perencanaan sangatlah penting. Hal tersebut telah membuka mata saya akan pentingnya membuat jadwal. Selain itu, ketika membuat jadwal, big rocks (hal penting) harus diutamakan terlebih dahulu sebelum small rocks (hal yang kurang penting), agar semua dapat diselesaikan sesuai dengan skala prioritasnya. Sebagai penutup, saya ingin berterima kasih kepada sekolah atas kesempatan yang diberikan bagi saya dan teman-teman untuk mengikuti pelatihan seven habits ini. Sekarang saya semakin memiliki landasan untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Saya berharap, angkatan-angkatan selanjutnya juga mendapatkan kesempatan mengenal seven habits, karena materi ini sangatlah penting untuk membentuk kepribadian anak muda zaman sekarang, menjadi orang yang sukses dan inovatif di kemudian hari.   Aurelius Emmanuel Lim Seven Habits adalah tujuh kebiasaan manusia yang efektif. Habit pertama ‘Be Proactive’, habit kedua ‘Begin With the End in Mind’, habit ketiga ‘Put First Things First’, habit keempat ‘Think Win-Win, habit kelima ‘Seek First to Understand,Then to Be Understood, habit keenam ‘Synergize’, dan habit ketujuh ‘Sharpen the Saw’. Sebenarnya saya sudah mengenal seven habits sejak lama, tapi sangatlah sulit bagi saya untuk menjalaninya. Dari ketujuh habits, yang menarik untuk saya adalah habit pertama dan habit  ketiga. Habit ‘Be Proactive’ adalah habit di mana kita harus berpikir dahulu sebelum bertindak. Sedangkan habit ‘Put First Things First’ adalah habit di mana kita harus mendahulukan kepentingan yang besar dahulu baru kepentingan yang kecil. Kedua habits tersebut sangatlah relate dengan kehidupan saya. Saya cenderung bertindak dulu baru berpikir, dan saya juga lebih suka mementingkan hal yang kecil baru hal yang besar. Saat pelatihan dimulai, kami masuk dalam kelompok yang telah ditentukan, kemudian menamai dan memilih simbol kelompok dan mempresentasikannya. Sepanjang proses pelatihan, kami selalu diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat tentang materi yang dibahas. Selama pelatihan kami didampingi oleh Kak Allen dan Kak Eugene. Penjelasan Kak Allen sebagai fasilitator, sangatlah bagus dan menarik. Informasi yang diberikan mudah dimengerti, dan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Sedangkan Kak Eugene menurut saya sangatlah baik dalam membuat tayangan materi yang lengkap dan menarik. Dari pelatihan ini saya mendapatkan banyak pelajaran. Mulai dari bersikap proaktif dan tidak reaktif, mendahulukan kepentingan yang besar dulu baru kepentingan yang kecil, dan masih banyak lagi. Pokoknya banyak deh pelajaran yang bisa diambil. Saya sangat berterima kasih kepada pihak sekolah atas kesempatan mengikuti pelatihan seven habits. Setelah saya mengikuti kegiatan ini, saya merasa bahwa kebiasaan yang saya lakukan sangatlah tidak efektif. Saya akan terus berusaha mengubahnya menjadi kebiasaan yang efektif. Semoga para pembaca termotivasi untuk mengikuti kegiatan seven habits dan mengubah kebiasaan yang tidak efektif. Foto diambil oleh Eugene Hiroshi (Dunamis)
Selengkapnya
Pengalaman Seven Habits
Posted: 2021-10-11 | By: Gavriella Esther Tiurmaida Harefa / VIIB
Selama tiga hari 23-25 September 2021 yang lalu, saya mengikuti Pelatihan Seven Habits bersama teman-teman kelas tujuh lainnya. Pada hari pertama, kami disambut dengan ceria oleh Ibu Firda, fasilitator kelas VIIB. Setelah berkenalan, Ibu Firda membuka slides dan memulai materi pertama Pelatihan Seven Habits. Pada hari pertama, kami belajar tentang The Man in The Mirror, Personal Bank Account, Perbedaan Proaktif dan Reaktif serta To Be a Transition Person. Hari selanjutnya, saya belajar memahami Begin With The End in Mind, Think Win-win dan untuk selalu Put First Things First. Saya juga belajar tentang Relationship Bank Account. Selain itu, saya mengerjakan The Great Discovery yang terdiri dari beberapa pertanyaan tentang diri kita. Saya  menyukai mengerjakan Great Discovery ini karena saya merasa mengenal diri sendiri lebih baik. Hari ketiga adalah hari terakhir untuk Pelatihan Seven Habits kami. Setelah berbincang-bincang sejenak, Bu Firda memulai materi hari itu dengan menjelaskan habit kelima yaitu To Seek First to Understand Then To Be Understood atau mengertilah dulu sebelum dimengerti. Kami juga belajar habit keenam dan ketujuh yaitu Synergize yaitu kebiasaan kerja sama kreatif berdasarkan prinsip ‘menghargai perbedaan’. Selain itu, kami belajar ‘mencari alternatif ketiga’ serta Sharpen the Saw yaitu kebiasaan berhenti sejenak untuk merawat tubuh, otak, hati, dan jiwa. Pada awalnya, saya berpikir bahwa Pelatihan Seven Habits ini akan sangat membosankan, tetapi karena ada Ibu-ibu fasilitor yang sangat ramah, asyik, dan selalu tersenyum, hal yang paling membosankan menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk dipelajari. Dari semua materi dan aktivitas yang saya simak dan lakukan, satu yang paling berkesan untuk saya adalah saat saya mengisi The Great Discovery dan saat saya belajar tentang habit pertama, be Proactive. Meskipun hanya berlangsung selama tiga hari, Pelatihan Seven Habits telah menjadi salah satu pengalaman terbaikku. Saya senang mempelajari tujuh kebiasaan yaitu satu; be proactive, dua; begin with the end in mind, tiga; put first things first, empat;  think win win, lima; seek first to understand then to be understood, enam; synergize dan tujuh; sharpen the saw. Saya juga berharap bisa menerapkan ketujuh kebiasaan ini dalam kehidupan sehari-hari. Saya juga sangat senang bisa bertemu dengan Ibu-ibu fasilitor. Pelatihan Seven Habits adalah pengalaman yang sangat seru dan menyenangkan bagi saya dan sesuatu yang jika bisa, akan saya ikuti lagi.
Selengkapnya
Pelatihan Pendidikan Karakter
Posted: 2021-10-11 | By: Maria Regina Deviyana
Pendidikan Karakter merupakan tema utama dalam pelatihan untuk guru yang diselenggarakan pada hari Kamis hingga Sabtu, tanggal 16-18 September 2021. Pelatihan kali ini diberikan oleh Romo J. Haryatmoko, SJ dan diikuti seluruh guru dalam komunitas Santa Ursula BSD, dari jenjang TB-TK hingga SMA. Sebelum pelatihan dimulai, kami diminta untuk menyaksikan film “The Flower of War”. Secara khusus bagi saya, film ini memberikan makna mengenai hidup sebagai sesuatu yang suci, yang harus diperjuangkan. Walaupun saat itu, saya belum sepenuhnya memahami keterkaitan film dengan materi pelatihan yang akan diberikan. Awalnya, saya merasa kesulitan untuk menangkap penjelasan yang diberikan oleh Romo Haryatmoko ketika berbicara mengenai karakter sebagai kualitas keutamaan. Namun, hal yang kemudian menarik perhatian saya adalah pernyataan Romo Haryatmoko  bahwa karakter dibentuk dari apa yang kita lakukan, bukan dari apa yang kita katakan, ketahui, ataupun yakini. Ternyata karakter dibentuk dari tindakan kita. Setiap pilihan bertindak yang kita putuskan, menentukan siapa diri kita. Melalui latihan, kita mengarahkan diri untuk mampu dan berani bertindak tepat. Pembentukan karakter sangat efektif dilakukan melalui teladan, lingkungan, dan tradisi di mana orang tersebut berada. Maka, peran keluarga dalam membantu perkembangan karakter seorang anak menjadi sangat penting. Setelah pemaparan tentang materi dan komponen pembentukan karakter, Romo Haryatmoko mengajak peserta untuk mengenali ketiga tingkatan perkembangan kesadaran moral menurut Lawrence Kohlberg, dengan kedua tahap pada setiap tingkatan. Perkembangan kesadaran moral dari tahap satu ke tahap lainnya dicapai melalui praktek dan pengalaman. Selain dipengaruhi oleh lingkungan, perkembangan kesadaran moral ini juga dipengaruhi oleh cara berpikir dan pemahaman kita. Maka, untuk dapat mengubah pola pikir dan perilaku seseorang, sangat diperlukan kesediaan untuk berdiskusi dan berinteraksi. Pemahaman kami terhadap tahap-tahap perkembangan kesadaran moral ini kemudian digunakan untuk mengidentifikasi tahap perkembangan kesadaran moral setiap tokoh dalam film “The Flower of War”. Pilihan tindakan setiap tokoh, berikut alasan yang melatarbelakangi pilihan tindakan tersebut, memberikan gambaran tentang tingkat kesadaran moral mereka masing-masing. Selanjutnya, kami dilatih untuk mengenali tingkatan kesadaran moral siswa melalui kuesioner yang dikembangkan oleh Romo Haryatmoko. Kuesioner