Sekolah Bukan Hanya Menjadi Tempat Untuk Belajar Berbicara

Posted: 2026-07-27 | By: Ignatius Bayu Sudibyo Guru Sosiologi SMA Santa Ursula BSD

Persoalan komunikasi menjadi perhatian masyarakat karena berdampak pada keresahan dan kemarahan massa. Gelombang demonstrasi dan kerusuhan pada bulan Agustus-September 2025 karena ucapan yang arogan dari sejumlah anggota DPR RI dan Bupati Pati Jawa Tengah di saat rakyat sedang mengalami kesulitan ekonomi dan buruknya layanan publik menunjukkan minimnya komunikasi empati pejabat publik (Kompas, 2025). Saling menyerang dan merespon dengan kata-kata yang tidak pantas di grup Whatsapp (WA) seolah menjadi hal yang normal. Manusia modern begitu mudah berkomunikasi, tetapi perjumpaan antarmanusia kerap diwarnai sikap yang jauh dari rasa hormat pada martabat manusia. 

Persoalan komunikasi yang tidak sehat, seperti lebih banyak berbicara tetapi sulit untuk mendengar, ingin dominan, dan percakapan dengan kata-kata ‘kotor’ menjadi perhatian serius dalam pendidikan. Akar masalah konflik antarsiswa tidak terlepas dari komunikasi yang mengedepankan emosi dan cenderung merendahkan orang lain. Mengapa topik komunikasi sangat relevan dalam dunia pendidikan?

Mendengar Untuk Memahami Sesama

Perjumpaan penulis dengan kebiasaan siswa yang lebih suka berbicara tetapi sulit mendengar, berbicara dengan kata-kata (bahasa) kasar dan cenderung menyerang bukan sekedar perilaku spontan. Menggunakan dengan kata-kata kasar atau percakapan yang menyerang di grup WA merupakan habitus. Sosiolog P. Bourdieu yang kritis pada masalah budaya dan pendidikan menegaskan habitus adalah praktik, cara berperilaku, cara bersikap, cara bertindak, dan pola kebiasaan yang melekat (mempribadi) dari seseorang yang terbentuk dari lingkungan sosial dan diwariskan hingga menjadi sesuatu yang alamiah (Basis, 2003). Masalah di atas dapat terjadi dalam lingkup pertemanan yang terbiasa dengan kata-kata kasar dan dianggap sebagai hal biasa. Perilaku menyerang dengan kata-kata tidak pantas lewat WA maupun secara langsung dapat terjadi karena anak ‘menonton pertunjukkan’ tersebut di media sosial. Bagi pelaku yang memiliki habitus menyerang, keberhasilan melukai orang lain dengan kata-kata menjadi kepuasan tersendiri.     

Sekolah dapat membantu membangun budaya komunikasi yang sehat untuk menciptakan keteraturan, solidaritas, dan relasi yang hangat. Ada beberapa hal penting dalam upaya membentuk budaya komunikasi yang sehat. Pertama, membiasakan untuk mendengar. Pembelajaran di kelas menjadi ‘ruang’ pengalaman siswa dalam berkomunikasi. Melalui kebiasaan mendengar, siswa belajar memahami dan merasakan sudut pandang orang lain, menghormati orang yang sedang berbicara, dan menahan diri agar tidak selalu ingin dominan. Kedua, komunikasi yang berempati, seperti bertutur kata dengan tidak melukai perasaan orang lain yang sedang kesulitan, membantu teman tanpa merendahkan, dan tidak menghina atau mempermalukan orang lain. Memberi perhatian pada orang yang mengajak berbicara akan membawa kenyamanan dan penerimaan bahwa seseorang itu dihargai keberadaanya. Ketiga, mengutamakan dialog bila menghadapi masalah. Keempat, menggunakan bahasa yang lebih menghargai martabat orang lain, mulai dari menyapa dengan nama, tidak merendahkan dan mempermalukan orang lain. Kelima, konfirmasi atas informasi dan tidak reaktif, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman. 

Keterampilan berkomunikasi dengan merujuk pada pemikiran P. Bourdieu menjadi bagian dari modal sosial karena dengan berkomunikasi yang sehat, seseorang akan mendapatkan kepercayaan (trust) dan relasi yang luas. Cara Guru berbicara dan merespon pertanyaan atau masukan memberikan kesan kuat bagi siswa untuk belajar meniru komunikasi yang sehat. Cara penularan habitus yang paling inplisit adalah dengan keteladanan.

Komunikasi bukan hanya persoalan pesan, baik secara verbal dan nonverbal. Lebih dari itu, komunikasi yang menghargai, mendengar, dan dapat dipertanggungjawabkan menjadi pondasi penting dalam pendidikan karakter. Sekolah bukan hanya menjadi tempat untuk belajar berbicara, tetapi juga belajar mendengar, menghargai, dan memahami sesama. Pendidikan menjadi salah satu pilar utama membawa pesan kebijaksanaan dalam berkomunikasi.

Keluarga dapat memberi perhatian pada budaya komunikasi yang sehat sejak usia dini. Membiasakan anak memiliki sikap menghargai dalam bertutur kata, mendengar, dan memberi kesempatan orang lain berbicara harus dibiasakan sejak dini agar tidak tumbuh perilaku ingin dominan dalam relasi. Mendengar adalah kebiasaan sederhana tetapi memiliki muatan nilai yang sangat kuat, yaitu kesadaran untuk menghargai keberadaan orang lain. Mendengar telah menjadi habitus ketika seseorang melakukannya tidak dalam kondisi tunduk pada aturan atau teguran.

Memberikan pengalaman bagi anak menjalin relasi dalam perbedaan agama dan budaya harus menjadi perhatian bagi keluarga. Mengapa demikian? Invasi komunikasi di media sosial dan doktrin agama dalam keluarga dapat membuat pandangan tentang agama semakin keras dan hal ini dapat terjadi di agama apapun. Lebih memprihatinkan lagi bila sejak usia dini pengajaran agama telah menanamkan jarak sosial bahkan sikap antipati terhadap agama lain (Rakyat Merdeka, 2018:11). Dalam suasana perbedaan, anak belajar menumbuhkan kepercayaan dirinya dalam berkomunikasi. Sikap dan keterampilan menghargai keberadaan orang lain melalui komunikasi bukanlah warisan genetik, tetapi melalui proses pembiasaan. Melalui ajaran cinta kasih, penulis memiliki keyakinan keluarga Katolik turut memberikan kontribusi nyata dalam menumbuhkan dan memperkuat habitus budaya komunikasi yang sehat. 

Perjumpaan menjadi momentum rasa menghargai anugerah ciptaan Tuhan. Pertemanan dan persahabatan yang sehat dapat tumbuh tatkala kita mampu mendengar, menghargai, dan memahami orang lain dari praktik keseharian yang sederhana. Disinilah pesan kuat Paus Leo XIV untuk hari komunikasi sedunia yang diperingati beberapa waktu lalu dan menjadi refleksi bersama.