



"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"
"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"
Siswa Aktif
Alumni
Tahun Pengalaman
Tenaga Pendidik
Tenaga Kependidikan
"Cintailah semua putri Anda tanpa pilih kasih karena mereka semuanya Anak Allah dan Anda tidak tahu apa yang Dia rencanakan bagi mereka semua"
(Nas. VIII: 1-2)
"Andaikan pada suatu saat karena alasan yang kuat Anda tidak setuju dengan mereka atau menentang pendapat mereka, maka berterus teranglah, dengan berani dan penuh hormat. Apabila mereka tidak mendengarkan Anda, terimalah hal itu dengan sabar"
(Nas. III: 6-7)
"Jika karena perubahan zaman dan keadaan perlu untuk membuat peraturan baru atau untuk merubah sesuatu, lakukan hal itu dengan kebijaksanaan setelah mendengar nasehat yang baik"
(WT: 2)
"Hiduplah dalam keserasian, bersatu, sehati sekehendak, terikat satu sama lain dengan cinta kasih, saling menghargai, saling membantu, saling bersabar dalam Yesus Kristus"
(Nas.T. 2)
"Apa yang Anda ingin mereka lakukan, lakukanlah sendiri itu lebih dahulu. Bagaimana Anda bisa mencela atau menegur kekurangan mereka apabila mereka melihat kekurangan itu masih ada dalam diri Anda sendiri"
(Nas. VI: 2-3)
Cantik.....ganteng ....lucu sekaligus menggemaskan ....itulah kesan pertama ketika menggambarkan suasana di hari Senin, 20 April 2026 di lingkungan KB-TK Santa Ursula BSD. Dalam rangka hari Kartini tahun 2026, mereka datang ke sekolah dengan mengenakan baju dari berbagai daerah di Indonesia dengan bahagia.
Pada perayaan hari Kartini tahun ini mereka tidak hanya memakai baju daerah saja tetapi ada kegiatan yang lain yang mereka lakukan. Untuk KB ada kegiatan mewarnai gambar orang memakai baju adat, untuk TK A menempel potongan kertas batik pada pola baju, dan TK B membuat kain jumputan.
Tak lupa kami juga melaksanakan parade pakaian daerah mengelilingi Kampus Santa Ursula BSD. Setelah itu, kami menyaksikan Ibu Restu guru kami menari “Gambyong” yang merupakan salah satu tarian daerah di Indonesia khususnya Jawa Tengah. Semua kegiatan ini dilakukan dengan penuh kegembiraan.
Tujuan dari berbagai kegiatan KB-TK di atas adalah untuk mengenang perjuangan Ibu Kartini dalam memajukan pendidikan di Indonesia terlebih untuk anak perempuan. Semoga perayaan hari Kartini tahun ini terus memberikan semangat anak-anak untuk terus berjuang dan belajar menggapai cita-cita mereka.
"Wahai ibu kita Kartini puteri yang mulia, sungguh besar cita-citanya bagi Indonesia....."
Pada tanggal 10 April 2026, KB-TK Santa Ursula BSD dan Puskesmas Rawa Buntu melaksanakan kegiatan pemberian imunisasi campak bagi para siswa KB, TK A, dan TK B.
Kegiatan tersebut dilakukan berdasarkan surat edaran dinas kesehatan kota Tangerang Selatan nomor 400.7.7.2/0406/P2P tentang pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) Campak di kota Tangerang Selatan. Imunisasi campak ini dilakukan sebagai upaya pencegahan penyakit campak pada anak usia dini dan juga meningkatkan kekebalan tubuh anak terhadap penyakit campak.
Sebelum pelaksanaan imunisasi, sekolah terlebih dahulu membuka pendaftaran bagi para orang tua yang ingin mengikuti program imunisasi ini melalui gform. Di hari pelaksanaan, para orang tua yang mendaftarkan anaknya, wajib mendampingi putra/i-nya selama proses penyuntikan vaksin. Pendampingan dapat dilakukan oleh orang tua atau pendamping yang ditunjuk oleh orang tua siswa. Sekolah juga meminta bantuan salah satu orang tua siswa yang berprofesi sebagai dokter untuk membantu dalam kegiatan imunisasi tersebut.