ini terdiri dari 10 rumusan situasi yang diandaikan dialami siswa. Terhadap setiap rumusan situasi, disediakan 6 pilihan tindakan untuk menyikapi situasi tersebut, masing-masing mewakili tahapan tertentu dari tingkat kesadaran moral. Sebagai latihan, kami semua mengerjakan kuesioner yang dimaksudkan untuk siswa tersebut. Menurut saya, latihan ini tidak mudah, karena setiap pernyataan pilihan tindakan mengandung makna yang hampir mirip satu sama lain. Namun ternyata  pengalaman berlatih inilah yang menjadi modal bagi kami untuk mengembangkan sendiri sebuah kuesioner serupa. Dalam unit masing-masing, kami ditugaskan mengembangkan kuesioner untuk mengenali tingkatan kesadaran moral siswa kami, sesuai dengan situasi yang terjadi pada siswa saat ini. Ini adalah awal dari aktivitas kerja tim yang kemudian semakin intens terjadi pada kedua hari berikutnya. Kami memulai kerja bersama dalam unit SMP dengan merumuskan situasi yang menantang tindakan moral tertentu, yang kami amati kerap terjadi pada siswa. Selanjutnya, untuk setiap gambaran situasi, kami rumuskan beberapa alternatif tindakan yang mewakili tingkatan perkembangan kesadaran moral tertentu. Dengan menggunakan fasilitas drive bersama, proses saling melengkapi ini berlangsung secara online, bahkan hingga malam hari. Presentasi hasil kerja dari setiap unit inilah yang mengawali proses pelatihan pada hari kedua. Catatan yang diberikan oleh Romo Haryatmoko untuk setiap item kuesioner yang dipresentasikan, semakin menguatkan pemahaman kami. Alat ukur yang baik membantu kami memperoleh pengenalan yang lebih baik pula terhadap tingkat kesadaran moral siswa yang kami dampingi. Pelatihan pada hari kedua berfokus pada upaya mendampingi siswa mengembangkan tingkat kesadaran moral mereka. Mengangkat beberapa penelitian pustaka, Romo Haryatmoko menegaskan bentuk-bentuk pendampingan orang tua dalam hal ini. Bagaimana dengan di pendidik di sekolah? Dari antara sekian banyak gagasan untuk diterapkan, kami secara khusus didampingi dalam mengenal, memahami, kemudian menerapkan tiga bentuk pelatihan pembelajaran yang memacu kreativitas, dengan berorientasi ke pemecahan-masalah. Ketiga bentuk tersebut adalah : 1) Logika Abduksi, 2)Lima Langkah Pemecahan Masalah secara ilmiah, serta 3) Design Thinking. Logika abduksi merupakan logika alternatif, melengkapi logika yang umum dikenal yaitu induksi dan deduksi. Dibandingkan dengan kedua logika sebelumnya yang membatasi kesimpulan pada satu kemungkinan, logika abduksi berpeluang memunculkan lebih dari 1 pernyataan hipotesa, terhadap fakta adanya kasus yang tidak sejalan dengan pengamatan umum. Untuk lebih memahami, kami kemudian masuk dalam kelompok-kelompok kecil, membuat contoh penggunaan logika abduksi dalam kegiatan pembelajaran. Sebagaimana sebelumnya, hasil kerja ini pun dipresentasikan dan dikritisi oleh Romo Haryatmoko. Semakin banyak contoh yang diungkapkan dari aneka bidang studi di semua jenjang, semakin tampak bahwa logika abduksi lebih mendorong siswa berpikir kreatif dan inovatif. Ternyata logika abduksi menjadi dasar bagi tahap ketiga dari lima langkah pemecahan masalah secara ilmiah. Ini merupakan bentuk lain dari  pembelajaran yang memacu kreativitas dengan berorientasi ke pemecahan-masalah, yang kami pelajari selanjutnya. Diawali dengan tahap pengungkapan masalah serta tahap perumusan masalah secara spesifik, tahap ketiga yakni pengajuan kemungkinan pemecahan masalah, dilakukan dengan logika abduksi untuk menghasilkan daftar hipotesis. Konsekuensi dari pilihan solusi di tahap ketiga tersebut kemudian dibahas pada tahap keempat, sebelum diakhiri dengan langkah penerapan, evaluasi dan tindak lanjut di tahap kelima. Penerapan kelima langkah pemecahan masalah secara ilmiah ini kemudian kami latihkan lagi dalam kelompok-kelompok kecil. Presentasi hasil kerja dari perwakilan setiap unit menjadi agenda pertama, mengawali rangkaian kegiatan pada hari ketiga. Catatan kritis dari Romo Haryatmoko untuk presentasi hasil karya, kembali menguatkan pemahaman kami yang rasanya sudah semakin terbatas, sejalan dengan semakin beratnya materi yang diberikan. Ada sejumlah konsep baru yang kami kenali di hari terakhir pelatihan. Kompetensi subjektif, yang menjadi indikator keberhasilan pendidikan karakter; konsep habitus berikut proses internalisasinya; konsep kecerdasan kolektif diikuti quiz untuk menguji kadar kepemilikannya pada peserta; hingga konsep design thinking. Konsep terakhir merupakan bentuk terakhir dari pembelajaran yang memacu kreativitas dengan berorientasi ke pemecahan-masalah, yang diperkenalkan kepada kami. Design thinking juga memuat lima langkah, namun model ini menempatkan secara khusus aspek empati di awal proses. Berhadapan dengan masalah, perlu terlebih dahulu ditegaskan, kepada pihak manakah keberpihakan hendak diarahkan. Sebagai bahan latihan, Romo Haryatmoko menyiapkan sebuah kasus dilematis untuk dipecahkan. Dalam kelompok-kelompok kecil, peserta menerapkan langkah demi langkah design thinking, namun kali ini dalam waktu yang sangat singkat, karena waktu pelatihan nyaris berakhir. Meskipun demikian, presentasi dari setiap unit serta tinjauan cermat dan masukan bermakna dari Romo Haryatmoko tetap membekali kami. Ada banyak sekali hal baru yang kami pelajari melalui pelatihan tiga hari ini. Nilai-nilai moral sebagai panduan perilaku yang membangun karakter setiap pribadi, tidak dengan serta merta dimiliki siswa dalam hidup mereka. Maka pendidikan karakter menjadi bagian utama dalam panggilan seorang guru. Secara pribadi, saya menggaris bawahi fakta bahwa perkembangan moral seseorang perlu terus-menerus dilatih. Nilai-nilai moral bukan sekedar untuk diketahui dan dipahami, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata. Sebagai seorang guru, saya harus memberikan teladan bagi para siswa, melalui tindakan yang saya lakukan.
Selengkapnya
Pameran Seni Rupa Di Bentara Budaya Jakarta Bersama Kawan-Kawan Guru
Posted: 2021-09-21 | By: Yoh Krismiyanto
Setelah meninggalkan kampus ISI Yogyakarta beberapa tahun yang lalu saya sangat jarang bertemu lagi dengan teman-teman kampus, karena disibukkan dengan berbagai kegiatan masing-masing, sehingga saya kurang mengikuti kondisi dan perkembangan mereka saat ini. Pertemuan kami berawal dari percakapan santai beberapa teman alumni di group WA yang akhirnya terbentuklah sebuah komunitas seni yang diberi nama”Mendadak Guru” dan kemudian nama itu akhirnya menjadi tema pameran kelompok seni rupa di Bentara Budaya Jakarta. Nama komunitas mendadak guru ini kami pilih karena sebenarnya kami tidak dididik dan disiapkan oleh dunia pendidikan untuk menjadi seorang pendidik, tetapi dilatih sebagai seniman yang  mandiri, kreatif dan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. Mendadak guru adalah kumpulan 13 perupa alumni ISI Yogyakarta dari berbagai angkatan dan jurusan yang akhirnya memilih menjadi guru sebagai profesi yang ditekuninya. Komunitas ini bagi saya menjadi seperti sanggar seni tempat saya bertemu teman-teman  seprofesi, berbagi pengalaman dan kreativitas yang ternyata telah banyak mengalami perkembangan selama kami terpisah oleh jarak, waktu dan aktivitas. Berawal dari kerinduan yang sama untuk berpameran seni rupa menjadi semangat kami mengadakan pameran kelompok. Setelah berkomunikasi dengan pihak Bentara Budaya Jakarta ternyata rencana spontan kami mendapat sambutan dan respon sangat positif. Pada awalnya pameran akan dilakukan secara offline dengan pembatasan pengunjung, namun berubah menjadi semi virtual karena diberlakukan PPKM oleh pemerintah yang ternyata juga masih terus diperpanjang. Situasi dan kondisi di masa pandemi mengubah banyak rencana yang telah kami susun, akhirnya disepakati bahwa pameran dilakukan secara virtual melalui kanal youtube Bentara Budaya Jakarta dengan tetap memajang karya seni secara fisik di ruang pameran. Pameran berlangsung mulai 29 Juli hingga 6 Agustus 2021 dan diresmikan oleh Pengamat Budaya Pop Hikmat Darmawan. Sedikitnya menampilkan 50 karya, mulai dari lukisan, film pendek, kolase, instalasi, hingga seni cetak grafis. Pameran komunitas mendadak guru adalah pameran virtual kedua yang diselenggarakan oleh Bentara Budaya Jakarta selama masa pandemi