Di Balik Layar Drama Musikal Festival Pendidikan 170 Tahun Ursulin di Indonesia
22 Sep 2026 Kuintina Cynthia Aileena Putri Kegiatan Siswa

Di Balik Layar Drama Musikal Festival Pendidikan 170 Tahun Ursulin di Indonesia


Enam ratus sembilan puluh dua murid dari lima sekolah Ursulin Indonesia bersatu dalam sebuah perjalanan panjang untuk menghadirkan drama musikal “Cahaya dari Timur: Nyala Perjuangan Martha Christina Tiahahu”. Di balik pertunjukan yang berlangsung dalam hitungan jam, tersimpan cerita tentang latihan, keberanian, kedisiplinan, dan kebersamaan.

Drama musikal menjadi salah satu bagian dari Festival Pendidikan Ursulin Indonesia. Dalam pergelaran “Cahaya dari Timur: Nyala Perjuangan Martha Christina Tiahahu”, murid- murid dari lima sekolah Ursulin Indonesia—Santa Ursula BSD, Santa Ursula Jakarta, Santa Maria, Santa Theresia, dan Vincentius—bertemu dalam satu panggung.

Mereka datang dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam. Namun, perbedaan tersebut dipersatukan oleh satu tujuan: menghadirkan sebuah pertunjukan yang tidak hanya menyampaikan kisah perjuangan Martha Christina Tiahahu, tetapi juga menghadirkan semangat kebersamaan.

 

Ketika Ratusan Murid Belajar Menjadi Satu

Melibatkan ratusan murid tentu bukan perkara sederhana. Jadwal latihan, koordinasi, hafalan dialog dan lagu, gerakan, blocking, hingga kekompakan harus dipersiapkan dan diselaraskan. Namun, justru di tengah berbagai tantangan tersebut, semangat kolaborasi tumbuh.

Anak-anak yang sebelumnya mungkin belum saling mengenal mulai belajar bekerja bersama. Mereka belajar mendengarkan, mengikuti arahan, menghargai peran orang lain, dan bertanggung jawab terhadap bagian masing-masing. Perlahan, mereka tidak lagi hanya melihat diri sebagai murid dari sekolah masing-masing. Mereka menjadi bagian dari satu keluarga yang memiliki tujuan yang sama.

Bagi penonton, pertunjukan mungkin hanya berlangsung selama beberapa jam. Namun, di balik penampilan tersebut terdapat perjalanan panjang yang dipenuhi latihan, tantangan, kebersamaan, dan semangat untuk memberikan yang terbaik.

Membawakan kisah Martha Christina Tiahahu dan tokoh-tokoh lainnya tidak hanya membutuhkan kemampuan berakting. Pertunjukan juga membutuhkan musikalitas, kemampuan bergerak, kedisiplinan, serta kerja sama yang kuat. Dengan jumlah pemain yang begitu banyak, setiap bagian harus dipersiapkan dengan sungguh-sungguh.

 

Dari Audisi hingga Pementasan

Perjalanan menuju panggung besar dimulai dari audisi. Setiap murid mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dan potensinya. Melalui proses ini, karakter, kemampuan, dan kesesuaian peran masing-masing murid mulai dikenali. Setelah audisi, perjalanan berlanjut ke rangkaian latihan. Latihan dilakukan berulang kali untuk membangun kesatuan dalam sebuah pertunjukan yang melibatkan begitu banyak orang.

Latihan pun tidak berlangsung di satu tempat. Para murid dan pendamping beberapa kali berkumpul dan berlatih di Santa Ursula Jakarta, Santa Maria, hingga latihan terakhir di BSD. Setiap tempat menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju pementasan.Di ruang-ruang latihan itulah proses sesungguhnya berlangsung. Anak-anak menghafalkan dialog dan lagu, mempelajari gerakan serta blocking, sekaligus belajar untuk bersabar, bekerja sama, dan mendengarkan arahan para pendamping dan pelatih. Setiap latihan menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri dan menyatukan langkah.

 

Dari Ruang Latihan ke Istora Senayan

Setelah melalui rangkaian latihan yang panjang, tibalah hari yang dinanti. Ruang latihan berganti menjadi panggung besar di Istora Senayan, Jakarta. Ratusan murid yang selama ini berlatih bersama akhirnya tampil di hadapan penonton. Di balik panggung, kesibukan dan ketegangan terasa. Kostum, tata rias, properti, musik, serta berbagai persiapan terakhir harus dipastikan siap. Kemudian, saat lampu panggung menyala, setiap anak mengambil bagian masing-masing.

Di atas panggung, mereka membawa hasil dari latihan yang telah dilakukan bersama. Mereka menunjukkan keberanian untuk mencoba, ketekunan untuk berlatih, kesediaan untuk terus belajar, serta kemampuan bekerja sama dengan orang-orang yang sebelumnya mungkin belum mereka kenal.

 

Sebuah Pengalaman yang Lebih Panjang dari Pertunjukan

Festival Pendidikan Ursulin Indonesia menjadi ruang bagi lima sekolah untuk berjumpa, belajar, dan berkolaborasi. Para murid belajar bahwa sebuah karya besar tidak lahir dari usaha satu orang. Sebuah karya dapat terwujud ketika banyak orang bersedia mengambil bagian, menjalankan tanggung jawab, dan berjalan bersama menuju tujuan yang sama.

Pertunjukan di Istora Senayan mungkin telah berakhir. Namun, pengalaman yang diperoleh selama prosesnya akan menjadi bagian yang jauh lebih panjang untuk dikenang. Bukan hanya tentang bagaimana sebuah drama musikal dipentaskan, tetapi tentang bagaimana anak-anak belajar berani mencoba, tekun berlatih, bekerja sama, dan tumbuh bersama dalam sebuah perjalanan yang mempertemukan mereka dari lima sekolah Ursulin Indonesia.