Santa Ursula BSD -

Manusia Utuh Cerdas Melayani

Santa Ursula BSD -
Manusia Utuh Cerdas Melayani

Sekilas Tentang Kampus Santa Ursula BSD

"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"

Sekilas Tentang Kampus Santa Ursula BSD

"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"

Fakta tentang Santa Ursula BSD

0+

Siswa Aktif

0+

Alumni

0+

Tahun Pengalaman

0+

Tenaga Pendidik

0+

Tenaga Kependidikan

Unit Sekolah Santa Ursula BSD

Prestasi

Berita Terbaru

News Image
Kartini Perempuan yang Menulis

Raden Ajeng Kartini dilahirkan di Jepara tanggal 21 April tahun 1879. Dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang berisi kumpulan surat R.A. Kartini diceritakan bahwa pandangan Kartini yang progresif mengalir dari Kakeknya, Bupati Demak Pangeran Tjondronegoro IV dan ayahnya, Bupati Jepara Raden Mas Adipati Aryo Sosroningrat. Kepada Nona E.H. Zeehandelaar, Kartini menceritakan bahwa Pangeran Ario Tjondronegoro IV sangat menyukai kemajuan dan merupakan Bupati Jawa Tengah pertama yang membuka peradaban barat untuk keluarganya melalui pendidikan Eropa (Kartini, 2011: 8). Kartini meninggal di usia muda, tepatnya pada tahun 1904 dan dimakamkan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pada tahun 1964 Presiden Sukarno menetapkan Kartini sebagai pahlawan nasional. 

Kartini adalah konseptor dalam sejarah Indonesia modern yang lahir di saat kolonialisme, feodalisme, dan patriarki mengakar kuat di Hindia Belanda. Kartini menyadari kondisi kaum perempuan sebagaimana dikatakan dalam suratnya kepada Nona E.H. Zeehandelaar. Perempuan Jawa pada usia 12 tahun dikurung di rumah dan terasing dari dunia luar karena tradisi pingitan. Ia tidak tuli dan tidak buta tentang belenggu adat tersebut. Dalam pandangan Kartini, perubahan itu baru akan terjadi 3-4 keturunan sesudah generasinya (Kartini, 2011: 7-9). Lewat buku Panggil Aku Kartini Saja, karya Pramoedya Ananta Toer dan Kartini. Sebuah Biografi, karya Sitisoemandari Soeroto terlihat jelas bahwa Kartini merepresentasikan kaum perempuan yang lebih dahulu ‘bangun’ untuk memperbaiki keadaan melalui pendidikan, sehingga ia disebut sebagai ibu nasionalisme (Soeroto, 1983: 438)

Apakah hari Kartini hanya sebatas ritual kebaya dan sanggul semata? Tentu tidak! Justru pemikiran Kartini hendaknya direnungkan karena ia menyelami kehidupan secara kritis dari akar permasalahan bangsa. Salah satu suratnya kepada Nyonya Abendanon sebagaimana terdapat dalam buku Surat-Surat Kepada Ny. R.M. Abendanon Mandri dan Suaminya mengulas kritik Kartini terhadap praktik patriarki (poligami) yang telah hidup dalam masyarakat karena dilindungi ajaran Islam dan kebodohan perempuan (Sutrisno, 1989: 10-11). Dalam pandangan sejarawan Hilmar Farid lewat artikelnya di Tempo, Kartini dan Ruang Dalam Bangsa, Kartini adalah pemikir dan aktivis peletak dasar emansipasi wanita. Ia menyuarakan arti penting pendidikan bagi anak agar tidak lagi dianggap persoalan sekunder (Farid2013: 86-87).

Pendukung Jalannya Peradaban

Melalui surat-suratnya yang diterjemahkan Sulastin Sutrisno, Kartini bersuara tentang pendidikan sebagai kehormatan bagi manusia. Melalui proses yang luhur, seorang pendidik secara moral berkewajiban membina watak yang lebih penting daripada hanya mengejar ilmu (Sutrisno, 1989: 73). Pengetahuan bukanlah akhir dari pendidikan, karena yang terutama dari pendidikan adalah memberikan keluhuran watak agar bermanfaat bagi kemajuan derajat manusia. Aspek kemanusiaan dalam pandangan Kartini mendapatkan tempat lebih tinggi di atas kecerdasan pengetahuan semata. 

Kartini memperjuangkan pendidikan yang awal mulanya ditujukan kepada kaum perempuan. Mengapa? Karena perempuan sebagai pendukung jalannya peradaban. Para ibu secara alamiah dititahkan sebagai pendidik dan pembimbing utama nilai-nilai kesusilaan. Di pangkuan ibu, anak mulai belajar merasakan, berbicara, berfikir, dan pendidikan waktu kecil besar pengaruhnya bagi perkembangan hidup selanjutnya (Sutrisno, 1989: 74). Peran keluarga dalam proses pembentukan karakter sangat fundamental, baik sebagai tempat anak belajar pertama kali dan mencari figur keteladanan. Bagaimana ibu dapat mendidik anaknya kalau mereka sendiri tidak terdidik? Bangsa kita tidak dapat maju, kalau kaum perempuan tidak diikutsertakan dalam usaha pembudayaan bangsa. Mengutip pendapat sejarawan dan sekaligus pendiri penerbitan Komunitas Bambu JJ Rizal dalam majaah Tempo, Kartini telah meletakkan titik persoalan yang menjadi semacam api atau obor untuk diteruskan para generasi berikutnya (Rizal2013: 96-97).

