



"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"
"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"
Siswa Aktif
Alumni
Tahun Pengalaman
Tenaga Pendidik
Tenaga Kependidikan
"Andaikan pada suatu saat karena alasan yang kuat Anda tidak setuju dengan mereka atau menentang pendapat mereka, maka berterus teranglah, dengan berani dan penuh hormat. Apabila mereka tidak mendengarkan Anda, terimalah hal itu dengan sabar"
(Nas. III: 6-7)
"Hiduplah dalam keserasian, bersatu, sehati sekehendak, terikat satu sama lain dengan cinta kasih, saling menghargai, saling membantu, saling bersabar dalam Yesus Kristus"
(Nas.T. 2)
"Cintailah semua putri Anda tanpa pilih kasih karena mereka semuanya Anak Allah dan Anda tidak tahu apa yang Dia rencanakan bagi mereka semua"
(Nas. VIII: 1-2)
"Apa yang Anda ingin mereka lakukan, lakukanlah sendiri itu lebih dahulu. Bagaimana Anda bisa mencela atau menegur kekurangan mereka apabila mereka melihat kekurangan itu masih ada dalam diri Anda sendiri"
(Nas. VI: 2-3)
"Jika karena perubahan zaman dan keadaan perlu untuk membuat peraturan baru atau untuk merubah sesuatu, lakukan hal itu dengan kebijaksanaan setelah mendengar nasehat yang baik"
(WT: 2)
Dalam rangka menumbuhkan kecintaan terhadap nilai-nilai Pancasila sejak usia dini, KB-TK Santa Ursula BSD menyelenggarakan Pameran Pancasila pada Sabtu, 30 Mei 2026, dengan tema “Bersatu dalam Karya dan Prestasi dengan Semangat Pancasila.” Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari ini menampilkan beragam hasil karya peserta didik yang merefleksikan pemahaman mereka tentang Pancasila dan keberagaman Indonesia. Peserta didik Kelompok Bermain (KB) menampilkan karya bertema sila pertama dan kedua, peserta didik TK A mengeksplorasi nilai-nilai sila ketiga hingga kelima, sementara peserta didik TK B memperkenalkan kekayaan budaya dari lima pulau besar di Indonesia. Pameran yang diselenggarakan di ruang kelas masing-masing ini menjadi sarana bagi anak-anak untuk belajar, berkreasi, dan mengekspresikan pemahaman mereka dengan cara yang menyenangkan.
Tidak hanya menghadirkan pameran karya, acara juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan yang melibatkan peserta didik dan masyarakat. Lomba Memindahkan Bendera dan Lomba Merangkak berlangsung penuh semangat dan keceriaan, memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk menunjukkan keberanian, ketangkasan, serta sportivitas. Suasana semakin meriah dengan penampilan paduan suara oleh peserta didik TK A yang membawakan tiga lagu serta permainan angklung dari peserta didik TK B yang menampilkan dua lagu pilihan. Melalui rangkaian kegiatan ini, KB-TK Santa Ursula BSD berharap dapat menanamkan nilai persatuan, kerja sama, dan penghargaan terhadap keberagaman, sehingga semangat Pancasila dapat tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan anak-anak sejak usia dini.
Winning and losing are both completely normal parts of life. No one can win all the time, and no one should feel ashamed for losing. What truly matters is how we respond to both situations. In my opinion, success is a gift from God, not something we are automatically guaranteed to receive. Because of that, we should stay grateful when we win and stay strong when we lose.
I learned this from my experience at the 2026 National Gymnastics Championship (Kejuaraan Nasional Senam Artistik). My team won first place in the junior team category, but I did not win anything in the uneven bar event finals. At first, I felt disappointed, but later I realized that losing can actually teach us many important lessons. When we lose, we are able to see our mistakes more clearly and understand what we need to improve in the future.
Another important thing I learned is that hard work and the process are more valuable than simply standing on the podium. During the competition, I pushed myself out of my comfort zone and gave my best effort. Even without winning every event, I was still proud of the progress I made. Losing does not mean we are weak, sometimes it is the first step toward becoming better and stronger.
At the same time, winning should never make us stop improving. Whether we succeed or fail, we should always keep our motivation and continue working hard to become the best version of ourselves. In the end, the real achievement is not only about medals or trophies, but also about growth, discipline, and never giving up.
What happens when our own dreams feel out of reach to us?
I still remember standing in the school hallway during recess. Kids were coming and going as usual. Some were joking around, some were running toward the cafeteria, and some were busy chatting with their friends. Amidst all that commotion, I was actually lost in my own thoughts. What if I’m not smart enough? What if I’ve tried my best, but still fail? At that moment, those questions felt much louder than the school bell.
This journey didn’t start with a victory. Quite the opposite. There were competitions that did not go the way I hoped. There was a scholarship I’d been looking forward to, preparing for, and praying for, but in the end, it was awarded to someone else. It felt like knocking on the same door over and over again and hearing no answer from the other side. The most exhausting part wasn’t the failure itself. The most exhausting part was having to convince myself to try again.
