Santa Ursula BSD -

Manusia Utuh Cerdas Melayani

Santa Ursula BSD -
Manusia Utuh Cerdas Melayani

Sekilas Tentang Kampus Santa Ursula BSD

"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"

Sekilas Tentang Kampus Santa Ursula BSD

"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"

Fakta tentang Santa Ursula BSD

0+

Siswa Aktif

0+

Alumni

0+

Tahun Pengalaman

0+

Tenaga Pendidik

0+

Tenaga Kependidikan

Unit Sekolah Santa Ursula BSD

Prestasi

Berita Terbaru

News Image
Semangat Kartini: Enam Nilai dalam Aksi

    Dalam rangka memperingati Hari Kartini, SD Santa Ursula BSD mengadakan perayaan sederhana tetapi sarat makna. Kali ini tema yang diusung adalah “Dengan Semangat Kartini Kita Berani, Mandiri, dan Berdaya Juang.

    Acara diawali dengan pelaksanaan upacara yang berlangsung dengan khidmat. Dalam amanatnya, Ibu Sriningsih Indriyani Siahaan selaku pembina upacara mengajak siswa untuk menghidupi nilai-nilai dasar Ursulin yaitu Cinta dan Belas Kasih, Integritas, Keberanian & Ketangguhan, Semangat Persatuan (Insieme), Totalitas, dan Pelayanan melalui teladan RA Kartini.

    Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan perayaan singkat. Sambutan disampaikan oleh Ibu Dominika Eni Widiyastuti selaku kepala sekolah yang berisi ajakan kepada seluruh siswa untuk mewarisi semangat Kartini dengan cara berani belajar, mandiri dalam bertindak, serta tidak mudah menyerah dalam meraih cita-cita.

    Kegiatan berikutnya adalah penampilan perwakilan dari siswa kelas 3 yang memperkenalkan sosok Kartini dan perjuangannya dalam memperjuangkan hak pendidikan untuk kaum wanita.

    Acara semakin meriah dengan penampilan fashion show baju daerah yang diikuti oleh perwakilan siswa dari kelas 1 sampai dengan kelas 6. Kegiatan ini tidak hanya menampilkan keindahan ragam budaya Indonesia, tetapi juga menumbuhkan rasa berani, percaya diri, dan ketangguhan siswa saat tampil serta menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya bangsa.

    Selanjutnya, untuk menunjukkan semangat persatuan dengan kekompakan, kreativitas, kerja sama, serta kecintaan siswa terhadap warisan budaya Nusantara, seluruh siswa menampilkan medley enam lagu daerah yang dinyanyikan per paralel. Kelas 1 membawakan lagu “Padang Bulan”. Kelas 2 menyanyikan lagu “Ampar-ampar Pisang”. Kelas 3 menyanyikan lagu “Si Patokaan”. Lagu “Ayam Den Lapeh” dibawakan oleh siswa kelas 4, sedangkan kelas 5 menyanyikan lagu “Alusi Au”. Lagu “Rek Ayo Rek” dinyanyikan oleh siswa kelas 6.

    Melalui perayaan ini siswa mampu menunjukkan nilai cinta dan belas kasih melalui sikap saling mendukung dan menghargai. Mereka bertanggung jawab dengan peran mereka masing-masing. Nilai totalitas tampak saat mereka memberikan penampilan yang terbaik. Mereka juga mau melayani melalui keterlibatan dalam menyukseskan acara. 

    Perayaan ini mungkin sederhana, tetapi maknanya luar biasa. Bersama semangat RA Kartini, enam nilai: Cinta dan Belas Kasih, Integritas, Keberanian & Ketangguhan, Semangat Persatuan (Insieme), Totalitas, dan Pelayanan bukan sekadar kata, melainkan aksi nyata-hari ini, esok, dan selamanya.