dan ternyata cukup mendapat apresiasi dari masyarakat serta penikmat seni. Selama pameran seni berlangsung kami para guru mengadakan workshop seni virtual untuk berkarya seni bersama keluarga menggunakan bahan yang ada di rumah masing-masing yaitu membuat : wayang limbah, cetak tinggi, cukil grafis, notulensi grafis dan stop motion. Workshop ini mendapat sambutan baik dari para siswa dan guru seni, terutama para guru yang berada di daerah. Pameran ini bagi saya pribadi memberikan motivasi untuk terus berkarya dan berkreasi, terlebih untuk pengembangan pendidikan yang sekarang menjadi pilihan profesi saya. Aryo Danusiri assistant professor of antropology at the University of Indonesia sebagai kurator pameran menuliskan pengantarnya pada katalog pameran beliau menegaskan kembali pengalaman yang saya sampaikan : Simak misalnya Yohanes Krismiyanto yang berbagi pengalamannya : “Ketika baru keluar kampus ISI, saya masih idealis dengan berbagai impian menjadi seniman yang kreatif dan produktif seolah-olah berkesenian adalah segala-galanya. Menjadi guru tidak terlintas dalam pikiran. Terlebih lagi kampus ISI tidak mengajarkan mahasiswanya tentang pedagogi pengelolaan kelas. “Saat itu saya berpikir menjadi guru adalah pekerjaan sampingan sebagai seniman, tetapi ternyata menjadi guru begitu banyak tuntutan dan tanggung jawab yang harus dipenuhi. Pada awalnya sungguh tidak mudah menyesuaikan kondisi seperti ini. Seiring berjalannya waktu, saya mulai dapat menikmati pekerjaan ini apalagi sering diberi tugas membantu dekorasi panggung ketika sekolah mengadakan pementasan atau kegiatan yang terkait dengan seni rupa.” Bila pada awalnya Yohanes melihat kesenimanan dan keguruan dalam hubungan nilai yang hirarkis, yaitu seniman yang utama sedangkan guru hanya sampingan, maka lewat proses mengalami keguruan itu sendiri Yohanes bisa memahami bahwa nilai hirarki seniman-guru itu tidaklah substantif namun dinamis dalam proses pengalaman. Selanjutnya Yohanes menyampaikan refleksinya, “Menjadi guru seni rupa bukan hanya mengajarkan keterampilan dan kreativitas dalam berkarya, tetapi melalui seni guru dan siswa bisa saling belajar tentang karakter dan nilai-nilai hidup. Siswa dapat belajar tentang daya juang, kerja sama, menghargai orang lain, cinta lingkungan dan sebagainya. Jadi paradigma atau cara pandang dulu dan sekarang jelas berbeda. Semua baik tinggal mana yang dipilih untuk kita tekuni dengan kesungguhan hati dan cinta.” Akhirnya buat Yohanes, menjadi guru bukanlah pilihan dadakan, bukan pilihan error, namun pilihan bernilai yang ia konstruksi lewat tindakan dan pengalaman konkrit.” Penegasan kurator Aryo Danusiri di atas memberikan pengetahuan dan teori baru bagi saya dan sekaligus menunjukkan cara mempraktikkannya. Mungkin juga tanpa saya sadari saya sudah melakukannya. Saya juga belajar untuk lebih peka dalam memaknai setiap kejadian pada saat berproses. Demikian cerita singkat terjadinya pameran komunitas “Mendadak Guru” yang dapat saya sampaikan, semoga proses yang terjadi memberikan pembelajaran bagi kami peserta pameran khususnya dan menyebarkan virus kebaikan serta manfaat di masa pandemi ini bagi kawan-kawan seprofesi serta para pembaca pada umumnya, terima kasih. Kegiatan pameran komunitas mendadak guru ini juga ada di liputan koran KOMPAS Jumat, 30 Juli 2021 (Persembahan Seni 13 Guru - Kompas.id) dan Minggu, 8 Agustus 2021(Menengok Kembali Kesenimanan) Terima kasih, salam budaya dan sehat selalu...Yoh Kris
Selengkapnya
PERTEMUAN ORANG TUA SISWA KELAS IX SMP SANTA URSULA BSD
Posted: 2021-09-15 | By: Kristina Dwi Oktavia
Tahun pelajaran 2021/2022 sudah dimulai sejak bulan Juli. Pembelajaran untuk para siswa pun masih dilakukan secara daring karena masih adanya penyebaran covid-19 yang semakin hari semakin meningkat. Selain pembelajaran yang dilakukan secara daring oleh siswa, ada juga kegiatan pertemuan orang tua siswa. Pertemuan orang tua siswa ini, selalu dilaksanakan setiap tahunnya pada awal tahun pelajaran. Kegiatan ini merupakan persiapan awal bagi orang tua dalam mendampingi putra/putrinya selama pembelajaran di level yang baru, khususnya saat ini di kelas IX. Pertemuan ini dihadiri oleh para orang tua siswa kelas IX dan dilaksanakan secara virtual melalui zoom meeting. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Kamis, 5 Agustus 2021. Kegiatan ini diawali dengan pengarahan dari Ibu Irene Anindyasari sebagai Kepala Sekolah SMP Santa Ursula BSD. Ibu Irene memberikan gambaran Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tahun pelajaran 2021/2022, materi esensial yang akan dipelajari dan terkait dengan kegiatan ekstrakurikuler. Setelah pengarahan dari Kepala Sekolah, ada penjelasan dari Ibu Kartika, Psikolog Sekolah. Dalam pertemuan ini, Ibu Kartika menyampaikan tentang Layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan baik untuk para siswa maupun orang tua siswa. Selain itu, Psikolog sekolah juga menyampaikan program-program kegiatan yang akan dilakukan dalam mendampingi para siswa, seperti mempersiapkan studi lanjut, menentukan arah masa depan para siswa, dan menemukan mimpi melalui pengenalan diri (Passion Potential, and Personality). Passion disini memiliki pengertian tentang apa yang disukai. Potential berarti kemampuan yang dimiliki, sedangkan Personality ini memiliki arti karakter yang dimiliki untuk mengatur strategi supaya bisa mencapai mimpi. Para siswa diajak mengenal diri sendiri dan diharapkan mampu mengembangkan kemampuan yang dimiliki dalam mencapai cita-cita para siswa. Selain itu, para orang tua diharapkan juga menjadi orang tua yang proaktif, mau berdiskusi, mengarahkan dan menanamkan values untuk putra-putrinya. Kemudian ada pengarahan dari Wakasek Kurikulum, Ibu Cicilia Budilestari. Dalam pengarahan kurikulum ini, ada tayangan video dari salah satu orang tua siswa yaitu mama Glenn (9D) sebagai support system bagi putranya dalam menjalani PJJ. Peran orang tua sangat dibutuhkan selama PJJ ini. Hal ini dikarenakan tidaklah mudah dengan pembelajaran  secara daring, membutuhkan support dari orang tua supaya putra-putrinya mampu beradaptasi dan tetap belajar walaupun harus secara daring. Selanjutnya, Ibu Cicil menjelaskan terkait dengan KKM, cara melampauinya untuk setiap mata pelajaran, syarat kelulusan, penilaian-penilaian yang akan dilakukan, seperti penilaian pengetahuan, keterampilan dan sikap. Selain itu, Ibu Cicil menyampaikan juga bahwa selama PJJ ini para siswa diharapkan mampu mengembangkan diri tidak hanya berfokus pada nilai akademis saja, tetapi juga dengan kegiatan-kegiatan positif lainnya seperti tayangan video dari Arka 9C, bagaimana Arka mengisi waktunya dengan hal positif, tetap produktif, walaupun hanya berkegiatan di dalam rumah selama pandemi.  Dalam pertemuan ini, juga ada Sharing Kegiatan Kolaborasi Pelajaran Bahasa Inggris, Seni Rupa, dan IPA dari Ibu Kristin, Pak Krismiyanto dan Ibu Lia. Ibu Lia menjelaskan tentang produk kolaborasi meliputi tema, sasaran, alokasi waktu, materi esensial dari setiap mata pelajaran juga tujuan dari kegiatan kolaborasi yang sudah dilakukan. Dalam kegiatan kolaborasi ini lebih ditekankan untuk mengembangkan keterampilan 4 Cs ( Critical Thinking, Collaboration, Communication and Creativity). Keterampilan 4 Cs ini sangat diperlukan untuk menghadapi tantangan abad 21. Setelah itu, ada penjelasan tentang tahapan pembelajaran kolaborasi oleh Ibu Kristin. Tahapan ini meliputi Persiapan, Perencanaan, Pembuatan produk, Evaluasi dan refleksi. Dengan tahapan pembelajaran ini diharapkan para siswa mampu bekerja sesuai dengan langkah-langkah yang jelas dan terarah. Sharing terakhir yaitu terkait dengan hasil produk kolaborasi yang dijelaskan oleh Pak Kris. Hasil produk disajikan dalam bentuk tayangan video, dan dari produk yang dihasilkan itu diharapkan mampu menumbuhkan nilai hidup bagi para siswa dan memberi pengaruh positif pada dunia. Untuk kegiatan selanjutnya yaitu sesi tanya jawab dan diakhiri dengan doa penutup yang dipimpin oleh Ibu Devi. Dengan serangkaian kegiatan dalam pertemuan orang tua, diharapkan para orang tua lebih siap dalam mendampingi dan memotivasi putra-putrinya menjalani PJJ dan mempersiapkan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya.