But that’s where I began to learn something that cannot be found in textbooks or exam papers. I learned that a person’s worth isn’t increased by a medal and isn’t diminished by a rejection. I learned that courage often looks very simple: come back, learn again, and try again.
While attending Santa Ursula BSD since kindergarten, I grew up embracing the Serviam values. These values weren’t always conveyed through formal lessons. Sometimes they came through teachers who continued to believe in me even when I doubted myself. Sometimes they came through friends who encouraged me after a disappointing result. Sometimes they came through the chance to start over.
When I received all those awards, I was certainly grateful. But what stands out most in my memory isn’t the day the results were announced. What stands out most are all the days leading up to it.
The days when I had to study even when I was tired. The days when I doubted my own abilities. The days when I failed, felt disappointed, and then slowly found a reason to get back up again.
Perhaps that is why, when I look back, I no longer think of the medals first. What I remember instead is a child who once stood in the school hallway, wondering if he was good enough. And as it turned out, he didn’t need an answer. He just needed to keep moving forward. Because in the end, light doesn’t always come from victory. Sometimes, growth does not come from winning. It comes from learning, persevering, and refusing to give up.
Suasana penuh syukur, haru, dan sukacita mewarnai Perayaan Syukur dan Pelepasan siswa kelas IX yang dilaksanakan pada Senin, 25 Mei 2026. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh siswa kelas IX beserta orang tua, para tamu undangan, guru dan tenaga kependidikan, serta Sr. Moekti K. Gondosasmito, OSU yang turut hadir memberikan dukungan dan doa bagi para siswa yang akan melanjutkan perjalanan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Mengusung tema “Bersyukur, Mengasihi, dan Siap Diutus”, perayaan ini menjadi momen istimewa untuk mengenang perjalanan selama tiga tahun menempuh pendidikan di SMP Santa Ursula BSD. Selama masa tersebut, kami tidak hanya dibentuk melalui proses pembelajaran akademik, tetapi juga melalui pembinaan karakter, pertumbuhan iman, serta berbagai pengalaman yang membantu kami bertumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama.
Perayaan syukur diawali dengan Ekaristi yang dipersembahkan oleh RD Dionnysius Yumaryo Gustyn Manopo. Dalam suasana doa dan refleksi yang khidmat, seluruh siswa diajak untuk mengucap syukur atas penyertaan Tuhan sepanjang perjalanan di bangku SMP. Rasa syukur tersebut tidak hanya ditujukan atas keberhasilan menyelesaikan pendidikan, tetapi juga atas setiap pengalaman, tantangan, persahabatan, pembelajaran, serta kasih Tuhan yang senantiasa menyertai dalam setiap proses kehidupan.
Melalui homili dan rangkaian perayaan Ekaristi, kami diajak untuk semakin menyadari bahwa setiap perjalanan hidup merupakan bagian dari rencana Tuhan untuk membentuk pribadi yang lebih matang dan beriman. Perayaan ini juga menjadi momen refleksi agar kami mampu melangkah ke masa depan dengan hati yang penuh syukur, kasih, dan pengharapan.
Tema “Mengasihi” menjadi pengingat bagi seluruh siswa akan pentingnya membangun relasi yang baik dengan sesama melalui sikap peduli, saling menghargai, memaafkan, dan melayani. Nilai-nilai tersebut telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah dan akan terus kami bawa dalam perjalanan selanjutnya.
Sementara itu, tema “Siap Diutus” mengajak kami untuk melangkah dengan penuh semangat dan harapan menuju masa depan. Setelah dibekali dengan nilai-nilai Kristiani dan semangat Serviam yang artinya aku mengabdi, kami diutus untuk menjadi pribadi yang mampu membawa terang, kasih, dan kebaikan di tengah masyarakat. Semangat Serviam diharapkan terus hidup dalam diri setiap siswa melalui sikap rendah hati, tanggung jawab, kepedulian terhadap sesama, serta kesediaan untuk melayani dengan tulus di mana pun berada.
Selain menjadi perayaan atas akhir perjalanan di jenjang SMP, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi bagi siswa dan orang tua untuk melihat kembali proses pertumbuhan yang telah dilalui bersama. Kehadiran orang tua dalam perayaan ini menjadi simbol dukungan, cinta, dan kebersamaan yang senantiasa menyertai langkah kami dalam meraih cita-cita.
Suasana haru terasa ketika kami mengenang berbagai pengalaman yang telah dilalui bersama teman, guru, dan seluruh warga sekolah. Namun, di balik perpisahan tersebut tersimpan harapan besar agar setiap siswa mampu melanjutkan perjalanan hidup dengan penuh iman, semangat belajar, dan keberanian untuk berkarya. Melalui Perayaan Syukur dan Pelepasan ini, kami diajak untuk terus bersyukur atas setiap anugerah kehidupan, menghidupi kasih dalam relasi dengan sesama, serta siap diutus menjadi pribadi yang utuh, cerdas, dan melayani. Semoga nilai-nilai yang telah ditanamkan selama di SMP Santa Ursula BSD senantiasa menjadi bekal berharga dalam setiap langkah kami ke depan.
