



"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"
"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"
Siswa Aktif
Alumni
Tahun Pengalaman
Tenaga Pendidik
Tenaga Kependidikan
"Jika karena perubahan zaman dan keadaan perlu untuk membuat peraturan baru atau untuk merubah sesuatu, lakukan hal itu dengan kebijaksanaan setelah mendengar nasehat yang baik"
(WT: 2)
"Hiduplah dalam keserasian, bersatu, sehati sekehendak, terikat satu sama lain dengan cinta kasih, saling menghargai, saling membantu, saling bersabar dalam Yesus Kristus"
(Nas.T. 2)
"Apa yang Anda ingin mereka lakukan, lakukanlah sendiri itu lebih dahulu. Bagaimana Anda bisa mencela atau menegur kekurangan mereka apabila mereka melihat kekurangan itu masih ada dalam diri Anda sendiri"
(Nas. VI: 2-3)
"Cintailah semua putri Anda tanpa pilih kasih karena mereka semuanya Anak Allah dan Anda tidak tahu apa yang Dia rencanakan bagi mereka semua"
(Nas. VIII: 1-2)
"Andaikan pada suatu saat karena alasan yang kuat Anda tidak setuju dengan mereka atau menentang pendapat mereka, maka berterus teranglah, dengan berani dan penuh hormat. Apabila mereka tidak mendengarkan Anda, terimalah hal itu dengan sabar"
(Nas. III: 6-7)
Dengan penuh rasa syukur, keluarga besar SMA Santa Ursula BSD bersama para lulusan dan orang tua berkumpul dalam acara Temu Purna Siswa Angkatan XXVIII. Perjumpaan ini menjadi penanda berakhirnya perjalanan pembelajaran para siswa di jenjang SMA sekaligus simbol penyerahan kembali para lulusan kepada orang tua untuk melanjutkan langkah mereka menuju masa depan.
Suasana khidmat telah terasa sejak awal acara melalui prosesi perarakan pembuka yang menghadirkan “cucuk lampah” dengan karakter Gatotkaca. Kehadiran Gatotkaca bukan sekadar sebagai pembuka jalan, melainkan juga sebagai simbol pengantar perjalanan para lulusan menuju kehidupan yang lebih luas. Figur Gatotkaca melambangkan harapan agar para lulusan tumbuh menjadi pribadi yang kuat dalam nilai, rendah hati dalam pelayanan, serta berani membawa kebaikan di tengah masyarakat.
Diiringi alunan musik tradisional Jawa, langkah Gatotkaca yang penuh wibawa menghadirkan filosofi tentang keberanian untuk terus melangkah, keteguhan dalam menghadapi tantangan, dan semangat pantang menyerah dalam memperjuangkan hal-hal baik. Nuansa budaya yang dihadirkan dalam prosesi ini memberikan makna mendalam bahwa setiap perjalanan hidup membutuhkan keberanian, kebijaksanaan, dan hati yang tulus.
Prosesi semakin bermakna dengan kibaran bendera Merah Putih dan bendera Serviam yang dibawakan oleh para siswa kelas XI. Kedua bendera tersebut menjadi simbol bahwa para lulusan diharapkan mampu menumbuhkan rasa cinta kepada bangsa dan negara sekaligus menghidupi semangat Serviam dalam setiap langkah kehidupan mereka. Semangat melayani, peduli, dan berbela rasa diharapkan terus menjadi bagian dari identitas para lulusan SMA Santa Ursula BSD.
Rasa syukur dalam Temu Purna Siswa semakin mendalam melalui sambutan yang disampaikan oleh Sr. Edith, OSU dan Bapak Catur Agus Sancoko. Dalam sambutannya, keduanya menyampaikan apresiasi atas perjuangan para lulusan selama menempuh pendidikan di SMA Santa Ursula BSD. Tidak hanya itu, mereka juga memberikan pesan perutusan agar para lulusan terus bertumbuh menjadi pribadi yang tangguh, berintegritas, rendah hati, dan mampu membawa dampak positif dimanapun mereka berada.
Sebagai bentuk penghargaan atas usaha, kerja keras, dan daya juang para siswa, sekolah memberikan berbagai apresiasi di bidang akademik maupun non-akademik. Penghargaan tersebut menjadi ungkapan syukur atas ketekunan, semangat belajar, dan dedikasi yang telah ditunjukkan para lulusan selama menjalani proses pendidikan. Momen ini sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap pencapaian lahir dari proses panjang yang dijalani dengan kesungguhan, disiplin, dan semangat untuk terus berkembang.