Suasana sekolah saat kegiatan imunisasi ini sungguh ramai. Berbagai macam ekspresi terlihat pada wajah anak-anak. Beberapa siswa terlihat takut namun berani disuntik, ada juga siswa yang takut dan menolak disuntik, dan ada juga yang terlihat biasa saja dan tidak menangis saat disuntik. Secara keseluruhan, pemberian imunisasi campak ini berjalan lancar dan hampir semua siswa yang mendaftar mendapatkan imunisasi.
Sabtu, 18 April 2026 pukul 07.30-09.00 WIB menjadi hari yang penuh makna di Aula SMP-SMA Kampus Santa Ursula BSD. Kegiatan parenting pada semester 2 ini bertajuk “Healing Through Play” , menghadirkan suasana hangat yang mempertemukan para orang tua siswa/i KB dan TK A dalam sebuah ruang belajar bersama tentang tumbuh kembang anak.
Acara parenting kali ini dibawakan oleh Ibu Melly, S.Psi., Psikolog, seorang praktisi yang berpengalaman sebagai terapis anak dan dewasa di BSD City. Beliau merupakan lulusan Psikologi Universitas Atma Jaya dan melanjutkan pendidikan profesi di institusi yang sama. Selain itu, Ibu Melly juga pernah berperan sebagai asesor di beberapa lembaga psikologi. Pengalaman profesionalnya semakin kaya dengan kisah pribadinya sebagai seorang ibu—yang menghadapi tantangan tumbuh kembang pada anak pertama serta pergulatan emosi pada anak kedua. Dari pengalaman tersebut, beliau menemukan bahwa terapi bermain (play therapy) menjadi salah satu pendekatan efektif dalam membantu anak membangun rasa aman, menumbuhkan inisiatif, serta memulihkan luka emosional.
Untuk mengawali pemaparannya, dengan sebuah pertanyaan sederhana namun bermakna. Ibu Melly menanyakan tentang “Apa sih manfaat bermain bagi seorang anak?” Pertanyaan ini langsung mengundang partisipasi para orang tua. Berbagai jawaban pun muncul. Salah satu dari orang tua yang hadir menyampaikan bahwa bermain dapat mempertajam kemampuan motorik anak, melatih sosialisasi, mengembangkan kemampuan problem solving, serta meningkatkan kreativitas dan imajinasi. Selain itu, bermain juga dipandang sebagai sarana hiburan sekaligus cara untuk mempererat hubungan antara orang tua dan anak.
Menanggapi hal tersebut, Ibu Melly menegaskan bahwa bermain memiliki makna yang jauh lebih dalam. Menurut beliau, bermain adalah bahasa anak—cara mereka berkomunikasi, mengekspresikan perasaan, dan memahami dunia di sekitarnya. Melalui bermain, anak tidak hanya berkembang secara kognitif, tetapi juga secara fisik, emosional, dan sosial.
Berangkat dari pengalaman pribadi sebagai seorang ibu yang menghadapi tantangan tumbuh kembang dan emosi pada anak-anaknya, Ibu Melly menemukan media yang dapat digunakan dan mudah dijumpai untuk melakukan kegiatan terapi bermain (play therapy) seperti miniatur superhero, pasir, boneka, cerita atau dongeng, kegiatan seni, rumah boneka dengan figur keluarga, serta musik, anak dapat menyalurkan emosi dan memproses pengalaman mereka dengan cara yang aman dan menyenangkan.
Melalui kegiatan ini, para orang tua tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga refleksi mendalam tentang peran mereka dalam mendampingi anak. Healing Through Play mengingatkan bahwa proses penyembuhan dan pertumbuhan anak seringkali dimulai dari hal sederhana: bermain bersama dengan penuh kehadiran, empati, dan cinta. Kegiatan parenting ini pun ditutup dengan suasana penuh kehangatan, membawa harapan baru bagi setiap orang tua untuk terus belajar, bertumbuh, dan mendampingi anak-anak mereka dengan cara yang lebih sadar dan penuh makna.
Kegiatan mendongeng tentang pertobatan ekologis menjadi salah satu upaya kreatif sekolah dalam menanamkan kepedulian lingkungan sejak usia dini. Dalam kegiatan ini, beberapa orang tua dari Kelompok Bermain berpartisipasi dengan membawakan cerita sederhana yang dekat dengan keseharian anak-anak KB-TK. Melalui tokoh-tokoh yang menarik dan alur cerita yang mudah dipahami, anak-anak diajak mengenal pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, terutama dengan tidak membuang sampah sembarangan.
