



"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"
"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"
Siswa Aktif
Alumni
Tahun Pengalaman
Tenaga Pendidik
Tenaga Kependidikan
"Cintailah semua putri Anda tanpa pilih kasih karena mereka semuanya Anak Allah dan Anda tidak tahu apa yang Dia rencanakan bagi mereka semua"
(Nas. VIII: 1-2)
"Apa yang Anda ingin mereka lakukan, lakukanlah sendiri itu lebih dahulu. Bagaimana Anda bisa mencela atau menegur kekurangan mereka apabila mereka melihat kekurangan itu masih ada dalam diri Anda sendiri"
(Nas. VI: 2-3)
"Andaikan pada suatu saat karena alasan yang kuat Anda tidak setuju dengan mereka atau menentang pendapat mereka, maka berterus teranglah, dengan berani dan penuh hormat. Apabila mereka tidak mendengarkan Anda, terimalah hal itu dengan sabar"
(Nas. III: 6-7)
"Hiduplah dalam keserasian, bersatu, sehati sekehendak, terikat satu sama lain dengan cinta kasih, saling menghargai, saling membantu, saling bersabar dalam Yesus Kristus"
(Nas.T. 2)
"Jika karena perubahan zaman dan keadaan perlu untuk membuat peraturan baru atau untuk merubah sesuatu, lakukan hal itu dengan kebijaksanaan setelah mendengar nasehat yang baik"
(WT: 2)
Rabu, 2 September 2026, murid kelas XI mendapatkan sosialisasi mengenai kegiatan Outward Bound Indonesia (OBI) yang akan mereka jalani di kawasan Waduk Jatiluhur. Sosialisasi disampaikan oleh salah satu perwakilan tim Outward Bound Indonesia yaitu Kak Zul Winarno, sebagai bagian dari persiapan sebelum murid mengikuti kegiatan dalam dua gelombang. Gelombang pertama akan berlangsung pada 18 - 26 September 2026, sedangkan gelombang kedua pada 26 September - 3 Oktober 2026. Sejak awal sosialisasi, murid menyimak dengan tenang dan menunjukkan antusiasme, terutama ketika memasuki sesi tanya jawab dan saat melihat foto-foto kegiatan OBI pada slide presentasi. Bagi murid, foto-foto tersebut memberikan gambaran awal tentang pengalaman yang akan mereka hadapi. Namun, sosialisasi ini tidak sekadar membicarakan kegiatan di alam. Kak Zul mengajak murid memahami bahwa pengalaman OBI membutuhkan kesiapan sikap, bukan hanya kesiapan fisik dan perlengkapan. Hal ini tampaknya sudah mulai disadari oleh beberapa murid. Sehari setelah sosialisasi ini, salah satu murid laki - laki ditanya mengenai persiapannya, ia bercerita bahwa dirinya sudah mulai melakukan latihan fisik seperti lari, push up, pull up, sit up, dan berbagai latihan lainnya sejak dua minggu lalu. Seorang murid perempuan juga menceritakan bahwa ia lebih rutin melakukan olahraga voli dua minggu sekali. Persiapan tersebut menjadi gambaran sederhana bahwa OBI mulai dipandang sebagai sebuah pengalaman yang perlu disiapkan dengan sungguh - sungguh, bukan sekadar kegiatan yang akan dijalani begitu saja.
Salah satu pesan yang menarik perhatian adalah bahwa dalam kegiatan OBI tidak ada hukuman, tetapi ada konsekuensi dari setiap pilihan yang dibuat. Murid juga diingatkan untuk bertanggung jawab terhadap barang pribadi maupun perlengkapan kelompok. Para instruktur bukanlah tantangan yang harus dihadapi. Justru, tantangan sebenarnya adalah bagaimana setiap murid mampu menjalani proses bersama kelompok, belajar berkomunikasi, saling membantu, dan tetap bertanggung jawab ketika menghadapi situasi yang mungkin tidak selalu nyaman. Setiap kelompok nantinya akan didampingi oleh satu orang pendamping dari tim OBI. Ternyata jika diresapi, pesan tersebut sangat dekat dengan enam nilai Serviam. Nilai cinta dan belas kasih, ketika murid belajar memperhatikan dan membantu teman yang mengalami kesulitan. Nilai tanggung jawab juga tercermin ketika mereka menjaga barang pribadi dan perlengkapan kelompok. Nilai integritas, ketika mereka berani menerima konsekuensi dari pilihan sendiri. Nilai keberanian dan ketangguhan, ketika mereka belajar menghadapi tantangan tanpa mudah menyerah. Nilai persatuan, ketika keberhasilan kegiatan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga kemampuan bekerja sebagai kelompok serta nilai totalitas, ketika murid diharapkan memberikan usaha terbaik dan sungguh-sungguh menjalani setiap proses.
