



"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"
"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"
Siswa Aktif
Alumni
Tahun Pengalaman
Tenaga Pendidik
Tenaga Kependidikan
"Apa yang Anda ingin mereka lakukan, lakukanlah sendiri itu lebih dahulu. Bagaimana Anda bisa mencela atau menegur kekurangan mereka apabila mereka melihat kekurangan itu masih ada dalam diri Anda sendiri"
(Nas. VI: 2-3)
"Hiduplah dalam keserasian, bersatu, sehati sekehendak, terikat satu sama lain dengan cinta kasih, saling menghargai, saling membantu, saling bersabar dalam Yesus Kristus"
(Nas.T. 2)
"Jika karena perubahan zaman dan keadaan perlu untuk membuat peraturan baru atau untuk merubah sesuatu, lakukan hal itu dengan kebijaksanaan setelah mendengar nasehat yang baik"
(WT: 2)
"Cintailah semua putri Anda tanpa pilih kasih karena mereka semuanya Anak Allah dan Anda tidak tahu apa yang Dia rencanakan bagi mereka semua"
(Nas. VIII: 1-2)
"Andaikan pada suatu saat karena alasan yang kuat Anda tidak setuju dengan mereka atau menentang pendapat mereka, maka berterus teranglah, dengan berani dan penuh hormat. Apabila mereka tidak mendengarkan Anda, terimalah hal itu dengan sabar"
(Nas. III: 6-7)
Saya adalah Bastian Alvaro, seorang middle-distance runner atau pelari jarak menengah. Saya lebih terbiasa berlari di nomor jarak menengah daripada sprint. Oleh karena itu, ketika sekolah mengadakan tes lari untuk nomor sprint, saya sama sekali tidak menyangka bahwa tes sederhana tersebut akan membawa saya menuju sebuah kompetisi yang jauh lebih besar daripada yang pernah saya bayangkan.
Melalui tes tersebut, saya berhasil menjadi pelari terbaik nomor satu di sekolah. Hal yang membuat pencapaian ini terasa semakin istimewa adalah saya menjadi satu-satunya siswa kelas X SMA yang terpilih. Setelah itu, saya mulai menjalani latihan khusus sprint sebagai persiapan menghadapi perlombaan. Tentu saja, latihan setiap hari menghadirkan tantangan tersendiri. Saya harus menjalani latihan angkat beban dan berlari setiap hari untuk melatih serta memperkuat otot-otot saya. Proses ini mengajarkan saya arti totalitas, yaitu kesungguhan dalam menjalani setiap proses dan memberikan usaha terbaik untuk mencapai tujuan.
Awalnya, saya mengira kompetisi ini hanyalah perlombaan antarsekolah yang bertujuan untuk bersenang-senang sekaligus mendapatkan pengalaman. Namun, kenyataannya ternyata jauh berbeda dari perkiraan saya.
Ketika hari perlombaan tiba, saya baru menyadari bahwa kompetisi ini juga diikuti oleh PASI Tangsel. Artinya, peserta yang hadir bukan hanya pelajar dari sekolah lain, melainkan juga banyak atlet dari klub-klub atletik dan perwakilan daerah. Saya bahkan bertemu dengan beberapa teman klub yang memang berfokus pada nomor sprint, serta atlet-atlet lain yang sudah terbiasa berkompetisi di tingkat tersebut.
Jujur, saya cukup terkejut karena tingkat persaingannya jauh lebih tinggi daripada yang saya bayangkan. Saya sempat mengatakan kepada salah satu teman klub bahwa sepertinya saya tidak akan bisa lolos ke final. Hal ini mengingat banyaknya atlet klub yang memang merupakan spesialis sprint, sementara saya sendiri bertanding di kategori U-18. Namun, teman saya menjawab dengan sederhana, “Nothing is impossible.” Saat itu, saya tidak benar-benar tahu apakah kata-kata tersebut akan menjadi kenyataan bagi saya. Saya masih merasa bahwa peluang untuk masuk final sangat kecil, tetapi kalimat itu terus teringat ketika saya menghadapi perlombaan.
Ketika babak penyisihan dimulai, saya berusaha memberikan kemampuan terbaik. Di luar dugaan, saya berhasil finis di posisi pertama pada heat saya. Hasil tersebut tentu membuat saya senang dan meningkatkan kepercayaan diri. Namun, ketika melihat leaderboard keseluruhan, saya justru berada di posisi kelima. Padahal, hanya empat pelari teratas yang seharusnya lolos ke final. Artinya, saya berada tepat di luar batas kualifikasi.
