



"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"
"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"
Siswa Aktif
Alumni
Tahun Pengalaman
Tenaga Pendidik
Tenaga Kependidikan
"Cintailah semua putri Anda tanpa pilih kasih karena mereka semuanya Anak Allah dan Anda tidak tahu apa yang Dia rencanakan bagi mereka semua"
(Nas. VIII: 1-2)
"Hiduplah dalam keserasian, bersatu, sehati sekehendak, terikat satu sama lain dengan cinta kasih, saling menghargai, saling membantu, saling bersabar dalam Yesus Kristus"
(Nas.T. 2)
"Apa yang Anda ingin mereka lakukan, lakukanlah sendiri itu lebih dahulu. Bagaimana Anda bisa mencela atau menegur kekurangan mereka apabila mereka melihat kekurangan itu masih ada dalam diri Anda sendiri"
(Nas. VI: 2-3)
"Jika karena perubahan zaman dan keadaan perlu untuk membuat peraturan baru atau untuk merubah sesuatu, lakukan hal itu dengan kebijaksanaan setelah mendengar nasehat yang baik"
(WT: 2)
"Andaikan pada suatu saat karena alasan yang kuat Anda tidak setuju dengan mereka atau menentang pendapat mereka, maka berterus teranglah, dengan berani dan penuh hormat. Apabila mereka tidak mendengarkan Anda, terimalah hal itu dengan sabar"
(Nas. III: 6-7)
Reformasi tahun 1998 merupakan puncak perjuangan bangsa kita melawan keterbatasan ruang demokrasi, krisis ekonomi, praktik KKN, dan pemerintahan yang sangat represif pada masa Orde Baru. Masa ini sangat terikat dengan perjuangan masyarakat Indonesia melawan ketidakadilan yang kemudian identik dengan aksi turun ke jalan para mahasiswa demi memperjuangkan hak-hak bangsa yang direnggut oleh kelompok-kelompok tidak bertanggung jawab. Seiring perkembangan teknologi, bentuk demonstrasi kini telah bertransformasi, di mana generasi muda tidak hanya beraksi secara fisik tetapi juga memanfaatkan media sosial untuk menyuarakan aspirasi melalui berbagai bentuk. Kendati akses digital semakin mudah, esensi utama yang harus dirawat oleh generasi masa kini adalah menjaga semangat reformasi yang berakar dari kesadaran kritis terhadap persoalan bangsa, bukan sekadar ikut-ikutan (FOMO).
Pada hari Sabtu, 6 Juni 2026 siswa-siswi anggota Kaderisasi kelas XI dan beberapa Guru SMA Santa Ursula BSD memperingati 28 tahun pasca Reformasi Indonesia pada tanggal 21 Mei 1998 dengan menyelenggarakan Dialog Bersama Aktivis Reformasi Tahun 1998 mengenai Perjuangan Demonstrasi Mahasiswa di Masa Reformasi. Acara yang dibungkus dengan model dialog-workshop ini dilaksanakan di Aula SMP-SMA Santa Ursula BSD dari pukul 9.30 hingga 11.00 WIB. Dalam Talk show membahas mengenai pengalaman di balik puncak momen fundamental dalam sejarah politik dan ketatanegaraan Indonesia ini dikemas dengan tujuan membuka wawasan, meningkatkan kepekaan sosial, serta menggerakkan generasi muda untuk berani menyuarakan aspirasi dengan kritis dan logis di tengah-tengah hiruk pikuk media sosial beserta kemajuan teknologi.
Talk show ini berpusat pada pengalaman Agnes Gurning (Kak Agnes), seorang staf dalam lembaga internasional yang dulunya merupakan mahasiswa jurusan sosiologi di Universitas Indonesia, Depok pada tahun 1998. Dengan mengangkat tema “Tiga Daya Jiwa Sebagai Pondasi Generasi Muda dalam Melestarikan Perjuangan Reformasi”, siswa-siswi anggota Kaderisasi juga mengundang MN Nurhasanah Munaf (Kak Moi), Ketua Kelompok Kopdit Pintu Air yang pernah bekerja sebagai buruh pabrik yang berperan sebagai koordinator demonstrasi buruh besar-besaran pada tahun 1998. Dengan melibatkan pihak yang turun langsung ke medan demonstrasi, diharapkan para siswa-siswi kaderisasi dapat menumbuhkan esensi perjuangan dan keberanian bersuara seiring berkembangnya peradaban Indonesia, menciptakan generasi muda yang dinamis dengan satu tujuan; menjunjung keadilan dan kesejahteraan bangsa.
