Santa Ursula BSD -

Manusia Utuh Cerdas Melayani

Santa Ursula BSD -
Manusia Utuh Cerdas Melayani

Sekilas Tentang Kampus Santa Ursula BSD

"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"

Sekilas Tentang Kampus Santa Ursula BSD

"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"

Fakta tentang Santa Ursula BSD

0+

Siswa Aktif

0+

Alumni

0+

Tahun Pengalaman

0+

Tenaga Pendidik

0+

Tenaga Kependidikan

Unit Sekolah Santa Ursula BSD

Prestasi

Berita Terbaru

News Image
Menjaga Kenangan, Menjaga Bumi

Refleksi Seminar “Beyond The Bin”: Belajar Mencintai Lingkungan Hidup dan Refleksi Menonton Film Teman Tegar Maira ; Whisper from Papua

Kepedulian terhadap lingkungan tidak lahir dari tindakan besar semata, melainkan dari membangun kebiasaan-kebiasaan kecil yang bisa dilakukan secara konsisten setiap hari. Mulai dari memilah sampah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menghargai makanan, hingga menjaga alam sebagai ruang hidup anak cucu nantinya. Sebagaimana persahabatan Maira dan Tegar yang tumbuh bersama dengan alam Papua, kita pun diajak untuk membangun relasi yang penuh kasih dengan sesama dan lingkungan alam di sekitar kita. Semangat Laudato Si’ mengingatkan bahwa bumi adalah rumah bersama yang dipercayakan kepada manusia untuk dirawat, bukan dieksploitasi. Oleh karena itu, marilah kita menjadi generasi yang tidak hanya sebagai penonton ketika melihat kerusakan terjadi, tetapi juga berani mengambil bagian dalam menjaga dan memulihkan lingkungan. Sebab, setiap tindakan yang kita lakukan hari ini adalah manifestasi bagi masa depan, agar kenangan, harapan, dan kehidupan dapat terus tumbuh dan diwariskan kepada generasi yang akan datang karena bumi yang kita tinggali hanya satu, dan masa depan generasi berikutnya dimulai dari pilihan-pilihan kita hari ini. 

 

Langkah Kecil untuk Bumi

Refleksi Seminar “Beyond The Bin”: Belajar Mencintai Lingkungan Hidup 

 

Pada tanggal 28 Mei 2026, murid kelas X dan XI SMA Santa Ursula BSD mengikuti seminar dan workshop bertajuk “Beyond The Bin”. Kegiatan yang diselenggarakan oleh OSIS SMA Santa Ursula BSD di Aula SMP / SMA Santa Ursula BSD ini merupakan wujud kepedulian terhadap permasalahan sampah sekaligus bagian dari rangkaian peringatan Hari Bumi yang diperingati setiap 22 April dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni. Seminar dan workshop ini diadakan sebagai respons atas meningkatnya persoalan sampah serta pengelolaannya yang masih menjadi tantangan di berbagai tempat. Narasumber yang hadir dalam kegiatan ini adalah Ibu Destri dan Ibu Xaxa dari komunitas Pepulih (Pemerhati dan Peduli Lingkungan Hidup), sebuah komunitas lingkungan lintas agama berbasis keimanan yang berdiri sejak 22 April 2004 di bawah naungan Keuskupan Agung Jakarta. Terinspirasi oleh ajaran Santo Fransiskus Asisi, Pepulih aktif dalam kegiatan edukasi, advokasi, dan pemberdayaan masyarakat untuk menjaga kelestarian alam. Fokus gerakannya meliputi perubahan pola pikir masyarakat terhadap lingkungan, pengelolaan sampah, konservasi sumber daya alam, serta penguatan ketahanan ekologi. Nama “Pepulih” sendiri mengandung makna upaya memulihkan kembali alam yang selama ini mengalami kerusakan akibat berbagai aktivitas manusia. 

Dalam seminar ini, peserta diajak memahami bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus dimulai dari tindakan sederhana di sekitar kita. Jika dahulu dikenal konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), kini konsep tersebut telah berkembang menjadi 11R yang dibagi ke dalam tiga tahapan:

  1. Sebelum (Rethink, Refuse), masyarakat diajak untuk berpikir kritis dan memilih barang secara bijak sebelum membeli atau menggunakannya. 
  2. Selama (Reduce, Reuse, Repair, Refurbish, Remanufacture), fokusnya adalah memperpanjang masa pakai barang agar tidak cepat menjadi limbah. 
  3. Setelah (Repurpose, Recycle, Recover, Return), barang yang telah menjadi sampah dikelola dengan tepat agar tidak mencemari lingkungan dan masih dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. 

Beraksi untuk Menjaga Lingkungan

Menjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai tindakan tersebut dapat diterapkan melalui konsep 11R yang terbagi ke dalam tiga tahapan, yaitu sebelum, selama, dan setelah penggunaan barang. Tahap “sebelum” (pintu depan) dilakukan dengan membiasakan diri berpikir bijak dahulu sebelum membeli atau menggunakan suatu barang. Contohnya dengan menolak penggunaan plastik sekali pakai, membawa tumbler sendiri, menggunakan tas belanja kain, serta membeli barang sesuai kebutuhan. Langkah-langkah sederhana ini penting karena dapat mengurangi jumlah sampah sejak awal, terutama sampah plastik yang banyak ditemukan di lingkungan maupun tempat pembuangan akhir. Membawa tumbler, misalnya, tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari, tetapi juga mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai.