Saya merasa kecewa karena merasa belum bisa menunjukkan kemampuan terbaik. Rasanya, kesempatan untuk melangkah lebih jauh sudah tertutup. Saya mencoba menerima hasil tersebut dan berpikir bahwa setidaknya saya telah mendapatkan pengalaman berharga dengan bersaing melawan atlet-atlet yang levelnya jauh di atas saya. Dalam situasi tersebut, saya belajar tentang integritas, yaitu menerima kenyataan dengan jujur, bersikap lapang dada terhadap hasil yang diperoleh, dan menghargai proses yang telah dijalani, terlepas dari apakah hasilnya sesuai dengan harapan atau tidak.
Namun, ternyata cerita saya belum berakhir.
Beberapa pelari yang berada di posisi empat besar didiskualifikasi. Akibatnya, posisi saya naik dan saya mendapatkan kesempatan untuk masuk ke final. Saya benar-benar tidak menyangka hal itu akan terjadi. Dari yang awalnya merasa gagal lolos, tiba-tiba saya kembali memiliki kesempatan untuk bersaing memperebutkan podium dalam kompetisi resmi PASI Tangsel.
Perasaan saya saat itu bercampur aduk antara terkejut, senang, dan tidak percaya. Kesempatan yang sebelumnya terasa mustahil ternyata benar-benar terbuka. Kata-kata teman klub saya, “Nothing is impossible,” pun terasa semakin berarti ketika saya menyadari bahwa saya masih memiliki kesempatan untuk melangkah lebih jauh.
Namun, ketika saya mulai merasa lebih tenang dan berpikir bahwa kesempatan ini bisa menjadi sesuatu yang besar, kembali terjadi perubahan. Pelari yang berada di posisi keempat juga didiskualifikasi. Hal tersebut semakin memperkuat posisi saya untuk mendapatkan kesempatan tampil di podium.
Saya merasa sangat senang. Setelah berlatih untuk nomor yang sebenarnya bukan spesialisasi utama saya, menghadapi persaingan yang jauh lebih ketat daripada perkiraan, dan sempat merasa gagal, akhirnya saya memiliki kesempatan untuk meraih podium. Saya datang ke perlombaan ini tanpa ekspektasi untuk masuk final, tetapi sekarang saya justru berada dalam posisi yang memungkinkan saya meraih hasil tersebut.
Hal lain yang membuat pengalaman ini semakin istimewa adalah kategori yang saya ikuti. Saya bertanding di kategori U-18, padahal sebagai siswa kelas X SMA, saya biasanya berada di kategori U-16. Artinya, saya menghadapi persaingan dalam kelompok usia yang lebih tinggi. Lawan-lawan saya pun banyak yang memiliki postur lebih besar dan pengalaman lebih banyak. Melihat para atlet yang bersaing bersama saya membuat saya semakin menyadari bahwa saya sedang berada di antara pelari-pelari yang serius dan kompetitif.
Bagi saya, pencapaian ini bukan sekadar tentang hasil akhir atau kesempatan untuk mendapatkan podium. Pengalaman ini juga mengajarkan saya tentang keberanian dan ketangguhan, yaitu keberanian untuk mencoba sesuatu di luar spesialisasi, kemampuan beradaptasi dengan situasi yang tidak terduga, serta ketangguhan untuk tetap berusaha meskipun sejak awal saya tidak yakin bisa mencapai final. Saya belajar bahwa menghadapi tantangan bukan berarti kita harus selalu yakin akan menang, melainkan berani mengambil kesempatan dan tetap berjuang meskipun hasil akhirnya belum pasti.
Saya memulai semuanya sebagai seorang middle-distance runner yang hanya mengikuti tes sprint di sekolah. Saya berlatih untuk sebuah perlombaan yang saya kira hanya akan menjadi kompetisi antarsekolah biasa. Saya datang tanpa ekspektasi untuk masuk final, apalagi bersaing memperebutkan podium dalam kompetisi resmi PASI Tangsel. Namun, perjalanan tersebut membawa saya menghadapi atlet-atlet klub, bersaing di kategori usia yang lebih tinggi, dan mendapatkan kesempatan yang sebelumnya bahkan tidak berani saya bayangkan.
Pada akhirnya, pengalaman ini mengajarkan saya bahwa terkadang kita terlalu cepat membatasi kemampuan diri sendiri sebelum benar-benar mencoba. Saya sempat yakin bahwa saya tidak akan lolos ke final, tetapi kenyataannya perjalanan saya belum selesai. Ada banyak hal yang berada di luar kendali saya, tetapi saya tetap harus berusaha dan siap ketika kesempatan itu datang.