Pada sesi pertama, para narasumber diminta memaparkan sumber pemersatu/motivasi yang membuat mereka berani untuk maju sebagai demonstran. Kak Agnes menyampaikan bahwa latar belakang keluarga dan lingkungan sosialnya membuatnya menyadari tingginya kesenjangan ekonomi dan kultural, sehingga memantik kesadaran dan daya kritisnya terhadap fenomena sosial di sekitarnya. Ketika memasuki jenjang perguruan tinggi, Kak Agnes mempelajari tentang konstruksi sosial yang nyata dan tidak semerta-merta “turun dari langit”, di titik itu Ia menyadari bahwa diskusi mengenai pemerintahan Orde Baru yang membelenggu masyarakat di masa itu harus disertai dengan kontribusi nyata yang mampu membawa perubahan. Tekad Kak Agnes tidak berhenti di situ, melalui pengalaman live-in nya sebagai buruh, pengalamannya dengan korban-korban pelecehan, beserta pendekatannya dengan lingkup sosial IKOI (kumpulan orang tua yang anaknya mengalami penculikan) menjadi sarana pembelajaran nyata diluar teori-teori pembelajaran kampus semata.
Narasumber lainnya adalah Kak Moi yang pada tahun 1998 sedang menduduki posisi sebagai supervisor di perusahaan Mayora. Selama pemerintahan represif Orde Baru pada tahun 1994-1996, aksi protes sudah tidak menjadi hal yang asing bagi para buruh. Buruh adalah pemegang ekonomi negara, sementara gaji buruh terus dipotong di tengah krisis moneter yang tidak ditangani dengan bijak oleh pemerintah. Menanggapi masalah struktural tersebut, Kak Moi mengikuti diskusi di bawah tanah dan ikut melakukan demonstrasi. Beliau bergabung dengan Komite Buruh Untuk Aksi Reformasi (KOBAR) yang pada akhirnya berhasil memobilisasi puluhan ribu aktivis. Protes yang dilakukan Kak Moi menuntut upah seratus persen bagi buruh, cuti hamil yang tetap digaji, dan cuti haid lebih dari dua hari.
Fenomena-fenomena sosial tersebut mulai menciptakan masalah struktural yang mengikis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah serta merampas kesejahteraan sosial. Guna mencegah kembalinya era Orde Baru di tengah berbagai tekanan dan pelemahan terhadap gerakan aktivis saat ini, generasi muda perlu membawa perubahan nyata. Perjuangan sebaiknya tidak hanya dilakukan di media sosial, melainkan harus ditelusuri kembali dari akar rumput melalui diskusi-diskusi di lingkungan sekolah seperti yang sudah dilakukan oleh SMA Santa Ursula BSD.
Berbagai faktor dan latar belakang dari peristiwa reformasi mulai dibahas lebih dalam pada sesi ke-2. Meskipun demonstrasi besar-besaran pada tahun 1998 berhasil mencapai tujuan awalnya, proses transisi dari pemerintahan menuju era reformasi belum cukup matang. Sisa kekuasaan dan struktur dari masa Orde Baru masih tetap ada sehingga kembalinya kebijakan Orde Baru tidak semerta-merta langsung terjadi, tetapi dicicil hingga masa kini. Tindakan represif yang awalnya hanya melibatkan fisik, kini menduduki ruang digital sebagai pewarisan sikap dari rezim Orde Baru. Media sosial terus diasah penggunaannya agar dapat menjadi alat penyampaian aspirasi yang mendukung, bukan sebagai ranah kekerasan digital yang mendegradasi bangsa. Sekarang, satu-satunya harapan berlabuh di para generasi muda Indonesia untuk tidak patah semangat dalam menyuarakan suara mereka; “Kritis dan janganlah pesimis!” merupakan prinsip yang masih dipegang teguh hingga kini oleh Kak Agnes dan Kak Moi.