Pada akhirnya, sosialisasi ini menjadi pengingat bahwa OBI bukan sekadar kegiatan keluar dari lingkungan sekolah atau pengalaman beraktivitas di alam. Pengalaman OBi di area Waduk Jatiluhur menjadi ruang belajar yang lebih luas, tempat murid dapat mengenal dirinya sendiri sekaligus belajar memahami orang lain. Apa yang disampaikan ini menjadi bekal awal sebelum mereka benar-benar menjalani pengalaman tersebut. Mungkin nantinya ada rasa lelah, tidak nyaman, perbedaan pendapat, atau situasi yang tidak sesuai harapan. Namun justru di situlah nilai Serviam diharapkan tumbuh dalam pengalaman nyata. Murid tidak hanya pulang membawa cerita tentang kegiatan di alam, tetapi juga membawa pemahaman bahwa menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, berani, peduli, mampu bekerja sama, dan memberikan yang terbaik adalah bagian dari proses menjadi pribadi yang utuh.
"Penasaran," kata itu bergema di benak saya saat guru mengumumkan akan ada kegiatan Alumni Berbagi di SMP Santa Ursula BSD. Pada 14 Agustus 2026, sekolah kami menghadirkan sosok-sosok hebat dari ALUSIA (Alumni Santa Ursula Indonesia). Kelas 7A kedatangan dua alumni yang kini tengah menempuh pendidikan di bangku kuliah, yaitu Kak Dion dan Kak Natya. Senyum hangat mereka memancarkan energi positif di dalam kelas. Terlihat jelas bahwa mereka telah mempersiapkan seluruh rangkaian acara ini dengan sangat matang.
Kegiatan diawali dengan perkenalan dari Kak Natya dan Kak Dion. Sebelum masuk ke materi utama, Kak Natya mengajak kami bermain gim "Berdiri Kalau Kamu..." sebagai pembakar semangat. Selain seru, gim ini menjadi sarana refleksi untuk mengukur seberapa jauh kami mengenal teman sekelas. Ada banyak pertanyaan menarik, seperti berdiri jika dalam beberapa minggu terakhir pernah salah menyebut nama teman, atau berdiri jika sudah mengobrol dengan semua teman sekelas. Kak Dion menjelaskan bahwa wajar jika kami belum terlalu akrab, mengingat baru beberapa bulan kami melangkah di gedung SMP ini.
Sebagai alumni, Kak Natya dan Kak Dion pernah berada di posisi kami. Kak Natya bercerita tentang pengalamannya saat dahulu menjadi murid baru. Sebagai lulusan dari sekolah terdahulu yang menggunakan bahasa Inggris, ia sempat merasa takut dan kesulitan dalam berbahasa Indonesia. Beruntung, teman-teman sekelasnya dengan tulus membantu tanpa ada yang mengejek atau merundung (bullying). Suasana kelas yang ramah, solid, peduli, dan saling mendukung membuat Kak Natya merasa aman serta mampu melewati tantangan tersebut.
Pada sesi kedua, kami berpindah ke aula untuk memainkan gim "Benang Pertemanan". Kami membentuk lingkaran dan bergantian melempar gulungan benang ke teman lain sambil menyebutkan satu hal baik yang pernah dilakukan teman tersebut. Helaian benang yang terhubungkan perlahan membentuk jaring-jaring. Saat memegang ujung benang, terkadang tumpukan benang itu mengendur, tetapi kemudian bisa dipererat kembali. Melalui refleksi kelas, kami belajar bahwa benang tersebut merepresentasikan hubungan pertemanan.
Persahabatan terkadang bisa mengendur karena konflik kecil, hal yang wajar dalam dinamika remaja, tetapi selalu bisa direkatkan kembali dengan saling menghargai. Lewat permainan ini, kami juga makin saling mengenal dan menghormati satu sama lain.
