Santa Ursula BSD -

Manusia Utuh Cerdas Melayani

Santa Ursula BSD -
Manusia Utuh Cerdas Melayani

Sekilas Tentang Kampus Santa Ursula BSD

"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"

Sekilas Tentang Kampus Santa Ursula BSD

"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"

Fakta tentang Santa Ursula BSD

0+

Siswa Aktif

0+

Alumni

0+

Tahun Pengalaman

0+

Tenaga Pendidik

0+

Tenaga Kependidikan

Unit Sekolah Santa Ursula BSD

Prestasi

Berita Terbaru

News Image
HARMONIS: Hari dan Momen Bersama Sahabat Kharis

Dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi memegang peranan penting dalam membangun relasi yang harmonis antar sesama. Komunikasi yang baik berawal dari adanya empati dan solidaritas dalam diri, yang tercermin melalui cara kita berinteraksi dengan siapapun tanpa memandang perbedaan. Melalui komunikasi yang tepat, kita dapat memahami perasaan, kebutuhan, serta kondisi orang lain. Oleh karena itu, Seksi Sosial OSIS SMP 2026 merancang program HARMONIS sebagai upaya untuk menumbuhkan empati dan solidaritas dalam berkomunikasi.

HARMONIS merupakan singkatan dari “Hari dan Momen Bersama Sahabat Kharis”, sebuah program yang melibatkan perwakilan siswa-siswi SMP Santa Ursula BSD sebagai panitia. Program ini bertujuan untuk mengajak siswa belajar menerima keberagaman melalui kolaborasi dengan Rumah Belajar Kharis, yaitu komunitas bagi individu berkebutuhan khusus di Paroki Gereja Santa Monika. Selain itu, kegiatan ini juga dirancang untuk mengembangkan sikap belas kasih, kepedulian terhadap sesama, semangat berbagi, serta jiwa pelayanan dalam diri siswa.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 25 April 2026, pukul 09.00–12.30 WIB, bertempat di Hall SMP–SMA Santa Ursula BSD. Seluruh rangkaian acara disusun secara terstruktur agar berjalan lancar dan memberikan pengalaman yang bermakna bagi seluruh peserta. Acara diawali dengan kedatangan anak-anak dari Rumah Belajar Kharis sekitar pukul 10.00 WIB, yang disambut hangat oleh pembawa acara, Gloria dan Winola. Suasana kebersamaan semakin terasa melalui nyanyian lagu “Hari Ini Kurasa Bahagia” yang menciptakan atmosfer ceria dan menyenangkan.

Sebelum memasuki inti kegiatan, pembawa acara memberikan penjelasan mengenai aktivitas yang akan dilakukan, yaitu kolase daun kering dan paper quilling. Anak-anak dari Rumah Belajar Kharis dibagi ke dalam dua kelompok sesuai aktivitas. Dalam setiap kegiatan, panitia pendamping berperan aktif mendampingi, memberikan arahan sederhana, membantu secara fisik bila diperlukan, serta membangun interaksi yang hangat agar suasana tetap nyaman dan akrab. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup pada pukul 12.20 WIB oleh pembawa acara, menandai berakhirnya seluruh kegiatan dengan penuh sukacita.

Program HARMONIS memberikan dampak positif, baik bagi panitia maupun anak-anak Rumah Belajar Kharis. Para panitia merasakan kehangatan melalui interaksi langsung yang menumbuhkan empati, kesabaran, solidaritas, serta kepedulian dalam berkomunikasi. Di sisi lain, anak-anak Rumah Belajar Kharis menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam setiap kegiatan yang diikuti. Suasana kebersamaan yang penuh kebahagiaan menjadi bukti bahwa program ini berhasil mencapai tujuannya.