“Kita mau bawa bangsa ini ke arah mana?” ujar Kak Moi. Pertanyaan reflektif ini dapat menjadi motivasi utama bagi generasi muda untuk membawa perubahan. Teknologi adalah suatu alat yang dampaknya berada di tangan kita. Memang kita tidak bisa menghindari kenyataan yang ada, namun apa yang bisa kita lakukan sebagai pelajar di masa kini untuk mengatasinya? Pertanyaan ini membawa diskusi ke titik akhir bahwa tonggak penggerak bangsa dan negara bukanlah hukum, melainkan gerakan moral kolektif dari berbagai lapisan masyarakat termasuk pelajar.
Penghujung acara ini kemudian diakhiri oleh kata penutup dari Ibu Eri. Menurut beliau, sebagai generasi muda terutama anggota kaderisasi, keberanian menjadi hal yang penting sehingga membentuk kesempatan untuk peduli dalam membuka pilihan dan batin. Sebagai generasi muda, siswa-siswi harus selalu bersiap dan bertanggung jawab atas setiap pilihan yang diambil. “Pikirkan dengan baik setiap keputusan dan jangan mempertaruhkan integritasmu.” tutupnya.
Ketika diminta untuk memberikan pesan kepada generasi muda, Kak Moi mengatakan “Teruslah berjuang bersama semua elemen masyarakat agar tatanan negara terus terjaga, berjuanglah untuk anak muda. Mundur adalah pengkhianatan.” tutupnya dengan tegas. Di sisi lain, Kak Agnes juga berpesan; “Mulailah perubahan dari hal kecil yaitu diri sendiri contohnya dengan tidak menjadi pembully, memperhatikan bila ada teman yang mengalami ketidakadilan, memanfaatkan platform media sosial untuk menyuarakan pikiran kritis tentang isu-isu sosial, dan mau berinteraksi dengan siapa saja agar bisa saling memahami terlepas dari adanya perbedaan.”
Diharapkan setelah mengikuti acara ini, siswa-siswi SMA Santa Ursula BSD terlebih anggota Kaderisasi dapat menggunakan tiga daya jiwa yang dianugerahkan kepada mereka dengan bijak melalui menggunakan akal budi untuk berpikir kritis bukan pesimis, hati nurani untuk meningkatkan kepekaan sosial dan belas kasih, serta kehendak bebas untuk berintegritas dalam melestarikan perjuangan reformasi sebagai akar kemajuan bangsa.
Dokumentasi: Tim Dokumentasi
Di era digital saat ini, perkembangan teknologi keuangan berkembang begitu pesat. Pemahaman tentang cara mengelola keuangan dan berinvestasi bukan lagi sekadar materi hafalan di kelas ekonomi, melainkan sebuah keterampilan untuk bertahan hidup yang wajib dikuasai oleh semua orang. Melalui pemahaman yang benar tentang investasi, peran bank dan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB), murid diharapkan mampu mengambil keputusan keuangan yang bertanggung jawab, menghindari praktik keuangan ilegal, dan mulai merancang masa depan keuangan yang stabil. Kegiatan PELITA UANG (Pekan Literasi Keuangan) di SMA Santa Ursula BSD dilaksanakan selama dua hari; yaitu Senin, 25 Mei 2026 dan Selasa, 26 Mei 2026 dirancang untuk mencapai tujuan tersebut. Kegiatan tersebut dikemas dalam konsep seminar dan lokakarya dengan menghadirkan para pakar, mulai dari kalangan akademisi, praktisi perbankan, hingga pihak otoritas keuangan negara.
Rangkaian kegiatan PELITA UANG dimulai pada Senin, 25 Mei 2026 di auditorium Kampus Santa Ursula BSD diikuti oleh 178 murid kelas XI SMA Santa Ursula BSD dengan tema Smart Decision, Strong Psychology. Kegiatan ini fokus pada pengelolaan keuangan, dasar investasi, serta aspek psikologis dalam mengambil keputusan finansial. SMA Santa Ursula bekerja sama dengan Fakultas Bisnis Program Studi Manajemen Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dalam menghadirkan pembicara dari Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sambutan yang disampaikan oleh bapak Catur Agus Sancoko, S.Pd., M.M selaku kepala SMA Santa Ursula BSD dan ibu Febri Nila Chrisanty, SE., M.M selaku perwakilan dari Fakultas Bisnis Program Studi Manajemen Universitas Multimedia Nusantara (UMN) menjadi pembuka kegiatan seminar dan lokakarya Smart Decision, Strong Psychology. Sesi pertama dengan materi Money Management disampaikan oleh Felicia Suminto selaku pembicara dari Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Beliau menyampaikan cara menyusun anggaran, membedakan kebutuhan dengan keinginan, serta cara mencegah perilaku konsumtif. Suasana auditorium Kampus Santa Ursula BSD semakin hangat dengan persembahan penampilan murid kelas X dari kelompok band, tari tradisional, dan tari modern.