Saya mungkin tidak memulai perlombaan ini dengan target menjadi juara. Namun, saya mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekadar pengalaman berlomba, yaitu kepercayaan diri, pelajaran tentang ketekunan, dan bukti bahwa saya mampu bersaing di tingkat yang lebih tinggi daripada yang pernah saya bayangkan. Saya juga semakin memahami bahwa totalitas dalam berusaha, integritas dalam menerima hasil, serta keberanian dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan merupakan nilai-nilai yang dapat saya bawa, bukan hanya dalam dunia olahraga, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Terkadang, sesuatu yang awalnya terasa mustahil bukan berarti benar-benar tidak mungkin. Seperti yang dikatakan teman klub saya, “Nothing is impossible.”
Sekolah harus menjadi salah satu pintu untuk menuju masa depan bagi murid. Sekolah harus berupaya membuka jalan murid untuk menuju impian mereka. [1]
SMA Santa Ursula BSD telah menjalin kerja sama dengan Goethe-Institut sejak tahun 2010 melalui program Sekolah: Mitra untuk Masa Depan (PASCH). Goethe-Institut merupakan lembaga kebudayaan Republik Federal Jerman yang mendukung pertukaran budaya, pendidikan, dan dialog sosial dalam konteks internasional, serta mempromosikan pengajaran dan pembelajaran bahasa Jerman. Melalui program PASCH (Schulen: Partner der Zukunft), Goethe-Institut membangun jejaring sekolah mitra di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang melibatkan 29 sekolah mitra se-Indonesia. SMA Santa Ursula BSD sendiri telah memfasilitasi pembelajaran tambahan bahasa jerman melalui ekstrakurikuler bahasa jerman, bahasa jerman lanjutan dan kelas Jerman Intensif yang dibimbing oleh pengajar dari Goethe Institut.
Salah satu kegiatan tahunan Goethe-Institut adalah Science Film Festival (SFF) atau Festival Film Sains. Festival ini diselenggarakan di berbagai lokasi, termasuk Asia Tenggara, Asia Selatan, Afrika, Amerika Selatan, dan Timur Tengah. Melalui pemutaran film internasional dan kegiatan eksperimen, SFF mengajak masyarakat untuk mengenal isu-isu sains, teknologi, dan lingkungan dengan cara yang menarik dan mudah dipahami. Pada tahun 2026, SFF mengangkat tema “Kecerdasan Buatan”, yang mengajak peserta mengeksplorasi peran AI dalam sains, pendidikan, dan keberlanjutan, serta memahami pentingnya pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab.
Sebagai sekolah mitra Goethe-Institut, SMA Santa Ursula BSD turut menyelenggarakan kegiatan SFF pada 13–14 Oktober 2026 dengan melibatkan murid kelas VI SD dan kelas VII SMP. Melalui kegiatan ini, murid mendapatkan kesempatan untuk mengenal sains dan teknologi melalui film dan eksperimen yang menarik serta menambah wawasan tentang pemanfaatan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari perwakilan Goethe-Institut, kemudian dilanjutkan dengan Schnupperkurs, yaitu kursus singkat bahasa Jerman. Selanjutnya, tim SFF mengajak murid menonton film bertema kecerdasan buatan dan mengikuti berbagai eksperimen sains yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar secara langsung. Film dan eksperimen yang disajikan disesuaikan dengan tingkat pemahaman murid di setiap jenjang. Berbagai eksperimen tersebut meliputi Paper Escape, Solar Bottle Light, percobaan tentang erosi dan banjir, pembuatan dan pengujian indikator pH alami dari bunga telang, serta pengamatan pengaruh peningkatan CO? terhadap keasaman air. Setelah setiap eksperimen selesai, tim SFF menjelaskan konsep ilmiah yang mendasarinya agar murid dapat memahami proses dan hasil percobaan. Para murid mengikuti kegiatan dengan antusias dan tampak takjub melihat hasil eksperimen yang mereka lakukan. Melalui kegiatan ini, murid tidak hanya memperoleh pengetahuan dasar tentang sains, tetapi juga belajar melalui pengalaman langsung dengan mengamati, mencoba, dan memahami berbagai fenomena di sekitar mereka.
Pada tahun-tahun mendatang, SMA Santa Ursula BSD berharap dapat terus menyelenggarakan kegiatan Science Film Festival (SFF) bersama Goethe-Institut. Kegiatan ini menjadi sarana bagi murid untuk mengenal sains dan teknologi melalui film dan eksperimen, sekaligus memperkenalkan bahasa Jerman.