Selengkapnya
News Image
Pengenalan Profesi Penjual Jamu di KB-TK Santa Ursula BSD

Bulan April ini merupakan bulan yang cukup spesial bagi KB-TK Santa Ursula BSD. Setelah perayaan Hari Kartini kemarin, kali ini kami juga kedatangan tamu spesial yang masih kental kaitannya dengan adat dan budaya Indonesia, terutama tanah Jawa, yaitu penjual jamu. 

Secara keseluruhan, acara berlangsung dengan sangat lancar. Kegiatan dibuka dengan sapaan hangat dari narasumber yang kemudian diikuti dengan penjelasan singkat mengenai asal-usul minuman jamu yang sudah ada sejak zaman kesultanan. Anak-anak juga mendapatkan informasi visual mengenai penampilan serta peralatan yang dibawa oleh penjual jamu serta kegunaannya. Acara kemudian diikuti dengan segmen pengenalan rempah-rempah yang digunakan untuk membuat jamu. Pada segmen ini anak-anak diberi kesempatan untuk berpartisipasi aktif dan maju ke depan untuk mencoba membedakan bentuk dan wangi dari berbagai rempah yang umumnya digunakan untuk membuat jamu. Setelah itu seluruh anak mendapatkan sampel kecil dari jamu kunyit asam dan kembali ke kelas untuk mencoba jamu beras kencur bersama teman-temannya.

Di masa modern yang semakin maju ini, menjaga tradisi dan budaya nusantara menjadi penting untuk mengingatkan kita akan warisan nenek moyang terdahulu. Salah satunya tampak dalam bentuk makanan dan minuman tradisional yang terkenal akan manfaatnya dalam menjaga kesehatan. Dalam hal ini, KB-TK Santa Ursula menggunakan kesempatan perkenalan profesi penjual jamu untuk mengenalkan sejarah, proses, dan manfaat jamu kepada anak-anak usia dini.

Kami harap melalui kegiatan ini anak-anak menjadi kenal dengan keberadaan jamu. Mulai dari latar belakangnya, bahan-bahan yang digunakan, sampai dengan penampilan penjualnya yang semakin sulit ditemukan saat ini. Semoga pengalaman ini juga menumbuhkan rasa keberanian anak-anak untuk mencoba hal-hal baru terutama makanan serta minuman tradisional Indonesia yang masih belum dikenalkan sebelumnya. Terakhir, kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Jamu Mbak Suni selaku narasumber pada acara ini, atas presentasi dan penyampaian yang sangat menarik dan interaktif sehingga anak-anak dapat memperoleh pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan.

 

Selengkapnya
News Image
Imunisasi Campak untuk Siswa KB-TK Santa Ursula BSD

Pada tanggal 10 April 2026, KB-TK Santa Ursula BSD dan Puskesmas Rawa Buntu melaksanakan kegiatan pemberian imunisasi campak bagi para siswa KB, TK A, dan TK B. 

Kegiatan tersebut dilakukan berdasarkan surat edaran dinas kesehatan kota Tangerang Selatan nomor 400.7.7.2/0406/P2P tentang pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) Campak di kota Tangerang Selatan. Imunisasi campak ini dilakukan sebagai upaya pencegahan penyakit campak pada anak usia dini dan juga meningkatkan kekebalan tubuh anak terhadap penyakit campak. 

Sebelum pelaksanaan imunisasi, sekolah terlebih dahulu membuka pendaftaran bagi para orang tua yang ingin mengikuti program imunisasi ini melalui gform. Di hari pelaksanaan, para orang tua yang mendaftarkan anaknya, wajib mendampingi putra/i-nya selama proses penyuntikan vaksin. Pendampingan dapat dilakukan oleh orang tua atau pendamping yang ditunjuk oleh orang tua siswa. Sekolah juga meminta bantuan salah satu orang tua siswa yang berprofesi sebagai dokter untuk membantu dalam kegiatan imunisasi tersebut. 

