MENEMBUS BATAS: MERAIH PRESTASI
Turnamen tenis Widjojo Soejono kembali diadakan untuk ke-43 kalinya pada 27 September 2026 hingga 4 Oktober 2026 di Lapangan PDAM Surabaya, Lapangan Marinir, Lapangan Kodam Brawijaya, dan juga di Lapangan UNESA. Turnamen ini terbagi dalam dua kompetisi yaitu tingkat nasional dan internasional. Pada turnamen ini, total peserta kompetisi yang berjuang untuk meraih prestasi sebanyak 570 atlet junior. Sebanyak 420 atlet junior bertanding untuk tingkat nasional, dan 150 atlet dari berbagai negara lain untuk bertanding dalam sirkuit internasional. Saya ikut serta dalam turnamen ini dan mengikuti kompetisi Kategori Umur 14 Putri Nasional. Di Kelompok Umur ini, terdapat draw of 64 (yang berarti 1 pemain bermain sebanyak 6 kali jika masuk ke final).
Pertandingan ini saya mulai dengan kemenangan di babak 32, dengan skor 6-0 dan 6-1. Karena di pertandingan sebelumnya saya muntah-muntah dan flu sehingga saya drop out dari pertandingan, saya jadi sangat gugup ketika bertanding di pertandingan ini. Di pertandingan yang sama saya bertanding lagi dan menang melawan peserta yang berasal dari Tegal, dengan skor 6-2, 6-2. Skor terlihat cukup jauh, padahal setiap poin terasa menegangkan dan panjang. Pada dua pertandingan tersebut, saya belajar untuk mengekspresikan emosi sehingga tidak muntah di lapangan. Saya merasa senang karena sudah dapat mencari cara lain untuk tidak muntah.
Hari kedua tiba, kelompok umur saya diberikan istirahat selama satu hari. Saat istirahat tersebut, saya langsung menggunakan luangan waktu itu untuk belajar, mengerjakan tugas yang ada, dan tentunya berlatih piano. Saya lumayan juga fokus dalam bidang piano, tetapi belum pernah mengikuti kompetisi. Saya berada di level PK1 di Sekolah Musik YPM, yang bisa juga dianggap sebagai level diploma. Meskipun saya memiliki keterbatasan dalam berlatih piano karena berada di Surabaya, saya tetap meminta bantuan mama (yang mendampingi saya selama di Surabaya) untuk menyewa ruangan untuk bermain piano di sebuah tempat terpencil. Setelah itu, saya menyelesaikan tugas BKSN dari sekolah dengan berdoa bersama mama.
Pada hari ketiga, saya melanjutkan pertandingan di babak perempat final melawan teman dekat saya sendiri yang berasal dari Banten. Ia merupakan unggulan ke-2 dari turnamen tersebut, dan saya bisa mengalahkannya dengan skor 6-2, 6-3. Pada saat skor 4-1, saya mual dan muntah di lapangan. Sejak itu, saya ingat bahwa memperlihatkan emosi di lapangan itu tidak masalah. Lalu saya bangkit dan terus bermain. Saya tidak bermain dengan optimal, tapi berusaha untuk mengatasi hal tersebut. Kebahagiaan saya rasakan karena bisa maju ke babak semifinal di turnamen legend ini. Lalu, saya bermain ganda bersama partner saya dari Semarang. Kami cukup lengah dalam pertandingan tersebut dan bermain dengan kurang baik pada awalnya. Akhirnya, kami bangkit dan memenangkan pertandingan dengan skor 6-3, 6-3.
Setiap malam, saya berdoa agar dapat bermain dengan optimal dan tidak muntah. Terkadang, hal-hal kecil seperti ini lebih penting daripada sekadar harus menang. “Winning isn’t everything”. Hal-hal kecil ini yang jika dikembangkan dapat menjadi bekal untuk masa depan agar dapat menjadi pemain tenis yang lebih baik. Hari keempat menanti. Di hari tersebut, saya akan memainkan babak semifinal melawan mantan TIMNAS Tenis Indonesia; Putu Dyvania Teriana dari Bali. Saya harus menelan kekalahan karena bermain dengan kurang optimal dan juga merasa lumayan mual lagi. Karena mengekspresikan diri saya di lapangan, perasaan mual sempat hilang juga. Saya kalah dengan skor sangat erat, 5-7, 6-7 (5-7).
Pada hari itu, saya berfoto bersama Ketua PELTI (Persatuan Tenis Indonesia) Jawa Timur (foto yang ada di atas). Dari turnamen Widjojo Soejono ini, saya belajar bahwa kemenangan itu bukan segalanya, tetapi kita dapat belajar dari kekalahan. Salah satu nilai serviam yang saya peroleh dari turnamen ini adalah nilai daya juang. Saya berjuang dengan mempertahankan fisik saya dari poin ke poin dan dari waktu ke waktu. Saya juga belajar bahwa totalitas menjadi bagian penting dalam setiap pertandingan. Berjuang untuk tetap berusaha menyelesaikan tugas-tugas sekolah dan piano secara totalitas meskipun sedang fokus dalam pertandingan tenis. Selain itu, menjadi orang yang lebih disiplin dalam rutinitas sebelum pertandingan juga nilai yang saya pelajari dalam setiap kompetisi, melakukan pemanasan, serta menyiapkan semua perlengkapan dengan optimal. Di akhir pertandingan, saya selalu melakukan tos dengan lawan saya sebagai simbol sportivitas. Semoga di kompetisi selanjutnya saya dapat bermain dengan lebih optimal dan meraih kemenangan, serta menumbuhkan nilai-nilai Serviam dalam diri saya, seperti keberanian, ketangguhan, dan totalitas. Yang paling penting, saya berharap dapat menjadi pribadi yang kuat, mampu menyadari batas kemampuan diri, sekaligus berani melampauinya untuk terus berkembang dan menjadi lebih baik dari sebelumnya.