Cerita yang disampaikan menekankan bahwa setiap tindakan kecil memiliki dampak besar bagi lingkungan. Anak-anak diajak memahami bahwa membuang sampah pada tempatnya bukan hanya aturan, tetapi bentuk kasih sayang terhadap bumi. Dengan pendekatan yang menyenangkan, seperti dialog interaktif dan ekspresi yang hidup, kegiatan mendongeng ini mampu menarik perhatian anak-anak sekaligus menanamkan nilai tanggung jawab secara alami.
Melalui kolaborasi antara sekolah dan orang tua, kegiatan ini diharapkan dapat membentuk kebiasaan baik yang berkelanjutan. Pertobatan ekologis tidak hanya menjadi tema cerita, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam kehidupan sehari-hari anak-anak. Dengan demikian, sejak dini mereka belajar menjadi pribadi yang peduli, disiplin, dan berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Raden Ajeng Kartini dilahirkan di Jepara tanggal 21 April tahun 1879. Dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang berisi kumpulan surat R.A. Kartini diceritakan bahwa pandangan Kartini yang progresif mengalir dari Kakeknya, Bupati Demak Pangeran Tjondronegoro IV dan ayahnya, Bupati Jepara Raden Mas Adipati Aryo Sosroningrat. Kepada Nona E.H. Zeehandelaar, Kartini menceritakan bahwa Pangeran Ario Tjondronegoro IV sangat menyukai kemajuan dan merupakan Bupati Jawa Tengah pertama yang membuka peradaban barat untuk keluarganya melalui pendidikan Eropa (Kartini, 2011: 8). Kartini meninggal di usia muda, tepatnya pada tahun 1904 dan dimakamkan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pada tahun 1964 Presiden Sukarno menetapkan Kartini sebagai pahlawan nasional.
Kartini adalah konseptor dalam sejarah Indonesia modern yang lahir di saat kolonialisme, feodalisme, dan patriarki mengakar kuat di Hindia Belanda. Kartini menyadari kondisi kaum perempuan sebagaimana dikatakan dalam suratnya kepada Nona E.H. Zeehandelaar. Perempuan Jawa pada usia 12 tahun dikurung di rumah dan terasing dari dunia luar karena tradisi pingitan. Ia tidak tuli dan tidak buta tentang belenggu adat tersebut. Dalam pandangan Kartini, perubahan itu baru akan terjadi 3-4 keturunan sesudah generasinya (Kartini, 2011: 7-9). Lewat buku Panggil Aku Kartini Saja, karya Pramoedya Ananta Toer dan Kartini. Sebuah Biografi, karya Sitisoemandari Soeroto terlihat jelas bahwa Kartini merepresentasikan kaum perempuan yang lebih dahulu ‘bangun’ untuk memperbaiki keadaan melalui pendidikan, sehingga ia disebut sebagai ibu nasionalisme (Soeroto, 1983: 438)
Apakah hari Kartini hanya sebatas ritual kebaya dan sanggul semata? Tentu tidak! Justru pemikiran Kartini hendaknya direnungkan karena ia menyelami kehidupan secara kritis dari akar permasalahan bangsa. Salah satu suratnya kepada Nyonya Abendanon sebagaimana terdapat dalam buku Surat-Surat Kepada Ny. R.M. Abendanon Mandri dan Suaminya mengulas kritik Kartini terhadap praktik patriarki (poligami) yang telah hidup dalam masyarakat karena dilindungi ajaran Islam dan kebodohan perempuan (Sutrisno, 1989: 10-11). Dalam pandangan sejarawan Hilmar Farid lewat artikelnya di Tempo, Kartini dan Ruang Dalam Bangsa, Kartini adalah pemikir dan aktivis peletak dasar emansipasi wanita. Ia menyuarakan arti penting pendidikan bagi anak agar tidak lagi dianggap persoalan sekunder (Farid, 2013: 86-87).
Pendukung Jalannya Peradaban
Melalui surat-suratnya yang diterjemahkan Sulastin Sutrisno, Kartini bersuara tentang pendidikan sebagai kehormatan bagi manusia. Melalui proses yang luhur, seorang pendidik secara moral berkewajiban membina watak yang lebih penting daripada hanya mengejar ilmu (Sutrisno, 1989: 73). Pengetahuan bukanlah akhir dari pendidikan, karena yang terutama dari pendidikan adalah memberikan keluhuran watak agar bermanfaat bagi kemajuan derajat manusia. Aspek kemanusiaan dalam pandangan Kartini mendapatkan tempat lebih tinggi di atas kecerdasan pengetahuan semata.