Bagi saya pribadi sebagai panitia, momen paling berkesan terjadi saat berinteraksi langsung dengan salah satu anak Rumah Belajar Kharis dalam kegiatan kolase daun kering. Pada awalnya, saya merasa canggung dan kesulitan untuk berkomunikasi karena belum terbiasa dengan situasi tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, interaksi yang terjalin justru menumbuhkan rasa solidaritas dan kepedulian dalam diri saya. Setiap respons yang diberikan mengajarkan saya untuk lebih sabar, peka, dan menghargai setiap bentuk komunikasi, sekecil apa pun itu. Pengalaman ini memberikan pembelajaran mendalam bahwa komunikasi tidak selalu harus sempurna, melainkan cukup dilakukan dengan ketulusan hati.

Pada akhirnya, program HARMONIS menjadi pengalaman berharga yang tidak hanya memberikan pembelajaran sosial, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kemanusiaan serta mempererat rasa solidaritas di antara para panitia. Oleh karena itu, penting untuk terus menjaga dan menghidupi nilai-nilai yang telah ditanamkan selama program ini dalam kehidupan sehari-hari. Nilai empati, kesabaran, dan kepedulian tidak seharusnya berhenti ketika program berakhir, melainkan terus diterapkan dalam berbagai situasi. Dengan demikian, makna dari program HARMONIS akan terus memberikan dampak yang berkelanjutan.

Selengkapnya
News Image
“SAHABAT”: Where Difference Becomes Harmony

Kegiatan “SAHABAT” menjadi momen penuh makna yang mempererat persahabatan antara Badan Pengurus OSIS SMP Santa Ursula BSD dan SMP Al-Izhar Pondok Labu. Pertemuan pertama dilaksanakan pada Kamis, 12 Februari 2026, di kampus Santa Ursula BSD. Seluruh peserta disambut dengan hangat melalui sesi perkenalan, sambutan dari kepala sekolah dan guru pendamping, serta presentasi mengenai program cinta lingkungan seperti pengomposan, pemilahan sampah, dan hidroponik. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi para siswa untuk saling mengenal sekaligus belajar mengenai pentingnya menjaga lingkungan hidup.

Setelah sesi presentasi dan tur kampus, para peserta mengikuti berbagai kegiatan dinamika kelompok di auditorium. Melalui permainan edukatif dan aktivitas lingkungan, para anggota OSIS dari kedua sekolah belajar membangun kerja sama, komunikasi, dan rasa kebersamaan. Suasana kegiatan berlangsung meriah dan penuh semangat, disertai canda tawa yang semakin mencairkan suasana. Kegiatan dilanjutkan dengan makan siang bersama yang menjadi kesempatan untuk berbagi cerita dan pengalaman antarsiswa. Pertemuan ini menjadi awal terjalinnya relasi yang hangat dan penuh persahabatan antara kedua sekolah.

Sebagai kunjungan balasan, pada Jumat, 13 Maret 2026, Badan Pengurus OSIS SMP Santa Ursula BSD berkunjung ke SMP Al-Izhar Pondok Labu. Kedatangan rombongan disambut dengan penuh keramahan dan antusiasme. Para peserta diajak berkeliling sekolah untuk mengenal lingkungan serta fasilitas yang dimiliki SMP Al-Izhar Pondok Labu. Selain memperluas wawasan, kegiatan ini juga menumbuhkan rasa saling menghargai terhadap budaya dan lingkungan sekolah yang berbeda.

Dalam kunjungan tersebut, para peserta mengikuti diskusi kelompok untuk merancang berbagai ide kolaborasi yang dapat dilakukan di masa mendatang. Selain itu, terdapat kegiatan kreatif berupa eco print pada tote bag menggunakan bahan-bahan alami seperti daun dan bunga. Kegiatan ini mengajarkan kreativitas sekaligus kepedulian terhadap lingkungan. Para siswa juga membuat parsel berisi sembako yang kemudian diberikan kepada para karyawan sekolah sebagai bentuk kepedulian dan semangat berbagi kepada sesama.