Refleksi Seminar “Beyond The Bin”: Belajar Mencintai Lingkungan Hidup dan Refleksi Menonton Film Teman Tegar Maira ; Whisper from Papua
Kepedulian terhadap lingkungan tidak lahir dari tindakan besar semata, melainkan dari membangun kebiasaan-kebiasaan kecil yang bisa dilakukan secara konsisten setiap hari. Mulai dari memilah sampah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menghargai makanan, hingga menjaga alam sebagai ruang hidup anak cucu nantinya. Sebagaimana persahabatan Maira dan Tegar yang tumbuh bersama dengan alam Papua, kita pun diajak untuk membangun relasi yang penuh kasih dengan sesama dan lingkungan alam di sekitar kita. Semangat Laudato Si’ mengingatkan bahwa bumi adalah rumah bersama yang dipercayakan kepada manusia untuk dirawat, bukan dieksploitasi. Oleh karena itu, marilah kita menjadi generasi yang tidak hanya sebagai penonton ketika melihat kerusakan terjadi, tetapi juga berani mengambil bagian dalam menjaga dan memulihkan lingkungan. Sebab, setiap tindakan yang kita lakukan hari ini adalah manifestasi bagi masa depan, agar kenangan, harapan, dan kehidupan dapat terus tumbuh dan diwariskan kepada generasi yang akan datang karena bumi yang kita tinggali hanya satu, dan masa depan generasi berikutnya dimulai dari pilihan-pilihan kita hari ini.
Pada tanggal 28 Mei 2026, murid kelas X dan XI SMA Santa Ursula BSD mengikuti seminar dan workshop bertajuk “Beyond The Bin”. Kegiatan yang diselenggarakan oleh OSIS SMA Santa Ursula BSD di Aula SMP / SMA Santa Ursula BSD ini merupakan wujud kepedulian terhadap permasalahan sampah sekaligus bagian dari rangkaian peringatan Hari Bumi yang diperingati setiap 22 April dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni. Seminar dan workshop ini diadakan sebagai respons atas meningkatnya persoalan sampah serta pengelolaannya yang masih menjadi tantangan di berbagai tempat. Narasumber yang hadir dalam kegiatan ini adalah Ibu Destri dan Ibu Xaxa dari komunitas Pepulih (Pemerhati dan Peduli Lingkungan Hidup), sebuah komunitas lingkungan lintas agama berbasis keimanan yang berdiri sejak 22 April 2004 di bawah naungan Keuskupan Agung Jakarta. Terinspirasi oleh ajaran Santo Fransiskus Asisi, Pepulih aktif dalam kegiatan edukasi, advokasi, dan pemberdayaan masyarakat untuk menjaga kelestarian alam. Fokus gerakannya meliputi perubahan pola pikir masyarakat terhadap lingkungan, pengelolaan sampah, konservasi sumber daya alam, serta penguatan ketahanan ekologi. Nama “Pepulih” sendiri mengandung makna upaya memulihkan kembali alam yang selama ini mengalami kerusakan akibat berbagai aktivitas manusia.
Dalam seminar ini, peserta diajak memahami bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus dimulai dari tindakan sederhana di sekitar kita. Jika dahulu dikenal konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), kini konsep tersebut telah berkembang menjadi 11R yang dibagi ke dalam tiga tahapan:
Beraksi untuk Menjaga Lingkungan
Menjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai tindakan tersebut dapat diterapkan melalui konsep 11R yang terbagi ke dalam tiga tahapan, yaitu sebelum, selama, dan setelah penggunaan barang. Tahap “sebelum” (pintu depan) dilakukan dengan membiasakan diri berpikir bijak dahulu sebelum membeli atau menggunakan suatu barang. Contohnya dengan menolak penggunaan plastik sekali pakai, membawa tumbler sendiri, menggunakan tas belanja kain, serta membeli barang sesuai kebutuhan. Langkah-langkah sederhana ini penting karena dapat mengurangi jumlah sampah sejak awal, terutama sampah plastik yang banyak ditemukan di lingkungan maupun tempat pembuangan akhir. Membawa tumbler, misalnya, tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari, tetapi juga mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai.
Tahap “selama” (pintu tengah) dan “setelah” (pintu belakang) berfokus pada pemanfaatan barang secara optimal serta pengelolaan sampah yang tepat. Pada tahap selama, barang masih digunakan sehingga perlu dirawat dan dimanfaatkan sebaik mungkin agar tidak cepat menjadi limbah. Contohnya adalah menggunakan barang secara hemat, memperbaiki barang yang rusak, serta mematikan listrik ketika tidak digunakan. Sementara itu, pada tahap setelah, ketika barang telah menjadi sampah, langkah yang dapat dilakukan antara lain memilah sampah organik dan anorganik, membuat kompos dari sisa makanan, serta mendaur ulang barang yang masih memiliki nilai guna.
