Santa Ursula BSD -

Manusia Utuh Cerdas Melayani

Santa Ursula BSD -
Manusia Utuh Cerdas Melayani

Sekilas Tentang Kampus Santa Ursula BSD

"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"

Sekilas Tentang Kampus Santa Ursula BSD

"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"

Fakta tentang Santa Ursula BSD

0+

Siswa Aktif

0+

Alumni

0+

Tahun Pengalaman

0+

Tenaga Pendidik

0+

Tenaga Kependidikan

Unit Sekolah Santa Ursula BSD

Prestasi

Berita Terbaru

News Image
From Classroom to Stage: Turning Learning into Performance

What started as a simple classroom assignment gradually turned into a full musical production.  As part of our 11th grade English literature project, group 2 of class XI A presented a drama adapted from the movie The Little Mermaid, combining acting, singing, and choreography into one performance.  This activity is aimed to help us understand better about storytelling while also building creativity, imagination, and confidence.

Our performance was not just an ordinary drama, it was a musical adaptation from one of the famous Disney movies.  Beyond acting, we incorporated singing and choreography to bring the story to life in a more dynamic and engaging way. Transforming a well-known story into a live drama that pushed us to think creatively and step out of our comfort zones, especially for those who were not used to performing on stage.

The performance took place in a classroom and it was attended by our fellow students. Each class was divided into two groups and we had the chance to watch each other’s performances.  This created a supportive yet exciting atmosphere, as we were not only performers but also an appreciative audience for our friends. The final performance for our group was held on 24 April 2026.

Each group consisted of around 13–14 members, making up about half of the class.  Every member played an important role, from acting and singing, handling costume and make up, designing a poster, producing a trailer, creating music illustrations, to preparing props and organizing scenes.  In my group, I took on the role of being a director in which I helped guide and direct the team throughout the preparation and on the performance, bring ideas together, and ensure that the performance ran smoothly.

The journey toward the final performance was far from easy.  We spent a significant amount of time on scriptwriting, carefully adapting the original story into a version suitable for a small drama.  At the same time, we worked on creating props, organizing costumes, and planning stage movements or blocking.  Some of the props were handmade using simple materials which made the process more creative and resourceful.  Some others were big and heavy duty props which took us a long time to finish.  Since our drama included musical elements, we also had to practice singing and choreography which required extra coordination and effort. 

Rehearsals became a crucial part of our preparation. We practiced repeatedly to refine our acting, synchronize our singing, and perfect our choreography.  In addition, we had to practice on how the lighting turned out, where to put the props, paying attention to important aspects of each scene, and the little details to make the drama alive.  There were moments of difficulty in managing time, aligning everyone’s schedules, and maintaining consistency.  However, these challenges ultimately strengthened our teamwork and commitment.

After weeks of preparation, the day of the performance finally arrived.  Our musical drama ran for approximately 41 minutes.  Seeing everything come together on stage was incredibly rewarding.  The combination of handmade props, coordinated movements, and musical elements brought the story to life in a way that exceeded our expectations. 

“This musical was challenging but it helped us become more confident and work better as a team,” said one of the students who participated in the performance.

Looking back, directing this musical drama was far more than just completing a school assignment.  It was an unforgettable journey which brought our creativity and teamwork to life. Through this experience, we not only deepened our understanding of English literature but also developed valuable skills such as leadership, collaboration, discipline, and perseverance. 

Experiences like this show that learning can go beyond the classroom, becoming both meaningful and inspiring.  It also showed us that with enough effort and cooperation, we are capable of creating something we can truly be proud of.

Selengkapnya
News Image
PENDIDIK ADAPTIF YANG KUAT DALAM NILAI DAN LENTUR DALAM CARA Buah permenungan pendidik untuk terus bertumbuh dengan semangat Serviam

Pagi itu, kaki ini melangkah dengan penuh semangat menuju kelas. Doa pagi dan nyanyian Indonesia Raya memberikan energi positif dan optimisme diri untuk terus bertumbuh. Berdiri di depan kelas dan mendengarkan salam dari murid, sejenak memberikan kesadaran bahwa segala sesuatu dalam ruang kelas ini terus berubah. Murid yang duduk di depan saya bukan lagi generasi yang sama dengan murid yang saya didik lima atau sepuluh tahun yang lalu. Mereka hadir ke sekolah dengan cara berpikir yang berbeda, dengan pertanyaan-pertanyaan kritis yang melampaui batas buku teks, dan dengan kebutuhan yang jauh lebih kompleks dari sekadar nilai akademis.

