Santa Ursula BSD -

Manusia Utuh Cerdas Melayani

Santa Ursula BSD -
Manusia Utuh Cerdas Melayani

Sekilas Tentang Kampus Santa Ursula BSD

"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"

Sekilas Tentang Kampus Santa Ursula BSD

"Santa Ursula BSD adalah lembaga pendidikan Katolik dibawah
Yayasan Sancta Ursula yang dikelola oleh para Suster Ursulin. Sekolah ini mendidik peserta didik berdasarkan asas Pancasila dalam terang iman Katolik menjadi manusia utuh, cerdas dan melayani"

Fakta tentang Santa Ursula BSD

0+

Siswa Aktif

0+

Alumni

0+

Tahun Pengalaman

0+

Tenaga Pendidik

0+

Tenaga Kependidikan

Unit Sekolah Santa Ursula BSD

Prestasi

Berita Terbaru

News Image
Beyond Memorizing Lines: My First Acting Experience

An ordinary classroom project eventually turned into an unforgettable journey of creativity, teamwork, and self-expression. During our English Literature drama project, each group was challenged to create a stage performance inspired by a movie of their choice.  My group decided to adapt Tinggal Meninggal, a film directed by Kristo Immanuel and transformed it into our own theatrical performance. Through this project, I not only learned more about literature and storytelling, but also experienced what it truly feels like to become a character on stage.

Our group chose Tinggal Meninggal because we believed the film had a very unique concept compared to most movies.  One of the most interesting aspects of the film is how the main character directly speaks to the audience, creating a personal and interactive storytelling style. We found this approach creative and engaging, which inspired us to develop our own adaptation while still preserving the originality and emotional depth of the story.

In our performance, I was given the role of Gema, the main character. Playing as Gema became a completely new experience for me because this was my first time acting seriously in front of the audience.  Gema is portrayed as someone who struggles with social interaction.  He often feels anxious and panics easily when talking to other people.  He also tends to mumble or talk to himself.  In the drama, Gema frequently shares his thoughts and feelings directly with the audience, which made the role even more challenging because I had to maintain both emotional expression and audience connection at the same time.

The preparation process required a lot of effort and teamwork.  Before starting the rehearsals, our group held several script reading sessions to better understand the storyline, the emotions of each character, and the flow of the performance.  During these sessions, I tried to study Gema’s personality deeply so I could portray his awkwardness and anxiety very naturally.

After the script reading sessions, we continued with blocking rehearsals. This was where we practiced movements, stage positioning, and scene transitions. Since Gema’s personality is socially awkward and nervous, I needed to pay close attention to my body language and facial expressions.  I practiced avoiding eye contact, reacting nervously during conversations, and creating small gestures that reflected Gema’s anxious personality.  Besides memorizing the script, I also spent time practicing tone of voice and emotional delivery, so the character would feel convincing on stage.

Throughout the preparation process, our group also faced several difficulties, such as adjusting rehearsal schedules, improving scene timing, and making sure every performance detail matched the story we wanted to deliver. Despite these challenges, every group member continued supporting one another and worked together seriously to improve the drama.

One of the most unexpected challenges happened during the final performance itself. There were several moments when I suddenly forgot parts of my script while being on stage. However, instead of panicking completely, I tried to stay calm and improvise naturally according to Gema’s personality.  Since Gema is portrayed as an anxious and awkward character who often hesitates and overthinks while speaking, I used those moments to remain in character by acting confused, pausing for a moment, and responding spontaneously.  Surprisingly, this made the performance feel even more natural because the nervousness I experienced matched Gema’s personality perfectly. 

Looking back on this experience, this drama project taught me many new things beyond simply performing on stage.  Through the role of Gema, I learned how acting is not only about memorizing lines, but also about expressing emotions and making the audience truly understand what a character is feeling.  More importantly, this project became one of the most memorable experiences for me because it was a long and meaningful journey shared with my group members.            

We went through many phases together, from staying up late finishing the script, practicing scenes repeatedly, attending script reading sessions, creating props, and gathering at friends’ houses for rehearsals.  Even though the process was tiring at times, I genuinely enjoyed every moment of it.

The laughter, deep talks, teamwork, and challenges we experienced together made this project feel incredibly special and unforgettable for me.