“Pendidikan adalah paspor ke masa depan. Hari esok dimiliki oleh orang-orang yang mempersiapkan dirinya sejak hari ini” - Malcolm X
Menyaksikan pertumbuhan karakter para murid tidak cukup hanya dilakukan di dalam ruang kelas. Selama tujuh hari di kawasan Waduk Jatiluhur, saya berdiri sebagai saksi bagaimana sebuah petualangan terstruktur mampu mengubah rasa takut menjadi keberanian, dan ego individu menjadi sebuah kerja sama tim yang solid.
Tantangan sengaja dibuat semakin berat setiap harinya, dan diakhiri dengan ujian mental tertinggi, Solo Night.
Hari pertama dimulai dengan fase adaptasi, saling mengenal anggota, dan membangun kepercayaan diri dalam kelompok. Para murid belajar melepaskan ketergantungan gawai dan mulai menyatu dengan alam. Fokus hari pertama adalah membangun dinamika kelompok melalui permainan taktis.
Namun, kenyamanan itu segera berakhir hari berikutnya. Di hari kedua, mereka dihadapkan pada olahraga kano. Mendayung di riaknya air Jatiluhur menuntut sinkronisasi fisik dan konsentrasi. Banyak yang berputar-putar di tempat karena dayung yang tidak seirama, ada yang menyalahkan arah angin, dayung kurang masuk, hingga pusaran air gaib.Sementara itu saya yang memantau dari pinggir waduk sukses mendapatkan kulit kaki belang berbentuk tali sandal.
Tantangan fisik meningkat drastis pada hari ketiga dan keempat saat kami melakukan ekspedisi naik gunung menuju Bukit Lembu. Pak masih jauh? adalah kalimat yang diulang 7 x 77 kali, padahal basecamp saja belum sampai. Medan yang menanjak terjal dengan beban ransel di punggung menguras energi mereka. Di sinilah mental pantang menyerah mereka benar-benar diuji.
Sebagai guru, momen paling mengharukan adalah melihat para murid yang fisiknya lebih kuat secara sukarela memperlambat langkah demi menyemangati dan membantu membawakan barang temannya yang mulai kelelahan. Puncak gunung memberikan mereka pelajaran berharga: bahwa hasil yang indah hanya bisa dicapai lewat perjuangan yang berat.
Memasuki hari kelima, tantangan beralih dari ketahanan fisik ke pemecahan masalah secara kolektif. Tugas mereka adalah membuat kapal sederhana atau rakit dari bahan bambu dan drum bekas. Mereka harus menerapkan logika, mengukur keseimbangan, dan memastikan ikatan tali cukup kuat agar rakit tidak tenggelam. Hari itu pembuktian saat kapal buatan mereka sendiri harus dikendarai untuk menyeberangi sebagian area waduk. Ada beberapa kelompok yang drumnya lepas, talinya putus hingga hampir terbalik. Namun kerja keras mereka terbayar lunas saat seluruh rakit berhasil mengapung dan mencapai seberang dengan selamat.
Puncak dari seluruh rangkaian petualangan ini terjadi pada malam terakhir: Solo Night. Setelah ditempa secara fisik dan kelompok, kini saatnya mereka berhadapan dengan diri mereka sendiri. Di tengah kegelapan malam Jatiluhur, setiap murid ditempatkan di titik yang terpisah untuk merenung sendirian dalam keheningan tanpa lentera. Tugas mereka hanya satu, yakni mengalahkan imajinasi dan rasa takut mereka sendiri.
Melihat mereka kembali ke perkemahan induk keesokan harinya dengan binar mata yang berbeda, saya tahu misi kami berhasil. Mereka bukan lagi remaja yang hanya dapat menikmati kenyamanan. Namun, melalui berdayung dengan kano, naik ke puncak Gunung Lembu, merakit drum untuk menjadi moda transportasi menyebrang, dan keheningan malam Jatiluhur, mereka telah pulang sebagai pribadi yang mandiri, tangguh, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Seiring dengan perkembangan zaman gaya hidup sehat menjadi hal yang semakin diperhatikan. Olahraga adalah salah satu cara dalam menjaga kebugaran tubuh. Berbagai cabang permainan olahraga terus dikembangkan di Indonesia, salah satunya olahraga Padel. Olahraga ini cukup baru di Indonesia, namun memiliki perkembangan yang sangat cepat. Pada beberapa waktu yang lalu saya (Gio) dan Maher mendapatkan kesempatan untuk bertanding Padel di kegiatan Beevolution 2026.