Rangkaian kegiatan “SAHABAT” ditutup dengan buka puasa bersama yang mencerminkan nilai toleransi, penghargaan, dan kebersamaan di tengah keberagaman latar belakang. Melalui kegiatan ini, para siswa tidak hanya memperoleh pengalaman baru, tetapi juga membangun persahabatan yang hangat, saling mendukung, dan inspiratif. Diharapkan kolaborasi antara SMP Santa Ursula BSD dan SMP Al-Izhar Pondok Labu dapat terus berlanjut melalui berbagai kegiatan positif di masa mendatang, sehingga semangat persahabatan dan kerja sama semakin erat terjalin.

Selengkapnya
News Image
From Classroom to Stage: Turning Learning into Performance

What started as a simple classroom assignment gradually turned into a full musical production.  As part of our 11th grade English literature project, group 2 of class XI A presented a drama adapted from the movie The Little Mermaid, combining acting, singing, and choreography into one performance.  This activity is aimed to help us understand better about storytelling while also building creativity, imagination, and confidence.

Our performance was not just an ordinary drama, it was a musical adaptation from one of the famous Disney movies.  Beyond acting, we incorporated singing and choreography to bring the story to life in a more dynamic and engaging way. Transforming a well-known story into a live drama that pushed us to think creatively and step out of our comfort zones, especially for those who were not used to performing on stage.

The performance took place in a classroom and it was attended by our fellow students. Each class was divided into two groups and we had the chance to watch each other’s performances.  This created a supportive yet exciting atmosphere, as we were not only performers but also an appreciative audience for our friends. The final performance for our group was held on 24 April 2026.

Each group consisted of around 13–14 members, making up about half of the class.  Every member played an important role, from acting and singing, handling costume and make up, designing a poster, producing a trailer, creating music illustrations, to preparing props and organizing scenes.  In my group, I took on the role of being a director in which I helped guide and direct the team throughout the preparation and on the performance, bring ideas together, and ensure that the performance ran smoothly.

The journey toward the final performance was far from easy.  We spent a significant amount of time on scriptwriting, carefully adapting the original story into a version suitable for a small drama.  At the same time, we worked on creating props, organizing costumes, and planning stage movements or blocking.  Some of the props were handmade using simple materials which made the process more creative and resourceful.  Some others were big and heavy duty props which took us a long time to finish.  Since our drama included musical elements, we also had to practice singing and choreography which required extra coordination and effort. 

Rehearsals became a crucial part of our preparation. We practiced repeatedly to refine our acting, synchronize our singing, and perfect our choreography.  In addition, we had to practice on how the lighting turned out, where to put the props, paying attention to important aspects of each scene, and the little details to make the drama alive.  There were moments of difficulty in managing time, aligning everyone’s schedules, and maintaining consistency.  However, these challenges ultimately strengthened our teamwork and commitment.

After weeks of preparation, the day of the performance finally arrived.  Our musical drama ran for approximately 41 minutes.  Seeing everything come together on stage was incredibly rewarding.  The combination of handmade props, coordinated movements, and musical elements brought the story to life in a way that exceeded our expectations. 

“This musical was challenging but it helped us become more confident and work better as a team,” said one of the students who participated in the performance.

Looking back, directing this musical drama was far more than just completing a school assignment.  It was an unforgettable journey which brought our creativity and teamwork to life. Through this experience, we not only deepened our understanding of English literature but also developed valuable skills such as leadership, collaboration, discipline, and perseverance. 

Experiences like this show that learning can go beyond the classroom, becoming both meaningful and inspiring.  It also showed us that with enough effort and cooperation, we are capable of creating something we can truly be proud of.

Selengkapnya
News Image
PENDIDIK ADAPTIF YANG KUAT DALAM NILAI DAN LENTUR DALAM CARA Buah permenungan pendidik untuk terus bertumbuh dengan semangat Serviam

Pagi itu, kaki ini melangkah dengan penuh semangat menuju kelas. Doa pagi dan nyanyian Indonesia Raya memberikan energi positif dan optimisme diri untuk terus bertumbuh. Berdiri di depan kelas dan mendengarkan salam dari murid, sejenak memberikan kesadaran bahwa segala sesuatu dalam ruang kelas ini terus berubah. Murid yang duduk di depan saya bukan lagi generasi yang sama dengan murid yang saya didik lima atau sepuluh tahun yang lalu. Mereka hadir ke sekolah dengan cara berpikir yang berbeda, dengan pertanyaan-pertanyaan kritis yang melampaui batas buku teks, dan dengan kebutuhan yang jauh lebih kompleks dari sekadar nilai akademis.