Tahap “selama” (pintu tengah) dan “setelah” (pintu belakang) berfokus pada pemanfaatan barang secara optimal serta pengelolaan sampah yang tepat. Pada tahap selama, barang masih digunakan sehingga perlu dirawat dan dimanfaatkan sebaik mungkin agar tidak cepat menjadi limbah. Contohnya adalah menggunakan barang secara hemat, memperbaiki barang yang rusak, serta mematikan listrik ketika tidak digunakan. Sementara itu, pada tahap setelah, ketika barang telah menjadi sampah, langkah yang dapat dilakukan antara lain memilah sampah organik dan anorganik, membuat kompos dari sisa makanan, serta mendaur ulang barang yang masih memiliki nilai guna.

Bu Destri dan Bu Xaxa menjelaskan dengan sederhana bahwa tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membawa perubahan besar bagi lingkungan. Peserta diajak memahami bahwa pemilahan sampah organik dan anorganik bukan sekadar kebiasaan baik, melainkan langkah keselamatan yang dapat dimulai dari rumah. Sampah organik yang membusuk menghasilkan gas metana yang mudah terbakar dan berpotensi memicu ledakan apabila bercampur dengan limbah lain dalam jumlah besar, seperti yang pernah terjadi pada tragedi TPA Leuwigajah tahun 2005. Peristiwa tersebut mengingatkan bahwa persoalan sampah yang tampak sepele dapat berkembang menjadi ancaman besar ketika diabaikan. Dengan memilah sampah sejak dari sumbernya, kita tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga membantu mencegah risiko yang lebih besar. 

Hal lain yang ditekankan dalam seminar ini adalah pentingnya menghargai makanan dengan tidak menyisakannya. Menghabiskan makanan bukan hanya soal menghilangkan rasa lapar, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap alam dan banyak pihak yang terlibat dalam proses penyediaannya. Di balik setiap butir nasi, sayuran, dan buah yang tersaji di meja makan, terdapat perjalanan panjang yang melibatkan tanah yang subur, air yang mengalir, sinar matahari yang memberi energi bagi tumbuhan, mikroorganisme yang menjaga kesuburan tanah, serta kerja keras para petani yang menanam, merawat, dan memanennya. Kesadaran akan proses tersebut mengajak kita untuk memandang makanan bukan sekadar barang yang dapat dibeli dan dikonsumsi, melainkan anugerah yang lahir dari hubungan yang saling terjalin antara manusia dan alam. Ketika makanan disia-siakan, yang terbuang bukan hanya bahan pangan, tetapi juga waktu, tenaga, dan berbagai sumber daya yang telah menopang kehadirannya. Sebaliknya, ketika kita menghargai dan menghabiskan makanan secukupnya, kita sedang belajar bersyukur atas karunia yang diterima sekaligus menyadari bahwa kehidupan manusia bergantung pada alam yang sehat dan lestari. Dari kebiasaan sederhana inilah tumbuh pemahaman bahwa menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dari tindakan besar, tetapi juga dari sikap menghargai apa yang telah disediakan bumi bagi kehidupan. 

Dari seminar ini, kita dapat belajar bahwa perubahan besar seringkali berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Pemahaman tersebut penting karena masalah lingkungan tidak hanya disebabkan oleh keputusan-keputusan besar, tetapi juga oleh kebiasaan sehari-hari yang dilakukan oleh banyak orang secara terus-menerus. Kita diajak untuk menyadari bahwa menjaga lingkungan bukanlah tugas yang menunggu masa depan, melainkan tanggung jawab yang dapat dimulai hari ini melalui tindakan sederhana, seperti mengurangi sampah, menghargai makanan, dan menggunakan sumber daya secara bijaksana

Gerakan Lingkungan di Sekolah 

Di lingkungan sekolah, semangat kepedulian terhadap lingkungan diwujudkan melalui Tim Ekologi, yaitu komunitas murid yang memiliki minat dan kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan hidup. Berbagai kegiatan telah dilakukan, seperti pengomposan, pemilahan sampah, khusus pengumpulan tutup botol dan tutup galon dengan bekerja sama dengan OSIS SMA Santa Ursula BSD, budidaya hidroponik, serta perawatan lubang biopori. 

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa prinsip pengelolaan lingkungan pada tahap sebelum, selama, dan setelah penggunaan barang sesungguhnya telah diterapkan dalam kehidupan di sekolah sehari-hari oleh anak-anak dan guru. Namun, upaya ini akan memberikan dampak yang lebih besar apabila didorong terus menjadi habitus untuk seluruh komunitas sekolah. Dengan keterlibatan bersama, gerakan peduli lingkungan tidak hanya menjadi sebuah program, tetapi juga menjadi budaya yang tumbuh dan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. 

Sering kali kita merasa bahwa persoalan lingkungan terlalu besar untuk diubah oleh satu orang. Namun, seminar ini mengingatkan bahwa setiap perubahan selalu berawal dari sebuah pilihan sederhana. Ketika satu orang mulai peduli, lalu menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama, langkah kecil itu perlahan berubah menjadi gerakan yang membawa harapan. Pada akhirnya, bumi yang lebih baik bukanlah warisan yang kita terima, melainkan warisan yang kita ciptakan bersama melalui tindakan yang kita pilih setiap hari. 

 

Menjaga Kenangan, Menjaga Alam

Refleksi Setelah Menonton Teman Tegar Maira : Whisper from Papua

 

Nobar’ atau nonton bareng adalah kegiatan menonton suatu tayangan secara bersama-sama, kegiatan ini dapat membangun kebersamaan, serta dapat menjadi sarana edukasi untuk memahami realitas kehidupan nyata dan sarana untuk berdiskusi. SMA Santa Ursula BSD sudah beberapa kali mengadakan kegiatan nobar, beberapa film diantaranya adalah Say I Love You (2019), Budi Pekerti (2023), dan kini pada hari Kamis tanggal 4 di bulan Juni 2026 film Teman Tegar Maira : Whisper from Papua yang dipilih. 