Acara dilanjutkan dengan dinamika kelompok. Kami dibagi ke dalam kelompok kecil yang menggabungkan lulusan SD Santa Ursula BSD dan SD luar. Tugas kami adalah membangun menara dari sedotan plastik dalam dua sesi yang masing-masing berdurasi 20 menit. Pada sesi pertama, kami dilarang berkomunikasi secara verbal. Tanpa kata-kata, cukup sulit untuk memahami satu sama lain, tetapi kelompok kami tetap berusaha maksimal. Kemudian pada sesi kedua, kami diperbolehkan berkomunikasi sehingga proses pengerjaan menjadi jauh lebih mudah dan lancar karena kami bisa saling bertukar ide.
Meski kelompok kami belum menjadi pemenang, pelajaran berharga yang saya petik bukan soal kalah atau menang, melainkan pentingnya proses kerja sama. Kak Dion menegaskan bahwa komunikasi yang jujur dan santun adalah kunci utama untuk menjaga hubungan pertemanan tetap sehat, harmonis, serta bebas dari perundungan. Di tengah aktivitas kelompok, Kak Dion menempelkan sticky notes di setiap meja yang digunakan untuk menuliskan pertanyaan atau pendapat terkait materi hari itu. Kak Natya dan Kak Dion bergiliran menjawab pertanyaan kami, dan karena serunya sesi ini, waktu terasa berlalu begitu cepat.
Sebagai penutup kegiatan Alumni Berbagi, kami berfoto bersama dan merumuskan komitmen kelas agar hubungan kami makin solid tanpa sekat. Saya sangat bersyukur dapat mengikuti kegiatan ini karena ada banyak nilai kehidupan yang saya dapatkan. Nilai totalitas saya temukan dari kesungguhan hadir 100% dalam mengikuti seluruh rangkaian acara. Nilai persatuan hadir saat kami saling menghargai pendapat dan bekerja sama dalam kelompok. Sementara itu, nilai keberanian dan ketangguhan tercermin dari keberanian kami untuk bertanya, berpendapat, serta pantang menyerah menghadapi tantangan. Semoga saya bisa terus menjaga pertemanan yang sehat, baik, positif, dan saling merangkul tanpa bullying, baik di dalam maupun di luar sekolah. Terima kasih Kakak-Kakak Alumni, dan terima kasih SMP Santa Ursula BSD atas pengalaman yang sangat berharga ini!
Narkoba merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya. Tiga zat tersebut dapat berasal dari bahan alami maupun buatan. Jika dikonsumsi dengan cara dihirup, dimakan, atau disuntikkan, dampaknya sangat berbahaya karena dapat menimbulkan halusinasi, kerusakan organ tubuh, hingga merusak hubungan dengan keluarga dan teman. Oleh karena itu, SMP Santa Ursula BSD menyelenggarakan seminar anti-narkoba bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Tangerang Selatan pada
Jumat, 14 Agustus 2026, di aula sekolah. Seminar ini mengajak kami untuk berani mencegah penyalahgunaan narkoba sekaligus menerapkan pola hidup sehat.
Kegiatan diawali dengan perkenalan dari tim BNN Kota Tangerang Selatan, lalu dilanjutkan dengan sesi ice breaking yang seru untuk membakar semangat kami. Selama kegiatan berlangsung, kami mendapatkan banyak penjelasan penting mengenai zat-zat berbahaya yang terkandung dalam narkoba, jenis-jenisnya, serta dampak buruknya bagi kesehatan fisik maupun mental. Melalui seminar ini, kami makin menyadari bahwa narkoba tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga merusak hubungan sosial dengan orang-orang terdekat.
Hal terpenting yang kami pelajari adalah keberanian untuk menolak narkoba dan pentingnya menjaga diri sendiri. Mencegah penyalahgunaan narkoba bukan hanya tanggung jawab pribadi, melainkan juga bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Ketika kita berani menolak ajakan yang salah dan saling mengingatkan sesama teman, kita sudah menunjukkan rasa peduli dan tanggung jawab demi masa depan. Jadi, mari kita kumpulkan tekad, keberanian, dan ketegasan untuk berkata TIDAK pada narkoba!