Suasana sekolah saat kegiatan imunisasi ini sungguh ramai. Berbagai macam ekspresi terlihat pada wajah anak-anak. Beberapa siswa terlihat takut namun berani disuntik, ada juga siswa yang takut dan menolak disuntik, dan ada juga yang terlihat biasa saja dan tidak menangis saat disuntik. Secara keseluruhan, pemberian imunisasi campak ini berjalan lancar dan hampir semua siswa yang mendaftar mendapatkan imunisasi. 

Selengkapnya
News Image
“Healing Through Play: Bermain Menjadi Jalan Pemulihan Bagi Anak”

Sabtu, 18 April 2026 pukul 07.30-09.00 WIB menjadi hari yang penuh makna di Aula SMP-SMA Kampus Santa Ursula BSD. Kegiatan parenting pada semester 2 ini bertajuk “Healing Through Play” , menghadirkan suasana hangat yang mempertemukan para orang tua siswa/i KB dan TK A dalam sebuah ruang belajar bersama tentang tumbuh kembang anak.

Acara parenting kali ini dibawakan oleh Ibu Melly, S.Psi., Psikolog, seorang praktisi yang berpengalaman sebagai terapis anak dan dewasa di BSD City. Beliau merupakan lulusan Psikologi Universitas Atma Jaya dan melanjutkan pendidikan profesi di institusi yang sama. Selain itu, Ibu Melly juga pernah berperan sebagai asesor di beberapa lembaga psikologi. Pengalaman profesionalnya semakin kaya dengan kisah pribadinya sebagai seorang ibu—yang menghadapi tantangan tumbuh kembang pada anak pertama serta pergulatan emosi pada anak kedua. Dari pengalaman tersebut, beliau menemukan bahwa terapi bermain (play therapy) menjadi salah satu pendekatan efektif dalam membantu anak membangun rasa aman, menumbuhkan inisiatif, serta memulihkan luka emosional.

Untuk mengawali pemaparannya, dengan sebuah pertanyaan sederhana namun bermakna. Ibu Melly menanyakan tentang “Apa sih manfaat bermain bagi seorang anak?” Pertanyaan ini langsung mengundang partisipasi para orang tua. Berbagai jawaban pun muncul. Salah satu dari orang tua yang hadir menyampaikan bahwa bermain dapat mempertajam kemampuan motorik anak, melatih sosialisasi, mengembangkan kemampuan problem solving, serta meningkatkan kreativitas dan imajinasi. Selain itu, bermain juga dipandang sebagai sarana hiburan sekaligus cara untuk mempererat hubungan antara orang tua dan anak.

Menanggapi hal tersebut, Ibu Melly menegaskan bahwa bermain memiliki makna yang jauh lebih dalam. Menurut beliau, bermain adalah bahasa anak—cara mereka berkomunikasi, mengekspresikan perasaan, dan memahami dunia di sekitarnya. Melalui bermain, anak tidak hanya berkembang secara kognitif, tetapi juga secara fisik, emosional, dan sosial.

Berangkat dari pengalaman pribadi sebagai seorang ibu yang menghadapi tantangan tumbuh kembang dan emosi pada anak-anaknya, Ibu Melly menemukan media yang dapat digunakan dan mudah dijumpai untuk melakukan kegiatan terapi bermain (play therapy) seperti miniatur superhero, pasir, boneka, cerita atau dongeng, kegiatan seni, rumah boneka dengan figur keluarga, serta musik, anak dapat menyalurkan emosi dan memproses pengalaman mereka dengan cara yang aman dan menyenangkan.

Melalui kegiatan ini, para orang tua tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga refleksi mendalam tentang peran mereka dalam mendampingi anak. Healing Through Play mengingatkan bahwa proses penyembuhan dan pertumbuhan anak seringkali dimulai dari hal sederhana: bermain bersama dengan penuh kehadiran, empati, dan cinta. Kegiatan parenting ini pun ditutup dengan suasana penuh kehangatan, membawa harapan baru bagi setiap orang tua untuk terus belajar, bertumbuh, dan mendampingi anak-anak mereka dengan cara yang lebih sadar dan penuh makna.