Film Teman Tegar Maira tidak hanya sebatas film semata, tetapi membantu memperluas wawasan murid. Melalui sarana film tersebut, harapannya mampu menumbuhkan kepedulian dan sikap reflektif terhadap berbagai isu di sekitar mereka, khususnya lingkungan hidup. Melalui kisah persahabatan Maira dan Tegar di tengah ancaman kerusakan hutan Papua, murid diajak menyadari bahwa alam bukan sekadar tempat tinggal, melainkan warisan berharga yang perlu dijaga dan dilestarikan bersama. Film ini juga menggambarkan makna persahabatan sebagai ikatan kepercayaan yang melahirkan kasih, kepedulian, dan semangat untuk saling memahami. Nilai tersebut tercermin dalam hubungan Maira dan Tegar yang berasal dari latar belakang berbeda. Maira tumbuh di tengah kekayaan alam dan budaya Papua, sedangkan Tegar berasal dari lingkungan perkotaan yang akrab dengan berbagai persoalan akibat kerusakan lingkungan. Perbedaan itu tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk saling mengenal, belajar, dan memperkaya wawasan satu sama lain. Maira memperkenalkan Tegar pada keindahan alam serta kearifan budaya Papua, sementara Tegar berbagi pengalaman tentang kehidupan kota dan tantangan yang dihadapinya. Melalui rasa ingin tahu, sikap saling menghargai, dan kepercayaan yang terus bertumbuh, keduanya menjalin persahabatan yang erat. Kisah mereka mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk berpisah, melainkan kesempatan untuk saling memahami, saling melengkapi, dan bersama-sama memperjuangkan hal yang mereka cintai, yaitu menjaga alam sebagai rumah bersama dan warisan bagi masa depan. 

Dalam film ini, alam Papua menjadi saksi tumbuhnya persahabatan Maira dan Tegar. Relasi mereka berkembang seiring dengan kehidupan alam di sekitarnya, diiringi kicauan berbagai burung yang menghuni hutan Papua, kilauan sungai yang mengalir jernih bak permata, serta rimbunnya vegetasi yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat. Mereka juga turut merasakan suka dan duka para tetua yang dengan penuh keteguhan berjuang menghadirkan pendidikan yang lebih baik bagi anak dan cucunya di tengah polemik perebutan hak atas hutan.

Nenek dan orang tua Maira gemar bernyanyi, dan melalui nyanyian itulah mereka menyampaikan pesan, doa, serta ungkapan cinta kepada alam agar tetap lestari dan mampu menopang kehidupan generasi yang akan datang. Alunan suara mereka terdengar merdu, terkadang kuat, namun sesekali lirih, seakan memuat kegelisahan atas masa depan alam sekaligus harapan agar anak cucu kelak masih dapat menikmati keindahan dan kekayaan Papua. Nyanyian tersebut menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai leluhur dengan generasi penerus, sekaligus menjadi bentuk pewarisan kearifan lokal yang mengajarkan penghormatan terhadap alam. Bagi masyarakat Papua, hutan bukan sekadar hamparan pepohonan, melainkan ibu yang memberi kehidupan dan karena itu patut dihormati serta dijaga keberadaannya. Film ini juga mengajarkan bahwa memahami kebijaksanaan para leluhur memerlukan kesabaran, layaknya menyarikan pati sagu yang membutuhkan aliran air dan proses yang panjang. Dari sana tumbuh pemahaman bahwa hal-hal yang paling berharga sering kali lahir bukan dari jalan yang cepat, melainkan dari ketekunan dalam merawat hubungan dengan alam dan sesama. 

Melalui kisah film tersebut juga, penonton diajak melihat bahwa alam Papua bukan sekadar latar cerita, melainkan ruang hidup yang membentuk identitas, budaya, dan cara pandang masyarakat terhadap lingkungan. Sosok orang tua dan para tetua dalam keluarga Maira menjadi simbol pengetahuan leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi, sekaligus lambang harapan agar nilai-nilai luhur, kecintaan terhadap alam, dan kearifan budaya tetap hidup dalam diri generasi penerus. 

Di balik setiap perjalanan yang mereka lalui, Maira dan Tegar menunjukkan bahwa kerja sama dapat menghasilkan sesuatu yang lebih baik daripada usaha yang dilakukan sendiri. Perbedaan latar belakang, pengalaman, dan pengetahuan tidak menjadi penghalang, melainkan menjadi kekuatan yang membantu mereka saling melengkapi dalam memahami keindahan sekaligus pentingnya menjaga alam Papua. Kegigihan mereka dalam menelusuri hutan, menjelajahi berbagai sudut alam, serta berjuang untuk menyaksikan burung-burung endemik khas Australis mengajarkan bahwa keberhasilan sering kali lahir dari ketekunan, semangat pantang menyerah, dan kemauan untuk berjalan bersama demi tujuan yang baik. Perjuangan tersebut akhirnya terbayar ketika mereka dapat menyaksikan secara langsung keanggunan burung cendrawasih atau yang dikenal pula sebagai siangga, sang burung surga kebanggaan Papua. Dengan bulu yang memukau dan gerakannya yang anggun, kehadiran cendrawasih bersama berbagai satwa endemik Papua menjadi pengingat akan kekayaan hayati Indonesia yang perlu dijaga dan dilestarikan secara berkelanjutan. Film ini mengingatkan bahwa bumi adalah rumah bersama, sehingga menjaga kelestariannya bukan hanya tanggung jawab segelintir orang, melainkan tugas bersama demi masa depan yang lebih baik.