Pada hari Kamis, 20 Agustus, saya dan teman-teman kelas VII mengikuti seminar bermedia sosial di SMP Santa Ursula BSD. Sehari sebelum kegiatan, kami sudah dibagi menjadi beberapa kelompok. Pada hari pelaksanaan, tempat kegiatan murid perempuan dan laki-laki dipisah. Murid perempuan dikumpulkan di aula bersama Kak Clara, sedangkan murid laki-laki berada di perpustakaan. Seminar berlangsung seru dari pukul 07.00 hingga 10.00 WIB.
Selama kegiatan, Kak Clara mengajak kami belajar cara bermedia sosial yang baik melalui permainan stand up if dan diskusi kelompok. Beliau menjelaskan dampak positif serta negatif media sosial dan mengenalkan beberapa istilah penting. Istilah tersebut antara lain peer pressure atau tekanan ikut-ikutan teman agar bisa diterima dalam kelompok, cyberbullying yang merupakan perundungan di media sosial, serta digital footprint atau jejak digital seperti komentar dan unggahan yang kita tinggalkan di dunia maya. Kami juga menonton video pendek serta saling berbagi pengalaman sebelum mengakhiri sesi dengan foto bersama dan mengucapkan terima kasih kepada Kak Clara.
Menariknya, materi seminar ini sangat mencerminkan nilai-nilai Serviam di sekolah kami. Nilai Cinta dan Belas Kasih terlihat dari sikap kami yang menjaga ketenangan selama acara. Nilai Integritas terwujud saat kami jujur mengakui kebiasaan dalam permainan stand up if, seperti berdiri jika hal pertama yang dipegang saat bangun tidur adalah ponsel. Nilai Keberanian dan Ketangguhan melatih kami berani menolak pengaruh negatif media sosial. Sementara itu, nilai Persatuan sangat terasa saat kami bekerja sama menyelesaikan tugas kelompok.
Dari kegiatan ini, saya belajar bahwa kita harus bijak menggunakan teknologi yang terus berkembang. Walaupun media sosial memudahkan kita untuk mencari informasi dan berteman, kita tetap harus menyaring konten sesuai kebutuhan serta selalu menghargai hak dan privasi orang lain.
Peringatan Hari Anak Nasional setiap tanggal 23 Juli merupakan wujud kepedulian bangsa terhadap pemenuhan hak dan perlindungan anak. Momentum ini mengingatkan seluruh elemen masyarakat akan tanggung jawab bersama dalam menjamin hak anak untuk hidup, tumbuh, belajar, dan terlindungi. Selain itu, peringatan ini juga bertujuan untuk mewujudkan lingkungan yang aman, ramah, dan inklusif bagi mereka. Dalam semangat tersebut, SMA Santa Ursula BSD bersama SMA Abdi Siswa Bintaro dan SMA Candle Tree School menyelenggarakan sebuah kegiatan kolaborasi yaitu Tangan Amal untuk Senyum Anak (TAMASYA).
Acara ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 25 Juli 2026 di Kampus Santa Ursula BSD. Rangkaian kegiatannya diawali dengan charity walk yang dihadiri oleh lebih dari 200 peserta yang datang dari berbagai sekolah. Kegiatan charity walk ini tidak hanya diikuti oleh para murid, tetapi juga melibatkan adik-adik dari Panti Asuhan Yayasan Sosial Tangan Kasih. Pada kesempatan ini, kami menggandeng Panti Asuhan Yayasan Tangan Kasih dalam penyaluran hasil kegiatan, serta mengajak sejumlah dari teman-teman panti asuhan tersebut untuk mengikuti rangkaian acara TAMASYA secara langsung. Melalui kegiatan charity walk, harapannya dapat menumbuhkan rasa empati, kepedulian sosial, dan semangat berbagi para murid.
Setelah charity walk, kegiatan terbuka untuk umum. Pengunjung dapat menikmati jajanan yang nikmat dari tenants serta merchandise bertema TAMASYA yang dijual oleh panitia. Selain itu, terdapat pula berbagai stan yang dirancang sebagai ruang ekspresi serta wadah untuk menampung aspirasi dan harapan generasi muda, seperti spanduk aspirasi, Wall Of Hope, Creative Booth (pameran karya seni), dan Games Booth (stan permainan tradisional).