Kartini memperjuangkan pendidikan yang awal mulanya ditujukan kepada kaum perempuan. Mengapa? Karena perempuan sebagai pendukung jalannya peradaban. Para ibu secara alamiah dititahkan sebagai pendidik dan pembimbing utama nilai-nilai kesusilaan. Di pangkuan ibu, anak mulai belajar merasakan, berbicara, berfikir, dan pendidikan waktu kecil besar pengaruhnya bagi perkembangan hidup selanjutnya (Sutrisno, 1989: 74). Peran keluarga dalam proses pembentukan karakter sangat fundamental, baik sebagai tempat anak belajar pertama kali dan mencari figur keteladanan. Bagaimana ibu dapat mendidik anaknya kalau mereka sendiri tidak terdidik? Bangsa kita tidak dapat maju, kalau kaum perempuan tidak diikutsertakan dalam usaha pembudayaan bangsa. Mengutip pendapat sejarawan dan sekaligus pendiri penerbitan Komunitas Bambu JJ Rizal dalam majaah Tempo, Kartini telah meletakkan titik persoalan yang menjadi semacam api atau obor untuk diteruskan para generasi berikutnya (Rizal, 2013: 96-97).
Penulis melihat ada relevansi pemikiran Kartini dengan pandangan Driyarkara, bahwa pendidikan adalah proses pembudayaan atau pemanusiaan manusia muda. Peran serta ibu sangatlah besar sehingga perlu memberikan bekal bagi remaja puteri tentang pengetahuan dan keterampilan hidup yang kelak memberikan manfaat ketika mereka menjadi seorang ibu.
Bagaimana dengan laki-laki? Untuk kemajuan bersama kaum laki-laki juga harus dididik dalam hal tata kesusilaan, sehingga tumbuh sikap menghargai terhadap kaum perempuan, sama seperti menghargai ibunya. Jangan membiasakan anak kecil minta dihormati, tetapi biasakan terlebih dahulu untuk menghormati orang lain (Soeroto, 1983: 74&297). Pendidikan seperti ini harus ditanamkan sejak usia dini dan terasa sangat relevan hingga hari ini. Kasus-kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, termasuk lembaga pendidikan berbasis agama menunjukkan masih sangat kuatnya budaya patriarki.
Pemikiran Kartini melampaui zamannya karena kaum bangsawan di saat Kartini hidup justru sangat nyaman dengan kedudukannya. Bagi Kartini, semakin tinggi derajat seseorang, justru semakin besar tanggung jawabnya. Kebangsawanan seseorang bukan untuk disembah-sembah dan yang terpenting dalam pandangan Kartini adalah kebangsawanan hati nurani yang turut memikul tanggung jawab terhadap rakyatnya.
Tentu kita prihatin ketika banyak orang begitu cemerlang secara akademis, tetapi tidak memiliki kepekaan sosial untuk melihat ke bawah yang justru sangat membutuhkan dorongan kemajuan. Politisi-politisi muda sebagai penyelenggara negara justru tersandera kasus korupsi.
Keluarga adalah lingkungan pertama untuk membangun intelektualitas. Kartini belajar dari sang ayah dan kakaknya R. M. Sosrokartono yang tercatat sebagai mahasiswa pribumi pertama yang studi di negeri Belanda. Pandangan ayahnya cukup progresif dalam mendidik Kartini, meski adat tetap dilaksanakan agar tidak dipandang terlalu menyimpang dari tradisi. Dari mereka, Kartini belajar tentang sejarah negerinya dan pemikiran barat yang menumbuhkan semangat untuk memperjuangkan derajat bangsa, meski saat itu istilah Indonesia belum dikenal.
Ayahnya telah membimbing watak Kartini dan adik-adiknya dengan mendekatkan mereka pada realita kehidupan rakyat di luar tembok kabupaten. Setelah dipingit di masa remaja, Kartini dan adik-adiknya diberikan kesempatan untuk blusukan hingga lahir perhatian yang besar terhadap kemajuan kesenian rakyat khas Kabupaten Jepara (Soeroto, 1983: 106). Ini adalah proses pendidikan humaniora dan tentu sangat relevan bila orang tua dan sekolah mengangkat cita rasa berkesenian untuk merawat identitas budaya bangsa agar tidak tercabut dari akarnya. Bangsa mancanegara yang menempuh studi di Indonesia banyak yang mendalami mengapa kita justru meninggalkannya?