 

Dokumentasi: Tim Dokumentasi

Selengkapnya
News Image
KETIKA NADA MENJADI DOA MELALUI HARMONI SEPTEM STELLARUM DI GEREJA SANTA PERAWAN MARIA BENTENG GADING

Tuhan sungguh baik, penuh belas kasih

aku tak akan takut, sebab Dia sertaku

Ketika ku lemah dan berputus asa : “Datanglah padaku, maka beban berlalu”

Aku s’lalu berharap, hanya kepada-Mu

Kaulah satu-satunya penguat di hidupku

Biarkan ku bersandar pada kasih-Mu

dan berserah pada-Mu selamanya - Ki Young Kim

 

Untaian lirik penuh makna di atas bukan sekadar bait lagu yang indah, melainkan sebuah doa dan penyerahan diri yang membumbung tinggi ke langit pagi ini. Alunan nada yang selaras tersebut dihasilkan dari kesatuan hati para murid yang mempersembahkan talenta terbaik mereka bagi kemuliaan Tuhan. Setiap ketukan, dinamika, dan perpaduan suara yang terdengar di dalam gereja bukanlah hasil instan, melainkan sebuah refleksi dari ketekunan, pengorbanan, dan iman yang bertumbuh bersama dalam sebuah komunitas pembelajar.

Pada Minggu, 17 Mei 2026, dalam perayaan ekaristi pukul 09.00 WIB yang dipersembahkan oleh pastor RD Ignasius Wahyudi Paweling, paduan suara Septem Stellarum sukses melayani dalam tugas mulia sebagai petugas koor di Gereja Santa Perawan Maria Benteng Gading, Gading Serpong Paroki Alam Sutera. Paduan suara ini merupakan sebuah kolaborasi harmonis antara murid-murid SMP dan SMA Santa Ursula BSD. Melalui kolaborasi lintas jenjang ini, nilai-nilai humanis ditumbuhkan. Murid-murid tidak hanya dituntut memiliki kemampuan vokal, tetapi juga kepekaan hati untuk saling mendengarkan satu sama lain sehingga tercipta satu harmoni suara yang padu, dan dipersembahkan sepenuhnya untuk melayani Tuhan dan sesama. 

Semangat Serviam yang menjadi inti dari spiritualitas Ursulin, menjadi dasar utama dari seluruh rangkaian keterlibatan Septem Stellarum dalam tugas pelayanan gereja ini. Di tengah berbagai tugas dan dinamika pembelajaran sehari-hari, para murid dengan penuh sukacita meluangkan waktu dan mencurahkan tenaga untuk mempersiapkan tugas pelayanan secara batin dan teknis. Tugas pelayanan gereja ini menjadi sebuah momen reflektif yang mendalam bagi seluruh komunitas akademis bagaimana visi sekolah diwujudkan dalam tindakan nyata di tengah masyarakat. Bagi seluruh keluarga besar Santa Ursula BSD, keterlibatan aktif pelayanan dalam perayaan ekaristi di gereja menjadi bentuk nyata liturgi kehidupan yang mengakar pada visi sekolah yaitu membentuk manusia yang utuh, cerdas, dan melayani. 

Seperti untaian lirik lagu yang berjudul Tuhan Sungguh Baik Karya Ki Young Kim yang mereka bawakan dengan penuh penjiwaan, para murid diajak untuk bersandar sepenuhnya pada kasih Tuhan dan berserah kepada-Nya dalam setiap langkah hidupnya. Mengutip perkataan Santo Agustinus bahwa “Bernyanyi adalah Berdoa Dua Kali”, paduan suara Septem Stellarum tidak hanya bernyanyi dengan teknik suara yang indah, melainkan dengan jiwa yang rindu untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan dan mengabdi dengan menjadi saluran berkat bagi sesama. Hal ini selaras dengan apa yang disampaikan secara mendalam oleh pastor RD Ignasius Wahyudi Paweling, dalam homilinya. Beliau mengajak seluruh umat yang hadir untuk senantiasa berdoa memohon kehadiran Roh Kudus agar menjiwai setiap langkah kehidupan kita. Roh kudus itulah yang akan senantiasa memberikan motivasi, menghibur di kala lelah, dan menggerakkan diri kita semua agar mampu menjadi saksi kasih-Nya. Melalui lagu-lagu yang dibawakan oleh paduan suara Septem Stellarum, pesan homili tersebut tersebut terasa semakin hidup dan menyentuh hati setiap umat yang mendengarkannya.

Pelayanan di Gereja Santa Perawan Maria Benteng Gading pagi ini berjalan dengan khidmat dan lancar. Nyanyian indah dari paduan suara Septem Stellarum dapat membawa umat ke dalam keheningan doa, sehingga mampu menghayati misa dengan lebih dalam. Kehadiran paduan suara Septem Stellarum membuat suasana liturgis menjadi lebih hidup, sekaligus membuktikan bahwa orang muda memiliki peran yang penting bagi kemajuan gereja.