Bu Destri dan Bu Xaxa menjelaskan dengan sederhana bahwa tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membawa perubahan besar bagi lingkungan. Peserta diajak memahami bahwa pemilahan sampah organik dan anorganik bukan sekadar kebiasaan baik, melainkan langkah keselamatan yang dapat dimulai dari rumah. Sampah organik yang membusuk menghasilkan gas metana yang mudah terbakar dan berpotensi memicu ledakan apabila bercampur dengan limbah lain dalam jumlah besar, seperti yang pernah terjadi pada tragedi TPA Leuwigajah tahun 2005. Peristiwa tersebut mengingatkan bahwa persoalan sampah yang tampak sepele dapat berkembang menjadi ancaman besar ketika diabaikan. Dengan memilah sampah sejak dari sumbernya, kita tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga membantu mencegah risiko yang lebih besar.
Hal lain yang ditekankan dalam seminar ini adalah pentingnya menghargai makanan dengan tidak menyisakannya. Menghabiskan makanan bukan hanya soal menghilangkan rasa lapar, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap alam dan banyak pihak yang terlibat dalam proses penyediaannya. Di balik setiap butir nasi, sayuran, dan buah yang tersaji di meja makan, terdapat perjalanan panjang yang melibatkan tanah yang subur, air yang mengalir, sinar matahari yang memberi energi bagi tumbuhan, mikroorganisme yang menjaga kesuburan tanah, serta kerja keras para petani yang menanam, merawat, dan memanennya. Kesadaran akan proses tersebut mengajak kita untuk memandang makanan bukan sekadar barang yang dapat dibeli dan dikonsumsi, melainkan anugerah yang lahir dari hubungan yang saling terjalin antara manusia dan alam. Ketika makanan disia-siakan, yang terbuang bukan hanya bahan pangan, tetapi juga waktu, tenaga, dan berbagai sumber daya yang telah menopang kehadirannya. Sebaliknya, ketika kita menghargai dan menghabiskan makanan secukupnya, kita sedang belajar bersyukur atas karunia yang diterima sekaligus menyadari bahwa kehidupan manusia bergantung pada alam yang sehat dan lestari. Dari kebiasaan sederhana inilah tumbuh pemahaman bahwa menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dari tindakan besar, tetapi juga dari sikap menghargai apa yang telah disediakan bumi bagi kehidupan.
Dari seminar ini, kita dapat belajar bahwa perubahan besar seringkali berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Pemahaman tersebut penting karena masalah lingkungan tidak hanya disebabkan oleh keputusan-keputusan besar, tetapi juga oleh kebiasaan sehari-hari yang dilakukan oleh banyak orang secara terus-menerus. Kita diajak untuk menyadari bahwa menjaga lingkungan bukanlah tugas yang menunggu masa depan, melainkan tanggung jawab yang dapat dimulai hari ini melalui tindakan sederhana, seperti mengurangi sampah, menghargai makanan, dan menggunakan sumber daya secara bijaksana
Gerakan Lingkungan di Sekolah
Di lingkungan sekolah, semangat kepedulian terhadap lingkungan diwujudkan melalui Tim Ekologi, yaitu komunitas murid yang memiliki minat dan kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan hidup. Berbagai kegiatan telah dilakukan, seperti pengomposan, pemilahan sampah, khusus pengumpulan tutup botol dan tutup galon dengan bekerja sama dengan OSIS SMA Santa Ursula BSD, budidaya hidroponik, serta perawatan lubang biopori.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa prinsip pengelolaan lingkungan pada tahap sebelum, selama, dan setelah penggunaan barang sesungguhnya telah diterapkan dalam kehidupan di sekolah sehari-hari oleh anak-anak dan guru. Namun, upaya ini akan memberikan dampak yang lebih besar apabila didorong terus menjadi habitus untuk seluruh komunitas sekolah. Dengan keterlibatan bersama, gerakan peduli lingkungan tidak hanya menjadi sebuah program, tetapi juga menjadi budaya yang tumbuh dan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.
Sering kali kita merasa bahwa persoalan lingkungan terlalu besar untuk diubah oleh satu orang. Namun, seminar ini mengingatkan bahwa setiap perubahan selalu berawal dari sebuah pilihan sederhana. Ketika satu orang mulai peduli, lalu menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama, langkah kecil itu perlahan berubah menjadi gerakan yang membawa harapan. Pada akhirnya, bumi yang lebih baik bukanlah warisan yang kita terima, melainkan warisan yang kita ciptakan bersama melalui tindakan yang kita pilih setiap hari.
‘Nobar’ atau nonton bareng adalah kegiatan menonton suatu tayangan secara bersama-sama, kegiatan ini dapat membangun kebersamaan, serta dapat menjadi sarana edukasi untuk memahami realitas kehidupan nyata dan sarana untuk berdiskusi. SMA Santa Ursula BSD sudah beberapa kali mengadakan kegiatan nobar, beberapa film diantaranya adalah Say I Love You (2019), Budi Pekerti (2023), dan kini pada hari Kamis tanggal 4 di bulan Juni 2026 film Teman Tegar Maira : Whisper from Papua yang dipilih.