Kehangatan acara semakin terasa melalui sambutan dari perwakilan orang tua dan perwakilan lulusan. Dalam refleksi yang disampaikan, tergambar perjalanan panjang yang telah dilalui bersama, mulai dari tantangan, dukungan, hingga kebersamaan yang menjadi bagian penting dalam proses pertumbuhan setiap siswa. Dukungan keluarga, pendampingan para guru, serta persahabatan yang terjalin selama masa sekolah menjadi fondasi berharga yang akan terus dikenang oleh para lulusan.
Tidak hanya itu, persembahan dari para lulusan turut menghadirkan suasana haru dan penuh makna. Melalui persembahan tersebut, para siswa menyampaikan ungkapan kasih, rasa terima kasih, dan kenangan kepada seluruh anggota komunitas sekolah yang telah mendampingi perjalanan mereka. Momen ini menjadi pengingat bahwa perjalanan pendidikan bukanlah perjalanan yang ditempuh sendiri, melainkan perjalanan bersama yang dipenuhi perhatian, dukungan, dan cinta dari banyak pihak.
Puncak kegiatan Temu Purna ditandai dengan pemasangan Pin Serviam Angkatan XXVIII. Momen ini menjadi simbol selesainya perjalanan para siswa di SMA Santa Ursula BSD sekaligus penanda kesiapan mereka untuk melangkah menuju dunia yang lebih luas. Pin Serviam tidak hanya menjadi tanda kelulusan, tetapi juga lambang nilai-nilai yang akan terus dibawa dan dihidupi dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui Temu Purna Siswa Angkatan XXVIII, SMA Santa Ursula BSD kembali menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik semata. Pendidikan juga merupakan proses pembentukan karakter, penguatan hati untuk melayani, serta penumbuhan kepedulian terhadap sesama. Dengan semangat Serviam, para lulusan diharapkan mampu menjadi pribadi yang berintegritas, memiliki kepedulian sosial, dan terus membawa nilai-nilai kebaikan dalam setiap langkah kehidupan mereka.
Dokumentasi: Nicole dan Keira XI-E
Pada Senin, 4 Mei 2026 seluruh siswa KB-TK Santa Ursula BSD mengawali bulan Mei ini dengan melakukan ibadat pembukaan bulan yang penuh berkat yaitu “Bulan Maria”. Kami membuka bulan yang penuh syukur ini dengan melakukan ibadat singkat untuk mengajak anak-anak mengenal apa itu bulan Maria, menceritakan secara singkat tentang siapa Bunda Maria, dan bagaimana kita sebagai umat Katolik memperingatinya dengan mempersembahkan doa rosario untuk berdevosi kepada Bunda Maria. Ibadat dibawakan oleh Ibu Vita dan Ibu Restu.
Dalam ibadat, anak-anak mendengarkan sabda Tuhan melalui bacaan kitab suci dan cerita singkat tentang siapakah Bunda Maria dan bagaimana anak-anak diajak untuk mengenal dan melakukan devosi kepada Bunda Maria melalui doa rosario. Anak-anak sangat senang dan antusias, mereka sudah mulai mengenal siapakah Bunda Maria dan bagaimana berdoa kepada Bunda Maria dengan mendaraskan doa Salam Maria. Sebagian anak juga sudah mengenal apa itu rosario karena diajak oleh orang tua dan orang terdekat mereka untuk berdoa rosario. Ibu Vita dan Ibu Restu juga mengajak anak-anak untuk terus bertekun dalam doa rosario, berdoa melalui Bunda Maria sebagai Ibu dari Tuhan Yesus. Selain itu, Ibu Darpi mengajak anak-anak untuk membuka dan menutup ibadat dengan menyanyikan lagu dengan tema Bunda Maria, anak-anak sangat antusias dan bernyanyi dengan baik.
Mendongeng adalah salah satu kegiatan yang ditunggu-tunggu oleh siswa KB-TK Santa Ursula BSD. Setiap hari Jumat kedua dalam setiap bulan siswa KB-TK akan berkumpul bersama untuk menyaksikan dongeng di hall. Cerita dan nilai hidup yang disampaikan melalui dongeng selalu beragam dan menarik sehingga selalu berhasil membuat siswa antusias dalam menyaksikan dongeng tersebut. Selain itu, pembawa dongeng pun selalu berganti-ganti mulai dari kakak SMP atau SMA, ibu guru, dan juga orang tua siswa yang membuat suasana semakin menggembirakan karena siswa dapat melihat secara langsung orang tua mereka turut berperan dalam membawakan cerita.