Melalui pendengaran, penglihatan, dan berbagai pengalaman yang mereka alami, Maira dan Tegar menyerap banyak hal yang menjadi bagian dari proses tumbuh dan berkembang. Pengalaman-pengalaman tersebut tidak hanya membentuk kenangan, tetapi juga mempengaruhi cara mereka memahami diri sendiri, sesama, dan lingkungan di sekitarnya. Dari sanalah muncul sebuah pertanyaan reflektif bagi kita semua: bagaimana jika ruang hidup yang menyimpan begitu banyak pengalaman, pembelajaran, dan makna itu perlahan berubah atau bahkan hilang akibat kerusakan lingkungan? 

Melalui proses refleksi setelah nobar film Teman Tegar Maira, kita kembali diingatkan untuk sejalan dengan semangat Laudato Si’, ensiklik Paus Fransiskus yang mengajak manusia untuk merawat bumi sebagai rumah bersama (our common home). Dalam Laudato Si’, ditegaskan bahwa hubungan manusia dengan alam tidak dapat dipisahkan dari hubungan manusia dengan sesama. Kerusakan lingkungan bukan hanya persoalan hilangnya pohon, sungai, atau satwa, tetapi juga hilangnya ruang hidup, budaya, kenangan, dan masa depan generasi berikutnya. Persahabatan Maira dan Tegar yang tumbuh bersama alam Papua menggambarkan adanya ekologi integral (integral ecology). Pengertian ekologi integral yang dikutip dari artikel pada Laudato Si’ Movement. Integral Ecology: A Holistic Approach to Global Challenges menyatakan bahwa bumi merupakan “rumah bersama” (our common home) yang perlu dirawat melalui kesadaran bahwa segala sesuatu saling terhubung. Kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya berarti melindungi alam, tetapi juga menjaga relasi antar manusia, budaya, serta kehidupan generasi mendatang melalui semangat ekologi integral (integral ecology). 

Melalui kegiatan nobar ini, murid diajak menyadari bahwa mencintai sesama, menghargai kehidupan, dan merawat lingkungan merupakan panggilan yang saling berkaitan. Dengan alur yang sederhana namun menyentuh, Teman Tegar Maira menunjukkan bahwa menjaga alam tidak hanya berarti melestarikan pohon, sungai, atau satwa, tetapi juga melindungi ruang hidup, budaya, dan masa depan masyarakat yang bergantung padanya. Dengan demikian, menjaga lingkungan berarti merawat rumah bersama serta mewariskan harapan bagi generasi yang akan datang. 

Mari mulai dari langkah kecil, sederhana, dan dilakukan terus-menerus.

Kurangi sampah dengan Pilah, Pilih, dan Pulihkan.

Bumi adalah rumah bersama bagi semua makhluk hidup ciptaan Tuhan.

 

Sumber Referensi : 

  1. Aksa Bumi Langit. https://www.youtube.com/watch?v=VKmGjvtjMDY&utm_source=chatgpt.com 
  2. Fransiskus. (2015). Laudato Si’: On Care for Our Common Home. Vatican Press. Vatican – Laudato Si’
  3. United States Conference of Catholic Bishops. Laudato Si’: On Care for Our Common Home. USCCB – Laudato Si’
  4. Laricha, S. L., & Juliana, H. K. (2023). Ergonomi Partisipatif dalam Pembuatan Buku Digital Perempuan dan Pembangunan Berkelanjutan Jurnal Serina Abdimas1(1). Diakses melalui Garuda Kemdiktisaintek https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/5727635.
  5. Laudato Si’ Movement. Integral Ecology: A Holistic Approach to Global Challenges. Laudato Si’ Movement Integral Ecology

Tempo.co. (2026, Januari xx). Jaga hutan, pesan film Teman Tegar Maira: Whisper from Papua. Tempo. https://www.tempo.co/teroka/jaga-hutan-pesan-film-teman-tegar-maira-whisper-from-papua-2106107

Selengkapnya
News Image
Menumbuhkan Kesadaran Ekologis dan Kepedulian Sosial melalui Film Teman Tegar Maira

Pada hari Kamis, 4 Juni 2026, sekolah Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan nonton bersama di Teras Kota BSD, Tangerang Selatan untuk menyaksikan film Teman Tegar Maira yang disutradarai oleh Anggi Frisca. Film ini dibintangi oleh M. Aldifi Tegar Rajasa, Joan Warum dan Elisabeth Sisauta. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh siswa SMP dan SMA sebagai bagian dari pembelajaran yang bertujuan memberikan pengalaman edukatif di luar lingkungan kelas. 

Kegiatan ini diselenggarakan untuk memperluas wawasan siswa-siswi mengenai kehidupan masyarakat Papua, khususnya terkait budaya, kondisi sosial, serta isu-isu yang dihadapi masyarakat adat. Melalui film ini, siswa-siswi diajak untuk memahami realitas kehidupan yang mungkin berbeda dari kehidupan sehari-hari mereka. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya toleransi, sikap saling menghargai, serta penghormatan terhadap keberagaman budaya Indonesia. 

Penyelenggaraan kegiatan didukung sepenuhnya oleh sekolah dengan menyewa beberapa studio bioskop di Teras Kota BSD, Tangerang Selatan. Setiap kelas telah dibagi ke dalam studio yang berbeda, sehingga seluruh siswa-siswi dan guru dapat menonton dengan nyaman. Setelah tiba di lokasi, siswa-siswi langsung menuju studio sesuai pembagian yang telah ditentukan. Selama pemutaran film berlangsung, siswa-siswi dan guru mengikuti kegiatan dengan tertib dan penuh perhatian. 