Penulis melihat ada relevansi pemikiran Kartini dengan pandangan Driyarkara, bahwa pendidikan adalah proses pembudayaan atau pemanusiaan manusia muda. Peran serta ibu sangatlah besar sehingga perlu memberikan bekal bagi remaja puteri tentang pengetahuan dan keterampilan hidup yang kelak memberikan manfaat ketika mereka menjadi seorang ibu. 

Bagaimana dengan laki-laki? Untuk kemajuan bersama kaum laki-laki juga harus dididik dalam hal tata kesusilaan, sehingga tumbuh sikap menghargai terhadap kaum perempuan, sama seperti menghargai ibunya. Jangan membiasakan anak kecil minta dihormati, tetapi biasakan terlebih dahulu untuk menghormati orang lain (Soeroto, 1983: 74&297). Pendidikan seperti ini harus ditanamkan sejak usia dini dan terasa sangat relevan hingga hari ini. Kasus-kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, termasuk lembaga pendidikan berbasis agama menunjukkan masih sangat kuatnya budaya patriarki. 

Pemikiran Kartini melampaui zamannya karena kaum bangsawan di saat Kartini hidup justru sangat nyaman dengan kedudukannya. Bagi Kartini, semakin tinggi derajat seseorang, justru semakin besar tanggung jawabnya. Kebangsawanan seseorang bukan untuk disembah-sembah dan yang terpenting dalam pandangan Kartini adalah kebangsawanan hati nurani yang turut memikul tanggung jawab terhadap rakyatnya. 

Tentu kita prihatin ketika banyak orang begitu cemerlang secara akademis, tetapi tidak memiliki kepekaan sosial untuk melihat ke bawah yang justru sangat membutuhkan dorongan kemajuan. Politisi-politisi muda sebagai penyelenggara negara justru tersandera kasus korupsi.

Keluarga adalah lingkungan pertama untuk membangun intelektualitas. Kartini belajar dari sang ayah dan kakaknya R. M. Sosrokartono yang tercatat sebagai mahasiswa pribumi pertama yang studi di negeri Belanda. Pandangan ayahnya cukup progresif dalam mendidik Kartini, meski adat tetap dilaksanakan agar tidak dipandang terlalu menyimpang dari tradisi. Dari mereka, Kartini belajar tentang sejarah negerinya dan pemikiran barat yang menumbuhkan semangat untuk memperjuangkan derajat bangsa, meski saat itu istilah Indonesia belum dikenal. 

Ayahnya telah membimbing watak Kartini dan adik-adiknya dengan mendekatkan mereka pada realita kehidupan rakyat di luar tembok kabupaten. Setelah dipingit di masa remaja, Kartini dan adik-adiknya diberikan kesempatan untuk blusukan hingga lahir perhatian yang besar terhadap kemajuan kesenian rakyat khas Kabupaten Jepara (Soeroto, 1983: 106). Ini adalah proses pendidikan humaniora dan tentu sangat relevan bila orang tua dan sekolah mengangkat cita rasa berkesenian untuk merawat identitas budaya bangsa agar tidak tercabut dari akarnya. Bangsa mancanegara yang menempuh studi di Indonesia banyak yang mendalami mengapa kita justru meninggalkannya?  

Bersahabat Dengan Buku

Media pembelajaran apa yang turut membentuk sikap kritis Kartini? Sejak kecil Kartini memiliki hasrat yang tinggi terhadap pengetahuan. Kedekatannya dengan buku, majalah, dan ketekunan mempelajari bahasa Belanda membuat Kartini terampil membaca dan menulis sehingga tampil sebagai pribadi yang kritis dan ekspresif. Bagi Kartini, menulis adalah panggilan sosial dan sikap kritisnya tercermin dari gugatan terhadap adat yang membawa keterbelakangan perempuan. Sejak usia 16 tahun, ia menyukai dan telah membaca novel Max Havelaar, karangan Multatuli yang memberi pandangan kritis terhadap dampak kolonialisme Belanda di tanah Jawa (Toer, 2003: 158-159). Ia didukung oleh sang ayah dengan mengirimkan artikel yang ditulis Kartini tentang Perkawinan Masyarakat Koja di Jepara sebagai artikel pertamanya yang dimuat dalam surat kabar di negeri Belanda.