Bapak Fadly Fatah dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi pembicara pada sesi kedua. Beliau menekankan pentingnya mengendalikan emosi dan kekuatan mental (psikologi investasi) dalam menghadapi fluktuasi pasar. Murid-murid dibekali pemahaman bahwa berinvestasi bukan sekedar tren ikut-ikutan atau cara instan melipatgandakan kekayaan. Setelah selesai pemaparan materi dari kedua pembicara, kegiatan seminar dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang interaktif. Kegiatan ditutup dengan lokakarya Financial Planning di kelas masing-masing bersama tim mahasiswa dari Fakultas Bisnis Program Studi Manajemen Universitas Multimedia Nusantara (UMN) untuk mempraktikkan langsung ilmu yang telah murid dapatkan.
Semangat literasi keuangan berlanjut pada Selasa, 26 Mei 2026, dimana kegiatan PELITA UANG di SMA Santa Ursula BSD diikuti oleh 182 murid kelas X di aula SMP-SMA Santa Ursula BSD dengan tema Meningkatkan Pondasi Masa Depan Diatas Ekosistem Keuangan yang Sehat. Kepala SMA Santa Ursula BSD, bapak Catur Agus Sancoko S.Pd., M.M memberikan motivasi kepada murid kelas X pentingnya dan bagaimana berproses dalam kegiatan tersebut. Drama pendek dari tim teater murid kelas XI mengenai perilaku konsumtif menjadi pembuka kegiatan PELITA UANG hari kedua. Para murid semakin antusias dan merasa bangga ketika tiga terbaik video literasi keuangan yang berjudul Dana Darurat karya murid kelas XE, The Heist karya murid kelas XC dan Cuan Quest Simulator karya murid kelas XB mendapatkan apresiasi dengan memutarkan ketiga video tersebut dan pemberian hadiah serta piagam penghargaan kepada para pemenang oleh kepala SMA Santa Ursula BSD.
Berbeda dengan hari pertama, hari kedua dikemas dalam bentuk talkshow interaktif yang menghadirkan pembicara dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) wilayah Banten yaitu bapak Fikri Fauzan. Sebagai pembicara utama, beliau menyampaikan materi peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam melindungi konsumen serta memberikan edukasi nyata mengenai bahaya yang mengintai remaja, seperti pinjaman online (pinjol) ilegal dan judi online. Tak kalah menarik, praktisi perbankan dari Bank Banten, yaitu bapak Eman Yuniantoro juga hadir memperkenalkan produk tabungan pelajar serta layanan perbankan modern. Seluruh rangkaian acara ditutup dengan sesi refleksi dan penegasan komitmen murid untuk mulai mandiri secara finansial bersama guru pendamping di kelas.
Melalui kegiatan PELITA UANG (Pekan Literasi Keuangan), SMA Santa Ursula BSD ingin menanamkan pola pikir bahwa cerdas finansial berarti mampu mengambil keputusan keuangan yang rasional dan bertanggung jawab. Harapannya, ilmu yang didapat menjadi pedoman bagi seluruh murid dalam menghadapi tantangan ekonomi di masa kini dan yang akan datang.
Salam cerdas finansial!
Dokumentasi Oleh : Samuel Theodore Adi Prabowo X-A/32, Caroline Sekar Arum Diandra Yuwono XI-B/6, Jeany Eustolia Sitanggang XI-D/9
Teknologi kini berkembang begitu pesat dan mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia kerja. Saat AI semakin umum digunakan dan dianggap sebagai alternatif yang lebih murah dibandingkan tenaga manusia, penting bagi generasi muda untuk mengembangkan keterampilannya dan mampu menciptakan lapangan kerja baru tanpa hanya mengandalkan perusahaan besar untuk menyediakan pekerjaan.