Bersahabat Dengan Buku
Media pembelajaran apa yang turut membentuk sikap kritis Kartini? Sejak kecil Kartini memiliki hasrat yang tinggi terhadap pengetahuan. Kedekatannya dengan buku, majalah, dan ketekunan mempelajari bahasa Belanda membuat Kartini terampil membaca dan menulis sehingga tampil sebagai pribadi yang kritis dan ekspresif. Bagi Kartini, menulis adalah panggilan sosial dan sikap kritisnya tercermin dari gugatan terhadap adat yang membawa keterbelakangan perempuan. Sejak usia 16 tahun, ia menyukai dan telah membaca novel Max Havelaar, karangan Multatuli yang memberi pandangan kritis terhadap dampak kolonialisme Belanda di tanah Jawa (Toer, 2003: 158-159). Ia didukung oleh sang ayah dengan mengirimkan artikel yang ditulis Kartini tentang Perkawinan Masyarakat Koja di Jepara sebagai artikel pertamanya yang dimuat dalam surat kabar di negeri Belanda.
Mengapa minat membaca anak sebagai kebutuhan semakin terkikis dewasa ini? Padahal buku dan menulis dapat melatih imajinasi, membangun idealisme, estetika, ketenangan, dan kesabaran. Membaca dan menulis adalah bagian pendidikan humaniora. Bersahabat dengan buku hendaknya dibiasakan sejak usia dini sehingga menghidupkan tradisi literasi di dalam keluarga adalah kemajuan yang luar biasa. Kisah di atas menunjukkan bahwa pandangan kemajuan Kartini merupakan warisan budaya literasi dari orang tuanya.
Pemikiran Kartini tentang pendidikan mengingatkan kita bahwa keluarga adalah landasan pembentukan karakter anak dan sejumlah persoalan anak dewasa ini tidak terlepas dari ketegangan yang terjadi di dalam lingkungan terdekatnya. Keluarga dan sekolah harus semakin bersinergi dalam mempersiapkan mereka di tengah situasi global. Lingkungan yang mengasuh memberikan pengaruh yang sangat besar bagi anak didik kita untuk tumbuh dan berkembang selaras dengan kebutuhan jaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur budaya.
Semoga kita semakin bijak dalam merawat kisah atau ingatan kolektif bangsa untuk membaca situasi jaman karena kedewasaan sebuah bangsa dapat diukur dari sikapnya terhadap sejarah. Terlepas pro dan kontra tentang sosok Kartini, pemikiran dalam surat-suratnya masih relevan untuk kita renungkan hari ini.***
Sejarah perempuan adalah sejarah tentang perjuangan menembus batas. Pada masa ketika ruang gerak perempuan dibatasi oleh norma sosial dan budaya, pendidikan menjadi sesuatu yang nyaris tak terjangkau. Dalam situasi seperti itu, lahirlah sosok-sosok perempuan yang berani melampaui zamannya. Membuka jalan yang sebelumnya tertutup, sekalipun harus menghadapi risiko sosial yang besar. Di Indonesia, kita mengenal Raden Ajeng Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan melalui pendidikan. Sementara itu, jauh sebelumnya di Eropa, Santa Angela Merici telah lebih dahulu menapaki jalan sunyi dengan mendirikan karya pendidikan bagi perempuan. Keduanya dipersatukan oleh semangat yang sama: keberanian untuk peduli dan bertindak demi kemajuan kaum perempuan.
Kartini hidup dalam realitas perempuan Jawa yang terkungkung oleh adat dan keterbatasan akses pendidikan. Namun, keterbatasan itu tidak membungkam pikirannya. Melalui surat-suratnya, Kartini menggugat ketidakadilan dan mengungkapkan keyakinannya bahwa pendidikan adalah kunci pembebasan. Baginya, perempuan yang terdidik tidak hanya akan mengangkat martabat dirinya sendiri, tetapi juga mampu membangun peradaban yang lebih manusiawi. Pendidikan, dalam pandangan Kartini, adalah pintu gerbang menuju terang. Sebuah jalan untuk keluar dari “gelap” ketidaktahuan dan keterbelakangan.