Tepatnya pada hari minggu tanggal 20 September kami menantang diri kami untuk bermain dengan aman dan sportif. Dalam proses pertandingan, kami dihadapkan pada tantangan yang mengharuskan kami untuk semakin sabar menghadapi keadaan. Misalnya saat keputusan wasit yang tidak sesuai dan membuat emosi kami sempat tersulut. Namun, di sekolah selalu ditanamkan karakter keberanian dan ketangguhan, kami terus menerus berusaha untuk tetap tangguh menghadapi situasi yang tidak selalu nyaman. Selama beberapa waktu kami berproses bertanding menghadapi para peserta dari berbagai sekolah yang turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Ternyata jumlah kemenangan membawa kami ke babak semifinal. Lawan bermain kami sulit untuk ditaklukan dan situasi permainan memberikan tekanan tersendiri bagi masing-masing dari kami. Dalam olahraga ini kemampuan komunikasi kerja sama sangat penting, karena setiap orang memiliki bagiannya masing-masing dalam permainan. Pengalaman turnamen ini sangat berkesan. Kami belajar banyak hal baru bukan hanya kemampuan bermain kami yang meningkat, kami belajar nilai-nilai hidup yang lebih berharga.
Salah satu pertandingan yang paling berkesan bagi kami terjadi pada fase grup. Kami harus menghadapi pasangan lawan yang merupakan peringkat 36 nasional Kelompok Umur (KU) 16. Perbedaan peringkat tersebut membuat pertandingan terasa cukup menantang karena kami tahu bahwa lawan yang kami hadapi memiliki kemampuan yang baik. Namun, kami berusaha untuk tidak terlalu memikirkan peringkat dan lebih fokus pada permainan, komunikasi, serta strategi yang telah kami siapkan. Dengan tetap tenang dan saling mendukung, kami akhirnya berhasil memenangkan pertandingan tersebut.
Kemenangan di fase grup membuat kami semakin percaya diri untuk menghadapi pertandingan berikutnya. Kami terus berusaha menjaga konsistensi permainan hingga akhirnya berhasil melaju ke babak semifinal. Di babak ini, tekanan semakin terasa karena setiap kesalahan dapat menentukan hasil pertandingan. Kami belajar untuk tetap fokus, berkomunikasi dengan baik, dan tidak mudah menyerah ketika berada dalam situasi yang sulit. Kerja sama yang sudah kami bangun sejak awal pertandingan menjadi salah satu hal penting yang membantu kami melewati babak semifinal dan mencapai final.
Pertandingan final juga tidak mudah karena lawan yang kami hadapi cukup kuat dan kami sempat berada dalam kondisi yang membuat kami tertekan. Walaupun begitu, kami tetap berusaha tenang dan saling memberikan semangat satu sama lain. Kami terus berjuang sampai pertandingan selesai dan akhirnya berhasil memenangkan pertandingan tersebut. Dengan kemenangan itu, kami berhasil menjadi juara pertama turnamen Padel Beevolution 2026. Bagi kami, kemenangan ini terasa sangat berkesan karena untuk sampai ke titik tersebut kami harus melewati banyak pertandingan dan berbagai situasi yang tidak mudah.
Enam ratus sembilan puluh dua murid dari lima sekolah Ursulin Indonesia bersatu dalam sebuah perjalanan panjang untuk menghadirkan drama musikal “Cahaya dari Timur: Nyala Perjuangan Martha Christina Tiahahu”. Di balik pertunjukan yang berlangsung dalam hitungan jam, tersimpan cerita tentang latihan, keberanian, kedisiplinan, dan kebersamaan.
Drama musikal menjadi salah satu bagian dari Festival Pendidikan Ursulin Indonesia. Dalam pergelaran “Cahaya dari Timur: Nyala Perjuangan Martha Christina Tiahahu”, murid- murid dari lima sekolah Ursulin Indonesia—Santa Ursula BSD, Santa Ursula Jakarta, Santa Maria, Santa Theresia, dan Vincentius—bertemu dalam satu panggung.
Mereka datang dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam. Namun, perbedaan tersebut dipersatukan oleh satu tujuan: menghadirkan sebuah pertunjukan yang tidak hanya menyampaikan kisah perjuangan Martha Christina Tiahahu, tetapi juga menghadirkan semangat kebersamaan.
Ketika Ratusan Murid Belajar Menjadi Satu
Melibatkan ratusan murid tentu bukan perkara sederhana. Jadwal latihan, koordinasi, hafalan dialog dan lagu, gerakan, blocking, hingga kekompakan harus dipersiapkan dan diselaraskan. Namun, justru di tengah berbagai tantangan tersebut, semangat kolaborasi tumbuh.
Anak-anak yang sebelumnya mungkin belum saling mengenal mulai belajar bekerja bersama. Mereka belajar mendengarkan, mengikuti arahan, menghargai peran orang lain, dan bertanggung jawab terhadap bagian masing-masing. Perlahan, mereka tidak lagi hanya melihat diri sebagai murid dari sekolah masing-masing. Mereka menjadi bagian dari satu keluarga yang memiliki tujuan yang sama.