Dengan itu, pada tanggal 5 Juni 2026 seluruh siswa kelas XI SMA Santa Ursula BSD diberikan kesempatan untuk belajar dasar-dasar kewirausahaan melalui sebuah workshop yang diselenggarakan oleh SMA Santa Ursula BSD. Dua narasumber berpengalaman diundang untuk berbagi ilmu tentang keterampilan dasar berbisnis, menambahkan pemahaman siswa mengenai dunia kewirausahaan, serta sekaligus mengubah pola pikir siswa dari sekadar “mencari kerja” menjadi “menciptakan lapangan kerja”.
Workshop ini terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama berfokus pada identifikasi dan pemecahan masalah, sementara sesi kedua mengajarkan cara menyusun business model canvas agar bisnis dapat berjalan dengan teratur dan terorganisir. Pada sesi pertama, siswa belajar tentang proses menciptakan bisnis dari sebuah masalah. Seperti yang dikatakan oleh Drucker (1986), “kewirausahaan adalah seni mengubah ide menjadi bisnis”. Untuk mendapatkan ide, kami terlebih dahulu harus menemukan suatu masalah yang ingin diselesaikan melalui bisnis kami. Maka dari itu, kami diajarkan cara mengidentifikasi masalah, memvalidasikannya dan memastikan bahwa masalah tersebut memang nyata, hingga menemukan solusi bagi masalah tersebut yang akhirnya dapat menjadi sumber pendapatan. Dengan itu, tidak hanya pemilik bisnis yang dapat meraih keuntungan, tetapi juga memberikan solusi atas masalah yang dihadapi konsumen sehari-hari untuk memudahkan hidup mereka.
Pada sesi kedua, kami membahas bagaimana peluang kreatif dapat diubah menjadi strategi bisnis yang matang. Prosesnya dimulai dari sebuah ide, yang kemudian berkembang menjadi model bisnis. Model business merupakan suatu rencana detail yang akan menjadi dasar pembangunan usaha kami. Tanpa model bisnis, kemungkinan besar bisnisnya akan kehilangan arah dan menjauh dari tujuan awal kami. Maka dari itu, sangat penting untuk menetapkan rencana, detail, dan tujuan bisnis dari awal untuk bisa membangunnya dengan efisien. Selain itu, siswa juga diajarkan cara menyusun proposal bisnis untuk menarik investor guna mengembangkan usaha mereka.
Setelah workshop berakhir, para siswa kembali ke kelas masing-masing dan membentuk kelompok-kelompok kecil. Untuk mendapatkan pengalaman praktis. Para siswa diberikan template Business Model Canvas untuk mengembangkan ide bisnis. Para siswa didorong untuk berkolaborasi, berpikir kreatif, dan menghasilkan ide-ide inovatif, tetapi tetap realistis dan merupakan solusi untuk masalah yang nyata. Melalui proyek ini, siswa dapat mengeksplorasi berbagai pilihan dan ide bisnis, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahannya, serta merencanakan langkah-langkah untuk mewujudkannya. Proses ini memungkinkan kami melihat dari sudut pandang seorang pengusaha dan memahami hal-hal apa saja yang perlu dipertimbangkan sebelum memulai usaha.
Sebelum mengikuti workshop ini, siswa sudah dikenalkan dasar-dasar kewirausahaan serta pentingnya bagi masa depan melalui pembelajaran ekonomi. Ibu saya sendiri merupakan pengusaha bisnis kecil yang menjual kebaya secara daring, dan saya sering membantunya. Dulu, saya selalu bertanya-tanya mengapa ibu saya memilih berbisnis kebaya. Bagi saya, kebaya tampak kurang diminati oleh konsumen, karena banyak orang lebih suka mengenakan pakaian modern atau trending. Namun, setelah mengikuti workshop ini, saya menyadari bahwa ibu saya sebenarnya ingin memecahkan sebuah masalah dan melihat peluang di dalamnya. Banyak orang menganggap bahwa memakai kebaya itu merepotkan dan hanya cocok untuk acara-acara khusus. Di sisi lain, ibu saya percaya bahwa kebaya justru indah dan sama menariknya dengan pakaian lainnya dan harusnya bisa dikenakan sehari-hari tanpa kesulitan. Melalui bisnisnya, ibu saya berupaya mempromosikan kebaya sebagai pakaian yang modern dan nyaman dipakai. Fakta pun menunjukkan bahwa banyak orang kini tertarik untuk mengenakan kebaya lebih sering.