Selengkapnya
News Image
Kartini Perempuan yang Menulis

Raden Ajeng Kartini dilahirkan di Jepara tanggal 21 April tahun 1879. Dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang berisi kumpulan surat R.A. Kartini diceritakan bahwa pandangan Kartini yang progresif mengalir dari Kakeknya, Bupati Demak Pangeran Tjondronegoro IV dan ayahnya, Bupati Jepara Raden Mas Adipati Aryo Sosroningrat. Kepada Nona E.H. Zeehandelaar, Kartini menceritakan bahwa Pangeran Ario Tjondronegoro IV sangat menyukai kemajuan dan merupakan Bupati Jawa Tengah pertama yang membuka peradaban barat untuk keluarganya melalui pendidikan Eropa (Kartini, 2011: 8). Kartini meninggal di usia muda, tepatnya pada tahun 1904 dan dimakamkan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pada tahun 1964 Presiden Sukarno menetapkan Kartini sebagai pahlawan nasional. 

Kartini adalah konseptor dalam sejarah Indonesia modern yang lahir di saat kolonialisme, feodalisme, dan patriarki mengakar kuat di Hindia Belanda. Kartini menyadari kondisi kaum perempuan sebagaimana dikatakan dalam suratnya kepada Nona E.H. Zeehandelaar. Perempuan Jawa pada usia 12 tahun dikurung di rumah dan terasing dari dunia luar karena tradisi pingitan. Ia tidak tuli dan tidak buta tentang belenggu adat tersebut. Dalam pandangan Kartini, perubahan itu baru akan terjadi 3-4 keturunan sesudah generasinya (Kartini, 2011: 7-9). Lewat buku Panggil Aku Kartini Saja, karya Pramoedya Ananta Toer dan Kartini. Sebuah Biografi, karya Sitisoemandari Soeroto terlihat jelas bahwa Kartini merepresentasikan kaum perempuan yang lebih dahulu ‘bangun’ untuk memperbaiki keadaan melalui pendidikan, sehingga ia disebut sebagai ibu nasionalisme (Soeroto, 1983: 438)

Apakah hari Kartini hanya sebatas ritual kebaya dan sanggul semata? Tentu tidak! Justru pemikiran Kartini hendaknya direnungkan karena ia menyelami kehidupan secara kritis dari akar permasalahan bangsa. Salah satu suratnya kepada Nyonya Abendanon sebagaimana terdapat dalam buku Surat-Surat Kepada Ny. R.M. Abendanon Mandri dan Suaminya mengulas kritik Kartini terhadap praktik patriarki (poligami) yang telah hidup dalam masyarakat karena dilindungi ajaran Islam dan kebodohan perempuan (Sutrisno, 1989: 10-11). Dalam pandangan sejarawan Hilmar Farid lewat artikelnya di Tempo, Kartini dan Ruang Dalam Bangsa, Kartini adalah pemikir dan aktivis peletak dasar emansipasi wanita. Ia menyuarakan arti penting pendidikan bagi anak agar tidak lagi dianggap persoalan sekunder (Farid2013: 86-87).

Pendukung Jalannya Peradaban

Melalui surat-suratnya yang diterjemahkan Sulastin Sutrisno, Kartini bersuara tentang pendidikan sebagai kehormatan bagi manusia. Melalui proses yang luhur, seorang pendidik secara moral berkewajiban membina watak yang lebih penting daripada hanya mengejar ilmu (Sutrisno, 1989: 73). Pengetahuan bukanlah akhir dari pendidikan, karena yang terutama dari pendidikan adalah memberikan keluhuran watak agar bermanfaat bagi kemajuan derajat manusia. Aspek kemanusiaan dalam pandangan Kartini mendapatkan tempat lebih tinggi di atas kecerdasan pengetahuan semata. 