Teringat kembali akan ajaran Ki Hajar Dewantara sebagai bapak Pendidikan Nasional, meskipun pemikiran tersebut lahir lebih dari satu abad yang lalu, tetapi ajarannya tetap hidup dan terasa sangat relevan di tengah cepatnya perubahan zaman. Beliau mengajarkan bagaimana menjadi pendidik yang mampu hadir sepenuhnya dan terus bertumbuh bersama murid. SMA Santa Ursula BSD memegang teguh visi manusia utuh, cerdas, dan melayani. Visi tersebut memanggil setiap pendidik lebih dari sekedar menyampaikan materi. Nilai Serviam menjadi roh yang menghidupi setiap langkah dalam mendidik murid. Melayani murid dengan sungguh-sungguh berarti bersedia untuk terus belajar, terus bertumbuh, dan menjadi pendidik yang adaptif. Nilai Serviam merupakan perwujudan nyata dari inti filosofi Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang berhamba pada murid, bahwa seorang pendidik harus memandang murid dengan rasa hormat dan memfasilitasi tumbuh kembang mereka menjadi manusia utuh, yang cerdas secara akal dan kaya secara jiwa. 

Tiga semboyan Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani menjadi peta perjalanan pendidik yang adaptif. Ing ngarso sung tulodo bermakna pendidik berada di depan mampu memberikan keteladanan. Langkah awal seorang pendidik yang adaptif harus berani menjadi contoh dalam hal keterbukaan terhadap perubahan. Ketika saya bersedia belajar platform digital baru, ketika saya berani mengakui kemampuan teknologi murid yang lebih baik dari saya, dan ketika saya berani menerapkan metode pembelajaran yang belum pernah digunakan, disitulah saya sedang memberikan keteladanan. Ing madyo mangun karso bermakna pendidik berada di tengah mampu membangun kehendak. Peran pendidik sebagai fasilitator semakin nyata, pendidik yang adaptif tidak berdiri di depan murid sebagai pemegang tunggal kebenaran, ia duduk bersama murid, mengajukan pertanyaan yang memantik, menciptakan ruang aman dimana murid berani mengeksplorasi ide-ide mereka. Tut wuri handayani bermakna pendidik dari belakang mampu memberikan dorongan. Pendidik yang adaptif tahu kapan harus melangkah maju, kapan berdiri sejajar, dan kapan mundur untuk memberi ruang. Ketiga semboyan tersebut mampu menjadi fondasi yang kuat dalam mengembangkan pribadi murid yang cerdas, utuh, dan memiliki semangat Serviam. 

Sistem among Ki Hajar Dewantara menjadi fondasi peran pendidik sebagai agen perubahan. Dalam sistem ini, murid dipandang sebagai subyek yang memiliki kodrat dan potensi unik yang perlu dirawat dan dikembangkan. Menjadi agen perubahan bukan berarti memaksakan perubahan atas murid, tetapi mampu menciptakan kondisi dimana murid sendiri mampu menemukan alasan dan dorongan untuk bertumbuh. 

Seorang pendidik juga perlu dirawat, bahwa pendidik tidak bisa terus memberi jika dirinya sendiri kosong. Refleksi menjadi salah satu cara penting untuk merawat diri pendidik. Dalam setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap semester, pendidik perlu berhenti sejenak dan bertanya, apakah saya masih tumbuh? Apakah cara mengajar saya masih relevan dengan kebutuhan murid? Pada bagian mana saya perlu belajar lebih atau perlu melepaskan cara lama yang tidak lagi efektif? Refleksi bukanlah kelemahan, tetapi menjadi sumber kekuatan pendidik.