Teringat kembali akan ajaran Ki Hajar Dewantara sebagai bapak Pendidikan Nasional, meskipun pemikiran tersebut lahir lebih dari satu abad yang lalu, tetapi ajarannya tetap hidup dan terasa sangat relevan di tengah cepatnya perubahan zaman. Beliau mengajarkan bagaimana menjadi pendidik yang mampu hadir sepenuhnya dan terus bertumbuh bersama murid. SMA Santa Ursula BSD memegang teguh visi manusia utuh, cerdas, dan melayani. Visi tersebut memanggil setiap pendidik lebih dari sekedar menyampaikan materi. Nilai Serviam menjadi roh yang menghidupi setiap langkah dalam mendidik murid. Melayani murid dengan sungguh-sungguh berarti bersedia untuk terus belajar, terus bertumbuh, dan menjadi pendidik yang adaptif. Nilai Serviam merupakan perwujudan nyata dari inti filosofi Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang berhamba pada murid, bahwa seorang pendidik harus memandang murid dengan rasa hormat dan memfasilitasi tumbuh kembang mereka menjadi manusia utuh, yang cerdas secara akal dan kaya secara jiwa. 

Tiga semboyan Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani menjadi peta perjalanan pendidik yang adaptif. Ing ngarso sung tulodo bermakna pendidik berada di depan mampu memberikan keteladanan. Langkah awal seorang pendidik yang adaptif harus berani menjadi contoh dalam hal keterbukaan terhadap perubahan. Ketika saya bersedia belajar platform digital baru, ketika saya berani mengakui kemampuan teknologi murid yang lebih baik dari saya, dan ketika saya berani menerapkan metode pembelajaran yang belum pernah digunakan, disitulah saya sedang memberikan keteladanan. Ing madyo mangun karso bermakna pendidik berada di tengah mampu membangun kehendak. Peran pendidik sebagai fasilitator semakin nyata, pendidik yang adaptif tidak berdiri di depan murid sebagai pemegang tunggal kebenaran, ia duduk bersama murid, mengajukan pertanyaan yang memantik, menciptakan ruang aman dimana murid berani mengeksplorasi ide-ide mereka. Tut wuri handayani bermakna pendidik dari belakang mampu memberikan dorongan. Pendidik yang adaptif tahu kapan harus melangkah maju, kapan berdiri sejajar, dan kapan mundur untuk memberi ruang. Ketiga semboyan tersebut mampu menjadi fondasi yang kuat dalam mengembangkan pribadi murid yang cerdas, utuh, dan memiliki semangat Serviam. 

Sistem among Ki Hajar Dewantara menjadi fondasi peran pendidik sebagai agen perubahan. Dalam sistem ini, murid dipandang sebagai subyek yang memiliki kodrat dan potensi unik yang perlu dirawat dan dikembangkan. Menjadi agen perubahan bukan berarti memaksakan perubahan atas murid, tetapi mampu menciptakan kondisi dimana murid sendiri mampu menemukan alasan dan dorongan untuk bertumbuh. 

Seorang pendidik juga perlu dirawat, bahwa pendidik tidak bisa terus memberi jika dirinya sendiri kosong. Refleksi menjadi salah satu cara penting untuk merawat diri pendidik. Dalam setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap semester, pendidik perlu berhenti sejenak dan bertanya, apakah saya masih tumbuh? Apakah cara mengajar saya masih relevan dengan kebutuhan murid? Pada bagian mana saya perlu belajar lebih atau perlu melepaskan cara lama yang tidak lagi efektif? Refleksi bukanlah kelemahan, tetapi menjadi sumber kekuatan pendidik.