Mengapa minat membaca anak sebagai kebutuhan semakin terkikis dewasa ini? Padahal buku dan menulis dapat melatih imajinasi, membangun idealisme, estetika, ketenangan, dan kesabaran. Membaca dan menulis adalah bagian pendidikan humaniora. Bersahabat dengan buku hendaknya dibiasakan sejak usia dini sehingga menghidupkan tradisi literasi di dalam keluarga adalah kemajuan yang luar biasa. Kisah di atas menunjukkan bahwa pandangan kemajuan Kartini merupakan warisan budaya literasi dari orang tuanya.

Pemikiran Kartini tentang pendidikan mengingatkan kita bahwa keluarga adalah landasan pembentukan karakter anak dan sejumlah persoalan anak dewasa ini tidak terlepas dari ketegangan yang terjadi di dalam lingkungan terdekatnya. Keluarga dan sekolah harus semakin bersinergi dalam mempersiapkan mereka di tengah situasi global. Lingkungan yang mengasuh memberikan pengaruh yang sangat besar bagi anak didik kita untuk tumbuh dan berkembang selaras dengan kebutuhan jaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur budaya. 

Semoga kita semakin bijak dalam merawat kisah atau ingatan kolektif bangsa untuk membaca situasi jaman karena kedewasaan sebuah bangsa dapat diukur dari sikapnya terhadap sejarah. Terlepas pro dan kontra tentang sosok Kartini, pemikiran dalam surat-suratnya masih relevan untuk kita renungkan hari ini.***

Selengkapnya
News Image
Emansipasi, Keberanian, dan Pendidikan yang Membebaskan: Refleksi Kartini, Santa Angela, dan Spirit Ursulin

Sejarah perempuan adalah sejarah tentang perjuangan menembus batas. Pada masa ketika ruang gerak perempuan dibatasi oleh norma sosial dan budaya, pendidikan menjadi sesuatu yang nyaris tak terjangkau. Dalam situasi seperti itu, lahirlah sosok-sosok perempuan yang berani melampaui zamannya. Membuka jalan yang sebelumnya tertutup, sekalipun harus menghadapi risiko sosial yang besar. Di Indonesia, kita mengenal Raden Ajeng Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan melalui pendidikan. Sementara itu, jauh sebelumnya di Eropa, Santa Angela Merici telah lebih dahulu menapaki jalan sunyi dengan mendirikan karya pendidikan bagi perempuan. Keduanya dipersatukan oleh semangat yang sama: keberanian untuk peduli dan bertindak demi kemajuan kaum perempuan.

Kartini hidup dalam realitas perempuan Jawa yang terkungkung oleh adat dan keterbatasan akses pendidikan. Namun, keterbatasan itu tidak membungkam pikirannya. Melalui surat-suratnya, Kartini menggugat ketidakadilan dan mengungkapkan keyakinannya bahwa pendidikan adalah kunci pembebasan. Baginya, perempuan yang terdidik tidak hanya akan mengangkat martabat dirinya sendiri, tetapi juga mampu membangun peradaban yang lebih manusiawi. Pendidikan, dalam pandangan Kartini, adalah pintu gerbang menuju terang. Sebuah jalan untuk keluar dari “gelap” ketidaktahuan dan keterbelakangan.

Semangat serupa telah lebih dahulu hidup dalam diri Santa Angela. Pada abad ke-16, ketika perempuan juga belum mendapatkan tempat dalam dunia pendidikan formal, ia mengambil langkah berani dengan mendirikan komunitas yang berfokus pada pendidikan perempuan. Keputusan ini bukan tanpa risiko. Ia melangkah ke jalan yang belum pernah dilalui, menghadapi tantangan sosial dan budaya yang tidak kecil. Namun, keyakinannya teguh: pendidikan adalah bentuk pelayanan yang memanusiakan. Dalam salah satu pesannya, ia menegaskan, “Hendaklah menjadi cermin bagi mereka, Nasihat ke-6.” Pesan ini tidak hanya ditujukan bagi para pendidik, tetapi menjadi inti dari pedagogi yang menghidupi relasi. Mendidik berarti menghadirkan nilai dalam hidup nyata, menjadi contoh yang hidup bagi sesama.

Jika Kartini memperjuangkan kesadaran melalui gagasan dan refleksi, Santa Angela mewujudkannya dalam tindakan konkret melalui pelayanan pendidikan. Keduanya menunjukkan bahwa emansipasi bukan sekadar wacana, melainkan keberanian untuk bertindak demi perubahan. Mereka melihat perempuan bukan sebagai pihak yang lemah, tetapi sebagai pribadi yang memiliki potensi untuk berkembang, belajar, dan memberi makna bagi dunia.

Semangat inilah yang terus hidup dalam pendidikan Ursulin masa kini, khususnya di Kampus Santa Ursula BSD. Pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagai pembentukan manusia utuh, cerdas dalam berpikir, matang dalam karakter, dan siap melayani sesama. Dalam kerangka ini, pendidikan menjadi jalan emansipasi yang sesungguhnya yakni membebaskan manusia untuk menjadi dirinya yang utuh sekaligus hadir bagi orang lain.