Teman Tegar Maira menghadirkan kisah yang menyentuh sekaligus menggugah pemikiran. Salah satu aspek yang paling menonjol dalam filmtersebut adalah penggambaran budaya Papua yang kaya dan unik. Berbagai adegan memperkenalkan kehidupan masyarakat adat yang masih menjaga tradisi serta nilai-nilai leluhur mereka. Selain itu, keindahan alam Papua yang memukau, mulai dari bentang alam dan hamparan hutan hijau, hingga lingkungan yang masih sangat erat dengan kehidupan masyarakat setempat. 

Melalui alur cerita yang disajikan, penonton diajak untuk memahami bahwa kebijakan atau program yang diklaim bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tidak selalu memberikan dampak yang sesuai dengan harapan. Dalam film ini, masyarakat adat Papua digambarkan sebagai kelompok yang memiliki posisi subordinat, khususnya dalam proses pengambilan keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka. Ketimpangan kekuasaan tersebut membuka peluang berbagai bentuk manipulasi oleh pihak yang memiliki wewenang lebih besar. Salah satu contohnya ditunjukkan melalui tindakan perusahaan PT Bebas Portal yang memanfaatkan keterbatasan literasi masyarakat setempat demi memperoleh persetujuan atas pengelolaan hutan. Dampaknya, hutan yang selama ini dilindungi oleh masyarakat mengalami kerusakan dan kehilangan fungsinya bagi warga sekitar.

Di luar unsur drama dan konflik yang membangun cerita, film ini berhasil membuka wawasan penonton terhadap realitas yang terjadi di Papua saat ini. Penonton diperlihatkan bagaimana masyarakat adat menghadapi tantangan dalam mempertahankan tanah, lingkungan, serta hak-hak mereka. Salah satu isu yang disoroti adalah deforestasi dalam skala besar di wilayah Papua. Dalam beberapa kasus nyata, kegiatan tersebut dilakukan tanpa persetujuan atau keterlibatan penuh dari masyarakat adat setempat. Akibatnya, lingkungan yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat menghadapi ancaman yang serius. 

Pesan yang disampaikan dalam film ini, sejalan pula dengan semangat Laudato Si’  yang ditulis oleh Paus Fransiskus. Di mana, umat manusia diajak untuk merawat bumi sebagai rumah bersama dan mengembangkan pertobatan ekologis, yakni perubahan cara pandang dan tindakan yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Kerusakan alam yang ditayangkan dalam film menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak hanya berdampak pada alam, tetapi juga pada kehidupan sosial, budaya, dan martabat manusia yang bergantung pada alam tersebut. 

Melalui film Teman Tegar Maira, siswa-siswi  SMA Santa Ursula BSD diajak untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga individu yang mampu berpikir kritis terhadap berbagai informasi dan kebijakan yang berkembang di masyarakat. Film ini mendorong penonton untuk menumbuhkan rasa empati terhadap kelompok yang mengalami ketidakadilan serta membangun kesadaran bahwa berbagai permasalahan sosial di Indonesia merupakan tanggung jawab bersama untuk dipahami dan diperhatikan. Dengan demikian, Teman Tegar Maira tidak hanya menjadi sebuah tontonan hiburan, tetapi juga hadir sebagai media pembelajaran yang mengajak generasi muda untuk lebih peduli terhadap isu kemanusiaan, lingkungan, dan keadilan sosial.

Selengkapnya
News Image
Satya Pancasila: Menanamkan Nilai Kebangsaan melalui Kreativitas, Kolaborasi, dan Kebersamaan

Dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila, komunitas SMA Santa Ursula BSD menyelenggarakan kegiatan Satya Pancasila pada 3 Juni 2026. Kegiatan Satya Pancasila dirancang oleh Badan Pengurus OSIS 2026 dan diikuti oleh siswa-siswi SMA Santa Ursula BSD kelas X dan XI dengan tujuan untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila melalui berbagai aktivitas yang edukatif, kreatif, dan kolaboratif. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi wadah bagi siswa-siswi untuk mengembangkan wawasan dalam bidang akademik serta keterampilan dalam bidang seni dan raga.

Mendorong semangat persatuan dan gotong royong, kegiatan Satya Pancasila menghadirkan berbagai permainan dan perlombaan yang dirancang untuk memperdalam pengetahuan siswa tentang nilai-nilai Pancasila. Dalam permainan-permainan tersebut, siswa-siswi SMA Santa Ursula BSD kelas X dan XI dibagi menjadi 12 kelompok secara merata. Dengan begitu, selain menambah wawasan dan mengembangkan keterampilan, kegiatan ini menjadi sarana untuk membangun kebersamaan antarkelas dan antarangkatan, sehingga dapat mempererat hubungan siswa-siswi SMA Santa Ursula BSD.

Rangkaian kegiatan diawali dengan lomba cerdas cermat yang menguji wawasan siswa-siswi dalam bidang pengetahuan umum, budaya Indonesia, sejarah bangsa, wawasan kebangsaan, serta Pancasila. Melalui suasana kompetitif yang sehat, siswa diajak untuk memperluas wawasan dengan cara yang menyenangkan dan interaktif. Setelah lomba cerdas cermat tersebut, rangkaian permainan berikutnya dibagi dalam 3 bidang, yakni bidang akademik, seni, dan raga.

Bidang akademik menghadirkan tiga permainan yang mendorong kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kerja sama kelompok. Permainan pertama adalah Titian Nusantara yang menantang setiap kelompok untuk membangun jembatan menggunakan stik es krim yang kemudian diuji untuk mengetahui konstruksi mana yang mampu menahan beban paling besar. Kegiatan ini melatih kemampuan perencanaan, pemecahan masalah, serta kolaborasi dalam mencapai tujuan bersama.