Kini kelas yang berubah bukan lagi ancaman, ini adalah undangan untuk terus belajar bersama murid, untuk terus tumbuh, dan untuk terus menjadi lebih baik dari versi pendidik yang lalu. Filosofi Ki Hajar Dewantara dan nilai serviam berpadu dalam perjalanan diri pendidik. Keduanya mampu membangun satu kesadaran bahwa mendidik adalah panggilan untuk hadir sepenuhnya sambil terus merawat dan mengembangkan diri. Pendidik yang adaptif bukan pendidik yang terbawa arus tanpa arah, ia adalah pendidik yang berakar kuat dalam nilai-nilai luhur, tetapi cukup lentur untuk menemukan cara-cara baru dalam mewujudkan nilai-nilai tersebut. Pendidik adalah agen perubahan, bukan karena mampu merubah murid, tetapi karena ia mampu menemami murid menemukan potensi terbaik dalam diri mereka. Serviam, aku melayani menjadi kompas setiap kali masuk ke dalam kelas untuk mewujudkan pendidikan yang memerdekakan selaras dengan cita-cita yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara.

 

Dokumentasi: Brian dan Aldric XI-C

Selengkapnya
News Image
Semangat Kartini: Enam Nilai dalam Aksi

    Dalam rangka memperingati Hari Kartini, SD Santa Ursula BSD mengadakan perayaan sederhana tetapi sarat makna. Kali ini tema yang diusung adalah “Dengan Semangat Kartini Kita Berani, Mandiri, dan Berdaya Juang.

    Acara diawali dengan pelaksanaan upacara yang berlangsung dengan khidmat. Dalam amanatnya, Ibu Sriningsih Indriyani Siahaan selaku pembina upacara mengajak siswa untuk menghidupi nilai-nilai dasar Ursulin yaitu Cinta dan Belas Kasih, Integritas, Keberanian & Ketangguhan, Semangat Persatuan (Insieme), Totalitas, dan Pelayanan melalui teladan RA Kartini.

    Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan perayaan singkat. Sambutan disampaikan oleh Ibu Dominika Eni Widiyastuti selaku kepala sekolah yang berisi ajakan kepada seluruh siswa untuk mewarisi semangat Kartini dengan cara berani belajar, mandiri dalam bertindak, serta tidak mudah menyerah dalam meraih cita-cita.

    Kegiatan berikutnya adalah penampilan perwakilan dari siswa kelas 3 yang memperkenalkan sosok Kartini dan perjuangannya dalam memperjuangkan hak pendidikan untuk kaum wanita.

    Acara semakin meriah dengan penampilan fashion show baju daerah yang diikuti oleh perwakilan siswa dari kelas 1 sampai dengan kelas 6. Kegiatan ini tidak hanya menampilkan keindahan ragam budaya Indonesia, tetapi juga menumbuhkan rasa berani, percaya diri, dan ketangguhan siswa saat tampil serta menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya bangsa.

    Selanjutnya, untuk menunjukkan semangat persatuan dengan kekompakan, kreativitas, kerja sama, serta kecintaan siswa terhadap warisan budaya Nusantara, seluruh siswa menampilkan medley enam lagu daerah yang dinyanyikan per paralel. Kelas 1 membawakan lagu “Padang Bulan”. Kelas 2 menyanyikan lagu “Ampar-ampar Pisang”. Kelas 3 menyanyikan lagu “Si Patokaan”. Lagu “Ayam Den Lapeh” dibawakan oleh siswa kelas 4, sedangkan kelas 5 menyanyikan lagu “Alusi Au”. Lagu “Rek Ayo Rek” dinyanyikan oleh siswa kelas 6.