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi talkshow yang mengangkat tema “Membangun Asa Anak Indonesia: Suara, Harapan, dan Ketangguhan Generasi Muda di Era Disrupsi”. Talkshow ini dibawakan oleh Ibu Retno Listyarti, seorang Pemerhati Pendidikan dan Anak yang dulunya pernah menjabat sebagai Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 2017–2022, serta Ibu Kanti Sekar Putri, seorang Psikolog Anak dan Remaja.
Melalui diskusi ini, generasi muda diharapkan dapat memperdalam pemahaman mereka mengenai berbagai tantangan yang dihadapi di era disrupsi, khususnya terkait kesehatan mental, perkembangan teknologi, dan perubahan sosial. Tak hanya menumbuhkan ketangguhan mental, optimisme, dan kemampuan adaptasi, sesi ini juga mendorong anak-anak untuk berani menyuarakan aspirasi, harapan, dan gagasan mereka. Topik diskusi juga menggarisbawahi pentingnya peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam mendukung tumbuh kembang anak-anak.
Seusai talkshow, kegiatan dilanjutkan dengan penampilan seni dari ketiga sekolah penyelenggara, yaitu band, kolintang, dan keroncong. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan pertukaran plakat antar tiga sekolah dan penyerahan donasi kepada perwakilan pendamping dari Panti Asuhan Yayasan Sosial Tangan Kasih. Total donasi sebesar Rp 25.000.000,00 telah disalurkan ke Panti Asuhan Yayasan Tangan Kasih dalam bentuk seragam sekolah dan bantuan tunai. Bantuan ini dialokasikan untuk melunasi biaya pendidikan serta perawatan medis anak-anak asuh.
TAMASYA tidak hanya menjadi perwujudan semangat kolaborasi antara tiga sekolah dalam memperingati Hari Anak Nasional, tetapi juga menjadi wadah bagi generasi muda untuk berekspresi, menyuarakan aspirasi, serta memperjuangkan hak-hak anak. Nilai-nilai Serviam, khususnya cinta dan belas kasih, tercermin nyata melalui pelayanan dalam menolong sesama. Keberhasilan pengumpulan donasi dalam aksi ini membuktikan bahwa semangat dan kontribusi generasi muda dapat menjadi aksi nyata yang bermanfaat bagi sesama.
Apakah kita pernah membayangkan, bagaimana proses perkembangan seorang penyanyi profesional? Apakah mereka memulai dari latihan setiap hari? Atau mungkin mereka memulai dari sebuah kompetisi? Namun, satu hal yang pasti perjuangan akan menghasilkan keberhasilan.
Hari itu dimulai dari seorang murid yang sudah memantapkan langkahnya untuk melangkah ke tahap selanjutnya. murid tersebut bernama Ricardo Alfaro Raditya Pradipta atau biasa dipanggil Ricardo. Ia adalah seorang murid kelas XII-D yang telah mewakili Kota Tangerang Selatan di ajang Festival Lomba Seni dan Sastra murid Nasional (FLS3N) tingkat provinsi Banten dalam cabang lomba solo vokal putra.
Dalam ajang FLS3N tingkat provinsi tahun ini telah dilaksanakan selama tiga hari yaitu dimulai pada tanggal 26-28 Agustus 2026. Terdapat beberapa cabang lomba mulai dari seni sampai sastra, seperti; baca puisi, cipta puisi, cipta lagu, solo vokal putri, solo vokal putra, desain poster, fotografi, instrumen solo gitar, jurnalistik, kriya, komik digital, menulis cerita pendek (cerpen), monolog, tari kreasi, dan kreativitas musik tradisional.
Pada hari pertama belum dimulai dengan perlombaan, tetapi pada pukul 14.00 WIB seluruh peserta melakukan check-in kamar hotel. Para peserta mempunyai waktu luang dengan memanfaatkannya untuk berlatih vokal dan istirahat sejenak. Dalam satu kamar terdapat dua peserta perlombaan dari cabang lomba yang berbeda. Pada sore hari tepatnya pukul 16.00 WIB, rangkaian ajang FLS3N ini dimulai dengan acara pembukaan. Pembukaan kali ini, dimulai dengan kata sambutan dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten. Dengan berlangsungnya pembukaan ini, maka resmilah ajang FLS3N dimulai. Setelahnya dilanjutkan dengan sesi technical meeting dari tiap cabang lomba. Dalam sesi technical meeting para peserta juga berkesempatan untuk mengundi undian urutan untuk tampil esok hari. Sesi technical meeting berakhir pada pukul 20.00 WIB.