Kartini memperjuangkan pendidikan yang awal mulanya ditujukan kepada kaum perempuan. Mengapa? Karena perempuan sebagai pendukung jalannya peradaban. Para ibu secara alamiah dititahkan sebagai pendidik dan pembimbing utama nilai-nilai kesusilaan. Di pangkuan ibu, anak mulai belajar merasakan, berbicara, berfikir, dan pendidikan waktu kecil besar pengaruhnya bagi perkembangan hidup selanjutnya (Sutrisno, 1989: 74). Peran keluarga dalam proses pembentukan karakter sangat fundamental, baik sebagai tempat anak belajar pertama kali dan mencari figur keteladanan. Bagaimana ibu dapat mendidik anaknya kalau mereka sendiri tidak terdidik? Bangsa kita tidak dapat maju, kalau kaum perempuan tidak diikutsertakan dalam usaha pembudayaan bangsa. Mengutip pendapat sejarawan dan sekaligus pendiri penerbitan Komunitas Bambu JJ Rizal dalam majaah Tempo, Kartini telah meletakkan titik persoalan yang menjadi semacam api atau obor untuk diteruskan para generasi berikutnya (Rizal2013: 96-97).

Penulis melihat ada relevansi pemikiran Kartini dengan pandangan Driyarkara, bahwa pendidikan adalah proses pembudayaan atau pemanusiaan manusia muda. Peran serta ibu sangatlah besar sehingga perlu memberikan bekal bagi remaja puteri tentang pengetahuan dan keterampilan hidup yang kelak memberikan manfaat ketika mereka menjadi seorang ibu. 

Bagaimana dengan laki-laki? Untuk kemajuan bersama kaum laki-laki juga harus dididik dalam hal tata kesusilaan, sehingga tumbuh sikap menghargai terhadap kaum perempuan, sama seperti menghargai ibunya. Jangan membiasakan anak kecil minta dihormati, tetapi biasakan terlebih dahulu untuk menghormati orang lain (Soeroto, 1983: 74&297). Pendidikan seperti ini harus ditanamkan sejak usia dini dan terasa sangat relevan hingga hari ini. Kasus-kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, termasuk lembaga pendidikan berbasis agama menunjukkan masih sangat kuatnya budaya patriarki. 

Pemikiran Kartini melampaui zamannya karena kaum bangsawan di saat Kartini hidup justru sangat nyaman dengan kedudukannya. Bagi Kartini, semakin tinggi derajat seseorang, justru semakin besar tanggung jawabnya. Kebangsawanan seseorang bukan untuk disembah-sembah dan yang terpenting dalam pandangan Kartini adalah kebangsawanan hati nurani yang turut memikul tanggung jawab terhadap rakyatnya. 

Tentu kita prihatin ketika banyak orang begitu cemerlang secara akademis, tetapi tidak memiliki kepekaan sosial untuk melihat ke bawah yang justru sangat membutuhkan dorongan kemajuan. Politisi-politisi muda sebagai penyelenggara negara justru tersandera kasus korupsi.

Keluarga adalah lingkungan pertama untuk membangun intelektualitas. Kartini belajar dari sang ayah dan kakaknya R. M. Sosrokartono yang tercatat sebagai mahasiswa pribumi pertama yang studi di negeri Belanda. Pandangan ayahnya cukup progresif dalam mendidik Kartini, meski adat tetap dilaksanakan agar tidak dipandang terlalu menyimpang dari tradisi. Dari mereka, Kartini belajar tentang sejarah negerinya dan pemikiran barat yang menumbuhkan semangat untuk memperjuangkan derajat bangsa, meski saat itu istilah Indonesia belum dikenal. 