Selengkapnya
Webinar Literasi Digital “Yuk Belajar Menyenangkan Secara Online”
Posted: 2021-09-10 | By: M.M. Josyarti
Berjarak dua bulan lebih sejak gerakan literasi digital nasional dicanangkan, 20 Mei 2021 lalu, propaganda literasi digital semakin giat dilaksanakan. Gerakan yang melibatkan 110 lembaga dan komunitas ini terus mengupayakan Indonesia yang makin cakap digital melalui berbagai kegiatan di berbagai daerah. Giliran Pemda Provinsi Banten khususnya kota Tangerang Selatan bergandengan dengan Tim Siberkreasi mengadakan Webinar Literasi Digital, pada 29 Juli 2021. Diselenggarakan dalam rangka memaknai momen Hari Anak Nasional 23 Juli lalu, webinar mengangkat topik Yuk belajar Menyenangkan Secara Online, dengan sasaran peserta siswa maupun guru SMP di wilayah Tangsel, yang sampai hari ini masih menjalani proses pembelajaran jarak jauh. Sapaan awal pemandu acara, Nindy Gita dari tim siberkreasi kepada segenap peserta, menegaskan keterlibatan partisipan kegiatan yang melampaui angka 900. Sejumlah peserta merupakan tim yang terdiri dari satu dua guru dan sejumlah siswa, perwakilan dari berbagai Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Tangerang Selatan. Membahas 4 pilar literasi, webinar menghadirkan 4 pembicara yang kompeten di bidangnya masing-masing. Pada kesempatan pertama, usai membuka acara secara singkat, Bapak Walikota Tangerang Selatan, Drs. H. Benyamin Davnie langsung menyampaikan ulasan tentang pilar pertama dari keempat pilar literasi, yakni Digital Ethics. Kepada segenap peserta, Bapak Walikota mengingatkan tentang pentingnya memperhatikan etika dalam semua aktivitas di dunia digital. Mempertimbangkan seksama sebelum membagikan konten tertentu, misalnya, tidak saja dimaksudkan untuk mencegah penyebaran hoax, tetapi juga untuk menjaga integritas pribadi, karena segala sesuatu yang kita lakukan di dunia digital akan meninggalkan jejak. Sebelum melanjutkan ke pembahasan pilar literasi berikutnya, ditampilkan tayangan sambutan dari Presiden Joko Widodo, yang disampaikan pada kesempatan peluncuran Program Indonesia Makin Cakap Digital, pada 20 Mei 2021 lalu. Dalam sambutannya, Bapak Presiden mengungkapkan sekian banyak tantangan di ruang digital, mulai dari konten negatif dan hoax, penipuan daring dan perundungan siber, sampai dengan issue radikalisme berbasis digital. Selain mengedepankan sikap waspada, upaya meminimalisir dampak negatif ini dapat dilakukan dengan memproduksi dan membagikan konten positif sebanyak mungkin di ruang digital, bahkan hingga membanjirinya. Pilar digital culture kemudian disampaikan oleh Bapak Muslim Nur, S.Pd., dari Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan. Budaya digital yang perlu dikembangkan dalam proses belajar secara online saat ini terangkum dalam empat kata kunci yakni interaktivitas, kemandirian, aksesibilitas, dan pengayaan. Siswa perlu membangun pengetahuan yang dipelajarinya secara mandiri, berkolaborasi dengan pembelajar lain dalam mengaplikasikan pengetahuan untuk memecahkan masalah, dan memanfaatkan internet, serta pembelajaran berbasis komputer, untuk mengakses kekayaan informasi. Dengan demikian, para guru pun perlu membangun “budaya baru” ini dan mengambil peran mendukung siswa memenuhi tuntutan di atas. Selanjutnya, Alviko Ibnugroho, seorang motivator, sekaligus konsultan keuangan (financologist) membawakan materi pilar ketiga yaitu digital skill. Menyadari bahwa digitalisasi telah merevolusi sendi-sendi kehidupan manusia, termasuk dunia pendidikan, maka perlu dikembangkan keterampilan baru berkaitan dengan penguasaan teknologi. Berkaitan dengan hal tersebut, disampaikan 3 kata kunci belajar di dunia digital yakni, positif, kreatif, dan aksi. Penguasaan keterampilan ini perlu dimulai dengan berpikir positif, melihat kondisi belajar online sebagai baik, dan menjalaninya dengan baik. Selanjutnya berkarya secara kreatif, menjadikan tugas pembelajaran sebagai awal dari karya, dan pada akhirnya menjadikan momen belajar online ini sebagai sarana membuktikan bahwa siapapun bisa sukses. Peserta diingatkan tentang sejumlah sosok yang meraih sukses dengan memanfaatkan dunia digital seperti Nadiem Makarim (Go-jek), Achmad Zacky (Buka Lapak), dan lain-lain. Pilar terakhir, digital safety, disampaikan oleh Indriyatno Banyumurti, yang juga seorang konsultan IT, koordinator program ICT Watch, yang kerap menjadi narasumber terkait Literasi Digital. Berbagai peristiwa kejahatan mengintai kita di dunia digital. Proses untuk memastikan keamanan digital di ponsel kita, diawali dengan mengidentifikasi aset digital kita, meliputi akun email, media sosial, belanja online, dan lain-lain. Pengamanan awal dilakukan dengan membuat password yang kuat, serta password yang berbeda untuk setiap akun. Selanjutnya, perlu memeriksa ijin untuk setiap aplikasi yang digunakan di ponsel kita. Hal lain yang disampaikan pada peserta adalah langkah untuk memeriksa, sejauh mana terjadi kebocoran pada email kita, apa yang perlu dilakukan bila kebocoran terlanjur terjadi, serta tips untuk terhindar dari pencurian data pribadi. Dalam forum yang sama, sesuai dengan konteks acara merayakan Hari Anak Nasional, Forum Anak (FA) Kota Tangerang Selatan, diwakili Nur Afifah selaku wakil ketua, berkesempatan untuk mempresentasikan komunitas mereka, berikut kegiatan yang mereka lakukan selama ini. Di hadapan peserta webinar, yakni peserta didik usia SMP beserta para guru pendamping, disampaikan pula sejumlah harapan, yang dirumuskan dalam Suara Anak Indonesia versi Tangerang Selatan, antara lain berkaitan dengan penyediaan ruang ekspresi, penambahan fasilitas kesehatan, sampai dengan penurunan kasus perkawinan anak, serta penegasan sanksi bagi pelaku kekerasan dan eksploitasi anak. Selain itu, sesuai pesan Presiden Joko Widodo untuk membanjiri ruang digital dengan konten-konten positif, webinar kali ini juga menghadirkan seorang content creator yakni Decky Tri. Sosok muda yang dikenal sebagai travel bloger ini menegaskan peluang pemanfaatan internet, mulai dari mengembangkan diri dengan mendisain konten, memperluas jejaring, menjadi sarana wirausaha, belajar online. maupun untuk menikmati hiburan. Memanfaatkan jaringan internet yang tersedia bagi mereka saat ini, peserta webinar diajak untuk mengisi masa belajar di rumah dengan berbagai aktivitas positif yang kreatif. Rangkaian acara yang cukup padat ini kemudian diikuti dengan sessi tanya jawab yang dimanfaatkan dengan baik oleh peserta. Bila disimak, semua informasi yang disampaikan cukup membekali peserta untuk kembali menjalankan proses belajar online dengan lebih bersemangat, dan lebih bertanggung jawab. Karena pembelajaran menyenangkan hanya bisa terjadi ketika pembelajar memahami tujuan belajarnya dan menikmati seluruh prosesnya.