Pada hari kedua, perlombaan dimulai pada pukul 08.00 WIB dan Ricardo mendapatkan nomor urut satu. Pada ajang FLS3N kali ini, Ricardo akan menyanyikan lagu “Dayung Sampan” dan “Cukup Sudah”. Sebagai guru pendamping, rasa deg-degan itu muncul pada saat Ricardo mulai bernyanyi. Dalam cabang lomba solo vokal putra, terdapat delapan peserta dari seluruh kabupaten dan kota yang terdapat di Provinsi Banten. Semua peserta solo vokal putra menampilkan penampilannya dengan sangat memukau. Para peserta berlomba-lomba untuk meraih nada tinggi.
Setelah semua peserta tampil, maka dimulailah sesi evaluasi yang disampaikan oleh juri. Terdapat beberapa evaluasi yang disampaikan oleh juri, di antaranya adalah artikulasi pada saat menyanyikan lagu daerah yang masih belum terdengar dengan jelas dan terkait dengan pengambilan nada tinggi, jika sekiranya peserta tidak mampu untuk mencapai nada tinggi tersebut, maka sebaiknya tidak perlu dipaksakan. Tentunya, evaluasi ini sangatlah berguna bagi para peserta solo vokal putra. Masukan ini akan menjadi bekal bagi mereka saat mengikuti kompetisi yang lainnya.
Waktu yang dinantikan pun telah tiba. Tepat pukul 20.00 WIB, sesi pengumuman pun dimulai. Sorak sorai mulai terdengar saat daftar nama murid yang menjuarai dari tiap cabang lomba disebutkan. Akhirnya, sampai juga di pembacaan pengumuman cabang lomba solo vokal putra. Pembacaan juara dimulai dari juara harapan ketiga. Pada saat pembacaan juara harapan ketiga, nama Ricardo pun belum disebutkan, juara harapan kedua pun belum disebutkan, juara harapan kesatu juga belum disebutkan. Sampai pada akhirnya, memasuki pengumuman untuk juara ketiga. Nama pun Ricardo disebutkan. Seketika, rasa riang mulai memenuhi hati. Kerja keras yang telah dilakukan Ricardo menghasilkan juara tiga tingkat Provinsi Banten.
Keesokan harinya dibagikan piala serta sertifikat bagi pemenang. Ricardo memang sudah mendapatkan juara ketiga, tetapi perjuangannya belum berhenti di sini. Perjalanannya masih panjang. Selamat untuk Ricardo dan semangat untuk melanjutkan perjuanganmu!
“Beri tahu aku dan aku akan lupa, ajari aku dan mungkin aku ingat, libatkan aku dan aku akan belajar.”
— Benjamin Franklin
Sekolah bukan sekadar tempat untuk memperoleh pengetahuan dan memahami materi pembelajaran. Sekolah juga menjadi ruang bagi murid untuk mengembangkan berbagai kompetensi, membangun karakter, serta mempersiapkan diri sebelum melangkah menuju kehidupan yang lebih luas. Karena itu, sekolah terus berupaya menghadirkan berbagai pengalaman belajar yang dapat memfasilitasi perkembangan diri murid secara utuh.
Salah satu pengalaman tersebut hadir melalui Ursa Cup 2026, sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh SMA Santa Ursula BSD yang bermula dari gagasan dan ide OSIS angkatan 2025. Ursa Cup merupakan ajang perlombaan antar sekolah dalam berbagai cabang, yaitu Futsal, Basket, Voli, E-Sport, Band, Mural, dan Fotografi. Pada tahun ini, Ursa Cup diikuti oleh 88 sekolah SMP dan SMA dengan jumlah peserta hampir 1.000 orang. Sebagai langkah awal untuk kembali membuka gerbang berbagai kegiatan besar, penyelenggaraan Ursa Cup 2026 menjadi sebuah pencapaian yang membanggakan.
Ursa Cup 2026 berlangsung pada 18–28 Agustus 2026. Kegiatan diawali dengan opening pada 18 Agustus yang dimeriahkan oleh penampilan angklung, tari kolosal, dan bursa. Selanjutnya, berbagai cabang lomba dilaksanakan secara bergantian setiap harinya. Rangkaian kegiatan ditutup pada 28 Agustus melalui pengumuman para pemenang, penampilan apresiasi kemenangan dari lomba band, serta penampilan modern dance dan band oleh murid.