Bagi penonton, pertunjukan mungkin hanya berlangsung selama beberapa jam. Namun, di balik penampilan tersebut terdapat perjalanan panjang yang dipenuhi latihan, tantangan, kebersamaan, dan semangat untuk memberikan yang terbaik.
Membawakan kisah Martha Christina Tiahahu dan tokoh-tokoh lainnya tidak hanya membutuhkan kemampuan berakting. Pertunjukan juga membutuhkan musikalitas, kemampuan bergerak, kedisiplinan, serta kerja sama yang kuat. Dengan jumlah pemain yang begitu banyak, setiap bagian harus dipersiapkan dengan sungguh-sungguh.
Dari Audisi hingga Pementasan
Perjalanan menuju panggung besar dimulai dari audisi. Setiap murid mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dan potensinya. Melalui proses ini, karakter, kemampuan, dan kesesuaian peran masing-masing murid mulai dikenali. Setelah audisi, perjalanan berlanjut ke rangkaian latihan. Latihan dilakukan berulang kali untuk membangun kesatuan dalam sebuah pertunjukan yang melibatkan begitu banyak orang.
Latihan pun tidak berlangsung di satu tempat. Para murid dan pendamping beberapa kali berkumpul dan berlatih di Santa Ursula Jakarta, Santa Maria, hingga latihan terakhir di BSD. Setiap tempat menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju pementasan.Di ruang-ruang latihan itulah proses sesungguhnya berlangsung. Anak-anak menghafalkan dialog dan lagu, mempelajari gerakan serta blocking, sekaligus belajar untuk bersabar, bekerja sama, dan mendengarkan arahan para pendamping dan pelatih. Setiap latihan menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri dan menyatukan langkah.
Dari Ruang Latihan ke Istora Senayan
Setelah melalui rangkaian latihan yang panjang, tibalah hari yang dinanti. Ruang latihan berganti menjadi panggung besar di Istora Senayan, Jakarta. Ratusan murid yang selama ini berlatih bersama akhirnya tampil di hadapan penonton. Di balik panggung, kesibukan dan ketegangan terasa. Kostum, tata rias, properti, musik, serta berbagai persiapan terakhir harus dipastikan siap. Kemudian, saat lampu panggung menyala, setiap anak mengambil bagian masing-masing.
Di atas panggung, mereka membawa hasil dari latihan yang telah dilakukan bersama. Mereka menunjukkan keberanian untuk mencoba, ketekunan untuk berlatih, kesediaan untuk terus belajar, serta kemampuan bekerja sama dengan orang-orang yang sebelumnya mungkin belum mereka kenal.
Sebuah Pengalaman yang Lebih Panjang dari Pertunjukan
Festival Pendidikan Ursulin Indonesia menjadi ruang bagi lima sekolah untuk berjumpa, belajar, dan berkolaborasi. Para murid belajar bahwa sebuah karya besar tidak lahir dari usaha satu orang. Sebuah karya dapat terwujud ketika banyak orang bersedia mengambil bagian, menjalankan tanggung jawab, dan berjalan bersama menuju tujuan yang sama.
Pertunjukan di Istora Senayan mungkin telah berakhir. Namun, pengalaman yang diperoleh selama prosesnya akan menjadi bagian yang jauh lebih panjang untuk dikenang. Bukan hanya tentang bagaimana sebuah drama musikal dipentaskan, tetapi tentang bagaimana anak-anak belajar berani mencoba, tekun berlatih, bekerja sama, dan tumbuh bersama dalam sebuah perjalanan yang mempertemukan mereka dari lima sekolah Ursulin Indonesia.
“Kesuksesan adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan akhir. Proses melakukan sesuatu itu lebih penting daripada hasilnya - Arthur Ashe”
Pemikiran inspiratif ini mengajarkan saya dan rekan-rekan setim bahwa tolok ukur kemajuan seseorang tidak terletak semata-mata pada keberhasilan mendapat piala juara pertama, melainkan pada bagaimana sebuah proses dijalani dan bagaimana evaluasi dilakukan di setiap tantangan. Prinsip mendalam inilah yang saya dan tim rasakan serta hayati secara nyata saat berpartisipasi sebagai perwakilan SMA Santa Ursula BSD di lomba Esports Mobile Legends dalam ajang Saint John’s Youth National Cup 2026.