Film Teman Tegar Maira tidak hanya sebatas film semata, tetapi membantu memperluas wawasan murid. Melalui sarana film tersebut, harapannya mampu menumbuhkan kepedulian dan sikap reflektif terhadap berbagai isu di sekitar mereka, khususnya lingkungan hidup. Melalui kisah persahabatan Maira dan Tegar di tengah ancaman kerusakan hutan Papua, murid diajak menyadari bahwa alam bukan sekadar tempat tinggal, melainkan warisan berharga yang perlu dijaga dan dilestarikan bersama. Film ini juga menggambarkan makna persahabatan sebagai ikatan kepercayaan yang melahirkan kasih, kepedulian, dan semangat untuk saling memahami. Nilai tersebut tercermin dalam hubungan Maira dan Tegar yang berasal dari latar belakang berbeda. Maira tumbuh di tengah kekayaan alam dan budaya Papua, sedangkan Tegar berasal dari lingkungan perkotaan yang akrab dengan berbagai persoalan akibat kerusakan lingkungan. Perbedaan itu tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk saling mengenal, belajar, dan memperkaya wawasan satu sama lain. Maira memperkenalkan Tegar pada keindahan alam serta kearifan budaya Papua, sementara Tegar berbagi pengalaman tentang kehidupan kota dan tantangan yang dihadapinya. Melalui rasa ingin tahu, sikap saling menghargai, dan kepercayaan yang terus bertumbuh, keduanya menjalin persahabatan yang erat. Kisah mereka mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk berpisah, melainkan kesempatan untuk saling memahami, saling melengkapi, dan bersama-sama memperjuangkan hal yang mereka cintai, yaitu menjaga alam sebagai rumah bersama dan warisan bagi masa depan.
Dalam film ini, alam Papua menjadi saksi tumbuhnya persahabatan Maira dan Tegar. Relasi mereka berkembang seiring dengan kehidupan alam di sekitarnya, diiringi kicauan berbagai burung yang menghuni hutan Papua, kilauan sungai yang mengalir jernih bak permata, serta rimbunnya vegetasi yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat. Mereka juga turut merasakan suka dan duka para tetua yang dengan penuh keteguhan berjuang menghadirkan pendidikan yang lebih baik bagi anak dan cucunya di tengah polemik perebutan hak atas hutan.
Nenek dan orang tua Maira gemar bernyanyi, dan melalui nyanyian itulah mereka menyampaikan pesan, doa, serta ungkapan cinta kepada alam agar tetap lestari dan mampu menopang kehidupan generasi yang akan datang. Alunan suara mereka terdengar merdu, terkadang kuat, namun sesekali lirih, seakan memuat kegelisahan atas masa depan alam sekaligus harapan agar anak cucu kelak masih dapat menikmati keindahan dan kekayaan Papua. Nyanyian tersebut menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai leluhur dengan generasi penerus, sekaligus menjadi bentuk pewarisan kearifan lokal yang mengajarkan penghormatan terhadap alam. Bagi masyarakat Papua, hutan bukan sekadar hamparan pepohonan, melainkan ibu yang memberi kehidupan dan karena itu patut dihormati serta dijaga keberadaannya. Film ini juga mengajarkan bahwa memahami kebijaksanaan para leluhur memerlukan kesabaran, layaknya menyarikan pati sagu yang membutuhkan aliran air dan proses yang panjang. Dari sana tumbuh pemahaman bahwa hal-hal yang paling berharga sering kali lahir bukan dari jalan yang cepat, melainkan dari ketekunan dalam merawat hubungan dengan alam dan sesama.
Melalui kisah film tersebut juga, penonton diajak melihat bahwa alam Papua bukan sekadar latar cerita, melainkan ruang hidup yang membentuk identitas, budaya, dan cara pandang masyarakat terhadap lingkungan. Sosok orang tua dan para tetua dalam keluarga Maira menjadi simbol pengetahuan leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi, sekaligus lambang harapan agar nilai-nilai luhur, kecintaan terhadap alam, dan kearifan budaya tetap hidup dalam diri generasi penerus.
Di balik setiap perjalanan yang mereka lalui, Maira dan Tegar menunjukkan bahwa kerja sama dapat menghasilkan sesuatu yang lebih baik daripada usaha yang dilakukan sendiri. Perbedaan latar belakang, pengalaman, dan pengetahuan tidak menjadi penghalang, melainkan menjadi kekuatan yang membantu mereka saling melengkapi dalam memahami keindahan sekaligus pentingnya menjaga alam Papua. Kegigihan mereka dalam menelusuri hutan, menjelajahi berbagai sudut alam, serta berjuang untuk menyaksikan burung-burung endemik khas Australis mengajarkan bahwa keberhasilan sering kali lahir dari ketekunan, semangat pantang menyerah, dan kemauan untuk berjalan bersama demi tujuan yang baik. Perjuangan tersebut akhirnya terbayar ketika mereka dapat menyaksikan secara langsung keanggunan burung cendrawasih atau yang dikenal pula sebagai siangga, sang burung surga kebanggaan Papua. Dengan bulu yang memukau dan gerakannya yang anggun, kehadiran cendrawasih bersama berbagai satwa endemik Papua menjadi pengingat akan kekayaan hayati Indonesia yang perlu dijaga dan dilestarikan secara berkelanjutan. Film ini mengingatkan bahwa bumi adalah rumah bersama, sehingga menjaga kelestariannya bukan hanya tanggung jawab segelintir orang, melainkan tugas bersama demi masa depan yang lebih baik.