Arah pendidikan ini diwujudkan melalui enam nilai utama yang menjadi fondasi kehidupan bersama: cinta dan belas kasih, integritas, keberanian dan ketangguhan, persatuan, totalitas, dan pelayanan. Nilai-nilai ini bukan sekadar konsep, melainkan jalan hidup yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak.

Cinta dan belas kasih mengajak setiap pribadi untuk melihat sesama dengan hati yang peka, seperti  Kartini yang tergerak oleh penderitaan kaumnya. Integritas menuntut kesatuan antara kata dan tindakan, menjadikan setiap pribadi sebagai “cermin” yang hidup, sebagaimana diajarkan Santa Angela. Keberanian dan ketangguhan menjadi roh dari setiap perubahan, mengingatkan bahwa setiap langkah menuju kebaikan selalu menuntut keberanian untuk melawan arus. Persatuan menegaskan bahwa perjuangan tidak dilakukan sendirian, melainkan dalam kebersamaan, insieme. Totalitas mengajak untuk menjalani panggilan hidup dengan sepenuh hati. Dan akhirnya, pelayanan menjadi puncak dari semua nilai bahwa pendidikan bukan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan untuk kebaikan bersama.

Dalam terang nilai-nilai ini, pendidikan Ursulin berupaya menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar pencapaian akademik. Ia menjadi ruang pembentukan karakter dan pengalaman pelayanan yang nyata. Di sinilah makna “The School of Choice” menemukan kedalamannya. Bukan sekadar sekolah pilihan karena prestasi, tetapi karena komitmennya dalam membentuk manusia yang utuh, yang mampu memberi makna bagi sesama. Orang memilih bukan hanya untuk menjadi pintar, tetapi untuk belajar menjadi manusia yang peduli dan melayani.

Pada akhirnya, refleksi ini mengajak kita untuk melihat benang merah yang menghubungkan Kartini, Santa Angela, dan pendidikan Ursulin masa kini. Kartini telah membuka pintu kesadaran. Santa Angela telah merintis jalan pelayanan melalui pendidikan. Dan pendidikan Ursulin hari ini melanjutkan perjalanan itu dengan menghadirkan nilai-nilai tersebut dalam praksis nyata.

Pertanyaannya kini menjadi refleksi bagi kita: apakah kita sudah berani melangkah seperti mereka? Apakah kita telah menjadi “cermin” yang menghadirkan nilai dalam kehidupan sehari-hari? Sebab pada akhirnya, emansipasi sejati tidak berhenti pada gagasan, tetapi menemukan maknanya dalam tindakan, dalam keberanian untuk mendidik, melayani, dan memanusiakan sesama.

Selengkapnya
News Image
MENJAGA API SEMANGAT, KEBERANIAN, DAN KETANGGUHAN DALAM SATU BARISAN

Masih terekam jelas dalam ingatan teriakan lantang, “Pagi, pagi, pagi…Ursula, Luar Biasa!” yang menggema di lereng Gunung Salak bulan Januari lalu. Hari ini Rabu, 15 April 2026 SMA Santa Ursula BSD kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk karakter murid yang tangguh, disiplin, dan berjiwa kepemimpinan melalui kegiatan penyegaran pelatihan fisik dan mental bulan Januari lalu. Kegiatan ini menjadi langkah penting untuk memastikan dan menguatkan nilai-nilai dan semangat kedisiplinan, kebersamaan, ketahanan fisik, serta nilai-nilai lainnya yang telah diperoleh tiga bulan sebelumnya tetap hidup dan terimplementasi dalam keseharian murid di sekolah.

Berbeda dengan pelatihan di alam terbuka, kegiatan kali ini dirancang dalam format padat di lingkungan sekolah dengan durasi waktu 75 menit untuk menguji kembali konsistensi murid dalam hal kedisiplinan waktu dan ketahanan fisik dengan tetap mengusung prinsip kedisiplinan dan kerja sama tim. Seluruh murid kelas X dibagi menjadi lima kelompok lintas kelas, dengan anggota 36 murid setiap kelompok sehingga mampu memperkuat solidaritas antarkelas. Rangkaian kegiatan dimulai tepat pukul 12.45 di jam perwalian dengan koordinasi intensif dari tim fisik mental kelas X. Dalam waktu singkat, murid diajak kembali untuk membangkitkan yel-yel khas SMA Santa Ursula BSD, Pagi, pagi, pagi…Ursula, luar biasa!

Para murid ditantang untuk melakukan manajemen waktu yang ketat saat berganti pakaian hingga berbaris rapi sesuai barisan kelompok dalam waktu 10 menit. Sesuai dengan rumusan gerakan bersama angkatan yang telah disusun bulan Januari lalu, dalam kegiatan ini diterapkan sanksi yang tegas bagi murid yang datang terlambat atau tidak mengikuti kegiatan sesuai ketentuan. Hal ini sejalan dengan nilai kedisiplinan yang menjadi inti dari pelatihan fisik dan mental sebelumnya.