Kegiatan mendongeng juga memberikan dampak yang sangat positif bagi para siswa karena membantu perkembangan siswa dalam banyak hal dan siswa dapat belajar memahami dunia sekitarnya dengan cara yang lebih konkret. Selain itu, mendongeng juga menjadi media yang efektif dalam menanamkan nilai moral dan karakter, mengembangkan kemampuan berbahasa, meningkatkan fokus, serta belajar memahami pesan yang disampaikan. Seperti pada kegiatan mendongeng yang dilaksanakan Jumat, 8 Mei 2026 lalu, siswa diajak untuk semakin sayang dan merawat bumi dengan cara membuang sampah pada tempatnya, menanam banyak tanaman, menyiram tanaman, dan tidak memetik tanaman. Dengan demikian ajakan untuk lebih menyayangi dan merawat bumi tidak hanya didengar tetapi juga akan diingat dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan mendongeng, siswa tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga belajar menanamkan kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai positif yang disampaikan melalui cerita diharapkan dapat membentuk karakter siswa sejak usia dini. Dengan demikian, kegiatan mendongeng tidak hanya memperkaya imajinasi siswa, tetapi juga membantu membentuk karakter yang peduli dan bertanggung jawab.
Pada Sabtu, 25 April 2026 telah dilaksanakan kegiatan Parenting bagi orang tua siswa TK B di Aula SMP-SMA Santa Ursula BSD. Kegiatan ini mengambil tema “Ready for School”, dengan narasumber Ibu Charlotte Priatna, seorang praktisi pendidikan yang telah berkecimpung selama lebih dari 30 tahun. Dalam materinya, Ibu Charlotte mengajak para orang tua untuk melihat adanya perbedaan generasi antara orang tua dan anak yang perlu dipahami bersama. Maka, dalam mendidik anak pun harus mengikuti perkembangan zaman.
Pertemuan parenting ini juga mengajak para orang tua agar bersiap melepas anak-anak mereka yang bulan Juli nanti sudah masuk ke SD. Tak hanya orang tua yang perlu bersiap, namun anak-anak juga perlu bersiap dan belajar untuk bertanggung jawab atas dirinya masing-masing, seperti menyiapkan perlengkapan sekolahnya sendiri. Maka bersama Ibu Charlotte para orang tua diajak untuk belajar pula tentang pola asuh yang disarankan, seperti halnya bagaimana belajar memberikan kepercayaan kepada anak, membangun konsep diri yang positif dalam diri anak dengan melihat kemampuan mereka dan memberikan kesempatan pada anak untuk berusaha.
Kegiatan parenting ini terlaksana dengan amat baik, lancar, sesuai dengan waktunya, dan mendapatkan respon positif dari para orang tua. Mereka merasa materi yang dibawakan sangat relevan dan bermanfaat dengan situasi mereka saat ini.
Dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi memegang peranan penting dalam membangun relasi yang harmonis antar sesama. Komunikasi yang baik berawal dari adanya empati dan solidaritas dalam diri, yang tercermin melalui cara kita berinteraksi dengan siapapun tanpa memandang perbedaan. Melalui komunikasi yang tepat, kita dapat memahami perasaan, kebutuhan, serta kondisi orang lain. Oleh karena itu, Seksi Sosial OSIS SMP 2026 merancang program HARMONIS sebagai upaya untuk menumbuhkan empati dan solidaritas dalam berkomunikasi.
HARMONIS merupakan singkatan dari “Hari dan Momen Bersama Sahabat Kharis”, sebuah program yang melibatkan perwakilan siswa-siswi SMP Santa Ursula BSD sebagai panitia. Program ini bertujuan untuk mengajak siswa belajar menerima keberagaman melalui kolaborasi dengan Rumah Belajar Kharis, yaitu komunitas bagi individu berkebutuhan khusus di Paroki Gereja Santa Monika. Selain itu, kegiatan ini juga dirancang untuk mengembangkan sikap belas kasih, kepedulian terhadap sesama, semangat berbagi, serta jiwa pelayanan dalam diri siswa.
Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 25 April 2026, pukul 09.00–12.30 WIB, bertempat di Hall SMP–SMA Santa Ursula BSD. Seluruh rangkaian acara disusun secara terstruktur agar berjalan lancar dan memberikan pengalaman yang bermakna bagi seluruh peserta. Acara diawali dengan kedatangan anak-anak dari Rumah Belajar Kharis sekitar pukul 10.00 WIB, yang disambut hangat oleh pembawa acara, Gloria dan Winola. Suasana kebersamaan semakin terasa melalui nyanyian lagu “Hari Ini Kurasa Bahagia” yang menciptakan atmosfer ceria dan menyenangkan.