Selengkapnya
SHARING PENGALAMAN PESERTA KOMPETISI LITERASI DAN NUMERASI PESONA 2021
Posted: 2021-09-10 | By: Levanni 9C, Enrico 9D & Jolene 9D
Saya sangat bersyukur akan kesempatan yang diberikan untuk saya dan teman-teman dalam mengikuti Kompetisi Pesona Edu. Pada kompetisi ini dibagi dalam beberapa tahap, dimulai dari babak penyisihan, kemudian babak semi-final, dan yang terakhir babak final. Tentunya setiap babak memiliki tingkat kesulitan dan jenis soal yang berbeda-beda. Menurut saya, jenis dan tipe soal Kompetisi Pesona Edu adalah soal analisis, sehingga dibutuhkan kecermatan dan ketekunan dalam mengerjakannya. Beberapa hari sebelum kompetisi, kami diberi kesempatan untuk melakukan simulasi. Saat melakukan simulasi saya jadi lebih mendapat gambaran tentang jenis soal dan cara pengerjaannya. Kami mengikuti babak penyisihan pada hari Jumat, 13 Agustus 2021. Kami diberi waktu dua jam untuk mengerjakan soal yang terdiri dari 40 soal (20 butir soal numerasi dan 20 butir soal literasi), soal pada babak penyisihan terdiri dari pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, dan soal benar-salah. Soal-soal yang diberikan cukup menantang sehingga membutuhkan kecermatan dan ketelitian untuk menjawabnya. Setelah 4 hari kemudian diumumkan nama peserta yang lolos untuk mengikuti babak berikutnya dan Puji Tuhan saya berhasil lolos ke babak semi-final. Pada hari Jumat, 20 Agustus 2021, saya kembali mengikuti lomba babak semi-final dengan jumlah soal yang masih sama dengan babak sebelumnya (40 soal) dan jenis soalnya juga masih sama, tetapi saya menyadari bahwa tingkat kesulitannya meningkat sehingga membutuhkan ketelitian dan konsentrasi lebih saat mengerjakannya. Beberapa hari kemudian, diumumkan lagi nama peserta yang lolos dan saya sangat bersyukur karena saya dapat lolos sampai ke babak final 50 besar dari seluruh Indonesia dengan peringkat yang jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Babak final diadakan pada hari Jumat, 27 Agustus 2021, soal terdiri dari 10 soal dengan jenis yang berbeda dari sebelumnya, ada tambahan jenis soal respons video, respons audio, dan uraian. Soal yang diberikan di babak final jauh lebih sulit dibanding babak-babak sebelumnya. Saya mengerjakan semua soal semaksimal mungkin. Saat ini, saya masih menunggu pengumuman hasil lomba, dan saya berharap dapat masuk dalam 6 besar lomba ini. Namun, jika tidak masuk dalam 6 besar saya juga tetap bersyukur. Hal ini karena saya dapat masuk dalam babak final dan mendapat pengalaman untuk mengikuti lomba literasi dan numerasi secara online di masa pandemi ini. Saya sangat senang dengan kesempatan yang diberikan sekolah untuk mengikuti Kompetisi Pesona Edu, saya juga berterima kasih atas dukungan yang diberikan oleh guru dan teman-teman. ~Levanni 9C ____________________________________________________________________ Kompetisi Literasi dan Numerasi ini meninggalkan banyak kesan. Pada awalnya, saat mengikuti kompetisi ini, saya merasa sedikit terpaksa, sedikit latihan, dan mengerjakan dengan mentalitas “yang penting selesai”. Namun seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa ini merupakan kesempatan yang patut disyukuri. Saat babak penyisihan, soal yang diberikan menantang tetapi masih familiar, seperti soal pilihan ganda dan pilihan ganda kompleks. Saya merasa senang ketika diumumkan bahwa saya masuk final. Namun, saya juga merasa gugup karena jenis soal yang baru seperti, uraian, penjelasan video, dan penjelasan audio. Saat babak final, seluruh soal berbeda dari babak sebelumnya. Jumlah soal berkurang dari 40 ke 10 soal. Namun, tingkat kesulitan soal lebih meningkat. Setelah melewati babak final, sekarang saya menunggu hasilnya meskipun belum tentu menang saya merasa bersyukur karena sudah mendapatkan pengalaman. ~Enrico 9D ____________________________________________________________________ Lomba Pesona Edu ini memberikan saya banyak pengalaman baru, mulai dari cara kerjanya, soal-soalnya, dll. Saat pertama daftar untuk ikut lomba Pesona Edu, saya tidak pernah berpikir untuk ikut lomba ini secara serius. Hanya untuk pengalaman dan mengikutinya bersama teman. Saya juga minimalis sekali saat harus melakukan latihan. Awalnya semangat, tetapi hari demi hari, saya jadi semakin malas latihan. Di hari simulasi, saya mulai menyesal tidak latihan. Saya sangat tegang, gugup, dan jadinya keringat dingin. Apalagi saat Babak Penyisihan. Semakin dekat dengan jam mulai, saya jadi semakin sering berkata, “Tidak apa-apa, jika tidak lolos, nanti coba lagi.” Ketika saya mengumpulkannya saya sudah pasrah dengan beberapa soal. Namun, saya merasa cukup senang dapat menyelesaikannya.  Ketika tahu saya lolos, saya senang tetapi kecewa karena peringkat saya terlihat sangat rendah. Di babak semifinal saya jadi semakin gugup karena takut tidak lolos dan takut tidak bisa menyelesaikan. Pada saat itu, saya jadi lebih berpasrah. Di babak final ini, saya juga menjadi semakin takut. Takut mengecewakan, takut mengerjakan soal, dan takut tidak selesai. Perasaan jadi tidak karuan, mual, dan panik, saya mengerjakan soalnya dan itu benar-benar pengalaman baru untuk saya. Soalnya membingungkan, dan harus menjelaskan caranya sangat menantang sekali. Saya semakin berpasrah saat dan saya hampir mengumpulkan tanpa ada jawaban sama sekali. Namun tidak jadi. ~Jolene 9D ____________________________________________________________________ Pengalaman-pengalaman baru yang saya alami sepanjang kompetisi ini adalah bisa berpartisipasi dalam sebuah kompetisi melalui media digital untuk pertama kalinya. Sebelum soalnya dibagikan saya merasa tegang, walaupun perasaan itu berubah menjadi rasa puas dan pasrah ketika soalnya sudah dikumpulkan. Hal ini karena diselenggarakan secara digital, ada banyak kendala teknis yang dialami. Namun, ini menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan dan berharga bagi saya. Pengalaman berlomba bersama teman-teman dan mengerjakan soal-soal yang sangat baru bagiku. ~Kevin 9E _____________________________________________________________________
Selengkapnya
SHARING PENGALAMAN PESERTA KOMPETISI LITERASI DAN NUMERASI PESONA 2021
Posted: 2021-09-10 | By: Kidung 8E, SionaAviella 8C & Azben 8D
Pengalaman Saya Halo, nama saya Beatrix Arunaya Kidung Anatha dari sekolah SMP Santa Ursula BSD. Saya akan menceritakan pengalaman mengikuti Lomba Literasi dan Numerasi. Kompetisi yang diselenggarakan ini merupakan lomba virtual pertama yang saya ikuti. Pada awalnya, saya hanya mengikuti kompetisi ini dengan rasa senang dan sekadar mencari pengalaman baru. Namun, saya tetap mencoba mengikuti kompetisi ini dengan sebaik mungkin. Di hari pelaksanaan lomba, saya merasa sangat tegang dalam mengerjakan soal. Padahal, saya sudah mencoba soal simulasi yang diberikan oleh Pesonaedu, walaupun kadang-kadang hanya mengerjakan satu kali dari dua kesempatan yang telah diberi. Soal-soal yang diberikan lumayan berbeda dengan soal sekolah. Saya bersyukur mendapat banyak pengalaman baru dari kompetisi literasi dan numerasi ini. ~Kidung/8E ____________________________________________________________________ Hai, nama saya Siona Aviella dari sekolah SMP Santa Ursula BSD. Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi pengalaman saya ketika mengikuti kompetisi literasi dan numerasi dengan standar AKM yang diselenggarakan oleh Pesona Edu di bulan Agustus 2021. Ini merupakan pengalaman pertama saya dalam mengikuti kompetisi literasi dan numerasi. Dalam kompetensi tersebut, terdapat 3 babak yaitu penyisihan, semifinal, dan final. Awalnya, saya mengikuti kompetisi ini karena ingin mengetahui seperti bentuk soal-soal yang berkaitan dengan literasi dan numerasi serta sebagai pengalaman baru. Saat masa persiapan, saya mencoba mencari latihan-latihan soal tentang literasi dan numerasi di internet. Saya juga sempat merasa bingung kira-kira bentuk soal yang akan diberikan saat lomba nanti. Saya  berusaha berlatih dengan contoh-contoh soal yang ada di internet dan simulasi yang diberikan oleh Pesona Edu. Pada babak penyisihan dan semifinal, soal-soalnya cukup sulit terutama di bagian numerasi tetapi saya berusaha untuk mengerjakannya semampu saya. Saya sangat bersyukur dapat lolos babak penyisihan dan semifinal. Pada babak final, soal yang diberikan lebih sulit lagi dan ada penambahan jenis soal seperti respon audio dan video. Saya sempat merasa takut tidak bisa mengerjakannya sama sekali tetapi saya berusaha untuk menenangkan diri dan tetap fokus. Saya menyerahkan kepada Tuhan tentang menang atau tidaknya hasilnya nanti. Saya sangat bersyukur bisa mengikuti kompetisi ini karena saya mendapatkan pengalaman baru dan melatih saya untuk mengerjakan soal-soal hots yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi.    Jadi menurut saya, ikut dalam kompetisi ini sangat bagus karena di jaman sekarang para pelajar dituntut untuk dapat berpikir sistematis, menganalisis dengan baik, dan berpikir kritis, serta kreatif. ~SionaAviella/8C ____________________________________________________________________  Hai, saya Azarya Benaiah Sembiring. Saat mengikuti Kompetisi Literasi dan Numerasi PesonaEdu 2021 merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Diawali rasa penasaran dan minat akan lomba ini, akhirnya saya mendaftar. Saya bersyukur kepada Tuhan dapat maju hingga tahap final dan mendapat banyak pengalaman seperti menemukan jenis-jenis soal baru yang belum pernah saya hadapi, menguji kemampuan memahami, dan menganalisis soal, serta berpikir sistematis sekaligus kreatif. Tiap tahap punya tantangan dan kesulitan tersendiri. Mulai dari mengerjakan banyak soal di tahap penyisihan, kemudian mengerjakan soal yang lebih kompleks dibandingkan dengan tahap sebelumnya, hingga di tahap final menghadapi tantangan baru mengerjakan soal yang lebih sulit dengan respon jawaban berupa audio dan video. Berkesempatan mengikuti kompetisi ini merupakan salah satu hal positif yang saya lakukan karena mampu mengasah kemampuan literasi dan numerasi. ~Azben/8D
Selengkapnya
PERTEMUAN ORANG TUA SISWA KELAS VII
Posted: 2021-09-10 | By: Monica Emy Rustanti SMP
Menciptakan generasi muda yang cerdas dan bertanggung jawab membutuhkan kerja sama yang baik antara orang tua dan pihak sekolah. Oleh karena itu, pada Sabtu, 7 Agustus 2021 diadakan pertemuan orang tua kelas VII secara daring. Pertemuan orang tua ini diawali dengan doa pembuka dan menyanyikan lagu wajib Indonesia Raya. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Satuan Pendidikan, Ibu Irene Anindyasari Rosmawati. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tidak sama dengan pembelajaran secara luring (luar jaringan) sehingga waktu belajarnya pun berbeda. Konteks pembelajaran jarak jauh terintegrasi pada Konten, Pedagogi, dan Teknologi.  Dalam mengembangkan ketiga komponen tersebut, bapak ibu guru bidang studi berkolaborasi memetakan materi esensial yaitu materi yang wajib dikuasai oleh peserta didik. Materi tersebut disajikan secara terintegrasi sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Ketiga komponen tersebut dipadukan dalam pembelajaran jarak jauh dan disebut Blended learning. Selain penjelasan terkait proses pembelajaran jarak jauh, Ibu Irene juga memperkenalkan visi misi yang menjadi tujuan  sekolah serta memperkenalkan wali kelas VII yang akan mendampingi pembelajaran. Setelah mendapat sambutan dari Kepala Satuan Pendidikan SMP, orang tua peserta didik diperkenalkan juga dengan Tim Psikolog yang ikut berperan dalam pendampingan peserta didik. Peserta didik kelas VII tahun pelajaran 2021/2022 mendapat bimbingan dari Tim Psikolog sebanyak dua kali dalam seminggu.Dalam sesi ini, Tim Psikolog memaparkan materi tentang emosi remaja dan tahap perkembangan psikososial khususnya peserta didik yang saat ini duduk di bangku kelas VII. Tujuannya adalah selain mendampingi belajar peserta didik, orang tua juga dapat mendampingi peserta didik dalam perkembangan psikisnya. Pertemuan orang tua peserta didik ini dilakukan selama kurang lebih dua jam. Oleh sebab itu, sebelum dilanjutkan pada sesi tanya jawab, orang tua peserta didik diajak untuk merelaksasikan otot selama kurang lebih 5 menit kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pertemuan orangtua peserta didik kelas VII ini selain bertujuan untuk menjalin kerja sama yang baik, juga sebagai wadah komunikasi yang lebih erat antara sekolah dan keluarga sehingga proses pembelajaran dapat tercapai secara maksimal. 