Kegiatan penyegaran pelatihan fisik dan mental diawali dengan pemanasan dasar yang dipimpin oleh perwakilan murid kelas X. Tantangan fisik murid sesungguhnya, dimulai dengan lari ketahanan selama 6 menit bagi setiap kelompok sebagai ujian daya juang murid. Memori murid di Pusat Pendidikan Latihan Tempur (Dodiklatpur) Rindam Jaya diingatkan kembali dengan melaksanakan latihan Peraturan Baris Berbaris (PBB). Sesi ini tidak hanya dipimpin oleh tim fisik dan mental kelas X, tetapi juga melibatkan murid yang ditunjuk secara acak untuk memimpin barisan guna melatih aspek kepemimpinan dan fokus. 

Kegiatan diakhiri dengan doa bersama dan menyanyikan lagu mars Serviam. Melalui kegiatan penyegaran fisik dan mental ini, SMA Santa Ursula BSD berharap kepada para murid kelas X tidak hanya menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki mentalitas pemenang yang tangguh, disiplin, dan memiliki empati terhadap sesama. Kegiatan penyegaran pelatihan fisik dan mental ini menjadi bukti bahwa pendidikan karakter di SMA Santa Ursula BSD tidak berhenti di satu momen besar, tetapi terus dipupuk, dirawat, dan dihidupkan dalam satu langkah, satu barisan, dan satu teriakan semangat. Semangat Gunung Salak belum padam, Ursula tetap luar biasa!

Selengkapnya
News Image
Gembira Bersama Yesus yang Bangkit: Perayaan Paskah KB-TK Santa Ursula BSD

Dalam semangat sukacita Paskah, KB-TK Santa Ursula BSD menyelenggarakan ibadat Paskah yang penuh makna dan keceriaan. Mengusung tema “Gembira Bersama Yesus yang Bangkit”, kegiatan ini menjadi momen istimewa bagi anak-anak untuk mengenal dan merasakan kasih Tuhan melalui perayaan iman yang menyenangkan.

Ibadat Paskah dilaksanakan dengan suasana yang hangat dan penuh sukacita. Anak-anak diajak untuk memahami makna kebangkitan Yesus melalui cerita, doa, serta nyanyian yang disesuaikan dengan usia mereka. Dengan bahasa yang sederhana dan pendekatan yang menyenangkan, anak-anak belajar bahwa Yesus yang bangkit membawa harapan, sukacita, dan cinta bagi semua orang.

Para guru membimbing jalannya ibadat sehingga anak-anak dapat terlibat secara aktif. Kehadiran Sr. Darna menjadi warna dalam ibadat ini untuk menyampaikan pesan kepada anak-anak, dan petugas perarakan, doa pembuka, dan doa penutup dibawakan oleh anak-anak TKB. Mereka diajak untuk berdoa bersama, menyanyi dengan gembira, serta mengekspresikan rasa syukur atas kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Suasana ibadat pun terasa hidup dengan partisipasi anak-anak yang antusias.

Sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Paskah, kegiatan dilanjutkan dengan menghias telur Paskah di masing-masing jenjang. Kegiatan ini tidak hanya melatih kreativitas anak, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenalkan simbol Paskah, di mana telur melambangkan kehidupan baru dan harapan.

Anak-anak tampak bersemangat menghias telur mereka dengan berbagai media, seperti kertas krep, kapas, potongan kertas warna-warni, dan juga menggunakan spidol untuk menggambar. Dengan bimbingan guru, mereka bebas berkreasi sambil tetap memahami makna di balik kegiatan tersebut. Suasana penuh tawa dan keceriaan mewarnai setiap kelas, menciptakan pengalaman yang menyenangkan sekaligus bermakna.

Melalui rangkaian kegiatan ini, diharapkan anak-anak tidak hanya merasakan kegembiraan, tetapi juga semakin mengenal dan mencintai Yesus yang telah bangkit. Semangat Paskah pun diharapkan dapat terus hidup dalam hati mereka, tercermin dalam sikap saling mengasihi, berbagi, dan membawa sukacita bagi sesama.

Selengkapnya
News Image
Menyiapkan Masa Depan dengan Sanur Mentality: Belajar dari Jejak Alumni Inspiratif

Semangat untuk bertumbuh, berani mencoba, dan tetap tangguh dalam menghadapi tantangan menjadi pesan utama dalam Seminar Sanur Mentality yang diselenggarakan oleh SMA Santa Ursula BSD. Kegiatan ini menghadirkan para alumni sebagai narasumber yang berbagi pengalaman nyata dari perjalanan akademik hingga dunia profesional. Dengan mengusung konsep reflektif dan inspiratif, seminar ini menjadi ruang belajar yang bermakna bagi para murid untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan.

Seminar ini diikuti dengan antusias oleh para murid yang ingin mendapatkan gambaran lebih luas mengenai kehidupan setelah lulus sekolah. Tidak hanya berfokus pada pilihan jurusan atau perguruan tinggi, kegiatan ini juga menekankan pentingnya membangun karakter dan mentalitas yang kuat sebagai bekal utama dalam menjalani berbagai fase kehidupan.