Melalui pendengaran, penglihatan, dan berbagai pengalaman yang mereka alami, Maira dan Tegar menyerap banyak hal yang menjadi bagian dari proses tumbuh dan berkembang. Pengalaman-pengalaman tersebut tidak hanya membentuk kenangan, tetapi juga mempengaruhi cara mereka memahami diri sendiri, sesama, dan lingkungan di sekitarnya. Dari sanalah muncul sebuah pertanyaan reflektif bagi kita semua: bagaimana jika ruang hidup yang menyimpan begitu banyak pengalaman, pembelajaran, dan makna itu perlahan berubah atau bahkan hilang akibat kerusakan lingkungan?
Melalui proses refleksi setelah nobar film Teman Tegar Maira, kita kembali diingatkan untuk sejalan dengan semangat Laudato Si’, ensiklik Paus Fransiskus yang mengajak manusia untuk merawat bumi sebagai rumah bersama (our common home). Dalam Laudato Si’, ditegaskan bahwa hubungan manusia dengan alam tidak dapat dipisahkan dari hubungan manusia dengan sesama. Kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan hilangnya pohon, sungai, atau satwa, tetapi juga hilangnya ruang hidup, budaya, kenangan, dan masa depan generasi berikutnya. Persahabatan Maira dan Tegar yang tumbuh bersama alam Papua menggambarkan adanya ekologi integral (integral ecology). Pengertian ekologi integral yang dikutip dari artikel pada Laudato Si’ Movement. Integral Ecology: A Holistic Approach to Global Challenges menyatakan bahwa bumi merupakan “rumah bersama” (our common home) yang perlu dirawat melalui kesadaran bahwa segala sesuatu saling terhubung. Kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya berarti melindungi alam, tetapi juga menjaga relasi antar manusia, budaya, serta kehidupan generasi mendatang melalui semangat ekologi integral (integral ecology).
Melalui kegiatan nobar ini, murid diajak menyadari bahwa mencintai sesama, menghargai kehidupan, dan merawat lingkungan merupakan panggilan yang saling berkaitan. Dengan alur yang sederhana namun menyentuh, Teman Tegar Maira menunjukkan bahwa menjaga alam tidak hanya berarti melestarikan pohon, sungai, atau satwa, tetapi juga melindungi ruang hidup, budaya, dan masa depan masyarakat yang bergantung padanya. Dengan demikian, menjaga lingkungan berarti merawat rumah bersama serta mewariskan harapan bagi generasi yang akan datang.
Mari mulai dari langkah kecil, sederhana, dan dilakukan terus-menerus.
Kurangi sampah dengan Pilah, Pilih, dan Pulihkan.
Bumi adalah rumah bersama bagi semua makhluk hidup ciptaan Tuhan.
Sumber Referensi :
Tempo.co. (2026, Januari xx). Jaga hutan, pesan film Teman Tegar Maira: Whisper from Papua. Tempo. https://www.tempo.co/teroka/jaga-hutan-pesan-film-teman-tegar-maira-whisper-from-papua-2106107
Pada hari Kamis, 4 Juni 2026, sekolah Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan nonton bersama di Teras Kota BSD, Tangerang Selatan untuk menyaksikan film Teman Tegar Maira yang disutradarai oleh Anggi Frisca. Film ini dibintangi oleh M. Aldifi Tegar Rajasa, Joan Warum dan Elisabeth Sisauta. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh siswa SMP dan SMA sebagai bagian dari pembelajaran yang bertujuan memberikan pengalaman edukatif di luar lingkungan kelas.
Kegiatan ini diselenggarakan untuk memperluas wawasan siswa-siswi mengenai kehidupan masyarakat Papua, khususnya terkait budaya, kondisi sosial, serta isu-isu yang dihadapi masyarakat adat. Melalui film ini, siswa-siswi diajak untuk memahami realitas kehidupan yang mungkin berbeda dari kehidupan sehari-hari mereka. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya toleransi, sikap saling menghargai, serta penghormatan terhadap keberagaman budaya Indonesia.
Penyelenggaraan kegiatan didukung sepenuhnya oleh sekolah dengan menyewa beberapa studio bioskop di Teras Kota BSD, Tangerang Selatan. Setiap kelas telah dibagi ke dalam studio yang berbeda, sehingga seluruh siswa-siswi dan guru dapat menonton dengan nyaman. Setelah tiba di lokasi, siswa-siswi langsung menuju studio sesuai pembagian yang telah ditentukan. Selama pemutaran film berlangsung, siswa-siswi dan guru mengikuti kegiatan dengan tertib dan penuh perhatian.