Masalah lain yang dipertimbangkan ibu saya adalah sulitnya para pengrajin bordir di desa-desa kecil untuk memasarkan hasil karyanya ke konsumen di tempat lain. Ibu saya melihat peluang dan menjadikan bisnisnya sebagai jembatan atau jaringan antara para produsen di Tasikmalaya dengan konsumen di seluruh Indonesia dan bahkan hingga ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Sebelumnya, kebaya ini hanya tersedia melalui saluran distribusi terbatas, tetapi kini siapapun dapat membelinya dengan mudah melalui sentuhan layar dari mana saja di dunia.
Saya sangat bersyukur telah mengikuti workshop yang menarik dan bermanfaat ini, terutama karena ilmu yang didapat akan sangat penting untuk masa depan saya. Bahkan sekarang, saya sudah dapat menerapkan sebagian ilmu tersebut untuk membantu ibu saya mengembangkan bisnisnya. Suatu hari nanti, saya berharap tidak hanya dapat meneruskan bisnis ibu saya dan mengembangkannya lebih jauh, tetapi juga mampu menciptakan bisnis sendiri berdasarkan ide-ide pribadi dan berkontribusi dalam memecahkan masalah melalui usaha saya.
Pada tanggal 6 Juni 2026, TK A Santa Ursula BSD menggelar pementasan seni yang penuh makna dan bertajuk “Dari Rumah untuk Bumi”. Dalam acara yang dihadiri oleh orang tua siswa, anak-anak tampil memukau di atas panggung, menyampaikan pesan kepedulian terhadap bumi sejak dini. Tema “Dari Rumah untuk Bumi” dipilih sebagai pengingat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil di lingkungan terdekat.
Acara dibuka dengan penampilan paduan suara dan tari-tarian yang menggambarkan keindahan bumi serta pentingnya menjaga lingkungan. Selanjutnya, anak-anak membawakan syair yang berisi tentang indahnya ciptaan Tuhan. Pementasan ditutup dengan penampilan perkusi yang penuh semangat dan kebersamaan. Selama pertunjukan berlangsung, para orang tua tampak bahagia, bangga, dan terharu menyaksikan keberanian serta penampilan anak-anak di atas panggung. Tidak hanya menikmati pertunjukan seni, para orang tua juga ikut merasakan pesan yang disampaikan anak-anak tentang pentingnya mencintai dan menjaga bumi bersama keluarga.
Melalui pementasan ini, anak-anak mengajak seluruh keluarga dan penonton untuk membangun kebiasaan baik di rumah sebagai bentuk nyata menjaga bumi sekaligus menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.
Dalam rangka menumbuhkan kecintaan terhadap nilai-nilai Pancasila sejak usia dini, KB-TK Santa Ursula BSD menyelenggarakan Pameran Pancasila pada Sabtu, 30 Mei 2026, dengan tema “Bersatu dalam Karya dan Prestasi dengan Semangat Pancasila.” Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari ini menampilkan beragam hasil karya peserta didik yang merefleksikan pemahaman mereka tentang Pancasila dan keberagaman Indonesia. Peserta didik Kelompok Bermain (KB) menampilkan karya bertema sila pertama dan kedua, peserta didik TK A mengeksplorasi nilai-nilai sila ketiga hingga kelima, sementara peserta didik TK B memperkenalkan kekayaan budaya dari lima pulau besar di Indonesia. Pameran yang diselenggarakan di ruang kelas masing-masing ini menjadi sarana bagi anak-anak untuk belajar, berkreasi, dan mengekspresikan pemahaman mereka dengan cara yang menyenangkan.