Empat alumni hadir sebagai pembicara dengan latar belakang pendidikan yang beragam, yaitu Nixie, lulusan Monash University Australia jurusan Bachelor of Early Childhood & Primary Education; Lica, lulusan Institut Teknologi Bandung jurusan Desain Produk; Lina, lulusan Institut Pertanian Bogor jurusan Agronomi; serta Lentera, lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti jurusan Perhotelan. Keempatnya membagikan kisah perjalanan yang tidak selalu mudah, tetapi sarat pembelajaran dan pengalaman berharga.

Dalam pemaparannya, Nixie mengisahkan pengalamannya menempuh pendidikan di luar negeri yang menuntut kemandirian tinggi, kemampuan beradaptasi, serta keterbukaan terhadap perbedaan budaya. Ia menekankan bahwa keberanian untuk keluar dari zona nyaman merupakan langkah awal untuk berkembang. Menurutnya, Sanur Mentality tercermin dalam sikap pantang menyerah dan kemauan untuk terus belajar dari setiap pengalaman.

Sementara itu, Lica membagikan pengalamannya selama berkuliah di Institut Teknologi Bandung yang penuh tantangan, terutama dalam hal manajemen waktu dan tuntutan kreativitas. Ia menegaskan bahwa konsistensi dan disiplin menjadi kunci utama dalam menghadapi tekanan akademik. Lica juga mengajak para murid untuk tidak takut mengeksplorasi ide dan mengembangkan potensi diri sejak dini.

Lina, yang menempuh pendidikan di bidang Agronomi, memberikan perspektif mengenai pentingnya mengenali minat dan passion. Ia menjelaskan bahwa memilih jurusan bukan semata-mata mengikuti tren, melainkan berdasarkan ketertarikan dan tujuan jangka panjang. Lina juga menekankan bahwa setiap proses, termasuk kegagalan, memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kedewasaan seseorang.

Di sisi lain, Lentera yang berkecimpung di dunia perhotelan membagikan pengalaman tentang pentingnya keterampilan komunikasi, kerja sama tim, serta sikap profesional. Ia menjelaskan bahwa dunia kerja menuntut tidak hanya kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan interpersonal yang baik. Sanur Mentality, menurutnya, tercermin dalam sikap melayani dengan sepenuh hati dan tetap rendah hati dalam setiap situasi.

Istilah Sanur Mentality yang diangkat dalam seminar ini menjadi benang merah dari seluruh pengalaman yang dibagikan. Mentalitas ini mencerminkan sikap tangguh, adaptif, disiplin, serta mampu menghadapi perubahan dengan sikap positif. Para alumni sepakat bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh ketekunan dan karakter yang kuat.

Antusiasme murid terlihat jelas sepanjang kegiatan berlangsung. Sesi tanya jawab menjadi momen interaktif yang memperlihatkan rasa ingin tahu murid terhadap dunia perkuliahan dan kehidupan setelah lulus. Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari cara memilih jurusan, menghadapi kegagalan, hingga tips menjaga keseimbangan antara akademik dan kehidupan pribadi.

Kegiatan ini juga mempererat hubungan antara sekolah dan para alumni. Kehadiran alumni sebagai pembicara menunjukkan bahwa ikatan kekeluargaan dalam komunitas sekolah tetap terjaga meskipun telah lulus. Para alumni tidak hanya berbagi pengalaman, tetapi juga memberikan motivasi dan semangat kepada para murid untuk terus melangkah maju.

Melalui Seminar Sanur Mentality, diharapkan para murid semakin siap menghadapi tantangan masa depan dengan sikap yang lebih matang dan percaya diri. Nilai-nilai yang dibagikan dalam kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bekal berharga dalam perjalanan akademik maupun kehidupan mereka ke depan.

Pada akhirnya, seminar ini menjadi pengingat bahwa setiap murid memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan meraih impian. Dengan memiliki Sanur Mentality, para murid diharapkan mampu menghadapi setiap tantangan dengan keberanian, ketekunan, dan semangat untuk terus belajar. Masa depan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dipersiapkan dengan penuh keyakinan dan harapan.

Selengkapnya
News Image
Kristus Bangkit, Harapan Baru Bagi Kita: Ibadat Paskah SMA Santa Ursula BSD

Pada Rabu, 8 April 2026, keluarga besar SMA Santa Ursula BSD menggelar Ibadat Paskah yang diikuti oleh seluruh guru serta murid kelas X dan XI. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh khidmat dan sukacita, mengusung tema “Kristus Bangkit, Harapan Baru Bagi Kita.” Tema tersebut menjadi pengingat mendalam akan makna kebangkitan Kristus sebagai sumber harapan dan kekuatan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Ibadat Paskah dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian pembinaan iman yang rutin diadakan oleh sekolah, sekaligus menjadi momen refleksi bersama setelah menjalani masa Prapaskah. Seluruh peserta ibadat hadir dengan sikap penuh hormat dan keterlibatan aktif, menciptakan suasana yang tenang namun sarat makna. Sejak awal ibadat dimulai, nuansa sakral sudah terasa melalui alunan lagu pembuka yang dibawakan oleh paduan suara murid.