Teman Tegar Maira menghadirkan kisah yang menyentuh sekaligus menggugah pemikiran. Salah satu aspek yang paling menonjol dalam filmtersebut adalah penggambaran budaya Papua yang kaya dan unik. Berbagai adegan memperkenalkan kehidupan masyarakat adat yang masih menjaga tradisi serta nilai-nilai leluhur mereka. Selain itu, keindahan alam Papua yang memukau, mulai dari bentang alam dan hamparan hutan hijau, hingga lingkungan yang masih sangat erat dengan kehidupan masyarakat setempat.
Melalui alur cerita yang disajikan, penonton diajak untuk memahami bahwa kebijakan atau program yang diklaim bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tidak selalu memberikan dampak yang sesuai dengan harapan. Dalam film ini, masyarakat adat Papua digambarkan sebagai kelompok yang memiliki posisi subordinat, khususnya dalam proses pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka. Ketimpangan kekuasaan tersebut membuka peluang berbagai bentuk manipulasi oleh pihak yang memiliki wewenang lebih besar. Salah satu contohnya ditunjukkan melalui tindakan perusahaan PT Bebas Portal yang memanfaatkan keterbatasan literasi masyarakat setempat demi memperoleh persetujuan atas pengelolaan hutan. Dampaknya, hutan yang selama ini dilindungi oleh masyarakat mengalami kerusakan dan kehilangan fungsinya bagi warga sekitar.
Di luar unsur drama dan konflik yang membangun cerita, film ini berhasil membuka wawasan penonton terhadap realitas yang terjadi di Papua saat ini. Penonton diperlihatkan bagaimana masyarakat adat menghadapi tantangan dalam mempertahankan tanah, lingkungan, serta hak-hak mereka. Salah satu isu yang disoroti adalah deforestasi dalam skala besar di wilayah Papua. Dalam beberapa kasus nyata, kegiatan tersebut dilakukan tanpa persetujuan atau keterlibatan penuh dari masyarakat adat setempat. Akibatnya, lingkungan yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat menghadapi ancaman yang serius.
Pesan yang disampaikan dalam film ini, sejalan pula dengan semangat Laudato Si’ yang ditulis oleh Paus Fransiskus. Di mana, umat manusia diajak untuk merawat bumi sebagai rumah bersama dan mengembangkan pertobatan ekologis, yakni perubahan cara pandang dan tindakan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Kerusakan alam yang ditayangkan dalam film menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak hanya berdampak pada alam, tetapi juga pada kehidupan sosial, budaya, dan martabat manusia yang bergantung pada alam tersebut.
Melalui film Teman Tegar Maira, siswa-siswi SMA Santa Ursula BSD diajak untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga individu yang mampu berpikir kritis terhadap berbagai informasi dan kebijakan yang berkembang di masyarakat. Film ini mendorong penonton untuk menumbuhkan rasa empati terhadap kelompok yang mengalami ketidakadilan serta membangun kesadaran bahwa berbagai permasalahan sosial di Indonesia merupakan tanggung jawab bersama untuk dipahami dan diperhatikan. Dengan demikian, Teman Tegar Maira tidak hanya menjadi sebuah tontonan hiburan, tetapi juga hadir sebagai media pembelajaran yang mengajak generasi muda untuk lebih peduli terhadap isu kemanusiaan, lingkungan, dan keadilan sosial.
Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila, komunitas SMA Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan Satya Pancasila pada 3 Juni 2026. Kegiatan Satya Pancasila dirancang oleh Badan Pengurus OSIS 2026 dan diikuti oleh siswa-siswi SMA Santa Ursula BSD kelas X dan XI dengan tujuan untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila melalui berbagai aktivitas yang edukatif, kreatif, dan kolaboratif. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah bagi siswa-siswi untuk mengembangkan wawasan dalam bidang akademik serta keterampilan dalam bidang seni dan raga.
Mendorong semangat persatuan dan gotong royong, kegiatan Satya Pancasila menghadirkan berbagai permainan dan perlombaan yang dirancang untuk memperdalam pengetahuan siswa tentang nilai-nilai Pancasila. Dalam permainan-permainan tersebut, siswa-siswi SMA Santa Ursula BSD kelas X dan XI dibagi menjadi 12 kelompok secara merata. Dengan begitu, selain menambah wawasan dan mengembangkan keterampilan, kegiatan ini menjadi sarana untuk membangun kebersamaan antarkelas dan antarangkatan, sehingga dapat mempererat hubungan siswa-siswi SMA Santa Ursula BSD.