Selengkapnya
Belajar Berwirausaha dari Kak Irvan Christian
Posted: 2021-09-10 | By: Airis Gunawan
Irvan Christian, atau yang kerap kali dipanggil Irvan adalah seorang wirausahawan sukses yang merupakan alumni SMP Santa Ursula BSD. Ia kini menjadi manajer di bisnis laundry, yakni Love Laundry. Kak Irvan bercerita bahwa ia dulu bukanlah seorang murid unggulan, bahkan pernah dua kali tidak naik kelas. Hal itulah yang menyebabkan ia terpaksa di-drop out dari SMP Santa Ursula BSD ketika dirinya baru menyelesaikan tahun ke-duanya. Kak Irvan kemudian memutuskan untuk pindah ke sekolah swasta lain di Tangerang. Pergaulan di sana menurutnya sangat kacau, antara lain ditandai dengan penggunaan dan penyebaran obat-obatan terlarang yang begitu bebas. Kondisi di sekolah baru, ditambah dengan kondisi Kak Irvan sendiri yang tidak bersemangat belajar, membuatnya hanya bertahan selama 3 bulan di sana. Relasi kedua orang tua yang tidak rukun, bahkan sering bertengkar, menjadi salah satu faktor terbesar yang membuat Kak Irvan kurang bersemangat menjalankan pendidikannya selama bersekolah. Bahkan Kak Irvan sempat kabur dari rumah dan tinggal sementara bersama pamannya yang hanya terpaut umur tujuh tahun darinya. Ketika berumur 15 tahun, Kak Irvan mulai bekerja menjadi karyawan jasa laundry dari tawaran yang ia temukan di Warta Monika, lembar berita mingguan dari Gereja Santa Monika BSD. Selang satu tahun kemudian ia menjaga sebuah warung internet selama satu setengah tahun. Lama kelamaan Kak Irvan mulai ragu akan masa depannya, sehingga memutuskan untuk kembali bersekolah dan mengambil paket C. Namun, sekolah tak membuatnya berhenti mencari uang. Kak Irvan kembali melanjutkan bekerja, kali ini di Bank Permata selama satu tahun, lalu berpindah ke Bank Maybank selama satu setengah tahun. Meskipun begitu, gaji UMR (Upah Minimum Provinsi) yang ia terima selama satu tahun hanya naik sebanyak Rp100.000,00. Ini menyebabkan Kak Irvan tak juga tenang akan masa depannya. Saat itu, ada sebuah ruko laundry di sebelah rumah paman Kak Irvan yang sedang mencari pemilik baru. Setelah berpikir matang-matang dan mempertimbangkan jumlah tabungan yang ia miliki, Kak Irvan memutuskan untuk mengambil alih ruko itu dan melanjutkan bisnis laundry tersebut.  Nama "Love Laundry" yang berasal dari si pemilik lama, tetap ia gunakan. Seiring keadaan keluarganya yang semakin membaik, sang ibu pun ikut membantu Kak Irvan dalam mengatur bisnis laundrynya. Selama menjadi seorang wirausahawan, Kak Irvan tentunya pernah berhadapan dengan berbagai tantangan yang tak mudah untuk dilewati. Bertolak dari pengalaman berwirausaha sekian lama, Kak Irvan menyampaikan sejumlah pesan, seperti; jika ingin menjadi wirausahawan harus gerak cepat agar tidak keduluan orang lain; harus bisa menjadi manajer yang bijak tapi juga tegas terhadap para karyawannya. Selain itu, seorang wirausahawan harus pandai dalam mengolah sumber daya manusia; juga harus bisa mengatur mental dan sabar dalam melayani pelanggan. Untuk meminimalkan penggunaan biaya produksi, Kak Irvan Ia juga mencoba membuat sabun sendiri. Ini juga merupakan salah satu strategi dalam berwirausaha. Bisnis laundry yang dijalani Kak Irvan selama bertahun-tahun pastinya bukan tanpa pasang dan surut. Kak Irvan juga mengakui bahwa usahanya pun mengalami dampak pandemi virus Covid-19 dalam bentuk berkurangnya pelanggan. Rencana Kak Irvan untuk memulai bisnis EO (Event Organizer) pun harus tertunda lantaran pandemi. Bagi Kak Irvan, dukungan keluarga sangat berperan penting dalam kemajuan dirinya. Ia berpesan, jika kita memiliki keluarga yang harmonis dan berkecukupan, maka sudah sepantasnya kita bersyukur dan menikmatinya. Kak Irvan juga mengatakan bahwa ia sangat merekomendasikan para peserta sharing untuk mencoba menjadi seorang wirausahawan. Dibandingkan dengan bekerja untuk orang lain, pastinya bekerja untuk perusahaan sendiri akan lebih menyenangkan.
Selengkapnya
Sharing Kak Tasya, Alumni yang Mengikuti Passion-nya
Posted: 2021-09-10 | By: Nathaniel Davin Chen
Anastasia Suwandi atau biasa dipanggil Tasya adalah salah satu alumni Santa Ursula BSD yang berhasil meraih beasiswa private grants scholar in arts di Singapura, dan merupakan founder dari COMMO Creative. Perjuangannya untuk masuk ke SMP Santa Ursula BSD sangatlah berat, ia belajar dengan sangat giat bahkan sampai sakit. Saat SMP, Kak Tasya suka berolahraga dan memiliki ketertarikan pada seni. Meskipun berfokus mengembangkan bakatnya, Kak Tasya tidak melupakan nilai-nilai akademiknya. Ia juga suka mengikuti kompetisi di bidang seni, khususnya menggambar. Di masa kecilnya, Kak Tasya terbiasa untuk menggambar apa yang ia lihat secara langsung sehingga ia bisa mengetahui bahwa ia memiliki passion di bidang itu. Kak Tasya mengatakan bahwa hal yang kita suka mungkin bisa menjadi passion. Kita juga bisa mengenalinya dari perasaan kita terhadap aktivitas tertentu, apakah kita enjoy melakukan hal itu. Setelah SMP, Kak Tasya berkesempatan memperoleh beasiswa, yaitu Private Grants Scholar in Arts, untuk melanjutkan studinya di di Singapura. Mencari ilmu di luar negeri bukanlah hal yang mudah bagi Kak Tasya.  Awalnya ia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi karena bahasa yang berbeda. Tetapi ia terus mendorong diri untuk belajar sehingga ia dapat beradaptasi. Kak Tasya juga menceritakan perjuangannya ketika mengalami kesulitan keuangan. Saat itu, ia memperoleh uang dari jasa lukis, membuat art model tato yang dijual dengan harga 5 dolar Singapura per lembar. Seiring berjalannya waktu, upaya ini membawa hasil yang cukup memuaskan. Pada umur 18 tahun Kak Tasya memulai bisnis COMMO Creative, sebuah perusahaan, tepatnya digital marketing agency. Awalnya, banyak yang meremehkan Kak Tasya dalam hal ini, karena ia masih muda dan perempuan. Bahkan orang tuanya cenderung kurang mempercayai rencana Kak Tasya. Mereka tidak yakin bahwa passion Kak Tasya di bidang seni bisa menghasilkan uang. Namun Kak Tasya tetap menekuni passion-nya. Hingga sekarang COMMO Creative sudah memiliki karyawan yang direkrut oleh dirinya sendiri. Kak Tasya memilih langsung orang-orang yang bisa diajak bekerja sama sebagai satu team dan juga cocok dijadikan teman untuk menjadi bagian dari perusahaannya. Kepada peserta sharing, yaitu peserta didik kelas VIII, Kak Tasya juga menunjukkan bahwa dalam diri setiap pribadi pasti ada potensi yang bisa dikembangkan hingga membuahkan prestasi, kita perlu mengenali dan menemukannya. Belum lama ini, Kak Tasya juga mulai menekuni musik dan merasa senang melakukannya. Menurut Kak Tasya, musik pun bisa merupakan passion baginya.