Dalam homili yang disampaikan, peserta diajak untuk merenungkan makna kebangkitan Kristus tidak hanya sebagai peristiwa iman, tetapi juga sebagai panggilan untuk bangkit dari berbagai keterpurukan dalam hidup. Kebangkitan Kristus dimaknai sebagai tanda kemenangan atas dosa dan kematian, sekaligus simbol harapan baru bagi setiap pribadi. Pesan ini menjadi sangat relevan bagi para murid yang tengah berada dalam proses pertumbuhan dan pencarian jati diri.

Lebih lanjut, para murid diajak untuk melihat bahwa ‘harapan baru’ bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan harus diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata. Dalam kehidupan sekolah, harapan tersebut dapat diwujudkan melalui semangat belajar, sikap saling menghargai, serta keberanian untuk memperbaiki diri. Para guru pun turut diingatkan akan peran penting Bapak / Ibu guru sebagai pendamping yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi teladan dalam menghidupi nilai-nilai Kristiani.

Keterlibatan dalam ibadat ini juga menjadi salah satu hal yang patut diapresiasi. Para guru mengambil peran sebagai petugas liturgi, mulai dari memimpin ibadat, membacakan Kitab Suci, hingga membawakan doa-doa umat dengan penuh penghayatan. Suasana semakin hidup ketika seluruh peserta bersama-sama menyanyikan lagu-lagu Paskah yang penuh sukacita. Momen ini menjadi simbol nyata dari kebangkitan, dimana kesedihan dan keheningan masa Prapaskah berubah menjadi kegembiraan dan pengharapan. Kebersamaan yang terjalin selama ibadat juga mempererat rasa persaudaraan antar murid maupun antara murid dan guru.

Melalui kegiatan ini, sekolah berharap nilai-nilai yang direnungkan dalam ibadat tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat, tetapi terus dihidupi dalam kehidupan sehari-hari. Semangat kebangkitan diharapkan mampu mendorong seluruh warga sekolah untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh, penuh harapan, dan mampu membawa terang bagi lingkungan sekitarnya.

Ibadat Paskah tahun ini menjadi momentum penting untuk mengingat kembali bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memulai kembali, memperbaiki kesalahan, dan melangkah dengan semangat baru. Dalam konteks kehidupan pelajar, hal ini berarti tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan, baik dalam belajar maupun dalam relasi sosial.

Akhirnya, melalui tema “Kristus Bangkit, Harapan Baru Bagi Kita,” seluruh peserta ibadat diajak untuk membawa pesan kebangkitan ini ke dalam kehidupan nyata. Harapan baru bukan hanya menjadi slogan, melainkan menjadi semangat yang terus diperjuangkan dalam setiap langkah kehidupan. Dengan demikian, makna Paskah sungguh hidup dan nyata dalam keseharian keluarga besar SMA Santa Ursula BSD.

Selengkapnya
News Image
HARMONI KREATIVITAS DAN INOVASI SANURIAN SEBAGAI GERAKAN EKONOMI HIJAU

Suasana aula SMP-SMA Santa Ursula BSD hari Jumat, 10 April 2026 tampak berbeda dari biasanya. Aroma lilin terapi, deretan busana modis dari daur ulang pakaian layak pakai, hingga diskusi hangat mengenai bisnis ramah lingkungan mewarnai perhelatan Kewirausahaan Rakyat Sanurian (WIRASA) sebagai pameran karya kewirausahaan dan seni dengan tema “Merancang Masa Depan yang Lebih Hijau melalui Kewirausahaan Berkelanjutan”. Pameran karya ini menjadi bukti nyata kreativitas murid kelas XII dalam menjawab tantangan krisis lingkungan melalui solusi bisnis yang inovatif.

Pameran karya ini merupakan puncak dari pembelajaran kewirausahaan kelas XII. Setiap produk dihasilkan melalui proses panjang, mulai dari penyusunan Business Model Canvas (BMC), penyusunan proposal bisnis, kegiatan produksi sebagai proses realisasi produk, hingga strategi promosi. Para murid ditantang untuk menerapkan prinsip ekonomi hijau, yaitu praktik ekonomi rendah karbon dan efisien dalam penggunaan sumber daya, serta inklusif secara sosial.

Pameran karya yang berlangsung meriah di aula SMP-SMA Santa Ursula BSD ini tidak hanya menjadi ajang untuk unjuk karya nyata murid, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi antara pembelajaran kewirausahaan dan kegiatan ekstrakurikuler bidang seni. Dengan mengusung prinsip green economy para murid kelas XII telah menunjukkan bahwa bisnis dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. Berbeda dengan pameran seperti biasanya, pameran karya ini dirancang dalam format mini workshop. Sebanyak sebelas stan kewirausahaan kelas XII dan lima stan seni dari kegiatan ekstrakurikuler menjadi pusat transfer ilmu. Pameran karya ini menjadi ajang kolaborasi antara pelajaran kewirausahaan dan kegiatan ekstrakurikuler bidang seni. Sebelas stan kewirausahaan bersinergi dengan lima stan seni dari kegiatan ekstrakurikuler seperti fotografi, desain mode, desain grafis, seni lukis, dan menulis kreatif. 