Atas terselenggaranya pelayanan yang penuh berkat ini, Sekolah Santa Ursula BSD menyampaikan terima kasih kepada RD Yohanes Hadi Suryono,  selaku pastor paroki yang telah menyambut dan memberikan kesempatan serta kepercayaan penuh kepada paduan suara SMP-SMA Santa Ursula BSD, Septem Stellarum. Apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada segenap pengurus dewan paroki, umat Gereja Santa Perawan Maria Benteng Gading, bapak dan ibu guru Santa Ursula BSD, serta seluruh orang tua murid yang senantiasa mendampingi, memberikan dukungan, dan doa bagi perkembangan iman dan bakat para murid. Semoga melalui pelayanan liturgis ini, nama Tuhan semakin dimuliakan dan semangat Serviam semakin berakar kuat, tumbuh subur, serta berbuah di dalam sanubari setiap murid di Santa Ursula BSD. 

Selamat atas tugas pelayanan yang luar biasa, Paduan Suara Septem Stellarum teruslah bernyanyi, memuji dan menjadi bintang-bintang terang yang mampu menuntun sesama menuju kasih Tuhan yang sejati.

Selengkapnya
News Image
Temu Purna Siswa Angkatan XXVIII: Perjumpaan dalam Rasa Syukur

Dengan penuh rasa syukur, keluarga besar SMA Santa Ursula BSD bersama para lulusan dan orang tua berkumpul dalam acara Temu Purna Siswa Angkatan XXVIII. Perjumpaan ini menjadi penanda berakhirnya perjalanan pembelajaran para siswa di jenjang SMA sekaligus simbol penyerahan kembali para lulusan kepada orang tua untuk melanjutkan langkah mereka menuju masa depan.

Suasana khidmat telah terasa sejak awal acara melalui prosesi perarakan pembuka yang menghadirkan “cucuk lampah” dengan karakter Gatotkaca. Kehadiran Gatotkaca bukan sekadar sebagai pembuka jalan, melainkan juga sebagai simbol pengantar perjalanan para lulusan menuju kehidupan yang lebih luas. Figur Gatotkaca melambangkan harapan agar para lulusan tumbuh menjadi pribadi yang kuat dalam nilai, rendah hati dalam pelayanan, serta berani membawa kebaikan di tengah masyarakat.

Diiringi alunan musik tradisional Jawa, langkah Gatotkaca yang penuh wibawa menghadirkan filosofi tentang keberanian untuk terus melangkah, keteguhan dalam menghadapi tantangan, dan semangat pantang menyerah dalam memperjuangkan hal-hal baik. Nuansa budaya yang dihadirkan dalam prosesi ini memberikan makna mendalam bahwa setiap perjalanan hidup membutuhkan keberanian, kebijaksanaan, dan hati yang tulus.

Prosesi semakin bermakna dengan kibaran bendera Merah Putih dan bendera Serviam yang dibawakan oleh para siswa kelas XI. Kedua bendera tersebut menjadi simbol bahwa para lulusan diharapkan mampu menumbuhkan rasa cinta kepada bangsa dan negara sekaligus menghidupi semangat Serviam dalam setiap langkah kehidupan mereka. Semangat melayani, peduli, dan berbela rasa diharapkan terus menjadi bagian dari identitas para lulusan SMA Santa Ursula BSD.

Rasa syukur dalam Temu Purna Siswa semakin mendalam melalui sambutan yang disampaikan oleh Sr. Edith, OSU dan Bapak Catur Agus Sancoko. Dalam sambutannya, keduanya menyampaikan apresiasi atas perjuangan para lulusan selama menempuh pendidikan di SMA Santa Ursula BSD. Tidak hanya itu, mereka juga memberikan pesan perutusan agar para lulusan terus bertumbuh menjadi pribadi yang tangguh, berintegritas, rendah hati, dan mampu membawa dampak positif dimanapun mereka berada.

Sebagai bentuk penghargaan atas usaha, kerja keras, dan daya juang para siswa, sekolah memberikan berbagai apresiasi di bidang akademik maupun non-akademik. Penghargaan tersebut menjadi ungkapan syukur atas ketekunan, semangat belajar, dan dedikasi yang telah ditunjukkan para lulusan selama menjalani proses pendidikan. Momen ini sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap pencapaian lahir dari proses panjang yang dijalani dengan kesungguhan, disiplin, dan semangat untuk terus berkembang.

Kehangatan acara semakin terasa melalui sambutan dari perwakilan orang tua dan perwakilan lulusan. Dalam refleksi yang disampaikan, tergambar perjalanan panjang yang telah dilalui bersama, mulai dari tantangan, dukungan, hingga kebersamaan yang menjadi bagian penting dalam proses pertumbuhan setiap siswa. Dukungan keluarga, pendampingan para guru, serta persahabatan yang terjalin selama masa sekolah menjadi fondasi berharga yang akan terus dikenang oleh para lulusan.