Selengkapnya
Upacara Virtual Perdana
Posted: 2021-09-10 | By: Kenyadewi Nastiti VIII D/24
Pada saat rapat pleno OSIS di awal bulan Agustus, terdapat pembahasan mengenai upacara virtual. Kala itu, upacara virtual baru disinggung sedikit, sehingga saya belum paham dan belum tertarik. Setelah rapat pleno, Badan Pengurus (BP) OSIS Inti ditugaskan untuk mengadakan upacara virtual, peringatan kemerdekaan ke-76 Indonesia. Dalam mengemban tugas ini saya merasa agak kesulitan dan merasa khawatir karena upacara virtual ini merupakan yang pertama kali bagi SMP Santa Ursula BSD. Kesulitan utama yang dihadapi adalah susunan acara upacara virtual yang sangat berbeda dengan upacara 17 Agustus sebelum pandemi. BP OSIS Inti harus kreatif dan dapat berinovasi dalam menerapkan upacara offline agar dapat diterapkan di upacara virtual melalui zoom meeting. Rundown upacara virtual selalu direvisi setiap adanya latihan karena ada bagian yang belum cocok, ada beberapa tahap yang belum lengkap, serta  teknis yang belum jelas. Kesulitan lain yang saya alami adalah dalam mencari petugas. Setelah berdiskusi panjang bersama teman-teman BP OSIS Inti yang lain, diputuskan untuk memilih petugas daripada membuka lowongan di grup-grup kelas untuk efisiensi waktu. Persiapan upacara virtual sudah tenggat waktu, BP Inti harus bekerja cepat dan efisien. Penanggung jawab utama, saya bertugas untuk membuat naskah, rundown acara, dan memastikan seluruh teknis jalannya upacara virtual baik dan lancar. Saya mendapat bantuan dari teman-teman BP OSIS Inti,  guru pembina OSIS, dan guru Bahasa Indonesia. Pada latihan pertama, persiapan rasanya kurang matang sehingga latihan tersendat-sendat dan teknis yang belum jelas. Para petugas dari kelas VIII dan IX yang dipilih juga belum memahami betul tugas mereka. Namun, berkat evaluasi yang diberikan para guru, latihan-latihan selanjutnya berjalan dengan lancar, baik, dan gambaran upacara virtual yang diharapkan semakin terlihat. Saya merasa senang dan bangga karena itu. Beberapa tambahan dari para guru yang saya rasa membuat upacara virtual kali ini semakin unik dan menunjukan keberagaman Indonesia, yaitu pembacaan doa dalam lima agama. Menurut saya, hal ini sangat unik dan jarang ditemui di upacara lain apalagi upacara virtual. Doa dibawakan dalam agama Katolik, Kristen, Islam, Buddha, dan Hindu. Ide ini terkesan “mendadak”, tetapi para petugas doa sangat cekatan dan hanya dalam dua kali latihan mampu membawakan doa dengan sempurna. Selain itu, ada hal baru yang saya pelajari melalui upacara virtual ini, yaitu teknologi Open Broadcaster Software (OBS). Upacara virtual kali ini sangat modern dan canggih karena menggunakan sistem OBS yang dioperasikan oleh Faith. OBS  berperan penting dalam jalannya upacara virtual kali ini, juga sangat membantu untuk spotlight dan share screen. Pada hari pelaksanaan upacara, saya merasa sangat takut dan deg-degan. Banyak kemungkinan buruk muncul di benak saya, terutama kekhawatiran upacara virtual ini akan gagal. Apalagi upacara ini merupakan upacara virtual pertama bagi SMP Santa Ursula BSD sehingga ada pula tekanan tersendiri bagi saya sebagai penanggung jawab kegiatan. Di tengah kekhawatiran saya, teman-teman BP OSIS Inti dan para guru selalu menyemangati dan meyakinkan bahwa upacara virtual kali ini pasti berhasil dan sukses. Ternyata memang benar adanya. Upacara virtual berjalan sukses dan mengundang antusiasme para peserta upacara dari kelas VII, VIII, dan IX hingga guru dan karyawan TU. Saya merasa senang dan bersyukur bisa menjadi penanggung jawab upacara virtual kali ini.
Selengkapnya
Tetap Sehat di Masa New Normal
Posted: 2021-09-10 | By: Gabriella Santoso & Helena Hanjoyo
Usai pelaksanaan Penilaian Kenaikan Kelas (PKK) tahun pelajaran 2020-2021, SMP Santa Ursula BSD mengadakan berbagai kegiatan bagi para peserta didiknya. Salah satu di antaranya adalah webinar untuk peserta didik kelas VII, yang bertema “Tetap Sehat di Masa New Normal” Webinar yang diselenggarakan pada hari Selasa, 25/05/21 ini dimulai pada pukul 07.00 pagi, di mana para murid berkumpul dalam ruang Zoom Meeting kelas masing-masing, didampingi wali kelas mereka. Dalam pertemuan tiap kelas, peserta didik mengisi lembar Google Forms Evaluasi Diri sebagai gambaran bagaimana kebiasaan baru peserta didik selama PJJ. Setelah pengisian Evaluasi Diri selama kurang lebih 30 menit, mereka berdiskusi bersama wali kelas masing-masing mengenai aktivitas serta pola makan yang mereka lakukan di masa New Normal ini. Selanjutnya, pada pukul 9.30, webinar dengan narasumber dr. Lichte Christian Purbono, salah satu alumni angkatan 2009 di SMP Santa Ursula BSD ini, dimulai. Dalam webinar ini, kami belajar mengenai virus corona atau COVID-19 yang sedang melanda dunia. Virus dengan julukan “penyakit 1000 wajah” ini dapat menginfeksi/menyerang siapa saja dengan bentuk berbagai macam penyakit. Di antaranya demam, batuk, dan nyeri tenggorokan (gejala-gejala ringan) serta sesak nafas, pneumonia, dan demam di atas 39°C atau demam refraktori (gejala-gejala sedang). Kesulitan bernafas termasuk gejala berat, dan syok sepsis termasuk gejala kritis. Untuk mencegah tertular COVID-19, haruslah kita menggunakan masker dengan benar (mulut, hidung, dagu, dan sisi-sisi pada muka tertutup), mencuci tangan dengan kompleks selama 40-60 detik, menjaga jarak minimal 2 meter, hindari menyentuh mata, mulut, dan hidung, serta tetap di rumah. Telah dibuktikan bahwa COVID-19 dapat bertahan paling lama pada benda berbahan plastik dan stainless steel, yakni selama 72 jam, diikuti oleh benda berbahan karton selama 24 jam. Virus ini dapat bertahan selama 4 jam pada tembaga, dan 3 jam di udara. Informasi ini memperkuat alasan pentingnya menerapkan langkah pencegahan di atas. Hal lain yang dapat dilakukan untuk menjaga tubuh dari virus ini adalah dengan melakukan vaksinasi. Vaksinasi tidak akan membuat tubuh menjadi kebal 100%, namun dapat menurunkan resiko kematian dan memperpendek masa penularan. Vaksin akan aman jika sesuai dengan anjuran pemerintah. Situasi pandemi membuat kita semua belajar dan bekerja dari rumah dengan memandang layar komputer atau gawai hampir sepanjang hari. Oleh karena itu, dalam webinar kali ini, kami juga belajar untuk waspada terhadap Computer Vision Syndrome atau digital eye strain. Gejala-gejala dari Computer Vision Syndrome adalah sakit kepala, nyeri pundak, penglihatan kabur, kelambatan perubahan fokus, dan penglihatan ganda serta gejala-gejala lainnya. Kemungkinan tinggi terjadinya Computer Vision Syndrome di masa new normal ini, merupakan hal lain yang harus diwaspadai. Efek dari Computer Vision Syndrome diharapkan dapat dikurangi dengan menerapkan ‘The 20-20-20 rule’. The 20-20-20 rule memiliki arti yaitu setiap 20 menit, mata kita harus beristirahat dari layar komputer, dan melihat benda sejauh 20 kaki. Postur tubuh saat melihat komputer harus tegak dengan posisi yang nyaman. Jangan lupa juga untuk berkedip, karena berkedip membuat permukaan depan mata tetap lembab. Untuk mengisi waktu selama di rumah saja, kita dapat melakukan hobi, belajar hal baru, atau mengikuti aktivitas dalam kelas/komunitas online. Kita juga dapat berolahraga. Beberapa  olahraga mudah yang direkomendasikan untuk dilakukan antara lain olahraga kardio untuk kesehatan jantung, jumping jack, yoga, senam aerobik, sit-up dan push up, dan plank. Tak lupa, dr. Lichte Christian Purbono mengajak kita semua melakukan 10 nilai Santa Ursula BSD, yaitu kedisiplinan, kerjasama, kemandirian, kejujuran, kepekaan, religiusitas, daya juang, penghargaan, tanggung jawab, dan cinta lingkungan. Dengan demikian diharapkan kita dapat tetap bersemangat dalam menjalani masa New Normal.