Kini kelas yang berubah bukan lagi ancaman, ini adalah undangan untuk terus belajar bersama murid, untuk terus tumbuh, dan untuk terus menjadi lebih baik dari versi pendidik yang lalu. Filosofi Ki Hajar Dewantara dan nilai serviam berpadu dalam perjalanan diri pendidik. Keduanya mampu membangun satu kesadaran bahwa mendidik adalah panggilan untuk hadir sepenuhnya sambil terus merawat dan mengembangkan diri. Pendidik yang adaptif bukan pendidik yang terbawa arus tanpa arah, ia adalah pendidik yang berakar kuat dalam nilai-nilai luhur, tetapi cukup lentur untuk menemukan cara-cara baru dalam mewujudkan nilai-nilai tersebut. Pendidik adalah agen perubahan, bukan karena mampu merubah murid, tetapi karena ia mampu menemami murid menemukan potensi terbaik dalam diri mereka. Serviam, aku melayani menjadi kompas setiap kali masuk ke dalam kelas untuk mewujudkan pendidikan yang memerdekakan selaras dengan cita-cita yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara.

 

Dokumentasi: Brian dan Aldric XI-C

Selengkapnya
News Image
Semangat Kartini: Enam Nilai dalam Aksi

    Dalam rangka memperingati Hari Kartini, SD Santa Ursula BSD mengadakan perayaan sederhana tetapi sarat makna. Kali ini tema yang diusung adalah “Dengan Semangat Kartini Kita Berani, Mandiri, dan Berdaya Juang.

    Acara diawali dengan pelaksanaan upacara yang berlangsung dengan khidmat. Dalam amanatnya, Ibu Sriningsih Indriyani Siahaan selaku pembina upacara mengajak siswa untuk menghidupi nilai-nilai dasar Ursulin yaitu Cinta dan Belas Kasih, Integritas, Keberanian & Ketangguhan, Semangat Persatuan (Insieme), Totalitas, dan Pelayanan melalui teladan RA Kartini.

    Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan perayaan singkat. Sambutan disampaikan oleh Ibu Dominika Eni Widiyastuti selaku kepala sekolah yang berisi ajakan kepada seluruh siswa untuk mewarisi semangat Kartini dengan cara berani belajar, mandiri dalam bertindak, serta tidak mudah menyerah dalam meraih cita-cita.

    Kegiatan berikutnya adalah penampilan perwakilan dari siswa kelas 3 yang memperkenalkan sosok Kartini dan perjuangannya dalam memperjuangkan hak pendidikan untuk kaum wanita.

    Acara semakin meriah dengan penampilan fashion show baju daerah yang diikuti oleh perwakilan siswa dari kelas 1 sampai dengan kelas 6. Kegiatan ini tidak hanya menampilkan keindahan ragam budaya Indonesia, tetapi juga menumbuhkan rasa berani, percaya diri, dan ketangguhan siswa saat tampil serta menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya bangsa.

    Selanjutnya, untuk menunjukkan semangat persatuan dengan kekompakan, kreativitas, kerja sama, serta kecintaan siswa terhadap warisan budaya Nusantara, seluruh siswa menampilkan medley enam lagu daerah yang dinyanyikan per paralel. Kelas 1 membawakan lagu “Padang Bulan”. Kelas 2 menyanyikan lagu “Ampar-ampar Pisang”. Kelas 3 menyanyikan lagu “Si Patokaan”. Lagu “Ayam Den Lapeh” dibawakan oleh siswa kelas 4, sedangkan kelas 5 menyanyikan lagu “Alusi Au”. Lagu “Rek Ayo Rek” dinyanyikan oleh siswa kelas 6.

    Melalui perayaan ini siswa mampu menunjukkan nilai cinta dan belas kasih melalui sikap saling mendukung dan menghargai. Mereka bertanggung jawab dengan peran mereka masing-masing. Nilai totalitas tampak saat mereka memberikan penampilan yang terbaik. Mereka juga mau melayani melalui keterlibatan dalam menyukseskan acara. 

    Perayaan ini mungkin sederhana, tetapi maknanya luar biasa. Bersama semangat RA Kartini, enam nilai: Cinta dan Belas Kasih, Integritas, Keberanian & Ketangguhan, Semangat Persatuan (Insieme), Totalitas, dan Pelayanan bukan sekadar kata, melainkan aksi nyata-hari ini, esok, dan selamanya.

Selengkapnya
News Image
Pengenalan Profesi Penjual Jamu di KB-TK Santa Ursula BSD

Bulan April ini merupakan bulan yang cukup spesial bagi KB-TK Santa Ursula BSD. Setelah perayaan Hari Kartini kemarin, kali ini kami juga kedatangan tamu spesial yang masih kental kaitannya dengan adat dan budaya Indonesia, terutama tanah Jawa, yaitu penjual jamu. 

