Belajar Sebelum Berangkat Memaknai OBI
09 Sep 2026 I. Fransiska Fenti Damayanti / Guru Biologi SMA Santa Ursula BSD Program

Belajar Sebelum Berangkat Memaknai OBI


Rabu, 2 September 2026, murid kelas XI mendapatkan sosialisasi mengenai kegiatan Outward Bound Indonesia (OBI) yang akan mereka jalani di kawasan Waduk Jatiluhur. Sosialisasi disampaikan oleh salah satu perwakilan tim Outward Bound Indonesia yaitu Kak Zul Winarno, sebagai bagian dari persiapan sebelum murid mengikuti kegiatan dalam dua gelombang. Gelombang pertama akan berlangsung pada 18 - 26 September 2026, sedangkan gelombang kedua pada 26 September - 3 Oktober 2026. Sejak awal sosialisasi, murid menyimak dengan tenang dan menunjukkan antusiasme, terutama ketika memasuki sesi tanya jawab dan saat melihat foto-foto kegiatan OBI pada slide presentasi. Bagi murid, foto-foto tersebut memberikan gambaran awal tentang pengalaman yang akan mereka hadapi. Namun, sosialisasi ini tidak sekadar membicarakan kegiatan di alam. Kak Zul mengajak murid memahami bahwa pengalaman OBI membutuhkan kesiapan sikap, bukan hanya kesiapan fisik dan perlengkapan. Hal ini tampaknya sudah mulai disadari oleh beberapa murid. Sehari setelah sosialisasi ini, salah satu murid laki - laki ditanya mengenai persiapannya, ia bercerita bahwa dirinya sudah mulai melakukan latihan fisik seperti lari, push up, pull up, sit up, dan berbagai latihan lainnya sejak dua minggu lalu. Seorang murid perempuan juga menceritakan bahwa ia lebih rutin melakukan olahraga voli dua minggu sekali. Persiapan tersebut menjadi gambaran sederhana bahwa OBI mulai dipandang sebagai sebuah pengalaman yang perlu disiapkan dengan sungguh - sungguh, bukan sekadar kegiatan yang akan dijalani begitu saja. 

Salah satu pesan yang menarik perhatian adalah bahwa dalam kegiatan OBI tidak ada hukuman, tetapi ada konsekuensi dari setiap pilihan yang dibuat. Murid juga diingatkan untuk bertanggung jawab terhadap barang pribadi maupun perlengkapan kelompok. Para instruktur bukanlah tantangan yang harus dihadapi. Justru, tantangan sebenarnya adalah bagaimana setiap murid mampu menjalani proses bersama kelompok, belajar berkomunikasi, saling membantu, dan tetap bertanggung jawab ketika menghadapi situasi yang mungkin tidak selalu nyaman. Setiap kelompok nantinya akan didampingi oleh satu orang pendamping dari tim OBI. Ternyata jika diresapi, pesan tersebut sangat dekat dengan enam nilai Serviam. Nilai cinta dan belas kasih, ketika murid belajar memperhatikan dan membantu teman yang mengalami kesulitan. Nilai tanggung jawab juga tercermin ketika mereka menjaga barang pribadi dan perlengkapan kelompok. Nilai integritas, ketika mereka berani menerima konsekuensi dari pilihan sendiri. Nilai keberanian dan ketangguhan, ketika mereka belajar menghadapi tantangan tanpa mudah menyerah. Nilai persatuan, ketika keberhasilan kegiatan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga kemampuan bekerja sebagai kelompok serta nilai totalitas, ketika murid diharapkan memberikan usaha terbaik dan sungguh-sungguh menjalani setiap proses. 

Pada akhirnya, sosialisasi ini menjadi pengingat bahwa OBI bukan sekadar kegiatan keluar dari lingkungan sekolah atau pengalaman beraktivitas di alam. Pengalaman OBi di area Waduk Jatiluhur menjadi ruang belajar yang lebih luas, tempat murid dapat mengenal dirinya sendiri sekaligus belajar memahami orang lain. Apa yang disampaikan ini menjadi bekal awal sebelum mereka benar-benar menjalani pengalaman tersebut. Mungkin nantinya ada rasa lelah, tidak nyaman, perbedaan pendapat, atau situasi yang tidak sesuai harapan. Namun justru di situlah nilai Serviam diharapkan tumbuh dalam pengalaman nyata. Murid tidak hanya pulang membawa cerita tentang kegiatan di alam, tetapi juga membawa pemahaman bahwa menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, berani, peduli, mampu bekerja sama, dan memberikan yang terbaik adalah bagian dari proses menjadi pribadi yang utuh.