Selain itu, siswa juga mengikuti permainan Gema Aspirasi, sebuah debat bertema “Relevansi Nilai Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari Generasi Muda” yang melatih kemampuan berpikir kritis, kepercayaan diri, serta menyampaikan pendapat. Sementara itu, permainan terakhir yakni Kepingan Perjuangan yang mengajak siswa memahami kembali proses perumusan Pancasila melalui teka-teki gambar dan penyusunan linimasa sejarah. Melalui berbagai aktivitas tersebut, siswa tidak hanya memperluas wawasan kebangsaan, tetapi juga mengembangkan keterampilan komunikasi dan kerja sama.

Pada bidang seni, siswa menunjukkan bakat dan kreativitas mereka melalui permainan Resonansi Baswara, yakni lomba menyanyi dengan membawakan lagu nasional serta lagu daerah Indonesia. Penampilan yang beragam mencerminkan kekayaan budaya Nusantara sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan budaya bangsa. Melalui musik, siswa diajak untuk menghayati semangat persatuan dalam keberagaman yang menjadi salah satu nilai penting Pancasila.

Terakhir, bidang raga menghadirkan berbagai permainan fisik yang menekankan kekompakan dan kerja sama kelompok. Salah satunya adalah voli sarung, permainan yang memadukan olahraga voli dengan penggunaan sarung sebagai alat utama sehingga setiap anggota kelompok harus berkoordinasi untuk menangkap, mengarahkan, dan memantulkan bola melewati net. Permainan ini menuntut komunikasi dan kerja sama yang baik agar kelompok dapat bermain secara efektif.

Selain itu, siswa juga mengikuti Bakiak Kelereng, modifikasi permainan tradisional bakiak yang menambah tantangan dengan membawa kelereng di atas sendok menggunakan mulut oleh siswa yang berada di posisi paling depan serta paling belakang. Aktivitas ini melatih konsentrasi, keseimbangan, dan kekompakan sebab keberhasilan hanya dapat dicapai ketika seluruh anggota kelompok bergerak secara selaras.

Selain perlombaan, dihadirkan pula Senandika Pancasila, sebuah banner interaktif yang memuat pandangan dan refleksi siswa berkaitan dengan Pancasila. Siswa mengisi banner yang disediakan selama bidang seni berlangsung, sebagai sarana ekspresi gagasan serta ruang belajar untuk mengetahui berbagai sudut pandang dari siswa-siswi lainnya.

Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, diumumkan pemenang dari setiap kategori perlombaan sebagai bentuk apresiasi atas usaha, kreativitas, dan semangat yang telah ditunjukkan selama kegiatan berlangsung. Meskipun terdapat kompetisi, nilai utama yang ingin dibangun melalui Satya Pancasila bukanlah kemenangan, melainkan proses belajar, kebersamaan antar siswa, serta menghayati nilai-nilai Pancasila melalui pengalaman yang diperoleh sepanjang kegiatan.

Melalui Satya Pancasila, siswa SMA Santa Ursula BSD tidak hanya mempelajari nilai-nilai Pancasila secara teoritis, tetapi juga menghayatinya melalui pengalaman langsung. Semangat gotong royong, persatuan, demokrasi, serta penghargaan terhadap keberagaman yang tercermin dalam kegiatan diharapkan dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, peringatan Hari Lahir Pancasila tidak hanya menjadi sebuah perayaan, tetapi juga momentum untuk menumbuhkan karakter generasi muda yang berintegritas, peduli, dan berjiwa kebangsaan.

Dokumentasi: Tim Dokumentasi

Selengkapnya
News Image
Kegiatan Sosial Kelas IX Angkatan 31: Wujud Nyata Semangat Serviam

Sebagai ungkapan rasa syukur atas perjalanan tiga tahun yang telah dilalui di SMP Santa Ursula BSD, siswa kelas IX Angkatan 31 melaksanakan kegiatan sosial di SDN Pancawati 02 Caringin, Bogor, pada Selasa, 26 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata perwujudan nilai Serviam yang selama ini ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.

Selama menempuh pendidikan di SMP Santa Ursula BSD, kami tidak hanya belajar mengenai ilmu pengetahuan dan pencapaian akademik, tetapi juga dibentuk menjadi pribadi yang peduli, berbelarasa, dan mampu hadir bagi sesama. Oleh karena itu, menjelang akhir perjalanan kami di jenjang SMP, kami diajak untuk merefleksikan rasa syukur melalui aksi berbagi dan pelayanan kepada orang lain.

Dalam kegiatan tersebut, kami menyerahkan sebanyak 437 paket alat tulis kepada seluruh siswa SDN Pancawati 02. Paket yang diberikan terdiri atas berbagai perlengkapan belajar yang diharapkan dapat membantu dan mendukung semangat belajar anak-anak di sekolah tersebut. Selain itu, kami juga memberikan sumbangan berupa buku-buku bacaan untuk perpustakaan sekolah sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan budaya literasi dan kecintaan membaca sejak usia dini.

Kegiatan sosial ini disambut dengan penuh sukacita oleh pihak sekolah, para guru, serta seluruh siswa SDN Pancawati 02. Kehangatan dan antusiasme tampak dalam setiap sapaan, senyuman, dan kebersamaan yang terjalin selama kegiatan berlangsung. Tidak hanya berbagi barang, kami juga belajar untuk berbagi perhatian, kepedulian, waktu, dan kasih kepada sesama.

Melalui pengalaman ini, kami semakin menyadari bahwa pendidikan sejati tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk hati yang peka terhadap kebutuhan orang lain. Semangat Serviam  “Aku Mengabdi” diwujudkan melalui tindakan nyata untuk hadir, peduli, dan melayani dengan tulus. Nilai pelayanan, kerja sama, kepedulian sosial, serta rasa syukur menjadi bagian penting yang dihidupi bersama dalam kegiatan ini.