Di balik kemeriahan tersebut, terdapat proses panjang yang menjadi bagian penting dari pengalaman belajar murid. Ursa Cup dapat terlaksana berkat upaya maksimal dari berbagai pihak, mulai dari panitia, peserta lomba, guru pendamping OSIS, guru pendamping panitia, Bapak dan Ibu Guru, tenaga kependidikan, Kepala Sekolah, hingga Yayasan. Dalam prosesnya, tentu masih terdapat berbagai kekurangan. Namun, kekurangan tersebut bukanlah sesuatu yang perlu dipandang sebagai kegagalan. Justru melalui berbagai tantangan itulah murid memperoleh pengalaman belajar yang berharga dalam proses pembentukan diri.
Selama beberapa bulan persiapan, murid belajar mengatur waktu, energi, dan perasaan di tengah tanggung jawab mereka sebagai pelajar. Selama kegiatan berlangsung, datang paling pagi dan pulang paling sore menjadi bagian dari rutinitas. Bahkan setelah kegiatan di sekolah selesai, pada malam hari mereka masih mengadakan pertemuan dan berdiskusi secara daring untuk mempersiapkan serta memastikan berbagai hal untuk hari berikutnya.
Di sela-sela kesibukan sebagai panitia maupun peserta lomba, mereka tetap berusaha mengikuti proses pembelajaran. Waktu yang tersedia dimanfaatkan untuk belajar secara mandiri dan memahami materi yang terus berjalan. Mereka belajar menjaga keseimbangan antara tanggung jawab akademik dan keterlibatan dalam kegiatan sekolah.
Pengalaman tersebut menjadi bentuk pembelajaran yang tidak selalu ditemukan di dalam kelas. Murid belajar mengenai tanggung jawab, kerja sama, ketahanan, ketangguhan, komunikasi, pengelolaan waktu, dan keberanian untuk menghadapi berbagai tantangan. Hasil dari proses tersebut pun terlihat dalam pencapaian peserta lomba. SMA Santa Ursula BSD berhasil meraih Juara 1 E-Sport, Juara 2 Futsal, dan Juara 3 Mural. Totalitas yang mereka berikan akhirnya membuahkan hasil.
Lebih dari sekadar pencapaian dalam perlombaan, seluruh proses Ursa Cup 2026 merepresentasikan enam nilai Serviam yang terus ditanamkan kepada murid, yaitu Totalitas, Integritas, Persatuan, Keberanian dan Ketangguhan, Cinta dan Belas Kasih, serta Pelayanan. Nilai-nilai tersebut hadir melalui pilihan dan tindakan mereka selama mempersiapkan hingga menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan.
Pada akhirnya, Ursa Cup 2026 bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang bagi murid untuk mengalami, menghadapi tantangan, bekerja bersama, belajar dari kekurangan, dan bertumbuh melalui proses. Sebab, ketika murid dilibatkan, mereka tidak hanya menerima pembelajaran mereka mengalaminya secara langsung.
Apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, peserta lomba, guru pendamping OSIS, guru pendamping panitia, Bapak dan Ibu Guru, serta tenaga kependidikan atas pemberian diri sepenuhnya selama penyelenggaraan Ursa Cup 2026. Terima kasih telah menjadikan kegiatan ini bukan sekadar sebuah acara, melainkan sebuah ruang belajar dan bertumbuh bersama.
SD Santa Ursula BSD mempunyai kegiatan kungfu shaolin. Melalui kegiatan ini kami belajar membangun fisik dan mental. Terdapat pula kegiatan menulis rapi. Menulis rapi merupakan kegiatan yang dikembangkan di sekolah Santa Ursula BSD. Menulis bukan hanya kegiatan menggoreskan pena di atas kertas tetapi kami juga melatih konsentrasi, kesabaran, dan koordinasi gerak tangan. SD Santa Ursula BSD juga memiliki Taman IPA. Taman IPA merupakan tempat bagi kami untuk mengenal alam dan ilmu pengetahuan yang patut kami ketahui sebagai siswa SD.
Lihat Lebih Banyak