Semangat serupa telah lebih dahulu hidup dalam diri Santa Angela. Pada abad ke-16, ketika perempuan juga belum mendapatkan tempat dalam dunia pendidikan formal, ia mengambil langkah berani dengan mendirikan komunitas yang berfokus pada pendidikan perempuan. Keputusan ini bukan tanpa risiko. Ia melangkah ke jalan yang belum pernah dilalui, menghadapi tantangan sosial dan budaya yang tidak kecil. Namun, keyakinannya teguh: pendidikan adalah bentuk pelayanan yang memanusiakan. Dalam salah satu pesannya, ia menegaskan, “Hendaklah menjadi cermin bagi mereka, Nasihat ke-6.” Pesan ini tidak hanya ditujukan bagi para pendidik, tetapi menjadi inti dari pedagogi yang menghidupi relasi. Mendidik berarti menghadirkan nilai dalam hidup nyata, menjadi contoh yang hidup bagi sesama.
Jika Kartini memperjuangkan kesadaran melalui gagasan dan refleksi, Santa Angela mewujudkannya dalam tindakan konkret melalui pelayanan pendidikan. Keduanya menunjukkan bahwa emansipasi bukan sekadar wacana, melainkan keberanian untuk bertindak demi perubahan. Mereka melihat perempuan bukan sebagai pihak yang lemah, tetapi sebagai pribadi yang memiliki potensi untuk berkembang, belajar, dan memberi makna bagi dunia.
Semangat inilah yang terus hidup dalam pendidikan Ursulin masa kini, khususnya di Kampus Santa Ursula BSD. Pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagai pembentukan manusia utuh, cerdas dalam berpikir, matang dalam karakter, dan siap melayani sesama. Dalam kerangka ini, pendidikan menjadi jalan emansipasi yang sesungguhnya yakni membebaskan manusia untuk menjadi dirinya yang utuh sekaligus hadir bagi orang lain.
Arah pendidikan ini diwujudkan melalui enam nilai utama yang menjadi fondasi kehidupan bersama: cinta dan belas kasih, integritas, keberanian dan ketangguhan, persatuan, totalitas, dan pelayanan. Nilai-nilai ini bukan sekadar konsep, melainkan jalan hidup yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak.
Cinta dan belas kasih mengajak setiap pribadi untuk melihat sesama dengan hati yang peka, seperti Kartini yang tergerak oleh penderitaan kaumnya. Integritas menuntut kesatuan antara kata dan tindakan, menjadikan setiap pribadi sebagai “cermin” yang hidup, sebagaimana diajarkan Santa Angela. Keberanian dan ketangguhan menjadi roh dari setiap perubahan, mengingatkan bahwa setiap langkah menuju kebaikan selalu menuntut keberanian untuk melawan arus. Persatuan menegaskan bahwa perjuangan tidak dilakukan sendirian, melainkan dalam kebersamaan, insieme. Totalitas mengajak untuk menjalani panggilan hidup dengan sepenuh hati. Dan akhirnya, pelayanan menjadi puncak dari semua nilai bahwa pendidikan bukan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan untuk kebaikan bersama.
Dalam terang nilai-nilai ini, pendidikan Ursulin berupaya menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar pencapaian akademik. Ia menjadi ruang pembentukan karakter dan pengalaman pelayanan yang nyata. Di sinilah makna “The School of Choice” menemukan kedalamannya. Bukan sekadar sekolah pilihan karena prestasi, tetapi karena komitmennya dalam membentuk manusia yang utuh, yang mampu memberi makna bagi sesama. Orang memilih bukan hanya untuk menjadi pintar, tetapi untuk belajar menjadi manusia yang peduli dan melayani.
Pada akhirnya, refleksi ini mengajak kita untuk melihat benang merah yang menghubungkan Kartini, Santa Angela, dan pendidikan Ursulin masa kini. Kartini telah membuka pintu kesadaran. Santa Angela telah merintis jalan pelayanan melalui pendidikan. Dan pendidikan Ursulin hari ini melanjutkan perjalanan itu dengan menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam praksis nyata.
Pertanyaannya kini menjadi refleksi bagi kita: apakah kita sudah berani melangkah seperti mereka? Apakah kita telah menjadi “cermin” yang menghadirkan nilai dalam kehidupan sehari-hari? Sebab pada akhirnya, emansipasi sejati tidak berhenti pada gagasan, tetapi menemukan maknanya dalam tindakan, dalam keberanian untuk mendidik, melayani, dan memanusiakan sesama.