Kegiatan sosial ini juga menjadi momen refleksi bagi kami untuk melihat kembali perjalanan mereka selama tiga tahun di SMP Santa Ursula BSD. Banyak pengalaman, pembelajaran, persahabatan, dan nilai kehidupan yang telah kami terima dan alami bersama. Semua proses tersebut menjadi bagian dari pembentukan diri agar kami mampu bertumbuh menjadi pribadi yang utuh, cerdas, dan melayani sehingga dapat menjadi berkat bagi lingkungan di sekitarnya. Di tengah langkah menuju jenjang pendidikan berikutnya, kami diajak untuk terus membawa semangat Serviam dalam kehidupan sehari-hari: memiliki hati yang peduli, rendah hati untuk melayani, serta keberanian untuk membawa kasih dan harapan bagi sesama.

Semoga pengalaman ini menjadi kenangan bermakna yang terus hidup dalam hati kami. Dengan hati yang penuh syukur atas penyertaan Tuhan dan perjalanan selama tiga tahun di SMP Santa Ursula BSD, kami  melangkah maju sebagai generasi yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga mampu menjadi terang dan berkat bagi sesama.

Selengkapnya
News Image
Pertunjukan Akhir Tahun KB Tahun Pelajaran 2025 – 2026

Pada Sabtu, 16 Mei 2026, para orang tua siswa KB berbondong-bondong hadir di Aula SMP-SMA Santa Ursula BSD untuk menyaksikan Pertunjukan Akhir Tahun 2025-2026 KB yang mengangkat tema “Hutan Ceria”Pertunjukan ini dikemas dalam gerak lagu dan nyanyian yang ceria. Para siswa KB tampil dengan penuh semangat mengikuti arahan para guru yang mendampingi dari belakang panggung. Bagi para orang tua, Pertunjukan Akhir Tahun selalu menjadi momen yang dinantikan. Kegiatan ini menjadi puncak dari proses pendidikan dan pendampingan yang dilakukan bersama antara sekolah dan orang tua. Melalui pertunjukan ini, para siswa KB yang berusia hampir empat tahun diajak untuk menampilkan keberanian, kemandirian, dan rasa percaya diri mereka di hadapan banyak orang.

Acara dibuka oleh pemandu acara, yaitu satu siswi KB bersama seorang guru. Setelah itu, para siswa tampil dalam beberapa kelompok tarian yang menggambarkan berbagai hewan, seperti ikan, gajah, singa, ayam, dan kelinci. Setiap penampilan berhasil menghadirkan suasana ceria dan menggemaskan. Senyum para orang tua tampak merekah setiap kali kelompok siswa muncul di atas panggung.

Antusiasme para orang tua juga terlihat dari tepuk tangan meriah yang memenuhi ruangan setiap kali para siswa selesai menampilkan tariannya. Apresiasi tersebut menjadi bentuk dukungan dan kebanggaan atas keberanian putra-putri mereka tampil di depan banyak orang. Para guru pun turut merasa bangga melihat siswa-siswi KB mampu menunjukkan penampilan yang sederhana, tetapi penuh semangat, kegembiraan, dan percaya diri. Lebih dari sekadar pertunjukan, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga bagi anak-anak untuk belajar tampil, bekerja sama, mengikuti arahan, serta menikmati proses bersama teman-teman. Rangkaian Pertunjukan Akhir Tahun KB ditutup dengan lagu “Tirukan Gerakan Hewan”. Seluruh siswa kemudian kembali tampil bersama di atas panggung membawakan lagu “Rukun Sama Teman”. Suasana penuh kegembiraan dan kehangatan menjadi penutup yang indah bagi pertunjukan bertema “Hutan Ceria”ini.

Selengkapnya
News Image
Misa Keluarga TKB Santa Ursula BSD: Langkah Kecil Anak-Anak, Sukacita Besar dalam Iman

Pada Sabtu, 9 Mei 2026, suasana hangat penuh cinta dan sukacita memenuhi perayaan Misa Keluarga TKB di Auditorium Kampus Santa Ursula BSD. Misa yang diikuti oleh anak-anak TKB berusia 5–6 tahun ini menjadi momen istimewa karena tidak hanya melibatkan seluruh siswa sebagai petugas misa, tetapi juga dihadiri oleh orang tua murid yang turut mendampingi putra-putri mereka dalam kebersamaan iman.

Perayaan ini menjadi pengalaman yang sangat bermakna bagi anak-anak. Dengan penuh semangat, keberanian, dan kepolosan khas usia dini, mereka belajar melayani Tuhan serta tampil percaya diri di hadapan umat dan keluarga tercinta.

Misa keluarga ini memiliki tujuan untuk menanamkan nilai iman, cinta kasih, keberanian, tanggung jawab, serta semangat melayani sejak usia dini. Selain itu, misa ini juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antara sekolah, anak, dan keluarga dalam suasana penuh kasih serta kebersamaan. Kehadiran orang tua murid dalam memberikan dukungan dan merupakan kebanggaan tersendiri bagi anak-anak saat mereka menjalankan tugas pelayanan.

Sejak awal kedatangan umat, suasana ceria sudah terasa melalui sambutan hangat dari anak-anak yang bertugas sebagai penerima tamu. Dengan senyum manis dan sapaan polos mereka, umat yang hadir merasa disambut dengan penuh kasih dan kegembiraan.

Perayaan misa diawali dengan perarakan pembuka yang menarik perhatian seluruh umat. Beberapa anak berjalan dengan penuh percaya diri mengenakan kostum suster dan romo sambil mengikuti lagu pembuka. Tingkah lugu dan ekspresi menggemaskan mereka menghadirkan suasana yang hangat, ceria, namun tetap khidmat.