Kemeriahan pameran semakin lengkap dengan penampilan dari peserta kegiatan ekstrakurikuler teater, tarian tradisional, tarian modern, dan sajian musik dari peserta kegiatan ekstrakurikuler keroncong serta band yang memukau di awal dan di akhir setiap sesi pameran. Beragam produk inovatif dipamerkan dalam pameran ini, antara lain lilin aroma terapi, body lotion, ecoprint tote bag, seed paper, berbagai bentuk fashion berupa pakaian, pouch dari daur ulang ampas kopi, perabot rumah tangga dari cangkang telur, kopi matcha instan, lip balm alami, aksesori dari tutup botol, hingga cookies sehat.

Pameran karya terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama pukul 07.45 - 09.15, dihadiri oleh murid kelas XI SMA Santa Ursula BSD dan murid kelas VII hingga kelas IX SMP Santa Ursula BSD. Sesi kedua pukul 10.15 - 11.45, dihadiri murid kelas X SMA Santa Ursula BSD dan murid kelas VII hingga IX SMP Santa Ursula BSD. Kepala SMA Santa Ursula BSD, Bapak Catur Agus Sancoko secara simbolis membuka pameran karya sesi satu dan sesi dua dengan semangat yang ditandai dengan penampilan dari peserta kegiatan ekstrakurikuler tarian tradisional dan tarian modern. Dalam sambutannya, beliau memberikan apresiasi kepada murid kelas XII atas proses dan hasil yang telah diciptakan dalam pembelajaran kewirausahaan. Beliau menyampaikan bahwa anak muda dapat menjadi agen perubahan melalui kreativitas, inovasi, dan potensi yang dimiliki. Beliau juga menyampaikan harapan supaya semua pihak yang terlibat dalam pameran dapat memperoleh ilmu yang mampu menginspirasi untuk mewujudkan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Mini workshop diikuti oleh pengunjung pameran karya. Murid dibagi dalam sebelas kelompok lintas kelas untuk mengikuti Mini workshop di stan kewirausahaan sesuai nomor kelompok mereka, selanjutnya murid dapat mengunjungi semua stan kewirausahaan dan seni. Sistem ini memastikan adanya interaksi yang merata dan pengalaman belajar murid yang optimal. Para pengunjung pameran tidak hanya melihat produk, tetapi juga diajak untuk belajar secara langsung dalam mini workshop di setiap stan. Mini workshop ini mampu menciptakan efek berantai inspirasi, melalui proses kakak kelas yang berbagi pengalaman merintis usaha mulai dari nol hingga produk jadi, kemudian adik kelas mampu termotivasi untuk memulai bisnis sejak dini.

Tampilan produk kewirausahaan dinilai oleh lima orang guru penilai. Aspek yang dinilai mencakup kreativitas, edukasi dalam mini workshop, branding dan pemasaran, serta kolaborasi manajerial. Evaluasi yang diberikan oleh tim guru penilai pada produk pameran karya, diharapkan dapat terus mengasah kemampuan manajerial dan komunikasi murid. Sajian musik dari peserta kegiatan ekstrakurikuler keroncong dan band menjadi sajian penutup di setiap sesi pameran karya.

Pameran karya ini bukan sekedar tugas akhir dari mata pelajaran kewirausahaan, melainkan langkah awal bagi komunitas SMA Santa Ursula BSD untuk membentuk generasi muda yang kreatif, inovatif, mandiri, dan senantiasa berwawasan lingkungan. Semoga semangat ekonomi hijau melalui proses pembelajaran kewirausahaan dapat terus bertumbuh untuk menginspirasi kita semua dalam menjaga bumi, mulai dari langkah kecil yang bernilai ekonomi tinggi.

Dokumentasi oleh: Brian & Aldric XI-C

Selengkapnya

Mengapa Santa Ursula BSD ?

Keira Halim
Siswa SD kelas V

SD Santa Ursula BSD mempunyai kegiatan kungfu shaolin. Melalui kegiatan ini kami belajar membangun fisik dan mental. Terdapat pula kegiatan menulis rapi. Menulis rapi merupakan kegiatan yang dikembangkan di sekolah Santa Ursula BSD. Menulis bukan hanya kegiatan menggoreskan pena di atas kertas tetapi kami juga melatih konsentrasi, kesabaran, dan koordinasi gerak tangan. SD Santa Ursula BSD juga memiliki Taman IPA. Taman IPA merupakan tempat bagi kami untuk mengenal alam dan ilmu pengetahuan yang patut kami ketahui sebagai siswa SD.

Lihat Lebih Banyak