Masih terekam jelas dalam ingatan teriakan lantang, “Pagi, pagi, pagi…Ursula, Luar Biasa!” yang menggema di lereng Gunung Salak bulan Januari lalu. Hari ini Rabu, 15 April 2026 SMA Santa Ursula BSD kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk karakter murid yang tangguh, disiplin, dan berjiwa kepemimpinan melalui kegiatan penyegaran pelatihan fisik dan mental bulan Januari lalu. Kegiatan ini menjadi langkah penting untuk memastikan dan menguatkan nilai-nilai dan semangat kedisiplinan, kebersamaan, ketahanan fisik, serta nilai-nilai lainnya yang telah diperoleh tiga bulan sebelumnya tetap hidup dan terimplementasi dalam keseharian murid di sekolah.
Berbeda dengan pelatihan di alam terbuka, kegiatan kali ini dirancang dalam format padat di lingkungan sekolah dengan durasi waktu 75 menit untuk menguji kembali konsistensi murid dalam hal kedisiplinan waktu dan ketahanan fisik dengan tetap mengusung prinsip kedisiplinan dan kerja sama tim. Seluruh murid kelas X dibagi menjadi lima kelompok lintas kelas, dengan anggota 36 murid setiap kelompok sehingga mampu memperkuat solidaritas antarkelas. Rangkaian kegiatan dimulai tepat pukul 12.45 di jam perwalian dengan koordinasi intensif dari tim fisik mental kelas X. Dalam waktu singkat, murid diajak kembali untuk membangkitkan yel-yel khas SMA Santa Ursula BSD, Pagi, pagi, pagi…Ursula, luar biasa!
Para murid ditantang untuk melakukan manajemen waktu yang ketat saat berganti pakaian hingga berbaris rapi sesuai barisan kelompok dalam waktu 10 menit. Sesuai dengan rumusan gerakan bersama angkatan yang telah disusun bulan Januari lalu, dalam kegiatan ini diterapkan sanksi yang tegas bagi murid yang datang terlambat atau tidak mengikuti kegiatan sesuai ketentuan. Hal ini sejalan dengan nilai kedisiplinan yang menjadi inti dari pelatihan fisik dan mental sebelumnya.
Kegiatan penyegaran pelatihan fisik dan mental diawali dengan pemanasan dasar yang dipimpin oleh perwakilan murid kelas X. Tantangan fisik murid sesungguhnya, dimulai dengan lari ketahanan selama 6 menit bagi setiap kelompok sebagai ujian daya juang murid. Memori murid di Pusat Pendidikan Latihan Tempur (Dodiklatpur) Rindam Jaya diingatkan kembali dengan melaksanakan latihan Peraturan Baris Berbaris (PBB). Sesi ini tidak hanya dipimpin oleh tim fisik dan mental kelas X, tetapi juga melibatkan murid yang ditunjuk secara acak untuk memimpin barisan guna melatih aspek kepemimpinan dan fokus.
Kegiatan diakhiri dengan doa bersama dan menyanyikan lagu mars Serviam. Melalui kegiatan penyegaran fisik dan mental ini, SMA Santa Ursula BSD berharap kepada para murid kelas X tidak hanya menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki mentalitas pemenang yang tangguh, disiplin, dan memiliki empati terhadap sesama. Kegiatan penyegaran pelatihan fisik dan mental ini menjadi bukti bahwa pendidikan karakter di SMA Santa Ursula BSD tidak berhenti di satu momen besar, tetapi terus dipupuk, dirawat, dan dihidupkan dalam satu langkah, satu barisan, dan satu teriakan semangat. Semangat Gunung Salak belum padam, Ursula tetap luar biasa!
SD Santa Ursula BSD mempunyai kegiatan kungfu shaolin. Melalui kegiatan ini kami belajar membangun fisik dan mental. Terdapat pula kegiatan menulis rapi. Menulis rapi merupakan kegiatan yang dikembangkan di sekolah Santa Ursula BSD. Menulis bukan hanya kegiatan menggoreskan pena di atas kertas tetapi kami juga melatih konsentrasi, kesabaran, dan koordinasi gerak tangan. SD Santa Ursula BSD juga memiliki Taman IPA. Taman IPA merupakan tempat bagi kami untuk mengenal alam dan ilmu pengetahuan yang patut kami ketahui sebagai siswa SD.
Lihat Lebih Banyak