Sebelum memasuki inti kegiatan, pembawa acara memberikan penjelasan mengenai aktivitas yang akan dilakukan, yaitu kolase daun kering dan paper quilling. Anak-anak dari Rumah Belajar Kharis dibagi ke dalam dua kelompok sesuai aktivitas. Dalam setiap kegiatan, panitia pendamping berperan aktif mendampingi, memberikan arahan sederhana, membantu secara fisik bila diperlukan, serta membangun interaksi yang hangat agar suasana tetap nyaman dan akrab. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup pada pukul 12.20 WIB oleh pembawa acara, menandai berakhirnya seluruh kegiatan dengan penuh sukacita.
Program HARMONIS memberikan dampak positif, baik bagi panitia maupun anak-anak Rumah Belajar Kharis. Para panitia merasakan kehangatan melalui interaksi langsung yang menumbuhkan empati, kesabaran, solidaritas, serta kepedulian dalam berkomunikasi. Di sisi lain, anak-anak Rumah Belajar Kharis menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam setiap kegiatan yang diikuti. Suasana kebersamaan yang penuh kebahagiaan menjadi bukti bahwa program ini berhasil mencapai tujuannya.
Bagi saya pribadi sebagai panitia, momen paling berkesan terjadi saat berinteraksi langsung dengan salah satu anak Rumah Belajar Kharis dalam kegiatan kolase daun kering. Pada awalnya, saya merasa canggung dan kesulitan untuk berkomunikasi karena belum terbiasa dengan situasi tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, interaksi yang terjalin justru menumbuhkan rasa solidaritas dan kepedulian dalam diri saya. Setiap respons yang diberikan mengajarkan saya untuk lebih sabar, peka, dan menghargai setiap bentuk komunikasi, sekecil apa pun itu. Pengalaman ini memberikan pembelajaran mendalam bahwa komunikasi tidak selalu harus sempurna, melainkan cukup dilakukan dengan ketulusan hati.
Pada akhirnya, program HARMONIS menjadi pengalaman berharga yang tidak hanya memberikan pembelajaran sosial, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kemanusiaan serta mempererat rasa solidaritas di antara para panitia. Oleh karena itu, penting untuk terus menjaga dan menghidupi nilai-nilai yang telah ditanamkan selama program ini dalam kehidupan sehari-hari. Nilai empati, kesabaran, dan kepedulian tidak seharusnya berhenti ketika program berakhir, melainkan terus diterapkan dalam berbagai situasi. Dengan demikian, makna dari program HARMONIS akan terus memberikan dampak yang berkelanjutan.
Kegiatan “SAHABAT” menjadi momen penuh makna yang mempererat persahabatan antara Badan Pengurus OSIS SMP Santa Ursula BSD dan SMP Al-Izhar Pondok Labu. Pertemuan pertama dilaksanakan pada Kamis, 12 Februari 2026, di kampus Santa Ursula BSD. Seluruh peserta disambut dengan hangat melalui sesi perkenalan, sambutan dari kepala sekolah dan guru pendamping, serta presentasi mengenai program cinta lingkungan seperti pengomposan, pemilahan sampah, dan hidroponik. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi para siswa untuk saling mengenal sekaligus belajar mengenai pentingnya menjaga lingkungan hidup.
Setelah sesi presentasi dan tur kampus, para peserta mengikuti berbagai kegiatan dinamika kelompok di auditorium. Melalui permainan edukatif dan aktivitas lingkungan, para anggota OSIS dari kedua sekolah belajar membangun kerja sama, komunikasi, dan rasa kebersamaan. Suasana kegiatan berlangsung meriah dan penuh semangat, disertai canda tawa yang semakin mencairkan suasana. Kegiatan dilanjutkan dengan makan siang bersama yang menjadi kesempatan untuk berbagi cerita dan pengalaman antarsiswa. Pertemuan ini menjadi awal terjalinnya relasi yang hangat dan penuh persahabatan antara kedua sekolah.
Sebagai kunjungan balasan, pada Jumat, 13 Maret 2026, Badan Pengurus OSIS SMP Santa Ursula BSD berkunjung ke SMP Al-Izhar Pondok Labu. Kedatangan rombongan disambut dengan penuh keramahan dan antusiasme. Para peserta diajak berkeliling sekolah untuk mengenal lingkungan serta fasilitas yang dimiliki SMP Al-Izhar Pondok Labu. Selain memperluas wawasan, kegiatan ini juga menumbuhkan rasa saling menghargai terhadap budaya dan lingkungan sekolah yang berbeda.