Tidak hanya menghadirkan pameran karya, acara juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan yang melibatkan peserta didik dan masyarakat. Lomba Memindahkan Bendera dan Lomba Merangkak berlangsung penuh semangat dan keceriaan, memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk menunjukkan keberanian, ketangkasan, serta sportivitas. Suasana semakin meriah dengan penampilan paduan suara oleh peserta didik TK A yang membawakan tiga lagu serta permainan angklung dari peserta didik TK B yang menampilkan dua lagu pilihan. Melalui rangkaian kegiatan ini, KB-TK Santa Ursula BSD berharap dapat menanamkan nilai persatuan, kerja sama, dan penghargaan terhadap keberagaman, sehingga semangat Pancasila dapat tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan anak-anak sejak usia dini.
Winning and losing are both completely normal parts of life. No one can win all the time, and no one should feel ashamed for losing. What truly matters is how we respond to both situations. In my opinion, success is a gift from God, not something we are automatically guaranteed to receive. Because of that, we should stay grateful when we win and stay strong when we lose.
I learned this from my experience at the 2026 National Gymnastics Championship (Kejuaraan Nasional Senam Artistik). My team won first place in the junior team category, but I did not win anything in the uneven bar event finals. At first, I felt disappointed, but later I realized that losing can actually teach us many important lessons. When we lose, we are able to see our mistakes more clearly and understand what we need to improve in the future.
Another important thing I learned is that hard work and the process are more valuable than simply standing on the podium. During the competition, I pushed myself out of my comfort zone and gave my best effort. Even without winning every event, I was still proud of the progress I made. Losing does not mean we are weak, sometimes it is the first step toward becoming better and stronger.
At the same time, winning should never make us stop improving. Whether we succeed or fail, we should always keep our motivation and continue working hard to become the best version of ourselves. In the end, the real achievement is not only about medals or trophies, but also about growth, discipline, and never giving up.
What happens when our own dreams feel out of reach to us?
I still remember standing in the school hallway during recess. Kids were coming and going as usual. Some were joking around, some were running toward the cafeteria, and some were busy chatting with their friends. Amidst all that commotion, I was actually lost in my own thoughts. What if I’m not smart enough? What if I’ve tried my best, but still fail? At that moment, those questions felt much louder than the school bell.
This journey didn’t start with a victory. Quite the opposite. There were competitions that did not go the way I hoped. There was a scholarship I’d been looking forward to, preparing for, and praying for, but in the end, it was awarded to someone else. It felt like knocking on the same door over and over again and hearing no answer from the other side. The most exhausting part wasn’t the failure itself. The most exhausting part was having to convince myself to try again.
But that’s where I began to learn something that cannot be found in textbooks or exam papers. I learned that a person’s worth isn’t increased by a medal and isn’t diminished by a rejection. I learned that courage often looks very simple: come back, learn again, and try again.
While attending Santa Ursula BSD since kindergarten, I grew up embracing the Serviam values. These values weren’t always conveyed through formal lessons. Sometimes they came through teachers who continued to believe in me even when I doubted myself. Sometimes they came through friends who encouraged me after a disappointing result. Sometimes they came through the chance to start over.
When I received all those awards, I was certainly grateful. But what stands out most in my memory isn’t the day the results were announced. What stands out most are all the days leading up to it.
The days when I had to study even when I was tired. The days when I doubted my own abilities. The days when I failed, felt disappointed, and then slowly found a reason to get back up again.
Perhaps that is why, when I look back, I no longer think of the medals first. What I remember instead is a child who once stood in the school hallway, wondering if he was good enough. And as it turned out, he didn’t need an answer. He just needed to keep moving forward. Because in the end, light doesn’t always come from victory. Sometimes, growth does not come from winning. It comes from learning, persevering, and refusing to give up.
SD Santa Ursula BSD mempunyai kegiatan kungfu shaolin. Melalui kegiatan ini kami belajar membangun fisik dan mental. Terdapat pula kegiatan menulis rapi. Menulis rapi merupakan kegiatan yang dikembangkan di sekolah Santa Ursula BSD. Menulis bukan hanya kegiatan menggoreskan pena di atas kertas tetapi kami juga melatih konsentrasi, kesabaran, dan koordinasi gerak tangan. SD Santa Ursula BSD juga memiliki Taman IPA. Taman IPA merupakan tempat bagi kami untuk mengenal alam dan ilmu pengetahuan yang patut kami ketahui sebagai siswa SD.
Lihat Lebih Banyak