Kompetisi antarsekolah ini diselenggarakan selama empat hari, yakni terhitung mulai tanggal 1 hingga 4 September 2026, bertempat di Saint John’s Catholic School Kencana Loka. Sebagai ketua tim, saya memimpin skuad perwakilan SMA Santa Ursula BSD yang beranggotakan tujuh orang murid lintas angkatan. Mereka adalah Tristan Abednego/X-C/34, Agustinus Ehren Purwadi Karyanto/X-D/1, Dylan Rionaldo/XI-E/10, Fabiano Adi Nugraha/XI-B/12, Nathan Tjahjono/XI-D/16, Aaron Andersen Soesilo/XI-E/1, serta saya sendiri, Matthew Dwyane Dwiartono/XII-D/16. Terbentuknya tim dari tiga angkatan yang berbeda ini tentu menghadirkan dinamika serta tantangan tersendiri bagi kami, terlebih karena persiapan intensif yang dapat kami lakukan tergolong sangat singkat, yakni hanya berdurasi sekitar satu minggu sejak pengumuman perlombaan diterima pada akhir Agustus 2026.
Rangkaian pertandingan resmi dimulai pada hari Selasa, 1 September 2026, yang difokuskan untuk babak penyisihan grup (group stage). Berada di dalam grup yang sangat kompetitif bersama SMA Saint John’s School Green Lake, SMA Saint John’s School Kencana Loka, dan SMP Saint John’s School Gading Serpong, saya bersama tim harus melakoni pertandingan secara maraton dari pukul 08.30 hingga 14.00 WIB. Menggunakan format pertandingan Best of 3 (BO3) di mana terdapat tiga grup dengan masing-masing berisikan tiga hingga empat tim, skuad kami menunjukkan performa yang baik. Kami sukses menyapu bersih seluruh laga di fase grup melalui kemenangan meyakinkan 2-0 di setiap pertandingan tanpa pernah kecolongan poin.
Meskipun kami tampil gemilang di babak awal, ujian yang sesungguhnya harus saya dan tim hadapi pada babak semifinal yang digelar hari Kamis, 3 September 2026, saat berhadapan dengan tim dari SMA Erenos. Di luar perkiraan, kami harus mengakui keunggulan lawan dan menelan kekalahan dengan skor telak 0-3. Kekalahan ini menjadi pukulan telak sekaligus pengalaman pertama bagi kami untuk merasakan hasil yang kurang memuaskan dengan margin skor penuh di fase gugur. Meskipun demikian, kami langsung sadar bahwa hasil ini tidak menjadi jalan akhir, kami masih memiliki pertandingan perebutan juara 3 di keesokan harinya. Setelah kekalahan tersebut, kami langsung bangun dan mengalihkan fokus untuk menyiapkan diri menghadapi pertandingan tersebut. Seluruh anggota tim mengadakan sesi evaluasi pada hari yang sama guna menata kembali mental, memperbaiki komunikasi, serta mematangkan strategi demi menghadapi laga krusial perebutan tempat ketiga keesokan harinya.
Puncak perjuangan kami ditutup pada hari Jumat, 4 September 2026, dalam pertandingan penentuan Juara 3 melawan SMA Saint John’s School Green Lake, lawan yang sebelumnya sempat kami hadapi pada fase grup. Menyadari bahwa pihak lawan tentu telah mempelajari pola permainan kami, untuk mengatasi masalah tersebut, kami sadar bahwa kami perlu tampil jauh lebih disiplin dan waspada. Berbekal persiapan matang serta keyakinan yang tinggi, kami berhasil mengunci kemenangan gemilang dengan skor 3-0.
Rasa syukur dan kebanggaan mendalam dirasakan oleh saya dan seluruh anggota tim setelah seluruh rangkaian pertandingan usai. Kepercayaan yang diberikan oleh pihak sekolah untuk membawa nama SMA Santa Ursula BSD berhasil kami bayar dengan pencapaian yang membanggakan. Melalui waktu persiapan yang singkat dan kolaborasi tim lintas angkatan, pengalaman ini memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya pribadi tentang arti kerja sama, komunikasi, dan ketangguhan mental di bawah tekanan.
Pada akhirnya, pencapaian Juara 3 di Saint John’s Youth National Cup 2026 ini membuktikan bagi kami bahwa perkembangan tidak diukur semata dari gelar juara tertinggi. Kerja keras, proses evaluasi yang jujur, dan kebersamaan yang terjalin erat jauh lebih bermakna untuk membentuk generasi muda yang tangguh dan siap menghadapi tantangan di masa depan.