Secara keseluruhan, acara berlangsung dengan sangat lancar. Kegiatan dibuka dengan sapaan hangat dari narasumber yang kemudian diikuti dengan penjelasan singkat mengenai asal-usul minuman jamu yang sudah ada sejak zaman kesultanan. Anak-anak juga mendapatkan informasi visual mengenai penampilan serta peralatan yang dibawa oleh penjual jamu serta kegunaannya. Acara kemudian diikuti dengan segmen pengenalan rempah-rempah yang digunakan untuk membuat jamu. Pada segmen ini anak-anak diberi kesempatan untuk berpartisipasi aktif dan maju ke depan untuk mencoba membedakan bentuk dan wangi dari berbagai rempah yang umumnya digunakan untuk membuat jamu. Setelah itu seluruh anak mendapatkan sampel kecil dari jamu kunyit asam dan kembali ke kelas untuk mencoba jamu beras kencur bersama teman-temannya.

Di masa modern yang semakin maju ini, menjaga tradisi dan budaya nusantara menjadi penting untuk mengingatkan kita akan warisan nenek moyang terdahulu. Salah satunya tampak dalam bentuk makanan dan minuman tradisional yang terkenal akan manfaatnya dalam menjaga kesehatan. Dalam hal ini, KB-TK Santa Ursula menggunakan kesempatan perkenalan profesi penjual jamu untuk mengenalkan sejarah, proses, dan manfaat jamu kepada anak-anak usia dini.

Kami harap melalui kegiatan ini anak-anak menjadi kenal dengan keberadaan jamu. Mulai dari latar belakangnya, bahan-bahan yang digunakan, sampai dengan penampilan penjualnya yang semakin sulit ditemukan saat ini. Semoga pengalaman ini juga menumbuhkan rasa keberanian anak-anak untuk mencoba hal-hal baru terutama makanan serta minuman tradisional Indonesia yang masih belum dikenalkan sebelumnya. Terakhir, kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Jamu Mbak Suni selaku narasumber pada acara ini, atas presentasi dan penyampaian yang sangat menarik dan interaktif sehingga anak-anak dapat memperoleh pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan.

 

Selengkapnya
News Image
Imunisasi Campak untuk Siswa KB-TK Santa Ursula BSD

Pada tanggal 10 April 2026, KB-TK Santa Ursula BSD dan Puskesmas Rawa Buntu melaksanakan kegiatan pemberian imunisasi campak bagi para siswa KB, TK A, dan TK B. 

Kegiatan tersebut dilakukan berdasarkan surat edaran dinas kesehatan kota Tangerang Selatan nomor 400.7.7.2/0406/P2P tentang pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) Campak di kota Tangerang Selatan. Imunisasi campak ini dilakukan sebagai upaya pencegahan penyakit campak pada anak usia dini dan juga meningkatkan kekebalan tubuh anak terhadap penyakit campak. 

Sebelum pelaksanaan imunisasi, sekolah terlebih dahulu membuka pendaftaran bagi para orang tua yang ingin mengikuti program imunisasi ini melalui gform. Di hari pelaksanaan, para orang tua yang mendaftarkan anaknya, wajib mendampingi putra/i-nya selama proses penyuntikan vaksin. Pendampingan dapat dilakukan oleh orang tua atau pendamping yang ditunjuk oleh orang tua siswa. Sekolah juga meminta bantuan salah satu orang tua siswa yang berprofesi sebagai dokter untuk membantu dalam kegiatan imunisasi tersebut. 

Suasana sekolah saat kegiatan imunisasi ini sungguh ramai. Berbagai macam ekspresi terlihat pada wajah anak-anak. Beberapa siswa terlihat takut namun berani disuntik, ada juga siswa yang takut dan menolak disuntik, dan ada juga yang terlihat biasa saja dan tidak menangis saat disuntik. Secara keseluruhan, pemberian imunisasi campak ini berjalan lancar dan hampir semua siswa yang mendaftar mendapatkan imunisasi. 