Rangkaian kegiatan diawali dengan lomba cerdas cermat yang menguji wawasan siswa-siswi dalam bidang pengetahuan umum, budaya Indonesia, sejarah bangsa, wawasan kebangsaan, serta Pancasila. Melalui suasana kompetitif yang sehat, siswa diajak untuk memperluas wawasan dengan cara yang menyenangkan dan interaktif. Setelah lomba cerdas cermat tersebut, rangkaian permainan berikutnya dibagi dalam 3 bidang, yakni bidang akademik, seni, dan raga.
Bidang akademik menghadirkan tiga permainan yang mendorong kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kerja sama kelompok. Permainan pertama adalah Titian Nusantara yang menantang setiap kelompok untuk membangun jembatan menggunakan stik es krim yang kemudian diuji untuk mengetahui konstruksi mana yang mampu menahan beban paling besar. Kegiatan ini melatih kemampuan perencanaan, pemecahan masalah, serta kolaborasi dalam mencapai tujuan bersama.
Selain itu, siswa juga mengikuti permainan Gema Aspirasi, sebuah debat bertema “Relevansi Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari Generasi Muda” yang melatih kemampuan berpikir kritis, kepercayaan diri, serta menyampaikan pendapat. Sementara itu, permainan terakhir yakni Kepingan Perjuangan yang mengajak siswa memahami kembali proses perumusan Pancasila melalui teka-teki gambar dan penyusunan linimasa sejarah. Melalui berbagai aktivitas tersebut, siswa tidak hanya memperluas wawasan kebangsaan, tetapi juga mengembangkan keterampilan komunikasi dan kerja sama.
Pada bidang seni, siswa menunjukkan bakat dan kreativitas mereka melalui permainan Resonansi Baswara, yakni lomba menyanyi dengan membawakan lagu nasional serta lagu daerah Indonesia. Penampilan yang beragam mencerminkan kekayaan budaya Nusantara sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan budaya bangsa. Melalui musik, siswa diajak untuk menghayati semangat persatuan dalam keberagaman yang menjadi salah satu nilai penting Pancasila.
Terakhir, bidang raga menghadirkan berbagai permainan fisik yang menekankan kekompakan dan kerja sama kelompok. Salah satunya adalah voli sarung, permainan yang memadukan olahraga voli dengan penggunaan sarung sebagai alat utama sehingga setiap anggota kelompok harus berkoordinasi untuk menangkap, mengarahkan, dan memantulkan bola melewati net. Permainan ini menuntut komunikasi dan kerja sama yang baik agar kelompok dapat bermain secara efektif.
Selain itu, siswa juga mengikuti Bakiak Kelereng, modifikasi permainan tradisional bakiak yang menambah tantangan dengan membawa kelereng di atas sendok menggunakan mulut oleh siswa yang berada di posisi paling depan serta paling belakang. Aktivitas ini melatih konsentrasi, keseimbangan, dan kekompakan sebab keberhasilan hanya dapat dicapai ketika seluruh anggota kelompok bergerak secara selaras.
Selain perlombaan, dihadirkan pula Senandika Pancasila, sebuah banner interaktif yang memuat pandangan dan refleksi siswa berkaitan dengan Pancasila. Siswa mengisi banner yang disediakan selama bidang seni berlangsung, sebagai sarana ekspresi gagasan serta ruang belajar untuk mengetahui berbagai sudut pandang dari siswa-siswi lainnya.
Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, diumumkan pemenang dari setiap kategori perlombaan sebagai bentuk apresiasi atas usaha, kreativitas, dan semangat yang telah ditunjukkan selama kegiatan berlangsung. Meskipun terdapat kompetisi, nilai utama yang ingin dibangun melalui Satya Pancasila bukanlah kemenangan, melainkan proses belajar, kebersamaan antar siswa, serta menghayati nilai-nilai Pancasila melalui pengalaman yang diperoleh sepanjang kegiatan.
Melalui Satya Pancasila, siswa SMA Santa Ursula BSD tidak hanya mempelajari nilai-nilai Pancasila secara teoritis, tetapi juga menghayatinya melalui pengalaman langsung. Semangat gotong royong, persatuan, demokrasi, serta penghargaan terhadap keberagaman yang tercermin dalam kegiatan diharapkan dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, peringatan Hari Lahir Pancasila tidak hanya menjadi sebuah perayaan, tetapi juga momentum untuk menumbuhkan karakter generasi muda yang berintegritas, peduli, dan berjiwa kebangsaan.
Dokumentasi: Tim Dokumentasi
SD Santa Ursula BSD mempunyai kegiatan kungfu shaolin. Melalui kegiatan ini kami belajar membangun fisik dan mental. Terdapat pula kegiatan menulis rapi. Menulis rapi merupakan kegiatan yang dikembangkan di sekolah Santa Ursula BSD. Menulis bukan hanya kegiatan menggoreskan pena di atas kertas tetapi kami juga melatih konsentrasi, kesabaran, dan koordinasi gerak tangan. SD Santa Ursula BSD juga memiliki Taman IPA. Taman IPA merupakan tempat bagi kami untuk mengenal alam dan ilmu pengetahuan yang patut kami ketahui sebagai siswa SD.
Lihat Lebih Banyak