Selengkapnya
Berbincang Asyik dengan Andrea Mae dalam Sharing Alumni SMP Santa Ursula BSD
Posted: 2021-09-10 | By: Febronia Henderika Wodon
Andrea Mae, bisa juga dipanggil Mae. Ia merupakan peraih beasiswa ASEAN Scholarships yang juga salah satu alumni SMP Santa Ursula BSD. Saat ini ia menjadi mahasiswa Psychology-Life Science (double major) di National University of Singapore. Proses ia mencari beasiswa untuk bersekolah sangatlah menarik. Pada awalnya ia sendiri tidak pernah berencana untuk mengambil beasiswa, sampai suatu saat mamanya memberitahukan bahwa ada beasiswa di Singapura dari ASEAN Scholarships. Setelah mencari info dari internet, Kak Mae mencoba untuk mendaftarkan diri dan tak disangka ternyata diterima. Saat masih bersekolah di SMP Santa Ursula BSD, Kak Mae pernah menjadi Ketua OSIS. Pastinya menjadi Ketua OSIS bukanlah hal yang mudah, banyak tugas yang harus dikerjakan dan rapat yang harus diikuti. Namun, Kak Mae tidak terlalu kesulitan untuk membagi waktu antara sekolah dan urusan OSIS. Ia mengatakan bahwa ia tidak belajar terus-menerus, tetapi saat belajar di kelas ataupun di rumah ia mengusahakan untuk fokus agar bisa memahami materi dengan baik. Sebagai siswa, Kak Mae juga pernah mengalami rasa malas belajar. Bertolak dari pengalamannya, ia memberikan tips untuk menghadapi kecenderunganseperti ini, antara lain: 1. Jangan menerapkan sistem SKS (Sistem Kebut Semalam). Menurut Kak Mae, dalam Psikologi dikatakan bahwa mempelajari semua materi dalam satu waktu tidaklah efektif, karena bisa saja materi yang dipelajari tidak masuk ke otak kita. 2. Hal penting yang harus kita terapkan dalam diri kita yaitu konsisten dalam belajar. 3. Belajar bisa dilakukan secara bertahap, perlahan-lahan, dengan membuat target-target kecil atau sederhana. Setelah memasang target,harus fokus untuk memenuhui target tersebut, tetapi tetap diselingi istirahat atau melakukan kegiatan lain. Saat istirahat, sebaiknya tidak diisi kegiatan menonton video yg ber-series karena akan menghabiskan banyak waktu. 4. Enjoy dalam belajar merupakan hal yang penting. Setelah 3 tahun menempuh pendidikan di SMP dan beberapa bulan di SMA Santa Ursula BSD, Kak Mae melanjutkan pendidikan di Singapura. Di sana, ia mengulang satu tahun SMP lalu melanjutkan SMA dan perguruan tinggi. Kak Mae mengatakan, ia sudah familiar dengan sistem pendidikan di Singapura. Menjalankan pendidikan di negeri orang pasti ada tantangannya. Kak Mae pun merasakan hal tersebut.Kesulitan yang ia alami adalah penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi yang digunakan di Singapura. Kak Mae mengatakan, pada awalnya ia sangat kesulitan dalam hal listening, sehingga sulit pula untuk mengikuti tempo belajar yang cepat. Meskipun begitu, Kak Mae tidak pernah malu untuk bertanya kepada guru maupun teman-temannya. Dari pengalaman mengatasi kesulitan tersebut, kepada peserta sharing Kak Mae memberikan beberapa tips untuk mempelajari Bahasa Inggris, yaitu: 1. Mengerjakan soal-soal yang dapatmelatih penguasaan grammar. 2. Membaca berita yang topiknya menarik, supaya semakin banyak kosa kata dan grammar yang dikuasai. 3. Berbicara di depan kaca atau berbicara sendiri dalam Bahasa Inggris agar lebih fasih dan lebih percaya diri untuk berbicara Bahasa Inggris. 4. Menonton video/ film berbahasa Inggris dengan subtitle Bahasa Inggris. Kesulitan lain hal yang dialami Kak Mae selama tinggal dan belajar di Singapura, adalah dalam menguasai materi pembelajaran yang semakin lama semakin dalam, sehingga membutuhkan waktu belajar yang semakin banyak. Kak Mae juga merasa sedih karena sejak pandemi covid-19, ia belum bisa bertemu lagi dengan keluarganya. Padahal sebelum pandemi, Kak Mae pulang ke Indonesia dua kali setiap tahunnya Di manapun kita berada, tidak menutup kemungkinan bahwa ada orang yang kurang baik di sekitar kita. Di Singapura, Kak Mae pernah mendengar cerita dari teman yang mengalami pengalaman kurang menyenangkan dari warga setempat (stigma). Namun Kak Mae sendiri belum pernah mengalaminya sampai saat ini. Kak Mae juga bersyukur karena mempunyai guru dan teman yang baik hati, sabar dan suportif. Secara khusus mengenai teman-teman, Kak Mae menceritakan pengalaman saat pertama kali berada di Singapura. Kecanggungan yang ia alami saat bertemu dengan orang baru, bisa dicairkan karena teman-teman di sana sangat welcome. Mereka berbagi cerita mengenai masa kecilnya di Indonesia dan di Singapura serta sistem pendidikan yang berbeda antara Indonesia dan Singapura. Semasa SMA, juga saat menjalani kuliah sekarang, Kak Mae mengisi waktu luangnya dengan kegiatan-kegiatan seperti choir, 2nd student council, hostel life, kegiatan ekstra kurikuler, dan masih banyak lagi. Dengan mengikuti banyak kegiatan, relasi Kak Mae dengan orang-orang di sekitar semakin baikdan semakin luas, semakin banyak kenalan yang ia miliki. Sebagai siswa yang masih menempuh pendidikan di jenjang SMP, sharing dari Kak Mae ini sungguh dapat kami manfaatkan untuk menyiapkan diri menghadapi tantangan dan peluang studi kami di waktu yang akan datang.
Selengkapnya
Amanat Pembina Upacara Virtual Memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke 76 Republik Indonesia
Posted: 2021-09-10 | By: Petrus Haryo Sabtono
Selamat pagi Suster, Bapak/Ibu Guru, Karyawan, dan Peserta didik SMP Santa Ursula BSD Salam sehat bagi kita semua Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan kesehatan sehingga kita dapat mengikuti Upacara Kemerdekaan Indonesia yang ke-76 ini dari rumah masing-masing. Sungguh di hari yang sangat bersejarah ini, saya diberi kesempatan agar dapat menyampaikan sepatah dua patah kata dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia ke-76 secara online di kampus Santa Ursula BSD yang kita cintai. Setiap 17 Agustus negeri kita berpesta untuk memeriahkan hari Kemerdekaan. 17 Agustus merupakan hari dimana seluruh bangsa Indonesia mengenang kembali jasa-jasa para pahlawan yang telah meraih kemerdekaan dan para pejuang bangsa di masa-masa sulit seperti ini. Apa yang kita pelajari dari para pahlawan dan para pejuang bangsa ini? Pemerintah Indonesia mengambil tema Kemerdekaan 17 Agustus yang ke-76 ini adalah “Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh”. Dari para pahlawan dan para pejuang bangsa inilah kita belajar menjadi tangguh. Tangguh dalam hal apa? Tangguh dalam menghadapi situasi serba tidak pasti ini, Pandemi Covid-19. Situasi ini membuat banyak tekanan pada tiap orang, tak terkecuali anak-anak maupun remaja. Rutinitas sekolah terganggu, pertemanan harus dilakukan jarak jauh, hingga kita tidak bisa melakukan upacara kemerdekaan seperti dulu ketika sebelum pandemi. Semua perubahan mendadak ini tentu menimbulkan kekecewaan, tapi kita perlu mengasah kemampuan kita dalam beradaptasi. Khususnya, remaja generasi Z dan generasi milenial harus mampu menanamkan karakter tangguh untuk melewati masa-masa new-normal di tengah perjuangan melawan pandemi virus corona. Dengan mengembangkan karakter tangguh, remaja akan mulai terbiasa untuk lebih cepat beradaptasi dalam menghadapi tantangan. Generasi ini juga harus bisa belajar memberikan rasa empatinya serta memiliki mental yang kuat untuk senantiasa bangkit dari situasi yang tidak menguntungkan. Karakter tangguh bisa meningkatkan kemampuan remaja untuk lebih memahami orang lain serta meningkatkan kemampuan remaja untuk melakukan hal-hal positif yang memberikan manfaat bagi orang lain. Dengan karakter tangguh itu, maka kamu dan kita semua disini akan memiliki keyakinan dengan kemampuan dan perasaan: “Saya bisa melakukannya!!!”, maka itu akan mengubah tantangan menjadi kesempatan untuk tumbuh dan terus berkembang seperti pohon. Sebuah pohon yang rindang dapat terus tumbuh menjulang ke atas namun tidak melupakan untuk melebarkan jangkauan ranting-rantingnya ke samping. Jangkauan ranting dan dedaunan yang akan melindungi kehidupan lain yang bernaung di bawahnya. Pohon tidak akan pernah bertindak egois untuk hanya tumbuh menjulang memenuhi kebutuhannya akan sinar matahari dan melupakan unsur kehidupan lain yang ada di sekitarnya. Akhir kata mari kita serukan bersama 3 kali kata merdeka, “Merdeka.. Merdeka.. Merdeka….”   Terimakasih, salam sehat dan tetap semangat Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh
Selengkapnya