Ayahnya telah membimbing watak Kartini dan adik-adiknya dengan mendekatkan mereka pada realita kehidupan rakyat di luar tembok kabupaten. Setelah dipingit di masa remaja, Kartini dan adik-adiknya diberikan kesempatan untuk blusukan hingga lahir perhatian yang besar terhadap kemajuan kesenian rakyat khas Kabupaten Jepara (Soeroto, 1983: 106). Ini adalah proses pendidikan humaniora dan tentu sangat relevan bila orang tua dan sekolah mengangkat cita rasa berkesenian untuk merawat identitas budaya bangsa agar tidak tercabut dari akarnya. Bangsa mancanegara yang menempuh studi di Indonesia banyak yang mendalami mengapa kita justru meninggalkannya?  

Bersahabat Dengan Buku

Media pembelajaran apa yang turut membentuk sikap kritis Kartini? Sejak kecil Kartini memiliki hasrat yang tinggi terhadap pengetahuan. Kedekatannya dengan buku, majalah, dan ketekunan mempelajari bahasa Belanda membuat Kartini terampil membaca dan menulis sehingga tampil sebagai pribadi yang kritis dan ekspresif. Bagi Kartini, menulis adalah panggilan sosial dan sikap kritisnya tercermin dari gugatan terhadap adat yang membawa keterbelakangan perempuan. Sejak usia 16 tahun, ia menyukai dan telah membaca novel Max Havelaar, karangan Multatuli yang memberi pandangan kritis terhadap dampak kolonialisme Belanda di tanah Jawa (Toer, 2003: 158-159). Ia didukung oleh sang ayah dengan mengirimkan artikel yang ditulis Kartini tentang Perkawinan Masyarakat Koja di Jepara sebagai artikel pertamanya yang dimuat dalam surat kabar di negeri Belanda.

Mengapa minat membaca anak sebagai kebutuhan semakin terkikis dewasa ini? Padahal buku dan menulis dapat melatih imajinasi, membangun idealisme, estetika, ketenangan, dan kesabaran. Membaca dan menulis adalah bagian pendidikan humaniora. Bersahabat dengan buku hendaknya dibiasakan sejak usia dini sehingga menghidupkan tradisi literasi di dalam keluarga adalah kemajuan yang luar biasa. Kisah di atas menunjukkan bahwa pandangan kemajuan Kartini merupakan warisan budaya literasi dari orang tuanya.

Pemikiran Kartini tentang pendidikan mengingatkan kita bahwa keluarga adalah landasan pembentukan karakter anak dan sejumlah persoalan anak dewasa ini tidak terlepas dari ketegangan yang terjadi di dalam lingkungan terdekatnya. Keluarga dan sekolah harus semakin bersinergi dalam mempersiapkan mereka di tengah situasi global. Lingkungan yang mengasuh memberikan pengaruh yang sangat besar bagi anak didik kita untuk tumbuh dan berkembang selaras dengan kebutuhan jaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur budaya. 

Semoga kita semakin bijak dalam merawat kisah atau ingatan kolektif bangsa untuk membaca situasi jaman karena kedewasaan sebuah bangsa dapat diukur dari sikapnya terhadap sejarah. Terlepas pro dan kontra tentang sosok Kartini, pemikiran dalam surat-suratnya masih relevan untuk kita renungkan hari ini.***

Selengkapnya

Mengapa Santa Ursula BSD ?

Keira Halim
Siswa SD kelas V

SD Santa Ursula BSD mempunyai kegiatan kungfu shaolin. Melalui kegiatan ini kami belajar membangun fisik dan mental. Terdapat pula kegiatan menulis rapi. Menulis rapi merupakan kegiatan yang dikembangkan di sekolah Santa Ursula BSD. Menulis bukan hanya kegiatan menggoreskan pena di atas kertas tetapi kami juga melatih konsentrasi, kesabaran, dan koordinasi gerak tangan. SD Santa Ursula BSD juga memiliki Taman IPA. Taman IPA merupakan tempat bagi kami untuk mengenal alam dan ilmu pengetahuan yang patut kami ketahui sebagai siswa SD.

Lihat Lebih Banyak