Tidak hanya itu, persembahan dari para lulusan turut menghadirkan suasana haru dan penuh makna. Melalui persembahan tersebut, para siswa menyampaikan ungkapan kasih, rasa terima kasih, dan kenangan kepada seluruh anggota komunitas sekolah yang telah mendampingi perjalanan mereka. Momen ini menjadi pengingat bahwa perjalanan pendidikan bukanlah perjalanan yang ditempuh sendiri, melainkan perjalanan bersama yang dipenuhi perhatian, dukungan, dan cinta dari banyak pihak.

Puncak kegiatan Temu Purna ditandai dengan pemasangan Pin Serviam Angkatan XXVIII. Momen ini menjadi simbol selesainya perjalanan para siswa di SMA Santa Ursula BSD sekaligus penanda kesiapan mereka untuk melangkah menuju dunia yang lebih luas. Pin Serviam tidak hanya menjadi tanda kelulusan, tetapi juga lambang nilai-nilai yang akan terus dibawa dan dihidupi dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui Temu Purna Siswa Angkatan XXVIII, SMA Santa Ursula BSD kembali menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik semata. Pendidikan juga merupakan proses pembentukan karakter, penguatan hati untuk melayani, serta penumbuhan kepedulian terhadap sesama. Dengan semangat Serviam, para lulusan diharapkan mampu menjadi pribadi yang berintegritas, memiliki kepedulian sosial, dan terus membawa nilai-nilai kebaikan dalam setiap langkah kehidupan mereka.

Dokumentasi: Nicole dan Keira XI-E

Selengkapnya
News Image
Serunya Orang Tua Siswa TK A Mendongeng di KB-TK

Mendongeng adalah salah satu kegiatan yang ditunggu-tunggu oleh siswa KB-TK Santa Ursula BSD. Setiap hari Jumat kedua dalam setiap bulan siswa KB-TK akan berkumpul bersama untuk menyaksikan dongeng di hall. Cerita dan nilai hidup yang disampaikan melalui dongeng selalu beragam dan menarik sehingga selalu berhasil membuat siswa antusias dalam menyaksikan dongeng tersebut. Selain itu, pembawa dongeng pun selalu berganti-ganti mulai dari kakak SMP atau SMA, ibu guru, dan juga orang tua siswa yang membuat suasana semakin menggembirakan karena siswa dapat melihat secara langsung orang tua mereka turut berperan dalam membawakan cerita.

Kegiatan mendongeng juga memberikan dampak yang sangat positif bagi para siswa karena membantu perkembangan siswa dalam banyak hal dan siswa dapat belajar memahami dunia sekitarnya dengan cara yang lebih konkret. Selain itu, mendongeng juga menjadi media yang efektif dalam menanamkan nilai moral dan karakter, mengembangkan kemampuan berbahasa, meningkatkan fokus, serta belajar memahami pesan yang disampaikan. Seperti pada kegiatan mendongeng yang dilaksanakan Jumat, 8 Mei 2026 lalu, siswa diajak untuk semakin sayang dan merawat bumi dengan cara membuang sampah pada tempatnya, menanam banyak tanaman, menyiram tanaman, dan tidak memetik tanaman. Dengan demikian ajakan untuk lebih menyayangi dan merawat bumi tidak hanya didengar tetapi juga akan diingat dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan mendongeng, siswa tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga belajar menanamkan kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai positif yang disampaikan melalui cerita diharapkan dapat membentuk karakter siswa sejak usia dini. Dengan demikian, kegiatan mendongeng tidak hanya memperkaya imajinasi siswa, tetapi juga membantu membentuk karakter yang peduli dan bertanggung jawab.

Selengkapnya
News Image
HARMONIS: Hari dan Momen Bersama Sahabat Kharis

Dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi memegang peranan penting dalam membangun relasi yang harmonis antar sesama. Komunikasi yang baik berawal dari adanya empati dan solidaritas dalam diri, yang tercermin melalui cara kita berinteraksi dengan siapapun tanpa memandang perbedaan. Melalui komunikasi yang tepat, kita dapat memahami perasaan, kebutuhan, serta kondisi orang lain. Oleh karena itu, Seksi Sosial OSIS SMP 2026 merancang program HARMONIS sebagai upaya untuk menumbuhkan empati dan solidaritas dalam berkomunikasi.