Seluruh siswa TKB mendapatkan kesempatan untuk mengambil bagian dalam misa ini. Ada yang bertugas sebagai paduan suara, dirigen, pemazmur, lektor, komentator, pembaca doa umat, penerima tamu, hingga petugas persembahan. Dengan suara kecil yang tulus dan penuh semangat, anak-anak menjalankan tugas mereka dengan sangat baik. Meskipun masih berusia 5–6 tahun, mereka menunjukkan keberanian luar biasa untuk tampil di depan banyak orang.

Pada saat persembahan, anak-anak turut mempersembahkan tarian sederhana dengan mengenakan berbagai kostum daerah Nusantara yang berwarna-warni. Penampilan mereka menambah suasana misa menjadi semakin hangat dan penuh sukacita, sekaligus menggambarkan kebersamaan dalam keberagaman budaya Indonesia.

Kebersamaan antara anak-anak, guru, dan orang tua membuat misa keluarga ini terasa sangat istimewa. Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar bahwa melayani Tuhan dapat dilakukan dengan hati yang gembira, sederhana, dan penuh cinta.

Misa Keluarga TKB Santa Ursula BSD menjadi bukti bahwa langkah kecil anak-anak dapat menghadirkan sukacita besar bagi banyak orang. Semoga pengalaman indah ini menjadi kenangan berharga yang menumbuhkan iman, keberanian, dan semangat melayani dalam diri anak-anak sejak usia dini.

Selengkapnya
News Image
Beyond Memorizing Lines: My First Acting Experience

An ordinary classroom project eventually turned into an unforgettable journey of creativity, teamwork, and self-expression. During our English Literature drama project, each group was challenged to create a stage performance inspired by a movie of their choice.  My group decided to adapt Tinggal Meninggal, a film directed by Kristo Immanuel and transformed it into our own theatrical performance. Through this project, I not only learned more about literature and storytelling, but also experienced what it truly feels like to become a character on stage.

Our group chose Tinggal Meninggal because we believed the film had a very unique concept compared to most movies.  One of the most interesting aspects of the film is how the main character directly speaks to the audience, creating a personal and interactive storytelling style. We found this approach creative and engaging, which inspired us to develop our own adaptation while still preserving the originality and emotional depth of the story.

In our performance, I was given the role of Gema, the main character. Playing as Gema became a completely new experience for me because this was my first time acting seriously in front of the audience.  Gema is portrayed as someone who struggles with social interaction.  He often feels anxious and panics easily when talking to other people.  He also tends to mumble or talk to himself.  In the drama, Gema frequently shares his thoughts and feelings directly with the audience, which made the role even more challenging because I had to maintain both emotional expression and audience connection at the same time.

The preparation process required a lot of effort and teamwork.  Before starting the rehearsals, our group held several script reading sessions to better understand the storyline, the emotions of each character, and the flow of the performance.  During these sessions, I tried to study Gema’s personality deeply so I could portray his awkwardness and anxiety very naturally.

After the script reading sessions, we continued with blocking rehearsals. This was where we practiced movements, stage positioning, and scene transitions. Since Gema’s personality is socially awkward and nervous, I needed to pay close attention to my body language and facial expressions.  I practiced avoiding eye contact, reacting nervously during conversations, and creating small gestures that reflected Gema’s anxious personality.  Besides memorizing the script, I also spent time practicing tone of voice and emotional delivery, so the character would feel convincing on stage.

Throughout the preparation process, our group also faced several difficulties, such as adjusting rehearsal schedules, improving scene timing, and making sure every performance detail matched the story we wanted to deliver. Despite these challenges, every group member continued supporting one another and worked together seriously to improve the drama.

One of the most unexpected challenges happened during the final performance itself. There were several moments when I suddenly forgot parts of my script while being on stage. However, instead of panicking completely, I tried to stay calm and improvise naturally according to Gema’s personality.  Since Gema is portrayed as an anxious and awkward character who often hesitates and overthinks while speaking, I used those moments to remain in character by acting confused, pausing for a moment, and responding spontaneously.  Surprisingly, this made the performance feel even more natural because the nervousness I experienced matched Gema’s personality perfectly. 

Looking back on this experience, this drama project taught me many new things beyond simply performing on stage.  Through the role of Gema, I learned how acting is not only about memorizing lines, but also about expressing emotions and making the audience truly understand what a character is feeling.  More importantly, this project became one of the most memorable experiences for me because it was a long and meaningful journey shared with my group members.            

We went through many phases together, from staying up late finishing the script, practicing scenes repeatedly, attending script reading sessions, creating props, and gathering at friends’ houses for rehearsals.  Even though the process was tiring at times, I genuinely enjoyed every moment of it.

The laughter, deep talks, teamwork, and challenges we experienced together made this project feel incredibly special and unforgettable for me.

 

Dokumentasi: Tim Dokumentasi

Selengkapnya

Fasilitas

Mengapa Santa Ursula BSD ?

Keira Halim
Siswa SD kelas V

SD Santa Ursula BSD mempunyai kegiatan kungfu shaolin. Melalui kegiatan ini kami belajar membangun fisik dan mental. Terdapat pula kegiatan menulis rapi. Menulis rapi merupakan kegiatan yang dikembangkan di sekolah Santa Ursula BSD. Menulis bukan hanya kegiatan menggoreskan pena di atas kertas tetapi kami juga melatih konsentrasi, kesabaran, dan koordinasi gerak tangan. SD Santa Ursula BSD juga memiliki Taman IPA. Taman IPA merupakan tempat bagi kami untuk mengenal alam dan ilmu pengetahuan yang patut kami ketahui sebagai siswa SD.

Lihat Lebih Banyak