Dalam kunjungan tersebut, para peserta mengikuti diskusi kelompok untuk merancang berbagai ide kolaborasi yang dapat dilakukan di masa mendatang. Selain itu, terdapat kegiatan kreatif berupa eco print pada tote bag menggunakan bahan-bahan alami seperti daun dan bunga. Kegiatan ini mengajarkan kreativitas sekaligus kepedulian terhadap lingkungan. Para siswa juga membuat parsel berisi sembako yang kemudian diberikan kepada para karyawan sekolah sebagai bentuk kepedulian dan semangat berbagi kepada sesama.
Rangkaian kegiatan “SAHABAT” ditutup dengan buka puasa bersama yang mencerminkan nilai toleransi, penghargaan, dan kebersamaan di tengah keberagaman latar belakang. Melalui kegiatan ini, para siswa tidak hanya memperoleh pengalaman baru, tetapi juga membangun persahabatan yang hangat, saling mendukung, dan inspiratif. Diharapkan kolaborasi antara SMP Santa Ursula BSD dan SMP Al-Izhar Pondok Labu dapat terus berlanjut melalui berbagai kegiatan positif di masa mendatang, sehingga semangat persahabatan dan kerja sama semakin erat terjalin.
What started as a simple classroom assignment gradually turned into a full musical production. As part of our 11th grade English literature project, group 2 of class XI A presented a drama adapted from the movie The Little Mermaid, combining acting, singing, and choreography into one performance. This activity is aimed to help us understand better about storytelling while also building creativity, imagination, and confidence.
Our performance was not just an ordinary drama, it was a musical adaptation from one of the famous Disney movies. Beyond acting, we incorporated singing and choreography to bring the story to life in a more dynamic and engaging way. Transforming a well-known story into a live drama that pushed us to think creatively and step out of our comfort zones, especially for those who were not used to performing on stage.
The performance took place in a classroom and it was attended by our fellow students. Each class was divided into two groups and we had the chance to watch each other’s performances. This created a supportive yet exciting atmosphere, as we were not only performers but also an appreciative audience for our friends. The final performance for our group was held on 24 April 2026.
Each group consisted of around 13–14 members, making up about half of the class. Every member played an important role, from acting and singing, handling costume and make up, designing a poster, producing a trailer, creating music illustrations, to preparing props and organizing scenes. In my group, I took on the role of being a director in which I helped guide and direct the team throughout the preparation and on the performance, bring ideas together, and ensure that the performance ran smoothly.
The journey toward the final performance was far from easy. We spent a significant amount of time on scriptwriting, carefully adapting the original story into a version suitable for a small drama. At the same time, we worked on creating props, organizing costumes, and planning stage movements or blocking. Some of the props were handmade using simple materials which made the process more creative and resourceful. Some others were big and heavy duty props which took us a long time to finish. Since our drama included musical elements, we also had to practice singing and choreography which required extra coordination and effort.
Rehearsals became a crucial part of our preparation. We practiced repeatedly to refine our acting, synchronize our singing, and perfect our choreography. In addition, we had to practice on how the lighting turned out, where to put the props, paying attention to important aspects of each scene, and the little details to make the drama alive. There were moments of difficulty in managing time, aligning everyone’s schedules, and maintaining consistency. However, these challenges ultimately strengthened our teamwork and commitment.
After weeks of preparation, the day of the performance finally arrived. Our musical drama ran for approximately 41 minutes. Seeing everything come together on stage was incredibly rewarding. The combination of handmade props, coordinated movements, and musical elements brought the story to life in a way that exceeded our expectations.
“This musical was challenging but it helped us become more confident and work better as a team,” said one of the students who participated in the performance.
Looking back, directing this musical drama was far more than just completing a school assignment. It was an unforgettable journey which brought our creativity and teamwork to life. Through this experience, we not only deepened our understanding of English literature but also developed valuable skills such as leadership, collaboration, discipline, and perseverance.
Experiences like this show that learning can go beyond the classroom, becoming both meaningful and inspiring. It also showed us that with enough effort and cooperation, we are capable of creating something we can truly be proud of.
SD Santa Ursula BSD mempunyai kegiatan kungfu shaolin. Melalui kegiatan ini kami belajar membangun fisik dan mental. Terdapat pula kegiatan menulis rapi. Menulis rapi merupakan kegiatan yang dikembangkan di sekolah Santa Ursula BSD. Menulis bukan hanya kegiatan menggoreskan pena di atas kertas tetapi kami juga melatih konsentrasi, kesabaran, dan koordinasi gerak tangan. SD Santa Ursula BSD juga memiliki Taman IPA. Taman IPA merupakan tempat bagi kami untuk mengenal alam dan ilmu pengetahuan yang patut kami ketahui sebagai siswa SD.
Lihat Lebih Banyak