HARMONIS merupakan singkatan dari “Hari dan Momen Bersama Sahabat Kharis”, sebuah program yang melibatkan perwakilan siswa-siswi SMP Santa Ursula BSD sebagai panitia. Program ini bertujuan untuk mengajak siswa belajar menerima keberagaman melalui kolaborasi dengan Rumah Belajar Kharis, yaitu komunitas bagi individu berkebutuhan khusus di Paroki Gereja Santa Monika. Selain itu, kegiatan ini juga dirancang untuk mengembangkan sikap belas kasih, kepedulian terhadap sesama, semangat berbagi, serta jiwa pelayanan dalam diri siswa.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 25 April 2026, pukul 09.00–12.30 WIB, bertempat di Hall SMP–SMA Santa Ursula BSD. Seluruh rangkaian acara disusun secara terstruktur agar berjalan lancar dan memberikan pengalaman yang bermakna bagi seluruh peserta. Acara diawali dengan kedatangan anak-anak dari Rumah Belajar Kharis sekitar pukul 10.00 WIB, yang disambut hangat oleh pembawa acara, Gloria dan Winola. Suasana kebersamaan semakin terasa melalui nyanyian lagu “Hari Ini Kurasa Bahagia” yang menciptakan atmosfer ceria dan menyenangkan.

Sebelum memasuki inti kegiatan, pembawa acara memberikan penjelasan mengenai aktivitas yang akan dilakukan, yaitu kolase daun kering dan paper quilling. Anak-anak dari Rumah Belajar Kharis dibagi ke dalam dua kelompok sesuai aktivitas. Dalam setiap kegiatan, panitia pendamping berperan aktif mendampingi, memberikan arahan sederhana, membantu secara fisik bila diperlukan, serta membangun interaksi yang hangat agar suasana tetap nyaman dan akrab. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup pada pukul 12.20 WIB oleh pembawa acara, menandai berakhirnya seluruh kegiatan dengan penuh sukacita.

Program HARMONIS memberikan dampak positif, baik bagi panitia maupun anak-anak Rumah Belajar Kharis. Para panitia merasakan kehangatan melalui interaksi langsung yang menumbuhkan empati, kesabaran, solidaritas, serta kepedulian dalam berkomunikasi. Di sisi lain, anak-anak Rumah Belajar Kharis menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam setiap kegiatan yang diikuti. Suasana kebersamaan yang penuh kebahagiaan menjadi bukti bahwa program ini berhasil mencapai tujuannya.

Bagi saya pribadi sebagai panitia, momen paling berkesan terjadi saat berinteraksi langsung dengan salah satu anak Rumah Belajar Kharis dalam kegiatan kolase daun kering. Pada awalnya, saya merasa canggung dan kesulitan untuk berkomunikasi karena belum terbiasa dengan situasi tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, interaksi yang terjalin justru menumbuhkan rasa solidaritas dan kepedulian dalam diri saya. Setiap respons yang diberikan mengajarkan saya untuk lebih sabar, peka, dan menghargai setiap bentuk komunikasi, sekecil apa pun itu. Pengalaman ini memberikan pembelajaran mendalam bahwa komunikasi tidak selalu harus sempurna, melainkan cukup dilakukan dengan ketulusan hati.

Pada akhirnya, program HARMONIS menjadi pengalaman berharga yang tidak hanya memberikan pembelajaran sosial, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kemanusiaan serta mempererat rasa solidaritas di antara para panitia. Oleh karena itu, penting untuk terus menjaga dan menghidupi nilai-nilai yang telah ditanamkan selama program ini dalam kehidupan sehari-hari. Nilai empati, kesabaran, dan kepedulian tidak seharusnya berhenti ketika program berakhir, melainkan terus diterapkan dalam berbagai situasi. Dengan demikian, makna dari program HARMONIS akan terus memberikan dampak yang berkelanjutan.

Selengkapnya

Fasilitas

Mengapa Santa Ursula BSD ?

Keira Halim
Siswa SD kelas V

SD Santa Ursula BSD mempunyai kegiatan kungfu shaolin. Melalui kegiatan ini kami belajar membangun fisik dan mental. Terdapat pula kegiatan menulis rapi. Menulis rapi merupakan kegiatan yang dikembangkan di sekolah Santa Ursula BSD. Menulis bukan hanya kegiatan menggoreskan pena di atas kertas tetapi kami juga melatih konsentrasi, kesabaran, dan koordinasi gerak tangan. SD Santa Ursula BSD juga memiliki Taman IPA. Taman IPA merupakan tempat bagi kami untuk mengenal alam dan ilmu pengetahuan yang patut kami ketahui sebagai siswa SD.

Lihat Lebih Banyak