Selengkapnya
News Image
“Healing Through Play: Bermain Menjadi Jalan Pemulihan Bagi Anak”

Sabtu, 18 April 2026 pukul 07.30-09.00 WIB menjadi hari yang penuh makna di Aula SMP-SMA Kampus Santa Ursula BSD. Kegiatan parenting pada semester 2 ini bertajuk “Healing Through Play” , menghadirkan suasana hangat yang mempertemukan para orang tua siswa/i KB dan TK A dalam sebuah ruang belajar bersama tentang tumbuh kembang anak.

Acara parenting kali ini dibawakan oleh Ibu Melly, S.Psi., Psikolog, seorang praktisi yang berpengalaman sebagai terapis anak dan dewasa di BSD City. Beliau merupakan lulusan Psikologi Universitas Atma Jaya dan melanjutkan pendidikan profesi di institusi yang sama. Selain itu, Ibu Melly juga pernah berperan sebagai asesor di beberapa lembaga psikologi. Pengalaman profesionalnya semakin kaya dengan kisah pribadinya sebagai seorang ibu—yang menghadapi tantangan tumbuh kembang pada anak pertama serta pergulatan emosi pada anak kedua. Dari pengalaman tersebut, beliau menemukan bahwa terapi bermain (play therapy) menjadi salah satu pendekatan efektif dalam membantu anak membangun rasa aman, menumbuhkan inisiatif, serta memulihkan luka emosional.

Untuk mengawali pemaparannya, dengan sebuah pertanyaan sederhana namun bermakna. Ibu Melly menanyakan tentang “Apa sih manfaat bermain bagi seorang anak?” Pertanyaan ini langsung mengundang partisipasi para orang tua. Berbagai jawaban pun muncul. Salah satu dari orang tua yang hadir menyampaikan bahwa bermain dapat mempertajam kemampuan motorik anak, melatih sosialisasi, mengembangkan kemampuan problem solving, serta meningkatkan kreativitas dan imajinasi. Selain itu, bermain juga dipandang sebagai sarana hiburan sekaligus cara untuk mempererat hubungan antara orang tua dan anak.

Menanggapi hal tersebut, Ibu Melly menegaskan bahwa bermain memiliki makna yang jauh lebih dalam. Menurut beliau, bermain adalah bahasa anak—cara mereka berkomunikasi, mengekspresikan perasaan, dan memahami dunia di sekitarnya. Melalui bermain, anak tidak hanya berkembang secara kognitif, tetapi juga secara fisik, emosional, dan sosial.

Berangkat dari pengalaman pribadi sebagai seorang ibu yang menghadapi tantangan tumbuh kembang dan emosi pada anak-anaknya, Ibu Melly menemukan media yang dapat digunakan dan mudah dijumpai untuk melakukan kegiatan terapi bermain (play therapy) seperti miniatur superhero, pasir, boneka, cerita atau dongeng, kegiatan seni, rumah boneka dengan figur keluarga, serta musik, anak dapat menyalurkan emosi dan memproses pengalaman mereka dengan cara yang aman dan menyenangkan.

Melalui kegiatan ini, para orang tua tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga refleksi mendalam tentang peran mereka dalam mendampingi anak. Healing Through Play mengingatkan bahwa proses penyembuhan dan pertumbuhan anak seringkali dimulai dari hal sederhana: bermain bersama dengan penuh kehadiran, empati, dan cinta. Kegiatan parenting ini pun ditutup dengan suasana penuh kehangatan, membawa harapan baru bagi setiap orang tua untuk terus belajar, bertumbuh, dan mendampingi anak-anak mereka dengan cara yang lebih sadar dan penuh makna.

Selengkapnya

Mengapa Santa Ursula BSD ?

Keira Halim
Siswa SD kelas V

SD Santa Ursula BSD mempunyai kegiatan kungfu shaolin. Melalui kegiatan ini kami belajar membangun fisik dan mental. Terdapat pula kegiatan menulis rapi. Menulis rapi merupakan kegiatan yang dikembangkan di sekolah Santa Ursula BSD. Menulis bukan hanya kegiatan menggoreskan pena di atas kertas tetapi kami juga melatih konsentrasi, kesabaran, dan koordinasi gerak tangan. SD Santa Ursula BSD juga memiliki Taman IPA. Taman IPA merupakan tempat bagi kami untuk mengenal alam dan ilmu pengetahuan yang patut kami ketahui sebagai siswa SD.

Lihat Lebih Banyak