Rabu, 2 September 2026, murid kelas XI mendapatkan sosialisasi mengenai kegiatan Outward Bound Indonesia (OBI) yang akan mereka jalani di kawasan Waduk Jatiluhur. Sosialisasi disampaikan oleh salah satu perwakilan tim Outward Bound Indonesia yaitu Kak Zul Winarno, sebagai bagian dari persiapan sebelum murid mengikuti kegiatan dalam dua gelombang. Gelombang pertama akan berlangsung pada 18 - 26 September 2026, sedangkan gelombang kedua pada 26 September - 3 Oktober 2026. Sejak awal sosialisasi, murid menyimak dengan tenang dan menunjukkan antusiasme, terutama ketika memasuki sesi tanya jawab dan saat melihat foto-foto kegiatan OBI pada slide presentasi. Bagi murid, foto-foto tersebut memberikan gambaran awal tentang pengalaman yang akan mereka hadapi. Namun, sosialisasi ini tidak sekadar membicarakan kegiatan di alam. Kak Zul mengajak murid memahami bahwa pengalaman OBI membutuhkan kesiapan sikap, bukan hanya kesiapan fisik dan perlengkapan. Hal ini tampaknya sudah mulai disadari oleh beberapa murid. Sehari setelah sosialisasi ini, salah satu murid laki - laki ditanya mengenai persiapannya, ia bercerita bahwa dirinya sudah mulai melakukan latihan fisik seperti lari, push up, pull up, sit up, dan berbagai latihan lainnya sejak dua minggu lalu. Seorang murid perempuan juga menceritakan bahwa ia lebih rutin melakukan olahraga voli dua minggu sekali. Persiapan tersebut menjadi gambaran sederhana bahwa OBI mulai dipandang sebagai sebuah pengalaman yang perlu disiapkan dengan sungguh - sungguh, bukan sekadar kegiatan yang akan dijalani begitu saja.
Salah satu pesan yang menarik perhatian adalah bahwa dalam kegiatan OBI tidak ada hukuman, tetapi ada konsekuensi dari setiap pilihan yang dibuat. Murid juga diingatkan untuk bertanggung jawab terhadap barang pribadi maupun perlengkapan kelompok. Para instruktur bukanlah tantangan yang harus dihadapi. Justru, tantangan sebenarnya adalah bagaimana setiap murid mampu menjalani proses bersama kelompok, belajar berkomunikasi, saling membantu, dan tetap bertanggung jawab ketika menghadapi situasi yang mungkin tidak selalu nyaman. Setiap kelompok nantinya akan didampingi oleh satu orang pendamping dari tim OBI. Ternyata jika diresapi, pesan tersebut sangat dekat dengan enam nilai Serviam. Nilai cinta dan belas kasih, ketika murid belajar memperhatikan dan membantu teman yang mengalami kesulitan. Nilai tanggung jawab juga tercermin ketika mereka menjaga barang pribadi dan perlengkapan kelompok. Nilai integritas, ketika mereka berani menerima konsekuensi dari pilihan sendiri. Nilai keberanian dan ketangguhan, ketika mereka belajar menghadapi tantangan tanpa mudah menyerah. Nilai persatuan, ketika keberhasilan kegiatan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga kemampuan bekerja sebagai kelompok serta nilai totalitas, ketika murid diharapkan memberikan usaha terbaik dan sungguh-sungguh menjalani setiap proses.
Pada akhirnya, sosialisasi ini menjadi pengingat bahwa OBI bukan sekadar kegiatan keluar dari lingkungan sekolah atau pengalaman beraktivitas di alam. Pengalaman OBi di area Waduk Jatiluhur menjadi ruang belajar yang lebih luas, tempat murid dapat mengenal dirinya sendiri sekaligus belajar memahami orang lain. Apa yang disampaikan ini menjadi bekal awal sebelum mereka benar-benar menjalani pengalaman tersebut. Mungkin nantinya ada rasa lelah, tidak nyaman, perbedaan pendapat, atau situasi yang tidak sesuai harapan. Namun justru di situlah nilai Serviam diharapkan tumbuh dalam pengalaman nyata. Murid tidak hanya pulang membawa cerita tentang kegiatan di alam, tetapi juga membawa pemahaman bahwa menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, berani, peduli, mampu bekerja sama, dan memberikan yang terbaik adalah bagian dari proses menjadi pribadi yang utuh.
SD Santa Ursula BSD mempunyai kegiatan kungfu shaolin. Melalui kegiatan ini kami belajar membangun fisik dan mental. Terdapat pula kegiatan menulis rapi. Menulis rapi merupakan kegiatan yang dikembangkan di sekolah Santa Ursula BSD. Menulis bukan hanya kegiatan menggoreskan pena di atas kertas tetapi kami juga melatih konsentrasi, kesabaran, dan koordinasi gerak tangan. SD Santa Ursula BSD juga memiliki Taman IPA. Taman IPA merupakan tempat bagi kami untuk mengenal alam dan ilmu pengetahuan yang patut kami ketahui sebagai siswa SD.
Lihat Lebih Banyak