    Melalui perayaan ini siswa mampu menunjukkan nilai cinta dan belas kasih melalui sikap saling mendukung dan menghargai. Mereka bertanggung jawab dengan peran mereka masing-masing. Nilai totalitas tampak saat mereka memberikan penampilan yang terbaik. Mereka juga mau melayani melalui keterlibatan dalam menyukseskan acara. 

    Perayaan ini mungkin sederhana, tetapi maknanya luar biasa. Bersama semangat RA Kartini, enam nilai: Cinta dan Belas Kasih, Integritas, Keberanian & Ketangguhan, Semangat Persatuan (Insieme), Totalitas, dan Pelayanan bukan sekadar kata, melainkan aksi nyata-hari ini, esok, dan selamanya.

Selengkapnya
News Image
Pengenalan Profesi Penjual Jamu di KB-TK Santa Ursula BSD

Bulan April ini merupakan bulan yang cukup spesial bagi KB-TK Santa Ursula BSD. Setelah perayaan Hari Kartini kemarin, kali ini kami juga kedatangan tamu spesial yang masih kental kaitannya dengan adat dan budaya Indonesia, terutama tanah Jawa, yaitu penjual jamu. 

Secara keseluruhan, acara berlangsung dengan sangat lancar. Kegiatan dibuka dengan sapaan hangat dari narasumber yang kemudian diikuti dengan penjelasan singkat mengenai asal-usul minuman jamu yang sudah ada sejak zaman kesultanan. Anak-anak juga mendapatkan informasi visual mengenai penampilan serta peralatan yang dibawa oleh penjual jamu serta kegunaannya. Acara kemudian diikuti dengan segmen pengenalan rempah-rempah yang digunakan untuk membuat jamu. Pada segmen ini anak-anak diberi kesempatan untuk berpartisipasi aktif dan maju ke depan untuk mencoba membedakan bentuk dan wangi dari berbagai rempah yang umumnya digunakan untuk membuat jamu. Setelah itu seluruh anak mendapatkan sampel kecil dari jamu kunyit asam dan kembali ke kelas untuk mencoba jamu beras kencur bersama teman-temannya.

Di masa modern yang semakin maju ini, menjaga tradisi dan budaya nusantara menjadi penting untuk mengingatkan kita akan warisan nenek moyang terdahulu. Salah satunya tampak dalam bentuk makanan dan minuman tradisional yang terkenal akan manfaatnya dalam menjaga kesehatan. Dalam hal ini, KB-TK Santa Ursula menggunakan kesempatan perkenalan profesi penjual jamu untuk mengenalkan sejarah, proses, dan manfaat jamu kepada anak-anak usia dini.

Kami harap melalui kegiatan ini anak-anak menjadi kenal dengan keberadaan jamu. Mulai dari latar belakangnya, bahan-bahan yang digunakan, sampai dengan penampilan penjualnya yang semakin sulit ditemukan saat ini. Semoga pengalaman ini juga menumbuhkan rasa keberanian anak-anak untuk mencoba hal-hal baru terutama makanan serta minuman tradisional Indonesia yang masih belum dikenalkan sebelumnya. Terakhir, kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Jamu Mbak Suni selaku narasumber pada acara ini, atas presentasi dan penyampaian yang sangat menarik dan interaktif sehingga anak-anak dapat memperoleh pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan.

 

Selengkapnya

Mengapa Santa Ursula BSD ?

Keira Halim
Siswa SD kelas V

SD Santa Ursula BSD mempunyai kegiatan kungfu shaolin. Melalui kegiatan ini kami belajar membangun fisik dan mental. Terdapat pula kegiatan menulis rapi. Menulis rapi merupakan kegiatan yang dikembangkan di sekolah Santa Ursula BSD. Menulis bukan hanya kegiatan menggoreskan pena di atas kertas tetapi kami juga melatih konsentrasi, kesabaran, dan koordinasi gerak tangan. SD Santa Ursula BSD juga memiliki Taman IPA. Taman IPA merupakan tempat bagi kami untuk mengenal alam dan ilmu pengetahuan yang patut kami ketahui sebagai siswa SD.

Lihat Lebih Banyak